Perjalanan sehari di kegiatan Geourban ke-56 dimulai dari Cikole Lembang. Jelang pagi, sekitar pukul 7.30 WIB, jatuh pada hari Minggu, 8 Februari 2026. Walaupun cuaca sedikit kabut menggelayut, tidak menyurutkan pelaksanaan kegiatan.
Perjalanan diarahkan menuju Subang, melalui Ciater kemudian dilanjutkan ke arah Sagalaherang. Di lereng G. Tangkubanparahu sebelah barat, jalanan Ciater tampak bersolek. Jongko pedagang yang biasanya menutupi pemandangan di tepian jalan, kini telah tidak ada. Ditertibkan melalui keputusan Gubernur Jabar perihal penataan ulang kawasan Ciater-Subang. Sebagai gantinya adalah jalan yang kini semakin dipoles, hotmix, perbaikan saluran drainase. Menjelang jembatan Ci Pangasahan, saat ini telah dibangun pelataran wisata pemandangan. Disebut Taman Dewi Sartika, berupa platform yang dibuat bertangga, menghadap ke arah timur. Sehingga dari titik ini menjadi tempat terbaik untuk menyaksikan matahari terbit, Selain itu melihat jajaran gunung dan perbukitan di sebelah utara hingga ke arah timur.
Dari titik ini terlihat jajaran perbukitan dan kerucut gunnugapi tua. Ke arah timur, hadir jajaran perbukitan G. Karamat 1510 mdpl., bersandingan dengan Pasir Ipis 1254 mdpl. Ke arah timurnya, terlihat kerucut khas berupa dua kerucut yang berada pada satu tubuh gunung, disebut G. Canggak 1619 mdpl. Sedikit ke arah timurlaut, terlihat kerucut G. Tampomas yang hadir dalam selimut kabut.
Sebelah utara dari taman ini, tepatnya di Jembatan Ci Pangasahan, Ciater. Merupakan bukti sejarah, perlawanan tentara kerajaan Belanda atau KNIL, menghadapi serangan tentara Jepang. Dikenal dengan perang Tjiater Stelling atau pertempuran di Ciater pada 5-7 Maret 1942. Di Perlintasan jalan inilah mengakhiri kekuasaan Kolonial Belanda di Indonesia, kemudian diganti penjajahan Jepang selama 3 tahun lebih.
Bergerak ke arah utara, melalui percabangan Ciater-Panaruban. Jalannya menurun, menandakan bagian dari lereng G. Tangkubanparahu bagian distal atau kaki gunung. Menurun ke arah Sagalaherang, sejajar dengan aliran Ci Koneng (sungai). Alirannya berasal dari lereng sebelah utara G. Tangkubanparahu, mengalir ke utara. kemudian bergabung dengan Ci Muja di sekitar Cicadas, sebelah utara Panaruban. Dari peta geologi lembar Bandung (Silitonga, 2003), sebagian besar batuan yang tersingkap adalah alira lava. Batuannya berwarna abu gelap, menempati dasar sungai. Membentuk ceruk-ceruk dan air terjun di sekitar Panaruban. Diantaranya Curug Karembong, Curug Sawer, Curug Gua Badak, Curug Cisaga dan sebagainya.
Tiba di Sagalaherang, bertemu dengan persimpangan. Ke arah barat menuju Wanayasa, dan sebaliknya ke arah timur menuju Subang. Sekitar Sagalaherang Kaler, kemudian berbelok ke arah utara. Merupakan jalur alternatif ke kota Subang, melalui Batukapur. Jalannya sempit dengan turunan terjal, terutama saat akan memasuki daerah Batukapur. Di sebelah kanan jalan merupakan lembah dalam yang disayat oleh Ci Nangka. Sungai yang berasal dari lereng sebelah utara G. Tangkubanparahu. Kemudian bergabung dengan beberapa anak sungai, seperti Ci Nangerang, Ci Longok, Ci Taraban yang berasal dari Gunung Batu Kapur 543 mdpl. Semua anak sungai kemudian bergabung dengan Ci Asem.
Aliran Ci Asem dialasi batuan beku. Berwarna gelap, dan masif. Secara umum terlihat struktur batuan yang terdeformasi, menandakan adanya struktur yang bekerja di wilayah ini. Keberadaan struktur patahan, digambarkan pada peta Geologi Lembang Bandung (Silitonga, 2003). Berupa garis patah-patah, diduga adanya struktur. Berupa patahan yang memotong Gunung Batukapur, dengan arah relatif baratlaut-tenggara. Bukti keberadaan struktur tersebut, adalah hadirnya mata air panas Batukapur.
Curug Agung Mengalir di Atas Aliran Lava
Kondisi jalan lintas jalan alternatif Sagalaherang ke Subang via Batukapur, relatif dalam kondisi baik. Berbeda dengan tahun lalu, masih berupa jalanan aspal yang berlubang, dan sebagian berbatu. Saat ini sebagian besar jalannya telah di beton, sehingga bisa dilalui dengan aman oleh beberapa jenis kendaraan. Kondisi demikian mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, karena akses telah tersedia dan baik.
Perjalanan dari arah Sagalaherang ke arah Curugagung, didapati persimpangan jalan. Ke arah barat, melalui jembatan yang melintasi Ci Asem. Kemudian mengarah ke Dawuan. Sedangkan jalan lurus, menuju kota Subang. Sekitar jembatan Curugagung, sekitar 50 meter ke arah utara didapati aliran Ci Asem. Airnya relatif deras, merupakan pertemuan beberapa anak sungai yang berasal dari berapa tinggian. diantaranya Gunung Batukapur di sebelah timur, dan jajaran perbukitan
Memasuki Desa Curugagung dari arah Sagalaherang, dicirikan dengan persimpangan jalan antara Subang dan ke Dawuan. Selepas jembatan, mengalir Ci Asem ke arah utara. Aliran airnya mengalir di atas batuan lava tebal. Dalam peta Geologi Lembang Bandung (Silitonga, 2003), merupakan aliran lava batuan gununugapi muda Tak Teruraikan (Qyl), berumur Kuarter. Sumbernya berasal dari G. Tangkubaparahu, sama (ekivalen) dengan aliranlava di Curug Dago, Bandung. Umunryan
Masyarakat menyebutnya Curugagung, berupa air terjun bertangga. Membentuk ceruk di bagian atas, dan kolam di bagian bawah. Akibat aliran airnya deras, sehingga mengerosi batuan membentuk air terjun bertingkat. Tingginya sekitar 3 meter di bagian atas, kemudian air terjun utamanya dengan tinggi 10 meter. Di bawahnya didapati kolam konsentris, akibat hasil kegiatan erosi oleh arus air.
Dialasi oleh batuan beku berwarna abu-abu gelap, didapati lubang-lubang gas. Disebut vesikular, tekstur berlubang yang terbentuk akibat pelepasan gas. Pada saat lava mengalir, membawa gas yang terlarut, kemudian seiring pembekuan (dingin) gas-gas tersebut dilepaskan. Batuannya tebal dan masif, berwarna abu-abu gelap. Sebagian besar batuannya terdeformasi, menandakan hadirnya sistem sesar di daerah tersebut. Keberadaan air terjun tersebut merupakan bukti hadirnya struktur. Dikonfirmasi dari hasil penelitian P.H. Silitonga (2003), berupa garis putus-putus berarah relatif baratlaut-tenggara.
Bukti Sesar di Curug Cinangrang
Terletak di Bunihayu, Jalancagak, Subang. Didapati air terjun yang mengalir di dinding tegak. Kemudian di sebelah baratnya terdapat beberapa sumber mata air panas. Dari peta lama lembar Djambelaer (1912), memperlihatkan simbol mata air panas.
Air terjun Tangerang dipercaya sebagai air terjun keramat, sehingga oleh sebagian masyarakat di masa lalu dimanfaatkan sebagai sarana kegiatan sakral. Namun pada saat ini, kawasan tersebut telah berkembang menjadi sarana wisata. Dikelola melalui paguyuban wisata Desa Bunihayu, melalui kerjasama dengan pihak swasta. Diantaranya didapati fasilitas glamping, dan sesaran kolam rendam. Jalannya telah ditata menggunakan semi beton, hingga di dasar lembah. Jalannya curam, alternatifnya adalah dengan cara berjalan kaki sepanjang 1 km.
Air terjunnya tinggi, sekitar 30 meter. Tegak dan membentuk gawir yang memanjang dari tenggara ke baratlaut. Sejajar dengan arah pengaliran Ci Nangrang. Pada peta geologi lembar Bandung (Silitonga, 2003), disusun oleh batuan Hasil Gunungapi Lebih Tua (Qob). Diantaranya perlapisan breksi, lahar, dan pasir tuf berlapis-lapis dengan kemiringan kecil. Tebal endapannya sekitar 600 meter.
Dilokasi telah tersedia sarana pariwisata, toilet, sarana penginapan berupa tenda glamping hingga tempat makan. Diusahakan sejak dua tahun yang lalu, melalui usaha bersama. Antara masyarakat lokal dan permodalan dari pihak ketiga. Arah pengembangannya adalah pariwisata yang berbasis pada alam. Sehingga cara menatanya disesuaikan, tanpa menggunakan pembangunan fisik yang berlebihan. Semuanya diselaraskan dengan kondisi lingkungan.
di bagian atas air terjun ini, terdapat kegiatan tambang batu dan pasir. Kegiatan tambang ini menyebabkan kerusakan lingkungan, dan tidak memiliki izin. Pada tanggal 17 Janurai 2025 ditutup oleh Gubernur Jawa Barat. Sebagai tindakan lanjutannya adalah penyegelan lokasi tambang, oleh pihak Polres Subang. Kegiatan tambang ini berdampak langsung kepada masyarakat penggarap sawah, karena dikeluhkan airnya kotor. Selain itu terjadi sedimentasi di beberapa aliran sungai, termasuk Ci Nangerang. Bila hujan tiba, bukan saja pasir yang dibawa dan jatuh di air terjun, bahkan membawa material dengan ukuran lebih besar. Sehingga menyebabkan terjadinya bahaya banjir bandang, akibat bagian hulu air terjun ini dikeruk oleh kegiatan tambang. Sehingga lahan yang rusak, harus segera dihijaukan kembali.
Mata Air Panas Bunihayu
Berada di dalam kompleks wisata Bunihayu Forest, Jalancagak. Berupa kolam-kolam rendam dengan ukuran sekitar 3 meter, menggunakan alas tembok. Didapati tiga kolam,dengan sumber mata air panas yang berbeda. Sebelah utara jauh lebih panas, karena tidak menggunakan penampungan. Sedangkan tiga kolam di sebelah utara, diposok oleh sumber air yang ditampung dalam kolam kecil, kemudian disalurkan ke kolam pemandian.
Airnya tidak terlalu panas, karena berasal dari beberapa sumber kemudian dialirkan ke kolam-kolam melalui sistem pipa. Sumbernya muncul di celah batuan, berada di bantaran sungai Cinangrang. Berupa sumber mata air panas, muncul melalui batuan piroklastik (akifer). Suhunya tidak terlalu panas, dengan perkiraan temperatur sekitar 40 hingga 50 derajat celcius. Di sekeliling kemunculan air panas, diendapkan batuan karbonat disebut travertine. Disebut dengan Limestone-based hydrothermal systems. Endapan batuan karbonat tersebut merupakan hasil mineralisasi, saat air panas melewati batuan sedimen. Naik ke permukaan melalui bidang rekahan yang ditafsirkan sebagai struktur patahan Batukapur. Arah kelurusannya relatif beraarah baratlatu-tenggara, memotong Gunung Batukapur.
Kemunculan mata air panas tersebut, lebih dari lima titik. Menurut keterangan warga, masih ada beberapa titik di bagian hulu. Kemudian ke arah hilirnya mendekati Batukapur, objek wisata kolam renang. Wisata ini memiliki debit air panas yang lebih besar, sehingga ditampung dalam kolam yang luas. Keberadaan air panas ini menandakan di bawah permukaan bumi didapati sumber panas, disebut magma. Kemudian memanaskan batuan penutup (cap rock), yang bertindak sebagai tungku. Kemudian memanaskan air tanah dangkal. Tekanan gas mendorong naik ke permukaan, melalui celah-celah atau batuan poros dalam bentuk manifestasi air permukaan. Debit airnya rendah, menandakan kestimbangan tekanan dari bawah permukaan. Sehingga dalam perlakukannya tidak bisa dibor atau dibuka lebih lebar, karena akan mengganggu tekanan air. Dampaknya adalah tekanan berkurang, kemudian air panas akan hilang.
Sejajar dengan kolam rendam, mengalir Ci Nangerang. Di hululunya didapati beberapa anak sungai, diantaranya Ci Tajaherang, Ci Picung, dan Ci Taraban. Hulunya di sebelah utara, antara Pasirtengah 495 mdpl., dan Pasirjambudipa. Mengalir ke Ci Nangerang, kemudian bergabung dengan Ci Nangka di Batukapur.
Sumber mata air panas lainya, berada di sebelah utara, di aliran Ci Tajaherang. Anak sungai dari Ci Nangerang. Kemudian ke arah selatannya, yaitu Mata Air Panas Ciseupan, di Batugede, Serangpanjang. Keberadaan mata air panas tersebut menjadi unggulan wisata, terutama berbasis wellness atau kesehatan. Sehingga bisa dikembangkan pada wisata minat khusus. Sehingga diperlukan penataan lahan yang berwawasan lingkungan.
Waterkracht Tjinangling
Perjalanan dari Batukapur ke arah utara, mengikuti saluran irigasi Ci Jambe. Sungainya membentang dari selatan ke utara. Bersumber dari bendungan Curug Agung di Leles, Sagalaherang. Kemudian dialirkan ke utara melalui sungai buatan terbuka atau sistem irigasi. Jaraknya kurang lebih 8 Km, melalui Cihuni, Jambelaer, hingga Cisampih Dawuan. Beruapa saluran irigasi, disebut Ci Jambe. Sungai buatan yang digunakan untuk menggerakan turbin listrik Cinangling. Manajemen pengelolaan air melalui pembuatan jalur sungai, dengan tujuan mendapatkan pasokan air surplus. Walaupun sejajar dengan arah irigasi tersebut terdapat sungai utama, namun dianggap tidak stabil. Khususnya untuk menggerakkan turbin di Waterkracht Tjinangling, atau Pembangkit Listrik Tenaga Air Cinanging, Dawuan. Fasilitas rumah produksi listrik ini selesai dibangun 1936. Didahului dengan pembuatan jaringan pasokan air. Berupa irigasi terbuka, disadap di sebelah selatan sekitar Curugagung. Selain sebagai sumber utama untuk energi listrik, irigasi tersebut digunakan untuk persawahan yang dilaluinya. Sehingga membawa manfaat lebih, selain menghasilkan energi listrik, turut mengairi sawah di Dawuan.
Bangunan rumah pembangkit listrik, berada di sebelah selatan Jalan Alternatif yang menghubungkan antara Sagalaherang di selatan, ke Kalijati di utara. Bentuk bangunannya memanjang barat laut-tenggara, dengan inlet (pipa pesat) dari arah tenggara. Outletnya ke arah barat laut. sebagian dibuang ke sungai terbuka, dan sistem pipa bawah tanah hingga ke Pabrik Karet Wangunreja. Di atas terowongan outlet, terdapat tulisan yang dibuat pada dinding beton. Berbunyi “Tjinangling 1936”. Menandakan tahung operasional fasilitas ini.
Panjang bangunnnya sekitar 50 meter, dua lantai. Lantai dasar digunakan untuk produksi listrik, melalui dua turbin. Kemudian memutarkan dinamo listrik, untuk menghasilkan listrik sekitar 1,9 Megawatt dalam kondisi optimal. Digunakan untuk menerangi dan menggerakan Pabrik Karet Wanareja dan Perkebunan Sisal di Sukamandi. Sebagian lagi disalurkan untuk menerangi kota Subang saat itu. Diperkirakan berhenti beroperasi sejak 2017, akibat pasokan air yang tidak stabil dan biaya operasional semakin mahal. Sehingga beralih ke penggunaan listrik dari Pusat Listrik Negara/PLN.
Akibatnya bangunan serta fasilitas yang ada terbengkalai. Sejak berhenti hingga saat ini, beberapa bagian perlengkapan dan alat operasional telah hilang dan hancur. Walampun bangunannnaya bmasih berdiri kokoh, namun sebagian besar peralatannya hilang.
Diantaranya beberapa bagian dari turbin, seperti pipa baja outlet dari turbin, penutup flywheel, sebagian dinamo telah hilang. Kemudian panel kontrol tegangan listrik di lantai satu dan dua lenyap tidak berbekas. Terlihat usaha paksa, dengan cara digergaji, dicongkel hingga di las, agar material besi bisa diangkut.
Kondisi demikian akan mengakibatkan hilangnya artefak sejarah, bukti teknologi yang pernah hadir hampir seratus tahun yang lalu akan lenyap. Sehingga Dengan demikian diperlukan tindakan langsung, agar benda hasil budaya dan teknologi ini masih bisa disaksikan untuk generasi selanjutnya. Diperlukan kepastian hukum, agar benda dan struktur bangunnan tersebut bisa dilestarikan sebagai cagar budaya.

Curug Agung, membentuk air terjun bertangga.

P&T Soekamandi, kepemilikan perusahaan untuk perkebunan Sisal/Agave di Sukamandi.

Panel kontrol listrik yang telah hilang akibat penjarahan

Sisa segmen turbin ferris dan generator.

Bangunan Waterkracht Tjinangling yang masih kokoh.

Air terjun Cinangerang yang membentuk bidang sesar.

Sistem akifer membawa air hangat, dan saluran air permukaan di Bunihayu.






























