Jelang siang jalanan Jatinangor,Sumedang begitu lenggang. Mengingat jatuh di hari Minggu, dan awal bulan puasa. Kegiatan menelusuri sejarah bumi dan tinggalan budaya tetap berlanjut. Dalam kegiatan ke-58, mengupas rahasia bumi sekitar Rancakalong. Kegiatan jatuh di awal tanggal 1 Maret 2026. Bertepatan dengan puasa masuk ke minggu ke-2, sehingga waktu dan durasi kegiatan disesuaikan dengan kondisi.
Kegiatan Geourban ke-58, bertujuan menapaki kembali sejarah bumi dan budaya sekitar Sumedang bagian barat. Rancakalong berbatasan dengan Kabupaten Bandung di sebelah barat, setelah Tanjungsari. Nama kecamatan yang ditulis dalam catatan sejarah kolonial, untuk menggantikan penyebutan Andawadak. Pergantian nama diperkirakan ditulis pada peta-peta kolonial, pasca pembangunan Jalan Raya Pos.
Dalam peta yang disusun Junghuhn tahun 1855, Kaart van het Eiland Java. Nama Tanjungsari dituliskan Tandjoengsari. Menandakan penyebutan nama tempat tersebut menggantikan nama wilayahnya, disebut Andawadak. Untuk melacak ke belakang, nama tersebut dituliskan dalam peta yang lebih tua. Pada peta Nouvelle Carte de l’isle de Java (1755), merupakan nama wilayah administrasi setingkat kabupaten. Bersanding dengan Bandong (Bandung) di sebelah barat, dan Sammadang (Sumedang) di bagian timur.
Antara Jatinagor ke Tanjungsari, pernah dihubungkan melalui jalur kereta api. Dibangun perusahaan kereta api milik negara kolonial, Staatspoorwegen disingkat SS. Menghubungkan antara Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari 1916 dengan total jarak 11,5 km. Jalur Rancaekek-Jatinangor beroperasi 23 Oktober 1916, kemudian 1918 hingga ke Tanjungsari. Kemudian direncanakan pembangunan tahap ke-dua. Melanjutkan jalur dari Tanjungsari ke Kadipaten melalui Citali 1919. Namun gagal akibat terjadi depresi ekonomi dunia. Sisa kejayaanya bisa disaksikan di Jembatan Citeureup Cilayung, dan Tunggul Hideung di Gunungmanik.
Keberadaan jalur kereta api ini tinggal kenangan, menyisakan beberapa struktur. Diantaranya jembatan kereta api yang dipergunakan menjadi sarana penghubung antar kampung. Selain itu masih bisa disaksikan tanggul yang dibuat untuk mengatur ketinggian jalur lintasan kereta api.
Jembatan Citeureup
Jalur kereta api kolonial ini menghubungkan dari Rancaekek ke Tanjungsari, melalui Jatinangor. Jalur kereta api dari Stasiun Rancaekek, kemudian bercabang. Ke arah timur menuju Stasiun Cicalengka, sedangkan ke arah utara menuju Stasiun Tanjungsari di Sumedang. Total panjang lintasan sekitar 11,5 km. Melalui beberapa halte, yang kini keberadaanya telah tidak terlihat jejaknya. Dari arah Rancaekek, melalui halte Bojongloa. Kemudian dilanjutkan ke Halte Cikeruh. Selepas halte ini kemudian melintasi Ci Kuda, sungai yang membelah jalur Jatinangor ke Tanjungsari. Dikenal dengan jembatan Cikuda atau jembatan Cincin. Jembatan ini dibangun seiring dengan pembuatan jalur lintasan kereta api segmen Jatinangor-Tanjungsari. Mulai dibangun antara 1917 hingga 1918. Dengan menggunakan rancangan pondasi beton dan melengkung. Panjang lintasannya sekitar 40 meter dan tinggi 20 meter lebih. Jembatan ini merupakan salah satu struktur bangunan yang dikerjakan oleh insinyur kolonial Belanda saat itu. Kemudian ke arah timurnya, didapati jembatan yang hampir sama dengan jembatan Cikuda.
Jembatan Citeurep ini melintasi hulu Ci Keruh, menghubungkan antara Citeureup disebelah barat, ke Karasak sebelah timur. Saat ini masih berdiri kokoh, dimanfaatkan sebagai sarana penyeberangan roda dua hingga roda empat. Tetapi sangat disesalkan, dibagian dasar jembatan menjadi tempat pembuangan sampah. Menjadi ciri kurangnya perhatian warga, terhadap kebersihan lingkungan dan penghargaan kepada sejarah.
Situ Lembang Hulu Ci Herang
Suasananya sejuk, dilingkari oleh tegakan pohon pinus Merkusii. Tanaman asli Indonesia, pertama kali diidentifikasi oleh botanis Frans Junghuhn. Meneliti sebaran pohon tersebut di sekitar Sipirok, Tapanulis Selatan, Sumatera Utara. Pada saat itu warga Tapanulis menyebutnya Tusam. Diintroduksi ke Pulau Jawa sekitar 1931, dengan tujuan untuk mereboisasi lahan kritis, sekaligus untuk pemanfaatan kebutuhan bahan baku industri pulp dan kertas. Pada awal tahun 1970-an, perusahaan kehutanan milik negara pada saat itu mulai gencar menanam. Penanaman semakin masif. Selain untuk kayu, pengembangan difokuskan pada penyadapan getah untuk menghasilkan gondorukem dan terpentin.
Namun di sekitar danau ini, tegakan pohon tersebut tampaknya tidak lagi disadap. Sehingga mampu tumbuh tinggi dan tegak. Dahannya menaungi tepian situ, sehingga menebarkan hawa sejuk. Situ ini berada di lereng G. Raja 1587 mdpl., sejajar dengan G. Cupu 1390 mdpl. Merupakan pegunungan yang menaungi Rancakalong, memanjang dari barat ke timur. Sedangkan Situ Lembang berada di tekuk lereng sebelah selatan G. Raja. Situ tersebut sedikit memajang baratdaya-timurlaut. Sisi terpanjangnya sekitar 100 meter, dan sisi terpendeknya kurang lebih 55 meter. Lembang dalam kamus Sunda, dimaknai dengan kondisi geografis. Berupa cekungan, berawa dan tergenang air, disebut ngalembangkeun atau ngalembang. Dari informasi warga, inlet situ berasal dari beberapa mata air di sebelah utara. Sedangkan sisi sebelah selatannya terbangun tanggul tembok. Sehingga bisa disimpulkan bahwa situ tersebut merupakan cekungan alami dan menampung air. Kemudian dilakukan pembendungan, dengan tujuan menaikan volume air. Tujuannya adalah untuk kebutuhan air baku dan dialirkan ke perkebunan di sebelah selatan.
Keterangan warga menyatakan bahwa situs ini telah ada sejak lama. Namun keterangannya tidak menunjukan tahun atau waktu. Bila datang pada masa kolonial, biasanya menuliskan tahun selesai pembangunan. Namun dari pencarian sekilas, tidak ada petunjuk yang merujuk asal-usul pembangunan situ tersebut.
Bila melihat peta lama lembar Tjijamboe, penerbin Topographisch Bureau Batavia (1886), belum ada keterangan keberadaan situ tersebut, tetapi menggambarkan garis sungai dari lereng selatan G. Raja. Di tulis Ci Herang, alirannya membelah jalan penghubung dari Pasirjambu ke Rancakalong. Mengalir ke arah selatan, hingga bertemu dengan Ci Peles di Cadaspangeran.
Saat ini menjadi tujuan wisata, dikelola oleh kepemilikan swasta. Tersedia bale-bale, dan sarana pendukung wisata. Seperti toilet, lapangan parkir dan mushola. Lokasi ini menjadi tujuan wisata alam, sekedar makan siang atau untuk meluangkan waktu diantara kesejukan alam.
Panenjoan Pasirbiru
Merupakan puncak perbukitan yang berada di Pasirbiru, Rancakalong, Sumedang. Saat ini dikelola menjadi tujuan wisata, khususnya untuk kegiatan perkemahan dan kegiatan wisata alam. Seperti halnya objek wisata, Panenjoan Pasirbiru ini dikelola pihak swasta, melibatkan warga lokal. Di bagian atasnya didapati empat rumah gaya Sunda, disebut rumah pemangku adat. Dibangun melalui bantuan Bank Jabar Banten Sumedang.
Pada peta lama lembar Rantjahalong (Rancakalong), penerbit Topographisch Bureau Batavia tahun 1908. Memrupakan perbukitan yang memanjang baratlaut-tenggara, denagn elevasi Pasirbiru 1051 mdpl. ke arah utaranya merupakan lembah dalam, diapit oleh perbukitan terjal. Di dalam lembah, mengalir Ci Herang, hulunya di sektari G. Raja-G. Cupu.
Di bagian bawah, terdapat bongkah batuan. Terkonsentrasi di atas perbukitan, berupa blok-blok batuan dengan berbagai ukuran. Bentuk batuannya beragam, melingkar, hingga ada beberapa batu membentuk persegi panjang dan datar. Dari beberapa sumber darin, menyebutkan bahwa batuan tersebut memiliki nilai searah, disebut Situ Batu Kasur.
Kondisi geografis, berupa puncak perbukitan yang dikelilingi oleh sawah. Sungai yang mengalir sepanjang waktu, memberikan lahan subur bagi pertanian dan sawah. Sehingga keberadaan Pasirbiru seharusnya menjadi penting, sebagai titik tinggi yang biasanya dimanfaatkn sebagai sarana keagamaan dan pemujaan. Dilokasi tidak ditemui patilasan, atau kuburan lama, menginat kompleks pemakamana berada di sebelah timur. Di perbukitan yang sejajar dengan Pasirbiru.
Didapati bongkah-bongkah batuan yang tersebar, saling berhimpit. Ukurannya hampir homogen, dengan panjang sekitar 1 hingga 2 meter, saling berhimpit. Keberadaan batuan seperti ini, menandakan merupakan hasil dari kegiatan pelapukan. Berasal dari blok lava yang masif, kemudian seiring waktu membelah menjadi segmen-segmen bokah. Pada peta geologi Lembar Bandung (Silitonga, 2003). Merupakan Hasil Gunungapi Tua, breksi (Qyu). Umur sekitar Kuarter Tengah. Disusun oleh breksi gunungapi, aliran lahar, lava, aglomerat. Dari keterangan peta tersebut, merupakan hasil dari produk G. Tampomas. Antara Sumedang dan Bandung batuan ini membentuk dataran-dataran kecil atau bagian-bagian rata dan bukit-bukit rendah. Tertutup oleh tanah (lapuk) yang berwarna abu-abu kuning dan kemerah-merahan.
Dari petunjuk hadirnya bongkah-bongkah batuan, menjadi petunjuk bahwa Pasirbiru merupakan perbukitan intrusi batuan beku. Bahwa pada umur Pleistosen, sekitar 700 ribu tahun yang lalu. Mekanisme pembentukannya terjadi pada saat magma naik mendekati permukaan bumi, kemudian membeku dekat permukaan. Seiring waktu menjadi batuan beku, dan tersingkap di permukaan. Terjadi karena batuan penutupnya lapuk, menyibakan blok batuan beku.
Seiring waktu terjadi proses pelapukan. Dari blok batuan hingga tersegmenkan menjadi bongkah-bongkah batuan. Warnanya abu-abu gelap, menandakan disusun oleh mineral andesit-basal. Di Beberapa kebudayaan, blok batuan yang tersebar digunakan sebagai sarana religi. Seperti halnya masa kebudayaan Paleolitikum hingga Megalitikum di beberapa wilayah di Indonesia. Sehingga keberadaan bongkah batuan berbagai ukuran, kemungkin pernah dimanfaatkan oleh nenek moyang, sebagai tempat pemujaan di masa lalu.
Renungan di Situ Cihamurang
Seiring mengikuti pengaliran Ci Ledok, dari hulu Ciherang di lereng Pasirbiru. Sungai ini terus mengalir ke arah tenggara, membelah Desa Sukasirnarasa. Alirannya berlanjut ke arah tenggara, melewati Pasirmaja hingga bertemu dengan Ci Peles di sekitar Ciherang, Cadas Pangeran.
Seiring pembangunan jalan tol Cisumdawu yang dimulai 2011, hingga 12 tahun lebih pembangunan. Pada tahun 2023 beroperasi melayani tujuan ke Kertajati dari Bandung. Melalui Cileunyi-Sumedang-Dawuan. Namun pada pembangunan jalan tol segmen Sukasirnarasa, diperlukan pemotongan perbukitan. Materialnya kemudian dibuang di sekitar lembah Ciledug. Cekungan tersebut dibelah oleh sungai, Ci Bawang mengalir ke selatan. Berupa lengkob, atau lembaran yang memanjang barat laut-tenggara. Sebelumnya merupakan lahan perkebunan warga, dan hutan bambu. Dalam pembangunan jalan tol, material dibuang di lembah Ciledug tersebut, mengakibatkan terjadi pembendungan aliran sungai.
Akhirnya terjadi akumulasi volume air, seiring dengan tingkat curah hujan tinggi di akhir tahun 2025. Akibatnya terjadi banjir di Desa Sukasirnarasa, Kecamatan Rancakalong, Sumedang, khususnya di Blok Cipicung/Situ Cihamerang, terjadi akibat penyumbatan saluran air oleh tanah galian/disposal Tol Cisumdawu dan luapan Sungai Cipicung. Kejadian ini menggenangi sekitar 8 hektare sawah, merendam SDN Sukasirna 1 & 2 hingga 1 meter, serta memicu respon darurat BBWS Citarum pada Desember 2025.
Penyebab: Saluran air tersumbat material tanah pembuangan (disposal) Tol Cisumdawu, mengakibatkan luapan air, terutama saat hujan deras. Dampak: Menggenangi area pertanian seluas 8 hektare dan menyebabkan operasional SDN Sukasirna 1 & 2 terganggu, mengharuskan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Penanganan (per Desember 2025): BBWS Citarum bersama BBWS Cimanuk Cisanggarung mengoperasikan pompa untuk mengurangi genangan, memperkuat dinding bendung, dan melakukan tindakan darurat bersama pemkab Sumedang serta pihak terkait.
Situasi di daerah ini memerlukan penanganan permanen untuk mencegah kembali terjadinya risiko longsor dan banjir, mengingat dampaknya yang signifikan terhadap fasilitas pendidikan dan pertanian warga. Fokus penanganan Bendung Cihamerang di Desa Sukasirnarasa, Rancakalong adalah pengeringan secara terukur. Selain dilakukan pengeringan juga diperkuat bagian dinding bendung supaya tekanan air tidak menimbulkan risiko jebol.
Situ Cikamurang merupakan bencana bawaan (collateral damage) dari kegiatan pembangunan jalan Tol.
Jembatan Air Legon
Sekitar Sukanegla, Pasirbiru Mulya, Rancakalong. Dihubungkan oleh jalan kelas desa, menghubungkan Pasirbiru ke Rancakalong. Dari arah barat, setelah melintasi jembatan tol Cisudawu, jalanan turun ke arah selatan. Sekitar Legon, jalan menurun. Diapit oleh gawir terjal sebelah kiri dan kanannya. Ditemui jembantan air yang melintasi jalan ini.
Merupakan jembatan air atau viaduct, struktur jembatan air yang melintasi jalan. Tujuannya adalah mengalirkan air yang disadap dari Ci Herang. Dialirkan ke arah selatan, ke sekitar Cibulakan. Digunakan sebagai sarana air baku warga, dan dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian sekitar Cimanglid.
Jembatan air atau viaduct merupakan teknologi yang sudah dimanfaatkan sejak zaman Romawi kuno. Tujuannya adalah mengatur perbedaan ketinggian, agar air tetap mengalir. Untuk melewati lembah atau memotong jalan, menggunakan struktur jembatan. Di jembatan air Legon, berupa lengkungan yang berfungsi sebagai penopang. Air dialirkan melalui pipa tertutup atau menggunakan talang terbuka. Keberadaan struktur bangunan ini, kemungkinan seiring dengan Sumedang mencapai masa pembangunan. Di bawah kepemimpinan Aria Suria Atmadja (1821-1921). Dikenal dengan sebutan Pangeran Haji, salah satu tokoh yang disegani kolonial saat itu. Pengaruhnya adalah pembenahan jalur jalan raya Cadas Pangeran, dan mendorong sektor pertanian serta mencetak sawah.
Diperkirakan pada masa pemerintahannya, mulai membangun sistem irigasi dan pengaturan air. Termasuk pembangunan instalasi viaduct di Legon, kemungkinan sekitar 1918. Bentuk bangunnya berupa struktur jembatan, dengan penguatan dinding sebelah kiri dan kanannya. Menggunakan susunan batuan, hingga menutupi dinding. Tujuannya adalah agar dinding tegak tersebut tidak terjadi longsor dan menyisakan celah yang bisa dilalui oleh kendaraan roda empat.



































