Catatan Geourban #61 Ujungjaya

Conggeang, Sumedang berada di sebelah timurlaut G. Tampomas. Dari sisi sejarah bumi, ditandai dengan batuan tertua Umur Miosen hingga Resen. Di lereng utara G. Tampomas ditempati perbukitan yang ditutupi vegetasi lebat hutan. Disusun oleh endapan batuan gunungapi, diantaranya perselingan piroklastik dan lava. Batuan endapan gunungapi ini membawa air (akifer), muncul dalam bentuk mata air kontak. Hadir melimpah sepanjang masa, walaupun masuk dimusim kemarau. Dibeberapa tempat, kemunculan mata air tersebut memiliki suhu lebih tinggi dari suhu sekitar. Terkonsentrasi di sekitar Conggeang, sebelah timurlaut dan utara G. Tampomas.

Ke arah utaranya merupakan dataran rendah, dibatasi oleh perbukitan Cikamurang (Cikamurang high), sekitar Cipelang. Sebagian besar ditempati oleh sawah warga, mulai dari Ujungjaya hingga berbatasan dengan jalur Tol Cikopo-Palimanan. Disebut dataran aluvial, ditandai dengan

Membaca kembali data lama, dari beberapa peta yang dikonservasi oleh perguruan tertua di negeri Belanda, Universiteit Leiden. Diantaranya data-data tertulis, rekaman gambar hingga lembaran peta yang telah didigitalisasi. Diantaranya peta lama 1909,

Perubahan lingkungan terasa, semenjak pembangunan jalan Tol Cisumdawu. Dampaknya terasa langsung, diantaranya terdampaknya perkebunan warga di sekitar Cacaban. Akibat tumpukan material tanah, hasil cut and fill area rest area Cisumdawu segmen Cacaban, Conggeang. Di sebelah utaranya adalah Desa Ungkal yang dikenal dengan makam keramat Ungkal. Situs tinggalan budaya berupa pemakaman leluhur Ungkal, diduga masih ada keterakaitan dengan peristiwa serangan Mataram ke Batavia pada abad ke-17.

Cacaban
Berita 28 November 2024, melaporkan kejadian longsor di wilayah Cacaban, Conggeang. Berupa aliran lumpur yang terlarut dengan air, mengakibatkan menimbun sebagian ladang pertanian warga. Terjadi akibat penimbunan tanah hasil kegiatan pembangunan rest area sekitar Blok Jembatan Kadongdong. Mengakibatkan terputusnya jalur penghubung Desa Cacaban ke Desa Ungkal, dengan panjang longsoran hampir 100 meter. Sebagian besar material nya turun hingga sungai Cacaban di sebelah utara jalan Tol Cisumdawu.

Gerakan tanah atau longsor ini terjadi dipicu oleh curah hujan tinggi di akhir tahun, kemudian berulang di tahun 2025. Hujan deras meningkatkan bobot tanah dan tekanan pori, sehingga memicu aktivasi bidang gelincir di lereng yang sudah rapuh. Sebelumnya dikondisikan oleh faktor batuan penyusunnya, berupa lempung. Lereng di sekitar Cacaban–Conggeang umumnya terbentuk dari batuan vulkanik muda yang mudah lapuk, dengan lapisan tanah tebal dan permeable atas lapisan kedap air, sehingga berperan sebagai bidang gelincir.

Kondisi penumpasan dan minimnya penghijauan, mengakibatkan turut membantu percepatan kejadian gerakan tanah. Banyak bagian lereng yang terbuka/tidak terlindungi vegetasi berakar dalam, sehingga tanah lebih mudah terbawa air dan tidak terikat dengan baik.

Kondisi demikian perlu penangan segera, sebelum memasuki musim hujan berikutnya. Diperlukan pembangunan drainase yang lebih baik, mengingat ruas jalan Cacaban-Ungkal hingga Kalijambe merupakan lahan yang ditempati oleh tebing dan lereng curam. Sistem drainase yang buruk dapat meningkatkan air hujan yang menyusup (ilfitrasi) dan teruasn air di bawah permukaan.

Situs Kabuyutan Ungkal
Eyang Nayapatra, bersama leluhur lain seperti Mbah Puragati, Eyang Leube, dan Buyut Jerad atau disebut juga Uyut Jeran. Empat leluhur tesebut dianggap sebagai tokoh yang membuka lahan menjadi Desa Ungkal.

Di sebelah utaranya terdapat pemakaman umum, diantaranya tempat peristirahatan Eyang Kalis. Merupakan generasi ke-dua, dari empat kasepuhan Kabuyutan Ungkal. Dari Eyang Kalis, kemudian menurunkan generasi selanjutnya yang menjadi warga Ungkal saat ini. Kemudian sesepuh lainya diantaranya Eyang Gombak, Eyang Ranggit, kemudian di dekat bendungan adalah makam Eyang Rangga Haji.

Dari keterangan juru pelihara, lokasi situs ini diperkirakan merupakan titik pertemuan para pasukan Mataram. Sebelum diberangkatkan ke Mataram melalui Sumedang. Ungkal diperkirakan merupakan salah satu titik persinggahan, sebelum meneruskan menuju Wanayasa melalui Batusirap (saat in Cisalak Subang).

Keempat tokoh tersebut dikaitkan dengan serangan serangan Mataram abad ke-17, ke Batavia. Dari keterangan juru pelihara Kamal, keempat tokoh tersebut merupakan utusan pasukan Mataram, diperintahkan untuk menyerang VOC di Batavia, diceritakan bahwa serangan tersebut terjadi dua kali, 1628 dan 1629. Kedua serangan tersebut gagal, karena kurang baiknya daya dukung teknologi perang.

Situs Mata Air Keramat Dayang Sumbi
Berada sekitar satu kilometer dari Situs Makam Keramat Ungkal, ke arah timurlaut. Keberadaanya dikepung oleh kegiatan tambang, untuk penimbunan waduk Cipanas, di Ujungjaya. Sehingga sebagian besar lahannya telah mengalami degradasi, dan tidak ada tutupan hijau. Menandakan kegiatan tambang yang tidak memperhatikan kondisi lingkungan. Meninggalkan tanggung jawab reklamasi, atau pemulihan kembali menjadi lahan hutan.

Tambang tersebut mengepung satu petak lahan situs budaya Dayang Sumbi, berupa sumber mata air. Luasnya tidak lebih dari 2,8 hektar, berupa lahan yang ditempati pohon tegakan tua. Dari keterangan Kamal, seringkali digunakan sebagai sarana mencari berkah bagi yang mempercayainya. Praktek ini diperkirakan telah ada, sejak abad ke-10 atau bahkan lebih tua. Seperti yang tertera di peta lama 1901, menggambarkan simbol makam muslim.

Kemunculan air tersebut diperkirakan merupakan dari endapan aluvium Kuarter. Keberadaan air tanah dangkal sangat bergantung pada porositas dan permeabilitas dari batuan penyusunnya, seperti batupasir atau endapan sedimen muda yang berperan sebagai akuifer. Struktur geologi, terutama sistem sesar seperti Sesar Baribis yang melintasi wilayah Subang, memegang peranan krusial dalam mengontrol pola aliran air tanah dan sering menjadi faktor penentu kemunculan mata air (Iswahyudi dkk., 2019).

Dari keterangan Kamal selaku Juru Pelihara Situs Kabuyutan Ungkal, memberikan gambaran sejarah situs ini. Dipercayai memiliki hubungannya dengan cerita rakyat Sangkuriang versi Ungkal yang ingin membuat danau, dengan cara membendung aliran (sungai) Ci Panas. Dalam prosesnya, Sangkurian memeriantahkan seekor burung sakti, untuk mengambil air di laut kidul. Kemudian air dibawa dalam batok kelapa, dibawa kembali ke Ungkal. Kemudian batok kelapan tersebut ditempatkan yang saat ini menjadi mata air Dayang Sumbi.

Airnya tidak banyak, dalam bentuk ceruk. Kamal menggambarkan jumlah airnya hanya tersedia sekitar tujuh gayung. Menandakan sumber mata air tanah dangkal, karena batuan penyusunnya adalah lempung. Sifat batuan lempung tidak bisa menyimpan dan meloloskan air, karena sifatnya kedap air. Kondisi permeabilitasnya buruk, sehingga di Ungkal sulit untuk mendapatkan air. Walaupun muncul, hanya di lapisan tipis, atau celah rekahan. Sehingga cadangan air tanah yang bisa dimanfaatkan relatif kecil, serta rentan terhadap penurunan muka air saat musim kemarau.

Ranca Ungkal
Di sebelah barat Desa Ungkal, didapati hamparan sawah. Menempati dataran rendah yang dikelilingi ketinggian perbukitan. Dari pengukuran umum, menggunakan alat bantu google maps,. Diperoleh ukuran kurang lebih 60 hektar, sebagian besar ditempati sawah warga.

Dari keterangan ibu tua bernama Oyi (68 tahun), waga kampung Ungkal. Menggambarkan bahwa sebagian besar sawah yang dikerjakan warga sekitar ini adalah awalnya rawa. Disebut dengan Ranca Depok, atau nama lain yaitu Nyalindung. Di sebelah baratnya didapati kolam yang dalam, membentuk lingkaran oval disebut Jobar. Dari keterangan lanjutan, menurut pa Asnen (80 tahun), jobar adalah kolam. Berbentuk memanjang relatif baratdaya-timurlaut, dengan panjang sekitar 183 meter, dan lebar 75 meter. Selalu berair, dan diperkirakan dalam. Sekitarnya berupa lumpur berwarna hitam dan sangat tebal.

Gambar di atas disandingkan dengan data lama, peta lama yang diproduksi kolonial Belanda. Topographisch Bureau, herzien in de jaren 1907-1908. Memberikan gambaran bentang alam pada abad ke-19. Desa Ungkal dipagari oleh tinggian perbukitan Panenjoan 280 mdpl. di sebelah utara. Kemudian di sebelah timurnya terdapat perbukitan Garijo 301 mdpl. ke arah selatannya dibatasi oleh Pasir Peusar 270 mdpl. Kemudian sebelah baratnya, berbatasan dengan Ci Panas, sungai yang mengalir dari selatan ke utara.

Ungkal menempati wilayah dataran rendah (aluvial). Pada peta lama tersebut rawa menempati sebagian besar wilayah rendah, sedang ke arah utaranya relatif lebih tinggi. Masyarakat menyebutnya ranca, atau rawa. Menandakan bahwa sebagian besar wilayah tersebut didominasi rawa. Pa Asnen menyebutkan bahwa di sebelah baratnya ditempati oleh lumpur berwarna hitam, menandakan sisa dari endapan rawa pada masa lalu. Berupa endapan lumpur tebal, sehingga masyarakat seringkali menghindari lokasi tersebut. Dianggap membahayakan, karena akan jatuh seperti terhisap oleh lumpur tersebut. Masyarakat menyebutnya jobar.

Selanjutnya masyarakat memanfaatkan air tanah dangkal rawa, dengan cara membuat pantek atau sumur. Kondisi rawa memungkinkan air tanah berada dekat permukaan, sehingga perlu di tarik ke permukaan. Digunakan menggunakan pompa listrik atau dengan cara manual, sehingga air dari bawah tanah bisa dimanfaatkan untuk pengairan sawah.

Situs Batukorsi Cipatat
Berada di Desa Sekarwangi, Buahdua, Sumedang. Keberadaanya di tepi batas antara sawah warga dan perbukitan. Dipotong oleh jalan kampung, membelah persawahan warga. Sebelah utaranya adalah jalan kabupaten, menghubungkan Conggeang ke Kota Sumedang.

Sawah sekitar Kampung Cipatat tumbuh subur, dialiri air dari beberapa sumber mata air melimpah. Muncul dari tinggian Pasir Cikapunduhan 869 mdpl. (Army Map Service, 1943), lereng utara G. Tampomas. Sebelah selatannya, mengalir Ci Kumutuk kemudian bergabung dengan Ci Panas di Ciasem. Desa ini merupakan pemekaran dari Cilangkap, 31 Januari 1981. Bila ditelusuri dari peta lama, Topographisch Bureau (1909), merupakan wilayah Lebaknaga. Berupa tekuk lereng G. Tampomas, dicirikan dengan perbukitan yang sedikit curam. Merupakan kawasan hutan yang masih lestari, sehingga menjadi media imbuhan yang baik.

Di sebelah timur kampung Cipatat, terdapat beberapa sumber mata air. Muncul diantara sela-sela batuan gunungapi. Mengalir mengikuti lereng bukit, kemudian jatuh ke irigasi. Sistem aliran air ini dibangun warga untuk menampung dan mengalirkan air ke sistem irigasi sawah. Lereng curam tersebut disusun oleh bongkah batuan beku, beragam ukuran dan bentuk. Diantaranya adalah bentuk yang menyerupai seperti kursi. Warga menyebutnya Batukorsi, dengan ukuran sekitar tinggi 2 meter. Berupa lava tebal, segmen dari bagian aliran lava tebal G. Tampomas.

Sekitar Batukorsi, muncul beberapa titik mata air. Menandakan dikendalikan oleh sistem mata air tanah dangkal. Kemudian di sebelah timur, terdapat sumber mata air dengan debit besar. Suhunya sama dengan kondisi temperatur di lingkungan sekitar, tetapi meninggalkan endapan berwarna kuning tua. Terbentuk karena kandungan zat besi (dan kadang mangan) yang terlarut dalam air tanah, lalu teroksidasi setelah bersentuhan dengan udara.

Keberadaan Batukorsi di lokasi kemunculan mata air ini, memberikan makna tentang kelestarian lingkungan. Kursi memiliki makna penguasaan, sehingga air harus diberikan haknya untuk terus mengalir.

Sesar Naik Cibuluh, Bukti Bumi Tidak Diam
Dari Desa Ungkal, kemudian bergerak ke arah utara. Melalui jalan utama yang menghubungkan Ujungjaya Conggeang, kemudian dari Pasar Ujungjaya berbelok ke arah utara menuju Cijelag. Dari sini kemudian bertemu dengan jalan poros Ujungjaya Cikamurang, jalan raya kelas provinsi. Sekitar Cipinangpait, kemudian berbelok memasuki jalan desa. Sekitar 2.5 km, atau 10 menit perjalanan akan tiba di Desa Cibuluh. Persis di balik hunian warga, didapati lahan kosong, sisa kegiatan tambang.

Warga menyebutnya blok Cibeusi, Cibuluh. Berupa lahan sisa kegiatan tambang batu dan pasir. Saat ini telah ditutup karena persoalan perizinan dan kelayakan persyaratan tambang yang belum terpenuhi. Sedikit berjalan kaki ke arah selatan, menyusuri jalan tanah. Tiba di lahan luas hasil penambangan, dicirikan dengan tebing-tebing yang terjal hasil pengerukan.

Terdapat dinding tegak hasil pematahan batuan, bagian dari deformasi tektonik. Berupa singkapan batuan berlapis naik terhadap blok sebelah utara. Pematahan pada batuan itu, disebut sesar naik segmen Cibuluh, Ujungjaya, Sumedang. Bagian dari sesar naik busur belakang Jawa Barat atau back arc thrust West Java.

Kehadiran bukti tersebut, memiliki potensi yang bisa dikembangakan sebagai situs tapak bumi. Bukti bahwa tektonik masih bergerak hingga kini, menghasilkan deformasi batuan. Sehingga keberadaanya harus dikonservasi, sebagai sarana pendidikan dan warisan bumi Sumedang.

Catatan Geourban#45 Jembarwangi

Selepas bulan Juli 2025 usai, pembangunan jalan Lingkar Utara Jatigede telah selesai dibangun. Walaupun belum resmi dibuka, tetapi bisa dilintasi dalam jumlah kendaraan terbatas. Kesempatan inilah dimanfaatkan, meninjau jalan yang melingkar sisi utara waduk Jatigede, Sumedang. Kegiatan ini merupakan bagian dari acara Geourban ke-45, dengan tajuk Jembarwangi pada 10 September 2025, 

Kegiatan inisiasi wisata bumi sekitar Sumedang, dimulai dari sisi sebelah utara Waduk Jatigede. Memanfaatkan jalur baru lingkar utara, dari percabangan jalan kabupaten Situraja ke Darmaraja. Mulut jalan berada di sekitar tanjakan Cinangsi yang berada dibahu dua gunung. Sebelah timurnya adalah G. Baju, dan ke arah timurnya G. Tanjung. Jalannya lebar, diapit oleh parit drainage. Menandakan kelas jalan lingkar ini merupakan proyek nasional. Selepas percabangan Cinangsi, disambut oleh jalanan yang mendaki. Agar tidak terlalu terjal, dilakukan pembobokan perbukitan G. Tanjung 519 mdpl. Kemudian dilanjutkan ke arah timur yang mulai melandai melewati perbukitan Pasir Hingkik 513 mdpl.

Arah pandangan luas tidak terhalang. Ke arah timur terlihat hamparan air yang luas. Waduk Jatigede menenggelamkan 28 desa, dari 5 kecamatan sejak 2015. Dibutuhkan waktu hampir setengah tahun, untuk mencapai paras air optimal. Luas genangan airnya saat ini, kurang lebih sekitar 42 km2. Titik tinggi paras airnya, 260 meter di atas mukalaut. Satu-satunya pulau yang tampak dari arah Cinangsi, adalah G. Surian 310 mdpl. Kerucutnya timbul di atas hamparan air, berhadapan langsung dengan poros bendungan Jatigede. 

Sekitar 15 menit berkendara, di sebelah timur terlihat perbukitan yang mengungguli tinggian. Disebut Pasir Julang, atau masyarakat menyebutnya G. Julang. Dalam peta geologi lembar Arjawinangun (Djuri, 2011), merupakan Hasil Gunungapi Tua-Lava (Qvl). Produk G. Lingga 1125 mdpl.  Dalam tafsiran berdasarkan peta geologi tersebut, memberikan dugaan arah aliran lavanya mengalir ke timur laut hingga Nangerang. Sehingga diperkirakan G. Julang merupakan fasies proksimal (Bogie & Mackenzie, 1998). Perkiraan lainnya adalah perbukitan tersebut merupakan hasil penerobosan magma, disebut intrusi batuan beku. Menerobos batuan sedimen 

Bila merujuk pada pendapat di atas, memberikan petunjuk bahwa G. Julang bukan perbukitan intrusi batuan beku. Melainkan produk aliran lava G. Lingga yang berada di sebelah barat daya yang berjarak sekitar 4.5 km. Disusun batuan beku, berwarna abu terang menandakan didominasi mineral andesitik. Sejak awal pembangunan Waduk Jatigede, sumber batuan yang berada di G. Julang dimanfaatkan untuk kegiatan pembangunan poros waduk diantaranya adalah sebagai agregat. Lahan seluas 55 Ha, tersebut kini direncanakan akan ditambang kembali untuk kebutuhan Bendungan Cipanas. Hanya terlihat beberapa warga yang masih memanfaatkan batuan tersebut, dengan cara penambangan tradisional. Sebagai batu hias, dan pondasi dalam skala tambang kecil.

Saat ini G Jualang tidak lagi menjulang. Sebagian besar tubuhnya telah hilang hasil kegiatan tambang sejak tahun 70-an akhir. Batuannya masih, berupa lava tebal dengan ciri terkekarkan. Menandakan batuan tersebut terdeformasi, akibat kegiatan tektonik. Di sebelah utaranya merupakan jalur sesar Baribis, sehingga kegiatan tektonik tersebut mempengaruhi secara langsung pada batuan. Sebagian besar kawasan ini membentuk bentang alam berupa ceruk, dan sebagian besar membentuk dataran seperti mesa. Tinggian yang terpancung, menyisakan lapangan yang datar. Sebagian besar batuan yang singkat, terkekarkan dengan kuat, membentuk struktur rekahan atau patahan pada batuan (deformasi). Sebelah barat daya, didapati fitur batuan yang membentuk seperti kepala burung. Berupa susunan kekar kolom, tersisa dari kegiatan tambang. 

Menurut warga, fitur batuan tersebut hasil kegiatan tambang menggunakan alat berat. Namun karena batuannya terlalu keras, mengakibatkan alat berat tersebut menyerah. Sehingga ditinggalkan begitu saja, meninggalkan bentuknya pipih. Sehingga masyarakat menyebutnya batu kipas. Disusun oleh batuan beku, berwarna abu terang ciri andesitik. Berada pada ketinggian, sebagian besar bagian bawahnya telah hilang oleh kegiatan tambang, menyisakan blok batuan. 

Dari G. Julang menjadi titik terbaik untuk melihat panorama Waduk Jatigede. Dengan demikian, BBWS berencana mengembangkan kawasan ini sebagai objek wisata berupa vie point atau anjungan pandang.  Rencana tersebut membutuhkan kajian, agar selaras dengan kondisi lingkungan, kemampuan untuk pengelolaan wisata berkelanjutan. 

Sebelah timur laut dari G. Julang, mengikuti jalan Lingkar Utara Jatigede akan menemui situs. Masyarakat menyebutnya Situs Karamat berupa kumpulan batuan dengan ukuran bongkah. Dilingkari oleh pagar besi, menyusun tinggian yang ditempati oleh pohon tegak. Warga menyebutnya petilasan, atau tempat yang pernah menjadi tempat singgah atau disakralkan. Tempat suci yang digunakan sebagai kegiatan ritus, atau sebagai simbol budaya. Informasi mengenai Situs Karamat ini sangat terbatas, karena tidak ada informasi baik dalam tinggalan prasasti atau sumber primer seperti naskah. 

Sumber batuannya bila merujuk pada peta geologi Arjawinangun (Djuri, 2003). Berupa batuan beku yang diperkirakan sama dengan yang ditemui di G. Julang. Berupa Hasil Gunungapi Muda tak Teruraikan. Diantaranya breksi, lava bersifat andesit dan basal, pasir tufan, lapili. Bentuknya lonjong, saling menumpuk. Menurut warga, situs ini merupakan bagian puncak, ditandai dengan batu yang disimpan berdiri seperti menhir. Posisi situs berada ditengah jalan yang menghubungkan antaran Cinangsi ke Pajagan. Namun bila melihat peta lama lembar Darmardja (1943), berada pada ketinggian perbukitan. Dalam peta tersebut belum menunjukan garis jalan. Namun dalam keterangan bapak Asep, kampung yang berada di sekitar situs, merupakan hasil relokasi akibat penggenangan waduk. 

Pada peta lama lembar Soedapati (1911), lokasi situs berada di daerah disebut Bantarjambe. Sesuai dengan nama Sekolah Dasar yang masih menggunakan nama yang sama. Dengan demikian diduga, kampung di sekitar situs merupakan relokasi dari kampung Legok. Posisinya sebelah timur, di bawah lembah yang kini menjadi batas paras air Waduk Jatigede. Untuk menghindari penggenangan, maka warga Legok kemudian bergeser ke dataran yang lebih tinggi disekitar Bantarjambe saat ini. 

Saat ini keberadaan situs telah dilindungi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, melalui undang-undang cagar budaya Nomor 11 Tahun 210 Tentang Cagar Budaya. Disebut Situs Makam Karamat, Cigintung, Sumedang. 

Lokasi selanjutnya adalah Pasir Pareugreug. Merupakan blok yang naik, disebut sesar anjak busur belakang. Merupakan sistem Backarc Java Thrust, segmen Baribis. Blok yang naik ini kemudian dimanfaatkan sebagai poros bendungan. Dinding bendungan yang berarah timur-barat, sesuai dengan arah sesar Baribis. 

Dari atas Pasir Pareugreug, bisa menyaksikan ke segala arah. Di timur terlihat lembah yang dalam, ditoreh oleh Ci Manuk. Aliran outlet dari spillway poros Waduk Jatigede. Mengalir membelah perbukitan terlipat, diapit oleh G. Tonjong sebelah barat, dan G. Pakayuan 330 mdpl., di bagian timur. Alirannya mengarah ke utara, melalui Parakan Kondang. Kemudian Desa Karedok. Alirannya kemudian dibendung kembali, oleh bendungan Bunut.

Dari Pasir Pareugreug, kemudian turun ke arah Desa Karedok melalui lereng Pasir Sema. Jalanan curam, tetapi sebagian besar sudah di beton dan aspal. Menjelang memasuki Desa Karedok, didapati situs Keramat Sunan Pada. Di keterangan papan informasi, gerbang masuk situs berbunyi Situs Keramat Sunan Pada, ayah dari Ratu Cukang Gedeng Waroe. Sunan Pada adalah mertua dari Geusan Ulun yang berkuasa sebagai raja Sumedang. Dari 1579, naik tahta sebagai raja melalui amanat untuk meneruskan kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran. 

Jalannya berupa turunan yang terjal, sisi sebelah baratnya dibatasi oleh gawir terjal Pasir Pareugreug. Dibeberapa tempat terlihat dinding perbukitan tersebut disusun oleh batuan  breksi gunungapi. Seperti dilaporkan pada awal hadirnya perkampungan ini pernah mengalami bencana. Berupa gerakan tanah atau longsor, mengakibatkan posisi kampung haru bergeser ke arah utara ke kampung Rancakeong dan Babakan Dobol. Lebih mendekati bantaran Ci Manuk.

Dihujung kampung, dibatasi oleh genangan air Ci Manuk. Membentuk danau yang terbentuk karena aliran tersebut di tahan oleh Bendung Bunut. Membentang sekitar 380 meter, menutup celah sempit Ci Manuk di Desa Karedok, Jatigede. Bendungan ini berfungsi untuk penyaluran irigasi, penyedian air baku dan sistem pengendali banjir. 

Dari Cibunut kemudian beralih ke arah Jembarwangi di sebelah timur. Jaraknya kurang lebih 7 km. mengikuti jalan fasilitas Waduk Jatigede melalui lintas timur. Di sekitar Cijeungjing kemudian berbelok ke arah tenggara, memasuki desa Jembarwangi bagian barat. Sebelum tiba di Kantor Desa, jalanan mengikuti jalur turunan curam, berakhir di Ci Saar. Sungai yang membelah Desa Jembarwangi, mengalir ke arah utara. 

Merujuk pada beberapa penelitian, kawasan ini disusun oleh batulempung, dan serpih gampingan yang memiliki tebal hingga 650 meter. Bagian dari Formasi Cisaar, berumur Miosen Tengah atau sekitar 15 juta tahun yang lalu. 

Dalam laporan penelitian paleontologi, disebut lembah Cisaar. Memiliki potensi dan sebaran fosil vertebrata. Mulai diteliti sejak lama, namun secara berkala dilakukan oleh Badan Geologi, melalui tim Museum Badan Geologi, KESDM sejak 2019. Diantaranya telah ditemukan beberapa fosil, di titik ekskavasi  di beberapa lokasi yang tersebar sepanjang Ci Saar. Keberadaan fosil vertebrata atau mamalia besar tersebut, menunjukan bahwa sebagian besar lembah Cisaar saat itu dalam kondisi lingkungan estuari. 

Fosil yang ditemukan, tertanam pada batuan dan tanah yang telah lapuk. Sebagian tersingkap di permukaan akibat kegiatan erosi, dan dibawa oleh air. sehingga beberapa fragmen ditemukan tersebar dari barat ke timur. Semua ditemukan pada Formasi Citalang, disusun konglomerat,  dan batupasir tufaan, merupakan lingkungan endapan darat dengan sistem sungai teranyam (braided stream deposits). Umurnya Pleistosen sekitar 1,2 juta tahun yang lalu. Diantaranya ditemukan rahang bawah Stegodon trigonochepalus (Wibowo et. Al., 2018). Lembah Cisaar, Jembarwangi saat ini menjadi salah satu situs baru, untuk kegiatan penelitian paleontologi vertebrata di Jawa bagian barat.

Batukipas, G. Julang Jatigede, Sumedang
Situs Karamat. Cigintung
Di puncak Pasir Pareugreuh.
Fosil vertebrata di Lembah Cisaar

Catatan Geourban#36 Tenjolaut

Dalam kegiatan penelusuran sejarah Sumedang Larang, dibagi ke dalam beberapa kali perjalanan. Dibungkus dalam wisata bumi, menapaki kembali hubungan antara dinamika bumi, sejarah manusia yang hadir di atasnya dan ekologi yang berkembang. Dalam kesemapatan wisata bumi kali ini, mendatangi tempat yang pernah menjadi puseur dayeuh atau ibukota Sumedang Larang. Pusat pemerintahan kabupaten, saat berada di bawah kekuasaan Mataram Islam. Lokasi yang dikunjungi adalah sekitar Tenjolaut, Desa Padaasih, Kecamatan Conggeang.

Tenjo adalah melihat atau memandang,  sehingga menarik makna tenjolaut adalah satu tempat yang bisa melihat laut. Seperti yang diterapkan pada Dusun Tenjolaut, Desa Padaasih, Sumedang.

Dari beberapa keterangan, makna tersebut bisa diartikan dalam dua pengertian. Makna toponiimi yang pertama seperti yang diuraikan di atas, sedangkan arti kedua bisa disejajarkan dengan genang lkaut dimasa lalu. Lautan yang luas yang terbentuk dimasa lalu, saat sebagian besar Sumedang berada di bawah permukaan laut.

Bukti Tenjolaut di Desa Padaasih perah di bawah laut gambarkan dalam Peta Lembar Geologi Arjawinangun (Djuri, 2011). Menuliskan bahwa sebagian besar Padaasih, disusun oleh Anggota Batulempung Formasi Subang. Diendapkan pada saat kondisi laut dangkal, dengan kemungkinan adanya napal yang ikut teredapkan. Pengendapannya menghasilkan batulempung berlapis, dengan tebal 2900 meter. Selaian memiliki narasi sejarah lahirnya wilayah, Pasir Tenjolaut merupakan bukti bahwa sebagian besar Sumedang masih tenggelam di bawah laut. Seiring waktu, akibat kegiatan tektonik akhirnya terangkat ke permukaan, hingga setinggi 326 meter dpl.

Masyarakat menyebutnya Bukit Pasir Putih. Bukit yang biasa disebut pasir dalam bahasa Sunda, tetapi dalam makna disini berarti butir pasir. Sehinga diartikan bukit yang disusun pasir dan berwarna cenderung putih karena kontras dibandingkan lingkungan sekitarnya.

Berupa perbukitan, bagian dari lereng G. Tampomas di arah baratnya. Sehingga perbukitan ini posisinya lebih tinggi dan landai ke arah timur. Kondisi topografi demikian, menjadi tinggian yang terbuka ke arah timur dan utara. Sehingga pendiri dusun Tenjolaut masih bisa menyaksikan garis pantai utara, sekitar Indramayu. Sedangkan Cirebon tertutup oleh kerucut G. Cereme.

Bukit Pasir Putih Tenjolaut atau Pasir Tenjolaut (pasir adalah bukit), seiring waktu tererosi oleh air. Diaantaranya mengali sungai-sungai yang mengalir dari barat ke timur. Seperti Ci Bodas yang berada di sebelah selatan Tenjolaut. Kemudian Ci Pelang yang bergabung dengan Ci Paray di Batukarut. Sungai-sungai tersebut mengerosi batuan yang sifatnya mudah lapuk, sehingga terbentuk lembah-lembah dan jurang yang dalam. Dampak erosi yang terus terjadi hingga kini, diantaranya perubahan bentuk lahan, air cenderung keruh dan pendangkalan sungai. Longsor terjadi di dusun Batukarut, Desa Padaasih. Terjadi pada 22 November 2022 melalui laman sosial media desa https://www.instagram.com/p/ClQZnvPytm8/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA== Dampaknya adalah hampir 30 hektar sawah tidak mendapatkan pengairan.

Akibat batuan penyusunnya dalah batulempung berlapis, menyebabkan sering terjadinya gerakan tanah. Seperti yang terlihat di Pasir Tenjolaut, membentuk bidang longsor setengah lingkaran. Mekanisme gerakan tanahnya adalah nendatan, bergerak lambat akibat kenaikan muka air tanah. Selain itu sifat batuan ini memiliki permeabilitas yang buruk, tidak mampu meloloskan air. Sehingga beberapa sungai akan meluap, bila terjadi hujan besar dihulu.

Keterdapatan sumber mata air diwilayah ini, berasal dari daerah imbuhan di sebelah barat. Merupakan dataran tinggi dan perbukitan, lereng G. Tampomas. Batuannya disusun oleh endapan vulkanik, sehingga memiliki sifat batuan pembawa air. Syarata inilah salah satu alatan pemindahan kerjaan Sumedang Larang abad ke-17.

Tenjolaut merupakan dataran rendah, dikelilingi oleh pesawahan. Pada abad ke-17 akhir, menjadi ibu kota Kabupaten Sumedang, pada saat pemerintahan Raden Bagus Weruh. Dinobatkan menjadi bupati Sumedang 1633 – 1656, dengan gelar Rangga Gempol II. Ibu kota pemerintahannya dialihkan dari Timbangante ibu kotanya di Tegalluar (saat ini Kabupaten Bandung) ke Tenjolaut, Conggeang, Sumedang.

Pengalihan pusat pemerintahan tersebut, merupakan kelanjutan penangkapan Dipati Ukur pada 1633 di Gunung Lumbung Cililin. Dari wilayah inilah Rangga Gempol II memerintah, melanjutkan kekuasaan Kabupaten Sumedang yang dipimpin Rangga Gede.

Dampak lainya dari pemberontakan Dipati Ukur, 1633 Agung dan penerusnya Amangkurat I, mereorganisasi wilayah priangan. Dengan mempersempit wilayah Sumedang dengan membagi wilayahnya menjadi kabupaten pemekaran. Diantaranya Kabupaten Bandung, Sukapura dan Parakanmuncang.

Selain itu, melalui kebijaksanaan Amangkurat I pada 1641 (suksesi dari Sultan Agung) menghapus fungsi Bupati Wedana. Sehingga Rangga Gempol II, memiliki jabatan yang sama dengan bupati lainya. Kondisi demikian yang menyebabkan Rangga Gempol II kecewa, hingga 1656 mengundurkan diri. Dilanjutkan oleh puteranya bergelar Pangeran Panembahan, diangkat menjadi Rangga Gempol III. Tokoh kontroversial yang ingin mengembalikan Sumedang sebagai kerajaan berdaulat.

Dari informasi kepercayan masyarakat, penamaan Tenjolaut berhubungan dengan kondisi bentang alam. Menurut cerita orang tua, kawasan ini sebelumnya pernah ditempati laut dalam. Sedangkan pendapat lainya, dari lokasi ini bisa melihat patai utara, di balik G. Ciremai. Keberadaan bukti laut dalam, bisa ditemui di bukit Pasir Putih Tenjolaut di Blok Jukut. Berupa perbukitan yang disusun oleh Anggota Batulempung Formasi Subang (Tms). Berupa batulempung mengandung lapisan batugamping napalan abu-abu tua, batugamping. Setempat ditemukan sisipan batupasir glukonit hijau (Djuri, 2011).

Selain itu, sekitar wilayah ini ditempati pesawahan yang luas. Menempati hampir semua bagian Conggeang. Total luas wilayah Conggeang sekitar 65,36 km2 (BPS Sumedang, 2016). Pembukaan sawah sudah dilakukan, saat Sumedang berada di bawah kekuasaan Mataram (1620). Dengan cara alih teknologi orang-orang Banyumas ke Conggeang, dan perluasan sawah disertai pembangunan sistem irigasi, seiring dengan pembukaan lahan. Mengkonversi hutan menjadi sistem sawah. Ekstensi sawah tersebut sebagai strategi penguatan pangan, dilakukan Mataram dalam mendukung ekspansi wilayah ke Jawa bagian barat.

Situs Patilasan Bupati Sumedang, Rangga Gempol II di Tenjolaya, Padaasih.
Bongkah lava di jalan menuju Pasir Tenjolaut.
Pasir Tenjolaut, disusun batulempung.
(sungai) Ci Pelang yang mengerosi batulempung Formasi Subang.