Catatan Singkat Geourban#56 Bunihayu

Perjalanan sehari di kegiatan Geourban ke-56 dimulai dari Cikole Lembang. Jelang pagi, sekitar pukul 7.30 WIB, jatuh pada hari Minggu, 8 Februari 2026. Walaupun cuaca sedikit kabut menggelayut, tidak menyurutkan pelaksanaan kegiatan.

Perjalanan diarahkan menuju Subang, melalui Ciater kemudian dilanjutkan ke arah Sagalaherang. Di lereng G. Tangkubanparahu sebelah barat, jalanan Ciater tampak bersolek. Jongko pedagang yang biasanya menutupi pemandangan di tepian jalan, kini telah tidak ada. Ditertibkan melalui keputusan Gubernur Jabar perihal penataan ulang kawasan Ciater-Subang. Sebagai gantinya adalah jalan yang kini semakin dipoles, hotmix, perbaikan saluran drainase. Menjelang jembatan Ci Pangasahan, saat ini telah dibangun pelataran wisata pemandangan. Disebut Taman Dewi Sartika, berupa platform yang dibuat bertangga, menghadap ke arah timur. Sehingga dari titik ini menjadi tempat terbaik untuk menyaksikan matahari terbit, Selain itu melihat jajaran gunung dan perbukitan di sebelah utara hingga ke arah timur.

Dari titik ini terlihat jajaran perbukitan dan kerucut gunnugapi tua. Ke arah timur, hadir jajaran perbukitan G. Karamat 1510 mdpl., bersandingan dengan Pasir Ipis 1254 mdpl. Ke arah timurnya, terlihat kerucut khas berupa dua kerucut yang berada pada satu tubuh gunung, disebut G. Canggak 1619 mdpl. Sedikit ke arah timurlaut, terlihat kerucut G. Tampomas yang hadir dalam selimut kabut.

Sebelah utara dari taman ini, tepatnya di Jembatan Ci Pangasahan, Ciater. Merupakan bukti sejarah, perlawanan tentara kerajaan Belanda atau KNIL, menghadapi serangan tentara Jepang. Dikenal dengan perang Tjiater Stelling atau pertempuran di Ciater pada 5-7 Maret 1942. Di Perlintasan jalan inilah mengakhiri kekuasaan Kolonial Belanda di Indonesia, kemudian diganti penjajahan Jepang selama 3 tahun lebih.

Bergerak ke arah utara, melalui percabangan Ciater-Panaruban. Jalannya menurun, menandakan bagian dari lereng G. Tangkubanparahu bagian distal atau kaki gunung. Menurun ke arah Sagalaherang, sejajar dengan aliran Ci Koneng (sungai). Alirannya berasal dari lereng sebelah utara G. Tangkubanparahu, mengalir ke utara. kemudian bergabung dengan Ci Muja di sekitar Cicadas, sebelah utara Panaruban. Dari peta geologi lembar Bandung (Silitonga, 2003), sebagian besar batuan yang tersingkap adalah alira lava. Batuannya berwarna abu gelap, menempati dasar sungai. Membentuk ceruk-ceruk dan air terjun di sekitar Panaruban. Diantaranya Curug Karembong, Curug Sawer, Curug Gua Badak, Curug Cisaga dan sebagainya.

Tiba di Sagalaherang, bertemu dengan persimpangan. Ke arah barat menuju Wanayasa, dan sebaliknya ke arah timur menuju Subang. Sekitar Sagalaherang Kaler, kemudian berbelok ke arah utara. Merupakan jalur alternatif ke kota Subang, melalui Batukapur. Jalannya sempit dengan turunan terjal, terutama saat akan memasuki daerah Batukapur. Di sebelah kanan jalan merupakan lembah dalam yang disayat oleh Ci Nangka. Sungai yang berasal dari lereng sebelah utara G. Tangkubanparahu. Kemudian bergabung dengan beberapa anak sungai, seperti Ci Nangerang, Ci Longok, Ci Taraban yang berasal dari Gunung Batu Kapur 543 mdpl. Semua anak sungai kemudian bergabung dengan Ci Asem.

Aliran Ci Asem dialasi batuan beku. Berwarna gelap, dan masif. Secara umum terlihat struktur batuan yang terdeformasi, menandakan adanya struktur yang bekerja di wilayah ini. Keberadaan struktur patahan, digambarkan pada peta Geologi Lembang Bandung (Silitonga, 2003). Berupa garis patah-patah, diduga adanya struktur. Berupa patahan yang memotong Gunung Batukapur, dengan arah relatif baratlaut-tenggara. Bukti keberadaan struktur tersebut, adalah hadirnya mata air panas Batukapur.

Curug Agung Mengalir di Atas Aliran Lava
Kondisi jalan lintas jalan alternatif Sagalaherang ke Subang via Batukapur, relatif dalam kondisi baik. Berbeda dengan tahun lalu, masih berupa jalanan aspal yang berlubang, dan sebagian berbatu. Saat ini sebagian besar jalannya telah di beton, sehingga bisa dilalui dengan aman oleh beberapa jenis kendaraan. Kondisi demikian mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, karena akses telah tersedia dan baik.

Perjalanan dari arah Sagalaherang ke arah Curugagung, didapati persimpangan jalan. Ke arah barat, melalui jembatan yang melintasi Ci Asem. Kemudian mengarah ke Dawuan. Sedangkan jalan lurus, menuju kota Subang. Sekitar jembatan Curugagung, sekitar 50 meter ke arah utara didapati aliran Ci Asem. Airnya relatif deras, merupakan pertemuan beberapa anak sungai yang berasal dari berapa tinggian. diantaranya Gunung Batukapur di sebelah timur, dan jajaran perbukitan

Memasuki Desa Curugagung dari arah Sagalaherang, dicirikan dengan persimpangan jalan antara Subang dan ke Dawuan. Selepas jembatan, mengalir Ci Asem ke arah utara. Aliran airnya mengalir di atas batuan lava tebal. Dalam peta Geologi Lembang Bandung (Silitonga, 2003), merupakan aliran lava batuan gununugapi muda Tak Teruraikan (Qyl), berumur Kuarter. Sumbernya berasal dari G. Tangkubaparahu, sama (ekivalen) dengan aliranlava di Curug Dago, Bandung. Umunryan

Masyarakat menyebutnya Curugagung, berupa air terjun bertangga. Membentuk ceruk di bagian atas, dan kolam di bagian bawah. Akibat aliran airnya deras, sehingga mengerosi batuan membentuk air terjun bertingkat. Tingginya sekitar 3 meter di bagian atas, kemudian air terjun utamanya dengan tinggi 10 meter. Di bawahnya didapati kolam konsentris, akibat hasil kegiatan erosi oleh arus air.

Dialasi oleh batuan beku berwarna abu-abu gelap, didapati lubang-lubang gas. Disebut vesikular, tekstur berlubang yang terbentuk akibat pelepasan gas. Pada saat lava mengalir, membawa gas yang terlarut, kemudian seiring pembekuan (dingin) gas-gas tersebut dilepaskan. Batuannya tebal dan masif, berwarna abu-abu gelap. Sebagian besar batuannya terdeformasi, menandakan hadirnya sistem sesar di daerah tersebut. Keberadaan air terjun tersebut merupakan bukti hadirnya struktur. Dikonfirmasi dari hasil penelitian P.H. Silitonga (2003), berupa garis putus-putus berarah relatif baratlaut-tenggara.

Bukti Sesar di Curug Cinangrang
Terletak di Bunihayu, Jalancagak, Subang. Didapati air terjun yang mengalir di dinding tegak. Kemudian di sebelah baratnya terdapat beberapa sumber mata air panas. Dari peta lama lembar Djambelaer (1912), memperlihatkan simbol mata air panas.

Air terjun Tangerang dipercaya sebagai air terjun keramat, sehingga oleh sebagian masyarakat di masa lalu dimanfaatkan sebagai sarana kegiatan sakral. Namun pada saat ini, kawasan tersebut telah berkembang menjadi sarana wisata. Dikelola melalui paguyuban wisata Desa Bunihayu, melalui kerjasama dengan pihak swasta. Diantaranya didapati fasilitas glamping, dan sesaran kolam rendam. Jalannya telah ditata menggunakan semi beton, hingga di dasar lembah. Jalannya curam, alternatifnya adalah dengan cara berjalan kaki sepanjang 1 km.

Air terjunnya tinggi, sekitar 30 meter. Tegak dan membentuk gawir yang memanjang dari tenggara ke baratlaut. Sejajar dengan arah pengaliran Ci Nangrang. Pada peta geologi lembar Bandung (Silitonga, 2003), disusun oleh batuan Hasil Gunungapi Lebih Tua (Qob). Diantaranya perlapisan breksi, lahar, dan pasir tuf berlapis-lapis dengan kemiringan kecil. Tebal endapannya sekitar 600 meter.

Dilokasi telah tersedia sarana pariwisata, toilet, sarana penginapan berupa tenda glamping hingga tempat makan. Diusahakan sejak dua tahun yang lalu, melalui usaha bersama. Antara masyarakat lokal dan permodalan dari pihak ketiga. Arah pengembangannya adalah pariwisata yang berbasis pada alam. Sehingga cara menatanya disesuaikan, tanpa menggunakan pembangunan fisik yang berlebihan. Semuanya diselaraskan dengan kondisi lingkungan.

di bagian atas air terjun ini, terdapat kegiatan tambang batu dan pasir. Kegiatan tambang ini menyebabkan kerusakan lingkungan, dan tidak memiliki izin. Pada tanggal 17 Janurai 2025 ditutup oleh Gubernur Jawa Barat. Sebagai tindakan lanjutannya adalah penyegelan lokasi tambang, oleh pihak Polres Subang. Kegiatan tambang ini berdampak langsung kepada masyarakat penggarap sawah, karena dikeluhkan airnya kotor. Selain itu terjadi sedimentasi di beberapa aliran sungai, termasuk Ci Nangerang. Bila hujan tiba, bukan saja pasir yang dibawa dan jatuh di air terjun, bahkan membawa material dengan ukuran lebih besar. Sehingga menyebabkan terjadinya bahaya banjir bandang, akibat bagian hulu air terjun ini dikeruk oleh kegiatan tambang. Sehingga lahan yang rusak, harus segera dihijaukan kembali.

Mata Air Panas Bunihayu
Berada di dalam kompleks wisata Bunihayu Forest, Jalancagak. Berupa kolam-kolam rendam dengan ukuran sekitar 3 meter, menggunakan alas tembok. Didapati tiga kolam,dengan sumber mata air panas yang berbeda. Sebelah utara jauh lebih panas, karena tidak menggunakan penampungan. Sedangkan tiga kolam di sebelah utara, diposok oleh sumber air yang ditampung dalam kolam kecil, kemudian disalurkan ke kolam pemandian.

Airnya tidak terlalu panas, karena berasal dari beberapa sumber kemudian dialirkan ke kolam-kolam melalui sistem pipa. Sumbernya muncul di celah batuan, berada di bantaran sungai Cinangrang. Berupa sumber mata air panas, muncul melalui batuan piroklastik (akifer). Suhunya tidak terlalu panas, dengan perkiraan temperatur sekitar 40 hingga 50 derajat celcius. Di sekeliling kemunculan air panas, diendapkan batuan karbonat disebut travertine. Disebut dengan Limestone-based hydrothermal systems. Endapan batuan karbonat tersebut merupakan hasil mineralisasi, saat air panas melewati batuan sedimen. Naik ke permukaan melalui bidang rekahan yang ditafsirkan sebagai struktur patahan Batukapur. Arah kelurusannya relatif beraarah baratlatu-tenggara, memotong Gunung Batukapur.

Kemunculan mata air panas tersebut, lebih dari lima titik. Menurut keterangan warga, masih ada beberapa titik di bagian hulu. Kemudian ke arah hilirnya mendekati Batukapur, objek wisata kolam renang. Wisata ini memiliki debit air panas yang lebih besar, sehingga ditampung dalam kolam yang luas. Keberadaan air panas ini menandakan di bawah permukaan bumi didapati sumber panas, disebut magma. Kemudian memanaskan batuan penutup (cap rock), yang bertindak sebagai tungku. Kemudian memanaskan air tanah dangkal. Tekanan gas mendorong naik ke permukaan, melalui celah-celah atau batuan poros dalam bentuk manifestasi air permukaan. Debit airnya rendah, menandakan kestimbangan tekanan dari bawah permukaan. Sehingga dalam perlakukannya tidak bisa dibor atau dibuka lebih lebar, karena akan mengganggu tekanan air. Dampaknya adalah tekanan berkurang, kemudian air panas akan hilang.

Sejajar dengan kolam rendam, mengalir Ci Nangerang. Di hululunya didapati beberapa anak sungai, diantaranya Ci Tajaherang, Ci Picung, dan Ci Taraban. Hulunya di sebelah utara, antara Pasirtengah 495 mdpl., dan Pasirjambudipa. Mengalir ke Ci Nangerang, kemudian bergabung dengan Ci Nangka di Batukapur.

Sumber mata air panas lainya, berada di sebelah utara, di aliran Ci Tajaherang. Anak sungai dari Ci Nangerang. Kemudian ke arah selatannya, yaitu Mata Air Panas Ciseupan, di Batugede, Serangpanjang. Keberadaan mata air panas tersebut menjadi unggulan wisata, terutama berbasis wellness atau kesehatan. Sehingga bisa dikembangkan pada wisata minat khusus. Sehingga diperlukan penataan lahan yang berwawasan lingkungan.

Waterkracht Tjinangling
Perjalanan dari Batukapur ke arah utara, mengikuti saluran irigasi Ci Jambe. Sungainya membentang dari selatan ke utara. Bersumber dari bendungan Curug Agung di Leles, Sagalaherang. Kemudian dialirkan ke utara melalui sungai buatan terbuka atau sistem irigasi. Jaraknya kurang lebih 8 Km, melalui Cihuni, Jambelaer, hingga Cisampih Dawuan. Beruapa saluran irigasi, disebut Ci Jambe. Sungai buatan yang digunakan untuk menggerakan turbin listrik Cinangling. Manajemen pengelolaan air melalui pembuatan jalur sungai, dengan tujuan mendapatkan pasokan air surplus. Walaupun sejajar dengan arah irigasi tersebut terdapat sungai utama, namun dianggap tidak stabil. Khususnya untuk menggerakkan turbin di Waterkracht Tjinangling, atau Pembangkit Listrik Tenaga Air Cinanging, Dawuan. Fasilitas rumah produksi listrik ini selesai dibangun 1936. Didahului dengan pembuatan jaringan pasokan air. Berupa irigasi terbuka, disadap di sebelah selatan sekitar Curugagung. Selain sebagai sumber utama untuk energi listrik, irigasi tersebut digunakan untuk persawahan yang dilaluinya. Sehingga membawa manfaat lebih, selain menghasilkan energi listrik, turut mengairi sawah di Dawuan.

Bangunan rumah pembangkit listrik, berada di sebelah selatan Jalan Alternatif yang menghubungkan antara Sagalaherang di selatan, ke Kalijati di utara. Bentuk bangunannya memanjang barat laut-tenggara, dengan inlet (pipa pesat) dari arah tenggara. Outletnya ke arah barat laut. sebagian dibuang ke sungai terbuka, dan sistem pipa bawah tanah hingga ke Pabrik Karet Wangunreja. Di atas terowongan outlet, terdapat tulisan yang dibuat pada dinding beton. Berbunyi “Tjinangling 1936”. Menandakan tahung operasional fasilitas ini.

Panjang bangunnnya sekitar 50 meter, dua lantai. Lantai dasar digunakan untuk produksi listrik, melalui dua turbin. Kemudian memutarkan dinamo listrik, untuk menghasilkan listrik sekitar 1,9 Megawatt dalam kondisi optimal. Digunakan untuk menerangi dan menggerakan Pabrik Karet Wanareja dan Perkebunan Sisal di Sukamandi. Sebagian lagi disalurkan untuk menerangi kota Subang saat itu. Diperkirakan berhenti beroperasi sejak 2017, akibat pasokan air yang tidak stabil dan biaya operasional semakin mahal. Sehingga beralih ke penggunaan listrik dari Pusat Listrik Negara/PLN.

Akibatnya bangunan serta fasilitas yang ada terbengkalai. Sejak berhenti hingga saat ini, beberapa bagian perlengkapan dan alat operasional telah hilang dan hancur. Walampun bangunannnaya bmasih berdiri kokoh, namun sebagian besar peralatannya hilang.

Diantaranya beberapa bagian dari turbin, seperti pipa baja outlet dari turbin, penutup flywheel, sebagian dinamo telah hilang. Kemudian panel kontrol tegangan listrik di lantai satu dan dua lenyap tidak berbekas. Terlihat usaha paksa, dengan cara digergaji, dicongkel hingga di las, agar material besi bisa diangkut.

Kondisi demikian akan mengakibatkan hilangnya artefak sejarah, bukti teknologi yang pernah hadir hampir seratus tahun yang lalu akan lenyap. Sehingga Dengan demikian diperlukan tindakan langsung, agar benda hasil budaya dan teknologi ini masih bisa disaksikan untuk generasi selanjutnya. Diperlukan kepastian hukum, agar benda dan struktur bangunnan tersebut bisa dilestarikan sebagai cagar budaya.

Curug Agung, membentuk air terjun bertangga.

P&T Soekamandi, kepemilikan perusahaan untuk perkebunan Sisal/Agave di Sukamandi.

Panel kontrol listrik yang telah hilang akibat penjarahan

Sisa segmen turbin ferris dan generator.

Bangunan Waterkracht Tjinangling yang masih kokoh.

Air terjun Cinangerang yang membentuk bidang sesar.

Sistem akifer membawa air hangat, dan saluran air permukaan di Bunihayu.

Catatan Geourban#52 Mayang

BMKG menyuarakan potensi bibit siklon, berpotensi menggerakan awan menjadi hujan dan tiupan angin. Badan pemerintah yang bertanggung jawab memantau hidro dan meteorologi, menyatakan akan terjadi hujan deras melanda sebagian besar pulau Jawa. Penyebabnya adalah Siklon 93S yang mampu memproduksi hujan lebat di langit Jawa.

Ramalan cuaca tersebut menjadi perhatian, jelang kegiatan Geourban ke-52. Menyusuri kembali sejarah, dan rahasia bumi sekitar Cisalak Subang. Namun hingga jelang matahari terbit, awan di langit membuka tabir. Memberikan kesempatan cahaya matahari menerobos, jatuh di dataran tinggi Lembang. Memberikan jalan kepada warga, beraktivitas pagi di sekitar Langensari, Lembang. Deru motor roda dua, hingga roda empat berburu dengan waktu. Mengantarkan anak sekolah, hingga aktivitas pekerjaan pagi hari.

Walau masih ada awan tebal menggelayut di sebelah utara, tetapi tidak mengurungkan niat menelusuri wilayah Cisalak melalui Cupunagara. Kegiatan pro bono ini dilaksanakan pada hari Selasa, 16 Desember 2025. Dihadiri beberapa partisipan, dari latar belakang yang beragam, mulai dari pegiat wisata, penyuka jalan-jalan hingga kreator konten. Target kunjungan dalam kegiatan ini adalah, menyusuri kembali laporan arkeologi yang dituliskan oleh N. J. Krom (1915), kemudian laporan Dr. Sal. Muller (1833). Kemudian melihat kembali dinamika bumi, berupa gerakan tanah yang sempat terjadi di Cipondok, Kasomalang.

Perjalanan menggunakan roda dua, dengan tujuan untuk memudahkan pergerakan. Mengingat jalur yang akan dilalui adalah jalan makadam (berbatu), hingga jalan kelas desa. Kendaraan dipacu ke arah utara, melalui perkebunan Wangunharja sekitar Lembang. Wilayah ini dikenal dengan perkebunan hortikultura yang berbatasan langsung dengan hutan produksi milik PT Perum Perhutani sektor Bandung Utara. Dari lokasi ini ke arah selatan terlihat jajaran perbukitan yang memanjang barat ke timur, disebut Sesar Lembang. Sedangkan ke arah utaranya, didapati perbukitan yang memagari dataran tinggi Lembang. Diantaranya Pasir Sukatinggi, dan G. Putri. Ditafsir sebagai soma (batas kaldera) G. Sunda. Di baliknya adalah kerucut khas G. Tangkubanparahu bersanding dengan G. Burangrang sebelah barat.

Sistem Gunungapi Cibitung Cupunagara
Selepas tegakan pohon pinus merkusii,mengantarkan rombongan ke arah Pasir Puncak Eurad. Puncak pass yang memisahkan antara Lembang dan Cisalak Subang. Berupa gawir terjal yang memanjang dari timur ke barat. Membentuk dinding tegak, membatasi dataran tinggi Lembang dan Bandung bagian timur dengan Cisalak, Subang.

Dari keterangan ahli gunungapi purba, Sutikno Bronto (2004). Menyebutkan terbentuk dua sistem kaldera, yaitu Kaldera Cibitung di sebelah barat dan Kaldera Cupunagara sebelah timurnya. Dalam keterangannya, Bronto menyebutkan mengenai umur pembentukannya dimulai sejak Paleosen Akhir dan Oligosen Awal. Sekitar 59-36 juta tahun yang lalu, berdasarkan hasil pengukuran batuannya. Sedangkan dari pendapat ahli lainya, merupakan gravity fall atau longsoran batuan. Membentuk gawir terjal yang terbuka ke arah utara.

Puncak Eurad merupakan titik pengamatan terbaik untuk melihat fenomena bumi tersebut. Dilalui oleh jalan kelas desa, menghubungkan antara Cisalak Subang melalui Cupunagara ke dataran tinggi Lembang. Sehingga ditafsir bahwa jalur lintasan ini menjadi strategis. Terutama pada saat serangan Jepang pada 5-7 Maret 1942. Diperkirakan jalur ini menjadi pintu masuk selain melalui Ciater. Seperti yang telah diketahui, pasukan Jepang masuk melalui Subang, kemudian mendesak ke arah Bandung melalui puncak pass Ciater. Dibuktikan dengan ditemukannya lubang militer, berada di sebelah barat laut dari posisi Puncak Eurad. Berupa gua dengan lebar sekitar 2 meter, tinggi 1,5 meter dan panjang lorong tidak lebih dari 8 meter. Diperkirakan merupakan pos pengamatan militer Jepang, pada saat mempertahankan jalur lintas Subang-Bandung melalui Puncak Eurad. Penggunaan lubang gua sangat efektif, digunakan sebagai perlindungan dari serangan udara. Mengingat sistem pertempuran perang dunia kedua, menggunakan pesawat udara. Selain itu sebagai perlindungan dari elemen cuaca, dan mudah dibuat. Batuannya adalah piroklastik yang telah lapuk, dicirikan oleh tanah dan batuan yang berwarna coklat terang. Menandakan hasil alterasi. Mineral ubahan tersebut dilaporkan oleh Sumantri dkk. (2006), menyebutkan Litologi terdiri atas satuan batuan intrusi, lava dan piroklastik berkomposisi andesitis-basaltis, sebagian besar berubah menjadi zona ubahan propilitik dan argilik

Kopi di Bukanagara
Jelang siang, rombongan mengunjungi kedai kopi sebelah utara kantor Desa Cupunagara. Cisalak, Subang. Berupa kedai kopi yang menyajikan aneka macam jenis kopi seduhan, dari perkebunan kopi yang tersebar di kawasan Bukanagara, di Desa Cupunagara sebelah utara. Sedangkan bagian selatannya, diusahakan oleh kelompok tani berbeda. Merek Kopi Cupumanik diusahakan oleh Ita Koswara sejak awal tahun 2014, melalui rintisan bersama kelompok tani kopi. Kemudian tahun 2018 mendirikan kedai kopi, dengan tujuan menyediakan produk siap saji. Ita Koswara merupakan petani kopi di Cupunagara, merintis tanamanan kopi melalui sistem perkebunan kopi. Berlatar belakang petani sayuran, kemudian beralih ke tanamanan kopi. Menurut keterangannya, perintisan tersebut tidak terjadi dalam satu malam, tetapi melalui usaha dan kerja keras. Upaya tersebut berbuah setelah tiga tahun di awal perintisan, melalui usaha budidaya. Dihasilkan jenis arabika dan sebagian kecil robusta, dalam skala industri kecil. Dikerjakan dari hulu, pengelolaan perkebunan terbatas melalui kerjasama dengan kelompok tani. Kemudian pengolahan melalui pemrosesan dari cherry (buah), hingga menjadi gabah.

Untuk meningkatkan penjualan, Ita Koswara memproduksi produk kopi dalam kemasan. Baik dalam bentuk telah di roasting, hingga kopi kemasan digiling halus dan siap seduh. Guna melengkapi alur dari hulu, kemudian di hilir didirikan kedai kopi pada tahun 2018, dinamani Cupumanik di Desa Cupunagara. Menggunakan nama yang diambil dari klasik wayang, dengan tokoh semar. Semangat tokoh tersebut, menjadi motivasi bagi Ita Koswara untuk mendirikan usaha hulu hingga hilir.

Dari keterangan singkat, Ita menjelaskan bahwa sejarah tanaman kopi telah ada sejak jaman kolonial. Dibuktikan ternyata masih ada beberapa pohon kopi, berupa tegakan yang tumbuh tidak terawat di sekitar blok Bukangara. Tingginya sekitar 5-8 meter, dengan ukuran lingkar batang 18-23 centimeter. Daunnya lebar, tampak berbuah ukuran kecil dan masih berwarna hijau. Menandakan pohon kopi ini jenis robusta, dan masih produktif.

Jalan Penghubung Bukanagara ke Pasirlame
Selepas jalanan menurun, kemudian melewati pintu masuk wisata curug (air terjun) Cikaruncang. Merupakan hulu sungai, mengalir membelah desa Mayang yang berada di sebelah utaranya. Kurang lebih 2 km ke arah utara, ditemui jalan turun ke arah lembah. Jalannya berbatu selebar 3 meter, namun keberadaanya telah ditutupi ilalang. Kondisi demikian sulit dilalui kendaraan roda dua, mengingat sebagian jalan menyisakan lubang akibat erosi air. Sehingga diperlukan keterampilan berkendara, di atas jalanan berbatu dan berlubang.

Jalan menurun ke arah utara mengikuti kontur perbukitan Pasir Bedil sebelah barat, kemudian memotong lereng Pasir Tonggohluhur disebelah utaranya. Di sekitar setengah perjalanan, melewati dua anak sungai Ci Karuncang, mengalir hingga ke arah utara kemudian bertemu dengan Ci Karuncang di Desa Mayang.

Sepanjang perjalanan dihiasi oleh tegakan-tegakan pohon kopi. Tumbuhan asal benua Afrika tersebut dibawa ke Subang, kemudian ditanam di wilayah perkebunan milik P&T Lands sejak awal abad ke-19. Pada masa pengelolaan Hofland, dibuka tiga belas kebun
kopi di daerah seperti Bukanagara, Kasomalang, Sarireja, Ciater, Jaggernaik, Arjosari, Tengger Agung, Sumurbarang, Wera, Wangun Reja, Pasir Bungur, dan Subang (Junaedi, 2022: 70). Dalam catatan sejarah Subang abad ke-19, sebagian besar merupakan tanah partkelir. Wilayah Pamanoekan en Tjiasemlanden, mencapai luas 212.900 hektar (Effendi, 1999).

Batu Candi
Sebuah rumah permanen, berdiri kokoh di sebelah bongkah batu. Berada di tepi jalan desa, menghubungkan antaran Cisalak ke Cupunagara, melalui Pasirlame. Bongkah-bongkah batuan tersebut berupa blok batuan yang menyebar dari utara ke selatan. Kemudian di sebelah timurnya,dipotong oleh Ci Leat dan sebelah baratnya dilatasi Ci Karuncang. Masyarakat menyebutnya Batu Candi yang diperkirakan merupakan tempat pemujaan nenek moyang di masa lalu. Selain blok batuan ini, ke arah timurnya menyebar batuan yang hampir sama, disebut batu Goong.

Diperkirakan blok-blok batuan tersebut dibawa oleh air, berupa luapan sungai. Dicirikan dengan didapatinya berbagai ukuran batuan dengan struktur membundar (rounded), ciri di transportasi (diangkut) oleh air. mekanisme pengangkutannya oleh hasil kegiatan luapan air sungai, hingga longsoran yang mengerosi batuan di hulu. Menandakan bahwa kegiatan luapan air sungai, disertai longsoran bahan rombakan telah terjadi sejak lama. Walaupun sering terlanda bencana banjir, namun masyarakat menempati sebagian besar wilayah tersebut karena daerah hasil endapan sungai. Mengakibatkan dataran banjir tersebut subur.

Dari keterangan Ateng (63 tahun) pemilik lahan, menjelaskan bahwa ia menemukan bongkah batu. Bentuknya diduga seperti arca, terbuat dari batu. Benda tersebut ditemukan tanpa sengaja oleh Ano Suwarno (60 tahun) tahun 1974, pada saat melakukan pembersihan lahan. Diperintahkan oleh Ateng, untuk mempersiapkan lahan untuk rumah tinggal. Menurut Ano, ukuran arca tersebut sebesar paha orang dewasa, atau kurang lebih tinggi 40 cm, dengan lingkar 20 cm. terbuat dari batu, berwarna abu-abu gelap mirip dengan batuan yang didapati di sungai Ci Karuncang. Dengan demikian, diperkirakan batuan penyusunnya merupakan batuan hasil kegiatan gunungapi, jenis andesit-basaltik.

Sumber lain mengenai penemuan arcan ini, dilaporkan oleh N.J. Krom Rapporten van de Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indië (ROD) 1914. Dalam jurnal arkeologi yang disusun Nanang Saptono (2009), menunjukan dua titik koordinat. Salah satunya berada di hulu, sekitar 300 meter ke arah utara dari Batu Candi. Dalam penelusuran singkat, warga mengakui tidak mengetahui keberadaan situs budaya. Bahkan satu orang sesepuh menyatakan tidak pernah mengetahui. Namun ia menyarankan ke arah utara, setelah jembatan Ci Karuncang, disebut Batu Candi.

Di Sekitar lokasi ini didapati tanah lapang di atas rumah warga. Sekelilingnya berupa persawahan, dan di sebelah utaranya atau sekitar 100 meter didapati kompleks pemakaman warga. Tanah lapang tersebut tidak luas, namun ditempat beberapa bongkah batuan yang diperkirakan hasil jatuhan dari hulu. Lebar lahannya sekitar 4 x 5 meter, dipagari dan ditanami sayuran. Merujuk kembali kepada sumber literatur, seperti yang dituliskan oleh Saptono (2009), “Sedikit ke arah hulu dari jalan raya terdapat beberapa lahan berupa gundukan namun sudah tidak begitu jelas dikenali. Beberapa gundukan tanah atau lahan yang lebih tinggi dari daerah sekitar memang banyak dijumpai di sepanjang tepi kiri sungai Cigarunjang (penelusuran dari jalan raya menuju arah hulu sungai). Beberapa lahan ada yang sudah menjadi perkampungan. Gundukan tanah atau lahan yang lebih tinggi ini kebanyakan tidak beraturan. Beberapa lahan yang dicurigai sebagaimana yang dilaporkan Krom terdapat pada ujung Desa Gardusayang”

Keterangan tersebut merujuk kepada Batu Candi, lahan milik Ateng. Dari keterangan orang tuanya, dahulu tempat tersebut didapati beberapa arca yang ditempatkan di atas blok batuan tersebut. Sedangkan lingkungan sekitarnya masih berupa persawahan dan tanah lapang. Blok batuan tersebut merupakan perbukitan kecil yang diperkirakan merupakan gundukan tanah membentuk punden berundak. Dari keterangan Ano, tanah tersebut diratakan untuk mendirikan rumah. Tanpa sengaja ia menemukan bentuk arca yang mirip manusia. Dari keterangan, memiliki tangan yang dilipat menyilang di bagian depan. Didapati anatomi layaknya wajah manusia, seperti hidung, mulut mata. Kemudian bagian bawahnya berupa kaki yang memajang.

Arca tersebut rencananya dibuang, namun menurut Ano merupakan peninggalan nenek moyang. Kemudian diserahkan kepada Haji Aceng di Bandung. Hingga kini keberadaan arca tersebut tidak diketahui.

Punden Berundak di tepi Ci Laki
Bergerak ke arah barat dari Desa Mayang, ke arah Cimanggu. Menuju makam tua yang berada di tepi Ci Laki, ditempuh sekitar 3 km dari kantor Desa Cimanggu ke arah barat daya. Mengikuti jalan yang menghubungkan Cimanggu ke hulu Ci Tali. Sungai yang mengalir dari lereng sebelah utara G. Canggak. Arah alirannya dari selatan ke utara, kemudian bergabung dengan Ci Leat di Selaawi, lereng Pasir Jatinangor.

Pada peta lama ke-19 pertengahan, wilayah ini masuk Batu Sirap. Dilaporkan oleh Muller, dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 4de Deel, 1/2de Afl. (1855), pp. 98-122 (47 pages). Merupakan kegiatan penelitian arkeologi, dilangsungkan antara tahun 1831 hingga 1833, mencakup sebagian Sumatera dan Jawa. Pada laporan berjudul Oudheden van Java (benda purbakala dari tanah Jawa). Menuliskan penemuan beberapa arca, dibagi menjadi tiga kelompok. Objek atau benda yang memiliki pengaruh Hindu. Dicirikan dengan batu, berbentuk pedestal atau kubus. Terutama patung yang mirip dengan ganesa. Kelompok pertama ini berasal dari budaya yang lebih muda, sudah menerima pengaruh dari luar. Sedangkan kelompok kedua datang dari umur yang lebih tua. Dicirikan Dengan bentuknya yang masih kasar, kadang-kadang hampir tidak memiliki bentuk manusia; patung-patung ini biasanya disebut arca oleh orang-orang Sunda. Kedua jenis benda purbakala ini masih dihormati secara religius oleh masyarakat setempat hingga saat ini.

Penggunaan nama arca, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti pemujaan dalam bentuk patung. Laporan mengenai keberadaan arca di lereng G. Canggak, ditemukan pada laporan di Plaat III (lembar ke-tiga). Diceritakan penemuan bentuk arca, di kaki gunung Canggak sebelah barat laut. Pada saat itu masuk ke dalam wilayah Karawang yang berbatasan dengan Sumedang.

“Di sana terdapat lima teras berbentuk persegi empat yang berurutan, dari timur laut ke barat daya, pada ketinggian yang sedikit meningkat. Setiap teras 6-8 kaki (1.8 meter – 2.4 meter) lebih tinggi dari teras sebelumnya; teras terbawah memiliki diameter 40 langkah (12,1 meter), tetapi teras teratas sedikit lebih kecil. Di sisi-sisinya, tanahnya curam. Di sekeliling, dan juga di teras-teras yang mirip kuburan ini, tumbuh Poespa – (Schima noronhae), Sempoer … (Dilenia spec.) dan pohon-pohon hutan lainnya, Bambu Tali (Bambusa apus) dan Alang-alang (Imperata Koenigii); Namun, yang paling menarik perhatian kami adalah beberapa pakis mirip palem, yang sampai saat itu belum pernah kami lihat di pegunungan barat Jawa. Pakis-pakis itu adalah Pakoe Hadji setinggi 20-30 kaki (6-9 meter), yang namanya diambil dari tempat itu, dan yang pasti ditanam di sana. Di samping setiap patung dewa terdapat satu. Batangnya yang cukup tebal, halus, berwarna abu-abu kecoklatan, dan mahkota yang sangat indah berbentuk payung atau kipas, sudah menarik perhatian kami dari kejauhan.”

Selanjutnya Muller menggambarkan tiga objek (arca), di bagian teras tengah berupa arca tanpa kepala, dengan tinggi sekitar 65 cm. Arca kedua digambarkan kepala condong ke depan, dengan tangan dilipat di bagian depan. Tingginya sekitar 28 cm. Arca ketiga disebut Demang Peret. Memiliki posis jongkok seperti patung sebelumnya, tafsiran Muller mungkin saya seperti belalai atau janggut yang panjang.

Saat ini merupakan komplek pemakaman Eyang Jaya Kusuma, berada di lereng hulu Ci Laki. Warga menyebutnya daerah Dayeuhluhur, Desa Cimanggu. Seperti nama yang disebutkan dalam laporan Muller, menunjukkan tempat Nagara (kampung?) Bukit Cula, dan Nagara Dhaja Loehoer (Dayeuhluhur).

Makam tersebut berbentuk persegi panjang, berarah utara-selatan. Dibatasi oleh susunan batuan, dengan dua batu besar di bagian tiap ujung. Saat ini seringkali dikunjungi untuk tujuan ziarah, atau ngalap berkah.

Makam Eyang Rangga Marta Yoeda
Dari pusat kota Cisalak, terlihat dataran tinggi di sebelah barat. Merupakan tinggian berupa perbukitan yang disebut Pasanggrahan. Perbukitan tersebut dikelilingi dataran rendah, ditempati sawah. Sebelah selatannya adalah Kampung Ciaruteun, masuk ke dalam administrasi Desa Sukakerti.

Cisalak dilewati oleh aliran Ci Karuncang, daerah aliran sungai Ci Punagara. Hulunya berasal dari lereng utara G. Bukittunggul. Mengalir ke utara, melalui Pasir Tonggohluhur, hingga melewati Desa Mayang.

Di perbukitan Pasanggrahan ini disemayamkan seorang Demang yang hidup pada masa awal pengembangan perkebunan teh dan kopi di Subang selatan. Dikenal Raden Rangga Martayuda, lahir pada 1790. Meninggal dan dikebumikan di Astana Gede Gomati pada 1856. Perannya adalah membantu pengembangan perkebunan partikelir, dikelola oleh T. B. Hofland. Kakak tertua P. W. Hofland. Saat itu pabrik pengolahannya berada di Sagalaherang.

Namanya dituliskan pada tugu di Bukanagara, sebagai perintis pembuatan jalan tembus Cisalak ke Bukanagara. Dikerjakan pada 1847, untuk kepentingan usaha perkebunan partikelir milik T.B. Hofland. Jalan tersebut dinamai Djalan Pedati (Jalan Pedati). Pada saat itu Raden Rangga Martayuda merupakan Demang di Kademangan Batusirap. Saat ini mencakup sebagaian besar Cisalak, Subang. Wilayahnya meliputi Bukanagara, Kasomalang, Sarireja, Ciater, dan Jagernaek.

Longsor Cipondok
Dari arah Cisalak kemudian bergerak ke arah barat, melalui Jalan Raya Kasomalang. Kurang lebih 3.5 km akan bertemu dengan persimpangan. Terlihat jelas papan informasi, industri air minum dalam kemasan (AMDK). Sebelum mencapai gerbang perusahaan swasta tersebut, didapati jalan ke arah sebelah kiri. Jalan yang menghubungkan dari Darmaga ke Kampung Cipondok, Pasanggrahan. Jalannya melintasi petak sawah. Diujung jalan semakin menyempit, hanya bisa dilalui oleh roda dua. Di Ujung jalan, melintasi jembatan yang melintasi Ci Punagara.

Terjadi bencana longsor pada hari Minggu, 7 Januari 2024. Menyebabkan tidak berfungsinya fasilitas sumber air Tirta Rangga, Subang. Perusahaan daerah yang mengelola distribusi air baku ke wilayah Subang selatan. Selain itu merupakan sumber air yang dimanfaatkan oleh perusahaan komersial, air minum kemasan (AMDK).

Peristiwa bencana tanah longsor tersebut, mengakibatkan jatuhnya dua orang korban dan 11 orang luka-luka. Memaksa 262 orang harus dialihkan dari daerah bahaya longsor. Pengalihan tersebut karena terisolir, akibat satu-satunya jalan penghubung putus.

Penyebab terjadinya longsoran akibat dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Faktor pendukung lainya adalah akibat batuan penyusunya (litologi) berupa batuan vulkanik yang belum terkonsolidasi dengan baik (rempung). Berupa aliran piroklastik dan blok lava, mengakibatkan mudah disusupi air. Sehingga bagian batuan lunak, menjadi bidang gelincir. Selain itu berkaitan dengan gradien/sudut lereng perbukitan, dan dekat dengan sempadan sungai. Kondisi demikian menjadi variabel terjadinya gerakan tanah, dengan mekanisme aliran bahan rombakan (debris flow).

Terhitung dua tahun dari waktu terjadinya longsor, saat ini telah mengalami perbaikan. Diantaranya muncul kembali mata air yang dahulu tertimbun longsor. Pengelolaan lereng yang terjal menggunakan rekayasa teknis. Kemudian penanaman kembali melalui 1820 bibit pohon, melalui kerjasama antara perusahaan daerah Perumda TRS, PT Tirta Investama dan Perum Jasa Tirta II. Saat ini sumber mata air tersebut berfungsi dan dapat dimanfaatkan kembali. Setidaknya didapati 5 lubang mata air, dengan debit air tinggi. Sebagian ditampung dalam bak, dialirkan ke dalam pipa. Sebagian lagi dialirkan ke irigasi terbuka untuk kebutuhan pertanian sekitar Kampung Cipondok.

Jalan setapak menuju Gua Militer Jepang, di Puncak Eurad.
Di mulut gua militer Jepang, Puncak Eurad
Jalan makadam menuju Pasirlame, Mayang
Pohon kopi buhun, di lereng Pasirbedil, Mayang
Bongkah batuan tererosi, membentuk garis geometris di Desa Mayang, dengan latar G. Canggak

Catatan Geouban#50 Lamajan

Sejak dari pagi, pemilik warung mengolah makanan menjadi sajian. Warungnya selebar garasi mobil, dengan meja merapat kedinding. Masakan yang telah masak, kemudian ditata sedemikian rupa di lemari kaca yang sederhana. Konsumen tinggal menunjuk saja, jenis masakan yang akan dibeli. Tidak terlalu membutuhkan waktu lama, tiga jenis masakan telah tiba di piring siap disantap. 

Demikian sajian pagi yang bisa dinikmati, sebelum bergerak mengupas sejarah di sekitar Banjaran. Mengantarkan para pegiat penelusur sejarah bumi dan budaya, dibungkus dalam kegiatan Geourban ke-45. Dilaksanakan pada hari Selasa, 4 November 2025. Kegiatan ini adalah menggali kembali sejarah, melalui aktivasi narasi. Membuka jejaring lokal hingga membuka peluang penyusunan menjadi paket wisata bumi di Bandung selatan. 

Waktu menunjukan 7.40 WIB, cahaya matahari menimpa bangunan yang memanjang barat timur. Sekilas dari pandang mata, terlihat struktur bangunan yang memanjang barat-timur. Fasadnya merupakan ciri khas bangunan gudang, ditandai dengan bentuknya yang sederhana. Berupa struktur persegi panjang, dengan atap segitiga. Menekankan kepada fungsional, dibandingkan sisi estetikanya. Penelusuran singkat mendapati dua jajar jalur kereta api, memanjang barat-timur. Jalur sebelah selatan diperkirakan digunakan untuk proses bongkar-muat barang. Ditandai dengan sarana alat bongkar seperti crane container (struktur besi, untuk memindahkan barang dari atas lokomotif ke gudang). 

Seorang bapak menunjukan sisa rel dan bantalan, di belakang garasi kendaraan milik warga. Di Sebelah selatannya berdiri patok dari beton setinggi 60 cm, dengan tulisan PT KAI. Menandai batas luar sebelah selatan jalur lintasan kereta api. Stasiunnya saat ini dimanfaatkan sebagai Balai Pertemuan warga Desa Banjaran. Pada dinding bangunan tersebut, didapati plakat PT KAI yang memberikan keterangan luas tanah 118 meter pesegi, dan nomor portal Aset 02.03.00301. Melalui keterangan plakat yang terpasang ada dinding, menandakan bahwa sebagian besar bangunan tersebut merupakan milik negara melalui PT KAI. 

Statsiun ini merupakan bagian dari sistem jalur kereta api Bandung selatan. Menghubungkan antara Cikudapateuh di kota Bandung, ke Baleendah hingga Ciwidey, melalui Statsiun Banjaran. Dari statsiun ini kemudian dilanjutkan ke arah barat, hingga Statsiun Soreang. Melintasi Ci Widey (sungai), melalui Jembatan Sadu, Rancagoong dan beberapa jembatan pendek lainya. 

Dari beberapa keterangan, jalur ini tidak lagi melayani operasional sejak tahun 1982. Selain biaya operasional yang terus meningkat, akibat terjadi kecelakaan dan menurunnya penumpang. Pengurangan pelayanan sudah terjadi jauh sebelum tahun tersebut, mengingat jalur penghubung dari Bandung ke Ciwidey relatif telah baik. Sehingga hadir beberapa layanan transportasi menggunakan sarana kendaraan roda empat. 

Saat ini jalur kereta api tersebut tutup total, sebagian jalurnya telah diokupasi oleh warga lokal. Berganti menjadi rumah, warung hingga jalan setapak yang dimanfaatkan sebagai jalur lintas roda dua. Dari beberapa media daring, melalui kebijaksanaan gubernur Jawa Barat. Merencanakan pembukaan kembali jalur kereta api ini, walaupun di pemerintahan sebelumnya memiliki wacana yang sama. Namun pelaksanaanya belum terjadi hingga kini. 

Perjalanan dilanjutkan mengarah ke selatan melalui jalan raya Pangalengan sepanjang 10 km. Sekitar pecabangan Pangalengan dan Puncang, di sekitar Cimacan. Didapati tugu peringatan yang menjelaskan tentang sejarah pergerakan kemerdekaan RI. Ditulis Tugu Tokoh Perintis Kemerdekaan Bandung Selatan, tahun 1932 atas prakarsai oleh Bung Karno (Sukarno). Tugu Perintis ini dibangun seiring dengan penetapan Desa Cimaung sebagai desa Panca Marga pada 31 Desember 1962. Menunjukan pemerintahan daerah Desa Cimaung mendukung kepada RI. 

Dari Cimaung, kemudian bertemu dengan jembatan Cikalong. Selepas jembatan berbelok ke arah barat, berupa jalan sekitar Cangkuang Cikalong. Di sekitar Kampung Cikalong Hilir, didapati instalasi Bak II PDAM Tirtawening. Berupa kolam pengendap, kemudian didistribusikan melalui pipa Banjaran melalui jaringan pipa PDAM. 

Jalan berupa beton lebar 6 meter, membawa ke arah Cangkuang. Jalannya menurun melalui jembatan, di atas Ci Sangkuy. Alirannya membelah lembah dari selatan ke utara. Sungai ini menjadi sumber air yang digunakan untuk menggerakan tiga pembangkit listrik tenaga air; diantaranya Plengan, Lamajan dan Cikalong. Tiga fasilitas pembangkit listrik tersebut, di bawah pengelolaan PT Indonesia Power, Bandung, Jawa Barat.

PLTA Cikalong merupakan tiga rangkaian dari sistem pembangkit listrik yang mengandalkan air sadapan dari Ci Sangkuy hulu. Airnya ditampung melalui kolam penenang (Forebay) yang berada di barat daya. Disebut kolam penenang Batu Eon, dicirikan dengan bongkah batu yang berada  ditengah kolam. Masyarakat mempercayai nya, sebagai entitas yang tidak bisa dipindahkan atau dibongkar, sehingga dibiarkan begitu saja.  Dari kolam ini, kemudian dialirkan melalui pipa ganda tertutup, sejauh 1 km. mengalir dari ketinggian sekitar 1010 meter ke 700 meter. Fasilitas PLTA ini dibangun setelah kemerdekaan RI, atau sekitar tahun 1954. Besar daya yang dihasilkan secara optimal adalah 19,20 MW. 

Dari Desa Lamajan, didapati jalan kontrol yang digunakan oleh pengelola PLTA. Jalan yang mengikut lereng G. Tilu, mengikuti jalur irigasi tertutup. Instalasi ini dibangun seiring dengan kebutuhan listrik pada masa Kolonial Belanda. Dengan cara memanfaatkan aliran CI Sangkuy. Karena debit air yang tidak stabil, kemudian dibangun waduk buatan Cileunca dan Cipanunjang. Waduk tersebut mengalir air secara stabil ketiga pembangkit listrik. Sumber airnya disadap di bendungan Cikalong yang berada di arah hulu. Alirannya berupa saluran tertutup yang menembus lereng G. Tilu, Gunungapi purba yang menaungi Pangalengan. Untuk mendapatkan pasokan air yang stabil dari hulu, dialirkan melalui terowongan buatan tertutup. Sehingga alirannya tidak terpengaruh oleh sedimentasi atau tanah longsor. Di beberapa titik buatkan jembatan yang menyebrangi anak sungai. Struktur demikian disebut aqueduct, atau jembatan air (sungai).

Instalasi ini dikerjakan sejak 1922, dan beroperasi 1925. Sub Unit PLTA Plengan menghasilkan 6.87 MW, kemudian sub Unit PLTA Lamajan 18,56 MW, dan sub PLTA Cikalong menghasilkan 19,20 MW. 

Jalan makadam tersebut menghubungkan antara PLTA Cikalong ke kolam PLTA Lamajan. Dilanjutkan ke PLTA Plengan. Sebelum tiba di Plenga, jalan makadam (berbatu), didapati dinding tegak. Berupa aliran lava tebal, dengan struktur sheeting joint atau kekar lembar. Terbentuk akibat kehilangan pembebanan, membentuk lembaran. Di tepi jalan sekitar Pulosari, terdapat air terjun. Mengalir diantara celah-celah batu membentuk tirai air. Warga menyebutnya Curug Dewa, sungai terbuka dari anak sungai Ci Sangkuy hulu.

Ke arah hulunya didapati waduk buatan Cileunca. Danau buatan. Kolonial Belanda menyebutnya Waterreservoir Tji Leunca en Tjipanoenjang. Merupakan danau buatan kaskade (cascade reservoir), multi guna untuk pengairan pertanian, wisata, dan sumber energi pembangkit listrik. Waduk Cileunca dikerjakan hampir tujuh tahun (1919-1926), memanfaat anak sungai sebagai sumber mata air waduk. Pembangunan kedua adalah pembendungan Waduk Cipanunjang (1927-1930). Paras waduk 2045 m dpl, dialirkan ke tempat yang lebih rendah sekitar 658 m dpl. Perbedaan ketinggian tersebut dimanfaatkan untuk menggerakan tiga turbin pembangkit listrik air; Plengan, Lamajan dan Cikalong

Kegiatan diakhiri di Situ Cileunca. Melihat kembali teknologi yang telah berusia seratus tahun lebih, berupa bendungan. Dialirkan melalui irigasi tertutup, membobok gunung hingga pembuatan kolam/forebay di atas ketinggian. Dijatuhkan melalui pipa pesat, untuk mendapatkan tekanan air. kemudian turbin bergerak, menghasilkan listrik.

Komunitas Geourban di PLTA Cikalong
Kabel listrik tegangan tinggi PLTA Cikalong
Hutan adat konservasi Ds. Lamajang
Spillway Lamajan
Jembatan air Ci Sangkuy hulu

Catatan Geourban#51 Malabar

Sepatu karet khas buruh angkut perkebunan. Menjadi ciri yang mudah dijumpai disepanjang jalan Cibeureum hingga Situ Cisanti. Biasanya bersanding dengan motor empat langkah yang telah dimodifikasi sedemikian rupa. Agar bisa memuat hasil panen, bagian jok diganti menggunakan papan panjang sekitar 1 meter. Kemudian suspensi bagian belakang ditambah dua unit, hingga berjumlah empat. Tujuannya adalah mampu membawa beban hingga seratus kilo lebih, melalui jalanan tanah perkebunan.

Agar motor bisa melaju, membutuhkan traksi transfer tenaga mesin ke ban. Akibat jalanya tanah basah, menanjak terjal sehingga membutuhkan cara modifikasi. Dengan menggunakan bantuan bekas rantai gir, dililih ke bagian roda belakang berjajar. Tujuannya agar motor bila melaju, tanpa slip berjalan di tempat. Kegiatan tersebut merupakan bagian kecil dari rangkaian panjang industri pertanian. Kertasari merupakan sentra pertanian tanaman hortikultura, di Kabupaten Bandung. Produk unggulannya antara lain tanaman Cabai, Bawang Daun, Wortel, Kentang, dan Kubis, Petsai. Total penggunaan lahan hampir 3.743 ha (BPS Kab. Bandung, 2013). Akibatnya perebutan lahan seringkali terjadi, seperit terjai pada 25 November 2025. Terjadi aksi protes dari serikat pekerja perkebunan di depan pabrik teh Malabar, Pangalengan. Menuntut agar negara, melalui PT Perkebunan Nusantara, untuk menghentikanaksi pengalihan lahan (detik.com. 26/11/2025).

Total luasan lahan pertanian sayuran tersebut,memberikan gambaran bahwa Kertasari digerakan oleh industri pertanian. Berbeda dengan dengan kondisi seratus tahun yang lalu, merupakan lahan perkebunan kina, teh dan kopi. Dikuasai oleh penguasaan tunggal kepemilikan pribadi (swasta).

Seperti yang dilakukan oleh Willem Gerrard Jongkindt Coninck. Memulai usahanya mengembangkan budidaya kina sejak 1904. Dalam waktu 30 tahun lebih, produksi kina Kertamanah menguasai obat kina dunia pada saat itu. Produksi akhir abad ke-19 dan menjelang awal abad ke-20, merajai komoditas ekspor dunia. Pada 1940 produk kina di Hindia Belanda, hampir 90 persen kebutuhan dunia dipenuhi oleh hasil perkebunan kina di Jawa Barat (Nuralia, 2019).

Kejayaan perkebunan kina hancur, seiring dengan kelesuan ekonomi global (malaise), ditambah invansi tentara Jepang pada 1942 ke Jawa. Sebagian besar pegawai Eropa ditangkap, termasuk Jongkindt. Dialihkan ke interniran 7 di Ambarawa, meninggal pada 23 Januari 1945. Sebagai penghargaan pada jasanya, keluarganya kelak memindahkan jasadnya dari Ambarawa ke Pangalengan. Dikuburkan kembali 25 April 1949 (historia.com, 2025).

Kuburannya ditempatkan di dataran tinggi, dikelilingi danau pada saat itu. Seluas mata memandang adalah hamparan perbukitan dan lembah Kertamanah. Namun saat ini kondisinya tidak terurus, dikepung oleh perkebunan warga. Akses menuju lokasi kuburan tertutup oleh perkebunan, menyisakan jalan sempit. Keberadaanya tidak terawat, ditumbuhi tanaman liar yang tumbuh sekitar kuburan. Bentuk kuburannya berupa struktur bangunan persegi panjang, kemudian kuburan utamanya di bagian tengah. Membujur barat-timur, bagian kepalanya menghadap ke arah barat. Pada bagian nisannya, sudah tidak didapati plakat, sehingga nama dan waktu kematian tidak diketahui.

Kuburun tersebut sebagai bukti bahwa sebagian besar Kertamanah, merupakan perkebunan kina yang kini telah besalin rupa menjadi perkebunan warga.

Perkebunan tersebut tersebar luar, dari Tarumajaya, Kertasari hingga ke Sukamanah. Dihubungkan melaui jalan utama kelas kabupaten yang kini telah tingkatkana menjadi jalan beton. Sekitar 200 meter dari gerbang Situ Cisanti ke arah selatan, akan bertemu dengan percabangan Purbasari-Cikembang. Persimpangan ini menjadi titik penting, sebagai jalur pemisah antara dua wiayah. Ke arah timur menuju perbukitan yang memanjang utara-selatan. Bagian dari jajaran pegunungan selatan, G. Papandayan-G. Kendang-G. Rakutak.

Tugu Peringatan Helm Lima
Di simpang jalan Tarumajaya, didapati patung dalam rupa seorang prajurit yang mebawa panji Satuan Siliwangi. Keberadaan patung tersebut berdampingan dengan tugu dengan bentuk obelisk setinggi 4 meter. Di bagian puncaknya tersisa bekas gagang kujang, sedangkan bagian atasnya telah hilang. Kemungkinan hilang akibat kegiatan vanadalisme. Pada bagian tugu tersebut, ditempatkan lima helm tentara. Memberikan simbol gugurnya lima orang Tentara Nasional Indonesia, pada saat konflik dengan DI/TII. Terjadi pada 5 Juli 1959 dipersimpangan Tarumajaya, akibat penghadangan tentara yang dibentuk Kartosuwiryo. Mengakibatkan gugurnya lima anggota TNI yang sedang melakukan patroli. Kawasan ini menjadi jalur pergerakan DI/TII, menghubungkan antara selatan Pangalengan, ke arah G. Rakutak di Garut. Wilayah tersebut merupakan basis pelarian gerombolan, tersembunyi oleh perbukitan dan lembah. Sehigga gerombolan ini menggunakan jalur menembus hutan belantara dan disembuyikan oleh kabut.

Tiga tahun kemudian, tanggal 4 Juni 1962. Pimpinan DI/TII ditangkap di sekitar lereng G. Rakutak. Di daerah G. Beber, Majalaya.menandai berakhirnya petualangan S.M. Kartosuwiryo dan DI/TII di Priangan.

Rawa Gede
Selepas Situ Cisanti, jalan mulus menyambut perjalanan menuju Kertasari. Di sebelah kanan jalan, atau ke arah barat berjajar punggungan perbukitan. Jajaran G. Wayang-Windu-Bedil. Jajaran gunungapi tua, kini memberikan berkahnya melalui keberadaan panasbumi. Saat ini dieksplorasi oleh perusahaan Star Energy Geothermal, melalui beberapa sumur-sumur produksi yang tersebar di lereng sebelah barat G. Wayang-Windu.

Di lereng sebelah tenggara G. Windu, merupakan dataran rendah yang ditempati perkebunan teh Kertasari. Dari pabrik teh Kertasari ke arah baratnya merupakan cekungan yang ditempati oleh perkebunan. Dalam peta lama lembar Tjisoeroepan, 1943. Dituliskan Rawa Gede. Ditafsirkan bahwa sebagian besar wilayah tersebut merupakan sisa rawa yang telah mengering. Batas ke arah barat adalah lereng G. Windu, sekitar Cikawak. Kemudian ke arah utaranya sekitar Cihaneut, dan sebelah timur dibatasi jalan penghubung Cikembang, Kecamatan Kertasari. Bila ditarik garis secara umum, didapat luas sekitar 150 hektar. Namun saat ini telah mengering, kemudian ditempati kompleks perumahan perkebunan Kertasari. Berupa bangunan rumah tapak yang menempati sebagian besar bagian utara, dari Rawa Gede.

Ke arah baranya didapati perbukitan yang menonjol, disebut Pasir Paesan. Satu-satunya tinggian yang berbentuk kerucut di tengah-tengah hamparan perkebunan teh. Sehingga keberadaan perbukitan tersebut menjadi menarik, mengingat didapati sistem gunungapi di bagian utaranya. Sehingga bisa saja disimpulkan bahwa kerucut Pasir Paesan tersebut merupakan sub gunungapi dari bagian sistem gunungapi Wayang-Windu.

Di utara dari bagian Rawa Gede ini, didapati tempat yang dikenal dengan nama Cihaneut. Dalam bahasa Sunda dasarnya haneut, berarti hangat. Dengan demikian memberikan keterangan bahwa lokasi tersebut memiliki fenomena sumber mata air panas. keberadaan manifestasi di permukaan ini, berhubungan dengan sistem gunungapi Wayang-Windu.

Di sebelah barat G. Windu, terlihat lapangan kawah. Ukurannya tidak terlalu luas, terletak di lereng terjal. Manifestasi di permukaan ini biasa terjadi pada gunung api-gunungapi yang telah padam, maupun yang masih aktif. Masyarakat menyebutnya kawah Citawa, selaras dengan nama daerah Citawa. Sedangkan bila merujuk pada peta lama 1943, ditulis Tjikawak. Bisa ditulis ulang Cikawak, bukan Citawa seperti pada penyebutan saat ini. Kompleks kawah tersebut sekitar 500 meter ke arah barat, dari Cihaneut. Sebelah selatannya, didapati Kawah Burung. Berada di sumber mata air panas Cibolang yang telah dimanfaatkan menjadi sarana pariwisata pemandian air panas. Sumber mata air panasnya berasal dari kawah tersebut, kemudian diteruskan melalui pipa. Ditampung ke dalam bak-bak penampungan, kemudian dialirkan ke kolam-kolam.

Dari Cihaneut didapati jalan kontrol perkebunan teh, menuju mata air panas Cibolang sepanajang kurang lebih 3 km lebih. Melalui lereng G. Windu, mengikuti tekuk lereng dari timur ke barat. Selama perjalanan, melalui batas antara hutan tropis, dan batas perkebunan teh Wanasuka.

Ke arah barat daya, merupakan sisa dari kejayaan perkebunan teh (onderneming) Malabar di masa Hindia Belanda. Ke arah selatannya berbatasan dengan perkebunan teh Purbasari. Perkebunan ini dibelah oleh Ci Laki, sumbernya disumbang oleh beberapa tinggian. Diantaranya di sebelah timur laut, bersumber dari lereng barat G. Wayang-Windu. Kemudian di sebelah baratnya berasal dari tinggian Cukul. Titik nol Ci Laki berada di Kampung Bendungan, Desa Sukaluyu, Kabupaten Bandung.

Pengalirannya ke arah selatan, menoreh perbukitan sekitar Margaluyu, membentuk jeram-jeram yang dalam, dasarnya dialasi oleh aliran lava. Hasil dari kegiatan letusan gunung api jajaran selatan Jawa. Sumber letusannya diperkirakan berasal dari gunung api yang kini telah tidak lagi terlihat bentuknya. Bila merujuk kepada Peta Geologi Lembar Garut dan Pameungpeuk (Alzwar Akbar drr., 1992), disusun oleh Endapan Rempah Lepas Gunungapi Tua Tak Teruraikan (Qopu). Dengan demikian merupakan hasil kegiatan gunung api yang jauh lebih tua, dibandingkan dengan gunungapi modern. Diantaranya gunungapi aktif G. Gede, G. Salak, G. Tangkubanparahu yang berada di sebelah utaranya. Kondisi demikian menandakan telah terjadi pergeseran zona benioff/ penunjaman lempeng tektonik samudera.

Dari peta geologi tersebut, memperlihatkan tubir kaldera membentuk lingkar terbuka ke arah timur. Dindingnya kini ditempati G. Gantigi 1348 mdpl., (Cantigi?) di sebelah timur, dan G. Karancang 1563 mdpl. Sebelah timurnya. Di tengah-tengahnya memperlihatkan pola kerucut yang dibatasi oleh lingkaran. Dalam peta geologi lembar Garut, puncaknya dituliskan G. Cepu 1388 mdpl. Sedangkan bila merujuk kepada peta lama 1943 (AMS), disebut G. Tjajoer 1368 mdpl, atau G. Cayur. Pergantian penyebutan tersebut seharusnya ditinjau ulang, mengingat nama geografis tersebut sebagai leksikon nama-nama gunung di Jawa Barat.

Ci Laki mengalir ke arah selatan, menoreh menjadi lembah yang dalam. Aliran sungai ini membagi dua wilayah administratif, Kabupaten Garut di sebelah timur, dan Kabupaten Cianjur di sebelah barat. Hilirnya di Desa Cimahi, Kecamatan Caringin, Garut. Muaranya bertemu dengan laut Samudera Indonesia, menjadi batas Kabupaten Garut dan Kabupaten Cianjur.

Waterkracht Tjilaki
Di bagian hulu Ci Laki dimanfaatkan sebagai tenaga pembangkit listrik tenaga air. Aliran airnya disadap dari arah hulu, atau disebut saringan A. Lokasi penyadapannya sekitar 1.5 km ke arah utara, sekitar Banjarsari. Ditandai dengan dibuatnya dam, mengalihkan aliran air ke arah barat daya. Dialirkan melalui saluran air tertutup atau terowongan panjang, hingga berakhir di reservoir.

Pada bagian outlet aliran air, kemudian ditampung ke dalam bak atau reservoir. Berbeda dengan beberapa mikro hidro yang menggunakan kolam penenang. Fungsinya adalah mengendapkan sedimentasi dan mengatur volume air. Namun untuk fasilitas ini tidak dilengkapi kolam penenang, namun cukup menggunakan sistem bendungan. Berupa kanal yang memanjang sekitar 40 meter, dilengkapi dengan jeruji besi sebagai penyaring sampah. Kemudian di sebelah selatannya, didapati tutup pintu irigasi. Berfungsi sebagai pengelak air atau spillway, agar volume air stabil.

Alirannya kemudian disalurkan melalui pipa tunggal, disebut pipa pesat. Dialirkan melalui lereng terjal sepanjang 250 meter, dengan beda ketinggian sekitar 60 meter. Daya dorong yang dihasilkan oleh gravitasi, kemudian disalurkan ke tiga turbin. Kemudian menggerakan dinamo untuk menghasilkan listrik sekitar 6000 volt per unit.

Listrik yang dihasilkan kemudian didistribusikan melalui kawat listrik tegangan tinggi, untuk mensuplai dua pabrik teh yang berada di sebelah utara. Diantaranya pabrik di Banjarsari atau pabrik Malabar, kemudian pabrik Tanara di sebelah timur. Pembangki listrik tenaga air ini setidaknya mulai dikerjakan sejak 1908, dengan membangun jaringan irigasi terbuka dan tertutup. Kemudian mempersiapkan instalasi teknis, hingga pemasangan pipa baja. Diperkirakan mulai beroperasi, setidaknya sejak 1913.

Saat ini tidak lagi berfungsi optimal. Selain usia turbin dan generator listrik tua, selain itu pasokan air semakin berkurang. Kondisi demikian diakibatkan, telah terjadi perubahan tata guna lahan di utara. Dengan demikian debit air berkurang, karena area imbuhan telah berganti menjadi perkebunan.

Sekolah untuk buta huruf sumbangan Bosscha
Ke arah selatan, melihat bukti sumbangsih juragan teh A.K. Bosscha. Mendirikan vervoloog (sekolah lanjutan), di Malabar. Upaya memutus buta huruf, dikalangan pegawai perkebunan Onderneming Malabar.

Pengaliran air melalui lembah
Di aliran Ci kuningan, Desa Banjarsari. Didapati sistem pengelolaan irigasi air tertutup, disebut Syphon Tjikuningan, teknologi mengalirkan air di antara lembah. Ci Kuningan (sungai), mengalir ke arah barat daya. Kemudian bergabung dengan Ci Laki. Alirannya menggerakan turbin waterkracht Tjilaki (pembangkit listrik tenaga air mikro hidro).

Syphon atau disebut juga sipon, mengalirkan air ke waduk Cileunca. Melalui jaringan terowongan air tertutup, sejauh hampir 2.7 km lebih. Tujuanya adalah mengisi volume air waduk, kemudian dialirkan ke utara. Menggerakan tiga instalasi pembangkit listrik tenaga air Plengan, Lamajan dan Cikalong.

Tugu peringatan koflik TNI dan DI/TII di Ci Santi.
Gardu listrik, diperkirakan transformer di perkebunan teh Purbasari.
Pen stock/Pipa pesat Cilaki
Power house/rumah produksi listrik PLTA Cilaki
Sistem generator berupa dinamo
Turbin air nomor 3
Syphon Cikungingan.

Catatan Geourban#48 Cikande

Suara tatah terus berbunyi sepanjang siang, hadir diantara perbukitan Cikande. Pahat besi, dan otot beradu dengan batupasir Formasi Rajamandala. Batuan yang diendapkan di laut dalam, kemudian tersingkap oleh kekuatan di dalam bumi. Batuannya didapatkan dengan cara menambang secara tradisional, menggunakan linggis, godam dan tekad. Batuannya berlapis miring ke arah selatan, sehingga memberikan jalan pada saat digali. Bongkah-bongkah besar, kemudian dibentuk menggunakan godam, menjadi beberapa bagian. Diangkut dengan cara dipanggul, kemudian diserahkan ke para pengrajin untuk dibuat cobek.

Lama pengerjaanya bisa satu jam lebih, untuk setiap cobek. Ukurannya lebar sekitar 20 cm, dengan khas coakan yang dibuat dengan menggunakan tatah dan ketekunan. Satu produk jadi batu cobek, kemudian dibeli oleh pengepul seharga dua belas ribu rupiah per cobek. Dalam satu hari, para pengrajin mampu membuat antara dua belas hingga lima dua puluh batu cobek. Dikerjakan secara sambilan, disamping berprofesi sebagai penggarap ladang.

Batu Cobek Cikande
Mulai dikerjakan sejak tahun 80-an, dikenal dengan batu coet Cikande. Warga menyebutnya batu hideung, atau batu yang didominasi dengan warna gelap. Bila dilihat secara seksama. Terlihat perselingan batulempung dan batupasir berselang-seling, menjadikan batuan tersebut diendapkan pada kondisi sebagian besar wilayah Cikande ada di bawah permukaan laut.

Geologi menafsirkannya Formasi Citarum, umur Miosen Tengah. Disusun oleh selang-seling antara batupasir, batulanau (Martodjojo, 2003). Merupakan endapan laut dalam, kemudian seiring waktu terangkat hingga di ketinggian 310 meter di atas muka laut.

Pengrajin batu menyukai material ini, karena mudah dibentuk. Selain itu keberadaan batu hideung ini melimpah dan mudah diakses. Namun menjelang akhir tahun 2024, sebagian besar wilayah ini sudah masuk ke dalam penguasaan pengembang perumahan terbesar di Jawa Barat. Luas wilayahnya hampir mencakup sebagian besar Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.

Kegiatan di atas adalah bagian dari rangkaian Geourban ke-48, tanggal 8 Oktober 2025. Diikuti oleh partisipan dari latar belakang yang berbeda. Diantaranya pegiat wisata, pemandu, pengelola wisata hingga mahasiswa jurusan pariwisata. Kegiatan ini bertujuan menggali kembali narasi sekitar Citatah selatan, membuka jejaring lokal dan silaturahmi pelaku wisata.

Kegiatan ini menapaki wilayah Kecamatan Citatah, dari Padalarang, Jayamekar, Bojonghaleuang, Cikande, Girimukti, hingga Cipageran. Di Antara desa-desa tersebut memiliki keunggulan fenomena kebumian dan budaya.

Endapan Awan Panas Cigintung
Lawatan pertama mengunjungi bukti hasil kegiatan gunungapi. Berupa endapan piroklastik, dengan tebal kurang lebih 20 meter. Tersingkap karena digali oleh warga dengan bantuan alat berat sejak tahun 2000-an, seiring dengan penguasaan lahan sekitar Jayamekar. Selain akibat tambang, dan pembukaan lahan untuk pemukiman mengakibatkan peristiwa banjir bandang. Terjadi pada tanggal 6 April 2025, berupa terjangan luapan air sungai. Kemudian memutuskan jalan penghubung antar desa.

Kondisi demikian akibat bagian lereng perbukitan dikupas untuk pembuatan lahan hunian, perumahan Great and Feel di Jayamekar. Akibat pembukaan lahan tersebut, menyebabkan run off air, terutama saat curah hujan tinggi. Mengakibatkan luapan sungai, dan memutus jalan penghubung dari Desa Jayamekar ke Desa Gunung Masigit.

Di lokasi ini didapati sisa tambang warga, berupa dinding tegak. Disusun oleh endapan awan panas.

Menyaksikan Perbukitan Terlipat dari Pasir Karamat
Kunjungan berikutnya adalah ke perbukitan di sebelah utara waduk Saguling, berdampingan dengan Parahyangan Golf. Lapangan golf yang dibangun, di tepian waduk Saguling. Perbukitan yang kini telah masuk ke dalam penguasaan pengembang properti, menjadi titik terbaik untuk mengamati jajaran perbukitan di sebelah utaranya.

Dari titik tinggi Pasir Karamat, terlihat jajaran perbukitan yang memanjang relatif barat-timur. Diantaranya yang terlihat adalah Pasir Kiarapayung 929 meter dpl., bergeser ke arah timur diantaranya Pasir Cirateun 862 meter dpl. Sejajar dengan perbukitan tersebut adalah Pasir Tugu yang kini diakuisisi pengembang, menjadi titik kegiatan hiking. Disebut Bumi Luhur Hiking Track, jalur jalan kaki yang menelusuri perbukitan sekitar Cikande, Batujajar.

Perbukitan tersebut ditafsir sebagai perbukitan terlipat, akibat kegiatan tektonik di masa lalu. Batuannya disusun oleh batupasir, berseling dengan batulempung. Diendapkan pada kondisi laut dalam, pada umur Miosen Awal hingga miosen Tengah.

Seiring kegiatan tektonik,endapan laut dalam tersebut diangkat hingga di atas ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Pengangkatan tersebut terjadi seiring dengan kegiatan perlipatan, terjadi pada Miosen hingga Pliosen. Mengakibatkan terbentuknya perbukitan terlipat, sesar-sesar naik pada batuan karbonat Citatah.

Panorama Bendungan Saguling
Perjalan dilanjutkan ke arah barat, menembus jarak 13,5 km. Ditempuh durasi perjalanan sekitar 30 menit, melalui jalan alternatif antara Cipangeran ke Poros Saguling. Jalannya sebagian besar sudah di beton, sehingga kegiatan ekonomi lokal bergerak. Terutama untuk mengangkut hasil bumi, dari Desa Saguling di jual ke pasar induk di Bandung melalui jalan ini.

Selepas Desa Saguling, memasuki Cipongkor. Jalan relatif menurun, mengikuti kontur perbukitan. Jalannya sejajar dengan arah pengaliran outlet Citarum, dari poros bendungan. Dialirkan melalui pipa ganda sepanjang kurang lebih 5.5 km, ditanam di bawah tanah. Elevasinya turun dari ketinggian 670 meter ke 340 meter. Pengaliran air tersebut memanfaatkan gravitasi, kemudian diantarkan melalui pipa pesat. Tekanan tinggi tersebut kemudian menggerakkan turbin di Power House Saguling.

Sekitar 4 km menjelang Pembangkit Listrik Tenaga Air/PLTA Saguling, didapati titik terbaik untuk menyaksikan perbukitan Citatah. Sekitar Pasir Benteng, dengan elevasi 660 meter dpl. Dari tinggian ini bisa menyaksikan jajaran perbukitan yang memanjang baratdaya-timurlaut. Batuannya berbeda dengan batuan yang pernah dikunjungi sebelumnya. Disusun oleh batugamping, bagian dari Formasi Rajamandala. Dicirikan dengan warnanya abu terang, kadang berwarna coklat, disebut batugamping.

Memandang ke arah barat, terlihat punggungan Gunung Guha 738 meter dpl. Perbukitan yang memanjang dari barat-timur, berada di sekitar Cihea. Di Antara perbukitan tersebut mengalir Ci Nongnang, sungai yang hulunya di Puncak Larang.

Ornamen di Sanghyang Kenit
Sebelah utara dari PLTA Saguling, terdapat gua. Disebut Gua Sanghyang Tikoro, dengan elevasi sekitar 300 meter dpl. Dengan demikian memiliki perbedaan ketinggian dengan poros bendungan Saguling, sekitar 650 meter dpl.

Perbedaan ketinggian tersebut membantah lokasi bobolnya Danau Bandung Purba segmen bagian barat. Hasil penelusuran bisa dilihat di sini: https://pgwi.or.id/2023/02/28/catatan-geobaik2-cukang-rahong/

Di Sanghyang Kenit, merupakan bagian dari segmen aliran Ci Tarum. Aliran airnya merupakan tangkapan dari berapa mata air dan aliran spillway dari Waduk Saguling. Sedangkan aliran utamanya, dialirkan melalui jaringan pipa. Digunakan untuk menggerakan turbin di PLTA Saguling, dan PLTA Rajamandala.

Dengan demikian, aliran air ke gua Sanghyang Poek menjadi kering. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh pengelola Sanghyang Kenit, menjadi sarana wisata susur gua. Inlet atau mulut gua berada di selatan, Sanghyang Poek. Mengalir ke arah utara, sejajar dengan sungai terbuka. Outlet-nya di mulut gua Sanghyang Kenit.

Penelusuruan dialakukan berlawanan dengan arah arus sungai, dari Sanghang Kenit ke arah keluar di Sanghyang Tikoro. Panjang gua kurang lebih 600 meter, melalui lorong memanjang.

Gua ini merupakan bagian dari Formasi Rajamandala, berupa batugamping berumur Oligosen Akhir-Miosen Awal atau sekitar 30-22 juta tahun yang lalu. Tebalnya lebih ari 180 meter, berupa batugamping masif/pejal dan terumbu.

Penelusuran di gua Sanghyang Kenit, mendapati ornamen yang masih berkembang. Menandakan bagian atas gua/eksokarst masih dalam kondisi baik. Sehingga didapat air yang mengalir. Aliran air yang masuk melalui bidang rekahan tersebut, kemudian mengendap menjadi kalsit. Seiring waktu, endapan tersebut membentuk ornamen gua yang menawan. Di gua ini masih didapati ornamen yang masih berkembang, seperti batu tirai, batu alir, gourdam, stalagmit dan stalaktit dan seterusnya. Sehingga gua tersebut cocok bagi siapa saja yang ingin mengetahui rahasia perut bumi.

Moda transportasi roda dua, penelusuran Geourban
Interpretasi di dalam gua Sanghyang Kenit
Batupasir Fm. Citarum, ditambang untuk pembuatan batu coet

Catatan Geourban#47 Cipada

Hawa pagi lebih dingin dari minggu sebelumnya, memandakan musim mendekati berakhirnya kemarau. Suhu yang menjadi santapan sehari-hari para pekerja di perkebunan, dataran tinggi Parongpong, Lembang, Kabupaten Bandung.

Waktu menunjukan saatnya sarapan, beruntung di tempat pertemuan penjual bubur ayam baru saja selesai mempersiapkan dagangannya. Dalam sekejap satu mangkuk selesai dieksekusi, mengingat sejak malam belum bertemu pengganjal perut. Lokasi pertemuan dipilih persis dimulut jalan menuju pintu Komando. Tempat latihan Kopassus, tertutup selain kegiatan latihan militer. Sehingga sebagian besar kawasan hulu Ci Mahi terjaga kelestariannya, karena kegiatan latihan militer. Berbeda dengan kawasan perkebunan teh Sukawana, kini bersulap wajah menjadi pengembangan wisata. Melalui penguasaan wilayah melalui Kerjasama Operasi (KSO), antara PT Perkebunan dengan pihak swasta produsen alat pendakian gunung. Menguasai lahan seluas 50 Hektar, di blok 11 Sukawana. Berupa sarana wisata, pembangunan betonisasi. Sehingga memiliki dampak lingkungan tinggi.

Kembali ke kegiatan Geourban ke 47, menapaki kembali sejarah bumi dan budaya. Di kawasan lereng sebelah barat G. Burangrang. Gunungapi samping, aktif melalui kegiatan kegunungapian berupa letusan. Materialnya mengendap di sekitar lereng, melampar hingga ke arah barat. Selain panorama yang menawan, daerah ini ditempati perkebunan teh masa kolonial, hingga hutan produksi milik PT Perkebunan Negara. Berupa pohon tegakan pinus merkusii. Ke arah baratnya melandai, hingga berbatasan dengan jalan penghubung antara Purwakarta-Padalarang di kawasan Nyalindung.

Endapan Awan Panas di Tugumukti
Jelang pukul delapan, partisipan Geourban menapaki jalan menuju Pasirlangu melalui Tani Mukti. Jalan turun curam, hingga lembah yang dipotong oleh Ci Meta. Sekitar Pasirhalang tersingkap endapan tebal berlapis-lapis. Berupa material hasil letusan gunugapi Prasunda-Sunda. Membentuk dinding tegak,dengan tinggi sekitar 30 meter. Membatasi Tugumukti dan Pasirhalang. Pada tahun 1990-an, kawasan ini menjadi primadona untuk penggalian batu dan pasir. Menggali endapan tebal tefra, hasil letusan gunungapi pada saat pembentukan kaldera.

M. Nugraha melaporkan dalam Tephrochronological Study On Eruptive History Of Sunda-Tangkuban Perahu Volcanic Complex, West Java, Indonesia (2005). Sebagian besar lembah Tugumukti disusun oleh endapan hasil letusan gunungapi. Berupa endapan awan panas (ignimbrite), didominasi oleh batu apung. Hadir dalam ukuran beragam, dari kerakal hingga ukuran kerikil, dari dua kali kegiatan gunungapi. PraSunda pada 560-508 ribu tahun yang lalu, kemudian Sunda pada 210-105 ribu tahun yang lalu.

Nugraha membedakan dua fase kegunungapian, melalui batuan penyusun di sekitar lembah Tugumukti. Endapan ignimbrite Manglayang dan Cisarua.

Akibat batuannya berupa batuan gunugapi lepas, jalan penghubung sekitar Pasirhalang seringkali dilanda longsor. Sehingga jalan penghubung Cisarua ke Cipada ini terganggu. Terakhir terjadi pada April 2022, sehingga pemerintah daerah memerintahkan untuk menutup segala kegiatan tambang batu dan pasir di Tugumukti.

Dari Tugu Mukti, jalanan terus menurun melintasi Ci Meta. Sungai yang berhulu di lereng sebelah barat G. Burangrang. Kemudian hilirnya di jembatan Citarum, Rajamandala. Kemudian jalanan mendaki memasuk dataran tinggi Cipada. Menjelang masuk ke kawasan ini, kiri dan kanannya dihiasi oleh perkebunan teh. Membentang seperti permadani hijau, dari kaki G.Burangrang hingga ke arah barat sekitar Pasir Bengkung.

Blok Friesland dan Louise
Dalam peta lama 1946, tuliskan dua blok perkebunan Friesland di sebelah utara, dan perkebunan Louise di bagian selatan. Salah satu informasi yang didapat, berasal dari laporan Belanda. Dalam kitab undang-undang Koloniaal Verslag van 1904. Menyatakan kedua perkebunan tersebut pailit, kemudian diambil alih oleh Perkebunan Pangheotan. Kemudian pada sumber nama dan perkebunan Hindia Belanda. Lijst van 1914: I. Particuliere ondernemingen in Nederlandsch-Indië op gronden door het gouvernement afgestaan in huur (voor landbouwdoeleinden) en erfpacht. Menyebutkan Friesland merupakan perkebunan kopi, di dalam manajemen Pangheotan. Dikelola oleh J.A. Piepers, 4 Maret 1890. Dalam peta lembar Tjipada (1903), kawasan perkebunannya berada di G. Leutik, sedangkan blok perkebunan Louise di sekitar Kiaralawang, dan Batukorsi sebagai batas kedua blok tersebut. Menurut keterangan warga, sekitar lokasi tersebut terdapat gua buatan manusia. Dibangun pada saat pendudukan Jepang, sebagai tempat perlindungan dan persembunyian.

Situ Dano Cipada
Kunjungan selanjutnya ke Dano Situ Cipada. Berupa danau yang terletak disebelah selatan Kantor Desa Cipada. Danau yang memiliki panjang 109 meter, dan lebar sekitar 74 meter. Berupa cekungan yang dikelilingi perbukitan. Dalam peta lama merupakan danau yang terbentuk di dalam cekungan. Dikelilingi oleh tinggian Pasir Dano di selatan, Cileuleuy membatasi sisi sebelah timur. Kemudian bagian baratnya dibatasi oleh Pasir Manggu dan Kiarapayung.

Bila datang dari arah Ciparay Babakan, Cipada. Sekitar 500 meter akan tiba di persimpangan Cileuleuy, percababangan yang membagi jalur ke utara menuju wisata Bukit Senyum di Pasir Manggu. Kemudian ke arah barat menuju Lembang. Jalannya menurun, memasuki cekungan yang dibatasi oleh perbukitan. Kiri dan bagian kanannya ditempati perkebunan warga, berupa perkebunan sayuran. Diujung jalan kemudian mendapati daerah landai, ditempati danau. Masyarakat menyebutnya Situ Dano Lembang, beberapa sumber menuliskan Situ Dano Cipada. Merujuk pada nama tempat, berada di Desa Cipada, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat.

Didapati luas sekitar 236 meter persegi, namun saat ini genangannya menyusut sekitar 7,498 meter persegi. Kondisi demikian terjadi sejak alih lahan dari perkebunan teh menjadi lahan perkebunan. Menurut warga di Cipada, akibat perubahan lahan pertanian mengakibatkan longsor. Kemudian sebagian besar endapan tanah perkebunan masuk semua ke danau. Seiring waktu kemudian terjadi proses sedimentasi, mengakibatkan luas wilayah situ semakin menyempit.

Dari bentuk bentang alamnya, menegaskan bahwa danau ini merupakan sisa dari kegiatan gunungapi di masa lalu. Sesuai dengan keterangan dari penelitian terdahulu, seperti yang diuraikan oleh seorang ahli kebumian Belanda. van Bemmelen menguraikan nya pada peta Geologische Kaart van Java (1934), menyebut tufkagel van den G. Dano. Diterjemahkan sebagai endapan tuff, dari hasil letusan G. Dano. Berupa material dari kegiatan aktivitas kegunungapian di masa lalu, yaitu letusan G. Dano.

Bila dibandingkan dengan peta lama kolonial Topographisch Bureau (Batavia) tahun 1904, lembar Tjipada. Luasnya diperkirakan sekitar 23 Ha. Dibatasi oleh tinggian Pasir Dano sebelah selatan, kemudian Kiarapayung dan Pasirmanggu sebelah utara. sebelah selatannya berbatasan dengan pemukiman sekitar Cileuleuy.

Bunker Komando Pasir Banteng dan Pasir Batukarut
Selanjutnya mengunjungi bangunan yang diduga sebagai sarana militer pada masa Kolonial Belanda. Berada di perbukitan, disebut Pasir Benteng. Pasir bermakna perbukitan, dan Banteng merujuk kepada nama mamalia besar. Namun pada keterangan peta daring google, penamaanya menjadi Pasir Benteng. Sesuai dengan penemuan benteng militer. Berupa struktur bangunan yang kini nyaris tidak dikenali lagi.

Sebagain besar struktur bagunannya telah hilang, akibat kegiatan tambang warga sekitar Pasir Malang, Cipada. Hanya menyisakan segmen bagian struktur pondasi, sedangkan bagian fasadnya telah hilang sama sekali. Dari berita daring yang ditulis di Harian Umum Pikiran Rakyat, 20 November 2008. Ditulis oleh Ridwan Hutagalung. Menerangkan bahwa bunker tersebut pernah dihuni oleh pasangan suami istri, Saifullah dan Tati tahun 1982. Digambarkan bunker tersebut memiliki empat ruang yang berjajar dan saling terhubung. Masing-masing ruangan dilengkapi dengan pintu yang menghadap ke arah barat. Menurut keterangan Saifullah, ditemukan tulisan 1913 sebagai tanda tahun pembangunan.

Keberadaan bunker tersebut sangat strategis,dibangun di puncak puncak Pasir Banteng. Kemudian bagian atasnya disamarkan, dengan cara menimbun dengan tanah. Sehingga dari kejauhan, tidak terlihat seperti struktur bangunan. Dari beberapa informasi, bunker memiliki menara pengamat. Dengan demikian mencirikan sebagai pusat komando pengamatan, dilengkapi sistem komunikasi radio. Dengan tujuan memberikan koordinasi, posisi dan pergerakan musuh.

Bunker lainya dibangun di barat daya. Berada di Pasir Batukarut. Saat ini dikenal dengan sebutan benteng Tangkil, sesuai dengan nama wilayah tersebut. Penyebutan benteng dan bunker merupakan dua perihal yang berbeda. Keberadaan sistem pertahanan benteng, telah lama ditinggalkan. Sejak dikembangkannya serangan melalui udara, sehingga sistem pertahanan benteng sangat mudah dihancurkan melalui udara. Pengembangan pasca perang dunia ke-1, dikenal sistem pertahanan yang lebih strategis. Berupa sistem pertahanan, dan pengamatan. Biasanya dilengkapi dengan senjata meriam antar gunung.

Dengan demikian, keberadaan struktur militer di puncak Pasir Batukarut merupakan bunker. Tersembunyi dan disamarkan dengan dibangun di bawah tanah. Digunakan sebagai pengamatan dan mitigasi dalam perang modern menjelang perang dunia ke-2.

Bunker Tangkil berada di puncak perbukitan, berupa empat struktur bentuk persegi panjang. Dibangun menggunakan bahan beton tebal, sekitar 40 cm. Di bagian atapnya menggunakan beton lebih tebal, sekitar 60 cm. upaya penguatan struktur dari serangan udara.

Fungsi bunker tersebut, mengamati celah sempit Nyalindung di sebelah barat. Merupakan jalur lintasan kendaraan dan kereta api, menghubungkan antara Purwakarta ke Padalarang dan Depo militer di Cimahi. Waktu pembangunannya, seiring dengan rencana pemindahan Batavia ke Bandung. Direncanakan sejak awal abad ke-20, melalui kehendak Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum (1916-1921).

Terowongan yang Menembus Pasir Kopi
Dari bunker Tangkil, didapati jalan menurun hingga menyeberangi jalur kereta api. Tepatnya di jembatan kereta api Cikubang. Jembatan kereta api yang dibangun, untuk menghubungkan Batavia ke Bandung, memalui Karawang-Purwakarta dan Padalarang. Mulai dibangun oleh perusahaan negara Staatsspoorwegen (SS), setidaknya sejak 1902. Seiring dengan pembobokan terowongan Pasir Kopi, Sasaksaat.

Jembatan tersebut merupakan hasil teknologi teknik tercanggih saat itu. Menggunakan sistem jembatan truss, dengan menggunakan struktur pilar penyangga sebanyak 11 pilar baja. Material yang digunakan didatangkan langsung melalui Eropa, dari pelabuhan Tanjung Priok ke Pelabuhan Cilacap. Konsep konstruksinya merupakan jembatan berdinding, dengan memanfaatkan rasuk utama sebagai penyangga beban-diperkuat dengan baja melintang.

Pada tahun 1950-an, di bawah pengelolaan Djawatan Kereta Api (DKA) dilakukan penguatan struktur. Tujuan peningkatan kapasitas beban, dan pergantian material yang telah lapuk.

Di sekitar Sumur Bandung didapati terowongan, menembus batuan gunungapi yang keras. Dibangun untuk menghubungkan Purwakarta ke Padalarang. Melalui segmen halte Sasaksaat. Ke arah utaranya Halte Maswati, Kananasari, Cikalongwetan. Dibangun dalam waktu satu tahun, antara 1902 hingga 1903 dengan teknologi penggalian manual.

Batuan penyusunya adalah batuan gunugapi tua, berupa breksi, lahar dan lava (Sudjatmiko, 1972, 2003). Dengan demikian memiliki kerentanan yang ditinggi, karena menembus akiter (batuan pembawa air). Dilaporkan beberapa kali mengalami longsor, sehingga diperlukan rekayasa teknik agar pembangunan terowongan saat itu aman.

Jalur ini menjadi penting, karena memangkas waktu tempuh dari Batavia (Jakarta) ke Bandung. Disebut lingkar timur yang mampu ditembus waktu hingga 2 jam perjalanan. Berikut video tentang Terowongan Sasaksaat https://www.youtube.com/watch?v=xqvxG4CrrJ0

Bunker Pasirbanteng, Cipada.
Blok struktur bunker, dijarah oleh warga untuk diambil bagian beton dan besi.
Bunker Pasir Batukarut
Rekayasa teknik jembatan metode Truss (besi baja)

Catatan Geourban#42 Nagreg

Ramalan cuaca tadi malam menyebutkan, besok pagi sedikit berawan. Kemudian jelang sore berkemungkinan turun hujan tipis. Demikian prakiraan kondisi cuaca tanggal 14 Agustus 2025. Rupanya alam memberikan keputusan yang berbeda. Jelang pagi langit berselimutkan awan tebal, sesekali angin bertiup dari arah barat. Awan mendung menggelayut, menandakan hujan sebentar lagi turun.

Waktu menunjukan pukul tujuh pagi, kendaraan diarahkan menembus padatnya lalu lintas Cileunyi. Untung saja waktu pergantian (shift) karyawan pabrik sudah lewat, sehingga jalan kembali normal. Sepanjang Rancaekek dibatasi oleh bangunan pabrik tekstil dan rumah warga. Sebagian besar posisi rumah berada di bawah jalan, menandakan kawasan ini terjadi penurunan muka tanah. Terjadi akibat pengambilan air berlebihan, sehingga terjadi cekungan. Seiring waktu jalan ditambah, penebalan beton. Sehingga rumah warga tampak tenggelam oleh oleh jalan yang membentang barat ke timur.

Di Parakanmuncang, berbelok ke arah utara. Menembus pasar Parakanmuncang, hingga tiba di Pusaka Farm. Dalam waktu satu jam lebih, menembus tiga wilayah, Kota Bandung, kemudian Kabupaten Bandung, dan terakhir di Parakanmuncang, masuk ke wilayah Kabupaten Sumedang.

Titik awal penelusuran kegiatan Geourban ke-42 ini, dimulai dari Pusaka Farm. Pengelolaan ternak kambing milik kang Rizky. Dari Parakanmuncang, diarahkan ke timur. Selepas Rancaekek, kemudian memasuki daerah Nagrog. Jalanannya menanjak, menandakan memasuki segmen Cicalengka-Nagreg. Berupa daerah tinggi yang diapit oleh beberapa gunungapi purba dan perbukitan. Sebelah utaranya adalah kelompok G. Kareumbi-Kerenceng, kemudian di sebelah selatannya dibatasi oleh kelompok G. Mandalawangi.

Sekitar Nagrok jalanan menanjak, menandakan perbedaan elevasi. Perbedaan ketinggiannya kurang lebih sekitar 160 meter bila dihitung dari Rancaekek ke Cicalengka. Tinggian tersebut membentuk cekungan yang diapit oleh perbukitan landai, disebut cekungan Cicalengka-Nagreg. Bila dilanjutkan ke arah timur, topografinya landai menunjukkan batas cekungan Nagreg. Dikenal dengan tanjakan Nagreg, berakhir dipercabangan menuju Garut dan Tasikmalaya.

Cicalengka merupakan batas timur Danau Bandung Purba. Ke arah timurnya dipagari perbukitan dan gunungapi purba. Batas antara Cekungan Bandung bagian timur dengan Cekungan sub cekungan Leles, Garut. Berjajar perbukitan runcing, G. Durung, Pasir Citiis, G. Kendang, G. Batu dan G. Sangiangajung. Komplek gunungapi purba, menjadi pagar alam Cekungan Bandung bagian timur dengan Sub Cekungan Leles-Garut.

Di Hadapannya (timur), merupakan cekungan yang kini ditempati sawah. Diperkirakan merupakan sisa dari sub danau yang terbentuk sebelum Danau Bandung Purba. Seperti yang dikemukakan oleh Budi Brahmantyo dkk., (2001). Menduga terbentuk cekungan kecil yang terangkat. Buktinya adalah adanya endapan danau (lakustrin), berlapis, disusun klastik gunungapi dan aluvial. Selain itu elevasi cekungan tersebut 850 meter dpl., seratus meter lebih di atas paras maksimal Danau Bandung Purba. Dalam pengukuran menggunakan bantuan google maps sekitar 800 hektar. Sebelah timurnya dibatasi jalan raya Nagreg dan G. Leutik. Kemudian di sebelah baratnya, berbatasan dengan Citaman. Kemudian sebelah utaranya sekitar sawah di Desa Kendan. Bukti endapan danau (lakustrin), berupa lapisan lempung dan paleosol belum bisa dipastikan. Mengingat kondisi lingkungan saat ini sudah berubah menjadi areal sawah.

Di sekitar Nyalindung Nagreg, tidak ditemui. Karena sebagian besar sungai yang membelah atau sejajar dengan jalan raya Nagreg disusun oleh breksi gunungapi. Dalam keterangan penelitian awal oleh tim Kelompok Riset Cekungan Badung, dalam jurnal Notes of the Geology of Uplifted Small Basin at Cicalengka-Nagreg Areas South of Bandung (2001), menunjukan bukti. Berupa endapan danau di G. Leutik, atau sekitar 40 meter dari persimpangan rel kereta api Nagreg ke arah selatan. Namun kondisinya saat ini telah menjadi kolam, sisa kegiatan tambang batu sejak awal tahun 2000-an.

Di Desa Kendan, dilaporkan terjadi gerakan tanah. Akibat struktur dan keadaan batuan penyusunnya belum terkonsolidasi dengan baik, dilaporkan terjadi gerakan tanah (longsor), di Nagreg dan sekitarnya. Terakhir terjadi pada 19 Mei 2025, di Kampung Gunung Batu, Nagreg. Menyebabkan kerusakan material/bangunan dan korban manusia.

Ke arah timurnya, terlihat morfologi kubah lava (lava dome), Sangianganjung-Kendan. Didapati batuan amorf (obsidian). Bersisipan dengan batuan yang telah lapuk terkena hidrothemal. Sebarannya melimpah di TPU Legok Nangka, di dinding perbukitan yang dikupas untuk pembangunan tempat sampah metode open dumping. Dalam kajian arkeologi, didapat beberapa situs dan tinggalan budaya obsidian megalitik hingga Sunda Klasik.

Hasil letusan gunungapi memberikan berkah, menjadikan tanahnya subur. Sehingga pasca undang-undang agraria 1870, mendorong pertumbuhan perkebunan swasta di kawasan ini. Diantaranya perkebunan dan produksi minyak sereh 1901-an. Struktur bangunan pabrik dan cerobong asapnya masih bisa disaksikan saat ini.

Dari peta lama, memberikan keterangan bahwa sekitar Nagreg hingga Balubur Limbangan bagian utara ditempati oleh perkebunan. Tanaman yang diusahakan adalah sereh, untuk diambil minyaknya. Ditandai dengan sisa bangunan pabrik pengolah minyak sereh di sekitar Nyalindung, Nagreg. Berupa sisa struktur bangunan, ditandai dengan masih berdirinya cerobong asap penyulingan minyak. Tingginya sekitar 15 meter, struktur cerobong disusun oleh batu bata merah. Menurut keterangan warga, sudah beroperasi sejak masa kolonial. Diperkirakan sekitar tahun 1920-an, kemudian selepas kemerdekaan diambil alih oleh pengusaha lokal. Beberapa keterangan menyebutkan nama M. Arsyad. Dari keterangan ibu Aisyah (68 tahun), pabrik ini ditutup karena harga minyak sereh turun. Seiring dengan biaya produksi dan ketersediaan bahan baku berkurang. Sehinga akhir tahun tujuh puluhan ditutup. Kondisi saat ini hanya menyisakan cerobong, kemudian di sebelah utaranya masih bisa dilihat beberapa bekas struktur pondasi bangunan. Kemudian ubin yang diperkirakan masih asli, berukuran sekitar 20 x 20 centimeter. Kemudian pondasinya disusun oleh batu bata merah. Dibagian samping struktur pondasi, terlihat bak-bak penampungan air. Diperkirakan pernah digunakan sebagai pembersihan dan pencucian batang sereh. Bak tersebut menampung air yang datang dari arah utara, kemudian outletnya ke sungai yang berada di sebelah selatan pabrik. Minyak sereh yang diusahakan adalah minyak atsiri, hasil dari ekstrak tanaman serai/ sereh (cymbopogon), dengan metode destilasi uap.

Tujuan selanjutnya ke Statsiun Nagreg. Pada papan nama statsiun, dituliskan elevasi +848 meter dpl. Dengan demikian merupakan titik statsiun tertinggi diantara Statsiun Cicaengka (+689 m), dan sebelah timurnya Statsiun Lebakjero (+818 m).

Perbedaan elevasi (elevation gain), antara Cicalengka dan Nagreg, sekitar 164 meter. terlihat dari posisi rel, dari arah barat kemudian sedikit naik secara bertahap ke arah timur. Titik tertingginya sekitar Pasir Karamat, sekitar +860 meter, kemudian melandai ke arah Lebak Jero. Perbedaan antara Stasiun Nagreg dan Stasiun Lebakjero lebih rendah sekitar 30 meter.

Perbedaan ketinggian ini menjadi tantangan dalam pembuatan jalur lintasan kereta api dari Cicalengka ke arah timur. Pada saat pembangunan jalur timur Bandung, Cicalengka merupakan stasiun terminus. Merupakan stasiun paling ujung timur yang memisahkan Bandung dan bagian timur. Stasiun ini diresmikan 10 September 1884, satu zaman dengan peresmian Stasiun Bandung. Pembangunan lanjutan lintasan ke arah timur, dilakukan segera. Mengingat dibutuhkannya akses menuju timur, melalui Nagreg. Jalur kereta api kemudian dikerjakan pada 1887. Pembukaan jalur Nagreg ke Lebak Jero, secara teknis sulit karena harus membobok Pasir Karamat. Disusun oleh lava masih dan tebal, dikerjakan secara manual. Menggunakan linggis, pahat dan alat sederhana lainya. Dicirikan dengan jejak penggunaan linggis, pada dinding tebing. Pembukaan jalur berupa celah yang dibobok, dengan tinggi sekitar 5-7 meter. Kemudian pada 1889 Stasiun Cicalengka menjadi lintasan dari Bandung ke Garut. Kemudian 1893, dilalui jurusan Bandung-Tasikmalaya.

Di Bagian puncak Pasir Karamat, didapati bunker. Berupa struktur bangunan dengan berbagai ukuran. Terdapat empat struktur bangunan, berjajar utara-selatan. Dibuat dari beton, dengan tebal hampir 90 cm., tanpa tulangan besi. Bentuknya seperti kubah memanjang, dilengkapi pintu dengan lebar 100 cm. terbuat dari besi. Keberadaan daun pintu sudah hilang, meninggalkan bekas engsel yang dibongkar paksa. Diperkirakan bunker ini merupakan sistem pertahanan militer, di sebelah timur Bandung. Memanfaatkan tinggian, sebagai titik strategis untuk mengamati pergerakan serangan dari arah timur. Melalui celah sempit yang diapit oleh Pasir Ciwulung sebelah utara, dan Pasir Karamat-Citiis di sebelah selatannya.

Di puncak Pasir Karamat ini, pemandangan luas membentang. Ke arah timurnya dibatasi oleh lembah Pasir Citiis. Dilintasi oleh jalur kereta api sepanjang kurang lebih 200 meter. menghubungkan Nagreg ke Lebakjero.

Sebelah utaranya terlihat kerucut, berlomba-lomba menghiasi kompleks gunungapi purba Kenda. Sistem gunungapi yang ditempat oleh kubah lava, dibatasi Nagreg sebelah barat, dan Simpenan sebelah baratnya. Diduga merupakan pusat letusan gunungapi Kendan-Sangianganjung.

Cerobong asap, peningalan pabrik pengolahan sereh di Nagreg.
Tapak linggis, pembobokan Pasir Karamat. Jalur keretaapi Nagreg-Lebakjero.
Bagian interior bunker Pasir Karamat
Struktur bunker, dengan latar G. Kaledong.

Catatan Geourban#41 Spoorwegen Majalaya

Sejak subuh udara terasa lembab, menandakan cuaca yang bisa saja hujan. Selepas matahari terbit, jalanan mash lenggang. Mengingat saat kegiatan dilaksanakan, jatuh pada hari minggu, 9 Agustus 2025. Namun bagi warga Dayeuhkolot, tidak ada hari libur, sehingga arus lalu lintas ke arah kota masih saja padat.

Warga memanfaatkan jalan utama, melalui jembatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Namun sejak seminggu, jembatan tersebut kembali ditutup. Dengan demikian, arus lalu lintas diatur menjadi satu arah. Lima orang petugas dari kepolisian berjaga di muka jembatan, memastikan agar tidak ada warga yang nakal menerobos, mengingat jembatan ini sangat penting. Menghubungkan perumahan warga di selatan Dayeuhkolot, menuju pusat kota Bandung.

Lokasi inilah menjadi titik pertemuan bagi peserta Geourban ke-41. Diantaranya hadir konten kreator, pemandu wisatabumi (geowisata), dan pegiat wisata heritage. Sesuai dengan ciri khas kegiatan Geourban, semua peserta mengendarai roda dua. Moda transportasi tersebut dianggap ekonomis, dimiliki semua orang dan yang terpenting adalah daya jelajahnya lebih luas. Mengingat kegiatan penelusuran jalur kereta api Bandung selatan, melalui jalan dan gang sempit warga di Dayeuhkolot, Ciparay hingga Majalaya.

Kegiatan diawali menyusuri kembali jembatan yang melintasi Ci Tarum. Jembatan Dayeuhkolot menghubungkan Citeureup ke Baleendah sebelah selatannya. Saat kegiatan Geourban ke-41, sedang dalam perbaikan. Akibat sedimentasi tinggi sekitar Dayeuhkolot, mengakibatkan sering terlanda bajir tahunan. Tingginya antara satu hingga dua meter lebih, menenggelamkan rumah-rumah warga sepanjang bantaran sungai. Kondisi demikian bisa terjadi akibat disumbang oleh dua sungai, dari arah selatan mengalir Ci Sangkuy yang hulunya di G. Malabar. Kemudian Ci Kapundung, dari lereng G. Bukittunggul Bandung utara. Kedua sungai tersebut bermuara di sekitar Dayeukolot, sehingga menghimpun sedimentasi tinggi. Selain itu permasalahan sampah, dan perubahan penataan dihulu. Mengakibatkan banjir kiriman, bila hujan di hulu.

Kegiatan yang dibalut dalam kegiatan penelusuran sejarah perkeretaapian, menapaki kembali jalur lintasan. Jalur kereta api masa kolonial, menghubungkan Dayeuhkolot ke Majalaya, melalui Ciparay. Selain itu mengunjungi situs budaya, G. Munjul. Perbukitan intrusi, sektiar Munjul yang diperkirakan pernah menjadi sentra lintas budaya lama sejak megalitik.

Sebelah timur dari jembatan Dayeuhkolot, membentang jembatan kereta api. Panjangnya kurang lebih 55 meter, melintasi Ci Tarum. Tiang-tiang besi yang menyangga lintasan rel, terlihat kokoh membentang. Menyangga lebar rel, sekitar 1.13 mm. lebih sempit dibandingkan lebar jalur rel kereta modern (standard gauge). Seperti penggunaan jalur kereta api cepat di Indonesia, menggunakan lebar 1.435 mm.

Dalam peta lama kolonial Kaart van het Eiland Java (1855), peta yang disusun oleh naturalis Jerman. Menggambarkan posisi Bandong Toea, atau Dayeuhkolot saat ini. Dalam keterangan peta Indische spoorweg-politiek (1926), nama ibu kota kabupaten Bandung, dituliskan nama Bojongasih. Berada di dua pertemuan sungai. Tji Sangoei atau Ci Sangkuy datang dari arah selatan. Kemudian Tji Keboedoeng atau Ci Kapundung. Pertemuannya persis di Dayeuhkolot, sehingga titik ini menjadi sangat penting. Menghubungkan dataran tinggi yang didominasi perkebunan, dan pusat kota ekonomi di sebelah utara.

Sistem transportasi awal abad ke-19 sudah berkembang, didahului oleh modernisasi jalan regional. Daendels pada 1810 memperlebar jalan yang telah ada, menghubungkan pusat kota Batavia ke pedalaman priangan. Sehingga perkebunan yang berada diwilayah Preanger Regentschappen, bisa diakses melalui jalan raya. Sering perkembangan teknologi, pedati yang lambat, kemudian digantikan dengan moda transportasi massal. Paa 1884, kereta api memasuki kota Bandung. menghubungkan Cianjur, Bogor hingga Jakarta pada saat itu.

Perjalanan dimulai dari jembatan kereta api yang melintasi Ci Tarum. Berupa jembatan yang dibangun menggunakan struktur baja, ciri teknologi sipil pembangunan jembatan modern. Bila merujuk kepada foto lama kolonial tahun 1930-an, struktur bajanya berupa melengkung. Terdiri dari dua bagian penyangga, kemudian satu struktur melengkung utama. Bentuk demikian berbeda dengan struktur yang dikenal saat ini, berupa struktur baja yang membentuk sudut siku.

Membuka langkah menuju mulut jembatan, berupa susunan baja tebal. Jalur rel kereta selebar 1,130 mm, kini telah dialasi beton. Dari jembatan kereta api Dayeuhkolot, jalur lintasan kereta api bercabang. Satu jalur lintasan ke arah selatan menuju Banjaran. Menghubungkan Dayeuhkolot ke Soreang, dibuka 13 Februari 1921. Kemudian dilanjutkan ke dataran tinggi Ciwidey dan beroperasi penuh 17 Juni 1924. Jalur ini termasuk menguras kas perusahaan negara kolonial saat itu, akibat melintasi beberapa sungai. Sehingga memerlukan pembangunan jembatan panjang.

Jalur Dayeuhkolot ke Majalaya, secara penuh beroperasi sejak 3 Maret 1922. Jalur kereta api menuju Majalaya digunakan untuk jasa pengangkutan hasil perkebunan dan tekstil dari Bandung selatan. Panjang lintasan, kurang lebih 17 km. Memanjang dari barat ke timur, sejajar dengan jalann utama dan aliran Ci Tarum. Melewati tujuh halte, dari Dayeuhkolot ke Cilelea, Manggahang, Jelekong, Ciheulang, Paeureusan, Ciparay, Cibungur kemudian berakhir di Majalaya.

Beberapa halte berhasil dikunjungi, berdasarkan dari informasi hasil penelusuran sebelumnya. Kemudian pada saat kunjungan lapangan dikonfirmasi ulang, melalui wawancara dengan warga yang telah berusia di atas 60 tahun. Mengingat jalur lintasan rel kereta api ke Majalaya telah hilang, akibat dibongkar pada pendudukan Jepang tahun 1942 hingga 1945. Pembongkaran batang rel kereta api, dikerjakan oleh para interniran dan penduduk bumi putra. Para tawanan asing warga Eropa dan Amerika yang telah menetap di kota Bandung pada masa kolonial. Dikerjakan di bawah kondisi kerja paksa, sehingga dilaporkan beberapa orang meninggal dunia akibat kelaparan, kekurangan ketersediaan air bersih hingga penyakit. Kesaksian kekejaman tentara Jepang, dilukiskan dalam buku Onder De Japanse Knoet (1945). Buku yang berisi kesaksian, penyiksaan dan kerja paksa bagi tawanan perang di Bandung dan sekitarnya.

Saat ini lintasan kereta api hanya dicirikan, berupa jalan sempit yang diapit oleh rumah warga. Dalam penelusuran kembali, batang rel maupun bantalan kayu telah tidak ditemukan. Mengingat semuanya dibongkar dan diangkut, untuk pembuatan jalur kereta api di Saketi, Bayah. Bukti jalur lintasan hanya bisa disaksikan dari kesaksian warga yang sudah berusia manula. Berdasarkan ingatan mereka, hanya mampu menunjukan halte atau pemberhentian kereta api. Selebihnya berupa bukti fisik, seperti bantalan rel kereta api (railbed), sisa pondasi jembatan, tanggul dan kelurusan jalur sempit.

Sebagai alat bantu panduan jalur, PT. KAI telah melakukan survey ulang. Ditandai dengan pemasangan patok KAI di sepanjang jalur. Berupa patok yang dibuat dari beton, dengan ukuran sekitar satu meter. Ditanam berpasangan, menandakan lebar jalur lintasan. Keberadaan patok tersebut, memudahkan penelusuran kembali jalur kereta api Dayeuhkolot ke Majalaya.

Selain patok modern milik PT KAI, dibeberapa tempat ditemui patok awal yang dipasang oleh Staatsspoorwegen disingkat SS. Sesuai dengan tanda inisial perusahaan perkeretaapian negara, pada masa kolonial Belanda.

Beberapa halte atau pemberhentian kereta api jalur Dayeuhkolot ke Majalaya, berjumlah 7 pemberhentian, termasuk halte Ciparay. Beberapa halte lainnya sudah tidak memberikan bentuk struktur bangunan, karena sudah beralih fungsi. Terhitung sudah melampaui waktu 82 tahun, terhitung sejak pembongkaran pada 1942-43. Sehingga bangunan halte sudah hilang, akibat berganti menjadi rumah warga, maupun sarana fasilitas kolektif seperti sekolah dan aula.

Saat dikunjungi, halte Cileles, Manggahan, sudah tidak ada. Sedangkan halte Jelekong telah berubah fungsi menjadi Sekolah Dasar 2 Cangkring. Seorang warga menunjuk tempat lain, yaitu Puskesmas Jelekong. Perbedaan penentuan lokasi halte terjadi pada halte lainya, diantaranya Ciheulang, Paneureusan, dan Cibungur. Sedangkan halte Ciparay dan Majalaya masih bisa diduga posisinya.

Selain penelusuran lintasan kereta api, rombongan berkesempatan mengunjungi situs budaya di sekitar Manggahang, Baleendah. Berupa perbukitan intrusi, diduga pernah menjadi titik sakral pada masa Prasunda hingga Sundaklasik. Keberadaanya masih perlu kajian arkeologi, mengingat keberadaanya sangat strategis. Bila merujuk kepada peta lama Topographisch Bureau (1905), tingginya sekitar 685 meter dpl. Dalam peta tersebut memperlihatkan mender Ci Tarum menyentuh kaki bukit Munjul. Sedangkan ke arah utaranya adalah hamparan muras atau rawa. Membentang dari Ujung Berung, hingga Ciparay. Disebut Rancahalang yang bermakna rawa, masih mendominasi dataran rendah Bandung selatan. Bila disandingkan dengan google maps saat ini, posisi sungai telah bergeser sekitar 700 meter ke arah utara. Penyebabnya adalah karena penyodetan akhir tahun 80-an, dan sedimentasi tinggi.

Kegiatan ditutup di stasiun Majalaya. Walaupun struktur bangunannya telah hilang, namun ciri-cirinya masih bisa dikenali. Diantaranya masih didapati patok dengan inisial SS, dan bagunan tua. Diperkirakan merupakan rumah tinggal pejabat perkeretaapian Belanda pada saat itu. Penelusuran ini kembali jalur kereta api ini, memberikan gambaran upaya kolonial dalam merancang sistem moda transportasi massal. Memanfaatkan topografi, dan sumber daya alam yang tersedia. Mengingat pembangunan jalur kereta api jalur Dayeuhkolot-Majalaya memiliki peranan penting, sebagai penggerak ekonomi tekstil awal tahun 1930-an dan pengangkutan hasil perkebunan.

Sisa bantalan keretapi (railbed), di Sarimahi, Ciparay
Patok Staatsspoorwegen (SS) dipemakaman Cisoka, Majalaya
Bangunan gaya kolonial, di Statsiun Majalaya

Catatan Peluncuran Geourban Emagz dan Diskusi Wisata Alternatif

Telah dilaksanakan kegiatan peluncuran Geourban Emagazine, majalah popular yang merangkum informasi wisata bumi. Kemudian kegiatan lanjutkan dengan paparan dan diskusi seputar wisata alternatif. Dilaksanakan di ruang pertemuan, Sekretariat Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Jawa Barat.

Terletak di Jalan Tamblong Nomor 8 Bandung, pada tanggal 19 Mei 2025. Dihadiri oleh 50 orang, berasal dari beberapa latar belakang. Diantaranya dari asosiasi pemandu pariwisata, biro perjalanan wisata, akademisi, pegiat wisata, pengelola desa wisata, dinas pemerintahan daerah kota Bandung, pelaku pariwisata dan media. Berlangsung dari pukul 9.00 wib, hingga berakhir pkl. 13.00 wib.

Kegiatan dibuka oleh Deni Sugandi, selaku pihak penyelenggara acara. Menyampaikan latar belakang penerbitan majalah elektronik ini. Tujuannya adalah menghimpun data pariwisata yang berbasis wisata bumi. Disebut Geourban Emagazine, untuk penerbitan pertama Edisi 1 Nomor 1 Bulan Mei 2025. Di dalamnya memuat rubrik profile, objek wisata bumi, resensi buku, dan tulisan-tulisan tentang wisata bumi. ditulis oleh anggota dewan redaksi dan kontributor. Penulisannya menggunakan gaya bahasa populer. Penerbitan pertama ini merupakan rangkaian penerbitan seri edisi, direncanakan terbit tiga kali dalam satu tahun.

Materi berupa file, bisa diunduh di: https://pgwi.or.id/geourban-emagz/ Majalah ini diperuntukkan bagi praktisi pariwisata, pelaku hingga umum. Memperluas wawasan dan pengetahuan, khususnya tema-tema yang berkaitan dengan pengetahuan dan informasi wisata bumi. Kelahirannya digagas oleh Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Dewan Pengurus Nasional. Duduk sebagai Ketua Dewan Redaksi adalah Deni Sugandi. Kemudian Anggota Redaksi diantaranya; T Bachtiar, Malik Ar Rahiem, Diella Dachlan Gangan Jatnika, Jeani Jean, Andi Lala, Andrias Arifin, Ricky Nugraha. Nama-nama tersebut merupakan pegiat, pelaku hingga pelaku wisata khususnya wisata bumi.

Dalam sambutan acara ini, Daniel G. Nugraha selaku Ketua ASITA Jabar menyampaikan beberapa hal. Dalam sambutannya mengatakan pentingnya kolaborasi antara pemandu wisata dan operator usaha perjalanan wisata. Dalam pertemuan ini, Daniel berharap pertemuan ini adalah memperluas jejaring pelaku industri pariwisata. Dengan demikian akan timbul kesepahaman antara pemandu wisata, pengelola objek wisata dengan jaringan usaha perjalanan wisata yang bernaung di bawah ASITA.

Sambutan ke-dua disampaikan oleh Bintang Irawan. Sangat menyambut baik, perlunya jaringan kerjasama yang tidak hanya bersifat formal. Tetapi bisa juga dihadirkan dalam bentuk kunjungan lapangan. Dengan demikian para usaha perjalan wisata bisa melihat langsung produk yang akan dikemas dan dijual. Bintang adalah Ketua HPI DPC Kota Bandung, selalu mendorong anggotanya untuk bisa bersanding dan berdaya jual. Terutama dalam menghadapi industri pariwisata nasional yang semakin kompetitif. Dengan demikian diperlukan kualitas pemandu yang berdaya saing, profesional dan mampu merancang perjalanan wisata. Dengan demikian, Bintang berharap anggotanya memiliki kualitas.

Sambutan berikutnya ditutup oleh perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, diwakili oleh staf dinas. Menyatakan bahwa pemerintah siap mendukung pengembangan wisata di wilayah Kota Bandung.

Setelah pembukaan, dilanjutkan dengan pemaparan oleh tiga narasumber. Diawali oleh Budi T Assor, menyampaikan pengalamannya menyelenggarakan paket wisata alternatif. Disebut Desa Tour, tema wisata yang berbasis tentang aktivitas warga di desa. Budi menuturkan bahwa paket wisata seperti ini menjadi primadona pada awal tahun 90-an. Sebagai alternatif wisata bagi wisatawan overland (wisata antar kota di pulau Jawa). Ditawarkan kepada wisatawan inbound/asing, sebagai wisata opsional pada saat free progam di Bandung.

Desa Tour dikerjakan oleh Budi Assor, Harry Sukhartono dan Felix Feitsma. Ketiganya merupakan pemandu wisata overland (tour guide), aktif sejak akhir tahun 80-an hingga kini. Destinasinya sekitar Bandung selatan, seperti sekitar Soreang-Ciwidey, atau berkunjung ke padepokan seni Wayang Jelekong, Baleendah, Kabupaten Bandung. Muatan materi yang disampaikan dalam kegiatan pemanduan, seputar perilaku hingga adat masyarakat kampung. Budi menceritakan kemampuan Felix untuk menguraikan cerita, dari objek yang sederhana menjadi menarik. Durasi kunjungannya mulai dari setengah hari (pagi ke siang), hingga satu hari penuh.

Pemaparan ke-dua disampaikan oleh T Bachtiar. Pendiri komunitas Geotrek Matabumi, hadir sejak tahun 2010. Berawal dari kegiatan alumni Jurusan Pendidikan Geografi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), kemudian berkembang menjadi komunitas populer. Kegiatannya berbasis wisata bumi, berupa jalan-jalan dengan tema dan lokasi kunjungan tertentu.

Bachtiar memaparkan potensi wisata bumi di sekitar perbukitan karst Citatah. Selain bentang alamnya memikat, kawasan ini memiliki sejarah bumi. Membentang dari 25 juta tahun yang lalu, berupa endapan batuan sedimen. Disusun oleh batuan karbonat, dari pengendapan hewan dan tumbuhan laut pada saat sebagian besar pulau Jawa tenggelam di bawah permukaan laut. Diantaranya ditemui bukti berupa fosil hewan laut, tertanam di batuan karbonat. Ditemukan disekitar lokasi pemanjatan di tebing 125, berupa fosil dengan ukuran tidak lebih dari 15 cm. Disebut siput racun (Conus geographus), keberadaanya masih bisa ditemui pada saat ini. Melalui komunitasnya, Bachtiar sudah beberapa kali menyelenggarakan kegiatan geotrek sekitar Citatah. Terakhir menggunakan mobil jenis off-road, dengan tujuan mengenalkan wisata bumi yang dikolaborasikan dengan aktivitas petualangan.

Bachtiar menegaskan, objek wisata bumi tersebut perlu dibunyikan melalui kegiatan interpretasi. Sehingga mampu dijual dalam bentuk paket wisata bumi, berkualitas dan memberikan pengalaman kepada wisatawan. Dalam kesempatan berikutnya, Jenni Jean menyampaikan wisata alternatif Braga Bandros Mistery. Paket wisata seputar kawasan kota Bandung, dengan tema berkaitan dengan cerita tidak biasa. Mengungkap tentang urban legend, mitos yang beredar dimasyarakat hingga misteri kota. Paket wisata ini dilaksanakan pada malam hari, hingga tengah malam. Menurut pengelola, hingga kini jumlah antrian wisatawan selalu meningkat. Mengingat wisata alternatif ini belum pernah ada, sehingga selalu menarik perhatian.

Untuk mengupas kisah misterinya, dalam kegiatan wisata malam ini, didampingi interpreter spesial. Individu yang mampu membaca energi, kemudian direfleksikan melalui ekspresi tubuh. Jenni menjelaskan, perlu alat bantu elektronik, untuk mendeteksi hadirnya energi. Disebut EMF, memiliki indikator melalui lampu LED. Setiap warna yang muncul di EMF tersebut, memberikan informasi lonjakan energi yang hadir.

Selain itu digunakan pula alat bantu, berupa kamera yang mampu menangkap suhu atau temperatur. Disebut thermal imaging, berupa perangkat yang disambungkan ke kamera pintar. Melalui citra yang dihasilkannya, akan memperlihatkan warna bervariasi. Merah menandakan panas, dan sebaliknya warna gelap menandakan dingin.

Penyampaian ketiga narasumber tersebut, ditutup dengan diskusi. Beberapa partisipan menyampaikan pertanyaan, seputar materi yang telah disampaikan. Diantaranya adalah tentang pengembangan wisata alternatif tersebut. Dalam penutupan, Daniel mendorong anggota Asita Jabar untuk menangkap peluang ini. Karena para pengusaha perjalanan wisata memiliki jaringan nasional, hingga luar negeri. Dengan demikian memiliki pasar yang perlu yang luas, dengan memanfaatkan potensi lokal. Dikemas dalam bentuk wisata yang layak jual.

Dengan demikian forum ini diharapkan menjadi sarana silaturahmi, jembatan yang menghubungkan biro perjalanan wisata dengan profesi pemandu wisata. Diharapkan mampu mendorong kunjungan wisatawan inbound maupun domestik.

Catatan Geourban#35 Cibugel

Masih dalam suasana musim hujan, peserta menembus jalan desa. Berpayung semangat untuk menangkis hujan, dengan tujuan menapaki kembali sejarah bumi di Sumedang Selatan.

Dikegiatan ke-35, mengunjungi jembatan gantung yang melintasi dua desa di Sumedang Selatan. Disebut jembantan gantung Panyindangan, menghubungkan Desa Baginda disebelah barat, dengan Desa Gunasari dibagian timur. Jembatan tersebut dibangun oleh anggaran Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), pada tahun 2018. Menggantikan jembatan rintisan yang dibut oleh tim Vertical Rescue Indonesia, tahun 2017. Jenis jembatannya menggunakan teknologi Jembantan Gantung untu Pedesaan Asimeteris (Judesa). Menggunakran struktur kabel baja, dan tiang pancang sebagai struktur utamanya.

Panjang jembatan sekitar 120 meter, membentang barat ke timur di atas Ci Honje. Dengan lebar 1.65 meter, sehingga hanya bisa dilalui pejalan kaki dan roda dua. Bermanfaat sebagai penghubung dua desa, menggerakan ekonomi lokal. Dibangun di dataran rendah yang ditempati sawah, kemudian dipotong Ci Honje. Sungai yang berhulu di G. Calangcang. Sistem gunungapi purba, diperbatasan Sumedang dan Garut.

Aliran sungainya bertemu dengan Ci Peles, di Situraja kemudian bergabung dengan Ci Manuk. Disekitar Gunasari, dikatergorikan ordo sungai muda, dicirikan dengan arus sungai deras. Mengendapkan bahan sedimen yang diangkut dari hulu, diantaranya bongkah batuan hingga pasir. Sedimen dari hulu yang dibawa arus sungai, kemudian membentuk dataran-dataran aluvial yang luas. Dataran banjir tersebut ditempati oleh sawah yang memerlukan pengairan.

Lokasi berikutnya adalah lembah Citengah. Lembah yang diapit dua perbukitan, kemudian dipotong oleh Ci Tengah. Sungai yang berhulu di Cimanggung. Lereng G. Calangcang-Pasirhonje. Pada 4 Mei 2022 dilanda banjir bandang, meluap hingga menerjang rumah dan sarana warga di Citengah, Gunasari.

Dipicu oleh curah hujan tinggi, kemudian kemampuan penyerapan air yang berkurang. Terjadi akibat perubahan tata guna lahan di hulu, sehingga limpasan air (run off) mengalir semuanya ke Ci tengah dan Ci Tundun (sebelah barat). Dua sungai tersebut bergabung dengan Ci Honje, kemudian dialirkan ke utara.

Luapan air tersebut bukan saja terjadi satu kali, namun pernah dilaporkan sebelumnya. Walaupun dalam skala kecil, menandakan pengelolaan sungai dihulu terganggu. Seperti halnya diutarakan oleh Walhi Jawa Barat, bahwa banjir terjadi akibat perubahan penggunaan lahan di hulu.

Bagian hulunya adalah wilayah perkebunan teh Margawindu-Cisoka. Dalam penelusuran dikegiatan ini, mengunjungi tinggian Cisoka. Saat ini ditempati oleh lokasi wisata, tumbuh menjamur di atas lahan bekas perkebunan teh Margawindo. Penggunaan lahan tersebut saat ini masih dalam status abu-abu, karena selepas penguasaan masa kolonial dinasionalisasi. Kemudian disewakan kepada swasta, melalui Hak Guna Usaha.

Sebelum mendekati Cisoka, didapati air terjun Cigorobog, Citengah. Berupa air terjun bertingkat, mengalir dibatuan breksi gunungapi. Mengalir dari hulu G. Munjul dan G. Bedil. Air terjun bertingkat empat, terbentuk hasil erosi sungai. Akibat batuan yang lebih resisten, membentuk ceruk berupa air terjun bertanga. Aliran sungainya kemudian mengalir ke arah selatan, menuju Ci Honje.

Melintasi puncak pass Cisoka, jalanan menurun ke arah utara. Jalannya telah diaspal, hingga menjadi alternatif menuju Garut melalui Cibugel. Di desa yang masih menjadi wilayah Sumedang, berbatasn denga Garut. Sehingga kawasan ini menjadi jalur penghubung pergerakan pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indones (DI/TII). Terjadi pada kurun waktu antara tahun 1950-an hingga tertangkapnya Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo di G. Beber-Rakutak.

Serangan terjadi DI/TII pada 23 November 1959. Berupa aksi pembantaian yang terjadi di Desa Cibugel, mengakibatkan 120 orang tewas. Pada masa tersebut, desa ini menjadi basis pertahanan pro republik. Penolakan warganya terhadap kehadiran DI/TII. Sehingga pasukan bentukan SM Kartosuwiryo, mengkategorikan Cibugel sebagai desa Darul Harbi atau kawasan musuh. Pembantaian terjadi jelang tengah malam, melalui pengepungan. Dalam kondisi tidak menentu, sebagian bersar warga bersembunti di Legok Cibiru atau sekitar 100 meter dari kantor desa. Dilokasi inilah pasukan DI/TII melakukan pembunuhan masal, mengakibatkan tewasnya ratusan rakyat.

Pasca peristiwa tersebut, sebagian besar warganya mengungsi ke daerah lain di Sumedang. Kemudian kembali ke Cibugel, setelah ditangkapnya SM Kartosuwiryo pada 1962. Kunjungan ke Cibugel, menutup perjalan Geourban ke-35.

Puncak perkebunan teh Margawindu.
Air terjun Gorobog, hulu Ci Honje.
Kabut menyergap puncak Cisoka.
Penanda makam korban pembantaian DI/TII di Cibugel