Satu keluarga tampak sibuk menata lahan sempit di Rancabungur. Masing-masing seperti memiliki tugas yang perlu diselesaikan segera. Pekerjaannya berlomba dengan matahari yang terus bergerak tinggi, hingga suara adzan berkumandang. Hawa panas menyergap, akibat penguapan tinggi. Si bapak mengais tanah, memindahkan batuan yang menutupi lahan. Sedangkan si ibu mempersiapkan bibit sayuran, kemudian menanamnya. Lahannya tidak terlalu luas, kurang lebih hanya sepuluh langkah dewasa. Sepetak lahan tidak bertuan di tepi situ, muncul hanya saat kemarau. Bingkai fragmen sosial tersebut, mengantarkan peserta Geourban bertandang di sekitar Tambakan.
Kegiatan pro bono, dengan tujuan mengupas narasi sejarah bumi dan budaya. Sekaligus menggalang jejaring lokal untuk menggerakan wisata bumi. Wisata berbasis narasi, interpretasi melalui aktifitas jalan-jalan. Kegiatan Geourban ini, terhitung kegiatan ke-43 dengan judul Tambakan. Melanjutkan kegiatan sebelumnya, di sekitar Tengeragung dan Sagalaherang. Subang. Kegiatan diikuti empat partisipan, pegiat wisata, pemandu dan pegiat literasi sejarah khususnya priangan.
Tapakbumi yang dikunjungi adalah situ kembar, di perbatasan dan Tambakan dan Cijambe. Rahasia bumi, pembentukan sungai yang terpotong, menjadi danau. Disebut Rancabungur, ranca adalah rawa dan bungur merupakan pohon besar yang dicirikan bunga nya berwarna ungu. Danau yang berada di sebelah utara Tambakan, dibelah oleh jalan penghubung Jalancagak menuju Cijambe, Subang. Saat didatangi di bulan 3 September 2025, airnya surut hingga jauh ke arah tengah danau. Warna menunjukan batas surut pada dinding pembatas, turun hingga 2 meter lebih. Menandakan air danau tersebut sangat bergantung dengan air meteorik, atau air hujan. Mengingat sejak bulan Juli, kemarau mulai melanda sebagian besar bagian selatan subang. Sehingga air yang terdapat di danau tersebut surut hingga pada batas maksimal.
Rancabungur merupakan sistem danau, bersanding dengan Rancateja di sebelah utaranya. Duduk di dataran rendah yang diapit oleh tinggian sebelah timur dan barat. Berupa aluvial yang ditempati oleh sawah di bagian baratlaut dan dipotong oleh (sungai) Ci Leuleuy. Dari peta geologi lembar Bandung (Silitonga, 2003), batuannya disusun oleh hasil gunugapi muda tak teruraikan (Qyu). Berupa pasir tufan, lapili, breksi, lava, aglomerat. Batuan tersebut merupakan hasil kegiatan gunungapi di masa lalu. Dalam keterangan Nugraha (2004), G. Tangkubanparahu mulai memperlihatkan kegiatannya sekitar 11 ribu tahun yang lalu. Produknya kini bisa disaksikan di sepanjang jalur Tambakan hingga ke utara.
Hasil aliran piroklastik dan lava,diendapkan dan tersingkap dengan baik di tanggul yang memisahkan dua danau. Berupa struktur kekar dan bidang rekahan, terlihat bila danau dalam kondisi surut akibat kemarau. Dari peta google map, danau ini membentuk pola menerus ke arah utara. Berupa badan sungai yang memanjang utara-selatan. Kemudian membentuk danau akibat aliran sungainya bergeser, membentuk oxbow lake atau danau kalisapi. Setiap segmen membentuk situ dengan ukuran beragam, diataranya Rancabogo, Rancalege. Kemudian memanjang ke arah utara, disebut Rancadeleg,
Sebagian besar Tambakan bagian utara, berbatasan dengan Cijambe ditempati sawah. Ciri dataran aluvial, didominasi tanah yang subur, gembur hasil dari pengendapan material sedimentasi. Diangkut oleh air dari hulu di sebelah barat, kemudian diendapkan ulang disepanjang Tambakan bagian utara,
Sebelumnya partisipan Geourban berkunjung ke Pabrik Tambaksari. Dalam foto lama memperlihatkan seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda, berkunjung ke Tambaksari. Pada 28 Oktober 1922, meresmikan Pabrik Tambakan. Komoditas utamanya adalah teh, saat itu menjadi sumber terbesar perkebunan di Priangan. Namun seiring waktu, kelak terjadi degadrasi pengelolaan perkebunan.
Seiring turunnya permintaan teh dunia, Perkebunan di bawah pengelolaan Pamanoekan en Tjiasemlanden (P&T), harus berbenah untuk bertahan dalam industri perkebunan. Memasuki perang kemerdekaan kemudian diikuti kedaulatan RI, Tambakan bersalin pengelolaan. 12 Agustus 1982 Desa Tambakan dimekarkan menjadi Tambakmekar. Seiring perubahan luas wilayah desa, pengelolaan perkebunan di bawah PTPN VIII. Selanjutnya kini menjadi Pabrik Tambaksari, dibawah pengelolaan PTPN I Regional 2. Mengelola perkebunan sawit, meliputi Tambakan, Ciater dan Kasomalang.
Di sebelah barat dari pabrik Tambaksari, didapati ceruk. Masyarakat menyebutnya Gua Landak, menandakan habitat landak bisa saja pernah menempati wilayah ini. bentuknya berupa ceruk, dengan panjang sekitar 50 meter, dan lebar 20 meter. Membentuk cekungan, seperti sinkhole pada kondisi karst, batuan karbonat. Berada diantara perkebunan nanas warga, sekitar 100 meter dari jalan raya.
Fitur demikian sungguh menarik, karena terjadi pada batuan gunungapi. Cekungan yang memanjang, diduga merupakan bagian dari gua lava. Bagian penutupnya ambruk karena erosi, dicirikan dengan blok dan bongkah batuan yang tersebar di dasar cekungan. Bentuknya memanjang utara-selatan, sesuai dengan arah aliran baratdaya-timurlaut. Dalam peta gunungapi Sunda-Tangkubanparahu (1992), Rudi Dalimin menuliskan sumber lava berasal dari G. Malang-G. Cina. Ketiga kerucut tersebut menurut Peta Geologi Gunungapi Sunda-Tangkubanparahu, M. Nugraha Kartasasmita (2005), merupakan aliran lava G. Tangkubanparahu. Selanjutnya melalui interpretasi lereng, mengalir hinga ke arah barat. Sumbernya diperkirakan berasal dari hasil letusan sektor selatan kawah Pangguyangan Badak, membentuk tapal kuda membuka ke arah timur. Bagian selatan kawah lebih rendah, sehingga pada letusan efusif menghasilkan aliran lava. Umurnya ditaksir sekitar 40 ribu tahun yang lalu, ekivalen dengan aliran lava di Curug Dago dan sekitarnya.
Lokasi selanjutnya bergeser ke fasilitas pembangkit listrik tenaga air. Menuju PLTA Cijambe dan Gunungtua. Dua fasilitas penghasil listrik, untuk menggerakan mesin pabrik pada awal abad ke-20. Seiring dengan perkembangan teknologi dunia, listrik dihasilkan dengan cara menyadap air. Di Bandung dan sekitarnya, ada dua fasilitas PLTA awal, diantaranya adalah PLTA Cijambe 1912, dan PLTA di Cilaki di Malabar Pangalengan. Dibangun lebih awal, setidaknya empat tahun sebelumnya. Mempersiapkan aliran air, pembangunan sistem pipa pesat, mendatangkan unit pembangkit listrik seperti dinamo dan turbin.
Dari foto lama kolonial, memperlihatkan gambaran dan posisi bangunan. Yaitu menghadap ke arah utara, dengan penanda tulisan di bagian atas Tjijambe 1912. Namun seiring perang dunia ke-2, sebagian bangunan rusak akibat pemboman pasukan Jepang. Selain itu, kerusakan selanjutnya akibat sabotase, seiring dengan agresi militer Belanda pertama pada 1947. Fasilitas ini kemudian diperbaiki dan direnovasi, kemudian bisa dioperasikan kembali pada 12 Oktober 1952. Saat ini fungsi PLTA Cijambe hanya meneruskan tegangan listrik, dari sumber listrik PLTA Gunungtua ke PLTA Cijambe. Diteruskan ke Kasomalang, Ciater dan Bukanagara. Fungsi PLTA ini sebatas memberikan sumbangna listrik dalam ukuran 25 KV, hingga 60 KV. Selebihnya dipasok oleh PLN, melalui jaringan listrik Jawa-Bali.
Penutup kegiatan Geourban ke 43, menyempatkan berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir Peter William Hofland. Di makam kristen Subang. Berupa kuburan orang Eropa yang pernah bekerja untuk Hofland, sejak 1840-an.








