Labar dalam bahasa Manggarai, memiliki makna bermain. Berbeda dengan penggunaan kata labok atau lako yang berarti jalan-jalan. Makna labar menjadi lebar bila disandingkan dengan geo yang berarti bumi. Dengan demikian geolabar, bisa dimaknai bermain mencari makna tentang sejarah bumi dan budaya.
Geolbar dicetuskan seiring dengan kegiatan penerimaan anggota baru Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Dewan Pengurus Wilayah Labuan Bajo. Pada tanggal 9 Maret 2026. Digagas bersama pengurus DPW Labuan Bajo, melalui kegiatan singkat kunjungan lapangan. Kegiatan dilaksanakan tanggal 11 Maret 2026, melalui perjalanan singkat sekitar selatan Labuan Bajo. Dirancang dari pagi hingga siang hari, atau tepatnya kegiatan ekskursi, Konsep “bermain bersama” ini adalah salah satu cara, menggali potensi wisata bumi kemudian mengaktivasi jejaring lokal.
Tujuannya adalah menggali potensi wisata bumi (geowisata) di sekitar Labuan Bajo Raya. Melalui kegiatan “bermain bersama”. Dengan cara penelusuran objek wisata bumi/geowisata, hasil dari pencarian literasi atau berdasarkan informasi yang telah ada. Sebelum turun ke lapangan, diperlukan dasar materi yang menarik. Bisa berdasarkan keunikan hasil proses dinamika bumi, budaya yang tumbuh dan dipengaruhi kondisi lingkungan. Hingga kekayaan dan keanekaragaman hayati yang unik.
Mencari informasi valid
Dalam perencanaan kegiatan kunjungan lapangan, diperlukan penyusunan materi. Terutama sebelum datang kel lokasi di lapangan. Cara mengumpulkan informasi bisa didapat dari sumber-sumber yang valid, misalnya hasil-hasil penelitian. Tulisan-tulisan populer yang diterbitkan melalui majalah, buku atau artikel.
Cari lainya bisa didapat dari sumber daring (online), melalui mesin pencari seperti google. Namun dengan cara seperti ini haruslah dibanding-bandingkan dengan data lainya, karena sebagian besar data adalah hasil tulis ulang (repost), dari sumber data sebelumnya.
Sumber lainya adalah dengan menggali informasi dari pelaku, orang yang memiliki pengetahuan di lokasi yang dituju. Biasanya adalah tetua adat, atau orang tua yang memiliki pengetahuan yang didapat dari generasi sebelumnya.
Pemanfaatan melalui pariwisata berkelanjutan
Bila kegiatan geolabar dikerjakan rutin, maka akan mendapatkan sumber-sumber potensi wisata bumi. Langkah selanjutnya adalah pemanfaatan melalui kegiatan wisata bumi, dengan pilar edukasi, konservasi dan menggairahkan ekonomi lokal.
Titik-titk keunikan bentang alam, fitur bumi, kearifan budaya lokal yang terpengaruh oleh lingkungan, menjadi nilai tambah dalam pengemasan paket perjalanan wisata bumi. Disusun melalui standar yang baik dan memadai, kemudian diperkuat dengan narasi bumi.
Dalam rangka mengenali potensi wisata bumi di sekitar Labuan Bajo, pada tanga 11 Maret 2026, dilaksanakan kegiatan Geolabar pertama. Tujuannya adalah sekitar Macang Tanggar dan Warloka bagian utara.
Bukit Lemes, Kerucut di Macang Tanggar
Ditempuh dari Labuan Bajo sekitar 15 km, atau 25 menit berkendara ke arah selatan Labuan Bajo. Melalui jalan poros yang menghubungkan kota Labuan Bajo ke Golo Mori di bagian selatan. Selepas perjalan ke arah selatan, melalui Jalan Asean Summit, sekitar simpang Lemes berbelok ke arah timur. Melalui jalanan aspal sempit, hingga tiba di kampung Mburak. Di ujung kampung kemudian mengambil jalan ke arah kiri, dilanjutkan ke arah selatan. Jalanan aspal bersalin menjadi jalanan aspal yang terkelupas. Tidak terlalu lebar, sehingga bila menggunakan roda empat akan sulit pada saat berpapasan dengan kendaraan dari arah berlawanan. Sekitar lima menit berkendara, kemudian tiba di persimpangan jalan. Jaraknya kurang lebih 1,5 Km dari kampung Lemes, Macang Tanggar.
Wae Lua Mata Air Panas Jauh Dari Gunungapi
Dari Bukit Lemes, dilanjutkan ke arah timur melalui Kampung Mburak. Sekitar 400 meter dari persimpangan Mburak, didapati tanah yang sedikit meninggi. Posisinya berada di sebelah timur dari jalan penghubung Lemes ke Translok, sekitar beberapa langkah kaki saja. Ditengah lapangan terdapat fosil kayu, berupa satu batang kayu utuh. Keberadaan fosil kayu ini tersebar mulai dari Warloka-Kenari hingga Mburak
Sebarannya berupa fragmen, dibeberapa tempat berupa satu individu batang pohon. Masyarakat menyebutnya batu balok, karena bentuknya persegi panjang. Saat ini tidak masyarakat menganggapnya sebagai batu biasa, sehingga tidak terlalu istimewa.
Memasuki Kampung Translok, jalanan bersalin menjadi berbatu. Bila memasuki musim hujan, jalanan digenangi air, lintasan dari daerah tinggi ke arah selatan yang lebih rendah. Setelah melewati Masjid Baiturrahman Translok, tepat di tepi jalan didapati kolam mata air panas. Berada di batas pagar rumah Pa Abdul Hamid, Kampung Translok Blok C. Abdul menjelaskan bahwa mata air tersebut tidak pernah surut, baik dalam kondisi kemarau atau sebaliknya. Warga menyebutnya mata air Macing?, artinya asam. Kolam membentuk lingkar, dengan ukuran diameter sekitar 70 centimeter. Dalamnya tidak lebih dari selutut orang dewasa. Temperatur airnya sekitar 50 derajat celcius, muncul gelembung gas. Menandakan tekanan sumber panas dari bawah bumi, kemudian naik berupa gas. Kolam ini berada di tepi jalan, sehingga terbuka bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya. Warga lokal menggunakannya untuk mandi, sesekali digunakan untuk pengobatan. Terutama penyakit kulit dari warga yang berasal dari luar kampung.
Di sebelah utara lapangan, atau sekitar 200 meter dari Masjid Baiturrahman. Didapai sumber mata air panas ke-dua. Kolam mata air panas di tengah-tengah vegetasi rimbun. Ukurannya lebih besar dibandingkan kolam di depan rumah pa Abdul Hamid. Masyarakat menyebutnya Wae Lua, Wae merujuk kepada sumber air, sedangkan lua adalah panas. Sehingga diterjemahkan menjadi sumber mata air panas.
Lahannya berada di kepemilikan pribadi yang direncanakan akan dikembangkan menjadi wisata. Namun setelah bertahun-tahun, tidak pernah terwujud karena kurangnya pembiayaan. Keunikan kolam ini adalah berwarna abu terang, menandakan didapati mineral karbonat yang larut dalam air. Suhunya tidak terlalu panas, sekitar 35 derajat celcius. Keberadaan batuan karbonat tersebar di permukaan, sekitar wilayah ini. Tersingkap batugamping yang ter karstifikasi kuat, membentuk kerucut khas karst.
Untuk mengetahui sebaran batuan di Kampung Translok Blok C. Dibaca dari peta Geologi Lembar Komodo, Nusa Tenggara Barat (Ratman dkk. 1978). Sebagian besar wilayah tersebut disusun oleh Batugamping Tufaan. Umur batuannya Miosen Akhir hingga Pliosen Awal, atau sekitar 5,3 hingga 3.6 juta tahun yang lalu. Setelah pengendapan batuan karbonat, kemudian disusul oleh aktivitas kegunungapian. Secara perlahan-lahan tumbuh beberapa gunungapi dan menghentikan pertumbuhan terumbu karang pada saat itu.
Di arah tenggaranya didapati beberapa sumber mataa air, membentuk kerucut. Terjadi karena pengendapan mineral kalsium karbonat (CaCO3), disebut sinter karbonat. Disebut juga travertin, berupa munculnya mata air dengan suhu rendah hingga menengah. Membentuk ciri kerucut, rendah hingga seperti tiang. Muncul di lingkungan hidrotermal atau area sedimen karbonat, akibat aktivasi panas bumi.
Saat ini kemunculan fitur bumi tersebut berada di kawasan lahan pribadi, sehingga perlu diberikan pemahaman dan pengertian agar keunikan bumi tersebut tidak hilang atau rusak.
Fosil Kayu Kompo Nepa Bukti Letusan Sano Nggoang
Sekitar 8 Kilometer dari Wae Lua ke arah selatan, didapati sebaran fosil kayu. Dari Kampung Translok kemudian menggunakan jalan poros ke arah Golomori. Di percabangan Lengkong Mbot ke arah timur, hingga tiba di Kampung Kenari, masuk di Desa Warloka. Di samping Masjid Baiturrahim Kenari, didapati fragmen fosil kayu. Tersebar di sepanjang tepi jalan, di halaman rumah warga di Kampung Kenari. Bentuknya berupa segmen batuan fosil kayu, diduga diangkut oleh air pada saat hujan tinggi. Kemudian diendapkan disekitar halaman depan dan belakang warga.
Keterdapatan fosil kayu tersebut menyebar di sekitar perbukitan Kenari, hingga perbukitan Mbuhung di sebelah timurnya. Sebagian tersingkap dan sebagian lagi masih tertanam dalam lempung dan pasir gununngapi.
Satu-satunya struktur utuh yang muncul di permukaan adalah di bukit Kenari, sebelah utara. Sekitar 500 meter dari SMPN 4 Komodo, Kenari, Warloka. Berupa individu lengkap batang pohon yang rebah membujur tenggara-barat laut. Posisi rebah fosil kayu ini satu arah dengan letusan G. Sano Nggoang. Menjadi bukti dan dugaan kuat, bahwa sumber letusannya berasal dari gunungapi yang berada di sebelah tenggara.
Batuannya disusun oleh batuan gunungapi (Tmv). Diantaranya lava, breksi bersifat dasit. Sebagian besar wilayah tersebut ditutup oleh endapan dari hasil letusan gunungapi. Satu-satunya gunungapi yang perlu meletus besar, adalah G. Sano Nggoang. Hasil kegiatan letusannya membentuk kaldera Mbeliling, terbuka ke arah danau. Terjadi sekitar 300 ribu tahun yang lalu, melalui hasil pentarikhan umur batuan dari lava yang terendapkan di sebelah selatan danau Sano Nggoang. Hasil letusannya adalah endapan piroklastik terelaskan (ignimbrite) yang sangat tebal. Mengendap melalui mekanisme aliran awan panas yang menyebar jauh hingga ke Warloka sekitarnya.
Awan panas tersebut menimbun hutan yang tersebar luas saat itu. Ditimbun oleh abu atau lumpur gunungapi, tanpa oksigen (aerobik) menyebabkan kayu tersebut tidak lapuk. Seiring waktu, terjadi proses permineralisasi (silifikasi). Air tanah yang kaya mineral, umumnya silika (SiO2), meresap kedalam pori-pori kayu kemudian menggantikan sel kayu. Biasanya ditemukan jenis pohon suku meranti-merantian (Dipterocarpaceae) atau Dryobalanoxylon sp.
Keberadaan fosil kayu ini menjadi penting, bagian dari sejarah pembentukan bumi Flores bagian barat. Sehingga keberadaanya perlu dikonservasi agar tidak hilang atau rusak. Mengingat fosil kayu di pulau Jawa, terutama di Sajira, Pandeglang, Banten mendekati punah. Akibat terjadi jual beli yang masif dan tidak terkendali.
Kunjungan ke Kenari, menutup kegiatan Geolabar pertama. Dari tiga titik tersebut memiliki variasi yang menarik. Keunikan perbukitan di Lemes, berupa padang sabana dengan lekuk kerucut dan lembah yang menawan. Perbukitan yang tererosi oleh waktu yang sangat lama, pada saat sebagian besar Labuan Bajo masih berupa lautan. Seiring waktu naik ke atas permukaan, karena proses pengangkatan dalam waktu jutaan tahun yang lalu.
Di Wae Lua, memberikan pemahaman bahwa jauh dibawah permukaan bumi terdapat sumber panas. Akibat kontak dengan batuan penutup, memanaskan air tanah dangkal, Ibarat memanaskan air menggunakan ceret, tekanan gas naik ke permukaan. Kemudian diberikan jalan melalui celah pada batuan dan muncul di permukaan sebagai sumber mata air panas Wae Lua.
Kunjungan terakhir adalah melihat bukti hasil letusan kelas kaldera. Diperkirakan letusan gunungapi Sano Nggoang, menghasilkan awan panas. Menyebar hingga ke arah utara dan barat. Menimbun hutan lebat, mengakibatkan batang-batang kayu pohon tertimbun dalam waktu singkat. Seiring waktu, dalam kondisi tidak ada oksigen (anaerob) sel-sel kayu diisi oleh mineral silika. Dalam prose yang lama, kemudian bersalin menjadi fosil kayu.
Tiga titik ini memberikan “nilai jual’ untuk dikemas dalam wisata bumi. Alternatif pengembangan wisata berkelanjutan di darat, sekitar Manggarai Barat. “Membawa uang dari laut ke darat”.































