Pelaksanaan kegiatan sertifikasi kompetensi pemandu geowisata, di Desa Bantarkaret, Pongkor, Kabupaten Bogor. Dilaksanakan pada hari Minggu, 30 Juni 2024, bekerja sama antara Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia/PGWI, LSP Pramindo dan difasilitasi oleh PT Anta, Tbk.
Diikuti oleh 20 orang peserta (asesi) yang berasal dari wilayah Kabupaten Bogor, diantaranya di bawah binaan Badan Pengelola Geopark Pongkor, Kabupaten Pongkor. Dalam penyampaiannya, perusahaan BUMN ini berhadapa ada sinergi dan bisa berkolaborasi dengan para pemandu. Bertujuan peningkatan ekonomi lokal dan membuka peluang kerja seluas-luasnya.
Telah dilaksanakan kegiatan sertifikasi profesi, skema pemandu geowista di dua tempat di Bandung Raya. Tanggal 22 Juni 2024 di Cidadap, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Kemudian disusul di Tahura Ir. Djuanda Bandung. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian kegiatan penyetaraan kompetensi, mencapai standar nasional untuk para pemandu geowisata.
Kegiatan ini terlaksana melalui anggaran dari sekretariat Badan Nasional Sertifikasi Profesi/BNSP, melalui paket Program Pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi Kerja (PSKK) tahun anggaran 2024. Dilanjutkan melalui LSP Pramuwisata Indonesia (LSP Pramindo), bekerja sama dengan Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), sebagai pengguna anggaran. Dalam pelaksanaanya dibantu oleh Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Jawa Barat, melalui Bidang Industri Pariwisata yang menaungi sumber daya manusia.
Pelaksanaan program PSKK 2024 ini diserap oleh PGWI sebanyak 6 paket, yang terdiri dari 120 peserta (asesi). Disebarkan melalui jejaring organisasi Dewan Pengurus Wilayah di provinsi Jawa Barat, diantaranya di Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bogor, Kota Bandung dan Kabupaten Majalengka. Pelaksanaan pertama di TIC BKSDA, Cagar Alam Pangangandaran, sejumlah 20 orang. Kemudian tanggal 22 Juni 2024 di Balai FP2KC, yang diikuti oleh pegiat, pemandu geowisata sekitar Kabupaten Bandung Barat. Semua kegiatan dilaksanakan melalui jejaring Dewan Pengurus Wilayah/DPW Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia.
Rangkaian selanjutnya di Tahura Ir. Djuanda, Dago Pakar, Bandung. sebelumnya dilaksanakan kegiatan pelatihan, 22 Juni 2024 disekitar wilayah Tahura. Kegiatan dibuka oleh perwakilan dari UPTD Tahura Ir. Djuanda, dilanjutkan oleh perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung. Pelatihan mengambil tempat di kawasan Tahura, dari Sekejolang hingga ke gerbang Gua Belanda. Hadir narasumber dalam kegiatan ini diantaranya T Bachtiar, memberikan narasi yang berkaitan dengan toponimi di wilayah yang dilalui. Menjelaskan tafsir Ci Kapudung, yang diambil nama tumbuhan di sekitar bantaran sungai.
Fajar Lubis, dan dibantu oleh Zarindra Aryadimas menguraikan asal-usul pembentukan lava Pahoehoe di bantaran Ci Kapudung sektiar Sekejolang. Lava produk G. Tangkubanparahu yang mengalir hasil kegiatan letusan efusif. Jejak letusan sekitar 40 ribu tahun yang lalu. Kegiata pelatihan berupa hiking mengikuti bantaran Ci Kapundung, mulai dari Sekejolang, hingga Gua Belanda. Sesi terakhir disampaikan teknik pemanduan, oleh Hadi yang berprofesi sebagai tour guide profesional.
Hasi kegiatan pelatihan, kemudian dibawa dalam kegiatan sertifikasi. Dilaksanakan dan dibuka di ruang audio visual UPTD Tahura Ir. Djuanda. Diikuti oleh 40 orang peserta (asesi), berasal dari pegiat dan pemandu disekitar Bandung Raya dan luar kota Bandung. Diantaranya perwakilan Dewan Pengurus Wilayah Bekasi Raya, Majalengka Raya yang mengirmkan beberapa perwakilan. Kegiatan ditutup pkl. 15.00 WIB, melalui beberapa testimoni peserta. Menyataan sangat bersyukur membuka jaringan, silturahmi hingga mengenal geowisata lebih jauh. Ditandaskan oleh Deni Sugandi, selaku ketua Pemandu Geowisata Indonesia, Pengurus Nasional, mengajak seluruh peserta untuk bergabung dalam wadah organisasi. Dengan demikian para pemandu geowisata tetap terpelihara kompetensinya, kemudian sebagai saraha silaturahmi jejaring pemandu geowisata di Indonesia. Dengan demikian para pemandu yang telah memiliki standar nasional, diupayakan haknya agar bisa diterima diindustri pariwisata Indonesia.
Penjelasan T Bachtiar, mengenai pembentukan Lava Pahoehoe.Penjelasan Fajar Lubis, tentang geologi regional.Zarindra Aryadimas, menjelaskan aliran lava G. Tangkubanparahu yang mengisi dasar Ci Kapundung.Kegiatan sertifikasi Pemandu Geowisata di aula UPTD Tahura Ir. Djuanda, 23 Juni 2024.Foto bersama asesi dan asesor.Asesi, Asesor LSP Pramindo dan perwakilan dari Disparbud Provinsi JabarKegiatan asesmen sertifikasi skema Pemandu Geowisata di KBB
Seiring dengan kegiatan sertifikasi skema Pemandu Geowisata, melalui bantuan progam PSKK 2024, BNSP. Bekerja sama antara asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI) Pengurus Nasional, Bidang Indutri Pariwisata Disparbud Jabar, dan Dinas Parbud Kab. Pangandaran, melaksanakan kegiatan sertifikasi. BNSP menunjuk LSP Pramuwisata Indonesia, sebagai Lembaga Sertifikasi Profesi.
Dihadiri oleh 20 asesi (peserta) yang tersebar di wilayah Kabupaten Pangandaran, baik dari wilayah sekitar Cijulang, Cimerak, Parigi hingga sebagian besar di Pantai Pangandaran. Kegiatan Sertifikasi ini dilaksanakan pada tanggal 19 Juni 2024, mulai pukul 08.00 WIB., di TIC Cagar Alam Pangandaran. Acara dibuka oleh Kepala Resor, Kabid Ekraf Disparbud Kabupaten Pangandaran.
Sebagai tindak lanjutnya adalah menghimpun profesi pemandu geowisata dalam satu wadah. Dengan tujuan untuk mempersiapkan SDM unggul, berdaya saing dan memiliki kompetensi yang terus dipelihara. Kemudian dibentuk perpanjangan tangan asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia di wilayah Pangandaran.
Dengan demikian para pelaku pemandu geowisata, bersepakat untuk membentuk Dewan Pengurus Wilayah Pangandaran Raya. Meliputi sebagian besar Kabupaten Pandandaran, sebagian selatan Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis dan Kabupanten Banjar. Perluasan wilayah tersebut berdasarkan dari ciri tema dan sejarah pembentukan bumi yang sama.
Musyawarah dilaksanakan setelah kegiatan sertifikasi selesai, pukul 15.30 WIB, di pusat Informasi Resor Konservasi Wilayah XXI Pangandaran. Diharidi oleh ketua Dewan Pengurus Nasional, Deni Sugandi, dan para pemandu wisata, geowisata, snorkeling dan body rafting.
Dibuka oleh Deni Sugandi, menyampaikan pentingnnya berkolaborasi, dalam wadah perkumpulan untuk peningkatan kapasitas SDM pemandu geowista di Pangandaran. Tujuan organisasi PGWI diantaranya sebagai wadah bersama dan menjadi mitra pemerintah daerah. Dalam musyarah tersebut disepakati secara aklamasi memilih nama pengurus yang diberikan amanah. Ketua terpilih PGWI DPW Pangandaran Raya adalah Ipik Taupik, kemudian sekretaris Poniman, dan bendahara Lilis Lydianti.
Kegiatan ditutup dengan harapan pendirian organisasi ini mendukung pengembangan geowisata di kawasan Pangandaran dan sekitarnya, termasuk mempersiapkan SDM pariwisata untu mendorong Tamanbumi Nasional Pangandaran.
Kegiatan yang diinisiasi oleh asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), melalui kegiatan mandiri-probono. Dilaksanakan pada hari Sabtu, 15 Juni 2014. Berupa pelatihan singkat, bagi para pegiat, pemandu lokal dan pegiat konservasi lingkungan di kawasan Perbukitan Karst Padalarang. Bertujuan mempersiapkan para calon peserta, yang akan diikut sertakan dalam kegiatan sertifikasi skema pemandu geowisata. Pelaksanaanya di hari sabtu, 22 Juni 2024, di Aula FP2KC Cidadap, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. kegiatan pelatihan dilaksanakan di Pasir Pawon, atau saat ini dikenal dengan Wisata Stone Garden, di Citatah, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.
Pelatihan dimulai pukul 07.00 WIB dan diahiri hingga menjelang sore, bertempat di sekitar Pasir Pawon, Citatah, Padalarang. Diikuti oleh 20 orang lebih, dari pegiat, pemandu lokal, pelaku konservasi kawasan Citatah, hingga mahasiswa pariwisata. Kegiatan dibuka semi formal oleh Deni Sugandi, selaku Ketua PGWI Pengurus Nasional. Kemudian dilanjutkan oleh sambutan dari Dinas Pariwisata Budaya, Kabupaten Bandung Barat diwakili Ukas Maulana, Jabatan Fungsi di Pemasaran Pariwisata. Menyatakan ucapan terima kasih kepada organisasi (PGWI), yang telah memberikan kesempatan kepada para pegiat geowisata di bawah wilayah kerja dinas pariwisata Kabupaten Bandung Barat. Ditambahkan pula, bahwa wilayah KBB sangatlah luas, sehingga perlu untuk digali potensinya untuk kemaslahatan warga/pelaku lokal melalui geowisata.
Narasumber yang hadir berasal dari organisasi PGWI. Dimateri pertama, Deni Sugandi menyampaikan dasar-dasar pengertian sejarah bumi. Khususnya genesa perbukitan karst Citatah, Padalarang. Deni menyampaikana pengertian geowisata, sebagai dasar berkegiataan wisata. Seperti diobjek geowisata Pasir Pawon, berupa puncak bukit yang dihiasi oleh kerucut karst hasil kegiatan pelaturan sekitar lima juta tahun yang lalu. Selain itu didapati bukti binatang laut yang tercetak difragmen batugamping, berupa fosil kerang, branching dan sebagainya. Dalam kesempatan pemberian materi, Deni menjelaskan geologi regional kawasan Karst Citatah, merupakan bukti batuan tua homogen yang membatasi bagian barat Cekungan Bandung.
Dalam pelatihan ini ditandaskan perlunya menggali narasi, yang sifatnya informasi valid. Seperti mencari data melalui hasil penelitian, kemudian dirangkum menjadi sumber narasi atau story telling dalam kegiatan pemanduan geowisata. Dengan demikian diperlukan kemampuan untuk menggali informasi valid, melalui data penelitian, wawancara ahli dan mencari diingatan kolektif masyarakat. Narasi geowisata bisa berupa data ilmiah tentang prose dinamika bumi, cerita rakyat yang memiliki hubung kait dengan tapak bumi yang dikunjungi.
Selanjutnya, Sodikin Kurdin dan Adrian Agoes mengarahkan para peserta pelatihan, praktek pemanduan. Lokasi mengambil tempat di Pasir Pawon/Stone Garden, dengan cara praktek bergantian. Beberapa peserta memiliki kemampuan untuk merangkai cerita, tetapi ada pula yang perlu mencari data yang valid. Partisipan merasa terbantu melalui pelatihan ini, karena mendapatkan langsung teknis pemanduan melalui kegiatan praktek. Kegiatan ini dikondisikan untuk menghadapi kegiatan sertifikasi, yang akan dilaksanakan pada tanggal 22 Juni 2024, di Balai FP2KC, Cidadap, Padalarang, Kabupatan Bandung.
Simulasi pemanduan geowisata di Pasir Pawon.Praktek pemanduan geowisata.
Bimbingan teknis asesmen skema Pemandu Geowisata.Pra Asesmen antara asesor dan asesi (peserta asesmen).Pra Asesmen, pengisia APL 01 (pemeriksaan kelengkapan admin) dan pengaran metode asesmen.Praktek pemanduan geowisata, dalam kegiatan asesmen.Kegiatan asesmen metode bukti langsung, berupa praktek pemanduan geowisata.
Telah dilaksanakan kegiatan dengan tema geowisata, di aula ruang publik, kantor Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Jawa Barat (7/6, 2024). Pertemuan ini difasilitasi oleh Bidang Destinasi Pariwisata, melalui kehadiran langsung Kepala Bidang Destinasi Pariwisata, Disparbud Jabar yaitu ibu Ani Widianti. Acara dimulai pukul 16.30 WIB hingga 18.00 WIB. Di tempat yang sama dalam waktu sebelumnya, telah di launching oleh Kadis Parbud Jabar. Pelatihan dan Sertifikasi Pemandu Geowisata di lima Kabupten/Kota Jawa Barat, mulai tanggal 19 Juni di Kab. Pangandaran hingga tutup bulan.
Dalam kesempatan ini hadir para narasumber, mewakili para penulis geowisata. Diantaranya hadir Deni Sugandi, penulis buku Kaldera Sunda: Jejak Plinian di Pringan (2024), Gangan Jatnika penulis buku Lingkung Gunung Bandung#1 (2024). Sebagai penanggap diskusi adalah hadir T Bachtiar, penulis dan pegiat geowisata. Kegiatan ini sebagai upaya sosialisasi geowisata Jawa Barat, yang diinisiasi oleh asosiasi Pemandun Geowisata Indonesia (PGWI), bekerja sama dengan Disparbud Jawa Barat.
Kegiatan dilaksanakan di ruang publik, kantor Disparbud Jawa Barat. Dihadiri oleh lebih dari 50 orang, dari unsur para pegiat, pemandu, pengelola destinasi wisata hingga dari kampus.
Diskusi dibuka oleh Deni Sugandi selaku moderator, memberikan tema atau batasan diskusi tentang geliat geowisata di Jawa Barat. Melalui penerbitan karya intelektual penyusunan buku, tentang geowisata diseputaran Cekungan Bandung. Geowisata adalah aktifitas wisata yang berlandaskan tentang sejarah bumi, fitur bentang alam, hingga proses dinamik bumi yang sedang terjadi kini. Deni menambahkan bahwa saat ini geowisata telah memiliki nilai ekonomi, melalui pemberdayaan lokal sebagai pemilik wilayah.
Deni memberikan gambaran tentang buku Kaldera Sunda, sebagai bukti letusan gunungapi. Melalui buku tersebut, Deni menelusuri kembali jejak-jejak bukti material letusan.
Dalam pemaparan singkat, T Bachtiar menyampaikan bahwa narasi tentang kebumian telah banyak ditulis. Baik melalui penerbitan buku, artikel, hingga aktivitas yang bertemakan tentang geowisata. Narasi-narasi tersebut telah dibunyikan oleh para pegiat, seperti yang dilakukan Bachtiar melalui komunitas Geotrek Matabumi.
Menurut Bachtiar, narasi tersebut sebagai dasar dalam kegiatan geowisata. Digunakan oleh para pemandu, untuk mempresentasikan bentang alam, hingga proses bumi yang terus berlangsung hingga kini. Sehingga Bachtiar menegaskan bahwa pemerintah, melalui dinas pariwisata tidak perlu repot-repot membuat kajian karena data sudah disediakan oleh pegiat dan komunitas geowisata.
Diskusi dilanjutkan oleh paparan singkat dari Kabid Destinasi Pariwisata, yang mengatakan begitu pentingnya pengelolaan sampah di destinasi geowisata. Ibu Ani Widiani tidaklah begitu setuju dengan objek wisata dadakan, seperti pengemasan wisata melalui bentuk platform yang dihiasi oleh tulisan-tulisan ataupun bentuk yang kurang mendukung. Karena menut Ani, alam sudah memberikan keindahannya sehingga di objek wisata tidak perlu lagi dipasang seperti bentuk kupu-kupu atau lain sebagainya. Begitu juga dengan pengelolaan di destinasi taman bumi (Geopark) di Jawa Barat, Nia menegaskan perlunya pengelolaan dan perencanaan pembangunan destinasi yang baik. “Saya dulu bertugas di Bappeda Jabar, sehingga tahu betul pentingnya pengelolaan destinasi” tegasnya.
Penyaji berikutnya mengetengahkan gunung-gunung yang melingkupi Cekungan Bandung. Ganggan Jatnika menguraikan upaya menulis, melalui pengumpulan data, hingga mengkompilasinya menjadi satu buku. Buku ini merupakan edisi pertama yang memuat sebagian gunung yang ada di luar lingkar Cekungan Bandung, sebutannya.
Sebagai penutup dalam diskusi, Deni memberikan catatan bahwa perlu penggalian narasi-narasi yang berkaitan dengan geowisata. Baik dilakukan perorangan, komunitas hingga perlunya dukungan lembaga khususnya pemerintahan. Selebihnya adalah perlunya dukungan pemerintah, agar para pegiat geowisata ini bisa diberikan tempat untuk mendorong pergerakan ekonomi melalui wisata berbasis kebumian.
Kegiatan Pelatihan dan Sertifikasi diinisiasi melalui progam Pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi Kerja(PSKK) melalui anggaran BNSP Tahun 2024.
Mempercepat pengakuan industri dan sektor terhadap tenaga kerja bersertifikat kompetensi. Memfasilitasicalon tenaga kerja/tenaga kerja untuk mendapatkan sertifikat kompetensi melalui Pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi Kerja oleh LSP . Mengoptimalkan pelaksanaan sertifikasi kompetensi kerja oleh LSP yang berorientasi pada permintaan industri tehadap tenaga kerja kompeten yang memiliki sertifikat kompetensi. Memfasilitasi kerjasama LSP dengan dunia usaha/industri dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga kerja kompeten bersertifikat kompetensi.
Progam ini dirteruskan melalui Lembag Sertifikasi Pemandu Pramuwisata Indonesia (LSP Pramindo), bekerja sama dengan Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI). Berjumlah 120 peserta, melalui jaringan organisasi ke lima kota dan kabupaten. Diantaranya Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat. Kabupaten Majalengka, Kabupaten Bogor, Kabupaten Pangadaran. Dalam jaringan Geopark Nasional maupun ispiring. Dilaksanakan di sepanjang bulan Juni 2024, dengan pelaksanaan bekerja sama dengan Dinas Pariwisata danBudaya Provinsi Jawa Barat, dilanjutkan dinas pariwisata di tingkat daerah.
Sertifikasi pemandu geowisata memiliki banyak kepentingan, di antaranya:
Profesionalisme: Sertifikasi menegaskan bahwa seorang pemandu wisata memiliki kualifikasi dan kompetensi yang diperlukan untuk memberikan pengalaman wisata yang berkualitas kepada wisatawan. Ini membangun kepercayaan dalam industri pariwisata dan meningkatkan reputasi pemandu tersebut.
Standar Keselamatan: Pemandu wisata bersertifikasi telah menerima pelatihan dalam aspek-aspek keselamatan yang relevan, seperti pertolongan pertama dan evakuasi darurat. Hal ini penting untuk memastikan keselamatan wisatawan selama perjalanan.
Pengetahuan Lokal: Pemandu wisata yang disertifikasi cenderung memiliki pengetahuan mendalam tentang destinasi wisata yang mereka pandu. Mereka dapat memberikan informasi yang akurat dan menarik tentang sejarah, budaya, alam, dan tempat-tempat menarik lainnya yang dikunjungi.
Menjaga Lingkungan: Sebagian besar sertifikasi pemandu wisata juga mencakup aspek-aspek keberlanjutan dan pelestarian lingkungan. Pemandu yang disertifikasi dilatih untuk memimpin tur secara bertanggung jawab, meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, dan mempromosikan praktik-praktik ramah lingkungan kepada wisatawan.
Pembangunan Karier: Sertifikasi dapat membuka peluang karier yang lebih luas bagi pemandu wisata, termasuk kesempatan untuk bekerja dengan agen perjalanan yang lebih besar, perusahaan penerbangan, atau kru kapal pesiar yang menuntut standar tertentu dari pemandu mereka.
Peningkatan Daya Saing: Di pasar yang semakin kompetitif, memiliki sertifikasi dapat membedakan seorang pemandu dari yang lain. Ini dapat membantu pemandu tersebut menarik lebih banyak klien dan meningkatkan daya saingnya dalam industri pariwisata.
Perlindungan Konsumen: Wisatawan yang menggunakan jasa pemandu yang bersertifikasi memiliki jaminan bahwa mereka akan menerima layanan yang memenuhi standar tertentu. Ini memberikan perlindungan tambahan bagi konsumen dan mengurangi risiko pengalaman wisata yang buruk.
Buku sebagai sumber informasi, berisi ribuan pinjaman kata-kata dari buku sebelumnnya. Dikumpulkan dan disusun menjadi tafsir baru, seperti yang digarap dalam Kaldera Sunda: Letusan Plinian di Priangan, dan Lingkung Gunung Bandung#1.
Narasi tersebut sebagai bahan “story telling”, mengungkapkan bentukan alam yang tersaji saat ini. Berupa bentang alam, fitur hingga proses dinamika bumi yang terus aktif hingga kini. Dalam bentuk gunungapi meletus, gempa, longsor yang menata wajah Priangan.
Mari bergabung dalam acara Bincang Buku Geowisata, mengupas dua buku penerbitan tahun 2024. Tentang jajaran pegununungan dan perbukitan yang mengepung Cekungan Bandung, serta kisah sejarah pembentukan gunungapi kelas letusan katastropik di utara Kota Bandung.
Hari/Tanggal Jumat, 7 Juni 2024
Waktu Pkl. 15.30 WIB sd. 18.00 WIB
Venue Ruang Publik Seni Kreatif Disparbud Jawa Barat https://maps.app.goo.gl/LuHh7h4JJdfui2An6
Tentang kegiatan Dinisiasi oleh asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI). Bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Jawa Barat. Bertujuan syiar geowisata di Jawa Barat dan menjalin silaturahmi pegiat, praktisi, pemandu geowisata.
Pagi hari awan tebal masih menggelayuti Kota Bandung, meneteskan gerimis sejak subuh (27/02, 2022). Perlahan langit terbuka seiring jelang siang, memberikan janji bahwa kemungkinan siang hari cuaca akan cerah. Tepat pukul delapan pagi para partisipan telah berkumpul di monumen lokomotif, persis di depan kantor Pusat PT KAI, sekitar Bababakan Ciamis. Kegiatan ini adalah rangkaian aktivitas perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), ke-6 bertujuan membuka pola perjalan geowista dalam kota, melalui tema berkaitan dengan informasi sejarah pembentukan alam, hasil budaya dan mitigasi. Bersifat partisipasif, mengajak semua peserta sama-sama memperkaya informasi, dengan cara saling memberikan pengetahuan melalui kegiatan penyampaian informasi selama kegiatan.
Geourban#6 menyasar Ci Kapundung segmen kota, berjalan kaki kurang lebih 1 km. Perjalanan dari Babakan Ciamis, di sekitar viaduct, menyusuri perkampungan padat Gang Afandi, melalui pertemuan sungai dengan Jalan Raya Pos, bukti endapan danau purba, hingga kunjungan ke sumber mataair berupa sumur.
Kegiatan dibuka oleh Deni Sugandi, selaku pemandu geowisata, dihadapan 23 orang peserta. Berasal dari beragam latar belakang, mulai dari pegiat lingkungan, komunitas wisata kota, pemandu wisata, mahasiswa higga profesional. Kegiatan ini dibatasi dan dilaksanakan dalam jarak lintasan yang telah disesuaikan pada kondisi PPKM level 3, berkaitan dengan rekomendasi pemerintah untuk pencegahan dan penyebaran virus Covid di Kota Bandung. Dalam penjelasan awa, Deni menunjukan sungai tersebut berawal di sebelah utara, dari lereng G. Bukittunggul-G. Pangparang. Mengalir mengikuti lembah yang dalam, sejajar dengan Sesar Lembang, kemudian berbelok ke arah selatan. Menerobos lembah Maribaya, di dalam wilayah Taman Hutan Raya H. Juanda. Selanjutnya mengalir dari tinggian utara Bandung, hingga pertemuan dengan Ci Tarum di sebelah selatan. Total perjalanan sungai ini adalah 28 km, mengalir dari utara ke selatan, membelah kota Bandung. Di kegiatan Geourban#6 ini, menyusuri kembali segmen tengah, sekitar Babakan Ciamis, hingga Sumur Bandung atau tepat di jantung kota.
Dalam pembukaanya, Deni menyampaikan brifing awal mengenai tata pelaksanaan kegiatan, termasuk jarak lintasan, titik berhenti untuk kegiatan intepretasi. Aktivitas geowisata kota ini dimulai di titik Viaduct, persis di seberang Masjid Persis. Fajar Lubis selaku pemandu dikegiatan ini, menjelaskan bagaimana Ci Kapundung di segmen yang melewati kota. Viaduct adalah struktur perlintasan jalan dan keretaapi yang melewati sungai. Struktur ini telah ada sejak kereta api mulai masuk ke kota Bandung sekitar 1890-an, diawali denga pembangunan ruas lintasan keretaapi dari Buitenzorg ke dataran tinggi Priangan. Keretaapi masuk ke kota Bandung, diawali denga pembangunan statsiun keretapi di Kebonjukut Bandung, sekitar 1882.
Dari titik ini Fajar menjelaskan fungsi sungai bagi masyarakat Bandung, terutama bagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Sungai berfungsi sebagai sumber ari baku, saluran drainage hingga sumber energi. Sepertin halnya sungai yang dinamani jenis pohon kerah Bencoy, atau dikenal buah Menteng, memberikan peranan penting terhadap kehidupan kota. Ci Kapundung yang melintasi kota, telah direkayasa dengan pendekatan normalisasi. Dilaksanakan sejak pada pemerintahan kolonial, kemudian ditingkatkan pelebaran dan pengerukan pada masa pascaordebaru. Sungai tersebut saat ini lebar dan dalam, sehingga dikondisikan mengalir cepat.
Perjalanan dilanjutkan menapaki labirin yang seperti tiasa batasnya, di sekitar gang Afandi, Kelurahan Braga. Gang senggol yang dibangun melalui konsep rumah tumbuh, ditempati masyarakat yang mata pencaharian sehari-harinya adalah berniaga di kota. Gang Afandi adalah nama pengusaha lokal yang sukses di kala pemerintahan Belanda, dan dibangun ditepi bantaran Ci Kapundung segmen Braga. Titik berikutnya adalah persis di jembantan yang menghubungkan Gang Afandi dengan Pasar Cikapundung. Jembatan besi yang dibangun sebagai penghubung masyarakat yang tinggal di Gang Afandi, langsung ke pusat kota melalui Pasa Elektronik Cikapundung.
Di atas jembatan penyebrangan orang ini, Felix Feitzma mengupas wajah Bandung tempo dulu. Dikisahkan bahwa sungai ini memiliki peranan penting pada masa-masa kemerdekaan, diantaranya dimanfatkna sebagai basis miiter RI. Mengentahui lokasi persembunyian para pejuang, Belanda memerintahkan untuk membobolkan bendungan Ci Kapundung di sekitar Babakan Ciamis, agar rumah-rumah tempat persembunyian para pejuang habis diterjang banjir. Selain itu Felix mengisahkan pula kehidupan malam, kota Bandung yang tidak pernah tidur. Di sekitar bantaran Ci Kapundung kawasan Braga, ada penjual sate kambing, dengan memanfaatkan sungai ini sebagai sarana mencuci daging domba. Bila mengonsumsi daging sate tersebut dipercaya dapat menguatkan kemampuan seksualitas, mengingat daerah Braga hingga daerah Kebonjati kala itu merupakan daerah perdagangan seks.
Selanjutnya perjalanan menuju ke arah selatan, hingga bantaran Ci Kapundung. Lokasinya persis diantara jembatan Pasar Cikapundung, dan Jembatan Jalan Asia Afrika. Di tempat ini ditemui bongkah-bongkah batuan beku, berukuran kerikil, hingga bongkah dan terendapkan di kelokan sungai (point bar). Strukturnya membundar, menandakan ciri batuan yang diangkut melalui aliran sungai yang berasal dari hulu. Batuan tersebut merupakan produk letusan gunungapi, maupun intrusi. Kemudian seiring waktu tererosi, kemudian diangkut oleh air hingga saling beradu kemudian membundar. Masyarakat menyebutnya batu kali, biasa dimanfaatkan untuk kebutuhan pembuatan pondasi, atau campuran pembuatan beton bangunan. Keberadaanya melimpah, diendapkan dibantaran sungai sepanjangn Ci Kapundung.
Kunjungan terakhir adalah ke sumur Bandung. Keberadaan sumur tersebut tentunya berkaitan dengan kegiatan pembuatan jalan Raya Pos. Deni memberikan paparan bahwa pembangunan jalan utama tersebut tegak lurus timur-barat. Sedangkan pada saat penentuan ruas jalan tersebut, sudah berdiri pusat pemerintahan kabupaten di sekitar Dayeuh Kolot saat ini. Namun melalui keputusan Daendels pada surat bulan Mei 1810, memerintahkan pusat pemerintahan kabupaten tersebut harus digeser, mendekati Jalan Raya Pos.
Dititik inilah kegiatan Geourban#6 ditutup, seiring mendengarkan kesan-kesan dari para peserta. Diantaranya menyampaikan bahwa ada kemasan informasi baru, dari kegiatan wisata kota sebelumnya. Apalagi kemasannya adalah tema tentang geowisata kota yang selama ini hanya disampaikan berkaitan dengan sejarah, arsitektur kolonial hingga budaya. Dari kegiatan ini, peserta memetik informasi melalui kegiatan intepretasi para narasumber, bahwa Bandung dibangun di atas endapan danau purba, dan tidak lepas dari sejarah budaya yang menempati di permukaanya.
Batu pasir, batu lempung dan batu lanau, berlapis diendapkan di Ci Kapundung, Pasar Ancol, Bandung
“Sudah digali lebih dari 50 meter, namun airnya masih berbau dan berwarna kuning” jelas seorang ibu di perumahan di belakang Gedung Leger, Cisaranten Bina Harapan, Ujung Berung. Selian mengeluh masalah air, ibu tersebut menjelaskan bahwa sebelum menempati perumahan tersebut, harus menata tanah yang kelak didirikan perumahan di belakang Gedung Leged saat ini. Tanah rawa tersebut diurug menggunakan material barangkal setinggi dua meter. Menurut si Ibu, warga di perumahan di Jalan Golf Raya tersebut saat ini menggunakan sumber airtanah dari bantuan proyek perumahan KPBU perumahan Cisaranten Pusjatan. Kualitas airnya baik, didapat dari hasil pengeboran lebih dari 150 meter, hingga perlapisan batu pasir pembawa air (akuifer) pada Formasi Cibeureum. Formasi ini ditindih oleh Formasi Kosambi atau endapan danau disusun lempung pasiran, sehingga mengalirkan air dalam jumlah terbatas (akitar).
Pembangunan rusun BMN PUPR dan Keluhan warga airtanah yang tidak bisa dikonsumsi, dan tanah didominasi lempung merupakan ciri lingkungan rawa situ Pariuk. Sisa situ seluas kurang lebih 2 hektar, merupakan bagian dari sisa danau Moeras Gegerhanjuang, segmen timur pascadanau Bandung Purba. Terbentuk kurang lebih antara 20.000 hingga 16.000 tahun yang lalu, seiring dengan pengeringan Danau Bandung Purba (Dam, 1984).
Kegiatan Geourban ke-9 merupakan program kerja asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), berupaya menggali jejaring geowisata dan pemetaan potensi wisata alternatif kebumian. Kegiatan probono ini dilaksanakan hari Sabtu, 4 Februari 2023, dengan tujuan menelursuri kembali sisa-sisa danau, muras (rawa), dan kalimati (oxbow lake) dan sistem meander Ci Tarum. Dimulai tepat jelang siang, sekitar pukul 07.30 WIB. Mengambil titik pemberangkatan dari depan kantor Dirjen Binamarga, PUPR jalan A.H. Nasution. Total peserta adalah delapan orang, dengan latar belakang beragam dan profesi. Mulai dari pegiat pariwisata, pemilik biro perjalanan wisata, influencer hingga aktivis lingkungan.
Acara dibuka dengan penjelasan rencana perjalanan oleh Deni Sugandi, selaku pegiat geowisata dan pemandu geowisata. Menguraikan tema kegiatan, dan lokasi-lokasi yang menarik untuk dikunjungi dan diamati.
Total perjalanan adalah kurang lebih 17 km, dari utara ke selatan, mengikuti aliran Ci Pamokolan dan memotong utara-selatan di lingkar dalam Moeras Gegerhanjuang.
Moeras atau muras Gegerhanjuang adalah lingkungan rawa di dataran rendah, menempati sebagian besar Ujung Berung. Di sebelah utaranya dibatasi oleh kipas volkanik produk dari G. Manglayang. Kemudian ke sebelah timur disekitar Pangaritan atau Cibiru, dan dibagian selatannya dibatasi aliran Ci Tarum antara Ciparay-Bojongsoang. Deni memperlihatkan peta geologi awal yang disusun oleh Bemmelen (1954), terlihat batas morfologi dilihat dari pola sungai. Dari utara, atau hulu memperlihatkan pola sungai trelis, menandakan sungai-sungai yang berada dilereng gunung. Arusnya deras, dan erosinya vertikal, sehingga bila dilihat dari penampangnya membentuk huruf v. Bergerak jauh ke arah selatan, didataran rendah memperlihatkan sistem pola sungai meandering. Menadakan arus lemah, dan mengendapkan bahan-bahan yang diangkut dari hulu. Seiring waktu karena proses pengendapan, mengakibatkan kegiatan erosi yang dapat membelokan jalur sungai. Akibat erosi horisontal, pengendapan dan morfologi kemudian membentuk jalur sungai yang berkelok-kelok atau pola meander.
Kunjungan ke-dua adalah di sekitar Bojongsoang. Terlihat hamparan sawah seluas mata memandang. Dataran rendah yang didominasi oleh sawah dan balong luas (kolam), dipagari oleh rumah-rumah warga. Pada peta geologi disebutkan kawasaan ini merupan dataran rendah yang disusun oleh endapan danau (Silitonga, 1973). Dari pengamatan terlihat singkapan batu lempung, batu lanau dan batu pasir yang belum kompak, disebut Formasi Kosambi (Koesoemadinata dan Hartono, 1981).
Jelang matahari lebih tinggi, mengantarakan rombongna bermotor melintas Ci Tarum melaui Sasak Paris Rancatatang, Sapan Tegalluar. Jembatan gantung dengan struktur besi penyangga, menghubungkan antara Sapan Tegalluar di utara, ke Bantar Sari di sebelah selatannya. Turun dari jembantan tersebut, langsung berhadapan dengan kalimati (oxbow) Patrol dan Jelekong. Dua kalimati yang telah menjadi danau karena arah aliran dialihkan lurus secara lateral, oleh kegiatan penyodetan. Kurang lebih ada 14 kalimati (oxbow) disepanjang aliran Ci Tarum, dari Bojongsoang hingga Mangahang. Sungai tersebut mampu menampung air kurang lebih 1.2 juta meter kubik, sehingga cocok untuk digunakan sebagai embung untuk pertanian dan pesawahan dan sebagai kolam retensi saat sungai meluap.
Menurut warga Sumbersari, Ciparay, bahwa kegiatan penyodetan tersebut mempercepat aliran Ci Tarum dari hulu ke hilir. Namun menurut Pa Dedi, akibatnya sering terjadi pendangkalan, sehingga harus terus dilakukan pegerukan secara berkala. Dedi menyampaikan pengalamannya, saat musim hujan tinggi aliran meluap dan membawa lumpur sangat tebal.
Perjalanan dilanjutkan tapakbumi terakhir, ke Gunung Munjul, Manggahang, Baleendah. Menyusuri bantaran Ci Tarum dari Sapan ke arah barat hingga sekitar Manggahang. Dari penelusuran tersebut terlihat upaya pemerintah melalui satuan tugas kerja Citarum Harum, agar terjadi peningkatan kualitas lingkungan sungai. Masih ada beberapa sampah yang terbawa dari hulu, kemudian mengendap dibantaran sungai.
Gunung Munjul 685 m dpl. adalah perbukitan yang tumbuh dalam sistem intrusi batuan gunungapi Baleedah. Umurnya adalah Tersier, atau sekitar 3.2 sampai dengan 2.8 juta tahun yang lalu (Bronto drr., 2006). Dalam beberapa informasi warga lokal, disebutkan bahwa Gunung Munjul merupakan titik pertemuan antara Kian Santang dan Prabu Siliwangi. Mengenai benar atatu tidaknya, tentunya perlu kajian lebih dalam, berkaitan dengan data sejarah budaya. Pada tahun 2015, Gunung Munjul telah menerima status Cagar Budaya, sebagai situs yang dilindungi keberadaanya. Bila menggali informasi melalui daring, perlu berhati-hati untuk memaknai dengan Prasasti Munjul (batu tulis) di Kabupaten Pandeglang. Jadi antara Gunung Munjul Baleedah, dan Prasasti Munjul di sungai Cidanghyang Banten berbeda.
Bila membandingkan kembali peta lama Java. Res. Preanger Regentshcahppen, Blad H XXIII, Topographisch Bureau, Batavia, 1906. Menggambarkan meander Ci Tarum persis mengalir disamping Gunung Munjul disebelah utara. Kondisi saat ini, aliran berkelak-kelok tersebut telah hilang karena disodet. Sehingga jarak ke aliran Ci Tarum kurang lebih 850 meter ke arah utara (Peta RBI
Bila merujuk kepada pendapat Rien Dam, menuliskan dalam laporannya bahwa tinggi genangan (paras) tertinggi permukaan air Danau Bandung Purba adalah 690 m dpl. Sedangakan dalam peta RBI (2001).