Catatan Singkat Geourban#56 Bunihayu

Perjalanan sehari di kegiatan Geourban ke-56 dimulai dari Cikole Lembang. Jelang pagi, sekitar pukul 7.30 WIB, jatuh pada hari Minggu, 8 Februari 2026. Walaupun cuaca sedikit kabut menggelayut, tidak menyurutkan pelaksanaan kegiatan.

Perjalanan diarahkan menuju Subang, melalui Ciater kemudian dilanjutkan ke arah Sagalaherang. Di lereng G. Tangkubanparahu sebelah barat, jalanan Ciater tampak bersolek. Jongko pedagang yang biasanya menutupi pemandangan di tepian jalan, kini telah tidak ada. Ditertibkan melalui keputusan Gubernur Jabar perihal penataan ulang kawasan Ciater-Subang. Sebagai gantinya adalah jalan yang kini semakin dipoles, hotmix, perbaikan saluran drainase. Menjelang jembatan Ci Pangasahan, saat ini telah dibangun pelataran wisata pemandangan. Disebut Taman Dewi Sartika, berupa platform yang dibuat bertangga, menghadap ke arah timur. Sehingga dari titik ini menjadi tempat terbaik untuk menyaksikan matahari terbit, Selain itu melihat jajaran gunung dan perbukitan di sebelah utara hingga ke arah timur.

Dari titik ini terlihat jajaran perbukitan dan kerucut gunnugapi tua. Ke arah timur, hadir jajaran perbukitan G. Karamat 1510 mdpl., bersandingan dengan Pasir Ipis 1254 mdpl. Ke arah timurnya, terlihat kerucut khas berupa dua kerucut yang berada pada satu tubuh gunung, disebut G. Canggak 1619 mdpl. Sedikit ke arah timurlaut, terlihat kerucut G. Tampomas yang hadir dalam selimut kabut.

Sebelah utara dari taman ini, tepatnya di Jembatan Ci Pangasahan, Ciater. Merupakan bukti sejarah, perlawanan tentara kerajaan Belanda atau KNIL, menghadapi serangan tentara Jepang. Dikenal dengan perang Tjiater Stelling atau pertempuran di Ciater pada 5-7 Maret 1942. Di Perlintasan jalan inilah mengakhiri kekuasaan Kolonial Belanda di Indonesia, kemudian diganti penjajahan Jepang selama 3 tahun lebih.

Bergerak ke arah utara, melalui percabangan Ciater-Panaruban. Jalannya menurun, menandakan bagian dari lereng G. Tangkubanparahu bagian distal atau kaki gunung. Menurun ke arah Sagalaherang, sejajar dengan aliran Ci Koneng (sungai). Alirannya berasal dari lereng sebelah utara G. Tangkubanparahu, mengalir ke utara. kemudian bergabung dengan Ci Muja di sekitar Cicadas, sebelah utara Panaruban. Dari peta geologi lembar Bandung (Silitonga, 2003), sebagian besar batuan yang tersingkap adalah alira lava. Batuannya berwarna abu gelap, menempati dasar sungai. Membentuk ceruk-ceruk dan air terjun di sekitar Panaruban. Diantaranya Curug Karembong, Curug Sawer, Curug Gua Badak, Curug Cisaga dan sebagainya.

Tiba di Sagalaherang, bertemu dengan persimpangan. Ke arah barat menuju Wanayasa, dan sebaliknya ke arah timur menuju Subang. Sekitar Sagalaherang Kaler, kemudian berbelok ke arah utara. Merupakan jalur alternatif ke kota Subang, melalui Batukapur. Jalannya sempit dengan turunan terjal, terutama saat akan memasuki daerah Batukapur. Di sebelah kanan jalan merupakan lembah dalam yang disayat oleh Ci Nangka. Sungai yang berasal dari lereng sebelah utara G. Tangkubanparahu. Kemudian bergabung dengan beberapa anak sungai, seperti Ci Nangerang, Ci Longok, Ci Taraban yang berasal dari Gunung Batu Kapur 543 mdpl. Semua anak sungai kemudian bergabung dengan Ci Asem.

Aliran Ci Asem dialasi batuan beku. Berwarna gelap, dan masif. Secara umum terlihat struktur batuan yang terdeformasi, menandakan adanya struktur yang bekerja di wilayah ini. Keberadaan struktur patahan, digambarkan pada peta Geologi Lembang Bandung (Silitonga, 2003). Berupa garis patah-patah, diduga adanya struktur. Berupa patahan yang memotong Gunung Batukapur, dengan arah relatif baratlaut-tenggara. Bukti keberadaan struktur tersebut, adalah hadirnya mata air panas Batukapur.

Curug Agung Mengalir di Atas Aliran Lava
Kondisi jalan lintas jalan alternatif Sagalaherang ke Subang via Batukapur, relatif dalam kondisi baik. Berbeda dengan tahun lalu, masih berupa jalanan aspal yang berlubang, dan sebagian berbatu. Saat ini sebagian besar jalannya telah di beton, sehingga bisa dilalui dengan aman oleh beberapa jenis kendaraan. Kondisi demikian mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, karena akses telah tersedia dan baik.

Perjalanan dari arah Sagalaherang ke arah Curugagung, didapati persimpangan jalan. Ke arah barat, melalui jembatan yang melintasi Ci Asem. Kemudian mengarah ke Dawuan. Sedangkan jalan lurus, menuju kota Subang. Sekitar jembatan Curugagung, sekitar 50 meter ke arah utara didapati aliran Ci Asem. Airnya relatif deras, merupakan pertemuan beberapa anak sungai yang berasal dari berapa tinggian. diantaranya Gunung Batukapur di sebelah timur, dan jajaran perbukitan

Memasuki Desa Curugagung dari arah Sagalaherang, dicirikan dengan persimpangan jalan antara Subang dan ke Dawuan. Selepas jembatan, mengalir Ci Asem ke arah utara. Aliran airnya mengalir di atas batuan lava tebal. Dalam peta Geologi Lembang Bandung (Silitonga, 2003), merupakan aliran lava batuan gununugapi muda Tak Teruraikan (Qyl), berumur Kuarter. Sumbernya berasal dari G. Tangkubaparahu, sama (ekivalen) dengan aliranlava di Curug Dago, Bandung. Umunryan

Masyarakat menyebutnya Curugagung, berupa air terjun bertangga. Membentuk ceruk di bagian atas, dan kolam di bagian bawah. Akibat aliran airnya deras, sehingga mengerosi batuan membentuk air terjun bertingkat. Tingginya sekitar 3 meter di bagian atas, kemudian air terjun utamanya dengan tinggi 10 meter. Di bawahnya didapati kolam konsentris, akibat hasil kegiatan erosi oleh arus air.

Dialasi oleh batuan beku berwarna abu-abu gelap, didapati lubang-lubang gas. Disebut vesikular, tekstur berlubang yang terbentuk akibat pelepasan gas. Pada saat lava mengalir, membawa gas yang terlarut, kemudian seiring pembekuan (dingin) gas-gas tersebut dilepaskan. Batuannya tebal dan masif, berwarna abu-abu gelap. Sebagian besar batuannya terdeformasi, menandakan hadirnya sistem sesar di daerah tersebut. Keberadaan air terjun tersebut merupakan bukti hadirnya struktur. Dikonfirmasi dari hasil penelitian P.H. Silitonga (2003), berupa garis putus-putus berarah relatif baratlaut-tenggara.

Bukti Sesar di Curug Cinangrang
Terletak di Bunihayu, Jalancagak, Subang. Didapati air terjun yang mengalir di dinding tegak. Kemudian di sebelah baratnya terdapat beberapa sumber mata air panas. Dari peta lama lembar Djambelaer (1912), memperlihatkan simbol mata air panas.

Air terjun Tangerang dipercaya sebagai air terjun keramat, sehingga oleh sebagian masyarakat di masa lalu dimanfaatkan sebagai sarana kegiatan sakral. Namun pada saat ini, kawasan tersebut telah berkembang menjadi sarana wisata. Dikelola melalui paguyuban wisata Desa Bunihayu, melalui kerjasama dengan pihak swasta. Diantaranya didapati fasilitas glamping, dan sesaran kolam rendam. Jalannya telah ditata menggunakan semi beton, hingga di dasar lembah. Jalannya curam, alternatifnya adalah dengan cara berjalan kaki sepanjang 1 km.

Air terjunnya tinggi, sekitar 30 meter. Tegak dan membentuk gawir yang memanjang dari tenggara ke baratlaut. Sejajar dengan arah pengaliran Ci Nangrang. Pada peta geologi lembar Bandung (Silitonga, 2003), disusun oleh batuan Hasil Gunungapi Lebih Tua (Qob). Diantaranya perlapisan breksi, lahar, dan pasir tuf berlapis-lapis dengan kemiringan kecil. Tebal endapannya sekitar 600 meter.

Dilokasi telah tersedia sarana pariwisata, toilet, sarana penginapan berupa tenda glamping hingga tempat makan. Diusahakan sejak dua tahun yang lalu, melalui usaha bersama. Antara masyarakat lokal dan permodalan dari pihak ketiga. Arah pengembangannya adalah pariwisata yang berbasis pada alam. Sehingga cara menatanya disesuaikan, tanpa menggunakan pembangunan fisik yang berlebihan. Semuanya diselaraskan dengan kondisi lingkungan.

di bagian atas air terjun ini, terdapat kegiatan tambang batu dan pasir. Kegiatan tambang ini menyebabkan kerusakan lingkungan, dan tidak memiliki izin. Pada tanggal 17 Janurai 2025 ditutup oleh Gubernur Jawa Barat. Sebagai tindakan lanjutannya adalah penyegelan lokasi tambang, oleh pihak Polres Subang. Kegiatan tambang ini berdampak langsung kepada masyarakat penggarap sawah, karena dikeluhkan airnya kotor. Selain itu terjadi sedimentasi di beberapa aliran sungai, termasuk Ci Nangerang. Bila hujan tiba, bukan saja pasir yang dibawa dan jatuh di air terjun, bahkan membawa material dengan ukuran lebih besar. Sehingga menyebabkan terjadinya bahaya banjir bandang, akibat bagian hulu air terjun ini dikeruk oleh kegiatan tambang. Sehingga lahan yang rusak, harus segera dihijaukan kembali.

Mata Air Panas Bunihayu
Berada di dalam kompleks wisata Bunihayu Forest, Jalancagak. Berupa kolam-kolam rendam dengan ukuran sekitar 3 meter, menggunakan alas tembok. Didapati tiga kolam,dengan sumber mata air panas yang berbeda. Sebelah utara jauh lebih panas, karena tidak menggunakan penampungan. Sedangkan tiga kolam di sebelah utara, diposok oleh sumber air yang ditampung dalam kolam kecil, kemudian disalurkan ke kolam pemandian.

Airnya tidak terlalu panas, karena berasal dari beberapa sumber kemudian dialirkan ke kolam-kolam melalui sistem pipa. Sumbernya muncul di celah batuan, berada di bantaran sungai Cinangrang. Berupa sumber mata air panas, muncul melalui batuan piroklastik (akifer). Suhunya tidak terlalu panas, dengan perkiraan temperatur sekitar 40 hingga 50 derajat celcius. Di sekeliling kemunculan air panas, diendapkan batuan karbonat disebut travertine. Disebut dengan Limestone-based hydrothermal systems. Endapan batuan karbonat tersebut merupakan hasil mineralisasi, saat air panas melewati batuan sedimen. Naik ke permukaan melalui bidang rekahan yang ditafsirkan sebagai struktur patahan Batukapur. Arah kelurusannya relatif beraarah baratlatu-tenggara, memotong Gunung Batukapur.

Kemunculan mata air panas tersebut, lebih dari lima titik. Menurut keterangan warga, masih ada beberapa titik di bagian hulu. Kemudian ke arah hilirnya mendekati Batukapur, objek wisata kolam renang. Wisata ini memiliki debit air panas yang lebih besar, sehingga ditampung dalam kolam yang luas. Keberadaan air panas ini menandakan di bawah permukaan bumi didapati sumber panas, disebut magma. Kemudian memanaskan batuan penutup (cap rock), yang bertindak sebagai tungku. Kemudian memanaskan air tanah dangkal. Tekanan gas mendorong naik ke permukaan, melalui celah-celah atau batuan poros dalam bentuk manifestasi air permukaan. Debit airnya rendah, menandakan kestimbangan tekanan dari bawah permukaan. Sehingga dalam perlakukannya tidak bisa dibor atau dibuka lebih lebar, karena akan mengganggu tekanan air. Dampaknya adalah tekanan berkurang, kemudian air panas akan hilang.

Sejajar dengan kolam rendam, mengalir Ci Nangerang. Di hululunya didapati beberapa anak sungai, diantaranya Ci Tajaherang, Ci Picung, dan Ci Taraban. Hulunya di sebelah utara, antara Pasirtengah 495 mdpl., dan Pasirjambudipa. Mengalir ke Ci Nangerang, kemudian bergabung dengan Ci Nangka di Batukapur.

Sumber mata air panas lainya, berada di sebelah utara, di aliran Ci Tajaherang. Anak sungai dari Ci Nangerang. Kemudian ke arah selatannya, yaitu Mata Air Panas Ciseupan, di Batugede, Serangpanjang. Keberadaan mata air panas tersebut menjadi unggulan wisata, terutama berbasis wellness atau kesehatan. Sehingga bisa dikembangkan pada wisata minat khusus. Sehingga diperlukan penataan lahan yang berwawasan lingkungan.

Waterkracht Tjinangling
Perjalanan dari Batukapur ke arah utara, mengikuti saluran irigasi Ci Jambe. Sungainya membentang dari selatan ke utara. Bersumber dari bendungan Curug Agung di Leles, Sagalaherang. Kemudian dialirkan ke utara melalui sungai buatan terbuka atau sistem irigasi. Jaraknya kurang lebih 8 Km, melalui Cihuni, Jambelaer, hingga Cisampih Dawuan. Beruapa saluran irigasi, disebut Ci Jambe. Sungai buatan yang digunakan untuk menggerakan turbin listrik Cinangling. Manajemen pengelolaan air melalui pembuatan jalur sungai, dengan tujuan mendapatkan pasokan air surplus. Walaupun sejajar dengan arah irigasi tersebut terdapat sungai utama, namun dianggap tidak stabil. Khususnya untuk menggerakkan turbin di Waterkracht Tjinangling, atau Pembangkit Listrik Tenaga Air Cinanging, Dawuan. Fasilitas rumah produksi listrik ini selesai dibangun 1936. Didahului dengan pembuatan jaringan pasokan air. Berupa irigasi terbuka, disadap di sebelah selatan sekitar Curugagung. Selain sebagai sumber utama untuk energi listrik, irigasi tersebut digunakan untuk persawahan yang dilaluinya. Sehingga membawa manfaat lebih, selain menghasilkan energi listrik, turut mengairi sawah di Dawuan.

Bangunan rumah pembangkit listrik, berada di sebelah selatan Jalan Alternatif yang menghubungkan antara Sagalaherang di selatan, ke Kalijati di utara. Bentuk bangunannya memanjang barat laut-tenggara, dengan inlet (pipa pesat) dari arah tenggara. Outletnya ke arah barat laut. sebagian dibuang ke sungai terbuka, dan sistem pipa bawah tanah hingga ke Pabrik Karet Wangunreja. Di atas terowongan outlet, terdapat tulisan yang dibuat pada dinding beton. Berbunyi “Tjinangling 1936”. Menandakan tahung operasional fasilitas ini.

Panjang bangunnnya sekitar 50 meter, dua lantai. Lantai dasar digunakan untuk produksi listrik, melalui dua turbin. Kemudian memutarkan dinamo listrik, untuk menghasilkan listrik sekitar 1,9 Megawatt dalam kondisi optimal. Digunakan untuk menerangi dan menggerakan Pabrik Karet Wanareja dan Perkebunan Sisal di Sukamandi. Sebagian lagi disalurkan untuk menerangi kota Subang saat itu. Diperkirakan berhenti beroperasi sejak 2017, akibat pasokan air yang tidak stabil dan biaya operasional semakin mahal. Sehingga beralih ke penggunaan listrik dari Pusat Listrik Negara/PLN.

Akibatnya bangunan serta fasilitas yang ada terbengkalai. Sejak berhenti hingga saat ini, beberapa bagian perlengkapan dan alat operasional telah hilang dan hancur. Walampun bangunannnaya bmasih berdiri kokoh, namun sebagian besar peralatannya hilang.

Diantaranya beberapa bagian dari turbin, seperti pipa baja outlet dari turbin, penutup flywheel, sebagian dinamo telah hilang. Kemudian panel kontrol tegangan listrik di lantai satu dan dua lenyap tidak berbekas. Terlihat usaha paksa, dengan cara digergaji, dicongkel hingga di las, agar material besi bisa diangkut.

Kondisi demikian akan mengakibatkan hilangnya artefak sejarah, bukti teknologi yang pernah hadir hampir seratus tahun yang lalu akan lenyap. Sehingga Dengan demikian diperlukan tindakan langsung, agar benda hasil budaya dan teknologi ini masih bisa disaksikan untuk generasi selanjutnya. Diperlukan kepastian hukum, agar benda dan struktur bangunnan tersebut bisa dilestarikan sebagai cagar budaya.

Curug Agung, membentuk air terjun bertangga.

P&T Soekamandi, kepemilikan perusahaan untuk perkebunan Sisal/Agave di Sukamandi.

Panel kontrol listrik yang telah hilang akibat penjarahan

Sisa segmen turbin ferris dan generator.

Bangunan Waterkracht Tjinangling yang masih kokoh.

Air terjun Cinangerang yang membentuk bidang sesar.

Sistem akifer membawa air hangat, dan saluran air permukaan di Bunihayu.

Sertifikasi Pemandu Geowisata KBB dan Tahura Djuanda

Telah dilaksanakan kegiatan sertifikasi profesi, skema pemandu geowista di dua tempat di Bandung Raya. Tanggal 22 Juni 2024 di Cidadap, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Kemudian disusul di Tahura Ir. Djuanda Bandung. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian kegiatan penyetaraan kompetensi, mencapai standar nasional untuk para pemandu geowisata.

Kegiatan ini terlaksana melalui anggaran dari sekretariat Badan Nasional Sertifikasi Profesi/BNSP, melalui paket Program Pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi Kerja (PSKK) tahun anggaran 2024. Dilanjutkan melalui LSP Pramuwisata Indonesia (LSP Pramindo), bekerja sama dengan Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), sebagai pengguna anggaran. Dalam pelaksanaanya dibantu oleh Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Jawa Barat, melalui Bidang Industri Pariwisata yang menaungi sumber daya manusia.

Pelaksanaan program PSKK 2024 ini diserap oleh PGWI sebanyak 6 paket, yang terdiri dari 120 peserta (asesi). Disebarkan melalui jejaring organisasi Dewan Pengurus Wilayah di provinsi Jawa Barat, diantaranya di Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bogor, Kota Bandung dan Kabupaten Majalengka. Pelaksanaan pertama di TIC BKSDA, Cagar Alam Pangangandaran, sejumlah 20 orang. Kemudian tanggal 22 Juni 2024 di Balai FP2KC, yang diikuti oleh pegiat, pemandu geowisata sekitar Kabupaten Bandung Barat. Semua kegiatan dilaksanakan melalui jejaring Dewan Pengurus Wilayah/DPW Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia.

Rangkaian selanjutnya di Tahura Ir. Djuanda, Dago Pakar, Bandung. sebelumnya dilaksanakan kegiatan pelatihan, 22 Juni 2024 disekitar wilayah Tahura. Kegiatan dibuka oleh perwakilan dari UPTD Tahura Ir. Djuanda, dilanjutkan oleh perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung. Pelatihan mengambil tempat di kawasan Tahura, dari Sekejolang hingga ke gerbang Gua Belanda. Hadir narasumber dalam kegiatan ini diantaranya T Bachtiar, memberikan narasi yang berkaitan dengan toponimi di wilayah yang dilalui. Menjelaskan tafsir Ci Kapudung, yang diambil nama tumbuhan di sekitar bantaran sungai.

Fajar Lubis, dan dibantu oleh Zarindra Aryadimas menguraikan asal-usul pembentukan lava Pahoehoe di bantaran Ci Kapudung sektiar Sekejolang. Lava produk G. Tangkubanparahu yang mengalir hasil kegiatan letusan efusif. Jejak letusan sekitar 40 ribu tahun yang lalu. Kegiata pelatihan berupa hiking mengikuti bantaran Ci Kapundung, mulai dari Sekejolang, hingga Gua Belanda. Sesi terakhir disampaikan teknik pemanduan, oleh Hadi yang berprofesi sebagai tour guide profesional.

Hasi kegiatan pelatihan, kemudian dibawa dalam kegiatan sertifikasi. Dilaksanakan dan dibuka di ruang audio visual UPTD Tahura Ir. Djuanda. Diikuti  oleh 40 orang peserta (asesi), berasal dari pegiat dan pemandu disekitar Bandung Raya dan luar kota Bandung. Diantaranya perwakilan Dewan Pengurus Wilayah Bekasi Raya, Majalengka Raya yang mengirmkan beberapa perwakilan. Kegiatan ditutup pkl. 15.00 WIB, melalui beberapa testimoni peserta. Menyataan sangat bersyukur membuka jaringan, silturahmi hingga mengenal geowisata lebih jauh. Ditandaskan oleh Deni Sugandi, selaku ketua Pemandu Geowisata Indonesia, Pengurus Nasional, mengajak seluruh peserta untuk bergabung dalam wadah organisasi. Dengan demikian para pemandu geowisata tetap terpelihara kompetensinya, kemudian sebagai saraha silaturahmi jejaring pemandu geowisata di Indonesia. Dengan demikian para pemandu yang telah memiliki standar nasional, diupayakan haknya agar bisa diterima diindustri pariwisata Indonesia.

Penjelasan T Bachtiar, mengenai pembentukan Lava Pahoehoe.
Penjelasan Fajar Lubis, tentang geologi regional.
Zarindra Aryadimas, menjelaskan aliran lava G. Tangkubanparahu yang mengisi dasar Ci Kapundung.
Kegiatan sertifikasi Pemandu Geowisata di aula UPTD Tahura Ir. Djuanda, 23 Juni 2024.
Foto bersama asesi dan asesor.
Asesi, Asesor LSP Pramindo dan perwakilan dari Disparbud Provinsi Jabar
Kegiatan asesmen sertifikasi skema Pemandu Geowisata di KBB

Pelatihan Singkat Pemandu Geowisata di Pasir Pawon

Kegiatan yang diinisiasi oleh asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), melalui kegiatan mandiri-probono. Dilaksanakan pada hari Sabtu, 15 Juni 2014. Berupa pelatihan singkat, bagi para pegiat, pemandu lokal dan pegiat konservasi lingkungan di kawasan Perbukitan Karst Padalarang. Bertujuan mempersiapkan para calon peserta, yang akan diikut sertakan dalam kegiatan sertifikasi skema pemandu geowisata. Pelaksanaanya di hari sabtu, 22 Juni 2024, di Aula FP2KC Cidadap, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. kegiatan pelatihan dilaksanakan di Pasir Pawon, atau saat ini dikenal dengan Wisata Stone Garden, di Citatah, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

Pelatihan dimulai pukul 07.00 WIB dan diahiri hingga menjelang sore, bertempat di sekitar Pasir Pawon, Citatah, Padalarang. Diikuti oleh 20 orang lebih, dari pegiat, pemandu lokal, pelaku konservasi kawasan Citatah, hingga mahasiswa pariwisata. Kegiatan dibuka semi formal oleh Deni Sugandi, selaku Ketua PGWI Pengurus Nasional. Kemudian dilanjutkan oleh sambutan dari Dinas Pariwisata Budaya, Kabupaten Bandung Barat diwakili Ukas Maulana, Jabatan Fungsi di Pemasaran Pariwisata. Menyatakan ucapan terima kasih kepada organisasi (PGWI), yang telah memberikan kesempatan kepada para pegiat geowisata di bawah wilayah kerja dinas pariwisata Kabupaten Bandung Barat. Ditambahkan pula, bahwa wilayah KBB sangatlah luas, sehingga perlu untuk digali potensinya untuk kemaslahatan warga/pelaku lokal melalui geowisata.

Narasumber yang hadir berasal dari organisasi PGWI. Dimateri pertama, Deni Sugandi menyampaikan dasar-dasar pengertian sejarah bumi. Khususnya genesa perbukitan karst Citatah, Padalarang. Deni menyampaikana pengertian geowisata, sebagai dasar berkegiataan wisata. Seperti diobjek geowisata Pasir Pawon, berupa puncak bukit yang dihiasi oleh kerucut karst hasil kegiatan pelaturan sekitar lima juta tahun yang lalu. Selain itu didapati bukti binatang laut yang tercetak difragmen batugamping, berupa fosil kerang, branching dan sebagainya. Dalam kesempatan pemberian materi, Deni menjelaskan geologi regional kawasan Karst Citatah, merupakan bukti batuan tua homogen yang membatasi bagian barat Cekungan Bandung.

Dalam pelatihan ini ditandaskan perlunya menggali narasi, yang sifatnya informasi valid. Seperti mencari data melalui hasil penelitian, kemudian dirangkum menjadi sumber narasi atau story telling dalam kegiatan pemanduan geowisata. Dengan demikian diperlukan kemampuan untuk menggali informasi valid, melalui data penelitian, wawancara ahli dan mencari diingatan kolektif masyarakat. Narasi geowisata bisa berupa data ilmiah tentang prose dinamika bumi, cerita rakyat yang memiliki hubung kait dengan tapak bumi yang dikunjungi.

Selanjutnya, Sodikin Kurdin dan Adrian Agoes mengarahkan para peserta pelatihan, praktek pemanduan. Lokasi mengambil tempat di Pasir Pawon/Stone Garden, dengan cara praktek bergantian. Beberapa peserta memiliki kemampuan untuk merangkai cerita, tetapi ada pula yang perlu mencari data yang valid. Partisipan merasa terbantu melalui pelatihan ini, karena mendapatkan langsung teknis pemanduan melalui kegiatan praktek. Kegiatan ini dikondisikan untuk menghadapi kegiatan sertifikasi, yang akan dilaksanakan pada tanggal 22 Juni 2024, di Balai FP2KC, Cidadap, Padalarang, Kabupatan Bandung.

Simulasi pemanduan geowisata di Pasir Pawon.
Praktek pemanduan geowisata.

Catatan Geourban#9 Gegerhanjuang

“Sudah digali lebih dari 50 meter, namun airnya masih berbau dan berwarna kuning” jelas seorang ibu di perumahan di belakang Gedung Leger, Cisaranten Bina Harapan, Ujung Berung. Selian mengeluh masalah air, ibu tersebut menjelaskan bahwa sebelum menempati perumahan tersebut, harus menata tanah yang kelak didirikan perumahan di belakang Gedung Leged saat ini. Tanah rawa tersebut diurug menggunakan material barangkal setinggi dua meter. Menurut si Ibu, warga di perumahan di Jalan Golf Raya tersebut saat ini menggunakan sumber airtanah dari bantuan proyek perumahan KPBU perumahan Cisaranten Pusjatan. Kualitas airnya baik, didapat dari hasil pengeboran lebih dari 150 meter, hingga perlapisan batu pasir pembawa air (akuifer) pada Formasi Cibeureum. Formasi ini ditindih oleh Formasi Kosambi atau endapan danau disusun lempung pasiran, sehingga mengalirkan air dalam jumlah terbatas (akitar).

Pembangunan rusun BMN PUPR dan Keluhan warga airtanah yang tidak bisa dikonsumsi, dan tanah didominasi lempung merupakan ciri lingkungan rawa situ Pariuk. Sisa situ seluas kurang lebih 2 hektar, merupakan bagian dari sisa danau Moeras Gegerhanjuang, segmen timur pascadanau Bandung Purba. Terbentuk kurang lebih antara 20.000 hingga 16.000 tahun yang lalu, seiring dengan pengeringan Danau Bandung Purba (Dam, 1984).

Kegiatan Geourban ke-9 merupakan program kerja asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), berupaya menggali jejaring geowisata dan pemetaan potensi wisata alternatif kebumian. Kegiatan probono ini dilaksanakan hari Sabtu, 4 Februari 2023, dengan tujuan menelursuri kembali sisa-sisa danau, muras (rawa), dan kalimati (oxbow lake) dan sistem meander Ci Tarum. Dimulai tepat jelang siang, sekitar pukul 07.30 WIB. Mengambil titik pemberangkatan dari depan kantor Dirjen Binamarga, PUPR jalan A.H. Nasution. Total peserta adalah delapan orang, dengan latar belakang beragam dan profesi. Mulai dari pegiat pariwisata, pemilik biro perjalanan wisata, influencer hingga aktivis lingkungan.

Acara dibuka dengan penjelasan rencana perjalanan oleh Deni Sugandi, selaku pegiat geowisata dan pemandu geowisata. Menguraikan tema kegiatan, dan lokasi-lokasi yang menarik untuk dikunjungi dan diamati.

Total perjalanan adalah kurang lebih 17 km, dari utara ke selatan, mengikuti aliran Ci Pamokolan dan memotong utara-selatan di lingkar dalam Moeras Gegerhanjuang.

Moeras atau muras Gegerhanjuang adalah lingkungan rawa di dataran rendah, menempati sebagian besar Ujung Berung. Di sebelah utaranya dibatasi oleh kipas volkanik produk dari G. Manglayang. Kemudian ke sebelah timur disekitar Pangaritan atau Cibiru, dan dibagian selatannya dibatasi aliran Ci Tarum antara Ciparay-Bojongsoang. Deni memperlihatkan peta geologi awal yang disusun oleh Bemmelen (1954), terlihat batas morfologi dilihat dari pola sungai. Dari utara, atau hulu memperlihatkan pola sungai trelis, menandakan sungai-sungai yang berada dilereng gunung. Arusnya deras, dan erosinya vertikal, sehingga bila dilihat dari penampangnya membentuk huruf v. Bergerak jauh ke arah selatan, didataran rendah memperlihatkan sistem pola sungai meandering. Menadakan arus lemah, dan mengendapkan bahan-bahan yang diangkut dari hulu. Seiring waktu karena proses pengendapan, mengakibatkan kegiatan erosi yang dapat membelokan jalur sungai. Akibat erosi horisontal, pengendapan dan morfologi kemudian membentuk jalur sungai yang berkelok-kelok atau pola meander.

Kunjungan ke-dua adalah di sekitar Bojongsoang. Terlihat hamparan sawah seluas mata memandang. Dataran rendah yang didominasi oleh sawah dan balong luas (kolam), dipagari oleh rumah-rumah warga. Pada peta geologi disebutkan kawasaan ini merupan dataran rendah yang disusun oleh endapan danau (Silitonga, 1973). Dari pengamatan terlihat singkapan batu lempung, batu lanau dan batu pasir yang belum kompak, disebut Formasi Kosambi (Koesoemadinata dan Hartono, 1981).

Jelang matahari lebih tinggi, mengantarakan rombongna bermotor melintas Ci Tarum melaui Sasak Paris Rancatatang, Sapan Tegalluar. Jembatan gantung dengan struktur besi penyangga, menghubungkan antara Sapan Tegalluar di utara, ke Bantar Sari di sebelah selatannya. Turun dari jembantan tersebut, langsung berhadapan dengan kalimati (oxbow) Patrol dan Jelekong. Dua kalimati yang telah menjadi danau karena arah aliran dialihkan lurus secara lateral, oleh kegiatan penyodetan. Kurang lebih ada 14 kalimati (oxbow) disepanjang aliran Ci Tarum, dari Bojongsoang hingga Mangahang. Sungai tersebut mampu menampung air kurang lebih 1.2 juta meter kubik, sehingga cocok untuk digunakan sebagai embung untuk pertanian dan pesawahan dan sebagai kolam retensi saat sungai meluap.

Menurut warga Sumbersari, Ciparay, bahwa kegiatan penyodetan tersebut mempercepat aliran Ci Tarum dari hulu ke hilir. Namun menurut Pa Dedi, akibatnya sering terjadi pendangkalan, sehingga harus terus dilakukan pegerukan secara berkala. Dedi menyampaikan pengalamannya, saat musim hujan tinggi aliran meluap dan membawa lumpur sangat tebal.

Perjalanan dilanjutkan tapakbumi terakhir, ke Gunung Munjul, Manggahang, Baleendah. Menyusuri bantaran Ci Tarum dari Sapan ke arah barat hingga sekitar Manggahang. Dari penelusuran tersebut terlihat upaya pemerintah melalui satuan tugas kerja Citarum Harum, agar terjadi peningkatan kualitas lingkungan sungai. Masih ada beberapa sampah yang terbawa dari hulu, kemudian mengendap dibantaran sungai.

Gunung Munjul 685 m dpl. adalah perbukitan yang tumbuh dalam sistem intrusi batuan gunungapi Baleedah. Umurnya adalah Tersier, atau sekitar 3.2 sampai dengan 2.8 juta tahun yang lalu (Bronto drr., 2006). Dalam beberapa informasi warga lokal, disebutkan bahwa Gunung Munjul merupakan titik pertemuan antara Kian Santang dan Prabu Siliwangi. Mengenai benar atatu tidaknya, tentunya perlu kajian lebih dalam, berkaitan dengan data sejarah budaya. Pada tahun 2015, Gunung Munjul telah menerima status Cagar Budaya, sebagai situs yang dilindungi keberadaanya. Bila menggali informasi melalui daring, perlu berhati-hati untuk memaknai dengan Prasasti Munjul (batu tulis) di Kabupaten Pandeglang. Jadi antara Gunung Munjul Baleedah, dan Prasasti Munjul di sungai Cidanghyang Banten berbeda.

Bila membandingkan kembali peta lama Java. Res. Preanger Regentshcahppen, Blad H XXIII, Topographisch Bureau, Batavia, 1906. Menggambarkan meander Ci Tarum persis mengalir disamping Gunung Munjul disebelah utara. Kondisi saat ini, aliran berkelak-kelok tersebut telah hilang karena disodet. Sehingga jarak ke aliran Ci Tarum kurang lebih 850 meter ke arah utara (Peta RBI

Bila merujuk kepada pendapat Rien Dam, menuliskan dalam laporannya bahwa tinggi genangan (paras) tertinggi permukaan air Danau Bandung Purba adalah 690 m dpl. Sedangakan dalam peta RBI (2001).

Catatan Geourban#12 Gegersunten

Partisipan hadir seiring matahari beranjak naik, hadir sesuai janji di grup WA yang menuliskan waktu pertemuan awal pukul 08.30 WIB. Titik pertemuannya persis di bawah G. Batu Lembang, jalan utama yang menghubungkan Maribaya dan Punclut. Tercatat kurang lebih ada 20 orang hadir, dengan latar belakang beragam. Mulai dari pelaku usaha biro perjalanan wisata, mahasiswa, jurnalis, pegiat medsos, pegiata wisata, pemandu wisata hingga ibu rumah tangga.

Kegiatan geowisata di sekitar Cekungan Bandung ini, diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI). Dengan tujuan menjalin jejaring lokal, inisiatif program perjalan geowisata dan syiar geowisata. Kegiatan in merupakan rangkaian program geowisata tematik ke-12, dilaksanakan sekitar Maribaya-Palintang, Sabtu, 29 April 2023. Kegiatan Geourban telah dilaksakan sejak satu tahun yang lalu (2022) melalui kegiatan sebelumnya disebut Geobaik (2020). Kegiatan ini dilaksanakan setiap bulan, bertujuan mendorong tumbuhnya ekosistem geowisata di kota Bandung dan sekitarnya.

Kegiatan ini bersifat probono atau tidak dipungut biaya, sebagai upaya syiar wisata bumi kepada masyarakat umum, dengan narasumber yang tergabung dalam wadah perkumpulan pemandu geowisata Indonesia. Bagi organisasi profesi, kegiatan ini sebagai cara untuk peningkatan kompetensi sebagai pemandu geowisata, sekaligus sebagai sarana aktivasi geowisata di sekitar Cekungan Bandung.

Kegiatan dimulai dengan menu pertama mendaki G. Batu, melalui jalur pendakian sebelah timur. Jalanannya merupakan jalu setapak, melalui rumah warga yang menempati lereng bukit yang dibatasi oleh perkebunan rakyat. Jalurnya melalui jalan setapak menanjak mengikuti kontur perbukitan, kiri dan kanan ditempati perkebunan warga. Menjelang tiba dibagian puncak disambut oleh bongkah batuan beku yang telah lapuk oleh waktu, menandakan bahwa bukit ini disusun oleh lava yang sangat tebal.

Dibuka oleh Deni Sugandi, selaku pemandu geowisata, melalui orientasi geografis posisi G. Batu dengan bentang alam disektiarnya. Posisi dipuncak bukit ini merupakan titik terbaik untuk menginterpretasi dinamika bumi yang sedang terjadi di dataran tinggi Bandun gutara. Dari titik ini bisa mengamati kelurusan arah barat-timur sesar Lembang, dibelah olhe Ci Kapundung. Di sebelah utara atau bagian Bandung terlihat struktur blok yang naik yang dipaku oleh kerucut G. Palasari di sebelah timurnya. Sesar Lembang ditengah pulau Jawa (intraplate), sambungan dengan Sesar Cimandiri. Dalam penelitian terbaru, total  29 km, barat-timur dengan struktur sesar normal dan sesar geser sinistral (Daryono, 2016). Dalam penelitan tersebut membagi Sesar Lembang menjadi beberapa segmen, diantaranya segmen Cimeta; Cipogor; Cihideung; Gunung Batu; Cikapundung;  Batu Lonceng.

Kemudian sedikit ke utara, terlihat G. Bukittunggul yang berdampingan dengan G. Pangparang. Kemudian hadir tubuh megah G. Manglayang yang menempati posisi sebelah tenggara. Di selatannya adalah jajaran perbukitan dan pegunungan Bandung selatan. Dihadapnnya adalah cekungan luas, dengan sisi terpanjang sekitar 50 km dari timur di Cicalengka ke bagian barat di Padalarang, serta lebar sekitar 30 km dari batas dataran tinggi Lembang hingga di bagian selatan di Ciwidey. Danau yang menempati cekungan Bandung, kemudian mulau surat sejak 20.000 tahun yang lalu.

G. Batu merupakan blok yang naik, segmen Sesar Lembang Gunung Batu. Sedangkan di sebeleah utaranya adalah blok yang turun, bagian dari dataran tinggi Lembang. Kota kecamatan tersebut dinaungi bayang-bayang G. Tangkubanparahu, gunungapi aktif yang kin terus diawasi hingga kini. Bila melihat sedikit kearat barat, terlihat kerucut gunung yang telah tererosi kuat, merupakan gunungapi samping bagian dari sistem kaldera Sunda. Bila ditarik dari garis imajiner, searah lereng G. Burangrang ke arah timur, akan membentuk kerucut. Tinggi garis imajiner tersebut diduga hingga 3.800 m dpl. milik dari gunungapi generasi pertama.

Gunungapi Pra-Sunda mulai membangun dirinya sekitar umur Plistosen Awal. Kemudian menunjukan aktivitas volaniknya sekitar Pliosen Tengah, seiring dengan tumbuhnya gunugapi parasi G. Burangrang. Letusan efusif Pra-Sunda berupa aliran lava yang menyusun tubuh G. Batu Lembang. Dari pengukuran umur batuanya, sekitar 0.5060 Ma (Sunardi, 1996), berasal dari hasil letusan efusif G. Pra-Sunda.

Setelah G. Pra-Sunda rubuh, kemudian membentuk lingkar kaldera.  Disusul pembentukan generasi ke-dua yaitu G. Sunda yang menunjukan aktivitasnya antara 0.210 – 0.105 Ma, kemudian membentuk lingkar kaldera 6.5 x 7.5 km. Pada peta topografi Bandung utara, van Bemmelen memperkirakan ada dua lingkar yang merupakan bagian dari Pra-Sunda dan Sunda (1934). Dari lingkar kaldera tersebut, kemudian tumbuhlah gunungap api generasi terakhir yaitu G. Tangkuban parahu. Hadir setidaknya sejak 90.000 tahun yang lalu (Nugraha, 2005).

Kegiatan selanjutnya adalah mengunjungi situs Batuloceng, di sebelah timur dari G. Batu. Situ budaya ini diperkirakan merupakan kabuyutan yang memiliki umur lebih tua dari peradaban Sunda Klasik. Tafsiran demikian berdasarkan interptretasi dari temuan arca Cikapundung, sekitar tahun 1263 Saka, atau sekitar 1341 Masehi. Arca tersebut bergaya Polinesia-Pajajaran, ditemukan di sekitar di Desa Cikapundung, Kabupaten Bandung, di atas bangunan berundak teras diwujudkan dalam bentuk antromorf (Eriwati, 1955). Tidak disebutkan dengan rinci lokasinya, tetapi menunjukan wilayah sekitar bantaran hulu Ci Kapundung yang saat ini masuk ke dalam wilayah Suntenjaya. Beberapa sumber menyebukan ditemukan di sekitar perkebunan kina. Saat ini arca tersbut menjadi koleksi Museum Nasional dengan nomor inventaris 479c/D184. Bila disejajarkan dgna kerajaan Sunda saat itu berada di penguasaan Prabu Ragamulya Luhurprabawa yang memerintah antara 1340 hingga 1350.

Penemuan arca tersebut memperkuat dugaan kunjungan Bujangga Manik ke sekitar Palintang. Dalam naskah yang ditulis pada abad ke-15, menceritakan perjalanan Bujangga Manik melintasi dataran tinggi bagian utara Ujung Berung. Menyebut Bukit Karesi, Bukit Langlayang, dan (Gunung) Palasari. Kemudian menyeberangi (sungai) Cisaunggalah dan berjalan ke arah barat hingga tiba di bukit Patenggeng.

Dalam teks tersebut bisa ditafsirkan beberapa nama geografis yang masih bisa dikenali hingga kini. Seperti penulisan bukit Langlayang untuk G. Manglayang di sebalah utara Cibiru Bandung. Kemudian bukit Palasari adalah G. Palasari di Suntenjaya, Palintang. Namun untuk mencocokan bukit Karesi, sepertinya tidak ada lagi indikasi geografis yang bisa disandingkan dengan nama tersebut, sehingga bisa jadi merujuk pada nama gunung lain yang satu kelompok dengan Palasari-Manglayang.

Penyebutan lainya adalah Cisaunggalah yang mendekatkan dengan cerita Ciung Wanara di sebelah timur Jawa Barat. Hadir sekitar 793 Masehi, merupakan penguasa kerajaan Galuh setelah pendahulunya tamperan Bamawijaya. Sedangkan naskah Bujangga Manik ditaksir antara akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15. Noorduyn dan A Teeuw memperkirakan bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik berlangsung (atau ditulis?) pada kurun Kesultanan Malaka masih menguasai jalur perniagaan Nusantara, sebelum jatuh ke tangan Portugis pada 1511. Di dalam naskah tesebut menyebutkan 450 kawasan, termasuk di antaranya ada sedikitnya 90 nama gunung dan 50 nama sungai. Naskah puisi yang berjumlah 1641 baris ini, adalah bahwa pada kenyataannya– mirip naskah-naskah Sunda antik yang pada umumnya otentik dan tidak disalin naskah BM tiada duanya dan cuma satu-satunya di dunia (codex uniqus).

Di Situs Batuloceng berupa undakan yang didirikan di atas bukit. Tepat berada di lereng sebelah utara G. Palasari, diapit oleh G. Bukittunggul dan dipisahkan oleh Ci Kapundung hulu. Penulisan G. Bukit Tunggul lebih dipercaya disebut beuti bukan bukit, memaknai akar pohon (tunggul) yang digunakan untuk membuat perahu oleh Sangkuriang. Seperti yang dituliskan dalam Gids voor Bergtochten op Java, ditulis oleh ahli gunungapi Dr. Ch. E. Stehen, 1930.  Di situs ini dipercaya hadir sejak 1816, melalu juru pelihara (kuncen), Eyang Haih. Dipercaya sebagai patilasan Sembah Dalem Sunan Margataka atau yang dikenal dengan Prabu Wanara atau Ciung Wanara (Manarah/Surotama).

Kepercayaan tersebut bersarkan penamaan toponimi yang muncul pada peta Belanda (Geolosgisch kaart, van Bemmelen, 1934) menuliskan nama Gegersunten di sebelah utara, tepat di lereng seltan G. Bukittunggul.

Kegiatan Geourban ditutup di Batuloceng, dengan harapan aktivitas geowisata ini bisa membuka kegiatan geowisata yang berdampak kepada aktivitas ekonomi lokal, dan pemahaman lebih dalam mengenai narasi bumi dan budaya.