Catatan Geourban#52 Mayang

BMKG menyuarakan potensi bibit siklon, berpotensi menggerakan awan menjadi hujan dan tiupan angin. Badan pemerintah yang bertanggung jawab memantau hidro dan meteorologi, menyatakan akan terjadi hujan deras melanda sebagian besar pulau Jawa. Penyebabnya adalah Siklon 93S yang mampu memproduksi hujan lebat di langit Jawa.

Ramalan cuaca tersebut menjadi perhatian, jelang kegiatan Geourban ke-52. Menyusuri kembali sejarah, dan rahasia bumi sekitar Cisalak Subang. Namun hingga jelang matahari terbit, awan di langit membuka tabir. Memberikan kesempatan cahaya matahari menerobos, jatuh di dataran tinggi Lembang. Memberikan jalan kepada warga, beraktivitas pagi di sekitar Langensari, Lembang. Deru motor roda dua, hingga roda empat berburu dengan waktu. Mengantarkan anak sekolah, hingga aktivitas pekerjaan pagi hari.

Walau masih ada awan tebal menggelayut di sebelah utara, tetapi tidak mengurungkan niat menelusuri wilayah Cisalak melalui Cupunagara. Kegiatan pro bono ini dilaksanakan pada hari Selasa, 16 Desember 2025. Dihadiri beberapa partisipan, dari latar belakang yang beragam, mulai dari pegiat wisata, penyuka jalan-jalan hingga kreator konten. Target kunjungan dalam kegiatan ini adalah, menyusuri kembali laporan arkeologi yang dituliskan oleh N. J. Krom (1915), kemudian laporan Dr. Sal. Muller (1833). Kemudian melihat kembali dinamika bumi, berupa gerakan tanah yang sempat terjadi di Cipondok, Kasomalang.

Perjalanan menggunakan roda dua, dengan tujuan untuk memudahkan pergerakan. Mengingat jalur yang akan dilalui adalah jalan makadam (berbatu), hingga jalan kelas desa. Kendaraan dipacu ke arah utara, melalui perkebunan Wangunharja sekitar Lembang. Wilayah ini dikenal dengan perkebunan hortikultura yang berbatasan langsung dengan hutan produksi milik PT Perum Perhutani sektor Bandung Utara. Dari lokasi ini ke arah selatan terlihat jajaran perbukitan yang memanjang barat ke timur, disebut Sesar Lembang. Sedangkan ke arah utaranya, didapati perbukitan yang memagari dataran tinggi Lembang. Diantaranya Pasir Sukatinggi, dan G. Putri. Ditafsir sebagai soma (batas kaldera) G. Sunda. Di baliknya adalah kerucut khas G. Tangkubanparahu bersanding dengan G. Burangrang sebelah barat.

Sistem Gunungapi Cibitung Cupunagara
Selepas tegakan pohon pinus merkusii,mengantarkan rombongan ke arah Pasir Puncak Eurad. Puncak pass yang memisahkan antara Lembang dan Cisalak Subang. Berupa gawir terjal yang memanjang dari timur ke barat. Membentuk dinding tegak, membatasi dataran tinggi Lembang dan Bandung bagian timur dengan Cisalak, Subang.

Dari keterangan ahli gunungapi purba, Sutikno Bronto (2004). Menyebutkan terbentuk dua sistem kaldera, yaitu Kaldera Cibitung di sebelah barat dan Kaldera Cupunagara sebelah timurnya. Dalam keterangannya, Bronto menyebutkan mengenai umur pembentukannya dimulai sejak Paleosen Akhir dan Oligosen Awal. Sekitar 59-36 juta tahun yang lalu, berdasarkan hasil pengukuran batuannya. Sedangkan dari pendapat ahli lainya, merupakan gravity fall atau longsoran batuan. Membentuk gawir terjal yang terbuka ke arah utara.

Puncak Eurad merupakan titik pengamatan terbaik untuk melihat fenomena bumi tersebut. Dilalui oleh jalan kelas desa, menghubungkan antara Cisalak Subang melalui Cupunagara ke dataran tinggi Lembang. Sehingga ditafsir bahwa jalur lintasan ini menjadi strategis. Terutama pada saat serangan Jepang pada 5-7 Maret 1942. Diperkirakan jalur ini menjadi pintu masuk selain melalui Ciater. Seperti yang telah diketahui, pasukan Jepang masuk melalui Subang, kemudian mendesak ke arah Bandung melalui puncak pass Ciater. Dibuktikan dengan ditemukannya lubang militer, berada di sebelah barat laut dari posisi Puncak Eurad. Berupa gua dengan lebar sekitar 2 meter, tinggi 1,5 meter dan panjang lorong tidak lebih dari 8 meter. Diperkirakan merupakan pos pengamatan militer Jepang, pada saat mempertahankan jalur lintas Subang-Bandung melalui Puncak Eurad. Penggunaan lubang gua sangat efektif, digunakan sebagai perlindungan dari serangan udara. Mengingat sistem pertempuran perang dunia kedua, menggunakan pesawat udara. Selain itu sebagai perlindungan dari elemen cuaca, dan mudah dibuat. Batuannya adalah piroklastik yang telah lapuk, dicirikan oleh tanah dan batuan yang berwarna coklat terang. Menandakan hasil alterasi. Mineral ubahan tersebut dilaporkan oleh Sumantri dkk. (2006), menyebutkan Litologi terdiri atas satuan batuan intrusi, lava dan piroklastik berkomposisi andesitis-basaltis, sebagian besar berubah menjadi zona ubahan propilitik dan argilik

Kopi di Bukanagara
Jelang siang, rombongan mengunjungi kedai kopi sebelah utara kantor Desa Cupunagara. Cisalak, Subang. Berupa kedai kopi yang menyajikan aneka macam jenis kopi seduhan, dari perkebunan kopi yang tersebar di kawasan Bukanagara, di Desa Cupunagara sebelah utara. Sedangkan bagian selatannya, diusahakan oleh kelompok tani berbeda. Merek Kopi Cupumanik diusahakan oleh Ita Koswara sejak awal tahun 2014, melalui rintisan bersama kelompok tani kopi. Kemudian tahun 2018 mendirikan kedai kopi, dengan tujuan menyediakan produk siap saji. Ita Koswara merupakan petani kopi di Cupunagara, merintis tanamanan kopi melalui sistem perkebunan kopi. Berlatar belakang petani sayuran, kemudian beralih ke tanamanan kopi. Menurut keterangannya, perintisan tersebut tidak terjadi dalam satu malam, tetapi melalui usaha dan kerja keras. Upaya tersebut berbuah setelah tiga tahun di awal perintisan, melalui usaha budidaya. Dihasilkan jenis arabika dan sebagian kecil robusta, dalam skala industri kecil. Dikerjakan dari hulu, pengelolaan perkebunan terbatas melalui kerjasama dengan kelompok tani. Kemudian pengolahan melalui pemrosesan dari cherry (buah), hingga menjadi gabah.

Untuk meningkatkan penjualan, Ita Koswara memproduksi produk kopi dalam kemasan. Baik dalam bentuk telah di roasting, hingga kopi kemasan digiling halus dan siap seduh. Guna melengkapi alur dari hulu, kemudian di hilir didirikan kedai kopi pada tahun 2018, dinamani Cupumanik di Desa Cupunagara. Menggunakan nama yang diambil dari klasik wayang, dengan tokoh semar. Semangat tokoh tersebut, menjadi motivasi bagi Ita Koswara untuk mendirikan usaha hulu hingga hilir.

Dari keterangan singkat, Ita menjelaskan bahwa sejarah tanaman kopi telah ada sejak jaman kolonial. Dibuktikan ternyata masih ada beberapa pohon kopi, berupa tegakan yang tumbuh tidak terawat di sekitar blok Bukangara. Tingginya sekitar 5-8 meter, dengan ukuran lingkar batang 18-23 centimeter. Daunnya lebar, tampak berbuah ukuran kecil dan masih berwarna hijau. Menandakan pohon kopi ini jenis robusta, dan masih produktif.

Jalan Penghubung Bukanagara ke Pasirlame
Selepas jalanan menurun, kemudian melewati pintu masuk wisata curug (air terjun) Cikaruncang. Merupakan hulu sungai, mengalir membelah desa Mayang yang berada di sebelah utaranya. Kurang lebih 2 km ke arah utara, ditemui jalan turun ke arah lembah. Jalannya berbatu selebar 3 meter, namun keberadaanya telah ditutupi ilalang. Kondisi demikian sulit dilalui kendaraan roda dua, mengingat sebagian jalan menyisakan lubang akibat erosi air. Sehingga diperlukan keterampilan berkendara, di atas jalanan berbatu dan berlubang.

Jalan menurun ke arah utara mengikuti kontur perbukitan Pasir Bedil sebelah barat, kemudian memotong lereng Pasir Tonggohluhur disebelah utaranya. Di sekitar setengah perjalanan, melewati dua anak sungai Ci Karuncang, mengalir hingga ke arah utara kemudian bertemu dengan Ci Karuncang di Desa Mayang.

Sepanjang perjalanan dihiasi oleh tegakan-tegakan pohon kopi. Tumbuhan asal benua Afrika tersebut dibawa ke Subang, kemudian ditanam di wilayah perkebunan milik P&T Lands sejak awal abad ke-19. Pada masa pengelolaan Hofland, dibuka tiga belas kebun
kopi di daerah seperti Bukanagara, Kasomalang, Sarireja, Ciater, Jaggernaik, Arjosari, Tengger Agung, Sumurbarang, Wera, Wangun Reja, Pasir Bungur, dan Subang (Junaedi, 2022: 70). Dalam catatan sejarah Subang abad ke-19, sebagian besar merupakan tanah partkelir. Wilayah Pamanoekan en Tjiasemlanden, mencapai luas 212.900 hektar (Effendi, 1999).

Batu Candi
Sebuah rumah permanen, berdiri kokoh di sebelah bongkah batu. Berada di tepi jalan desa, menghubungkan antaran Cisalak ke Cupunagara, melalui Pasirlame. Bongkah-bongkah batuan tersebut berupa blok batuan yang menyebar dari utara ke selatan. Kemudian di sebelah timurnya,dipotong oleh Ci Leat dan sebelah baratnya dilatasi Ci Karuncang. Masyarakat menyebutnya Batu Candi yang diperkirakan merupakan tempat pemujaan nenek moyang di masa lalu. Selain blok batuan ini, ke arah timurnya menyebar batuan yang hampir sama, disebut batu Goong.

Diperkirakan blok-blok batuan tersebut dibawa oleh air, berupa luapan sungai. Dicirikan dengan didapatinya berbagai ukuran batuan dengan struktur membundar (rounded), ciri di transportasi (diangkut) oleh air. mekanisme pengangkutannya oleh hasil kegiatan luapan air sungai, hingga longsoran yang mengerosi batuan di hulu. Menandakan bahwa kegiatan luapan air sungai, disertai longsoran bahan rombakan telah terjadi sejak lama. Walaupun sering terlanda bencana banjir, namun masyarakat menempati sebagian besar wilayah tersebut karena daerah hasil endapan sungai. Mengakibatkan dataran banjir tersebut subur.

Dari keterangan Ateng (63 tahun) pemilik lahan, menjelaskan bahwa ia menemukan bongkah batu. Bentuknya diduga seperti arca, terbuat dari batu. Benda tersebut ditemukan tanpa sengaja oleh Ano Suwarno (60 tahun) tahun 1974, pada saat melakukan pembersihan lahan. Diperintahkan oleh Ateng, untuk mempersiapkan lahan untuk rumah tinggal. Menurut Ano, ukuran arca tersebut sebesar paha orang dewasa, atau kurang lebih tinggi 40 cm, dengan lingkar 20 cm. terbuat dari batu, berwarna abu-abu gelap mirip dengan batuan yang didapati di sungai Ci Karuncang. Dengan demikian, diperkirakan batuan penyusunnya merupakan batuan hasil kegiatan gunungapi, jenis andesit-basaltik.

Sumber lain mengenai penemuan arcan ini, dilaporkan oleh N.J. Krom Rapporten van de Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indië (ROD) 1914. Dalam jurnal arkeologi yang disusun Nanang Saptono (2009), menunjukan dua titik koordinat. Salah satunya berada di hulu, sekitar 300 meter ke arah utara dari Batu Candi. Dalam penelusuran singkat, warga mengakui tidak mengetahui keberadaan situs budaya. Bahkan satu orang sesepuh menyatakan tidak pernah mengetahui. Namun ia menyarankan ke arah utara, setelah jembatan Ci Karuncang, disebut Batu Candi.

Di Sekitar lokasi ini didapati tanah lapang di atas rumah warga. Sekelilingnya berupa persawahan, dan di sebelah utaranya atau sekitar 100 meter didapati kompleks pemakaman warga. Tanah lapang tersebut tidak luas, namun ditempat beberapa bongkah batuan yang diperkirakan hasil jatuhan dari hulu. Lebar lahannya sekitar 4 x 5 meter, dipagari dan ditanami sayuran. Merujuk kembali kepada sumber literatur, seperti yang dituliskan oleh Saptono (2009), “Sedikit ke arah hulu dari jalan raya terdapat beberapa lahan berupa gundukan namun sudah tidak begitu jelas dikenali. Beberapa gundukan tanah atau lahan yang lebih tinggi dari daerah sekitar memang banyak dijumpai di sepanjang tepi kiri sungai Cigarunjang (penelusuran dari jalan raya menuju arah hulu sungai). Beberapa lahan ada yang sudah menjadi perkampungan. Gundukan tanah atau lahan yang lebih tinggi ini kebanyakan tidak beraturan. Beberapa lahan yang dicurigai sebagaimana yang dilaporkan Krom terdapat pada ujung Desa Gardusayang”

Keterangan tersebut merujuk kepada Batu Candi, lahan milik Ateng. Dari keterangan orang tuanya, dahulu tempat tersebut didapati beberapa arca yang ditempatkan di atas blok batuan tersebut. Sedangkan lingkungan sekitarnya masih berupa persawahan dan tanah lapang. Blok batuan tersebut merupakan perbukitan kecil yang diperkirakan merupakan gundukan tanah membentuk punden berundak. Dari keterangan Ano, tanah tersebut diratakan untuk mendirikan rumah. Tanpa sengaja ia menemukan bentuk arca yang mirip manusia. Dari keterangan, memiliki tangan yang dilipat menyilang di bagian depan. Didapati anatomi layaknya wajah manusia, seperti hidung, mulut mata. Kemudian bagian bawahnya berupa kaki yang memajang.

Arca tersebut rencananya dibuang, namun menurut Ano merupakan peninggalan nenek moyang. Kemudian diserahkan kepada Haji Aceng di Bandung. Hingga kini keberadaan arca tersebut tidak diketahui.

Punden Berundak di tepi Ci Laki
Bergerak ke arah barat dari Desa Mayang, ke arah Cimanggu. Menuju makam tua yang berada di tepi Ci Laki, ditempuh sekitar 3 km dari kantor Desa Cimanggu ke arah barat daya. Mengikuti jalan yang menghubungkan Cimanggu ke hulu Ci Tali. Sungai yang mengalir dari lereng sebelah utara G. Canggak. Arah alirannya dari selatan ke utara, kemudian bergabung dengan Ci Leat di Selaawi, lereng Pasir Jatinangor.

Pada peta lama ke-19 pertengahan, wilayah ini masuk Batu Sirap. Dilaporkan oleh Muller, dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 4de Deel, 1/2de Afl. (1855), pp. 98-122 (47 pages). Merupakan kegiatan penelitian arkeologi, dilangsungkan antara tahun 1831 hingga 1833, mencakup sebagian Sumatera dan Jawa. Pada laporan berjudul Oudheden van Java (benda purbakala dari tanah Jawa). Menuliskan penemuan beberapa arca, dibagi menjadi tiga kelompok. Objek atau benda yang memiliki pengaruh Hindu. Dicirikan dengan batu, berbentuk pedestal atau kubus. Terutama patung yang mirip dengan ganesa. Kelompok pertama ini berasal dari budaya yang lebih muda, sudah menerima pengaruh dari luar. Sedangkan kelompok kedua datang dari umur yang lebih tua. Dicirikan Dengan bentuknya yang masih kasar, kadang-kadang hampir tidak memiliki bentuk manusia; patung-patung ini biasanya disebut arca oleh orang-orang Sunda. Kedua jenis benda purbakala ini masih dihormati secara religius oleh masyarakat setempat hingga saat ini.

Penggunaan nama arca, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti pemujaan dalam bentuk patung. Laporan mengenai keberadaan arca di lereng G. Canggak, ditemukan pada laporan di Plaat III (lembar ke-tiga). Diceritakan penemuan bentuk arca, di kaki gunung Canggak sebelah barat laut. Pada saat itu masuk ke dalam wilayah Karawang yang berbatasan dengan Sumedang.

“Di sana terdapat lima teras berbentuk persegi empat yang berurutan, dari timur laut ke barat daya, pada ketinggian yang sedikit meningkat. Setiap teras 6-8 kaki (1.8 meter – 2.4 meter) lebih tinggi dari teras sebelumnya; teras terbawah memiliki diameter 40 langkah (12,1 meter), tetapi teras teratas sedikit lebih kecil. Di sisi-sisinya, tanahnya curam. Di sekeliling, dan juga di teras-teras yang mirip kuburan ini, tumbuh Poespa – (Schima noronhae), Sempoer … (Dilenia spec.) dan pohon-pohon hutan lainnya, Bambu Tali (Bambusa apus) dan Alang-alang (Imperata Koenigii); Namun, yang paling menarik perhatian kami adalah beberapa pakis mirip palem, yang sampai saat itu belum pernah kami lihat di pegunungan barat Jawa. Pakis-pakis itu adalah Pakoe Hadji setinggi 20-30 kaki (6-9 meter), yang namanya diambil dari tempat itu, dan yang pasti ditanam di sana. Di samping setiap patung dewa terdapat satu. Batangnya yang cukup tebal, halus, berwarna abu-abu kecoklatan, dan mahkota yang sangat indah berbentuk payung atau kipas, sudah menarik perhatian kami dari kejauhan.”

Selanjutnya Muller menggambarkan tiga objek (arca), di bagian teras tengah berupa arca tanpa kepala, dengan tinggi sekitar 65 cm. Arca kedua digambarkan kepala condong ke depan, dengan tangan dilipat di bagian depan. Tingginya sekitar 28 cm. Arca ketiga disebut Demang Peret. Memiliki posis jongkok seperti patung sebelumnya, tafsiran Muller mungkin saya seperti belalai atau janggut yang panjang.

Saat ini merupakan komplek pemakaman Eyang Jaya Kusuma, berada di lereng hulu Ci Laki. Warga menyebutnya daerah Dayeuhluhur, Desa Cimanggu. Seperti nama yang disebutkan dalam laporan Muller, menunjukkan tempat Nagara (kampung?) Bukit Cula, dan Nagara Dhaja Loehoer (Dayeuhluhur).

Makam tersebut berbentuk persegi panjang, berarah utara-selatan. Dibatasi oleh susunan batuan, dengan dua batu besar di bagian tiap ujung. Saat ini seringkali dikunjungi untuk tujuan ziarah, atau ngalap berkah.

Makam Eyang Rangga Marta Yoeda
Dari pusat kota Cisalak, terlihat dataran tinggi di sebelah barat. Merupakan tinggian berupa perbukitan yang disebut Pasanggrahan. Perbukitan tersebut dikelilingi dataran rendah, ditempati sawah. Sebelah selatannya adalah Kampung Ciaruteun, masuk ke dalam administrasi Desa Sukakerti.

Cisalak dilewati oleh aliran Ci Karuncang, daerah aliran sungai Ci Punagara. Hulunya berasal dari lereng utara G. Bukittunggul. Mengalir ke utara, melalui Pasir Tonggohluhur, hingga melewati Desa Mayang.

Di perbukitan Pasanggrahan ini disemayamkan seorang Demang yang hidup pada masa awal pengembangan perkebunan teh dan kopi di Subang selatan. Dikenal Raden Rangga Martayuda, lahir pada 1790. Meninggal dan dikebumikan di Astana Gede Gomati pada 1856. Perannya adalah membantu pengembangan perkebunan partikelir, dikelola oleh T. B. Hofland. Kakak tertua P. W. Hofland. Saat itu pabrik pengolahannya berada di Sagalaherang.

Namanya dituliskan pada tugu di Bukanagara, sebagai perintis pembuatan jalan tembus Cisalak ke Bukanagara. Dikerjakan pada 1847, untuk kepentingan usaha perkebunan partikelir milik T.B. Hofland. Jalan tersebut dinamai Djalan Pedati (Jalan Pedati). Pada saat itu Raden Rangga Martayuda merupakan Demang di Kademangan Batusirap. Saat ini mencakup sebagaian besar Cisalak, Subang. Wilayahnya meliputi Bukanagara, Kasomalang, Sarireja, Ciater, dan Jagernaek.

Longsor Cipondok
Dari arah Cisalak kemudian bergerak ke arah barat, melalui Jalan Raya Kasomalang. Kurang lebih 3.5 km akan bertemu dengan persimpangan. Terlihat jelas papan informasi, industri air minum dalam kemasan (AMDK). Sebelum mencapai gerbang perusahaan swasta tersebut, didapati jalan ke arah sebelah kiri. Jalan yang menghubungkan dari Darmaga ke Kampung Cipondok, Pasanggrahan. Jalannya melintasi petak sawah. Diujung jalan semakin menyempit, hanya bisa dilalui oleh roda dua. Di Ujung jalan, melintasi jembatan yang melintasi Ci Punagara.

Terjadi bencana longsor pada hari Minggu, 7 Januari 2024. Menyebabkan tidak berfungsinya fasilitas sumber air Tirta Rangga, Subang. Perusahaan daerah yang mengelola distribusi air baku ke wilayah Subang selatan. Selain itu merupakan sumber air yang dimanfaatkan oleh perusahaan komersial, air minum kemasan (AMDK).

Peristiwa bencana tanah longsor tersebut, mengakibatkan jatuhnya dua orang korban dan 11 orang luka-luka. Memaksa 262 orang harus dialihkan dari daerah bahaya longsor. Pengalihan tersebut karena terisolir, akibat satu-satunya jalan penghubung putus.

Penyebab terjadinya longsoran akibat dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Faktor pendukung lainya adalah akibat batuan penyusunya (litologi) berupa batuan vulkanik yang belum terkonsolidasi dengan baik (rempung). Berupa aliran piroklastik dan blok lava, mengakibatkan mudah disusupi air. Sehingga bagian batuan lunak, menjadi bidang gelincir. Selain itu berkaitan dengan gradien/sudut lereng perbukitan, dan dekat dengan sempadan sungai. Kondisi demikian menjadi variabel terjadinya gerakan tanah, dengan mekanisme aliran bahan rombakan (debris flow).

Terhitung dua tahun dari waktu terjadinya longsor, saat ini telah mengalami perbaikan. Diantaranya muncul kembali mata air yang dahulu tertimbun longsor. Pengelolaan lereng yang terjal menggunakan rekayasa teknis. Kemudian penanaman kembali melalui 1820 bibit pohon, melalui kerjasama antara perusahaan daerah Perumda TRS, PT Tirta Investama dan Perum Jasa Tirta II. Saat ini sumber mata air tersebut berfungsi dan dapat dimanfaatkan kembali. Setidaknya didapati 5 lubang mata air, dengan debit air tinggi. Sebagian ditampung dalam bak, dialirkan ke dalam pipa. Sebagian lagi dialirkan ke irigasi terbuka untuk kebutuhan pertanian sekitar Kampung Cipondok.

Jalan setapak menuju Gua Militer Jepang, di Puncak Eurad.
Di mulut gua militer Jepang, Puncak Eurad
Jalan makadam menuju Pasirlame, Mayang
Pohon kopi buhun, di lereng Pasirbedil, Mayang
Bongkah batuan tererosi, membentuk garis geometris di Desa Mayang, dengan latar G. Canggak

Catatan Geourban#48 Cikande

Suara tatah terus berbunyi sepanjang siang, hadir diantara perbukitan Cikande. Pahat besi, dan otot beradu dengan batupasir Formasi Rajamandala. Batuan yang diendapkan di laut dalam, kemudian tersingkap oleh kekuatan di dalam bumi. Batuannya didapatkan dengan cara menambang secara tradisional, menggunakan linggis, godam dan tekad. Batuannya berlapis miring ke arah selatan, sehingga memberikan jalan pada saat digali. Bongkah-bongkah besar, kemudian dibentuk menggunakan godam, menjadi beberapa bagian. Diangkut dengan cara dipanggul, kemudian diserahkan ke para pengrajin untuk dibuat cobek.

Lama pengerjaanya bisa satu jam lebih, untuk setiap cobek. Ukurannya lebar sekitar 20 cm, dengan khas coakan yang dibuat dengan menggunakan tatah dan ketekunan. Satu produk jadi batu cobek, kemudian dibeli oleh pengepul seharga dua belas ribu rupiah per cobek. Dalam satu hari, para pengrajin mampu membuat antara dua belas hingga lima dua puluh batu cobek. Dikerjakan secara sambilan, disamping berprofesi sebagai penggarap ladang.

Batu Cobek Cikande
Mulai dikerjakan sejak tahun 80-an, dikenal dengan batu coet Cikande. Warga menyebutnya batu hideung, atau batu yang didominasi dengan warna gelap. Bila dilihat secara seksama. Terlihat perselingan batulempung dan batupasir berselang-seling, menjadikan batuan tersebut diendapkan pada kondisi sebagian besar wilayah Cikande ada di bawah permukaan laut.

Geologi menafsirkannya Formasi Citarum, umur Miosen Tengah. Disusun oleh selang-seling antara batupasir, batulanau (Martodjojo, 2003). Merupakan endapan laut dalam, kemudian seiring waktu terangkat hingga di ketinggian 310 meter di atas muka laut.

Pengrajin batu menyukai material ini, karena mudah dibentuk. Selain itu keberadaan batu hideung ini melimpah dan mudah diakses. Namun menjelang akhir tahun 2024, sebagian besar wilayah ini sudah masuk ke dalam penguasaan pengembang perumahan terbesar di Jawa Barat. Luas wilayahnya hampir mencakup sebagian besar Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.

Kegiatan di atas adalah bagian dari rangkaian Geourban ke-48, tanggal 8 Oktober 2025. Diikuti oleh partisipan dari latar belakang yang berbeda. Diantaranya pegiat wisata, pemandu, pengelola wisata hingga mahasiswa jurusan pariwisata. Kegiatan ini bertujuan menggali kembali narasi sekitar Citatah selatan, membuka jejaring lokal dan silaturahmi pelaku wisata.

Kegiatan ini menapaki wilayah Kecamatan Citatah, dari Padalarang, Jayamekar, Bojonghaleuang, Cikande, Girimukti, hingga Cipageran. Di Antara desa-desa tersebut memiliki keunggulan fenomena kebumian dan budaya.

Endapan Awan Panas Cigintung
Lawatan pertama mengunjungi bukti hasil kegiatan gunungapi. Berupa endapan piroklastik, dengan tebal kurang lebih 20 meter. Tersingkap karena digali oleh warga dengan bantuan alat berat sejak tahun 2000-an, seiring dengan penguasaan lahan sekitar Jayamekar. Selain akibat tambang, dan pembukaan lahan untuk pemukiman mengakibatkan peristiwa banjir bandang. Terjadi pada tanggal 6 April 2025, berupa terjangan luapan air sungai. Kemudian memutuskan jalan penghubung antar desa.

Kondisi demikian akibat bagian lereng perbukitan dikupas untuk pembuatan lahan hunian, perumahan Great and Feel di Jayamekar. Akibat pembukaan lahan tersebut, menyebabkan run off air, terutama saat curah hujan tinggi. Mengakibatkan luapan sungai, dan memutus jalan penghubung dari Desa Jayamekar ke Desa Gunung Masigit.

Di lokasi ini didapati sisa tambang warga, berupa dinding tegak. Disusun oleh endapan awan panas.

Menyaksikan Perbukitan Terlipat dari Pasir Karamat
Kunjungan berikutnya adalah ke perbukitan di sebelah utara waduk Saguling, berdampingan dengan Parahyangan Golf. Lapangan golf yang dibangun, di tepian waduk Saguling. Perbukitan yang kini telah masuk ke dalam penguasaan pengembang properti, menjadi titik terbaik untuk mengamati jajaran perbukitan di sebelah utaranya.

Dari titik tinggi Pasir Karamat, terlihat jajaran perbukitan yang memanjang relatif barat-timur. Diantaranya yang terlihat adalah Pasir Kiarapayung 929 meter dpl., bergeser ke arah timur diantaranya Pasir Cirateun 862 meter dpl. Sejajar dengan perbukitan tersebut adalah Pasir Tugu yang kini diakuisisi pengembang, menjadi titik kegiatan hiking. Disebut Bumi Luhur Hiking Track, jalur jalan kaki yang menelusuri perbukitan sekitar Cikande, Batujajar.

Perbukitan tersebut ditafsir sebagai perbukitan terlipat, akibat kegiatan tektonik di masa lalu. Batuannya disusun oleh batupasir, berseling dengan batulempung. Diendapkan pada kondisi laut dalam, pada umur Miosen Awal hingga miosen Tengah.

Seiring kegiatan tektonik,endapan laut dalam tersebut diangkat hingga di atas ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Pengangkatan tersebut terjadi seiring dengan kegiatan perlipatan, terjadi pada Miosen hingga Pliosen. Mengakibatkan terbentuknya perbukitan terlipat, sesar-sesar naik pada batuan karbonat Citatah.

Panorama Bendungan Saguling
Perjalan dilanjutkan ke arah barat, menembus jarak 13,5 km. Ditempuh durasi perjalanan sekitar 30 menit, melalui jalan alternatif antara Cipangeran ke Poros Saguling. Jalannya sebagian besar sudah di beton, sehingga kegiatan ekonomi lokal bergerak. Terutama untuk mengangkut hasil bumi, dari Desa Saguling di jual ke pasar induk di Bandung melalui jalan ini.

Selepas Desa Saguling, memasuki Cipongkor. Jalan relatif menurun, mengikuti kontur perbukitan. Jalannya sejajar dengan arah pengaliran outlet Citarum, dari poros bendungan. Dialirkan melalui pipa ganda sepanjang kurang lebih 5.5 km, ditanam di bawah tanah. Elevasinya turun dari ketinggian 670 meter ke 340 meter. Pengaliran air tersebut memanfaatkan gravitasi, kemudian diantarkan melalui pipa pesat. Tekanan tinggi tersebut kemudian menggerakkan turbin di Power House Saguling.

Sekitar 4 km menjelang Pembangkit Listrik Tenaga Air/PLTA Saguling, didapati titik terbaik untuk menyaksikan perbukitan Citatah. Sekitar Pasir Benteng, dengan elevasi 660 meter dpl. Dari tinggian ini bisa menyaksikan jajaran perbukitan yang memanjang baratdaya-timurlaut. Batuannya berbeda dengan batuan yang pernah dikunjungi sebelumnya. Disusun oleh batugamping, bagian dari Formasi Rajamandala. Dicirikan dengan warnanya abu terang, kadang berwarna coklat, disebut batugamping.

Memandang ke arah barat, terlihat punggungan Gunung Guha 738 meter dpl. Perbukitan yang memanjang dari barat-timur, berada di sekitar Cihea. Di Antara perbukitan tersebut mengalir Ci Nongnang, sungai yang hulunya di Puncak Larang.

Ornamen di Sanghyang Kenit
Sebelah utara dari PLTA Saguling, terdapat gua. Disebut Gua Sanghyang Tikoro, dengan elevasi sekitar 300 meter dpl. Dengan demikian memiliki perbedaan ketinggian dengan poros bendungan Saguling, sekitar 650 meter dpl.

Perbedaan ketinggian tersebut membantah lokasi bobolnya Danau Bandung Purba segmen bagian barat. Hasil penelusuran bisa dilihat di sini: https://pgwi.or.id/2023/02/28/catatan-geobaik2-cukang-rahong/

Di Sanghyang Kenit, merupakan bagian dari segmen aliran Ci Tarum. Aliran airnya merupakan tangkapan dari berapa mata air dan aliran spillway dari Waduk Saguling. Sedangkan aliran utamanya, dialirkan melalui jaringan pipa. Digunakan untuk menggerakan turbin di PLTA Saguling, dan PLTA Rajamandala.

Dengan demikian, aliran air ke gua Sanghyang Poek menjadi kering. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh pengelola Sanghyang Kenit, menjadi sarana wisata susur gua. Inlet atau mulut gua berada di selatan, Sanghyang Poek. Mengalir ke arah utara, sejajar dengan sungai terbuka. Outlet-nya di mulut gua Sanghyang Kenit.

Penelusuruan dialakukan berlawanan dengan arah arus sungai, dari Sanghang Kenit ke arah keluar di Sanghyang Tikoro. Panjang gua kurang lebih 600 meter, melalui lorong memanjang.

Gua ini merupakan bagian dari Formasi Rajamandala, berupa batugamping berumur Oligosen Akhir-Miosen Awal atau sekitar 30-22 juta tahun yang lalu. Tebalnya lebih ari 180 meter, berupa batugamping masif/pejal dan terumbu.

Penelusuran di gua Sanghyang Kenit, mendapati ornamen yang masih berkembang. Menandakan bagian atas gua/eksokarst masih dalam kondisi baik. Sehingga didapat air yang mengalir. Aliran air yang masuk melalui bidang rekahan tersebut, kemudian mengendap menjadi kalsit. Seiring waktu, endapan tersebut membentuk ornamen gua yang menawan. Di gua ini masih didapati ornamen yang masih berkembang, seperti batu tirai, batu alir, gourdam, stalagmit dan stalaktit dan seterusnya. Sehingga gua tersebut cocok bagi siapa saja yang ingin mengetahui rahasia perut bumi.

Moda transportasi roda dua, penelusuran Geourban
Interpretasi di dalam gua Sanghyang Kenit
Batupasir Fm. Citarum, ditambang untuk pembuatan batu coet

Catatan Geourban#47 Cipada

Hawa pagi lebih dingin dari minggu sebelumnya, memandakan musim mendekati berakhirnya kemarau. Suhu yang menjadi santapan sehari-hari para pekerja di perkebunan, dataran tinggi Parongpong, Lembang, Kabupaten Bandung.

Waktu menunjukan saatnya sarapan, beruntung di tempat pertemuan penjual bubur ayam baru saja selesai mempersiapkan dagangannya. Dalam sekejap satu mangkuk selesai dieksekusi, mengingat sejak malam belum bertemu pengganjal perut. Lokasi pertemuan dipilih persis dimulut jalan menuju pintu Komando. Tempat latihan Kopassus, tertutup selain kegiatan latihan militer. Sehingga sebagian besar kawasan hulu Ci Mahi terjaga kelestariannya, karena kegiatan latihan militer. Berbeda dengan kawasan perkebunan teh Sukawana, kini bersulap wajah menjadi pengembangan wisata. Melalui penguasaan wilayah melalui Kerjasama Operasi (KSO), antara PT Perkebunan dengan pihak swasta produsen alat pendakian gunung. Menguasai lahan seluas 50 Hektar, di blok 11 Sukawana. Berupa sarana wisata, pembangunan betonisasi. Sehingga memiliki dampak lingkungan tinggi.

Kembali ke kegiatan Geourban ke 47, menapaki kembali sejarah bumi dan budaya. Di kawasan lereng sebelah barat G. Burangrang. Gunungapi samping, aktif melalui kegiatan kegunungapian berupa letusan. Materialnya mengendap di sekitar lereng, melampar hingga ke arah barat. Selain panorama yang menawan, daerah ini ditempati perkebunan teh masa kolonial, hingga hutan produksi milik PT Perkebunan Negara. Berupa pohon tegakan pinus merkusii. Ke arah baratnya melandai, hingga berbatasan dengan jalan penghubung antara Purwakarta-Padalarang di kawasan Nyalindung.

Endapan Awan Panas di Tugumukti
Jelang pukul delapan, partisipan Geourban menapaki jalan menuju Pasirlangu melalui Tani Mukti. Jalan turun curam, hingga lembah yang dipotong oleh Ci Meta. Sekitar Pasirhalang tersingkap endapan tebal berlapis-lapis. Berupa material hasil letusan gunugapi Prasunda-Sunda. Membentuk dinding tegak,dengan tinggi sekitar 30 meter. Membatasi Tugumukti dan Pasirhalang. Pada tahun 1990-an, kawasan ini menjadi primadona untuk penggalian batu dan pasir. Menggali endapan tebal tefra, hasil letusan gunungapi pada saat pembentukan kaldera.

M. Nugraha melaporkan dalam Tephrochronological Study On Eruptive History Of Sunda-Tangkuban Perahu Volcanic Complex, West Java, Indonesia (2005). Sebagian besar lembah Tugumukti disusun oleh endapan hasil letusan gunungapi. Berupa endapan awan panas (ignimbrite), didominasi oleh batu apung. Hadir dalam ukuran beragam, dari kerakal hingga ukuran kerikil, dari dua kali kegiatan gunungapi. PraSunda pada 560-508 ribu tahun yang lalu, kemudian Sunda pada 210-105 ribu tahun yang lalu.

Nugraha membedakan dua fase kegunungapian, melalui batuan penyusun di sekitar lembah Tugumukti. Endapan ignimbrite Manglayang dan Cisarua.

Akibat batuannya berupa batuan gunugapi lepas, jalan penghubung sekitar Pasirhalang seringkali dilanda longsor. Sehingga jalan penghubung Cisarua ke Cipada ini terganggu. Terakhir terjadi pada April 2022, sehingga pemerintah daerah memerintahkan untuk menutup segala kegiatan tambang batu dan pasir di Tugumukti.

Dari Tugu Mukti, jalanan terus menurun melintasi Ci Meta. Sungai yang berhulu di lereng sebelah barat G. Burangrang. Kemudian hilirnya di jembatan Citarum, Rajamandala. Kemudian jalanan mendaki memasuk dataran tinggi Cipada. Menjelang masuk ke kawasan ini, kiri dan kanannya dihiasi oleh perkebunan teh. Membentang seperti permadani hijau, dari kaki G.Burangrang hingga ke arah barat sekitar Pasir Bengkung.

Blok Friesland dan Louise
Dalam peta lama 1946, tuliskan dua blok perkebunan Friesland di sebelah utara, dan perkebunan Louise di bagian selatan. Salah satu informasi yang didapat, berasal dari laporan Belanda. Dalam kitab undang-undang Koloniaal Verslag van 1904. Menyatakan kedua perkebunan tersebut pailit, kemudian diambil alih oleh Perkebunan Pangheotan. Kemudian pada sumber nama dan perkebunan Hindia Belanda. Lijst van 1914: I. Particuliere ondernemingen in Nederlandsch-Indië op gronden door het gouvernement afgestaan in huur (voor landbouwdoeleinden) en erfpacht. Menyebutkan Friesland merupakan perkebunan kopi, di dalam manajemen Pangheotan. Dikelola oleh J.A. Piepers, 4 Maret 1890. Dalam peta lembar Tjipada (1903), kawasan perkebunannya berada di G. Leutik, sedangkan blok perkebunan Louise di sekitar Kiaralawang, dan Batukorsi sebagai batas kedua blok tersebut. Menurut keterangan warga, sekitar lokasi tersebut terdapat gua buatan manusia. Dibangun pada saat pendudukan Jepang, sebagai tempat perlindungan dan persembunyian.

Situ Dano Cipada
Kunjungan selanjutnya ke Dano Situ Cipada. Berupa danau yang terletak disebelah selatan Kantor Desa Cipada. Danau yang memiliki panjang 109 meter, dan lebar sekitar 74 meter. Berupa cekungan yang dikelilingi perbukitan. Dalam peta lama merupakan danau yang terbentuk di dalam cekungan. Dikelilingi oleh tinggian Pasir Dano di selatan, Cileuleuy membatasi sisi sebelah timur. Kemudian bagian baratnya dibatasi oleh Pasir Manggu dan Kiarapayung.

Bila datang dari arah Ciparay Babakan, Cipada. Sekitar 500 meter akan tiba di persimpangan Cileuleuy, percababangan yang membagi jalur ke utara menuju wisata Bukit Senyum di Pasir Manggu. Kemudian ke arah barat menuju Lembang. Jalannya menurun, memasuki cekungan yang dibatasi oleh perbukitan. Kiri dan bagian kanannya ditempati perkebunan warga, berupa perkebunan sayuran. Diujung jalan kemudian mendapati daerah landai, ditempati danau. Masyarakat menyebutnya Situ Dano Lembang, beberapa sumber menuliskan Situ Dano Cipada. Merujuk pada nama tempat, berada di Desa Cipada, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat.

Didapati luas sekitar 236 meter persegi, namun saat ini genangannya menyusut sekitar 7,498 meter persegi. Kondisi demikian terjadi sejak alih lahan dari perkebunan teh menjadi lahan perkebunan. Menurut warga di Cipada, akibat perubahan lahan pertanian mengakibatkan longsor. Kemudian sebagian besar endapan tanah perkebunan masuk semua ke danau. Seiring waktu kemudian terjadi proses sedimentasi, mengakibatkan luas wilayah situ semakin menyempit.

Dari bentuk bentang alamnya, menegaskan bahwa danau ini merupakan sisa dari kegiatan gunungapi di masa lalu. Sesuai dengan keterangan dari penelitian terdahulu, seperti yang diuraikan oleh seorang ahli kebumian Belanda. van Bemmelen menguraikan nya pada peta Geologische Kaart van Java (1934), menyebut tufkagel van den G. Dano. Diterjemahkan sebagai endapan tuff, dari hasil letusan G. Dano. Berupa material dari kegiatan aktivitas kegunungapian di masa lalu, yaitu letusan G. Dano.

Bila dibandingkan dengan peta lama kolonial Topographisch Bureau (Batavia) tahun 1904, lembar Tjipada. Luasnya diperkirakan sekitar 23 Ha. Dibatasi oleh tinggian Pasir Dano sebelah selatan, kemudian Kiarapayung dan Pasirmanggu sebelah utara. sebelah selatannya berbatasan dengan pemukiman sekitar Cileuleuy.

Bunker Komando Pasir Banteng dan Pasir Batukarut
Selanjutnya mengunjungi bangunan yang diduga sebagai sarana militer pada masa Kolonial Belanda. Berada di perbukitan, disebut Pasir Benteng. Pasir bermakna perbukitan, dan Banteng merujuk kepada nama mamalia besar. Namun pada keterangan peta daring google, penamaanya menjadi Pasir Benteng. Sesuai dengan penemuan benteng militer. Berupa struktur bangunan yang kini nyaris tidak dikenali lagi.

Sebagain besar struktur bagunannya telah hilang, akibat kegiatan tambang warga sekitar Pasir Malang, Cipada. Hanya menyisakan segmen bagian struktur pondasi, sedangkan bagian fasadnya telah hilang sama sekali. Dari berita daring yang ditulis di Harian Umum Pikiran Rakyat, 20 November 2008. Ditulis oleh Ridwan Hutagalung. Menerangkan bahwa bunker tersebut pernah dihuni oleh pasangan suami istri, Saifullah dan Tati tahun 1982. Digambarkan bunker tersebut memiliki empat ruang yang berjajar dan saling terhubung. Masing-masing ruangan dilengkapi dengan pintu yang menghadap ke arah barat. Menurut keterangan Saifullah, ditemukan tulisan 1913 sebagai tanda tahun pembangunan.

Keberadaan bunker tersebut sangat strategis,dibangun di puncak puncak Pasir Banteng. Kemudian bagian atasnya disamarkan, dengan cara menimbun dengan tanah. Sehingga dari kejauhan, tidak terlihat seperti struktur bangunan. Dari beberapa informasi, bunker memiliki menara pengamat. Dengan demikian mencirikan sebagai pusat komando pengamatan, dilengkapi sistem komunikasi radio. Dengan tujuan memberikan koordinasi, posisi dan pergerakan musuh.

Bunker lainya dibangun di barat daya. Berada di Pasir Batukarut. Saat ini dikenal dengan sebutan benteng Tangkil, sesuai dengan nama wilayah tersebut. Penyebutan benteng dan bunker merupakan dua perihal yang berbeda. Keberadaan sistem pertahanan benteng, telah lama ditinggalkan. Sejak dikembangkannya serangan melalui udara, sehingga sistem pertahanan benteng sangat mudah dihancurkan melalui udara. Pengembangan pasca perang dunia ke-1, dikenal sistem pertahanan yang lebih strategis. Berupa sistem pertahanan, dan pengamatan. Biasanya dilengkapi dengan senjata meriam antar gunung.

Dengan demikian, keberadaan struktur militer di puncak Pasir Batukarut merupakan bunker. Tersembunyi dan disamarkan dengan dibangun di bawah tanah. Digunakan sebagai pengamatan dan mitigasi dalam perang modern menjelang perang dunia ke-2.

Bunker Tangkil berada di puncak perbukitan, berupa empat struktur bentuk persegi panjang. Dibangun menggunakan bahan beton tebal, sekitar 40 cm. Di bagian atapnya menggunakan beton lebih tebal, sekitar 60 cm. upaya penguatan struktur dari serangan udara.

Fungsi bunker tersebut, mengamati celah sempit Nyalindung di sebelah barat. Merupakan jalur lintasan kendaraan dan kereta api, menghubungkan antara Purwakarta ke Padalarang dan Depo militer di Cimahi. Waktu pembangunannya, seiring dengan rencana pemindahan Batavia ke Bandung. Direncanakan sejak awal abad ke-20, melalui kehendak Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum (1916-1921).

Terowongan yang Menembus Pasir Kopi
Dari bunker Tangkil, didapati jalan menurun hingga menyeberangi jalur kereta api. Tepatnya di jembatan kereta api Cikubang. Jembatan kereta api yang dibangun, untuk menghubungkan Batavia ke Bandung, memalui Karawang-Purwakarta dan Padalarang. Mulai dibangun oleh perusahaan negara Staatsspoorwegen (SS), setidaknya sejak 1902. Seiring dengan pembobokan terowongan Pasir Kopi, Sasaksaat.

Jembatan tersebut merupakan hasil teknologi teknik tercanggih saat itu. Menggunakan sistem jembatan truss, dengan menggunakan struktur pilar penyangga sebanyak 11 pilar baja. Material yang digunakan didatangkan langsung melalui Eropa, dari pelabuhan Tanjung Priok ke Pelabuhan Cilacap. Konsep konstruksinya merupakan jembatan berdinding, dengan memanfaatkan rasuk utama sebagai penyangga beban-diperkuat dengan baja melintang.

Pada tahun 1950-an, di bawah pengelolaan Djawatan Kereta Api (DKA) dilakukan penguatan struktur. Tujuan peningkatan kapasitas beban, dan pergantian material yang telah lapuk.

Di sekitar Sumur Bandung didapati terowongan, menembus batuan gunungapi yang keras. Dibangun untuk menghubungkan Purwakarta ke Padalarang. Melalui segmen halte Sasaksaat. Ke arah utaranya Halte Maswati, Kananasari, Cikalongwetan. Dibangun dalam waktu satu tahun, antara 1902 hingga 1903 dengan teknologi penggalian manual.

Batuan penyusunya adalah batuan gunugapi tua, berupa breksi, lahar dan lava (Sudjatmiko, 1972, 2003). Dengan demikian memiliki kerentanan yang ditinggi, karena menembus akiter (batuan pembawa air). Dilaporkan beberapa kali mengalami longsor, sehingga diperlukan rekayasa teknik agar pembangunan terowongan saat itu aman.

Jalur ini menjadi penting, karena memangkas waktu tempuh dari Batavia (Jakarta) ke Bandung. Disebut lingkar timur yang mampu ditembus waktu hingga 2 jam perjalanan. Berikut video tentang Terowongan Sasaksaat https://www.youtube.com/watch?v=xqvxG4CrrJ0

Bunker Pasirbanteng, Cipada.
Blok struktur bunker, dijarah oleh warga untuk diambil bagian beton dan besi.
Bunker Pasir Batukarut
Rekayasa teknik jembatan metode Truss (besi baja)

Catatan Geourban#45 Jembarwangi

Selepas bulan Juli 2025 usai, pembangunan jalan Lingkar Utara Jatigede telah selesai dibangun. Walaupun belum resmi dibuka, tetapi bisa dilintasi dalam jumlah kendaraan terbatas. Kesempatan inilah dimanfaatkan, meninjau jalan yang melingkar sisi utara waduk Jatigede, Sumedang. Kegiatan ini merupakan bagian dari acara Geourban ke-45, dengan tajuk Jembarwangi pada 10 September 2025, 

Kegiatan inisiasi wisata bumi sekitar Sumedang, dimulai dari sisi sebelah utara Waduk Jatigede. Memanfaatkan jalur baru lingkar utara, dari percabangan jalan kabupaten Situraja ke Darmaraja. Mulut jalan berada di sekitar tanjakan Cinangsi yang berada dibahu dua gunung. Sebelah timurnya adalah G. Baju, dan ke arah timurnya G. Tanjung. Jalannya lebar, diapit oleh parit drainage. Menandakan kelas jalan lingkar ini merupakan proyek nasional. Selepas percabangan Cinangsi, disambut oleh jalanan yang mendaki. Agar tidak terlalu terjal, dilakukan pembobokan perbukitan G. Tanjung 519 mdpl. Kemudian dilanjutkan ke arah timur yang mulai melandai melewati perbukitan Pasir Hingkik 513 mdpl.

Arah pandangan luas tidak terhalang. Ke arah timur terlihat hamparan air yang luas. Waduk Jatigede menenggelamkan 28 desa, dari 5 kecamatan sejak 2015. Dibutuhkan waktu hampir setengah tahun, untuk mencapai paras air optimal. Luas genangan airnya saat ini, kurang lebih sekitar 42 km2. Titik tinggi paras airnya, 260 meter di atas mukalaut. Satu-satunya pulau yang tampak dari arah Cinangsi, adalah G. Surian 310 mdpl. Kerucutnya timbul di atas hamparan air, berhadapan langsung dengan poros bendungan Jatigede. 

Sekitar 15 menit berkendara, di sebelah timur terlihat perbukitan yang mengungguli tinggian. Disebut Pasir Julang, atau masyarakat menyebutnya G. Julang. Dalam peta geologi lembar Arjawinangun (Djuri, 2011), merupakan Hasil Gunungapi Tua-Lava (Qvl). Produk G. Lingga 1125 mdpl.  Dalam tafsiran berdasarkan peta geologi tersebut, memberikan dugaan arah aliran lavanya mengalir ke timur laut hingga Nangerang. Sehingga diperkirakan G. Julang merupakan fasies proksimal (Bogie & Mackenzie, 1998). Perkiraan lainnya adalah perbukitan tersebut merupakan hasil penerobosan magma, disebut intrusi batuan beku. Menerobos batuan sedimen 

Bila merujuk pada pendapat di atas, memberikan petunjuk bahwa G. Julang bukan perbukitan intrusi batuan beku. Melainkan produk aliran lava G. Lingga yang berada di sebelah barat daya yang berjarak sekitar 4.5 km. Disusun batuan beku, berwarna abu terang menandakan didominasi mineral andesitik. Sejak awal pembangunan Waduk Jatigede, sumber batuan yang berada di G. Julang dimanfaatkan untuk kegiatan pembangunan poros waduk diantaranya adalah sebagai agregat. Lahan seluas 55 Ha, tersebut kini direncanakan akan ditambang kembali untuk kebutuhan Bendungan Cipanas. Hanya terlihat beberapa warga yang masih memanfaatkan batuan tersebut, dengan cara penambangan tradisional. Sebagai batu hias, dan pondasi dalam skala tambang kecil.

Saat ini G Jualang tidak lagi menjulang. Sebagian besar tubuhnya telah hilang hasil kegiatan tambang sejak tahun 70-an akhir. Batuannya masih, berupa lava tebal dengan ciri terkekarkan. Menandakan batuan tersebut terdeformasi, akibat kegiatan tektonik. Di sebelah utaranya merupakan jalur sesar Baribis, sehingga kegiatan tektonik tersebut mempengaruhi secara langsung pada batuan. Sebagian besar kawasan ini membentuk bentang alam berupa ceruk, dan sebagian besar membentuk dataran seperti mesa. Tinggian yang terpancung, menyisakan lapangan yang datar. Sebagian besar batuan yang singkat, terkekarkan dengan kuat, membentuk struktur rekahan atau patahan pada batuan (deformasi). Sebelah barat daya, didapati fitur batuan yang membentuk seperti kepala burung. Berupa susunan kekar kolom, tersisa dari kegiatan tambang. 

Menurut warga, fitur batuan tersebut hasil kegiatan tambang menggunakan alat berat. Namun karena batuannya terlalu keras, mengakibatkan alat berat tersebut menyerah. Sehingga ditinggalkan begitu saja, meninggalkan bentuknya pipih. Sehingga masyarakat menyebutnya batu kipas. Disusun oleh batuan beku, berwarna abu terang ciri andesitik. Berada pada ketinggian, sebagian besar bagian bawahnya telah hilang oleh kegiatan tambang, menyisakan blok batuan. 

Dari G. Julang menjadi titik terbaik untuk melihat panorama Waduk Jatigede. Dengan demikian, BBWS berencana mengembangkan kawasan ini sebagai objek wisata berupa vie point atau anjungan pandang.  Rencana tersebut membutuhkan kajian, agar selaras dengan kondisi lingkungan, kemampuan untuk pengelolaan wisata berkelanjutan. 

Sebelah timur laut dari G. Julang, mengikuti jalan Lingkar Utara Jatigede akan menemui situs. Masyarakat menyebutnya Situs Karamat berupa kumpulan batuan dengan ukuran bongkah. Dilingkari oleh pagar besi, menyusun tinggian yang ditempati oleh pohon tegak. Warga menyebutnya petilasan, atau tempat yang pernah menjadi tempat singgah atau disakralkan. Tempat suci yang digunakan sebagai kegiatan ritus, atau sebagai simbol budaya. Informasi mengenai Situs Karamat ini sangat terbatas, karena tidak ada informasi baik dalam tinggalan prasasti atau sumber primer seperti naskah. 

Sumber batuannya bila merujuk pada peta geologi Arjawinangun (Djuri, 2003). Berupa batuan beku yang diperkirakan sama dengan yang ditemui di G. Julang. Berupa Hasil Gunungapi Muda tak Teruraikan. Diantaranya breksi, lava bersifat andesit dan basal, pasir tufan, lapili. Bentuknya lonjong, saling menumpuk. Menurut warga, situs ini merupakan bagian puncak, ditandai dengan batu yang disimpan berdiri seperti menhir. Posisi situs berada ditengah jalan yang menghubungkan antaran Cinangsi ke Pajagan. Namun bila melihat peta lama lembar Darmardja (1943), berada pada ketinggian perbukitan. Dalam peta tersebut belum menunjukan garis jalan. Namun dalam keterangan bapak Asep, kampung yang berada di sekitar situs, merupakan hasil relokasi akibat penggenangan waduk. 

Pada peta lama lembar Soedapati (1911), lokasi situs berada di daerah disebut Bantarjambe. Sesuai dengan nama Sekolah Dasar yang masih menggunakan nama yang sama. Dengan demikian diduga, kampung di sekitar situs merupakan relokasi dari kampung Legok. Posisinya sebelah timur, di bawah lembah yang kini menjadi batas paras air Waduk Jatigede. Untuk menghindari penggenangan, maka warga Legok kemudian bergeser ke dataran yang lebih tinggi disekitar Bantarjambe saat ini. 

Saat ini keberadaan situs telah dilindungi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, melalui undang-undang cagar budaya Nomor 11 Tahun 210 Tentang Cagar Budaya. Disebut Situs Makam Karamat, Cigintung, Sumedang. 

Lokasi selanjutnya adalah Pasir Pareugreug. Merupakan blok yang naik, disebut sesar anjak busur belakang. Merupakan sistem Backarc Java Thrust, segmen Baribis. Blok yang naik ini kemudian dimanfaatkan sebagai poros bendungan. Dinding bendungan yang berarah timur-barat, sesuai dengan arah sesar Baribis. 

Dari atas Pasir Pareugreug, bisa menyaksikan ke segala arah. Di timur terlihat lembah yang dalam, ditoreh oleh Ci Manuk. Aliran outlet dari spillway poros Waduk Jatigede. Mengalir membelah perbukitan terlipat, diapit oleh G. Tonjong sebelah barat, dan G. Pakayuan 330 mdpl., di bagian timur. Alirannya mengarah ke utara, melalui Parakan Kondang. Kemudian Desa Karedok. Alirannya kemudian dibendung kembali, oleh bendungan Bunut.

Dari Pasir Pareugreug, kemudian turun ke arah Desa Karedok melalui lereng Pasir Sema. Jalanan curam, tetapi sebagian besar sudah di beton dan aspal. Menjelang memasuki Desa Karedok, didapati situs Keramat Sunan Pada. Di keterangan papan informasi, gerbang masuk situs berbunyi Situs Keramat Sunan Pada, ayah dari Ratu Cukang Gedeng Waroe. Sunan Pada adalah mertua dari Geusan Ulun yang berkuasa sebagai raja Sumedang. Dari 1579, naik tahta sebagai raja melalui amanat untuk meneruskan kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran. 

Jalannya berupa turunan yang terjal, sisi sebelah baratnya dibatasi oleh gawir terjal Pasir Pareugreug. Dibeberapa tempat terlihat dinding perbukitan tersebut disusun oleh batuan  breksi gunungapi. Seperti dilaporkan pada awal hadirnya perkampungan ini pernah mengalami bencana. Berupa gerakan tanah atau longsor, mengakibatkan posisi kampung haru bergeser ke arah utara ke kampung Rancakeong dan Babakan Dobol. Lebih mendekati bantaran Ci Manuk.

Dihujung kampung, dibatasi oleh genangan air Ci Manuk. Membentuk danau yang terbentuk karena aliran tersebut di tahan oleh Bendung Bunut. Membentang sekitar 380 meter, menutup celah sempit Ci Manuk di Desa Karedok, Jatigede. Bendungan ini berfungsi untuk penyaluran irigasi, penyedian air baku dan sistem pengendali banjir. 

Dari Cibunut kemudian beralih ke arah Jembarwangi di sebelah timur. Jaraknya kurang lebih 7 km. mengikuti jalan fasilitas Waduk Jatigede melalui lintas timur. Di sekitar Cijeungjing kemudian berbelok ke arah tenggara, memasuki desa Jembarwangi bagian barat. Sebelum tiba di Kantor Desa, jalanan mengikuti jalur turunan curam, berakhir di Ci Saar. Sungai yang membelah Desa Jembarwangi, mengalir ke arah utara. 

Merujuk pada beberapa penelitian, kawasan ini disusun oleh batulempung, dan serpih gampingan yang memiliki tebal hingga 650 meter. Bagian dari Formasi Cisaar, berumur Miosen Tengah atau sekitar 15 juta tahun yang lalu. 

Dalam laporan penelitian paleontologi, disebut lembah Cisaar. Memiliki potensi dan sebaran fosil vertebrata. Mulai diteliti sejak lama, namun secara berkala dilakukan oleh Badan Geologi, melalui tim Museum Badan Geologi, KESDM sejak 2019. Diantaranya telah ditemukan beberapa fosil, di titik ekskavasi  di beberapa lokasi yang tersebar sepanjang Ci Saar. Keberadaan fosil vertebrata atau mamalia besar tersebut, menunjukan bahwa sebagian besar lembah Cisaar saat itu dalam kondisi lingkungan estuari. 

Fosil yang ditemukan, tertanam pada batuan dan tanah yang telah lapuk. Sebagian tersingkap di permukaan akibat kegiatan erosi, dan dibawa oleh air. sehingga beberapa fragmen ditemukan tersebar dari barat ke timur. Semua ditemukan pada Formasi Citalang, disusun konglomerat,  dan batupasir tufaan, merupakan lingkungan endapan darat dengan sistem sungai teranyam (braided stream deposits). Umurnya Pleistosen sekitar 1,2 juta tahun yang lalu. Diantaranya ditemukan rahang bawah Stegodon trigonochepalus (Wibowo et. Al., 2018). Lembah Cisaar, Jembarwangi saat ini menjadi salah satu situs baru, untuk kegiatan penelitian paleontologi vertebrata di Jawa bagian barat.

Batukipas, G. Julang Jatigede, Sumedang
Situs Karamat. Cigintung
Di puncak Pasir Pareugreuh.
Fosil vertebrata di Lembah Cisaar

Catatan Geourban#43 Tengeragung (Subang)

Dari arah Bandung, kemudian memasuki kawasan Cikole. Seiring perjalanan mendaki mengikuti perbukitan, kiri dan kanan daerah ini semakin dikuasai oleh usaha wisata.. Kawasan hijau, bersalin rupa menjadi struktur bangunan, sedangkan tegakan Pinus merkusii hanya sekedar hiasan saja.

Selepas tanjakan Cikole, tiba di percabangan antara gerbang memasuki kawasan wisata G. Tangkubanparahu. Sedangkan ke arah utara, melandai memasuki wilayah Kabupaten Subang. Jalan nasional yang menghubungkan Lembang ke Jalancagak, kini lenggang. Warung-warung yang membatasi sepanjang jalan, kini hilang. Dibongkar pada awal bulan Agustus 2025, atas kebijakan gubernur Jawa Barat.

Sekitar 978 warung, dari perbatasan G. Tangkubanparahu, hingga Jalancagak telah “diamankan”. Alasanya karena bangunan tidak berizin, dan dianggap menyumbang potensi bahaya bencana longsor. Bangunannya didirikan merambah lereng, sehingga bisa berdampak bahaya. Bila alasan gubernur adalah berkaitan lingkungan, seharusnya berlaku juga kepada pengelola wisata lainya. Pengusaha besar yang menempati sebagian besar lereng timur G. Tangkubanparahu, seperti Astro Highland Ciater, The Ranch Ciater dan sebagainya. Penggunaan lahan menjadi bangunan, menyebabkan tertutupnya zona imbuhan air. Sehingga akan terjadi run off, bila hujan turun, dampaknya adalah banjir dikala musim hujan.

Jejak material letusan G. Tangkubanparahu, masih bisa disaksikan hingga kini. Berupa aliran piroklastik, berselingan dengan aliran lava. Gunungapi ini mulai tumbuh dan memperlihatkan aktivitasnya pada skala waktu geologi Holosen. Kurang lebih sekitar 10 ribu tahun yang lalu (Kartadinata, 2005), melalui kegiatan letusan yang terus berlangsung hingga kini. Di peta Kawasan Rawan Bencana (KRB), G. Tangkubanparahu skala 1:50.000. memperlihatkan arah aliran berupa aliran lava, gas beracun dan kemungkinan awan panas. Diperkirakan arah aliran materialnya ke sekitar Sagalaherang.

Bukti aliran lava, bisa disaksikan di Curug Badak, menjadi dasar aliran Ci Koneng. Sungai yang hulunya di lereng sebelah timur laut G. Tangkubanparahu. Mengalir ke arah selatan, kemudian bertemu dengan Ci Punegara. Di air terjun ini, terlihat lapisan lava tebal, diperkirakan setebal 30 meter lebih. Strukturnya masif dan sebagian terbentuk struktur kekar lembar. Membentuk tapal kuda, terbuka ke arah utara, memperlihatkan lava tebal di bagian atas, menindih batuan breksi piroklastik. Batuan pembawa air ini (akifer), dimanfaatkan pengelola wisata untuk mendapatkan air bersih. Ceruk terbentuk karena batuan bagian atas adalah lava, batuan keras yang resisten terhadap erosi. Kemudian membentuk ceruk, akibat batuan piroklastik yang mudah di erosi. Sehingga membentuk seperti gua-gua, dengan ketinggian antara 2-4 meter.

Lereng landai sebelah timur G. Tangkubanparahu yang subur. Selain mengundang ladang usaha bisnis saat ini, sudah menjadi incaran penguasaan kolonial di Priangan. Selepas tutupnya Perusahaan Hindia Timur Belanda atau VOC tahun 1799, akibat korupsi. Otomatis sebagian besar penguasaan wilayahnya jatuh ke kerajaan Belanda. Semenjak itulah kebijakan kolonialisme bukan lagi mencari keuntungan ekonomi melalui perdagangan rempah. Kolonial Belanda menyusun strategi, melalui usaha-usaha produksi dan hasil perkebunan. Sehingga antara tahun 1800 hingga 1870, sebagian besar hutan-hutan di lereng G. Tangkubanparahu bersalin menjadi perkebunan.

Dalam tulisan lama Short history of the Pamanoekan and Tjiassemlands (1838), menguraikan bahwa hutan Ciater dikonversi menjadi lahan perkebunan sejak penguasaan kolonial Inggris. Melalui surat keputusan Gubernur Jenderal Raffles, 22 Januari 1813, sebagian besar wilayah Krawang (Karawang raya) dijual kepada Muntinghe. Seorang warga Spanyol yang bertindak sebagai makelar tanah. Penguasaan lahan kemudian dijual kepada Shrapnell dan Ph. Skelton pada 1813. Pada tahun yang sama, lahirnya perusahaan swasta, Pamanoekan en Tjiasemlanden (P&T) lahir. Menggabungkan dua lahan, menjadi perkebunan terbesar di priangan pada saat itu. Luasnya kurang lebih sama dengan batas wilayah administrasi Kabupaten Subang saat ini.

Pada peta 1903, batas wilayahnya meliputi sebagian besar Subang saat ini. di sebelah utara dibatasi laut Jawa. Kemudian di bagian timur, berbatasan dengan Kesultanan Cirebon dan (sungai) Ci Punagara. Kemudian di selatan, dibatasi lereng G. Tangkubanparahu, dan bagian barat dipagari (sungai) Ci Lamaya.

Awal pembukaan lahan perkebunan, dikerjakan di sebelah utara Subang. Disekitar Sagalaherang, dicirikan dengan lahan yang memang ideal untuk pendirian pusat pengolahan hasil perkebunan. Di sebelah utaranya didapati mata air Cimutan, mengalir di Ci Kanyere. Terletak di lembah yang diapit oleh perbukitan, memanjang selatan-utara. di lembah ini didapati dua sumber mata air, dengan debit besar. Mengalir diantara rekahan batuan, dan endapan piroklastik. Sedangkan di bagian atasnya ditumbuhi oleh pohon bambu yang rindang dan lebat, menandakan ciri mata air yang sehat. Dari sumber mata air ini, ke arah pabrik pengolahan hasil perkebunan sekitar 1,3 km.

Dengan demikian, penempatan awal mula pusat administrasi dan pengolahan pada saat itu berada di Sagalaherang. Pada foto lama, Koffie Maalderij van de onderneming Tenger Agoeng in de Pamanoekan en Tjiasemlanden (1887), memperlihatkan bangunan administratur dan pusat pengolah kopi. Berupa bangunan yang didirikan di Sagalaherang. Beberapa informasi, pusat pengolahan hasil perkebunan tersebut, diperkirakan berada di lapangan Tengeragung. Lapangan olah raga sepak bola warga. Berupa dataran luas, berada sekitar 500 meter ke arah selatan dari Alun-Alun Sagalaherang saat ini.

Dalam foto tersebut nampak struktur bangunan, dengan latar berupa gunung Tangkubanparahu. Keberadaan Tengerangung, menjadi pusat administrasi pada awal perkembangan Pamanoekan en Tjiasemlanden/P&T. Diperkirakan kerajaan perkebunan Hofland bersaudara ini, selepa pembelian aset dari Ch. Forbes, W. F. Money, Micky Forbes, John Skelton, J. Steward, J. R. Thuring, dan Alex London.

Pada 11 November 1826, kepemilikan lahannya kemudian Ch. Forbes, Micky Forbes, dan J. Steward. Pengusaha dari Inggris ini, kelak menyerahkan asetnya melalui akad pembelian kepada John Erich Banck Thomas Benjamin Hofland & Peter William Hofland.

Pada 28 Oktober 1848, sahamnya semua diambil alih oleh Theodorus Benjamin Hofland, da Peter William Hofland (P.W. Hofland). Dua bersaudara keturunan Belanda. Kemudian pada tangal 1 November 1958, sepenuhnya dikuasai oleh P. W. Hofland. Pada tahun itulah perkiraan pemindahan seluruh operasi perkebunan, ke kota Subang saat ini.

Jejak kejayaan peninggalannya di Tengeragung nyaris lenyap, hanya menyisakan kerkhof. Pemakaman keluarga Hofland, di dataran tinggi Tengeragung. Di Lokasi ini masih bisa ditemui bangunan yang berfungsi sebagai monumen atau ruang pemakaman, tempat penyimpanan peti mati atau guci abu di dalam kripta/relung.

Satu-satunya struktur bangunan yang mencolok adalah kuburan istri dan anak Johannes Theodorus Hofland, anak kedua dari P.W. Hofland. Dimakamkan dengan nama Maria Elisabeth van Lawick van Pabst (lahir 25 Mei 1843, meningal 17 November 1871). Kemudian anaknya, Francis Theodore Hofland yang baru berusia empat bulan, lahir 29 Mei 1860 dan meninggal 29 Agustus pada tahun yang sama. Sepeningal istrinya, kemudian sang suami menikah kembali dengan emma Carolina Elisabeth Kunhardt. Johannes Theodorus Hofland, meningal pada tahu 1906.

Selain itu masih tampak empat tunggul tidak bernama, dan beberapa bentuk pondasi kuburan yang sudah rusak. Saat in kuburan tersebut dimanfaatkan warga menjadi ladang umbi, dan kuburan muslim warga. Sehingga struktur nisan kuburan keluarga Hofland, tampak tidak terurus. Sebagian telah hilang di bagian penanda nisannya, sehingga tidak ada informasi siapa dan kapan jasad yang dikuburkan disini.

Lawatan penutupan kegiatan Geourban, mengunjungi sumber mata air Cimutan. Mata air yang melimpah, dari dua sumber mata air. Terletak di lembah, sistem aliran Ci Kanyere, namun menurut warga, lahan mata air tersebut dimiliki perorangan. Sehingga sumber daya yang melimpah ini bukan lagi miliki desa yang bisa diolah secara kolektif. Dengan demikian warga sangat bergantung dari kebaikan pemilik lahan.

Sebagai penutup, mengunjungi rumah tua peninggalan kerajaan perkebunan P&T di Jagarnaek. Merupakan kampung yang berada di dalam wilayah administrasi Desa Cisaat, Ciater. Rumah tersebut saat ini terbengkalai, seperti kurang diurus. Menandakan rumah tersebut tidak lagi fungsi, selain jejak kejayaan perkebunan kopi di Jagarnaek. Penamaan tempat tersebut, diperkirakan disematkan oleh P.W. Hofland. Penguasa perusahaan perkebunan tersebut, ingin mengabadikan nama kelahirannya di Jagir Naik Poeran, negeri India.

Peta 1887 lembar Sagalaherang/KLTIV
Penananda kuburan istri dan anak Johannes Theodorus Hofland, di Tengeragung.
Rumah administratur Jagernaek
Mataair Cimutan

Catatan Geourban#42 Nagreg

Ramalan cuaca tadi malam menyebutkan, besok pagi sedikit berawan. Kemudian jelang sore berkemungkinan turun hujan tipis. Demikian prakiraan kondisi cuaca tanggal 14 Agustus 2025. Rupanya alam memberikan keputusan yang berbeda. Jelang pagi langit berselimutkan awan tebal, sesekali angin bertiup dari arah barat. Awan mendung menggelayut, menandakan hujan sebentar lagi turun.

Waktu menunjukan pukul tujuh pagi, kendaraan diarahkan menembus padatnya lalu lintas Cileunyi. Untung saja waktu pergantian (shift) karyawan pabrik sudah lewat, sehingga jalan kembali normal. Sepanjang Rancaekek dibatasi oleh bangunan pabrik tekstil dan rumah warga. Sebagian besar posisi rumah berada di bawah jalan, menandakan kawasan ini terjadi penurunan muka tanah. Terjadi akibat pengambilan air berlebihan, sehingga terjadi cekungan. Seiring waktu jalan ditambah, penebalan beton. Sehingga rumah warga tampak tenggelam oleh oleh jalan yang membentang barat ke timur.

Di Parakanmuncang, berbelok ke arah utara. Menembus pasar Parakanmuncang, hingga tiba di Pusaka Farm. Dalam waktu satu jam lebih, menembus tiga wilayah, Kota Bandung, kemudian Kabupaten Bandung, dan terakhir di Parakanmuncang, masuk ke wilayah Kabupaten Sumedang.

Titik awal penelusuran kegiatan Geourban ke-42 ini, dimulai dari Pusaka Farm. Pengelolaan ternak kambing milik kang Rizky. Dari Parakanmuncang, diarahkan ke timur. Selepas Rancaekek, kemudian memasuki daerah Nagrog. Jalanannya menanjak, menandakan memasuki segmen Cicalengka-Nagreg. Berupa daerah tinggi yang diapit oleh beberapa gunungapi purba dan perbukitan. Sebelah utaranya adalah kelompok G. Kareumbi-Kerenceng, kemudian di sebelah selatannya dibatasi oleh kelompok G. Mandalawangi.

Sekitar Nagrok jalanan menanjak, menandakan perbedaan elevasi. Perbedaan ketinggiannya kurang lebih sekitar 160 meter bila dihitung dari Rancaekek ke Cicalengka. Tinggian tersebut membentuk cekungan yang diapit oleh perbukitan landai, disebut cekungan Cicalengka-Nagreg. Bila dilanjutkan ke arah timur, topografinya landai menunjukkan batas cekungan Nagreg. Dikenal dengan tanjakan Nagreg, berakhir dipercabangan menuju Garut dan Tasikmalaya.

Cicalengka merupakan batas timur Danau Bandung Purba. Ke arah timurnya dipagari perbukitan dan gunungapi purba. Batas antara Cekungan Bandung bagian timur dengan Cekungan sub cekungan Leles, Garut. Berjajar perbukitan runcing, G. Durung, Pasir Citiis, G. Kendang, G. Batu dan G. Sangiangajung. Komplek gunungapi purba, menjadi pagar alam Cekungan Bandung bagian timur dengan Sub Cekungan Leles-Garut.

Di Hadapannya (timur), merupakan cekungan yang kini ditempati sawah. Diperkirakan merupakan sisa dari sub danau yang terbentuk sebelum Danau Bandung Purba. Seperti yang dikemukakan oleh Budi Brahmantyo dkk., (2001). Menduga terbentuk cekungan kecil yang terangkat. Buktinya adalah adanya endapan danau (lakustrin), berlapis, disusun klastik gunungapi dan aluvial. Selain itu elevasi cekungan tersebut 850 meter dpl., seratus meter lebih di atas paras maksimal Danau Bandung Purba. Dalam pengukuran menggunakan bantuan google maps sekitar 800 hektar. Sebelah timurnya dibatasi jalan raya Nagreg dan G. Leutik. Kemudian di sebelah baratnya, berbatasan dengan Citaman. Kemudian sebelah utaranya sekitar sawah di Desa Kendan. Bukti endapan danau (lakustrin), berupa lapisan lempung dan paleosol belum bisa dipastikan. Mengingat kondisi lingkungan saat ini sudah berubah menjadi areal sawah.

Di sekitar Nyalindung Nagreg, tidak ditemui. Karena sebagian besar sungai yang membelah atau sejajar dengan jalan raya Nagreg disusun oleh breksi gunungapi. Dalam keterangan penelitian awal oleh tim Kelompok Riset Cekungan Badung, dalam jurnal Notes of the Geology of Uplifted Small Basin at Cicalengka-Nagreg Areas South of Bandung (2001), menunjukan bukti. Berupa endapan danau di G. Leutik, atau sekitar 40 meter dari persimpangan rel kereta api Nagreg ke arah selatan. Namun kondisinya saat ini telah menjadi kolam, sisa kegiatan tambang batu sejak awal tahun 2000-an.

Di Desa Kendan, dilaporkan terjadi gerakan tanah. Akibat struktur dan keadaan batuan penyusunnya belum terkonsolidasi dengan baik, dilaporkan terjadi gerakan tanah (longsor), di Nagreg dan sekitarnya. Terakhir terjadi pada 19 Mei 2025, di Kampung Gunung Batu, Nagreg. Menyebabkan kerusakan material/bangunan dan korban manusia.

Ke arah timurnya, terlihat morfologi kubah lava (lava dome), Sangianganjung-Kendan. Didapati batuan amorf (obsidian). Bersisipan dengan batuan yang telah lapuk terkena hidrothemal. Sebarannya melimpah di TPU Legok Nangka, di dinding perbukitan yang dikupas untuk pembangunan tempat sampah metode open dumping. Dalam kajian arkeologi, didapat beberapa situs dan tinggalan budaya obsidian megalitik hingga Sunda Klasik.

Hasil letusan gunungapi memberikan berkah, menjadikan tanahnya subur. Sehingga pasca undang-undang agraria 1870, mendorong pertumbuhan perkebunan swasta di kawasan ini. Diantaranya perkebunan dan produksi minyak sereh 1901-an. Struktur bangunan pabrik dan cerobong asapnya masih bisa disaksikan saat ini.

Dari peta lama, memberikan keterangan bahwa sekitar Nagreg hingga Balubur Limbangan bagian utara ditempati oleh perkebunan. Tanaman yang diusahakan adalah sereh, untuk diambil minyaknya. Ditandai dengan sisa bangunan pabrik pengolah minyak sereh di sekitar Nyalindung, Nagreg. Berupa sisa struktur bangunan, ditandai dengan masih berdirinya cerobong asap penyulingan minyak. Tingginya sekitar 15 meter, struktur cerobong disusun oleh batu bata merah. Menurut keterangan warga, sudah beroperasi sejak masa kolonial. Diperkirakan sekitar tahun 1920-an, kemudian selepas kemerdekaan diambil alih oleh pengusaha lokal. Beberapa keterangan menyebutkan nama M. Arsyad. Dari keterangan ibu Aisyah (68 tahun), pabrik ini ditutup karena harga minyak sereh turun. Seiring dengan biaya produksi dan ketersediaan bahan baku berkurang. Sehinga akhir tahun tujuh puluhan ditutup. Kondisi saat ini hanya menyisakan cerobong, kemudian di sebelah utaranya masih bisa dilihat beberapa bekas struktur pondasi bangunan. Kemudian ubin yang diperkirakan masih asli, berukuran sekitar 20 x 20 centimeter. Kemudian pondasinya disusun oleh batu bata merah. Dibagian samping struktur pondasi, terlihat bak-bak penampungan air. Diperkirakan pernah digunakan sebagai pembersihan dan pencucian batang sereh. Bak tersebut menampung air yang datang dari arah utara, kemudian outletnya ke sungai yang berada di sebelah selatan pabrik. Minyak sereh yang diusahakan adalah minyak atsiri, hasil dari ekstrak tanaman serai/ sereh (cymbopogon), dengan metode destilasi uap.

Tujuan selanjutnya ke Statsiun Nagreg. Pada papan nama statsiun, dituliskan elevasi +848 meter dpl. Dengan demikian merupakan titik statsiun tertinggi diantara Statsiun Cicaengka (+689 m), dan sebelah timurnya Statsiun Lebakjero (+818 m).

Perbedaan elevasi (elevation gain), antara Cicalengka dan Nagreg, sekitar 164 meter. terlihat dari posisi rel, dari arah barat kemudian sedikit naik secara bertahap ke arah timur. Titik tertingginya sekitar Pasir Karamat, sekitar +860 meter, kemudian melandai ke arah Lebak Jero. Perbedaan antara Stasiun Nagreg dan Stasiun Lebakjero lebih rendah sekitar 30 meter.

Perbedaan ketinggian ini menjadi tantangan dalam pembuatan jalur lintasan kereta api dari Cicalengka ke arah timur. Pada saat pembangunan jalur timur Bandung, Cicalengka merupakan stasiun terminus. Merupakan stasiun paling ujung timur yang memisahkan Bandung dan bagian timur. Stasiun ini diresmikan 10 September 1884, satu zaman dengan peresmian Stasiun Bandung. Pembangunan lanjutan lintasan ke arah timur, dilakukan segera. Mengingat dibutuhkannya akses menuju timur, melalui Nagreg. Jalur kereta api kemudian dikerjakan pada 1887. Pembukaan jalur Nagreg ke Lebak Jero, secara teknis sulit karena harus membobok Pasir Karamat. Disusun oleh lava masih dan tebal, dikerjakan secara manual. Menggunakan linggis, pahat dan alat sederhana lainya. Dicirikan dengan jejak penggunaan linggis, pada dinding tebing. Pembukaan jalur berupa celah yang dibobok, dengan tinggi sekitar 5-7 meter. Kemudian pada 1889 Stasiun Cicalengka menjadi lintasan dari Bandung ke Garut. Kemudian 1893, dilalui jurusan Bandung-Tasikmalaya.

Di Bagian puncak Pasir Karamat, didapati bunker. Berupa struktur bangunan dengan berbagai ukuran. Terdapat empat struktur bangunan, berjajar utara-selatan. Dibuat dari beton, dengan tebal hampir 90 cm., tanpa tulangan besi. Bentuknya seperti kubah memanjang, dilengkapi pintu dengan lebar 100 cm. terbuat dari besi. Keberadaan daun pintu sudah hilang, meninggalkan bekas engsel yang dibongkar paksa. Diperkirakan bunker ini merupakan sistem pertahanan militer, di sebelah timur Bandung. Memanfaatkan tinggian, sebagai titik strategis untuk mengamati pergerakan serangan dari arah timur. Melalui celah sempit yang diapit oleh Pasir Ciwulung sebelah utara, dan Pasir Karamat-Citiis di sebelah selatannya.

Di puncak Pasir Karamat ini, pemandangan luas membentang. Ke arah timurnya dibatasi oleh lembah Pasir Citiis. Dilintasi oleh jalur kereta api sepanjang kurang lebih 200 meter. menghubungkan Nagreg ke Lebakjero.

Sebelah utaranya terlihat kerucut, berlomba-lomba menghiasi kompleks gunungapi purba Kenda. Sistem gunungapi yang ditempat oleh kubah lava, dibatasi Nagreg sebelah barat, dan Simpenan sebelah baratnya. Diduga merupakan pusat letusan gunungapi Kendan-Sangianganjung.

Cerobong asap, peningalan pabrik pengolahan sereh di Nagreg.
Tapak linggis, pembobokan Pasir Karamat. Jalur keretaapi Nagreg-Lebakjero.
Bagian interior bunker Pasir Karamat
Struktur bunker, dengan latar G. Kaledong.

Catatan Peluncuran Geourban Emagz dan Diskusi Wisata Alternatif

Telah dilaksanakan kegiatan peluncuran Geourban Emagazine, majalah popular yang merangkum informasi wisata bumi. Kemudian kegiatan lanjutkan dengan paparan dan diskusi seputar wisata alternatif. Dilaksanakan di ruang pertemuan, Sekretariat Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Jawa Barat.

Terletak di Jalan Tamblong Nomor 8 Bandung, pada tanggal 19 Mei 2025. Dihadiri oleh 50 orang, berasal dari beberapa latar belakang. Diantaranya dari asosiasi pemandu pariwisata, biro perjalanan wisata, akademisi, pegiat wisata, pengelola desa wisata, dinas pemerintahan daerah kota Bandung, pelaku pariwisata dan media. Berlangsung dari pukul 9.00 wib, hingga berakhir pkl. 13.00 wib.

Kegiatan dibuka oleh Deni Sugandi, selaku pihak penyelenggara acara. Menyampaikan latar belakang penerbitan majalah elektronik ini. Tujuannya adalah menghimpun data pariwisata yang berbasis wisata bumi. Disebut Geourban Emagazine, untuk penerbitan pertama Edisi 1 Nomor 1 Bulan Mei 2025. Di dalamnya memuat rubrik profile, objek wisata bumi, resensi buku, dan tulisan-tulisan tentang wisata bumi. ditulis oleh anggota dewan redaksi dan kontributor. Penulisannya menggunakan gaya bahasa populer. Penerbitan pertama ini merupakan rangkaian penerbitan seri edisi, direncanakan terbit tiga kali dalam satu tahun.

Materi berupa file, bisa diunduh di: https://pgwi.or.id/geourban-emagz/ Majalah ini diperuntukkan bagi praktisi pariwisata, pelaku hingga umum. Memperluas wawasan dan pengetahuan, khususnya tema-tema yang berkaitan dengan pengetahuan dan informasi wisata bumi. Kelahirannya digagas oleh Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Dewan Pengurus Nasional. Duduk sebagai Ketua Dewan Redaksi adalah Deni Sugandi. Kemudian Anggota Redaksi diantaranya; T Bachtiar, Malik Ar Rahiem, Diella Dachlan Gangan Jatnika, Jeani Jean, Andi Lala, Andrias Arifin, Ricky Nugraha. Nama-nama tersebut merupakan pegiat, pelaku hingga pelaku wisata khususnya wisata bumi.

Dalam sambutan acara ini, Daniel G. Nugraha selaku Ketua ASITA Jabar menyampaikan beberapa hal. Dalam sambutannya mengatakan pentingnya kolaborasi antara pemandu wisata dan operator usaha perjalanan wisata. Dalam pertemuan ini, Daniel berharap pertemuan ini adalah memperluas jejaring pelaku industri pariwisata. Dengan demikian akan timbul kesepahaman antara pemandu wisata, pengelola objek wisata dengan jaringan usaha perjalanan wisata yang bernaung di bawah ASITA.

Sambutan ke-dua disampaikan oleh Bintang Irawan. Sangat menyambut baik, perlunya jaringan kerjasama yang tidak hanya bersifat formal. Tetapi bisa juga dihadirkan dalam bentuk kunjungan lapangan. Dengan demikian para usaha perjalan wisata bisa melihat langsung produk yang akan dikemas dan dijual. Bintang adalah Ketua HPI DPC Kota Bandung, selalu mendorong anggotanya untuk bisa bersanding dan berdaya jual. Terutama dalam menghadapi industri pariwisata nasional yang semakin kompetitif. Dengan demikian diperlukan kualitas pemandu yang berdaya saing, profesional dan mampu merancang perjalanan wisata. Dengan demikian, Bintang berharap anggotanya memiliki kualitas.

Sambutan berikutnya ditutup oleh perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, diwakili oleh staf dinas. Menyatakan bahwa pemerintah siap mendukung pengembangan wisata di wilayah Kota Bandung.

Setelah pembukaan, dilanjutkan dengan pemaparan oleh tiga narasumber. Diawali oleh Budi T Assor, menyampaikan pengalamannya menyelenggarakan paket wisata alternatif. Disebut Desa Tour, tema wisata yang berbasis tentang aktivitas warga di desa. Budi menuturkan bahwa paket wisata seperti ini menjadi primadona pada awal tahun 90-an. Sebagai alternatif wisata bagi wisatawan overland (wisata antar kota di pulau Jawa). Ditawarkan kepada wisatawan inbound/asing, sebagai wisata opsional pada saat free progam di Bandung.

Desa Tour dikerjakan oleh Budi Assor, Harry Sukhartono dan Felix Feitsma. Ketiganya merupakan pemandu wisata overland (tour guide), aktif sejak akhir tahun 80-an hingga kini. Destinasinya sekitar Bandung selatan, seperti sekitar Soreang-Ciwidey, atau berkunjung ke padepokan seni Wayang Jelekong, Baleendah, Kabupaten Bandung. Muatan materi yang disampaikan dalam kegiatan pemanduan, seputar perilaku hingga adat masyarakat kampung. Budi menceritakan kemampuan Felix untuk menguraikan cerita, dari objek yang sederhana menjadi menarik. Durasi kunjungannya mulai dari setengah hari (pagi ke siang), hingga satu hari penuh.

Pemaparan ke-dua disampaikan oleh T Bachtiar. Pendiri komunitas Geotrek Matabumi, hadir sejak tahun 2010. Berawal dari kegiatan alumni Jurusan Pendidikan Geografi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), kemudian berkembang menjadi komunitas populer. Kegiatannya berbasis wisata bumi, berupa jalan-jalan dengan tema dan lokasi kunjungan tertentu.

Bachtiar memaparkan potensi wisata bumi di sekitar perbukitan karst Citatah. Selain bentang alamnya memikat, kawasan ini memiliki sejarah bumi. Membentang dari 25 juta tahun yang lalu, berupa endapan batuan sedimen. Disusun oleh batuan karbonat, dari pengendapan hewan dan tumbuhan laut pada saat sebagian besar pulau Jawa tenggelam di bawah permukaan laut. Diantaranya ditemui bukti berupa fosil hewan laut, tertanam di batuan karbonat. Ditemukan disekitar lokasi pemanjatan di tebing 125, berupa fosil dengan ukuran tidak lebih dari 15 cm. Disebut siput racun (Conus geographus), keberadaanya masih bisa ditemui pada saat ini. Melalui komunitasnya, Bachtiar sudah beberapa kali menyelenggarakan kegiatan geotrek sekitar Citatah. Terakhir menggunakan mobil jenis off-road, dengan tujuan mengenalkan wisata bumi yang dikolaborasikan dengan aktivitas petualangan.

Bachtiar menegaskan, objek wisata bumi tersebut perlu dibunyikan melalui kegiatan interpretasi. Sehingga mampu dijual dalam bentuk paket wisata bumi, berkualitas dan memberikan pengalaman kepada wisatawan. Dalam kesempatan berikutnya, Jenni Jean menyampaikan wisata alternatif Braga Bandros Mistery. Paket wisata seputar kawasan kota Bandung, dengan tema berkaitan dengan cerita tidak biasa. Mengungkap tentang urban legend, mitos yang beredar dimasyarakat hingga misteri kota. Paket wisata ini dilaksanakan pada malam hari, hingga tengah malam. Menurut pengelola, hingga kini jumlah antrian wisatawan selalu meningkat. Mengingat wisata alternatif ini belum pernah ada, sehingga selalu menarik perhatian.

Untuk mengupas kisah misterinya, dalam kegiatan wisata malam ini, didampingi interpreter spesial. Individu yang mampu membaca energi, kemudian direfleksikan melalui ekspresi tubuh. Jenni menjelaskan, perlu alat bantu elektronik, untuk mendeteksi hadirnya energi. Disebut EMF, memiliki indikator melalui lampu LED. Setiap warna yang muncul di EMF tersebut, memberikan informasi lonjakan energi yang hadir.

Selain itu digunakan pula alat bantu, berupa kamera yang mampu menangkap suhu atau temperatur. Disebut thermal imaging, berupa perangkat yang disambungkan ke kamera pintar. Melalui citra yang dihasilkannya, akan memperlihatkan warna bervariasi. Merah menandakan panas, dan sebaliknya warna gelap menandakan dingin.

Penyampaian ketiga narasumber tersebut, ditutup dengan diskusi. Beberapa partisipan menyampaikan pertanyaan, seputar materi yang telah disampaikan. Diantaranya adalah tentang pengembangan wisata alternatif tersebut. Dalam penutupan, Daniel mendorong anggota Asita Jabar untuk menangkap peluang ini. Karena para pengusaha perjalanan wisata memiliki jaringan nasional, hingga luar negeri. Dengan demikian memiliki pasar yang perlu yang luas, dengan memanfaatkan potensi lokal. Dikemas dalam bentuk wisata yang layak jual.

Dengan demikian forum ini diharapkan menjadi sarana silaturahmi, jembatan yang menghubungkan biro perjalanan wisata dengan profesi pemandu wisata. Diharapkan mampu mendorong kunjungan wisatawan inbound maupun domestik.

Catatan Geourban#36 Tenjolaut

Dalam kegiatan penelusuran sejarah Sumedang Larang, dibagi ke dalam beberapa kali perjalanan. Dibungkus dalam wisata bumi, menapaki kembali hubungan antara dinamika bumi, sejarah manusia yang hadir di atasnya dan ekologi yang berkembang. Dalam kesemapatan wisata bumi kali ini, mendatangi tempat yang pernah menjadi puseur dayeuh atau ibukota Sumedang Larang. Pusat pemerintahan kabupaten, saat berada di bawah kekuasaan Mataram Islam. Lokasi yang dikunjungi adalah sekitar Tenjolaut, Desa Padaasih, Kecamatan Conggeang.

Tenjo adalah melihat atau memandang,  sehingga menarik makna tenjolaut adalah satu tempat yang bisa melihat laut. Seperti yang diterapkan pada Dusun Tenjolaut, Desa Padaasih, Sumedang.

Dari beberapa keterangan, makna tersebut bisa diartikan dalam dua pengertian. Makna toponiimi yang pertama seperti yang diuraikan di atas, sedangkan arti kedua bisa disejajarkan dengan genang lkaut dimasa lalu. Lautan yang luas yang terbentuk dimasa lalu, saat sebagian besar Sumedang berada di bawah permukaan laut.

Bukti Tenjolaut di Desa Padaasih perah di bawah laut gambarkan dalam Peta Lembar Geologi Arjawinangun (Djuri, 2011). Menuliskan bahwa sebagian besar Padaasih, disusun oleh Anggota Batulempung Formasi Subang. Diendapkan pada saat kondisi laut dangkal, dengan kemungkinan adanya napal yang ikut teredapkan. Pengendapannya menghasilkan batulempung berlapis, dengan tebal 2900 meter. Selaian memiliki narasi sejarah lahirnya wilayah, Pasir Tenjolaut merupakan bukti bahwa sebagian besar Sumedang masih tenggelam di bawah laut. Seiring waktu, akibat kegiatan tektonik akhirnya terangkat ke permukaan, hingga setinggi 326 meter dpl.

Masyarakat menyebutnya Bukit Pasir Putih. Bukit yang biasa disebut pasir dalam bahasa Sunda, tetapi dalam makna disini berarti butir pasir. Sehinga diartikan bukit yang disusun pasir dan berwarna cenderung putih karena kontras dibandingkan lingkungan sekitarnya.

Berupa perbukitan, bagian dari lereng G. Tampomas di arah baratnya. Sehingga perbukitan ini posisinya lebih tinggi dan landai ke arah timur. Kondisi topografi demikian, menjadi tinggian yang terbuka ke arah timur dan utara. Sehingga pendiri dusun Tenjolaut masih bisa menyaksikan garis pantai utara, sekitar Indramayu. Sedangkan Cirebon tertutup oleh kerucut G. Cereme.

Bukit Pasir Putih Tenjolaut atau Pasir Tenjolaut (pasir adalah bukit), seiring waktu tererosi oleh air. Diaantaranya mengali sungai-sungai yang mengalir dari barat ke timur. Seperti Ci Bodas yang berada di sebelah selatan Tenjolaut. Kemudian Ci Pelang yang bergabung dengan Ci Paray di Batukarut. Sungai-sungai tersebut mengerosi batuan yang sifatnya mudah lapuk, sehingga terbentuk lembah-lembah dan jurang yang dalam. Dampak erosi yang terus terjadi hingga kini, diantaranya perubahan bentuk lahan, air cenderung keruh dan pendangkalan sungai. Longsor terjadi di dusun Batukarut, Desa Padaasih. Terjadi pada 22 November 2022 melalui laman sosial media desa https://www.instagram.com/p/ClQZnvPytm8/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA== Dampaknya adalah hampir 30 hektar sawah tidak mendapatkan pengairan.

Akibat batuan penyusunnya dalah batulempung berlapis, menyebabkan sering terjadinya gerakan tanah. Seperti yang terlihat di Pasir Tenjolaut, membentuk bidang longsor setengah lingkaran. Mekanisme gerakan tanahnya adalah nendatan, bergerak lambat akibat kenaikan muka air tanah. Selain itu sifat batuan ini memiliki permeabilitas yang buruk, tidak mampu meloloskan air. Sehingga beberapa sungai akan meluap, bila terjadi hujan besar dihulu.

Keterdapatan sumber mata air diwilayah ini, berasal dari daerah imbuhan di sebelah barat. Merupakan dataran tinggi dan perbukitan, lereng G. Tampomas. Batuannya disusun oleh endapan vulkanik, sehingga memiliki sifat batuan pembawa air. Syarata inilah salah satu alatan pemindahan kerjaan Sumedang Larang abad ke-17.

Tenjolaut merupakan dataran rendah, dikelilingi oleh pesawahan. Pada abad ke-17 akhir, menjadi ibu kota Kabupaten Sumedang, pada saat pemerintahan Raden Bagus Weruh. Dinobatkan menjadi bupati Sumedang 1633 – 1656, dengan gelar Rangga Gempol II. Ibu kota pemerintahannya dialihkan dari Timbangante ibu kotanya di Tegalluar (saat ini Kabupaten Bandung) ke Tenjolaut, Conggeang, Sumedang.

Pengalihan pusat pemerintahan tersebut, merupakan kelanjutan penangkapan Dipati Ukur pada 1633 di Gunung Lumbung Cililin. Dari wilayah inilah Rangga Gempol II memerintah, melanjutkan kekuasaan Kabupaten Sumedang yang dipimpin Rangga Gede.

Dampak lainya dari pemberontakan Dipati Ukur, 1633 Agung dan penerusnya Amangkurat I, mereorganisasi wilayah priangan. Dengan mempersempit wilayah Sumedang dengan membagi wilayahnya menjadi kabupaten pemekaran. Diantaranya Kabupaten Bandung, Sukapura dan Parakanmuncang.

Selain itu, melalui kebijaksanaan Amangkurat I pada 1641 (suksesi dari Sultan Agung) menghapus fungsi Bupati Wedana. Sehingga Rangga Gempol II, memiliki jabatan yang sama dengan bupati lainya. Kondisi demikian yang menyebabkan Rangga Gempol II kecewa, hingga 1656 mengundurkan diri. Dilanjutkan oleh puteranya bergelar Pangeran Panembahan, diangkat menjadi Rangga Gempol III. Tokoh kontroversial yang ingin mengembalikan Sumedang sebagai kerajaan berdaulat.

Dari informasi kepercayan masyarakat, penamaan Tenjolaut berhubungan dengan kondisi bentang alam. Menurut cerita orang tua, kawasan ini sebelumnya pernah ditempati laut dalam. Sedangkan pendapat lainya, dari lokasi ini bisa melihat patai utara, di balik G. Ciremai. Keberadaan bukti laut dalam, bisa ditemui di bukit Pasir Putih Tenjolaut di Blok Jukut. Berupa perbukitan yang disusun oleh Anggota Batulempung Formasi Subang (Tms). Berupa batulempung mengandung lapisan batugamping napalan abu-abu tua, batugamping. Setempat ditemukan sisipan batupasir glukonit hijau (Djuri, 2011).

Selain itu, sekitar wilayah ini ditempati pesawahan yang luas. Menempati hampir semua bagian Conggeang. Total luas wilayah Conggeang sekitar 65,36 km2 (BPS Sumedang, 2016). Pembukaan sawah sudah dilakukan, saat Sumedang berada di bawah kekuasaan Mataram (1620). Dengan cara alih teknologi orang-orang Banyumas ke Conggeang, dan perluasan sawah disertai pembangunan sistem irigasi, seiring dengan pembukaan lahan. Mengkonversi hutan menjadi sistem sawah. Ekstensi sawah tersebut sebagai strategi penguatan pangan, dilakukan Mataram dalam mendukung ekspansi wilayah ke Jawa bagian barat.

Situs Patilasan Bupati Sumedang, Rangga Gempol II di Tenjolaya, Padaasih.
Bongkah lava di jalan menuju Pasir Tenjolaut.
Pasir Tenjolaut, disusun batulempung.
(sungai) Ci Pelang yang mengerosi batulempung Formasi Subang.

Catatan Podcast SOS-PGWI

Pada awal kelahirnnya podcast adalah streaming radio, hasil obrolan. Disiarkan dalam media daring (online), dengan tema yang beragam. Dengan tujuan penyampaian pesan, melaui penyiaran. Seperti yang dilakukan oleh Sangkuriang Outdoor Service, disingkat SOS. Menggagas kegiatan penyiaran melalui media daring, dengan tema-tema yang dekat dengan kegiatan aktivitas alam bebas.

Pada tayangan ke-dua, berkolaborasi dengan asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia/PGWI. Mengetengahkan tema yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam, melalui aktivitas pariwisata. Dilaksanakan di café SOS di venue Ski Air, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Dilaksanakan pada tanggal 16 Februrari 2025, pukul 16.00 WIB.

Narasumber yang hadir diantaranya Deden Syarif Hidayat, penggerak Forum Pemuda Peduli Karst Citatah/FP2KC. Kemudian M. Rizky Hardjadinata atau biasa dipanggi Mang Ciko, pegiat wisata bumi di kawasan Saguling. Kemudian Zarindra Arya Dimas, pegiat wisata bumi keahlian geologi. Kemudian dihantarkan oleh Deni Sugandi dan Kang Ogi selaku moderator.

Perbincangan dibuka oleh Ogi, menyampaikan awal mula kegiatan podcast. Merupakan agenda rutin yang dilaksanakan oleh SOS, sebagai sarana silaturahmi dan diskusi dengan topik berkaitan dengan kegaitan alam bebas. Kemudian Deni mengantarkan tema podcast, membatasi pada diskusi yang berkaitan antara sumber daya alam Citatah dan pemanfaatannya melalui pariwisata.

Kondisi Citatah, Padalarang yang terus digempur kegiatan tambang akan berpotensi menghilangkan bentuk alam. Kegiatan ekstraktif ini sudah terjadi dari sejak masa kolonial, terus berlangsung hingga kini. Kawasan yang memiliki luas 10.320 Ha, sebagian besar ditempati oleh perbukitan karst. Sehingga menjadi potensi hasil tambang terbesar di Jawa Barat. Penghilangan bentuk alam dan dampaknya telah terasa, diantaranya adalah beberapa kerucut perbukitan telah hilang. Dampak lainya adalah polusi kegiatan pembakaran kapur, berkurangnnya mata air, hingga dampak bawaan lainya.

Pemanfaatan sumber daya alam ini bisa dilakukan dengan cara lain, tanpa merusak atau menghilangkan bentuk lahan. Seperti yang telah berlangsung saat ini, seperti wisata petualangan pendakian, hammocking, hingga wisata berbasi narasi kebumian. Aktivitas tersebut adalah pilihan yang tersedia, dengan tujuan tanpa penghilangan bentuk bentang alam (non-tambang), edukasi hingga pemamfaatan ekonomi oleh warga lokal.

Tiga pilar tersebut menjadi dasar pengembangan pariwisata berkelanjutan, sehingga menjadi cara terbaik untuk memanfaatakan sumber daya alam tanpa harus menambang. Pilihan tersebut telah diikhtiarkan sejak dahulu, dalam bentuk aktivitas paket wisata.

Dalam kesempatan ini Zarindra menyampaikan sejarah bumi Citatah. Terbentuk sejak 30 hingga 22 juta tahun yang lalu. Berupa pengendapan batuan karbonat dalam kondisi laut dangkal. Pada masa tersebut, sekitar Oligosen hingga Miosen Awal, sebagian besar lingkungan bumi dalam keadaan tenang. Sehingga mendorong pertumbuhan terumbu karang, termasuk diwilayah Citatah saat ini. Kemudian lepas Miosen Akhir, atau sekitar 22 hingga 12 juta tahun yang lalu menandakan berakhirnya pengendapan karbonat. Terjadi karena penenggelaman ulang menjadi lautan dalam, sehingga diendapkanlah batuan sedimen seperti lempung danpasir didasar lautan dalam. Keberadaanya kini bisa dilihat dalam bentuk batuan sedimen berapis, batulempung dan batupasir. Dalam peta geologi lembang Bandung (Sudjatmiko, 1972), disusun oleh perselingan endapan laut dalam. Dikelompokan ke dalam Formasi Citarum, kini bisa dilihat berupa perbukitan terlipat disebelah selatan jajaran perbukitan karts Citatah.

Pada masa berikutnya, terjadi pengangkatan akiba kegiatan tektonik. Menyusupnya lempeng samudera Indo-Australia, di bawah lempen benua Euarsia. Terjadi di tepian benua sepanjang pulau Jawa bagian selatan. Kegiatan tektonik tersebut menyebabkan terjadinya perlipatan, pensesaran perbukitan yang memanjang dari muara Cimandiri, hingga ke Tangkubanparahu. Segmen tersebut menyerong baratdaya-timurlaut, disebut sistem sesar Cimandiri.

Terjadi pada Pliosen hingga Pliostosen. Antaran 5 juta hingga 700 ribu tahun yang lalu. Seiring tumbuhnya gunungapi di bagian selatan Jawa. Jajaran gunungapi aktif, muncul di bawah laut. Kemudian bergeser ke sebelah utara. bagian dari jajaran gunungapi modern.

Narasi tersebut menjadi pengantar dalam membungkus paket wisata. Seperti yang telah dilakukan oleh Mang Ciko, pemandu wisata bumi yang berdomisili di Saguling. Kegiatan wisata yang sudah berjalan dikawasan saguling, diantaranya Sanghyang Kenit, Sanghyang Heuleut dan beberapa tempat lainya. Paket-paket wisata tersebut bukan saja berkaitan dengan bentang alam, tetapi bisa dipadukan dengan aktivitas lainya.

Sekitar spill way Saguling, didapati fosil dari masa lalu. Menandakan sebagian Saguling merupakan rawa-rawa yang dihuni oleh mamalia besar. Penemuannya berupa fosil tungkai kaki kuna nil, gajah hingga mamalia lainya. Fosil tersebut tertanam dibatupasir, endapan danau purba. Wisata minta khusus ini menjadi garapan Mang Ciko, dengan menkoordinir kunjungan, menggunakan perahu milik warga.

Pilihan wisata lainya bisa dipadukan dengan kunjungan ke pasar tradisional Rajamandala. Menyediakan hasil bumi khas sekitar Saguling, hingga kuliner yang hanya bisa dijumpai dilokasi ini. Bergeser ke arah baratnya, terdapat wisata agro perkebunan durian. Kemudian wisata yang berkaitan dengan militer, diantaranya keberadaan sistem pertahanan militer masa kolonial.

Menurut Ciko, akses menuju kawasan Citatah saat ini sudah mudah. Diantarnya sudah tersedianya kereta api cepat, turun di Statsion Padalarang. Kemudian statsiun keretapi reguler di Cipatat. Sehingga aksesibilitas luar kota sudah bisa menjakau kawasan karst Citatah. Selanjunya mang Ciko menambahkan beberap objek wisata yang berbasis wisata bumi yang telah berjalan. Diantarana segmen 7 km Ci Tarum, dari bendungan hingga pintu outlet pipa pesat. Seperti Cikahuripan, kemudian ke arah hilir Cukang Rahong, curug Halimun. Kemudian lanjut hingga Sanghyang Heulit dan Sanghyang Kenit.

Dalam kesempatan berikutnya, Deden menjelaskan peran forum turut mengerakan ekonomi lokal melalui pariwisata. Melibatkan dengan masyarakat, melalui aktivasi perkebunan warga, geraka penanaman hingga pendampingan pengelolaan objek wisata. Seperti yang dilakukan oleh SOS, turut mendampingi kegiatan aktivasi wisata. Saat ini SOS sedang membangun sarana bangunan yang akan digunakan sebagai sarana bersama, meeting point dan cofffe shop. Ditargetkan diselesaikan dibulan Maret, mempersiapkan rencana Festival Panjang nasional di Tebing 125 Citatah. Begitu juga dengan PGWI, wadah silaturahmi para pemandu wisata bumi. Jejaring para pemandu yang siap bekerja dikawasan Citatah-Saguling.

Kegiatan ditutup hingga lepas magrib, dengan menyimpulkan bahwa pariwisata memberikan alternatif pemasukan daerah. Melalui wisata berkelanjutan, dengan memanfaatkn sumber daya alam tanpa merusak atau menghilangkan. Objek geowisata yang memiliki makna, arti dan sejarah kemudian dibungkus dalam narasi dan iterpretasi pemanduan wisata bumi. Para narasumber yang hadir

Dengan harapan lingkungan lestari, bumi dikonservasi sekaligus ekonomi lokal tumbuh. Disebut wisata berkelanjutan dalam bungkusan wisata bumi.

Podcast lengkapnya bisa di cek di sini: https://www.youtube.com/watch?v=KNeQFZiiZdE&t=7417s

Catatan Geourban#32 Ganeas Sumedang

Dalam laporan prakiraan cuaca, sebagian besar langit Sumedang dibawah sergapan hujan ringan. Terbukti saat rombongan Geourban mendekati kota ini, langit sepertinya ditaungi awan tebal. Temperatur sejuk, mengantarkan kegiatan ini dari pagi hingga jelang sore. Untuk mendapatkan reportase dalam bentuk video, bisa dilihat ditautan https://www.youtube.com/watch?v=U9c54fYwE-w

Sesuai dengan pernjajian di grup Whatsaap, memilih lingkar Binokasih sebagai titik perjumapaan. Selain mudah dijangkau dan dipahami, tugu ini menjadi batas terluar sebelah timur sebelum memasuki pusat kota Sumedang. Tugu yang dihiasi oleh mahkota Binokasih, simbol penerus kerajaan Sunda abad ke-16. Pada abad tersebut Kesultanann Banten semakin mendesak kerajaan Sunda yang berkedudukan di Pakuan Pajajaran (Bogor), hingga runtuh.

Jelang keruntuhan kerajaan tersebut, Raja Sunda terakhir mengirim empat utusan disebut Kadaga Lante.Tujuaanya adalah menyerahkan simbol kerajaan Sunda, agar dilanjutkan oleh Kerajaan Sumedanglarang. Diantaranya adalah mahkota Binokasih, sebagai penegas suksesi kerajaan penguasa sebagian besar Tatar Sunda. Momen inilah yang digunakan oleh raja terakhir Sumedang, untuk menyatakan kerajaan Sumedang berdaulat. Hingga kelak, sekitar 41 tahun kemudian takluk di bawah Kesultanan Mataram, sehingga Sumedang berstatus kabupaten.

Binokasih membawa rombongan Geourban ke masa kejayaan kerajaan Sumedanglarang. Dalam kegiatan sebelumnya https://pgwi.or.id/2025/01/30/catatah-geourban31-dayeuhluhur/ mengupas satu penggalan waktu, raja terakhir Sumedanglarang. Dalam kegiatan ini menggunakan kendaraan roda dua, diikuti oleh pegiat wisata, pemandu dan peminat budaya. Kendaraan melesat menembut jalan raya Sumedang, mengarah ke utara dan memotong kota. Terlihat samar-samar satu bentuk perbukitan yang menaungi kota Sumedang, dari G. Kacapi kemudian berbelok ke arah timur.

Melewati Desa Margamukti, Kecamatan Cisarua. Melalui jalanan yang menhubungkan ke Desa Ciuyah. Jalanan kelas kabupaten, membujur dari timur ke barat. Tidak lebih dari sepeminuman teh, melampaui Cirwaru dan perbukitan Pasir Ciwaru. Jalanan menyempit membelah kampung, kemudian tiba di tinggian Ciuyah. Berupa lembah yang dipotong oleh Ci Uyah. Kiri dan kanannya ditempati hamparan sawah, tumbuh subur sepanjang masa. Sebelah barat terlihat jajaran perbukitan, dihuni oleh vegetasi lebat. Hutan tersebut berfungsi sebagai daerah tangkapa air, sehingga kawasan ini tdak pernah kekeringan.

Tujuan pertama adalah fenomena mataair Ciuyah, Ds. Ciuyah. Terletak diantara sawah warga, sebelah utara dari kantor Desa. Jarak dari jalan raya desa menuju lokasi sekitar 500 meter, melaui salura irigasi. Dilakukan dengan berjalan kaki, sejajar dengan anak sungai hingga lokasi yang akan dituju. Dari pertengahan perjalanan, terlihat lembah yang dipotong sungai, memberikan indikasi adanya pola kelurusan yang dilalui sungai. Dalam laporan tim Badan Geologi KESDM (Saputra drr., 2023), survey seismisitas Gempa Sumedang 31 Desember 2023. Menemukan perkiraan sesar melalui survey lapangan dan morfotektonik. Mengintepretasi adanya pola sesar naik berarah relatif barat-timur, terpotong oleh sesar mendatar berarah timurlaut-baratdaya. Buktinya terlihat kehadiran cermin sesar sebagai sesar mendatar pada badan sungai. Kajian tersebut menindaklanjuti survey Pusat Air Tanah dan Geologi Lingkungan, Badan Geologi. Mengkonfirmasi keberadaan sumber mata air asin di tinggian Desa Ciuyah.

Keberadaan mataair ini diduga sebagai air yang terperangkap apda batuan sedimen, muncul kepermukaan karena diberi jalan oleh retakan pada batuan. Akibat adanya tekangan dari bawah, pembukaan celah yang memungkinkan naiknya fluida ke permukaan. Disebut mata air formasi atau mata air yang berasosiasi dengan batuan sedimen (connate water).

Dalam fisografis pulau Jawa, Sumedang merupakan bagian dari Zona Bogor (Martodjojo. 1984). Zona ini meliputi sebagian besar Sumedang, merupakan perbukitan lipatan yang terbentuk dari batuan sedimen laut dalam. Sehingga diperkirakan sebagian besar Sumedang masih berada di dasar laut. Seiring waktu diendapkan batuan sedimen laut dalam, berupa batupasir-batulempung pada Miosen Tengah hingga Miosen Akhir atau sekitar 23-15 juta tahun yang lalu. Seiring dengan pengendapan batuan sedimen, terdapat cekungan yang menjebak air laut pada saat itu. Pada umur Pliosen terjadi pengangkatan, diakibatkan oleh tektonik. Mengakibatkan pendangkalan dan pensesaran, seperti yang diduga hadirnya sesar Ciuyah.

Mata air tersebut muncul ke permukaan, berasosiasi dengan sesar. Air yang berada jauh di kedalaman lebih dari 1000 meter di bawah permukaan, disebut air formasi (connate water). Debitnya tidak terlalu besar, rasanya asin dan tidak mengindikasikan kenaikan temperatur. Merupakan rembesan, dicirikan dengan munculnya gelembung. Tingkat kegararamannya mendekati air laut, dengan pH 6,7 (Survey PAGTL, 2023).

Di lokasi tersebut ditemukan dua sumur, dibuat oleh pemilik lahan dengan tujuan untuk kegiatan ritual atu pengobatan. Dari informasi warga, lokasi ini sering dikunjungi pada waktu tertentu, sebagai sarana penyembuhan dari penyakit. Beberapa pengunjung melaksanakan niat untuk mandi atau sekedar membersihkan diri. Dengan demikian pemilik lahan memasang kain penutup warna putih, disekeliling sumur mata air Ciuyah. Bahkan beberapa pengunjung menyempatkan mengambil air, sebagai sarana penyembuhan.

Perjalanan ke arah timur, menemui situs Batukuya, Ds. Cimara. Blok batuan yang jatuh dari puncak Pasir Pabeasan. mengendap di sawah warga. Akibat pelapukan, membentuk seperit kura kura. Menurut warga, batu tersebut menjadi penghias alam namun ada juga yang mempercayai sebagai situs ritual.

Berada diantara sawah warga, Desa Cimara, Cisarua, Sumedang. Disebut kuya atau kura-kura dalam bahasa nasional, karena mirip dengan binatang reptil tersebut. Dicirikan dengan adanya rumah atau batok seperti kubah, dan kepala yang menjulur keluar.

Dari ukurannya cukup besar, panjang sekitar 2 meter, dan lebar 1 meter. Tingginya tidak lebih dari 90 cm. Dari sekilas pengamatan, disusun oleh batuan beku. Sumbernya diperkirakan dari bukit yang berada di sebelah tenggara dari Pasir Pabeasan. Akibat kegiatna pelapukan tingkat lanjut, mementuk blok batuan yang jatuh kemudian mengendap diantara pesawahan. Sebagian besar telah mengalami pelapukan, membentuk rekahan-rekahan. Batuan penyusunnya bagian dari Pasir Pabeasan, ditaksir sebagai batuan intrusi batuan beku. Warna batuan abu-abu cerah, mengindikasikan jenis andesitik.

Dari keterangan warga, keberadaan batu Kuya ini awalnya ada di atas perbukitan. Kemudian pindah ke arah lereng, diantara sawah warga. Posisinya berada sekitar 50 meter dari jalan Desa Cimara.

Mendaki ke arah barat, mendekati puncak Pasir Pabeasan. Didapati singkapan batuan beku tebal, tegak dan tetutupi oleh hutan bambu. Berupa perbukitan intrusi batuan beku, membentuk gawir terjal setinggi 10 meter. Berupa lava tebal yang telah mengalami pelapukan dan terdeformasi. Membentuk struktur kekar lembar dan bidang-bidang rekahan. Diantaranya didapat ceruk yang dipercayai sebagai sarang macan, atau disebut liang meong. Ukuran lubangnya memiliki lebar sekitar 1 meter dan tinggi 1,5 meter, berupa lorong kecil. Keberadaanya kini ditutup oleh warga, dengan cara ditimbun dengan menggunakan tanah yang diambil dari sekitar gua. Menuju lokasi tersebut, melaui pesawahan warga, kemudian mendaki mengikuti kontur lereng hingga kearah puncak perbukitan.

Di bagian puncak perbukitan tersebut, ditemui situs Pasir Pabeasan. Situs yg kepercayaan/agama nenek moyang. Berupa batu tegak, disusun diantara bongkahan batuan. bentuk demikian bisa ditafsirkan sebagai matu menhir.

Perjalan dilanjutkan ke arah selatan, menyeberangi Ci Peles di daerah Cibangkong. Kemudian dilanjutkan ke arah jalan raya Wado, berbelok ke arah timur dan mengambil jalan desa Cibogo. Pintu masuk berada diobjek wisata Bale Citembong Girang, dilanjutkan berjalan kaki sekitar 15 menit ke arah selatan.

Keberadaa situs Pasir Kabuyutan, masuk ke dalam wilayah Desa Ganeas. Disebut Situs Kabuyutan Citembong Girang. Sistem religi nenek moyang, berupa susunan batuan dengan berbagai ukuran. Ditata menyerupai altar. Menurut warga sudah digunakan oleh raja Sumedang pertama, sekitar abad ke-8. Berada dilereng perbukitan, dicirikan dengan keberadaan pohon beringin Ficus benjamina yang tinggi menjulang. Diperkirakan umurnya ratusan tahun, dengan akar yang menjalar kesegala arah.

Keberadaan pohon beringin selalu dikaitkan dengan tempat sakral. Dibeberapa kebudayaan dipercaya sebai tempat tinggal roh nenek moyang, memiliki keukuatan mistis sehingga sering digunaan sebagai tempat ritual.

Lokasi penutup berkunjung ke Situs Batu Guling. Desa Kaduwulung. Ditemui beberapa blok batuan, berupa breksi lahar hasil kegiatan gunungapi. Dari keterangan warga, batuan tersebut dijatuhkan dari perbukitan Dayeuhluhur. Dengan tujuan untuk menghancurkan pasukan Cirebon yang berusaha menyerang dari arah timur. Terjadi pada saat penyerangan Cirebon ke Dayeuhluhur, pada tahun 1585. Blok batuan tersebut digulingkan, kemudian mengendap disekiar Desa Kaduluwung, menjadi situs disebut Batu Gulung.

Blok batuan beku berbentuk kuya (kura-kura)
Situs Pasir Pabeasan
Situs Kabuyutan Citembong Girang