Catatan Singkat Geourban#56 Bunihayu

Perjalanan sehari di kegiatan Geourban ke-56 dimulai dari Cikole Lembang. Jelang pagi, sekitar pukul 7.30 WIB, jatuh pada hari Minggu, 8 Februari 2026. Walaupun cuaca sedikit kabut menggelayut, tidak menyurutkan pelaksanaan kegiatan.

Perjalanan diarahkan menuju Subang, melalui Ciater kemudian dilanjutkan ke arah Sagalaherang. Di lereng G. Tangkubanparahu sebelah barat, jalanan Ciater tampak bersolek. Jongko pedagang yang biasanya menutupi pemandangan di tepian jalan, kini telah tidak ada. Ditertibkan melalui keputusan Gubernur Jabar perihal penataan ulang kawasan Ciater-Subang. Sebagai gantinya adalah jalan yang kini semakin dipoles, hotmix, perbaikan saluran drainase. Menjelang jembatan Ci Pangasahan, saat ini telah dibangun pelataran wisata pemandangan. Disebut Taman Dewi Sartika, berupa platform yang dibuat bertangga, menghadap ke arah timur. Sehingga dari titik ini menjadi tempat terbaik untuk menyaksikan matahari terbit, Selain itu melihat jajaran gunung dan perbukitan di sebelah utara hingga ke arah timur.

Dari titik ini terlihat jajaran perbukitan dan kerucut gunnugapi tua. Ke arah timur, hadir jajaran perbukitan G. Karamat 1510 mdpl., bersandingan dengan Pasir Ipis 1254 mdpl. Ke arah timurnya, terlihat kerucut khas berupa dua kerucut yang berada pada satu tubuh gunung, disebut G. Canggak 1619 mdpl. Sedikit ke arah timurlaut, terlihat kerucut G. Tampomas yang hadir dalam selimut kabut.

Sebelah utara dari taman ini, tepatnya di Jembatan Ci Pangasahan, Ciater. Merupakan bukti sejarah, perlawanan tentara kerajaan Belanda atau KNIL, menghadapi serangan tentara Jepang. Dikenal dengan perang Tjiater Stelling atau pertempuran di Ciater pada 5-7 Maret 1942. Di Perlintasan jalan inilah mengakhiri kekuasaan Kolonial Belanda di Indonesia, kemudian diganti penjajahan Jepang selama 3 tahun lebih.

Bergerak ke arah utara, melalui percabangan Ciater-Panaruban. Jalannya menurun, menandakan bagian dari lereng G. Tangkubanparahu bagian distal atau kaki gunung. Menurun ke arah Sagalaherang, sejajar dengan aliran Ci Koneng (sungai). Alirannya berasal dari lereng sebelah utara G. Tangkubanparahu, mengalir ke utara. kemudian bergabung dengan Ci Muja di sekitar Cicadas, sebelah utara Panaruban. Dari peta geologi lembar Bandung (Silitonga, 2003), sebagian besar batuan yang tersingkap adalah alira lava. Batuannya berwarna abu gelap, menempati dasar sungai. Membentuk ceruk-ceruk dan air terjun di sekitar Panaruban. Diantaranya Curug Karembong, Curug Sawer, Curug Gua Badak, Curug Cisaga dan sebagainya.

Tiba di Sagalaherang, bertemu dengan persimpangan. Ke arah barat menuju Wanayasa, dan sebaliknya ke arah timur menuju Subang. Sekitar Sagalaherang Kaler, kemudian berbelok ke arah utara. Merupakan jalur alternatif ke kota Subang, melalui Batukapur. Jalannya sempit dengan turunan terjal, terutama saat akan memasuki daerah Batukapur. Di sebelah kanan jalan merupakan lembah dalam yang disayat oleh Ci Nangka. Sungai yang berasal dari lereng sebelah utara G. Tangkubanparahu. Kemudian bergabung dengan beberapa anak sungai, seperti Ci Nangerang, Ci Longok, Ci Taraban yang berasal dari Gunung Batu Kapur 543 mdpl. Semua anak sungai kemudian bergabung dengan Ci Asem.

Aliran Ci Asem dialasi batuan beku. Berwarna gelap, dan masif. Secara umum terlihat struktur batuan yang terdeformasi, menandakan adanya struktur yang bekerja di wilayah ini. Keberadaan struktur patahan, digambarkan pada peta Geologi Lembang Bandung (Silitonga, 2003). Berupa garis patah-patah, diduga adanya struktur. Berupa patahan yang memotong Gunung Batukapur, dengan arah relatif baratlaut-tenggara. Bukti keberadaan struktur tersebut, adalah hadirnya mata air panas Batukapur.

Curug Agung Mengalir di Atas Aliran Lava
Kondisi jalan lintas jalan alternatif Sagalaherang ke Subang via Batukapur, relatif dalam kondisi baik. Berbeda dengan tahun lalu, masih berupa jalanan aspal yang berlubang, dan sebagian berbatu. Saat ini sebagian besar jalannya telah di beton, sehingga bisa dilalui dengan aman oleh beberapa jenis kendaraan. Kondisi demikian mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, karena akses telah tersedia dan baik.

Perjalanan dari arah Sagalaherang ke arah Curugagung, didapati persimpangan jalan. Ke arah barat, melalui jembatan yang melintasi Ci Asem. Kemudian mengarah ke Dawuan. Sedangkan jalan lurus, menuju kota Subang. Sekitar jembatan Curugagung, sekitar 50 meter ke arah utara didapati aliran Ci Asem. Airnya relatif deras, merupakan pertemuan beberapa anak sungai yang berasal dari berapa tinggian. diantaranya Gunung Batukapur di sebelah timur, dan jajaran perbukitan

Memasuki Desa Curugagung dari arah Sagalaherang, dicirikan dengan persimpangan jalan antara Subang dan ke Dawuan. Selepas jembatan, mengalir Ci Asem ke arah utara. Aliran airnya mengalir di atas batuan lava tebal. Dalam peta Geologi Lembang Bandung (Silitonga, 2003), merupakan aliran lava batuan gununugapi muda Tak Teruraikan (Qyl), berumur Kuarter. Sumbernya berasal dari G. Tangkubaparahu, sama (ekivalen) dengan aliranlava di Curug Dago, Bandung. Umunryan

Masyarakat menyebutnya Curugagung, berupa air terjun bertangga. Membentuk ceruk di bagian atas, dan kolam di bagian bawah. Akibat aliran airnya deras, sehingga mengerosi batuan membentuk air terjun bertingkat. Tingginya sekitar 3 meter di bagian atas, kemudian air terjun utamanya dengan tinggi 10 meter. Di bawahnya didapati kolam konsentris, akibat hasil kegiatan erosi oleh arus air.

Dialasi oleh batuan beku berwarna abu-abu gelap, didapati lubang-lubang gas. Disebut vesikular, tekstur berlubang yang terbentuk akibat pelepasan gas. Pada saat lava mengalir, membawa gas yang terlarut, kemudian seiring pembekuan (dingin) gas-gas tersebut dilepaskan. Batuannya tebal dan masif, berwarna abu-abu gelap. Sebagian besar batuannya terdeformasi, menandakan hadirnya sistem sesar di daerah tersebut. Keberadaan air terjun tersebut merupakan bukti hadirnya struktur. Dikonfirmasi dari hasil penelitian P.H. Silitonga (2003), berupa garis putus-putus berarah relatif baratlaut-tenggara.

Bukti Sesar di Curug Cinangrang
Terletak di Bunihayu, Jalancagak, Subang. Didapati air terjun yang mengalir di dinding tegak. Kemudian di sebelah baratnya terdapat beberapa sumber mata air panas. Dari peta lama lembar Djambelaer (1912), memperlihatkan simbol mata air panas.

Air terjun Tangerang dipercaya sebagai air terjun keramat, sehingga oleh sebagian masyarakat di masa lalu dimanfaatkan sebagai sarana kegiatan sakral. Namun pada saat ini, kawasan tersebut telah berkembang menjadi sarana wisata. Dikelola melalui paguyuban wisata Desa Bunihayu, melalui kerjasama dengan pihak swasta. Diantaranya didapati fasilitas glamping, dan sesaran kolam rendam. Jalannya telah ditata menggunakan semi beton, hingga di dasar lembah. Jalannya curam, alternatifnya adalah dengan cara berjalan kaki sepanjang 1 km.

Air terjunnya tinggi, sekitar 30 meter. Tegak dan membentuk gawir yang memanjang dari tenggara ke baratlaut. Sejajar dengan arah pengaliran Ci Nangrang. Pada peta geologi lembar Bandung (Silitonga, 2003), disusun oleh batuan Hasil Gunungapi Lebih Tua (Qob). Diantaranya perlapisan breksi, lahar, dan pasir tuf berlapis-lapis dengan kemiringan kecil. Tebal endapannya sekitar 600 meter.

Dilokasi telah tersedia sarana pariwisata, toilet, sarana penginapan berupa tenda glamping hingga tempat makan. Diusahakan sejak dua tahun yang lalu, melalui usaha bersama. Antara masyarakat lokal dan permodalan dari pihak ketiga. Arah pengembangannya adalah pariwisata yang berbasis pada alam. Sehingga cara menatanya disesuaikan, tanpa menggunakan pembangunan fisik yang berlebihan. Semuanya diselaraskan dengan kondisi lingkungan.

di bagian atas air terjun ini, terdapat kegiatan tambang batu dan pasir. Kegiatan tambang ini menyebabkan kerusakan lingkungan, dan tidak memiliki izin. Pada tanggal 17 Janurai 2025 ditutup oleh Gubernur Jawa Barat. Sebagai tindakan lanjutannya adalah penyegelan lokasi tambang, oleh pihak Polres Subang. Kegiatan tambang ini berdampak langsung kepada masyarakat penggarap sawah, karena dikeluhkan airnya kotor. Selain itu terjadi sedimentasi di beberapa aliran sungai, termasuk Ci Nangerang. Bila hujan tiba, bukan saja pasir yang dibawa dan jatuh di air terjun, bahkan membawa material dengan ukuran lebih besar. Sehingga menyebabkan terjadinya bahaya banjir bandang, akibat bagian hulu air terjun ini dikeruk oleh kegiatan tambang. Sehingga lahan yang rusak, harus segera dihijaukan kembali.

Mata Air Panas Bunihayu
Berada di dalam kompleks wisata Bunihayu Forest, Jalancagak. Berupa kolam-kolam rendam dengan ukuran sekitar 3 meter, menggunakan alas tembok. Didapati tiga kolam,dengan sumber mata air panas yang berbeda. Sebelah utara jauh lebih panas, karena tidak menggunakan penampungan. Sedangkan tiga kolam di sebelah utara, diposok oleh sumber air yang ditampung dalam kolam kecil, kemudian disalurkan ke kolam pemandian.

Airnya tidak terlalu panas, karena berasal dari beberapa sumber kemudian dialirkan ke kolam-kolam melalui sistem pipa. Sumbernya muncul di celah batuan, berada di bantaran sungai Cinangrang. Berupa sumber mata air panas, muncul melalui batuan piroklastik (akifer). Suhunya tidak terlalu panas, dengan perkiraan temperatur sekitar 40 hingga 50 derajat celcius. Di sekeliling kemunculan air panas, diendapkan batuan karbonat disebut travertine. Disebut dengan Limestone-based hydrothermal systems. Endapan batuan karbonat tersebut merupakan hasil mineralisasi, saat air panas melewati batuan sedimen. Naik ke permukaan melalui bidang rekahan yang ditafsirkan sebagai struktur patahan Batukapur. Arah kelurusannya relatif beraarah baratlatu-tenggara, memotong Gunung Batukapur.

Kemunculan mata air panas tersebut, lebih dari lima titik. Menurut keterangan warga, masih ada beberapa titik di bagian hulu. Kemudian ke arah hilirnya mendekati Batukapur, objek wisata kolam renang. Wisata ini memiliki debit air panas yang lebih besar, sehingga ditampung dalam kolam yang luas. Keberadaan air panas ini menandakan di bawah permukaan bumi didapati sumber panas, disebut magma. Kemudian memanaskan batuan penutup (cap rock), yang bertindak sebagai tungku. Kemudian memanaskan air tanah dangkal. Tekanan gas mendorong naik ke permukaan, melalui celah-celah atau batuan poros dalam bentuk manifestasi air permukaan. Debit airnya rendah, menandakan kestimbangan tekanan dari bawah permukaan. Sehingga dalam perlakukannya tidak bisa dibor atau dibuka lebih lebar, karena akan mengganggu tekanan air. Dampaknya adalah tekanan berkurang, kemudian air panas akan hilang.

Sejajar dengan kolam rendam, mengalir Ci Nangerang. Di hululunya didapati beberapa anak sungai, diantaranya Ci Tajaherang, Ci Picung, dan Ci Taraban. Hulunya di sebelah utara, antara Pasirtengah 495 mdpl., dan Pasirjambudipa. Mengalir ke Ci Nangerang, kemudian bergabung dengan Ci Nangka di Batukapur.

Sumber mata air panas lainya, berada di sebelah utara, di aliran Ci Tajaherang. Anak sungai dari Ci Nangerang. Kemudian ke arah selatannya, yaitu Mata Air Panas Ciseupan, di Batugede, Serangpanjang. Keberadaan mata air panas tersebut menjadi unggulan wisata, terutama berbasis wellness atau kesehatan. Sehingga bisa dikembangkan pada wisata minat khusus. Sehingga diperlukan penataan lahan yang berwawasan lingkungan.

Waterkracht Tjinangling
Perjalanan dari Batukapur ke arah utara, mengikuti saluran irigasi Ci Jambe. Sungainya membentang dari selatan ke utara. Bersumber dari bendungan Curug Agung di Leles, Sagalaherang. Kemudian dialirkan ke utara melalui sungai buatan terbuka atau sistem irigasi. Jaraknya kurang lebih 8 Km, melalui Cihuni, Jambelaer, hingga Cisampih Dawuan. Beruapa saluran irigasi, disebut Ci Jambe. Sungai buatan yang digunakan untuk menggerakan turbin listrik Cinangling. Manajemen pengelolaan air melalui pembuatan jalur sungai, dengan tujuan mendapatkan pasokan air surplus. Walaupun sejajar dengan arah irigasi tersebut terdapat sungai utama, namun dianggap tidak stabil. Khususnya untuk menggerakkan turbin di Waterkracht Tjinangling, atau Pembangkit Listrik Tenaga Air Cinanging, Dawuan. Fasilitas rumah produksi listrik ini selesai dibangun 1936. Didahului dengan pembuatan jaringan pasokan air. Berupa irigasi terbuka, disadap di sebelah selatan sekitar Curugagung. Selain sebagai sumber utama untuk energi listrik, irigasi tersebut digunakan untuk persawahan yang dilaluinya. Sehingga membawa manfaat lebih, selain menghasilkan energi listrik, turut mengairi sawah di Dawuan.

Bangunan rumah pembangkit listrik, berada di sebelah selatan Jalan Alternatif yang menghubungkan antara Sagalaherang di selatan, ke Kalijati di utara. Bentuk bangunannya memanjang barat laut-tenggara, dengan inlet (pipa pesat) dari arah tenggara. Outletnya ke arah barat laut. sebagian dibuang ke sungai terbuka, dan sistem pipa bawah tanah hingga ke Pabrik Karet Wangunreja. Di atas terowongan outlet, terdapat tulisan yang dibuat pada dinding beton. Berbunyi “Tjinangling 1936”. Menandakan tahung operasional fasilitas ini.

Panjang bangunnnya sekitar 50 meter, dua lantai. Lantai dasar digunakan untuk produksi listrik, melalui dua turbin. Kemudian memutarkan dinamo listrik, untuk menghasilkan listrik sekitar 1,9 Megawatt dalam kondisi optimal. Digunakan untuk menerangi dan menggerakan Pabrik Karet Wanareja dan Perkebunan Sisal di Sukamandi. Sebagian lagi disalurkan untuk menerangi kota Subang saat itu. Diperkirakan berhenti beroperasi sejak 2017, akibat pasokan air yang tidak stabil dan biaya operasional semakin mahal. Sehingga beralih ke penggunaan listrik dari Pusat Listrik Negara/PLN.

Akibatnya bangunan serta fasilitas yang ada terbengkalai. Sejak berhenti hingga saat ini, beberapa bagian perlengkapan dan alat operasional telah hilang dan hancur. Walampun bangunannnaya bmasih berdiri kokoh, namun sebagian besar peralatannya hilang.

Diantaranya beberapa bagian dari turbin, seperti pipa baja outlet dari turbin, penutup flywheel, sebagian dinamo telah hilang. Kemudian panel kontrol tegangan listrik di lantai satu dan dua lenyap tidak berbekas. Terlihat usaha paksa, dengan cara digergaji, dicongkel hingga di las, agar material besi bisa diangkut.

Kondisi demikian akan mengakibatkan hilangnya artefak sejarah, bukti teknologi yang pernah hadir hampir seratus tahun yang lalu akan lenyap. Sehingga Dengan demikian diperlukan tindakan langsung, agar benda hasil budaya dan teknologi ini masih bisa disaksikan untuk generasi selanjutnya. Diperlukan kepastian hukum, agar benda dan struktur bangunnan tersebut bisa dilestarikan sebagai cagar budaya.

Curug Agung, membentuk air terjun bertangga.

P&T Soekamandi, kepemilikan perusahaan untuk perkebunan Sisal/Agave di Sukamandi.

Panel kontrol listrik yang telah hilang akibat penjarahan

Sisa segmen turbin ferris dan generator.

Bangunan Waterkracht Tjinangling yang masih kokoh.

Air terjun Cinangerang yang membentuk bidang sesar.

Sistem akifer membawa air hangat, dan saluran air permukaan di Bunihayu.

Catatan Geourban#52 Mayang

BMKG menyuarakan potensi bibit siklon, berpotensi menggerakan awan menjadi hujan dan tiupan angin. Badan pemerintah yang bertanggung jawab memantau hidro dan meteorologi, menyatakan akan terjadi hujan deras melanda sebagian besar pulau Jawa. Penyebabnya adalah Siklon 93S yang mampu memproduksi hujan lebat di langit Jawa.

Ramalan cuaca tersebut menjadi perhatian, jelang kegiatan Geourban ke-52. Menyusuri kembali sejarah, dan rahasia bumi sekitar Cisalak Subang. Namun hingga jelang matahari terbit, awan di langit membuka tabir. Memberikan kesempatan cahaya matahari menerobos, jatuh di dataran tinggi Lembang. Memberikan jalan kepada warga, beraktivitas pagi di sekitar Langensari, Lembang. Deru motor roda dua, hingga roda empat berburu dengan waktu. Mengantarkan anak sekolah, hingga aktivitas pekerjaan pagi hari.

Walau masih ada awan tebal menggelayut di sebelah utara, tetapi tidak mengurungkan niat menelusuri wilayah Cisalak melalui Cupunagara. Kegiatan pro bono ini dilaksanakan pada hari Selasa, 16 Desember 2025. Dihadiri beberapa partisipan, dari latar belakang yang beragam, mulai dari pegiat wisata, penyuka jalan-jalan hingga kreator konten. Target kunjungan dalam kegiatan ini adalah, menyusuri kembali laporan arkeologi yang dituliskan oleh N. J. Krom (1915), kemudian laporan Dr. Sal. Muller (1833). Kemudian melihat kembali dinamika bumi, berupa gerakan tanah yang sempat terjadi di Cipondok, Kasomalang.

Perjalanan menggunakan roda dua, dengan tujuan untuk memudahkan pergerakan. Mengingat jalur yang akan dilalui adalah jalan makadam (berbatu), hingga jalan kelas desa. Kendaraan dipacu ke arah utara, melalui perkebunan Wangunharja sekitar Lembang. Wilayah ini dikenal dengan perkebunan hortikultura yang berbatasan langsung dengan hutan produksi milik PT Perum Perhutani sektor Bandung Utara. Dari lokasi ini ke arah selatan terlihat jajaran perbukitan yang memanjang barat ke timur, disebut Sesar Lembang. Sedangkan ke arah utaranya, didapati perbukitan yang memagari dataran tinggi Lembang. Diantaranya Pasir Sukatinggi, dan G. Putri. Ditafsir sebagai soma (batas kaldera) G. Sunda. Di baliknya adalah kerucut khas G. Tangkubanparahu bersanding dengan G. Burangrang sebelah barat.

Sistem Gunungapi Cibitung Cupunagara
Selepas tegakan pohon pinus merkusii,mengantarkan rombongan ke arah Pasir Puncak Eurad. Puncak pass yang memisahkan antara Lembang dan Cisalak Subang. Berupa gawir terjal yang memanjang dari timur ke barat. Membentuk dinding tegak, membatasi dataran tinggi Lembang dan Bandung bagian timur dengan Cisalak, Subang.

Dari keterangan ahli gunungapi purba, Sutikno Bronto (2004). Menyebutkan terbentuk dua sistem kaldera, yaitu Kaldera Cibitung di sebelah barat dan Kaldera Cupunagara sebelah timurnya. Dalam keterangannya, Bronto menyebutkan mengenai umur pembentukannya dimulai sejak Paleosen Akhir dan Oligosen Awal. Sekitar 59-36 juta tahun yang lalu, berdasarkan hasil pengukuran batuannya. Sedangkan dari pendapat ahli lainya, merupakan gravity fall atau longsoran batuan. Membentuk gawir terjal yang terbuka ke arah utara.

Puncak Eurad merupakan titik pengamatan terbaik untuk melihat fenomena bumi tersebut. Dilalui oleh jalan kelas desa, menghubungkan antara Cisalak Subang melalui Cupunagara ke dataran tinggi Lembang. Sehingga ditafsir bahwa jalur lintasan ini menjadi strategis. Terutama pada saat serangan Jepang pada 5-7 Maret 1942. Diperkirakan jalur ini menjadi pintu masuk selain melalui Ciater. Seperti yang telah diketahui, pasukan Jepang masuk melalui Subang, kemudian mendesak ke arah Bandung melalui puncak pass Ciater. Dibuktikan dengan ditemukannya lubang militer, berada di sebelah barat laut dari posisi Puncak Eurad. Berupa gua dengan lebar sekitar 2 meter, tinggi 1,5 meter dan panjang lorong tidak lebih dari 8 meter. Diperkirakan merupakan pos pengamatan militer Jepang, pada saat mempertahankan jalur lintas Subang-Bandung melalui Puncak Eurad. Penggunaan lubang gua sangat efektif, digunakan sebagai perlindungan dari serangan udara. Mengingat sistem pertempuran perang dunia kedua, menggunakan pesawat udara. Selain itu sebagai perlindungan dari elemen cuaca, dan mudah dibuat. Batuannya adalah piroklastik yang telah lapuk, dicirikan oleh tanah dan batuan yang berwarna coklat terang. Menandakan hasil alterasi. Mineral ubahan tersebut dilaporkan oleh Sumantri dkk. (2006), menyebutkan Litologi terdiri atas satuan batuan intrusi, lava dan piroklastik berkomposisi andesitis-basaltis, sebagian besar berubah menjadi zona ubahan propilitik dan argilik

Kopi di Bukanagara
Jelang siang, rombongan mengunjungi kedai kopi sebelah utara kantor Desa Cupunagara. Cisalak, Subang. Berupa kedai kopi yang menyajikan aneka macam jenis kopi seduhan, dari perkebunan kopi yang tersebar di kawasan Bukanagara, di Desa Cupunagara sebelah utara. Sedangkan bagian selatannya, diusahakan oleh kelompok tani berbeda. Merek Kopi Cupumanik diusahakan oleh Ita Koswara sejak awal tahun 2014, melalui rintisan bersama kelompok tani kopi. Kemudian tahun 2018 mendirikan kedai kopi, dengan tujuan menyediakan produk siap saji. Ita Koswara merupakan petani kopi di Cupunagara, merintis tanamanan kopi melalui sistem perkebunan kopi. Berlatar belakang petani sayuran, kemudian beralih ke tanamanan kopi. Menurut keterangannya, perintisan tersebut tidak terjadi dalam satu malam, tetapi melalui usaha dan kerja keras. Upaya tersebut berbuah setelah tiga tahun di awal perintisan, melalui usaha budidaya. Dihasilkan jenis arabika dan sebagian kecil robusta, dalam skala industri kecil. Dikerjakan dari hulu, pengelolaan perkebunan terbatas melalui kerjasama dengan kelompok tani. Kemudian pengolahan melalui pemrosesan dari cherry (buah), hingga menjadi gabah.

Untuk meningkatkan penjualan, Ita Koswara memproduksi produk kopi dalam kemasan. Baik dalam bentuk telah di roasting, hingga kopi kemasan digiling halus dan siap seduh. Guna melengkapi alur dari hulu, kemudian di hilir didirikan kedai kopi pada tahun 2018, dinamani Cupumanik di Desa Cupunagara. Menggunakan nama yang diambil dari klasik wayang, dengan tokoh semar. Semangat tokoh tersebut, menjadi motivasi bagi Ita Koswara untuk mendirikan usaha hulu hingga hilir.

Dari keterangan singkat, Ita menjelaskan bahwa sejarah tanaman kopi telah ada sejak jaman kolonial. Dibuktikan ternyata masih ada beberapa pohon kopi, berupa tegakan yang tumbuh tidak terawat di sekitar blok Bukangara. Tingginya sekitar 5-8 meter, dengan ukuran lingkar batang 18-23 centimeter. Daunnya lebar, tampak berbuah ukuran kecil dan masih berwarna hijau. Menandakan pohon kopi ini jenis robusta, dan masih produktif.

Jalan Penghubung Bukanagara ke Pasirlame
Selepas jalanan menurun, kemudian melewati pintu masuk wisata curug (air terjun) Cikaruncang. Merupakan hulu sungai, mengalir membelah desa Mayang yang berada di sebelah utaranya. Kurang lebih 2 km ke arah utara, ditemui jalan turun ke arah lembah. Jalannya berbatu selebar 3 meter, namun keberadaanya telah ditutupi ilalang. Kondisi demikian sulit dilalui kendaraan roda dua, mengingat sebagian jalan menyisakan lubang akibat erosi air. Sehingga diperlukan keterampilan berkendara, di atas jalanan berbatu dan berlubang.

Jalan menurun ke arah utara mengikuti kontur perbukitan Pasir Bedil sebelah barat, kemudian memotong lereng Pasir Tonggohluhur disebelah utaranya. Di sekitar setengah perjalanan, melewati dua anak sungai Ci Karuncang, mengalir hingga ke arah utara kemudian bertemu dengan Ci Karuncang di Desa Mayang.

Sepanjang perjalanan dihiasi oleh tegakan-tegakan pohon kopi. Tumbuhan asal benua Afrika tersebut dibawa ke Subang, kemudian ditanam di wilayah perkebunan milik P&T Lands sejak awal abad ke-19. Pada masa pengelolaan Hofland, dibuka tiga belas kebun
kopi di daerah seperti Bukanagara, Kasomalang, Sarireja, Ciater, Jaggernaik, Arjosari, Tengger Agung, Sumurbarang, Wera, Wangun Reja, Pasir Bungur, dan Subang (Junaedi, 2022: 70). Dalam catatan sejarah Subang abad ke-19, sebagian besar merupakan tanah partkelir. Wilayah Pamanoekan en Tjiasemlanden, mencapai luas 212.900 hektar (Effendi, 1999).

Batu Candi
Sebuah rumah permanen, berdiri kokoh di sebelah bongkah batu. Berada di tepi jalan desa, menghubungkan antaran Cisalak ke Cupunagara, melalui Pasirlame. Bongkah-bongkah batuan tersebut berupa blok batuan yang menyebar dari utara ke selatan. Kemudian di sebelah timurnya,dipotong oleh Ci Leat dan sebelah baratnya dilatasi Ci Karuncang. Masyarakat menyebutnya Batu Candi yang diperkirakan merupakan tempat pemujaan nenek moyang di masa lalu. Selain blok batuan ini, ke arah timurnya menyebar batuan yang hampir sama, disebut batu Goong.

Diperkirakan blok-blok batuan tersebut dibawa oleh air, berupa luapan sungai. Dicirikan dengan didapatinya berbagai ukuran batuan dengan struktur membundar (rounded), ciri di transportasi (diangkut) oleh air. mekanisme pengangkutannya oleh hasil kegiatan luapan air sungai, hingga longsoran yang mengerosi batuan di hulu. Menandakan bahwa kegiatan luapan air sungai, disertai longsoran bahan rombakan telah terjadi sejak lama. Walaupun sering terlanda bencana banjir, namun masyarakat menempati sebagian besar wilayah tersebut karena daerah hasil endapan sungai. Mengakibatkan dataran banjir tersebut subur.

Dari keterangan Ateng (63 tahun) pemilik lahan, menjelaskan bahwa ia menemukan bongkah batu. Bentuknya diduga seperti arca, terbuat dari batu. Benda tersebut ditemukan tanpa sengaja oleh Ano Suwarno (60 tahun) tahun 1974, pada saat melakukan pembersihan lahan. Diperintahkan oleh Ateng, untuk mempersiapkan lahan untuk rumah tinggal. Menurut Ano, ukuran arca tersebut sebesar paha orang dewasa, atau kurang lebih tinggi 40 cm, dengan lingkar 20 cm. terbuat dari batu, berwarna abu-abu gelap mirip dengan batuan yang didapati di sungai Ci Karuncang. Dengan demikian, diperkirakan batuan penyusunnya merupakan batuan hasil kegiatan gunungapi, jenis andesit-basaltik.

Sumber lain mengenai penemuan arcan ini, dilaporkan oleh N.J. Krom Rapporten van de Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indië (ROD) 1914. Dalam jurnal arkeologi yang disusun Nanang Saptono (2009), menunjukan dua titik koordinat. Salah satunya berada di hulu, sekitar 300 meter ke arah utara dari Batu Candi. Dalam penelusuran singkat, warga mengakui tidak mengetahui keberadaan situs budaya. Bahkan satu orang sesepuh menyatakan tidak pernah mengetahui. Namun ia menyarankan ke arah utara, setelah jembatan Ci Karuncang, disebut Batu Candi.

Di Sekitar lokasi ini didapati tanah lapang di atas rumah warga. Sekelilingnya berupa persawahan, dan di sebelah utaranya atau sekitar 100 meter didapati kompleks pemakaman warga. Tanah lapang tersebut tidak luas, namun ditempat beberapa bongkah batuan yang diperkirakan hasil jatuhan dari hulu. Lebar lahannya sekitar 4 x 5 meter, dipagari dan ditanami sayuran. Merujuk kembali kepada sumber literatur, seperti yang dituliskan oleh Saptono (2009), “Sedikit ke arah hulu dari jalan raya terdapat beberapa lahan berupa gundukan namun sudah tidak begitu jelas dikenali. Beberapa gundukan tanah atau lahan yang lebih tinggi dari daerah sekitar memang banyak dijumpai di sepanjang tepi kiri sungai Cigarunjang (penelusuran dari jalan raya menuju arah hulu sungai). Beberapa lahan ada yang sudah menjadi perkampungan. Gundukan tanah atau lahan yang lebih tinggi ini kebanyakan tidak beraturan. Beberapa lahan yang dicurigai sebagaimana yang dilaporkan Krom terdapat pada ujung Desa Gardusayang”

Keterangan tersebut merujuk kepada Batu Candi, lahan milik Ateng. Dari keterangan orang tuanya, dahulu tempat tersebut didapati beberapa arca yang ditempatkan di atas blok batuan tersebut. Sedangkan lingkungan sekitarnya masih berupa persawahan dan tanah lapang. Blok batuan tersebut merupakan perbukitan kecil yang diperkirakan merupakan gundukan tanah membentuk punden berundak. Dari keterangan Ano, tanah tersebut diratakan untuk mendirikan rumah. Tanpa sengaja ia menemukan bentuk arca yang mirip manusia. Dari keterangan, memiliki tangan yang dilipat menyilang di bagian depan. Didapati anatomi layaknya wajah manusia, seperti hidung, mulut mata. Kemudian bagian bawahnya berupa kaki yang memajang.

Arca tersebut rencananya dibuang, namun menurut Ano merupakan peninggalan nenek moyang. Kemudian diserahkan kepada Haji Aceng di Bandung. Hingga kini keberadaan arca tersebut tidak diketahui.

Punden Berundak di tepi Ci Laki
Bergerak ke arah barat dari Desa Mayang, ke arah Cimanggu. Menuju makam tua yang berada di tepi Ci Laki, ditempuh sekitar 3 km dari kantor Desa Cimanggu ke arah barat daya. Mengikuti jalan yang menghubungkan Cimanggu ke hulu Ci Tali. Sungai yang mengalir dari lereng sebelah utara G. Canggak. Arah alirannya dari selatan ke utara, kemudian bergabung dengan Ci Leat di Selaawi, lereng Pasir Jatinangor.

Pada peta lama ke-19 pertengahan, wilayah ini masuk Batu Sirap. Dilaporkan oleh Muller, dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 4de Deel, 1/2de Afl. (1855), pp. 98-122 (47 pages). Merupakan kegiatan penelitian arkeologi, dilangsungkan antara tahun 1831 hingga 1833, mencakup sebagian Sumatera dan Jawa. Pada laporan berjudul Oudheden van Java (benda purbakala dari tanah Jawa). Menuliskan penemuan beberapa arca, dibagi menjadi tiga kelompok. Objek atau benda yang memiliki pengaruh Hindu. Dicirikan dengan batu, berbentuk pedestal atau kubus. Terutama patung yang mirip dengan ganesa. Kelompok pertama ini berasal dari budaya yang lebih muda, sudah menerima pengaruh dari luar. Sedangkan kelompok kedua datang dari umur yang lebih tua. Dicirikan Dengan bentuknya yang masih kasar, kadang-kadang hampir tidak memiliki bentuk manusia; patung-patung ini biasanya disebut arca oleh orang-orang Sunda. Kedua jenis benda purbakala ini masih dihormati secara religius oleh masyarakat setempat hingga saat ini.

Penggunaan nama arca, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti pemujaan dalam bentuk patung. Laporan mengenai keberadaan arca di lereng G. Canggak, ditemukan pada laporan di Plaat III (lembar ke-tiga). Diceritakan penemuan bentuk arca, di kaki gunung Canggak sebelah barat laut. Pada saat itu masuk ke dalam wilayah Karawang yang berbatasan dengan Sumedang.

“Di sana terdapat lima teras berbentuk persegi empat yang berurutan, dari timur laut ke barat daya, pada ketinggian yang sedikit meningkat. Setiap teras 6-8 kaki (1.8 meter – 2.4 meter) lebih tinggi dari teras sebelumnya; teras terbawah memiliki diameter 40 langkah (12,1 meter), tetapi teras teratas sedikit lebih kecil. Di sisi-sisinya, tanahnya curam. Di sekeliling, dan juga di teras-teras yang mirip kuburan ini, tumbuh Poespa – (Schima noronhae), Sempoer … (Dilenia spec.) dan pohon-pohon hutan lainnya, Bambu Tali (Bambusa apus) dan Alang-alang (Imperata Koenigii); Namun, yang paling menarik perhatian kami adalah beberapa pakis mirip palem, yang sampai saat itu belum pernah kami lihat di pegunungan barat Jawa. Pakis-pakis itu adalah Pakoe Hadji setinggi 20-30 kaki (6-9 meter), yang namanya diambil dari tempat itu, dan yang pasti ditanam di sana. Di samping setiap patung dewa terdapat satu. Batangnya yang cukup tebal, halus, berwarna abu-abu kecoklatan, dan mahkota yang sangat indah berbentuk payung atau kipas, sudah menarik perhatian kami dari kejauhan.”

Selanjutnya Muller menggambarkan tiga objek (arca), di bagian teras tengah berupa arca tanpa kepala, dengan tinggi sekitar 65 cm. Arca kedua digambarkan kepala condong ke depan, dengan tangan dilipat di bagian depan. Tingginya sekitar 28 cm. Arca ketiga disebut Demang Peret. Memiliki posis jongkok seperti patung sebelumnya, tafsiran Muller mungkin saya seperti belalai atau janggut yang panjang.

Saat ini merupakan komplek pemakaman Eyang Jaya Kusuma, berada di lereng hulu Ci Laki. Warga menyebutnya daerah Dayeuhluhur, Desa Cimanggu. Seperti nama yang disebutkan dalam laporan Muller, menunjukkan tempat Nagara (kampung?) Bukit Cula, dan Nagara Dhaja Loehoer (Dayeuhluhur).

Makam tersebut berbentuk persegi panjang, berarah utara-selatan. Dibatasi oleh susunan batuan, dengan dua batu besar di bagian tiap ujung. Saat ini seringkali dikunjungi untuk tujuan ziarah, atau ngalap berkah.

Makam Eyang Rangga Marta Yoeda
Dari pusat kota Cisalak, terlihat dataran tinggi di sebelah barat. Merupakan tinggian berupa perbukitan yang disebut Pasanggrahan. Perbukitan tersebut dikelilingi dataran rendah, ditempati sawah. Sebelah selatannya adalah Kampung Ciaruteun, masuk ke dalam administrasi Desa Sukakerti.

Cisalak dilewati oleh aliran Ci Karuncang, daerah aliran sungai Ci Punagara. Hulunya berasal dari lereng utara G. Bukittunggul. Mengalir ke utara, melalui Pasir Tonggohluhur, hingga melewati Desa Mayang.

Di perbukitan Pasanggrahan ini disemayamkan seorang Demang yang hidup pada masa awal pengembangan perkebunan teh dan kopi di Subang selatan. Dikenal Raden Rangga Martayuda, lahir pada 1790. Meninggal dan dikebumikan di Astana Gede Gomati pada 1856. Perannya adalah membantu pengembangan perkebunan partikelir, dikelola oleh T. B. Hofland. Kakak tertua P. W. Hofland. Saat itu pabrik pengolahannya berada di Sagalaherang.

Namanya dituliskan pada tugu di Bukanagara, sebagai perintis pembuatan jalan tembus Cisalak ke Bukanagara. Dikerjakan pada 1847, untuk kepentingan usaha perkebunan partikelir milik T.B. Hofland. Jalan tersebut dinamai Djalan Pedati (Jalan Pedati). Pada saat itu Raden Rangga Martayuda merupakan Demang di Kademangan Batusirap. Saat ini mencakup sebagaian besar Cisalak, Subang. Wilayahnya meliputi Bukanagara, Kasomalang, Sarireja, Ciater, dan Jagernaek.

Longsor Cipondok
Dari arah Cisalak kemudian bergerak ke arah barat, melalui Jalan Raya Kasomalang. Kurang lebih 3.5 km akan bertemu dengan persimpangan. Terlihat jelas papan informasi, industri air minum dalam kemasan (AMDK). Sebelum mencapai gerbang perusahaan swasta tersebut, didapati jalan ke arah sebelah kiri. Jalan yang menghubungkan dari Darmaga ke Kampung Cipondok, Pasanggrahan. Jalannya melintasi petak sawah. Diujung jalan semakin menyempit, hanya bisa dilalui oleh roda dua. Di Ujung jalan, melintasi jembatan yang melintasi Ci Punagara.

Terjadi bencana longsor pada hari Minggu, 7 Januari 2024. Menyebabkan tidak berfungsinya fasilitas sumber air Tirta Rangga, Subang. Perusahaan daerah yang mengelola distribusi air baku ke wilayah Subang selatan. Selain itu merupakan sumber air yang dimanfaatkan oleh perusahaan komersial, air minum kemasan (AMDK).

Peristiwa bencana tanah longsor tersebut, mengakibatkan jatuhnya dua orang korban dan 11 orang luka-luka. Memaksa 262 orang harus dialihkan dari daerah bahaya longsor. Pengalihan tersebut karena terisolir, akibat satu-satunya jalan penghubung putus.

Penyebab terjadinya longsoran akibat dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Faktor pendukung lainya adalah akibat batuan penyusunya (litologi) berupa batuan vulkanik yang belum terkonsolidasi dengan baik (rempung). Berupa aliran piroklastik dan blok lava, mengakibatkan mudah disusupi air. Sehingga bagian batuan lunak, menjadi bidang gelincir. Selain itu berkaitan dengan gradien/sudut lereng perbukitan, dan dekat dengan sempadan sungai. Kondisi demikian menjadi variabel terjadinya gerakan tanah, dengan mekanisme aliran bahan rombakan (debris flow).

Terhitung dua tahun dari waktu terjadinya longsor, saat ini telah mengalami perbaikan. Diantaranya muncul kembali mata air yang dahulu tertimbun longsor. Pengelolaan lereng yang terjal menggunakan rekayasa teknis. Kemudian penanaman kembali melalui 1820 bibit pohon, melalui kerjasama antara perusahaan daerah Perumda TRS, PT Tirta Investama dan Perum Jasa Tirta II. Saat ini sumber mata air tersebut berfungsi dan dapat dimanfaatkan kembali. Setidaknya didapati 5 lubang mata air, dengan debit air tinggi. Sebagian ditampung dalam bak, dialirkan ke dalam pipa. Sebagian lagi dialirkan ke irigasi terbuka untuk kebutuhan pertanian sekitar Kampung Cipondok.

Jalan setapak menuju Gua Militer Jepang, di Puncak Eurad.
Di mulut gua militer Jepang, Puncak Eurad
Jalan makadam menuju Pasirlame, Mayang
Pohon kopi buhun, di lereng Pasirbedil, Mayang
Bongkah batuan tererosi, membentuk garis geometris di Desa Mayang, dengan latar G. Canggak

Catatan Geourban#46 Cikembang

Perjalanan Geourban ke-46, menapaki kembali bukti budaya yang pernah hadir di sekitar Bandung bagian selatan. Wilayah yang dibelah oleh Ci Tarum, mengalir dari selatan, kemudian di Ciparay berbelok ke arah barat. Pengalirannya membagi Cekungan Bandung bagian utara tengah dan bagian selatan. Bagian selatan ditempati oleh dataran rendah, mulai dari Ciparay-Majalaya di bagian timur dan Dayeuhkolot-Baleendah ke arah barat.

kegiatan ini bertujuan mengulas kembali sejarah budaya dan bumi, melalui kegiatan wisata bumi. Dilaksanakan pada hari Kamis, 25 September 2025. Diikuti oleh para partisipan dengan latar yang berbeda, pegiat wisata, pemandu, pegiat literasi kolonial hingga pelaku wisata alternatif. Dimulai selepas pagi, di percabangan Sumbersari, Ciparay Sapan. Dimulai dengan penyampaian briefing oleh Deni Sugandi, selaku inisiator komunitas Geourban.

Jelang pukul 8.15 wib. Rombongan pengguna transportasi roda dua, diarahkan ke bantaran Ci Tarum. Mengunjungi situs Candi Bojongemas, ditepi jalan penghubung Tegalluar ke Solokanjeruk. Tepatnya berada di samping kompleks Puri Melia Asri. Bojongemas. Solokanjeruk. Berupa situs sejarah, berupa koleksi batuan yang terdiri dari beberapa bongkah. Batuan tersebut berbentuk persegi panjang, dengan ciri beberapa cukilan dan coakan. Membentuk persegi panjang, dengan ukuran rata-rata antara 30 cm, dengan panjang 60 hingga 90 cm. batuannya dipahat secara halus, dibentuk sedemikian rupa. Diantaranya didapati coakan geometris, diperkirakan digunakan sebagai alas pengunci blok batuan. Dengan demikian merupakan hasil pengerjaan manusia.

Didapati batuan dengan bentuk tiang, disebut kekar kolom. Bentuk batuan yang biasanya dijumpai sebagai batuan penyusun Situs Gunung Padang di Campaka, Cianjur. Ukuran kekar kolom tersebut sekitar 40 cm, dengan panjang sekitar 120 cm. ditempatkan diatas tumpukan batuan candi. Keberadaan kekar kolom tersebut menjadi misteri, karena tidak adanya kesinambungan konsep budaya di strata budaya pendukung candi. Bila melihat foto dari postingan di web BKN 1 Oktober 2019, kemudian artikel Detik Jabar 10 Juli 2022 dan terakhir dari artikel di Komunitas Aleut pada 23 Maret 2024, kekar kolom tersebut belum ada. Sehingga diduga keberadaan batuan tersebut, ditempatkan menjelang tahun 2025-an. Siapa yang menempatkan di sana, tujuannya untuk apa? Belumlah bisa dijawab. Kemungkinan lainya adalah penemuan baru di dasar Ci Tarum, mengingat keberadaan blok batuan lainya diambil dari dasar sungai. Bila memeriksa kembali posisi sungai berdasarkan peta lama 1903, telah terjadi pergeseran ke arah utara. Sehingga keberadaan candi tersebut, dierosi oleh sungai. Sesuai dengan lokasi penemuan pada

Beberapa pendapat mengatakan bahwa budaya pendukungnnya hadir sekitar abad ke-7. Dicirikan dengan hadirnya arca Durga Mahisasuramardini, saat ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

Bergeser ke arah selatan, melintasi Ciparay kemudian ke arah Majalaya. Tinggalan budaya di lokasi ke-dua ini menemui tinggalam budaya, berupa Yoni. Disebut Situs Yoni Tanggulun, Majalaya. Berada di bantaran Ci Gandok. Anak sungai yang bermuara di Ci Tarum, sekiar Ibun. Berupa Yoni, berbentuk kotak memanjang, dengan ukuran lebar dan panjang yang sama sekitar 40 cm. Tingginya sekitar 60 cm, bagian bawahnya kini ditutupi oleh adukan semen.

Menurut warga, keberadaan situs ini terletak di sebidang tanah yang dahulu ditumbuhi pohon lebat. Sehingga keberadaan tempat tersebut menjadi sakral bagi sebagian warga. Namun seiring pertumbuhan penduduk sekitar Tanggulun, menyebabkan pengambilalihan lahan untuk kuburan warga. Sehingga keberadaan situs Yoni tersebut seringkali berpindah posisi, karena saat itu belum masuk ke dalam cagar budaya. Menurut Away, salah satu partisipan Geourban menyebutkan bahwa keberadaan Ci Tarum semakin menyempit. Akibat perubahan tata guna lahan, okupasi bantaran sungai oleh hunian hingga sedimentasi tinggi. Mengakibatkan lebar sungai semakin menyempit. Kondisi demikian menyebabkan terjadi luapan sungai akibat hujan, terutama pada saat musim basah. Away menuturkan bahwa dahulu diperlukan bantuan perahu untuk menyeberangi Ci Tarum, ke arah selatan dari situs. Namun kini keberadaan sungai tersebut semakin menyempit.

Beberapa pendapat menyebutkan kehadiran situs ini sekitar abad ke-12, merupakan batas sebuah wilayah. Dengan demikian perlu penggalian sejarah lebih dalam, mengingat keberadaan Yoni tersebut semakin tidak diperhatikan.

Dari Tanggulun, kemudian bergeser ke arah selatan menuju dataran tinggi Pacet. Sekitar Sukapura, jalanan meliuk-liuk mengikuti kontur jalan. Sekitar Situ Dua Tonggoh, Cikitu, didapati situs yang dikeramatkan warga. Berupa blok batuan yang disusun oleh batuan gunungapi. Posisi batu tersebut seperti ditancapkan dan tegak, sehingga masyarakatnya menyebutnya Batu Nanceb. Warga batuannya abu-abu gelap, dengan ukuran tinggi sekitar 2,5 meter dan lingkar sekitar 2 meter lebih. Keunikan batuan tersebut memiliki goresan garis vertikal, mengikuti posisi batuan tersebut, sehingga membentuk bidang geometri. Diperkirakan bongkah tersebut meupakan produk letusan G. Malabar yang berada di sebelah barat. Berupa blok batuan yang tererosi dan telah lapuk.

Masyarakat mempercayai situs Batu Nanceb merupakan batas dari wilayah Galuh dan Pakuan Pajajaran. Sebagian lagi menduga, bahwa lokasi ini menjadi batas Danau Bandung Purba. Keberadaan batuan tersebut berada di lereng perbukitan, sejajar dengan perumahan warga yang semakin mendesak ke arah lereng.

Situs budaya lainya adalah Situs Batu Korsi, di Kampung Lodaya Kolot, Tarumajaya, Kertasari. Berupa bongkah batuan,disusun oleh lava. Bentuknya menyerupai kursi, sehingga masyarakat menyebutnya Situs Batu Korsi.

Selain kunjungan ke situs budaya, berkesempatan untuk melihat kembali jalur sesar Garsela. Sesar Garut Selatan, segmen Rakutai (BMKG, 2024). Ekspresi di permukaan bumi terlihat jelas di depan Polsek Kertamanah. Berupa sungai yang memanjang relatif baratdaya-timurlaut. Diperkirakan sesar geser, sejajar dengan sesar regional Garsela. Gempa terakhir yang melanda daerah ini pada 18 September 2024, sekitar magnitude 4.9. Terjadi pada pagi hari, pukul 09.14 wib. Dilaporkan beberapa rumah warga roboh, termasuk fasilitas umum seperti perkantoran, rumah sakit.

Dari lokasi tersebut, kemudian bergeser ke arah barat. Melalui jalan kelas desa yang sebagian besar telah di beton. Mengarahkan ke Cikembang, Kertasari. Selepas taman Desa Cikembang, Kertasari, kemudian dilanjutkan melalui jalan beton yang baru saja dibuka. Berjalan terus ke arah barat, hingga menemui tegakan pohon eucalyptus, berseling dengan pinus yang sudah tumbuh sejak perkebunan hadir.

Dari balik batang pohon pinus, terlihat bayangan bangunan. Tidak tampil dalam bentuk utuh, namun masih terlihat struktur bangunannya. Berupa pondasi yang disusun oleh batuan gunungapi, disusun kemudian direkatkan oleh semen. Tebal dinding nya sekitar 30 cm. dengan tinggi sekitar 6 meter, membentuk dinding tegak persegi panjang. Terdapat dua pintu, menghadap ke arah

Bagian atapnya telah hilang, karena dibongkar untuk digunakan kembali di tempat lain. Rangka baja yang menjadi penguat bagian atap, sehingga bisa dimanfaatkan untuk bangunan di perkebunan yang lain. Akibat permintaan dunia turun, mengakibatkan produksi ikut surut. Menyebabkan pabrik ini harus mengurangi jumlah produksi, terjadi akibat perubahan politik dunia saat menghadapi Perang Dunia ke-2. Dominasi komersial Belanda, akhirnya runtuh seiring masuknya Jepang ke Hindia Belanda 1942

Sehingga pengelolaan administrasi perkebunan, harus beralih ke komoditas lain. Diantaranya ke sektor pertanian dan dan perkebunan teh, dan kopi yang lebih menjanjikan. Kondisi ekonomi dunia mengakibatkan permintaan kina merosot, Saat ini Perkebunan Cikembang di bawah pengelolaan PTP Nusantara I Regional II.

Kunjungan penutup adalah mendatangi sumber mata air panas. Manifestasi permukaan yang berasosiasi dengan sumber panas gunungapi di Tarumajaya, Kertasari. Berupa kemunculan air panas di (sungai) Ci Panas. Sungai yang mengalir memotong punggungan G. Wayang-Windu-Bedil, kemudian di sarah utaranya adalah G. Gambung.

Suhunya sekitar 40 derajat celcius, muncul dalam bentuk mata air di dalam sungai Ci Panas. Warga memanfaatkannya menjadi tempat mandi umum, dengan cara menampung air panas tersebut ke dalam bak. Kemudian dialirkan ke kamar mandi yang dibangun sederhana.

Dari keterangan warga, mata air tersebut muncul di sepanjang sungai. Lebih ke arah timur, suhu ainya semakin tinggi. Menandakan sumber panas merupakan sistem panas bumi G. Wayang-G. Gambung. Tidak didapati belerang, menandakan kontak sumber panas dengan sumber mata air dangkal. Keluar dalam bentuk gelembung air, dengan tekanan air rendah. Debitnya kecil, sehingga perlu ditampung dalam kolam kecil.

Situs Candi Bojongemas, Solokanjeruk
Kekar Kolom diantara batu persegi panjang Candi
Partisipan Geourban di Candi Bojongemas
Situs Yoni di Tanggulun, Majalaya
Interior rumah administratur Cikembang, Kertasari
Situs Batukorsi, Kertasari

Catatan Geourban#44 Tambakan

Satu keluarga tampak sibuk menata lahan sempit di Rancabungur. Masing-masing seperti memiliki tugas yang perlu diselesaikan segera. Pekerjaannya berlomba dengan matahari yang terus bergerak tinggi, hingga suara adzan berkumandang. Hawa panas menyergap, akibat penguapan tinggi. Si bapak mengais tanah, memindahkan batuan yang menutupi lahan. Sedangkan si ibu mempersiapkan bibit sayuran, kemudian menanamnya. Lahannya tidak terlalu luas, kurang lebih hanya sepuluh langkah dewasa. Sepetak lahan tidak bertuan di tepi situ, muncul hanya saat kemarau. Bingkai fragmen sosial tersebut, mengantarkan peserta Geourban bertandang di sekitar Tambakan.

Kegiatan pro bono, dengan tujuan mengupas narasi sejarah bumi dan budaya. Sekaligus menggalang jejaring lokal untuk menggerakan wisata bumi. Wisata berbasis narasi, interpretasi melalui aktifitas jalan-jalan. Kegiatan Geourban ini, terhitung kegiatan ke-43 dengan judul Tambakan. Melanjutkan kegiatan sebelumnya, di sekitar Tengeragung dan Sagalaherang. Subang. Kegiatan diikuti empat partisipan, pegiat wisata, pemandu dan pegiat literasi sejarah khususnya priangan.

Tapakbumi yang dikunjungi adalah situ kembar, di perbatasan dan Tambakan dan Cijambe. Rahasia bumi, pembentukan sungai yang terpotong, menjadi danau. Disebut Rancabungur, ranca adalah rawa dan bungur merupakan pohon besar yang dicirikan bunga nya berwarna ungu. Danau yang berada di sebelah utara Tambakan, dibelah oleh jalan penghubung Jalancagak menuju Cijambe, Subang. Saat didatangi di bulan 3 September 2025, airnya surut hingga jauh ke arah tengah danau. Warna menunjukan batas surut pada dinding pembatas, turun hingga 2 meter lebih. Menandakan air danau tersebut sangat bergantung dengan air meteorik, atau air hujan. Mengingat sejak bulan Juli, kemarau mulai melanda sebagian besar bagian selatan subang. Sehingga air yang terdapat di danau tersebut surut hingga pada batas maksimal.

Rancabungur merupakan sistem danau, bersanding dengan Rancateja di sebelah utaranya. Duduk di dataran rendah yang diapit oleh tinggian sebelah timur dan barat. Berupa aluvial yang ditempati oleh sawah di bagian baratlaut dan dipotong oleh (sungai) Ci Leuleuy. Dari peta geologi lembar Bandung (Silitonga, 2003), batuannya disusun oleh hasil gunugapi muda tak teruraikan (Qyu). Berupa pasir tufan, lapili, breksi, lava, aglomerat. Batuan tersebut merupakan hasil kegiatan gunungapi di masa lalu. Dalam keterangan Nugraha (2004), G. Tangkubanparahu mulai memperlihatkan kegiatannya sekitar 11 ribu tahun yang lalu. Produknya kini bisa disaksikan di sepanjang jalur Tambakan hingga ke utara.

Hasil aliran piroklastik dan lava,diendapkan dan tersingkap dengan baik di tanggul yang memisahkan dua danau. Berupa struktur kekar dan bidang rekahan, terlihat bila danau dalam kondisi surut akibat kemarau. Dari peta google map, danau ini membentuk pola menerus ke arah utara. Berupa badan sungai yang memanjang utara-selatan. Kemudian membentuk danau akibat aliran sungainya bergeser, membentuk oxbow lake atau danau kalisapi. Setiap segmen membentuk situ dengan ukuran beragam, diataranya Rancabogo, Rancalege. Kemudian memanjang ke arah utara, disebut Rancadeleg,

Sebagian besar Tambakan bagian utara, berbatasan dengan Cijambe ditempati sawah. Ciri dataran aluvial, didominasi tanah yang subur, gembur hasil dari pengendapan material sedimentasi. Diangkut oleh air dari hulu di sebelah barat, kemudian diendapkan ulang disepanjang Tambakan bagian utara,

Sebelumnya partisipan Geourban berkunjung ke Pabrik Tambaksari. Dalam foto lama memperlihatkan seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda, berkunjung ke Tambaksari. Pada 28 Oktober 1922, meresmikan Pabrik Tambakan. Komoditas utamanya adalah teh, saat itu menjadi sumber terbesar perkebunan di Priangan. Namun seiring waktu, kelak terjadi degadrasi pengelolaan perkebunan.

Seiring turunnya permintaan teh dunia, Perkebunan di bawah pengelolaan Pamanoekan en Tjiasemlanden (P&T), harus berbenah untuk bertahan dalam industri perkebunan. Memasuki perang kemerdekaan kemudian diikuti kedaulatan RI, Tambakan bersalin pengelolaan. 12 Agustus 1982 Desa Tambakan dimekarkan menjadi Tambakmekar. Seiring perubahan luas wilayah desa, pengelolaan perkebunan di bawah PTPN VIII. Selanjutnya kini menjadi Pabrik Tambaksari, dibawah pengelolaan PTPN I Regional 2. Mengelola perkebunan sawit, meliputi Tambakan, Ciater dan Kasomalang.

Di sebelah barat dari pabrik Tambaksari, didapati ceruk. Masyarakat menyebutnya Gua Landak, menandakan habitat landak bisa saja pernah menempati wilayah ini. bentuknya berupa ceruk, dengan panjang sekitar 50 meter, dan lebar 20 meter. Membentuk cekungan, seperti sinkhole pada kondisi karst, batuan karbonat. Berada diantara perkebunan nanas warga, sekitar 100 meter dari jalan raya.

Fitur demikian sungguh menarik, karena terjadi pada batuan gunungapi. Cekungan yang memanjang, diduga merupakan bagian dari gua lava. Bagian penutupnya ambruk karena erosi, dicirikan dengan blok dan bongkah batuan yang tersebar di dasar cekungan. Bentuknya memanjang utara-selatan, sesuai dengan arah aliran baratdaya-timurlaut. Dalam peta gunungapi Sunda-Tangkubanparahu (1992), Rudi Dalimin menuliskan sumber lava berasal dari G. Malang-G. Cina. Ketiga kerucut tersebut menurut Peta Geologi Gunungapi Sunda-Tangkubanparahu, M. Nugraha Kartasasmita (2005), merupakan aliran lava G. Tangkubanparahu. Selanjutnya melalui interpretasi lereng, mengalir hinga ke arah barat. Sumbernya diperkirakan berasal dari hasil letusan sektor selatan kawah Pangguyangan Badak, membentuk tapal kuda membuka ke arah timur. Bagian selatan kawah lebih rendah, sehingga pada letusan efusif menghasilkan aliran lava. Umurnya ditaksir sekitar 40 ribu tahun yang lalu, ekivalen dengan aliran lava di Curug Dago dan sekitarnya.

Lokasi selanjutnya bergeser ke fasilitas pembangkit listrik tenaga air. Menuju PLTA Cijambe dan Gunungtua. Dua fasilitas penghasil listrik, untuk menggerakan mesin pabrik pada awal abad ke-20. Seiring dengan perkembangan teknologi dunia, listrik dihasilkan dengan cara menyadap air. Di Bandung dan sekitarnya, ada dua fasilitas PLTA awal, diantaranya adalah PLTA Cijambe 1912, dan PLTA di Cilaki di Malabar Pangalengan. Dibangun lebih awal, setidaknya empat tahun sebelumnya. Mempersiapkan aliran air, pembangunan sistem pipa pesat, mendatangkan unit pembangkit listrik seperti dinamo dan turbin.

Dari foto lama kolonial, memperlihatkan gambaran dan posisi bangunan. Yaitu menghadap ke arah utara, dengan penanda tulisan di bagian atas Tjijambe 1912. Namun seiring perang dunia ke-2, sebagian bangunan rusak akibat pemboman pasukan Jepang. Selain itu, kerusakan selanjutnya akibat sabotase, seiring dengan agresi militer Belanda pertama pada 1947. Fasilitas ini kemudian diperbaiki dan direnovasi, kemudian bisa dioperasikan kembali pada 12 Oktober 1952. Saat ini fungsi PLTA Cijambe hanya meneruskan tegangan listrik, dari sumber listrik PLTA Gunungtua ke PLTA Cijambe. Diteruskan ke Kasomalang, Ciater dan Bukanagara. Fungsi PLTA ini sebatas memberikan sumbangna listrik dalam ukuran 25 KV, hingga 60 KV. Selebihnya dipasok oleh PLN, melalui jaringan listrik Jawa-Bali.

Penutup kegiatan Geourban ke 43, menyempatkan berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir Peter William Hofland. Di makam kristen Subang. Berupa kuburan orang Eropa yang pernah bekerja untuk Hofland, sejak 1840-an.

Lapangan udara kolonial Belanda di Tambakan
Perbaikan renovasi kembali, selesai 1958
Parisipan Geourban di PLTA Cijambe
PLTA Gunungtua Subang

Catatan Geourban#43 Tengeragung (Subang)

Dari arah Bandung, kemudian memasuki kawasan Cikole. Seiring perjalanan mendaki mengikuti perbukitan, kiri dan kanan daerah ini semakin dikuasai oleh usaha wisata.. Kawasan hijau, bersalin rupa menjadi struktur bangunan, sedangkan tegakan Pinus merkusii hanya sekedar hiasan saja.

Selepas tanjakan Cikole, tiba di percabangan antara gerbang memasuki kawasan wisata G. Tangkubanparahu. Sedangkan ke arah utara, melandai memasuki wilayah Kabupaten Subang. Jalan nasional yang menghubungkan Lembang ke Jalancagak, kini lenggang. Warung-warung yang membatasi sepanjang jalan, kini hilang. Dibongkar pada awal bulan Agustus 2025, atas kebijakan gubernur Jawa Barat.

Sekitar 978 warung, dari perbatasan G. Tangkubanparahu, hingga Jalancagak telah “diamankan”. Alasanya karena bangunan tidak berizin, dan dianggap menyumbang potensi bahaya bencana longsor. Bangunannya didirikan merambah lereng, sehingga bisa berdampak bahaya. Bila alasan gubernur adalah berkaitan lingkungan, seharusnya berlaku juga kepada pengelola wisata lainya. Pengusaha besar yang menempati sebagian besar lereng timur G. Tangkubanparahu, seperti Astro Highland Ciater, The Ranch Ciater dan sebagainya. Penggunaan lahan menjadi bangunan, menyebabkan tertutupnya zona imbuhan air. Sehingga akan terjadi run off, bila hujan turun, dampaknya adalah banjir dikala musim hujan.

Jejak material letusan G. Tangkubanparahu, masih bisa disaksikan hingga kini. Berupa aliran piroklastik, berselingan dengan aliran lava. Gunungapi ini mulai tumbuh dan memperlihatkan aktivitasnya pada skala waktu geologi Holosen. Kurang lebih sekitar 10 ribu tahun yang lalu (Kartadinata, 2005), melalui kegiatan letusan yang terus berlangsung hingga kini. Di peta Kawasan Rawan Bencana (KRB), G. Tangkubanparahu skala 1:50.000. memperlihatkan arah aliran berupa aliran lava, gas beracun dan kemungkinan awan panas. Diperkirakan arah aliran materialnya ke sekitar Sagalaherang.

Bukti aliran lava, bisa disaksikan di Curug Badak, menjadi dasar aliran Ci Koneng. Sungai yang hulunya di lereng sebelah timur laut G. Tangkubanparahu. Mengalir ke arah selatan, kemudian bertemu dengan Ci Punegara. Di air terjun ini, terlihat lapisan lava tebal, diperkirakan setebal 30 meter lebih. Strukturnya masif dan sebagian terbentuk struktur kekar lembar. Membentuk tapal kuda, terbuka ke arah utara, memperlihatkan lava tebal di bagian atas, menindih batuan breksi piroklastik. Batuan pembawa air ini (akifer), dimanfaatkan pengelola wisata untuk mendapatkan air bersih. Ceruk terbentuk karena batuan bagian atas adalah lava, batuan keras yang resisten terhadap erosi. Kemudian membentuk ceruk, akibat batuan piroklastik yang mudah di erosi. Sehingga membentuk seperti gua-gua, dengan ketinggian antara 2-4 meter.

Lereng landai sebelah timur G. Tangkubanparahu yang subur. Selain mengundang ladang usaha bisnis saat ini, sudah menjadi incaran penguasaan kolonial di Priangan. Selepas tutupnya Perusahaan Hindia Timur Belanda atau VOC tahun 1799, akibat korupsi. Otomatis sebagian besar penguasaan wilayahnya jatuh ke kerajaan Belanda. Semenjak itulah kebijakan kolonialisme bukan lagi mencari keuntungan ekonomi melalui perdagangan rempah. Kolonial Belanda menyusun strategi, melalui usaha-usaha produksi dan hasil perkebunan. Sehingga antara tahun 1800 hingga 1870, sebagian besar hutan-hutan di lereng G. Tangkubanparahu bersalin menjadi perkebunan.

Dalam tulisan lama Short history of the Pamanoekan and Tjiassemlands (1838), menguraikan bahwa hutan Ciater dikonversi menjadi lahan perkebunan sejak penguasaan kolonial Inggris. Melalui surat keputusan Gubernur Jenderal Raffles, 22 Januari 1813, sebagian besar wilayah Krawang (Karawang raya) dijual kepada Muntinghe. Seorang warga Spanyol yang bertindak sebagai makelar tanah. Penguasaan lahan kemudian dijual kepada Shrapnell dan Ph. Skelton pada 1813. Pada tahun yang sama, lahirnya perusahaan swasta, Pamanoekan en Tjiasemlanden (P&T) lahir. Menggabungkan dua lahan, menjadi perkebunan terbesar di priangan pada saat itu. Luasnya kurang lebih sama dengan batas wilayah administrasi Kabupaten Subang saat ini.

Pada peta 1903, batas wilayahnya meliputi sebagian besar Subang saat ini. di sebelah utara dibatasi laut Jawa. Kemudian di bagian timur, berbatasan dengan Kesultanan Cirebon dan (sungai) Ci Punagara. Kemudian di selatan, dibatasi lereng G. Tangkubanparahu, dan bagian barat dipagari (sungai) Ci Lamaya.

Awal pembukaan lahan perkebunan, dikerjakan di sebelah utara Subang. Disekitar Sagalaherang, dicirikan dengan lahan yang memang ideal untuk pendirian pusat pengolahan hasil perkebunan. Di sebelah utaranya didapati mata air Cimutan, mengalir di Ci Kanyere. Terletak di lembah yang diapit oleh perbukitan, memanjang selatan-utara. di lembah ini didapati dua sumber mata air, dengan debit besar. Mengalir diantara rekahan batuan, dan endapan piroklastik. Sedangkan di bagian atasnya ditumbuhi oleh pohon bambu yang rindang dan lebat, menandakan ciri mata air yang sehat. Dari sumber mata air ini, ke arah pabrik pengolahan hasil perkebunan sekitar 1,3 km.

Dengan demikian, penempatan awal mula pusat administrasi dan pengolahan pada saat itu berada di Sagalaherang. Pada foto lama, Koffie Maalderij van de onderneming Tenger Agoeng in de Pamanoekan en Tjiasemlanden (1887), memperlihatkan bangunan administratur dan pusat pengolah kopi. Berupa bangunan yang didirikan di Sagalaherang. Beberapa informasi, pusat pengolahan hasil perkebunan tersebut, diperkirakan berada di lapangan Tengeragung. Lapangan olah raga sepak bola warga. Berupa dataran luas, berada sekitar 500 meter ke arah selatan dari Alun-Alun Sagalaherang saat ini.

Dalam foto tersebut nampak struktur bangunan, dengan latar berupa gunung Tangkubanparahu. Keberadaan Tengerangung, menjadi pusat administrasi pada awal perkembangan Pamanoekan en Tjiasemlanden/P&T. Diperkirakan kerajaan perkebunan Hofland bersaudara ini, selepa pembelian aset dari Ch. Forbes, W. F. Money, Micky Forbes, John Skelton, J. Steward, J. R. Thuring, dan Alex London.

Pada 11 November 1826, kepemilikan lahannya kemudian Ch. Forbes, Micky Forbes, dan J. Steward. Pengusaha dari Inggris ini, kelak menyerahkan asetnya melalui akad pembelian kepada John Erich Banck Thomas Benjamin Hofland & Peter William Hofland.

Pada 28 Oktober 1848, sahamnya semua diambil alih oleh Theodorus Benjamin Hofland, da Peter William Hofland (P.W. Hofland). Dua bersaudara keturunan Belanda. Kemudian pada tangal 1 November 1958, sepenuhnya dikuasai oleh P. W. Hofland. Pada tahun itulah perkiraan pemindahan seluruh operasi perkebunan, ke kota Subang saat ini.

Jejak kejayaan peninggalannya di Tengeragung nyaris lenyap, hanya menyisakan kerkhof. Pemakaman keluarga Hofland, di dataran tinggi Tengeragung. Di Lokasi ini masih bisa ditemui bangunan yang berfungsi sebagai monumen atau ruang pemakaman, tempat penyimpanan peti mati atau guci abu di dalam kripta/relung.

Satu-satunya struktur bangunan yang mencolok adalah kuburan istri dan anak Johannes Theodorus Hofland, anak kedua dari P.W. Hofland. Dimakamkan dengan nama Maria Elisabeth van Lawick van Pabst (lahir 25 Mei 1843, meningal 17 November 1871). Kemudian anaknya, Francis Theodore Hofland yang baru berusia empat bulan, lahir 29 Mei 1860 dan meninggal 29 Agustus pada tahun yang sama. Sepeningal istrinya, kemudian sang suami menikah kembali dengan emma Carolina Elisabeth Kunhardt. Johannes Theodorus Hofland, meningal pada tahu 1906.

Selain itu masih tampak empat tunggul tidak bernama, dan beberapa bentuk pondasi kuburan yang sudah rusak. Saat in kuburan tersebut dimanfaatkan warga menjadi ladang umbi, dan kuburan muslim warga. Sehingga struktur nisan kuburan keluarga Hofland, tampak tidak terurus. Sebagian telah hilang di bagian penanda nisannya, sehingga tidak ada informasi siapa dan kapan jasad yang dikuburkan disini.

Lawatan penutupan kegiatan Geourban, mengunjungi sumber mata air Cimutan. Mata air yang melimpah, dari dua sumber mata air. Terletak di lembah, sistem aliran Ci Kanyere, namun menurut warga, lahan mata air tersebut dimiliki perorangan. Sehingga sumber daya yang melimpah ini bukan lagi miliki desa yang bisa diolah secara kolektif. Dengan demikian warga sangat bergantung dari kebaikan pemilik lahan.

Sebagai penutup, mengunjungi rumah tua peninggalan kerajaan perkebunan P&T di Jagarnaek. Merupakan kampung yang berada di dalam wilayah administrasi Desa Cisaat, Ciater. Rumah tersebut saat ini terbengkalai, seperti kurang diurus. Menandakan rumah tersebut tidak lagi fungsi, selain jejak kejayaan perkebunan kopi di Jagarnaek. Penamaan tempat tersebut, diperkirakan disematkan oleh P.W. Hofland. Penguasa perusahaan perkebunan tersebut, ingin mengabadikan nama kelahirannya di Jagir Naik Poeran, negeri India.

Peta 1887 lembar Sagalaherang/KLTIV
Penananda kuburan istri dan anak Johannes Theodorus Hofland, di Tengeragung.
Rumah administratur Jagernaek
Mataair Cimutan

Penyerahan SK PGWI Kebumen

Seiring dengan kegiatan sertiikasi kompetensi Pemandu Geowisata, di Hotel Mexoline Kebumen. Diserahkan Surat Keputusan pengangkatan Dewan Pengurus Wilayah Kebuben. pada hari Rabu, 7 Mei 2025.

Dihadiri oleh Ketua PGWI Pengurus Nasional Deni Sugandi, dan Bidang Kerjasama Reza Permadi. Pendirian organisasi dilakukan melalui Musyawarah Wilayah pada tanggal 4 Oktober 2024, di Gedung Sapta Pesona Kantor Dinas Pariwisata Kab. Kebumen.

Penyerahan SK Kepengurusan PGWI Kebumen, di Hotel Mexolie Kebumen.

Catatah Geourban#31 Dayeuhluhur

Bertepatan dengan perayaan hari raya Imlek, biasanya diasosiasikan dengan langit runtuh melalui bulir-bulir air hujan. Mitos demikian dilalui oleh para partisipan Geourban, menapaki kembali peradaban budaya Sunda abad ke-16 akhir di Priangan timur. Kegiatan dilaksanakan di penutup bulan, tanggal 29 Januari 2025. Merupakan aktivitas menyibak alam dan budaya ke-31, melalui aktivitas jalan-jalan wisata bumi. Kegiatan yang diinisiasi oleh Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia, dengan tujuan membuat jejaring dan mengungkap narasi lokal yang berkaitan dengan wisata bumi.

Diikuti oleh para pegiat konten, wisata dan fotografer berangkat ke bagian timur Bandung. Tepatnya sekitar Kabupaten Sumedang. Moda transportasi sepenuhnya menggunakan kendaraan roda dua, untuk memudahkan jangkauan hingga daya jelajah luas. Terpenting adalah kendaraaan ekonomis yang mampu diandalkan, dimiliki semua orang. Pengelolaan perjalanan seperti ini menjadi cara yang paling efektif, menghindari pergerakan perjalanan yang sering terkendala akibat saling tunggu.

Tema kegiatannya adalah mengupas tentang ruas Jalan Raya Pos saat penguasaan Daendels, kemudian menapaki kembali jaringan jalur kereta api Rancaekek-Tanjungsari di segmen Jatinangor dan Tanjungsari. Dilanjutkan melihat kembali sejarah Kerajaan Sumedanglarang abad ke-16 akhir, di masa pemerintahan Geusan Ulun antara 1579 hingga 1601. Melalui posisi pusat pemerintahan kerajaan Sumedanglarang, pada saat peralihan dari Pangeran Santri ke Geusan Ulun. Rentang waktu antara 1530 hingga 1601, diakhir penguasaan raja terakhir Sumedang Larang sebelum dilebur di bawah penguasaan Mataram.

**

Jelang pagi, langit sepenuhnya dikuasai awan tebal. Berkesan mendung, sehingga cahaya matahari hadir di balik bayang awan. Sedari malam udaranya lembab, seperti hujan akan menguasai sepanjang hari. Tetapi tidak menjadi halangan, partisipan hadir sesuai waktu yang telah dinjanjikan. Titik temu di SPBU Cinunuk, Ujungberung. Setelah brifing singkat, kemudian bergeraka ke Jatinangor, masuk ke wilayah Kabupaten Sumedang.

Selepas kampus Universitas Padjadjaaran, dilanjutkan ke arah timur, menapaki jalan raya yang diusahakan Daendels 215 tahun yang lalu. Sekitar 300 meter berbelok ke arah utara melalui jalan kampung sekitar Cikuda. Jalanannya mulai menyempit, melalui labirin rumah-rumah warga. Aksesnya merupakan gang sempit yang diperkirakan merupakan jalur rel kereta api di masa lalu. Keberadaan relnya sudah tidak ditemui, karena sebagian besar telah ditutup oleh rumah hunian warga atau sudah hilang. Dilanjutkan ke arah utara, sedikit terjal dan berbelok tajam hingga tiba di mulut jembatan. Berupa struktur bangunan yang terlihat masih kokoh, hingga mampu melampaui jamannya. Masyarakat menyebutnya adalah jembatan Cincin atau jembatan Cikuda, karena bentuk lingkar penyangga bagian bawahnya melengkung. Jembatan ini adalah sisa kejayaan industri transportasi kereta api di masa Kolonial, menghubungkan Rancaekek ke Tanjungsari, Sumedang.

Jembatan kokoh yang disangga oleh kolom-kolom menancap di bawah, mengangkangi Ci Kuda, sungai yang berhulu di lereng tenggara G. Manglayang. Di bawahnya ditempati ladang dan sawah warga, kemudian diutaranya adalah kompleks makam tua. Penampilannya megah dan masih bertahan hingga kini. Keberadaanya bersaing dengan Apartemen yang begitu angkuh menutup arah pemandangan G. Geulis-Jarian. Jembatan penghubung Jatinangor-Cikuda ini terletak di Desa Hegarmanah, Kabupaten Sumedang. Merupakan bagian dari jaringan kerja Staat Spoorwagen Verenigde Spoorwegbedrijf, sudah hadir 1918. Saat ini dimanfaatkan sebagai sarana lintasan warga, memotong jalur dari Cikuda ke kampus UNPAD.

Untuk menuntaskan telusur jaringan rel kereta api segmen Jatinangor, dilanjutkan mengunjungi stasiun terakhir di kota Tanjungsari. Lokasinya berada di Tanjungsari, atau sekitar 5 km dari jembatan Cikuda. Keberadaan stasiun in telah berubah menjadi sarana ruang pertemuan umum, namun bentuk dan struktur bangunannya tidak berubah.

Jaringan rel kereta api ini digunakan sebagai sarana angkut hasil perkebunan, dari kawasan perkebunan Tanjungsari, hasi karet Jatinangor, Cijeruk yang dikirim ke Bandung melalui stasiun Rancaekek. Melewati tiga halteu (stasiun), Lebakjati, Warungkalde hingga berakhir di Rancaekek. Diperkirakan jalur ini mati seiring dengan kedatangan Jepang pada 1942, mengangkut batang besi rel untuk kebutuhan perang.

Dilanjutkan ke arah timur, bertandang ke struktur bangunan yang berbentuk atap melengkung, dan memanjang arah timur barat. Panjang struktur tersebut sekitar 12 meter, lebar lebih dari 4 meter. Hanya memiliki satu pintu, lebar 1,5 meter dengan tinggi 2 meter lebih. Sekilas tampak seperti bekas gudang, namun bila dilihat secara detail berkesan memiliki fungsi lain. Diperkirakan merupakan bagian dari sistem pertahanan militer. Berada di jalur raya Tanjungsari, sekitar 300 meter ke arah selatan. Keberadaan struktur bangunan ini mirip dengan bentuk bunker, biasa dipergunakan dalam sistem pertahanan militer.

Mengingat penting nya jalur Sumedang-Bandung, kemungkinan merupakan sistem pertahanan militer. Digunakan sebagai tempat berlindung dari serangan udara, pada saat memasuki perang Asia Pasifik. Seperti yang telah diungkap oleh beberapa ahli sejarah militer, Sumedang memiliki perang sebagai pertahanan militer. Sebagai buffer zone, atau zona penyangga serangan musuh dari arah timur.

Keberadaan Tanjungsari,merupakan sub pertahanan Hindia Belanda. Sehingga jauh sebelum Hindia Belanda berkuasa, pada 25 September 181, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels merilis surat. Didalamnya adalah pemindahan dua ibukota, Kabupaten Bandung dari Krapyak, dialihkan 11 km ke arah utara. menempati posisi alun-alun kota Bandung saat ini. an Kabupaten ke-dua yang digeser adalah Parakanmuncang yang berada di Tarikolot Girang Cicalengka, sesuai dengan keterangan R.A. Kern. Digeser ke Andawadak berlokasi di Ciluluk, sebelah timur Tanjungsari.

Perjalanan dilanjutkan ke arah timur, memasuki sekitar Cadas Pangeran. Selepas Cigendel, ditandai dengan hutan pinus merkusii, jalannya bercabang dua. Satu mengarah ke utara, disebut jalan atas, dan satu lagi mengikuti gawir terjal disebut jalan bawah. Dua jalur tersebut kemudian bersatu kembali di sekitar Ciherang, setelah menempuh panjang sekitar 1,7 km.

Mengambil jalan atas, jelang turun dipercabangan Ciherang didapati prasasti. Disematkan pada dinding tegak, pada batuan breksi vulkanik. Isinya menyebutkan nama yang bertanggung jawab pembangunan Jalan Raya Pos segmen Cadas Pangeran, dan durasi waktu pengerjaan. Dengan demikian diperkirakan jalan atas ini merupakan jalur awal yang dikerjakan 1811 sampai 1812. Kemudian seratus tahun kemudian, dibuka jalur bawah. Dengan alasan untuk menghindari tanjakan dan turunan terjal, sehingga awal tahun 90-an ditingkatkan dengan teknik kantilever, sistem jembatan gantung.

Hanjuang dan Konflik Sumedang dengan Cirebon
Jelang siang, partisipan tiba di Sumedang Utara, tepatnya di Situs Pohon Hanjuang. Peninggalan bersejarah berkaitan dengan sepenggal cerita Sumedang Larang. Menurut juru pelihara Abah Apud, tahun 2020 kondisinya tidak terawat. Sehingga setelah dipercaya bertugas memelihara dan melayani kunjungan, Apud (80 tahun) sedikit demi sedikit menata menjadi lebih baik. Keberadaanya tidak dijelaskan apakah situs ini dikelola melalui dana bantuan pemerintah, atau yayasan. Namun keberadaan situs ini menjadi penting, untuk mengaitkan dengan perjalanan kerajaan Sumedang di masa lalu.

Di dalam ruangan terbuka tanpa atap ukuran 4 x 5 meter, didapati dua batang pohon Hanjuang berdaun warna hijau. Ditempatkan di salah satu sudut ruangan, dibagian tengah merapat pada dinding di bagian barat. Ditata sedemikian rupa, dengan batas menggunakan batubata yang disusun, kemudian ditutup oleh batu. Dengan demikian keberadaannya menjadi perhatian utama, karena di setiap sisi ruangan ditanam Hanjuang dengan daun berwarna merah.

Belum bisa dipastikan, apakah pohon Hanjuang tersebut merupakan hasil dari pohon yang ditanam oleh Jayaperkasa. Bila keterangan papan informasi menuliskan pohon hanjuang bersejaran ditanam oleh Sang Hyang Hawu, atau disebut juga Mbah Jayaperkosa (beberapa sumber ditulis Jaya Perkasa, Jaya Prekosa), kurang lebih 1585. Maka umur pohon tersebut hampir 440 tahun dimasa kini. Bisa jadi pohon tersebut ditanam ulang, karena dalam rentang waktu yang sangat panjang tersebut, tergelar banyak peristiwa bersejarah yang menata wajah Priangan, khususnya Sumedang. Baik dalam kondisi pusat kota yang berpindah-pindah, penguasaan VOC, kolonial Belanda, hingga perang kemerdekaan Indonesia. Jadi bisa saja sebatang pohon tersebut menjadi abai, dan tidak lagi mendapatkan perhatian.

Situs sejarah ini berada di Dusun Pangjeleran, Desa Padasuka, Kecamatan Sumedang Utara. Pohon tersebut menjadi tanda catatan sejarah, dituliskan dalam Babad Sumedang. Kemudian dituliskan dalam Pupuh Sinom, karya maestro Mang Koko Koswara.

Kisah singkatnya pohon Hanjuang sebagai simbol sebuah janji, Jayaperkasa terhadap rajanya Geusan Ulun. Bila daunya layu menandakan ia mati dimedan laga, tetapi sebaliknya bila tumbuh subur menandakan menang perang. Seiring waktu terjadi pertempuran di tapal batas Sumedang, atau di sekitar Sukatali (Hikayat Sumedang, De Indische Courant, A. Ter Haghe, 12 Juli 1941). Diceritakan bahwa pertempurannya memakan banyak yang mati, sehingga mata air di dekatnya berubah menjadi merah.

Pohon Hanjuang atau biasa disebut andong merah (cordyline fruticosa), menjadi simbol bagi budaya Sunda. Tanaman yang dianggap memiliki fungsi sebagai sawen tolak bala. Tumbuhan yang dianggap keramat, mampu menepis gangguan kekuatan gaib dan wabah penyakit. Biasanya diikat diiringi ritual doa dan disematkan pada tempat tertentu di dalam maupun di luar rumah. Selain itu digunakan sebagai penanda seperti batas ladang, kebun, pagar rumah antar kepemilikan yang berbeda. Jika dikaitkan dengan wabah penyakit, biasanya digunakan sebagai pembatas dan jarak agar tidak terjangkit penyakit. Dari sisi medis, tanaman ini bisa dimanfaatkan sebagai obat tradisional, seperti TBC paru, asmat, diare hingga sakit kepala.

Dalam situasi kemelut dan tidak menentu, bayang-bayang serangan dari Cirebon. Geusan Ulun memindahkan ibu kota dari Kutamaya, ke dataran tinggi Dayeuhluhur. Pemindahan tersebut daam kondisi tergesa-gesa hingga lupa dengan perjanjian denga Jayaperkasa. Akibatnya akan menjadi konflik diujung kepemimpinan Geusan Ulun sebagai raja di Sumedanglarang.

Dalam upaya pemindahan ibu kota, dalam rangka menghindari serangan Girilaya dari Cirebon, Geusan Ulun harus menempuh perjalanan dengan menggunakan jalan kaki. Dalam keterangan yang ditulis oleh Haghe (1941), dalam pencariannya tempat harus singgah dibeberapa lokasi. Tempat yang dipilih harus memenuhi persyaratan, diantaranya tersembunyi dari pantauan musuh, mampu melihat arah pasukan penyerang dari segala arah. Pencarian dilanjutkan ke arah timur, dataran tinggi yang berada di Ganesa, sebelah timur Kutamaya.

Lokasi yang akan dituju bisa ditafsirkan mendekati posisi pusat kerajaan pada masa Prabu Guru Aji Putih. Pusat kerajaan Tembong Agung, terletak di Citembong Girang, Kecamatan Ganeas, sumedang. Bila ditarik garis, kurang lebih 4 km. dari Citembong Girang, ke Dayeuhluhur. Dalam keterangan selanjutnya, menyebutkan bahwa putra sulung Prabu Aji Putih, yaitu Batara Tuntang Buana atau dikenal Tajimalela, berkelana ke beberapa tempat. Diantaranya menyebutkan wilayah yang menjadi rujukan Geusan Ulun.diantaranya Gunung Merak, Gunung Pulosari, Gunung Puyuh, Gorowong, Ganeas, Gunung Lingga dan tempat lainya. Dengan demikian, pengetahuan tersebut diperkirakan menjadi referensi penentuan tempat pemindahan ibu kota.

Dalam keterangan penelitian bay Suryaningrat (1983), pada masa pemerintahan Geusan Ulun, terdapat 44 Kandaga atau kepala rakyat, terdiri dari 26 Kandaga Lange (Kepala Wilayah), dan 18 umbul dengan cacah sekitar 9000 jiwa umpi. Dengan demikian tidaklah mungkin seluruh rakyatnya turut serta dalam kepindahan. Jadi diperkirakan hanya jabatan tinggi, keluarga yang terkait dan pendukungn lainya saja yang turut pindah. Sedangkan masyakarata yang tersebar di wilayah Sumedanglarang masih ditempat semula.

Bila dilihat dari peta google maps, didapat jarak tempuh 12,4 km. Dari Kutamaya Sumedang Selatan, ke arah timur melalui Cihonje, Gunasari. Kemudian dilanjutkan mendaki Gorowong, Sukawening. Mendaki lereng utara G. Calangcang-Kareumbi. Kemungkinan Geusan Ulun menerima kandidat lokasi selain Dayeuhluhur, namun karena waktu yang begitu sempit sehingga diputuskan untuk menggeser jauh ke arah timur.

Akses dari Kutamaya ke arah timur, ke daerah Gorowong. Kemudian dilanjutkan dengan berjalan melalui Cikadu, merupakan lembah yang dalam. Jalan setapak sejajar dengan sungai, yang mengarahkan mendaki perbukitan hingga tiba di Dayeuhluhur. Jalur tersebut merupakan jalan lama yang pernah digunakan warga sejak dulu, sebelum dibukanya jalur baru. Jalur jalan lebar, melalui Pasir Datar. Jalan yang baru saja ditingkatkan menjadi beton, untuk membuka akses dari kampung Gorowong ke Dayeuhluhur.

Dayeuhluhur merupakan pegunungan yang memanjang utara-selatan, disusun oleh batuan gunungapi. Dalam peta Geologi Lembar Bandung (Silitonga, 2003), disebutkan sebagai Hasil Gunung Tua Tak Teruraikan. Disusun oleh breksi gunungapi, lahar dan lava berselang-seling (Qvu). Menandakan bahwa punggungan mulai dari utara, sekitar Cibungur hingga puncak G. Bongkok adalah bagian dari sistem gunung api purba. Bila ditarik lagi ke arah selatannya, didapati lingkar kaldera G. Calangcang 1667 m dpl. gawir kalderanya berupa setengah lingkaran dari barat ke timur, terbuka ke arah utara.

Dengan demikian kuat dugaan, endapan gunugapi berupa laharik yang menyusun punggungan Dayeuhluhur berasal dari G. Calangcang. Merupakan sistem kompleks gunungapi purba Kareumbi-Puncakanjung-Calangcang. Dari pembagian fasiesnya, Dayeuhluhur merupakan fasies medial (Bogie & Mackenzie, 1998), bagian lereng utara dari pusat letusan.

Dari titik tinggi ini memberikan keuntungan lebih, diantaranya posisinya terlindungi oleh tinggian. Kemudian dari titik tinggi ini bisa memantau pergerakan musuh yang datang dari utara, dan menjadi benteng alami. Dengan demikian pemilihan Dayeuhluhur sebagai tempat pemerintahan, berdasarkan posisi geografis.

Sepeninggalan Geusan Ulun pada 5 November 1608, kemudian kekuasaanya dibagi dua ( Euis Thresnawati S. 2011). Diberikan kepada Pangeran Rangga Gede, putra sulung dari Nyimas Gedeng Waru dari istri pertamanya. Melanjutkan pusat pemerintahannya di Dayeuhluhur. Versi lain ada yang menunjukan di Canukur. Kemudian hasil dari putra Ratu Harisbaya, Pangeran Suriadiwangsa yang menempati ibu kota di Tegalkalong. Akibat dualisme kepemimpinan ini, berdampak kepada stabilitas politik, menyebabkan beberapa wilayah di bawah Kerajaan Sumedang kemudian melepaskan diri. Seperti Karawang, Ciasem. Pamanukan, dan Indramayu. Sehingga wilayahnya menjadi kecil, meliputi Sumedang, Bandung, Sukapura, dan Parakanmuncang. Pada 1620, Sumedanglarang taklut sepenuhnya di bawah Kesultanan Mataram.

Di sebelah selatan Dayeuhluhur, dibawah lereng G. Gedogan 1039 m dpl. disemayamkan Sang Hyang Hawu atau Mbah Jayaperkosa. Di bawah naungan tegakan pohon kayu, hutan tropis. Elevasinya lebih tinggi dibandingkan dengan makam raja, berada jauh di bagian bawah lereng perbukitan. Dari parkiran utama, kemudian mendaki melalui jalan warga. Menapaki tangga yang telah disediakan, hingga memasuki gerbang makam. Jaraknya kurang lebih 900 meter, mengikuti kontur perbukitan. Memasuki gerbang, kemudian disambut oleh vegetasi hutan hujan tropis, dan beberapa fauna yang masih bisa dilihat. Menandakan hutan makam tersebut tidak secara langsung dikonservasi. Berbeda dengan makam Geusan Ulun yang tertutup menggunakan atap. Makam Mbah Jayaperkosa ini dibiarkan terbuka. Ditata dengan menggunakan tumpukan batuan andesit, dengan tanda berupa batu berbentuk kolom. Sekelilingnya ditutupi oleh pagar besi, setinggi 2 meter.

Dilingkungan pemakaman ini, disediakan surau sederhana dan air untuk wudhu. Memberikan kesempatan kepada para peziarah untuk melaksanakan tawasulan, doa ucap syukur untuk berkah para pendahulu dan kesejahteraan untuk yang masih hidup.

Pungngungan perbukitan Dayeuhluhur, memanjang utara-selatan, dengan kerucut G. Bongkok.
Makam Jaya Perkasa, di puncak Dayeuhluhur

Tautan video Geourban#31 Dayeuhluhur
https://www.youtube.com/watch?v=t0XxQPAtAl0&t=734s

Geourban# 25 Sanghyanglawang

25-23 juta tahun yang lalu, kawasan Citatah merupakan pulau-pulau yang disusun koral dan binatang laut.Lautan dangkal yang menyerong ke baratdaya hingga ke teluk Palabuhanratu. Sedangkan batas pantainya berada di tinggian Pangalengan saat ini, sedangkan di sebelah selatannya dipagari gunungapi bawah laut.

Sekitar 15 juta tahun kemudian, sebagian daratan Jawa bagian barat terangkat. Muncul di atas gelombang laut melalui kegiatan tektonik. Didorong oleh pergerakan lempeng benua Indo-Australia, dari selatan ke utara dan menyusup di bawah Jawa sekitar 7 cm per tahun. Kondisi demikian menyebabkan sebagian besar perbukitan karst Citatah naik hingga 700 meter dpl, kemudian terlipat dan tersesarkan. Terbentuklah struktur bagian dari sistem sesar Cimandiri, segmen zona gempa Cimandiri-Saguling, diiringi pergeseran gunugapi api dari jajaran selatan ke arah utara. Sekitar 1,8 juta tahun kemudian, lahirlah jajaran gunugapi modern yang menghiasi dan memberikan berkah.

Dinamika bumi tidak berhenti, terus bergerak hingga kini. Menata wajah bumi tanpa henti, melalu peristiwa gempat, gunungapi meletus, hingga gerakan tanah. Dalam kegiatan Geourban ke-25, di penutup akhir tahun 2024. Mengundang untuk berparisipasi, menggali fitur dan rahasia bumi, dalam kegiatan geowisata di Citatah. Menapaki kembali ragam rona di kawasan perbukitan karst Citatah. Intrusi batuan beku Cisampih, fosil binatang laut di Pasir Balukbuk, dan gua karst di Sanghyang Lawang, Cipatat, KBB.

Hari/Tanggal
Minggu, 22 Desember 2024

Waktu
07.00 WIB sd. 12.00 WIB.

Titik Pertemuan (Meeting point)
Tebing 125 Citatah, Padalarang, KBB

https://maps.app.goo.gl/iZcXDJ7Dic3iJjmK9

Pendaftaran dan konfirmasi kehadiran
081322605025 Nanang, 087700290444 Tommy

Inisiasi
Diselenggarakan melalui kolaborasi Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Asosiasi Pemandu Wisata Gunung (APGI) Dewan Pengurus Prov. Jawa Barat, Pramuka Wana Bakti dan Forum Pemuda Peduli Karst Citatah.

Geourban#22 Ciater

Kaki gunung sebelah timur Tangkubanparahu, memiliki cerita bumi dan sejarah sistem pertahanan militer perang dunia ke-2. Jalan dari utara ke selatan, penghubung Subang-Bandung. Jalur sempit yang mengikut tekuk lereng G. Tangkubanparahu, dan berkelak-kelok menanjak mengikuti kontur perbukitan.

Lerengnnya disusun piroklastik, dan lava membentuk perbukitan yang melandai ke arah timur. Gunungapi ini mulai membangun dirinya sejak 90 ribu tahun yang lalu, menghasilkan aliran lava ke arah Ciater. Terlihat tiga perbukitan intrusi yang kini menjadi menara pandang perkebunan teh Ciater. Ditafsir gunungapi kerucut sinder, umurnya lebih tua dari yang menjadi saksi pembentukan G. Tangkubanparahu.

Disebelah baratnya, dilalui jalan Raya Subang-Bandung. Tentara Kerajaan Belanda (KNIL), membut sistem pertahanan yang memanfaatkan celah sempit Cingasaahan. Membangun bungker (pilbox), untuk menahan laju pasukan Jepang yang masuk melalui Kalijati Subang. Setelah dua hari pertempuran hebat, 7 Maret 1942 KNIL menyerah dan Jepang mengusai Bandung. Mengakhiri kekuasaaan kolonial di Jawa dan sebagain besar Indonesia.

Mari temui jejak letusan G. Tangkubanparahu, perbukitan intrusi G. Malang-Palasari. Peran kontur tekuk lereng yang digunakan sebagai basis pertahanan militer KNIL Belanda di sekitar Cipangasahan, Ciater.

Hari/Tanggal
Sabtu, 3 Agustus 2024

Waktu
07.00 WIB sd. 13.00 WIB

Titik Pertemuan
Gerbang Tangkubanparahu
https://maps.app.goo.gl/kU5o14fb8dMcvCqv9

Syarat dan ketentuan
Kegiatan probono, bersifat mandiri (transport, logistik) dipersiapkan sendiri. Disarankan menggunakan motor/roda dua laik jalan.

Tentang Geourban
Diinisiasi oleh PGWI, menjalin jejaring lokal, menggali tafsir tapakbumi dan syiar geowisata.

Catatan Singkat Geourban#21 Jatiluhur

Dalam kegiatan Geourban ke-21, melawat di sekitar Purwakarta (21 Juli 2024). Wilayah yang dilalui oleh Ci Tarum. Sungai yang membelah kota dan kabupaten di Jawa Barat. Diantaranya dimanfaatkan menjadi sumber energi terbarukan, melalui pembangunan tiga waduk buatan. Diantaranya Saguling wilayah Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Cianjur. Kemudian Cirata, dan terakhir waduk Jatiluhur yang masuk ke Purwakarta.

Stop site yang dikunjungi adalah dermaga penyeberangan Talibaju, Cikaobandung. Kemudian ke titik ke dua, batukorsi-batupeti di Desa Sukamanah. Kemudian kunjungan terakhir ke G. Parang. Ketiga tempat tersebut memiliki potensi yang bisa dimanfaatkan melalui aktivitas geowisata. Cerita sejarah perjalan kopi di abad ke-17, didominasi kepentingan dagang yang dimonopoli oleh VOC dari 1756 hingga 1780. Stop site selanjutnya berkunjung ke batuan sedimen Formasi Jatiluhur yang ditafsirkan tinggalan budaya, dan perbukitan intrusi batuan beku. Tiga stop site yang dikunjungi, bagian kecil dari potensi geowisata di Purwakarta.

Jauh sebelum Republik Indonesia lahir, Purwakarta masih menjadi bagian dari Kabupaten Karawang. Wilayahnya mencakup sebagian besar bagian utara Ciasem (saat ini Subang), dan ke arah selatan sekitar Wanayasa saat ini. Daerah ini berada di dataran tinggi di lereng G. Burangrang yang menaungi sebagian besar wilayah Purwakarta bagian selatan saat ini. Wilayah Wanayasa telah ada sejak abad ke-17, dalam bentuk kerajaan di bawah wilayah Pajajaran. Bahkan satu abad sebelumnya, keberadaan penyebutan Karawang dituliskan dalam catatan Bujangga Manik.

Kota yang selama ditafsir sebagai “kota tua”, memiliki pengertian yang berbeda. Ditafsirkan melalui sumber lain, menyebatukan purwa adalah yang pertama, dan karta yang bermakna sejahtera. Dengan demikian bisa ditafsirkan sebagai kota yang mengutamakan kesejahteraan. Tafsir demikian bisa diselaraskan dengan pemindahan ibu kota Karawang Timur, ke tempat yang lebih baik dari sisi jarak ke dan dinilai lebih kondusif.

Perjalanan pembentukan wilayah Purwakarta hadir setelah kemerdekaan, sebelumnya merupakan daerah Karawang Timur dari Kabupaten Karawang. Ibukotanya di Wanayasa, di bawah lereng G. Burangrang. Gunungapi yang ditafsirkan sebagai anak gunungapi, dari sistem gunungapi Sunda-Tangkubanparahu. Seiring waktu, tanahnya yang subur mampu menarik industri perkebunan kopi di abad ke 17, seiring dengan sistem Tanam Paksa. Pengerahan sistematis ini , mendorong kawasan Wanayasa menjadi sentra penghasil kopi setelah Kabupaten Cianjur pada masa tersebut. Namun bukti-bukti pendirian ibukota Kabupaten Karawang Timur di Wanayasa tidak terlihat. Menandakan pusat pemerintahan ibu kota hanya bersifat sementara. Salah satu alasan penempatan ibukota di Wanayasa, karena wilayah tersebut dikenal dengan penghasil kopi terbesar. Menjadi ibu kota kabupaten Karawang Timur pada 1821 hingga 1829. Menjelang 1830 digeser ke arah utara, disebut Sindangkasih.

Pemindahan tersebut dipicu oleh kondisi sosial, dampak dari sistem tanam paksa pada 1847, mendorong pergolakan sosial. Dipicu oleh ketidak adilan, upah rendah dan korupsi di tingkat pemerintahan saat itu, mengakibatkan terjadinya pemberontakan pekerja keturunan Tionghoa. Terjadi pada 1831, dari Wanayasa hingga ke batas Karawang-Purwakarta saat ini. Pemberontakan ini menjadi alasan pemindahan ibu kota ke Purwakarta sekarang. Semata-mata karena kondisi sosial, dan lebih ke pengamanan wilayah melalui pengamanan kekuatan militer saat itu.

Di dermaga perahu penyeberangan Talibaju, Cikaobandung, merupakan jalur penting dalam pengangkutan kopi pada abad ke-17. Cikaobandung merupakan gudang penyimpanan kopi, hasil panen dari beberapa tempat di Kabupaten Bandung saat itu. Sebelumya dikumpulkan terlebih dahulu di gudang kopi di Wanayasa. Keberadaan gudang kopi tersebut masih ada, dimanfaatkan menjadi Sekolah Dasar Negeri I Wanayasa. Bangunan tersebut adalah satu-satunya peninggalan sejarah, bukti industri kopi yang menjadi primadona pertanian di Hindia Belanda.

Hasil panen di wilayah berada di wilayah Preanger-Regentschappen, atau Kabupaten Priangan. Pemandangan yang menawan, didominasi tanah hasil pelapukan gunungapi. Sehingga tanahnya subur, dan memiliki pupuk alami dari batang pohon yang telah lapuk kemudian menjadi kompos. Perkebunannya di atas rata-rata 1200 meter, dengan udara sejuk serta tanah yang luas menjadikan wilayah ini sebagai perkebunan kopi terbaik pada masa tersebut.

Perkebunan kopi tersebar di wilayah Kabupaten Bandung saat itu. Diantaranya di wilayah Sumedang, Bandung utara dan selatan, Limbangan, Sukapura dan Sumedang. Wilayah dataran tinggi, masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung saat itu.

Sebagai pemain tunggal perkebunan kopi, Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC perlu menjaga kestabilan hasil perkebunan kopi, dan mencari keuntungan dari hasil produksi kopi. Sehingga dikeluarkan perjanjian yang mewajibkan kaum pribumi untuk menanam kopio dan hasilnya harus diserahkan kepada pihak VOC. Dikenal dengan Koffestelsel (sistem kopi), atau tanam paksa penanaman kopi oleh pada pribumi.

Pengangkutan kopi dari Priangan pedalaman ke Batavia diinisiasi oleh Gouverneur Generaal van Vereenigde Oostindische Compagnie, Mattheus de Haan (1725-1729), dan Bupati Bandung Tumenggung Anggadireja I (1704-1747). Dikenal dengan koffie transport, pengangkutan kopi dengan menggunakan hewan beban seperti kerbau atau sapi. Dibutuhkan waktu antara 60 hingga 72 hari pengangkutan, dengan moda transportasi seperti ini.

Semua hasil panen kemudian diangkut ke gudang kopi di Wanayasa. Setelah terkumpul kemudian diteruskan ke gudang kopi di Cikaobandung, Purwakarta. Jaraknya sekitar 33 km, menggunakan pedati yang ditarik oleh sapi. Dari dermaga kemudian diteruskan menggunakan perahu layar tunggal ke Batavia, melalui Ci Tarum. Mattheus de Haan meminta agar pada tenaga kerja (kuli), membawa kopi dari Bandung, Parakanmuncang, dan Sumedang ke Gudang Kopi Cikao, yang dibangun pada 1744.

Kunjungan berikutnya ke Batukorsi-Batupeti di Kampung Ciputat, Desa Kutamanah. Blok batuan sedimen yang tererosi kuat, membentuk kotak-kotak yang terpisah. Masyarakat mempercayai merupakan hasil kerja manusia di masa lalu, dikaitkan dengan mitos Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

Keberadaanya terletak di batas pantai waduk Jatiluhur di sebelah utara. Bisa diakses melalui Kampung Ciputat, kemudian dilanjutkan jalan kaki melalui hutan bambu. Bila dari wisata Jatiluhur, bisa menggunakan perahu sewaan. Keberadaan singkapan batuan sedimen ini berada di wilayah warga, yang sebagian besar telah menjadi perkebunan. Sebagian lagi berada di garis pantai waduk, berupa bentuk seperti kursi.

Dalam berita daring, disebutkan bahwa situs tersebut diduga sebagai tinggalan budaya megalitik, hingga budaya tinggal kerajaan Sunda. Bahkan menurut ketua Rukun Warga di Ciputat, menuturkan bahwa situs tersebut dipercaya menjadi tempat bertemunya Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Sunda lama, khususnya di Cekungan Bandung yang mengaitkan dengan sejarah terbentuknya G. Tangkubanparahu. Namun dalam keterangannya, Sangkuriang gagal mempersunting karena ternyata Dayang Sumbi adalah ibu kandungnnya. Sehingga batu berbentuk kursi adalah tempat duduk para tamu, dan peti adalah harta bawaan yang dibawa dalam acara pernikahan.

Dalam peta Geologi Lembar Cianjur (Sudjatmiko, 1972). Tuliskan bagian dari Formasi Jatiluhur, Umur Miosen Tengah. Bila diperhatikan dengan seksama, batuan tersebut berlapis menandakan batuan sedimen. Seiring waktu terangkat akibat kegiatan tektonik, kemudian lapuk oleh kondisi cuaca dan temperatur. Batuan berlapis tersebut disusun oleh perselingan batulempung, batupasir kuarsa, dan batugamping pasiran (Tms).

Bila dilihat dari angkasa, memperlihatkan struktur sejajar membentuk bujursangkar. Menandakan hasil kegiatan struktur yang membentuk rekahan sedemikian rupa. Seiring waktu terjadi erosi dan pelapukan yang menyebabkan bentuknya seperti bongkah batu berbentuk kotak. Sedangkan bentuk kursi di tepi pantai, merupakan bentuk blok batuan yang tererosi oleh gelombang air waduk pada bagian bawahnya. Seiring waktu membentuk seperti batu jamur karena bagian atas lebih kuat (resisten).

Kunjungan terakhir adalah ke G. Parang, melalui Plered. Merupakan perbukitan intrusi batuan beku dangkal. Seiring waktu tersingkap membentuk kerucut yang menjulang tinggi. tingginya sekitar 963 meter dpl. disusun oleh andesit (Ha). Perbukitan tersebut kini aktif menjadi tujuan wisata minat khusus. Pemanjatan menggunakan teknik via ferrata. Berupa besi panjang, yang digunakan sebagai alat bantu pendakian. Kegiatan ditutup dengan pengukun Asosiasi Pemandu Geowisata Dewan Pengurus Wilayah Purwakarta Raya.

G. Parang dari basecamp Badega.
Batupasir kuarsa, perselingan dengan batulempung Fm. Jatiluhur.
Batupeti yang disusun batuan sedimen lapuk, Formasi Jatiluhur.
Pengukuhan PGWI DPW Purwakarta Raya.