Jejak pagi masih hadir, bersamaan dengan kabut tipis yang menggelayut di lereng G. Burangrang. Lambat laun memudar seiring matahari naik, cahayanya menerangi sebagian besar Cilayung yang masih temaram. Lembahnya dalam yang ditoreh Ci Meta. Sungai yang hulunya di lereng selatan G, Burangrang, mengalir ke arah baratdaya. Debit airnya mengerosi dan membentuk lembah yang lebar dan dalam. Menandakan di masa lalu, sungai ini deras dan mengangkut material lahar. Pada saat G. Burangrang menunjukan aktivitas kegunungapian.
Pembuka di atas, mengantarkan kegiatan Geourban ke-57. Menelusuri kembali sejarah bumi, budaya di lereng sebelah barat G. Burangrang. Dilaksanakan pada hari Minggu, 15 Februari 2026. Kunjungan pertama melihat aliran lava hasil kegiatan gunungapi di masa lalu. Gunungapi kelas plinian, sekitar 500 hingga 105 ribu tahun yang lalu. Materialnya mengisi sebagian besar lereng G. Burangrang, melampar hingga Cimahi.
Disebelah utara Curug Panganten, atau saat ini disebut Curug Pelangi, Parongpong terdapat fitur bumi yang menarik. Berupa struktur lava yang terlipat sedemikian rupa. Bentuknya berupa dinding tegak yang disusun oleh lava tebal. Bentuknya melipat, masih dan berwarna abu gelap.
Dalam peta geologi gunungapi Tangkunbanparahu (Soetoyo dan Hadisantono, 1992), disusun oleh Aliran Piroklastika (Sap). Produk G, Sunda, berupa skoria, batuapung, sedikit obsidian. Umurnya sekitar 38.300 tahun yang lalu, berdasarkan dari pengukuran arang kayu (Hadisantono, 1988). Sedangkan bagian atasnya, ditindih oleh endapan Lava 1 Tangkubanparahu (Tl1), hasil pembentukan G. Tangkubanparahu. Berupa produk letusan pusat, dengan produknya aliran lava. Tersingkap di daerah puncak, lereng dan lembah-lembah seperti sungai di Cisarua, Sagalaherang, Cibeureum, Cimahi Timur, Maribaya sampai ke Dago di Bandung Utara.
Di sekitar batas tekuk lereng gunung, bangsa Boer mengelola peternakan dan perkebunan. Tahanya subur, dan ketersediaan air yang melimpah menjadi berkah. Sekitar awal tahun 1900, Hirschland dan Van Zyl mengusahakan sapi perah melalui koloni General de Wet. Usaha peternakan susu sapi yang mampu memenuhi kebutuhan untuk kota Bandung pada saat itu. Sejarahnya dihapus saat perang kemerdekaan berkobar, bersalin rupa menjadi bangunan SPN Polda Jawa Barat. Jejak sisa peternakan sapi di masa lalu.
Warga menyebutnya Simpang SPN, atau Pasar Barukai. Membagi jalur ke arah Cimahi, dan ke arah barat menuju Pasirlangu. Dari turunan sekitar Kampung Cimeta, kemudian berbelok ke arah utara. Jalannya sempit dan terjal, dibatasi gawir terjal sebelah timur dan lembah dalam di arah sebaliknya. Mendekati Kampung Cinangsi, Tugumukti, jalan mendaki terjal.
Menyusuri jalanan Legok Haji, melalui Kampung Cimeta, Cisarua. Relatif terjal dan sempit, sehingga harus berhati-hati saat berpapasan dengan kendaraan dari arah lain. Jalannya terus menanjak hingga tiba di basecamp pendakian G. Burangrang di Legok Haji. Titik awal pendakian yang sejajar dengan pendakian melalui Tanjakan Mentari. Saat itu kegiatan pendakian ditutup sementara, seiring dengan peristiwa longsor di Pasirlangu.
Dari keterangan warga, tahun 2013 pernah terjadi longsor. Berupa air sungai yang meluap di sekitar Curug Cipalasari, berasal dari hulu Ci Nini. Akibat hujan deras, mengakibatkan limpasan air. Ditunjang oleh kondisi lereng yang terjal, menangkap air kemudian dialirkan melalui hulu Ci Nini. Alirannya jatuh ke Curug Palasari, membawa segala macam material. Diantaranya membawa lumpur, kerikil hingga bongkah batuan. Dari keterangan Yoyo Suryo Sugiharto, melalui kanal blog yoyosuryosuhiharto.wordpress.com melaporkan longsor di atas Legok Haji pada tahun 2013. Dalam laporan singkatnya, memberikan gambaran dampak yang terjadi, akibat luapan air. Berupa longsoran tanah di beberapa tempat, khususnya mendekati basecamp. Terutama wilayah yang ditempati oleh perkebunan di lereng Pasir Nini, di bagian lereng terjal. Kemudian hasil erosi yang dalam, berupa ceruk yang terbentuk akibat aliran air deras. Membentuk celah sungai yang memanjang dari hulu di bagian utara, ke arah lereng lebih rendah di bagian selatan. Terlihat bongkah hingga blok batuan yang dibawa turun, kemudian mengendap di sepanjang sungai. Kondisi demikian menandakan terjadi luapan air besar, terjadi akibat pembendungan alami di hulu. Kemudian bobol, membawa aliran air, lumpur dan batuan ke arah yang lebih rendah. Sebagian perkebunan warga dan rumah, habis terseret oleh aliran luapan air.
Dalam peta lama Lembar Pasirlangoe (1904), didapati Ci Nini. Hulu sungai di puncak gunung, mengalir ke arah selatan melalui Cinangkasih. Alirannya bergabung dengan Ci Meta di sekitar Nyalindung. Merupakan sumber longsoran (source flow), mengakibatkan banjir bandang hingga ke Kampung Nyalindung. Menurut warga, akibat banjir bandang ini merenggut satu orang meninggal dunia. Kondisi demikian sudah memberikan tanda-tanda, sebagian besar tekuk lereng G. Burangrang memiliki potensi bahaya longsor.
Longsor Lumpur Pasirlangu
Dari jalur Nyalindung-Pasir Haji, mengarahkan perjalanan Kampung Babakan Pasirkuning, Desa Pasirlangu. Pada tanggal 24 Desember 2025, sebagian besar wilayah di lereng G, Burangrang sebelah selatan hancur akibat longsor. Terjadi akibat curah hujan selama dua hari lebih, mengakibatkan terakumulasinya debit air di bagian puncak.
Kondisi demikian tidak hanya terjadi di utara Pasirlangu, namun terjadi pula di sebagian besar lereng curam G. Burangrang. Setidaknya ada beberapa lokasi yang terdampak longsor, namun sebagian besar hanya menyebabkan kerusakan material. Seperti perkebunan warga yang terlanda, akibat penempatannya berada di lereng curam.
Curah hujan tinggi, diperkirakan lebih dari 220 milimeter per hari, memcu jenuh air, meningkatkan tekanan air pori. Kondisi demikian mengakibatkan penurunan kekuatan geser tanah di lereng terjal. Di bawahnya adalah batuan keras, disusun oleh blok lava tebal, sedangkan bagian permukaanya adalah batuan lapuk.
Kondisi diperparah akibat bagian hilir digunakan pertanian dan lahan rumah. Diantaranya ditempatkan pada jalur-jalur yang memotong aliran sungai. Sehingga lebih dari 30 rumah warga dan ratusan nyawa hilang, akibat diterjang aliran lumpur. Terjadi pada waktu yang sangat singkat, jelang dini hari, dikala sebagian besar warga Kampung Babakan Pasirkuning, Pasirkuda masih terlelap tidur.
Pada lawatan tanggal 15 Februari 2026, kegiatan pencarian korban telah resmi ditutup. Telah berlangsung 22 hari, sejak satu hari kejadian longsor. Laporan terakhir didapat 101 kantong jenazah, dan 83 teridentifikasi. Diantaranya adalah 64 warga setempat, telah dikembalikan kepada keluarganya. 20 jiwa masih dinyatakan hilang, dan belum bisa ditemukan hingga hari ke-22. Penutupan pencarian ini karena efektivitas, kondisi medan yang tidak stabil. Tahap berikutnya adalah penanganan pascabencana, melalui kegiatan rehabilitasi.
Kopi Burangrang Selatan
Di bawah naungan Gunung Burangrang, diantara batas hutan produksi milik PT Perhutani. Berjajar pohon-pohon kopi, tumbuh di bawah naungan hutan pinus.
Pabrik Pengolahan Teh Pangheotan
Dari Cipada, mengarah ke utara melalui Desa Ganjarsari. Selepas Cipada, jalanya berupa makadam (jalan batu), khas daerah perkebunan teh. Suasananya seperti awal perkebunan teh masa kolonial, dengan kondisi jalan yang berliku serta berbatu. Sejauh mata memandang adalah hamparan perkebunan teh yang saat ini berada di pabrik pengolahan Ciater, di Sukawana.
Merupakan pabrik pengolahan teh awal, di perkebunan Pangheotan. Menghasilkan teh hitam atau disebut teh Ortodoks. Dihasilkan melalui tahapan pelayuan, penggulungan, oksidasi dan pengeringan. Dicirikan Dengan aroma yang khas, berbeda dengan teknik CTC dengan cara mencacah daun. Pabrik ini terletak di Ganjarsari, Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat. Wilayah kebun Pangheotan, terbagi menjadi dua afdeling, Pangheotan I dan Pangehotan II. Pabrik. Keberadaan pabrik tersebut di lingkung Pasir Malang di sebelah barat, sejajar dengan Pasir Cibitung. Di utaranya terdapat tinggian Pasir Cugenang. Di Sebelah selatannya dibatasi aliran sungai, Ci Langkub
Dari gerbang masuk dari arah Cipada, terdapat bangunan. Berada di luar lingkup pabrik, sehingga diduga merupakan tempat tinggal wakil administratur pabrik, membawahi sinder pengolahan. Pada masa kolonial, biasanya dijabat oleh orang Belanda, atau orang yang memiliki kepentingan terhadap produksi. Merupakan jabatan pengawas lapangan atau setingkat dengan asisten di pabrik perkebunan seperti teh, kopi atau kelapa sawit. Tugasnya adalah bertanggung jawab teknis pemrosesan hasil panen, mutu, efisiensi dan target produksi. Hirarki ini dikenal dalam sistem manajemen produksi di masa kolonial.
Saat dikunjungi sebagian besar bangunan telah rusak, peralatan operasi sudah tidak ada ditempat. Hanya satu-satunya bangunan di bagian depan yang masih berfungsi. Digunakan untuk proses pelayuan, berupa sepuluh bak. Untuk kapasitas 7 hingga 8 ton teh basah. Setelah pelayuan, kemudian ditransfer ke ruang penggilingan.
Layout bangunna membujur relatif baratlatu-tenggara. Berupa satu bangunan induk, bangunan gudang, dan beberapa rumah tinggal para administrasi.
Pada masa modern, atau peralihan di bawah pengelolaan Perusahan Perkebunan Nasional. Sebagian besar sumber listrik dihasilkan secara mandiri, menggunakan sumber listrik yang berasal dari mesin diesel atau disebut PLTD. Kemudian digantikan melalui jaringan PLN.
Jembatan KA Cisomang Lama
Selepas makan siang sate Maranggi di sekitar Darangdan, perjalanan dilanjutkan ke arah timur. Menapaki jalan raya Padalarang-Cikampek, jalan penghubung dari selatan ke utara. Sekitar simpang Sempur, kemudian berbelok ke arah barat. Menempuh perjalanan sekitar 6.3 Kilometer, hingga tiba Kampung Depok. Cirinya adalah lapangan Depok, di sebelah kantor Desa Depok.
Lapangan ini merupakan jalur perlintasan kereta api awal. Jalur kereta api koridor timur yang dikerjakan setelah jalur lintas barat melalui Bogor-Sukabumi-Cianjur. Batavia ke Bandung terhubung melalui koridor barat. Pengoperasiannya ditandai dengan peresmian Stasiun Bandung pada 1884.
Setelah terhubung melalui jalur barat,kemudian dilakukan pembangunan jalur timur. Antara Batavia-Karawang, melewati Padalarang hingga Bandung. Segmen sepanjang 97 Km, mulai dikerjakan pada 1900-an. Jelang dua tahun kemudian, pembukaan jalur Cikampek ke Purwakarta pada 27 Desember 1902. Kemudian peresmian jalur Purwakarta ke Padalarang pada 2 Mei 1906, dibutuhkan waktu empat tahun lebih, mengingat pembangunan jalur kereta api segmen ini sangat berat. Tantangan terberatnya adalah menyeberangi, memotong dan membobok perbukitan. Salah satunya adalah pembangunan jalur jembatan yang menghubungkan antara Purwakarta dan Kabupaten Bandung Barat, melintasi Ci Somang.
Panjang lintasannya tidak lebih dari 200 meter, namun tingginya mencapai 100 meter. Sehingga diperlukan teknik pembangunan jembatan,dengan menggunakan penyangga baja. Pengerjaan dilakukan oleh perusahaan kereta api kolonial, Staatsspoorwegen atau disingkat SS. Mulai dioperasikan pada 1906, melayani penumpang dari Batavia hingga Bandung. Akibat melalui lembah yang disusun oleh batuan lepas, dilaporkan beberapa kali seringkali terjadi kereta lepas dari jalur rel. Akibat seringkali terjadi longsor, akhirnya diputuskan untuk menggeser posisi jembatan dari arah sebelah timur ke arah barat. Hingga ditutup pada 1932, dialihkan ke jembatan yang baru.
Pada tahun 2004, kemudian dibangun jalur jembatan yang lebih modern. Menggantikan rangka baja tahun 1936. Merupakan jembantan lintasan kereta api, dengan menggunakan dua jalur kereta api.


































