Catatan Geourban#49 Ganeas

Kembali menelusuri sejarah bumi dan budaya, kegiatan Geourban ke-49 jatuh dihari minggu. Tanggal 12 Oktober 2025, diikuti para pegiat wisata, professional hingga kreator konten.

Kegiatan jatuh pada hari minggu. menyebabkan jalan lenggang karena jatuh di hari libur. Sebagian warga lebih baik tinggal di rumah, memanfaatkan hari libur. Perjalanan dimulai dari Cileunyi, menyusuri jalan provinsi yang menghubungkan Bandung ke Sumedang. Jalan utama yang dahulu dibangun atas keinginan Gubernur Jenderal, saat Kekaisaran Perancis menang perang di Eropa abad ke-19 awal. Sehingga pulau jawa merupakan pampasan perang, dari kekuasaan Kerajaan Belanda.

Sebagai penguasa negeri jajahan, Daendels membutuhkan dana besar. Tujuannya adalah untuk mengisi kekosongan kas negara, sekaligus diperlukan ketahanan militer pada saat itu. Kemudian pada 1809 hingga 1810, dibuatlah pelaksanaan pembangunan jalan. Dengan cara melebarkan jalan penghubung antar kerajaan abad ke-16, dari barat ke timur.

Diperlukan waktu dua tahun lebih, untuk mempertemukan Jawa bagian barat dan bagian paling ujung timur. Kurang lebih seribu kilometer, diantaranya adalah sebagian jalan yang dilintasi pada kegiatan Geourban.

Bukit Jarian, Hantu yang Cantik
Matahari baru saja timbul di atas puncak G. Geulis. Gununggapi soliter yang menjadi benteng alam, membatasi Cekungan Bandung segmen timur. Tingginya semampai, ketinggian puncaknya 1282 meter di atas muka laut. Namun menjadi penghalang alam, antara batas timur Bandung dan Sumedang bagian barat.

Selepas kampus Unpad sekitar Cikeruh, jalanan mulai berkelok mengikuti kontur perbukitan. Sebelah kanannya adalah G. Iwir Iwir, ditafsir sebagai Gunung Geulis Tua. Tulisan tentang G. Geulis bisa dibaca di sini: https://blog.denisugandi.com/jarian-berwajah-geulis/

Bagian barat dari lereng gunung tersebut, saat ini sudah beralih fungsi menjadi pemukiman warga. Dikelola oleh perusahaan pengembang, memanfaatkan lahan kosong hasil kegiatan tambang batu di masa lalu. Materialnya diangkut, untuk menimbun pembangunan Tol Cileunyi. Perumahan tersebut menempati sebagian besar di sisi sebelah barat, dan timur.

Sebagian besar lereng nya telah habis, untuk pembangunan jalan Tol Cileunyi. Diangkut sejak awal tahun 1990-an, menggunakan dump truk melewati jalan raya Jatinangor ke Cileunyi. Hingga jelang tahun 2018, sebagian besar lereng G. Geulis telah habis diangkut. Menyisakan ceruk-ceruk yang dalam, tanpa adanya kegiatan reklamasi.

Kegiatan tambang tersebut harus dihentikan sejak 2019, mengingat bahaya yang ditimbulkan secara langsung. Dilaporkan beberapa kali terjadi gerakan tanah, hingga yang terbesar terjadi pada 9 Januari 2021. Lokasi longsor, terjadi di sebelah selatan G. Geulis di Cihanjuang, Cimanggung, Sumedang. Berupa longsoran dinding tegak, setinggi 20 meter. Menewaskan 40 orang, dan menimbun puluhan rumah.

Kondisi demikian menandakan saat ini sebagian besar lereng G. Geulis, disulap menjadi kawasan pemukiman. Terjadi akibat dampak perkembangan kawasan industri sekitar Rancaekek. Sehingga diperlukan hunian bagi para pekerja yang sebagian besar datang dari luar kota.

Pohon Kopi Umur Satu Abad
Persis diseberang jalan penghubung exit Tol Pamulihan, Tanjungsari. Terdapat Sekolah Menengah Kejuruan PPN Tanjungsari, di Gunungmanik, Sumedang. merupakan sekolah pertanian rakyat yang telah ada sejak masa kolonial. Disebut Landbouw Bedrijft School Tandjoensari (Tanjungsari), pada 1915-1918. Panorama bangunna lama sekolah pertanian bisa diihat di sini: https://kuula.co/share/h3Kb1?logo=1&info=1&fs=1&vr=0&sd=1&thumbs=1

Ditujukan untuk mencetak para ahli pertanian pada masa itu. Didirikan 1914, melalui perintisan oleh Bupati Sumedang Pangeran Aria Soeriaatmadja (1915-1921). Mewakafkan tanah di daerah Bojongseungit, saat ini menjadi bagian dari SMK SPMA dan Unwim. Di kawasan lahan sekolah pertanian ini, didapati pohon kopi jenis ekselsa. Merupakan varietas dari kopi liberika (Coffea liberica), dicirikan dengan ukuran daun lebih besar dari jenis Robusta dan Arabika.

Ditanam seiring lahirnya sekolah pertanian (1914?), melalui keinginan Pangeran Sumedang. sehingga bila ditarik pada tahun ini, sudah berumur 111 tahun. Jumlah pohon kopi yang masih hidup, tinggal lima pohon. Dari tujuh, kemudian mati akibat rayap dan kekeringan. Tinggi pohonnya sekitar 4-7 meter, dengan ukuran batang pohon antara 80 cm hingga 120 cm. Tumbuh di atas ketinggian sekitar 750 meter dpl. menghasilkan 1,2 ton ceri kopi untuk per satu hektar lahan perkebunan.

Ekselsa termasuk varietas yang tahan hama, mengingat jenis lainnya rentan terhadap jamur. Sehingga pihak kolonial mendatangkan khusus dari Chad Afrika, disebar di sekitar Tanjung Jabung Barat Jambi, dan Kepulauan Riau. Kemudian ditanam di kawasan priangan, khususnya di Tanjungsari Sumedang.

Perkebunan Swasta di Lereng Kareumbi
Dari Tanjungsari, kemudian dilanjutkan ke arah Sumedang. Disekitar Cigendel, diarahkan berbelok ke arah barat menuju Cimarias. Setelah melewati jembatan tua yang menyeberangi Ci Peles. Struktur bangun jembatan dengan menggunakan teknik truss, sistem baja lengkung. Menjadi ciri pembangunan jembatan yang dibangun Kolonial Belanda tahun 1932. Selepas jembatan jalanan menanjak mengikuti lereng perbukitan. Sedikit demi sedikit menapaki ketinggian, hingga tiba di titik tinggi. Dari lokasi ini terlihat jelas lereng miring ke arah utara, ditempati lembah dan perbukitan. Membentang dari timur ke barat. Topografia bergelombang landai, merupakan bagian dari G. Kareumbi. Bila merujuk kepada pembagian fasies gunung, merupakan fasies medial. Bagian tengah dari tubuh gunungapi yang pernah aktif di masa lalu, kemudian saat ini digolongkan ke dalam gunungapi kelas C. Pembagian klasifikasi gunungapi di Indonesia yang menandakan tidak ada informasi kegiatan kegunungapian. Baik setelah 1600 atau setelahnya, sehingga disebut gunungapi dorman.

Bukti letusannya hingga kini masih bisa disaksikan, berupa endapan piroklastik yang menempati sebagian besar Cimarias-Cinanggerang, di sebelah selatan jalan Cadas Pangeran, Kabupaten Sumedang.

Kondisi tanah yang subur, menjadikan sebagian besar wilayah Cinanggerang dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan. Diusahakan pertama kali melalui perkebunan teh, oleh partikelir partikelir.

Keberadaan Cinanggerang sebagai wilayah yang subur dan strategis, dituliskan dalam Natuurkundig tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, 1889. Menguraikan sebagai berikut. Wilayah bagian dari Kabupaten Sumedang yang terletak di lereng utara Gunung Kareumbi. puncak-puncaknya masih berhutan, mencapai 1.600 meter di atas permukaan laut, terletak sekitar satu kutub dari pengukur hujan. Ketinggian di atas permukaan laut: 925 meter. Di sebelah utara, di seberang perusahaan, dan hanya dipisahkan oleh jurang yang dalam dari Sungai Cipeles (Cipels), terletak pegunungan, pada jarak sekitar enam kutub, yang mana Manglajau adalah salah satu puncaknya. Hanya puncak-puncak pegunungan ini yang masih berhutan. Di sebelah timur dan barat, lingkungan sekitarnya dibentuk oleh punggung bukit dan jurang yang gundul, semuanya tertutup rapat dengan alang-alang dan spesies rumput lainnya. Di sebelah barat laut, pada jarak sekitar 50 kutub, terletak gunung Tempomas (Tampomas).

Dalam keterangan Encyclopedie van Nederlandsch-Indië, diterbitkan oleh Martinus Nijhoff 1939. Menyebutkan masuk ke dalam Distrik Tanjungsari, bagian dari Kabupaten Priangan. Bersanding dengan Distrik Rancakalong, dan Distrik Cikeruh dan 29 desa. Dilanjutkan dalam tulisan buku tersebut, disebut perkebunan Jatinangor, Cijeruk, Cinanggerang serta beberapa pabrik singkong dan sere (sereh). Sedangkan pada keterangan lainya yang lebih awal, laporan Particuliere Ondernemingen In Nederlandsch-Indië Op Gronden Door Het Gouvernement Afgestaan in Huur (Voor Landbouwdoeleinden) En Erfpacht (1914). Menyebutkan perceelen atau blok perkebunan komoditas teh, menempati wilayah (blok) Tjinanggerang en Tjiseda. Kepemilikannya ata ondernemers en erkende administrateurs, dikuasai oleh Kongsi Tan Djin Gie. Keterangan selanjutnya menyebutkan tanggal kepemilikan (datum van vestiging van het erfpachtsrecht) 18 Mei 1885.

Begitu juga keterangan publikasi jaringan perkebunan priangan, De bergcultures; officieel orgaan van het Algemeen Landbouw Syndicaat, jrg 11, 1937. Dimiliki oleh orang yang sama. Tan Djin Gie. Menghasilkan komoditas teh jenis Pecco Souchon, dan Souchon. Jenis teh hitam yang sangat diminati saat itu. Dicirikan dengan jenis daun teh yang agak tua, berwarna hitam. Rasanya lebih pahit dibandingkan dengan yang lainya.

Kemudian bila menelusuri kembali berdasarkan peta lama, lembar Nangorah (1886), menuliskan Thee etablissment Tjinanggerang. Kemudian pada peta yang sama, ke arah timur, didapati Thee onderneming Margapala en Tjihoehoet Tjikalapa.

Berdasarkan peta lama tersebut, menandakan bahwa kawasan Cinanggerang dan ke arah timur, merupakan perkebunan untuk komoditas teh. Keberadaan pengolahan pabrik teh di Cinanggerang dan Kareumbi ditulis pada peta lembar Soemedang 1942. Keberadaan pabrik teh di Cinanggerang saat ini beralih fungsi menjadi Sekolah Dasar negeri Cinanggerang 2. Sedangkan di arah timurnya, pabrik pengolahan teh Onderneming Kareumbi (ditulis Carumby), kini berupa lapangan di depan Kantor Desa Margalaksana. Ke arah timur dari lapangan, masih terlihat sisa struktur. Berupa tumpukan batuan yang disusun, biasanya menjadi pondasi pondasi bangunan lama.

Tiga Cerobong di utara Cinanggerang
Sekitar 1,2 Km dari SD Negeri 2 Tangerang, didapati struktur bangunan. Berada diantara lereng perbukitan yang kini ditempati perkebunan Indigofera. Tanaman yang memproduksi pewarna biru alami, biasanya digunakan untuk pewarnaan di industri tekstil khususnya batik. Dari informasi warga, merupakan sisa dari kejayan pabrik sereh pasca kemerdekaan. Akibat jatuhnya permintaan pasar, dan mahalnya perawatan perkebunan. Menyebabkan pabrik minyak sereh ini harus ditutup tahun 1960-an.

Dari keterangan laporan kolonial, Citronella-olie yang disusun oleh Auteur Hofstede, H.W. 1928. Pada tahun 1902, terdapat dua pabrik di Jawa yang memproduksi minyak serai wangi: pabrik “Odorata” milik Kaffir yang disebutkan sebelumnya di Tjitjoeroeg dan “Tjikantjana”, yang berlokasi di dekat Tjiandjoer. Industri minyak serai wangi juga mulai berkembang di luar Jawa, meskipun dalam skala terbatas. Van Romburgh melaporkan, antara lain, bahwa ia melihat alat destilasi sederhana beroperasi di rumah seorang penduduk asli di Kandangan (Kalimantan Selatan dan Timur). Dalam artikelnya tentang Kaffir, Hoekman memberikan beberapa detail tambahan tentang perkembangan industri minyak serai wangi di Jawa. Sesuai dengan janji yang dibuat kepada Treub saat itu untuk tidak mencoba menjadikan perusahaannya sebagai perusahaan monopoli, Kaffir selalu menyediakan bahan tanaman sebanyak mungkin untuk pabrik-pabrik yang sedang berkembang, sementara produsen abu serai wangi selalu diberikan informasi sebanyak mungkin.

Kekar Kolom Gunung Susuru
Dari Cianggerang, dilanjutkan ke arah timur melalui kota Sumedang. Dari alun-alun Sumedang kemudian diarahkan ke Ganeas, menggunakan jalan penghubung ke Wado. Sekitar Cikoneng, kemudian berbelok ke arah selatan. Jalanan mendaki karena mendaki punggungan perbukitan disebut Dayeuhluhur. Kawasan ini merupakan bagian dari pusat pemerintahan Kerajaan Sumedang abad ke-16, perpindahanan dari Kutamaya. Ditandai dengan situs pemakaman Raja Geusan Ulun. Kemudia di sebelah selatannya didapati makam utusan Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran, Embah Jaya Perkasa. Kandaga Lante yang kemudian mengabdi kepada Geusan Ulun, pada saat Kerajaan Sumedang berkonflik dengan Cirebon.

Daerah ini merupakan dataran tinggi di kawasan Sumedang sebelah tenggara. Berupa perbukitan dan lembah-lembah yang dalam. Perjalanan dilanjutkan ke arah Kampung Sahar, pemukiman warga yang berada di lereng sebelah barat laut G. Susuru. Berupa kerucut yang diapit oleh beberapa tinggian. di sebelah timurnya berjajar tinggian Pasir Aseupan dan G. Gedogan. Di arah timurnya dibatasi Ci Capar, dan dipagari oleh punggungan perbukitan Pasir Lingga, dengan bagian puncak tertinggi disebut Pasir Grobog 926 meter dpl. Sejajar dengan puncak perbukitan tersebut, ke arah selatannya ditandai dengan puncak Pasir Sangkur 976 meter dpl. Hulu Ci Capar berada di sebelah selatan, di lereng G. Sasapuan 1200 meter dpl. dan Pasir Manggu. Mengalir ke utara, bertemu dengan Ci Beureum di sekitar Situraja Utara.

Dengan demikian, Pasir Susuru merupakan kerucut perbukitan yang dilingkari oleh beberapa puncak-puncak perbukitan dan lembah. Bila ditarik lagi ke arah selatannya, didapati lingkar kaldera Calangcang 1667 meter dpl. Gunungapi dorman yang menjadi batas administrasi, antara Sumedang-Kabupaten Bandung dan Garut. G. Susuru berada di dua kecamatan, bagian timur masuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Ganeas. Sedangkan bagian timurnya, masuk ke Situraja.

Bermula dari informasi di media daring, tentang penemuan warga di G.Susuru. Berupa susunan batuan yang diperkirakan sisa dari kebudayaan lama. Berada di lereng perbukitan, di antara perkebunan milik warga. Dari keterangan warga, masyarakat sekitar Kampung Sahang sudah mengetahui sejak dahulu. Namun belum mengetahui asal-usul dan sejarah pembentukan di alam.

Dari peta Geologi Lembar Bandung (Silitonga, 2003). Merupakan Hasil Gunungapi Tua Lava (Qvl). Disusun lava yang menunjukan kekar lempeng dan kekar tiang. Susunannya basal dan sebagian telah terpropilitisasikan. Terbentuk umur Kuarter, sekitar

Fiturnya disebut columnar joint, atau kekar kolom. Susunan batuan beku, membentuk kolom, memanjang arah utara-selatan. Saling tersusun dan rapat, membentuk dari empat sudut, hingga enam sudut (hexagonal). Rata-rata ukuran lebar, antara 15 cm hingga 20 cm, dan panjang bervariasi. Antara 3 meter hingga 6 meter lebih.

Susunan batuan tersebut, membentuk tebing tegak sekitar 6 meter. Menandakan arah pendinginan, membentuk dome. Pembentukan batuan ini terjadi akibat magma yang naik ke atas permukaan bumi. Pada saat mendekati permukaan, terjadi pendinginan sehingga sifat cair, kemudian menjadi padat. Perubahan ini diikuti dengan proses kontraksi, membentuk struktur hexagonal.

Singkapan kekar kolom berada di ketinggian 750 meter dpl. kemudian bagian puncaknya kemungkinan lebih dari 900 meter dpl. didapati komplek pemakaman, berupa susunan batuan.

Saat ini informasi fungsi keberadaan kekar kolom bagi budaya di Kampung Sahang, Ganeas, belum terungkap. Mengingat bentuk seperti ini biasanya dimanfaatkan oleh nenek moyang sebagai sistem religi, seperti halnya di G. Padang Cianjur. Namun hingga kini belum ada bukti tinggalan budaya, kecuali kompleks pemakaman di bagian puncak gunung. Sehingga perlu untuk diteliti lebih mendalam, baik dari sisi tinggalan budaya dan geologi. Mengingat keunikan fitur bumi G. Susuru yang tidak ditemui di tempat lain.

Ex pabrik sereh, Cinanggerang.
Dinding tegak disusun kekar tiang di lereng barat G. Susuru.
Orientasi kekar tiang, rebah ke arah utara
Sisa struktur pabrik teh Margapala (Margalaksana)

Catatan Geourban#35 Cibugel

Masih dalam suasana musim hujan, peserta menembus jalan desa. Berpayung semangat untuk menangkis hujan, dengan tujuan menapaki kembali sejarah bumi di Sumedang Selatan.

Dikegiatan ke-35, mengunjungi jembatan gantung yang melintasi dua desa di Sumedang Selatan. Disebut jembantan gantung Panyindangan, menghubungkan Desa Baginda disebelah barat, dengan Desa Gunasari dibagian timur. Jembatan tersebut dibangun oleh anggaran Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), pada tahun 2018. Menggantikan jembatan rintisan yang dibut oleh tim Vertical Rescue Indonesia, tahun 2017. Jenis jembatannya menggunakan teknologi Jembantan Gantung untu Pedesaan Asimeteris (Judesa). Menggunakran struktur kabel baja, dan tiang pancang sebagai struktur utamanya.

Panjang jembatan sekitar 120 meter, membentang barat ke timur di atas Ci Honje. Dengan lebar 1.65 meter, sehingga hanya bisa dilalui pejalan kaki dan roda dua. Bermanfaat sebagai penghubung dua desa, menggerakan ekonomi lokal. Dibangun di dataran rendah yang ditempati sawah, kemudian dipotong Ci Honje. Sungai yang berhulu di G. Calangcang. Sistem gunungapi purba, diperbatasan Sumedang dan Garut.

Aliran sungainya bertemu dengan Ci Peles, di Situraja kemudian bergabung dengan Ci Manuk. Disekitar Gunasari, dikatergorikan ordo sungai muda, dicirikan dengan arus sungai deras. Mengendapkan bahan sedimen yang diangkut dari hulu, diantaranya bongkah batuan hingga pasir. Sedimen dari hulu yang dibawa arus sungai, kemudian membentuk dataran-dataran aluvial yang luas. Dataran banjir tersebut ditempati oleh sawah yang memerlukan pengairan.

Lokasi berikutnya adalah lembah Citengah. Lembah yang diapit dua perbukitan, kemudian dipotong oleh Ci Tengah. Sungai yang berhulu di Cimanggung. Lereng G. Calangcang-Pasirhonje. Pada 4 Mei 2022 dilanda banjir bandang, meluap hingga menerjang rumah dan sarana warga di Citengah, Gunasari.

Dipicu oleh curah hujan tinggi, kemudian kemampuan penyerapan air yang berkurang. Terjadi akibat perubahan tata guna lahan di hulu, sehingga limpasan air (run off) mengalir semuanya ke Ci tengah dan Ci Tundun (sebelah barat). Dua sungai tersebut bergabung dengan Ci Honje, kemudian dialirkan ke utara.

Luapan air tersebut bukan saja terjadi satu kali, namun pernah dilaporkan sebelumnya. Walaupun dalam skala kecil, menandakan pengelolaan sungai dihulu terganggu. Seperti halnya diutarakan oleh Walhi Jawa Barat, bahwa banjir terjadi akibat perubahan penggunaan lahan di hulu.

Bagian hulunya adalah wilayah perkebunan teh Margawindu-Cisoka. Dalam penelusuran dikegiatan ini, mengunjungi tinggian Cisoka. Saat ini ditempati oleh lokasi wisata, tumbuh menjamur di atas lahan bekas perkebunan teh Margawindo. Penggunaan lahan tersebut saat ini masih dalam status abu-abu, karena selepas penguasaan masa kolonial dinasionalisasi. Kemudian disewakan kepada swasta, melalui Hak Guna Usaha.

Sebelum mendekati Cisoka, didapati air terjun Cigorobog, Citengah. Berupa air terjun bertingkat, mengalir dibatuan breksi gunungapi. Mengalir dari hulu G. Munjul dan G. Bedil. Air terjun bertingkat empat, terbentuk hasil erosi sungai. Akibat batuan yang lebih resisten, membentuk ceruk berupa air terjun bertanga. Aliran sungainya kemudian mengalir ke arah selatan, menuju Ci Honje.

Melintasi puncak pass Cisoka, jalanan menurun ke arah utara. Jalannya telah diaspal, hingga menjadi alternatif menuju Garut melalui Cibugel. Di desa yang masih menjadi wilayah Sumedang, berbatasn denga Garut. Sehingga kawasan ini menjadi jalur penghubung pergerakan pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indones (DI/TII). Terjadi pada kurun waktu antara tahun 1950-an hingga tertangkapnya Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo di G. Beber-Rakutak.

Serangan terjadi DI/TII pada 23 November 1959. Berupa aksi pembantaian yang terjadi di Desa Cibugel, mengakibatkan 120 orang tewas. Pada masa tersebut, desa ini menjadi basis pertahanan pro republik. Penolakan warganya terhadap kehadiran DI/TII. Sehingga pasukan bentukan SM Kartosuwiryo, mengkategorikan Cibugel sebagai desa Darul Harbi atau kawasan musuh. Pembantaian terjadi jelang tengah malam, melalui pengepungan. Dalam kondisi tidak menentu, sebagian bersar warga bersembunti di Legok Cibiru atau sekitar 100 meter dari kantor desa. Dilokasi inilah pasukan DI/TII melakukan pembunuhan masal, mengakibatkan tewasnya ratusan rakyat.

Pasca peristiwa tersebut, sebagian besar warganya mengungsi ke daerah lain di Sumedang. Kemudian kembali ke Cibugel, setelah ditangkapnya SM Kartosuwiryo pada 1962. Kunjungan ke Cibugel, menutup perjalan Geourban ke-35.

Puncak perkebunan teh Margawindu.
Air terjun Gorobog, hulu Ci Honje.
Kabut menyergap puncak Cisoka.
Penanda makam korban pembantaian DI/TII di Cibugel

Catatan Geourban#32 Ganeas Sumedang

Dalam laporan prakiraan cuaca, sebagian besar langit Sumedang dibawah sergapan hujan ringan. Terbukti saat rombongan Geourban mendekati kota ini, langit sepertinya ditaungi awan tebal. Temperatur sejuk, mengantarkan kegiatan ini dari pagi hingga jelang sore. Untuk mendapatkan reportase dalam bentuk video, bisa dilihat ditautan https://www.youtube.com/watch?v=U9c54fYwE-w

Sesuai dengan pernjajian di grup Whatsaap, memilih lingkar Binokasih sebagai titik perjumapaan. Selain mudah dijangkau dan dipahami, tugu ini menjadi batas terluar sebelah timur sebelum memasuki pusat kota Sumedang. Tugu yang dihiasi oleh mahkota Binokasih, simbol penerus kerajaan Sunda abad ke-16. Pada abad tersebut Kesultanann Banten semakin mendesak kerajaan Sunda yang berkedudukan di Pakuan Pajajaran (Bogor), hingga runtuh.

Jelang keruntuhan kerajaan tersebut, Raja Sunda terakhir mengirim empat utusan disebut Kadaga Lante.Tujuaanya adalah menyerahkan simbol kerajaan Sunda, agar dilanjutkan oleh Kerajaan Sumedanglarang. Diantaranya adalah mahkota Binokasih, sebagai penegas suksesi kerajaan penguasa sebagian besar Tatar Sunda. Momen inilah yang digunakan oleh raja terakhir Sumedang, untuk menyatakan kerajaan Sumedang berdaulat. Hingga kelak, sekitar 41 tahun kemudian takluk di bawah Kesultanan Mataram, sehingga Sumedang berstatus kabupaten.

Binokasih membawa rombongan Geourban ke masa kejayaan kerajaan Sumedanglarang. Dalam kegiatan sebelumnya https://pgwi.or.id/2025/01/30/catatah-geourban31-dayeuhluhur/ mengupas satu penggalan waktu, raja terakhir Sumedanglarang. Dalam kegiatan ini menggunakan kendaraan roda dua, diikuti oleh pegiat wisata, pemandu dan peminat budaya. Kendaraan melesat menembut jalan raya Sumedang, mengarah ke utara dan memotong kota. Terlihat samar-samar satu bentuk perbukitan yang menaungi kota Sumedang, dari G. Kacapi kemudian berbelok ke arah timur.

Melewati Desa Margamukti, Kecamatan Cisarua. Melalui jalanan yang menhubungkan ke Desa Ciuyah. Jalanan kelas kabupaten, membujur dari timur ke barat. Tidak lebih dari sepeminuman teh, melampaui Cirwaru dan perbukitan Pasir Ciwaru. Jalanan menyempit membelah kampung, kemudian tiba di tinggian Ciuyah. Berupa lembah yang dipotong oleh Ci Uyah. Kiri dan kanannya ditempati hamparan sawah, tumbuh subur sepanjang masa. Sebelah barat terlihat jajaran perbukitan, dihuni oleh vegetasi lebat. Hutan tersebut berfungsi sebagai daerah tangkapa air, sehingga kawasan ini tdak pernah kekeringan.

Tujuan pertama adalah fenomena mataair Ciuyah, Ds. Ciuyah. Terletak diantara sawah warga, sebelah utara dari kantor Desa. Jarak dari jalan raya desa menuju lokasi sekitar 500 meter, melaui salura irigasi. Dilakukan dengan berjalan kaki, sejajar dengan anak sungai hingga lokasi yang akan dituju. Dari pertengahan perjalanan, terlihat lembah yang dipotong sungai, memberikan indikasi adanya pola kelurusan yang dilalui sungai. Dalam laporan tim Badan Geologi KESDM (Saputra drr., 2023), survey seismisitas Gempa Sumedang 31 Desember 2023. Menemukan perkiraan sesar melalui survey lapangan dan morfotektonik. Mengintepretasi adanya pola sesar naik berarah relatif barat-timur, terpotong oleh sesar mendatar berarah timurlaut-baratdaya. Buktinya terlihat kehadiran cermin sesar sebagai sesar mendatar pada badan sungai. Kajian tersebut menindaklanjuti survey Pusat Air Tanah dan Geologi Lingkungan, Badan Geologi. Mengkonfirmasi keberadaan sumber mata air asin di tinggian Desa Ciuyah.

Keberadaan mataair ini diduga sebagai air yang terperangkap apda batuan sedimen, muncul kepermukaan karena diberi jalan oleh retakan pada batuan. Akibat adanya tekangan dari bawah, pembukaan celah yang memungkinkan naiknya fluida ke permukaan. Disebut mata air formasi atau mata air yang berasosiasi dengan batuan sedimen (connate water).

Dalam fisografis pulau Jawa, Sumedang merupakan bagian dari Zona Bogor (Martodjojo. 1984). Zona ini meliputi sebagian besar Sumedang, merupakan perbukitan lipatan yang terbentuk dari batuan sedimen laut dalam. Sehingga diperkirakan sebagian besar Sumedang masih berada di dasar laut. Seiring waktu diendapkan batuan sedimen laut dalam, berupa batupasir-batulempung pada Miosen Tengah hingga Miosen Akhir atau sekitar 23-15 juta tahun yang lalu. Seiring dengan pengendapan batuan sedimen, terdapat cekungan yang menjebak air laut pada saat itu. Pada umur Pliosen terjadi pengangkatan, diakibatkan oleh tektonik. Mengakibatkan pendangkalan dan pensesaran, seperti yang diduga hadirnya sesar Ciuyah.

Mata air tersebut muncul ke permukaan, berasosiasi dengan sesar. Air yang berada jauh di kedalaman lebih dari 1000 meter di bawah permukaan, disebut air formasi (connate water). Debitnya tidak terlalu besar, rasanya asin dan tidak mengindikasikan kenaikan temperatur. Merupakan rembesan, dicirikan dengan munculnya gelembung. Tingkat kegararamannya mendekati air laut, dengan pH 6,7 (Survey PAGTL, 2023).

Di lokasi tersebut ditemukan dua sumur, dibuat oleh pemilik lahan dengan tujuan untuk kegiatan ritual atu pengobatan. Dari informasi warga, lokasi ini sering dikunjungi pada waktu tertentu, sebagai sarana penyembuhan dari penyakit. Beberapa pengunjung melaksanakan niat untuk mandi atau sekedar membersihkan diri. Dengan demikian pemilik lahan memasang kain penutup warna putih, disekeliling sumur mata air Ciuyah. Bahkan beberapa pengunjung menyempatkan mengambil air, sebagai sarana penyembuhan.

Perjalanan ke arah timur, menemui situs Batukuya, Ds. Cimara. Blok batuan yang jatuh dari puncak Pasir Pabeasan. mengendap di sawah warga. Akibat pelapukan, membentuk seperit kura kura. Menurut warga, batu tersebut menjadi penghias alam namun ada juga yang mempercayai sebagai situs ritual.

Berada diantara sawah warga, Desa Cimara, Cisarua, Sumedang. Disebut kuya atau kura-kura dalam bahasa nasional, karena mirip dengan binatang reptil tersebut. Dicirikan dengan adanya rumah atau batok seperti kubah, dan kepala yang menjulur keluar.

Dari ukurannya cukup besar, panjang sekitar 2 meter, dan lebar 1 meter. Tingginya tidak lebih dari 90 cm. Dari sekilas pengamatan, disusun oleh batuan beku. Sumbernya diperkirakan dari bukit yang berada di sebelah tenggara dari Pasir Pabeasan. Akibat kegiatna pelapukan tingkat lanjut, mementuk blok batuan yang jatuh kemudian mengendap diantara pesawahan. Sebagian besar telah mengalami pelapukan, membentuk rekahan-rekahan. Batuan penyusunnya bagian dari Pasir Pabeasan, ditaksir sebagai batuan intrusi batuan beku. Warna batuan abu-abu cerah, mengindikasikan jenis andesitik.

Dari keterangan warga, keberadaan batu Kuya ini awalnya ada di atas perbukitan. Kemudian pindah ke arah lereng, diantara sawah warga. Posisinya berada sekitar 50 meter dari jalan Desa Cimara.

Mendaki ke arah barat, mendekati puncak Pasir Pabeasan. Didapati singkapan batuan beku tebal, tegak dan tetutupi oleh hutan bambu. Berupa perbukitan intrusi batuan beku, membentuk gawir terjal setinggi 10 meter. Berupa lava tebal yang telah mengalami pelapukan dan terdeformasi. Membentuk struktur kekar lembar dan bidang-bidang rekahan. Diantaranya didapat ceruk yang dipercayai sebagai sarang macan, atau disebut liang meong. Ukuran lubangnya memiliki lebar sekitar 1 meter dan tinggi 1,5 meter, berupa lorong kecil. Keberadaanya kini ditutup oleh warga, dengan cara ditimbun dengan menggunakan tanah yang diambil dari sekitar gua. Menuju lokasi tersebut, melaui pesawahan warga, kemudian mendaki mengikuti kontur lereng hingga kearah puncak perbukitan.

Di bagian puncak perbukitan tersebut, ditemui situs Pasir Pabeasan. Situs yg kepercayaan/agama nenek moyang. Berupa batu tegak, disusun diantara bongkahan batuan. bentuk demikian bisa ditafsirkan sebagai matu menhir.

Perjalan dilanjutkan ke arah selatan, menyeberangi Ci Peles di daerah Cibangkong. Kemudian dilanjutkan ke arah jalan raya Wado, berbelok ke arah timur dan mengambil jalan desa Cibogo. Pintu masuk berada diobjek wisata Bale Citembong Girang, dilanjutkan berjalan kaki sekitar 15 menit ke arah selatan.

Keberadaa situs Pasir Kabuyutan, masuk ke dalam wilayah Desa Ganeas. Disebut Situs Kabuyutan Citembong Girang. Sistem religi nenek moyang, berupa susunan batuan dengan berbagai ukuran. Ditata menyerupai altar. Menurut warga sudah digunakan oleh raja Sumedang pertama, sekitar abad ke-8. Berada dilereng perbukitan, dicirikan dengan keberadaan pohon beringin Ficus benjamina yang tinggi menjulang. Diperkirakan umurnya ratusan tahun, dengan akar yang menjalar kesegala arah.

Keberadaan pohon beringin selalu dikaitkan dengan tempat sakral. Dibeberapa kebudayaan dipercaya sebai tempat tinggal roh nenek moyang, memiliki keukuatan mistis sehingga sering digunaan sebagai tempat ritual.

Lokasi penutup berkunjung ke Situs Batu Guling. Desa Kaduwulung. Ditemui beberapa blok batuan, berupa breksi lahar hasil kegiatan gunungapi. Dari keterangan warga, batuan tersebut dijatuhkan dari perbukitan Dayeuhluhur. Dengan tujuan untuk menghancurkan pasukan Cirebon yang berusaha menyerang dari arah timur. Terjadi pada saat penyerangan Cirebon ke Dayeuhluhur, pada tahun 1585. Blok batuan tersebut digulingkan, kemudian mengendap disekiar Desa Kaduluwung, menjadi situs disebut Batu Gulung.

Blok batuan beku berbentuk kuya (kura-kura)
Situs Pasir Pabeasan
Situs Kabuyutan Citembong Girang