Catatan Geourban#52 Mayang

BMKG menyuarakan potensi bibit siklon, berpotensi menggerakan awan menjadi hujan dan tiupan angin. Badan pemerintah yang bertanggung jawab memantau hidro dan meteorologi, menyatakan akan terjadi hujan deras melanda sebagian besar pulau Jawa. Penyebabnya adalah Siklon 93S yang mampu memproduksi hujan lebat di langit Jawa.

Ramalan cuaca tersebut menjadi perhatian, jelang kegiatan Geourban ke-52. Menyusuri kembali sejarah, dan rahasia bumi sekitar Cisalak Subang. Namun hingga jelang matahari terbit, awan di langit membuka tabir. Memberikan kesempatan cahaya matahari menerobos, jatuh di dataran tinggi Lembang. Memberikan jalan kepada warga, beraktivitas pagi di sekitar Langensari, Lembang. Deru motor roda dua, hingga roda empat berburu dengan waktu. Mengantarkan anak sekolah, hingga aktivitas pekerjaan pagi hari.

Walau masih ada awan tebal menggelayut di sebelah utara, tetapi tidak mengurungkan niat menelusuri wilayah Cisalak melalui Cupunagara. Kegiatan pro bono ini dilaksanakan pada hari Selasa, 16 Desember 2025. Dihadiri beberapa partisipan, dari latar belakang yang beragam, mulai dari pegiat wisata, penyuka jalan-jalan hingga kreator konten. Target kunjungan dalam kegiatan ini adalah, menyusuri kembali laporan arkeologi yang dituliskan oleh N. J. Krom (1915), kemudian laporan Dr. Sal. Muller (1833). Kemudian melihat kembali dinamika bumi, berupa gerakan tanah yang sempat terjadi di Cipondok, Kasomalang.

Perjalanan menggunakan roda dua, dengan tujuan untuk memudahkan pergerakan. Mengingat jalur yang akan dilalui adalah jalan makadam (berbatu), hingga jalan kelas desa. Kendaraan dipacu ke arah utara, melalui perkebunan Wangunharja sekitar Lembang. Wilayah ini dikenal dengan perkebunan hortikultura yang berbatasan langsung dengan hutan produksi milik PT Perum Perhutani sektor Bandung Utara. Dari lokasi ini ke arah selatan terlihat jajaran perbukitan yang memanjang barat ke timur, disebut Sesar Lembang. Sedangkan ke arah utaranya, didapati perbukitan yang memagari dataran tinggi Lembang. Diantaranya Pasir Sukatinggi, dan G. Putri. Ditafsir sebagai soma (batas kaldera) G. Sunda. Di baliknya adalah kerucut khas G. Tangkubanparahu bersanding dengan G. Burangrang sebelah barat.

Sistem Gunungapi Cibitung Cupunagara
Selepas tegakan pohon pinus merkusii,mengantarkan rombongan ke arah Pasir Puncak Eurad. Puncak pass yang memisahkan antara Lembang dan Cisalak Subang. Berupa gawir terjal yang memanjang dari timur ke barat. Membentuk dinding tegak, membatasi dataran tinggi Lembang dan Bandung bagian timur dengan Cisalak, Subang.

Dari keterangan ahli gunungapi purba, Sutikno Bronto (2004). Menyebutkan terbentuk dua sistem kaldera, yaitu Kaldera Cibitung di sebelah barat dan Kaldera Cupunagara sebelah timurnya. Dalam keterangannya, Bronto menyebutkan mengenai umur pembentukannya dimulai sejak Paleosen Akhir dan Oligosen Awal. Sekitar 59-36 juta tahun yang lalu, berdasarkan hasil pengukuran batuannya. Sedangkan dari pendapat ahli lainya, merupakan gravity fall atau longsoran batuan. Membentuk gawir terjal yang terbuka ke arah utara.

Puncak Eurad merupakan titik pengamatan terbaik untuk melihat fenomena bumi tersebut. Dilalui oleh jalan kelas desa, menghubungkan antara Cisalak Subang melalui Cupunagara ke dataran tinggi Lembang. Sehingga ditafsir bahwa jalur lintasan ini menjadi strategis. Terutama pada saat serangan Jepang pada 5-7 Maret 1942. Diperkirakan jalur ini menjadi pintu masuk selain melalui Ciater. Seperti yang telah diketahui, pasukan Jepang masuk melalui Subang, kemudian mendesak ke arah Bandung melalui puncak pass Ciater. Dibuktikan dengan ditemukannya lubang militer, berada di sebelah barat laut dari posisi Puncak Eurad. Berupa gua dengan lebar sekitar 2 meter, tinggi 1,5 meter dan panjang lorong tidak lebih dari 8 meter. Diperkirakan merupakan pos pengamatan militer Jepang, pada saat mempertahankan jalur lintas Subang-Bandung melalui Puncak Eurad. Penggunaan lubang gua sangat efektif, digunakan sebagai perlindungan dari serangan udara. Mengingat sistem pertempuran perang dunia kedua, menggunakan pesawat udara. Selain itu sebagai perlindungan dari elemen cuaca, dan mudah dibuat. Batuannya adalah piroklastik yang telah lapuk, dicirikan oleh tanah dan batuan yang berwarna coklat terang. Menandakan hasil alterasi. Mineral ubahan tersebut dilaporkan oleh Sumantri dkk. (2006), menyebutkan Litologi terdiri atas satuan batuan intrusi, lava dan piroklastik berkomposisi andesitis-basaltis, sebagian besar berubah menjadi zona ubahan propilitik dan argilik

Kopi di Bukanagara
Jelang siang, rombongan mengunjungi kedai kopi sebelah utara kantor Desa Cupunagara. Cisalak, Subang. Berupa kedai kopi yang menyajikan aneka macam jenis kopi seduhan, dari perkebunan kopi yang tersebar di kawasan Bukanagara, di Desa Cupunagara sebelah utara. Sedangkan bagian selatannya, diusahakan oleh kelompok tani berbeda. Merek Kopi Cupumanik diusahakan oleh Ita Koswara sejak awal tahun 2014, melalui rintisan bersama kelompok tani kopi. Kemudian tahun 2018 mendirikan kedai kopi, dengan tujuan menyediakan produk siap saji. Ita Koswara merupakan petani kopi di Cupunagara, merintis tanamanan kopi melalui sistem perkebunan kopi. Berlatar belakang petani sayuran, kemudian beralih ke tanamanan kopi. Menurut keterangannya, perintisan tersebut tidak terjadi dalam satu malam, tetapi melalui usaha dan kerja keras. Upaya tersebut berbuah setelah tiga tahun di awal perintisan, melalui usaha budidaya. Dihasilkan jenis arabika dan sebagian kecil robusta, dalam skala industri kecil. Dikerjakan dari hulu, pengelolaan perkebunan terbatas melalui kerjasama dengan kelompok tani. Kemudian pengolahan melalui pemrosesan dari cherry (buah), hingga menjadi gabah.

Untuk meningkatkan penjualan, Ita Koswara memproduksi produk kopi dalam kemasan. Baik dalam bentuk telah di roasting, hingga kopi kemasan digiling halus dan siap seduh. Guna melengkapi alur dari hulu, kemudian di hilir didirikan kedai kopi pada tahun 2018, dinamani Cupumanik di Desa Cupunagara. Menggunakan nama yang diambil dari klasik wayang, dengan tokoh semar. Semangat tokoh tersebut, menjadi motivasi bagi Ita Koswara untuk mendirikan usaha hulu hingga hilir.

Dari keterangan singkat, Ita menjelaskan bahwa sejarah tanaman kopi telah ada sejak jaman kolonial. Dibuktikan ternyata masih ada beberapa pohon kopi, berupa tegakan yang tumbuh tidak terawat di sekitar blok Bukangara. Tingginya sekitar 5-8 meter, dengan ukuran lingkar batang 18-23 centimeter. Daunnya lebar, tampak berbuah ukuran kecil dan masih berwarna hijau. Menandakan pohon kopi ini jenis robusta, dan masih produktif.

Jalan Penghubung Bukanagara ke Pasirlame
Selepas jalanan menurun, kemudian melewati pintu masuk wisata curug (air terjun) Cikaruncang. Merupakan hulu sungai, mengalir membelah desa Mayang yang berada di sebelah utaranya. Kurang lebih 2 km ke arah utara, ditemui jalan turun ke arah lembah. Jalannya berbatu selebar 3 meter, namun keberadaanya telah ditutupi ilalang. Kondisi demikian sulit dilalui kendaraan roda dua, mengingat sebagian jalan menyisakan lubang akibat erosi air. Sehingga diperlukan keterampilan berkendara, di atas jalanan berbatu dan berlubang.

Jalan menurun ke arah utara mengikuti kontur perbukitan Pasir Bedil sebelah barat, kemudian memotong lereng Pasir Tonggohluhur disebelah utaranya. Di sekitar setengah perjalanan, melewati dua anak sungai Ci Karuncang, mengalir hingga ke arah utara kemudian bertemu dengan Ci Karuncang di Desa Mayang.

Sepanjang perjalanan dihiasi oleh tegakan-tegakan pohon kopi. Tumbuhan asal benua Afrika tersebut dibawa ke Subang, kemudian ditanam di wilayah perkebunan milik P&T Lands sejak awal abad ke-19. Pada masa pengelolaan Hofland, dibuka tiga belas kebun
kopi di daerah seperti Bukanagara, Kasomalang, Sarireja, Ciater, Jaggernaik, Arjosari, Tengger Agung, Sumurbarang, Wera, Wangun Reja, Pasir Bungur, dan Subang (Junaedi, 2022: 70). Dalam catatan sejarah Subang abad ke-19, sebagian besar merupakan tanah partkelir. Wilayah Pamanoekan en Tjiasemlanden, mencapai luas 212.900 hektar (Effendi, 1999).

Batu Candi
Sebuah rumah permanen, berdiri kokoh di sebelah bongkah batu. Berada di tepi jalan desa, menghubungkan antaran Cisalak ke Cupunagara, melalui Pasirlame. Bongkah-bongkah batuan tersebut berupa blok batuan yang menyebar dari utara ke selatan. Kemudian di sebelah timurnya,dipotong oleh Ci Leat dan sebelah baratnya dilatasi Ci Karuncang. Masyarakat menyebutnya Batu Candi yang diperkirakan merupakan tempat pemujaan nenek moyang di masa lalu. Selain blok batuan ini, ke arah timurnya menyebar batuan yang hampir sama, disebut batu Goong.

Diperkirakan blok-blok batuan tersebut dibawa oleh air, berupa luapan sungai. Dicirikan dengan didapatinya berbagai ukuran batuan dengan struktur membundar (rounded), ciri di transportasi (diangkut) oleh air. mekanisme pengangkutannya oleh hasil kegiatan luapan air sungai, hingga longsoran yang mengerosi batuan di hulu. Menandakan bahwa kegiatan luapan air sungai, disertai longsoran bahan rombakan telah terjadi sejak lama. Walaupun sering terlanda bencana banjir, namun masyarakat menempati sebagian besar wilayah tersebut karena daerah hasil endapan sungai. Mengakibatkan dataran banjir tersebut subur.

Dari keterangan Ateng (63 tahun) pemilik lahan, menjelaskan bahwa ia menemukan bongkah batu. Bentuknya diduga seperti arca, terbuat dari batu. Benda tersebut ditemukan tanpa sengaja oleh Ano Suwarno (60 tahun) tahun 1974, pada saat melakukan pembersihan lahan. Diperintahkan oleh Ateng, untuk mempersiapkan lahan untuk rumah tinggal. Menurut Ano, ukuran arca tersebut sebesar paha orang dewasa, atau kurang lebih tinggi 40 cm, dengan lingkar 20 cm. terbuat dari batu, berwarna abu-abu gelap mirip dengan batuan yang didapati di sungai Ci Karuncang. Dengan demikian, diperkirakan batuan penyusunnya merupakan batuan hasil kegiatan gunungapi, jenis andesit-basaltik.

Sumber lain mengenai penemuan arcan ini, dilaporkan oleh N.J. Krom Rapporten van de Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indië (ROD) 1914. Dalam jurnal arkeologi yang disusun Nanang Saptono (2009), menunjukan dua titik koordinat. Salah satunya berada di hulu, sekitar 300 meter ke arah utara dari Batu Candi. Dalam penelusuran singkat, warga mengakui tidak mengetahui keberadaan situs budaya. Bahkan satu orang sesepuh menyatakan tidak pernah mengetahui. Namun ia menyarankan ke arah utara, setelah jembatan Ci Karuncang, disebut Batu Candi.

Di Sekitar lokasi ini didapati tanah lapang di atas rumah warga. Sekelilingnya berupa persawahan, dan di sebelah utaranya atau sekitar 100 meter didapati kompleks pemakaman warga. Tanah lapang tersebut tidak luas, namun ditempat beberapa bongkah batuan yang diperkirakan hasil jatuhan dari hulu. Lebar lahannya sekitar 4 x 5 meter, dipagari dan ditanami sayuran. Merujuk kembali kepada sumber literatur, seperti yang dituliskan oleh Saptono (2009), “Sedikit ke arah hulu dari jalan raya terdapat beberapa lahan berupa gundukan namun sudah tidak begitu jelas dikenali. Beberapa gundukan tanah atau lahan yang lebih tinggi dari daerah sekitar memang banyak dijumpai di sepanjang tepi kiri sungai Cigarunjang (penelusuran dari jalan raya menuju arah hulu sungai). Beberapa lahan ada yang sudah menjadi perkampungan. Gundukan tanah atau lahan yang lebih tinggi ini kebanyakan tidak beraturan. Beberapa lahan yang dicurigai sebagaimana yang dilaporkan Krom terdapat pada ujung Desa Gardusayang”

Keterangan tersebut merujuk kepada Batu Candi, lahan milik Ateng. Dari keterangan orang tuanya, dahulu tempat tersebut didapati beberapa arca yang ditempatkan di atas blok batuan tersebut. Sedangkan lingkungan sekitarnya masih berupa persawahan dan tanah lapang. Blok batuan tersebut merupakan perbukitan kecil yang diperkirakan merupakan gundukan tanah membentuk punden berundak. Dari keterangan Ano, tanah tersebut diratakan untuk mendirikan rumah. Tanpa sengaja ia menemukan bentuk arca yang mirip manusia. Dari keterangan, memiliki tangan yang dilipat menyilang di bagian depan. Didapati anatomi layaknya wajah manusia, seperti hidung, mulut mata. Kemudian bagian bawahnya berupa kaki yang memajang.

Arca tersebut rencananya dibuang, namun menurut Ano merupakan peninggalan nenek moyang. Kemudian diserahkan kepada Haji Aceng di Bandung. Hingga kini keberadaan arca tersebut tidak diketahui.

Punden Berundak di tepi Ci Laki
Bergerak ke arah barat dari Desa Mayang, ke arah Cimanggu. Menuju makam tua yang berada di tepi Ci Laki, ditempuh sekitar 3 km dari kantor Desa Cimanggu ke arah barat daya. Mengikuti jalan yang menghubungkan Cimanggu ke hulu Ci Tali. Sungai yang mengalir dari lereng sebelah utara G. Canggak. Arah alirannya dari selatan ke utara, kemudian bergabung dengan Ci Leat di Selaawi, lereng Pasir Jatinangor.

Pada peta lama ke-19 pertengahan, wilayah ini masuk Batu Sirap. Dilaporkan oleh Muller, dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 4de Deel, 1/2de Afl. (1855), pp. 98-122 (47 pages). Merupakan kegiatan penelitian arkeologi, dilangsungkan antara tahun 1831 hingga 1833, mencakup sebagian Sumatera dan Jawa. Pada laporan berjudul Oudheden van Java (benda purbakala dari tanah Jawa). Menuliskan penemuan beberapa arca, dibagi menjadi tiga kelompok. Objek atau benda yang memiliki pengaruh Hindu. Dicirikan dengan batu, berbentuk pedestal atau kubus. Terutama patung yang mirip dengan ganesa. Kelompok pertama ini berasal dari budaya yang lebih muda, sudah menerima pengaruh dari luar. Sedangkan kelompok kedua datang dari umur yang lebih tua. Dicirikan Dengan bentuknya yang masih kasar, kadang-kadang hampir tidak memiliki bentuk manusia; patung-patung ini biasanya disebut arca oleh orang-orang Sunda. Kedua jenis benda purbakala ini masih dihormati secara religius oleh masyarakat setempat hingga saat ini.

Penggunaan nama arca, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti pemujaan dalam bentuk patung. Laporan mengenai keberadaan arca di lereng G. Canggak, ditemukan pada laporan di Plaat III (lembar ke-tiga). Diceritakan penemuan bentuk arca, di kaki gunung Canggak sebelah barat laut. Pada saat itu masuk ke dalam wilayah Karawang yang berbatasan dengan Sumedang.

“Di sana terdapat lima teras berbentuk persegi empat yang berurutan, dari timur laut ke barat daya, pada ketinggian yang sedikit meningkat. Setiap teras 6-8 kaki (1.8 meter – 2.4 meter) lebih tinggi dari teras sebelumnya; teras terbawah memiliki diameter 40 langkah (12,1 meter), tetapi teras teratas sedikit lebih kecil. Di sisi-sisinya, tanahnya curam. Di sekeliling, dan juga di teras-teras yang mirip kuburan ini, tumbuh Poespa – (Schima noronhae), Sempoer … (Dilenia spec.) dan pohon-pohon hutan lainnya, Bambu Tali (Bambusa apus) dan Alang-alang (Imperata Koenigii); Namun, yang paling menarik perhatian kami adalah beberapa pakis mirip palem, yang sampai saat itu belum pernah kami lihat di pegunungan barat Jawa. Pakis-pakis itu adalah Pakoe Hadji setinggi 20-30 kaki (6-9 meter), yang namanya diambil dari tempat itu, dan yang pasti ditanam di sana. Di samping setiap patung dewa terdapat satu. Batangnya yang cukup tebal, halus, berwarna abu-abu kecoklatan, dan mahkota yang sangat indah berbentuk payung atau kipas, sudah menarik perhatian kami dari kejauhan.”

Selanjutnya Muller menggambarkan tiga objek (arca), di bagian teras tengah berupa arca tanpa kepala, dengan tinggi sekitar 65 cm. Arca kedua digambarkan kepala condong ke depan, dengan tangan dilipat di bagian depan. Tingginya sekitar 28 cm. Arca ketiga disebut Demang Peret. Memiliki posis jongkok seperti patung sebelumnya, tafsiran Muller mungkin saya seperti belalai atau janggut yang panjang.

Saat ini merupakan komplek pemakaman Eyang Jaya Kusuma, berada di lereng hulu Ci Laki. Warga menyebutnya daerah Dayeuhluhur, Desa Cimanggu. Seperti nama yang disebutkan dalam laporan Muller, menunjukkan tempat Nagara (kampung?) Bukit Cula, dan Nagara Dhaja Loehoer (Dayeuhluhur).

Makam tersebut berbentuk persegi panjang, berarah utara-selatan. Dibatasi oleh susunan batuan, dengan dua batu besar di bagian tiap ujung. Saat ini seringkali dikunjungi untuk tujuan ziarah, atau ngalap berkah.

Makam Eyang Rangga Marta Yoeda
Dari pusat kota Cisalak, terlihat dataran tinggi di sebelah barat. Merupakan tinggian berupa perbukitan yang disebut Pasanggrahan. Perbukitan tersebut dikelilingi dataran rendah, ditempati sawah. Sebelah selatannya adalah Kampung Ciaruteun, masuk ke dalam administrasi Desa Sukakerti.

Cisalak dilewati oleh aliran Ci Karuncang, daerah aliran sungai Ci Punagara. Hulunya berasal dari lereng utara G. Bukittunggul. Mengalir ke utara, melalui Pasir Tonggohluhur, hingga melewati Desa Mayang.

Di perbukitan Pasanggrahan ini disemayamkan seorang Demang yang hidup pada masa awal pengembangan perkebunan teh dan kopi di Subang selatan. Dikenal Raden Rangga Martayuda, lahir pada 1790. Meninggal dan dikebumikan di Astana Gede Gomati pada 1856. Perannya adalah membantu pengembangan perkebunan partikelir, dikelola oleh T. B. Hofland. Kakak tertua P. W. Hofland. Saat itu pabrik pengolahannya berada di Sagalaherang.

Namanya dituliskan pada tugu di Bukanagara, sebagai perintis pembuatan jalan tembus Cisalak ke Bukanagara. Dikerjakan pada 1847, untuk kepentingan usaha perkebunan partikelir milik T.B. Hofland. Jalan tersebut dinamai Djalan Pedati (Jalan Pedati). Pada saat itu Raden Rangga Martayuda merupakan Demang di Kademangan Batusirap. Saat ini mencakup sebagaian besar Cisalak, Subang. Wilayahnya meliputi Bukanagara, Kasomalang, Sarireja, Ciater, dan Jagernaek.

Longsor Cipondok
Dari arah Cisalak kemudian bergerak ke arah barat, melalui Jalan Raya Kasomalang. Kurang lebih 3.5 km akan bertemu dengan persimpangan. Terlihat jelas papan informasi, industri air minum dalam kemasan (AMDK). Sebelum mencapai gerbang perusahaan swasta tersebut, didapati jalan ke arah sebelah kiri. Jalan yang menghubungkan dari Darmaga ke Kampung Cipondok, Pasanggrahan. Jalannya melintasi petak sawah. Diujung jalan semakin menyempit, hanya bisa dilalui oleh roda dua. Di Ujung jalan, melintasi jembatan yang melintasi Ci Punagara.

Terjadi bencana longsor pada hari Minggu, 7 Januari 2024. Menyebabkan tidak berfungsinya fasilitas sumber air Tirta Rangga, Subang. Perusahaan daerah yang mengelola distribusi air baku ke wilayah Subang selatan. Selain itu merupakan sumber air yang dimanfaatkan oleh perusahaan komersial, air minum kemasan (AMDK).

Peristiwa bencana tanah longsor tersebut, mengakibatkan jatuhnya dua orang korban dan 11 orang luka-luka. Memaksa 262 orang harus dialihkan dari daerah bahaya longsor. Pengalihan tersebut karena terisolir, akibat satu-satunya jalan penghubung putus.

Penyebab terjadinya longsoran akibat dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Faktor pendukung lainya adalah akibat batuan penyusunya (litologi) berupa batuan vulkanik yang belum terkonsolidasi dengan baik (rempung). Berupa aliran piroklastik dan blok lava, mengakibatkan mudah disusupi air. Sehingga bagian batuan lunak, menjadi bidang gelincir. Selain itu berkaitan dengan gradien/sudut lereng perbukitan, dan dekat dengan sempadan sungai. Kondisi demikian menjadi variabel terjadinya gerakan tanah, dengan mekanisme aliran bahan rombakan (debris flow).

Terhitung dua tahun dari waktu terjadinya longsor, saat ini telah mengalami perbaikan. Diantaranya muncul kembali mata air yang dahulu tertimbun longsor. Pengelolaan lereng yang terjal menggunakan rekayasa teknis. Kemudian penanaman kembali melalui 1820 bibit pohon, melalui kerjasama antara perusahaan daerah Perumda TRS, PT Tirta Investama dan Perum Jasa Tirta II. Saat ini sumber mata air tersebut berfungsi dan dapat dimanfaatkan kembali. Setidaknya didapati 5 lubang mata air, dengan debit air tinggi. Sebagian ditampung dalam bak, dialirkan ke dalam pipa. Sebagian lagi dialirkan ke irigasi terbuka untuk kebutuhan pertanian sekitar Kampung Cipondok.

Jalan setapak menuju Gua Militer Jepang, di Puncak Eurad.
Di mulut gua militer Jepang, Puncak Eurad
Jalan makadam menuju Pasirlame, Mayang
Pohon kopi buhun, di lereng Pasirbedil, Mayang
Bongkah batuan tererosi, membentuk garis geometris di Desa Mayang, dengan latar G. Canggak

Catatan Geourban#45 Jembarwangi

Selepas bulan Juli 2025 usai, pembangunan jalan Lingkar Utara Jatigede telah selesai dibangun. Walaupun belum resmi dibuka, tetapi bisa dilintasi dalam jumlah kendaraan terbatas. Kesempatan inilah dimanfaatkan, meninjau jalan yang melingkar sisi utara waduk Jatigede, Sumedang. Kegiatan ini merupakan bagian dari acara Geourban ke-45, dengan tajuk Jembarwangi pada 10 September 2025, 

Kegiatan inisiasi wisata bumi sekitar Sumedang, dimulai dari sisi sebelah utara Waduk Jatigede. Memanfaatkan jalur baru lingkar utara, dari percabangan jalan kabupaten Situraja ke Darmaraja. Mulut jalan berada di sekitar tanjakan Cinangsi yang berada dibahu dua gunung. Sebelah timurnya adalah G. Baju, dan ke arah timurnya G. Tanjung. Jalannya lebar, diapit oleh parit drainage. Menandakan kelas jalan lingkar ini merupakan proyek nasional. Selepas percabangan Cinangsi, disambut oleh jalanan yang mendaki. Agar tidak terlalu terjal, dilakukan pembobokan perbukitan G. Tanjung 519 mdpl. Kemudian dilanjutkan ke arah timur yang mulai melandai melewati perbukitan Pasir Hingkik 513 mdpl.

Arah pandangan luas tidak terhalang. Ke arah timur terlihat hamparan air yang luas. Waduk Jatigede menenggelamkan 28 desa, dari 5 kecamatan sejak 2015. Dibutuhkan waktu hampir setengah tahun, untuk mencapai paras air optimal. Luas genangan airnya saat ini, kurang lebih sekitar 42 km2. Titik tinggi paras airnya, 260 meter di atas mukalaut. Satu-satunya pulau yang tampak dari arah Cinangsi, adalah G. Surian 310 mdpl. Kerucutnya timbul di atas hamparan air, berhadapan langsung dengan poros bendungan Jatigede. 

Sekitar 15 menit berkendara, di sebelah timur terlihat perbukitan yang mengungguli tinggian. Disebut Pasir Julang, atau masyarakat menyebutnya G. Julang. Dalam peta geologi lembar Arjawinangun (Djuri, 2011), merupakan Hasil Gunungapi Tua-Lava (Qvl). Produk G. Lingga 1125 mdpl.  Dalam tafsiran berdasarkan peta geologi tersebut, memberikan dugaan arah aliran lavanya mengalir ke timur laut hingga Nangerang. Sehingga diperkirakan G. Julang merupakan fasies proksimal (Bogie & Mackenzie, 1998). Perkiraan lainnya adalah perbukitan tersebut merupakan hasil penerobosan magma, disebut intrusi batuan beku. Menerobos batuan sedimen 

Bila merujuk pada pendapat di atas, memberikan petunjuk bahwa G. Julang bukan perbukitan intrusi batuan beku. Melainkan produk aliran lava G. Lingga yang berada di sebelah barat daya yang berjarak sekitar 4.5 km. Disusun batuan beku, berwarna abu terang menandakan didominasi mineral andesitik. Sejak awal pembangunan Waduk Jatigede, sumber batuan yang berada di G. Julang dimanfaatkan untuk kegiatan pembangunan poros waduk diantaranya adalah sebagai agregat. Lahan seluas 55 Ha, tersebut kini direncanakan akan ditambang kembali untuk kebutuhan Bendungan Cipanas. Hanya terlihat beberapa warga yang masih memanfaatkan batuan tersebut, dengan cara penambangan tradisional. Sebagai batu hias, dan pondasi dalam skala tambang kecil.

Saat ini G Jualang tidak lagi menjulang. Sebagian besar tubuhnya telah hilang hasil kegiatan tambang sejak tahun 70-an akhir. Batuannya masih, berupa lava tebal dengan ciri terkekarkan. Menandakan batuan tersebut terdeformasi, akibat kegiatan tektonik. Di sebelah utaranya merupakan jalur sesar Baribis, sehingga kegiatan tektonik tersebut mempengaruhi secara langsung pada batuan. Sebagian besar kawasan ini membentuk bentang alam berupa ceruk, dan sebagian besar membentuk dataran seperti mesa. Tinggian yang terpancung, menyisakan lapangan yang datar. Sebagian besar batuan yang singkat, terkekarkan dengan kuat, membentuk struktur rekahan atau patahan pada batuan (deformasi). Sebelah barat daya, didapati fitur batuan yang membentuk seperti kepala burung. Berupa susunan kekar kolom, tersisa dari kegiatan tambang. 

Menurut warga, fitur batuan tersebut hasil kegiatan tambang menggunakan alat berat. Namun karena batuannya terlalu keras, mengakibatkan alat berat tersebut menyerah. Sehingga ditinggalkan begitu saja, meninggalkan bentuknya pipih. Sehingga masyarakat menyebutnya batu kipas. Disusun oleh batuan beku, berwarna abu terang ciri andesitik. Berada pada ketinggian, sebagian besar bagian bawahnya telah hilang oleh kegiatan tambang, menyisakan blok batuan. 

Dari G. Julang menjadi titik terbaik untuk melihat panorama Waduk Jatigede. Dengan demikian, BBWS berencana mengembangkan kawasan ini sebagai objek wisata berupa vie point atau anjungan pandang.  Rencana tersebut membutuhkan kajian, agar selaras dengan kondisi lingkungan, kemampuan untuk pengelolaan wisata berkelanjutan. 

Sebelah timur laut dari G. Julang, mengikuti jalan Lingkar Utara Jatigede akan menemui situs. Masyarakat menyebutnya Situs Karamat berupa kumpulan batuan dengan ukuran bongkah. Dilingkari oleh pagar besi, menyusun tinggian yang ditempati oleh pohon tegak. Warga menyebutnya petilasan, atau tempat yang pernah menjadi tempat singgah atau disakralkan. Tempat suci yang digunakan sebagai kegiatan ritus, atau sebagai simbol budaya. Informasi mengenai Situs Karamat ini sangat terbatas, karena tidak ada informasi baik dalam tinggalan prasasti atau sumber primer seperti naskah. 

Sumber batuannya bila merujuk pada peta geologi Arjawinangun (Djuri, 2003). Berupa batuan beku yang diperkirakan sama dengan yang ditemui di G. Julang. Berupa Hasil Gunungapi Muda tak Teruraikan. Diantaranya breksi, lava bersifat andesit dan basal, pasir tufan, lapili. Bentuknya lonjong, saling menumpuk. Menurut warga, situs ini merupakan bagian puncak, ditandai dengan batu yang disimpan berdiri seperti menhir. Posisi situs berada ditengah jalan yang menghubungkan antaran Cinangsi ke Pajagan. Namun bila melihat peta lama lembar Darmardja (1943), berada pada ketinggian perbukitan. Dalam peta tersebut belum menunjukan garis jalan. Namun dalam keterangan bapak Asep, kampung yang berada di sekitar situs, merupakan hasil relokasi akibat penggenangan waduk. 

Pada peta lama lembar Soedapati (1911), lokasi situs berada di daerah disebut Bantarjambe. Sesuai dengan nama Sekolah Dasar yang masih menggunakan nama yang sama. Dengan demikian diduga, kampung di sekitar situs merupakan relokasi dari kampung Legok. Posisinya sebelah timur, di bawah lembah yang kini menjadi batas paras air Waduk Jatigede. Untuk menghindari penggenangan, maka warga Legok kemudian bergeser ke dataran yang lebih tinggi disekitar Bantarjambe saat ini. 

Saat ini keberadaan situs telah dilindungi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, melalui undang-undang cagar budaya Nomor 11 Tahun 210 Tentang Cagar Budaya. Disebut Situs Makam Karamat, Cigintung, Sumedang. 

Lokasi selanjutnya adalah Pasir Pareugreug. Merupakan blok yang naik, disebut sesar anjak busur belakang. Merupakan sistem Backarc Java Thrust, segmen Baribis. Blok yang naik ini kemudian dimanfaatkan sebagai poros bendungan. Dinding bendungan yang berarah timur-barat, sesuai dengan arah sesar Baribis. 

Dari atas Pasir Pareugreug, bisa menyaksikan ke segala arah. Di timur terlihat lembah yang dalam, ditoreh oleh Ci Manuk. Aliran outlet dari spillway poros Waduk Jatigede. Mengalir membelah perbukitan terlipat, diapit oleh G. Tonjong sebelah barat, dan G. Pakayuan 330 mdpl., di bagian timur. Alirannya mengarah ke utara, melalui Parakan Kondang. Kemudian Desa Karedok. Alirannya kemudian dibendung kembali, oleh bendungan Bunut.

Dari Pasir Pareugreug, kemudian turun ke arah Desa Karedok melalui lereng Pasir Sema. Jalanan curam, tetapi sebagian besar sudah di beton dan aspal. Menjelang memasuki Desa Karedok, didapati situs Keramat Sunan Pada. Di keterangan papan informasi, gerbang masuk situs berbunyi Situs Keramat Sunan Pada, ayah dari Ratu Cukang Gedeng Waroe. Sunan Pada adalah mertua dari Geusan Ulun yang berkuasa sebagai raja Sumedang. Dari 1579, naik tahta sebagai raja melalui amanat untuk meneruskan kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran. 

Jalannya berupa turunan yang terjal, sisi sebelah baratnya dibatasi oleh gawir terjal Pasir Pareugreug. Dibeberapa tempat terlihat dinding perbukitan tersebut disusun oleh batuan  breksi gunungapi. Seperti dilaporkan pada awal hadirnya perkampungan ini pernah mengalami bencana. Berupa gerakan tanah atau longsor, mengakibatkan posisi kampung haru bergeser ke arah utara ke kampung Rancakeong dan Babakan Dobol. Lebih mendekati bantaran Ci Manuk.

Dihujung kampung, dibatasi oleh genangan air Ci Manuk. Membentuk danau yang terbentuk karena aliran tersebut di tahan oleh Bendung Bunut. Membentang sekitar 380 meter, menutup celah sempit Ci Manuk di Desa Karedok, Jatigede. Bendungan ini berfungsi untuk penyaluran irigasi, penyedian air baku dan sistem pengendali banjir. 

Dari Cibunut kemudian beralih ke arah Jembarwangi di sebelah timur. Jaraknya kurang lebih 7 km. mengikuti jalan fasilitas Waduk Jatigede melalui lintas timur. Di sekitar Cijeungjing kemudian berbelok ke arah tenggara, memasuki desa Jembarwangi bagian barat. Sebelum tiba di Kantor Desa, jalanan mengikuti jalur turunan curam, berakhir di Ci Saar. Sungai yang membelah Desa Jembarwangi, mengalir ke arah utara. 

Merujuk pada beberapa penelitian, kawasan ini disusun oleh batulempung, dan serpih gampingan yang memiliki tebal hingga 650 meter. Bagian dari Formasi Cisaar, berumur Miosen Tengah atau sekitar 15 juta tahun yang lalu. 

Dalam laporan penelitian paleontologi, disebut lembah Cisaar. Memiliki potensi dan sebaran fosil vertebrata. Mulai diteliti sejak lama, namun secara berkala dilakukan oleh Badan Geologi, melalui tim Museum Badan Geologi, KESDM sejak 2019. Diantaranya telah ditemukan beberapa fosil, di titik ekskavasi  di beberapa lokasi yang tersebar sepanjang Ci Saar. Keberadaan fosil vertebrata atau mamalia besar tersebut, menunjukan bahwa sebagian besar lembah Cisaar saat itu dalam kondisi lingkungan estuari. 

Fosil yang ditemukan, tertanam pada batuan dan tanah yang telah lapuk. Sebagian tersingkap di permukaan akibat kegiatan erosi, dan dibawa oleh air. sehingga beberapa fragmen ditemukan tersebar dari barat ke timur. Semua ditemukan pada Formasi Citalang, disusun konglomerat,  dan batupasir tufaan, merupakan lingkungan endapan darat dengan sistem sungai teranyam (braided stream deposits). Umurnya Pleistosen sekitar 1,2 juta tahun yang lalu. Diantaranya ditemukan rahang bawah Stegodon trigonochepalus (Wibowo et. Al., 2018). Lembah Cisaar, Jembarwangi saat ini menjadi salah satu situs baru, untuk kegiatan penelitian paleontologi vertebrata di Jawa bagian barat.

Batukipas, G. Julang Jatigede, Sumedang
Situs Karamat. Cigintung
Di puncak Pasir Pareugreuh.
Fosil vertebrata di Lembah Cisaar

Catatan Geourban#42 Nagreg

Ramalan cuaca tadi malam menyebutkan, besok pagi sedikit berawan. Kemudian jelang sore berkemungkinan turun hujan tipis. Demikian prakiraan kondisi cuaca tanggal 14 Agustus 2025. Rupanya alam memberikan keputusan yang berbeda. Jelang pagi langit berselimutkan awan tebal, sesekali angin bertiup dari arah barat. Awan mendung menggelayut, menandakan hujan sebentar lagi turun.

Waktu menunjukan pukul tujuh pagi, kendaraan diarahkan menembus padatnya lalu lintas Cileunyi. Untung saja waktu pergantian (shift) karyawan pabrik sudah lewat, sehingga jalan kembali normal. Sepanjang Rancaekek dibatasi oleh bangunan pabrik tekstil dan rumah warga. Sebagian besar posisi rumah berada di bawah jalan, menandakan kawasan ini terjadi penurunan muka tanah. Terjadi akibat pengambilan air berlebihan, sehingga terjadi cekungan. Seiring waktu jalan ditambah, penebalan beton. Sehingga rumah warga tampak tenggelam oleh oleh jalan yang membentang barat ke timur.

Di Parakanmuncang, berbelok ke arah utara. Menembus pasar Parakanmuncang, hingga tiba di Pusaka Farm. Dalam waktu satu jam lebih, menembus tiga wilayah, Kota Bandung, kemudian Kabupaten Bandung, dan terakhir di Parakanmuncang, masuk ke wilayah Kabupaten Sumedang.

Titik awal penelusuran kegiatan Geourban ke-42 ini, dimulai dari Pusaka Farm. Pengelolaan ternak kambing milik kang Rizky. Dari Parakanmuncang, diarahkan ke timur. Selepas Rancaekek, kemudian memasuki daerah Nagrog. Jalanannya menanjak, menandakan memasuki segmen Cicalengka-Nagreg. Berupa daerah tinggi yang diapit oleh beberapa gunungapi purba dan perbukitan. Sebelah utaranya adalah kelompok G. Kareumbi-Kerenceng, kemudian di sebelah selatannya dibatasi oleh kelompok G. Mandalawangi.

Sekitar Nagrok jalanan menanjak, menandakan perbedaan elevasi. Perbedaan ketinggiannya kurang lebih sekitar 160 meter bila dihitung dari Rancaekek ke Cicalengka. Tinggian tersebut membentuk cekungan yang diapit oleh perbukitan landai, disebut cekungan Cicalengka-Nagreg. Bila dilanjutkan ke arah timur, topografinya landai menunjukkan batas cekungan Nagreg. Dikenal dengan tanjakan Nagreg, berakhir dipercabangan menuju Garut dan Tasikmalaya.

Cicalengka merupakan batas timur Danau Bandung Purba. Ke arah timurnya dipagari perbukitan dan gunungapi purba. Batas antara Cekungan Bandung bagian timur dengan Cekungan sub cekungan Leles, Garut. Berjajar perbukitan runcing, G. Durung, Pasir Citiis, G. Kendang, G. Batu dan G. Sangiangajung. Komplek gunungapi purba, menjadi pagar alam Cekungan Bandung bagian timur dengan Sub Cekungan Leles-Garut.

Di Hadapannya (timur), merupakan cekungan yang kini ditempati sawah. Diperkirakan merupakan sisa dari sub danau yang terbentuk sebelum Danau Bandung Purba. Seperti yang dikemukakan oleh Budi Brahmantyo dkk., (2001). Menduga terbentuk cekungan kecil yang terangkat. Buktinya adalah adanya endapan danau (lakustrin), berlapis, disusun klastik gunungapi dan aluvial. Selain itu elevasi cekungan tersebut 850 meter dpl., seratus meter lebih di atas paras maksimal Danau Bandung Purba. Dalam pengukuran menggunakan bantuan google maps sekitar 800 hektar. Sebelah timurnya dibatasi jalan raya Nagreg dan G. Leutik. Kemudian di sebelah baratnya, berbatasan dengan Citaman. Kemudian sebelah utaranya sekitar sawah di Desa Kendan. Bukti endapan danau (lakustrin), berupa lapisan lempung dan paleosol belum bisa dipastikan. Mengingat kondisi lingkungan saat ini sudah berubah menjadi areal sawah.

Di sekitar Nyalindung Nagreg, tidak ditemui. Karena sebagian besar sungai yang membelah atau sejajar dengan jalan raya Nagreg disusun oleh breksi gunungapi. Dalam keterangan penelitian awal oleh tim Kelompok Riset Cekungan Badung, dalam jurnal Notes of the Geology of Uplifted Small Basin at Cicalengka-Nagreg Areas South of Bandung (2001), menunjukan bukti. Berupa endapan danau di G. Leutik, atau sekitar 40 meter dari persimpangan rel kereta api Nagreg ke arah selatan. Namun kondisinya saat ini telah menjadi kolam, sisa kegiatan tambang batu sejak awal tahun 2000-an.

Di Desa Kendan, dilaporkan terjadi gerakan tanah. Akibat struktur dan keadaan batuan penyusunnya belum terkonsolidasi dengan baik, dilaporkan terjadi gerakan tanah (longsor), di Nagreg dan sekitarnya. Terakhir terjadi pada 19 Mei 2025, di Kampung Gunung Batu, Nagreg. Menyebabkan kerusakan material/bangunan dan korban manusia.

Ke arah timurnya, terlihat morfologi kubah lava (lava dome), Sangianganjung-Kendan. Didapati batuan amorf (obsidian). Bersisipan dengan batuan yang telah lapuk terkena hidrothemal. Sebarannya melimpah di TPU Legok Nangka, di dinding perbukitan yang dikupas untuk pembangunan tempat sampah metode open dumping. Dalam kajian arkeologi, didapat beberapa situs dan tinggalan budaya obsidian megalitik hingga Sunda Klasik.

Hasil letusan gunungapi memberikan berkah, menjadikan tanahnya subur. Sehingga pasca undang-undang agraria 1870, mendorong pertumbuhan perkebunan swasta di kawasan ini. Diantaranya perkebunan dan produksi minyak sereh 1901-an. Struktur bangunan pabrik dan cerobong asapnya masih bisa disaksikan saat ini.

Dari peta lama, memberikan keterangan bahwa sekitar Nagreg hingga Balubur Limbangan bagian utara ditempati oleh perkebunan. Tanaman yang diusahakan adalah sereh, untuk diambil minyaknya. Ditandai dengan sisa bangunan pabrik pengolah minyak sereh di sekitar Nyalindung, Nagreg. Berupa sisa struktur bangunan, ditandai dengan masih berdirinya cerobong asap penyulingan minyak. Tingginya sekitar 15 meter, struktur cerobong disusun oleh batu bata merah. Menurut keterangan warga, sudah beroperasi sejak masa kolonial. Diperkirakan sekitar tahun 1920-an, kemudian selepas kemerdekaan diambil alih oleh pengusaha lokal. Beberapa keterangan menyebutkan nama M. Arsyad. Dari keterangan ibu Aisyah (68 tahun), pabrik ini ditutup karena harga minyak sereh turun. Seiring dengan biaya produksi dan ketersediaan bahan baku berkurang. Sehinga akhir tahun tujuh puluhan ditutup. Kondisi saat ini hanya menyisakan cerobong, kemudian di sebelah utaranya masih bisa dilihat beberapa bekas struktur pondasi bangunan. Kemudian ubin yang diperkirakan masih asli, berukuran sekitar 20 x 20 centimeter. Kemudian pondasinya disusun oleh batu bata merah. Dibagian samping struktur pondasi, terlihat bak-bak penampungan air. Diperkirakan pernah digunakan sebagai pembersihan dan pencucian batang sereh. Bak tersebut menampung air yang datang dari arah utara, kemudian outletnya ke sungai yang berada di sebelah selatan pabrik. Minyak sereh yang diusahakan adalah minyak atsiri, hasil dari ekstrak tanaman serai/ sereh (cymbopogon), dengan metode destilasi uap.

Tujuan selanjutnya ke Statsiun Nagreg. Pada papan nama statsiun, dituliskan elevasi +848 meter dpl. Dengan demikian merupakan titik statsiun tertinggi diantara Statsiun Cicaengka (+689 m), dan sebelah timurnya Statsiun Lebakjero (+818 m).

Perbedaan elevasi (elevation gain), antara Cicalengka dan Nagreg, sekitar 164 meter. terlihat dari posisi rel, dari arah barat kemudian sedikit naik secara bertahap ke arah timur. Titik tertingginya sekitar Pasir Karamat, sekitar +860 meter, kemudian melandai ke arah Lebak Jero. Perbedaan antara Stasiun Nagreg dan Stasiun Lebakjero lebih rendah sekitar 30 meter.

Perbedaan ketinggian ini menjadi tantangan dalam pembuatan jalur lintasan kereta api dari Cicalengka ke arah timur. Pada saat pembangunan jalur timur Bandung, Cicalengka merupakan stasiun terminus. Merupakan stasiun paling ujung timur yang memisahkan Bandung dan bagian timur. Stasiun ini diresmikan 10 September 1884, satu zaman dengan peresmian Stasiun Bandung. Pembangunan lanjutan lintasan ke arah timur, dilakukan segera. Mengingat dibutuhkannya akses menuju timur, melalui Nagreg. Jalur kereta api kemudian dikerjakan pada 1887. Pembukaan jalur Nagreg ke Lebak Jero, secara teknis sulit karena harus membobok Pasir Karamat. Disusun oleh lava masih dan tebal, dikerjakan secara manual. Menggunakan linggis, pahat dan alat sederhana lainya. Dicirikan dengan jejak penggunaan linggis, pada dinding tebing. Pembukaan jalur berupa celah yang dibobok, dengan tinggi sekitar 5-7 meter. Kemudian pada 1889 Stasiun Cicalengka menjadi lintasan dari Bandung ke Garut. Kemudian 1893, dilalui jurusan Bandung-Tasikmalaya.

Di Bagian puncak Pasir Karamat, didapati bunker. Berupa struktur bangunan dengan berbagai ukuran. Terdapat empat struktur bangunan, berjajar utara-selatan. Dibuat dari beton, dengan tebal hampir 90 cm., tanpa tulangan besi. Bentuknya seperti kubah memanjang, dilengkapi pintu dengan lebar 100 cm. terbuat dari besi. Keberadaan daun pintu sudah hilang, meninggalkan bekas engsel yang dibongkar paksa. Diperkirakan bunker ini merupakan sistem pertahanan militer, di sebelah timur Bandung. Memanfaatkan tinggian, sebagai titik strategis untuk mengamati pergerakan serangan dari arah timur. Melalui celah sempit yang diapit oleh Pasir Ciwulung sebelah utara, dan Pasir Karamat-Citiis di sebelah selatannya.

Di puncak Pasir Karamat ini, pemandangan luas membentang. Ke arah timurnya dibatasi oleh lembah Pasir Citiis. Dilintasi oleh jalur kereta api sepanjang kurang lebih 200 meter. menghubungkan Nagreg ke Lebakjero.

Sebelah utaranya terlihat kerucut, berlomba-lomba menghiasi kompleks gunungapi purba Kenda. Sistem gunungapi yang ditempat oleh kubah lava, dibatasi Nagreg sebelah barat, dan Simpenan sebelah baratnya. Diduga merupakan pusat letusan gunungapi Kendan-Sangianganjung.

Cerobong asap, peningalan pabrik pengolahan sereh di Nagreg.
Tapak linggis, pembobokan Pasir Karamat. Jalur keretaapi Nagreg-Lebakjero.
Bagian interior bunker Pasir Karamat
Struktur bunker, dengan latar G. Kaledong.

Catatan Platda Pemandu Geowisata 2025

Telah dilaksanakan kegiatan Pelatihan Dasar Pemandu Geowisata, Angkatan I. Pada tanggal 9 dan 10 Juli 2025, di Bandung. Kegiatan dua hari, dibuka dengan penyampain dalam kelas, kemudian dilanjutkan dalam kegiatan lapangan. Diinisiasi oleh Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia, dan Komunitas Geowana.

Kegiatan kelas dilaksanakan pada tanggal 9 Juli, mulai pagi hingga sore hari. Di Café Garoricahop di Setra Duta Bandung. Diikuti oleh 20 orang partisipan, dengan latar belakang yang beragam. Mulai dari pelajar dan mahasiswa, operator pariwisata, pemandu wisata hingga pegiat alam bebas.

Tujuan keikutsertaan peserta, diantaranya keingintahuan tentang wisata bumi atau geowisata, ingin terjun sebagai pelaku usaha dan pengolahannya hingga menjadi pemandu geowisata.

Pelatihan dimulai hari Rabu, tanggal 9 Juli 2025. Mengambil hari kerja, mengingat para peserta yang ikut memiliki jadwal kerja diakhir pekan. Dimulai dengan pemaparan, dan pemahaman dasar ruang lingkup wisata bumi (geowisata). Disampaikan oleh Deni Sugandi, ketua Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesian (PGWI). Dalam penyampaiannya, menjelaskan materi tentang Pengantar Geowisata Indonesia. Berupa contoh objek-objek wisata bumi di Indonesia. Keberpihakan konsep wisata kepada konservasi, edukasi dan peningkatan ekonomi lokal. Sepert contoh beberapa objek wisata yang berbasis dengan wisata bumi. Deni menunjukan seperti wisata Tebing Karaton di Dago atas, Bandung. Kemudian segmen 7 km dari outlet Bendungan Saguling seperti Sanghyang Heuleut hingga Sanghyang Kenit, kemudian Lembah Tengkorak di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang. Semuanya merupakan objek wisata bumi. Sehingga secara tidak sadar, wisatawan sudah diajak untuk berwisata bumi.

Kondisi demikian ditawarkan sebatas keindahan saja, belum menyentuh makna tentang objek tersebut. Deni menunjukan beberapa contoh proses yang terjadi, membentuk rona bumi saat ini. Seperti bentang alam berupa punggungan perbukitan, memanjang 29 km dari barat ke timur. Disebut Sesar Lembang, blok yang relatif naik di bagian blok Bandung. Kemudian blok yang turun di sebelah utara. Fenomena bumi tersebut disuarakan dalam pemanduan wisata bumi. Interpretasi atau tafsir bumi, menjadi menu utama dalam pemanduan wisata bumi.

Dalam materi selanjutnya, Deni mengutip beberapa pendapat perintisan wisata bumi. Seperti yang diajukan oleh Dowling dan Newsome (2006), berupa kotak geowisata. Di dalamnya adlaah sejarah bumi, bentuk, proses, ilmu bumi dan yang terpenting adalah pariwisata. Kemudian pada 2013 ditambahkan geo plus oleh Budi Brahmantyo. Berupa proses dinamika bumi, seperti proses pembentukan pegunungan-perbukitan, bentang alam, air terjun, pelapukan, erosi dan seterusnya.

Materi selanjutnya adalah Menyusun Program Perjalanan Geowisata. Berisi dengan pengertian dan tata cara mengelola serta menyusun itinerary. Kemampuan ini merupakan dasar kompetensi yang harus dimiliki oleh pemandu geowisata. Cara penyusunnya kemampuan Mengenali keunggulan daya Tarik geowisata; Mengenali aksesibilitas; Mengenal aturan, norma, etika di daya Tarik geowisata; Mengenali sarana dan prasarana.

Narasumber ke-dua, Gangan Jatnika dari Geowana. Mengantarkan materi yang berkaitan dengan kegiatan yang telah dilakukannya. Menjelaskan interpretasi keunggulan potensi geowisata di sekitar Cekungan Bandung. Kegiatan hari pertama ditutup dengan diskusi dan tanya jawab.

Hari kedua dilakukan praktek pemanduan. Dilaksanakan di Taman Hutan Raya Ir. Haji Djuanda. Berada di Bandung utara, sebagian besar kawasan ini menempati lembah Kordon hingga Pakar. Hutan konservasi yang dikelola di melalui UPTD Tahura Ir. Djuanda, di bawah Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat. Kegiatan berupa interpretasi koleksi seperti Pinus, Kaliandra, Mahoni, Kayu Manis, Eha (Castanopsis buruana BI.), Besi/Lara (Metrosideros Petiolata Kds.), Bolongita (Tetrameles nudiflora R. BR.), Jambu-jambu (Eugenis sp), Bintangur (Calophyllum canum Hook.f.), Kjelbelgiodendron celebica, dan Sisio (Cratoxylum formusum).

Narasumber disampaikan oleh narasumber ahli yang mengetahui koleksi di taman hutan raya ini. Ganjar Wiguna mengajak peserta pelatihan mengenal koleksi-koleksi tanaman yang dimiliki di kawasan ini. Koleksi ini tersebar di beberapa tempat, hingga menapaki jalan paving blok dari Gua Jepang hingga Gua Belanda.

Kegiatan ditutup di Gua Belanda, melalui evaluasi dan tanya jawab. Peserta merasa sama-sama belajar, dan mengambil manfaat dari hasil kegiatan pelatihan dasar Pemandu Geowiasata. Beberapa peserta bahkan melihat peluang besar, mengemas Tahura Djuanda sekitarnya menjadi paket geowisata. Kegiatan ditutup di pelataran Tahura, berupa penyampaian kesan dan pesan serta makan siang bersama.

Penyampaian materi di kelas
Materi lapangan di Tahura Djuanda Bandung
Ganjar Wiguna memberikan penjelasan koleksi Tahuda Djuanda
Pemaparan di depan Gua Jepang, Tahura Djuanda.

Catatan Geourban#32 Ganeas Sumedang

Dalam laporan prakiraan cuaca, sebagian besar langit Sumedang dibawah sergapan hujan ringan. Terbukti saat rombongan Geourban mendekati kota ini, langit sepertinya ditaungi awan tebal. Temperatur sejuk, mengantarkan kegiatan ini dari pagi hingga jelang sore. Untuk mendapatkan reportase dalam bentuk video, bisa dilihat ditautan https://www.youtube.com/watch?v=U9c54fYwE-w

Sesuai dengan pernjajian di grup Whatsaap, memilih lingkar Binokasih sebagai titik perjumapaan. Selain mudah dijangkau dan dipahami, tugu ini menjadi batas terluar sebelah timur sebelum memasuki pusat kota Sumedang. Tugu yang dihiasi oleh mahkota Binokasih, simbol penerus kerajaan Sunda abad ke-16. Pada abad tersebut Kesultanann Banten semakin mendesak kerajaan Sunda yang berkedudukan di Pakuan Pajajaran (Bogor), hingga runtuh.

Jelang keruntuhan kerajaan tersebut, Raja Sunda terakhir mengirim empat utusan disebut Kadaga Lante.Tujuaanya adalah menyerahkan simbol kerajaan Sunda, agar dilanjutkan oleh Kerajaan Sumedanglarang. Diantaranya adalah mahkota Binokasih, sebagai penegas suksesi kerajaan penguasa sebagian besar Tatar Sunda. Momen inilah yang digunakan oleh raja terakhir Sumedang, untuk menyatakan kerajaan Sumedang berdaulat. Hingga kelak, sekitar 41 tahun kemudian takluk di bawah Kesultanan Mataram, sehingga Sumedang berstatus kabupaten.

Binokasih membawa rombongan Geourban ke masa kejayaan kerajaan Sumedanglarang. Dalam kegiatan sebelumnya https://pgwi.or.id/2025/01/30/catatah-geourban31-dayeuhluhur/ mengupas satu penggalan waktu, raja terakhir Sumedanglarang. Dalam kegiatan ini menggunakan kendaraan roda dua, diikuti oleh pegiat wisata, pemandu dan peminat budaya. Kendaraan melesat menembut jalan raya Sumedang, mengarah ke utara dan memotong kota. Terlihat samar-samar satu bentuk perbukitan yang menaungi kota Sumedang, dari G. Kacapi kemudian berbelok ke arah timur.

Melewati Desa Margamukti, Kecamatan Cisarua. Melalui jalanan yang menhubungkan ke Desa Ciuyah. Jalanan kelas kabupaten, membujur dari timur ke barat. Tidak lebih dari sepeminuman teh, melampaui Cirwaru dan perbukitan Pasir Ciwaru. Jalanan menyempit membelah kampung, kemudian tiba di tinggian Ciuyah. Berupa lembah yang dipotong oleh Ci Uyah. Kiri dan kanannya ditempati hamparan sawah, tumbuh subur sepanjang masa. Sebelah barat terlihat jajaran perbukitan, dihuni oleh vegetasi lebat. Hutan tersebut berfungsi sebagai daerah tangkapa air, sehingga kawasan ini tdak pernah kekeringan.

Tujuan pertama adalah fenomena mataair Ciuyah, Ds. Ciuyah. Terletak diantara sawah warga, sebelah utara dari kantor Desa. Jarak dari jalan raya desa menuju lokasi sekitar 500 meter, melaui salura irigasi. Dilakukan dengan berjalan kaki, sejajar dengan anak sungai hingga lokasi yang akan dituju. Dari pertengahan perjalanan, terlihat lembah yang dipotong sungai, memberikan indikasi adanya pola kelurusan yang dilalui sungai. Dalam laporan tim Badan Geologi KESDM (Saputra drr., 2023), survey seismisitas Gempa Sumedang 31 Desember 2023. Menemukan perkiraan sesar melalui survey lapangan dan morfotektonik. Mengintepretasi adanya pola sesar naik berarah relatif barat-timur, terpotong oleh sesar mendatar berarah timurlaut-baratdaya. Buktinya terlihat kehadiran cermin sesar sebagai sesar mendatar pada badan sungai. Kajian tersebut menindaklanjuti survey Pusat Air Tanah dan Geologi Lingkungan, Badan Geologi. Mengkonfirmasi keberadaan sumber mata air asin di tinggian Desa Ciuyah.

Keberadaan mataair ini diduga sebagai air yang terperangkap apda batuan sedimen, muncul kepermukaan karena diberi jalan oleh retakan pada batuan. Akibat adanya tekangan dari bawah, pembukaan celah yang memungkinkan naiknya fluida ke permukaan. Disebut mata air formasi atau mata air yang berasosiasi dengan batuan sedimen (connate water).

Dalam fisografis pulau Jawa, Sumedang merupakan bagian dari Zona Bogor (Martodjojo. 1984). Zona ini meliputi sebagian besar Sumedang, merupakan perbukitan lipatan yang terbentuk dari batuan sedimen laut dalam. Sehingga diperkirakan sebagian besar Sumedang masih berada di dasar laut. Seiring waktu diendapkan batuan sedimen laut dalam, berupa batupasir-batulempung pada Miosen Tengah hingga Miosen Akhir atau sekitar 23-15 juta tahun yang lalu. Seiring dengan pengendapan batuan sedimen, terdapat cekungan yang menjebak air laut pada saat itu. Pada umur Pliosen terjadi pengangkatan, diakibatkan oleh tektonik. Mengakibatkan pendangkalan dan pensesaran, seperti yang diduga hadirnya sesar Ciuyah.

Mata air tersebut muncul ke permukaan, berasosiasi dengan sesar. Air yang berada jauh di kedalaman lebih dari 1000 meter di bawah permukaan, disebut air formasi (connate water). Debitnya tidak terlalu besar, rasanya asin dan tidak mengindikasikan kenaikan temperatur. Merupakan rembesan, dicirikan dengan munculnya gelembung. Tingkat kegararamannya mendekati air laut, dengan pH 6,7 (Survey PAGTL, 2023).

Di lokasi tersebut ditemukan dua sumur, dibuat oleh pemilik lahan dengan tujuan untuk kegiatan ritual atu pengobatan. Dari informasi warga, lokasi ini sering dikunjungi pada waktu tertentu, sebagai sarana penyembuhan dari penyakit. Beberapa pengunjung melaksanakan niat untuk mandi atau sekedar membersihkan diri. Dengan demikian pemilik lahan memasang kain penutup warna putih, disekeliling sumur mata air Ciuyah. Bahkan beberapa pengunjung menyempatkan mengambil air, sebagai sarana penyembuhan.

Perjalanan ke arah timur, menemui situs Batukuya, Ds. Cimara. Blok batuan yang jatuh dari puncak Pasir Pabeasan. mengendap di sawah warga. Akibat pelapukan, membentuk seperit kura kura. Menurut warga, batu tersebut menjadi penghias alam namun ada juga yang mempercayai sebagai situs ritual.

Berada diantara sawah warga, Desa Cimara, Cisarua, Sumedang. Disebut kuya atau kura-kura dalam bahasa nasional, karena mirip dengan binatang reptil tersebut. Dicirikan dengan adanya rumah atau batok seperti kubah, dan kepala yang menjulur keluar.

Dari ukurannya cukup besar, panjang sekitar 2 meter, dan lebar 1 meter. Tingginya tidak lebih dari 90 cm. Dari sekilas pengamatan, disusun oleh batuan beku. Sumbernya diperkirakan dari bukit yang berada di sebelah tenggara dari Pasir Pabeasan. Akibat kegiatna pelapukan tingkat lanjut, mementuk blok batuan yang jatuh kemudian mengendap diantara pesawahan. Sebagian besar telah mengalami pelapukan, membentuk rekahan-rekahan. Batuan penyusunnya bagian dari Pasir Pabeasan, ditaksir sebagai batuan intrusi batuan beku. Warna batuan abu-abu cerah, mengindikasikan jenis andesitik.

Dari keterangan warga, keberadaan batu Kuya ini awalnya ada di atas perbukitan. Kemudian pindah ke arah lereng, diantara sawah warga. Posisinya berada sekitar 50 meter dari jalan Desa Cimara.

Mendaki ke arah barat, mendekati puncak Pasir Pabeasan. Didapati singkapan batuan beku tebal, tegak dan tetutupi oleh hutan bambu. Berupa perbukitan intrusi batuan beku, membentuk gawir terjal setinggi 10 meter. Berupa lava tebal yang telah mengalami pelapukan dan terdeformasi. Membentuk struktur kekar lembar dan bidang-bidang rekahan. Diantaranya didapat ceruk yang dipercayai sebagai sarang macan, atau disebut liang meong. Ukuran lubangnya memiliki lebar sekitar 1 meter dan tinggi 1,5 meter, berupa lorong kecil. Keberadaanya kini ditutup oleh warga, dengan cara ditimbun dengan menggunakan tanah yang diambil dari sekitar gua. Menuju lokasi tersebut, melaui pesawahan warga, kemudian mendaki mengikuti kontur lereng hingga kearah puncak perbukitan.

Di bagian puncak perbukitan tersebut, ditemui situs Pasir Pabeasan. Situs yg kepercayaan/agama nenek moyang. Berupa batu tegak, disusun diantara bongkahan batuan. bentuk demikian bisa ditafsirkan sebagai matu menhir.

Perjalan dilanjutkan ke arah selatan, menyeberangi Ci Peles di daerah Cibangkong. Kemudian dilanjutkan ke arah jalan raya Wado, berbelok ke arah timur dan mengambil jalan desa Cibogo. Pintu masuk berada diobjek wisata Bale Citembong Girang, dilanjutkan berjalan kaki sekitar 15 menit ke arah selatan.

Keberadaa situs Pasir Kabuyutan, masuk ke dalam wilayah Desa Ganeas. Disebut Situs Kabuyutan Citembong Girang. Sistem religi nenek moyang, berupa susunan batuan dengan berbagai ukuran. Ditata menyerupai altar. Menurut warga sudah digunakan oleh raja Sumedang pertama, sekitar abad ke-8. Berada dilereng perbukitan, dicirikan dengan keberadaan pohon beringin Ficus benjamina yang tinggi menjulang. Diperkirakan umurnya ratusan tahun, dengan akar yang menjalar kesegala arah.

Keberadaan pohon beringin selalu dikaitkan dengan tempat sakral. Dibeberapa kebudayaan dipercaya sebai tempat tinggal roh nenek moyang, memiliki keukuatan mistis sehingga sering digunaan sebagai tempat ritual.

Lokasi penutup berkunjung ke Situs Batu Guling. Desa Kaduwulung. Ditemui beberapa blok batuan, berupa breksi lahar hasil kegiatan gunungapi. Dari keterangan warga, batuan tersebut dijatuhkan dari perbukitan Dayeuhluhur. Dengan tujuan untuk menghancurkan pasukan Cirebon yang berusaha menyerang dari arah timur. Terjadi pada saat penyerangan Cirebon ke Dayeuhluhur, pada tahun 1585. Blok batuan tersebut digulingkan, kemudian mengendap disekiar Desa Kaduluwung, menjadi situs disebut Batu Gulung.

Blok batuan beku berbentuk kuya (kura-kura)
Situs Pasir Pabeasan
Situs Kabuyutan Citembong Girang

Geouban# 30 Jayamekar

G. Bandera merupakan bagian dari puncak-puncak yang berada di sebelah utara Waduk Saguling. Bentuknya berupa perbukitan yang memanjang baratdaya-timurlaut, mulai dari Jayamekar hingga Cikande. Dari peta Rupa Bumi Indonesi/RBI Lembar Padalarang (2000), menuliskan beberapa puncak. Disebelah timur puncak G. Bakung 816 m dpl., G. Puter 889 m dpl., Pasir Lampegan 868 m dpl. kemudian masih berjajar ke arah timur dengan posisi lebih tinggi G. Pancalikan 963 m dpl., G. Halimun 972 m dpl. kemudian melandai ke arah barat. Ditempati Pasir Sopak 856 m dpl., dilanjutkan Pasir Cibuntu 856 m dpl.

Jajaran perbukitan tersebut bagian dari Rajamanda Ridge, atau punggunga Rajamandala. Sejajar dengan jalan raya penghubung Bandung-Cianjur di Citatah, Padalarang. Jalan raya ini membelah perbukitan karst, yang disusun oleh batuan karbonat. Ditafsirkan sebagai karang penghalang/barrier reef (Siregar, 2005) yang diendapak sejak Oligosen Akhir hingga Miosen Awal, sekitar 25-15 juta tahun yang lalu.

Sedangkan kelompok G. Bendera yang berada disebelah selatannya, disusun oleh sedimen klastik gunungapi. Satuan batuannya disusun oleh hasil pengendapan dilaut dalam, seiring waktu terangkat hingga 670-900 m dpl. dpl., lebih. Buktinya tersingkap berupa batulanau dan batupasir tebal di Cikande, hasil kegiatan perlipatan serta tersesarkan. Ke arah selatannya, sekitar Cigintung, ditemui sisa penambangan yang menyinkapkan endapan gunugapi umur Kuarter. Tebal dan membentuk perbukitan, kemudian melandai ke arah selatan.

Mari temui bukti pebukitan terlipat, melalui pengamatan di puncak G. Bendera. Bukti endapan laut dalam di Cikande dan hasil letusan gunungapi berupa endapan awan panas (ignimbrite) di Cigintung. Hasil letusan gunungapi kelas plinian, mengalirkan awan panas sejauh 19 km dari pusat letusan (Pyroclastic density currents). Akibat temperatur tinggi hingga lebih dari 500 derajat celcius, kemudian terelaskan (welded).

Hari/Tanggal
Sabtu, 1 Februari 2025

Waktu
08.00 WIB sd. 13.00 WIB

Titik pertemuan (meeting point)
Geotheather Hawu-Pabeasan, Cidadap, Padalarang

https://maps.app.goo.gl/DFsof9faAExBjxPv5

Syarat dan ketentuan
Kegiatan bersifat mandiri dan probono, dipersilahkan mengatur moda transport (disarankan roda dua). Mohon dipersiapkan kelengkapan kondisi cuaca, kegiatan hiking dan kebutuhan pribadi lainya.

Tentang Georuban
Berjalan sejak 3 tahun yang lalu, oleh Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia. Menginisiasi, menggali wisata bumi, melalui narasi, interpretasi dan membuka jaringan silaturahmi lokal.

Catatan Geourban#24 Panyandaan

Lerengnnya melampar hingga batas jalan raya Ujungberung. Merupakan tekuk lereng aliran dan piroklastik PraSunda dan Sunda, hingga dibatasi oleh dataran rendah ke arah selatan. Dibagian utaranya merupakah blok naik Sesar Lembang segmen Batuloceng.

Lereng tersebut disusun oleh aliran lava tebal G. Prasunda dan Sunda. Kemudian ditutup oleh piroklatik yang telah lapuk. Seiring waktu tererosi kuat, membentuk lembahan ditoreh air dan membentuk sungai-sungai. Alirannya bergeraka ke utara, kemudian masuk menjadi badan air disebut Danau Gegerhanjuang. Merupakan bagian dari sistem Danau Bandung Purba bagian timur, yang mengalami pengeringan. Dalam peta lama F. de Haan (1911), danau tersebut mendekati susut dan ditempati oleh rawa disebut Muras. Melampar dari batas tekuk lereng Ujungberung, hingga ke arah selatan hingga batas aliran Ci Tarum.

Disebut Muras Gegerhajuang, bagian dari sistem danau Bandung Purba. Segmen rawa ini menempati dataran rendah dengan elevasi 678 m dpl. Membentuk rawa (muras), membentang dari utara sekitar jalan raya Ujungberung, kearah selatan hingga dibatas jalan raya Baleendah-Ciparay.

Kondisi demikian menyebabkan hunian berada di sebelah utara, menghindari rawa. Lingkungan tersebut mengundang hadirnya malaria. Selain itu rawa bukannlah tempat yang tidak ideal untuk mendirikan rumah, karena kondisi permukaanya yang mudah amblas. Termasuk sulitnya mendapatkan air layak minum. Sehingga hunian dan peradaban bergeser ke arah utara, relatif lebih aman, sumber daya alam melimpah dan lebih sejuk.

Lahan yang subur, menarik juragan perkebunan Andries de Wilde merintis perkebunan kopi di utara Ujung Berung jauh sebelum jalan Raya Pos Daendels dibuat. Pembuatan jalan tersebut bertujuan menggerakan distribusi pengiriman kopi dari priangan pedalaman hingga ke Batavia melalui Cikao Bandung Purwakarta. Sedangkan jalur distribusi ke arah timur, didistribusikan di gudang kopi di Karangsambung. Lokasi tersebut kini jembatan Ci Manuk di perbatasan Sumedang dan Majalengka atau sekitar Tomo.

Kondisi alam demikian, mendorong budaya menyebar ke arah utara atau sekitar Cimenyan. Kehadiran peradaban tersebut, dikuatkan dengan keterangan dari catatan perjalanan Bujangga Manik. Diyakini kebudayaan disekitar utara muras tersebut hadir sejak abad ke-16. Dicirikan dengan temuan situs budaya dan kepercayaan masyarakat lokal tentang sebaran patilasan.Tinggalan budaya berupa pekuburan tua dengan ciri seperti circle stone (batu gelang). Tersebar di Pasir Panyandaan, Cimenyan hingga berbatasan dengan Caringintilu, Kabupaten Bandung di bagian baratnya.

Kebudayan lama tersebut hidup di atas endapan batuan gunungapi purba. Disusun lava dan piroklasatik. Aliran lavanya mebentuk struktur berlembar, akibat proses pembekuan dan kondisi geologi. Dibeberapa keterangan lama, menyebutkan bentuk demikian adalah wujud dari struktur bangunan (candi?). Struktur kekar lembar (sheeting joint), dimanfaatkan sebagai penghias bangunan pemerintahan, seiring rencana pemindahan ibukota Hindia Belanda ke Bandung.

Bukti endapan aliran lava masih terlihat jelas, di Curug Batu Templek, Cisanggarung dan di Sentak Dulang. Dua lokasi kegiatan penambangan, yang sudah dibuka sejak jama kolonial.  Bukti penggunaan batuan tersebut dicatatkan Haryoto Kunto (1986), pondasi Gedung Sate menggunakan batuan yang diambil dari kawasan ini. Batuannya idelal, keras dan memiliki struktur berlembar sehigga disebut struktu sheeting joint, atau kekar lembar. Terbentuk demikian akibat pelepasan beban penutup, sehingga terbentuk rekahan yang mendatar. Dimanfaatkan dengan cara mencongkel rekahan tersebut dan digunakan sebagai pondasi hingga sebagai estetik bangunan.

Asal-usul lava tersebut bersumer dari kegiatan letusan guungapi purba, hadir jauh sebelum Danau Bandung Purba terbentuk. Dalam Peta Geologi Lembar Bandoeng (Geologische Kaart van Java), disusun oleh Bemmelen (1934) menyebutkan litologinya merupakan batuan gunungapi tua. Kemudian didetailkan dalam pemetaan stratigrafi gunungapi oleh Soetoyo dan Hadisantono (1992), merupakan aliran lava hasil letusan gunungapi PraSunda (Prs), kemudian ditutupi oleh produk gunungapi berikutnya yaitu G. Sunda (Sl). Berupa lava andesit abu-abu gelap, porfiritik dengan fenokris plagioklas, piroksen dan sedikit mineral bijih dalam masa dasar gelas dan mineral halus.

Di Pasir Panyandakan, menerus hingga Sontak (sentak?) Dulang, merupakan produk gunungapi PraSunda. Lava ini dianggap paling tua karena kontak langsung dengan batuan sedimen umur Tersier (Soetoyo dan Hadisantono, 1992).

Kebutuhan sumber daya alam tersebut, seiring dengan rencana pemindahan ibu kota Hindia Belanda. Dari Batavia atau Jakarta saat ini ke dataran tinggi Bandung. Arsitek pembangunannya adlaa Silors, duduk sebagai kepala Dinas Bangunan Kotapraj (Gemeentelijk Bouwbedrijf). Tuga utamanya adalah merancang dan emmbangun kompleks bangunan pusat instansi pemerintahan Hindia Belanda di Kota Bandung.

Tambang batu di utara Arcamanik turut menyumbangn pembangunan kota, diantaranya adalah pembangunan gedung Departemen Pekerjaan Umum, Kantor Pusat PTT, Departemen Kehakiman, Departemen Pendidikan dan Pengajaran, Departemen Keuangan dan seterunya. Semuanya dibangun dalam satu kompleks, sejajar ke arah utara dari Gedung Sate saat ini.

Mendaki ke arah utara, menunggangi punggungan Pasanggrahan. Setelah melewati SD Cikawari, jalanan terus menanjak. Pemandangan terbuka luas kesegala penjuru, dihiasi ladang warga yang semakin mendesak ke wilayah Perum Perhutani.bentang alamnya berupa punggungan perbukitan. Sebagian besar wilayahnya ditempati oleh perkebunan warga, pemilikan lahan pribadi. Melampar dari timur ke barat, menempati sebagian besar lereng G. Palasari hingga sebelah timur berbatasan dengan G. Manglayang.

Hanya beberapa tinggian, berupa puncak-puncak bukit yang ditempati oleh tinggalan budaya. Menandakan nenek moyang sudah memandukan bentang alam dan dataran tinggi sebagai tempat yang sakral.

Dalam laporan Rohtpletz hasil kompilasi dari beberapa laporan terdahulu, menuliskan penemuan tinggalan budaya serta situs-situs prasejarah megalitik. Dituliskan di perbukitan titik triangulasi KQ 273, menyebutkan ditemukan beberapa serpih obsidian. Rothpletz menuliskan Künstliche Steilböschungen (vor allem bei Kuppen), diterjemahkan puncak bukit dengan lereng yang curam. Bentuk alam yang memanfaatkan tinggian, kemudian ditata sedemikia rupa. Dalam keterangannya disebutkan juga didapati situs makam pra-Islam (Präislamitische Grabanlagen).

Titik tersebut terdapat di sebelah utara dari kompleks Pondok Pesantren Baitul Hidayah. Berupa kuburan lama yang disusun oleh batuan andesit-basal, tersedia melimpah disekitar perbukitan. Disusun oleh batuan membundar sebesar kepalan tangan hingga bola sepak, kemudian ditemui juga batu ceper yang diduga didatangkan dari sekitar Sentak Dulang. Lokasi penambangan Batu Templek yang berada di sebelah selatannya.

Dalam laporan Johan Arief dalam artikel Misteri Danau Bandung (https://fitb.itb.ac.id/misteri-danau-bandung/), disebut situ Panyadaan 1. Satu situs lagi berada di sebelah timur disebut Situs Panyandaan 2. Dalam keterangannya merupakan temapt palitas atau tilem.moksa Eyang Sri Putra Mahkota Raden Mundingwangi, putra dinasti ke-8 dari Raja Sunda.

Berjalan ke arah utara, ditemui punggungan perbukitan yang ditempati bongkah-bongkah batuan yang telah lapuk. Warga menyebutnya Batu Buta, atau batu dengan ukuran besar. Menempati bagian puncak punggungan bukit, tersebar memanjang dari utara ke selatan. Ukurannya beragam, mulai dari ukuran sebesar kelapa hingga mendekati ukuran mobil. Di sebelah timurnya yang dipisahkan oleh lembah, didapati kuburan tua. Masyarakat menyebutnya Makam Waliyullah Eyang Jaya Dirga. Dalam laporan Rothpletz merupakan gundukan tanah berbentuk elips, disusun oleh batuan gunungapi. Ukuran panjang sekitar 4,8 meter, dan lebar 3.4 meter. Dalam laporan Johan Arif (2024), didapati empat mehir dari batuan andesit disetiap sudut gundukan tanah.

Sebelah selatan dari Batu Buta berupa hamparan ladang warga. Didapati batuan obsidian, melimpah dipermukaan tanah. Ukurannya sangat beragam, mulai dari ukuran koin hingga kerakal dan tersebar dipermukaan. Lahannya sebagian besar pemilikan pribadi, kemudian diusahakan menjadi perkebunan palawija hingga sayuran.

Keberadaan fragmen obsidian tersebut menjadi tanda tanya besar, bagaimana bisa tersebar di dataran tinggi daerah Panyandaan. Apakah lokasi ini menjadi jalur perlintasan pengangkutan batuan obsidian? atau malahan menjadi tempat pengerjaan membentuk bongkah menjadi alat untuk berburu. Karena fragmen yang didapati disekitar wilayah ini tidak berbentuk mikrolitik, seperti mata tombak, panah atau alat untuk menyayat/pisau. Sebagian besar fragmen yang dikumpulkn berupa fragmen serpih yang diduga merupakan sisa atau sampah produksi pengerjaan alat batu.

Keberadaan fragmen obsidian ini tentunya menarik, selain pernah dilaporkan sebelumnya oleh Rothpletz pada akhir pendudukan kolonial. Hingga kini masih bisa ditemui, seperti pada laporan hasil penelusuran budaya obisidian di utara Bandung. Seperti yang ditelursuri oleh Anton Ferdianto (2012), melaui penelitian Balar Arkeologi Bandung. Melaporkan sebaran obsidian sebagian bear berada di utara Bandung. Diantaranya ada 14 titik yang mengandung temuan obsidian seperti di segmen Dago Pakar, Pasir Soang, daerah Cikebi, Kawasan Cimenyan termasuk Pasir Panyandaan.

Seperti yang diungkapkan pada hasil penelitian sebelumnya. Keberadaan sebaran batu obsidian ini ditemukan tidak hanya disebelah utara Bandung, tetapi menyebar hingga kawasan karst Citatah hingga Bukit Karsamanik.

Keberadaan fragmen obsidian yang melimpah di sekitar Pasir Panyandaan, menjadi tanya tanya besar. Bagaimana batuan tersebut berasal, kenapa tersebar begitu banyak dan mudah ditemui dipermukaan perkebunan. Apakah dibawa oleh peradaban lama, kemudian dimanfaatkna menjadi alat batu? Apakah Dago Pakar merupakan satu-satunya tempat pembauatan perkakas batu? Temuan tersebut menjadi menarik untuk dijawab melaului penelitian lanjutan.

Pemaparan di Batunyusun
Keterdapatan obsidian di sekitar Pasir Panyandaan yang melimpah
Pelapukan pada batuan di Pasir Panyandaan
Kuburan yang diduga praIslam di Pasir Panyandaan

Geourban#22 Ciater

Kaki gunung sebelah timur Tangkubanparahu, memiliki cerita bumi dan sejarah sistem pertahanan militer perang dunia ke-2. Jalan dari utara ke selatan, penghubung Subang-Bandung. Jalur sempit yang mengikut tekuk lereng G. Tangkubanparahu, dan berkelak-kelok menanjak mengikuti kontur perbukitan.

Lerengnnya disusun piroklastik, dan lava membentuk perbukitan yang melandai ke arah timur. Gunungapi ini mulai membangun dirinya sejak 90 ribu tahun yang lalu, menghasilkan aliran lava ke arah Ciater. Terlihat tiga perbukitan intrusi yang kini menjadi menara pandang perkebunan teh Ciater. Ditafsir gunungapi kerucut sinder, umurnya lebih tua dari yang menjadi saksi pembentukan G. Tangkubanparahu.

Disebelah baratnya, dilalui jalan Raya Subang-Bandung. Tentara Kerajaan Belanda (KNIL), membut sistem pertahanan yang memanfaatkan celah sempit Cingasaahan. Membangun bungker (pilbox), untuk menahan laju pasukan Jepang yang masuk melalui Kalijati Subang. Setelah dua hari pertempuran hebat, 7 Maret 1942 KNIL menyerah dan Jepang mengusai Bandung. Mengakhiri kekuasaaan kolonial di Jawa dan sebagain besar Indonesia.

Mari temui jejak letusan G. Tangkubanparahu, perbukitan intrusi G. Malang-Palasari. Peran kontur tekuk lereng yang digunakan sebagai basis pertahanan militer KNIL Belanda di sekitar Cipangasahan, Ciater.

Hari/Tanggal
Sabtu, 3 Agustus 2024

Waktu
07.00 WIB sd. 13.00 WIB

Titik Pertemuan
Gerbang Tangkubanparahu
https://maps.app.goo.gl/kU5o14fb8dMcvCqv9

Syarat dan ketentuan
Kegiatan probono, bersifat mandiri (transport, logistik) dipersiapkan sendiri. Disarankan menggunakan motor/roda dua laik jalan.

Tentang Geourban
Diinisiasi oleh PGWI, menjalin jejaring lokal, menggali tafsir tapakbumi dan syiar geowisata.

Geoliterasi Buku Geowisata: Bincang Buku Narasi Geowisata Cekungan Bandung

Telah dilaksanakan kegiatan dengan tema geowisata, di aula ruang publik, kantor Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Jawa Barat (7/6, 2024). Pertemuan ini difasilitasi oleh Bidang Destinasi Pariwisata, melalui kehadiran langsung Kepala Bidang Destinasi Pariwisata, Disparbud Jabar yaitu  ibu Ani Widianti. Acara dimulai pukul 16.30 WIB hingga 18.00 WIB. Di tempat yang sama dalam waktu sebelumnya, telah di launching oleh Kadis Parbud Jabar. Pelatihan dan Sertifikasi Pemandu Geowisata di lima Kabupten/Kota Jawa Barat, mulai tanggal 19 Juni di Kab. Pangandaran hingga tutup bulan.

Dalam kesempatan ini hadir para narasumber, mewakili para penulis geowisata. Diantaranya hadir Deni Sugandi, penulis buku Kaldera Sunda: Jejak Plinian di Pringan (2024), Gangan Jatnika penulis buku Lingkung Gunung Bandung#1 (2024). Sebagai penanggap diskusi adalah hadir T Bachtiar, penulis dan pegiat geowisata. Kegiatan ini sebagai upaya sosialisasi geowisata Jawa Barat, yang diinisiasi oleh asosiasi Pemandun Geowisata Indonesia (PGWI), bekerja sama dengan Disparbud Jawa Barat.

Kegiatan dilaksanakan di ruang publik, kantor Disparbud Jawa Barat. Dihadiri oleh lebih dari 50 orang, dari unsur para pegiat, pemandu, pengelola destinasi wisata hingga dari kampus.

Diskusi dibuka oleh Deni Sugandi selaku moderator, memberikan tema atau batasan diskusi tentang geliat geowisata di Jawa Barat. Melalui penerbitan karya intelektual penyusunan buku, tentang geowisata diseputaran Cekungan Bandung. Geowisata adalah aktifitas wisata yang berlandaskan tentang sejarah bumi, fitur bentang alam, hingga proses dinamik bumi yang sedang terjadi kini. Deni menambahkan bahwa saat ini geowisata telah memiliki nilai ekonomi, melalui pemberdayaan lokal sebagai pemilik wilayah.

Deni memberikan gambaran tentang buku Kaldera Sunda, sebagai bukti letusan gunungapi. Melalui buku tersebut, Deni menelusuri kembali jejak-jejak bukti material letusan.

Dalam pemaparan singkat, T Bachtiar menyampaikan bahwa narasi tentang kebumian telah banyak ditulis. Baik melalui penerbitan buku, artikel, hingga aktivitas yang bertemakan tentang geowisata. Narasi-narasi tersebut telah dibunyikan oleh para pegiat, seperti yang dilakukan Bachtiar melalui komunitas Geotrek Matabumi.

Menurut Bachtiar, narasi tersebut sebagai dasar dalam kegiatan geowisata. Digunakan oleh para pemandu, untuk mempresentasikan bentang alam, hingga proses bumi yang terus berlangsung hingga kini. Sehingga Bachtiar menegaskan bahwa pemerintah, melalui dinas pariwisata tidak perlu repot-repot membuat kajian karena data sudah disediakan oleh pegiat dan komunitas geowisata.

Diskusi dilanjutkan oleh paparan singkat dari Kabid Destinasi Pariwisata, yang mengatakan begitu pentingnya pengelolaan sampah di destinasi geowisata. Ibu Ani Widiani tidaklah begitu setuju dengan objek wisata dadakan, seperti pengemasan wisata melalui bentuk platform yang dihiasi oleh tulisan-tulisan ataupun bentuk yang kurang mendukung. Karena menut Ani, alam sudah memberikan keindahannya sehingga di objek wisata tidak perlu lagi dipasang seperti bentuk kupu-kupu atau lain sebagainya. Begitu juga dengan pengelolaan di destinasi taman bumi (Geopark) di Jawa Barat, Nia menegaskan perlunya pengelolaan dan perencanaan pembangunan destinasi yang baik. “Saya dulu bertugas di Bappeda Jabar, sehingga tahu betul pentingnya pengelolaan destinasi” tegasnya.

Penyaji berikutnya mengetengahkan gunung-gunung yang melingkupi Cekungan Bandung. Ganggan Jatnika menguraikan upaya menulis, melalui pengumpulan data, hingga mengkompilasinya menjadi satu buku. Buku ini merupakan edisi pertama yang memuat sebagian gunung yang ada di luar lingkar Cekungan Bandung, sebutannya.

Sebagai penutup dalam diskusi, Deni memberikan catatan bahwa perlu penggalian narasi-narasi yang berkaitan dengan geowisata. Baik dilakukan perorangan, komunitas hingga perlunya dukungan lembaga khususnya pemerintahan. Selebihnya adalah perlunya dukungan pemerintah, agar para pegiat geowisata ini bisa diberikan tempat untuk mendorong pergerakan ekonomi melalui wisata berbasis kebumian.

Bincang Buku Geowisata Seputar Cekungan Bandung

Bincang Buku Geowisata (Jawa Barat), 7 Juni 2024

Buku sebagai sumber informasi, berisi ribuan pinjaman kata-kata dari buku sebelumnnya. Dikumpulkan dan disusun menjadi tafsir baru, seperti yang digarap dalam Kaldera Sunda: Letusan Plinian di Priangan, dan Lingkung Gunung Bandung#1.

Narasi tersebut sebagai bahan “story telling”, mengungkapkan bentukan alam yang tersaji saat ini. Berupa bentang alam, fitur hingga proses dinamika bumi yang terus aktif hingga kini. Dalam bentuk gunungapi meletus, gempa, longsor yang menata wajah Priangan.

Mari bergabung dalam acara Bincang Buku Geowisata, mengupas dua buku penerbitan tahun 2024. Tentang jajaran pegununungan dan perbukitan yang mengepung Cekungan Bandung, serta kisah sejarah pembentukan gunungapi kelas letusan katastropik di utara Kota Bandung.

Hari/Tanggal
Jumat, 7 Juni 2024

Waktu
Pkl. 15.30 WIB sd. 18.00 WIB

Venue
Ruang Publik Seni Kreatif Disparbud Jawa Barat
https://maps.app.goo.gl/LuHh7h4JJdfui2An6

Tentang kegiatan
Dinisiasi oleh asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI). Bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Jawa Barat. Bertujuan syiar geowisata di Jawa Barat dan menjalin silaturahmi pegiat, praktisi, pemandu geowisata.

Kegiatan free, dipersilahkan langsung hadir!.