Sejak dari pagi, pemilik warung mengolah makanan menjadi sajian. Warungnya selebar garasi mobil, dengan meja merapat kedinding. Masakan yang telah masak, kemudian ditata sedemikian rupa di lemari kaca yang sederhana. Konsumen tinggal menunjuk saja, jenis masakan yang akan dibeli. Tidak terlalu membutuhkan waktu lama, tiga jenis masakan telah tiba di piring siap disantap.
Demikian sajian pagi yang bisa dinikmati, sebelum bergerak mengupas sejarah di sekitar Banjaran. Mengantarkan para pegiat penelusur sejarah bumi dan budaya, dibungkus dalam kegiatan Geourban ke-45. Dilaksanakan pada hari Selasa, 4 November 2025. Kegiatan ini adalah menggali kembali sejarah, melalui aktivasi narasi. Membuka jejaring lokal hingga membuka peluang penyusunan menjadi paket wisata bumi di Bandung selatan.
Waktu menunjukan 7.40 WIB, cahaya matahari menimpa bangunan yang memanjang barat timur. Sekilas dari pandang mata, terlihat struktur bangunan yang memanjang barat-timur. Fasadnya merupakan ciri khas bangunan gudang, ditandai dengan bentuknya yang sederhana. Berupa struktur persegi panjang, dengan atap segitiga. Menekankan kepada fungsional, dibandingkan sisi estetikanya. Penelusuran singkat mendapati dua jajar jalur kereta api, memanjang barat-timur. Jalur sebelah selatan diperkirakan digunakan untuk proses bongkar-muat barang. Ditandai dengan sarana alat bongkar seperti crane container (struktur besi, untuk memindahkan barang dari atas lokomotif ke gudang).
Seorang bapak menunjukan sisa rel dan bantalan, di belakang garasi kendaraan milik warga. Di Sebelah selatannya berdiri patok dari beton setinggi 60 cm, dengan tulisan PT KAI. Menandai batas luar sebelah selatan jalur lintasan kereta api. Stasiunnya saat ini dimanfaatkan sebagai Balai Pertemuan warga Desa Banjaran. Pada dinding bangunan tersebut, didapati plakat PT KAI yang memberikan keterangan luas tanah 118 meter pesegi, dan nomor portal Aset 02.03.00301. Melalui keterangan plakat yang terpasang ada dinding, menandakan bahwa sebagian besar bangunan tersebut merupakan milik negara melalui PT KAI.
Statsiun ini merupakan bagian dari sistem jalur kereta api Bandung selatan. Menghubungkan antara Cikudapateuh di kota Bandung, ke Baleendah hingga Ciwidey, melalui Statsiun Banjaran. Dari statsiun ini kemudian dilanjutkan ke arah barat, hingga Statsiun Soreang. Melintasi Ci Widey (sungai), melalui Jembatan Sadu, Rancagoong dan beberapa jembatan pendek lainya.
Dari beberapa keterangan, jalur ini tidak lagi melayani operasional sejak tahun 1982. Selain biaya operasional yang terus meningkat, akibat terjadi kecelakaan dan menurunnya penumpang. Pengurangan pelayanan sudah terjadi jauh sebelum tahun tersebut, mengingat jalur penghubung dari Bandung ke Ciwidey relatif telah baik. Sehingga hadir beberapa layanan transportasi menggunakan sarana kendaraan roda empat.
Saat ini jalur kereta api tersebut tutup total, sebagian jalurnya telah diokupasi oleh warga lokal. Berganti menjadi rumah, warung hingga jalan setapak yang dimanfaatkan sebagai jalur lintas roda dua. Dari beberapa media daring, melalui kebijaksanaan gubernur Jawa Barat. Merencanakan pembukaan kembali jalur kereta api ini, walaupun di pemerintahan sebelumnya memiliki wacana yang sama. Namun pelaksanaanya belum terjadi hingga kini.
Perjalanan dilanjutkan mengarah ke selatan melalui jalan raya Pangalengan sepanjang 10 km. Sekitar pecabangan Pangalengan dan Puncang, di sekitar Cimacan. Didapati tugu peringatan yang menjelaskan tentang sejarah pergerakan kemerdekaan RI. Ditulis Tugu Tokoh Perintis Kemerdekaan Bandung Selatan, tahun 1932 atas prakarsai oleh Bung Karno (Sukarno). Tugu Perintis ini dibangun seiring dengan penetapan Desa Cimaung sebagai desa Panca Marga pada 31 Desember 1962. Menunjukan pemerintahan daerah Desa Cimaung mendukung kepada RI.
Dari Cimaung, kemudian bertemu dengan jembatan Cikalong. Selepas jembatan berbelok ke arah barat, berupa jalan sekitar Cangkuang Cikalong. Di sekitar Kampung Cikalong Hilir, didapati instalasi Bak II PDAM Tirtawening. Berupa kolam pengendap, kemudian didistribusikan melalui pipa Banjaran melalui jaringan pipa PDAM.
Jalan berupa beton lebar 6 meter, membawa ke arah Cangkuang. Jalannya menurun melalui jembatan, di atas Ci Sangkuy. Alirannya membelah lembah dari selatan ke utara. Sungai ini menjadi sumber air yang digunakan untuk menggerakan tiga pembangkit listrik tenaga air; diantaranya Plengan, Lamajan dan Cikalong. Tiga fasilitas pembangkit listrik tersebut, di bawah pengelolaan PT Indonesia Power, Bandung, Jawa Barat.
PLTA Cikalong merupakan tiga rangkaian dari sistem pembangkit listrik yang mengandalkan air sadapan dari Ci Sangkuy hulu. Airnya ditampung melalui kolam penenang (Forebay) yang berada di barat daya. Disebut kolam penenang Batu Eon, dicirikan dengan bongkah batu yang berada ditengah kolam. Masyarakat mempercayai nya, sebagai entitas yang tidak bisa dipindahkan atau dibongkar, sehingga dibiarkan begitu saja. Dari kolam ini, kemudian dialirkan melalui pipa ganda tertutup, sejauh 1 km. mengalir dari ketinggian sekitar 1010 meter ke 700 meter. Fasilitas PLTA ini dibangun setelah kemerdekaan RI, atau sekitar tahun 1954. Besar daya yang dihasilkan secara optimal adalah 19,20 MW.
Dari Desa Lamajan, didapati jalan kontrol yang digunakan oleh pengelola PLTA. Jalan yang mengikut lereng G. Tilu, mengikuti jalur irigasi tertutup. Instalasi ini dibangun seiring dengan kebutuhan listrik pada masa Kolonial Belanda. Dengan cara memanfaatkan aliran CI Sangkuy. Karena debit air yang tidak stabil, kemudian dibangun waduk buatan Cileunca dan Cipanunjang. Waduk tersebut mengalir air secara stabil ketiga pembangkit listrik. Sumber airnya disadap di bendungan Cikalong yang berada di arah hulu. Alirannya berupa saluran tertutup yang menembus lereng G. Tilu, Gunungapi purba yang menaungi Pangalengan. Untuk mendapatkan pasokan air yang stabil dari hulu, dialirkan melalui terowongan buatan tertutup. Sehingga alirannya tidak terpengaruh oleh sedimentasi atau tanah longsor. Di beberapa titik buatkan jembatan yang menyebrangi anak sungai. Struktur demikian disebut aqueduct, atau jembatan air (sungai).
Instalasi ini dikerjakan sejak 1922, dan beroperasi 1925. Sub Unit PLTA Plengan menghasilkan 6.87 MW, kemudian sub Unit PLTA Lamajan 18,56 MW, dan sub PLTA Cikalong menghasilkan 19,20 MW.
Jalan makadam tersebut menghubungkan antara PLTA Cikalong ke kolam PLTA Lamajan. Dilanjutkan ke PLTA Plengan. Sebelum tiba di Plenga, jalan makadam (berbatu), didapati dinding tegak. Berupa aliran lava tebal, dengan struktur sheeting joint atau kekar lembar. Terbentuk akibat kehilangan pembebanan, membentuk lembaran. Di tepi jalan sekitar Pulosari, terdapat air terjun. Mengalir diantara celah-celah batu membentuk tirai air. Warga menyebutnya Curug Dewa, sungai terbuka dari anak sungai Ci Sangkuy hulu.
Ke arah hulunya didapati waduk buatan Cileunca. Danau buatan. Kolonial Belanda menyebutnya Waterreservoir Tji Leunca en Tjipanoenjang. Merupakan danau buatan kaskade (cascade reservoir), multi guna untuk pengairan pertanian, wisata, dan sumber energi pembangkit listrik. Waduk Cileunca dikerjakan hampir tujuh tahun (1919-1926), memanfaat anak sungai sebagai sumber mata air waduk. Pembangunan kedua adalah pembendungan Waduk Cipanunjang (1927-1930). Paras waduk 2045 m dpl, dialirkan ke tempat yang lebih rendah sekitar 658 m dpl. Perbedaan ketinggian tersebut dimanfaatkan untuk menggerakan tiga turbin pembangkit listrik air; Plengan, Lamajan dan Cikalong
Kegiatan diakhiri di Situ Cileunca. Melihat kembali teknologi yang telah berusia seratus tahun lebih, berupa bendungan. Dialirkan melalui irigasi tertutup, membobok gunung hingga pembuatan kolam/forebay di atas ketinggian. Dijatuhkan melalui pipa pesat, untuk mendapatkan tekanan air. kemudian turbin bergerak, menghasilkan listrik.











