Catatan Diklat Angkatan I PGWI 2021

Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI) melaksanakan kegiatan pertemuan dalam jaringan melaui zoom metting. Dilaksanakan selama dua hari, hari sabtu 20 Februari dan 21 Februari 2021. Bagian dari kegiatan Pendidikan dan Pelatihan/DIKLAT Angkatan I PGWI 2021.

Pematerian dibuka pada tanggal 20 Februari 2021, pukul 07.00 WIB, melalui zoom meeting. Dibuka secara formal melalui sambutan perwakilan Dewan Pembina Felix Feitzma, dan ketua PGWI Deni Sugandi. Dalam pembukaan tersebut, Felix menyambut baik kehadiran para peserta yang tersebar dari seluruh wilayah Indonesia.

Total peserta 63 orang sesuai dengan kuota penerimaan anggota PGWI, berasal dari beberapa provinsi di Indonesia, diantaranya mulai dari timur seperti Papua dan Papua Barat, Sulawesi Selatan, dari NTT, NTB, Bali, kemudian Jawa Timur, DIY, Jawa Barat. dari Sumatra hadir dari Sumatra Barat dan Aceh.

Materi hari pertama disampaikan oleh dua narasumber, Felix Feitzma dan Daniel G. Nugraha. Kedua narasumber tersebut merupan profesional tour guide. Dalam pemaparannya, Felix yang biasa disapa Opa Felix menuturkan Kreativitas dalam Pemanduan Wisata. Felix mencontohkan kegiatan alternatif dalam pengemasan wisata minat khusus, dengan mencontohkan pada penggarapan kegiatan wisata kemping dan treking di Sanghyang Poek di Citarum. Paket kemasan yang dibuat memperhtikna kenyaman wisatawan, baik dalam kebutuhan khusus dan umum diantaranya penyajian akomodasi menggunakan tenda yang baik, kemudian alas tidur yang sesuai kesehatan dan kenyamanan.

Selanjutnya Daniel memaparkan potensi pasar wisata yang masih besar, dan belum tergarap dengan baik. ia memaparkan ceruk-ceruk wisata minat khusus yang belum tergarap dengan serius, walaupun sudah ada namun masih dalam jumlah yang kecil. Kemudian pemainnya pun tidak terlalu banyak, mengingat perlu penanganan yang khusus dan cenderung dengan biaya operasional lebih tinggi dibandingkan wisata reguler.

Dalam materi ke-dua, disampaikan oleh ahli geologi Awang Satyana. Dalam kesempatan ini beliau menyampai mengenai keragaman geologi Indonesia, dengan judul materi Keragaman Geologi Indonesia dan Geowisata. Dalam pemaparannya Awang menjelaskan sejarah geologi pembentukan Indonesia dari tiga lempeng besar. Kemudian menjelaskan tentang tema-tema dalam kegiatan geowisata melalui kegiatan komunitas Geotrek Indonesia. Diantaranya dengan tema berkaitan dengan keragaman batuan, keragaman bentuk struktur, keragaman gunungapi baik yang masih aktif hingga yang telah dorman, kemudian dampatknya pada hasil letusan yang mepengaruhi budaya manusia. Materi lainya berkaitan dengan sumber daya alam secara umum, dan penutup adalah keragaman kehidupan manusia purba yang menempati sebagian wilayah Indonesia.

Narasumber ke tiga, disampaikan oleh Nirwan Harahap. Praktisi dan pengusaha IT, memberikan pandangannya pemanfaatan platform digital. media komunikasi online tersebut merupakan salah satu cara agar pemandu geowista memiliki akses penuh terhadap penyebaran informasi kepada khalayak. Media tersebut adalah tv daring melalui akses satelite, terutama daerah-daerah yang berlum terjangkau dengan internet.

Pada hari ke-dua, dibukan dengan materi berkaitan dengan persiapan Rencana Perjalanan Pemanduan Geowisata yang disampaikan oleh Deni Sugandi. Materi tersebut menjelaskan pentingnnya persiapan, baik itu persiapan untuk peralatan yang harus dipersiapkan, maupun materi informasi yang perlu direncanakan.

Materi berikutnya diketengahkan mengenai intepretasi dalam pemanduan geowisata. T Bachtiar mengajak agar para pemandu mampu menyelami, teknik dasar intepretasi. Dalam kesempatan ini Bachtiar menceritakan letusan Gunung Tambora dan pengaruhnya terhadap kehidupan di Bima. Intepretasi menjadi penting, karena menurutnya merupakan seni dalam berkomunikasi.

Pada materi penutup hari ke-dua, 21 Februari 2021 yaitu Teknik Pemanduan. Diberikan oleh Sodikin Kurdi. Materi yang berkaitan dengan alur kegitan pemanduan secara umum, mulai dari kegiatan brifing, safety talk, melakukan pergerakan pemanduan hingga penutupan pemanduan. Dalam paparan ini, Felix menambahkan bahwa pentingnya hospitality dalam kegiatan pemanduan geowisata. Pemandu memberikan pelayanan, dan menyampaikan informasi berkualitas melalui kegiatan pemanduan.

Diklat ini merupakan tanggung jawab pengurus nasional, dalam upayanya menyamakan visi mengenai pemanduan geowisata. Seperti menjadi harapa bersama para peserta, bahwa diharapkan kedepannya, organisasi ini bisa memfasilitasi dalam pertemuan bulanan yang berisi sharing session yang berkaitan dengan kegiatan pemanduan dan geowista.

Tangkaplayar Peserta Diklat 2021 melaui kegiatan daring

Catatan Geourban#1 Gunung Padang Ciwidey

Kegiatan geowisata Bandung bagian selatan, masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung ini diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Dewan Pengurus Wilayah Bandung Raya. Kegiatan ini terbuka untuk umum yang menaruh minat khusus dengan ilmu kebumian populer, sejarah budaya. Dilaksanakan secara berkala, dalam rangkain aktiviasi jejaring, menggali potensi geowisata Cekungan Bandung dan sarana belajar kepemanduan di PGWI.

Pelaksanaan geowisata ke Gunung Padang Ciwidey, dibuka terlebi dahulu dengan kegiatan daring (19/7, 2021) melalui pertemuan virtual. Kegiatan ini sebagai sarana penjelasan umum, hingga rencana teknis pemberangkatan. Materi yang disampaikan oleh Deni Sugandi, selaku pemandu geowisata, bersama narasumber lainya. Berkaitan sejarah disampaikan oleh Gangan Jatnika, dan Sodikin Kurdi. Pertemuan awal ini berguna untuk persiapan kegiatan lapangan, termasuk apa saja dan bagaimana kegitan geowisata ke Bandung selatan ini dilaksanakan.

Mengambil titik pertemuan di sekitar Soreang (21/7, 201). Dihadiri oleh  21 orang peserta dengan latar belakang yang beragam. Komunitas pegiat wisata, guru geografi, komunitas budaya Sunda, pemandu geowisata hingga komunitas jalan-jalan di Bandung. Kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB, menggunakan modra transpotasi roda dua, menuju statsiun Ciwidey. Bangunan cagar budaya ini merupakan bukti kejayaan jalur keretaapi Soreng-Ciwidey yang dibangun pemerintah kolonial, dalam upayanya mempersingkat jarak distribusi hasil perkebunan dari Ciwidey ke kota Bandung. Dibuka 1924 melalui beberapa statsiun, mengikuti kontur Ci Widey yang berkelok-kelok. Dalam pembangunan jalur kereta api pada masa itu, menuntut kemampuan teknis, diantaranya adalah teknik yang berkaitan dengan pembuatan struktru jembatan besi. Kemampuan rekayasa teknis ilmu sipil kolonial, hingga kini masih bisa disaksikan di lokasi kunjungan ke-dua.

Jembatan Rancagoong yang membentang barat-timur, melewati Ci Widey dengan panjang kurang lebih 100 meter. Dibangun di atas struktur beton dengan menggunakan rangka besi melengkung. Dibangun sebagai sarana penghubung perkebunan dengan jalur distribusi perdagangan di Bandung selatan. Namun pelayanan jasa transportasi kereta api harus tutup awal tahun 80-an, karena kalah bersaing dengan kendaraan roda empat yang semakin menggeliat. Karena tidak bisa lagi menutup biaya operasional, jalur kereta api Soreang-Ciwidwey akhirnya ditutup.

Kunjungan berikutnya adalah ke Gunung Padang, di Rawabogo, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung Barat. Wilayah tinggian perbukitan yang dikelilingi oleh pohon tegak pinus, kemudiand dimanfaatkan oleh masyarakat, melalui pengelolaan tani mandiri perkebunan kopi. Wilayahnya berbatasan antara Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung. Sejak penciptaan daratan Jawa bagian barat 30 juta tyl, (Gunung) Nagara Padang Rawabogo di Ciwidey hadir belakangan. Berupa intrusi batuan beku, sekitar Plistosen Akhir atau sekitar 1.8 juta tyl. Saat ini bongkah-bongkah batuan lava bertebaran dan lapuk berwujud ragam bentuk, menata wajah perbukitan ini menjadi wilayah sakral, tempat bersemayamnya sejarah Sunda.

Deni Sugandi dan Zarindra memberikan penjelasan dari sisi fisik, bahwa perbukitan Gunung Padang merupakan sebuah tubuh batuan beku yang mengalami pelapukan. Dicirikan dengan bongkah-bongkah batuan yang menempati wilayah sebelah timur, dengan bentuknya yang menjulang tinggi. Kemudian di bagian tengah punggungan perbukitan ini, didapati bongkah-bongkah batu yang menyerupai kepala binatang melata hingga bentuk mamalia besar seperti gajah. Acara ditutup dengan makan siang bersama, bekal yang sebelumnya telah dibawa dari rumah masing-masing. Kegiatan Geourban#1 ini adalah berupaya menyampaikan pesan, potensi wisata bumi dan sejarah berdampingan. Langkah selanjutnya mengaktivasi kegiatan wisata kebumian dan budaya melalui pengemasan paket wisata yang berkelanjutan, termasuk mendorong warga lokal sebagai pemilik wilayah, memiliki porsi peningkatan ekonomi melalui kegaitan pariwisata alam.

Interpretasi endapan volkanik di Ciwidey
Penjelasan struktur yang berkembang di Gunung Padang Ciwidey, disusun oleh intrusi batuan beku
Partisipan Geourban di Gunung Padang Ciwidey
Moda transport menuju lokasi
Bongkah batuan beku yang membnetuk kepala kura-kura
Di jembatan Rancagoong, di bawahnya mengalir Ci Widey