Catatan Singkat Geourban#56 Bunihayu

Perjalanan sehari di kegiatan Geourban ke-56 dimulai dari Cikole Lembang. Jelang pagi, sekitar pukul 7.30 WIB, jatuh pada hari Minggu, 8 Februari 2026. Walaupun cuaca sedikit kabut menggelayut, tidak menyurutkan pelaksanaan kegiatan.

Perjalanan diarahkan menuju Subang, melalui Ciater kemudian dilanjutkan ke arah Sagalaherang. Di lereng G. Tangkubanparahu sebelah barat, jalanan Ciater tampak bersolek. Jongko pedagang yang biasanya menutupi pemandangan di tepian jalan, kini telah tidak ada. Ditertibkan melalui keputusan Gubernur Jabar perihal penataan ulang kawasan Ciater-Subang. Sebagai gantinya adalah jalan yang kini semakin dipoles, hotmix, perbaikan saluran drainase. Menjelang jembatan Ci Pangasahan, saat ini telah dibangun pelataran wisata pemandangan. Disebut Taman Dewi Sartika, berupa platform yang dibuat bertangga, menghadap ke arah timur. Sehingga dari titik ini menjadi tempat terbaik untuk menyaksikan matahari terbit, Selain itu melihat jajaran gunung dan perbukitan di sebelah utara hingga ke arah timur.

Dari titik ini terlihat jajaran perbukitan dan kerucut gunnugapi tua. Ke arah timur, hadir jajaran perbukitan G. Karamat 1510 mdpl., bersandingan dengan Pasir Ipis 1254 mdpl. Ke arah timurnya, terlihat kerucut khas berupa dua kerucut yang berada pada satu tubuh gunung, disebut G. Canggak 1619 mdpl. Sedikit ke arah timurlaut, terlihat kerucut G. Tampomas yang hadir dalam selimut kabut.

Sebelah utara dari taman ini, tepatnya di Jembatan Ci Pangasahan, Ciater. Merupakan bukti sejarah, perlawanan tentara kerajaan Belanda atau KNIL, menghadapi serangan tentara Jepang. Dikenal dengan perang Tjiater Stelling atau pertempuran di Ciater pada 5-7 Maret 1942. Di Perlintasan jalan inilah mengakhiri kekuasaan Kolonial Belanda di Indonesia, kemudian diganti penjajahan Jepang selama 3 tahun lebih.

Bergerak ke arah utara, melalui percabangan Ciater-Panaruban. Jalannya menurun, menandakan bagian dari lereng G. Tangkubanparahu bagian distal atau kaki gunung. Menurun ke arah Sagalaherang, sejajar dengan aliran Ci Koneng (sungai). Alirannya berasal dari lereng sebelah utara G. Tangkubanparahu, mengalir ke utara. kemudian bergabung dengan Ci Muja di sekitar Cicadas, sebelah utara Panaruban. Dari peta geologi lembar Bandung (Silitonga, 2003), sebagian besar batuan yang tersingkap adalah alira lava. Batuannya berwarna abu gelap, menempati dasar sungai. Membentuk ceruk-ceruk dan air terjun di sekitar Panaruban. Diantaranya Curug Karembong, Curug Sawer, Curug Gua Badak, Curug Cisaga dan sebagainya.

Tiba di Sagalaherang, bertemu dengan persimpangan. Ke arah barat menuju Wanayasa, dan sebaliknya ke arah timur menuju Subang. Sekitar Sagalaherang Kaler, kemudian berbelok ke arah utara. Merupakan jalur alternatif ke kota Subang, melalui Batukapur. Jalannya sempit dengan turunan terjal, terutama saat akan memasuki daerah Batukapur. Di sebelah kanan jalan merupakan lembah dalam yang disayat oleh Ci Nangka. Sungai yang berasal dari lereng sebelah utara G. Tangkubanparahu. Kemudian bergabung dengan beberapa anak sungai, seperti Ci Nangerang, Ci Longok, Ci Taraban yang berasal dari Gunung Batu Kapur 543 mdpl. Semua anak sungai kemudian bergabung dengan Ci Asem.

Aliran Ci Asem dialasi batuan beku. Berwarna gelap, dan masif. Secara umum terlihat struktur batuan yang terdeformasi, menandakan adanya struktur yang bekerja di wilayah ini. Keberadaan struktur patahan, digambarkan pada peta Geologi Lembang Bandung (Silitonga, 2003). Berupa garis patah-patah, diduga adanya struktur. Berupa patahan yang memotong Gunung Batukapur, dengan arah relatif baratlaut-tenggara. Bukti keberadaan struktur tersebut, adalah hadirnya mata air panas Batukapur.

Curug Agung Mengalir di Atas Aliran Lava
Kondisi jalan lintas jalan alternatif Sagalaherang ke Subang via Batukapur, relatif dalam kondisi baik. Berbeda dengan tahun lalu, masih berupa jalanan aspal yang berlubang, dan sebagian berbatu. Saat ini sebagian besar jalannya telah di beton, sehingga bisa dilalui dengan aman oleh beberapa jenis kendaraan. Kondisi demikian mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, karena akses telah tersedia dan baik.

Perjalanan dari arah Sagalaherang ke arah Curugagung, didapati persimpangan jalan. Ke arah barat, melalui jembatan yang melintasi Ci Asem. Kemudian mengarah ke Dawuan. Sedangkan jalan lurus, menuju kota Subang. Sekitar jembatan Curugagung, sekitar 50 meter ke arah utara didapati aliran Ci Asem. Airnya relatif deras, merupakan pertemuan beberapa anak sungai yang berasal dari berapa tinggian. diantaranya Gunung Batukapur di sebelah timur, dan jajaran perbukitan

Memasuki Desa Curugagung dari arah Sagalaherang, dicirikan dengan persimpangan jalan antara Subang dan ke Dawuan. Selepas jembatan, mengalir Ci Asem ke arah utara. Aliran airnya mengalir di atas batuan lava tebal. Dalam peta Geologi Lembang Bandung (Silitonga, 2003), merupakan aliran lava batuan gununugapi muda Tak Teruraikan (Qyl), berumur Kuarter. Sumbernya berasal dari G. Tangkubaparahu, sama (ekivalen) dengan aliranlava di Curug Dago, Bandung. Umunryan

Masyarakat menyebutnya Curugagung, berupa air terjun bertangga. Membentuk ceruk di bagian atas, dan kolam di bagian bawah. Akibat aliran airnya deras, sehingga mengerosi batuan membentuk air terjun bertingkat. Tingginya sekitar 3 meter di bagian atas, kemudian air terjun utamanya dengan tinggi 10 meter. Di bawahnya didapati kolam konsentris, akibat hasil kegiatan erosi oleh arus air.

Dialasi oleh batuan beku berwarna abu-abu gelap, didapati lubang-lubang gas. Disebut vesikular, tekstur berlubang yang terbentuk akibat pelepasan gas. Pada saat lava mengalir, membawa gas yang terlarut, kemudian seiring pembekuan (dingin) gas-gas tersebut dilepaskan. Batuannya tebal dan masif, berwarna abu-abu gelap. Sebagian besar batuannya terdeformasi, menandakan hadirnya sistem sesar di daerah tersebut. Keberadaan air terjun tersebut merupakan bukti hadirnya struktur. Dikonfirmasi dari hasil penelitian P.H. Silitonga (2003), berupa garis putus-putus berarah relatif baratlaut-tenggara.

Bukti Sesar di Curug Cinangrang
Terletak di Bunihayu, Jalancagak, Subang. Didapati air terjun yang mengalir di dinding tegak. Kemudian di sebelah baratnya terdapat beberapa sumber mata air panas. Dari peta lama lembar Djambelaer (1912), memperlihatkan simbol mata air panas.

Air terjun Tangerang dipercaya sebagai air terjun keramat, sehingga oleh sebagian masyarakat di masa lalu dimanfaatkan sebagai sarana kegiatan sakral. Namun pada saat ini, kawasan tersebut telah berkembang menjadi sarana wisata. Dikelola melalui paguyuban wisata Desa Bunihayu, melalui kerjasama dengan pihak swasta. Diantaranya didapati fasilitas glamping, dan sesaran kolam rendam. Jalannya telah ditata menggunakan semi beton, hingga di dasar lembah. Jalannya curam, alternatifnya adalah dengan cara berjalan kaki sepanjang 1 km.

Air terjunnya tinggi, sekitar 30 meter. Tegak dan membentuk gawir yang memanjang dari tenggara ke baratlaut. Sejajar dengan arah pengaliran Ci Nangrang. Pada peta geologi lembar Bandung (Silitonga, 2003), disusun oleh batuan Hasil Gunungapi Lebih Tua (Qob). Diantaranya perlapisan breksi, lahar, dan pasir tuf berlapis-lapis dengan kemiringan kecil. Tebal endapannya sekitar 600 meter.

Dilokasi telah tersedia sarana pariwisata, toilet, sarana penginapan berupa tenda glamping hingga tempat makan. Diusahakan sejak dua tahun yang lalu, melalui usaha bersama. Antara masyarakat lokal dan permodalan dari pihak ketiga. Arah pengembangannya adalah pariwisata yang berbasis pada alam. Sehingga cara menatanya disesuaikan, tanpa menggunakan pembangunan fisik yang berlebihan. Semuanya diselaraskan dengan kondisi lingkungan.

di bagian atas air terjun ini, terdapat kegiatan tambang batu dan pasir. Kegiatan tambang ini menyebabkan kerusakan lingkungan, dan tidak memiliki izin. Pada tanggal 17 Janurai 2025 ditutup oleh Gubernur Jawa Barat. Sebagai tindakan lanjutannya adalah penyegelan lokasi tambang, oleh pihak Polres Subang. Kegiatan tambang ini berdampak langsung kepada masyarakat penggarap sawah, karena dikeluhkan airnya kotor. Selain itu terjadi sedimentasi di beberapa aliran sungai, termasuk Ci Nangerang. Bila hujan tiba, bukan saja pasir yang dibawa dan jatuh di air terjun, bahkan membawa material dengan ukuran lebih besar. Sehingga menyebabkan terjadinya bahaya banjir bandang, akibat bagian hulu air terjun ini dikeruk oleh kegiatan tambang. Sehingga lahan yang rusak, harus segera dihijaukan kembali.

Mata Air Panas Bunihayu
Berada di dalam kompleks wisata Bunihayu Forest, Jalancagak. Berupa kolam-kolam rendam dengan ukuran sekitar 3 meter, menggunakan alas tembok. Didapati tiga kolam,dengan sumber mata air panas yang berbeda. Sebelah utara jauh lebih panas, karena tidak menggunakan penampungan. Sedangkan tiga kolam di sebelah utara, diposok oleh sumber air yang ditampung dalam kolam kecil, kemudian disalurkan ke kolam pemandian.

Airnya tidak terlalu panas, karena berasal dari beberapa sumber kemudian dialirkan ke kolam-kolam melalui sistem pipa. Sumbernya muncul di celah batuan, berada di bantaran sungai Cinangrang. Berupa sumber mata air panas, muncul melalui batuan piroklastik (akifer). Suhunya tidak terlalu panas, dengan perkiraan temperatur sekitar 40 hingga 50 derajat celcius. Di sekeliling kemunculan air panas, diendapkan batuan karbonat disebut travertine. Disebut dengan Limestone-based hydrothermal systems. Endapan batuan karbonat tersebut merupakan hasil mineralisasi, saat air panas melewati batuan sedimen. Naik ke permukaan melalui bidang rekahan yang ditafsirkan sebagai struktur patahan Batukapur. Arah kelurusannya relatif beraarah baratlatu-tenggara, memotong Gunung Batukapur.

Kemunculan mata air panas tersebut, lebih dari lima titik. Menurut keterangan warga, masih ada beberapa titik di bagian hulu. Kemudian ke arah hilirnya mendekati Batukapur, objek wisata kolam renang. Wisata ini memiliki debit air panas yang lebih besar, sehingga ditampung dalam kolam yang luas. Keberadaan air panas ini menandakan di bawah permukaan bumi didapati sumber panas, disebut magma. Kemudian memanaskan batuan penutup (cap rock), yang bertindak sebagai tungku. Kemudian memanaskan air tanah dangkal. Tekanan gas mendorong naik ke permukaan, melalui celah-celah atau batuan poros dalam bentuk manifestasi air permukaan. Debit airnya rendah, menandakan kestimbangan tekanan dari bawah permukaan. Sehingga dalam perlakukannya tidak bisa dibor atau dibuka lebih lebar, karena akan mengganggu tekanan air. Dampaknya adalah tekanan berkurang, kemudian air panas akan hilang.

Sejajar dengan kolam rendam, mengalir Ci Nangerang. Di hululunya didapati beberapa anak sungai, diantaranya Ci Tajaherang, Ci Picung, dan Ci Taraban. Hulunya di sebelah utara, antara Pasirtengah 495 mdpl., dan Pasirjambudipa. Mengalir ke Ci Nangerang, kemudian bergabung dengan Ci Nangka di Batukapur.

Sumber mata air panas lainya, berada di sebelah utara, di aliran Ci Tajaherang. Anak sungai dari Ci Nangerang. Kemudian ke arah selatannya, yaitu Mata Air Panas Ciseupan, di Batugede, Serangpanjang. Keberadaan mata air panas tersebut menjadi unggulan wisata, terutama berbasis wellness atau kesehatan. Sehingga bisa dikembangkan pada wisata minat khusus. Sehingga diperlukan penataan lahan yang berwawasan lingkungan.

Waterkracht Tjinangling
Perjalanan dari Batukapur ke arah utara, mengikuti saluran irigasi Ci Jambe. Sungainya membentang dari selatan ke utara. Bersumber dari bendungan Curug Agung di Leles, Sagalaherang. Kemudian dialirkan ke utara melalui sungai buatan terbuka atau sistem irigasi. Jaraknya kurang lebih 8 Km, melalui Cihuni, Jambelaer, hingga Cisampih Dawuan. Beruapa saluran irigasi, disebut Ci Jambe. Sungai buatan yang digunakan untuk menggerakan turbin listrik Cinangling. Manajemen pengelolaan air melalui pembuatan jalur sungai, dengan tujuan mendapatkan pasokan air surplus. Walaupun sejajar dengan arah irigasi tersebut terdapat sungai utama, namun dianggap tidak stabil. Khususnya untuk menggerakkan turbin di Waterkracht Tjinangling, atau Pembangkit Listrik Tenaga Air Cinanging, Dawuan. Fasilitas rumah produksi listrik ini selesai dibangun 1936. Didahului dengan pembuatan jaringan pasokan air. Berupa irigasi terbuka, disadap di sebelah selatan sekitar Curugagung. Selain sebagai sumber utama untuk energi listrik, irigasi tersebut digunakan untuk persawahan yang dilaluinya. Sehingga membawa manfaat lebih, selain menghasilkan energi listrik, turut mengairi sawah di Dawuan.

Bangunan rumah pembangkit listrik, berada di sebelah selatan Jalan Alternatif yang menghubungkan antara Sagalaherang di selatan, ke Kalijati di utara. Bentuk bangunannya memanjang barat laut-tenggara, dengan inlet (pipa pesat) dari arah tenggara. Outletnya ke arah barat laut. sebagian dibuang ke sungai terbuka, dan sistem pipa bawah tanah hingga ke Pabrik Karet Wangunreja. Di atas terowongan outlet, terdapat tulisan yang dibuat pada dinding beton. Berbunyi “Tjinangling 1936”. Menandakan tahung operasional fasilitas ini.

Panjang bangunnnya sekitar 50 meter, dua lantai. Lantai dasar digunakan untuk produksi listrik, melalui dua turbin. Kemudian memutarkan dinamo listrik, untuk menghasilkan listrik sekitar 1,9 Megawatt dalam kondisi optimal. Digunakan untuk menerangi dan menggerakan Pabrik Karet Wanareja dan Perkebunan Sisal di Sukamandi. Sebagian lagi disalurkan untuk menerangi kota Subang saat itu. Diperkirakan berhenti beroperasi sejak 2017, akibat pasokan air yang tidak stabil dan biaya operasional semakin mahal. Sehingga beralih ke penggunaan listrik dari Pusat Listrik Negara/PLN.

Akibatnya bangunan serta fasilitas yang ada terbengkalai. Sejak berhenti hingga saat ini, beberapa bagian perlengkapan dan alat operasional telah hilang dan hancur. Walampun bangunannnaya bmasih berdiri kokoh, namun sebagian besar peralatannya hilang.

Diantaranya beberapa bagian dari turbin, seperti pipa baja outlet dari turbin, penutup flywheel, sebagian dinamo telah hilang. Kemudian panel kontrol tegangan listrik di lantai satu dan dua lenyap tidak berbekas. Terlihat usaha paksa, dengan cara digergaji, dicongkel hingga di las, agar material besi bisa diangkut.

Kondisi demikian akan mengakibatkan hilangnya artefak sejarah, bukti teknologi yang pernah hadir hampir seratus tahun yang lalu akan lenyap. Sehingga Dengan demikian diperlukan tindakan langsung, agar benda hasil budaya dan teknologi ini masih bisa disaksikan untuk generasi selanjutnya. Diperlukan kepastian hukum, agar benda dan struktur bangunnan tersebut bisa dilestarikan sebagai cagar budaya.

Curug Agung, membentuk air terjun bertangga.

P&T Soekamandi, kepemilikan perusahaan untuk perkebunan Sisal/Agave di Sukamandi.

Panel kontrol listrik yang telah hilang akibat penjarahan

Sisa segmen turbin ferris dan generator.

Bangunan Waterkracht Tjinangling yang masih kokoh.

Air terjun Cinangerang yang membentuk bidang sesar.

Sistem akifer membawa air hangat, dan saluran air permukaan di Bunihayu.

Catatan Geourban#44 Tambakan

Satu keluarga tampak sibuk menata lahan sempit di Rancabungur. Masing-masing seperti memiliki tugas yang perlu diselesaikan segera. Pekerjaannya berlomba dengan matahari yang terus bergerak tinggi, hingga suara adzan berkumandang. Hawa panas menyergap, akibat penguapan tinggi. Si bapak mengais tanah, memindahkan batuan yang menutupi lahan. Sedangkan si ibu mempersiapkan bibit sayuran, kemudian menanamnya. Lahannya tidak terlalu luas, kurang lebih hanya sepuluh langkah dewasa. Sepetak lahan tidak bertuan di tepi situ, muncul hanya saat kemarau. Bingkai fragmen sosial tersebut, mengantarkan peserta Geourban bertandang di sekitar Tambakan.

Kegiatan pro bono, dengan tujuan mengupas narasi sejarah bumi dan budaya. Sekaligus menggalang jejaring lokal untuk menggerakan wisata bumi. Wisata berbasis narasi, interpretasi melalui aktifitas jalan-jalan. Kegiatan Geourban ini, terhitung kegiatan ke-43 dengan judul Tambakan. Melanjutkan kegiatan sebelumnya, di sekitar Tengeragung dan Sagalaherang. Subang. Kegiatan diikuti empat partisipan, pegiat wisata, pemandu dan pegiat literasi sejarah khususnya priangan.

Tapakbumi yang dikunjungi adalah situ kembar, di perbatasan dan Tambakan dan Cijambe. Rahasia bumi, pembentukan sungai yang terpotong, menjadi danau. Disebut Rancabungur, ranca adalah rawa dan bungur merupakan pohon besar yang dicirikan bunga nya berwarna ungu. Danau yang berada di sebelah utara Tambakan, dibelah oleh jalan penghubung Jalancagak menuju Cijambe, Subang. Saat didatangi di bulan 3 September 2025, airnya surut hingga jauh ke arah tengah danau. Warna menunjukan batas surut pada dinding pembatas, turun hingga 2 meter lebih. Menandakan air danau tersebut sangat bergantung dengan air meteorik, atau air hujan. Mengingat sejak bulan Juli, kemarau mulai melanda sebagian besar bagian selatan subang. Sehingga air yang terdapat di danau tersebut surut hingga pada batas maksimal.

Rancabungur merupakan sistem danau, bersanding dengan Rancateja di sebelah utaranya. Duduk di dataran rendah yang diapit oleh tinggian sebelah timur dan barat. Berupa aluvial yang ditempati oleh sawah di bagian baratlaut dan dipotong oleh (sungai) Ci Leuleuy. Dari peta geologi lembar Bandung (Silitonga, 2003), batuannya disusun oleh hasil gunugapi muda tak teruraikan (Qyu). Berupa pasir tufan, lapili, breksi, lava, aglomerat. Batuan tersebut merupakan hasil kegiatan gunungapi di masa lalu. Dalam keterangan Nugraha (2004), G. Tangkubanparahu mulai memperlihatkan kegiatannya sekitar 11 ribu tahun yang lalu. Produknya kini bisa disaksikan di sepanjang jalur Tambakan hingga ke utara.

Hasil aliran piroklastik dan lava,diendapkan dan tersingkap dengan baik di tanggul yang memisahkan dua danau. Berupa struktur kekar dan bidang rekahan, terlihat bila danau dalam kondisi surut akibat kemarau. Dari peta google map, danau ini membentuk pola menerus ke arah utara. Berupa badan sungai yang memanjang utara-selatan. Kemudian membentuk danau akibat aliran sungainya bergeser, membentuk oxbow lake atau danau kalisapi. Setiap segmen membentuk situ dengan ukuran beragam, diataranya Rancabogo, Rancalege. Kemudian memanjang ke arah utara, disebut Rancadeleg,

Sebagian besar Tambakan bagian utara, berbatasan dengan Cijambe ditempati sawah. Ciri dataran aluvial, didominasi tanah yang subur, gembur hasil dari pengendapan material sedimentasi. Diangkut oleh air dari hulu di sebelah barat, kemudian diendapkan ulang disepanjang Tambakan bagian utara,

Sebelumnya partisipan Geourban berkunjung ke Pabrik Tambaksari. Dalam foto lama memperlihatkan seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda, berkunjung ke Tambaksari. Pada 28 Oktober 1922, meresmikan Pabrik Tambakan. Komoditas utamanya adalah teh, saat itu menjadi sumber terbesar perkebunan di Priangan. Namun seiring waktu, kelak terjadi degadrasi pengelolaan perkebunan.

Seiring turunnya permintaan teh dunia, Perkebunan di bawah pengelolaan Pamanoekan en Tjiasemlanden (P&T), harus berbenah untuk bertahan dalam industri perkebunan. Memasuki perang kemerdekaan kemudian diikuti kedaulatan RI, Tambakan bersalin pengelolaan. 12 Agustus 1982 Desa Tambakan dimekarkan menjadi Tambakmekar. Seiring perubahan luas wilayah desa, pengelolaan perkebunan di bawah PTPN VIII. Selanjutnya kini menjadi Pabrik Tambaksari, dibawah pengelolaan PTPN I Regional 2. Mengelola perkebunan sawit, meliputi Tambakan, Ciater dan Kasomalang.

Di sebelah barat dari pabrik Tambaksari, didapati ceruk. Masyarakat menyebutnya Gua Landak, menandakan habitat landak bisa saja pernah menempati wilayah ini. bentuknya berupa ceruk, dengan panjang sekitar 50 meter, dan lebar 20 meter. Membentuk cekungan, seperti sinkhole pada kondisi karst, batuan karbonat. Berada diantara perkebunan nanas warga, sekitar 100 meter dari jalan raya.

Fitur demikian sungguh menarik, karena terjadi pada batuan gunungapi. Cekungan yang memanjang, diduga merupakan bagian dari gua lava. Bagian penutupnya ambruk karena erosi, dicirikan dengan blok dan bongkah batuan yang tersebar di dasar cekungan. Bentuknya memanjang utara-selatan, sesuai dengan arah aliran baratdaya-timurlaut. Dalam peta gunungapi Sunda-Tangkubanparahu (1992), Rudi Dalimin menuliskan sumber lava berasal dari G. Malang-G. Cina. Ketiga kerucut tersebut menurut Peta Geologi Gunungapi Sunda-Tangkubanparahu, M. Nugraha Kartasasmita (2005), merupakan aliran lava G. Tangkubanparahu. Selanjutnya melalui interpretasi lereng, mengalir hinga ke arah barat. Sumbernya diperkirakan berasal dari hasil letusan sektor selatan kawah Pangguyangan Badak, membentuk tapal kuda membuka ke arah timur. Bagian selatan kawah lebih rendah, sehingga pada letusan efusif menghasilkan aliran lava. Umurnya ditaksir sekitar 40 ribu tahun yang lalu, ekivalen dengan aliran lava di Curug Dago dan sekitarnya.

Lokasi selanjutnya bergeser ke fasilitas pembangkit listrik tenaga air. Menuju PLTA Cijambe dan Gunungtua. Dua fasilitas penghasil listrik, untuk menggerakan mesin pabrik pada awal abad ke-20. Seiring dengan perkembangan teknologi dunia, listrik dihasilkan dengan cara menyadap air. Di Bandung dan sekitarnya, ada dua fasilitas PLTA awal, diantaranya adalah PLTA Cijambe 1912, dan PLTA di Cilaki di Malabar Pangalengan. Dibangun lebih awal, setidaknya empat tahun sebelumnya. Mempersiapkan aliran air, pembangunan sistem pipa pesat, mendatangkan unit pembangkit listrik seperti dinamo dan turbin.

Dari foto lama kolonial, memperlihatkan gambaran dan posisi bangunan. Yaitu menghadap ke arah utara, dengan penanda tulisan di bagian atas Tjijambe 1912. Namun seiring perang dunia ke-2, sebagian bangunan rusak akibat pemboman pasukan Jepang. Selain itu, kerusakan selanjutnya akibat sabotase, seiring dengan agresi militer Belanda pertama pada 1947. Fasilitas ini kemudian diperbaiki dan direnovasi, kemudian bisa dioperasikan kembali pada 12 Oktober 1952. Saat ini fungsi PLTA Cijambe hanya meneruskan tegangan listrik, dari sumber listrik PLTA Gunungtua ke PLTA Cijambe. Diteruskan ke Kasomalang, Ciater dan Bukanagara. Fungsi PLTA ini sebatas memberikan sumbangna listrik dalam ukuran 25 KV, hingga 60 KV. Selebihnya dipasok oleh PLN, melalui jaringan listrik Jawa-Bali.

Penutup kegiatan Geourban ke 43, menyempatkan berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir Peter William Hofland. Di makam kristen Subang. Berupa kuburan orang Eropa yang pernah bekerja untuk Hofland, sejak 1840-an.

Lapangan udara kolonial Belanda di Tambakan
Perbaikan renovasi kembali, selesai 1958
Parisipan Geourban di PLTA Cijambe
PLTA Gunungtua Subang

Catatan Geourban#43 Tengeragung (Subang)

Dari arah Bandung, kemudian memasuki kawasan Cikole. Seiring perjalanan mendaki mengikuti perbukitan, kiri dan kanan daerah ini semakin dikuasai oleh usaha wisata.. Kawasan hijau, bersalin rupa menjadi struktur bangunan, sedangkan tegakan Pinus merkusii hanya sekedar hiasan saja.

Selepas tanjakan Cikole, tiba di percabangan antara gerbang memasuki kawasan wisata G. Tangkubanparahu. Sedangkan ke arah utara, melandai memasuki wilayah Kabupaten Subang. Jalan nasional yang menghubungkan Lembang ke Jalancagak, kini lenggang. Warung-warung yang membatasi sepanjang jalan, kini hilang. Dibongkar pada awal bulan Agustus 2025, atas kebijakan gubernur Jawa Barat.

Sekitar 978 warung, dari perbatasan G. Tangkubanparahu, hingga Jalancagak telah “diamankan”. Alasanya karena bangunan tidak berizin, dan dianggap menyumbang potensi bahaya bencana longsor. Bangunannya didirikan merambah lereng, sehingga bisa berdampak bahaya. Bila alasan gubernur adalah berkaitan lingkungan, seharusnya berlaku juga kepada pengelola wisata lainya. Pengusaha besar yang menempati sebagian besar lereng timur G. Tangkubanparahu, seperti Astro Highland Ciater, The Ranch Ciater dan sebagainya. Penggunaan lahan menjadi bangunan, menyebabkan tertutupnya zona imbuhan air. Sehingga akan terjadi run off, bila hujan turun, dampaknya adalah banjir dikala musim hujan.

Jejak material letusan G. Tangkubanparahu, masih bisa disaksikan hingga kini. Berupa aliran piroklastik, berselingan dengan aliran lava. Gunungapi ini mulai tumbuh dan memperlihatkan aktivitasnya pada skala waktu geologi Holosen. Kurang lebih sekitar 10 ribu tahun yang lalu (Kartadinata, 2005), melalui kegiatan letusan yang terus berlangsung hingga kini. Di peta Kawasan Rawan Bencana (KRB), G. Tangkubanparahu skala 1:50.000. memperlihatkan arah aliran berupa aliran lava, gas beracun dan kemungkinan awan panas. Diperkirakan arah aliran materialnya ke sekitar Sagalaherang.

Bukti aliran lava, bisa disaksikan di Curug Badak, menjadi dasar aliran Ci Koneng. Sungai yang hulunya di lereng sebelah timur laut G. Tangkubanparahu. Mengalir ke arah selatan, kemudian bertemu dengan Ci Punegara. Di air terjun ini, terlihat lapisan lava tebal, diperkirakan setebal 30 meter lebih. Strukturnya masif dan sebagian terbentuk struktur kekar lembar. Membentuk tapal kuda, terbuka ke arah utara, memperlihatkan lava tebal di bagian atas, menindih batuan breksi piroklastik. Batuan pembawa air ini (akifer), dimanfaatkan pengelola wisata untuk mendapatkan air bersih. Ceruk terbentuk karena batuan bagian atas adalah lava, batuan keras yang resisten terhadap erosi. Kemudian membentuk ceruk, akibat batuan piroklastik yang mudah di erosi. Sehingga membentuk seperti gua-gua, dengan ketinggian antara 2-4 meter.

Lereng landai sebelah timur G. Tangkubanparahu yang subur. Selain mengundang ladang usaha bisnis saat ini, sudah menjadi incaran penguasaan kolonial di Priangan. Selepas tutupnya Perusahaan Hindia Timur Belanda atau VOC tahun 1799, akibat korupsi. Otomatis sebagian besar penguasaan wilayahnya jatuh ke kerajaan Belanda. Semenjak itulah kebijakan kolonialisme bukan lagi mencari keuntungan ekonomi melalui perdagangan rempah. Kolonial Belanda menyusun strategi, melalui usaha-usaha produksi dan hasil perkebunan. Sehingga antara tahun 1800 hingga 1870, sebagian besar hutan-hutan di lereng G. Tangkubanparahu bersalin menjadi perkebunan.

Dalam tulisan lama Short history of the Pamanoekan and Tjiassemlands (1838), menguraikan bahwa hutan Ciater dikonversi menjadi lahan perkebunan sejak penguasaan kolonial Inggris. Melalui surat keputusan Gubernur Jenderal Raffles, 22 Januari 1813, sebagian besar wilayah Krawang (Karawang raya) dijual kepada Muntinghe. Seorang warga Spanyol yang bertindak sebagai makelar tanah. Penguasaan lahan kemudian dijual kepada Shrapnell dan Ph. Skelton pada 1813. Pada tahun yang sama, lahirnya perusahaan swasta, Pamanoekan en Tjiasemlanden (P&T) lahir. Menggabungkan dua lahan, menjadi perkebunan terbesar di priangan pada saat itu. Luasnya kurang lebih sama dengan batas wilayah administrasi Kabupaten Subang saat ini.

Pada peta 1903, batas wilayahnya meliputi sebagian besar Subang saat ini. di sebelah utara dibatasi laut Jawa. Kemudian di bagian timur, berbatasan dengan Kesultanan Cirebon dan (sungai) Ci Punagara. Kemudian di selatan, dibatasi lereng G. Tangkubanparahu, dan bagian barat dipagari (sungai) Ci Lamaya.

Awal pembukaan lahan perkebunan, dikerjakan di sebelah utara Subang. Disekitar Sagalaherang, dicirikan dengan lahan yang memang ideal untuk pendirian pusat pengolahan hasil perkebunan. Di sebelah utaranya didapati mata air Cimutan, mengalir di Ci Kanyere. Terletak di lembah yang diapit oleh perbukitan, memanjang selatan-utara. di lembah ini didapati dua sumber mata air, dengan debit besar. Mengalir diantara rekahan batuan, dan endapan piroklastik. Sedangkan di bagian atasnya ditumbuhi oleh pohon bambu yang rindang dan lebat, menandakan ciri mata air yang sehat. Dari sumber mata air ini, ke arah pabrik pengolahan hasil perkebunan sekitar 1,3 km.

Dengan demikian, penempatan awal mula pusat administrasi dan pengolahan pada saat itu berada di Sagalaherang. Pada foto lama, Koffie Maalderij van de onderneming Tenger Agoeng in de Pamanoekan en Tjiasemlanden (1887), memperlihatkan bangunan administratur dan pusat pengolah kopi. Berupa bangunan yang didirikan di Sagalaherang. Beberapa informasi, pusat pengolahan hasil perkebunan tersebut, diperkirakan berada di lapangan Tengeragung. Lapangan olah raga sepak bola warga. Berupa dataran luas, berada sekitar 500 meter ke arah selatan dari Alun-Alun Sagalaherang saat ini.

Dalam foto tersebut nampak struktur bangunan, dengan latar berupa gunung Tangkubanparahu. Keberadaan Tengerangung, menjadi pusat administrasi pada awal perkembangan Pamanoekan en Tjiasemlanden/P&T. Diperkirakan kerajaan perkebunan Hofland bersaudara ini, selepa pembelian aset dari Ch. Forbes, W. F. Money, Micky Forbes, John Skelton, J. Steward, J. R. Thuring, dan Alex London.

Pada 11 November 1826, kepemilikan lahannya kemudian Ch. Forbes, Micky Forbes, dan J. Steward. Pengusaha dari Inggris ini, kelak menyerahkan asetnya melalui akad pembelian kepada John Erich Banck Thomas Benjamin Hofland & Peter William Hofland.

Pada 28 Oktober 1848, sahamnya semua diambil alih oleh Theodorus Benjamin Hofland, da Peter William Hofland (P.W. Hofland). Dua bersaudara keturunan Belanda. Kemudian pada tangal 1 November 1958, sepenuhnya dikuasai oleh P. W. Hofland. Pada tahun itulah perkiraan pemindahan seluruh operasi perkebunan, ke kota Subang saat ini.

Jejak kejayaan peninggalannya di Tengeragung nyaris lenyap, hanya menyisakan kerkhof. Pemakaman keluarga Hofland, di dataran tinggi Tengeragung. Di Lokasi ini masih bisa ditemui bangunan yang berfungsi sebagai monumen atau ruang pemakaman, tempat penyimpanan peti mati atau guci abu di dalam kripta/relung.

Satu-satunya struktur bangunan yang mencolok adalah kuburan istri dan anak Johannes Theodorus Hofland, anak kedua dari P.W. Hofland. Dimakamkan dengan nama Maria Elisabeth van Lawick van Pabst (lahir 25 Mei 1843, meningal 17 November 1871). Kemudian anaknya, Francis Theodore Hofland yang baru berusia empat bulan, lahir 29 Mei 1860 dan meninggal 29 Agustus pada tahun yang sama. Sepeningal istrinya, kemudian sang suami menikah kembali dengan emma Carolina Elisabeth Kunhardt. Johannes Theodorus Hofland, meningal pada tahu 1906.

Selain itu masih tampak empat tunggul tidak bernama, dan beberapa bentuk pondasi kuburan yang sudah rusak. Saat in kuburan tersebut dimanfaatkan warga menjadi ladang umbi, dan kuburan muslim warga. Sehingga struktur nisan kuburan keluarga Hofland, tampak tidak terurus. Sebagian telah hilang di bagian penanda nisannya, sehingga tidak ada informasi siapa dan kapan jasad yang dikuburkan disini.

Lawatan penutupan kegiatan Geourban, mengunjungi sumber mata air Cimutan. Mata air yang melimpah, dari dua sumber mata air. Terletak di lembah, sistem aliran Ci Kanyere, namun menurut warga, lahan mata air tersebut dimiliki perorangan. Sehingga sumber daya yang melimpah ini bukan lagi miliki desa yang bisa diolah secara kolektif. Dengan demikian warga sangat bergantung dari kebaikan pemilik lahan.

Sebagai penutup, mengunjungi rumah tua peninggalan kerajaan perkebunan P&T di Jagarnaek. Merupakan kampung yang berada di dalam wilayah administrasi Desa Cisaat, Ciater. Rumah tersebut saat ini terbengkalai, seperti kurang diurus. Menandakan rumah tersebut tidak lagi fungsi, selain jejak kejayaan perkebunan kopi di Jagarnaek. Penamaan tempat tersebut, diperkirakan disematkan oleh P.W. Hofland. Penguasa perusahaan perkebunan tersebut, ingin mengabadikan nama kelahirannya di Jagir Naik Poeran, negeri India.

Peta 1887 lembar Sagalaherang/KLTIV
Penananda kuburan istri dan anak Johannes Theodorus Hofland, di Tengeragung.
Rumah administratur Jagernaek
Mataair Cimutan