Kota Rempah di Tubuh Gunungapi Gamalama

Orang ternate selalu berkaitan dengan gunungapi, dicerminkan dengan perilaku budaya Ternate dari masa lalu hingg kini. Dari kelahiran, pernikahan hingga kematian. Seperti perilaku budaya pada tata cara pemakakan. Melakukan penggantian penutup kubur pada hari ke-40 dengan batu volkanik.

Dalam pertemuan daring di acara syiar geowiata, Deddy menguraikan sebaran keragaman geologi meliputi kawasan Ternate Barat dijumpai geosite Batuangus, sumber mata air panas, hinga fitur lava, Kawasan Ternate Utara, Selatan, kawasan satu pulau Ternate dan bagian Ternate Tengah. Terbagi menjadi beberapa sub yang memiliki keunggulan daya tarik geowisata. Mulai dari keragaman bumi, budaya hingga ekologi.

Dalam catatan sejarah, Kesultanan awal berdiri Kesultanan Ternate. Kemudian Portugis bekerja sama bersama Kesultanan Ternate-Tidore pada 1521. Selanjutnya Portugis membangun benteng pertama dan terbesar saat itu di wilayah kolonialisasi India timur. Perdagangan inilah yang mengenalkan Ternate sebagai penghasil rempah hingga ke Eropa.

Bukit kejayaan peradaban perdagagan masih bisa disaksikan kini, dalam bentuk peninggalan benteng, dan budaya yang diserap oleh masyarakata Ternate. Sedangkan dari sisi sejarah buminya, Tidore merupakan bagian dari busur volkanik kawasan laut Maluku berderet memajang, dengan arah utara-selatan. Luas pulaunya adalah 1.703 km2, ditempuh kurang lebih satu jam untuk mengelelilingi pulau.

Deddy menambahkan bahwa saat ini kawasan Ternate sedang diajukan untuk menjadi Geopark Nasional, dengan mengusung kurang 19 geosite yang tersebar di seluruh pulau. Keunggulan Ternate adalah branding yang telah melekat, sebagai kepulauan rempah-rempah. Kemudian diperkuat dengan eksistensi city branding yang telah diinisiasi oleh ICCN. Kemudian terakhir adalah penguatan dari sisi konservasi, edukasi dan pemanfaat sumber daya alam melalui konsep Geopark atau Taman Bumi.

Download materi Kota Rempah di Tubuh Gunungapi Gamalama

Peradaban Tambora Sebelum Letusan 1815

Tayangan ulang Syiar Geowisata, tentang Peradaban sebelum letusan Tambora 1815. Disampaikan oleh Ikhsan Iskandar (PGWI DPW Tambora).

Sudah tidak terbantahkan bahwa letusan Tambora pada 1815, mengarahkan sejarah peradaban. Bukan hanya peristiwa dunia yang dipengaruhinya, namun higga peristiwa di panggung dunia. Dampak dari hasil bawaan kegiatan letusan gunungapi kelas plinian. Namun dalam keterangan dan penelitian yang telah digali, jarang mengungkapkan peradaban sebelum letusan besar tersebut.

Dalam kesempatan program kegiatan Syiar Geowisata, melalui acara dalam jaringan/online mengetengahkan sajian peradaban Tambora sebelum letusan 1815. Disampaikan oleh Ikhsan Iskandar, anggota PGWI Dewan Pengurus Tambora.

Materi (PDF): Peradaban Tambora PRaletusan 1815

Geowisata Ranah Minang Alam Takambang Jadi Guru

Dalam rangkaian kegiatan syiar geowisata pertemuan ke-2, mengetengahkan tema geopark di Ranah Minang (5/4, 2024). Disampaikan oleh Ahmad Fadhly, pengampu di sekolah tinggi geologi, peneliti muda sekaligus penggerak geopar Ranah Minang. Saat ini di Ranah Minang, memiliki tiga geopark yang telah berstatus nasional, disusul empat calon geopark nasional dan dua potensi geopark nasional.

Dalam kesempatan ini Fadhly mengaitkan filosofi orang Minang dengan kalimat alam takambang menjadi guru. Menyatakan bahwa bumi ranah minang dibentuk oleh keuatan dari dalam bumi, berupak kekuatan tektonik yang menghasilkan jalur sesar Sumatera. Rona buminya rupawan karena ditatah oleh hasil kegiatan erosi, dan pelapukan. Membentuk jalur-jalur perbukitan yang mengandung nilai budaya tinggi, hingga melahirkan peradaban masyarakat yang menempati dataran tinggi Sumatera Barat.

Materi (PDF) Geowisata Ranah Minang

Sosialisasi SKKNI Pemandu Geowisata 56/2024

Dalam kesemapatan acara webinar Syiar Geowisata tanggal 4 April 2024. Diinisiasi Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia, melalui kegiatan daring (zoom meeting). Mengetengahkan mengenai Standar Kompetensi Kerja Nasional atau SKKNI terbaru untuk bidang teknis pemanduan geowisata. Standar yang diperlukan oleh para pemandu geowisata, hadir mencabut SKKNI Nomor 89 Tahun 2019. Sosialisasi disampaikan oleh Deni Sugandi, selaku Ketua Pengurus Nasional PGWI, sekaligus sekretaris tim penyusun SKKNI. Kegiatan dihadiri oleh para pelaku, akademisi, badan pengelola geopark hingga para pemandu geowisata.

Penyusunan dilaksanakan sejak awal tahun 2023, melalui beberapa tahapan. Diantaranya adalah tiga kali kegiatan FGD di Jakarta, kemudian disusul dalam tahapan selanjutnya berupa prakonvensi. Kegiatan tersebut dilaksanakan di tiga tempat, mewakili tiga daerah di Indonesia. Dilaksanakan di kota Medan untuk mewakili bagian timur, Yogyakarta untuk Indonesia tengah dan terakhir di pulau Lombok, NTB.

SKKNI yang disusun menggunakan Regional Model Competenscy Standar (RMCS), model penyusunan standar kompetensi yang disesuaikan untuk kebutuhan Labora Oraganization atau ILO. Didalamnya memiliki model pengembangan yang menggunakan pendekanta funsi dari proses kerja suatu kegaiatan.

Dalam kesempatan ini Deni menyampaikan dasar-dasar pengembangan dan pemutahiran SKKNI untuk bidang teknis Pemandu Geowisata. Diantaranya data yang diambil dari hasil kegaitan survey kepada jaringan asosiasi pemandu geowisata, hingga umum. Survey berisi pertanyaan mengenai.

Dalam penyusunan tahun 2019, menghasilkan sembilan unit kompetensi. Tujuah diantaranya merupakan hasil adaptasi dari unit kompetensi bidang teknis pemandu wisata. Sedangkan dalam penyusunan terkini, berjumlah 33 Unit Kompetensi. Diantaranya hasil adaptasi dari unit kompetensi bidang teknis lain, adopsi atau disesuaikan dengan kebutuhan kontekstual dan terakhir adalah membuat baru.

Kegiatan ditutup melalui konvensi di Jakarta. Dalam siaran pers Menparekraf, tentang RSKKNI, RKKNI dan RSO di Jakarta pada 24 Oktober 2023. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepaa Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, mengatakan bahwa kegiatan konvensi ini merupakn wujud upaya pemerintah untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia pariwisata yang berkompeten dan berkualitas.

Rekaman diskusi melalui Yotube: https://www.youtube.com/watch?v=agoPl31SjOw

File presentasi dapat diunduh di: https://www.academia.edu/117057032/Sosialisasi_SKKNI_Pemanduan_Geowisata_No_56_2024

File SKKNI Pemanduan Geowisata dapat diunduh di:

Catatan Singkat Geourban#19 Cigulung

Jelang pagi matahari masih bersahabat, namun beranjak siang langit Bandung utara bersalin gelap. Awan hujan menggelayut selepas dzuhur, seperti ingin mencurahkan bebannya. Hujan sekilas dibawa angin saat kami bernaung di warung, kemudian dilanjutkan ke pokok pembahasan mengenai latar bangunan militer kolonial di Pasirmalang,

Bentuknya memanjang mengikuti punggungan perbukitan, panjang fasadnya kurang lebih 30 meter. Berupa struktur bangunan yang memiliki dua tangga dari arah selatan, kemudian bagian atasnya datar. Kemungkinan di bagian atasnya berdiri senjata altileri anti pesawat udara. Di bagian utaranya dipagari oleh beton, sejajar dan memanjang mengikut tepian gawir sekitar 20 meter. Disetiap sisinya tesedia tangga yang mengarahkan ke bagian atap, area terbuka yang mampu melihat kesegala arah mata angin. Disetiap sisi bangunan didapati ruangan kotak memanjang, dilengkapi satu pintu, dan dua lubang ventilasi. Dindingnya sangat tebal, kurang lebih 120 centimeter. Dicor menggunakan beton, dengan tulangan besi dibagian atapnya. Sehigga bisa diduga bahwa fasilitas ini disebut bungker, atau tempat persembunyian pada saat serangan musuh melalui udara. Beton tebal tersebut diperkirakan mampu menyerap energi bom udara, walaupun tidak ada tanda-tanda bekas ledakan hasil serangan musuh.

Secara geografis bungker ini didirikan diatas tinggian Sukamulya, bagian dari blok naik Sesar Lembang. Barangkali kalau vegetasi yang hilang, akan telihat jelas dataran tinggi Cicalung Lembang di sebelah utara, dibatasi oleh tinggian G. Putri dan G. Sukatinggi. Sedangkan melihat ke arah selatannya dalah Cekungan Bandung. Tidak ada informasi yang memadai mengenai sejarah pendirian benteng ini, hanya di beberapa sumber menuliskan angka tahun 1922. Selebihnya adalah misteri gelap yang menyelimuti, kapan dan untuk apa benteng ini didiran di tinggian Sesar Lembang.

Dalam penyebutan benteng mungkin kurang tepat, mengingat fungsinya bukan sebagai pertahanan dari musuh. Benteng militer biasanya digunakan sebagai markas batalyon dan tempat penyimpanan perlatan perang dan logistik. Sedangkan struktur bangunan di Pasirmalang lebih tepat disebut sebagai bungker. Fasilitas militer tersebut dibangun seiring kebutuhan sistem pertahanan pasukan KNIL, menjelang masuknya tentara Jepang pada 1942.

Kolonial sudah mempersiapkan strategi pertahanan, sekitar wilayah kota Bandung. Sehingga fasilitas-fasilitas militer ini tersebar ditinggian perbukitan dan gunung yang melingkupi kota. Secara geografis. Diperkirakan pembangunan bungker-bungker yang berfungsi sebagai pos pengamatan, sekaligus untuk menempatkan altileri anti pesawat udara. Didirikan oleh KNIL pada masa interbellium atau masa antar perang antara 1918 hingga 1939, atau menjelang pecahnya perang dunia ke-2. Setelah lepas dari perang dunia ke1, kekaisaran Jepang muncul sebagai negara kuat di Asia. Sehingga kolonial Belanda menduga akan datang ke Hindia Belanda, dengan tujuan mencari sumber daya alam. Dalam masa persiapan perang tersebut, pemerintahan Hindia Belanda mengeluarkan dokumen Prinsp-Prinsip Pertahanan 1927, kebijakan yang mendukung strategi militer Hindia Belanda pada saat itu. Diantaranya angkatan darat dan laut harus mampu menjaga keamanan negeri koloni Hinda Belanda.

Dari keterangan diatas kemungkinan KNIL mendirikan bungker-bungker anti pesawat udara dan pos pengamatan sejak 1920-an. Seiring pemindahan pusat militer Hindia Belanda ke Bandung. Dalam keterangan buku lama Militaire aardrijskunde En statistiek van Nederlandsch Oost Indie, 1919 menuliskan, sistem pertahanan Hindia Belanda memanfaatkan dataran tinggi dan perbukitan yang memagari cekungan Bandung. Diperkirakan keberadaan bungker-bungker ini turut mengendalikan jalannya pertempuran, saat tentara kekaisaran Jepang datang melalui Ciater Subang pada 5-7 Maret 1942.

Selepas dari bunker Pasirmalang, dilanjutkan ke geotapak ke-dua pertemuan dua sungai. Tepat di tepi gawir Langensari-Pasirsela, mengalirlah Ci Gulung bagian dari DAS Ci Kapundung. Sungai yang hulunya dari Cikole, penggabungan dari sungai-sungai kecil. Diantaranya Ci Putri, Ci Kukang, Ci Bogo, dan Susukan Legok. Airnya relatif deras, mengalir di atas aliran lava tebal produk letusan efusif G. Tangkubanparahu. Lidah lavanya menerus hingga berhenti di Curug Dago. Dalam stratigrafi yang disusun Nasution (2004), aliran lava tersebut hasil produk Gunung Tangkubanparahu Tua dan Muda, umur 40.000 tahun yang lalu. Dari tinggian Langensari, terlihat lembah yang sangat dalam, mengalir diantara G. Putri mengalir ke arah selatan. Dari data peta topografi RBI (2001), memperlihatkan aliran Ci Gulung mengerosi dasar blok naik Sesar Lembang, mengalir ke arah timur. Dalam tafsiran sistem sesar, menandakan aliran sungai tersebut berbelok akibat pergeseran dari sesar normal ke sesar geser mengiri.

Geotapak ke-tiga adalah melihat fitur batuan beku ekstrusif tersebut tersingkap dikawasan wisata Maribaya Natural Hot Springs Resort. Berupa breksi lava (auto breccia) bagian flow top dicirikan vesikular, berwarna hitam menandakan basal. Disebagian tempat ditemui juga struktur entablature, berupa struktur kekar kolom yang tidak beraturan tegak.

Debit airnya deras dan keruh mengingat sungai ini menangkap sedimentasi pertania di hulu, kemudian dibawa hingga ke arah hilir. Sedikit ke hilir dari lokas wisata ini, didapati Curug Cikawari. Aliran Ci Kawari yang berhulu di G. Buleud dan G. Bukittunggul bagian barat. kualitas airnya relatif lebih jernih, mengingat sungainya melalui area huta produksi PT Perhutani (Persero) KPH Bandung Utara. Ci Kawari dan Ci Gulung kemudian bertemu di Curug Omas, bersatu dengan Ci Kapundung. Ci Kapundung kemudian mengalir ke selatan sejauh 28 kilometer, membelah kota Bandung. Muaranya di sekitar Dayeuh Kolot, bertemu dengan Ci Tarum.

Kegiatan ditutup diacara buka bersama, di Travel Tech Ciburial Bandung Utara. Dalam penutupan acara, peserta berdiskusi bahwa bentang alam bisu, bila tidak dibunyikan dalam bentuk penafsiran bumi. Dengan demikian kegiatan Georuban berusaha menyuarakan suara bumi, dengan tujuan memahami bagaimana bumi bekerja; lava yang mengalir dari kegiatan letusan gunungapi; arah aliran sungai yang dipengaruhi oleh struktur sesar; dan terakhir adalah upaya strategi militer kolonial memanfaatkan bentang alam Bandung utara, sebagai benteng pertahananan dengan membangun bungker-bungker dan pos pengamatan militer di sepanjang punggungan Sesar Lembang.

Penjelasan blok naik dan turun Sesar Lembang.
Penejlasan posisi titik bungker Pasirmalang.
Srutkur kekar kolom yang tersingkap di Curug Ci Gulung Maribaya.
Bungker Pasirmalang.

Catatan Geourban#17 Lembah Kordon

Seusuai dengan waktu pelaksanaan kegiatan, peserta telah hadir lebih awal di pintu gerbang Tahura Ir. Djuanda. Kurang lebih lima belas orang dengan latar belakang yang berbeda, para pegiat pariwisata kota Bandung, pemandu wisata, dosen pariwisata, hingga para pegiat wisata kebumian atau geowisata. Acara dimulai jelang pukul 07.30 WIB, dibuka dalam bentuk penyampaian taklimat (brifing) oleh Deni Sugandi, selaku inisiator Geourban. Hadir sebagai narasumber adalah ahli Hidrogeologi yaitu  Fajar Lubis yang kini bekerja di Brin, dan Zarindra Aryadimas selaku pegiat geowisata. Seperti penyelenggaraan sebelumnya, bahwa kegiatan ini bersifat probono, dengan semangat berbagi dan mengaitkan jejaring geowisata khususnya di aktivitas geowisata.

Tema Geourban ke-17 adalah menyusuri kembali keunikan bentang alam, dan sejarah kolonial Belanda. Diantaranya material produk letusan gunungapi purba di utara Bandung, berupa tuff, dan aliran lava. Sejarah yang ditelusuri adalah terowongan air yang memanjang utara-selatan dibangun menerobos endapan awan panas  (ignirbrite). Batuan keras yang kini dimanfaatkan sebagai gua militer pada masa pendudukan Jepang di Bandung.

Acara dibuka tepat dimulut gerbang kampung Sekejolang, Desa Ciburial. Kabupaten Bandung. Kampung enklave di dalam kawasan wana wisata konservasi di Bandung utara. Dalam penyampaian awal, Deni menjelaskan rangkaian kegiatan acara yang akan berlangsung dalam durasi setengah hari. Secara teknis dilaksankana dengan kegiatna hiking, mengunjungi empat titik yang tersebar di dalam kawasan Tahura Ir. Djuanda.

Kegiatan disambung dengan hiking membelah kampung Sekejolang, menuruni perbukitan terjal. Jalan setapak tanah yang cukup licin, mengingat semalam turun hujan deras sehingga peserta meniti tangga tanah secara hati-hati. Jalan setapak mengantarkan para peserta ke jalan utama yang menghubungkan antara Maribaya dan Pakar Dago. Jalur ini sejajar dengan Ci Kapundung yang berada di sebelah barat. Mengalir melalui celah yang dibentuk oleh kekuatan alam, melalui proses erosi dan pelapukan.

Ci Kapundung adalah sungai yang membelah kota Bandung. Merupakan DAS Ci Tarum yang berhulu di Bandung utara, kumpulan sungai-sungai kecil yang datang dari lereng G. Bukittunggul-Pangparang dan Pulosari (Palasari). Kemudian mengalir mengikuti arah Sesar Lembang Timur-Barat. Di sekitar Kordon kemudian berbelok ke arah selatan, menunggangi lava produk letusan G. Tangkubanparahu.

Bukti aliran lava tersebut tersingkap dengan baik di Curug Lalay. Berupa bentuk yang unik seperti tali yang dipilin, disebut bentuk ropy lava. Struktur demikian sering dijumpai pada lava yang rendah silika tetapi kaya akan magnesium. Dicirikan dengan warnanya gelap, mengalir pada temperatur tinggi dan mengalir jauh dari pusat letusan.

Kunjungan pertama adalah ke Curug Lalay. Berupa celah sempit yang diapit oleh produk gunungapi Sunda, berupa tuff dan breksi di bagian atasnya. Di bawahnya terlihat produk lava berupa hasil aliran menutupi dasar sungai. Dibantarannya tersingkap lava dengan struktur unik, seperti tali yang dipilin. Bentuk demikian biasanya ditemui dikepulauan Hawaii, hasil kegiatan gunungapi tipe hot spot yang berada ditengah-tengah lempeng samudera. Lavanya berawana hitam sedikit keabu-abuan, menandakan kaya akan mineral piroksen. Bagian permukaanya halus mengkilap, menandakan bahwa lava tersebut merupakan produk aliran lava G. Tangkubanparahu. Mengalir sejauh 12 km dari pusat letusan, mengikuti topografi lereng gunung.

Titik kunjungan berikuntya adalah ke batu batik, atau dikenal juga lava Pahoehoe. Struktur lava yang tersingkap dilokasi ini lebih baik. Tersingkap mendatar berupa lava pahoehoe, seperti selendang sehingga ditafsirkan miliknya Dayang Sumbi. Produknya sama seperti lava yang terdapat di Gua Lalay, mendakan aliran lava datang dari utara ke selatan. Dalam kesempatan ini Fajar Lubis menjelaskan bagaimana lava tersebut bisa hadir sebagai tapak bumi.

Kunjungan dilanjutkan menyusuri Ci Kapundung, melalui jalur beton yang telah dibangun permanen pihak pengelola. Di ujung perjalanan, menemui blok breksi berupa jatuhan dari kegiatan gerakan tanah. Berupa longsoran aliran, akibat curah hujan yang tinggi sejak minggu lalu. Sebagian blok breksi tersebut bagian dari aliran piroklastik G, Tangkubanparu.

Di ujung jalan kemudian berbelok memasuki gua Belanda. Gua yang dibobol horisontal, berguna untuk mengalirkan irigasi Ci Kapundung ke kolam penenang di Pakar Dago. Dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan PLTA awal, Pakar Dago yang terleltak sebelah utara dari PLTA Bengkok saat ini. Karena sering terjaid longosor, jalur irigasi tersbut kemudian dialihkan melalui terowongan yang diambil dari bendungan Bantarawi. Dialirkan menembus perbukitan piroklastik, tuff kemudian keluar di sekitar pintu dua Tahura Djuanda. Terowongan air tersebut dikerjakan sebelum 1923, untuk memenuhi kebutuhan PLTA Bengkok. Instalasi pembangkit tenaga listrik 3 turbin yang menghasilkan 1050 KWh. Saat ini masih berfungsi baik, walaupun telah berusia 100 tahun lebih, listrinya didistribusikan untuk jaringan Jawa-Bali.

Kegiatan ditutup di mulut Gua Belanda, dengan penyampaian kesan dan pesan. Diharapkan kegiatan ini tidak berhenti dan diusulkan untuk dilaksanakan berkala, dalam rangka edukasi, dan menggali potensi geowisata sekitar kota Bandung.

Sesuai dengan arahan rencana kegiatan, peserta telah hadir di pintu masuk Tahura Ir.Djuanda. Jelang pukul 7.30 WIB, peserta diarahkan dikegiatan brifing. Informasi diberikan oleh Deni Sugandi selaku

Tidak serperti hari biasanya, mejelang tutup akhir tahun dan liburan panjang wisata hutan raya Tahura Ir. Djuanda ramai. Jalan yang membelah kawasan ini ramai dikunjungi wisatawan, berolah raga hingga

Sesuai dengan rencana kegiatan, jelang pukul 07.00 WIB peserta telah hadir di gerbang pintu masuk Tahura Ir. Djuanda. Dihadiri oleh pegiat alam bebas, pegiat wisata dan komunitas sejarah.

Pembentukan PGWI DPW Gunung Sewu

Seiring dengan kegiatan pelatihan pemandu geowisata di Hotel Golden Resto Wonogiri, Jawa Tengah, dilakukan deklarasi sekaligus pendirian PGWI Dewan Pengurus Wilayah Gunung Sewu.

Pendirian pengurus ini merupakan aspirasi peserta pelatihan, agar tali silaturahmi para peserta tetap terjalin. Selain itu diperlukannya wadah organisasi yang bisa menaungi profesi pemandu geowisata di wilayah Wonogiri, dan Geopark Gunung Sewu pada umumnya. Wadah pemandu ini diharapkan kelak, mampu menjadi mitra dengan Badan Pengelola UGGp Gunung Sewu dan pemerintah daerah melalui Dinas Pemudan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Wonogiri.

Pemilihan susunan pengurus dilaksanakna secara musyawarah, dipimpin ketua sidang Subur dan Alfita selaku sekretaris. Sidang musnyawarah pembentukan pengurus, disaksikan langsung oleh Ketua PGWI Deni Sugandi, kemudian Zarindra selaku Kabid Diklat, dan T Bachtiar selaku Dewan Pengawas PGWI Dewan Pengurus Nasional.

Musyarwarah dilaksanakan selepas kegiatan pelatihan, dimulai pada pukul 20.00 WIB dan berakhir di 21.30 WIB. Dengan menunjuk beberapa nama hasil aspirasi dari para peserta sidang.

Keputusan sidang menuliskan nama-nama yang duduk DPW Gunung Sewu. Diantaranya Suryanto duduk sebagai ketua DPW, kemudian Ari Winanto selaku wakil ketua.

Bendahara adalah Estu Kinasih, Devi. Kemudian posisi sekretaris Arianto, Alfita P. Bidang-bidang diantaranya Dwi Hatmojo kabid humas, Tatang kabid sumber daya manusia/SDM, kemudian Rudiyanto sebagai kabid kerjasama dan Prasetyaningsih sebagai bidang penelitian dan pengembangan/litbang.

Kemudian disusunan dewan pembina adalah Subur, dan mengusulkan nama-nama dari pemerintahan daerah diantaranya Kepala Disporapar Kabupaten Wonogiri sebagai ex-officio di dewan pembina.

Pembentukan ini diharapkan mampu mewadahi para peserta, dalam peningkatan profesionalitas, jejaring silaturahmi dan wadah profesi. Terutama untuk para pelaku pemanduan geowisata di kawasan Geopark Gunung Sewu. Langkah kedepannya adalah pembenahan intern, koordinasi dan konsolidasi.

Diklat I DPW Bekasi Raya 2023

Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan/Diklat Pemandu Geowisata Angkatan I, diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah Bekasi. Diklat ini merupakan kegiatan pertama organisasi yang berada di sekitar wilayah Kabupaten Bekasi, dengan tujuan pengenalan kerja pemanduan geowisata serta kemampuan untuk melaksanakan kegiatan pemanduan geowisata.

Dilaksanakan di aula Desa Lenggah Jaya, Cabangbungin, Kabupaten Karawang. Dibuka oleh Ketua DPW Bekasi Raya, dilanjutkan sambutan dari Ketua Dewan Pembina DPW Bekasi Raya dan Ketua Dewan Pengurus Nasional. Acara secara formal dibuka oleh pemerintah daerah, melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Bekasi, Kasi SDM.

Narasumber diantaranya berasal dari organisasi PGWI, diantanya materi persiapan dan penyusunan geowisata, pemanduan geowisata, melakukan konservasi alam dan budaya dan ditutup di hari ke-dua berupa praktek lapagan.

Narasumber diantaranya Deni Sugandi, M Rizki H., Syiar Muslim, Zarindra, Sodikin Kurni, M Sodikin dan Deden Nursam. Praktek lapangan dilansakan di Muaragembong, sebelah utara Kabupaten Bekasi. Peserta diklat diarahkan praktek pemanduan, dan ditutup oleh kegiatan evaluasi.

Pengembangan Geowisata di Desa Cikahuripan

Berselang empat bulan yang lalu, PGWI Dewan Pengurus Nasional menginisiasi kegiatan aktiviasi paket geowisata. Dilaksanakan dalam kegiatan Geourban# Jayagiri (lihat tautan ini https://pgwi.or.id/2023/05/04/catatan-geourban12-jayagiri/

Di bulan Mei 2023, PGWI melaksanakan kegiatan Geourban dengan tujuan untuk membuka jaringan, menggali potensi dan sumber daya manusia di Desa Cikahuripan, Kabupaten Bandung Barat. Gayung bersambut kembali, pada tanggal 4 Agustus 2023 dilaksanakan kegiatan PKM Kelompok Sadar Wisata dalam Pengembangan Pemanduan Geowisata di Desa Wisata Cikahuripan, Kabupaten Bandung Barat.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Prodi Kepariwisataan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), berkerja sama dengan Pokdarwis Desa Cikahuripan, PGWI dan Bandung Mitigasi Hub. Dalam penyampaiannya, Deni memaparkan beberapa potensi yang dimiliki oleh Desa Cikahuripan. Diantaranya bukti awan panas saat G. Sunda meletus, kemudian ditumpuk oleh produk letusan gunungapi Tangkubanparahu.

Disebelah selatannya didapati perbukitan sesar Lembang yang membatasi desa. Berbatasan dengan Desan Gudang Cikahuripan. Bila ditarik ke arah utara, dibatasi oleh lereng dan puncak G. Tangkubanparahu, gunungapi aktif dari tujuh gunungapi di Jawa Barat.

Peserta pelatihan menyampaikan beberapa pertanyaan, mengenai pentingnya kesadaran akan bahaya. Sehingga diperlukan mitigasi risiko bahaya, dengan cara menyadari bahwa Desa Cikahuripan ini diapit oleh dua potensi bahaya geologi, sesar Lembang di sebelah selatan dan gunungapi aktif di bagian utara.

Sodikin salah seorang perserta, menyampaikan perlunya SOP atau panduan pada kegiatan geowisata. Sehingga menjadi jaminan dan kenyamanan selama berkegiatan geowisata di Desa Cikahuripan.

DPW Lombok Rinjani Berdiri

Perintisan pendirian Dewan Pengurus Wilayah Rinajani Lombok, diinisiasi setidaknya sejak awal tahun 2020-an. Tepat pada tanggal 17 Mei 2023, di Kota Mataram, NTB, telah terlaksana Deklarasi Pendirian Dewan Pengurus/DPW Rinjani Lombok.

Deklarasi ini merupakan amanat pembentukan struktur DPW, tujuannya diantaranya adalah bermitra dengan Badan Pengelola di kawasan Geopark Rinjani Lombok. Geopark nasional yang kini telah dinyatakan menyandang status Unesco Global Geopark. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan unsur dari pemerintahan daerah melalui Dinas Pariwisata, perwakilan dari kalangan kampus/akademisi, lembaga kepariwisataan, praktisi pariwisata dan pemandu geowista di sekitar wilayah Nusa Tenggara Barat. Sidang dipimpin oleh Fahrozi Gaffar, Sekretaris Sidang Maizurra Serti, dan Anggota Meliawati dan Aisyah Desilina. H.

Keputusan musyawarah ini menyepakati susunan pengurus menunjuk Imam Firmansyah sebagai ketua DPW Rinjani Lombok. Kemudian posisi sekretaris oleh Zunun Inayatullah, Bendahara Muhnim, Kabid SDM Muhammad Yusuf, Kabid Humas Fathul Rahman. Sedangkan posisi Dewan Pengawas Kusnadi, dan Dean Pembina Meliawati dan Ramli.

Diharapkan pendirian DPW Rinjani Lombok bisa amanah, memberikan pelayanan kepada anggotanya dalam bentuk program kerja. Selain itu DPW ini mampu menjadi mitra dengan lembaga Badan Pengelola Geopark Rinjani Lombok, maupun dengan lembaga lain seperti Taman Nasional Rinjani.

Penunjukan Imam Firmansyah sebagai ketua terpilih, di Deklarasi DPW Rinjani Lombok
Penyerahan SK dari Dewan Pengawas Pengurus Nasional, kepada Ketua DPW Rinjani Lombok
Foto bersama Dewan Pengurus Wilayah Rinjani Lombok