Catatan Geourban#46 Cikembang

Perjalanan Geourban ke-46, menapaki kembali bukti budaya yang pernah hadir di sekitar Bandung bagian selatan. Wilayah yang dibelah oleh Ci Tarum, mengalir dari selatan, kemudian di Ciparay berbelok ke arah barat. Pengalirannya membagi Cekungan Bandung bagian utara tengah dan bagian selatan. Bagian selatan ditempati oleh dataran rendah, mulai dari Ciparay-Majalaya di bagian timur dan Dayeuhkolot-Baleendah ke arah barat.

kegiatan ini bertujuan mengulas kembali sejarah budaya dan bumi, melalui kegiatan wisata bumi. Dilaksanakan pada hari Kamis, 25 September 2025. Diikuti oleh para partisipan dengan latar yang berbeda, pegiat wisata, pemandu, pegiat literasi kolonial hingga pelaku wisata alternatif. Dimulai selepas pagi, di percabangan Sumbersari, Ciparay Sapan. Dimulai dengan penyampaian briefing oleh Deni Sugandi, selaku inisiator komunitas Geourban.

Jelang pukul 8.15 wib. Rombongan pengguna transportasi roda dua, diarahkan ke bantaran Ci Tarum. Mengunjungi situs Candi Bojongemas, ditepi jalan penghubung Tegalluar ke Solokanjeruk. Tepatnya berada di samping kompleks Puri Melia Asri. Bojongemas. Solokanjeruk. Berupa situs sejarah, berupa koleksi batuan yang terdiri dari beberapa bongkah. Batuan tersebut berbentuk persegi panjang, dengan ciri beberapa cukilan dan coakan. Membentuk persegi panjang, dengan ukuran rata-rata antara 30 cm, dengan panjang 60 hingga 90 cm. batuannya dipahat secara halus, dibentuk sedemikian rupa. Diantaranya didapati coakan geometris, diperkirakan digunakan sebagai alas pengunci blok batuan. Dengan demikian merupakan hasil pengerjaan manusia.

Didapati batuan dengan bentuk tiang, disebut kekar kolom. Bentuk batuan yang biasanya dijumpai sebagai batuan penyusun Situs Gunung Padang di Campaka, Cianjur. Ukuran kekar kolom tersebut sekitar 40 cm, dengan panjang sekitar 120 cm. ditempatkan diatas tumpukan batuan candi. Keberadaan kekar kolom tersebut menjadi misteri, karena tidak adanya kesinambungan konsep budaya di strata budaya pendukung candi. Bila melihat foto dari postingan di web BKN 1 Oktober 2019, kemudian artikel Detik Jabar 10 Juli 2022 dan terakhir dari artikel di Komunitas Aleut pada 23 Maret 2024, kekar kolom tersebut belum ada. Sehingga diduga keberadaan batuan tersebut, ditempatkan menjelang tahun 2025-an. Siapa yang menempatkan di sana, tujuannya untuk apa? Belumlah bisa dijawab. Kemungkinan lainya adalah penemuan baru di dasar Ci Tarum, mengingat keberadaan blok batuan lainya diambil dari dasar sungai. Bila memeriksa kembali posisi sungai berdasarkan peta lama 1903, telah terjadi pergeseran ke arah utara. Sehingga keberadaan candi tersebut, dierosi oleh sungai. Sesuai dengan lokasi penemuan pada

Beberapa pendapat mengatakan bahwa budaya pendukungnnya hadir sekitar abad ke-7. Dicirikan dengan hadirnya arca Durga Mahisasuramardini, saat ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

Bergeser ke arah selatan, melintasi Ciparay kemudian ke arah Majalaya. Tinggalan budaya di lokasi ke-dua ini menemui tinggalam budaya, berupa Yoni. Disebut Situs Yoni Tanggulun, Majalaya. Berada di bantaran Ci Gandok. Anak sungai yang bermuara di Ci Tarum, sekiar Ibun. Berupa Yoni, berbentuk kotak memanjang, dengan ukuran lebar dan panjang yang sama sekitar 40 cm. Tingginya sekitar 60 cm, bagian bawahnya kini ditutupi oleh adukan semen.

Menurut warga, keberadaan situs ini terletak di sebidang tanah yang dahulu ditumbuhi pohon lebat. Sehingga keberadaan tempat tersebut menjadi sakral bagi sebagian warga. Namun seiring pertumbuhan penduduk sekitar Tanggulun, menyebabkan pengambilalihan lahan untuk kuburan warga. Sehingga keberadaan situs Yoni tersebut seringkali berpindah posisi, karena saat itu belum masuk ke dalam cagar budaya. Menurut Away, salah satu partisipan Geourban menyebutkan bahwa keberadaan Ci Tarum semakin menyempit. Akibat perubahan tata guna lahan, okupasi bantaran sungai oleh hunian hingga sedimentasi tinggi. Mengakibatkan lebar sungai semakin menyempit. Kondisi demikian menyebabkan terjadi luapan sungai akibat hujan, terutama pada saat musim basah. Away menuturkan bahwa dahulu diperlukan bantuan perahu untuk menyeberangi Ci Tarum, ke arah selatan dari situs. Namun kini keberadaan sungai tersebut semakin menyempit.

Beberapa pendapat menyebutkan kehadiran situs ini sekitar abad ke-12, merupakan batas sebuah wilayah. Dengan demikian perlu penggalian sejarah lebih dalam, mengingat keberadaan Yoni tersebut semakin tidak diperhatikan.

Dari Tanggulun, kemudian bergeser ke arah selatan menuju dataran tinggi Pacet. Sekitar Sukapura, jalanan meliuk-liuk mengikuti kontur jalan. Sekitar Situ Dua Tonggoh, Cikitu, didapati situs yang dikeramatkan warga. Berupa blok batuan yang disusun oleh batuan gunungapi. Posisi batu tersebut seperti ditancapkan dan tegak, sehingga masyarakatnya menyebutnya Batu Nanceb. Warga batuannya abu-abu gelap, dengan ukuran tinggi sekitar 2,5 meter dan lingkar sekitar 2 meter lebih. Keunikan batuan tersebut memiliki goresan garis vertikal, mengikuti posisi batuan tersebut, sehingga membentuk bidang geometri. Diperkirakan bongkah tersebut meupakan produk letusan G. Malabar yang berada di sebelah barat. Berupa blok batuan yang tererosi dan telah lapuk.

Masyarakat mempercayai situs Batu Nanceb merupakan batas dari wilayah Galuh dan Pakuan Pajajaran. Sebagian lagi menduga, bahwa lokasi ini menjadi batas Danau Bandung Purba. Keberadaan batuan tersebut berada di lereng perbukitan, sejajar dengan perumahan warga yang semakin mendesak ke arah lereng.

Situs budaya lainya adalah Situs Batu Korsi, di Kampung Lodaya Kolot, Tarumajaya, Kertasari. Berupa bongkah batuan,disusun oleh lava. Bentuknya menyerupai kursi, sehingga masyarakat menyebutnya Situs Batu Korsi.

Selain kunjungan ke situs budaya, berkesempatan untuk melihat kembali jalur sesar Garsela. Sesar Garut Selatan, segmen Rakutai (BMKG, 2024). Ekspresi di permukaan bumi terlihat jelas di depan Polsek Kertamanah. Berupa sungai yang memanjang relatif baratdaya-timurlaut. Diperkirakan sesar geser, sejajar dengan sesar regional Garsela. Gempa terakhir yang melanda daerah ini pada 18 September 2024, sekitar magnitude 4.9. Terjadi pada pagi hari, pukul 09.14 wib. Dilaporkan beberapa rumah warga roboh, termasuk fasilitas umum seperti perkantoran, rumah sakit.

Dari lokasi tersebut, kemudian bergeser ke arah barat. Melalui jalan kelas desa yang sebagian besar telah di beton. Mengarahkan ke Cikembang, Kertasari. Selepas taman Desa Cikembang, Kertasari, kemudian dilanjutkan melalui jalan beton yang baru saja dibuka. Berjalan terus ke arah barat, hingga menemui tegakan pohon eucalyptus, berseling dengan pinus yang sudah tumbuh sejak perkebunan hadir.

Dari balik batang pohon pinus, terlihat bayangan bangunan. Tidak tampil dalam bentuk utuh, namun masih terlihat struktur bangunannya. Berupa pondasi yang disusun oleh batuan gunungapi, disusun kemudian direkatkan oleh semen. Tebal dinding nya sekitar 30 cm. dengan tinggi sekitar 6 meter, membentuk dinding tegak persegi panjang. Terdapat dua pintu, menghadap ke arah

Bagian atapnya telah hilang, karena dibongkar untuk digunakan kembali di tempat lain. Rangka baja yang menjadi penguat bagian atap, sehingga bisa dimanfaatkan untuk bangunan di perkebunan yang lain. Akibat permintaan dunia turun, mengakibatkan produksi ikut surut. Menyebabkan pabrik ini harus mengurangi jumlah produksi, terjadi akibat perubahan politik dunia saat menghadapi Perang Dunia ke-2. Dominasi komersial Belanda, akhirnya runtuh seiring masuknya Jepang ke Hindia Belanda 1942

Sehingga pengelolaan administrasi perkebunan, harus beralih ke komoditas lain. Diantaranya ke sektor pertanian dan dan perkebunan teh, dan kopi yang lebih menjanjikan. Kondisi ekonomi dunia mengakibatkan permintaan kina merosot, Saat ini Perkebunan Cikembang di bawah pengelolaan PTP Nusantara I Regional II.

Kunjungan penutup adalah mendatangi sumber mata air panas. Manifestasi permukaan yang berasosiasi dengan sumber panas gunungapi di Tarumajaya, Kertasari. Berupa kemunculan air panas di (sungai) Ci Panas. Sungai yang mengalir memotong punggungan G. Wayang-Windu-Bedil, kemudian di sarah utaranya adalah G. Gambung.

Suhunya sekitar 40 derajat celcius, muncul dalam bentuk mata air di dalam sungai Ci Panas. Warga memanfaatkannya menjadi tempat mandi umum, dengan cara menampung air panas tersebut ke dalam bak. Kemudian dialirkan ke kamar mandi yang dibangun sederhana.

Dari keterangan warga, mata air tersebut muncul di sepanjang sungai. Lebih ke arah timur, suhu ainya semakin tinggi. Menandakan sumber panas merupakan sistem panas bumi G. Wayang-G. Gambung. Tidak didapati belerang, menandakan kontak sumber panas dengan sumber mata air dangkal. Keluar dalam bentuk gelembung air, dengan tekanan air rendah. Debitnya kecil, sehingga perlu ditampung dalam kolam kecil.

Situs Candi Bojongemas, Solokanjeruk
Kekar Kolom diantara batu persegi panjang Candi
Partisipan Geourban di Candi Bojongemas
Situs Yoni di Tanggulun, Majalaya
Interior rumah administratur Cikembang, Kertasari
Situs Batukorsi, Kertasari

Catatan Geourban#39 Cicalengka

Sudah satu minggu, berwara di media sosial mewartakan hujan deras melanda sebagian besar wilayah Bandung. Begitu juga dengan laman berita, prakiraan cuaca akhir bulan Mei akan disergap hujan sepanjang siang hingga sore. Berita tersebut menjadi perhatian, terutama apa saja yang perlu diantisipasi dan dimitasi jelang kegiatan di lapangan.

Seperti layaknya menduga, bisa terjadi atau sebaliknya. Walaupun pagi selepas subuh, langit masih digelayuti awan putih. Menyergap seluas mata memandang ke langit, bayang-bayang hujan akan jatuh kapan saja. Dalam balutan udara pagi, partisipan satu persatu hadir di tempat pertemuan yang telah ditentukan. Jumlah peserta yang hadir lima orang, dari latar belakang berbeda. Diantaranya pegiat wisata, pemilik biro perjalanan pariwisata, profesional, pemandu wisata bumi hingga pegiat budaya.

Geourban ke-29 dilaksanakan pada hari minggu, 25 Mei 2025. Kunjungan melihat kembali linimasa sejarah abad ke-8, hadirnya kerajaan Sunda di sebelah timur Cekungan Bandung. Kemudian menapaki kembali lahirnya kesetaraan perempuan, melalui Sakola Istri Dewi Sartika di Cicalengka. Dilanjutkan mengupas perkembangan perkebunan teh Onderneming Sindangwangi, ditandai dengan sisa Theefabriek di Sindulang. Kegiatan ditutup dengan menikmati mata air di lereng sebelah selatan, G. Kerenceng-Kareumbi.

Seperti kegiatan Geourban sebelumnya, partisipan disarankan menggunakan roda dua atau motor.Jenis transportasi ini mudah dan murah dalam operasional, dan sudah dimiliki peserta. Sehingga mendukung pergerakan, dan daya jangkau ke lokasi yang akan dikunjungi. Total jarak yang ditempuh dalam kegiatan ini, sekitar 27 Kilometer dengan durasi tidak lebih dari 1 jam perjalanan. Dimulai dari titik pemberangkatan di Cileunyi, kemudian mengambil jalur jalan raya Rancaekek-Cicalengka. Jalan utama yang menghubungkan Bandung ke arah timur.

Mengawali kegiatan, Deni Sugandi menyampaikan rencana kegiatan. Menguraikan tujuan kunjungan, mulai dari Candi Bojongmenje kemudian bergerak ke arah timur Cicalengka. Diakhiri kunjungan ke Sindulang. Kegiatan dilakukan menggunakan roda dua, secar berkonvoi. Untuk menjaga keselamatan perjalanan, dipastikan sistem pengaturan pergerakan dan titik koordinat yang dibagikan sebelum berangkat. Sehingga partisipan yang tertinggal dalam perjalanan, bisa memantau titik pertemuan selanjutnya.

Candi Bojongmenje

Jalanan tidak terlalu ramai, karena waktu masih pagi dan jatuh di hari minggu. Lenggang tidak seperti pada jam-jam sibuk. Mengingat jalan raya Rancaekek adalah penghubung dari barat ke timur, dari Bandung ke kota Garut atau Tasikmalaya. Jelang pukul 08.00 WIB, partisipan tiba di halaman pabrik, sekitar Sukadana di tepi jalan Rancaekek. Ruas halaman gerbang cukup luas, sehingga untuk sementara dimanfaatkan menjadi sarana parkir partisipan.

Dilanjutkan berjalan kaki menyusuri jalan raya Rancaekek, kemudian berbelok ke gang sempit. Tidak ada papan informasi petunjuk menuju lokasi, hanya papan keterangan nama situs di batas sungai. Hunian warga yang berhimpitan dengan batas areal pabrik, dicirikan dengan tembok tinggi sekitar 3 meter. Didapati jembatan sebatas orang berjalan kaki, melintasi Ci Mande. Anak sungai Ci Tarik, bagian dari Daerh Aliran Sungai Ci Tarum. Dilaporkan oleh warga, sungai ini beberapa kali meluap menggenangi Desa Cangkuang. Kondisi demikian menandakan lebar sungai menyempit, akibat hunian yang menempati bantaran. Selepas jembatan, kemudian menyusuri gang yang dipagari oleh dinding pabrik. Mengarahkan ke situs Candi Bojongmenje. Dari peta lama lembar Linggar, penerbit Topographisch Inrichting, Batavia 1908. Memberikan gambaran posisi keberadaan candi berupa lingkaran, tanpa ada keterangan lain. Keberadaan situs tersebut berada di tepi sungai. Sedangkan pada kondisi saat ini, berjarak sekitar 100 meter. Dengan demikian diperkirakan terjadi pembelokan arah sungai, sehingga posisinya bergeser ke arah utara. Dalam beberapa keterangan arkeologi, sungai berperan penting dalam penempatan candi. Fungsi candi sebagai pemujaan dewa, bisa juga digunakan sebagai tempat untuk mengenai raja atau penguasa. Ditempatkan mendekati sungai, mencirikan sebagai acuan dalam pembangunan candi, karena air dianggap suci dalam penting dalam kehidupan agama Hindu-Budha saat itu.

Kembali ke lembar peta lama, memperlihatkan adanya jalur setapak menuju situs, disebut Cipareuag. Keberadaan situs tersebut berada dalam lingkar dalam Ci Mande, digambarkan melalui garis pengaliran sungai yang mengalir dari timur ke barat.

Dalam keterangan penelitian Anas Anwar Nasirin, dari Program Studi Sejarah Unpad (2021).  Keberadaan candi ini diketahui sejak abad ke-8 Masehi terkait erat dengan keruntuhan Kerajaan Tarumanegara dan berdirinya Kerajaan Sunda. Candi Bojongmenje berada pada lintasan sejarah keberadaan kerajaan Sunda awal. Sejak pasca runtuhnya Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-7 Masehi dan berdirinya Kerajaan Sunda Abad ke-10 Masehi. Keterangan lain disampaikan Djubianto (2002), mendukung pendapat Anas, sedangkan Haryono (2002), menyatakan perkiraan keberadaan peradaban Bojongmenje sekitar abad ke-5 hingga ke-6. Sedangkan dari keterangan hasil radiocarbon yang dipublikasi oleh Balai Arkeologi Bandung, berada di abad ke-8 Masehi.

Candi Bojongmenje berada di Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Berada di elevasi 698 meter dpl., merupakan titik rendah di wilayah Cekungan Bandung. Luas wilayahnya 843 meter persegi, dikelilingi oleh tembok beton milik pabrik. Kemudian sebagian lagi berada di dalam kawasan pabrik.

Keberadaan candi bercorak Hindu-Budha ini, mulai dipublikasi tahun 2002. Pada saat ditemukan, berada di lahan kuburan. Penemuan candi tersebut sudah sejak lama diketahui warga, namun belum dalam bentuk struktur. Menurut keterangan warga, ditemukan beberapa bentuk arca sebesar bayi. Sehingga masyarakat menyebutnya dengan candi orok (bayi). Beberapa tahun kemudian, dilakukan tindakan ekskavasi oleh Balar Arkeologi Bandung pada 2003. Sebagai wujud turunan aturan berupa Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010, Tentang Cagar Budaya.

Bentuk temuan yang dikerjakan, hanya menemukan bagian pondasi hingga bagian kaki. Sedangkan bagian atasnya tidak diketahui, diperkirakan telah hilang atau belum ditemukan. Candi sisi barat berukuran 7.04 meter, dan sisi selatan nya 6.94 meter. Sedangkan sisi timur tidak dapat diukur, karena batuan penyusun candi tidak diketahui.

Menurut penelitian Balar Bandung, material candi disusun dari batuan tuff atau gunungapi yang telah membatu dan andesit (lava). Sumbernya belum diketahui, tetapi bila merujuk dari batuan penyusunnya berasal dari materi hasil letusan gunugapi. Keberadaan bahan tersebut, sangat memungkinkan karena bahan hasil endapan gunugapi melimpah. Di sebelah utaranya didapati G. Geulis-Jarian, merupakan sisa gunungapi purba. Jaraknya sekitar 4,6 km dari pusat letusan ke areal candi. Produk letusannya adalah aliran lava dan piroklastik, besar kemungkinan material atau bahan penyusun candi diambil dari gunungapi purba ini.

Cicalengka

Perjalanan selanjutnya ke arah timur, menuju Cicalengka. Kota kecamatan, yang bernaung di wilayah Kabupaten Bandung, berada di batas timur Cekungan Bandung. Menapaki jalan raya provinsi, kemudian berbelok ke arah selatan menuju pusat kota. Di sebelah selatannya ditemui stasiun Cicalengka. Merupakan stasiun kereta api kelas I, berada di Cikuya, sebelah barat dari pusat kota Cicalengka.

Saat ini merupakan batas jalur kereta api rel ganda Bandung Raya, sebelum memasuki kawasan Leles, Garut. Pada masa kolonial, rintisan pembangunan jalur ini telah lama diusahakan. Dilakukan oleh perusahaan swasta Staatsspoorwegen disingkat SS. Hingga pada 10 September 1884, dibuka secara resmi. Saat itu merupakan stasiun terminus, atau stasiun diujung jalur kereta api yang menjadi titik akhir perjalanan. Beberapa tahun kemudian, diusahakan pembukaan jalan ke arah timur. Menghubungkan dari Cicalengka ke kota Garut. Dibutuhkan waktu kurang lebih dua tahun, untuk menembus batuan keras sekitar Leles. Menyebabkan pembuatan jalur lintasan kereta apinya harus berkelok-kelok, menunggangi kontur perbukitan. Agar jalur yang dilaluinya landai, sehingga bisa dilalui secara aman oleh lokomotif.

Saat ini bangunannya telah disulap bergaya modern, namun di sisi sebelah baratnya masih bisa disaksikan fasad awal dari stasiun. Walaupun sebagian besar materialnya telah diganti, namun masih mempertahankan bentuk seperti awal berdiri. Dari stasiun Cicalengka, kemudian bergeser ke alun-alun Cicalengka, menuju tempat tinggal Dewi Sartika saat remaja.

Lokasi yang dituju adalah SMP 1 Cicalengka, berada di sebelah selatan alun-alun. Agar leluasa bergerak, rombongan memarkir kendaraan di lapangan parkir pasar. Kemudian dilanjutkan berjalan kaki, menembus jajaran pedagang yang memadati sekitar alun-alun Cicalengka. Pasar melimpah hingga badan jalan, karena jatuh di hari minggu. Pemandangan yang biasa terlihat di jantung kota Cicalengka, menandakan hari libur khususnya minggu merupakan hari bebas berjualan. Sebagian besar warga memanfaatkan untuk berolahraga, memadati pusat kota.

Persis di sebelah pasar alun-alun Cicalengka, berdiri bangunan bertingkat dua.adalah gedung Sekolah Menengah Pertama 1 Cicalengka. Berada di sebelah selatan alun-alun Cicalengka, di jalan Dipati Ukur Nomor 34. Didapati dua bangunan baru, mengapit bangunan lama. Di Bagian barat ditempati lapangan olah raga bola basket, dan lapangan yang biasanya digunakan untuk kegiatan upacara bendera.

Bangunan lama menempati bagian tengah kompleks sekolahan, dicirikan dengan gaya arsitektur kolonial. Bagian depannya berupa pintu utama yang diapit oleh jendela berukuran besar. Bentuk bangunannya berbentuk bujur sangkar, memanjang utara-selatan. Bagian sampingnya berjajar daun jendela berukuran besar, dan bagian pondasinya hingga satu meter dihiasi batu andesit. Ciri fasad khas bangunan kolonial yang belum mengenal teknik pengecoran beton dan tulangan besi. Dengan demikian ketebalan dinding sekitar 30 sentimeter lebih. Agar bangunan kokoh dan mampu menopang atap genting.

Bangunan gaya arsitektur kolonial ini menjadi rumah singgah Raden Ajeng Dewi Sartika. Rumah yang kelak membawa pencerahan bagi kaum perempuan Sunda pada masa kolonial. Dewi Sartika pada saat itu berusia sepuluh tahun, dititipkan kepada pamannya seorang Patih Cicalengka.

Dewi Sartika tumbuh dan besar di rumah tersebut, selama delapan tahun. Antara 1894 hingga 1902 pada usianya 18 tahun. Selama periode tersebut, membentuk cara berpikirnya, hingga mampu memiliki pandangan moderat. Sehingga pada tahun-tahun berikutnya, Dewi Sartika memutuskan untuk kembali ke Bandung. Pada tahun 1904 mendirikan sekolah pertama untuk kaum perempuan, disebut Kautamaan Istri menempati ruangan belakang pendopo Kabupaten Bandung.

Di Sebelah utara alun-alun Cicalengka, didapati rumah tinggal dengan gaya arsitektur kolonial. Masyarakat menyebutnya rumah Destik, atau Dewi Sartika. Rumah dengan halaman luas, masih mempertahankan bentuk awal. Namun beberapa pendapat menyatakan bahwa rumah ini bukan tempat tinggal Dewi Sartika.

Dari rumah ini ke arah timur, didapati patung dada Dewi Sartika. Patung yang diperkirakan dibangun oleh pemerintah daerah, untuk mengenang keberadaan  Dewi Sartika di Cicalengka. Terletak di persimpangan Jalan Kaca-Kaca, dan Dewi Sartika. Disebut Monumen Raden Dewi Sartika, satu-satunya tinggalan fisik yang menegaskan keberadaan tokoh pergerakan perempuan pernah ada di Cicalengka.

Dilanjutkan kembali ke alun-alun, kemudian berbelok ke arah selatan. Menyusuri Jalan Pasar, melewati Kantor Polsek Cicalengka. Kemudian setelah tiba di samping SDN Cicalengka 5, didapati lahan kosong. Keberadaanya tertutup oleh warung dan pos ronda warga. Tetapi bila dilihat secara teliti, terlihat pondasi yang memiliki susunan batuan. Bentuk khas pondasi struktur bangunan, dengan memanfaatkan batu andesit sebagai penguat bangunan.

Merupakan sisa dari struktur bangunan gereja St. Antonius. Gereja Katolik yang pernah didirikan untuk melayani umat katolik di Cicalengka. Diresmikan penggunaanya ada 13 Juni 1931, dibuka dan diberkati oleh Pastor van Asseldonk. Keberadaan gereja Katolik ini hilang dari catatan sejarah, seiring dibongkar. Menyisakan tanah kosong, dan struktur tiang bangunan saja yang bisa dilihat hari ini.

Dari Cicalengka kemudian dilanjutkan menuju Dampit, melihat kembali pabrik teh pada masa kolonial. Merupakan bagian dari Onderneming Sindang Wangi, mengupayakan perkebunan teh dan karet pada 1900-an. Bangunannya kini telah hilang, ditempati SD Dampit 2, di Desa Tanjungwangi, Cicalengka, Kabupaten Bandung. Kegiatan penutup berakhir di Saripati Ecofarm. Wisata berbasis peternakan dan pertanian yang berada di lereng selatan G. Kerenceng-Kareumbi. Di lokasi ini mengunjungi Kampung Awi Baraja, Tegalmanggung, Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Berupa kepercayaan masyarakat terhadap pelestarian bambu.

Di depan Statsiun Cicalengka
Di depan monumen Dewi Sartika, Cicalengka
Sisa pondasi gerjeja St. Antonius di Cicalengka
Rel kereta api buatan Carnegie, didatangkan dari Amerika
Di depan SD Dampit 2, sisa bangunan pabrik teh Sindangwangi
Diperkirakan bagia belakang rumah Patih Cicalengka, awal 1900-an.

Catatan Geobaik#1 Jompong

Pebukitan kerucut yang berjajar dari utara ke selatan, memberikan kesan adanya zona lemah yang mampu diterobos oleh magma dekat dengan permukaan. Seiring waktu magma tersebut membeku dan membentuk perbukitan-perbukitan yang tersebar dari Cimahi selatan hingga ke arah selatan sekitar Margaasih-Cihampelas, Cililin, Kabupaten Bandung. Batuan beku terobosan tersebut mengunci rahasianya selama lebih dari empat juta tahun yang lalu, sebagai saksi pembentukan Danau Purba Bandung.

Melalui petualangan roda dua dan menyibak rahasia bumi, aktivitas geowista ini bermaksud merangkum keduanya dalam kegiatan Geobaik. Kegiatan perdana ini diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), dalam rangka mengupas destinasi geowisata disekitar Cekungan Bandung, aktivasi jejaring lokal dan mempromosikan aktivitas wisata bumi.

Geobaik#1 Jompong dilaksanakan tangal 9 Januari 2023, menapaki kembali perbukitan intrusi sekitar Cimahi selatan hingga Cililin, kemudian ke Curug Jompong dan ditutup dititik tinggi sekitar Cihampelas Cililin. Tiga lokasi kunjungan tersebut dilaksanakan dalam durasi 5 jam kegiatan luar ruangan, menggunakan sarana roda dua (motor).

Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, perjalanan dimulai tepat pukul 06.30 WIB, dimulai dari Bandung. Roda dua menapaki jalan kabupaten, kemudian bertolak menuju arah selatan melalui jalan Leuwi Gajah Cimahi. Menjelang jembatan Nanjung, jajaran kerucut perbukitan terlihat megah seperti berbaris, namun bila didekati tubuhnya hilang karena aktivitas penambangan. Perjalanan dilanjutkan berbelok ke arah barat, menuju tempat pemberhentian pertama, di Perumahan Lagadar, Gunung Lagadar.

Motor para peserta yang berjumlah 12 orang dipacu perlahan, menggilas jalan berbatu menuju proyek penambangan batu di Lagadar. Hanya beberapa penduduk saja yang menggunakan jalan ini, karena tidak ada jalan lain menghubungkan ke tempat lain kecuali ke perumahan. Di titik inilah kami bertemu dengan sebagian lagi peserta yang berasal dari Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Ada sembilan motor termasuk panitia, konvoi menuju lokasi pertama kegiatan Geobaik ke  perumahan Pesanggrahan Lagadar, disebut geotapak pertama di  Lagadar. Di bagian selatan di kaki G. Lagadar, peserta diajak untuk mengenali proses pembentukan perbukitan ini.

Secara administratif, wilayah ini masuk ke dalam Desa Lagadar, Kecamatan Margaasih, Bandung. Gunung Lagadar adalah perbukitan terobosan batuan beku. Hasil analisis K-Ar batuan di Selacau dan Paseban berumur 4,08 juta tyl dan 4,05 jt tyl (Sunardi dan Koesoemadinatan, 1999). Bersamaan dengan beberapa perbukitan intrusi lainya, termasuk Gunung Selacau, Gunung Paseban, Gunung Singa, Gunung Pasir Pancir merupaakn perbukitan pematang tengah Cekungan Bandung (Bachtiar, 2012). Di lokasi ini memberikan pemahaman gambaran besar, jajaran perbukitan intrusi ini merupakan pagar alam yang berjajar utara-selatan, membatasi Cekugan Bandung bagian barat dan timur. Bukan itu saja, nilai istimewanya adalah pembentukannya umur Pliosen, saat itu kondisi alam sangat dingin dan kering, dicirikan dengan munculnya mamalia besar dan moluska.

Perjalanan dilanjutkan ke lokasi berikutnya, geotapak ke-dua di Curug Jompong. Lokasi tidak jauh dari perhentian pertama, kurang lebih 20 menit berkendara ke arah baratdaya. Perjalanan memotong jalan desa, kemudian tiba di jembatan Nanjung, Margaasih. Dari tepi jalan sebelum memasuki jembatan, terlihat jajaran perbukitan Selacau, Pasir Honje, Gunung Puncaksalamm Gunung Lagadar, dan Gunung Gajahlangu di sebelah utara. perbukitan tersebut dipotong oleh Ci Tarum yang mengalir dari tenggara ke utara, melaui Margaasih dan Pataruman rangkaian dari perbukitan tengah Cekungan Bandung bagian barat.

Dari jembatan Nanjung kemudian mengarah sedikit ke barat, kemudian mengikut Ci Tarum ke arah hulu. Jalannya baik, menghubungkan antara Margaasih ke Cipatik Soreang. Diantara perjalanan tersbut kemudia berbelok memasuki komplek Terowongan Kembar Nanjung. Di tempat ini diberikan penjelasan ke-dua, mengenai pembobolan setelah pembentukan Danau Bandung Purba segmen timur. Genangan air semakin tinggi, akibat tertutupnya arah Ci Tarum di sekitar Ngamprah, kemudian turut menaikan volume air hingga mendekati ketinggian paras air 725 m di atas permukaan laut. Kenaikan tersebut mendorong sifat air mencari tempat yang rendah, kemudian membobol batuan beku terobosan Curug Jompong. Pembobolan tersebut diperkirakan menjelang pengeringan danau pada 16.000 tahun yang lalu.

Di Curug Jompong para partisipan diajak turun menyaksikan fitur-fitur alam hasil erosi air di batuan beku. Terlihat beberapa bentuk-bentuk unik disebut pothole yang terbentuk selama kegiatna pembobolan danau purba. Bentukan alami tersebut terjadi akibat arus air deras dan stabil, membawa kerakal dan kerikil. Kemudian bergesekan seperti membuat lubang yang digerakan oleh pusaran air, terjadi dalam waktu yang sangat panjang. Awalnya terbentuk cerukan-cerukan, namun lambat laut terperangkaplah ukuran batuan yang terbawa, dengan ukuran yang beragam, mulai dari bongkah hingga kerikirl. Lambat laut membentuk lubang-lubang vertikal, dengan kedalaman yang beragam. Di lingkungan lokasi ini, ditemui lubang terdalam bisa mencapai 30 cm hingga 100 cm dengan diameter antara 30 cm hingga 50 cm. Ada lubang dangkal dengan lingkar lubang lebar, dan sebaliknya. Semuanya dipengaruhi oleh kesetabilan arus sungai, dan penyusun batuannya.

Dalam kesempatan berdiskusi, pemandu wisata senior Felix Feitzma yang biasa dipanggil opah Felix menyampaikan pengalamannya menggarap kegiatan bertualanga di alam di Sanghyang Heuleut dan Sanghyang Poek. Beliau memberikan pandangannya bahwa wista ke depannya akan lebih spesifik dan tematik, sehingga menuntut para pemandu bekerja keras, berinovasi dan kreatifitas dalam menyusun paket-paket perjalanan.

Secara umum batuan Curug Jompong disusun oleh batuan beku intrusi, dengan umur yang sama dengan kelompok Selacau-Lagadar, yaitu sekitar 4 juta tahun yang lalu. Keunikan lainya adalah terbentuknya ceruk-ceruk yang dalam, membentuk air terjun yang menawan. Sehingga pada masa kolonial, tempat ini menjadi tujuan wisata yang menarik. Bahkan Junghuhn pun berkesempatan datang ke tempat ini, dan membuat bingkai fotografi pada 1860-an. Dari hasil fotografi hitam putihnya, terlihat arus sungai yang deras, sekaligus memberikan pemandangan yang menakjubkan, antara kekuatan arus sungai yang bertemu dengan batuan keras umtur tua.

Dalam foto tersebut tentu saja tidak ada sampah atau polutan industri, karena pada masa itu belumlah adanya industri yang berkembang di sepanjang bantaran Ci Tarum. Sehingga bisa dipastikan pasa saat itu airnya bersih. Keasriannya tersurat juga dalam beberapa laporan belanda dan pegiat wisata Bandung Vooruit yang menuliskan kunjungannya ke lokasi ini. Daya darik Curug Jompong bukan saja fenomena keindahannya saja, namun menjadi saksi pembentukan Danau Bandung Purba yang terbentuk pascaletusan dan pembentukan Kaldera Sunda, 105.000. tahun yang lalu.

Di Bukit Gantole Cililin atau lokasi penutup dalam perjalanan Geobaik#1 Jompong, narasumber Deni Sugandi, memberikan gambaran luas tentang posisi Danau Bandung Purba. Dari tinggian perbukitan ini, arah pandangan terbuka luas, bisa memandang arah timur, batas perbukitan intrusi dan segmen danau Saguling di sebelah barat. di sebelah utaranya dalah Gunung Burangrang, Gunung Tangkubanparahu yang dibatasi oleh patahan Lembang. Kemudian di sebelah timur-utara berjejer kelompok Gunung Palasari, Gunung Bukittunggul dan Gunung Manglayang.

Dititik inilah kegiatan Geobaik Curug Jompong selesai, ditutup dengan acara makan siang alakadarnya dan sekaligus kesan dan pesan yang disampaikan oleh para peserta. Aktivitas geowisata ini adalah salah satu cara untuk memahami proses  dinamika bumi yang berlangsung, hingga sejarah pembentukan yang terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama. Sehinggi geotapak yang dikunjungi perlu dikonservasi, seperti perbukitan intrusi sekitar Lagadar. Keberadaanya kini berlomba dengan kegiatan penambangan, sehingga seiring waktu akan hilang dimuka bumi.

Di kaki bukit Lagadar, Margaasih
Diterowongan kembar Nanjung, Margaasih
Opah Felix menyampaikan materi pemanduan di Curug Jompong
Alm. Opah Felix di dasar Ci Tarum, Curug Jompong
Penjelasan Cekunga Bandung di bukit Gantole Cililin

Catatan Geobaik#4 Cililin

Jelang pagi di jalanan penghujung Cipatik ke Soreang menggeliat ramai. Matahari sejak subuh sudah tiba mencahayai perbukitan Soreang, membentuk siluet seperti pagar alam membatasi wilayah timur dataran Kutawaringin, kaki perbukitan intrusi Soreang barat.

Kurang lebih jelang pukul tujuh pagi, peserta hadir dari berbagai penjuru mataangin, berkumpul di sekretariat PGWI Pengurus Wilayah Bandung Raya, Cipedung, Kutawaringin. Diikuti oleh 15 orang dan menggunakan 13 roda dua dengan berbagai jenis kendaraan, mulai jenis metik hingga sport. Semua kendaraan dicek dalam kondisi baik, sesuai dengan ketentuan panitia. Peserta berasal dari berbagai daerah wilayah Bandung, dengan latar belakang beragam, mulai dari pekerja profesional, pegawai pemerintahan, pelaku jasa wisata hingga para pegiat wisata kebumian, diantaranya para pemandu geowista yang tergabung di asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia.

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB, dibuka melalui brifing awal mengenai rencana perjalanan, termasuk pengarahan keselamatan, keamanan dan prokes selama perjalanan, sebagai standar kegiatan.

Geobaik adalah aktivitas menafsir rahasia bumi, dan menaksir sejarah manusianya yang menempati alam tersebut, dilaksanakan melalui sarana transportasi roda dua. Diinisiasi oleh asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), dan dilaksanakan berkala. Kegiatan ini bertujuan sarana belajar anggotanya, memberikan manfaat dan kebaikan serta pemahaman bentang alam, proses dinamika bumi dan budaya. Kegiatan hari ini merupakan rangkaian acara ke-empat, dilangsungkan di wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, dilaksanakan oleh Pengurus Wilayah Bandung Raya.

Kunjungan pertama mengunjungi sisa tambang sirtu berupa singkapan lava di sekitar Gunung Gadung, Jatisari. Berupa perbukitan intrusi batuan beku, disusun oleh andesitik basaltik. Berada di selah selatan kota Soreang, bagian dari kelompok perbukitan Soreang. Bukit lava tersebut merupakan batuan beku hasil penerobosan magma, kemudian membeku sebelum mencapai permukaan bumi. Seiring waktu kemudian tererosi, dan membentuk perbukitan-perbukitan runcing yang menempati bagian tenggara gunungapi Soreang. Dari warna yang terlihat, cenderung abu-abu terang, menandakan didominan oleh SiO2 yang lebih dominan, antara 57 hingga 63%. Disusun oleh andesit augit hipersten, dan hornblenda dengan matrix yang mengaca, dengan struktur retas, sill, neck atau lava plug, umur Pliosen (Silitonga, 1973).

Perjalanan selanjutnya perjalanan memotong perbukitan intrusi, melalui jalan kelas desa. Sedikit terjal dan melalui jalan aspal yang telah terkelupas karena tidak dipelihara. Kunjungan kedua mengunjungi fitur alam yang unik, berupa bentuk kolom yang menyerupai bentuk struktur candi. Fitur alam tersebut dinamai Batu Nini yang masuk ke dalam kawasan Gunung Buleud, daerah Situwangi, Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Berbeda dengan susunan batuan di stop pertama, Batu Nini disusun oleh batuan breksi vulkanik, kemudian seiring waktu tererosi dan menyisakan bentuk seperti bangunan. Terjadi secara alami, menandakan dinamika bumi yang berasal dari tenaga luar (eksogen), seperti ditatah oleh alam melaui kondisi hujan, panas, dan dingin sehingga terjadi pelapukan. Terjadi dalam waktu yang sangat panjang. Struktur yang terlihat saat ini menandakan batuannya lebih resisten atau lebih kuat dibandingkan batuan disekitarnya.

Dalam keterangan singkatnya, pada 1854 Junghuhn pernah membuat sketsa dari arah utara, memperlihatkan bentuknya yang sama seperti yang disaksikan hari ini. Namun bila dibandingkan secara seksama, ada beberapa bagian yang telah lapuk, mengingat Junghuhn melukisnya 167 tahun yang lalu.

Perberhentian selanjunya adalah melihat bentuk kaldera Walahir, di Kidangpananjung Cililin, atau sekitar lereng sebelah selatan Gunung Gedukan. Dari titik ini bisa menyaksikan bentang alam yang menawan, berupa perbukitan runcing dan lembah yang dalam di bagian tenggara. Berupa kelompok perbukitan intrusi, dicirikan dengan bentuknya yang kerucut dan menempati wilayah di sebelah tenggara dari kelompok gunungapi Soreang. Sedangkan bila melemparkan arah pandang ke sebelah barat, terlihat cekungan yang diapit oleh gawir-gawir terjal yang ditafsirkan sebagai dinding kaldera. Perbukitan tersebut disusun oleh breksi tufaan, lava, batuapung, dan sebagian konglomerat. Umurnya antara Miosen hingga Pliosen Atas atau sekitar 12 hingga 5 juta tahun yang lalu (Silitonga, 1973). Sendangkan dalam penelitan lainya memberikan keterangan berumur Pliosen Atas, sekitar 3.2 juta tahun yang lalu (Sudjatmiko, 1972).

Dari titik ini bisa menyaksikan Gunung Malabar di sebelah tenggara, berdampingan dengan jajaran pegunungan kelompok gunungapi Cekungan Garut ke arah timur. Diantaranya Gunung Guntur, Gunung Cikurai dan Gunung Papandayan.

Perjalanan dilanjutkan, membelah lembah yang dalam yang dicirikan dengan jalanan yang dilalui semakin menurun dan terjal. Peserta harus berhati-hati, selain turunan terjal, di beberapa bagian aspalnya telah terkelupas.

Kurang lebih 15 menit perjalanan menggunakan roda dua, rombongan tiba di sekitar Kampung Lembang, Desa Mukapayung, Cililin. Kemudian dilanjutkan dengan treking menyusuri lereng Gunung Lumbung. Jalur pendakian singkat melalui Sekolah Dasar Lembang, kemudian melintasi beberapa rumah warga, kemudian membelah perkebunan. Di tengah perjalanan, terlihat cekungan Lembang yang ditempati oleh pesawahan yang subur dan dibelah oleh Ci Lembang, anak sungai yang kemudian bertemu Ci Bitung disekitar Gunung Putri.

Sawah tersebut menempati area kurang lebih 700.000. meter persegi, dengan luas lingkar 3.5 km. (perhitungan google maps di fitur measure distance). Sedangkan elevasinya sekitar 928 m. dpl. (RBI), sedangkan Gunung Lumbung adalah 1093 m. dpl. Areal yang ditempati sawah tersebut seperti bentuk dasar kaldera, atau bagian central fasies dari tubuh gunungapi.  Ciri-cirinya berupa plateu berbentuk cekungan, disusun oleh lempung, lanau, pasir dan kerikil hasil dari bahan rombakan dan erosi perbukitan disekitarnya (Silitonga, 1973).

Diperlukan waktu kurang lebih 20 menit, mendaki singkat ke puncak Gunung Lumbung. Di bagian puncaknya digunakan warga sebagai lahan perkebunan, diantaranya cabai, kacang panjang hingga tomat. Setelah melewati perkebunan ini, arah jalan setapak akan mengarah ke sudut yang lebih rimbun. Di ujung jalan setapak inilah ditemui situs berupa arca dan lingga, dinaungi oleh atap seng. Tidak ada keterangan lain, hanya kelompok arca, kemudian disekitarnya masih berupa pohon yang masih rimbun. Di sekitar arca didapati beberapa batuan ditumpuk disekitar arca. Batuannya disusun oleh batuan beku vulkanik, berupa bongkah-bongkah atau fragmen batuan lava. Didapati dua batu bentuk lingga, salah satunya bukanlah bagian dari keompok arca ini yang dicirikan dengan bentuk kolom dan memiliki tulisan angka latin. Diduga bentuk lingga tersebut merupakan patok penanda yang dibuat pada masa kolonial, kemudian dibawa ke Gunung Lumbung.

Kegiatan terakhir ditutup dengan kunjungan ke statsiun radion Cililin. Di lokasi ini dijelaskan mengenai sejarah radio dan hunian rumah tinggal para pekerja. Disampaikan oleh Amar Sudarmar, manta kepala sekolah SMA 1 Cililin, pelaku sejarah. Beliau menuturkan kantor radio komunikasi tersebut berfungsi sebagai alat komunikasi Belanda pada saat perang dunia ke-dua, sekaligus sebagai media komunikasi jalur perdagangan Hindia Belanda saat itu. Seiring waktu statsiun radio tersebut harus ditutup, karena biaya operasional yang tinggi dan kualitas pemancar yang kurang optimal karena terletak di lembah.

Di Radio Cililin inila kegitan GB4 diakhiri, ditutup dengan penyampaian kesan dan pesan para peserta,. Diantaranya menyambut baik kegiatan ini, agar tetap aktif dan memberikan informasi yang menarik, serta sebagai silaturahmi pecinta bumi dan sejarah. (Deni Sugandi)

Brifing sebelum keberangkatan di Soreang
Penjelasan Kepala Dusun di tapakbumi Batu Arca
Penjelasan sejarah Radio Cililin di Cililin

Catatan Geobaik#1 Jompong

Dimulai pagi hari pada hari Sabtu, 9 Januari 2020, dimulai pada masa PPKM diperketat lagi. Kegiatan dilaksanakan menggunakan sarana kendaraan roda dua. Kegiatan dibuka dilokasi pertemuan sekitar SPBU Pasteur kemudian bergerak ke titik pertemuan ke-dua disekitar perbukitan Lagadar, Margaasih, Kabupaten Bandung Barat.

Deni Sugandi selaku pemandu geowisata, membuka kegiatan ini dengan memberikan penjelasan rencana perjalanan Geobaik#1. Perjalan wisata bumi ini menapaki kembali sejarah Danau Bandung Purba, melalui jejak pembobolan Ci Tarum di Curug Jompong dan menemukan kembali batas Danau Purba Bandung disebelah Bandung bagian barat.

Kegiatan diikuti oleh lebih dari 12 orang, berasal dari pegiat wisata, mahasiswa, praktisi wisata hingga pemandu wisata. Geobaol adalah kegiatan wisata bumi, untuk mengupas sejarah alam, hasil pembentukan alam hingga proses yang masih berlansung hingga kini. Dikemas dalam seri petulangan menggunanakan media roda dua bermotor (motor), diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia.

Bandung merupakan kota yang muncul diatas gelombang air (danau). Seperti logo lama kota Bandung, dituliskan Ex Undis Sol yang berarti mentari muncul di atas gelombang (air), dicanangkan pada saat pendirian Bandung menjadi gemente atau setinggkat kotamadya pada 1 April 1906. Menandakan kota yang berdaulat, mampu mengurus dirinya sendiri secara administratif dan pemnafaatan sumber daya alama.

Penyebutan badan air tersebut diusulkan oleh walikota Bandung pertama, B. Coops bersama Dewan Kota. Usulan tersebut didasari oleh beberapa pendapat ahli geologi pada saat itu, bahwa cekungan Bandung pernah digenangi air.

Genangan air tersebut adalah Danau Bandung Purba, keberadaanya kini telah hilang karena telah surut. Setidaknya dibutuhkan waktu 16 ribu tahun lebih menjadi kering, kemudian ditempati peradaban. Cekungan Bandung ditaksir terbentuk pada Kuarte Akhir (Katili, 1963), akibat pergeseran aktivitas volkanik dari selatan ke utara. Akibatnya dataran tinggi Bandung dikelilingi oleh perbukitan dan gunungapi Kuarter di utara dan selatan, dan batuan karbonat umur Tersier di sebelah barat, yaitu perbukitan karst Citatah.

Bukti penggenangan cekungan tersebut, bisa dilihat dari bukti endapan danau (lakustrin). Terdiri dari lapisan lempung lunak, dan pasir padat dengan ketebalan yang bervariasi. Batuan dasarnya adalah lapisan batuan volkani Tersier (Dam, 1990). Dalam data pengeborannya, menunjukan pembentukan danau tersebut terjadi sekitar 126.000 tahun yang lalu, berupa batuan klastika gunungapi dan sedimen danau.

Bukti sejarahnya pengeringannya kemudian menjadi tema di kegiatan pertama Geobaik, mencari titik bobolnya Danau Bandung Purba. Perjalanan pertama diarahkan ke situs tapakbumi Gunung Lagadar 897 m dpl. Terletak di lereng sebelah timur, dikawasan perumahan Pasanggrahan Lagadar, Margaasih, Kabupaten Bandung. Terlihat singkapan yang baik berupa hasil galian kegiatan penambangan batu-pasir. Disusun oleh batuan beku berkomposisi dasitik, dicirikan dengan warna putih sedikit abu-abu dan telah lapuk. Berupa bongkah, kerikil hingga tuf. Dari lokasi ini bisa melihat bukti batuan intrusi berumur 4 juta tahun yang lalu.

Lokasi kunjungan ke-dua adalah Curug Jompong. Merupakan air terjun dialiran Ci Tarum, dan terletak persis di dua kabupaten, Bandung Barat dan Kabupaten Bandung. Tepatnya berada di Pataruman, Cihampelas, Kabupaten Bandung. sedikit ke arah hilir, masuk ke wilayah Selacau, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Merupakan segmen Ci Tarum bagian barat, mengerosi perbukitan intrusi batuan beku.

Saat ini alirannya surut karena telah dialihkan ke terowongan kerbar Nanjung. Sehigga bila berkesempatan hadir pada saat kemarau, menyingkapkan celah-celah dalam hasil erosi air. Bentuknya bermacam-macam, seperti kolam-kolam yang terbentuk oleh kekuatan arus air, hingga ditemuinya beberapa pothole. Bentukan alam tersebut menandakan bahwa arus Ci Tarum disegmen Curug Jompong deras, dengan debit air tinggi.

Kegiatan ditutup di dataran tinggi Bukit Gantole Lintang Panggun, Cililin. Dari titik ini partisipan diajak berdiskusi, mengupas kembali hasil kunjungan ke Lagadar dan Curug Jompong. Kegiatan ditutup tepat pukul 16.00 WIB, setelah beberapa saat berteduh di sekretariat Bukit Gantole. Ditutup sambil menyantap hidangan di Rumah Makan Manapa, Cihampelas, Cililin.

Peserta Geobaik#1 Jompong di jembatan Nanjung
Penjelasan di depan terowongan kembar Nanjung
Batuan intrusi umur 4 juta tahun, dierosi Ci Tarum
Berbagi pengalaman bersama opah Felix di Curug Jompong
Interpretasi cekungan Bandung di Bukit Gantole Cililin