Catatan Geourban#51 Malabar

Sepatu karet khas buruh angkut perkebunan. Menjadi ciri yang mudah dijumpai disepanjang jalan Cibeureum hingga Situ Cisanti. Biasanya bersanding dengan motor empat langkah yang telah dimodifikasi sedemikian rupa. Agar bisa memuat hasil panen, bagian jok diganti menggunakan papan panjang sekitar 1 meter. Kemudian suspensi bagian belakang ditambah dua unit, hingga berjumlah empat. Tujuannya adalah mampu membawa beban hingga seratus kilo lebih, melalui jalanan tanah perkebunan.

Agar motor bisa melaju, membutuhkan traksi transfer tenaga mesin ke ban. Akibat jalanya tanah basah, menanjak terjal sehingga membutuhkan cara modifikasi. Dengan menggunakan bantuan bekas rantai gir, dililih ke bagian roda belakang berjajar. Tujuannya agar motor bila melaju, tanpa slip berjalan di tempat. Kegiatan tersebut merupakan bagian kecil dari rangkaian panjang industri pertanian. Kertasari merupakan sentra pertanian tanaman hortikultura, di Kabupaten Bandung. Produk unggulannya antara lain tanaman Cabai, Bawang Daun, Wortel, Kentang, dan Kubis, Petsai. Total penggunaan lahan hampir 3.743 ha (BPS Kab. Bandung, 2013). Akibatnya perebutan lahan seringkali terjadi, seperit terjai pada 25 November 2025. Terjadi aksi protes dari serikat pekerja perkebunan di depan pabrik teh Malabar, Pangalengan. Menuntut agar negara, melalui PT Perkebunan Nusantara, untuk menghentikanaksi pengalihan lahan (detik.com. 26/11/2025).

Total luasan lahan pertanian sayuran tersebut,memberikan gambaran bahwa Kertasari digerakan oleh industri pertanian. Berbeda dengan dengan kondisi seratus tahun yang lalu, merupakan lahan perkebunan kina, teh dan kopi. Dikuasai oleh penguasaan tunggal kepemilikan pribadi (swasta).

Seperti yang dilakukan oleh Willem Gerrard Jongkindt Coninck. Memulai usahanya mengembangkan budidaya kina sejak 1904. Dalam waktu 30 tahun lebih, produksi kina Kertamanah menguasai obat kina dunia pada saat itu. Produksi akhir abad ke-19 dan menjelang awal abad ke-20, merajai komoditas ekspor dunia. Pada 1940 produk kina di Hindia Belanda, hampir 90 persen kebutuhan dunia dipenuhi oleh hasil perkebunan kina di Jawa Barat (Nuralia, 2019).

Kejayaan perkebunan kina hancur, seiring dengan kelesuan ekonomi global (malaise), ditambah invansi tentara Jepang pada 1942 ke Jawa. Sebagian besar pegawai Eropa ditangkap, termasuk Jongkindt. Dialihkan ke interniran 7 di Ambarawa, meninggal pada 23 Januari 1945. Sebagai penghargaan pada jasanya, keluarganya kelak memindahkan jasadnya dari Ambarawa ke Pangalengan. Dikuburkan kembali 25 April 1949 (historia.com, 2025).

Kuburannya ditempatkan di dataran tinggi, dikelilingi danau pada saat itu. Seluas mata memandang adalah hamparan perbukitan dan lembah Kertamanah. Namun saat ini kondisinya tidak terurus, dikepung oleh perkebunan warga. Akses menuju lokasi kuburan tertutup oleh perkebunan, menyisakan jalan sempit. Keberadaanya tidak terawat, ditumbuhi tanaman liar yang tumbuh sekitar kuburan. Bentuk kuburannya berupa struktur bangunan persegi panjang, kemudian kuburan utamanya di bagian tengah. Membujur barat-timur, bagian kepalanya menghadap ke arah barat. Pada bagian nisannya, sudah tidak didapati plakat, sehingga nama dan waktu kematian tidak diketahui.

Kuburun tersebut sebagai bukti bahwa sebagian besar Kertamanah, merupakan perkebunan kina yang kini telah besalin rupa menjadi perkebunan warga.

Perkebunan tersebut tersebar luar, dari Tarumajaya, Kertasari hingga ke Sukamanah. Dihubungkan melaui jalan utama kelas kabupaten yang kini telah tingkatkana menjadi jalan beton. Sekitar 200 meter dari gerbang Situ Cisanti ke arah selatan, akan bertemu dengan percabangan Purbasari-Cikembang. Persimpangan ini menjadi titik penting, sebagai jalur pemisah antara dua wiayah. Ke arah timur menuju perbukitan yang memanjang utara-selatan. Bagian dari jajaran pegunungan selatan, G. Papandayan-G. Kendang-G. Rakutak.

Tugu Peringatan Helm Lima
Di simpang jalan Tarumajaya, didapati patung dalam rupa seorang prajurit yang mebawa panji Satuan Siliwangi. Keberadaan patung tersebut berdampingan dengan tugu dengan bentuk obelisk setinggi 4 meter. Di bagian puncaknya tersisa bekas gagang kujang, sedangkan bagian atasnya telah hilang. Kemungkinan hilang akibat kegiatan vanadalisme. Pada bagian tugu tersebut, ditempatkan lima helm tentara. Memberikan simbol gugurnya lima orang Tentara Nasional Indonesia, pada saat konflik dengan DI/TII. Terjadi pada 5 Juli 1959 dipersimpangan Tarumajaya, akibat penghadangan tentara yang dibentuk Kartosuwiryo. Mengakibatkan gugurnya lima anggota TNI yang sedang melakukan patroli. Kawasan ini menjadi jalur pergerakan DI/TII, menghubungkan antara selatan Pangalengan, ke arah G. Rakutak di Garut. Wilayah tersebut merupakan basis pelarian gerombolan, tersembunyi oleh perbukitan dan lembah. Sehigga gerombolan ini menggunakan jalur menembus hutan belantara dan disembuyikan oleh kabut.

Tiga tahun kemudian, tanggal 4 Juni 1962. Pimpinan DI/TII ditangkap di sekitar lereng G. Rakutak. Di daerah G. Beber, Majalaya.menandai berakhirnya petualangan S.M. Kartosuwiryo dan DI/TII di Priangan.

Rawa Gede
Selepas Situ Cisanti, jalan mulus menyambut perjalanan menuju Kertasari. Di sebelah kanan jalan, atau ke arah barat berjajar punggungan perbukitan. Jajaran G. Wayang-Windu-Bedil. Jajaran gunungapi tua, kini memberikan berkahnya melalui keberadaan panasbumi. Saat ini dieksplorasi oleh perusahaan Star Energy Geothermal, melalui beberapa sumur-sumur produksi yang tersebar di lereng sebelah barat G. Wayang-Windu.

Di lereng sebelah tenggara G. Windu, merupakan dataran rendah yang ditempati perkebunan teh Kertasari. Dari pabrik teh Kertasari ke arah baratnya merupakan cekungan yang ditempati oleh perkebunan. Dalam peta lama lembar Tjisoeroepan, 1943. Dituliskan Rawa Gede. Ditafsirkan bahwa sebagian besar wilayah tersebut merupakan sisa rawa yang telah mengering. Batas ke arah barat adalah lereng G. Windu, sekitar Cikawak. Kemudian ke arah utaranya sekitar Cihaneut, dan sebelah timur dibatasi jalan penghubung Cikembang, Kecamatan Kertasari. Bila ditarik garis secara umum, didapat luas sekitar 150 hektar. Namun saat ini telah mengering, kemudian ditempati kompleks perumahan perkebunan Kertasari. Berupa bangunan rumah tapak yang menempati sebagian besar bagian utara, dari Rawa Gede.

Ke arah baranya didapati perbukitan yang menonjol, disebut Pasir Paesan. Satu-satunya tinggian yang berbentuk kerucut di tengah-tengah hamparan perkebunan teh. Sehingga keberadaan perbukitan tersebut menjadi menarik, mengingat didapati sistem gunungapi di bagian utaranya. Sehingga bisa saja disimpulkan bahwa kerucut Pasir Paesan tersebut merupakan sub gunungapi dari bagian sistem gunungapi Wayang-Windu.

Di utara dari bagian Rawa Gede ini, didapati tempat yang dikenal dengan nama Cihaneut. Dalam bahasa Sunda dasarnya haneut, berarti hangat. Dengan demikian memberikan keterangan bahwa lokasi tersebut memiliki fenomena sumber mata air panas. keberadaan manifestasi di permukaan ini, berhubungan dengan sistem gunungapi Wayang-Windu.

Di sebelah barat G. Windu, terlihat lapangan kawah. Ukurannya tidak terlalu luas, terletak di lereng terjal. Manifestasi di permukaan ini biasa terjadi pada gunung api-gunungapi yang telah padam, maupun yang masih aktif. Masyarakat menyebutnya kawah Citawa, selaras dengan nama daerah Citawa. Sedangkan bila merujuk pada peta lama 1943, ditulis Tjikawak. Bisa ditulis ulang Cikawak, bukan Citawa seperti pada penyebutan saat ini. Kompleks kawah tersebut sekitar 500 meter ke arah barat, dari Cihaneut. Sebelah selatannya, didapati Kawah Burung. Berada di sumber mata air panas Cibolang yang telah dimanfaatkan menjadi sarana pariwisata pemandian air panas. Sumber mata air panasnya berasal dari kawah tersebut, kemudian diteruskan melalui pipa. Ditampung ke dalam bak-bak penampungan, kemudian dialirkan ke kolam-kolam.

Dari Cihaneut didapati jalan kontrol perkebunan teh, menuju mata air panas Cibolang sepanajang kurang lebih 3 km lebih. Melalui lereng G. Windu, mengikuti tekuk lereng dari timur ke barat. Selama perjalanan, melalui batas antara hutan tropis, dan batas perkebunan teh Wanasuka.

Ke arah barat daya, merupakan sisa dari kejayaan perkebunan teh (onderneming) Malabar di masa Hindia Belanda. Ke arah selatannya berbatasan dengan perkebunan teh Purbasari. Perkebunan ini dibelah oleh Ci Laki, sumbernya disumbang oleh beberapa tinggian. Diantaranya di sebelah timur laut, bersumber dari lereng barat G. Wayang-Windu. Kemudian di sebelah baratnya berasal dari tinggian Cukul. Titik nol Ci Laki berada di Kampung Bendungan, Desa Sukaluyu, Kabupaten Bandung.

Pengalirannya ke arah selatan, menoreh perbukitan sekitar Margaluyu, membentuk jeram-jeram yang dalam, dasarnya dialasi oleh aliran lava. Hasil dari kegiatan letusan gunung api jajaran selatan Jawa. Sumber letusannya diperkirakan berasal dari gunung api yang kini telah tidak lagi terlihat bentuknya. Bila merujuk kepada Peta Geologi Lembar Garut dan Pameungpeuk (Alzwar Akbar drr., 1992), disusun oleh Endapan Rempah Lepas Gunungapi Tua Tak Teruraikan (Qopu). Dengan demikian merupakan hasil kegiatan gunung api yang jauh lebih tua, dibandingkan dengan gunungapi modern. Diantaranya gunungapi aktif G. Gede, G. Salak, G. Tangkubanparahu yang berada di sebelah utaranya. Kondisi demikian menandakan telah terjadi pergeseran zona benioff/ penunjaman lempeng tektonik samudera.

Dari peta geologi tersebut, memperlihatkan tubir kaldera membentuk lingkar terbuka ke arah timur. Dindingnya kini ditempati G. Gantigi 1348 mdpl., (Cantigi?) di sebelah timur, dan G. Karancang 1563 mdpl. Sebelah timurnya. Di tengah-tengahnya memperlihatkan pola kerucut yang dibatasi oleh lingkaran. Dalam peta geologi lembar Garut, puncaknya dituliskan G. Cepu 1388 mdpl. Sedangkan bila merujuk kepada peta lama 1943 (AMS), disebut G. Tjajoer 1368 mdpl, atau G. Cayur. Pergantian penyebutan tersebut seharusnya ditinjau ulang, mengingat nama geografis tersebut sebagai leksikon nama-nama gunung di Jawa Barat.

Ci Laki mengalir ke arah selatan, menoreh menjadi lembah yang dalam. Aliran sungai ini membagi dua wilayah administratif, Kabupaten Garut di sebelah timur, dan Kabupaten Cianjur di sebelah barat. Hilirnya di Desa Cimahi, Kecamatan Caringin, Garut. Muaranya bertemu dengan laut Samudera Indonesia, menjadi batas Kabupaten Garut dan Kabupaten Cianjur.

Waterkracht Tjilaki
Di bagian hulu Ci Laki dimanfaatkan sebagai tenaga pembangkit listrik tenaga air. Aliran airnya disadap dari arah hulu, atau disebut saringan A. Lokasi penyadapannya sekitar 1.5 km ke arah utara, sekitar Banjarsari. Ditandai dengan dibuatnya dam, mengalihkan aliran air ke arah barat daya. Dialirkan melalui saluran air tertutup atau terowongan panjang, hingga berakhir di reservoir.

Pada bagian outlet aliran air, kemudian ditampung ke dalam bak atau reservoir. Berbeda dengan beberapa mikro hidro yang menggunakan kolam penenang. Fungsinya adalah mengendapkan sedimentasi dan mengatur volume air. Namun untuk fasilitas ini tidak dilengkapi kolam penenang, namun cukup menggunakan sistem bendungan. Berupa kanal yang memanjang sekitar 40 meter, dilengkapi dengan jeruji besi sebagai penyaring sampah. Kemudian di sebelah selatannya, didapati tutup pintu irigasi. Berfungsi sebagai pengelak air atau spillway, agar volume air stabil.

Alirannya kemudian disalurkan melalui pipa tunggal, disebut pipa pesat. Dialirkan melalui lereng terjal sepanjang 250 meter, dengan beda ketinggian sekitar 60 meter. Daya dorong yang dihasilkan oleh gravitasi, kemudian disalurkan ke tiga turbin. Kemudian menggerakan dinamo untuk menghasilkan listrik sekitar 6000 volt per unit.

Listrik yang dihasilkan kemudian didistribusikan melalui kawat listrik tegangan tinggi, untuk mensuplai dua pabrik teh yang berada di sebelah utara. Diantaranya pabrik di Banjarsari atau pabrik Malabar, kemudian pabrik Tanara di sebelah timur. Pembangki listrik tenaga air ini setidaknya mulai dikerjakan sejak 1908, dengan membangun jaringan irigasi terbuka dan tertutup. Kemudian mempersiapkan instalasi teknis, hingga pemasangan pipa baja. Diperkirakan mulai beroperasi, setidaknya sejak 1913.

Saat ini tidak lagi berfungsi optimal. Selain usia turbin dan generator listrik tua, selain itu pasokan air semakin berkurang. Kondisi demikian diakibatkan, telah terjadi perubahan tata guna lahan di utara. Dengan demikian debit air berkurang, karena area imbuhan telah berganti menjadi perkebunan.

Sekolah untuk buta huruf sumbangan Bosscha
Ke arah selatan, melihat bukti sumbangsih juragan teh A.K. Bosscha. Mendirikan vervoloog (sekolah lanjutan), di Malabar. Upaya memutus buta huruf, dikalangan pegawai perkebunan Onderneming Malabar.

Pengaliran air melalui lembah
Di aliran Ci kuningan, Desa Banjarsari. Didapati sistem pengelolaan irigasi air tertutup, disebut Syphon Tjikuningan, teknologi mengalirkan air di antara lembah. Ci Kuningan (sungai), mengalir ke arah barat daya. Kemudian bergabung dengan Ci Laki. Alirannya menggerakan turbin waterkracht Tjilaki (pembangkit listrik tenaga air mikro hidro).

Syphon atau disebut juga sipon, mengalirkan air ke waduk Cileunca. Melalui jaringan terowongan air tertutup, sejauh hampir 2.7 km lebih. Tujuanya adalah mengisi volume air waduk, kemudian dialirkan ke utara. Menggerakan tiga instalasi pembangkit listrik tenaga air Plengan, Lamajan dan Cikalong.

Tugu peringatan koflik TNI dan DI/TII di Ci Santi.
Gardu listrik, diperkirakan transformer di perkebunan teh Purbasari.
Pen stock/Pipa pesat Cilaki
Power house/rumah produksi listrik PLTA Cilaki
Sistem generator berupa dinamo
Turbin air nomor 3
Syphon Cikungingan.

Coaching Clinic Paket Geowisata Batch#1

Selasa, 23 Juli 2024, Bandung

Organisasi PGWI menyelenggarakan pelatihan singkat satu hari, Coaching Clinic Penyusunan Paket Geowisata.

Teknis mengenali potensi keunggulan objek geowista, segmen, menentukan tema/narasi, mitigasi, itinerari dan penentuan harga.

Narasumber
Herdi Heryadi (East Experience), Adrian Agoes (Stiepar Yapari Bandung), Deni Sugandi (PGWI)

Hari/Tanggal
Selasa, 23 Juli 2024

Waktu
Pk. 07.30 WIB sd. 18.00 WIB

Venue
(pagi) Sekitar Bandung Utara, dan (siang) Travel Tech Ciburial Dago, Bandung

Meeting point
Pkl. 07.00 WIB, Gunung Batu Lembang. https://maps.app.goo.gl/Kqf1QsPyh9hWybNdA

Info/Pendaftaran (kuota terbatas 20 peserta)
0895-3632-91927 (fiqa)

Biaya pengganti logistik
Rp. 100.000., (makan 1x, E-Sertifikat)

Transfer:  BRI REK 035401003124561 Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia

Syarat dan ketentuan

  • Diutamakan bagi pegiat/pemandu geowisata, pernah mengikuti pelatihan kepemanduan geowisata atau aktif sebagai pemandu geowisata.
  • Diharapkan untuk mengatur moda transportasi pribadi. Disarankan membawa kendaraan roda dua/motor.
  • Membawa alat tulis, pakaian lapangan (opsi laptop)

Inisiator
Dilaksanakan oleh organisasi PGWI. Mendorong penguatan jejaring, upgrading dan memelihara kompetensi anggotanya. Pelaksanaan acara bersifat probono-bagian dari program kegiatan organisasi.