Catatan Geourban#49 Ganeas

Kembali menelusuri sejarah bumi dan budaya, kegiatan Geourban ke-49 jatuh dihari minggu. Tanggal 12 Oktober 2025, diikuti para pegiat wisata, professional hingga kreator konten.

Kegiatan jatuh pada hari minggu. menyebabkan jalan lenggang karena jatuh di hari libur. Sebagian warga lebih baik tinggal di rumah, memanfaatkan hari libur. Perjalanan dimulai dari Cileunyi, menyusuri jalan provinsi yang menghubungkan Bandung ke Sumedang. Jalan utama yang dahulu dibangun atas keinginan Gubernur Jenderal, saat Kekaisaran Perancis menang perang di Eropa abad ke-19 awal. Sehingga pulau jawa merupakan pampasan perang, dari kekuasaan Kerajaan Belanda.

Sebagai penguasa negeri jajahan, Daendels membutuhkan dana besar. Tujuannya adalah untuk mengisi kekosongan kas negara, sekaligus diperlukan ketahanan militer pada saat itu. Kemudian pada 1809 hingga 1810, dibuatlah pelaksanaan pembangunan jalan. Dengan cara melebarkan jalan penghubung antar kerajaan abad ke-16, dari barat ke timur.

Diperlukan waktu dua tahun lebih, untuk mempertemukan Jawa bagian barat dan bagian paling ujung timur. Kurang lebih seribu kilometer, diantaranya adalah sebagian jalan yang dilintasi pada kegiatan Geourban.

Bukit Jarian, Hantu yang Cantik
Matahari baru saja timbul di atas puncak G. Geulis. Gununggapi soliter yang menjadi benteng alam, membatasi Cekungan Bandung segmen timur. Tingginya semampai, ketinggian puncaknya 1282 meter di atas muka laut. Namun menjadi penghalang alam, antara batas timur Bandung dan Sumedang bagian barat.

Selepas kampus Unpad sekitar Cikeruh, jalanan mulai berkelok mengikuti kontur perbukitan. Sebelah kanannya adalah G. Iwir Iwir, ditafsir sebagai Gunung Geulis Tua. Tulisan tentang G. Geulis bisa dibaca di sini: https://blog.denisugandi.com/jarian-berwajah-geulis/

Bagian barat dari lereng gunung tersebut, saat ini sudah beralih fungsi menjadi pemukiman warga. Dikelola oleh perusahaan pengembang, memanfaatkan lahan kosong hasil kegiatan tambang batu di masa lalu. Materialnya diangkut, untuk menimbun pembangunan Tol Cileunyi. Perumahan tersebut menempati sebagian besar di sisi sebelah barat, dan timur.

Sebagian besar lereng nya telah habis, untuk pembangunan jalan Tol Cileunyi. Diangkut sejak awal tahun 1990-an, menggunakan dump truk melewati jalan raya Jatinangor ke Cileunyi. Hingga jelang tahun 2018, sebagian besar lereng G. Geulis telah habis diangkut. Menyisakan ceruk-ceruk yang dalam, tanpa adanya kegiatan reklamasi.

Kegiatan tambang tersebut harus dihentikan sejak 2019, mengingat bahaya yang ditimbulkan secara langsung. Dilaporkan beberapa kali terjadi gerakan tanah, hingga yang terbesar terjadi pada 9 Januari 2021. Lokasi longsor, terjadi di sebelah selatan G. Geulis di Cihanjuang, Cimanggung, Sumedang. Berupa longsoran dinding tegak, setinggi 20 meter. Menewaskan 40 orang, dan menimbun puluhan rumah.

Kondisi demikian menandakan saat ini sebagian besar lereng G. Geulis, disulap menjadi kawasan pemukiman. Terjadi akibat dampak perkembangan kawasan industri sekitar Rancaekek. Sehingga diperlukan hunian bagi para pekerja yang sebagian besar datang dari luar kota.

Pohon Kopi Umur Satu Abad
Persis diseberang jalan penghubung exit Tol Pamulihan, Tanjungsari. Terdapat Sekolah Menengah Kejuruan PPN Tanjungsari, di Gunungmanik, Sumedang. merupakan sekolah pertanian rakyat yang telah ada sejak masa kolonial. Disebut Landbouw Bedrijft School Tandjoensari (Tanjungsari), pada 1915-1918. Panorama bangunna lama sekolah pertanian bisa diihat di sini: https://kuula.co/share/h3Kb1?logo=1&info=1&fs=1&vr=0&sd=1&thumbs=1

Ditujukan untuk mencetak para ahli pertanian pada masa itu. Didirikan 1914, melalui perintisan oleh Bupati Sumedang Pangeran Aria Soeriaatmadja (1915-1921). Mewakafkan tanah di daerah Bojongseungit, saat ini menjadi bagian dari SMK SPMA dan Unwim. Di kawasan lahan sekolah pertanian ini, didapati pohon kopi jenis ekselsa. Merupakan varietas dari kopi liberika (Coffea liberica), dicirikan dengan ukuran daun lebih besar dari jenis Robusta dan Arabika.

Ditanam seiring lahirnya sekolah pertanian (1914?), melalui keinginan Pangeran Sumedang. sehingga bila ditarik pada tahun ini, sudah berumur 111 tahun. Jumlah pohon kopi yang masih hidup, tinggal lima pohon. Dari tujuh, kemudian mati akibat rayap dan kekeringan. Tinggi pohonnya sekitar 4-7 meter, dengan ukuran batang pohon antara 80 cm hingga 120 cm. Tumbuh di atas ketinggian sekitar 750 meter dpl. menghasilkan 1,2 ton ceri kopi untuk per satu hektar lahan perkebunan.

Ekselsa termasuk varietas yang tahan hama, mengingat jenis lainnya rentan terhadap jamur. Sehingga pihak kolonial mendatangkan khusus dari Chad Afrika, disebar di sekitar Tanjung Jabung Barat Jambi, dan Kepulauan Riau. Kemudian ditanam di kawasan priangan, khususnya di Tanjungsari Sumedang.

Perkebunan Swasta di Lereng Kareumbi
Dari Tanjungsari, kemudian dilanjutkan ke arah Sumedang. Disekitar Cigendel, diarahkan berbelok ke arah barat menuju Cimarias. Setelah melewati jembatan tua yang menyeberangi Ci Peles. Struktur bangun jembatan dengan menggunakan teknik truss, sistem baja lengkung. Menjadi ciri pembangunan jembatan yang dibangun Kolonial Belanda tahun 1932. Selepas jembatan jalanan menanjak mengikuti lereng perbukitan. Sedikit demi sedikit menapaki ketinggian, hingga tiba di titik tinggi. Dari lokasi ini terlihat jelas lereng miring ke arah utara, ditempati lembah dan perbukitan. Membentang dari timur ke barat. Topografia bergelombang landai, merupakan bagian dari G. Kareumbi. Bila merujuk kepada pembagian fasies gunung, merupakan fasies medial. Bagian tengah dari tubuh gunungapi yang pernah aktif di masa lalu, kemudian saat ini digolongkan ke dalam gunungapi kelas C. Pembagian klasifikasi gunungapi di Indonesia yang menandakan tidak ada informasi kegiatan kegunungapian. Baik setelah 1600 atau setelahnya, sehingga disebut gunungapi dorman.

Bukti letusannya hingga kini masih bisa disaksikan, berupa endapan piroklastik yang menempati sebagian besar Cimarias-Cinanggerang, di sebelah selatan jalan Cadas Pangeran, Kabupaten Sumedang.

Kondisi tanah yang subur, menjadikan sebagian besar wilayah Cinanggerang dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan. Diusahakan pertama kali melalui perkebunan teh, oleh partikelir partikelir.

Keberadaan Cinanggerang sebagai wilayah yang subur dan strategis, dituliskan dalam Natuurkundig tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, 1889. Menguraikan sebagai berikut. Wilayah bagian dari Kabupaten Sumedang yang terletak di lereng utara Gunung Kareumbi. puncak-puncaknya masih berhutan, mencapai 1.600 meter di atas permukaan laut, terletak sekitar satu kutub dari pengukur hujan. Ketinggian di atas permukaan laut: 925 meter. Di sebelah utara, di seberang perusahaan, dan hanya dipisahkan oleh jurang yang dalam dari Sungai Cipeles (Cipels), terletak pegunungan, pada jarak sekitar enam kutub, yang mana Manglajau adalah salah satu puncaknya. Hanya puncak-puncak pegunungan ini yang masih berhutan. Di sebelah timur dan barat, lingkungan sekitarnya dibentuk oleh punggung bukit dan jurang yang gundul, semuanya tertutup rapat dengan alang-alang dan spesies rumput lainnya. Di sebelah barat laut, pada jarak sekitar 50 kutub, terletak gunung Tempomas (Tampomas).

Dalam keterangan Encyclopedie van Nederlandsch-Indië, diterbitkan oleh Martinus Nijhoff 1939. Menyebutkan masuk ke dalam Distrik Tanjungsari, bagian dari Kabupaten Priangan. Bersanding dengan Distrik Rancakalong, dan Distrik Cikeruh dan 29 desa. Dilanjutkan dalam tulisan buku tersebut, disebut perkebunan Jatinangor, Cijeruk, Cinanggerang serta beberapa pabrik singkong dan sere (sereh). Sedangkan pada keterangan lainya yang lebih awal, laporan Particuliere Ondernemingen In Nederlandsch-Indië Op Gronden Door Het Gouvernement Afgestaan in Huur (Voor Landbouwdoeleinden) En Erfpacht (1914). Menyebutkan perceelen atau blok perkebunan komoditas teh, menempati wilayah (blok) Tjinanggerang en Tjiseda. Kepemilikannya ata ondernemers en erkende administrateurs, dikuasai oleh Kongsi Tan Djin Gie. Keterangan selanjutnya menyebutkan tanggal kepemilikan (datum van vestiging van het erfpachtsrecht) 18 Mei 1885.

Begitu juga keterangan publikasi jaringan perkebunan priangan, De bergcultures; officieel orgaan van het Algemeen Landbouw Syndicaat, jrg 11, 1937. Dimiliki oleh orang yang sama. Tan Djin Gie. Menghasilkan komoditas teh jenis Pecco Souchon, dan Souchon. Jenis teh hitam yang sangat diminati saat itu. Dicirikan dengan jenis daun teh yang agak tua, berwarna hitam. Rasanya lebih pahit dibandingkan dengan yang lainya.

Kemudian bila menelusuri kembali berdasarkan peta lama, lembar Nangorah (1886), menuliskan Thee etablissment Tjinanggerang. Kemudian pada peta yang sama, ke arah timur, didapati Thee onderneming Margapala en Tjihoehoet Tjikalapa.

Berdasarkan peta lama tersebut, menandakan bahwa kawasan Cinanggerang dan ke arah timur, merupakan perkebunan untuk komoditas teh. Keberadaan pengolahan pabrik teh di Cinanggerang dan Kareumbi ditulis pada peta lembar Soemedang 1942. Keberadaan pabrik teh di Cinanggerang saat ini beralih fungsi menjadi Sekolah Dasar negeri Cinanggerang 2. Sedangkan di arah timurnya, pabrik pengolahan teh Onderneming Kareumbi (ditulis Carumby), kini berupa lapangan di depan Kantor Desa Margalaksana. Ke arah timur dari lapangan, masih terlihat sisa struktur. Berupa tumpukan batuan yang disusun, biasanya menjadi pondasi pondasi bangunan lama.

Tiga Cerobong di utara Cinanggerang
Sekitar 1,2 Km dari SD Negeri 2 Tangerang, didapati struktur bangunan. Berada diantara lereng perbukitan yang kini ditempati perkebunan Indigofera. Tanaman yang memproduksi pewarna biru alami, biasanya digunakan untuk pewarnaan di industri tekstil khususnya batik. Dari informasi warga, merupakan sisa dari kejayan pabrik sereh pasca kemerdekaan. Akibat jatuhnya permintaan pasar, dan mahalnya perawatan perkebunan. Menyebabkan pabrik minyak sereh ini harus ditutup tahun 1960-an.

Dari keterangan laporan kolonial, Citronella-olie yang disusun oleh Auteur Hofstede, H.W. 1928. Pada tahun 1902, terdapat dua pabrik di Jawa yang memproduksi minyak serai wangi: pabrik “Odorata” milik Kaffir yang disebutkan sebelumnya di Tjitjoeroeg dan “Tjikantjana”, yang berlokasi di dekat Tjiandjoer. Industri minyak serai wangi juga mulai berkembang di luar Jawa, meskipun dalam skala terbatas. Van Romburgh melaporkan, antara lain, bahwa ia melihat alat destilasi sederhana beroperasi di rumah seorang penduduk asli di Kandangan (Kalimantan Selatan dan Timur). Dalam artikelnya tentang Kaffir, Hoekman memberikan beberapa detail tambahan tentang perkembangan industri minyak serai wangi di Jawa. Sesuai dengan janji yang dibuat kepada Treub saat itu untuk tidak mencoba menjadikan perusahaannya sebagai perusahaan monopoli, Kaffir selalu menyediakan bahan tanaman sebanyak mungkin untuk pabrik-pabrik yang sedang berkembang, sementara produsen abu serai wangi selalu diberikan informasi sebanyak mungkin.

Kekar Kolom Gunung Susuru
Dari Cianggerang, dilanjutkan ke arah timur melalui kota Sumedang. Dari alun-alun Sumedang kemudian diarahkan ke Ganeas, menggunakan jalan penghubung ke Wado. Sekitar Cikoneng, kemudian berbelok ke arah selatan. Jalanan mendaki karena mendaki punggungan perbukitan disebut Dayeuhluhur. Kawasan ini merupakan bagian dari pusat pemerintahan Kerajaan Sumedang abad ke-16, perpindahanan dari Kutamaya. Ditandai dengan situs pemakaman Raja Geusan Ulun. Kemudia di sebelah selatannya didapati makam utusan Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran, Embah Jaya Perkasa. Kandaga Lante yang kemudian mengabdi kepada Geusan Ulun, pada saat Kerajaan Sumedang berkonflik dengan Cirebon.

Daerah ini merupakan dataran tinggi di kawasan Sumedang sebelah tenggara. Berupa perbukitan dan lembah-lembah yang dalam. Perjalanan dilanjutkan ke arah Kampung Sahar, pemukiman warga yang berada di lereng sebelah barat laut G. Susuru. Berupa kerucut yang diapit oleh beberapa tinggian. di sebelah timurnya berjajar tinggian Pasir Aseupan dan G. Gedogan. Di arah timurnya dibatasi Ci Capar, dan dipagari oleh punggungan perbukitan Pasir Lingga, dengan bagian puncak tertinggi disebut Pasir Grobog 926 meter dpl. Sejajar dengan puncak perbukitan tersebut, ke arah selatannya ditandai dengan puncak Pasir Sangkur 976 meter dpl. Hulu Ci Capar berada di sebelah selatan, di lereng G. Sasapuan 1200 meter dpl. dan Pasir Manggu. Mengalir ke utara, bertemu dengan Ci Beureum di sekitar Situraja Utara.

Dengan demikian, Pasir Susuru merupakan kerucut perbukitan yang dilingkari oleh beberapa puncak-puncak perbukitan dan lembah. Bila ditarik lagi ke arah selatannya, didapati lingkar kaldera Calangcang 1667 meter dpl. Gunungapi dorman yang menjadi batas administrasi, antara Sumedang-Kabupaten Bandung dan Garut. G. Susuru berada di dua kecamatan, bagian timur masuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Ganeas. Sedangkan bagian timurnya, masuk ke Situraja.

Bermula dari informasi di media daring, tentang penemuan warga di G.Susuru. Berupa susunan batuan yang diperkirakan sisa dari kebudayaan lama. Berada di lereng perbukitan, di antara perkebunan milik warga. Dari keterangan warga, masyarakat sekitar Kampung Sahang sudah mengetahui sejak dahulu. Namun belum mengetahui asal-usul dan sejarah pembentukan di alam.

Dari peta Geologi Lembar Bandung (Silitonga, 2003). Merupakan Hasil Gunungapi Tua Lava (Qvl). Disusun lava yang menunjukan kekar lempeng dan kekar tiang. Susunannya basal dan sebagian telah terpropilitisasikan. Terbentuk umur Kuarter, sekitar

Fiturnya disebut columnar joint, atau kekar kolom. Susunan batuan beku, membentuk kolom, memanjang arah utara-selatan. Saling tersusun dan rapat, membentuk dari empat sudut, hingga enam sudut (hexagonal). Rata-rata ukuran lebar, antara 15 cm hingga 20 cm, dan panjang bervariasi. Antara 3 meter hingga 6 meter lebih.

Susunan batuan tersebut, membentuk tebing tegak sekitar 6 meter. Menandakan arah pendinginan, membentuk dome. Pembentukan batuan ini terjadi akibat magma yang naik ke atas permukaan bumi. Pada saat mendekati permukaan, terjadi pendinginan sehingga sifat cair, kemudian menjadi padat. Perubahan ini diikuti dengan proses kontraksi, membentuk struktur hexagonal.

Singkapan kekar kolom berada di ketinggian 750 meter dpl. kemudian bagian puncaknya kemungkinan lebih dari 900 meter dpl. didapati komplek pemakaman, berupa susunan batuan.

Saat ini informasi fungsi keberadaan kekar kolom bagi budaya di Kampung Sahang, Ganeas, belum terungkap. Mengingat bentuk seperti ini biasanya dimanfaatkan oleh nenek moyang sebagai sistem religi, seperti halnya di G. Padang Cianjur. Namun hingga kini belum ada bukti tinggalan budaya, kecuali kompleks pemakaman di bagian puncak gunung. Sehingga perlu untuk diteliti lebih mendalam, baik dari sisi tinggalan budaya dan geologi. Mengingat keunikan fitur bumi G. Susuru yang tidak ditemui di tempat lain.

Ex pabrik sereh, Cinanggerang.
Dinding tegak disusun kekar tiang di lereng barat G. Susuru.
Orientasi kekar tiang, rebah ke arah utara
Sisa struktur pabrik teh Margapala (Margalaksana)

Pelatihan Singkat Pemandu Geowisata di Pasir Pawon

Kegiatan yang diinisiasi oleh asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), melalui kegiatan mandiri-probono. Dilaksanakan pada hari Sabtu, 15 Juni 2014. Berupa pelatihan singkat, bagi para pegiat, pemandu lokal dan pegiat konservasi lingkungan di kawasan Perbukitan Karst Padalarang. Bertujuan mempersiapkan para calon peserta, yang akan diikut sertakan dalam kegiatan sertifikasi skema pemandu geowisata. Pelaksanaanya di hari sabtu, 22 Juni 2024, di Aula FP2KC Cidadap, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. kegiatan pelatihan dilaksanakan di Pasir Pawon, atau saat ini dikenal dengan Wisata Stone Garden, di Citatah, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

Pelatihan dimulai pukul 07.00 WIB dan diahiri hingga menjelang sore, bertempat di sekitar Pasir Pawon, Citatah, Padalarang. Diikuti oleh 20 orang lebih, dari pegiat, pemandu lokal, pelaku konservasi kawasan Citatah, hingga mahasiswa pariwisata. Kegiatan dibuka semi formal oleh Deni Sugandi, selaku Ketua PGWI Pengurus Nasional. Kemudian dilanjutkan oleh sambutan dari Dinas Pariwisata Budaya, Kabupaten Bandung Barat diwakili Ukas Maulana, Jabatan Fungsi di Pemasaran Pariwisata. Menyatakan ucapan terima kasih kepada organisasi (PGWI), yang telah memberikan kesempatan kepada para pegiat geowisata di bawah wilayah kerja dinas pariwisata Kabupaten Bandung Barat. Ditambahkan pula, bahwa wilayah KBB sangatlah luas, sehingga perlu untuk digali potensinya untuk kemaslahatan warga/pelaku lokal melalui geowisata.

Narasumber yang hadir berasal dari organisasi PGWI. Dimateri pertama, Deni Sugandi menyampaikan dasar-dasar pengertian sejarah bumi. Khususnya genesa perbukitan karst Citatah, Padalarang. Deni menyampaikana pengertian geowisata, sebagai dasar berkegiataan wisata. Seperti diobjek geowisata Pasir Pawon, berupa puncak bukit yang dihiasi oleh kerucut karst hasil kegiatan pelaturan sekitar lima juta tahun yang lalu. Selain itu didapati bukti binatang laut yang tercetak difragmen batugamping, berupa fosil kerang, branching dan sebagainya. Dalam kesempatan pemberian materi, Deni menjelaskan geologi regional kawasan Karst Citatah, merupakan bukti batuan tua homogen yang membatasi bagian barat Cekungan Bandung.

Dalam pelatihan ini ditandaskan perlunya menggali narasi, yang sifatnya informasi valid. Seperti mencari data melalui hasil penelitian, kemudian dirangkum menjadi sumber narasi atau story telling dalam kegiatan pemanduan geowisata. Dengan demikian diperlukan kemampuan untuk menggali informasi valid, melalui data penelitian, wawancara ahli dan mencari diingatan kolektif masyarakat. Narasi geowisata bisa berupa data ilmiah tentang prose dinamika bumi, cerita rakyat yang memiliki hubung kait dengan tapak bumi yang dikunjungi.

Selanjutnya, Sodikin Kurdin dan Adrian Agoes mengarahkan para peserta pelatihan, praktek pemanduan. Lokasi mengambil tempat di Pasir Pawon/Stone Garden, dengan cara praktek bergantian. Beberapa peserta memiliki kemampuan untuk merangkai cerita, tetapi ada pula yang perlu mencari data yang valid. Partisipan merasa terbantu melalui pelatihan ini, karena mendapatkan langsung teknis pemanduan melalui kegiatan praktek. Kegiatan ini dikondisikan untuk menghadapi kegiatan sertifikasi, yang akan dilaksanakan pada tanggal 22 Juni 2024, di Balai FP2KC, Cidadap, Padalarang, Kabupatan Bandung.

Simulasi pemanduan geowisata di Pasir Pawon.
Praktek pemanduan geowisata.