Catatan Geourban#49 Ganeas

Kembali menelusuri sejarah bumi dan budaya, kegiatan Geourban ke-49 jatuh dihari minggu. Tanggal 12 Oktober 2025, diikuti para pegiat wisata, professional hingga kreator konten.

Kegiatan jatuh pada hari minggu. menyebabkan jalan lenggang karena jatuh di hari libur. Sebagian warga lebih baik tinggal di rumah, memanfaatkan hari libur. Perjalanan dimulai dari Cileunyi, menyusuri jalan provinsi yang menghubungkan Bandung ke Sumedang. Jalan utama yang dahulu dibangun atas keinginan Gubernur Jenderal, saat Kekaisaran Perancis menang perang di Eropa abad ke-19 awal. Sehingga pulau jawa merupakan pampasan perang, dari kekuasaan Kerajaan Belanda.

Sebagai penguasa negeri jajahan, Daendels membutuhkan dana besar. Tujuannya adalah untuk mengisi kekosongan kas negara, sekaligus diperlukan ketahanan militer pada saat itu. Kemudian pada 1809 hingga 1810, dibuatlah pelaksanaan pembangunan jalan. Dengan cara melebarkan jalan penghubung antar kerajaan abad ke-16, dari barat ke timur.

Diperlukan waktu dua tahun lebih, untuk mempertemukan Jawa bagian barat dan bagian paling ujung timur. Kurang lebih seribu kilometer, diantaranya adalah sebagian jalan yang dilintasi pada kegiatan Geourban.

Bukit Jarian, Hantu yang Cantik
Matahari baru saja timbul di atas puncak G. Geulis. Gununggapi soliter yang menjadi benteng alam, membatasi Cekungan Bandung segmen timur. Tingginya semampai, ketinggian puncaknya 1282 meter di atas muka laut. Namun menjadi penghalang alam, antara batas timur Bandung dan Sumedang bagian barat.

Selepas kampus Unpad sekitar Cikeruh, jalanan mulai berkelok mengikuti kontur perbukitan. Sebelah kanannya adalah G. Iwir Iwir, ditafsir sebagai Gunung Geulis Tua. Tulisan tentang G. Geulis bisa dibaca di sini: https://blog.denisugandi.com/jarian-berwajah-geulis/

Bagian barat dari lereng gunung tersebut, saat ini sudah beralih fungsi menjadi pemukiman warga. Dikelola oleh perusahaan pengembang, memanfaatkan lahan kosong hasil kegiatan tambang batu di masa lalu. Materialnya diangkut, untuk menimbun pembangunan Tol Cileunyi. Perumahan tersebut menempati sebagian besar di sisi sebelah barat, dan timur.

Sebagian besar lereng nya telah habis, untuk pembangunan jalan Tol Cileunyi. Diangkut sejak awal tahun 1990-an, menggunakan dump truk melewati jalan raya Jatinangor ke Cileunyi. Hingga jelang tahun 2018, sebagian besar lereng G. Geulis telah habis diangkut. Menyisakan ceruk-ceruk yang dalam, tanpa adanya kegiatan reklamasi.

Kegiatan tambang tersebut harus dihentikan sejak 2019, mengingat bahaya yang ditimbulkan secara langsung. Dilaporkan beberapa kali terjadi gerakan tanah, hingga yang terbesar terjadi pada 9 Januari 2021. Lokasi longsor, terjadi di sebelah selatan G. Geulis di Cihanjuang, Cimanggung, Sumedang. Berupa longsoran dinding tegak, setinggi 20 meter. Menewaskan 40 orang, dan menimbun puluhan rumah.

Kondisi demikian menandakan saat ini sebagian besar lereng G. Geulis, disulap menjadi kawasan pemukiman. Terjadi akibat dampak perkembangan kawasan industri sekitar Rancaekek. Sehingga diperlukan hunian bagi para pekerja yang sebagian besar datang dari luar kota.

Pohon Kopi Umur Satu Abad
Persis diseberang jalan penghubung exit Tol Pamulihan, Tanjungsari. Terdapat Sekolah Menengah Kejuruan PPN Tanjungsari, di Gunungmanik, Sumedang. merupakan sekolah pertanian rakyat yang telah ada sejak masa kolonial. Disebut Landbouw Bedrijft School Tandjoensari (Tanjungsari), pada 1915-1918. Panorama bangunna lama sekolah pertanian bisa diihat di sini: https://kuula.co/share/h3Kb1?logo=1&info=1&fs=1&vr=0&sd=1&thumbs=1

Ditujukan untuk mencetak para ahli pertanian pada masa itu. Didirikan 1914, melalui perintisan oleh Bupati Sumedang Pangeran Aria Soeriaatmadja (1915-1921). Mewakafkan tanah di daerah Bojongseungit, saat ini menjadi bagian dari SMK SPMA dan Unwim. Di kawasan lahan sekolah pertanian ini, didapati pohon kopi jenis ekselsa. Merupakan varietas dari kopi liberika (Coffea liberica), dicirikan dengan ukuran daun lebih besar dari jenis Robusta dan Arabika.

Ditanam seiring lahirnya sekolah pertanian (1914?), melalui keinginan Pangeran Sumedang. sehingga bila ditarik pada tahun ini, sudah berumur 111 tahun. Jumlah pohon kopi yang masih hidup, tinggal lima pohon. Dari tujuh, kemudian mati akibat rayap dan kekeringan. Tinggi pohonnya sekitar 4-7 meter, dengan ukuran batang pohon antara 80 cm hingga 120 cm. Tumbuh di atas ketinggian sekitar 750 meter dpl. menghasilkan 1,2 ton ceri kopi untuk per satu hektar lahan perkebunan.

Ekselsa termasuk varietas yang tahan hama, mengingat jenis lainnya rentan terhadap jamur. Sehingga pihak kolonial mendatangkan khusus dari Chad Afrika, disebar di sekitar Tanjung Jabung Barat Jambi, dan Kepulauan Riau. Kemudian ditanam di kawasan priangan, khususnya di Tanjungsari Sumedang.

Perkebunan Swasta di Lereng Kareumbi
Dari Tanjungsari, kemudian dilanjutkan ke arah Sumedang. Disekitar Cigendel, diarahkan berbelok ke arah barat menuju Cimarias. Setelah melewati jembatan tua yang menyeberangi Ci Peles. Struktur bangun jembatan dengan menggunakan teknik truss, sistem baja lengkung. Menjadi ciri pembangunan jembatan yang dibangun Kolonial Belanda tahun 1932. Selepas jembatan jalanan menanjak mengikuti lereng perbukitan. Sedikit demi sedikit menapaki ketinggian, hingga tiba di titik tinggi. Dari lokasi ini terlihat jelas lereng miring ke arah utara, ditempati lembah dan perbukitan. Membentang dari timur ke barat. Topografia bergelombang landai, merupakan bagian dari G. Kareumbi. Bila merujuk kepada pembagian fasies gunung, merupakan fasies medial. Bagian tengah dari tubuh gunungapi yang pernah aktif di masa lalu, kemudian saat ini digolongkan ke dalam gunungapi kelas C. Pembagian klasifikasi gunungapi di Indonesia yang menandakan tidak ada informasi kegiatan kegunungapian. Baik setelah 1600 atau setelahnya, sehingga disebut gunungapi dorman.

Bukti letusannya hingga kini masih bisa disaksikan, berupa endapan piroklastik yang menempati sebagian besar Cimarias-Cinanggerang, di sebelah selatan jalan Cadas Pangeran, Kabupaten Sumedang.

Kondisi tanah yang subur, menjadikan sebagian besar wilayah Cinanggerang dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan. Diusahakan pertama kali melalui perkebunan teh, oleh partikelir partikelir.

Keberadaan Cinanggerang sebagai wilayah yang subur dan strategis, dituliskan dalam Natuurkundig tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, 1889. Menguraikan sebagai berikut. Wilayah bagian dari Kabupaten Sumedang yang terletak di lereng utara Gunung Kareumbi. puncak-puncaknya masih berhutan, mencapai 1.600 meter di atas permukaan laut, terletak sekitar satu kutub dari pengukur hujan. Ketinggian di atas permukaan laut: 925 meter. Di sebelah utara, di seberang perusahaan, dan hanya dipisahkan oleh jurang yang dalam dari Sungai Cipeles (Cipels), terletak pegunungan, pada jarak sekitar enam kutub, yang mana Manglajau adalah salah satu puncaknya. Hanya puncak-puncak pegunungan ini yang masih berhutan. Di sebelah timur dan barat, lingkungan sekitarnya dibentuk oleh punggung bukit dan jurang yang gundul, semuanya tertutup rapat dengan alang-alang dan spesies rumput lainnya. Di sebelah barat laut, pada jarak sekitar 50 kutub, terletak gunung Tempomas (Tampomas).

Dalam keterangan Encyclopedie van Nederlandsch-Indië, diterbitkan oleh Martinus Nijhoff 1939. Menyebutkan masuk ke dalam Distrik Tanjungsari, bagian dari Kabupaten Priangan. Bersanding dengan Distrik Rancakalong, dan Distrik Cikeruh dan 29 desa. Dilanjutkan dalam tulisan buku tersebut, disebut perkebunan Jatinangor, Cijeruk, Cinanggerang serta beberapa pabrik singkong dan sere (sereh). Sedangkan pada keterangan lainya yang lebih awal, laporan Particuliere Ondernemingen In Nederlandsch-Indië Op Gronden Door Het Gouvernement Afgestaan in Huur (Voor Landbouwdoeleinden) En Erfpacht (1914). Menyebutkan perceelen atau blok perkebunan komoditas teh, menempati wilayah (blok) Tjinanggerang en Tjiseda. Kepemilikannya ata ondernemers en erkende administrateurs, dikuasai oleh Kongsi Tan Djin Gie. Keterangan selanjutnya menyebutkan tanggal kepemilikan (datum van vestiging van het erfpachtsrecht) 18 Mei 1885.

Begitu juga keterangan publikasi jaringan perkebunan priangan, De bergcultures; officieel orgaan van het Algemeen Landbouw Syndicaat, jrg 11, 1937. Dimiliki oleh orang yang sama. Tan Djin Gie. Menghasilkan komoditas teh jenis Pecco Souchon, dan Souchon. Jenis teh hitam yang sangat diminati saat itu. Dicirikan dengan jenis daun teh yang agak tua, berwarna hitam. Rasanya lebih pahit dibandingkan dengan yang lainya.

Kemudian bila menelusuri kembali berdasarkan peta lama, lembar Nangorah (1886), menuliskan Thee etablissment Tjinanggerang. Kemudian pada peta yang sama, ke arah timur, didapati Thee onderneming Margapala en Tjihoehoet Tjikalapa.

Berdasarkan peta lama tersebut, menandakan bahwa kawasan Cinanggerang dan ke arah timur, merupakan perkebunan untuk komoditas teh. Keberadaan pengolahan pabrik teh di Cinanggerang dan Kareumbi ditulis pada peta lembar Soemedang 1942. Keberadaan pabrik teh di Cinanggerang saat ini beralih fungsi menjadi Sekolah Dasar negeri Cinanggerang 2. Sedangkan di arah timurnya, pabrik pengolahan teh Onderneming Kareumbi (ditulis Carumby), kini berupa lapangan di depan Kantor Desa Margalaksana. Ke arah timur dari lapangan, masih terlihat sisa struktur. Berupa tumpukan batuan yang disusun, biasanya menjadi pondasi pondasi bangunan lama.

Tiga Cerobong di utara Cinanggerang
Sekitar 1,2 Km dari SD Negeri 2 Tangerang, didapati struktur bangunan. Berada diantara lereng perbukitan yang kini ditempati perkebunan Indigofera. Tanaman yang memproduksi pewarna biru alami, biasanya digunakan untuk pewarnaan di industri tekstil khususnya batik. Dari informasi warga, merupakan sisa dari kejayan pabrik sereh pasca kemerdekaan. Akibat jatuhnya permintaan pasar, dan mahalnya perawatan perkebunan. Menyebabkan pabrik minyak sereh ini harus ditutup tahun 1960-an.

Dari keterangan laporan kolonial, Citronella-olie yang disusun oleh Auteur Hofstede, H.W. 1928. Pada tahun 1902, terdapat dua pabrik di Jawa yang memproduksi minyak serai wangi: pabrik “Odorata” milik Kaffir yang disebutkan sebelumnya di Tjitjoeroeg dan “Tjikantjana”, yang berlokasi di dekat Tjiandjoer. Industri minyak serai wangi juga mulai berkembang di luar Jawa, meskipun dalam skala terbatas. Van Romburgh melaporkan, antara lain, bahwa ia melihat alat destilasi sederhana beroperasi di rumah seorang penduduk asli di Kandangan (Kalimantan Selatan dan Timur). Dalam artikelnya tentang Kaffir, Hoekman memberikan beberapa detail tambahan tentang perkembangan industri minyak serai wangi di Jawa. Sesuai dengan janji yang dibuat kepada Treub saat itu untuk tidak mencoba menjadikan perusahaannya sebagai perusahaan monopoli, Kaffir selalu menyediakan bahan tanaman sebanyak mungkin untuk pabrik-pabrik yang sedang berkembang, sementara produsen abu serai wangi selalu diberikan informasi sebanyak mungkin.

Kekar Kolom Gunung Susuru
Dari Cianggerang, dilanjutkan ke arah timur melalui kota Sumedang. Dari alun-alun Sumedang kemudian diarahkan ke Ganeas, menggunakan jalan penghubung ke Wado. Sekitar Cikoneng, kemudian berbelok ke arah selatan. Jalanan mendaki karena mendaki punggungan perbukitan disebut Dayeuhluhur. Kawasan ini merupakan bagian dari pusat pemerintahan Kerajaan Sumedang abad ke-16, perpindahanan dari Kutamaya. Ditandai dengan situs pemakaman Raja Geusan Ulun. Kemudia di sebelah selatannya didapati makam utusan Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran, Embah Jaya Perkasa. Kandaga Lante yang kemudian mengabdi kepada Geusan Ulun, pada saat Kerajaan Sumedang berkonflik dengan Cirebon.

Daerah ini merupakan dataran tinggi di kawasan Sumedang sebelah tenggara. Berupa perbukitan dan lembah-lembah yang dalam. Perjalanan dilanjutkan ke arah Kampung Sahar, pemukiman warga yang berada di lereng sebelah barat laut G. Susuru. Berupa kerucut yang diapit oleh beberapa tinggian. di sebelah timurnya berjajar tinggian Pasir Aseupan dan G. Gedogan. Di arah timurnya dibatasi Ci Capar, dan dipagari oleh punggungan perbukitan Pasir Lingga, dengan bagian puncak tertinggi disebut Pasir Grobog 926 meter dpl. Sejajar dengan puncak perbukitan tersebut, ke arah selatannya ditandai dengan puncak Pasir Sangkur 976 meter dpl. Hulu Ci Capar berada di sebelah selatan, di lereng G. Sasapuan 1200 meter dpl. dan Pasir Manggu. Mengalir ke utara, bertemu dengan Ci Beureum di sekitar Situraja Utara.

Dengan demikian, Pasir Susuru merupakan kerucut perbukitan yang dilingkari oleh beberapa puncak-puncak perbukitan dan lembah. Bila ditarik lagi ke arah selatannya, didapati lingkar kaldera Calangcang 1667 meter dpl. Gunungapi dorman yang menjadi batas administrasi, antara Sumedang-Kabupaten Bandung dan Garut. G. Susuru berada di dua kecamatan, bagian timur masuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Ganeas. Sedangkan bagian timurnya, masuk ke Situraja.

Bermula dari informasi di media daring, tentang penemuan warga di G.Susuru. Berupa susunan batuan yang diperkirakan sisa dari kebudayaan lama. Berada di lereng perbukitan, di antara perkebunan milik warga. Dari keterangan warga, masyarakat sekitar Kampung Sahang sudah mengetahui sejak dahulu. Namun belum mengetahui asal-usul dan sejarah pembentukan di alam.

Dari peta Geologi Lembar Bandung (Silitonga, 2003). Merupakan Hasil Gunungapi Tua Lava (Qvl). Disusun lava yang menunjukan kekar lempeng dan kekar tiang. Susunannya basal dan sebagian telah terpropilitisasikan. Terbentuk umur Kuarter, sekitar

Fiturnya disebut columnar joint, atau kekar kolom. Susunan batuan beku, membentuk kolom, memanjang arah utara-selatan. Saling tersusun dan rapat, membentuk dari empat sudut, hingga enam sudut (hexagonal). Rata-rata ukuran lebar, antara 15 cm hingga 20 cm, dan panjang bervariasi. Antara 3 meter hingga 6 meter lebih.

Susunan batuan tersebut, membentuk tebing tegak sekitar 6 meter. Menandakan arah pendinginan, membentuk dome. Pembentukan batuan ini terjadi akibat magma yang naik ke atas permukaan bumi. Pada saat mendekati permukaan, terjadi pendinginan sehingga sifat cair, kemudian menjadi padat. Perubahan ini diikuti dengan proses kontraksi, membentuk struktur hexagonal.

Singkapan kekar kolom berada di ketinggian 750 meter dpl. kemudian bagian puncaknya kemungkinan lebih dari 900 meter dpl. didapati komplek pemakaman, berupa susunan batuan.

Saat ini informasi fungsi keberadaan kekar kolom bagi budaya di Kampung Sahang, Ganeas, belum terungkap. Mengingat bentuk seperti ini biasanya dimanfaatkan oleh nenek moyang sebagai sistem religi, seperti halnya di G. Padang Cianjur. Namun hingga kini belum ada bukti tinggalan budaya, kecuali kompleks pemakaman di bagian puncak gunung. Sehingga perlu untuk diteliti lebih mendalam, baik dari sisi tinggalan budaya dan geologi. Mengingat keunikan fitur bumi G. Susuru yang tidak ditemui di tempat lain.

Ex pabrik sereh, Cinanggerang.
Dinding tegak disusun kekar tiang di lereng barat G. Susuru.
Orientasi kekar tiang, rebah ke arah utara
Sisa struktur pabrik teh Margapala (Margalaksana)

Catatan Geourban#48 Cikande

Suara tatah terus berbunyi sepanjang siang, hadir diantara perbukitan Cikande. Pahat besi, dan otot beradu dengan batupasir Formasi Rajamandala. Batuan yang diendapkan di laut dalam, kemudian tersingkap oleh kekuatan di dalam bumi. Batuannya didapatkan dengan cara menambang secara tradisional, menggunakan linggis, godam dan tekad. Batuannya berlapis miring ke arah selatan, sehingga memberikan jalan pada saat digali. Bongkah-bongkah besar, kemudian dibentuk menggunakan godam, menjadi beberapa bagian. Diangkut dengan cara dipanggul, kemudian diserahkan ke para pengrajin untuk dibuat cobek.

Lama pengerjaanya bisa satu jam lebih, untuk setiap cobek. Ukurannya lebar sekitar 20 cm, dengan khas coakan yang dibuat dengan menggunakan tatah dan ketekunan. Satu produk jadi batu cobek, kemudian dibeli oleh pengepul seharga dua belas ribu rupiah per cobek. Dalam satu hari, para pengrajin mampu membuat antara dua belas hingga lima dua puluh batu cobek. Dikerjakan secara sambilan, disamping berprofesi sebagai penggarap ladang.

Batu Cobek Cikande
Mulai dikerjakan sejak tahun 80-an, dikenal dengan batu coet Cikande. Warga menyebutnya batu hideung, atau batu yang didominasi dengan warna gelap. Bila dilihat secara seksama. Terlihat perselingan batulempung dan batupasir berselang-seling, menjadikan batuan tersebut diendapkan pada kondisi sebagian besar wilayah Cikande ada di bawah permukaan laut.

Geologi menafsirkannya Formasi Citarum, umur Miosen Tengah. Disusun oleh selang-seling antara batupasir, batulanau (Martodjojo, 2003). Merupakan endapan laut dalam, kemudian seiring waktu terangkat hingga di ketinggian 310 meter di atas muka laut.

Pengrajin batu menyukai material ini, karena mudah dibentuk. Selain itu keberadaan batu hideung ini melimpah dan mudah diakses. Namun menjelang akhir tahun 2024, sebagian besar wilayah ini sudah masuk ke dalam penguasaan pengembang perumahan terbesar di Jawa Barat. Luas wilayahnya hampir mencakup sebagian besar Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.

Kegiatan di atas adalah bagian dari rangkaian Geourban ke-48, tanggal 8 Oktober 2025. Diikuti oleh partisipan dari latar belakang yang berbeda. Diantaranya pegiat wisata, pemandu, pengelola wisata hingga mahasiswa jurusan pariwisata. Kegiatan ini bertujuan menggali kembali narasi sekitar Citatah selatan, membuka jejaring lokal dan silaturahmi pelaku wisata.

Kegiatan ini menapaki wilayah Kecamatan Citatah, dari Padalarang, Jayamekar, Bojonghaleuang, Cikande, Girimukti, hingga Cipageran. Di Antara desa-desa tersebut memiliki keunggulan fenomena kebumian dan budaya.

Endapan Awan Panas Cigintung
Lawatan pertama mengunjungi bukti hasil kegiatan gunungapi. Berupa endapan piroklastik, dengan tebal kurang lebih 20 meter. Tersingkap karena digali oleh warga dengan bantuan alat berat sejak tahun 2000-an, seiring dengan penguasaan lahan sekitar Jayamekar. Selain akibat tambang, dan pembukaan lahan untuk pemukiman mengakibatkan peristiwa banjir bandang. Terjadi pada tanggal 6 April 2025, berupa terjangan luapan air sungai. Kemudian memutuskan jalan penghubung antar desa.

Kondisi demikian akibat bagian lereng perbukitan dikupas untuk pembuatan lahan hunian, perumahan Great and Feel di Jayamekar. Akibat pembukaan lahan tersebut, menyebabkan run off air, terutama saat curah hujan tinggi. Mengakibatkan luapan sungai, dan memutus jalan penghubung dari Desa Jayamekar ke Desa Gunung Masigit.

Di lokasi ini didapati sisa tambang warga, berupa dinding tegak. Disusun oleh endapan awan panas.

Menyaksikan Perbukitan Terlipat dari Pasir Karamat
Kunjungan berikutnya adalah ke perbukitan di sebelah utara waduk Saguling, berdampingan dengan Parahyangan Golf. Lapangan golf yang dibangun, di tepian waduk Saguling. Perbukitan yang kini telah masuk ke dalam penguasaan pengembang properti, menjadi titik terbaik untuk mengamati jajaran perbukitan di sebelah utaranya.

Dari titik tinggi Pasir Karamat, terlihat jajaran perbukitan yang memanjang relatif barat-timur. Diantaranya yang terlihat adalah Pasir Kiarapayung 929 meter dpl., bergeser ke arah timur diantaranya Pasir Cirateun 862 meter dpl. Sejajar dengan perbukitan tersebut adalah Pasir Tugu yang kini diakuisisi pengembang, menjadi titik kegiatan hiking. Disebut Bumi Luhur Hiking Track, jalur jalan kaki yang menelusuri perbukitan sekitar Cikande, Batujajar.

Perbukitan tersebut ditafsir sebagai perbukitan terlipat, akibat kegiatan tektonik di masa lalu. Batuannya disusun oleh batupasir, berseling dengan batulempung. Diendapkan pada kondisi laut dalam, pada umur Miosen Awal hingga miosen Tengah.

Seiring kegiatan tektonik,endapan laut dalam tersebut diangkat hingga di atas ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Pengangkatan tersebut terjadi seiring dengan kegiatan perlipatan, terjadi pada Miosen hingga Pliosen. Mengakibatkan terbentuknya perbukitan terlipat, sesar-sesar naik pada batuan karbonat Citatah.

Panorama Bendungan Saguling
Perjalan dilanjutkan ke arah barat, menembus jarak 13,5 km. Ditempuh durasi perjalanan sekitar 30 menit, melalui jalan alternatif antara Cipangeran ke Poros Saguling. Jalannya sebagian besar sudah di beton, sehingga kegiatan ekonomi lokal bergerak. Terutama untuk mengangkut hasil bumi, dari Desa Saguling di jual ke pasar induk di Bandung melalui jalan ini.

Selepas Desa Saguling, memasuki Cipongkor. Jalan relatif menurun, mengikuti kontur perbukitan. Jalannya sejajar dengan arah pengaliran outlet Citarum, dari poros bendungan. Dialirkan melalui pipa ganda sepanjang kurang lebih 5.5 km, ditanam di bawah tanah. Elevasinya turun dari ketinggian 670 meter ke 340 meter. Pengaliran air tersebut memanfaatkan gravitasi, kemudian diantarkan melalui pipa pesat. Tekanan tinggi tersebut kemudian menggerakkan turbin di Power House Saguling.

Sekitar 4 km menjelang Pembangkit Listrik Tenaga Air/PLTA Saguling, didapati titik terbaik untuk menyaksikan perbukitan Citatah. Sekitar Pasir Benteng, dengan elevasi 660 meter dpl. Dari tinggian ini bisa menyaksikan jajaran perbukitan yang memanjang baratdaya-timurlaut. Batuannya berbeda dengan batuan yang pernah dikunjungi sebelumnya. Disusun oleh batugamping, bagian dari Formasi Rajamandala. Dicirikan dengan warnanya abu terang, kadang berwarna coklat, disebut batugamping.

Memandang ke arah barat, terlihat punggungan Gunung Guha 738 meter dpl. Perbukitan yang memanjang dari barat-timur, berada di sekitar Cihea. Di Antara perbukitan tersebut mengalir Ci Nongnang, sungai yang hulunya di Puncak Larang.

Ornamen di Sanghyang Kenit
Sebelah utara dari PLTA Saguling, terdapat gua. Disebut Gua Sanghyang Tikoro, dengan elevasi sekitar 300 meter dpl. Dengan demikian memiliki perbedaan ketinggian dengan poros bendungan Saguling, sekitar 650 meter dpl.

Perbedaan ketinggian tersebut membantah lokasi bobolnya Danau Bandung Purba segmen bagian barat. Hasil penelusuran bisa dilihat di sini: https://pgwi.or.id/2023/02/28/catatan-geobaik2-cukang-rahong/

Di Sanghyang Kenit, merupakan bagian dari segmen aliran Ci Tarum. Aliran airnya merupakan tangkapan dari berapa mata air dan aliran spillway dari Waduk Saguling. Sedangkan aliran utamanya, dialirkan melalui jaringan pipa. Digunakan untuk menggerakan turbin di PLTA Saguling, dan PLTA Rajamandala.

Dengan demikian, aliran air ke gua Sanghyang Poek menjadi kering. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh pengelola Sanghyang Kenit, menjadi sarana wisata susur gua. Inlet atau mulut gua berada di selatan, Sanghyang Poek. Mengalir ke arah utara, sejajar dengan sungai terbuka. Outlet-nya di mulut gua Sanghyang Kenit.

Penelusuruan dialakukan berlawanan dengan arah arus sungai, dari Sanghang Kenit ke arah keluar di Sanghyang Tikoro. Panjang gua kurang lebih 600 meter, melalui lorong memanjang.

Gua ini merupakan bagian dari Formasi Rajamandala, berupa batugamping berumur Oligosen Akhir-Miosen Awal atau sekitar 30-22 juta tahun yang lalu. Tebalnya lebih ari 180 meter, berupa batugamping masif/pejal dan terumbu.

Penelusuran di gua Sanghyang Kenit, mendapati ornamen yang masih berkembang. Menandakan bagian atas gua/eksokarst masih dalam kondisi baik. Sehingga didapat air yang mengalir. Aliran air yang masuk melalui bidang rekahan tersebut, kemudian mengendap menjadi kalsit. Seiring waktu, endapan tersebut membentuk ornamen gua yang menawan. Di gua ini masih didapati ornamen yang masih berkembang, seperti batu tirai, batu alir, gourdam, stalagmit dan stalaktit dan seterusnya. Sehingga gua tersebut cocok bagi siapa saja yang ingin mengetahui rahasia perut bumi.

Moda transportasi roda dua, penelusuran Geourban
Interpretasi di dalam gua Sanghyang Kenit
Batupasir Fm. Citarum, ditambang untuk pembuatan batu coet

Catatan Geourban#45 Jembarwangi

Selepas bulan Juli 2025 usai, pembangunan jalan Lingkar Utara Jatigede telah selesai dibangun. Walaupun belum resmi dibuka, tetapi bisa dilintasi dalam jumlah kendaraan terbatas. Kesempatan inilah dimanfaatkan, meninjau jalan yang melingkar sisi utara waduk Jatigede, Sumedang. Kegiatan ini merupakan bagian dari acara Geourban ke-45, dengan tajuk Jembarwangi pada 10 September 2025, 

Kegiatan inisiasi wisata bumi sekitar Sumedang, dimulai dari sisi sebelah utara Waduk Jatigede. Memanfaatkan jalur baru lingkar utara, dari percabangan jalan kabupaten Situraja ke Darmaraja. Mulut jalan berada di sekitar tanjakan Cinangsi yang berada dibahu dua gunung. Sebelah timurnya adalah G. Baju, dan ke arah timurnya G. Tanjung. Jalannya lebar, diapit oleh parit drainage. Menandakan kelas jalan lingkar ini merupakan proyek nasional. Selepas percabangan Cinangsi, disambut oleh jalanan yang mendaki. Agar tidak terlalu terjal, dilakukan pembobokan perbukitan G. Tanjung 519 mdpl. Kemudian dilanjutkan ke arah timur yang mulai melandai melewati perbukitan Pasir Hingkik 513 mdpl.

Arah pandangan luas tidak terhalang. Ke arah timur terlihat hamparan air yang luas. Waduk Jatigede menenggelamkan 28 desa, dari 5 kecamatan sejak 2015. Dibutuhkan waktu hampir setengah tahun, untuk mencapai paras air optimal. Luas genangan airnya saat ini, kurang lebih sekitar 42 km2. Titik tinggi paras airnya, 260 meter di atas mukalaut. Satu-satunya pulau yang tampak dari arah Cinangsi, adalah G. Surian 310 mdpl. Kerucutnya timbul di atas hamparan air, berhadapan langsung dengan poros bendungan Jatigede. 

Sekitar 15 menit berkendara, di sebelah timur terlihat perbukitan yang mengungguli tinggian. Disebut Pasir Julang, atau masyarakat menyebutnya G. Julang. Dalam peta geologi lembar Arjawinangun (Djuri, 2011), merupakan Hasil Gunungapi Tua-Lava (Qvl). Produk G. Lingga 1125 mdpl.  Dalam tafsiran berdasarkan peta geologi tersebut, memberikan dugaan arah aliran lavanya mengalir ke timur laut hingga Nangerang. Sehingga diperkirakan G. Julang merupakan fasies proksimal (Bogie & Mackenzie, 1998). Perkiraan lainnya adalah perbukitan tersebut merupakan hasil penerobosan magma, disebut intrusi batuan beku. Menerobos batuan sedimen 

Bila merujuk pada pendapat di atas, memberikan petunjuk bahwa G. Julang bukan perbukitan intrusi batuan beku. Melainkan produk aliran lava G. Lingga yang berada di sebelah barat daya yang berjarak sekitar 4.5 km. Disusun batuan beku, berwarna abu terang menandakan didominasi mineral andesitik. Sejak awal pembangunan Waduk Jatigede, sumber batuan yang berada di G. Julang dimanfaatkan untuk kegiatan pembangunan poros waduk diantaranya adalah sebagai agregat. Lahan seluas 55 Ha, tersebut kini direncanakan akan ditambang kembali untuk kebutuhan Bendungan Cipanas. Hanya terlihat beberapa warga yang masih memanfaatkan batuan tersebut, dengan cara penambangan tradisional. Sebagai batu hias, dan pondasi dalam skala tambang kecil.

Saat ini G Jualang tidak lagi menjulang. Sebagian besar tubuhnya telah hilang hasil kegiatan tambang sejak tahun 70-an akhir. Batuannya masih, berupa lava tebal dengan ciri terkekarkan. Menandakan batuan tersebut terdeformasi, akibat kegiatan tektonik. Di sebelah utaranya merupakan jalur sesar Baribis, sehingga kegiatan tektonik tersebut mempengaruhi secara langsung pada batuan. Sebagian besar kawasan ini membentuk bentang alam berupa ceruk, dan sebagian besar membentuk dataran seperti mesa. Tinggian yang terpancung, menyisakan lapangan yang datar. Sebagian besar batuan yang singkat, terkekarkan dengan kuat, membentuk struktur rekahan atau patahan pada batuan (deformasi). Sebelah barat daya, didapati fitur batuan yang membentuk seperti kepala burung. Berupa susunan kekar kolom, tersisa dari kegiatan tambang. 

Menurut warga, fitur batuan tersebut hasil kegiatan tambang menggunakan alat berat. Namun karena batuannya terlalu keras, mengakibatkan alat berat tersebut menyerah. Sehingga ditinggalkan begitu saja, meninggalkan bentuknya pipih. Sehingga masyarakat menyebutnya batu kipas. Disusun oleh batuan beku, berwarna abu terang ciri andesitik. Berada pada ketinggian, sebagian besar bagian bawahnya telah hilang oleh kegiatan tambang, menyisakan blok batuan. 

Dari G. Julang menjadi titik terbaik untuk melihat panorama Waduk Jatigede. Dengan demikian, BBWS berencana mengembangkan kawasan ini sebagai objek wisata berupa vie point atau anjungan pandang.  Rencana tersebut membutuhkan kajian, agar selaras dengan kondisi lingkungan, kemampuan untuk pengelolaan wisata berkelanjutan. 

Sebelah timur laut dari G. Julang, mengikuti jalan Lingkar Utara Jatigede akan menemui situs. Masyarakat menyebutnya Situs Karamat berupa kumpulan batuan dengan ukuran bongkah. Dilingkari oleh pagar besi, menyusun tinggian yang ditempati oleh pohon tegak. Warga menyebutnya petilasan, atau tempat yang pernah menjadi tempat singgah atau disakralkan. Tempat suci yang digunakan sebagai kegiatan ritus, atau sebagai simbol budaya. Informasi mengenai Situs Karamat ini sangat terbatas, karena tidak ada informasi baik dalam tinggalan prasasti atau sumber primer seperti naskah. 

Sumber batuannya bila merujuk pada peta geologi Arjawinangun (Djuri, 2003). Berupa batuan beku yang diperkirakan sama dengan yang ditemui di G. Julang. Berupa Hasil Gunungapi Muda tak Teruraikan. Diantaranya breksi, lava bersifat andesit dan basal, pasir tufan, lapili. Bentuknya lonjong, saling menumpuk. Menurut warga, situs ini merupakan bagian puncak, ditandai dengan batu yang disimpan berdiri seperti menhir. Posisi situs berada ditengah jalan yang menghubungkan antaran Cinangsi ke Pajagan. Namun bila melihat peta lama lembar Darmardja (1943), berada pada ketinggian perbukitan. Dalam peta tersebut belum menunjukan garis jalan. Namun dalam keterangan bapak Asep, kampung yang berada di sekitar situs, merupakan hasil relokasi akibat penggenangan waduk. 

Pada peta lama lembar Soedapati (1911), lokasi situs berada di daerah disebut Bantarjambe. Sesuai dengan nama Sekolah Dasar yang masih menggunakan nama yang sama. Dengan demikian diduga, kampung di sekitar situs merupakan relokasi dari kampung Legok. Posisinya sebelah timur, di bawah lembah yang kini menjadi batas paras air Waduk Jatigede. Untuk menghindari penggenangan, maka warga Legok kemudian bergeser ke dataran yang lebih tinggi disekitar Bantarjambe saat ini. 

Saat ini keberadaan situs telah dilindungi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, melalui undang-undang cagar budaya Nomor 11 Tahun 210 Tentang Cagar Budaya. Disebut Situs Makam Karamat, Cigintung, Sumedang. 

Lokasi selanjutnya adalah Pasir Pareugreug. Merupakan blok yang naik, disebut sesar anjak busur belakang. Merupakan sistem Backarc Java Thrust, segmen Baribis. Blok yang naik ini kemudian dimanfaatkan sebagai poros bendungan. Dinding bendungan yang berarah timur-barat, sesuai dengan arah sesar Baribis. 

Dari atas Pasir Pareugreug, bisa menyaksikan ke segala arah. Di timur terlihat lembah yang dalam, ditoreh oleh Ci Manuk. Aliran outlet dari spillway poros Waduk Jatigede. Mengalir membelah perbukitan terlipat, diapit oleh G. Tonjong sebelah barat, dan G. Pakayuan 330 mdpl., di bagian timur. Alirannya mengarah ke utara, melalui Parakan Kondang. Kemudian Desa Karedok. Alirannya kemudian dibendung kembali, oleh bendungan Bunut.

Dari Pasir Pareugreug, kemudian turun ke arah Desa Karedok melalui lereng Pasir Sema. Jalanan curam, tetapi sebagian besar sudah di beton dan aspal. Menjelang memasuki Desa Karedok, didapati situs Keramat Sunan Pada. Di keterangan papan informasi, gerbang masuk situs berbunyi Situs Keramat Sunan Pada, ayah dari Ratu Cukang Gedeng Waroe. Sunan Pada adalah mertua dari Geusan Ulun yang berkuasa sebagai raja Sumedang. Dari 1579, naik tahta sebagai raja melalui amanat untuk meneruskan kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran. 

Jalannya berupa turunan yang terjal, sisi sebelah baratnya dibatasi oleh gawir terjal Pasir Pareugreug. Dibeberapa tempat terlihat dinding perbukitan tersebut disusun oleh batuan  breksi gunungapi. Seperti dilaporkan pada awal hadirnya perkampungan ini pernah mengalami bencana. Berupa gerakan tanah atau longsor, mengakibatkan posisi kampung haru bergeser ke arah utara ke kampung Rancakeong dan Babakan Dobol. Lebih mendekati bantaran Ci Manuk.

Dihujung kampung, dibatasi oleh genangan air Ci Manuk. Membentuk danau yang terbentuk karena aliran tersebut di tahan oleh Bendung Bunut. Membentang sekitar 380 meter, menutup celah sempit Ci Manuk di Desa Karedok, Jatigede. Bendungan ini berfungsi untuk penyaluran irigasi, penyedian air baku dan sistem pengendali banjir. 

Dari Cibunut kemudian beralih ke arah Jembarwangi di sebelah timur. Jaraknya kurang lebih 7 km. mengikuti jalan fasilitas Waduk Jatigede melalui lintas timur. Di sekitar Cijeungjing kemudian berbelok ke arah tenggara, memasuki desa Jembarwangi bagian barat. Sebelum tiba di Kantor Desa, jalanan mengikuti jalur turunan curam, berakhir di Ci Saar. Sungai yang membelah Desa Jembarwangi, mengalir ke arah utara. 

Merujuk pada beberapa penelitian, kawasan ini disusun oleh batulempung, dan serpih gampingan yang memiliki tebal hingga 650 meter. Bagian dari Formasi Cisaar, berumur Miosen Tengah atau sekitar 15 juta tahun yang lalu. 

Dalam laporan penelitian paleontologi, disebut lembah Cisaar. Memiliki potensi dan sebaran fosil vertebrata. Mulai diteliti sejak lama, namun secara berkala dilakukan oleh Badan Geologi, melalui tim Museum Badan Geologi, KESDM sejak 2019. Diantaranya telah ditemukan beberapa fosil, di titik ekskavasi  di beberapa lokasi yang tersebar sepanjang Ci Saar. Keberadaan fosil vertebrata atau mamalia besar tersebut, menunjukan bahwa sebagian besar lembah Cisaar saat itu dalam kondisi lingkungan estuari. 

Fosil yang ditemukan, tertanam pada batuan dan tanah yang telah lapuk. Sebagian tersingkap di permukaan akibat kegiatan erosi, dan dibawa oleh air. sehingga beberapa fragmen ditemukan tersebar dari barat ke timur. Semua ditemukan pada Formasi Citalang, disusun konglomerat,  dan batupasir tufaan, merupakan lingkungan endapan darat dengan sistem sungai teranyam (braided stream deposits). Umurnya Pleistosen sekitar 1,2 juta tahun yang lalu. Diantaranya ditemukan rahang bawah Stegodon trigonochepalus (Wibowo et. Al., 2018). Lembah Cisaar, Jembarwangi saat ini menjadi salah satu situs baru, untuk kegiatan penelitian paleontologi vertebrata di Jawa bagian barat.

Batukipas, G. Julang Jatigede, Sumedang
Situs Karamat. Cigintung
Di puncak Pasir Pareugreuh.
Fosil vertebrata di Lembah Cisaar

Catatan Geourban#42 Nagreg

Ramalan cuaca tadi malam menyebutkan, besok pagi sedikit berawan. Kemudian jelang sore berkemungkinan turun hujan tipis. Demikian prakiraan kondisi cuaca tanggal 14 Agustus 2025. Rupanya alam memberikan keputusan yang berbeda. Jelang pagi langit berselimutkan awan tebal, sesekali angin bertiup dari arah barat. Awan mendung menggelayut, menandakan hujan sebentar lagi turun.

Waktu menunjukan pukul tujuh pagi, kendaraan diarahkan menembus padatnya lalu lintas Cileunyi. Untung saja waktu pergantian (shift) karyawan pabrik sudah lewat, sehingga jalan kembali normal. Sepanjang Rancaekek dibatasi oleh bangunan pabrik tekstil dan rumah warga. Sebagian besar posisi rumah berada di bawah jalan, menandakan kawasan ini terjadi penurunan muka tanah. Terjadi akibat pengambilan air berlebihan, sehingga terjadi cekungan. Seiring waktu jalan ditambah, penebalan beton. Sehingga rumah warga tampak tenggelam oleh oleh jalan yang membentang barat ke timur.

Di Parakanmuncang, berbelok ke arah utara. Menembus pasar Parakanmuncang, hingga tiba di Pusaka Farm. Dalam waktu satu jam lebih, menembus tiga wilayah, Kota Bandung, kemudian Kabupaten Bandung, dan terakhir di Parakanmuncang, masuk ke wilayah Kabupaten Sumedang.

Titik awal penelusuran kegiatan Geourban ke-42 ini, dimulai dari Pusaka Farm. Pengelolaan ternak kambing milik kang Rizky. Dari Parakanmuncang, diarahkan ke timur. Selepas Rancaekek, kemudian memasuki daerah Nagrog. Jalanannya menanjak, menandakan memasuki segmen Cicalengka-Nagreg. Berupa daerah tinggi yang diapit oleh beberapa gunungapi purba dan perbukitan. Sebelah utaranya adalah kelompok G. Kareumbi-Kerenceng, kemudian di sebelah selatannya dibatasi oleh kelompok G. Mandalawangi.

Sekitar Nagrok jalanan menanjak, menandakan perbedaan elevasi. Perbedaan ketinggiannya kurang lebih sekitar 160 meter bila dihitung dari Rancaekek ke Cicalengka. Tinggian tersebut membentuk cekungan yang diapit oleh perbukitan landai, disebut cekungan Cicalengka-Nagreg. Bila dilanjutkan ke arah timur, topografinya landai menunjukkan batas cekungan Nagreg. Dikenal dengan tanjakan Nagreg, berakhir dipercabangan menuju Garut dan Tasikmalaya.

Cicalengka merupakan batas timur Danau Bandung Purba. Ke arah timurnya dipagari perbukitan dan gunungapi purba. Batas antara Cekungan Bandung bagian timur dengan Cekungan sub cekungan Leles, Garut. Berjajar perbukitan runcing, G. Durung, Pasir Citiis, G. Kendang, G. Batu dan G. Sangiangajung. Komplek gunungapi purba, menjadi pagar alam Cekungan Bandung bagian timur dengan Sub Cekungan Leles-Garut.

Di Hadapannya (timur), merupakan cekungan yang kini ditempati sawah. Diperkirakan merupakan sisa dari sub danau yang terbentuk sebelum Danau Bandung Purba. Seperti yang dikemukakan oleh Budi Brahmantyo dkk., (2001). Menduga terbentuk cekungan kecil yang terangkat. Buktinya adalah adanya endapan danau (lakustrin), berlapis, disusun klastik gunungapi dan aluvial. Selain itu elevasi cekungan tersebut 850 meter dpl., seratus meter lebih di atas paras maksimal Danau Bandung Purba. Dalam pengukuran menggunakan bantuan google maps sekitar 800 hektar. Sebelah timurnya dibatasi jalan raya Nagreg dan G. Leutik. Kemudian di sebelah baratnya, berbatasan dengan Citaman. Kemudian sebelah utaranya sekitar sawah di Desa Kendan. Bukti endapan danau (lakustrin), berupa lapisan lempung dan paleosol belum bisa dipastikan. Mengingat kondisi lingkungan saat ini sudah berubah menjadi areal sawah.

Di sekitar Nyalindung Nagreg, tidak ditemui. Karena sebagian besar sungai yang membelah atau sejajar dengan jalan raya Nagreg disusun oleh breksi gunungapi. Dalam keterangan penelitian awal oleh tim Kelompok Riset Cekungan Badung, dalam jurnal Notes of the Geology of Uplifted Small Basin at Cicalengka-Nagreg Areas South of Bandung (2001), menunjukan bukti. Berupa endapan danau di G. Leutik, atau sekitar 40 meter dari persimpangan rel kereta api Nagreg ke arah selatan. Namun kondisinya saat ini telah menjadi kolam, sisa kegiatan tambang batu sejak awal tahun 2000-an.

Di Desa Kendan, dilaporkan terjadi gerakan tanah. Akibat struktur dan keadaan batuan penyusunnya belum terkonsolidasi dengan baik, dilaporkan terjadi gerakan tanah (longsor), di Nagreg dan sekitarnya. Terakhir terjadi pada 19 Mei 2025, di Kampung Gunung Batu, Nagreg. Menyebabkan kerusakan material/bangunan dan korban manusia.

Ke arah timurnya, terlihat morfologi kubah lava (lava dome), Sangianganjung-Kendan. Didapati batuan amorf (obsidian). Bersisipan dengan batuan yang telah lapuk terkena hidrothemal. Sebarannya melimpah di TPU Legok Nangka, di dinding perbukitan yang dikupas untuk pembangunan tempat sampah metode open dumping. Dalam kajian arkeologi, didapat beberapa situs dan tinggalan budaya obsidian megalitik hingga Sunda Klasik.

Hasil letusan gunungapi memberikan berkah, menjadikan tanahnya subur. Sehingga pasca undang-undang agraria 1870, mendorong pertumbuhan perkebunan swasta di kawasan ini. Diantaranya perkebunan dan produksi minyak sereh 1901-an. Struktur bangunan pabrik dan cerobong asapnya masih bisa disaksikan saat ini.

Dari peta lama, memberikan keterangan bahwa sekitar Nagreg hingga Balubur Limbangan bagian utara ditempati oleh perkebunan. Tanaman yang diusahakan adalah sereh, untuk diambil minyaknya. Ditandai dengan sisa bangunan pabrik pengolah minyak sereh di sekitar Nyalindung, Nagreg. Berupa sisa struktur bangunan, ditandai dengan masih berdirinya cerobong asap penyulingan minyak. Tingginya sekitar 15 meter, struktur cerobong disusun oleh batu bata merah. Menurut keterangan warga, sudah beroperasi sejak masa kolonial. Diperkirakan sekitar tahun 1920-an, kemudian selepas kemerdekaan diambil alih oleh pengusaha lokal. Beberapa keterangan menyebutkan nama M. Arsyad. Dari keterangan ibu Aisyah (68 tahun), pabrik ini ditutup karena harga minyak sereh turun. Seiring dengan biaya produksi dan ketersediaan bahan baku berkurang. Sehinga akhir tahun tujuh puluhan ditutup. Kondisi saat ini hanya menyisakan cerobong, kemudian di sebelah utaranya masih bisa dilihat beberapa bekas struktur pondasi bangunan. Kemudian ubin yang diperkirakan masih asli, berukuran sekitar 20 x 20 centimeter. Kemudian pondasinya disusun oleh batu bata merah. Dibagian samping struktur pondasi, terlihat bak-bak penampungan air. Diperkirakan pernah digunakan sebagai pembersihan dan pencucian batang sereh. Bak tersebut menampung air yang datang dari arah utara, kemudian outletnya ke sungai yang berada di sebelah selatan pabrik. Minyak sereh yang diusahakan adalah minyak atsiri, hasil dari ekstrak tanaman serai/ sereh (cymbopogon), dengan metode destilasi uap.

Tujuan selanjutnya ke Statsiun Nagreg. Pada papan nama statsiun, dituliskan elevasi +848 meter dpl. Dengan demikian merupakan titik statsiun tertinggi diantara Statsiun Cicaengka (+689 m), dan sebelah timurnya Statsiun Lebakjero (+818 m).

Perbedaan elevasi (elevation gain), antara Cicalengka dan Nagreg, sekitar 164 meter. terlihat dari posisi rel, dari arah barat kemudian sedikit naik secara bertahap ke arah timur. Titik tertingginya sekitar Pasir Karamat, sekitar +860 meter, kemudian melandai ke arah Lebak Jero. Perbedaan antara Stasiun Nagreg dan Stasiun Lebakjero lebih rendah sekitar 30 meter.

Perbedaan ketinggian ini menjadi tantangan dalam pembuatan jalur lintasan kereta api dari Cicalengka ke arah timur. Pada saat pembangunan jalur timur Bandung, Cicalengka merupakan stasiun terminus. Merupakan stasiun paling ujung timur yang memisahkan Bandung dan bagian timur. Stasiun ini diresmikan 10 September 1884, satu zaman dengan peresmian Stasiun Bandung. Pembangunan lanjutan lintasan ke arah timur, dilakukan segera. Mengingat dibutuhkannya akses menuju timur, melalui Nagreg. Jalur kereta api kemudian dikerjakan pada 1887. Pembukaan jalur Nagreg ke Lebak Jero, secara teknis sulit karena harus membobok Pasir Karamat. Disusun oleh lava masih dan tebal, dikerjakan secara manual. Menggunakan linggis, pahat dan alat sederhana lainya. Dicirikan dengan jejak penggunaan linggis, pada dinding tebing. Pembukaan jalur berupa celah yang dibobok, dengan tinggi sekitar 5-7 meter. Kemudian pada 1889 Stasiun Cicalengka menjadi lintasan dari Bandung ke Garut. Kemudian 1893, dilalui jurusan Bandung-Tasikmalaya.

Di Bagian puncak Pasir Karamat, didapati bunker. Berupa struktur bangunan dengan berbagai ukuran. Terdapat empat struktur bangunan, berjajar utara-selatan. Dibuat dari beton, dengan tebal hampir 90 cm., tanpa tulangan besi. Bentuknya seperti kubah memanjang, dilengkapi pintu dengan lebar 100 cm. terbuat dari besi. Keberadaan daun pintu sudah hilang, meninggalkan bekas engsel yang dibongkar paksa. Diperkirakan bunker ini merupakan sistem pertahanan militer, di sebelah timur Bandung. Memanfaatkan tinggian, sebagai titik strategis untuk mengamati pergerakan serangan dari arah timur. Melalui celah sempit yang diapit oleh Pasir Ciwulung sebelah utara, dan Pasir Karamat-Citiis di sebelah selatannya.

Di puncak Pasir Karamat ini, pemandangan luas membentang. Ke arah timurnya dibatasi oleh lembah Pasir Citiis. Dilintasi oleh jalur kereta api sepanjang kurang lebih 200 meter. menghubungkan Nagreg ke Lebakjero.

Sebelah utaranya terlihat kerucut, berlomba-lomba menghiasi kompleks gunungapi purba Kenda. Sistem gunungapi yang ditempat oleh kubah lava, dibatasi Nagreg sebelah barat, dan Simpenan sebelah baratnya. Diduga merupakan pusat letusan gunungapi Kendan-Sangianganjung.

Cerobong asap, peningalan pabrik pengolahan sereh di Nagreg.
Tapak linggis, pembobokan Pasir Karamat. Jalur keretaapi Nagreg-Lebakjero.
Bagian interior bunker Pasir Karamat
Struktur bunker, dengan latar G. Kaledong.

Catatan Geourban#36 Tenjolaut

Dalam kegiatan penelusuran sejarah Sumedang Larang, dibagi ke dalam beberapa kali perjalanan. Dibungkus dalam wisata bumi, menapaki kembali hubungan antara dinamika bumi, sejarah manusia yang hadir di atasnya dan ekologi yang berkembang. Dalam kesemapatan wisata bumi kali ini, mendatangi tempat yang pernah menjadi puseur dayeuh atau ibukota Sumedang Larang. Pusat pemerintahan kabupaten, saat berada di bawah kekuasaan Mataram Islam. Lokasi yang dikunjungi adalah sekitar Tenjolaut, Desa Padaasih, Kecamatan Conggeang.

Tenjo adalah melihat atau memandang,  sehingga menarik makna tenjolaut adalah satu tempat yang bisa melihat laut. Seperti yang diterapkan pada Dusun Tenjolaut, Desa Padaasih, Sumedang.

Dari beberapa keterangan, makna tersebut bisa diartikan dalam dua pengertian. Makna toponiimi yang pertama seperti yang diuraikan di atas, sedangkan arti kedua bisa disejajarkan dengan genang lkaut dimasa lalu. Lautan yang luas yang terbentuk dimasa lalu, saat sebagian besar Sumedang berada di bawah permukaan laut.

Bukti Tenjolaut di Desa Padaasih perah di bawah laut gambarkan dalam Peta Lembar Geologi Arjawinangun (Djuri, 2011). Menuliskan bahwa sebagian besar Padaasih, disusun oleh Anggota Batulempung Formasi Subang. Diendapkan pada saat kondisi laut dangkal, dengan kemungkinan adanya napal yang ikut teredapkan. Pengendapannya menghasilkan batulempung berlapis, dengan tebal 2900 meter. Selaian memiliki narasi sejarah lahirnya wilayah, Pasir Tenjolaut merupakan bukti bahwa sebagian besar Sumedang masih tenggelam di bawah laut. Seiring waktu, akibat kegiatan tektonik akhirnya terangkat ke permukaan, hingga setinggi 326 meter dpl.

Masyarakat menyebutnya Bukit Pasir Putih. Bukit yang biasa disebut pasir dalam bahasa Sunda, tetapi dalam makna disini berarti butir pasir. Sehinga diartikan bukit yang disusun pasir dan berwarna cenderung putih karena kontras dibandingkan lingkungan sekitarnya.

Berupa perbukitan, bagian dari lereng G. Tampomas di arah baratnya. Sehingga perbukitan ini posisinya lebih tinggi dan landai ke arah timur. Kondisi topografi demikian, menjadi tinggian yang terbuka ke arah timur dan utara. Sehingga pendiri dusun Tenjolaut masih bisa menyaksikan garis pantai utara, sekitar Indramayu. Sedangkan Cirebon tertutup oleh kerucut G. Cereme.

Bukit Pasir Putih Tenjolaut atau Pasir Tenjolaut (pasir adalah bukit), seiring waktu tererosi oleh air. Diaantaranya mengali sungai-sungai yang mengalir dari barat ke timur. Seperti Ci Bodas yang berada di sebelah selatan Tenjolaut. Kemudian Ci Pelang yang bergabung dengan Ci Paray di Batukarut. Sungai-sungai tersebut mengerosi batuan yang sifatnya mudah lapuk, sehingga terbentuk lembah-lembah dan jurang yang dalam. Dampak erosi yang terus terjadi hingga kini, diantaranya perubahan bentuk lahan, air cenderung keruh dan pendangkalan sungai. Longsor terjadi di dusun Batukarut, Desa Padaasih. Terjadi pada 22 November 2022 melalui laman sosial media desa https://www.instagram.com/p/ClQZnvPytm8/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA== Dampaknya adalah hampir 30 hektar sawah tidak mendapatkan pengairan.

Akibat batuan penyusunnya dalah batulempung berlapis, menyebabkan sering terjadinya gerakan tanah. Seperti yang terlihat di Pasir Tenjolaut, membentuk bidang longsor setengah lingkaran. Mekanisme gerakan tanahnya adalah nendatan, bergerak lambat akibat kenaikan muka air tanah. Selain itu sifat batuan ini memiliki permeabilitas yang buruk, tidak mampu meloloskan air. Sehingga beberapa sungai akan meluap, bila terjadi hujan besar dihulu.

Keterdapatan sumber mata air diwilayah ini, berasal dari daerah imbuhan di sebelah barat. Merupakan dataran tinggi dan perbukitan, lereng G. Tampomas. Batuannya disusun oleh endapan vulkanik, sehingga memiliki sifat batuan pembawa air. Syarata inilah salah satu alatan pemindahan kerjaan Sumedang Larang abad ke-17.

Tenjolaut merupakan dataran rendah, dikelilingi oleh pesawahan. Pada abad ke-17 akhir, menjadi ibu kota Kabupaten Sumedang, pada saat pemerintahan Raden Bagus Weruh. Dinobatkan menjadi bupati Sumedang 1633 – 1656, dengan gelar Rangga Gempol II. Ibu kota pemerintahannya dialihkan dari Timbangante ibu kotanya di Tegalluar (saat ini Kabupaten Bandung) ke Tenjolaut, Conggeang, Sumedang.

Pengalihan pusat pemerintahan tersebut, merupakan kelanjutan penangkapan Dipati Ukur pada 1633 di Gunung Lumbung Cililin. Dari wilayah inilah Rangga Gempol II memerintah, melanjutkan kekuasaan Kabupaten Sumedang yang dipimpin Rangga Gede.

Dampak lainya dari pemberontakan Dipati Ukur, 1633 Agung dan penerusnya Amangkurat I, mereorganisasi wilayah priangan. Dengan mempersempit wilayah Sumedang dengan membagi wilayahnya menjadi kabupaten pemekaran. Diantaranya Kabupaten Bandung, Sukapura dan Parakanmuncang.

Selain itu, melalui kebijaksanaan Amangkurat I pada 1641 (suksesi dari Sultan Agung) menghapus fungsi Bupati Wedana. Sehingga Rangga Gempol II, memiliki jabatan yang sama dengan bupati lainya. Kondisi demikian yang menyebabkan Rangga Gempol II kecewa, hingga 1656 mengundurkan diri. Dilanjutkan oleh puteranya bergelar Pangeran Panembahan, diangkat menjadi Rangga Gempol III. Tokoh kontroversial yang ingin mengembalikan Sumedang sebagai kerajaan berdaulat.

Dari informasi kepercayan masyarakat, penamaan Tenjolaut berhubungan dengan kondisi bentang alam. Menurut cerita orang tua, kawasan ini sebelumnya pernah ditempati laut dalam. Sedangkan pendapat lainya, dari lokasi ini bisa melihat patai utara, di balik G. Ciremai. Keberadaan bukti laut dalam, bisa ditemui di bukit Pasir Putih Tenjolaut di Blok Jukut. Berupa perbukitan yang disusun oleh Anggota Batulempung Formasi Subang (Tms). Berupa batulempung mengandung lapisan batugamping napalan abu-abu tua, batugamping. Setempat ditemukan sisipan batupasir glukonit hijau (Djuri, 2011).

Selain itu, sekitar wilayah ini ditempati pesawahan yang luas. Menempati hampir semua bagian Conggeang. Total luas wilayah Conggeang sekitar 65,36 km2 (BPS Sumedang, 2016). Pembukaan sawah sudah dilakukan, saat Sumedang berada di bawah kekuasaan Mataram (1620). Dengan cara alih teknologi orang-orang Banyumas ke Conggeang, dan perluasan sawah disertai pembangunan sistem irigasi, seiring dengan pembukaan lahan. Mengkonversi hutan menjadi sistem sawah. Ekstensi sawah tersebut sebagai strategi penguatan pangan, dilakukan Mataram dalam mendukung ekspansi wilayah ke Jawa bagian barat.

Situs Patilasan Bupati Sumedang, Rangga Gempol II di Tenjolaya, Padaasih.
Bongkah lava di jalan menuju Pasir Tenjolaut.
Pasir Tenjolaut, disusun batulempung.
(sungai) Ci Pelang yang mengerosi batulempung Formasi Subang.

Catatan Geourban#35 Cibugel

Masih dalam suasana musim hujan, peserta menembus jalan desa. Berpayung semangat untuk menangkis hujan, dengan tujuan menapaki kembali sejarah bumi di Sumedang Selatan.

Dikegiatan ke-35, mengunjungi jembatan gantung yang melintasi dua desa di Sumedang Selatan. Disebut jembantan gantung Panyindangan, menghubungkan Desa Baginda disebelah barat, dengan Desa Gunasari dibagian timur. Jembatan tersebut dibangun oleh anggaran Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), pada tahun 2018. Menggantikan jembatan rintisan yang dibut oleh tim Vertical Rescue Indonesia, tahun 2017. Jenis jembatannya menggunakan teknologi Jembantan Gantung untu Pedesaan Asimeteris (Judesa). Menggunakran struktur kabel baja, dan tiang pancang sebagai struktur utamanya.

Panjang jembatan sekitar 120 meter, membentang barat ke timur di atas Ci Honje. Dengan lebar 1.65 meter, sehingga hanya bisa dilalui pejalan kaki dan roda dua. Bermanfaat sebagai penghubung dua desa, menggerakan ekonomi lokal. Dibangun di dataran rendah yang ditempati sawah, kemudian dipotong Ci Honje. Sungai yang berhulu di G. Calangcang. Sistem gunungapi purba, diperbatasan Sumedang dan Garut.

Aliran sungainya bertemu dengan Ci Peles, di Situraja kemudian bergabung dengan Ci Manuk. Disekitar Gunasari, dikatergorikan ordo sungai muda, dicirikan dengan arus sungai deras. Mengendapkan bahan sedimen yang diangkut dari hulu, diantaranya bongkah batuan hingga pasir. Sedimen dari hulu yang dibawa arus sungai, kemudian membentuk dataran-dataran aluvial yang luas. Dataran banjir tersebut ditempati oleh sawah yang memerlukan pengairan.

Lokasi berikutnya adalah lembah Citengah. Lembah yang diapit dua perbukitan, kemudian dipotong oleh Ci Tengah. Sungai yang berhulu di Cimanggung. Lereng G. Calangcang-Pasirhonje. Pada 4 Mei 2022 dilanda banjir bandang, meluap hingga menerjang rumah dan sarana warga di Citengah, Gunasari.

Dipicu oleh curah hujan tinggi, kemudian kemampuan penyerapan air yang berkurang. Terjadi akibat perubahan tata guna lahan di hulu, sehingga limpasan air (run off) mengalir semuanya ke Ci tengah dan Ci Tundun (sebelah barat). Dua sungai tersebut bergabung dengan Ci Honje, kemudian dialirkan ke utara.

Luapan air tersebut bukan saja terjadi satu kali, namun pernah dilaporkan sebelumnya. Walaupun dalam skala kecil, menandakan pengelolaan sungai dihulu terganggu. Seperti halnya diutarakan oleh Walhi Jawa Barat, bahwa banjir terjadi akibat perubahan penggunaan lahan di hulu.

Bagian hulunya adalah wilayah perkebunan teh Margawindu-Cisoka. Dalam penelusuran dikegiatan ini, mengunjungi tinggian Cisoka. Saat ini ditempati oleh lokasi wisata, tumbuh menjamur di atas lahan bekas perkebunan teh Margawindo. Penggunaan lahan tersebut saat ini masih dalam status abu-abu, karena selepas penguasaan masa kolonial dinasionalisasi. Kemudian disewakan kepada swasta, melalui Hak Guna Usaha.

Sebelum mendekati Cisoka, didapati air terjun Cigorobog, Citengah. Berupa air terjun bertingkat, mengalir dibatuan breksi gunungapi. Mengalir dari hulu G. Munjul dan G. Bedil. Air terjun bertingkat empat, terbentuk hasil erosi sungai. Akibat batuan yang lebih resisten, membentuk ceruk berupa air terjun bertanga. Aliran sungainya kemudian mengalir ke arah selatan, menuju Ci Honje.

Melintasi puncak pass Cisoka, jalanan menurun ke arah utara. Jalannya telah diaspal, hingga menjadi alternatif menuju Garut melalui Cibugel. Di desa yang masih menjadi wilayah Sumedang, berbatasn denga Garut. Sehingga kawasan ini menjadi jalur penghubung pergerakan pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indones (DI/TII). Terjadi pada kurun waktu antara tahun 1950-an hingga tertangkapnya Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo di G. Beber-Rakutak.

Serangan terjadi DI/TII pada 23 November 1959. Berupa aksi pembantaian yang terjadi di Desa Cibugel, mengakibatkan 120 orang tewas. Pada masa tersebut, desa ini menjadi basis pertahanan pro republik. Penolakan warganya terhadap kehadiran DI/TII. Sehingga pasukan bentukan SM Kartosuwiryo, mengkategorikan Cibugel sebagai desa Darul Harbi atau kawasan musuh. Pembantaian terjadi jelang tengah malam, melalui pengepungan. Dalam kondisi tidak menentu, sebagian bersar warga bersembunti di Legok Cibiru atau sekitar 100 meter dari kantor desa. Dilokasi inilah pasukan DI/TII melakukan pembunuhan masal, mengakibatkan tewasnya ratusan rakyat.

Pasca peristiwa tersebut, sebagian besar warganya mengungsi ke daerah lain di Sumedang. Kemudian kembali ke Cibugel, setelah ditangkapnya SM Kartosuwiryo pada 1962. Kunjungan ke Cibugel, menutup perjalan Geourban ke-35.

Puncak perkebunan teh Margawindu.
Air terjun Gorobog, hulu Ci Honje.
Kabut menyergap puncak Cisoka.
Penanda makam korban pembantaian DI/TII di Cibugel

Catatan Geourban#32 Ganeas Sumedang

Dalam laporan prakiraan cuaca, sebagian besar langit Sumedang dibawah sergapan hujan ringan. Terbukti saat rombongan Geourban mendekati kota ini, langit sepertinya ditaungi awan tebal. Temperatur sejuk, mengantarkan kegiatan ini dari pagi hingga jelang sore. Untuk mendapatkan reportase dalam bentuk video, bisa dilihat ditautan https://www.youtube.com/watch?v=U9c54fYwE-w

Sesuai dengan pernjajian di grup Whatsaap, memilih lingkar Binokasih sebagai titik perjumapaan. Selain mudah dijangkau dan dipahami, tugu ini menjadi batas terluar sebelah timur sebelum memasuki pusat kota Sumedang. Tugu yang dihiasi oleh mahkota Binokasih, simbol penerus kerajaan Sunda abad ke-16. Pada abad tersebut Kesultanann Banten semakin mendesak kerajaan Sunda yang berkedudukan di Pakuan Pajajaran (Bogor), hingga runtuh.

Jelang keruntuhan kerajaan tersebut, Raja Sunda terakhir mengirim empat utusan disebut Kadaga Lante.Tujuaanya adalah menyerahkan simbol kerajaan Sunda, agar dilanjutkan oleh Kerajaan Sumedanglarang. Diantaranya adalah mahkota Binokasih, sebagai penegas suksesi kerajaan penguasa sebagian besar Tatar Sunda. Momen inilah yang digunakan oleh raja terakhir Sumedang, untuk menyatakan kerajaan Sumedang berdaulat. Hingga kelak, sekitar 41 tahun kemudian takluk di bawah Kesultanan Mataram, sehingga Sumedang berstatus kabupaten.

Binokasih membawa rombongan Geourban ke masa kejayaan kerajaan Sumedanglarang. Dalam kegiatan sebelumnya https://pgwi.or.id/2025/01/30/catatah-geourban31-dayeuhluhur/ mengupas satu penggalan waktu, raja terakhir Sumedanglarang. Dalam kegiatan ini menggunakan kendaraan roda dua, diikuti oleh pegiat wisata, pemandu dan peminat budaya. Kendaraan melesat menembut jalan raya Sumedang, mengarah ke utara dan memotong kota. Terlihat samar-samar satu bentuk perbukitan yang menaungi kota Sumedang, dari G. Kacapi kemudian berbelok ke arah timur.

Melewati Desa Margamukti, Kecamatan Cisarua. Melalui jalanan yang menhubungkan ke Desa Ciuyah. Jalanan kelas kabupaten, membujur dari timur ke barat. Tidak lebih dari sepeminuman teh, melampaui Cirwaru dan perbukitan Pasir Ciwaru. Jalanan menyempit membelah kampung, kemudian tiba di tinggian Ciuyah. Berupa lembah yang dipotong oleh Ci Uyah. Kiri dan kanannya ditempati hamparan sawah, tumbuh subur sepanjang masa. Sebelah barat terlihat jajaran perbukitan, dihuni oleh vegetasi lebat. Hutan tersebut berfungsi sebagai daerah tangkapa air, sehingga kawasan ini tdak pernah kekeringan.

Tujuan pertama adalah fenomena mataair Ciuyah, Ds. Ciuyah. Terletak diantara sawah warga, sebelah utara dari kantor Desa. Jarak dari jalan raya desa menuju lokasi sekitar 500 meter, melaui salura irigasi. Dilakukan dengan berjalan kaki, sejajar dengan anak sungai hingga lokasi yang akan dituju. Dari pertengahan perjalanan, terlihat lembah yang dipotong sungai, memberikan indikasi adanya pola kelurusan yang dilalui sungai. Dalam laporan tim Badan Geologi KESDM (Saputra drr., 2023), survey seismisitas Gempa Sumedang 31 Desember 2023. Menemukan perkiraan sesar melalui survey lapangan dan morfotektonik. Mengintepretasi adanya pola sesar naik berarah relatif barat-timur, terpotong oleh sesar mendatar berarah timurlaut-baratdaya. Buktinya terlihat kehadiran cermin sesar sebagai sesar mendatar pada badan sungai. Kajian tersebut menindaklanjuti survey Pusat Air Tanah dan Geologi Lingkungan, Badan Geologi. Mengkonfirmasi keberadaan sumber mata air asin di tinggian Desa Ciuyah.

Keberadaan mataair ini diduga sebagai air yang terperangkap apda batuan sedimen, muncul kepermukaan karena diberi jalan oleh retakan pada batuan. Akibat adanya tekangan dari bawah, pembukaan celah yang memungkinkan naiknya fluida ke permukaan. Disebut mata air formasi atau mata air yang berasosiasi dengan batuan sedimen (connate water).

Dalam fisografis pulau Jawa, Sumedang merupakan bagian dari Zona Bogor (Martodjojo. 1984). Zona ini meliputi sebagian besar Sumedang, merupakan perbukitan lipatan yang terbentuk dari batuan sedimen laut dalam. Sehingga diperkirakan sebagian besar Sumedang masih berada di dasar laut. Seiring waktu diendapkan batuan sedimen laut dalam, berupa batupasir-batulempung pada Miosen Tengah hingga Miosen Akhir atau sekitar 23-15 juta tahun yang lalu. Seiring dengan pengendapan batuan sedimen, terdapat cekungan yang menjebak air laut pada saat itu. Pada umur Pliosen terjadi pengangkatan, diakibatkan oleh tektonik. Mengakibatkan pendangkalan dan pensesaran, seperti yang diduga hadirnya sesar Ciuyah.

Mata air tersebut muncul ke permukaan, berasosiasi dengan sesar. Air yang berada jauh di kedalaman lebih dari 1000 meter di bawah permukaan, disebut air formasi (connate water). Debitnya tidak terlalu besar, rasanya asin dan tidak mengindikasikan kenaikan temperatur. Merupakan rembesan, dicirikan dengan munculnya gelembung. Tingkat kegararamannya mendekati air laut, dengan pH 6,7 (Survey PAGTL, 2023).

Di lokasi tersebut ditemukan dua sumur, dibuat oleh pemilik lahan dengan tujuan untuk kegiatan ritual atu pengobatan. Dari informasi warga, lokasi ini sering dikunjungi pada waktu tertentu, sebagai sarana penyembuhan dari penyakit. Beberapa pengunjung melaksanakan niat untuk mandi atau sekedar membersihkan diri. Dengan demikian pemilik lahan memasang kain penutup warna putih, disekeliling sumur mata air Ciuyah. Bahkan beberapa pengunjung menyempatkan mengambil air, sebagai sarana penyembuhan.

Perjalanan ke arah timur, menemui situs Batukuya, Ds. Cimara. Blok batuan yang jatuh dari puncak Pasir Pabeasan. mengendap di sawah warga. Akibat pelapukan, membentuk seperit kura kura. Menurut warga, batu tersebut menjadi penghias alam namun ada juga yang mempercayai sebagai situs ritual.

Berada diantara sawah warga, Desa Cimara, Cisarua, Sumedang. Disebut kuya atau kura-kura dalam bahasa nasional, karena mirip dengan binatang reptil tersebut. Dicirikan dengan adanya rumah atau batok seperti kubah, dan kepala yang menjulur keluar.

Dari ukurannya cukup besar, panjang sekitar 2 meter, dan lebar 1 meter. Tingginya tidak lebih dari 90 cm. Dari sekilas pengamatan, disusun oleh batuan beku. Sumbernya diperkirakan dari bukit yang berada di sebelah tenggara dari Pasir Pabeasan. Akibat kegiatna pelapukan tingkat lanjut, mementuk blok batuan yang jatuh kemudian mengendap diantara pesawahan. Sebagian besar telah mengalami pelapukan, membentuk rekahan-rekahan. Batuan penyusunnya bagian dari Pasir Pabeasan, ditaksir sebagai batuan intrusi batuan beku. Warna batuan abu-abu cerah, mengindikasikan jenis andesitik.

Dari keterangan warga, keberadaan batu Kuya ini awalnya ada di atas perbukitan. Kemudian pindah ke arah lereng, diantara sawah warga. Posisinya berada sekitar 50 meter dari jalan Desa Cimara.

Mendaki ke arah barat, mendekati puncak Pasir Pabeasan. Didapati singkapan batuan beku tebal, tegak dan tetutupi oleh hutan bambu. Berupa perbukitan intrusi batuan beku, membentuk gawir terjal setinggi 10 meter. Berupa lava tebal yang telah mengalami pelapukan dan terdeformasi. Membentuk struktur kekar lembar dan bidang-bidang rekahan. Diantaranya didapat ceruk yang dipercayai sebagai sarang macan, atau disebut liang meong. Ukuran lubangnya memiliki lebar sekitar 1 meter dan tinggi 1,5 meter, berupa lorong kecil. Keberadaanya kini ditutup oleh warga, dengan cara ditimbun dengan menggunakan tanah yang diambil dari sekitar gua. Menuju lokasi tersebut, melaui pesawahan warga, kemudian mendaki mengikuti kontur lereng hingga kearah puncak perbukitan.

Di bagian puncak perbukitan tersebut, ditemui situs Pasir Pabeasan. Situs yg kepercayaan/agama nenek moyang. Berupa batu tegak, disusun diantara bongkahan batuan. bentuk demikian bisa ditafsirkan sebagai matu menhir.

Perjalan dilanjutkan ke arah selatan, menyeberangi Ci Peles di daerah Cibangkong. Kemudian dilanjutkan ke arah jalan raya Wado, berbelok ke arah timur dan mengambil jalan desa Cibogo. Pintu masuk berada diobjek wisata Bale Citembong Girang, dilanjutkan berjalan kaki sekitar 15 menit ke arah selatan.

Keberadaa situs Pasir Kabuyutan, masuk ke dalam wilayah Desa Ganeas. Disebut Situs Kabuyutan Citembong Girang. Sistem religi nenek moyang, berupa susunan batuan dengan berbagai ukuran. Ditata menyerupai altar. Menurut warga sudah digunakan oleh raja Sumedang pertama, sekitar abad ke-8. Berada dilereng perbukitan, dicirikan dengan keberadaan pohon beringin Ficus benjamina yang tinggi menjulang. Diperkirakan umurnya ratusan tahun, dengan akar yang menjalar kesegala arah.

Keberadaan pohon beringin selalu dikaitkan dengan tempat sakral. Dibeberapa kebudayaan dipercaya sebai tempat tinggal roh nenek moyang, memiliki keukuatan mistis sehingga sering digunaan sebagai tempat ritual.

Lokasi penutup berkunjung ke Situs Batu Guling. Desa Kaduwulung. Ditemui beberapa blok batuan, berupa breksi lahar hasil kegiatan gunungapi. Dari keterangan warga, batuan tersebut dijatuhkan dari perbukitan Dayeuhluhur. Dengan tujuan untuk menghancurkan pasukan Cirebon yang berusaha menyerang dari arah timur. Terjadi pada saat penyerangan Cirebon ke Dayeuhluhur, pada tahun 1585. Blok batuan tersebut digulingkan, kemudian mengendap disekiar Desa Kaduluwung, menjadi situs disebut Batu Gulung.

Blok batuan beku berbentuk kuya (kura-kura)
Situs Pasir Pabeasan
Situs Kabuyutan Citembong Girang

Geouban# 30 Jayamekar

G. Bandera merupakan bagian dari puncak-puncak yang berada di sebelah utara Waduk Saguling. Bentuknya berupa perbukitan yang memanjang baratdaya-timurlaut, mulai dari Jayamekar hingga Cikande. Dari peta Rupa Bumi Indonesi/RBI Lembar Padalarang (2000), menuliskan beberapa puncak. Disebelah timur puncak G. Bakung 816 m dpl., G. Puter 889 m dpl., Pasir Lampegan 868 m dpl. kemudian masih berjajar ke arah timur dengan posisi lebih tinggi G. Pancalikan 963 m dpl., G. Halimun 972 m dpl. kemudian melandai ke arah barat. Ditempati Pasir Sopak 856 m dpl., dilanjutkan Pasir Cibuntu 856 m dpl.

Jajaran perbukitan tersebut bagian dari Rajamanda Ridge, atau punggunga Rajamandala. Sejajar dengan jalan raya penghubung Bandung-Cianjur di Citatah, Padalarang. Jalan raya ini membelah perbukitan karst, yang disusun oleh batuan karbonat. Ditafsirkan sebagai karang penghalang/barrier reef (Siregar, 2005) yang diendapak sejak Oligosen Akhir hingga Miosen Awal, sekitar 25-15 juta tahun yang lalu.

Sedangkan kelompok G. Bendera yang berada disebelah selatannya, disusun oleh sedimen klastik gunungapi. Satuan batuannya disusun oleh hasil pengendapan dilaut dalam, seiring waktu terangkat hingga 670-900 m dpl. dpl., lebih. Buktinya tersingkap berupa batulanau dan batupasir tebal di Cikande, hasil kegiatan perlipatan serta tersesarkan. Ke arah selatannya, sekitar Cigintung, ditemui sisa penambangan yang menyinkapkan endapan gunugapi umur Kuarter. Tebal dan membentuk perbukitan, kemudian melandai ke arah selatan.

Mari temui bukti pebukitan terlipat, melalui pengamatan di puncak G. Bendera. Bukti endapan laut dalam di Cikande dan hasil letusan gunungapi berupa endapan awan panas (ignimbrite) di Cigintung. Hasil letusan gunungapi kelas plinian, mengalirkan awan panas sejauh 19 km dari pusat letusan (Pyroclastic density currents). Akibat temperatur tinggi hingga lebih dari 500 derajat celcius, kemudian terelaskan (welded).

Hari/Tanggal
Sabtu, 1 Februari 2025

Waktu
08.00 WIB sd. 13.00 WIB

Titik pertemuan (meeting point)
Geotheather Hawu-Pabeasan, Cidadap, Padalarang

https://maps.app.goo.gl/DFsof9faAExBjxPv5

Syarat dan ketentuan
Kegiatan bersifat mandiri dan probono, dipersilahkan mengatur moda transport (disarankan roda dua). Mohon dipersiapkan kelengkapan kondisi cuaca, kegiatan hiking dan kebutuhan pribadi lainya.

Tentang Georuban
Berjalan sejak 3 tahun yang lalu, oleh Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia. Menginisiasi, menggali wisata bumi, melalui narasi, interpretasi dan membuka jaringan silaturahmi lokal.

Catatan Singkat Geourban#26 Palasari

Ujungberung diintepretasikan hadir jauh sebelum Daendels membuat jalan Raya Pos 1810-1811. Dengan demikian sudah ada budaya yang hadir di sebelah Bandung Timur.  Merujuk peta lama, Kaart van de Priangse landen ofwel een gedeelte van de noordkust van Java, 1600. Menyebutkan hadirnya wilayah di sebelah utara Parakanmuncang.

Kunjungan pertama adalah menapaki aliran lava di Ci Panjalu. Lokasinya terletak di Cilengkrang utara, sejajar dengan jalan Palalangon, Kabupate Bandung. Jalan yang menghubungkan Cigending atau Alun-alun Ujungberung ke utara, melalui Palintang. Dialiran sungai tersebut didapati dua air terjun, sebelah utaranya adalah Curug (air terjun) Orok, mendekati ke arah Jembatan Cipanjalu. Kemudian ke arah hilinya disebut Curug Kacapi. Dilokasi ini didapati sumber mata air, dari rekahan batuan lava. Disebut mata air kontak, terbentuk akibat kontak antara lapisan akuifer dengan lapisan impermeable pada bagian bawahnya. Air mengalir pada batuan piroklastik yang memiliki porositas, bersifat meloloskan air. Kemudian mengalir di atas batuan lava dan keluar melalui biidang-bidang rekahan.

Sungai tersebut merupakan lembah yang dialasi oleh batuan lava berwarna abu-abu gelap. Berupa lava tebal dengan struktur kekar kolom. Di Curug Kacapi membentuk dinding tegak yang diperkirakan merupakan struktur sesar minor. Batuannya berupa lava tebal, dengan struktur kekar lembar. Batuannya cenderung berwarna hitam, menandakan pengaruh kualitas air yang tercemar berat. Mengingat Ci Panjalu hulunya di Cilengkrang, bagian dari Daerah Aliran Sungai Ci Tarum.

Jalan tersebut memisahkan dua batuan penyusun yang berbeda. Disebelah timurnya merupakan produk hasil kegiatan letusan gunungapi Manglayang. Kemudian disebelah baratnya adalah endapan dari kegiatan kegunungapian Prasunda-Sunda dan Tangkubanparahu. Soetoyo dan Hadisantono (1992), menguraikan stratigrafi gunungapi blok Cimenyan-Cilengkrang, disusun oleh endapan kegiaatan gunungapi Prasuda-Sunda-Tangkubanparahu. Produknya diantaran tuff, piroklastik dan aliran lava.

Umurnya sekitar Pleistosen, seperti yang disampaikan dalam hasil penelitian Kartadinata (2005). Endapan yang hadir di sektiar lereng selatan G. Palasari, adalah hasil dari empat fase letusan gunungapi di sebelah utara. Yaitu produk letusan Prasunda, kemudian Sunda, Tangkubanparahu Tua dan fase terakhir adalah G. Tangkubanparahu Muda.

Lava yang tersingkap sangat masif/tebal, dierosi sungai dan membentuk ari terjun. Arah alirannya dari utara ke selatan, memotong lava masih dengan struktur berlembar. Dalam penelitian Naufal Fajar Putra (2021), dimasukan kedalam Satuan Aliran Lava 3 Cisanggarung, mendetailkan hasil penelitian Soetoyo dan Hadisantono (1992) dalam satuan aliran lava Sunda (Sl).

Arah alirannya dari utara ke selatan, sehingga sumber lava di Curug Orok masuk ke dalam Satuan Aliran Lava dari hasil kegiatan letusan penutup pembentukan kaldera Sunda.  Dari keterangan di atas, bisa dipastikan batuan di Curug Orok dan Curug Kacapi merupakan batuan beku, hasil kegiatan letusan efusif G. Sunda. Melalui mekanisme aliran lava, mengisi lembah antara G. Palasari-Cilengkrang dan G. Manglayang. Diendapkan miring ke utara, mengikuti topografi sumber aliran.

Strukturnya berlembar, menandakan pada saat lava dialirkan dan membeku. Seiring waktu kehilangan pembebanan dibagian atas, sehingga membentuk struktur berlembar. Struktur yang terbentuk pada batuan berlembar dan mendatara/ horisontal sejajar dengan arah tekanan. Penghilangan pembebanan bisa terjadi karena proses erosi, sehingga material penutup hilang. Kekar lembar di Curug Orok dan Kacapi karena dierosi oleh aliran sungai.

Beralih lokasi kedua, ke arah hulu Ci Panjalu di lereng G. Palasari. Gunung dengan kerucut khas yang hampir mendekati angka dua ribu meter dpl. Menjulang tinggi dan berada pada sistem sesar Lembang segmen timur. Tingginya 1857 meter dpl., berhawa sejuk dan sering tertutup kabut. Kawasannya berada di Perum Perhutani Bandung Utara, sedangkan secara administratif berada di dua desa, Girimekar dan Cipanjalu.

Jalur pendakian terpendek melalui sisi sebelah timur. Diantara punggungan G. Kasur-Manglayang dan G. Palasari, melalui jalan Palintang. Ditempuh sekitar 1.3 km, dengan pertambahan ketinggian sekitar 330 meter, antara lokasi awal pendakian hingga puncak. Dalam pembagian fasies gunung, pendapat Boogie dan Mckenzie (1998). Pendakian dimulai pada fasies proksimal, dengan keterdapatan lava, bresi tuff, hingga tuff lapili. Sedangkan pendakian dari pos awal hingga puncak tidak mendapati sebaran batuan tersebut.

Dengan demikian G. Palasari tidak bisa digolongkan sebagai gunungapi, walaupun memiliki morfologi kerucut. Keberadaanya duduk dijalur Sesar Lembang segmen timur. Mudrik Daryono menyebutkan, panjang sesar tersebut adalah 29 km, mula dari Cilengkrang dibagian timur, kemudian memanjang ke arah timur hingga sekitar ngamprah. Sedangkan pendapat lainya, seperti Iyan Haryanto (2024), melalui pola pengaliran sungai, ekspresi morfologi dan bukti lapangan di tol Cisumundawu membuktikan lain. Iyan memperkirakan jalur Sesar Lembang ini bisa mencapai 40 hinggga 45 km. menerus diutara G. Manglayang hingga Sumedang timur.

Di puncak G. Palasari didapati bidang datar, dengan ukuran kurang lebih 10 x 10 meter. Membentuk persegi hampir kotak, terdiri dari dua pelataran. Dari keketerangan warga, bahwa dahulu masih ada tumpukan batu namun kini sudah sudah hilang. Alasan hilangnnya susunan batuan tersebut tidak pernah ada yang tahu.

Bila merujuk kepada hasil penelitian Dani Sujana (2019), menempatkan tinggian seperti gunung atau perbukitan yang menjulang, dimanfaatkan sebagai simbol sakral dan suci. Baik dari kebudayaan megalitik, menerus hingga kebudayaan Sunda klasik. Diwujudkan dengan cara membangun situs-situs keagamaan, seperti punden berundak. Keberadaanya tentunya perlu penelitian lebih lanjut, mengingat G. Palasari memiliki peranan penting, mengingat di lereng utara ditempat kebuayaan batu loceng. Di bagian selatannya merupakan peradaban Arcamanik, dicirikan dengan peninggalan arca bercorak Hindu.

Dengan demikian perlu untuk menggali dalam bentuk penelitian, dan kajian yang lebih mendalam tentang objek wisata bumi di Ujungberung utara.

Geourban#22 Ciater

Kaki gunung sebelah timur Tangkubanparahu, memiliki cerita bumi dan sejarah sistem pertahanan militer perang dunia ke-2. Jalan dari utara ke selatan, penghubung Subang-Bandung. Jalur sempit yang mengikut tekuk lereng G. Tangkubanparahu, dan berkelak-kelok menanjak mengikuti kontur perbukitan.

Lerengnnya disusun piroklastik, dan lava membentuk perbukitan yang melandai ke arah timur. Gunungapi ini mulai membangun dirinya sejak 90 ribu tahun yang lalu, menghasilkan aliran lava ke arah Ciater. Terlihat tiga perbukitan intrusi yang kini menjadi menara pandang perkebunan teh Ciater. Ditafsir gunungapi kerucut sinder, umurnya lebih tua dari yang menjadi saksi pembentukan G. Tangkubanparahu.

Disebelah baratnya, dilalui jalan Raya Subang-Bandung. Tentara Kerajaan Belanda (KNIL), membut sistem pertahanan yang memanfaatkan celah sempit Cingasaahan. Membangun bungker (pilbox), untuk menahan laju pasukan Jepang yang masuk melalui Kalijati Subang. Setelah dua hari pertempuran hebat, 7 Maret 1942 KNIL menyerah dan Jepang mengusai Bandung. Mengakhiri kekuasaaan kolonial di Jawa dan sebagain besar Indonesia.

Mari temui jejak letusan G. Tangkubanparahu, perbukitan intrusi G. Malang-Palasari. Peran kontur tekuk lereng yang digunakan sebagai basis pertahanan militer KNIL Belanda di sekitar Cipangasahan, Ciater.

Hari/Tanggal
Sabtu, 3 Agustus 2024

Waktu
07.00 WIB sd. 13.00 WIB

Titik Pertemuan
Gerbang Tangkubanparahu
https://maps.app.goo.gl/kU5o14fb8dMcvCqv9

Syarat dan ketentuan
Kegiatan probono, bersifat mandiri (transport, logistik) dipersiapkan sendiri. Disarankan menggunakan motor/roda dua laik jalan.

Tentang Geourban
Diinisiasi oleh PGWI, menjalin jejaring lokal, menggali tafsir tapakbumi dan syiar geowisata.