Catatan Singkat Geourban#19 Cigulung

Jelang pagi matahari masih bersahabat, namun beranjak siang langit Bandung utara bersalin gelap. Awan hujan menggelayut selepas dzuhur, seperti ingin mencurahkan bebannya. Hujan sekilas dibawa angin saat kami bernaung di warung, kemudian dilanjutkan ke pokok pembahasan mengenai latar bangunan militer kolonial di Pasirmalang,

Bentuknya memanjang mengikuti punggungan perbukitan, panjang fasadnya kurang lebih 30 meter. Berupa struktur bangunan yang memiliki dua tangga dari arah selatan, kemudian bagian atasnya datar. Kemungkinan di bagian atasnya berdiri senjata altileri anti pesawat udara. Di bagian utaranya dipagari oleh beton, sejajar dan memanjang mengikut tepian gawir sekitar 20 meter. Disetiap sisinya tesedia tangga yang mengarahkan ke bagian atap, area terbuka yang mampu melihat kesegala arah mata angin. Disetiap sisi bangunan didapati ruangan kotak memanjang, dilengkapi satu pintu, dan dua lubang ventilasi. Dindingnya sangat tebal, kurang lebih 120 centimeter. Dicor menggunakan beton, dengan tulangan besi dibagian atapnya. Sehigga bisa diduga bahwa fasilitas ini disebut bungker, atau tempat persembunyian pada saat serangan musuh melalui udara. Beton tebal tersebut diperkirakan mampu menyerap energi bom udara, walaupun tidak ada tanda-tanda bekas ledakan hasil serangan musuh.

Secara geografis bungker ini didirikan diatas tinggian Sukamulya, bagian dari blok naik Sesar Lembang. Barangkali kalau vegetasi yang hilang, akan telihat jelas dataran tinggi Cicalung Lembang di sebelah utara, dibatasi oleh tinggian G. Putri dan G. Sukatinggi. Sedangkan melihat ke arah selatannya dalah Cekungan Bandung. Tidak ada informasi yang memadai mengenai sejarah pendirian benteng ini, hanya di beberapa sumber menuliskan angka tahun 1922. Selebihnya adalah misteri gelap yang menyelimuti, kapan dan untuk apa benteng ini didiran di tinggian Sesar Lembang.

Dalam penyebutan benteng mungkin kurang tepat, mengingat fungsinya bukan sebagai pertahanan dari musuh. Benteng militer biasanya digunakan sebagai markas batalyon dan tempat penyimpanan perlatan perang dan logistik. Sedangkan struktur bangunan di Pasirmalang lebih tepat disebut sebagai bungker. Fasilitas militer tersebut dibangun seiring kebutuhan sistem pertahanan pasukan KNIL, menjelang masuknya tentara Jepang pada 1942.

Kolonial sudah mempersiapkan strategi pertahanan, sekitar wilayah kota Bandung. Sehingga fasilitas-fasilitas militer ini tersebar ditinggian perbukitan dan gunung yang melingkupi kota. Secara geografis. Diperkirakan pembangunan bungker-bungker yang berfungsi sebagai pos pengamatan, sekaligus untuk menempatkan altileri anti pesawat udara. Didirikan oleh KNIL pada masa interbellium atau masa antar perang antara 1918 hingga 1939, atau menjelang pecahnya perang dunia ke-2. Setelah lepas dari perang dunia ke1, kekaisaran Jepang muncul sebagai negara kuat di Asia. Sehingga kolonial Belanda menduga akan datang ke Hindia Belanda, dengan tujuan mencari sumber daya alam. Dalam masa persiapan perang tersebut, pemerintahan Hindia Belanda mengeluarkan dokumen Prinsp-Prinsip Pertahanan 1927, kebijakan yang mendukung strategi militer Hindia Belanda pada saat itu. Diantaranya angkatan darat dan laut harus mampu menjaga keamanan negeri koloni Hinda Belanda.

Dari keterangan diatas kemungkinan KNIL mendirikan bungker-bungker anti pesawat udara dan pos pengamatan sejak 1920-an. Seiring pemindahan pusat militer Hindia Belanda ke Bandung. Dalam keterangan buku lama Militaire aardrijskunde En statistiek van Nederlandsch Oost Indie, 1919 menuliskan, sistem pertahanan Hindia Belanda memanfaatkan dataran tinggi dan perbukitan yang memagari cekungan Bandung. Diperkirakan keberadaan bungker-bungker ini turut mengendalikan jalannya pertempuran, saat tentara kekaisaran Jepang datang melalui Ciater Subang pada 5-7 Maret 1942.

Selepas dari bunker Pasirmalang, dilanjutkan ke geotapak ke-dua pertemuan dua sungai. Tepat di tepi gawir Langensari-Pasirsela, mengalirlah Ci Gulung bagian dari DAS Ci Kapundung. Sungai yang hulunya dari Cikole, penggabungan dari sungai-sungai kecil. Diantaranya Ci Putri, Ci Kukang, Ci Bogo, dan Susukan Legok. Airnya relatif deras, mengalir di atas aliran lava tebal produk letusan efusif G. Tangkubanparahu. Lidah lavanya menerus hingga berhenti di Curug Dago. Dalam stratigrafi yang disusun Nasution (2004), aliran lava tersebut hasil produk Gunung Tangkubanparahu Tua dan Muda, umur 40.000 tahun yang lalu. Dari tinggian Langensari, terlihat lembah yang sangat dalam, mengalir diantara G. Putri mengalir ke arah selatan. Dari data peta topografi RBI (2001), memperlihatkan aliran Ci Gulung mengerosi dasar blok naik Sesar Lembang, mengalir ke arah timur. Dalam tafsiran sistem sesar, menandakan aliran sungai tersebut berbelok akibat pergeseran dari sesar normal ke sesar geser mengiri.

Geotapak ke-tiga adalah melihat fitur batuan beku ekstrusif tersebut tersingkap dikawasan wisata Maribaya Natural Hot Springs Resort. Berupa breksi lava (auto breccia) bagian flow top dicirikan vesikular, berwarna hitam menandakan basal. Disebagian tempat ditemui juga struktur entablature, berupa struktur kekar kolom yang tidak beraturan tegak.

Debit airnya deras dan keruh mengingat sungai ini menangkap sedimentasi pertania di hulu, kemudian dibawa hingga ke arah hilir. Sedikit ke hilir dari lokas wisata ini, didapati Curug Cikawari. Aliran Ci Kawari yang berhulu di G. Buleud dan G. Bukittunggul bagian barat. kualitas airnya relatif lebih jernih, mengingat sungainya melalui area huta produksi PT Perhutani (Persero) KPH Bandung Utara. Ci Kawari dan Ci Gulung kemudian bertemu di Curug Omas, bersatu dengan Ci Kapundung. Ci Kapundung kemudian mengalir ke selatan sejauh 28 kilometer, membelah kota Bandung. Muaranya di sekitar Dayeuh Kolot, bertemu dengan Ci Tarum.

Kegiatan ditutup diacara buka bersama, di Travel Tech Ciburial Bandung Utara. Dalam penutupan acara, peserta berdiskusi bahwa bentang alam bisu, bila tidak dibunyikan dalam bentuk penafsiran bumi. Dengan demikian kegiatan Georuban berusaha menyuarakan suara bumi, dengan tujuan memahami bagaimana bumi bekerja; lava yang mengalir dari kegiatan letusan gunungapi; arah aliran sungai yang dipengaruhi oleh struktur sesar; dan terakhir adalah upaya strategi militer kolonial memanfaatkan bentang alam Bandung utara, sebagai benteng pertahananan dengan membangun bungker-bungker dan pos pengamatan militer di sepanjang punggungan Sesar Lembang.

Penjelasan blok naik dan turun Sesar Lembang.
Penejlasan posisi titik bungker Pasirmalang.
Srutkur kekar kolom yang tersingkap di Curug Ci Gulung Maribaya.
Bungker Pasirmalang.

Catatan Geourban#17 Lembah Kordon

Seusuai dengan waktu pelaksanaan kegiatan, peserta telah hadir lebih awal di pintu gerbang Tahura Ir. Djuanda. Kurang lebih lima belas orang dengan latar belakang yang berbeda, para pegiat pariwisata kota Bandung, pemandu wisata, dosen pariwisata, hingga para pegiat wisata kebumian atau geowisata. Acara dimulai jelang pukul 07.30 WIB, dibuka dalam bentuk penyampaian taklimat (brifing) oleh Deni Sugandi, selaku inisiator Geourban. Hadir sebagai narasumber adalah ahli Hidrogeologi yaitu  Fajar Lubis yang kini bekerja di Brin, dan Zarindra Aryadimas selaku pegiat geowisata. Seperti penyelenggaraan sebelumnya, bahwa kegiatan ini bersifat probono, dengan semangat berbagi dan mengaitkan jejaring geowisata khususnya di aktivitas geowisata.

Tema Geourban ke-17 adalah menyusuri kembali keunikan bentang alam, dan sejarah kolonial Belanda. Diantaranya material produk letusan gunungapi purba di utara Bandung, berupa tuff, dan aliran lava. Sejarah yang ditelusuri adalah terowongan air yang memanjang utara-selatan dibangun menerobos endapan awan panas  (ignirbrite). Batuan keras yang kini dimanfaatkan sebagai gua militer pada masa pendudukan Jepang di Bandung.

Acara dibuka tepat dimulut gerbang kampung Sekejolang, Desa Ciburial. Kabupaten Bandung. Kampung enklave di dalam kawasan wana wisata konservasi di Bandung utara. Dalam penyampaian awal, Deni menjelaskan rangkaian kegiatan acara yang akan berlangsung dalam durasi setengah hari. Secara teknis dilaksankana dengan kegiatna hiking, mengunjungi empat titik yang tersebar di dalam kawasan Tahura Ir. Djuanda.

Kegiatan disambung dengan hiking membelah kampung Sekejolang, menuruni perbukitan terjal. Jalan setapak tanah yang cukup licin, mengingat semalam turun hujan deras sehingga peserta meniti tangga tanah secara hati-hati. Jalan setapak mengantarkan para peserta ke jalan utama yang menghubungkan antara Maribaya dan Pakar Dago. Jalur ini sejajar dengan Ci Kapundung yang berada di sebelah barat. Mengalir melalui celah yang dibentuk oleh kekuatan alam, melalui proses erosi dan pelapukan.

Ci Kapundung adalah sungai yang membelah kota Bandung. Merupakan DAS Ci Tarum yang berhulu di Bandung utara, kumpulan sungai-sungai kecil yang datang dari lereng G. Bukittunggul-Pangparang dan Pulosari (Palasari). Kemudian mengalir mengikuti arah Sesar Lembang Timur-Barat. Di sekitar Kordon kemudian berbelok ke arah selatan, menunggangi lava produk letusan G. Tangkubanparahu.

Bukti aliran lava tersebut tersingkap dengan baik di Curug Lalay. Berupa bentuk yang unik seperti tali yang dipilin, disebut bentuk ropy lava. Struktur demikian sering dijumpai pada lava yang rendah silika tetapi kaya akan magnesium. Dicirikan dengan warnanya gelap, mengalir pada temperatur tinggi dan mengalir jauh dari pusat letusan.

Kunjungan pertama adalah ke Curug Lalay. Berupa celah sempit yang diapit oleh produk gunungapi Sunda, berupa tuff dan breksi di bagian atasnya. Di bawahnya terlihat produk lava berupa hasil aliran menutupi dasar sungai. Dibantarannya tersingkap lava dengan struktur unik, seperti tali yang dipilin. Bentuk demikian biasanya ditemui dikepulauan Hawaii, hasil kegiatan gunungapi tipe hot spot yang berada ditengah-tengah lempeng samudera. Lavanya berawana hitam sedikit keabu-abuan, menandakan kaya akan mineral piroksen. Bagian permukaanya halus mengkilap, menandakan bahwa lava tersebut merupakan produk aliran lava G. Tangkubanparahu. Mengalir sejauh 12 km dari pusat letusan, mengikuti topografi lereng gunung.

Titik kunjungan berikuntya adalah ke batu batik, atau dikenal juga lava Pahoehoe. Struktur lava yang tersingkap dilokasi ini lebih baik. Tersingkap mendatar berupa lava pahoehoe, seperti selendang sehingga ditafsirkan miliknya Dayang Sumbi. Produknya sama seperti lava yang terdapat di Gua Lalay, mendakan aliran lava datang dari utara ke selatan. Dalam kesempatan ini Fajar Lubis menjelaskan bagaimana lava tersebut bisa hadir sebagai tapak bumi.

Kunjungan dilanjutkan menyusuri Ci Kapundung, melalui jalur beton yang telah dibangun permanen pihak pengelola. Di ujung perjalanan, menemui blok breksi berupa jatuhan dari kegiatan gerakan tanah. Berupa longsoran aliran, akibat curah hujan yang tinggi sejak minggu lalu. Sebagian blok breksi tersebut bagian dari aliran piroklastik G, Tangkubanparu.

Di ujung jalan kemudian berbelok memasuki gua Belanda. Gua yang dibobol horisontal, berguna untuk mengalirkan irigasi Ci Kapundung ke kolam penenang di Pakar Dago. Dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan PLTA awal, Pakar Dago yang terleltak sebelah utara dari PLTA Bengkok saat ini. Karena sering terjaid longosor, jalur irigasi tersbut kemudian dialihkan melalui terowongan yang diambil dari bendungan Bantarawi. Dialirkan menembus perbukitan piroklastik, tuff kemudian keluar di sekitar pintu dua Tahura Djuanda. Terowongan air tersebut dikerjakan sebelum 1923, untuk memenuhi kebutuhan PLTA Bengkok. Instalasi pembangkit tenaga listrik 3 turbin yang menghasilkan 1050 KWh. Saat ini masih berfungsi baik, walaupun telah berusia 100 tahun lebih, listrinya didistribusikan untuk jaringan Jawa-Bali.

Kegiatan ditutup di mulut Gua Belanda, dengan penyampaian kesan dan pesan. Diharapkan kegiatan ini tidak berhenti dan diusulkan untuk dilaksanakan berkala, dalam rangka edukasi, dan menggali potensi geowisata sekitar kota Bandung.

Sesuai dengan arahan rencana kegiatan, peserta telah hadir di pintu masuk Tahura Ir.Djuanda. Jelang pukul 7.30 WIB, peserta diarahkan dikegiatan brifing. Informasi diberikan oleh Deni Sugandi selaku

Tidak serperti hari biasanya, mejelang tutup akhir tahun dan liburan panjang wisata hutan raya Tahura Ir. Djuanda ramai. Jalan yang membelah kawasan ini ramai dikunjungi wisatawan, berolah raga hingga

Sesuai dengan rencana kegiatan, jelang pukul 07.00 WIB peserta telah hadir di gerbang pintu masuk Tahura Ir. Djuanda. Dihadiri oleh pegiat alam bebas, pegiat wisata dan komunitas sejarah.

Diklat I DPW Bekasi Raya 2023

Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan/Diklat Pemandu Geowisata Angkatan I, diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah Bekasi. Diklat ini merupakan kegiatan pertama organisasi yang berada di sekitar wilayah Kabupaten Bekasi, dengan tujuan pengenalan kerja pemanduan geowisata serta kemampuan untuk melaksanakan kegiatan pemanduan geowisata.

Dilaksanakan di aula Desa Lenggah Jaya, Cabangbungin, Kabupaten Karawang. Dibuka oleh Ketua DPW Bekasi Raya, dilanjutkan sambutan dari Ketua Dewan Pembina DPW Bekasi Raya dan Ketua Dewan Pengurus Nasional. Acara secara formal dibuka oleh pemerintah daerah, melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Bekasi, Kasi SDM.

Narasumber diantaranya berasal dari organisasi PGWI, diantanya materi persiapan dan penyusunan geowisata, pemanduan geowisata, melakukan konservasi alam dan budaya dan ditutup di hari ke-dua berupa praktek lapagan.

Narasumber diantaranya Deni Sugandi, M Rizki H., Syiar Muslim, Zarindra, Sodikin Kurni, M Sodikin dan Deden Nursam. Praktek lapangan dilansakan di Muaragembong, sebelah utara Kabupaten Bekasi. Peserta diklat diarahkan praktek pemanduan, dan ditutup oleh kegiatan evaluasi.

Pengembangan Geowisata di Desa Cikahuripan

Berselang empat bulan yang lalu, PGWI Dewan Pengurus Nasional menginisiasi kegiatan aktiviasi paket geowisata. Dilaksanakan dalam kegiatan Geourban# Jayagiri (lihat tautan ini https://pgwi.or.id/2023/05/04/catatan-geourban12-jayagiri/

Di bulan Mei 2023, PGWI melaksanakan kegiatan Geourban dengan tujuan untuk membuka jaringan, menggali potensi dan sumber daya manusia di Desa Cikahuripan, Kabupaten Bandung Barat. Gayung bersambut kembali, pada tanggal 4 Agustus 2023 dilaksanakan kegiatan PKM Kelompok Sadar Wisata dalam Pengembangan Pemanduan Geowisata di Desa Wisata Cikahuripan, Kabupaten Bandung Barat.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Prodi Kepariwisataan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), berkerja sama dengan Pokdarwis Desa Cikahuripan, PGWI dan Bandung Mitigasi Hub. Dalam penyampaiannya, Deni memaparkan beberapa potensi yang dimiliki oleh Desa Cikahuripan. Diantaranya bukti awan panas saat G. Sunda meletus, kemudian ditumpuk oleh produk letusan gunungapi Tangkubanparahu.

Disebelah selatannya didapati perbukitan sesar Lembang yang membatasi desa. Berbatasan dengan Desan Gudang Cikahuripan. Bila ditarik ke arah utara, dibatasi oleh lereng dan puncak G. Tangkubanparahu, gunungapi aktif dari tujuh gunungapi di Jawa Barat.

Peserta pelatihan menyampaikan beberapa pertanyaan, mengenai pentingnya kesadaran akan bahaya. Sehingga diperlukan mitigasi risiko bahaya, dengan cara menyadari bahwa Desa Cikahuripan ini diapit oleh dua potensi bahaya geologi, sesar Lembang di sebelah selatan dan gunungapi aktif di bagian utara.

Sodikin salah seorang perserta, menyampaikan perlunya SOP atau panduan pada kegiatan geowisata. Sehingga menjadi jaminan dan kenyamanan selama berkegiatan geowisata di Desa Cikahuripan.

Pengukuhan PGWI DPW Bekasi Raya

Mengambil tempat disekretariat PGWI Dewan Pengurus Wilayah Bekasi raya, di sebuah perumahan di Sukamulya, Sukatani, Bekasi. Kegiatan ini dihadiri oleh Pengurus DWP Bekasi Raya, dan Dewan Pengurus. Sedangkan dari Dewan Pengurus Nasional dihadiri oleh Dewan Pengawas, Ketua, Sekretaris dan Ketua Bidang Diklat.

Kegiatan pengukuhan dilaksanakan pada tanggal 20 Juli 2023. Dari pihak Dewan Pengurus Nasional dihadiri oleh Ketua, Dewan Pengawas, Sekretaris dan Bidang Diklat. Dalam penyampaian diacara ini, Deni Sugandi selaku ketua menyampaikan pentinggya menggali potensi melalui pemetaan geowisata, khususnya di Kabupaten Bekasi utara. Begitu juga disampaikan oleh perwakilan Dewan Pengawas T Bachtiar, menggali sejarah di Kabupaten Bekasi, khususnya di kawasan Batujaya seperti pulang kampung. Diperkirakan komplek Candi Batujaya adalah tinggalan budaya lama yang satu umur dengan kerajaan awal Tarumangara.

DPW Lombok Rinjani Berdiri

Perintisan pendirian Dewan Pengurus Wilayah Rinajani Lombok, diinisiasi setidaknya sejak awal tahun 2020-an. Tepat pada tanggal 17 Mei 2023, di Kota Mataram, NTB, telah terlaksana Deklarasi Pendirian Dewan Pengurus/DPW Rinjani Lombok.

Deklarasi ini merupakan amanat pembentukan struktur DPW, tujuannya diantaranya adalah bermitra dengan Badan Pengelola di kawasan Geopark Rinjani Lombok. Geopark nasional yang kini telah dinyatakan menyandang status Unesco Global Geopark. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan unsur dari pemerintahan daerah melalui Dinas Pariwisata, perwakilan dari kalangan kampus/akademisi, lembaga kepariwisataan, praktisi pariwisata dan pemandu geowista di sekitar wilayah Nusa Tenggara Barat. Sidang dipimpin oleh Fahrozi Gaffar, Sekretaris Sidang Maizurra Serti, dan Anggota Meliawati dan Aisyah Desilina. H.

Keputusan musyawarah ini menyepakati susunan pengurus menunjuk Imam Firmansyah sebagai ketua DPW Rinjani Lombok. Kemudian posisi sekretaris oleh Zunun Inayatullah, Bendahara Muhnim, Kabid SDM Muhammad Yusuf, Kabid Humas Fathul Rahman. Sedangkan posisi Dewan Pengawas Kusnadi, dan Dean Pembina Meliawati dan Ramli.

Diharapkan pendirian DPW Rinjani Lombok bisa amanah, memberikan pelayanan kepada anggotanya dalam bentuk program kerja. Selain itu DPW ini mampu menjadi mitra dengan lembaga Badan Pengelola Geopark Rinjani Lombok, maupun dengan lembaga lain seperti Taman Nasional Rinjani.

Penunjukan Imam Firmansyah sebagai ketua terpilih, di Deklarasi DPW Rinjani Lombok
Penyerahan SK dari Dewan Pengawas Pengurus Nasional, kepada Ketua DPW Rinjani Lombok
Foto bersama Dewan Pengurus Wilayah Rinjani Lombok

Geourban#13 Dayeuhkolot

Maskapai perdagangan Belanda atau VOC bangkrut dan dibubarkan 31 Desember 1799. Kendali perusahaan global pertama dunia tersebut jatuh ke pemerintahan Belanda, termasuk aset benteng, kapal dagang, dan sumber daya manusia. Pada waktu yang bersamaan, Belanda sedang berperang melawan Perancis, melalui perang Napoleon. Pertempuran di Eropa menentukan nasib di Hindia Belanda, 1808 Napoleon (Perancis) menduduki Belanda, secara otomatis Hindia Belanda di bawah kekuasaan Perancis antara 1808 hingga 1811. Kemudian 1809 Daendels diberikan tugas untuk memulihkan ekonomi pascakebangkrutan VOC, mengamankan pulau Jawa dari serbuan Inggris dan mengorganisasikan kembali sistem pemerintahan lokal.

Sebuah peristiwa sejarah dimasa lalu, menginspirasi Daendels membangun sarana jalan yang menghubungkan ujung barat pulau Jawa hingga ujung timur. 1809 Daendels melakukan inspeksi jalan, kemudian menuliskan rencananya di Karangsambung. Membangun jaringan jalan untuk kepentingan militer sejauh 1100 km.

Di Pulau Jawa bagian barat, jalur Jalan Raya Pos ternyata berbelok ke pedalaman priangan untuk tujuan tertentu. Kondisi geografis perbukitan, sungai dan lembah di pedalaman priangan menjadi tantangan yang lebih sulit. Padalah bisa saja jalan Raya Pos ini mengambil rute paling mudah melalu pantai utara yang lebih landai. Ada hal lain yang ingin dicapai Daendels pada saat itu.

Selepas Buitenzorg, jalannya menanjak membelah perbukitan Puncak Pass G. Gede-Pangrango. Dari Cihea Cianjur melintasi dua sungai dan dilanjutkan menuju Padalarang. Dari tiitk ini kemudian ditarik garis lurus barat-timur melalui Cimahi hingga Ujungberung. Dipertengahan jalan atau disekitar Ci Kapundung, Daendels memerintahkan perpindahan ibu kota kabupaten di Krapyak pada saat itu mendekati ke ruas Jalan Raya Pos. Penentuan dan perpindahan ibu kota tersebut berdasarkan pertimbangan berbagai aspek dan pertimgangan geografis.

Bandung lahir melaui surat keputusan 25 September 1810, seiring perpidahan ibu kota Kabupaten. Selepas cengkraman Inggris pada 1811-1816. Terjadi letusan katastropik G. Tambora 1815 yang menyebabkan udara dingin sepanjang tahun 1816 di Eropa, sehingga Napoleon kalah perang. 1816 Belanda kembali mengkoloni Hindia Belanda, termasuk Bandung. Bentang kota semakin diperluas dengan tujuan mengakomodir kegiatan politik dan ekonomi. Jelang tahun 1920-an menetapkan kota ini disiapkan menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda. Diantaranya pembangunan jaringan lintasan Kereta Api dan Trem ke Dayeuhkolot, namun tidak tuntas karena Belanda kembali diokupasi Jerman pada Perang Dunia ke-dua.

Dalam Geourban#13 Dayeuhkolot, melihat kembali jalur Jalan Raya Pos yang dibuat melintasi pusat kota Bandung saat ini. Apakah Daendels membuka jalan baru atau ada mengikuti jalur yang telah ada? kemudian pertimbangan apa saja yang mendorong perpindahan ibu kota lama di Krapyak. Bagaimana Bandung berkembang sejak kolonial hingga kedatangan penjajahan Jepang 1942? Apa peran Ci Kapundung dalam pementuan garis lintasan Jalan Raya Pos?. Mari temui kembali sejarah bumi dan budaya dalam aktivitas geowisata.

Hari/Tanggal
Sabtu, 27 Mei 2023

Waktu
07.30 WIB sd. 13.00 IB

Meeting point
Plaza Cikapundung, Jalan Ir. Soekarno

https://goo.gl/maps/EHPPgUs49Jt1ns4q6

Disklaimer
Kegiatan berfisat probono. Partisipan diharapkan menggungan kendaraan roda dua bermotor. Mengingat jarak tempuh cukup jauh.

Geourban
Diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowista Indonesia (PGWI). Bertujuan syiar geowisata kota, menyulam jejaring geowisata lokal, dan peningkatan kapasitas pemandu geowisata. Kegiatan bersifat probono, dari-oleh untuk kita melalui interpretasi dan berbagi informasi. Info: pgwi.or.id

#pgwi
#syiargeowisata
#geowisatacekunganbandung
#pemandugeowisata

Catatan Geourban#11 Jayagiri

Kegiatan syiar geowisata di Cekungan Bandung ini dilaksanakna bertepatan dengan bulan ramadhan, pada hari Sabtu, 8 April 2023. Kegiatan ini mengupas rahasia bumi, peristiwa dinamika alam, hingga budaya yang menempati dataran tinggi Lembang. Kegiatan ke-11 ini mengambil tema Jayagiri, kawasan di sebelah utara kota Lembang, berada di lereng G.Tangkubanparahu sebelah selatan. Kawasan ini menarik untuk dikupas dalam kegiatan ini, mengingat beberapa dinamika bumi dan budaya yang berlangsung telah mengukir sejarah dunia. Diantaranya menapaki kembali akhir riwayat dan hasil karya Junghuhn sembilan tahun terakhir, antara 1855 hiingga meninggal 1865. Sekembalinya ke tanah Jawa Barat, Junghuhn diminta untuk membudidayakan kina selama sembilan tahun terakhir, hingga produksi kina menduduki peringkat pertama di dunia. Tujuan lainya adalah mengunjungi sumber mata air Cikahuripan, mengalir diantara dua litologi, dan mengunjungi rumah terakhir Junghuhn.

Geourban merupakan upaya syiar geowisata, menggerakan dan inisiatif jejaring sumber daya manusia di keorganisasian PGWI, hingga membangun ekosistem geowisata di Cekungan Bandung. diusahakan oleh perkumpulan Pemadu Geowisata Indonesia/PGWI, sejak 2020. Kegiatan ini bersifat probono (tidak dipungut biaya), bermaksud mengaikan jejaring lokal dengan industri pariwisata, melalui kemungkinan-kemungkinan pembuatan paket wisata dan pola perjalanan pariwisata sekitar dataran tinggi Bandung.

Kegiatan dibuka pukul 14.00 WIB di ruang aula sederhana, di kantor Desa Cikahuripan. Kurang lebih telah hadir 25 peserta dari berbagai latar belakang. Diantaranya mahasiswa pariwisata UPI, pegiat wisata, pemandu wisata, penulis, profesional hingga ibu rumah tangga. Hadir dalam kegiatan ini sejak pukul 08.00 WIB di kantor Desa Cikahuripan, Lembang. Kabupaten Bandung.

Dalam brifing awal kegiatan ini, Deni Sugandi selaku pemandu geowisata, menyampaikan rencana kegiatan. Diantaranya mengunjungi tapakbumi yang berkaitan dengan tema sejarah letusan G. Pra-Sunda-Sunda dan kina yang dibudidayakan di lereng sebelah selatan G. Tangkubanparahu oleh Junghuhn. Menapakai kembali jejak Junghuhn dalam lawatan ke-dua hingga akhir hayatnya. Junghuhn kembali ke Belanda setelah tetirah untuk berobat, kemudian kembali ke pulau Jawa pada 1855. Seiring tubuhnya yang digerogoti sakit menahun, ia diminta untuk mengembangkan budidaya Kina di dataran tinggi Priangan. Kunjungan selanjutnya ke sumber mata air kontak Cikahuripan, interpretasi morfologi Cekungan Bandung dan pembentukan gunungapi di utara di  makam panjang yang berada persis di jalur sesar Lembang. Kemudian melihat kembali bukti endapan awan panas Pra-Sunda dan G. Sunda, monumen Junghuhn dan terakhir ditutup di padepokan Pasiripis Jayagiri, Lembang.

Acara dibuka secara sederhana, dengan perkenalan setiap partisipan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan singkat oleh Kang Dodi  selaku pegiat wisata Cikahuripan. Ia menyampaikan aktivitas wisata di Desa Cikahuripan, seperti kunjungan ke situ religi Makan Panjang di Pasirwangi, Mataair Cikahuripan yang mengalir diantara rekahan bongkah lava, hingga tapakbumi Batugantung di lembah imah seniman. Disambung oleh penjelasan ibu Nia yang menguraikan Usaha Kecil Menengah yang dikerjakan oleh warga Desa Cikahuripan, diantranya jenis-jenis kuliner hingga produksi makanan kemasan.

Dalam pemaparan awal, Deni memberikan gambaran geografis lokasi kunjungan. Desa Cikahuripan berada dijalan utama penghubung Cimahi-Lembang melalui jalan Kolonel Masturi. Delinasi desanya meliputi lereng selatan G.Tangkubanparahu, termasuk kawah utama gunungapi tersebut. Kemudian di sebelah selatannya persis berbatasan dengan jalur Sesar Lembang segmen Cihideung (Daryono. 2016). Masyarakat mengeluhkan bahwa desa ini hanya menjadi jalan pintas menuju destinasi pariwisata yang dikelola oleh kapital besar, seperti wisata Tangkubanparahu, glamping Cikole. Lembang Park and Zoo. Sehingga masyarakat bukan saja sebagai penonton, namun berharap mampu mendorong pariwisata berbasis masyarakat di Desa Cikahurpan. Harapan tersebut memiliki tantangan tersendiri, karena diapit oleh dua sumber potensi bencana geologi.

Sebelah utara diancam oleh kegiatan letusan gunungapi dan sebelah selatannya digoyang oleh potensi gempa Sesar Lembang. Sehingga desa ini mengikuti program Destana, Desa Tangguh Bencana, didampingi oleh Bandung Mitigasi Hub dan tim Pengabdian Masyarakat ITB. Kegiatannya berupa pendampingan melakui Pendekatan Pengurangan Risiko Bencana Berbasis komunitas. Kelembagaanya melalu Desa Tangguh Bencana (Destana), melalui rancangan yang dituangkan ke dalam Rencana Induk Desa Wisata Tangguh Bencana. Selain bahaya geologi yang mengancam warga Cikahuripan, desa ini menyajikan bentang alam yang menawan. Diantarnya dataran tinggi perbukitan, potensi perkebunan, dan posisi strategis geografis. Modal dasar ini dibuka dalam kegiatan Geourban.

Kunjungan pertama adalah melihat kembali sumber mata air di sebelah utara timur desa. Dilalui melalui perjalanan singkat dari kantor desa, menggunakan roda dua. Kemudian dilanjutkan berjalan kaki kurang lebih 10 menit menuruni lembah Ci Hideung. Terdiri dari dua mata air, dibagian bawah yang kini telah dibantun struktur bangunan beton, kemudian dibagian atas diantara perkebunan rakyat. Airya mengalir diantara celah batuan lava.

Disebut mata air Cikahuripan yang selalu mengalir walapun masuk dimusim kemmarau. Dodi menyampaikan pepatah orang tua “bilamna harga beras naik, maka mata air Cikahuripa kering”. Makna tersebut mengandung pemahaman bahwa sawah-sawah yang berada di dataran rendah Bandung, sangat bergantung kepada mata air disebelah utara. Sehingga bisa dipahami bilamana suplai air hilang, maka para petani tidak bisa bercocok tanam. Dampaknya harga kebutuhan pokok akan melambung naik. Pesan konservasi tersebut ditegaskan kembali oleh narasuber Fajar Lubis dari Brin. Ahli hidrogeologi tersebut memaparka perluanya konservasi di daerah hulu, agar sumber mata air Cikahurpan tidak terganggu. Fajar meyampaikan demikian, karena kekhawatirannya dengan pembangunan di hulu, seperti bangunan dan perubahan tata guna lahan akan mempengaruhi sumber mata air yang muncul di sekitar Cikahurpan.

Sumber mata air Cikahuripan mengalir diantara dua litologi, disebut mata air kontak. Di bagian atasnya adalah piroklakstik pembawa air (akifer), kemudian mengalir pada bidang datar berupa lava. Menurut Dodi, airnya mengalir baik walaupun memasuki kemarau. Ia menunjuk sumber mata air yang ada di bagian bawah, kini mengalirka debit air kecil, karena telah terjadi perubahan lahan dengan pembagunan fasilitas berupa bangunan tembok. Diduga pembangunan struktur beton tersebut menganggu sumber mata air. Dodi melukiskannya, airnya menjadi “pundung” atau marah karena diganggu.

Kunjunga ke-dua menuju Pasirwangi, perbukitan di sebelah selatan desa Cikahuripan. Lokasinya merupakan perbatasan antara Desa Cikahuripan dan Desa Gudang Cikahurpan. Lokasi pemakam umum, terletak persis di jalur sesar Segmen Cihideung. Dari titik tinggi ini bisa melihat bentang alam 360 derajat ke segala arah. Di utara berupa kerucut G. Burangrang-Tankubanparahu, dibagian lerengnya terlihat punggungan batas kaldera G. Sunda. Disebut punggungan perbukitan Sukatinggi, menjang antara Sukawana hingga G. Putri-Cikole Lembang.

Kunjungan terakhir adalah ke situs monumen Junghuhn di Jayagiri. Lahan yang berdiri di atas lahan seluas 2.5 Ha, dibawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat. Disebut Cagar Alam Junghuhn, didirikan sejak 21 Februari 1919. Memuat monumen peringatan Junghuhn, dan makan koleganya saat membudidayakan kina. Johan Eliza de Vrij meninggal pada 1862, dikuburkan di sebelah timur. Ahli farmakologi yang mendampingi Junghuhn dalam pengembangan obat kina, dan sekaligus sebagai penasehat proyek pembudidayaan Cinchonia di Bandung utara, Cinyiruan Bandung selatan.

Dalam linimasa sejarah kina, mulai dikenal sekitar 1630. Dibawa oleh para misionaris Spanyol yaitu cardinal Juan de Lugo ke daratan Eropa dari Amerika selatan. Kemudian pada 1852 J.F.Teysmann membawa jenis kina Cinchona calisaya. Dibudidayakan di Kebun pegunungan Cibodas (Kebun Raya Cibodas). Namun seiring waktu, pembudidayaanya tidak memberikan hasil yang baik, sehingga 1852 C.F. Pahud menugaskan Justs K. Hasskarl untuk mencari bibit kina dari Bolivia. 1854 ditanam di Cibodas dan Cinyiruan.

Junghuhn kembali ke pulau Jawa untuk kedua kali, setelah beberapa tahun tetirah untuk mengobati penyakitnya. 1855 F.W. Junghuhn sampai di Pulau Jawa.  membawa 139 tanaman asal biji yang berasal dari Belanda, jenis kina C. Calisaya var javanica. Kemudian pada 1855-1857 Pembukaan perkebunan kina di Cinyiruan, dan Junghuhn menjadi pengawas. Puncak karir Junghuhn adalah 1858-1862 Bersama Johan Eliza de Vrij seorang farmakolog, sebagai penasehat proyek cinchonia  membudidayakan kina Bandung utara, Cinyiruan.

Akibat penyakitnya yang menahun, pada 24 April 1864 Junghuhn meninggal dunia di Jayagiri Lembang. 1898 Johan Eliza de Vrij, dimakamkan dekat tugu Junghuhn

Menjelang kepergiannya menuju alam fana, Junghuhn pernah berujar, “Sahabku, tolong bukakan jendela itu. Saya ingin menyapa gunung, hutan untuk terakhir kalinya” ujar Junghuhn kepada sahabatnya Isaac Groneman. Rangkaian kalimat tersebut mengantarkan seorang penjelajah, kartografer, geolog, ahli botani, dan sastrawan ini kembali ke sang pemilik semesta.

Kegiatan ditutup di padepokan Pasiripis, Jayagiri, Lembang. Dipungkas oleh kegiatan buka bersama, sekaligus menutup kegiatan Geourban ke-12.

Catatan Geourban#12 Gegersunten

Partisipan hadir seiring matahari beranjak naik, hadir sesuai janji di grup WA yang menuliskan waktu pertemuan awal pukul 08.30 WIB. Titik pertemuannya persis di bawah G. Batu Lembang, jalan utama yang menghubungkan Maribaya dan Punclut. Tercatat kurang lebih ada 20 orang hadir, dengan latar belakang beragam. Mulai dari pelaku usaha biro perjalanan wisata, mahasiswa, jurnalis, pegiat medsos, pegiata wisata, pemandu wisata hingga ibu rumah tangga.

Kegiatan geowisata di sekitar Cekungan Bandung ini, diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI). Dengan tujuan menjalin jejaring lokal, inisiatif program perjalan geowisata dan syiar geowisata. Kegiatan in merupakan rangkaian program geowisata tematik ke-12, dilaksanakan sekitar Maribaya-Palintang, Sabtu, 29 April 2023. Kegiatan Geourban telah dilaksakan sejak satu tahun yang lalu (2022) melalui kegiatan sebelumnya disebut Geobaik (2020). Kegiatan ini dilaksanakan setiap bulan, bertujuan mendorong tumbuhnya ekosistem geowisata di kota Bandung dan sekitarnya.

Kegiatan ini bersifat probono atau tidak dipungut biaya, sebagai upaya syiar wisata bumi kepada masyarakat umum, dengan narasumber yang tergabung dalam wadah perkumpulan pemandu geowisata Indonesia. Bagi organisasi profesi, kegiatan ini sebagai cara untuk peningkatan kompetensi sebagai pemandu geowisata, sekaligus sebagai sarana aktivasi geowisata di sekitar Cekungan Bandung.

Kegiatan dimulai dengan menu pertama mendaki G. Batu, melalui jalur pendakian sebelah timur. Jalanannya merupakan jalu setapak, melalui rumah warga yang menempati lereng bukit yang dibatasi oleh perkebunan rakyat. Jalurnya melalui jalan setapak menanjak mengikuti kontur perbukitan, kiri dan kanan ditempati perkebunan warga. Menjelang tiba dibagian puncak disambut oleh bongkah batuan beku yang telah lapuk oleh waktu, menandakan bahwa bukit ini disusun oleh lava yang sangat tebal.

Dibuka oleh Deni Sugandi, selaku pemandu geowisata, melalui orientasi geografis posisi G. Batu dengan bentang alam disektiarnya. Posisi dipuncak bukit ini merupakan titik terbaik untuk menginterpretasi dinamika bumi yang sedang terjadi di dataran tinggi Bandun gutara. Dari titik ini bisa mengamati kelurusan arah barat-timur sesar Lembang, dibelah olhe Ci Kapundung. Di sebelah utara atau bagian Bandung terlihat struktur blok yang naik yang dipaku oleh kerucut G. Palasari di sebelah timurnya. Sesar Lembang ditengah pulau Jawa (intraplate), sambungan dengan Sesar Cimandiri. Dalam penelitian terbaru, total  29 km, barat-timur dengan struktur sesar normal dan sesar geser sinistral (Daryono, 2016). Dalam penelitan tersebut membagi Sesar Lembang menjadi beberapa segmen, diantaranya segmen Cimeta; Cipogor; Cihideung; Gunung Batu; Cikapundung;  Batu Lonceng.

Kemudian sedikit ke utara, terlihat G. Bukittunggul yang berdampingan dengan G. Pangparang. Kemudian hadir tubuh megah G. Manglayang yang menempati posisi sebelah tenggara. Di selatannya adalah jajaran perbukitan dan pegunungan Bandung selatan. Dihadapnnya adalah cekungan luas, dengan sisi terpanjang sekitar 50 km dari timur di Cicalengka ke bagian barat di Padalarang, serta lebar sekitar 30 km dari batas dataran tinggi Lembang hingga di bagian selatan di Ciwidey. Danau yang menempati cekungan Bandung, kemudian mulau surat sejak 20.000 tahun yang lalu.

G. Batu merupakan blok yang naik, segmen Sesar Lembang Gunung Batu. Sedangkan di sebeleah utaranya adalah blok yang turun, bagian dari dataran tinggi Lembang. Kota kecamatan tersebut dinaungi bayang-bayang G. Tangkubanparahu, gunungapi aktif yang kin terus diawasi hingga kini. Bila melihat sedikit kearat barat, terlihat kerucut gunung yang telah tererosi kuat, merupakan gunungapi samping bagian dari sistem kaldera Sunda. Bila ditarik dari garis imajiner, searah lereng G. Burangrang ke arah timur, akan membentuk kerucut. Tinggi garis imajiner tersebut diduga hingga 3.800 m dpl. milik dari gunungapi generasi pertama.

Gunungapi Pra-Sunda mulai membangun dirinya sekitar umur Plistosen Awal. Kemudian menunjukan aktivitas volaniknya sekitar Pliosen Tengah, seiring dengan tumbuhnya gunugapi parasi G. Burangrang. Letusan efusif Pra-Sunda berupa aliran lava yang menyusun tubuh G. Batu Lembang. Dari pengukuran umur batuanya, sekitar 0.5060 Ma (Sunardi, 1996), berasal dari hasil letusan efusif G. Pra-Sunda.

Setelah G. Pra-Sunda rubuh, kemudian membentuk lingkar kaldera.  Disusul pembentukan generasi ke-dua yaitu G. Sunda yang menunjukan aktivitasnya antara 0.210 – 0.105 Ma, kemudian membentuk lingkar kaldera 6.5 x 7.5 km. Pada peta topografi Bandung utara, van Bemmelen memperkirakan ada dua lingkar yang merupakan bagian dari Pra-Sunda dan Sunda (1934). Dari lingkar kaldera tersebut, kemudian tumbuhlah gunungap api generasi terakhir yaitu G. Tangkuban parahu. Hadir setidaknya sejak 90.000 tahun yang lalu (Nugraha, 2005).

Kegiatan selanjutnya adalah mengunjungi situs Batuloceng, di sebelah timur dari G. Batu. Situ budaya ini diperkirakan merupakan kabuyutan yang memiliki umur lebih tua dari peradaban Sunda Klasik. Tafsiran demikian berdasarkan interptretasi dari temuan arca Cikapundung, sekitar tahun 1263 Saka, atau sekitar 1341 Masehi. Arca tersebut bergaya Polinesia-Pajajaran, ditemukan di sekitar di Desa Cikapundung, Kabupaten Bandung, di atas bangunan berundak teras diwujudkan dalam bentuk antromorf (Eriwati, 1955). Tidak disebutkan dengan rinci lokasinya, tetapi menunjukan wilayah sekitar bantaran hulu Ci Kapundung yang saat ini masuk ke dalam wilayah Suntenjaya. Beberapa sumber menyebukan ditemukan di sekitar perkebunan kina. Saat ini arca tersbut menjadi koleksi Museum Nasional dengan nomor inventaris 479c/D184. Bila disejajarkan dgna kerajaan Sunda saat itu berada di penguasaan Prabu Ragamulya Luhurprabawa yang memerintah antara 1340 hingga 1350.

Penemuan arca tersebut memperkuat dugaan kunjungan Bujangga Manik ke sekitar Palintang. Dalam naskah yang ditulis pada abad ke-15, menceritakan perjalanan Bujangga Manik melintasi dataran tinggi bagian utara Ujung Berung. Menyebut Bukit Karesi, Bukit Langlayang, dan (Gunung) Palasari. Kemudian menyeberangi (sungai) Cisaunggalah dan berjalan ke arah barat hingga tiba di bukit Patenggeng.

Dalam teks tersebut bisa ditafsirkan beberapa nama geografis yang masih bisa dikenali hingga kini. Seperti penulisan bukit Langlayang untuk G. Manglayang di sebalah utara Cibiru Bandung. Kemudian bukit Palasari adalah G. Palasari di Suntenjaya, Palintang. Namun untuk mencocokan bukit Karesi, sepertinya tidak ada lagi indikasi geografis yang bisa disandingkan dengan nama tersebut, sehingga bisa jadi merujuk pada nama gunung lain yang satu kelompok dengan Palasari-Manglayang.

Penyebutan lainya adalah Cisaunggalah yang mendekatkan dengan cerita Ciung Wanara di sebelah timur Jawa Barat. Hadir sekitar 793 Masehi, merupakan penguasa kerajaan Galuh setelah pendahulunya tamperan Bamawijaya. Sedangkan naskah Bujangga Manik ditaksir antara akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15. Noorduyn dan A Teeuw memperkirakan bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik berlangsung (atau ditulis?) pada kurun Kesultanan Malaka masih menguasai jalur perniagaan Nusantara, sebelum jatuh ke tangan Portugis pada 1511. Di dalam naskah tesebut menyebutkan 450 kawasan, termasuk di antaranya ada sedikitnya 90 nama gunung dan 50 nama sungai. Naskah puisi yang berjumlah 1641 baris ini, adalah bahwa pada kenyataannya– mirip naskah-naskah Sunda antik yang pada umumnya otentik dan tidak disalin naskah BM tiada duanya dan cuma satu-satunya di dunia (codex uniqus).

Di Situs Batuloceng berupa undakan yang didirikan di atas bukit. Tepat berada di lereng sebelah utara G. Palasari, diapit oleh G. Bukittunggul dan dipisahkan oleh Ci Kapundung hulu. Penulisan G. Bukit Tunggul lebih dipercaya disebut beuti bukan bukit, memaknai akar pohon (tunggul) yang digunakan untuk membuat perahu oleh Sangkuriang. Seperti yang dituliskan dalam Gids voor Bergtochten op Java, ditulis oleh ahli gunungapi Dr. Ch. E. Stehen, 1930.  Di situs ini dipercaya hadir sejak 1816, melalu juru pelihara (kuncen), Eyang Haih. Dipercaya sebagai patilasan Sembah Dalem Sunan Margataka atau yang dikenal dengan Prabu Wanara atau Ciung Wanara (Manarah/Surotama).

Kepercayaan tersebut bersarkan penamaan toponimi yang muncul pada peta Belanda (Geolosgisch kaart, van Bemmelen, 1934) menuliskan nama Gegersunten di sebelah utara, tepat di lereng seltan G. Bukittunggul.

Kegiatan Geourban ditutup di Batuloceng, dengan harapan aktivitas geowisata ini bisa membuka kegiatan geowisata yang berdampak kepada aktivitas ekonomi lokal, dan pemahaman lebih dalam mengenai narasi bumi dan budaya.

Geourban#12 Gegersunten

Bandung bagian utara dibatasi punggungan Sesar Lembang. Memanjang barat-timur 29 km dari G. Palasari Cilengkrang, Bandung Barat hingga Ngamprah di Badung Barat. Di segmen Maribaya-Batuloceng, dicirikan oleh gawir sesar berupa blok Bandung yang naik antara 300 hingga 450 meter. Disusun oleh lava hasil kegiatan pembentukan Gunungapi Pra-Sunda-Sunda, antara 0.560- 0.105 MA. Di bawah lereng G. Palasari ditemui peradaban yang diperkirakan hadir di masa Pra-Sunda, dan budaya Sunda Klasik diwakili Kabuyutan Batuloceng.

Di Abad ke-15 (sekitar 1338 M, Noorduyn) dalam perjalanan ke-dua, Bujangga Manik menuliskan dalam naskah perjalanan resi guru, G. Langlayang, G. Kaeresi dan G. Palasari. Merujuk kepada kerucut gunung disebelah utara-timur Bandung.

(1330) leu(m)pang air ngaer barat.
Tehering milangan gunung:
Itu ta bukit Karesi
Itu ta bukit Langlayang
Ti baratna Palasari

Dari naskah tersebut menyuratkan telah hadir kebudayaan Hindu di Bandung utara, sebelah timur di bawah lereng G. Bukittunggul-G. Pangparang. Bujangga Manik menyebutkan sasakala Sangkuriang, gagal membangun situ. Sedikit ke utara merupakan hulu Ci Kapundung, sungai yang membelah kota Bandung. Mengalir dan mengerosi diantara gawir terjal Sesar Lembang ke arah barat. Disekitar Curug Domas, arahnya berbelok mengalir di lidah lava G. Tangkubanparahu tua (40.000 tahun yl), berhenti di Curug Dago. Ci Kapundung membelah kota Bandung, bermuara di Dayeuhkolot, jantung ibu kota kabupaten sebelum pembangunan Jala Raya Pos 1811.

#geourban #geourban12 #sesarlembang #batuloceng #hulucikapundung #palintang

Hari/tanggal
Sabtu, 29 April 2023

Waktu
Pkl. 08.30 WIB sd. 13.00 WIB

Meeting point
Dago Giri-Gunung Batu Lembang

https://goo.gl/maps/5i2xLt7GNdMFFCpv8

Rute
Gunung Batu Lembang, Maribaya, Batuloceng, dan Palitang

Disklaimer
Disarankan partisipan untuk menggunakan transportasi pribadi, roda dua atau roda empat. Memakai baju lapangan, dan jas hujan. Kegiatan bersifat probono, termasuk akom/transport dan tiket wisata ditanggung masing-masing.

Geourban
Diinisiasi oleh pekumpulan Pemandu Geowista Indonesia/PGWI. Bertujuan syiar geowisata, menjahit jejaring dan menggali narasi tapak bumi Bandung Raya. Info: pgwi.or.id @pgwindonesia