Catatan Geobaik#1 Jompong

Pebukitan kerucut yang berjajar dari utara ke selatan, memberikan kesan adanya zona lemah yang mampu diterobos oleh magma dekat dengan permukaan. Seiring waktu magma tersebut membeku dan membentuk perbukitan-perbukitan yang tersebar dari Cimahi selatan hingga ke arah selatan sekitar Margaasih-Cihampelas, Cililin, Kabupaten Bandung. Batuan beku terobosan tersebut mengunci rahasianya selama lebih dari empat juta tahun yang lalu, sebagai saksi pembentukan Danau Purba Bandung.

Melalui petualangan roda dua dan menyibak rahasia bumi, aktivitas geowista ini bermaksud merangkum keduanya dalam kegiatan Geobaik. Kegiatan perdana ini diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), dalam rangka mengupas destinasi geowisata disekitar Cekungan Bandung, aktivasi jejaring lokal dan mempromosikan aktivitas wisata bumi.

Geobaik#1 Jompong dilaksanakan tangal 9 Januari 2023, menapaki kembali perbukitan intrusi sekitar Cimahi selatan hingga Cililin, kemudian ke Curug Jompong dan ditutup dititik tinggi sekitar Cihampelas Cililin. Tiga lokasi kunjungan tersebut dilaksanakan dalam durasi 5 jam kegiatan luar ruangan, menggunakan sarana roda dua (motor).

Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, perjalanan dimulai tepat pukul 06.30 WIB, dimulai dari Bandung. Roda dua menapaki jalan kabupaten, kemudian bertolak menuju arah selatan melalui jalan Leuwi Gajah Cimahi. Menjelang jembatan Nanjung, jajaran kerucut perbukitan terlihat megah seperti berbaris, namun bila didekati tubuhnya hilang karena aktivitas penambangan. Perjalanan dilanjutkan berbelok ke arah barat, menuju tempat pemberhentian pertama, di Perumahan Lagadar, Gunung Lagadar.

Motor para peserta yang berjumlah 12 orang dipacu perlahan, menggilas jalan berbatu menuju proyek penambangan batu di Lagadar. Hanya beberapa penduduk saja yang menggunakan jalan ini, karena tidak ada jalan lain menghubungkan ke tempat lain kecuali ke perumahan. Di titik inilah kami bertemu dengan sebagian lagi peserta yang berasal dari Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Ada sembilan motor termasuk panitia, konvoi menuju lokasi pertama kegiatan Geobaik ke  perumahan Pesanggrahan Lagadar, disebut geotapak pertama di  Lagadar. Di bagian selatan di kaki G. Lagadar, peserta diajak untuk mengenali proses pembentukan perbukitan ini.

Secara administratif, wilayah ini masuk ke dalam Desa Lagadar, Kecamatan Margaasih, Bandung. Gunung Lagadar adalah perbukitan terobosan batuan beku. Hasil analisis K-Ar batuan di Selacau dan Paseban berumur 4,08 juta tyl dan 4,05 jt tyl (Sunardi dan Koesoemadinatan, 1999). Bersamaan dengan beberapa perbukitan intrusi lainya, termasuk Gunung Selacau, Gunung Paseban, Gunung Singa, Gunung Pasir Pancir merupaakn perbukitan pematang tengah Cekungan Bandung (Bachtiar, 2012). Di lokasi ini memberikan pemahaman gambaran besar, jajaran perbukitan intrusi ini merupakan pagar alam yang berjajar utara-selatan, membatasi Cekugan Bandung bagian barat dan timur. Bukan itu saja, nilai istimewanya adalah pembentukannya umur Pliosen, saat itu kondisi alam sangat dingin dan kering, dicirikan dengan munculnya mamalia besar dan moluska.

Perjalanan dilanjutkan ke lokasi berikutnya, geotapak ke-dua di Curug Jompong. Lokasi tidak jauh dari perhentian pertama, kurang lebih 20 menit berkendara ke arah baratdaya. Perjalanan memotong jalan desa, kemudian tiba di jembatan Nanjung, Margaasih. Dari tepi jalan sebelum memasuki jembatan, terlihat jajaran perbukitan Selacau, Pasir Honje, Gunung Puncaksalamm Gunung Lagadar, dan Gunung Gajahlangu di sebelah utara. perbukitan tersebut dipotong oleh Ci Tarum yang mengalir dari tenggara ke utara, melaui Margaasih dan Pataruman rangkaian dari perbukitan tengah Cekungan Bandung bagian barat.

Dari jembatan Nanjung kemudian mengarah sedikit ke barat, kemudian mengikut Ci Tarum ke arah hulu. Jalannya baik, menghubungkan antara Margaasih ke Cipatik Soreang. Diantara perjalanan tersbut kemudia berbelok memasuki komplek Terowongan Kembar Nanjung. Di tempat ini diberikan penjelasan ke-dua, mengenai pembobolan setelah pembentukan Danau Bandung Purba segmen timur. Genangan air semakin tinggi, akibat tertutupnya arah Ci Tarum di sekitar Ngamprah, kemudian turut menaikan volume air hingga mendekati ketinggian paras air 725 m di atas permukaan laut. Kenaikan tersebut mendorong sifat air mencari tempat yang rendah, kemudian membobol batuan beku terobosan Curug Jompong. Pembobolan tersebut diperkirakan menjelang pengeringan danau pada 16.000 tahun yang lalu.

Di Curug Jompong para partisipan diajak turun menyaksikan fitur-fitur alam hasil erosi air di batuan beku. Terlihat beberapa bentuk-bentuk unik disebut pothole yang terbentuk selama kegiatna pembobolan danau purba. Bentukan alami tersebut terjadi akibat arus air deras dan stabil, membawa kerakal dan kerikil. Kemudian bergesekan seperti membuat lubang yang digerakan oleh pusaran air, terjadi dalam waktu yang sangat panjang. Awalnya terbentuk cerukan-cerukan, namun lambat laut terperangkaplah ukuran batuan yang terbawa, dengan ukuran yang beragam, mulai dari bongkah hingga kerikirl. Lambat laut membentuk lubang-lubang vertikal, dengan kedalaman yang beragam. Di lingkungan lokasi ini, ditemui lubang terdalam bisa mencapai 30 cm hingga 100 cm dengan diameter antara 30 cm hingga 50 cm. Ada lubang dangkal dengan lingkar lubang lebar, dan sebaliknya. Semuanya dipengaruhi oleh kesetabilan arus sungai, dan penyusun batuannya.

Dalam kesempatan berdiskusi, pemandu wisata senior Felix Feitzma yang biasa dipanggil opah Felix menyampaikan pengalamannya menggarap kegiatan bertualanga di alam di Sanghyang Heuleut dan Sanghyang Poek. Beliau memberikan pandangannya bahwa wista ke depannya akan lebih spesifik dan tematik, sehingga menuntut para pemandu bekerja keras, berinovasi dan kreatifitas dalam menyusun paket-paket perjalanan.

Secara umum batuan Curug Jompong disusun oleh batuan beku intrusi, dengan umur yang sama dengan kelompok Selacau-Lagadar, yaitu sekitar 4 juta tahun yang lalu. Keunikan lainya adalah terbentuknya ceruk-ceruk yang dalam, membentuk air terjun yang menawan. Sehingga pada masa kolonial, tempat ini menjadi tujuan wisata yang menarik. Bahkan Junghuhn pun berkesempatan datang ke tempat ini, dan membuat bingkai fotografi pada 1860-an. Dari hasil fotografi hitam putihnya, terlihat arus sungai yang deras, sekaligus memberikan pemandangan yang menakjubkan, antara kekuatan arus sungai yang bertemu dengan batuan keras umtur tua.

Dalam foto tersebut tentu saja tidak ada sampah atau polutan industri, karena pada masa itu belumlah adanya industri yang berkembang di sepanjang bantaran Ci Tarum. Sehingga bisa dipastikan pasa saat itu airnya bersih. Keasriannya tersurat juga dalam beberapa laporan belanda dan pegiat wisata Bandung Vooruit yang menuliskan kunjungannya ke lokasi ini. Daya darik Curug Jompong bukan saja fenomena keindahannya saja, namun menjadi saksi pembentukan Danau Bandung Purba yang terbentuk pascaletusan dan pembentukan Kaldera Sunda, 105.000. tahun yang lalu.

Di Bukit Gantole Cililin atau lokasi penutup dalam perjalanan Geobaik#1 Jompong, narasumber Deni Sugandi, memberikan gambaran luas tentang posisi Danau Bandung Purba. Dari tinggian perbukitan ini, arah pandangan terbuka luas, bisa memandang arah timur, batas perbukitan intrusi dan segmen danau Saguling di sebelah barat. di sebelah utaranya dalah Gunung Burangrang, Gunung Tangkubanparahu yang dibatasi oleh patahan Lembang. Kemudian di sebelah timur-utara berjejer kelompok Gunung Palasari, Gunung Bukittunggul dan Gunung Manglayang.

Dititik inilah kegiatan Geobaik Curug Jompong selesai, ditutup dengan acara makan siang alakadarnya dan sekaligus kesan dan pesan yang disampaikan oleh para peserta. Aktivitas geowisata ini adalah salah satu cara untuk memahami proses  dinamika bumi yang berlangsung, hingga sejarah pembentukan yang terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama. Sehinggi geotapak yang dikunjungi perlu dikonservasi, seperti perbukitan intrusi sekitar Lagadar. Keberadaanya kini berlomba dengan kegiatan penambangan, sehingga seiring waktu akan hilang dimuka bumi.

Di kaki bukit Lagadar, Margaasih
Diterowongan kembar Nanjung, Margaasih
Opah Felix menyampaikan materi pemanduan di Curug Jompong
Alm. Opah Felix di dasar Ci Tarum, Curug Jompong
Penjelasan Cekunga Bandung di bukit Gantole Cililin

Catatan Geobaik#4 Cililin

Jelang pagi di jalanan penghujung Cipatik ke Soreang menggeliat ramai. Matahari sejak subuh sudah tiba mencahayai perbukitan Soreang, membentuk siluet seperti pagar alam membatasi wilayah timur dataran Kutawaringin, kaki perbukitan intrusi Soreang barat.

Kurang lebih jelang pukul tujuh pagi, peserta hadir dari berbagai penjuru mataangin, berkumpul di sekretariat PGWI Pengurus Wilayah Bandung Raya, Cipedung, Kutawaringin. Diikuti oleh 15 orang dan menggunakan 13 roda dua dengan berbagai jenis kendaraan, mulai jenis metik hingga sport. Semua kendaraan dicek dalam kondisi baik, sesuai dengan ketentuan panitia. Peserta berasal dari berbagai daerah wilayah Bandung, dengan latar belakang beragam, mulai dari pekerja profesional, pegawai pemerintahan, pelaku jasa wisata hingga para pegiat wisata kebumian, diantaranya para pemandu geowista yang tergabung di asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia.

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB, dibuka melalui brifing awal mengenai rencana perjalanan, termasuk pengarahan keselamatan, keamanan dan prokes selama perjalanan, sebagai standar kegiatan.

Geobaik adalah aktivitas menafsir rahasia bumi, dan menaksir sejarah manusianya yang menempati alam tersebut, dilaksanakan melalui sarana transportasi roda dua. Diinisiasi oleh asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), dan dilaksanakan berkala. Kegiatan ini bertujuan sarana belajar anggotanya, memberikan manfaat dan kebaikan serta pemahaman bentang alam, proses dinamika bumi dan budaya. Kegiatan hari ini merupakan rangkaian acara ke-empat, dilangsungkan di wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, dilaksanakan oleh Pengurus Wilayah Bandung Raya.

Kunjungan pertama mengunjungi sisa tambang sirtu berupa singkapan lava di sekitar Gunung Gadung, Jatisari. Berupa perbukitan intrusi batuan beku, disusun oleh andesitik basaltik. Berada di selah selatan kota Soreang, bagian dari kelompok perbukitan Soreang. Bukit lava tersebut merupakan batuan beku hasil penerobosan magma, kemudian membeku sebelum mencapai permukaan bumi. Seiring waktu kemudian tererosi, dan membentuk perbukitan-perbukitan runcing yang menempati bagian tenggara gunungapi Soreang. Dari warna yang terlihat, cenderung abu-abu terang, menandakan didominan oleh SiO2 yang lebih dominan, antara 57 hingga 63%. Disusun oleh andesit augit hipersten, dan hornblenda dengan matrix yang mengaca, dengan struktur retas, sill, neck atau lava plug, umur Pliosen (Silitonga, 1973).

Perjalanan selanjutnya perjalanan memotong perbukitan intrusi, melalui jalan kelas desa. Sedikit terjal dan melalui jalan aspal yang telah terkelupas karena tidak dipelihara. Kunjungan kedua mengunjungi fitur alam yang unik, berupa bentuk kolom yang menyerupai bentuk struktur candi. Fitur alam tersebut dinamai Batu Nini yang masuk ke dalam kawasan Gunung Buleud, daerah Situwangi, Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Berbeda dengan susunan batuan di stop pertama, Batu Nini disusun oleh batuan breksi vulkanik, kemudian seiring waktu tererosi dan menyisakan bentuk seperti bangunan. Terjadi secara alami, menandakan dinamika bumi yang berasal dari tenaga luar (eksogen), seperti ditatah oleh alam melaui kondisi hujan, panas, dan dingin sehingga terjadi pelapukan. Terjadi dalam waktu yang sangat panjang. Struktur yang terlihat saat ini menandakan batuannya lebih resisten atau lebih kuat dibandingkan batuan disekitarnya.

Dalam keterangan singkatnya, pada 1854 Junghuhn pernah membuat sketsa dari arah utara, memperlihatkan bentuknya yang sama seperti yang disaksikan hari ini. Namun bila dibandingkan secara seksama, ada beberapa bagian yang telah lapuk, mengingat Junghuhn melukisnya 167 tahun yang lalu.

Perberhentian selanjunya adalah melihat bentuk kaldera Walahir, di Kidangpananjung Cililin, atau sekitar lereng sebelah selatan Gunung Gedukan. Dari titik ini bisa menyaksikan bentang alam yang menawan, berupa perbukitan runcing dan lembah yang dalam di bagian tenggara. Berupa kelompok perbukitan intrusi, dicirikan dengan bentuknya yang kerucut dan menempati wilayah di sebelah tenggara dari kelompok gunungapi Soreang. Sedangkan bila melemparkan arah pandang ke sebelah barat, terlihat cekungan yang diapit oleh gawir-gawir terjal yang ditafsirkan sebagai dinding kaldera. Perbukitan tersebut disusun oleh breksi tufaan, lava, batuapung, dan sebagian konglomerat. Umurnya antara Miosen hingga Pliosen Atas atau sekitar 12 hingga 5 juta tahun yang lalu (Silitonga, 1973). Sendangkan dalam penelitan lainya memberikan keterangan berumur Pliosen Atas, sekitar 3.2 juta tahun yang lalu (Sudjatmiko, 1972).

Dari titik ini bisa menyaksikan Gunung Malabar di sebelah tenggara, berdampingan dengan jajaran pegunungan kelompok gunungapi Cekungan Garut ke arah timur. Diantaranya Gunung Guntur, Gunung Cikurai dan Gunung Papandayan.

Perjalanan dilanjutkan, membelah lembah yang dalam yang dicirikan dengan jalanan yang dilalui semakin menurun dan terjal. Peserta harus berhati-hati, selain turunan terjal, di beberapa bagian aspalnya telah terkelupas.

Kurang lebih 15 menit perjalanan menggunakan roda dua, rombongan tiba di sekitar Kampung Lembang, Desa Mukapayung, Cililin. Kemudian dilanjutkan dengan treking menyusuri lereng Gunung Lumbung. Jalur pendakian singkat melalui Sekolah Dasar Lembang, kemudian melintasi beberapa rumah warga, kemudian membelah perkebunan. Di tengah perjalanan, terlihat cekungan Lembang yang ditempati oleh pesawahan yang subur dan dibelah oleh Ci Lembang, anak sungai yang kemudian bertemu Ci Bitung disekitar Gunung Putri.

Sawah tersebut menempati area kurang lebih 700.000. meter persegi, dengan luas lingkar 3.5 km. (perhitungan google maps di fitur measure distance). Sedangkan elevasinya sekitar 928 m. dpl. (RBI), sedangkan Gunung Lumbung adalah 1093 m. dpl. Areal yang ditempati sawah tersebut seperti bentuk dasar kaldera, atau bagian central fasies dari tubuh gunungapi.  Ciri-cirinya berupa plateu berbentuk cekungan, disusun oleh lempung, lanau, pasir dan kerikil hasil dari bahan rombakan dan erosi perbukitan disekitarnya (Silitonga, 1973).

Diperlukan waktu kurang lebih 20 menit, mendaki singkat ke puncak Gunung Lumbung. Di bagian puncaknya digunakan warga sebagai lahan perkebunan, diantaranya cabai, kacang panjang hingga tomat. Setelah melewati perkebunan ini, arah jalan setapak akan mengarah ke sudut yang lebih rimbun. Di ujung jalan setapak inilah ditemui situs berupa arca dan lingga, dinaungi oleh atap seng. Tidak ada keterangan lain, hanya kelompok arca, kemudian disekitarnya masih berupa pohon yang masih rimbun. Di sekitar arca didapati beberapa batuan ditumpuk disekitar arca. Batuannya disusun oleh batuan beku vulkanik, berupa bongkah-bongkah atau fragmen batuan lava. Didapati dua batu bentuk lingga, salah satunya bukanlah bagian dari keompok arca ini yang dicirikan dengan bentuk kolom dan memiliki tulisan angka latin. Diduga bentuk lingga tersebut merupakan patok penanda yang dibuat pada masa kolonial, kemudian dibawa ke Gunung Lumbung.

Kegiatan terakhir ditutup dengan kunjungan ke statsiun radion Cililin. Di lokasi ini dijelaskan mengenai sejarah radio dan hunian rumah tinggal para pekerja. Disampaikan oleh Amar Sudarmar, manta kepala sekolah SMA 1 Cililin, pelaku sejarah. Beliau menuturkan kantor radio komunikasi tersebut berfungsi sebagai alat komunikasi Belanda pada saat perang dunia ke-dua, sekaligus sebagai media komunikasi jalur perdagangan Hindia Belanda saat itu. Seiring waktu statsiun radio tersebut harus ditutup, karena biaya operasional yang tinggi dan kualitas pemancar yang kurang optimal karena terletak di lembah.

Di Radio Cililin inila kegitan GB4 diakhiri, ditutup dengan penyampaian kesan dan pesan para peserta,. Diantaranya menyambut baik kegiatan ini, agar tetap aktif dan memberikan informasi yang menarik, serta sebagai silaturahmi pecinta bumi dan sejarah. (Deni Sugandi)

Brifing sebelum keberangkatan di Soreang
Penjelasan Kepala Dusun di tapakbumi Batu Arca
Penjelasan sejarah Radio Cililin di Cililin

Catatan Geobaik#3 Cisanti

Acara dibuka disalah satu sudut kota Ciparay, Kabupaten Bandung. Terhitung 21 partisipan yang hadir, dan telah mempersiapkan kendaraanya masing-masing. Asal partisipan dengan latar beragam, pelajar SMU, pemandu wisata, hingga pegiat wisata alam. Selanjutnya Deni Sugandi, selaku pemandu geowista, melakukan brifing awal berkaitan dengan rencana kegiatan. Deni menjelaskan secara umum empat lokasi yang akan dikunjungi, diantaranya situs Palagan Culanagara atau situs peninggalanan Dipati Ukur di Ciparay, kemudian dilanjutkan ke titik tinggi antaran Bukit Culanagara dan Pasir Nini untuk menyaksikan dan itepretasi Cekungan Bandung, Danau Bandung Purba segmen timur, sekaligus memperlihatkan arah pergerakan pelarian dan persembunyian Dipati Ukur.

Penjelasan singkat selanjutnya adalah mengunjungi Kaldera Rakutak-Dogdog, di lapangan Berling, Pacet. Dari titik ini mengamati tafsir pembentukan kaldera, termasuk penjelasan penangkapan SM Kartosoewirjo di G. Geber, lereng sebelah utara puncak G. Rakukat. Stop terkahir berakhir di Situ Cisanti, hulu sungai Ci Tarum.

Pemberangkatan mulai pukul 8.30 WIB, diikuti oleh 21 orang menggunakan 20 motor dengan variasi jenis metik, trail hingga semi trail. Berangkat dari Kue Balok Haji Emo Ciparay, mengarah ke selatan menuju Gunung Leutik. Dari titik ini Deni menjelaskan posisi geografis Culanagara yang berada di titik tinggi, sehingga sangat tepat sebagai tempat pemantauan. Situs Culanagara dianggap sebagai titik komando atau pusat kendali Dipati Ukur, dalam perlariannya saat dikejar oleh tentara Mataram.

Gunung Bukitcula 1031 m dpl. merupakan perbukitan intrusi (terobosan), muncul dari zona lemah kelurusan sesar yang berah timur-barat. kelompok perbukitan ini menempati wilayah Bale Endah di sebelah barat, dan Ciparay di sebelah baratnya. Punggungan tersebut memilik puncak-puncak diantaranya Gunung Kromong 908 m dpl. Gunung Geulis 1151 m dpl., Gunung Pipisan 1071 m dpl, dan di sebelah timurnya adalah Gunung Bukitcula.

Secara geografis posisi Culanagara yang berada di sebelah utara, dari lereng Bukicula memiliki posisi strategis. Posisi tinggi tersebut bisa memantau ke arah utara secara terbuka, kemudian bagian selatan dibentengi oleh jajaran perbukitan Pakutandang-Bukicula-Pasirnini. Situs Culanagara dihidupi oleh Ci Rasea, sungai yang mengalir di sisis sebelah timur lereng Bukitcula, kemudian bertemu dengan Ci Tarum di Sumbersari Ciparay.

Dalam keterangan selanjutnya, disampaikan oleh Gangan Jatnika berkaitan dengan sejarah pelarian Dipati Ukur di sekitar Ciparay. Gangan menunjukan tiga lokasi yang disebutkan dalam beberapa naskah lama, seperti yang diuraikan dalam penelitiannya Suhardi Ekadjati yang menghimpun delapan sumber naskahl versi Galuh, Sukapura, Sumedang, Bandung, Talaga, Banten, Mataram dan Batavia.

Di situs Culanagara STOP 1, Gangan menjelaskan titik-titik pelarian Dipati Ukur segelah gagal menyerang Batavia. Kekalahan pasukannya membawa akibat penangkapannya karena gagal mengusir VOC di Jayakarta pada 1629. Sultan Mataram memerintahkan penangkapan pasukan Dipati Ukur untuk dibawa ke Mataram dan dijatuhi hukuman. Untuk menghindarai penangkapan tersebut, Dipati Ukur beserta sisa pasukannya yang setia bersembunyi di tiga titik, diantaranya di sebelah utara Cekungan Bandung, di Gunung Pangporang masuk ke wilayah Subang saat ini. Pelariann selanjutnya adalah ke arah selatan, di Culanagara, Ciparay yang berjarak 40 km dari posisi pertama. Sikap demikian dituliskan sebagai pembangkangan terhadap Mataram saat itu. Dipati Ukur mengambil sikap lebih baik berontak daripada mati dibunuh (Ekadjati, 53, 1982).

Di Culanagara inilah Dipati Ukur menyamar menjadi rakya biasa, kemudian menyembunyikan seluruh simbol kerajaannya di Pabuntelan atau saat ini masuk ke dalam wilayah desa Tenjonagara, Ciparay.

Dititik kunjungan berikutnya STOP 2, tepatnya di sekitar Cihonje atau di antara punggungan Bukit Culanagara dan Pasirnini. Di titik ini dijelaskan mengenai posisi pengamantan pasukan Dipati Ukur saat melihat pergerakan tentara Mataram yang mengejarnya. Di titik ini arah pandang terbuka ke arah utara, Cekungan Bandung bagian timur. Kemudian di sebelah selatannya adalah Gunung Malabar, jajaran punggungan  Gunung Kendeng-Papandayan dan Gunung Rakutak-Dogdog di dataran tinggin Pacet.

Selanjutnya perjalanan mengunjungi STOP ke-3 di sekitar lapangan Berling, Sukapura, Kertasari. Di lokasi ini dijelaskan sejarah pembentukan Kaldera Rakutak-Dogdog, merupakan bagian dari rangkaian gunungapi Papandayan-Kendeng-Rakutak/Dogdog. Berdasarkan morfologinya, Rakutak-Dogdog diperkirakan merupakan kawah yang berukuran lebih dari 2 km atau mendekati kelas kaldera. Bila ditarik dari sisi lereng sebelah utara dan selatan, kemudian ditarik garis imajiner, diperkirakan puncaknya mencapai ketinggian lebih dari 3500 m dpl. keucutu tersebut hacur dan dibongkar melalui mekanisme letusan besar, kemudian menyisakan gawir terjal yang bisa disaksikan saat ini.

Seperti yang disampaikan oleh Deni, Gunung Rakutak menyimpan sejarah perjalanan perjuangan RI. Di tempat tersebut menjadi lokasi persembunyian DI/TII yang dipimpin oleh Sekar Maridjan Kartosoewrijo. Pelarian tersebut berlangusung hampir 14 tahun, sejak proklamasi pendirian DI/TII 1949.

STOP ke-4 di Situ Cisanti, atau hulu Ci Tarum sekitar ketinggian 1500 m dpl. Terletak di lereng sebelah utara Gunung Wayang, masuk ke dalam administratif Neglawangi, Kertasari, Bandung. Hulu sungai terpanjang di Jawa Barat ini adalah himpunan dari tujuh sumber mata air di lereng gunung. Diantaranya mata air Cisanti, Cisadane, Cikawedukan, Citarum, Cihaniwung, Cikoleberes dan Cikahuripan.

Kegiatan ditutup dengan acara pengukuhan Pengurus Korwil Bandung Raya, dan pengukuhan anggota PGWI Angkatan I, melalui DIKLAT tangal 20-21 Februari 2021 lalu. (Deni Sugandi)

Penjelasan di perbukitan intrusi Bukit Cula, Bumiwangi, Ciparay
Partisipan bersama kuncen di tugu Culanagara, Gunungleutik

Catatan Geobaik#2 Cukang Rahong

Dimana bobolnya danau Bandung Purba bagian barat? premis inilah yang menjadi bekal rasa penasaran para peserta GEOBAIK2 CUKANG RAHONG. Aktivitas wisata bumi dan sejarah, dikemas dalam perjalanan menggunakan kendaraan roda dua.

Diselenggarakan oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia/PGWI dan DPD HPI Jawa Barat, sebagai upaya mengenalkan wisata bumi kepada masyarakat melalui garapan GEOBAIK yang sudah berjalan untuk kegiatan ke-dua. Seperti kegiatan sebelumya, perjalanan ini menawarkan pengalaman dan  pengetahuan tentang kebumian dan sejarah yang dikemas dalam seri mengenal cekungan Bandung dan Ci Tarum.

Pada hari Sabtu, 30 Januari 2021, tepat satu jam setelah matahari terbit, partisipan telah berkumpul di SPBU Kota Baru Parahyangan. Beberapa peserta telah tiba lebih awal dan sebagian lagi datang sesuai waktu yang telah ditentukan. Seperti biasa, kegiatan dibuka  dengan pengantar rencana kegiatan. Deni selaku Pemandu Geowisata, sekaligus ketua Pemandu Geowisata Indonesia/PGWI membuka acara.

Brifing disampaikan mengenai safety dan persiapan perjalanan, dan latar belakang kegiatan GEOBAIK. Disampaikan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kerjasama PGW Indonesia atau perhimpunan pemandu geowisata dan Himpunan Pramuwisata DPD Jawa Barat. sebelumnya telah dilaksanakan kegiatan GEOBAIK1, mengunjungi bobolnya Danau Bandung Purba segmen timur di Curug Jompong. Acara dibuka kemudian Dindin selaku komandan lapangan, dibantu kang Sobar menjelaskan alur pergerakan kendaraan peserta. Mengingat tiga lokasi yang akan dikunjungi cukup jauh. Menurut estimasi di google maps, total perjalanan menempuh waktu kurang lebih 2,5 jam atau sekitar 57 km.

Jumlah peserta yang bergabung 32 orang, menggunakan 24 motor roda dua, baik berboncengan maupun tidak. Diantaranya dalah pegiat wista, pemandu yang terbagung dengan Himpunan Pramuiwsata, praktisi wisata, youtuber konten kreator, pemilik usaha perjalanan wisata hingga peminat kebumian. Selain menyampaikan tentang kesehatan sesuai CHSE, peserta diingatkan lagi mengenai keselamatan dan keamanan dalam dan di lokasi kegiatan. Rombongan berangkat tepat pukul 7.30 wib, bertolak dari SPBU Kota Baru Parahyangan, menyusuri jalan desa segan Selajambe, Cimenteng Cisupan yang sudah masuk ke dalam wilayah Cipapat.

Pengamatan pertama diberikan di lokasi Cikande, Batujajar. Deni selaku pemandu geowisata memberikan intepretasi tentang bentang alam berkaitan dengan batas rendaman Danau Bandung Purba segmen barat. Dari titik tinggi Cikande, Deni mengajak peserta GEOBAIK membayangkan kembali saat cekungan Bandung barat direndam oleh danau, terbentuk oleh pembobolan danau purba bagian timur di Curug Jompong sekitar 16.000 tahun yang lalu (Dam dan Suparan 1996). Bila kembali memutar ulang sejarah, beberapa peneliiti merujuk bahwa cekungan tersebut terbentuk setidaknya pada Jaman Kuarter Tua (Katili, 1963) saat bergesernya aktivitas vulkanik dari selatan ke sebelah utara. Sedangkan pendapat lainya menyatakan bahwa cekungan Bandung merupakan inter-mountain basin atau cekungan antara pegunungan. Pendapat lain bahkan menyatakan bahwa cekugnan tersebut bisa saja adalah sisa kaldera di masa lalu.

Dari titik ini terlihat jajaran perbukitan intrusi pemantang tengah Lagadar-Selacau, kemudian ke arah selatannya dipagari oleh perbukitan kerucut kelompok Gunung Soreang. Kelompok kerucut tersebut ditafsirkan sebagai kaldera yang pernah meletus besar, kemudian seiring waktu lapuk dan tererosi kuat. Bentuk asalnya sudah hilang, sehingga pusat letusannya sudah tidak ada. Namun dalam intepretasi topografi terlihat lingkar kalderanya, yaitu Gunung Lumbung-Mukapayung. Dalam pemetaan vulkanostratigrafi, dinyatakan bahwa umur batuan Gunungapi Soreang adalah Tersier, atau sekitar 4 juta tahun yang lalu (Bronto, 2006).

Perjalanan dilanjutkan menuju Baranangsiang, Saguling menuju dasar bendungan Saguling. Romobongan diajak ke tempat di antara dua celah sempit yang dipotong oleh Ci Tarum, tepatnya di spill way bendungan. Dari lokasi ini bisa melihat langsung struktur dam Saguling yang ditempatkan diantara dua celah sempit, dengan lebar kurang lebih 300 meter. Celah sempit terebut merupakan aliran Ci Tarum yang bergerak ke arah utara, kemudian ditutup dam untuk menaikan volume air waduk saguling. Bentuk bangunan tersebut adalah miring ke arah luar, dengan tujuan menahan beban dan gaya volume air waduk.

Bendungan tersebut didirikan diantara batuan keras, berupa struktur breksi Formasi Saguling. tinggi struktur bendungan adalah 99 meter dengan tipe urugan batua inti. Tingginya mencapai 650 meter dan mampu menampung volume air hingga 2.79 juta m3. Sumber waduk Saguling berasal dari tangkapan Ci Tarum yang berhulu di Cisanti, kemudian dialirkan melalui pipa pesat di segmen PLTA Saguling yang bersebelahan dengan Sanghyang Tikoro. Total jarak perjalanan pengaliran air dari waduk ke turbin PLTA Saguling, kurang lebih 5 km, dengan memanfaatkan gravitasi. Turbin kemudian digerakan oleh dorongan aliran air, dan menghasilkan listrik untuk kebutuhan jaringan listrik nasional.

Setelah mendapatkan penjelasan, peserta kemudian bergerak mengunjungi stop site berikutnya ke Cukang Ragong, Desa Rahong, Baranangsiang. Petualangan seru selanjutnya disuguhkan dalam kegiatan treking ke lokasi Cukang Rahong, berada di dasar lembah. Melalui bantuan pemandu lokal, peserta diarahkan menggunakan jalur landai hingga curam, menuju jalan setapak yang mengarah ke Curug Hawu.

Jalan setapak yang baru saja dibuka oleh warga Rahong, mengantarkan rombongan kepengalaman yang menarik. Tanah merah hasil pelapukan kemudian diguyur hujan semalam, menyebabkan perlu ekstra hati-hati. Mulai dari landai hingga curam, menapaki jalan setapak yang telah dibuat warga menggunakan sengkedan bambu yang dipasang memalang. Pemasngan bambu tersebut cukup membatu pijakan kaki, sehingga memudahkan melangkah bagi peserta yang tidak terlalu berpengalaman berjalan kaki melalui tanah licin. Beberapa peserta terpaksa harus meminjam sepatu warga, mengingat sepatu yang digunakannya tidak mampu melahap jalur setapak yang licin. Warga di kampung ini biasa menggunakan sepatu dengan bentuk seperti sepatu bola, memiliki bagian runcing di bagain bawah yang berguna mencengkram tanah. “Sepatu yang mahal, kalah sama sepatu kampung” kata seorang warga yang turut ikut dalam rombongan.

Dari lokasi Curug Hawu kemudian berbelok ke arah tenggara, menyusuri Ci Tarum bagian Saguling hulu menuju tempat bobolnya Danau Bandung Purba. Bagian seru petualangan dimulai dengan menelusuri dasar lembah, mengikuti Ci Tarum lama ke arah hulu. Diperlukan waktu kurang lebih 1,5 jam dengan jarak kurang lebih 1.3 km.

Perjalanan disuguhi oleh pemandangan lembah yang menawan, tebing terjal nyaris tegak sempurna yang menandakan proses pelapukan dan erosi yang sangat kuat kemudian digerus oleh Ci Tarum. Tinggi tebing tersebut kurang lebih 30 hingga 50 meter, disusun oleh batuan fragmental yang tersemenkan oleh tufaan dan batupasir. Dalam keterangan Martodjojo (1984) merupakan Formasi Saguling, untuk menamai satuan yang sebelumnya adalah Formasi Citarum Bagian Atas yang ditulis oleh Sujatmiko (1972). Disusun berupa breksi berselang-seling dengan batupasir tufaaan (Brahmantyo, 2008). Diendapkan di lingkungan laut dalam, merupakan endapa turbidit pada kipas bagian atas, dan umurnya antara Akhir Miosen Awal-Miosen Tengah, atau sekitar 22, 5 juta hingga 15 juta tahun yang lalu.

Meskipun jarak tidak terlalu jauh antara curug Hawu dan Cukang Rahong, namun diperlukan waktu satu jam lebih. Jalur sangat menantang, karena didominasi oleh bongkah-bongkah jatuhan batu dalam ukuran sebesar bola sepak hingga mobil avanza. Kondisi demikian menylitkan peserta untuk menapaki setiap jengkal perjalanan, karena harus menaiki bongkah-bongkah batuan tersebut, baik dengan cara memanjat hingga harus merayap karena cukup licin. Bongkah-bongkah batu tersebut melampar sepanjang sungai, berasal dari hasi transporter atau dibawah oleh arus air yang deras, kemudian saling terkunci akibat bobotnya.

Bentukan-bentukan tersebut menjadi menarik, karena digerakan oleh kekuatan alam. Diantaranya hadir beberapa potholes, berupa seperti sumur dengan diameter antara 30 cm hingga 90 cm dengan variasi kedalaman yang beragam. Terbentuk oleh arus yang memutar membawa kerikil, sehingga mampu mengerosi batuan hingga terentuk ceruk-ceruk dalam.

Di Cukang Rahong peserta dihdapkan pada dinding terjal dan tegak. Cukang dalam bahasa Sunda berarti jembatan bambu yang dibangun diantara celah yang tidak terlalu lebar. Sedangkan rahong merujuk kepada sungai deras berbatu dan terjal. Di keterangan masyarakah kampung Rahong, jembatan tersebut terbuat dari bambu, dengan panjang tidak lebih dari 10 meter kemudian disusun secara sederhana menjadi titian. Konstruksinya sederhana, menggunakan struktur silang segitiga, untuk memperkuat dan mampu meanahan beban manusia yang melintas. Dalam foto lama yang bersumber dari Bandoeng en haar Hoogvlakt, sekitar tahun 1950-an, terlihat jembatan bambu yang dipasang di atas tebing terjal tersebut. Namun dalam keterangan warga, jembatan tersebut tidak lagi digunkan karena digantikan jembatan yang lebih baik di sekitar Cikahuripan.

Jembatan tersebut sangat dibutuhkan warga saat itu, sebagai sarana penyebrangan untuk kegiatan kerja ke ladang maupun lainya, menghubungkan antara Baranangsiang Cianjur ke Batujajar, Bandung. Dari sisi geologi, Cukang Rahong menjadi saksi bobolnya danau Bandung purba bagian barat. Semenjak dimulai proses pengeringan kurang lebih 16.000 tahun yang lalu, dinding breksi tesebut dierosi Ci Tarum. Proses yang sangat lama tersebut, akhirnya mampu membobol perbukitan antara Puncak Larang dan Pasir Kiara, mealui proses erosi ke hulu (brahmantyo, 2008).

Gerimis datang lagi sebagai tanda untuk menutup sesi kunjungan di Cukang Rahong. Peserta kemudian kembali ke lokasi pertemuan di kampung Rahong, Baranangsiang untuk menutup kegiatan hari ini. Ada dua lokasi yang tidak bisa dikunjungi, mengingat kondisi waktu dan alam yang mengharuskan menutup kegiatan di Cukang Rahong. Beberapa usulan dan umpan balik dari peserta pada saat penutupan, menyarankan agar kegiatan ini memperhatikan lebih mengenai safety, karena kegiatan petualang ini memiliki hazzard yang sangat tinggi. Seperti treking diantara bongkah-bongkah batu, diwajibkan menggunakan helm sebagai upaya mitigasi kecelakaan di lapangan. Selain itu sangatlah perlu didampingi tim medis, atau pengetahuan dasar bantuan gawat darurat dalam perjalanan ini, mengingat ancaman bahaya berkendara di jalan raya atau semi country road jalan berbatu dan licin. Selebihnya para peserta GEOBAIK2 merasa tertantang dan menikmati setiap langkah kegiatan ini, sebagai alternatif wisata dikala pandemi, untuk terus menggerakan aktivitas sesuai CHSE. (Deni Sugandi)

Brifing rencana perjalann dan safety selama kegiatan di Kota Baru Parahyangan
Partisipan menapaki breksi bobolnya Ci Tarum segmen Cukang Rahong, Saguling
Bongkah-bongkrah breksi yang tererosi oleh aliran sungai