Oleh: Fiktorianus Afri Asosiasi PGWI Labuan Bajo Gelar Geocamp: Bangun Kemitraan dan Edukasi Pemandu Geowisata Indonesia-Labuan Bajo melaksanakan kegiatan Geocamp di Desa Warloka Pesisir, kecamatan Komodo, Manggarai Barat NTT, pada Senin 02 Februari 2026. Kegiatan ini melibatkan kepengurusan dan sejumlah anggota asosiasi PGWI Labuan Bajo yang juga merupakan salah satu program kerja Asosiasi dalam satu periode kedepan. Untuk diketahui bahwa sebelum kegiatan ini berlangsung, dua hari sebelumnya Ketua PGWI Labuan Bajo melalui Divisi Humas, Gecio dan Anggota melakukan pendekatan dengan pihak pemerintah desa Warloka Pesisir dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Tujuan pendekatan, untuk memberitahu serta meminta persetujuan dari pihak desa terhadap maksud dan tujuan kegiatan Geocamp tersebut. Kegiatan akan berjalan selama dua hari, satu malam. Alhasil, respon dari pihak desa sangat antusias dengan rencana kegiatan ini karena dinilai memberikan dampak positif terhadap masyarakat setempat. Pada kegiatan ini, dalam sesi diskusi malam harinya, PGWI berkomitmen untuk tidak hanya menikmati suasana alam yang indah di warloka, namun mengadakan diskusi terbuka bersama masyarakat setempat yang diwakili oleh kelompok sadar wisata Warloka. Dalam diskusi tersebut Ketua PGWI labuan Bajo, Saver Guardi mengatakan “kunjungan kami ke tempat ini tidak hanya sebatas kunjungan biasa, namun kami ingin membangun kemitraan dengan desa dan juga Pokdarwis disini. Saver menegaskan bahwa pentingnya melestarikan menjaga dan melestarikan alam yang indah ini.
Kita sebagai orang muda, berperan penting dalam merawat kearifan lokal dan menjaga nilai-nilai kebudayaan yang sudah diwariskan secara turun temurun. Disini bukan hanya alam yang indah, tetapi juga terdapat cagar budaya sebagai situs megalitik yang perlu ditelaah lebih dalam, baik secara mitologi maupun sains, sehingga mewujudkan narasi-narasi yang kuat untuk dijelaskan kepada wisatawan” tutup Saver. Pembina PGWI Boe Berkelana juga mengatakan Warloka adalah pelabuhan Purba Nusantara yang dimana, dalam sejarahnya disinilah berlabuhnya raja-raja dari berbagai daerah.
Lanjut Boe Mengatakan Pentingnya peran kita dalam penggunaan media sosial agar selalu memposting segala potensi destinasi yang ada. Salah satunya adalah aktivitas pasar Barter yang hingga kini masih ada, setidaknya teman-teman disini ayo posting. Ini adalah bentuk kecintaan kita sebagai putra daerah terhadap kampung kita sendiri. Apapun aktivitasmu tambahkan narasi sedikit lalu posting. Manfaatkan media sosial sebagai tempat kita mengekspos segala potensi yang ada.
Situs Batu Meja, batu balok, bukit anjungan, pasar Barter adalah 4 komponen utama di desa Warloka Pesisir. Mari kita jaga dan telusuri bersama untuk mendapatkan kesamaan narasi yang juga sebagai data akurat agar menjadi bekal utama seorang pemandu Geowisata yang profesional.
Harapannya, Asosiasi PGWI bersama komunitas lokal (Pokdarwis) selalu berkerja sama dalam menjaga nilai serta kebudayaan yang diwariskan oleh para pendahulu agar tetap dipertahankan dalam kemajuan pariwisata labuan Bajo.
Di akhir pekan 20 Desember 2025, jalanan menuju Soreang dari arah Bandung timur tampak lenggang. Biasnya tersedak karena jumlah kendaraan yang berlomba menuju pusat kota, kini terurai karena memasuki musim libur. Tidak lebih dari 30 menit, tiba di pusat kota Soreang. Nama yang belum dikenal masa kolonial, cukup disebut wilayah Kopo(Topographisch Bureau Batavia, 1909). Selanjutnya lahir nama soreang, untuk menyebut ibu kota Kabupaten Bandung. Makna kata dari nyoreang, artinya melihat kembali ke masa lalu. Makna lainya adalah tempat untuk memandang atau titik pandang.
Makna titik pandang menjadi tepat, secara geografis ke arah selatan Soreang merupakan dataran tinggi antara 700 hingga 1000 meter di atas muka laut. Dilingkung kerucut-kerucut perbukitan dan gunungapi yang pernah aktif di masa lalu, dan perbukitan soliter. Diantaranya G. Sadu 897 meter dpl., Pasir Sempur berdampingan dengan Pasir Malaka di sebelah selatan. Kemudian G. Haur 936 meter dpl., G. Aseupan 873 meter dpl., di bagian barat. Kemudian ke utara berdiri Pasir Salam 855 meter dpl., dan pasangan G. Hawu bersanding bersama G. Singa 1087 meter dpl.
Keberadaan Soreang pada masa kolonial menjadi penting, karena sebagai kota penghubung antara industri perkebunan di sebelah selatan ke kota Bandung. Dengan demikian untuk mempermudah pengangkutan hasil panen, pemerintahan kolonial membuat jalur kereta api.
Pembangunan jalur kereta api dianggap efektif, karena jenis transportasi ini terpadu, muran dan cepat. Menggantikan pengangguran menggunakan pedati yang terlalu lambat dan mahal. Angkutan masal ini dirintis semenjak masuknya kereta api ke kota Bandung. Pada tanggal 30 Oktober 1916, telah diselesaikan rancangan awal jalur trem Bandung ke Kopo (kini Soreang).
Pembangunan jalur dimulai dengan menghubungkan antara Bandung ke Soreang melalui Dayeuhkolot pada 1921. Kemudian dilanjutkan jalur Soreang ke Ciwidey tiga tahun kemudian. Jalur ini resmi beroperasi 1925 dan berakhir beroperasi 1982.
Ex Stasiun Soreang Dua orang ibu tua membuka percakapan. “Mangga, kadieu, tingali ieu bak cair”, ujarnya. Kemarilah, saya perlihatkan bak penampungan air (kereta api uap). Ibu paruh baya begitu gesit membukakan pagar bambu. Menyibakan jemuran kasur yang disimpan di depan pintu masuk pintu air. Bangunan yang tidak lebih dari setengah ukuran peti kemas, disusun oleh tembok tebal. Mencirikan struktur bangunnan yang diibuat masa kolonial, menggunakan susunan batu bata. Ketebalan dinding 20 centimeter, dari bata merah dengan ukuran yang lebih besar dari standar saat ini. Di bagian atas bangunan, didapati bak air yang terbuat dari plat besi tebal. Saat ini keadaannya sudah tidak layak lagi sebagai penampung air, karena di beberapa bagian telah korosi dan bolong.
Keberadaan tandon air dan tangki air (water crane), merupakan fasilitas penting di stasiun abad ke-19. Mengingat kereta api yang beroperasi, masih menggunakan kereta api uap klasik class produksi tahun 1904 hingga 1910. Dengan demikian memberlukan volume air yang banyak, untuk konversi menjadi tenaga mekanis dari hasil tekanan uap.
Jalan masuknya melalui satu-satunya pintu yang menghadap ke arah barat. Terbuat dari kayu tebal, dengan tinggi orang dewasa. Di dalamnya berupa ruang yang kini ditempati oleh macam-macam barang penghuni rumah, seperti layaknya gudang. Fungsi dari ruang ini adalah sebagai ruang pengendali aliran air, jalur distribusi ke water crane atau tiang tangki pengisi air. bentuknya seperti keran pipa dalam ukuran besar, dipompa dari water tank atau bak air melalui jaringan pipa bawah tanah.
Dari bak air ini, dialirkan melalui jalur pipa bawah tanah ke arah utara mendekati jalur rel kereta api. Terdapat dua sistem tangki air (water crane) di stasiun kereta api Soreang. Di sebelah timur, dengan ukuran yang lebih kecil bila dibandingkan dengan sisi sebelah barat. Keberadaanya di sebelah selatan dari posisi lintasan rel kereta api, dengan tinggi tiang tidak lebih dari 4 meter. Untuk mengalirkan air ke bak penampungan/ketel di lokomotif, kemudian dipanaskan oleh sumber panas dari tungku pembakaran. Pada saat itu biasanya menggunakan kayu bakar, dalam jumlah yang banyak. Seri kereta api
Berseberangan dengan bak tampung (tandon), ke arah utara. Berdiri bangunan yang memanjang barat-timur. Berupa struktur bangunan sisa peron kereta api. Terdiri dari beberapa bagian yang dipisahkan oleh sekat tembok. Merupakan bangunan bekas stasiun Soreang,dengan call sign SRG. Berada di elevasi 734 meter dpl., menghubungkan ke dataran tinggi stasiun Ciwidey 1106 meter dpl. Dengan demikian memiliki perbedaan ketinggian (elevation gain) 372 meter.
Untuk kondisi topografi demikian, diperkirakan menggunakan lokomotif uap jenis Mallet SS1600, yang merupakan lokomotif uap buatan Belanda, sering disebut juga lokomotif seri NIS 151-160. Beberapa sumber menyebutkan penggunaan tipe C11 atau BB10.
Gunung Hawu Masyarakat menyebutnya Pasir Hawu, atau Gunung Hawu. Bentuknya kerucut, kemudian bagian puncaknya berupa dataran, sehingga menyerupai bentuk perbukitan yang tumpul. Hawu adalah tungku, digunakan untuk alat memasak menggunakan bahan bakar kayu. Bahannya terbuat dari tanah liat, dibentuk menyerupai bentuk kerucut. Bagian atasnya dilubangi, untuk menempatkan alat memasak. Alat masak tradisional ini memiliki bentuk topografi yang disandingkan dengan penamaan tempat.
Di bagian lerengnnya terdapat klaster pemukiman warga, hanya beberapa rumah. Menempati lereng terjal yang dihubungkan melaui jalan kelas desa. Rumah-rumah warga tersebut ditempati oleh beberapa keluarga, turun temurun bekerja sebagai peladang atau petani.
Di bagian baratnya telah berubah menjadi ladang pertanian, sedangkan bagian puncaknya berdiri rumah tinggal. Dari keterangan warga, sebagian besar bagian barat hingga puncak telah dimiliki perseorangan. Lahannya bagian puncak telah berdiri rumah tinggal atau villa. Sebagain wilayah sebelah barat terbuka, dimanfaatkan ladang. Melihat kondisi topografi demikian, perlu perhatian pemanfaat lahan yang berbasis bahaya longsor. Dalam mekanisme gerakan tanah, manusia turut memainkan percepatan bahaya longsor mengingat perkebunan tersebut berada di lereng curam. Gangguan pada kondisi lereng, baik pemanfaatan perkebunan atau hunian berkontribusi pada bahaya longsor.
Pemanfaatan perkebunan di lereng adalah faktor pengontrol, selain itu kemiringan lereng, batuan penyusun yang mudah lepas. Selanjutnya biasanya dipicu oleh curah hujan tinggi. Sebagian air hujan meresap, kemudian membentuk bidang gelincir. Keberadaan lereng terjal tersebut, sebaiknya ditanami pohon, agar mengurangi risiko gerakan tanah.
Gunung Hawu bersanding dengan beberapa kerucut perbuitan lainya. Berdiri dihadapannya ke arah utara, didapati kerucut yang lebih tinggi. Disebut Gunung Singa 1087 meter dpl., kemudian di sebelah timurnnya ditempati Pasir Laja, dan Pasir Salam. Ke arah selatan dibatasi Pasir Saar dan Pasir Caringin. Jauh ke arah barat, berjajar puncak G. Geulis,Pasir Kupa dan Pasir Angin.
Kerucut-kerucut tersebut merupakan bagian dari sistem gunugapi Soreang. Batuannya diuraikan pada keterangan peta Geologi Lembar Garut (Alzwar drr., 1992), dan Peta Geologi Lembar Bandung (Silitonga, 1972). Di Daerah Soreang, kemudian ke arah timur diantara Baleendah hingga Ciparay, batuannya disusun hasil endapan gunungapi. Terdiri dari breksi tufan, dan lava. Warnanya gelap, ditafsir berkomposisi andesit-basal.
Dari pengukuran batuannya, (Koesoemadinata dan Sunardi, 1999), umur batuan gunungapi daerah Cipicung sekitar 3,30 juta tahun, di Kromong Timur 3,24 juta tahun dan di Kromong Barat 2,87 juta tahun. Dengan demikian, menegaskan pendapat Sudjatmiko (1972), dan keterangan dari Silitonga (1973), daerah Soreang dan Banjaran merupakan gunungapi berumur Pliosen (Bronto, 2006).
Dari penelitian Sutikno Bronto (2006), di jurnal geologi Stratigrafi Gunungapi Daerah Bandung Selatan, Jawa Barat. Pengelompokan morfologi kerucut sekitar Soreang, ke dalam satuan Batuan Gunung Api Soreang. Membentuk konsentris (lingkaran), sehingga puncaknya disebut G. Buleud. Penggunaan bantuan pengukuran peta google map. panjang utara ke selatan sekitar 4,2 km. Sedangkan dari barat ke timur mendekati angka 4,3 km. Di bagian tengahnya terdapat cekungan yang ditafsir sebagai fasies sentral gunungapi purba Soreang.
Selanjutnya Bronto menduga, fasies medial memiliki lereng curam ke arah fasies sentral. Di bagian timur laut, terdapat tinggian yang mempunyai bentuk tapal kuda. Bukaan ke arah timur menghadap ke Dataran Bandung. Bronto menafsirkannya sebagai kerucut gunugapi kedua di dalam kawasan sistem Gunungapi Soreang.
Puncakmulya Titik terbaik untuk menyaksikan kelompok kerucut perbukitan Gunungapi Soreang, bisa disaksikan di dataran tinggi Puncakmulya, Kutawaringin. Berada di ketinggian 1015 meter dpl., berupa pegunungan yang menghubungkan antar gunung disebut sadel (col/saddle). Penyebutan Puncakmulya muncul di peta modern, sedangkan pada peta lama Topographisch Bureau (Batavia) Lembar Kopo (1909) disebut Puncakgadog. Nama Gadog merujuk kepada nama pohon Gintung (Bischofia javanica).
Puncakmulya merupakan tertinggi, dilalui jalan penghubung antara Soreang ke Cililin. Jalan kelas desa, antara Cikupa di sebelah timur. Kemudian mengarah ke arah barat laut, membelah perbukitan sekitar Desa Sukamulya. Jalur perlintasan antar desa ini, dinaungi beberapa kerucut perbukitan bagian dari sistem Gunungapi Soreang. Di titik tinggi Puncakmulya, merupakan titik terbaik untuk mengamati bentang alam perbukitan. Di balik puncak perbukitan, terlihat dataran rendah Soreang. Dicirikan dengan struktur bangunan Masjid Agung Soreang dan Gedung Sabilulungan yang menjadi khas ibu kota Soreang. Puncak ini dikelilingi oleh kerucut-kerucut perbukitan, ditafsir sebagai batas kaldera Gunungapi Soreang bagian barat. Diantaranya G. Dukuh 1035 meter dpl, di sebelah timur laut. Bersanding dengan G. Kutamajangkar 1178 meter dpl., saat ini disebut G. Kutawaringin. Kemudian ke arah utara, dibatasi G. Cintalangu 1202 meter dpl., di baliknya didapati puncak memanjang baratlatu-tenggara disebut G. Gedogan.
Ke arah selatan, berjajar puncak-puncak yang memanjang timur-barat. Diantaranya G. Remeng yang dinaungi G. Aul 1201 meter dpl. kemudian ke arah barat berdampingan dengan G. Kerud, dan lebih ke arah barat daya ditempati G. Kaseproke 1187 meter dpl.
Sebagaian besar lereng perbukitannya telah bersalin rupa, dari kawasan hutan menjadi ladang. Kondisi demikian karena lahannya disusun oleh batuan lapuk yang memberikan unsur hara yang baik. Namun kondisi demikian, memiliki potensi gerakan tanah. Akibat batuannya belum terkonsolidasi dengan baik, atau batuan lepas. Batuan penyusunnya berupa lava andesit, breksi piroklastik, dan tuff. Dibeberapa tempat menyingkapkan batuan dasarnya, berupa breksi gunungapi.
Membentuk tiang akibat erosi tingkat lanjut, seperti yang terlihat di jajaran puncak antara G.. Kaseproke dan Pasir Pogor. Struktur batuan demikian, mirip dengan Gunung Buleud, Desa Cibodas. Tingginya 1178 meter dpl., bila dilihat dari kampung Bahuban, bentuknya mirip Candi. lokal menyebutnya Batunini, karena bentuknya seperti seorang nenek yang memikul barang.
Gunung Lumbung Dari Puncak Mulya, kemudian bergerak ke arah barat melalui Cikoneng. Jalannya berupa aspal yang terkelupas, erosi air hujan. Menyisakan jalanan yang terkelupas, memperlihatkan makadam (jalan batu). Jalanan melandai ke arah barat, melewati G. Gedogan hingga Babakan, dilanjutkan ke Cikoneng. Dari Desa ini, kemudian memotong ke arah utara melalui jalan setapak hingga Cigadung..
Jalannya pas satu kendaraan roda dua, menanjak terjal hingga tiba di Cinagrog. Sesuai dengan namanya, titik ini merupakan sadel G. Lumbung. Dari peta lama Batavia : Topographisch Bureau (1906), menunjukan garis putus-putus. Garis tersebut memberikan petunjuk bahwa jalan menuju puncak G. Lumbung, dilalui dari sisi sebelah timur.
Pendakian jalur saat ini, lebih populer melalui jalur dari arah utara. Dimulai dari jalan setapak di seberang SDN Lembang. Jalurnya lebih panjang, dibandingkan bila dilalui dari arah timur. Jalurnya lebih landai, memutar ke arah barat mengikuti kontur perbukitan. ‘Jalan yang tersedia berupa jalan setapak, menanjak dan bertangga. Tetapi bila melalui Cinagrog, bisa dilalui oleh kendaraan roda dua, karena sebagian besar jalan sudah dibuka oleh warga. Tujuan pelebaran jalan setapak tersebut, untuk mengangkut hasil panen.
G. Lumbung 1062 meter dpl., merupakan perbukitan yang menaungi Dusun Lembang, Mukapayung. Merupakan perbukitan yang memanjang barat-timur. Ke arah baratnya dibatasi oleh G. Putri 880 meter dpl. Di Hadapannya adalah perbukitan G. Solokanpandan 1042 meter dpl. Di antara Lumbung-Putri dan Solokanpandan, membentuk lembah dalam yang ditoreh oleh Ci Lembang. Mengalir ke arah barat, bergabung dengan Ci Bitung, hingga bermuara di Saguling, Cililin.
Dari Cinagrog, terlihat dataran rendah yang membentuk cekungan. Disebut Dusun Lembang, Mukapayung. Daerahnya subur, ditandai dengan hadirnya petak-petak sawah yang menghiasi sebagian besar cekungan. Air mengalir melalui beberapa anak sungai, diantaranya Ci Lembang. Hulunya di lereng selatan G. Gedogan 1296 meter dpl., salah satu puncak tertinggi di wilayah Mukapayung.
Catatan awal yang menjelaskan keberadaan tingalan budaya di puncak G. Lumbung adalah laporan dua peneliti Eropa. P. Van Oort dan S. Muller, menulis hasil survey arkeologi dalam laporan Aanteekeningen Gehouden Op Eene Reize Over Een Gedeelte. Berupa perjalanan survey ke wilayah Jawa dan sebagian Sumatera, dilakukan dari tahun 1833 hingga 1835.
Survey arkeologi ke G. Lumbung dilakukan selama tiga hari, dari tanggal 15 hingga 17 Januari 1833. Berangkat dari Cilokotot, kemudian menyeberangi Citarum di Cipameuntasan, kemudian ke utara melaui Gajah Langu. Saat ini ditafsirkan sebagai perbukitan G. Salam di Leuwigajah, Cimahi Selatan. Dalam keterangan selanjutnya, Muller menggambarkan dari Ci Tarum ke arah selatan jarang dihuni. Ke arah selatannya adalah padang rumput yang luas, ditempati ilalang dan gelagah, rusa liar dan harimau. Sesekali melihat kawanan angsa dan banteng liar yang sangat ditakuti warga. Areal ini seringkali digunakan sebagai lahan perburuan binatang liar oleh Bupati Bandung saat itu.
Kondisi demikian menandakan wilayah Bandung bagian selatan, masih relatif belum terjamah. Sehingga batas wilayah pemerintahan pada saat itu bukan pada batas wilayah lahan, tetapi berdasarkan sebaran penduduk.
Pada tanggal 17 Januari 1833, P. van Oort dan S. Muller melakukan perjalanan lanjutan. Dimulai dari Cililin, kemudian menyeberangi Ci Minyak. Perjalanan ini sepertinya telah diatur dan diatur oleh seorang Wedana Rongga saat itu. Digambarkan bahwa sungai tersebut dalam dan deras airnya, namun bila disandingkan dengan kondisi sekarang berbeda. Sebagian besar sungainya sudah tenggelam oleh genangan Waduk Saguling. Dari Tegallaja keduanya melanjutkan dengan cara berjalan kaki, menyusuri Ci Bitung ke arah hulu.
Selepas lembah Mukapayung, kemudian menembus perbukitan hingga tiba di lembah disebut Lembang. Berupa cekungan yang diapit oleh beberapa puncak perbukitan. Menjelang tengah hari, mendaki Gunung Lumbung dari sisi utara. jalannya curam dan terjal, hingga mendapati dataran di atas perbukitan tersebut. Selanjutnya dilaporkan didapati teras persegi yang ditumbuhi rumput dan semak-semak, menutupi area tanah yang luas. Muller menduga bahwa daratan di bagian puncaknya pernah ditempati sekelompok warga. Namun ia tidak menemukan sisa-sisa jejak bangunan.
Kemudian dilanjutkan ke arah timur, mendekati punca perbukitan. Selama perjalan menemui pecahan genteng, mangkuk porselen cina, dan wadah-wadah pecahan lainya. Keberadaan pecahan porselen, hingga kini masih didapati secara acak. Terutama di perkebunan warga dekat situs arca. Muncul ke permukaan karena kegiatan penggemburan tanah, atau kegiatan perkebunan lainnya. Namun ketiga dikonfirmasi kepada warga yang menempati perkebunan, kurang begitu memahami keberadaan pecahan porselen tersebut.
Dari keterangan Muller, didapati situs yang dibatasi oleh batu sungai. Dicirikan dengan bentuk batu yg membundar, menandakan batunya diambil dari sungai sekitar perbukitan. Kemudian dibawa ke puncak dan ditata sedemikian rupa. Pada laporan Muller.
“Patung itu berdiri di bawah pohon tua yang tinggi, dikelilingi oleh lingkaran batu yang ditegakkan, dan tingginya lebih dari enam meter. Bentuknya sangat tidak jelas; sepertinya menggambarkan seorang manusia dalam posisi duduk, yang memegang sesuatu di depan dadanya, yang mirip dengan seorang anak dengan kepala burung. Bagian depannya menghadap ke barat laut, dan di belakangnya terdapat batu bulat kecil yang tingginya lebih dari satu meter.
Penduduk setempat menyebutnya arca. Mereka tidak akan melakukan hal penting apa pun tanpa terlebih dahulu mempersembahkan dupa dan memohon berkah darinya.”
Saat ini keberadaan arca tersebut kurang lebih sesuai dengan penggambaran lukisan Van Oort. Berupa bentuk menyerupai tubuh manusia setengah badan, kemudian bentuk mata tunggal di tempatkan pada bagian arca. Tingginya 65 cm dan lebar 40 cm, terbuat dari batuan trachyte. Batuan beku hasil kegiatan gunungapi, berwarna terang.
Arca tersebut didampingi oleh tiang batu disebut lingga, dengan ukuran tinggi 120 cm, dan lebar sekitar 50 cm. Gambar sketsa dan keterangan, dituliskan dalam laporan terpisah. Melalui Over Eenige Oudheden Van Java En Sumatra.
“Fig. 1. Sebuah Artja dari Gunung Loemboeng. Gunung ini terletak 6 atau 7 jam perjalanan ke arah barat daya dari kota utama Bandung, di tengah-tengah gunung-gunung lain yang berukuran sedang. Puncaknya, sekitar 5000 kaki di atas permukaan laut, menampilkan sebuah dataran tinggi kecil, di mana terdapat sebuah gagah (ladang padi hutan) dengan sebuah rumah sederhana. Saat mengolah tanah, ditemukan berbagai sisa-sisa rumah tangga, seperti koin tembaga kecil (pitis atau pitjis), seukuran duit, dengan lubang persegi di tengahnya, sejumlah pecahan piring atau cangkir berwarna kebiruan, sebuah pot kecil dari bahan putih, berbutir halus, dan sangat keras (lihat gambar 3), dan akhirnya sebuah wadah dupa kecil dari tanah merah (gambar 4, a. dari samping, b. dilihat dari atas, gambar-gambar ini, sama seperti gambar 3, diperkecil satu setengah kali), semua benda ini ditunjukkan kepada kami oleh seorang wanita tua dan dijual dengan harga murah. Di titik tertinggi puncak gunung tersebut terdapat patung Artja yang digambarkan (fig. 1). Patung kuno ini — jika dalam kondisi saat ini masih dapat disebut patung — berdiri di bawah pohon Hoeni yang cukup besar (Antidesma bunius).
Ini terdiri dari dua belas batu sungai yang disusun dalam lingkaran dan ditutupi oleh beberapa baris tanaman Hanjuang berdaun merah (Dracaena terminalis). Bentuknya sangat tidak jelas dan telah banyak rusak akibat pengaruh udara dan air, karena patung tersebut terbuat dari batu konglomerat. Bagian belakangnya hampir rata, dan hanya bagian samping dan depan yang masih utuh. Di bagian depan hanya terlihat kepala burung, yang paling mirip dengan burung merak, yang dapat dikenali dengan jelas. Patung ini tidak memiliki wajah yang sebenarnya, tetapi di bagian atas kepala terlihat sosok seperti mata yang berdiri tegak, yang memiliki kemiripan dengan mata ketiga yang melambangkan matahari di dahi Siwa. Tinggi patung keseluruhan adalah 0,65 meter, lebarnya 0,40 meter, dan ketebalannya 0,25 meter. Bagian depannya menghadap ke arah barat laut.
Gambar 2. Batu panjang, ramping, dan sedikit kemerahan ini, yang diduga merupakan Lingga, terletak di sebelah timur laut di belakang arca yang telah dijelaskan di atas. Batu tersebut memiliki tinggi 1,20 meter, lebar 0,28 meter, dan tebal 0,20 meter. Di dekat benda-benda ini, terutama di depan Artja, terdapat beberapa ikat jerami padi yang setengah terbakar dan beberapa tongkat bambu, yang diduga digunakan untuk ritual mistis guna meramalkan masa depan. – Tidak jauh di selatan Gunung Loemboeng, terdapat puncak gunung lain yang memiliki nama bersejarah G. Majapahit”
Saat ini kondisi arca dalam kondisi tidak terawat. Terbuka tanpa ada atap penutup, sehingga akan mudah lapuk dan rusak oleh cuaca. Keberadaan segmen bagian atas pada arca, saat ini telah tererosi. Sedikit membundar, dan kehilangan detail seperti yang digambarkan oleh Van Oort pada 1833. Selain itu didapati kolom yang membentuk seperti obelix, dengan aksara latin berupa angka. Diduga merupakan titik triangulasi yang digunakan kolonial, untuk melakukan pemetaan.
Reservoir./tandon air untuk kereta api uapRailbed/lintasan kereta api di sekitar utara Soreang
BMKG menyuarakan potensi bibit siklon, berpotensi menggerakan awan menjadi hujan dan tiupan angin. Badan pemerintah yang bertanggung jawab memantau hidro dan meteorologi, menyatakan akan terjadi hujan deras melanda sebagian besar pulau Jawa. Penyebabnya adalah Siklon 93S yang mampu memproduksi hujan lebat di langit Jawa.
Ramalan cuaca tersebut menjadi perhatian, jelang kegiatan Geourban ke-52. Menyusuri kembali sejarah, dan rahasia bumi sekitar Cisalak Subang. Namun hingga jelang matahari terbit, awan di langit membuka tabir. Memberikan kesempatan cahaya matahari menerobos, jatuh di dataran tinggi Lembang. Memberikan jalan kepada warga, beraktivitas pagi di sekitar Langensari, Lembang. Deru motor roda dua, hingga roda empat berburu dengan waktu. Mengantarkan anak sekolah, hingga aktivitas pekerjaan pagi hari.
Walau masih ada awan tebal menggelayut di sebelah utara, tetapi tidak mengurungkan niat menelusuri wilayah Cisalak melalui Cupunagara. Kegiatan pro bono ini dilaksanakan pada hari Selasa, 16 Desember 2025. Dihadiri beberapa partisipan, dari latar belakang yang beragam, mulai dari pegiat wisata, penyuka jalan-jalan hingga kreator konten. Target kunjungan dalam kegiatan ini adalah, menyusuri kembali laporan arkeologi yang dituliskan oleh N. J. Krom (1915), kemudian laporan Dr. Sal. Muller (1833). Kemudian melihat kembali dinamika bumi, berupa gerakan tanah yang sempat terjadi di Cipondok, Kasomalang.
Perjalanan menggunakan roda dua, dengan tujuan untuk memudahkan pergerakan. Mengingat jalur yang akan dilalui adalah jalan makadam (berbatu), hingga jalan kelas desa. Kendaraan dipacu ke arah utara, melalui perkebunan Wangunharja sekitar Lembang. Wilayah ini dikenal dengan perkebunan hortikultura yang berbatasan langsung dengan hutan produksi milik PT Perum Perhutani sektor Bandung Utara. Dari lokasi ini ke arah selatan terlihat jajaran perbukitan yang memanjang barat ke timur, disebut Sesar Lembang. Sedangkan ke arah utaranya, didapati perbukitan yang memagari dataran tinggi Lembang. Diantaranya Pasir Sukatinggi, dan G. Putri. Ditafsir sebagai soma (batas kaldera) G. Sunda. Di baliknya adalah kerucut khas G. Tangkubanparahu bersanding dengan G. Burangrang sebelah barat.
Sistem Gunungapi Cibitung Cupunagara Selepas tegakan pohon pinus merkusii,mengantarkan rombongan ke arah Pasir Puncak Eurad. Puncak pass yang memisahkan antara Lembang dan Cisalak Subang. Berupa gawir terjal yang memanjang dari timur ke barat. Membentuk dinding tegak, membatasi dataran tinggi Lembang dan Bandung bagian timur dengan Cisalak, Subang.
Dari keterangan ahli gunungapi purba, Sutikno Bronto (2004). Menyebutkan terbentuk dua sistem kaldera, yaitu Kaldera Cibitung di sebelah barat dan Kaldera Cupunagara sebelah timurnya. Dalam keterangannya, Bronto menyebutkan mengenai umur pembentukannya dimulai sejak Paleosen Akhir dan Oligosen Awal. Sekitar 59-36 juta tahun yang lalu, berdasarkan hasil pengukuran batuannya. Sedangkan dari pendapat ahli lainya, merupakan gravity fall atau longsoran batuan. Membentuk gawir terjal yang terbuka ke arah utara.
Puncak Eurad merupakan titik pengamatan terbaik untuk melihat fenomena bumi tersebut. Dilalui oleh jalan kelas desa, menghubungkan antara Cisalak Subang melalui Cupunagara ke dataran tinggi Lembang. Sehingga ditafsir bahwa jalur lintasan ini menjadi strategis. Terutama pada saat serangan Jepang pada 5-7 Maret 1942. Diperkirakan jalur ini menjadi pintu masuk selain melalui Ciater. Seperti yang telah diketahui, pasukan Jepang masuk melalui Subang, kemudian mendesak ke arah Bandung melalui puncak pass Ciater. Dibuktikan dengan ditemukannya lubang militer, berada di sebelah barat laut dari posisi Puncak Eurad. Berupa gua dengan lebar sekitar 2 meter, tinggi 1,5 meter dan panjang lorong tidak lebih dari 8 meter. Diperkirakan merupakan pos pengamatan militer Jepang, pada saat mempertahankan jalur lintas Subang-Bandung melalui Puncak Eurad. Penggunaan lubang gua sangat efektif, digunakan sebagai perlindungan dari serangan udara. Mengingat sistem pertempuran perang dunia kedua, menggunakan pesawat udara. Selain itu sebagai perlindungan dari elemen cuaca, dan mudah dibuat. Batuannya adalah piroklastik yang telah lapuk, dicirikan oleh tanah dan batuan yang berwarna coklat terang. Menandakan hasil alterasi. Mineral ubahan tersebut dilaporkan oleh Sumantri dkk. (2006), menyebutkan Litologi terdiri atas satuan batuan intrusi, lava dan piroklastik berkomposisi andesitis-basaltis, sebagian besar berubah menjadi zona ubahan propilitik dan argilik
Kopi di Bukanagara Jelang siang, rombongan mengunjungi kedai kopi sebelah utara kantor Desa Cupunagara. Cisalak, Subang. Berupa kedai kopi yang menyajikan aneka macam jenis kopi seduhan, dari perkebunan kopi yang tersebar di kawasan Bukanagara, di Desa Cupunagara sebelah utara. Sedangkan bagian selatannya, diusahakan oleh kelompok tani berbeda. Merek Kopi Cupumanik diusahakan oleh Ita Koswara sejak awal tahun 2014, melalui rintisan bersama kelompok tani kopi. Kemudian tahun 2018 mendirikan kedai kopi, dengan tujuan menyediakan produk siap saji. Ita Koswara merupakan petani kopi di Cupunagara, merintis tanamanan kopi melalui sistem perkebunan kopi. Berlatar belakang petani sayuran, kemudian beralih ke tanamanan kopi. Menurut keterangannya, perintisan tersebut tidak terjadi dalam satu malam, tetapi melalui usaha dan kerja keras. Upaya tersebut berbuah setelah tiga tahun di awal perintisan, melalui usaha budidaya. Dihasilkan jenis arabika dan sebagian kecil robusta, dalam skala industri kecil. Dikerjakan dari hulu, pengelolaan perkebunan terbatas melalui kerjasama dengan kelompok tani. Kemudian pengolahan melalui pemrosesan dari cherry (buah), hingga menjadi gabah.
Untuk meningkatkan penjualan, Ita Koswara memproduksi produk kopi dalam kemasan. Baik dalam bentuk telah di roasting, hingga kopi kemasan digiling halus dan siap seduh. Guna melengkapi alur dari hulu, kemudian di hilir didirikan kedai kopi pada tahun 2018, dinamani Cupumanik di Desa Cupunagara. Menggunakan nama yang diambil dari klasik wayang, dengan tokoh semar. Semangat tokoh tersebut, menjadi motivasi bagi Ita Koswara untuk mendirikan usaha hulu hingga hilir.
Dari keterangan singkat, Ita menjelaskan bahwa sejarah tanaman kopi telah ada sejak jaman kolonial. Dibuktikan ternyata masih ada beberapa pohon kopi, berupa tegakan yang tumbuh tidak terawat di sekitar blok Bukangara. Tingginya sekitar 5-8 meter, dengan ukuran lingkar batang 18-23 centimeter. Daunnya lebar, tampak berbuah ukuran kecil dan masih berwarna hijau. Menandakan pohon kopi ini jenis robusta, dan masih produktif.
Jalan Penghubung Bukanagara ke Pasirlame Selepas jalanan menurun, kemudian melewati pintu masuk wisata curug (air terjun) Cikaruncang. Merupakan hulu sungai, mengalir membelah desa Mayang yang berada di sebelah utaranya. Kurang lebih 2 km ke arah utara, ditemui jalan turun ke arah lembah. Jalannya berbatu selebar 3 meter, namun keberadaanya telah ditutupi ilalang. Kondisi demikian sulit dilalui kendaraan roda dua, mengingat sebagian jalan menyisakan lubang akibat erosi air. Sehingga diperlukan keterampilan berkendara, di atas jalanan berbatu dan berlubang.
Jalan menurun ke arah utara mengikuti kontur perbukitan Pasir Bedil sebelah barat, kemudian memotong lereng Pasir Tonggohluhur disebelah utaranya. Di sekitar setengah perjalanan, melewati dua anak sungai Ci Karuncang, mengalir hingga ke arah utara kemudian bertemu dengan Ci Karuncang di Desa Mayang.
Sepanjang perjalanan dihiasi oleh tegakan-tegakan pohon kopi. Tumbuhan asal benua Afrika tersebut dibawa ke Subang, kemudian ditanam di wilayah perkebunan milik P&T Lands sejak awal abad ke-19. Pada masa pengelolaan Hofland, dibuka tiga belas kebun kopi di daerah seperti Bukanagara, Kasomalang, Sarireja, Ciater, Jaggernaik, Arjosari, Tengger Agung, Sumurbarang, Wera, Wangun Reja, Pasir Bungur, dan Subang (Junaedi, 2022: 70). Dalam catatan sejarah Subang abad ke-19, sebagian besar merupakan tanah partkelir. Wilayah Pamanoekan en Tjiasemlanden, mencapai luas 212.900 hektar (Effendi, 1999).
Batu Candi Sebuah rumah permanen, berdiri kokoh di sebelah bongkah batu. Berada di tepi jalan desa, menghubungkan antaran Cisalak ke Cupunagara, melalui Pasirlame. Bongkah-bongkah batuan tersebut berupa blok batuan yang menyebar dari utara ke selatan. Kemudian di sebelah timurnya,dipotong oleh Ci Leat dan sebelah baratnya dilatasi Ci Karuncang. Masyarakat menyebutnya Batu Candi yang diperkirakan merupakan tempat pemujaan nenek moyang di masa lalu. Selain blok batuan ini, ke arah timurnya menyebar batuan yang hampir sama, disebut batu Goong.
Diperkirakan blok-blok batuan tersebut dibawa oleh air, berupa luapan sungai. Dicirikan dengan didapatinya berbagai ukuran batuan dengan struktur membundar (rounded), ciri di transportasi (diangkut) oleh air. mekanisme pengangkutannya oleh hasil kegiatan luapan air sungai, hingga longsoran yang mengerosi batuan di hulu. Menandakan bahwa kegiatan luapan air sungai, disertai longsoran bahan rombakan telah terjadi sejak lama. Walaupun sering terlanda bencana banjir, namun masyarakat menempati sebagian besar wilayah tersebut karena daerah hasil endapan sungai. Mengakibatkan dataran banjir tersebut subur.
Dari keterangan Ateng (63 tahun) pemilik lahan, menjelaskan bahwa ia menemukan bongkah batu. Bentuknya diduga seperti arca, terbuat dari batu. Benda tersebut ditemukan tanpa sengaja oleh Ano Suwarno (60 tahun) tahun 1974, pada saat melakukan pembersihan lahan. Diperintahkan oleh Ateng, untuk mempersiapkan lahan untuk rumah tinggal. Menurut Ano, ukuran arca tersebut sebesar paha orang dewasa, atau kurang lebih tinggi 40 cm, dengan lingkar 20 cm. terbuat dari batu, berwarna abu-abu gelap mirip dengan batuan yang didapati di sungai Ci Karuncang. Dengan demikian, diperkirakan batuan penyusunnya merupakan batuan hasil kegiatan gunungapi, jenis andesit-basaltik.
Sumber lain mengenai penemuan arcan ini, dilaporkan oleh N.J. Krom Rapporten van de Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indië (ROD) 1914. Dalam jurnal arkeologi yang disusun Nanang Saptono (2009), menunjukan dua titik koordinat. Salah satunya berada di hulu, sekitar 300 meter ke arah utara dari Batu Candi. Dalam penelusuran singkat, warga mengakui tidak mengetahui keberadaan situs budaya. Bahkan satu orang sesepuh menyatakan tidak pernah mengetahui. Namun ia menyarankan ke arah utara, setelah jembatan Ci Karuncang, disebut Batu Candi.
Di Sekitar lokasi ini didapati tanah lapang di atas rumah warga. Sekelilingnya berupa persawahan, dan di sebelah utaranya atau sekitar 100 meter didapati kompleks pemakaman warga. Tanah lapang tersebut tidak luas, namun ditempat beberapa bongkah batuan yang diperkirakan hasil jatuhan dari hulu. Lebar lahannya sekitar 4 x 5 meter, dipagari dan ditanami sayuran. Merujuk kembali kepada sumber literatur, seperti yang dituliskan oleh Saptono (2009), “Sedikit ke arah hulu dari jalan raya terdapat beberapa lahan berupa gundukan namun sudah tidak begitu jelas dikenali. Beberapa gundukan tanah atau lahan yang lebih tinggi dari daerah sekitar memang banyak dijumpai di sepanjang tepi kiri sungai Cigarunjang (penelusuran dari jalan raya menuju arah hulu sungai). Beberapa lahan ada yang sudah menjadi perkampungan. Gundukan tanah atau lahan yang lebih tinggi ini kebanyakan tidak beraturan. Beberapa lahan yang dicurigai sebagaimana yang dilaporkan Krom terdapat pada ujung Desa Gardusayang”
Keterangan tersebut merujuk kepada Batu Candi, lahan milik Ateng. Dari keterangan orang tuanya, dahulu tempat tersebut didapati beberapa arca yang ditempatkan di atas blok batuan tersebut. Sedangkan lingkungan sekitarnya masih berupa persawahan dan tanah lapang. Blok batuan tersebut merupakan perbukitan kecil yang diperkirakan merupakan gundukan tanah membentuk punden berundak. Dari keterangan Ano, tanah tersebut diratakan untuk mendirikan rumah. Tanpa sengaja ia menemukan bentuk arca yang mirip manusia. Dari keterangan, memiliki tangan yang dilipat menyilang di bagian depan. Didapati anatomi layaknya wajah manusia, seperti hidung, mulut mata. Kemudian bagian bawahnya berupa kaki yang memajang.
Arca tersebut rencananya dibuang, namun menurut Ano merupakan peninggalan nenek moyang. Kemudian diserahkan kepada Haji Aceng di Bandung. Hingga kini keberadaan arca tersebut tidak diketahui.
Punden Berundak di tepi Ci Laki Bergerak ke arah barat dari Desa Mayang, ke arah Cimanggu. Menuju makam tua yang berada di tepi Ci Laki, ditempuh sekitar 3 km dari kantor Desa Cimanggu ke arah barat daya. Mengikuti jalan yang menghubungkan Cimanggu ke hulu Ci Tali. Sungai yang mengalir dari lereng sebelah utara G. Canggak. Arah alirannya dari selatan ke utara, kemudian bergabung dengan Ci Leat di Selaawi, lereng Pasir Jatinangor.
Pada peta lama ke-19 pertengahan, wilayah ini masuk Batu Sirap. Dilaporkan oleh Muller, dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 4de Deel, 1/2de Afl. (1855), pp. 98-122 (47 pages). Merupakan kegiatan penelitian arkeologi, dilangsungkan antara tahun 1831 hingga 1833, mencakup sebagian Sumatera dan Jawa. Pada laporan berjudul Oudheden van Java (benda purbakala dari tanah Jawa). Menuliskan penemuan beberapa arca, dibagi menjadi tiga kelompok. Objek atau benda yang memiliki pengaruh Hindu. Dicirikan dengan batu, berbentuk pedestal atau kubus. Terutama patung yang mirip dengan ganesa. Kelompok pertama ini berasal dari budaya yang lebih muda, sudah menerima pengaruh dari luar. Sedangkan kelompok kedua datang dari umur yang lebih tua. Dicirikan Dengan bentuknya yang masih kasar, kadang-kadang hampir tidak memiliki bentuk manusia; patung-patung ini biasanya disebut arca oleh orang-orang Sunda. Kedua jenis benda purbakala ini masih dihormati secara religius oleh masyarakat setempat hingga saat ini.
Penggunaan nama arca, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti pemujaan dalam bentuk patung. Laporan mengenai keberadaan arca di lereng G. Canggak, ditemukan pada laporan di Plaat III (lembar ke-tiga). Diceritakan penemuan bentuk arca, di kaki gunung Canggak sebelah barat laut. Pada saat itu masuk ke dalam wilayah Karawang yang berbatasan dengan Sumedang.
“Di sana terdapat lima teras berbentuk persegi empat yang berurutan, dari timur laut ke barat daya, pada ketinggian yang sedikit meningkat. Setiap teras 6-8 kaki (1.8 meter – 2.4 meter) lebih tinggi dari teras sebelumnya; teras terbawah memiliki diameter 40 langkah (12,1 meter), tetapi teras teratas sedikit lebih kecil. Di sisi-sisinya, tanahnya curam. Di sekeliling, dan juga di teras-teras yang mirip kuburan ini, tumbuh Poespa – (Schima noronhae), Sempoer … (Dilenia spec.) dan pohon-pohon hutan lainnya, Bambu Tali (Bambusa apus) dan Alang-alang (Imperata Koenigii); Namun, yang paling menarik perhatian kami adalah beberapa pakis mirip palem, yang sampai saat itu belum pernah kami lihat di pegunungan barat Jawa. Pakis-pakis itu adalah Pakoe Hadji setinggi 20-30 kaki (6-9 meter), yang namanya diambil dari tempat itu, dan yang pasti ditanam di sana. Di samping setiap patung dewa terdapat satu. Batangnya yang cukup tebal, halus, berwarna abu-abu kecoklatan, dan mahkota yang sangat indah berbentuk payung atau kipas, sudah menarik perhatian kami dari kejauhan.”
Selanjutnya Muller menggambarkan tiga objek (arca), di bagian teras tengah berupa arca tanpa kepala, dengan tinggi sekitar 65 cm. Arca kedua digambarkan kepala condong ke depan, dengan tangan dilipat di bagian depan. Tingginya sekitar 28 cm. Arca ketiga disebut Demang Peret. Memiliki posis jongkok seperti patung sebelumnya, tafsiran Muller mungkin saya seperti belalai atau janggut yang panjang.
Saat ini merupakan komplek pemakaman Eyang Jaya Kusuma, berada di lereng hulu Ci Laki. Warga menyebutnya daerah Dayeuhluhur, Desa Cimanggu. Seperti nama yang disebutkan dalam laporan Muller, menunjukkan tempat Nagara (kampung?) Bukit Cula, dan Nagara Dhaja Loehoer (Dayeuhluhur).
Makam tersebut berbentuk persegi panjang, berarah utara-selatan. Dibatasi oleh susunan batuan, dengan dua batu besar di bagian tiap ujung. Saat ini seringkali dikunjungi untuk tujuan ziarah, atau ngalap berkah.
Makam Eyang Rangga Marta Yoeda Dari pusat kota Cisalak, terlihat dataran tinggi di sebelah barat. Merupakan tinggian berupa perbukitan yang disebut Pasanggrahan. Perbukitan tersebut dikelilingi dataran rendah, ditempati sawah. Sebelah selatannya adalah Kampung Ciaruteun, masuk ke dalam administrasi Desa Sukakerti.
Cisalak dilewati oleh aliran Ci Karuncang, daerah aliran sungai Ci Punagara. Hulunya berasal dari lereng utara G. Bukittunggul. Mengalir ke utara, melalui Pasir Tonggohluhur, hingga melewati Desa Mayang.
Di perbukitan Pasanggrahan ini disemayamkan seorang Demang yang hidup pada masa awal pengembangan perkebunan teh dan kopi di Subang selatan. Dikenal Raden Rangga Martayuda, lahir pada 1790. Meninggal dan dikebumikan di Astana Gede Gomati pada 1856. Perannya adalah membantu pengembangan perkebunan partikelir, dikelola oleh T. B. Hofland. Kakak tertua P. W. Hofland. Saat itu pabrik pengolahannya berada di Sagalaherang.
Namanya dituliskan pada tugu di Bukanagara, sebagai perintis pembuatan jalan tembus Cisalak ke Bukanagara. Dikerjakan pada 1847, untuk kepentingan usaha perkebunan partikelir milik T.B. Hofland. Jalan tersebut dinamai Djalan Pedati (Jalan Pedati). Pada saat itu Raden Rangga Martayuda merupakan Demang di Kademangan Batusirap. Saat ini mencakup sebagaian besar Cisalak, Subang. Wilayahnya meliputi Bukanagara, Kasomalang, Sarireja, Ciater, dan Jagernaek.
Longsor Cipondok Dari arah Cisalak kemudian bergerak ke arah barat, melalui Jalan Raya Kasomalang. Kurang lebih 3.5 km akan bertemu dengan persimpangan. Terlihat jelas papan informasi, industri air minum dalam kemasan (AMDK). Sebelum mencapai gerbang perusahaan swasta tersebut, didapati jalan ke arah sebelah kiri. Jalan yang menghubungkan dari Darmaga ke Kampung Cipondok, Pasanggrahan. Jalannya melintasi petak sawah. Diujung jalan semakin menyempit, hanya bisa dilalui oleh roda dua. Di Ujung jalan, melintasi jembatan yang melintasi Ci Punagara.
Terjadi bencana longsor pada hari Minggu, 7 Januari 2024. Menyebabkan tidak berfungsinya fasilitas sumber air Tirta Rangga, Subang. Perusahaan daerah yang mengelola distribusi air baku ke wilayah Subang selatan. Selain itu merupakan sumber air yang dimanfaatkan oleh perusahaan komersial, air minum kemasan (AMDK).
Peristiwa bencana tanah longsor tersebut, mengakibatkan jatuhnya dua orang korban dan 11 orang luka-luka. Memaksa 262 orang harus dialihkan dari daerah bahaya longsor. Pengalihan tersebut karena terisolir, akibat satu-satunya jalan penghubung putus.
Penyebab terjadinya longsoran akibat dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Faktor pendukung lainya adalah akibat batuan penyusunya (litologi) berupa batuan vulkanik yang belum terkonsolidasi dengan baik (rempung). Berupa aliran piroklastik dan blok lava, mengakibatkan mudah disusupi air. Sehingga bagian batuan lunak, menjadi bidang gelincir. Selain itu berkaitan dengan gradien/sudut lereng perbukitan, dan dekat dengan sempadan sungai. Kondisi demikian menjadi variabel terjadinya gerakan tanah, dengan mekanisme aliran bahan rombakan (debris flow).
Terhitung dua tahun dari waktu terjadinya longsor, saat ini telah mengalami perbaikan. Diantaranya muncul kembali mata air yang dahulu tertimbun longsor. Pengelolaan lereng yang terjal menggunakan rekayasa teknis. Kemudian penanaman kembali melalui 1820 bibit pohon, melalui kerjasama antara perusahaan daerah Perumda TRS, PT Tirta Investama dan Perum Jasa Tirta II. Saat ini sumber mata air tersebut berfungsi dan dapat dimanfaatkan kembali. Setidaknya didapati 5 lubang mata air, dengan debit air tinggi. Sebagian ditampung dalam bak, dialirkan ke dalam pipa. Sebagian lagi dialirkan ke irigasi terbuka untuk kebutuhan pertanian sekitar Kampung Cipondok.
Jalan setapak menuju Gua Militer Jepang, di Puncak Eurad.Di mulut gua militer Jepang, Puncak EuradJalan makadam menuju Pasirlame, MayangPohon kopi buhun, di lereng Pasirbedil, MayangBongkah batuan tererosi, membentuk garis geometris di Desa Mayang, dengan latar G. Canggak
Sejak dari pagi, pemilik warung mengolah makanan menjadi sajian. Warungnya selebar garasi mobil, dengan meja merapat kedinding. Masakan yang telah masak, kemudian ditata sedemikian rupa di lemari kaca yang sederhana. Konsumen tinggal menunjuk saja, jenis masakan yang akan dibeli. Tidak terlalu membutuhkan waktu lama, tiga jenis masakan telah tiba di piring siap disantap.
Demikian sajian pagi yang bisa dinikmati, sebelum bergerak mengupas sejarah di sekitar Banjaran. Mengantarkan para pegiat penelusur sejarah bumi dan budaya, dibungkus dalam kegiatan Geourban ke-45. Dilaksanakan pada hari Selasa, 4 November 2025. Kegiatan ini adalah menggali kembali sejarah, melalui aktivasi narasi. Membuka jejaring lokal hingga membuka peluang penyusunan menjadi paket wisata bumi di Bandung selatan.
Waktu menunjukan 7.40 WIB, cahaya matahari menimpa bangunan yang memanjang barat timur. Sekilas dari pandang mata, terlihat struktur bangunan yang memanjang barat-timur. Fasadnya merupakan ciri khas bangunan gudang, ditandai dengan bentuknya yang sederhana. Berupa struktur persegi panjang, dengan atap segitiga. Menekankan kepada fungsional, dibandingkan sisi estetikanya. Penelusuran singkat mendapati dua jajar jalur kereta api, memanjang barat-timur. Jalur sebelah selatan diperkirakan digunakan untuk proses bongkar-muat barang. Ditandai dengan sarana alat bongkar seperti crane container (struktur besi, untuk memindahkan barang dari atas lokomotif ke gudang).
Seorang bapak menunjukan sisa rel dan bantalan, di belakang garasi kendaraan milik warga. Di Sebelah selatannya berdiri patok dari beton setinggi 60 cm, dengan tulisan PT KAI. Menandai batas luar sebelah selatan jalur lintasan kereta api. Stasiunnya saat ini dimanfaatkan sebagai Balai Pertemuan warga Desa Banjaran. Pada dinding bangunan tersebut, didapati plakat PT KAI yang memberikan keterangan luas tanah 118 meter pesegi, dan nomor portal Aset 02.03.00301. Melalui keterangan plakat yang terpasang ada dinding, menandakan bahwa sebagian besar bangunan tersebut merupakan milik negara melalui PT KAI.
Statsiun ini merupakan bagian dari sistem jalur kereta api Bandung selatan. Menghubungkan antara Cikudapateuh di kota Bandung, ke Baleendah hingga Ciwidey, melalui Statsiun Banjaran. Dari statsiun ini kemudian dilanjutkan ke arah barat, hingga Statsiun Soreang. Melintasi Ci Widey (sungai), melalui Jembatan Sadu, Rancagoong dan beberapa jembatan pendek lainya.
Dari beberapa keterangan, jalur ini tidak lagi melayani operasional sejak tahun 1982. Selain biaya operasional yang terus meningkat, akibat terjadi kecelakaan dan menurunnya penumpang. Pengurangan pelayanan sudah terjadi jauh sebelum tahun tersebut, mengingat jalur penghubung dari Bandung ke Ciwidey relatif telah baik. Sehingga hadir beberapa layanan transportasi menggunakan sarana kendaraan roda empat.
Saat ini jalur kereta api tersebut tutup total, sebagian jalurnya telah diokupasi oleh warga lokal. Berganti menjadi rumah, warung hingga jalan setapak yang dimanfaatkan sebagai jalur lintas roda dua. Dari beberapa media daring, melalui kebijaksanaan gubernur Jawa Barat. Merencanakan pembukaan kembali jalur kereta api ini, walaupun di pemerintahan sebelumnya memiliki wacana yang sama. Namun pelaksanaanya belum terjadi hingga kini.
Perjalanan dilanjutkan mengarah ke selatan melalui jalan raya Pangalengan sepanjang 10 km. Sekitar pecabangan Pangalengan dan Puncang, di sekitar Cimacan. Didapati tugu peringatan yang menjelaskan tentang sejarah pergerakan kemerdekaan RI. Ditulis Tugu Tokoh Perintis Kemerdekaan Bandung Selatan, tahun 1932 atas prakarsai oleh Bung Karno (Sukarno). Tugu Perintis ini dibangun seiring dengan penetapan Desa Cimaung sebagai desa Panca Marga pada 31 Desember 1962. Menunjukan pemerintahan daerah Desa Cimaung mendukung kepada RI.
Dari Cimaung, kemudian bertemu dengan jembatan Cikalong. Selepas jembatan berbelok ke arah barat, berupa jalan sekitar Cangkuang Cikalong. Di sekitar Kampung Cikalong Hilir, didapati instalasi Bak II PDAM Tirtawening. Berupa kolam pengendap, kemudian didistribusikan melalui pipa Banjaran melalui jaringan pipa PDAM.
Jalan berupa beton lebar 6 meter, membawa ke arah Cangkuang. Jalannya menurun melalui jembatan, di atas Ci Sangkuy. Alirannya membelah lembah dari selatan ke utara. Sungai ini menjadi sumber air yang digunakan untuk menggerakan tiga pembangkit listrik tenaga air; diantaranya Plengan, Lamajan dan Cikalong. Tiga fasilitas pembangkit listrik tersebut, di bawah pengelolaan PT Indonesia Power, Bandung, Jawa Barat.
PLTA Cikalong merupakan tiga rangkaian dari sistem pembangkit listrik yang mengandalkan air sadapan dari Ci Sangkuy hulu. Airnya ditampung melalui kolam penenang (Forebay) yang berada di barat daya. Disebut kolam penenang Batu Eon, dicirikan dengan bongkah batu yang berada ditengah kolam. Masyarakat mempercayai nya, sebagai entitas yang tidak bisa dipindahkan atau dibongkar, sehingga dibiarkan begitu saja. Dari kolam ini, kemudian dialirkan melalui pipa ganda tertutup, sejauh 1 km. mengalir dari ketinggian sekitar 1010 meter ke 700 meter. Fasilitas PLTA ini dibangun setelah kemerdekaan RI, atau sekitar tahun 1954. Besar daya yang dihasilkan secara optimal adalah 19,20 MW.
Dari Desa Lamajan, didapati jalan kontrol yang digunakan oleh pengelola PLTA. Jalan yang mengikut lereng G. Tilu, mengikuti jalur irigasi tertutup. Instalasi ini dibangun seiring dengan kebutuhan listrik pada masa Kolonial Belanda. Dengan cara memanfaatkan aliran CI Sangkuy. Karena debit air yang tidak stabil, kemudian dibangun waduk buatan Cileunca dan Cipanunjang. Waduk tersebut mengalir air secara stabil ketiga pembangkit listrik. Sumber airnya disadap di bendungan Cikalong yang berada di arah hulu. Alirannya berupa saluran tertutup yang menembus lereng G. Tilu, Gunungapi purba yang menaungi Pangalengan. Untuk mendapatkan pasokan air yang stabil dari hulu, dialirkan melalui terowongan buatan tertutup. Sehingga alirannya tidak terpengaruh oleh sedimentasi atau tanah longsor. Di beberapa titik buatkan jembatan yang menyebrangi anak sungai. Struktur demikian disebut aqueduct, atau jembatan air (sungai).
Instalasi ini dikerjakan sejak 1922, dan beroperasi 1925. Sub Unit PLTA Plengan menghasilkan 6.87 MW, kemudian sub Unit PLTA Lamajan 18,56 MW, dan sub PLTA Cikalong menghasilkan 19,20 MW.
Jalan makadam tersebut menghubungkan antara PLTA Cikalong ke kolam PLTA Lamajan. Dilanjutkan ke PLTA Plengan. Sebelum tiba di Plenga, jalan makadam (berbatu), didapati dinding tegak. Berupa aliran lava tebal, dengan struktur sheeting joint atau kekar lembar. Terbentuk akibat kehilangan pembebanan, membentuk lembaran. Di tepi jalan sekitar Pulosari, terdapat air terjun. Mengalir diantara celah-celah batu membentuk tirai air. Warga menyebutnya Curug Dewa, sungai terbuka dari anak sungai Ci Sangkuy hulu.
Ke arah hulunya didapati waduk buatan Cileunca. Danau buatan. Kolonial Belanda menyebutnya Waterreservoir Tji Leunca en Tjipanoenjang. Merupakan danau buatan kaskade (cascade reservoir), multi guna untuk pengairan pertanian, wisata, dan sumber energi pembangkit listrik. Waduk Cileunca dikerjakan hampir tujuh tahun (1919-1926), memanfaat anak sungai sebagai sumber mata air waduk. Pembangunan kedua adalah pembendungan Waduk Cipanunjang (1927-1930). Paras waduk 2045 m dpl, dialirkan ke tempat yang lebih rendah sekitar 658 m dpl. Perbedaan ketinggian tersebut dimanfaatkan untuk menggerakan tiga turbin pembangkit listrik air; Plengan, Lamajan dan Cikalong
Kegiatan diakhiri di Situ Cileunca. Melihat kembali teknologi yang telah berusia seratus tahun lebih, berupa bendungan. Dialirkan melalui irigasi tertutup, membobok gunung hingga pembuatan kolam/forebay di atas ketinggian. Dijatuhkan melalui pipa pesat, untuk mendapatkan tekanan air. kemudian turbin bergerak, menghasilkan listrik.
Komunitas Geourban di PLTA CikalongKabel listrik tegangan tinggi PLTA CikalongHutan adat konservasi Ds. LamajangSpillway LamajanJembatan air Ci Sangkuy hulu
Sepatu karet khas buruh angkut perkebunan. Menjadi ciri yang mudah dijumpai disepanjang jalan Cibeureum hingga Situ Cisanti. Biasanya bersanding dengan motor empat langkah yang telah dimodifikasi sedemikian rupa. Agar bisa memuat hasil panen, bagian jok diganti menggunakan papan panjang sekitar 1 meter. Kemudian suspensi bagian belakang ditambah dua unit, hingga berjumlah empat. Tujuannya adalah mampu membawa beban hingga seratus kilo lebih, melalui jalanan tanah perkebunan.
Agar motor bisa melaju, membutuhkan traksi transfer tenaga mesin ke ban. Akibat jalanya tanah basah, menanjak terjal sehingga membutuhkan cara modifikasi. Dengan menggunakan bantuan bekas rantai gir, dililih ke bagian roda belakang berjajar. Tujuannya agar motor bila melaju, tanpa slip berjalan di tempat. Kegiatan tersebut merupakan bagian kecil dari rangkaian panjang industri pertanian. Kertasari merupakan sentra pertanian tanaman hortikultura, di Kabupaten Bandung. Produk unggulannya antara lain tanaman Cabai, Bawang Daun, Wortel, Kentang, dan Kubis, Petsai. Total penggunaan lahan hampir 3.743 ha (BPS Kab. Bandung, 2013). Akibatnya perebutan lahan seringkali terjadi, seperit terjai pada 25 November 2025. Terjadi aksi protes dari serikat pekerja perkebunan di depan pabrik teh Malabar, Pangalengan. Menuntut agar negara, melalui PT Perkebunan Nusantara, untuk menghentikanaksi pengalihan lahan (detik.com. 26/11/2025).
Total luasan lahan pertanian sayuran tersebut,memberikan gambaran bahwa Kertasari digerakan oleh industri pertanian. Berbeda dengan dengan kondisi seratus tahun yang lalu, merupakan lahan perkebunan kina, teh dan kopi. Dikuasai oleh penguasaan tunggal kepemilikan pribadi (swasta).
Seperti yang dilakukan oleh Willem Gerrard Jongkindt Coninck. Memulai usahanya mengembangkan budidaya kina sejak 1904. Dalam waktu 30 tahun lebih, produksi kina Kertamanah menguasai obat kina dunia pada saat itu. Produksi akhir abad ke-19 dan menjelang awal abad ke-20, merajai komoditas ekspor dunia. Pada 1940 produk kina di Hindia Belanda, hampir 90 persen kebutuhan dunia dipenuhi oleh hasil perkebunan kina di Jawa Barat (Nuralia, 2019).
Kejayaan perkebunan kina hancur, seiring dengan kelesuan ekonomi global (malaise), ditambah invansi tentara Jepang pada 1942 ke Jawa. Sebagian besar pegawai Eropa ditangkap, termasuk Jongkindt. Dialihkan ke interniran 7 di Ambarawa, meninggal pada 23 Januari 1945. Sebagai penghargaan pada jasanya, keluarganya kelak memindahkan jasadnya dari Ambarawa ke Pangalengan. Dikuburkan kembali 25 April 1949 (historia.com, 2025).
Kuburannya ditempatkan di dataran tinggi, dikelilingi danau pada saat itu. Seluas mata memandang adalah hamparan perbukitan dan lembah Kertamanah. Namun saat ini kondisinya tidak terurus, dikepung oleh perkebunan warga. Akses menuju lokasi kuburan tertutup oleh perkebunan, menyisakan jalan sempit. Keberadaanya tidak terawat, ditumbuhi tanaman liar yang tumbuh sekitar kuburan. Bentuk kuburannya berupa struktur bangunan persegi panjang, kemudian kuburan utamanya di bagian tengah. Membujur barat-timur, bagian kepalanya menghadap ke arah barat. Pada bagian nisannya, sudah tidak didapati plakat, sehingga nama dan waktu kematian tidak diketahui.
Kuburun tersebut sebagai bukti bahwa sebagian besar Kertamanah, merupakan perkebunan kina yang kini telah besalin rupa menjadi perkebunan warga.
Perkebunan tersebut tersebar luar, dari Tarumajaya, Kertasari hingga ke Sukamanah. Dihubungkan melaui jalan utama kelas kabupaten yang kini telah tingkatkana menjadi jalan beton. Sekitar 200 meter dari gerbang Situ Cisanti ke arah selatan, akan bertemu dengan percabangan Purbasari-Cikembang. Persimpangan ini menjadi titik penting, sebagai jalur pemisah antara dua wiayah. Ke arah timur menuju perbukitan yang memanjang utara-selatan. Bagian dari jajaran pegunungan selatan, G. Papandayan-G. Kendang-G. Rakutak.
Tugu Peringatan Helm Lima Di simpang jalan Tarumajaya, didapati patung dalam rupa seorang prajurit yang mebawa panji Satuan Siliwangi. Keberadaan patung tersebut berdampingan dengan tugu dengan bentuk obelisk setinggi 4 meter. Di bagian puncaknya tersisa bekas gagang kujang, sedangkan bagian atasnya telah hilang. Kemungkinan hilang akibat kegiatan vanadalisme. Pada bagian tugu tersebut, ditempatkan lima helm tentara. Memberikan simbol gugurnya lima orang Tentara Nasional Indonesia, pada saat konflik dengan DI/TII. Terjadi pada 5 Juli 1959 dipersimpangan Tarumajaya, akibat penghadangan tentara yang dibentuk Kartosuwiryo. Mengakibatkan gugurnya lima anggota TNI yang sedang melakukan patroli. Kawasan ini menjadi jalur pergerakan DI/TII, menghubungkan antara selatan Pangalengan, ke arah G. Rakutak di Garut. Wilayah tersebut merupakan basis pelarian gerombolan, tersembunyi oleh perbukitan dan lembah. Sehigga gerombolan ini menggunakan jalur menembus hutan belantara dan disembuyikan oleh kabut.
Tiga tahun kemudian, tanggal 4 Juni 1962. Pimpinan DI/TII ditangkap di sekitar lereng G. Rakutak. Di daerah G. Beber, Majalaya.menandai berakhirnya petualangan S.M. Kartosuwiryo dan DI/TII di Priangan.
Rawa Gede Selepas Situ Cisanti, jalan mulus menyambut perjalanan menuju Kertasari. Di sebelah kanan jalan, atau ke arah barat berjajar punggungan perbukitan. Jajaran G. Wayang-Windu-Bedil. Jajaran gunungapi tua, kini memberikan berkahnya melalui keberadaan panasbumi. Saat ini dieksplorasi oleh perusahaan Star Energy Geothermal, melalui beberapa sumur-sumur produksi yang tersebar di lereng sebelah barat G. Wayang-Windu.
Di lereng sebelah tenggara G. Windu, merupakan dataran rendah yang ditempati perkebunan teh Kertasari. Dari pabrik teh Kertasari ke arah baratnya merupakan cekungan yang ditempati oleh perkebunan. Dalam peta lama lembar Tjisoeroepan, 1943. Dituliskan Rawa Gede. Ditafsirkan bahwa sebagian besar wilayah tersebut merupakan sisa rawa yang telah mengering. Batas ke arah barat adalah lereng G. Windu, sekitar Cikawak. Kemudian ke arah utaranya sekitar Cihaneut, dan sebelah timur dibatasi jalan penghubung Cikembang, Kecamatan Kertasari. Bila ditarik garis secara umum, didapat luas sekitar 150 hektar. Namun saat ini telah mengering, kemudian ditempati kompleks perumahan perkebunan Kertasari. Berupa bangunan rumah tapak yang menempati sebagian besar bagian utara, dari Rawa Gede.
Ke arah baranya didapati perbukitan yang menonjol, disebut Pasir Paesan. Satu-satunya tinggian yang berbentuk kerucut di tengah-tengah hamparan perkebunan teh. Sehingga keberadaan perbukitan tersebut menjadi menarik, mengingat didapati sistem gunungapi di bagian utaranya. Sehingga bisa saja disimpulkan bahwa kerucut Pasir Paesan tersebut merupakan sub gunungapi dari bagian sistem gunungapi Wayang-Windu.
Di utara dari bagian Rawa Gede ini, didapati tempat yang dikenal dengan nama Cihaneut. Dalam bahasa Sunda dasarnya haneut, berarti hangat. Dengan demikian memberikan keterangan bahwa lokasi tersebut memiliki fenomena sumber mata air panas. keberadaan manifestasi di permukaan ini, berhubungan dengan sistem gunungapi Wayang-Windu.
Di sebelah barat G. Windu, terlihat lapangan kawah. Ukurannya tidak terlalu luas, terletak di lereng terjal. Manifestasi di permukaan ini biasa terjadi pada gunung api-gunungapi yang telah padam, maupun yang masih aktif. Masyarakat menyebutnya kawah Citawa, selaras dengan nama daerah Citawa. Sedangkan bila merujuk pada peta lama 1943, ditulis Tjikawak. Bisa ditulis ulang Cikawak, bukan Citawa seperti pada penyebutan saat ini. Kompleks kawah tersebut sekitar 500 meter ke arah barat, dari Cihaneut. Sebelah selatannya, didapati Kawah Burung. Berada di sumber mata air panas Cibolang yang telah dimanfaatkan menjadi sarana pariwisata pemandian air panas. Sumber mata air panasnya berasal dari kawah tersebut, kemudian diteruskan melalui pipa. Ditampung ke dalam bak-bak penampungan, kemudian dialirkan ke kolam-kolam.
Dari Cihaneut didapati jalan kontrol perkebunan teh, menuju mata air panas Cibolang sepanajang kurang lebih 3 km lebih. Melalui lereng G. Windu, mengikuti tekuk lereng dari timur ke barat. Selama perjalanan, melalui batas antara hutan tropis, dan batas perkebunan teh Wanasuka.
Ke arah barat daya, merupakan sisa dari kejayaan perkebunan teh (onderneming) Malabar di masa Hindia Belanda. Ke arah selatannya berbatasan dengan perkebunan teh Purbasari. Perkebunan ini dibelah oleh Ci Laki, sumbernya disumbang oleh beberapa tinggian. Diantaranya di sebelah timur laut, bersumber dari lereng barat G. Wayang-Windu. Kemudian di sebelah baratnya berasal dari tinggian Cukul. Titik nol Ci Laki berada di Kampung Bendungan, Desa Sukaluyu, Kabupaten Bandung.
Pengalirannya ke arah selatan, menoreh perbukitan sekitar Margaluyu, membentuk jeram-jeram yang dalam, dasarnya dialasi oleh aliran lava. Hasil dari kegiatan letusan gunung api jajaran selatan Jawa. Sumber letusannya diperkirakan berasal dari gunung api yang kini telah tidak lagi terlihat bentuknya. Bila merujuk kepada Peta Geologi Lembar Garut dan Pameungpeuk (Alzwar Akbar drr., 1992), disusun oleh Endapan Rempah Lepas Gunungapi Tua Tak Teruraikan (Qopu). Dengan demikian merupakan hasil kegiatan gunung api yang jauh lebih tua, dibandingkan dengan gunungapi modern. Diantaranya gunungapi aktif G. Gede, G. Salak, G. Tangkubanparahu yang berada di sebelah utaranya. Kondisi demikian menandakan telah terjadi pergeseran zona benioff/ penunjaman lempeng tektonik samudera.
Dari peta geologi tersebut, memperlihatkan tubir kaldera membentuk lingkar terbuka ke arah timur. Dindingnya kini ditempati G. Gantigi 1348 mdpl., (Cantigi?) di sebelah timur, dan G. Karancang 1563 mdpl. Sebelah timurnya. Di tengah-tengahnya memperlihatkan pola kerucut yang dibatasi oleh lingkaran. Dalam peta geologi lembar Garut, puncaknya dituliskan G. Cepu 1388 mdpl. Sedangkan bila merujuk kepada peta lama 1943 (AMS), disebut G. Tjajoer 1368 mdpl, atau G. Cayur. Pergantian penyebutan tersebut seharusnya ditinjau ulang, mengingat nama geografis tersebut sebagai leksikon nama-nama gunung di Jawa Barat.
Ci Laki mengalir ke arah selatan, menoreh menjadi lembah yang dalam. Aliran sungai ini membagi dua wilayah administratif, Kabupaten Garut di sebelah timur, dan Kabupaten Cianjur di sebelah barat. Hilirnya di Desa Cimahi, Kecamatan Caringin, Garut. Muaranya bertemu dengan laut Samudera Indonesia, menjadi batas Kabupaten Garut dan Kabupaten Cianjur.
Waterkracht Tjilaki Di bagian hulu Ci Laki dimanfaatkan sebagai tenaga pembangkit listrik tenaga air. Aliran airnya disadap dari arah hulu, atau disebut saringan A. Lokasi penyadapannya sekitar 1.5 km ke arah utara, sekitar Banjarsari. Ditandai dengan dibuatnya dam, mengalihkan aliran air ke arah barat daya. Dialirkan melalui saluran air tertutup atau terowongan panjang, hingga berakhir di reservoir.
Pada bagian outlet aliran air, kemudian ditampung ke dalam bak atau reservoir. Berbeda dengan beberapa mikro hidro yang menggunakan kolam penenang. Fungsinya adalah mengendapkan sedimentasi dan mengatur volume air. Namun untuk fasilitas ini tidak dilengkapi kolam penenang, namun cukup menggunakan sistem bendungan. Berupa kanal yang memanjang sekitar 40 meter, dilengkapi dengan jeruji besi sebagai penyaring sampah. Kemudian di sebelah selatannya, didapati tutup pintu irigasi. Berfungsi sebagai pengelak air atau spillway, agar volume air stabil.
Alirannya kemudian disalurkan melalui pipa tunggal, disebut pipa pesat. Dialirkan melalui lereng terjal sepanjang 250 meter, dengan beda ketinggian sekitar 60 meter. Daya dorong yang dihasilkan oleh gravitasi, kemudian disalurkan ke tiga turbin. Kemudian menggerakan dinamo untuk menghasilkan listrik sekitar 6000 volt per unit.
Listrik yang dihasilkan kemudian didistribusikan melalui kawat listrik tegangan tinggi, untuk mensuplai dua pabrik teh yang berada di sebelah utara. Diantaranya pabrik di Banjarsari atau pabrik Malabar, kemudian pabrik Tanara di sebelah timur. Pembangki listrik tenaga air ini setidaknya mulai dikerjakan sejak 1908, dengan membangun jaringan irigasi terbuka dan tertutup. Kemudian mempersiapkan instalasi teknis, hingga pemasangan pipa baja. Diperkirakan mulai beroperasi, setidaknya sejak 1913.
Saat ini tidak lagi berfungsi optimal. Selain usia turbin dan generator listrik tua, selain itu pasokan air semakin berkurang. Kondisi demikian diakibatkan, telah terjadi perubahan tata guna lahan di utara. Dengan demikian debit air berkurang, karena area imbuhan telah berganti menjadi perkebunan.
Sekolah untuk buta huruf sumbangan Bosscha Ke arah selatan, melihat bukti sumbangsih juragan teh A.K. Bosscha. Mendirikan vervoloog (sekolah lanjutan), di Malabar. Upaya memutus buta huruf, dikalangan pegawai perkebunan Onderneming Malabar.
Pengaliran air melalui lembah Di aliran Ci kuningan, Desa Banjarsari. Didapati sistem pengelolaan irigasi air tertutup, disebut Syphon Tjikuningan, teknologi mengalirkan air di antara lembah. Ci Kuningan (sungai), mengalir ke arah barat daya. Kemudian bergabung dengan Ci Laki. Alirannya menggerakan turbin waterkracht Tjilaki (pembangkit listrik tenaga air mikro hidro).
Syphon atau disebut juga sipon, mengalirkan air ke waduk Cileunca. Melalui jaringan terowongan air tertutup, sejauh hampir 2.7 km lebih. Tujuanya adalah mengisi volume air waduk, kemudian dialirkan ke utara. Menggerakan tiga instalasi pembangkit listrik tenaga air Plengan, Lamajan dan Cikalong.
Tugu peringatan koflik TNI dan DI/TII di Ci Santi.Gardu listrik, diperkirakan transformer di perkebunan teh Purbasari.Pen stock/Pipa pesat CilakiPower house/rumah produksi listrik PLTA CilakiSistem generator berupa dinamoTurbin air nomor 3Syphon Cikungingan.
Kembali menelusuri sejarah bumi dan budaya, kegiatan Geourban ke-49 jatuh dihari minggu. Tanggal 12 Oktober 2025, diikuti para pegiat wisata, professional hingga kreator konten.
Kegiatan jatuh pada hari minggu. menyebabkan jalan lenggang karena jatuh di hari libur. Sebagian warga lebih baik tinggal di rumah, memanfaatkan hari libur. Perjalanan dimulai dari Cileunyi, menyusuri jalan provinsi yang menghubungkan Bandung ke Sumedang. Jalan utama yang dahulu dibangun atas keinginan Gubernur Jenderal, saat Kekaisaran Perancis menang perang di Eropa abad ke-19 awal. Sehingga pulau jawa merupakan pampasan perang, dari kekuasaan Kerajaan Belanda.
Sebagai penguasa negeri jajahan, Daendels membutuhkan dana besar. Tujuannya adalah untuk mengisi kekosongan kas negara, sekaligus diperlukan ketahanan militer pada saat itu. Kemudian pada 1809 hingga 1810, dibuatlah pelaksanaan pembangunan jalan. Dengan cara melebarkan jalan penghubung antar kerajaan abad ke-16, dari barat ke timur.
Diperlukan waktu dua tahun lebih, untuk mempertemukan Jawa bagian barat dan bagian paling ujung timur. Kurang lebih seribu kilometer, diantaranya adalah sebagian jalan yang dilintasi pada kegiatan Geourban.
Bukit Jarian, Hantu yang Cantik Matahari baru saja timbul di atas puncak G. Geulis. Gununggapi soliter yang menjadi benteng alam, membatasi Cekungan Bandung segmen timur. Tingginya semampai, ketinggian puncaknya 1282 meter di atas muka laut. Namun menjadi penghalang alam, antara batas timur Bandung dan Sumedang bagian barat.
Selepas kampus Unpad sekitar Cikeruh, jalanan mulai berkelok mengikuti kontur perbukitan. Sebelah kanannya adalah G. Iwir Iwir, ditafsir sebagai Gunung Geulis Tua. Tulisan tentang G. Geulis bisa dibaca di sini: https://blog.denisugandi.com/jarian-berwajah-geulis/
Bagian barat dari lereng gunung tersebut, saat ini sudah beralih fungsi menjadi pemukiman warga. Dikelola oleh perusahaan pengembang, memanfaatkan lahan kosong hasil kegiatan tambang batu di masa lalu. Materialnya diangkut, untuk menimbun pembangunan Tol Cileunyi. Perumahan tersebut menempati sebagian besar di sisi sebelah barat, dan timur.
Sebagian besar lereng nya telah habis, untuk pembangunan jalan Tol Cileunyi. Diangkut sejak awal tahun 1990-an, menggunakan dump truk melewati jalan raya Jatinangor ke Cileunyi. Hingga jelang tahun 2018, sebagian besar lereng G. Geulis telah habis diangkut. Menyisakan ceruk-ceruk yang dalam, tanpa adanya kegiatan reklamasi.
Kegiatan tambang tersebut harus dihentikan sejak 2019, mengingat bahaya yang ditimbulkan secara langsung. Dilaporkan beberapa kali terjadi gerakan tanah, hingga yang terbesar terjadi pada 9 Januari 2021. Lokasi longsor, terjadi di sebelah selatan G. Geulis di Cihanjuang, Cimanggung, Sumedang. Berupa longsoran dinding tegak, setinggi 20 meter. Menewaskan 40 orang, dan menimbun puluhan rumah.
Kondisi demikian menandakan saat ini sebagian besar lereng G. Geulis, disulap menjadi kawasan pemukiman. Terjadi akibat dampak perkembangan kawasan industri sekitar Rancaekek. Sehingga diperlukan hunian bagi para pekerja yang sebagian besar datang dari luar kota.
Pohon Kopi Umur Satu Abad Persis diseberang jalan penghubung exit Tol Pamulihan, Tanjungsari. Terdapat Sekolah Menengah Kejuruan PPN Tanjungsari, di Gunungmanik, Sumedang. merupakan sekolah pertanian rakyat yang telah ada sejak masa kolonial. Disebut Landbouw Bedrijft School Tandjoensari (Tanjungsari), pada 1915-1918. Panorama bangunna lama sekolah pertanian bisa diihat di sini: https://kuula.co/share/h3Kb1?logo=1&info=1&fs=1&vr=0&sd=1&thumbs=1
Ditujukan untuk mencetak para ahli pertanian pada masa itu. Didirikan 1914, melalui perintisan oleh Bupati Sumedang Pangeran Aria Soeriaatmadja (1915-1921). Mewakafkan tanah di daerah Bojongseungit, saat ini menjadi bagian dari SMK SPMA dan Unwim. Di kawasan lahan sekolah pertanian ini, didapati pohon kopi jenis ekselsa. Merupakan varietas dari kopi liberika (Coffea liberica), dicirikan dengan ukuran daun lebih besar dari jenis Robusta dan Arabika.
Ditanam seiring lahirnya sekolah pertanian (1914?), melalui keinginan Pangeran Sumedang. sehingga bila ditarik pada tahun ini, sudah berumur 111 tahun. Jumlah pohon kopi yang masih hidup, tinggal lima pohon. Dari tujuh, kemudian mati akibat rayap dan kekeringan. Tinggi pohonnya sekitar 4-7 meter, dengan ukuran batang pohon antara 80 cm hingga 120 cm. Tumbuh di atas ketinggian sekitar 750 meter dpl. menghasilkan 1,2 ton ceri kopi untuk per satu hektar lahan perkebunan.
Ekselsa termasuk varietas yang tahan hama, mengingat jenis lainnya rentan terhadap jamur. Sehingga pihak kolonial mendatangkan khusus dari Chad Afrika, disebar di sekitar Tanjung Jabung Barat Jambi, dan Kepulauan Riau. Kemudian ditanam di kawasan priangan, khususnya di Tanjungsari Sumedang.
Perkebunan Swasta di Lereng Kareumbi Dari Tanjungsari, kemudian dilanjutkan ke arah Sumedang. Disekitar Cigendel, diarahkan berbelok ke arah barat menuju Cimarias. Setelah melewati jembatan tua yang menyeberangi Ci Peles. Struktur bangun jembatan dengan menggunakan teknik truss, sistem baja lengkung. Menjadi ciri pembangunan jembatan yang dibangun Kolonial Belanda tahun 1932. Selepas jembatan jalanan menanjak mengikuti lereng perbukitan. Sedikit demi sedikit menapaki ketinggian, hingga tiba di titik tinggi. Dari lokasi ini terlihat jelas lereng miring ke arah utara, ditempati lembah dan perbukitan. Membentang dari timur ke barat. Topografia bergelombang landai, merupakan bagian dari G. Kareumbi. Bila merujuk kepada pembagian fasies gunung, merupakan fasies medial. Bagian tengah dari tubuh gunungapi yang pernah aktif di masa lalu, kemudian saat ini digolongkan ke dalam gunungapi kelas C. Pembagian klasifikasi gunungapi di Indonesia yang menandakan tidak ada informasi kegiatan kegunungapian. Baik setelah 1600 atau setelahnya, sehingga disebut gunungapi dorman.
Bukti letusannya hingga kini masih bisa disaksikan, berupa endapan piroklastik yang menempati sebagian besar Cimarias-Cinanggerang, di sebelah selatan jalan Cadas Pangeran, Kabupaten Sumedang.
Kondisi tanah yang subur, menjadikan sebagian besar wilayah Cinanggerang dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan. Diusahakan pertama kali melalui perkebunan teh, oleh partikelir partikelir.
Keberadaan Cinanggerang sebagai wilayah yang subur dan strategis, dituliskan dalam Natuurkundig tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, 1889. Menguraikan sebagai berikut. Wilayah bagian dari Kabupaten Sumedang yang terletak di lereng utara Gunung Kareumbi. puncak-puncaknya masih berhutan, mencapai 1.600 meter di atas permukaan laut, terletak sekitar satu kutub dari pengukur hujan. Ketinggian di atas permukaan laut: 925 meter. Di sebelah utara, di seberang perusahaan, dan hanya dipisahkan oleh jurang yang dalam dari Sungai Cipeles (Cipels), terletak pegunungan, pada jarak sekitar enam kutub, yang mana Manglajau adalah salah satu puncaknya. Hanya puncak-puncak pegunungan ini yang masih berhutan. Di sebelah timur dan barat, lingkungan sekitarnya dibentuk oleh punggung bukit dan jurang yang gundul, semuanya tertutup rapat dengan alang-alang dan spesies rumput lainnya. Di sebelah barat laut, pada jarak sekitar 50 kutub, terletak gunung Tempomas (Tampomas).
Dalam keterangan Encyclopedie van Nederlandsch-Indië, diterbitkan oleh Martinus Nijhoff 1939. Menyebutkan masuk ke dalam Distrik Tanjungsari, bagian dari Kabupaten Priangan. Bersanding dengan Distrik Rancakalong, dan Distrik Cikeruh dan 29 desa. Dilanjutkan dalam tulisan buku tersebut, disebut perkebunan Jatinangor, Cijeruk, Cinanggerang serta beberapa pabrik singkong dan sere (sereh). Sedangkan pada keterangan lainya yang lebih awal, laporan Particuliere Ondernemingen In Nederlandsch-Indië Op Gronden Door Het Gouvernement Afgestaan in Huur (Voor Landbouwdoeleinden) En Erfpacht (1914). Menyebutkan perceelen atau blok perkebunan komoditas teh, menempati wilayah (blok) Tjinanggerang en Tjiseda. Kepemilikannya ata ondernemers en erkende administrateurs, dikuasai oleh Kongsi Tan Djin Gie. Keterangan selanjutnya menyebutkan tanggal kepemilikan (datum van vestiging van het erfpachtsrecht) 18 Mei 1885.
Begitu juga keterangan publikasi jaringan perkebunan priangan, De bergcultures; officieel orgaan van het Algemeen Landbouw Syndicaat, jrg 11, 1937. Dimiliki oleh orang yang sama. Tan Djin Gie. Menghasilkan komoditas teh jenis Pecco Souchon, dan Souchon. Jenis teh hitam yang sangat diminati saat itu. Dicirikan dengan jenis daun teh yang agak tua, berwarna hitam. Rasanya lebih pahit dibandingkan dengan yang lainya.
Kemudian bila menelusuri kembali berdasarkan peta lama, lembar Nangorah (1886), menuliskan Thee etablissment Tjinanggerang. Kemudian pada peta yang sama, ke arah timur, didapati Thee onderneming Margapala en Tjihoehoet Tjikalapa.
Berdasarkan peta lama tersebut, menandakan bahwa kawasan Cinanggerang dan ke arah timur, merupakan perkebunan untuk komoditas teh. Keberadaan pengolahan pabrik teh di Cinanggerang dan Kareumbi ditulis pada peta lembar Soemedang 1942. Keberadaan pabrik teh di Cinanggerang saat ini beralih fungsi menjadi Sekolah Dasar negeri Cinanggerang 2. Sedangkan di arah timurnya, pabrik pengolahan teh Onderneming Kareumbi (ditulis Carumby), kini berupa lapangan di depan Kantor Desa Margalaksana. Ke arah timur dari lapangan, masih terlihat sisa struktur. Berupa tumpukan batuan yang disusun, biasanya menjadi pondasi pondasi bangunan lama.
Tiga Cerobong di utara Cinanggerang Sekitar 1,2 Km dari SD Negeri 2 Tangerang, didapati struktur bangunan. Berada diantara lereng perbukitan yang kini ditempati perkebunan Indigofera. Tanaman yang memproduksi pewarna biru alami, biasanya digunakan untuk pewarnaan di industri tekstil khususnya batik. Dari informasi warga, merupakan sisa dari kejayan pabrik sereh pasca kemerdekaan. Akibat jatuhnya permintaan pasar, dan mahalnya perawatan perkebunan. Menyebabkan pabrik minyak sereh ini harus ditutup tahun 1960-an.
Dari keterangan laporan kolonial, Citronella-olie yang disusun oleh Auteur Hofstede, H.W. 1928. Pada tahun 1902, terdapat dua pabrik di Jawa yang memproduksi minyak serai wangi: pabrik “Odorata” milik Kaffir yang disebutkan sebelumnya di Tjitjoeroeg dan “Tjikantjana”, yang berlokasi di dekat Tjiandjoer. Industri minyak serai wangi juga mulai berkembang di luar Jawa, meskipun dalam skala terbatas. Van Romburgh melaporkan, antara lain, bahwa ia melihat alat destilasi sederhana beroperasi di rumah seorang penduduk asli di Kandangan (Kalimantan Selatan dan Timur). Dalam artikelnya tentang Kaffir, Hoekman memberikan beberapa detail tambahan tentang perkembangan industri minyak serai wangi di Jawa. Sesuai dengan janji yang dibuat kepada Treub saat itu untuk tidak mencoba menjadikan perusahaannya sebagai perusahaan monopoli, Kaffir selalu menyediakan bahan tanaman sebanyak mungkin untuk pabrik-pabrik yang sedang berkembang, sementara produsen abu serai wangi selalu diberikan informasi sebanyak mungkin.
Kekar Kolom Gunung Susuru Dari Cianggerang, dilanjutkan ke arah timur melalui kota Sumedang. Dari alun-alun Sumedang kemudian diarahkan ke Ganeas, menggunakan jalan penghubung ke Wado. Sekitar Cikoneng, kemudian berbelok ke arah selatan. Jalanan mendaki karena mendaki punggungan perbukitan disebut Dayeuhluhur. Kawasan ini merupakan bagian dari pusat pemerintahan Kerajaan Sumedang abad ke-16, perpindahanan dari Kutamaya. Ditandai dengan situs pemakaman Raja Geusan Ulun. Kemudia di sebelah selatannya didapati makam utusan Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran, Embah Jaya Perkasa. Kandaga Lante yang kemudian mengabdi kepada Geusan Ulun, pada saat Kerajaan Sumedang berkonflik dengan Cirebon.
Daerah ini merupakan dataran tinggi di kawasan Sumedang sebelah tenggara. Berupa perbukitan dan lembah-lembah yang dalam. Perjalanan dilanjutkan ke arah Kampung Sahar, pemukiman warga yang berada di lereng sebelah barat laut G. Susuru. Berupa kerucut yang diapit oleh beberapa tinggian. di sebelah timurnya berjajar tinggian Pasir Aseupan dan G. Gedogan. Di arah timurnya dibatasi Ci Capar, dan dipagari oleh punggungan perbukitan Pasir Lingga, dengan bagian puncak tertinggi disebut Pasir Grobog 926 meter dpl. Sejajar dengan puncak perbukitan tersebut, ke arah selatannya ditandai dengan puncak Pasir Sangkur 976 meter dpl. Hulu Ci Capar berada di sebelah selatan, di lereng G. Sasapuan 1200 meter dpl. dan Pasir Manggu. Mengalir ke utara, bertemu dengan Ci Beureum di sekitar Situraja Utara.
Dengan demikian, Pasir Susuru merupakan kerucut perbukitan yang dilingkari oleh beberapa puncak-puncak perbukitan dan lembah. Bila ditarik lagi ke arah selatannya, didapati lingkar kaldera Calangcang 1667 meter dpl. Gunungapi dorman yang menjadi batas administrasi, antara Sumedang-Kabupaten Bandung dan Garut. G. Susuru berada di dua kecamatan, bagian timur masuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Ganeas. Sedangkan bagian timurnya, masuk ke Situraja.
Bermula dari informasi di media daring, tentang penemuan warga di G.Susuru. Berupa susunan batuan yang diperkirakan sisa dari kebudayaan lama. Berada di lereng perbukitan, di antara perkebunan milik warga. Dari keterangan warga, masyarakat sekitar Kampung Sahang sudah mengetahui sejak dahulu. Namun belum mengetahui asal-usul dan sejarah pembentukan di alam.
Dari peta Geologi Lembar Bandung (Silitonga, 2003). Merupakan Hasil Gunungapi Tua Lava (Qvl). Disusun lava yang menunjukan kekar lempeng dan kekar tiang. Susunannya basal dan sebagian telah terpropilitisasikan. Terbentuk umur Kuarter, sekitar
Fiturnya disebut columnar joint, atau kekar kolom. Susunan batuan beku, membentuk kolom, memanjang arah utara-selatan. Saling tersusun dan rapat, membentuk dari empat sudut, hingga enam sudut (hexagonal). Rata-rata ukuran lebar, antara 15 cm hingga 20 cm, dan panjang bervariasi. Antara 3 meter hingga 6 meter lebih.
Susunan batuan tersebut, membentuk tebing tegak sekitar 6 meter. Menandakan arah pendinginan, membentuk dome. Pembentukan batuan ini terjadi akibat magma yang naik ke atas permukaan bumi. Pada saat mendekati permukaan, terjadi pendinginan sehingga sifat cair, kemudian menjadi padat. Perubahan ini diikuti dengan proses kontraksi, membentuk struktur hexagonal.
Singkapan kekar kolom berada di ketinggian 750 meter dpl. kemudian bagian puncaknya kemungkinan lebih dari 900 meter dpl. didapati komplek pemakaman, berupa susunan batuan.
Saat ini informasi fungsi keberadaan kekar kolom bagi budaya di Kampung Sahang, Ganeas, belum terungkap. Mengingat bentuk seperti ini biasanya dimanfaatkan oleh nenek moyang sebagai sistem religi, seperti halnya di G. Padang Cianjur. Namun hingga kini belum ada bukti tinggalan budaya, kecuali kompleks pemakaman di bagian puncak gunung. Sehingga perlu untuk diteliti lebih mendalam, baik dari sisi tinggalan budaya dan geologi. Mengingat keunikan fitur bumi G. Susuru yang tidak ditemui di tempat lain.
Ex pabrik sereh, Cinanggerang.Dinding tegak disusun kekar tiang di lereng barat G. Susuru.Orientasi kekar tiang, rebah ke arah utara Sisa struktur pabrik teh Margapala (Margalaksana)
Suara tatah terus berbunyi sepanjang siang, hadir diantara perbukitan Cikande. Pahat besi, dan otot beradu dengan batupasir Formasi Rajamandala. Batuan yang diendapkan di laut dalam, kemudian tersingkap oleh kekuatan di dalam bumi. Batuannya didapatkan dengan cara menambang secara tradisional, menggunakan linggis, godam dan tekad. Batuannya berlapis miring ke arah selatan, sehingga memberikan jalan pada saat digali. Bongkah-bongkah besar, kemudian dibentuk menggunakan godam, menjadi beberapa bagian. Diangkut dengan cara dipanggul, kemudian diserahkan ke para pengrajin untuk dibuat cobek.
Lama pengerjaanya bisa satu jam lebih, untuk setiap cobek. Ukurannya lebar sekitar 20 cm, dengan khas coakan yang dibuat dengan menggunakan tatah dan ketekunan. Satu produk jadi batu cobek, kemudian dibeli oleh pengepul seharga dua belas ribu rupiah per cobek. Dalam satu hari, para pengrajin mampu membuat antara dua belas hingga lima dua puluh batu cobek. Dikerjakan secara sambilan, disamping berprofesi sebagai penggarap ladang.
Batu Cobek Cikande Mulai dikerjakan sejak tahun 80-an, dikenal dengan batu coet Cikande. Warga menyebutnya batu hideung, atau batu yang didominasi dengan warna gelap. Bila dilihat secara seksama. Terlihat perselingan batulempung dan batupasir berselang-seling, menjadikan batuan tersebut diendapkan pada kondisi sebagian besar wilayah Cikande ada di bawah permukaan laut.
Geologi menafsirkannya Formasi Citarum, umur Miosen Tengah. Disusun oleh selang-seling antara batupasir, batulanau (Martodjojo, 2003). Merupakan endapan laut dalam, kemudian seiring waktu terangkat hingga di ketinggian 310 meter di atas muka laut.
Pengrajin batu menyukai material ini, karena mudah dibentuk. Selain itu keberadaan batu hideung ini melimpah dan mudah diakses. Namun menjelang akhir tahun 2024, sebagian besar wilayah ini sudah masuk ke dalam penguasaan pengembang perumahan terbesar di Jawa Barat. Luas wilayahnya hampir mencakup sebagian besar Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.
Kegiatan di atas adalah bagian dari rangkaian Geourban ke-48, tanggal 8 Oktober 2025. Diikuti oleh partisipan dari latar belakang yang berbeda. Diantaranya pegiat wisata, pemandu, pengelola wisata hingga mahasiswa jurusan pariwisata. Kegiatan ini bertujuan menggali kembali narasi sekitar Citatah selatan, membuka jejaring lokal dan silaturahmi pelaku wisata.
Kegiatan ini menapaki wilayah Kecamatan Citatah, dari Padalarang, Jayamekar, Bojonghaleuang, Cikande, Girimukti, hingga Cipageran. Di Antara desa-desa tersebut memiliki keunggulan fenomena kebumian dan budaya.
Endapan Awan Panas Cigintung Lawatan pertama mengunjungi bukti hasil kegiatan gunungapi. Berupa endapan piroklastik, dengan tebal kurang lebih 20 meter. Tersingkap karena digali oleh warga dengan bantuan alat berat sejak tahun 2000-an, seiring dengan penguasaan lahan sekitar Jayamekar. Selain akibat tambang, dan pembukaan lahan untuk pemukiman mengakibatkan peristiwa banjir bandang. Terjadi pada tanggal 6 April 2025, berupa terjangan luapan air sungai. Kemudian memutuskan jalan penghubung antar desa.
Kondisi demikian akibat bagian lereng perbukitan dikupas untuk pembuatan lahan hunian, perumahan Great and Feel di Jayamekar. Akibat pembukaan lahan tersebut, menyebabkan run off air, terutama saat curah hujan tinggi. Mengakibatkan luapan sungai, dan memutus jalan penghubung dari Desa Jayamekar ke Desa Gunung Masigit.
Di lokasi ini didapati sisa tambang warga, berupa dinding tegak. Disusun oleh endapan awan panas.
Menyaksikan Perbukitan Terlipat dari Pasir Karamat Kunjungan berikutnya adalah ke perbukitan di sebelah utara waduk Saguling, berdampingan dengan Parahyangan Golf. Lapangan golf yang dibangun, di tepian waduk Saguling. Perbukitan yang kini telah masuk ke dalam penguasaan pengembang properti, menjadi titik terbaik untuk mengamati jajaran perbukitan di sebelah utaranya.
Dari titik tinggi Pasir Karamat, terlihat jajaran perbukitan yang memanjang relatif barat-timur. Diantaranya yang terlihat adalah Pasir Kiarapayung 929 meter dpl., bergeser ke arah timur diantaranya Pasir Cirateun 862 meter dpl. Sejajar dengan perbukitan tersebut adalah Pasir Tugu yang kini diakuisisi pengembang, menjadi titik kegiatan hiking. Disebut Bumi Luhur Hiking Track, jalur jalan kaki yang menelusuri perbukitan sekitar Cikande, Batujajar.
Perbukitan tersebut ditafsir sebagai perbukitan terlipat, akibat kegiatan tektonik di masa lalu. Batuannya disusun oleh batupasir, berseling dengan batulempung. Diendapkan pada kondisi laut dalam, pada umur Miosen Awal hingga miosen Tengah.
Seiring kegiatan tektonik,endapan laut dalam tersebut diangkat hingga di atas ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Pengangkatan tersebut terjadi seiring dengan kegiatan perlipatan, terjadi pada Miosen hingga Pliosen. Mengakibatkan terbentuknya perbukitan terlipat, sesar-sesar naik pada batuan karbonat Citatah.
Panorama Bendungan Saguling Perjalan dilanjutkan ke arah barat, menembus jarak 13,5 km. Ditempuh durasi perjalanan sekitar 30 menit, melalui jalan alternatif antara Cipangeran ke Poros Saguling. Jalannya sebagian besar sudah di beton, sehingga kegiatan ekonomi lokal bergerak. Terutama untuk mengangkut hasil bumi, dari Desa Saguling di jual ke pasar induk di Bandung melalui jalan ini.
Selepas Desa Saguling, memasuki Cipongkor. Jalan relatif menurun, mengikuti kontur perbukitan. Jalannya sejajar dengan arah pengaliran outlet Citarum, dari poros bendungan. Dialirkan melalui pipa ganda sepanjang kurang lebih 5.5 km, ditanam di bawah tanah. Elevasinya turun dari ketinggian 670 meter ke 340 meter. Pengaliran air tersebut memanfaatkan gravitasi, kemudian diantarkan melalui pipa pesat. Tekanan tinggi tersebut kemudian menggerakkan turbin di Power House Saguling.
Sekitar 4 km menjelang Pembangkit Listrik Tenaga Air/PLTA Saguling, didapati titik terbaik untuk menyaksikan perbukitan Citatah. Sekitar Pasir Benteng, dengan elevasi 660 meter dpl. Dari tinggian ini bisa menyaksikan jajaran perbukitan yang memanjang baratdaya-timurlaut. Batuannya berbeda dengan batuan yang pernah dikunjungi sebelumnya. Disusun oleh batugamping, bagian dari Formasi Rajamandala. Dicirikan dengan warnanya abu terang, kadang berwarna coklat, disebut batugamping.
Memandang ke arah barat, terlihat punggungan Gunung Guha 738 meter dpl. Perbukitan yang memanjang dari barat-timur, berada di sekitar Cihea. Di Antara perbukitan tersebut mengalir Ci Nongnang, sungai yang hulunya di Puncak Larang.
Ornamen di Sanghyang Kenit Sebelah utara dari PLTA Saguling, terdapat gua. Disebut Gua Sanghyang Tikoro, dengan elevasi sekitar 300 meter dpl. Dengan demikian memiliki perbedaan ketinggian dengan poros bendungan Saguling, sekitar 650 meter dpl.
Perbedaan ketinggian tersebut membantah lokasi bobolnya Danau Bandung Purba segmen bagian barat. Hasil penelusuran bisa dilihat di sini: https://pgwi.or.id/2023/02/28/catatan-geobaik2-cukang-rahong/
Di Sanghyang Kenit, merupakan bagian dari segmen aliran Ci Tarum. Aliran airnya merupakan tangkapan dari berapa mata air dan aliran spillway dari Waduk Saguling. Sedangkan aliran utamanya, dialirkan melalui jaringan pipa. Digunakan untuk menggerakan turbin di PLTA Saguling, dan PLTA Rajamandala.
Dengan demikian, aliran air ke gua Sanghyang Poek menjadi kering. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh pengelola Sanghyang Kenit, menjadi sarana wisata susur gua. Inlet atau mulut gua berada di selatan, Sanghyang Poek. Mengalir ke arah utara, sejajar dengan sungai terbuka. Outlet-nya di mulut gua Sanghyang Kenit.
Penelusuruan dialakukan berlawanan dengan arah arus sungai, dari Sanghang Kenit ke arah keluar di Sanghyang Tikoro. Panjang gua kurang lebih 600 meter, melalui lorong memanjang.
Gua ini merupakan bagian dari Formasi Rajamandala, berupa batugamping berumur Oligosen Akhir-Miosen Awal atau sekitar 30-22 juta tahun yang lalu. Tebalnya lebih ari 180 meter, berupa batugamping masif/pejal dan terumbu.
Penelusuran di gua Sanghyang Kenit, mendapati ornamen yang masih berkembang. Menandakan bagian atas gua/eksokarst masih dalam kondisi baik. Sehingga didapat air yang mengalir. Aliran air yang masuk melalui bidang rekahan tersebut, kemudian mengendap menjadi kalsit. Seiring waktu, endapan tersebut membentuk ornamen gua yang menawan. Di gua ini masih didapati ornamen yang masih berkembang, seperti batu tirai, batu alir, gourdam, stalagmit dan stalaktit dan seterusnya. Sehingga gua tersebut cocok bagi siapa saja yang ingin mengetahui rahasia perut bumi.
Moda transportasi roda dua, penelusuran GeourbanInterpretasi di dalam gua Sanghyang KenitBatupasir Fm. Citarum, ditambang untuk pembuatan batu coet
Hawa pagi lebih dingin dari minggu sebelumnya, memandakan musim mendekati berakhirnya kemarau. Suhu yang menjadi santapan sehari-hari para pekerja di perkebunan, dataran tinggi Parongpong, Lembang, Kabupaten Bandung.
Waktu menunjukan saatnya sarapan, beruntung di tempat pertemuan penjual bubur ayam baru saja selesai mempersiapkan dagangannya. Dalam sekejap satu mangkuk selesai dieksekusi, mengingat sejak malam belum bertemu pengganjal perut. Lokasi pertemuan dipilih persis dimulut jalan menuju pintu Komando. Tempat latihan Kopassus, tertutup selain kegiatan latihan militer. Sehingga sebagian besar kawasan hulu Ci Mahi terjaga kelestariannya, karena kegiatan latihan militer. Berbeda dengan kawasan perkebunan teh Sukawana, kini bersulap wajah menjadi pengembangan wisata. Melalui penguasaan wilayah melalui Kerjasama Operasi (KSO), antara PT Perkebunan dengan pihak swasta produsen alat pendakian gunung. Menguasai lahan seluas 50 Hektar, di blok 11 Sukawana. Berupa sarana wisata, pembangunan betonisasi. Sehingga memiliki dampak lingkungan tinggi.
Kembali ke kegiatan Geourban ke 47, menapaki kembali sejarah bumi dan budaya. Di kawasan lereng sebelah barat G. Burangrang. Gunungapi samping, aktif melalui kegiatan kegunungapian berupa letusan. Materialnya mengendap di sekitar lereng, melampar hingga ke arah barat. Selain panorama yang menawan, daerah ini ditempati perkebunan teh masa kolonial, hingga hutan produksi milik PT Perkebunan Negara. Berupa pohon tegakan pinus merkusii. Ke arah baratnya melandai, hingga berbatasan dengan jalan penghubung antara Purwakarta-Padalarang di kawasan Nyalindung.
Endapan Awan Panas di Tugumukti Jelang pukul delapan, partisipan Geourban menapaki jalan menuju Pasirlangu melalui Tani Mukti. Jalan turun curam, hingga lembah yang dipotong oleh Ci Meta. Sekitar Pasirhalang tersingkap endapan tebal berlapis-lapis. Berupa material hasil letusan gunugapi Prasunda-Sunda. Membentuk dinding tegak,dengan tinggi sekitar 30 meter. Membatasi Tugumukti dan Pasirhalang. Pada tahun 1990-an, kawasan ini menjadi primadona untuk penggalian batu dan pasir. Menggali endapan tebal tefra, hasil letusan gunungapi pada saat pembentukan kaldera.
M. Nugraha melaporkan dalam Tephrochronological Study On Eruptive History Of Sunda-Tangkuban Perahu Volcanic Complex, West Java, Indonesia (2005). Sebagian besar lembah Tugumukti disusun oleh endapan hasil letusan gunungapi. Berupa endapan awan panas (ignimbrite), didominasi oleh batu apung. Hadir dalam ukuran beragam, dari kerakal hingga ukuran kerikil, dari dua kali kegiatan gunungapi. PraSunda pada 560-508 ribu tahun yang lalu, kemudian Sunda pada 210-105 ribu tahun yang lalu.
Nugraha membedakan dua fase kegunungapian, melalui batuan penyusun di sekitar lembah Tugumukti. Endapan ignimbrite Manglayang dan Cisarua.
Akibat batuannya berupa batuan gunugapi lepas, jalan penghubung sekitar Pasirhalang seringkali dilanda longsor. Sehingga jalan penghubung Cisarua ke Cipada ini terganggu. Terakhir terjadi pada April 2022, sehingga pemerintah daerah memerintahkan untuk menutup segala kegiatan tambang batu dan pasir di Tugumukti.
Dari Tugu Mukti, jalanan terus menurun melintasi Ci Meta. Sungai yang berhulu di lereng sebelah barat G. Burangrang. Kemudian hilirnya di jembatan Citarum, Rajamandala. Kemudian jalanan mendaki memasuk dataran tinggi Cipada. Menjelang masuk ke kawasan ini, kiri dan kanannya dihiasi oleh perkebunan teh. Membentang seperti permadani hijau, dari kaki G.Burangrang hingga ke arah barat sekitar Pasir Bengkung.
Blok Friesland dan Louise Dalam peta lama 1946, tuliskan dua blok perkebunan Friesland di sebelah utara, dan perkebunan Louise di bagian selatan. Salah satu informasi yang didapat, berasal dari laporan Belanda. Dalam kitab undang-undang Koloniaal Verslag van 1904. Menyatakan kedua perkebunan tersebut pailit, kemudian diambil alih oleh Perkebunan Pangheotan. Kemudian pada sumber nama dan perkebunan Hindia Belanda. Lijst van 1914: I. Particuliere ondernemingen in Nederlandsch-Indië op gronden door het gouvernement afgestaan in huur (voor landbouwdoeleinden) en erfpacht. Menyebutkan Friesland merupakan perkebunan kopi, di dalam manajemen Pangheotan. Dikelola oleh J.A. Piepers, 4 Maret 1890. Dalam peta lembar Tjipada (1903), kawasan perkebunannya berada di G. Leutik, sedangkan blok perkebunan Louise di sekitar Kiaralawang, dan Batukorsi sebagai batas kedua blok tersebut. Menurut keterangan warga, sekitar lokasi tersebut terdapat gua buatan manusia. Dibangun pada saat pendudukan Jepang, sebagai tempat perlindungan dan persembunyian.
Situ Dano Cipada Kunjungan selanjutnya ke Dano Situ Cipada. Berupa danau yang terletak disebelah selatan Kantor Desa Cipada. Danau yang memiliki panjang 109 meter, dan lebar sekitar 74 meter. Berupa cekungan yang dikelilingi perbukitan. Dalam peta lama merupakan danau yang terbentuk di dalam cekungan. Dikelilingi oleh tinggian Pasir Dano di selatan, Cileuleuy membatasi sisi sebelah timur. Kemudian bagian baratnya dibatasi oleh Pasir Manggu dan Kiarapayung.
Bila datang dari arah Ciparay Babakan, Cipada. Sekitar 500 meter akan tiba di persimpangan Cileuleuy, percababangan yang membagi jalur ke utara menuju wisata Bukit Senyum di Pasir Manggu. Kemudian ke arah barat menuju Lembang. Jalannya menurun, memasuki cekungan yang dibatasi oleh perbukitan. Kiri dan bagian kanannya ditempati perkebunan warga, berupa perkebunan sayuran. Diujung jalan kemudian mendapati daerah landai, ditempati danau. Masyarakat menyebutnya Situ Dano Lembang, beberapa sumber menuliskan Situ Dano Cipada. Merujuk pada nama tempat, berada di Desa Cipada, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat.
Didapati luas sekitar 236 meter persegi, namun saat ini genangannya menyusut sekitar 7,498 meter persegi. Kondisi demikian terjadi sejak alih lahan dari perkebunan teh menjadi lahan perkebunan. Menurut warga di Cipada, akibat perubahan lahan pertanian mengakibatkan longsor. Kemudian sebagian besar endapan tanah perkebunan masuk semua ke danau. Seiring waktu kemudian terjadi proses sedimentasi, mengakibatkan luas wilayah situ semakin menyempit.
Dari bentuk bentang alamnya, menegaskan bahwa danau ini merupakan sisa dari kegiatan gunungapi di masa lalu. Sesuai dengan keterangan dari penelitian terdahulu, seperti yang diuraikan oleh seorang ahli kebumian Belanda. van Bemmelen menguraikan nya pada peta Geologische Kaart van Java (1934), menyebut tufkagel van den G. Dano. Diterjemahkan sebagai endapan tuff, dari hasil letusan G. Dano. Berupa material dari kegiatan aktivitas kegunungapian di masa lalu, yaitu letusan G. Dano.
Bila dibandingkan dengan peta lama kolonial Topographisch Bureau (Batavia) tahun 1904, lembar Tjipada. Luasnya diperkirakan sekitar 23 Ha. Dibatasi oleh tinggian Pasir Dano sebelah selatan, kemudian Kiarapayung dan Pasirmanggu sebelah utara. sebelah selatannya berbatasan dengan pemukiman sekitar Cileuleuy.
Bunker Komando Pasir Banteng dan Pasir Batukarut Selanjutnya mengunjungi bangunan yang diduga sebagai sarana militer pada masa Kolonial Belanda. Berada di perbukitan, disebut Pasir Benteng. Pasir bermakna perbukitan, dan Banteng merujuk kepada nama mamalia besar. Namun pada keterangan peta daring google, penamaanya menjadi Pasir Benteng. Sesuai dengan penemuan benteng militer. Berupa struktur bangunan yang kini nyaris tidak dikenali lagi.
Sebagain besar struktur bagunannya telah hilang, akibat kegiatan tambang warga sekitar Pasir Malang, Cipada. Hanya menyisakan segmen bagian struktur pondasi, sedangkan bagian fasadnya telah hilang sama sekali. Dari berita daring yang ditulis di Harian Umum Pikiran Rakyat, 20 November 2008. Ditulis oleh Ridwan Hutagalung. Menerangkan bahwa bunker tersebut pernah dihuni oleh pasangan suami istri, Saifullah dan Tati tahun 1982. Digambarkan bunker tersebut memiliki empat ruang yang berjajar dan saling terhubung. Masing-masing ruangan dilengkapi dengan pintu yang menghadap ke arah barat. Menurut keterangan Saifullah, ditemukan tulisan 1913 sebagai tanda tahun pembangunan.
Keberadaan bunker tersebut sangat strategis,dibangun di puncak puncak Pasir Banteng. Kemudian bagian atasnya disamarkan, dengan cara menimbun dengan tanah. Sehingga dari kejauhan, tidak terlihat seperti struktur bangunan. Dari beberapa informasi, bunker memiliki menara pengamat. Dengan demikian mencirikan sebagai pusat komando pengamatan, dilengkapi sistem komunikasi radio. Dengan tujuan memberikan koordinasi, posisi dan pergerakan musuh.
Bunker lainya dibangun di barat daya. Berada di Pasir Batukarut. Saat ini dikenal dengan sebutan benteng Tangkil, sesuai dengan nama wilayah tersebut. Penyebutan benteng dan bunker merupakan dua perihal yang berbeda. Keberadaan sistem pertahanan benteng, telah lama ditinggalkan. Sejak dikembangkannya serangan melalui udara, sehingga sistem pertahanan benteng sangat mudah dihancurkan melalui udara. Pengembangan pasca perang dunia ke-1, dikenal sistem pertahanan yang lebih strategis. Berupa sistem pertahanan, dan pengamatan. Biasanya dilengkapi dengan senjata meriam antar gunung.
Dengan demikian, keberadaan struktur militer di puncak Pasir Batukarut merupakan bunker. Tersembunyi dan disamarkan dengan dibangun di bawah tanah. Digunakan sebagai pengamatan dan mitigasi dalam perang modern menjelang perang dunia ke-2.
Bunker Tangkil berada di puncak perbukitan, berupa empat struktur bentuk persegi panjang. Dibangun menggunakan bahan beton tebal, sekitar 40 cm. Di bagian atapnya menggunakan beton lebih tebal, sekitar 60 cm. upaya penguatan struktur dari serangan udara.
Fungsi bunker tersebut, mengamati celah sempit Nyalindung di sebelah barat. Merupakan jalur lintasan kendaraan dan kereta api, menghubungkan antara Purwakarta ke Padalarang dan Depo militer di Cimahi. Waktu pembangunannya, seiring dengan rencana pemindahan Batavia ke Bandung. Direncanakan sejak awal abad ke-20, melalui kehendak Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum (1916-1921).
Terowongan yang Menembus Pasir Kopi Dari bunker Tangkil, didapati jalan menurun hingga menyeberangi jalur kereta api. Tepatnya di jembatan kereta api Cikubang. Jembatan kereta api yang dibangun, untuk menghubungkan Batavia ke Bandung, memalui Karawang-Purwakarta dan Padalarang. Mulai dibangun oleh perusahaan negara Staatsspoorwegen (SS), setidaknya sejak 1902. Seiring dengan pembobokan terowongan Pasir Kopi, Sasaksaat.
Jembatan tersebut merupakan hasil teknologi teknik tercanggih saat itu. Menggunakan sistem jembatan truss, dengan menggunakan struktur pilar penyangga sebanyak 11 pilar baja. Material yang digunakan didatangkan langsung melalui Eropa, dari pelabuhan Tanjung Priok ke Pelabuhan Cilacap. Konsep konstruksinya merupakan jembatan berdinding, dengan memanfaatkan rasuk utama sebagai penyangga beban-diperkuat dengan baja melintang.
Pada tahun 1950-an, di bawah pengelolaan Djawatan Kereta Api (DKA) dilakukan penguatan struktur. Tujuan peningkatan kapasitas beban, dan pergantian material yang telah lapuk.
Di sekitar Sumur Bandung didapati terowongan, menembus batuan gunungapi yang keras. Dibangun untuk menghubungkan Purwakarta ke Padalarang. Melalui segmen halte Sasaksaat. Ke arah utaranya Halte Maswati, Kananasari, Cikalongwetan. Dibangun dalam waktu satu tahun, antara 1902 hingga 1903 dengan teknologi penggalian manual.
Batuan penyusunya adalah batuan gunugapi tua, berupa breksi, lahar dan lava (Sudjatmiko, 1972, 2003). Dengan demikian memiliki kerentanan yang ditinggi, karena menembus akiter (batuan pembawa air). Dilaporkan beberapa kali mengalami longsor, sehingga diperlukan rekayasa teknik agar pembangunan terowongan saat itu aman.
Jalur ini menjadi penting, karena memangkas waktu tempuh dari Batavia (Jakarta) ke Bandung. Disebut lingkar timur yang mampu ditembus waktu hingga 2 jam perjalanan. Berikut video tentang Terowongan Sasaksaat https://www.youtube.com/watch?v=xqvxG4CrrJ0
Bunker Pasirbanteng, Cipada.Blok struktur bunker, dijarah oleh warga untuk diambil bagian beton dan besi.Bunker Pasir BatukarutRekayasa teknik jembatan metode Truss (besi baja)
Perjalanan Geourban ke-46, menapaki kembali bukti budaya yang pernah hadir di sekitar Bandung bagian selatan. Wilayah yang dibelah oleh Ci Tarum, mengalir dari selatan, kemudian di Ciparay berbelok ke arah barat. Pengalirannya membagi Cekungan Bandung bagian utara tengah dan bagian selatan. Bagian selatan ditempati oleh dataran rendah, mulai dari Ciparay-Majalaya di bagian timur dan Dayeuhkolot-Baleendah ke arah barat.
kegiatan ini bertujuan mengulas kembali sejarah budaya dan bumi, melalui kegiatan wisata bumi. Dilaksanakan pada hari Kamis, 25 September 2025. Diikuti oleh para partisipan dengan latar yang berbeda, pegiat wisata, pemandu, pegiat literasi kolonial hingga pelaku wisata alternatif. Dimulai selepas pagi, di percabangan Sumbersari, Ciparay Sapan. Dimulai dengan penyampaian briefing oleh Deni Sugandi, selaku inisiator komunitas Geourban.
Jelang pukul 8.15 wib. Rombongan pengguna transportasi roda dua, diarahkan ke bantaran Ci Tarum. Mengunjungi situs Candi Bojongemas, ditepi jalan penghubung Tegalluar ke Solokanjeruk. Tepatnya berada di samping kompleks Puri Melia Asri. Bojongemas. Solokanjeruk. Berupa situs sejarah, berupa koleksi batuan yang terdiri dari beberapa bongkah. Batuan tersebut berbentuk persegi panjang, dengan ciri beberapa cukilan dan coakan. Membentuk persegi panjang, dengan ukuran rata-rata antara 30 cm, dengan panjang 60 hingga 90 cm. batuannya dipahat secara halus, dibentuk sedemikian rupa. Diantaranya didapati coakan geometris, diperkirakan digunakan sebagai alas pengunci blok batuan. Dengan demikian merupakan hasil pengerjaan manusia.
Didapati batuan dengan bentuk tiang, disebut kekar kolom. Bentuk batuan yang biasanya dijumpai sebagai batuan penyusun Situs Gunung Padang di Campaka, Cianjur. Ukuran kekar kolom tersebut sekitar 40 cm, dengan panjang sekitar 120 cm. ditempatkan diatas tumpukan batuan candi. Keberadaan kekar kolom tersebut menjadi misteri, karena tidak adanya kesinambungan konsep budaya di strata budaya pendukung candi. Bila melihat foto dari postingan di web BKN 1 Oktober 2019, kemudian artikel Detik Jabar 10 Juli 2022 dan terakhir dari artikel di Komunitas Aleut pada 23 Maret 2024, kekar kolom tersebut belum ada. Sehingga diduga keberadaan batuan tersebut, ditempatkan menjelang tahun 2025-an. Siapa yang menempatkan di sana, tujuannya untuk apa? Belumlah bisa dijawab. Kemungkinan lainya adalah penemuan baru di dasar Ci Tarum, mengingat keberadaan blok batuan lainya diambil dari dasar sungai. Bila memeriksa kembali posisi sungai berdasarkan peta lama 1903, telah terjadi pergeseran ke arah utara. Sehingga keberadaan candi tersebut, dierosi oleh sungai. Sesuai dengan lokasi penemuan pada
Beberapa pendapat mengatakan bahwa budaya pendukungnnya hadir sekitar abad ke-7. Dicirikan dengan hadirnya arca Durga Mahisasuramardini, saat ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta.
Bergeser ke arah selatan, melintasi Ciparay kemudian ke arah Majalaya. Tinggalan budaya di lokasi ke-dua ini menemui tinggalam budaya, berupa Yoni. Disebut Situs Yoni Tanggulun, Majalaya. Berada di bantaran Ci Gandok. Anak sungai yang bermuara di Ci Tarum, sekiar Ibun. Berupa Yoni, berbentuk kotak memanjang, dengan ukuran lebar dan panjang yang sama sekitar 40 cm. Tingginya sekitar 60 cm, bagian bawahnya kini ditutupi oleh adukan semen.
Menurut warga, keberadaan situs ini terletak di sebidang tanah yang dahulu ditumbuhi pohon lebat. Sehingga keberadaan tempat tersebut menjadi sakral bagi sebagian warga. Namun seiring pertumbuhan penduduk sekitar Tanggulun, menyebabkan pengambilalihan lahan untuk kuburan warga. Sehingga keberadaan situs Yoni tersebut seringkali berpindah posisi, karena saat itu belum masuk ke dalam cagar budaya. Menurut Away, salah satu partisipan Geourban menyebutkan bahwa keberadaan Ci Tarum semakin menyempit. Akibat perubahan tata guna lahan, okupasi bantaran sungai oleh hunian hingga sedimentasi tinggi. Mengakibatkan lebar sungai semakin menyempit. Kondisi demikian menyebabkan terjadi luapan sungai akibat hujan, terutama pada saat musim basah. Away menuturkan bahwa dahulu diperlukan bantuan perahu untuk menyeberangi Ci Tarum, ke arah selatan dari situs. Namun kini keberadaan sungai tersebut semakin menyempit.
Beberapa pendapat menyebutkan kehadiran situs ini sekitar abad ke-12, merupakan batas sebuah wilayah. Dengan demikian perlu penggalian sejarah lebih dalam, mengingat keberadaan Yoni tersebut semakin tidak diperhatikan.
Dari Tanggulun, kemudian bergeser ke arah selatan menuju dataran tinggi Pacet. Sekitar Sukapura, jalanan meliuk-liuk mengikuti kontur jalan. Sekitar Situ Dua Tonggoh, Cikitu, didapati situs yang dikeramatkan warga. Berupa blok batuan yang disusun oleh batuan gunungapi. Posisi batu tersebut seperti ditancapkan dan tegak, sehingga masyarakatnya menyebutnya Batu Nanceb. Warga batuannya abu-abu gelap, dengan ukuran tinggi sekitar 2,5 meter dan lingkar sekitar 2 meter lebih. Keunikan batuan tersebut memiliki goresan garis vertikal, mengikuti posisi batuan tersebut, sehingga membentuk bidang geometri. Diperkirakan bongkah tersebut meupakan produk letusan G. Malabar yang berada di sebelah barat. Berupa blok batuan yang tererosi dan telah lapuk.
Masyarakat mempercayai situs Batu Nanceb merupakan batas dari wilayah Galuh dan Pakuan Pajajaran. Sebagian lagi menduga, bahwa lokasi ini menjadi batas Danau Bandung Purba. Keberadaan batuan tersebut berada di lereng perbukitan, sejajar dengan perumahan warga yang semakin mendesak ke arah lereng.
Situs budaya lainya adalah Situs Batu Korsi, di Kampung Lodaya Kolot, Tarumajaya, Kertasari. Berupa bongkah batuan,disusun oleh lava. Bentuknya menyerupai kursi, sehingga masyarakat menyebutnya Situs Batu Korsi.
Selain kunjungan ke situs budaya, berkesempatan untuk melihat kembali jalur sesar Garsela. Sesar Garut Selatan, segmen Rakutai (BMKG, 2024). Ekspresi di permukaan bumi terlihat jelas di depan Polsek Kertamanah. Berupa sungai yang memanjang relatif baratdaya-timurlaut. Diperkirakan sesar geser, sejajar dengan sesar regional Garsela. Gempa terakhir yang melanda daerah ini pada 18 September 2024, sekitar magnitude 4.9. Terjadi pada pagi hari, pukul 09.14 wib. Dilaporkan beberapa rumah warga roboh, termasuk fasilitas umum seperti perkantoran, rumah sakit.
Dari lokasi tersebut, kemudian bergeser ke arah barat. Melalui jalan kelas desa yang sebagian besar telah di beton. Mengarahkan ke Cikembang, Kertasari. Selepas taman Desa Cikembang, Kertasari, kemudian dilanjutkan melalui jalan beton yang baru saja dibuka. Berjalan terus ke arah barat, hingga menemui tegakan pohon eucalyptus, berseling dengan pinus yang sudah tumbuh sejak perkebunan hadir.
Dari balik batang pohon pinus, terlihat bayangan bangunan. Tidak tampil dalam bentuk utuh, namun masih terlihat struktur bangunannya. Berupa pondasi yang disusun oleh batuan gunungapi, disusun kemudian direkatkan oleh semen. Tebal dinding nya sekitar 30 cm. dengan tinggi sekitar 6 meter, membentuk dinding tegak persegi panjang. Terdapat dua pintu, menghadap ke arah
Bagian atapnya telah hilang, karena dibongkar untuk digunakan kembali di tempat lain. Rangka baja yang menjadi penguat bagian atap, sehingga bisa dimanfaatkan untuk bangunan di perkebunan yang lain. Akibat permintaan dunia turun, mengakibatkan produksi ikut surut. Menyebabkan pabrik ini harus mengurangi jumlah produksi, terjadi akibat perubahan politik dunia saat menghadapi Perang Dunia ke-2. Dominasi komersial Belanda, akhirnya runtuh seiring masuknya Jepang ke Hindia Belanda 1942
Sehingga pengelolaan administrasi perkebunan, harus beralih ke komoditas lain. Diantaranya ke sektor pertanian dan dan perkebunan teh, dan kopi yang lebih menjanjikan. Kondisi ekonomi dunia mengakibatkan permintaan kina merosot, Saat ini Perkebunan Cikembang di bawah pengelolaan PTP Nusantara I Regional II.
Kunjungan penutup adalah mendatangi sumber mata air panas. Manifestasi permukaan yang berasosiasi dengan sumber panas gunungapi di Tarumajaya, Kertasari. Berupa kemunculan air panas di (sungai) Ci Panas. Sungai yang mengalir memotong punggungan G. Wayang-Windu-Bedil, kemudian di sarah utaranya adalah G. Gambung.
Suhunya sekitar 40 derajat celcius, muncul dalam bentuk mata air di dalam sungai Ci Panas. Warga memanfaatkannya menjadi tempat mandi umum, dengan cara menampung air panas tersebut ke dalam bak. Kemudian dialirkan ke kamar mandi yang dibangun sederhana.
Dari keterangan warga, mata air tersebut muncul di sepanjang sungai. Lebih ke arah timur, suhu ainya semakin tinggi. Menandakan sumber panas merupakan sistem panas bumi G. Wayang-G. Gambung. Tidak didapati belerang, menandakan kontak sumber panas dengan sumber mata air dangkal. Keluar dalam bentuk gelembung air, dengan tekanan air rendah. Debitnya kecil, sehingga perlu ditampung dalam kolam kecil.
Situs Candi Bojongemas, SolokanjerukKekar Kolom diantara batu persegi panjang CandiPartisipan Geourban di Candi BojongemasSitus Yoni di Tanggulun, MajalayaInterior rumah administratur Cikembang, KertasariSitus Batukorsi, Kertasari
Selepas bulan Juli 2025 usai, pembangunan jalan Lingkar Utara Jatigede telah selesai dibangun. Walaupun belum resmi dibuka, tetapi bisa dilintasi dalam jumlah kendaraan terbatas. Kesempatan inilah dimanfaatkan, meninjau jalan yang melingkar sisi utara waduk Jatigede, Sumedang. Kegiatan ini merupakan bagian dari acara Geourban ke-45, dengan tajuk Jembarwangi pada 10 September 2025,
Kegiatan inisiasi wisata bumi sekitar Sumedang, dimulai dari sisi sebelah utara Waduk Jatigede. Memanfaatkan jalur baru lingkar utara, dari percabangan jalan kabupaten Situraja ke Darmaraja. Mulut jalan berada di sekitar tanjakan Cinangsi yang berada dibahu dua gunung. Sebelah timurnya adalah G. Baju, dan ke arah timurnya G. Tanjung. Jalannya lebar, diapit oleh parit drainage. Menandakan kelas jalan lingkar ini merupakan proyek nasional. Selepas percabangan Cinangsi, disambut oleh jalanan yang mendaki. Agar tidak terlalu terjal, dilakukan pembobokan perbukitan G. Tanjung 519 mdpl. Kemudian dilanjutkan ke arah timur yang mulai melandai melewati perbukitan Pasir Hingkik 513 mdpl.
Arah pandangan luas tidak terhalang. Ke arah timur terlihat hamparan air yang luas. Waduk Jatigede menenggelamkan 28 desa, dari 5 kecamatan sejak 2015. Dibutuhkan waktu hampir setengah tahun, untuk mencapai paras air optimal. Luas genangan airnya saat ini, kurang lebih sekitar 42 km2. Titik tinggi paras airnya, 260 meter di atas mukalaut. Satu-satunya pulau yang tampak dari arah Cinangsi, adalah G. Surian 310 mdpl. Kerucutnya timbul di atas hamparan air, berhadapan langsung dengan poros bendungan Jatigede.
Sekitar 15 menit berkendara, di sebelah timur terlihat perbukitan yang mengungguli tinggian. Disebut Pasir Julang, atau masyarakat menyebutnya G. Julang. Dalam peta geologi lembar Arjawinangun (Djuri, 2011), merupakan Hasil Gunungapi Tua-Lava (Qvl). Produk G. Lingga 1125 mdpl. Dalam tafsiran berdasarkan peta geologi tersebut, memberikan dugaan arah aliran lavanya mengalir ke timur laut hingga Nangerang. Sehingga diperkirakan G. Julang merupakan fasies proksimal (Bogie & Mackenzie, 1998). Perkiraan lainnya adalah perbukitan tersebut merupakan hasil penerobosan magma, disebut intrusi batuan beku. Menerobos batuan sedimen
Bila merujuk pada pendapat di atas, memberikan petunjuk bahwa G. Julang bukan perbukitan intrusi batuan beku. Melainkan produk aliran lava G. Lingga yang berada di sebelah barat daya yang berjarak sekitar 4.5 km. Disusun batuan beku, berwarna abu terang menandakan didominasi mineral andesitik. Sejak awal pembangunan Waduk Jatigede, sumber batuan yang berada di G. Julang dimanfaatkan untuk kegiatan pembangunan poros waduk diantaranya adalah sebagai agregat. Lahan seluas 55 Ha, tersebut kini direncanakan akan ditambang kembali untuk kebutuhan Bendungan Cipanas. Hanya terlihat beberapa warga yang masih memanfaatkan batuan tersebut, dengan cara penambangan tradisional. Sebagai batu hias, dan pondasi dalam skala tambang kecil.
Saat ini G Jualang tidak lagi menjulang. Sebagian besar tubuhnya telah hilang hasil kegiatan tambang sejak tahun 70-an akhir. Batuannya masih, berupa lava tebal dengan ciri terkekarkan. Menandakan batuan tersebut terdeformasi, akibat kegiatan tektonik. Di sebelah utaranya merupakan jalur sesar Baribis, sehingga kegiatan tektonik tersebut mempengaruhi secara langsung pada batuan. Sebagian besar kawasan ini membentuk bentang alam berupa ceruk, dan sebagian besar membentuk dataran seperti mesa. Tinggian yang terpancung, menyisakan lapangan yang datar. Sebagian besar batuan yang singkat, terkekarkan dengan kuat, membentuk struktur rekahan atau patahan pada batuan (deformasi). Sebelah barat daya, didapati fitur batuan yang membentuk seperti kepala burung. Berupa susunan kekar kolom, tersisa dari kegiatan tambang.
Menurut warga, fitur batuan tersebut hasil kegiatan tambang menggunakan alat berat. Namun karena batuannya terlalu keras, mengakibatkan alat berat tersebut menyerah. Sehingga ditinggalkan begitu saja, meninggalkan bentuknya pipih. Sehingga masyarakat menyebutnya batu kipas. Disusun oleh batuan beku, berwarna abu terang ciri andesitik. Berada pada ketinggian, sebagian besar bagian bawahnya telah hilang oleh kegiatan tambang, menyisakan blok batuan.
Dari G. Julang menjadi titik terbaik untuk melihat panorama Waduk Jatigede. Dengan demikian, BBWS berencana mengembangkan kawasan ini sebagai objek wisata berupa vie point atau anjungan pandang. Rencana tersebut membutuhkan kajian, agar selaras dengan kondisi lingkungan, kemampuan untuk pengelolaan wisata berkelanjutan.
Sebelah timur laut dari G. Julang, mengikuti jalan Lingkar Utara Jatigede akan menemui situs. Masyarakat menyebutnya Situs Karamat berupa kumpulan batuan dengan ukuran bongkah. Dilingkari oleh pagar besi, menyusun tinggian yang ditempati oleh pohon tegak. Warga menyebutnya petilasan, atau tempat yang pernah menjadi tempat singgah atau disakralkan. Tempat suci yang digunakan sebagai kegiatan ritus, atau sebagai simbol budaya. Informasi mengenai Situs Karamat ini sangat terbatas, karena tidak ada informasi baik dalam tinggalan prasasti atau sumber primer seperti naskah.
Sumber batuannya bila merujuk pada peta geologi Arjawinangun (Djuri, 2003). Berupa batuan beku yang diperkirakan sama dengan yang ditemui di G. Julang. Berupa Hasil Gunungapi Muda tak Teruraikan. Diantaranya breksi, lava bersifat andesit dan basal, pasir tufan, lapili. Bentuknya lonjong, saling menumpuk. Menurut warga, situs ini merupakan bagian puncak, ditandai dengan batu yang disimpan berdiri seperti menhir. Posisi situs berada ditengah jalan yang menghubungkan antaran Cinangsi ke Pajagan. Namun bila melihat peta lama lembar Darmardja (1943), berada pada ketinggian perbukitan. Dalam peta tersebut belum menunjukan garis jalan. Namun dalam keterangan bapak Asep, kampung yang berada di sekitar situs, merupakan hasil relokasi akibat penggenangan waduk.
Pada peta lama lembar Soedapati (1911), lokasi situs berada di daerah disebut Bantarjambe. Sesuai dengan nama Sekolah Dasar yang masih menggunakan nama yang sama. Dengan demikian diduga, kampung di sekitar situs merupakan relokasi dari kampung Legok. Posisinya sebelah timur, di bawah lembah yang kini menjadi batas paras air Waduk Jatigede. Untuk menghindari penggenangan, maka warga Legok kemudian bergeser ke dataran yang lebih tinggi disekitar Bantarjambe saat ini.
Saat ini keberadaan situs telah dilindungi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, melalui undang-undang cagar budaya Nomor 11 Tahun 210 Tentang Cagar Budaya. Disebut Situs Makam Karamat, Cigintung, Sumedang.
Lokasi selanjutnya adalah Pasir Pareugreug. Merupakan blok yang naik, disebut sesar anjak busur belakang. Merupakan sistem Backarc Java Thrust, segmen Baribis. Blok yang naik ini kemudian dimanfaatkan sebagai poros bendungan. Dinding bendungan yang berarah timur-barat, sesuai dengan arah sesar Baribis.
Dari atas Pasir Pareugreug, bisa menyaksikan ke segala arah. Di timur terlihat lembah yang dalam, ditoreh oleh Ci Manuk. Aliran outlet dari spillway poros Waduk Jatigede. Mengalir membelah perbukitan terlipat, diapit oleh G. Tonjong sebelah barat, dan G. Pakayuan 330 mdpl., di bagian timur. Alirannya mengarah ke utara, melalui Parakan Kondang. Kemudian Desa Karedok. Alirannya kemudian dibendung kembali, oleh bendungan Bunut.
Dari Pasir Pareugreug, kemudian turun ke arah Desa Karedok melalui lereng Pasir Sema. Jalanan curam, tetapi sebagian besar sudah di beton dan aspal. Menjelang memasuki Desa Karedok, didapati situs Keramat Sunan Pada. Di keterangan papan informasi, gerbang masuk situs berbunyi Situs Keramat Sunan Pada, ayah dari Ratu Cukang Gedeng Waroe. Sunan Pada adalah mertua dari Geusan Ulun yang berkuasa sebagai raja Sumedang. Dari 1579, naik tahta sebagai raja melalui amanat untuk meneruskan kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran.
Jalannya berupa turunan yang terjal, sisi sebelah baratnya dibatasi oleh gawir terjal Pasir Pareugreug. Dibeberapa tempat terlihat dinding perbukitan tersebut disusun oleh batuan breksi gunungapi. Seperti dilaporkan pada awal hadirnya perkampungan ini pernah mengalami bencana. Berupa gerakan tanah atau longsor, mengakibatkan posisi kampung haru bergeser ke arah utara ke kampung Rancakeong dan Babakan Dobol. Lebih mendekati bantaran Ci Manuk.
Dihujung kampung, dibatasi oleh genangan air Ci Manuk. Membentuk danau yang terbentuk karena aliran tersebut di tahan oleh Bendung Bunut. Membentang sekitar 380 meter, menutup celah sempit Ci Manuk di Desa Karedok, Jatigede. Bendungan ini berfungsi untuk penyaluran irigasi, penyedian air baku dan sistem pengendali banjir.
Dari Cibunut kemudian beralih ke arah Jembarwangi di sebelah timur. Jaraknya kurang lebih 7 km. mengikuti jalan fasilitas Waduk Jatigede melalui lintas timur. Di sekitar Cijeungjing kemudian berbelok ke arah tenggara, memasuki desa Jembarwangi bagian barat. Sebelum tiba di Kantor Desa, jalanan mengikuti jalur turunan curam, berakhir di Ci Saar. Sungai yang membelah Desa Jembarwangi, mengalir ke arah utara.
Merujuk pada beberapa penelitian, kawasan ini disusun oleh batulempung, dan serpih gampingan yang memiliki tebal hingga 650 meter. Bagian dari Formasi Cisaar, berumur Miosen Tengah atau sekitar 15 juta tahun yang lalu.
Dalam laporan penelitian paleontologi, disebut lembah Cisaar. Memiliki potensi dan sebaran fosil vertebrata. Mulai diteliti sejak lama, namun secara berkala dilakukan oleh Badan Geologi, melalui tim Museum Badan Geologi, KESDM sejak 2019. Diantaranya telah ditemukan beberapa fosil, di titik ekskavasi di beberapa lokasi yang tersebar sepanjang Ci Saar. Keberadaan fosil vertebrata atau mamalia besar tersebut, menunjukan bahwa sebagian besar lembah Cisaar saat itu dalam kondisi lingkungan estuari.
Fosil yang ditemukan, tertanam pada batuan dan tanah yang telah lapuk. Sebagian tersingkap di permukaan akibat kegiatan erosi, dan dibawa oleh air. sehingga beberapa fragmen ditemukan tersebar dari barat ke timur. Semua ditemukan pada Formasi Citalang, disusun konglomerat, dan batupasir tufaan, merupakan lingkungan endapan darat dengan sistem sungai teranyam (braided stream deposits). Umurnya Pleistosen sekitar 1,2 juta tahun yang lalu. Diantaranya ditemukan rahang bawah Stegodon trigonochepalus (Wibowo et. Al., 2018). Lembah Cisaar, Jembarwangi saat ini menjadi salah satu situs baru, untuk kegiatan penelitian paleontologi vertebrata di Jawa bagian barat.
Batukipas, G. Julang Jatigede, SumedangSitus Karamat. CigintungDi puncak Pasir Pareugreuh.Fosil vertebrata di Lembah Cisaar