Catatan Geourban#10 Palintang

Matahari beranjak dari batas horison, diiringi cuca cerah. Langit biru dihiasi awan berarak, tertiup angin ke arah barat. Kondisi cuaca baik tersebut mengantarkan kegiatan Geourban ke-10 di daerah tinggi Pasir Kunci. Dari titik tinggi ini bisa melihat bentang alam Bandung Raya, dicirikan dengan bentuknya seperti baskom terbalik. Disebelah barat terlihat jajaran perbukitan intrusi G. Lagadar-Sela Cau. Perbukitan intrusi batuan beku di Cimahi Utara. dengan umurnya pembentukannya lebih dari 4 juta tahun. Kemudian bila melemparkan mata ke arah selatan, terlihat punggungan G. Koromong-Geulis yang menghubungkan antara Baleendah disebelah timur, dan Ciparay disebelah barat. Dibagian belakang punggungan perbukitan itrusi tersebut, terlihat megah G. Malabar. Kemudian sedikit ke arah timur, terlihak kerucut-kerucut kelompok gunungapi Garut.

Sebelum Bandung lahir, disebelah timur wilayahnya disebutkan dalam peta lama sebagai Oedjoengbroeng. Dibagi dua wilayah utara dan selatan pada saat di bawah pengaruh Mataram, kemudian batas administrasinya ditata ulang menjadi wilayah timur dan barat seiring pembukaan jalan Raya Pos (1810). Sebagian besar wilayahnya saat itu meliputi kota Bandung dan Ujunberung saat ini.  Pembukaan sarana jalan utama yang mengbungkan timur-barat Jawa, mendorong industri  dan budidaya kopi. Pembangunan jalan Raya Pos melalui priangan tengan karena alasan ekonomi, yaitu mengangkut produk pertanian kopi di wilayah Priangan (Hartatik, 2018).

Kegiatan Geourban ke-10 ini adalah melanjutkan tema di Geouban sebelumnya. Di Geourban ke-9 menelusuri kembali jejak Muras Gegerhanjuang, hingga ke dataran rendah Ciparay sampai batas Ci Tarum. Jauh sebelum kota Bandung bergeser dari tepi Ci Tarum (Krapyak) ke sebelah utara, telah hadir peradaban disebelah timur disebut Ujungberung (Widjaya, 2009). Penguasa wilayahnya diatur dalam sistem pemerintahan daerah setingkat bupati. Dipati Ukur menjabat adipati di Tatar Ukur dan menjabat sebagai bupati wedana di Priangan (1627-1733), mengalami nasib yang malang. Ia harus menanggung pencopotan sebagai bupati wedana dan hidup berpindah-pindah, setelah adanya perselisihan dengan Mataram (Lismiyati, 2016). Jejak pelariannya selain di Culanagara, Gunung Leutik ke sekitar Ciparay, bergeser ke arah utara. Diperkirakan berada di sekitar  perbukitan yang diapit oleh Ci Panjalu dan Ci Patapaan, sekitar wilayah kampung Palintang saat ini.

Kegiatan diikuti oleh belasan partisipan, dengan latar belakang beragam. Pegiat wisata, pemerhati lingkungan, pelajar, akademisi hingga pemandu wisata. Titik pertemuan dimulai di sekitar dataran tinggi Ujungberung, di Kampung Wisata Pasir Kunci di Pasirjati, Kecamatan Ujungberung. Fasilitas destinasi wisata yang dikelola oleh pemerintah kota Bandung, melalui Dinas Parwisata Kota. Destinasi berupa amfiteater yang diperuntukan untuk kegiatan wisata budaya, diantaranay seni tradisi Benjang dan sebagainya. Dari titik ini, kegiatan dibuka dengan penyampaian tetang rencana perjalanan. Dikegiatan Geourban ke-9 ini menapaki kembali sejarah peradaban Sunda Klasik, diantarnya penemuan arca dari budaya pendukung polinesia, higga Sunda Klasik. Diantaranya penemuan arca bentuk membundar khas budaya polinesia, hingga praIslam berupa arca Hindu-Budha.

Disekitar dataran tinggi Ujungberung, dilereng sebelah barat G. Manglayang, diusahakan menjadi wilayah budidaya kopi. Dikerjakan oleh Andreas de Wilde, seiring dengan pembukaan pembukaan jalan Raya Pos 1810. Jalan raya yang dibangun oleh penguasaan koloni Inggris di Hindia Belanda, degan tujuan membukan jalur ekonmi di priangan tengah. Titik kunjungan terakhir adalah mengunjungi situs budaya sekitar Palintang atas, berupa patilasan.

Di wisata Pasir Kunci, Deni Sugandi memberikan pengantar mengenai Cekungan Bandung. Dari titik terlihat Bandung bagian timur, didominasi oleh dataran rendah aluvial. Ditempati oleh pesawahan yang melampar dari barat ke timur. Dari sebelah utara dibatasi oleh kaki gunung Manglayang, kemudian di sebelah selatannya dibatasi oleh Ci Tarum. Wilayah tersebut merupakan sisa pengeringan pascaDanau Bandung Purba. Danau yang terbentuk setidaknya sekitar umur Kuarter, kemudian mulai mengering antaran 20.000 hingga 16.000 tahun yang lalu (Dam, 2004). Dalam proses pengeringan tersebut, meyisakan rawa yang luas, disekitar wilayah Ujungberung saat ini. Batas bagian timurnya adalah sekitar Cibiru, sebelah baratnya sekitar Cijambe. Rawa tersebut disebut Muras Gegerhanjuang. Gan-Gan Jatnika turut memberikan penafsirannya, mengenai budaya yang lahir didataran Bandung bagian timur. Gan-Gan menjelaskan tentang  sejarah pelarian Dipati Ukur, mulai dari perbukitan di Balendah, hingga berlanjut ke sekitar dataran tinggi Palintang. Diantaranya adalah lokasi yang akan dikunjungi, yaitu situs budaya Patapaan.

Dari titik Pasir Kunci, bila melemparkan arah ke sebelah utara, terlihat dua kercut G. Palasari dan G. Manglayang. Dua gunungapi yang pernah aktif kemudian padam. Dicirikan dengan endapan material berupa piroklastik, tuff dan lava di sekitar lereng gunung tersebut. Dititik kunjungan kedua adalah melihat kembali sejarah pembentukan dan letusan G. Manglayang. Dari tepi jalan penghubung Ujungberung ke Palintang, merupakan titik terbaik untuk melihat bentang alam dua gunung tersebut. Dari titik ini Deni menjelaskan bagaimanan G. Manglayang terbentuk. Gunungapi umur Kuarter ini setidaknya terbentuk melalui dua fase kejadian, sebut saja pembentukan Manglayang Tua, dan Manglayang Muda. Dua fase tersebut bisa dilihat dari bentuknya, berupa satuan punggungan kaldera G. Manglayang, dan satuan kerucut G. Manglayang.

Gunungapi tersebut saat ini telah dorman, atau sudah tidak lagi menunjukan aktivitasnya. Bila ditarik garis memanjang antara barat ke timur, menunjukan angka 2,3 km. Angka tesebut menandakan bahwa G. Manglayang merupakan masuk kedalam klasifikasi kelas kaldere, yaitu gunungapi yang memiliki radius kawah lebih dari 2 km. punggungna perbukitan kalderanya terlihat di sebelah utara, membentuk tapal kudar ke arah tenggara. Sedangkan di tengah-tengahnya tumbuh kerucut gunungapi generasi ke-dua, berupa kerucut yang disusun oleh perselingnan lava dan piroklastik. Bisa dipastikan bahwa G. Manglayang tersebut merupakan gunungapi tipe stratovolkano, dengan dua kali sejarah pembentukan. Bukti hasil letusannya bisa disaksikan hingga kini, terutama di bagian lereng sebelah timur.

Didukung oleh kondisi iklim, dataran tinggi dan tanahnya yang subuh hasil pelapukan material letusan G. Manglayang. Gunungapi hadir sejak Plistosen, kemudian menghancurkan dirinya melalui dua suksesi letusan Manglayang Tua dan Manglayang Muda (Silitonga, 1973). Jejaknya berupa punggungan kaldera, dan kerucut Manglayang. Material letusannya berupa perselingan piroklastik dan lava yang diendapkan disekitar pusat letusan. Lavanya mengalir mengisi lembah-lembah yang dierosi sungai diataranya Ci Panjalu.

Didapati aliran lava yang mengisi lembah sekitar Ciporeat. Berupa aliran lava yang telah membeku, kemudian membentuk struktur kekar lembar. Strukur tersebut dikenali dengan bentuknya yang berlembar, menandakan adanya tekanan dari atas pada saat pembekuan magma. Disebut dengan proses kontraksi, membeku dengan cara cepat. Di sekitar Curug Orok yang mengalir di (sungai) Ci Panjalu, sekitar Ciporeat masih bisa disaksikan aliran lava tersebut. Ketebalannya sekitar 10 meter, berupa dinding lava yang terkekarkan. Aliran lava yang mengisi Ci Panjalu tersebut kemungkinan merupakan produk letusan efusif G. Manglayang. Namun tidak diketahui apakaha hasil letusan G. Manglayang Tua atau Muda, sehingga perlu penelitian lebih lanjut untuk mengupas kegiatan volkanime gunungapi yang menaungi Ujungberung.

Di lokasi Curug Orok ini, mengalirlah sumber-sumber mata air dari rekahan-rekahan lava. Debitnya tidak berkurang, bersih dan tidak berbau, menandakan mata air ini bersih. Tipe sumber mata air adalah sumber mata air kontak (contact spring), airtanah dangkal yang mengalir melalui dua litologi yang berbeda. Bagian atasnya berupa endapan piroklastik sebagai bidang akifer, dan bagian bawahnya adalah lava. Dengan demikian air tersebut muncul melalui rekahan-rekahan lava, karena batuan tersebut pejal tidak memiliki porositas. Bagi masyarakat, sumber mata air tersebut dimanfaatkan sebagai air minum, dengan cara ditampung menggunakan bak-bak penampung secara komunal. Kemudian dialirkan melalui pipa-pipa mengikuti kontur, dialirkan hingga jauh ke arah lereng. Disekitar Cigending air tersebut kemudian ditampung dan diangkut oleh truk tangki, kemudian didistribusikan dan dijual menjadi air bersih.

Menurut warga disekitar sumber mata air tersebut, sebagin besar tanahnya telah dikuasai oleh pengusaha air bersih. Terutama di daerah mata air produktif, seperti mata air dicurug orok. Penguasaan lahan tersebut sebagai upaya menjaga pasokan air, untuk kebutuhan bisnis air bersih tersedia.

Beranjak ke arah utara menapaki tanjakan Palintang. Rombongan kemudian berhendi diisekitar persimpangan antara jalan Palintang dan jalan kontrol perkebunan ke arah Palalangon. Dititik tinggi sekitar 1100 m dpl. merupakan titik elevasi ideal untuk penanaman kopi. Seperti yang dituliskan pada peta lama, sedikit ke arah barat dikenali beberapa nama yang berasosiasi dengan kegiatan industri dan budidaya kopi. Pohonnya kini sudah tidak ada, karena diganti dengan komoditas lainya. Diperkirakan disekitar Legok Nyenang merupakan komplek perkebunan kopi lama. Diantaranya nama-nama yang menyebutkan kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan industri kopi, seperti nama Pasirpamoyan. Menandakan tempat untuk menjemur kopi. Berikutnya penamaan Panggeteran, Pangmayaran.

Perkebunan kopi di Ujungberung utara, merupakan bagian dari industri ditingkat Keresidenan Priangan yang dikelola swasta Meskipun banyak disebutkan bahwa pengusaha-pengusaha swasta mulai menanam tanaman eksport pada tahun 1870-an sebagai konsekuensi dari penerapan Politik Ekonomi Liberal, namun di Keresidenan Priangan partisipasi perusahaan swasta sudah dimulai sejak awal abad ke-19. Sejak dekade pertama abad ke -19 kopi ditanam di tanah-tanah pribadi, yaitu di Ujungberung (Kabupaten Bandung), Gunung Parang, dan Ciputri (Kabupaten Cianjur). (Muhsin, 2017). Dikerjakan oleh Andries de Wilde dengan luas wilayahnya meliputi sebagian besar Bandung raya. Jejak kopi di Ujungberung utara masih bisa ditelusuri diantaranya melalui toponimi di peta Java. Res. Preanger Regentscahppen (1906). Dipeta tersebut  menuliskan nama-nama yang berasosiasi dengan industri dan perkebunan kopi saat itu.

Lokasi kunjungan ke-tiga adalah ke salah satu situs budya disekitar Palintang atas. Situs budaya tersebut merupakan patilasan, berupa tiga makam yang dinaungi oleh pohon kayu Rasamala. Situs Patapaan tersebut terletak persis disebelah barat SD Palintang Jaya, berupa puncak perbukitan yang diapit oleh Ci Patapaan dan Ci Panjalu. Menuju lokasi tersebut bisa melalui Kampung Palintang, maupun melalui jalur setapak di sebelah lapang volley.

Situs ini dipercaya sebagai tempat yang pernah disinggahi pada masa pelarian Dipati Ukur. Menurut warga setempat, situ Patapaan atau Demah Luhur ini menjadi tempat strategis di jalur lama. Jalur tersebut merupakan sarana jalan setapak pada masa itu, menghubungkan Oedjoengbroeng selatan ke utara, melewati celah yang diapit oleh G. Palasari disebelah barat, dan G. Manglayang di sebelah timur.

Perjalanan Geourban ditutup diwarung sekitar PTPN XIII. Warung sederhana yang menyajikan kue balok di Cipanjalu. Kegiatan ini diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), bersifat probono. Bertujuan menggali wisata alternatif kebumian, sarana belajar bersama dan koneksi jejaring lokal upaya menggali potensi geowisata kota Bandung.

Interpretasi di Pasir Kunci
Interpretasi cekungan Bandung dari Pasirkunci Ujungberung
Dengan latar G. Manglayang
Sunggoro menjelaskan budidaya kopi disekitar Palintang atas
Peserta di Curug Orok. CI Panjalu
Penjelasan di Curug Orok di Ci Panjalu, aliran lava G. Manglayang
Penjelasan sejarah Dipati Ukur dalam berbagai versi, disampaikan oleh Gan Gan
Dipatilasan Demah Luhur, Palintang

Catatan Geourban#2 Ci Kapundung

Waktu menunjukan tujuh lebih sepuluh, kurang lebih 23 orang telah hadir di pelataran parkiran Tahura Ir. Haji Juanda, Dago Pakar Bandung (3/10, 2021). Sesuai dengan jumlah peserta yang telah menyatakan hadir di grup Whatsapp, dihadiri oleh anggota perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia disingkat PGWI, sebagian peserta berasal dari organisasi Dewan Pengurus Cabang HPI Kota bandung, komunitas KPGB, Jarambers, hingga pelaku usaha biro perjalanan wisata.

Geourban ini adalah aktivitas probono, sebagai media belajar bersama dalam kegiatan pemanduan geowisata, sekaligus reaktivasi jalur-jalur heritage hingga tapak bumi di sekitar kota Bandung. Narasumber kegiatan ini menyampaikan informasi dan interpretasi sejarah kolonial dan pemanfaatan aliran Ci Kapundung, hingga mengupas sejarah bumi berupa bukti endapan Gunung Sunda-Tangkubanparahu.

Narasumber berkaitan toponimi dan sejarah lokal, disampaikan oleh Gangan Jatnika, kemudian proses pembentukan alam oleh Deni Sugandi, dan Zarindra menyampaikan informasi mengenai sistem hidrogeologi Ci Kapundung, berdasarkan hasil penelitian.

Dalam kesempatan ini dihadiri langsung oleh kang Bintang, selaku ketua DPC HPI Bandung, dan beberapa pengurus yang turut serta dalam kegiatan ini. Kegiatan ini merupakan upaya perluasan jejaring, antara HPI DPC Kota Bandung, dan Dewan Pengurus Wilayah Bandung Raya, dengan tujuan mengupas potensi geowisata di Cekungan Bandung.

Acara dibuka oleh Deni Sugandi, selaku pemandu geowisata, menjelaskan rencana kegiatan treking Geourban ke-2, menyusuri Ci Kapundung segmen Dago Bengkok. Dalam pembukaan, dijelaskan bahwa perjalanan diperkirakan memakan waktu 4 jam, menempuh jarak 4.2 km, melalui jalur setapak hingga menyusuri pipa tertutup saluran Pembangkit Listrik Tenaga Air/PLTA Bengkok dan Dago (Pojok). Saluran pipa tersebut melalui jalur perumahan warga Jajaway hingga Curug Dago.

Stop pertama di Goa Jepang, penjelasan bukti endapan vulkanik Gunung Sunda. Terlihat gawir terjal, berupa ignimbrite yang terelaskan (welded ignimbrite), disusun oleh piroklastik dan tuff, seperti fragmental lava dan batu apung yang menyusun perbukitan ini. Pada pendudukan Jepang, kemudian dibuatkan terowongan yang terhubung, berguna untuk kegiatan militer pada saat itu.

Stop kedua adalah mengunjungi kolam tando yang berbatasan ataran wilayah Tahura Juanda dan pengelolaan Indonesia Power. Di kolam ini bisa disaksikan telah terjadi pencemaran, berupa kotoran ternak sapi dari hulu Maribaya yang menyebabkan gas metan yang muncul ke permukaan air. Selain itu terdapat sampah organik maupun anorganik yang ikut dihanyutkan oleh aliran irigasi terbuka. Akibat penumpukan sampah tersebut, menyebabkan turunnya debit air yang dialirkan ke turbin.

Unit pada Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) airnya berasal dari Sungai Cikapundung yang dialirkan ke bak pengendap. Dari bak pengendap air dialirkan lewat saluran terbuka (open tunnel) sepanjang 2.823 m menuju kolam tando yang berkapasitas 30.000 m3 dan mempunyai luas 10.000 m2. Kolam tersebut berguna untuk menampung air dari sodetan Ci Kapundung di sebelah utara Goa Belanda, kemudian dialirkan ke pipa pesat PLTA Dago Bengkok. Pipa diameter tiga meter tersebut mengalirkan air, untuk menggerakan turbin.

Stop ketiga adalah penjelasan mengenai PLTA Dago Bengkok. Dalam keterangannya, PLTA ini merupakan instalasi pembangkit listrik awal pada masa kolonial. Setelah percobaan PLTA ukuran kecil di bagian hulu Ci Tarum atau PLTA Pakar yang dianggap kurang berhasil, kemudian pemerintah kolonial membangun instalasi baru pada 1923.

Sekitar tahun 1920, PLTA Pakar ditutup akibat debit air yang kecil karena tanpa kolam penampung. Hingga kini peninggalannya berupa tembok bendungan dan aliran air berbentuk terowongan di Goa Belanda dan Goa Jepang.

PLTA Dago Bengkok memiliki kapasitas 3,15 Megawatt (MW), digerakan oleh tiga turbin, masing-masing 3 x 1.050 kW. Total daya yang dihasilkan PLTA tersebut, pada masa kolonial mampu menerangi sebagian kota Bandung.

Stop keempat adalah mengunjungi Curug Dago. Di lokasi ini masih bisa disaksikan aliran lava basal yang diperkirakan hasil letusan efusif Gunung Sunda pada periode ke-dua. Dinding Curug Dago memperlihatkan bidang perlapisan, antara endapan aluvial berupa struktur konglomerat, kemudian ditindih breksi vulkanik. Di bagian atasnya ditutupi aliran lava yang cukup tebal, atau sekitar 5-6 meter, berupa lava basal dengan struktur kekar kolom. Dicirikan dengan warnanya hitam dan seperti gelas vulkanik, dengan lubang gas yang menandakan membeku dalam waktu sangat singkat.

Tujuan terakhir adalah ke komunitas Kelompok Kerja Cika-Cika. Komunitas warga masyarakat di sekitar PLTA Dago Pojok yang memanfaatkan lahan di bantaran Ci Kapundung, menjadi aktivasi kegiatan kemasyarakatan, sekaligus menjadi pusat kelompok kerja Sub DAS Ci Kapundung.

Penjelasan endapan awan panas di Goa Jepang Tahura Ir. H. Juanda
Peserta Geourban di depan Goa Belanda
Penjelasan di kolam penenang Dago Pakar
Bersama komunitas Cika-Cika di Jajaway Ci Kapundung

Catatan Geourban#1 Gunung Padang Ciwidey

Kegiatan geowisata Bandung bagian selatan, masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung ini diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Dewan Pengurus Wilayah Bandung Raya. Kegiatan ini terbuka untuk umum yang menaruh minat khusus dengan ilmu kebumian populer, sejarah budaya. Dilaksanakan secara berkala, dalam rangkain aktiviasi jejaring, menggali potensi geowisata Cekungan Bandung dan sarana belajar kepemanduan di PGWI.

Pelaksanaan geowisata ke Gunung Padang Ciwidey, dibuka terlebi dahulu dengan kegiatan daring (19/7, 2021) melalui pertemuan virtual. Kegiatan ini sebagai sarana penjelasan umum, hingga rencana teknis pemberangkatan. Materi yang disampaikan oleh Deni Sugandi, selaku pemandu geowisata, bersama narasumber lainya. Berkaitan sejarah disampaikan oleh Gangan Jatnika, dan Sodikin Kurdi. Pertemuan awal ini berguna untuk persiapan kegiatan lapangan, termasuk apa saja dan bagaimana kegitan geowisata ke Bandung selatan ini dilaksanakan.

Mengambil titik pertemuan di sekitar Soreang (21/7, 201). Dihadiri oleh  21 orang peserta dengan latar belakang yang beragam. Komunitas pegiat wisata, guru geografi, komunitas budaya Sunda, pemandu geowisata hingga komunitas jalan-jalan di Bandung. Kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB, menggunakan modra transpotasi roda dua, menuju statsiun Ciwidey. Bangunan cagar budaya ini merupakan bukti kejayaan jalur keretaapi Soreng-Ciwidey yang dibangun pemerintah kolonial, dalam upayanya mempersingkat jarak distribusi hasil perkebunan dari Ciwidey ke kota Bandung. Dibuka 1924 melalui beberapa statsiun, mengikuti kontur Ci Widey yang berkelok-kelok. Dalam pembangunan jalur kereta api pada masa itu, menuntut kemampuan teknis, diantaranya adalah teknik yang berkaitan dengan pembuatan struktru jembatan besi. Kemampuan rekayasa teknis ilmu sipil kolonial, hingga kini masih bisa disaksikan di lokasi kunjungan ke-dua.

Jembatan Rancagoong yang membentang barat-timur, melewati Ci Widey dengan panjang kurang lebih 100 meter. Dibangun di atas struktur beton dengan menggunakan rangka besi melengkung. Dibangun sebagai sarana penghubung perkebunan dengan jalur distribusi perdagangan di Bandung selatan. Namun pelayanan jasa transportasi kereta api harus tutup awal tahun 80-an, karena kalah bersaing dengan kendaraan roda empat yang semakin menggeliat. Karena tidak bisa lagi menutup biaya operasional, jalur kereta api Soreang-Ciwidwey akhirnya ditutup.

Kunjungan berikutnya adalah ke Gunung Padang, di Rawabogo, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung Barat. Wilayah tinggian perbukitan yang dikelilingi oleh pohon tegak pinus, kemudiand dimanfaatkan oleh masyarakat, melalui pengelolaan tani mandiri perkebunan kopi. Wilayahnya berbatasan antara Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung. Sejak penciptaan daratan Jawa bagian barat 30 juta tyl, (Gunung) Nagara Padang Rawabogo di Ciwidey hadir belakangan. Berupa intrusi batuan beku, sekitar Plistosen Akhir atau sekitar 1.8 juta tyl. Saat ini bongkah-bongkah batuan lava bertebaran dan lapuk berwujud ragam bentuk, menata wajah perbukitan ini menjadi wilayah sakral, tempat bersemayamnya sejarah Sunda.

Deni Sugandi dan Zarindra memberikan penjelasan dari sisi fisik, bahwa perbukitan Gunung Padang merupakan sebuah tubuh batuan beku yang mengalami pelapukan. Dicirikan dengan bongkah-bongkah batuan yang menempati wilayah sebelah timur, dengan bentuknya yang menjulang tinggi. Kemudian di bagian tengah punggungan perbukitan ini, didapati bongkah-bongkah batu yang menyerupai kepala binatang melata hingga bentuk mamalia besar seperti gajah. Acara ditutup dengan makan siang bersama, bekal yang sebelumnya telah dibawa dari rumah masing-masing. Kegiatan Geourban#1 ini adalah berupaya menyampaikan pesan, potensi wisata bumi dan sejarah berdampingan. Langkah selanjutnya mengaktivasi kegiatan wisata kebumian dan budaya melalui pengemasan paket wisata yang berkelanjutan, termasuk mendorong warga lokal sebagai pemilik wilayah, memiliki porsi peningkatan ekonomi melalui kegaitan pariwisata alam.

Interpretasi endapan volkanik di Ciwidey
Penjelasan struktur yang berkembang di Gunung Padang Ciwidey, disusun oleh intrusi batuan beku
Partisipan Geourban di Gunung Padang Ciwidey
Moda transport menuju lokasi
Bongkah batuan beku yang membnetuk kepala kura-kura
Di jembatan Rancagoong, di bawahnya mengalir Ci Widey

Geourban#10 Palintang

Jejak Sunda Lama, Budidaya Kopi awal abad 19 dan Letusan G. Manglayang

Jauh sebelum kota Bandung bergeser dari tepi Ci Tarum (Krapyak) ke sebelah utara, telah hadir peradaban disebelah timur disebut Ujungberung (Widjaya, 2009). Di bawah penguasaan Mataram (Islam) wilayahnya diatur dalam sistem pemerintahan daerah setingkat bupati. Dipati Ukur menjabat adipati di Tatar Ukur dan menjabat sebagai bupati wedana di Priangan (1627-1733), mengalami nasib yang malang. Ia harus menanggung pencopotan sebagai bupati wedana dan hidup berpindah-pindah, setelah adanya perselisihan dengan Mataram (Lismiyati, 2016). Jejak pelariannya selain di Culanagara, Gunung Leutik ke sekitar Ciparay, hingga menghindar ke arah utara. Bukti jejaknya diperkirakan berada di sekitar  perbukitan yang diapit oleh Ci Panjalu dan Ci Patapaan, sekitar wilayah kampung Palintang saat ini.

Pada peta lawas 1910, dituliskan nama Oedjoengbroeng. Dibagi dua wilayah utara dan selatan pada saat di bawah pengaruh Mataram, kemudian batas administrasinya ditata ulang menjadi wilayah timur dan barat seiring pembukaan jalan Raya Pos (1810). Sebagian besar wilayahnya saat itu meliputi kota Bandung dan Ujunberung saat ini.  Pembukaan sarana jalan utama yang mengbungkan timur-barat Jawa, mendorong industri  dan budidaya kopi. Pembangunan jalan Raya Pos melalui priangan tengan karena alasan ekonomi, yaitu mengangkut produk pertanian kopi di wilayah Priangan (Hartatik, 2018).

Di Keresidenan Priangan pun berkembang perkebunan-perkebunan kopi swasta. Meskipun banyak disebutkan bahwa pengusaha-pengusaha swasta mulai menanam tanaman eksport pada tahun 1870-an sebagai konsekuensi dari penerapan Politik Ekonomi Liberal, namun di Keresidenan Priangan partisipasi perusahaan swasta sudah dimulai sejak awal abad ke-19. Sejak dekade pertama abad ke -19 kopi ditanam di tanah-tanah pribadi, yaitu di Ujungberung (Kabupaten Bandung), Gunung Parang, dan Ciputri (Kabupaten Cianjur). (Muhsin, 2017). Dikerjakan oleh Andries de Wilde dengan luas wilayahnya meliputi sebagian besar Bandung raya. Jejak kopi di Ujungberung utara masih bisa ditelusuri diantaranya melalui toponimi di peta Java. Res. Preanger Regentscahppen (1906). Dipeta tersebut  menuliskan nama-nama yang berasosiasi dengan industri dan perkebunan kopi saat itu.

Didukung oleh kondisi iklim, dataran tinggi dan tanahnya yang subuh hasil pelapukan material letusan G. Manglayang. Gunungapi hadir sejak Plistosen, kemudian menghancurkan dirinya melalui suksesi letusan Manglayang Tua dan Manglayang Muda (Silitonga, 1973). Jejaknya berupa punggungan kaldera, dan kerucut Manglayang. Material letusannya berupa perselingan piroklastik dan lava yang diendapkan disekitar pusat letusan. Lavanya mengalir mengisi lembah-lembah yang dierosi sungai diataranya Ci Panjalu.

Hari/Tanggal
Sabtu, 4 Maret 2012

Waktu
Pkl. 08.00 sd. 12.00 WIB

Meeting Point
Pasirkunci Ujungberung
https://goo.gl/maps/MLcxJBqj9sjj5MYq8

Mari bergabung di Geourban#10 Palintang, menelusuri kembali budaya lama, budidaya kopi hingga sejarah pembentukan kaldera Manglayang.

Geourban
Diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), bersifat probono. Bertujuan menggali wisata alternatif kebumian, sarana belajara bersama dan koneksi jejaring lokal upaya menggali potensi geowisata kota.

Patilan Demah Luhur, diduga tempat yang pernah disinggahi Dipati Ukur
Aliran lava dengan struktur berlembar di Ci Panjalu
Air terjun yang terbentuk dialiran lava G. Manglayang

Catatan Geobaik#4 Cililin

Jelang pagi di jalanan penghujung Cipatik ke Soreang menggeliat ramai. Matahari sejak subuh sudah tiba mencahayai perbukitan Soreang, membentuk siluet seperti pagar alam membatasi wilayah timur dataran Kutawaringin, kaki perbukitan intrusi Soreang barat.

Kurang lebih jelang pukul tujuh pagi, peserta hadir dari berbagai penjuru mataangin, berkumpul di sekretariat PGWI Pengurus Wilayah Bandung Raya, Cipedung, Kutawaringin. Diikuti oleh 15 orang dan menggunakan 13 roda dua dengan berbagai jenis kendaraan, mulai jenis metik hingga sport. Semua kendaraan dicek dalam kondisi baik, sesuai dengan ketentuan panitia. Peserta berasal dari berbagai daerah wilayah Bandung, dengan latar belakang beragam, mulai dari pekerja profesional, pegawai pemerintahan, pelaku jasa wisata hingga para pegiat wisata kebumian, diantaranya para pemandu geowista yang tergabung di asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia.

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB, dibuka melalui brifing awal mengenai rencana perjalanan, termasuk pengarahan keselamatan, keamanan dan prokes selama perjalanan, sebagai standar kegiatan.

Geobaik adalah aktivitas menafsir rahasia bumi, dan menaksir sejarah manusianya yang menempati alam tersebut, dilaksanakan melalui sarana transportasi roda dua. Diinisiasi oleh asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), dan dilaksanakan berkala. Kegiatan ini bertujuan sarana belajar anggotanya, memberikan manfaat dan kebaikan serta pemahaman bentang alam, proses dinamika bumi dan budaya. Kegiatan hari ini merupakan rangkaian acara ke-empat, dilangsungkan di wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, dilaksanakan oleh Pengurus Wilayah Bandung Raya.

Kunjungan pertama mengunjungi sisa tambang sirtu berupa singkapan lava di sekitar Gunung Gadung, Jatisari. Berupa perbukitan intrusi batuan beku, disusun oleh andesitik basaltik. Berada di selah selatan kota Soreang, bagian dari kelompok perbukitan Soreang. Bukit lava tersebut merupakan batuan beku hasil penerobosan magma, kemudian membeku sebelum mencapai permukaan bumi. Seiring waktu kemudian tererosi, dan membentuk perbukitan-perbukitan runcing yang menempati bagian tenggara gunungapi Soreang. Dari warna yang terlihat, cenderung abu-abu terang, menandakan didominan oleh SiO2 yang lebih dominan, antara 57 hingga 63%. Disusun oleh andesit augit hipersten, dan hornblenda dengan matrix yang mengaca, dengan struktur retas, sill, neck atau lava plug, umur Pliosen (Silitonga, 1973).

Perjalanan selanjutnya perjalanan memotong perbukitan intrusi, melalui jalan kelas desa. Sedikit terjal dan melalui jalan aspal yang telah terkelupas karena tidak dipelihara. Kunjungan kedua mengunjungi fitur alam yang unik, berupa bentuk kolom yang menyerupai bentuk struktur candi. Fitur alam tersebut dinamai Batu Nini yang masuk ke dalam kawasan Gunung Buleud, daerah Situwangi, Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Berbeda dengan susunan batuan di stop pertama, Batu Nini disusun oleh batuan breksi vulkanik, kemudian seiring waktu tererosi dan menyisakan bentuk seperti bangunan. Terjadi secara alami, menandakan dinamika bumi yang berasal dari tenaga luar (eksogen), seperti ditatah oleh alam melaui kondisi hujan, panas, dan dingin sehingga terjadi pelapukan. Terjadi dalam waktu yang sangat panjang. Struktur yang terlihat saat ini menandakan batuannya lebih resisten atau lebih kuat dibandingkan batuan disekitarnya.

Dalam keterangan singkatnya, pada 1854 Junghuhn pernah membuat sketsa dari arah utara, memperlihatkan bentuknya yang sama seperti yang disaksikan hari ini. Namun bila dibandingkan secara seksama, ada beberapa bagian yang telah lapuk, mengingat Junghuhn melukisnya 167 tahun yang lalu.

Perberhentian selanjunya adalah melihat bentuk kaldera Walahir, di Kidangpananjung Cililin, atau sekitar lereng sebelah selatan Gunung Gedukan. Dari titik ini bisa menyaksikan bentang alam yang menawan, berupa perbukitan runcing dan lembah yang dalam di bagian tenggara. Berupa kelompok perbukitan intrusi, dicirikan dengan bentuknya yang kerucut dan menempati wilayah di sebelah tenggara dari kelompok gunungapi Soreang. Sedangkan bila melemparkan arah pandang ke sebelah barat, terlihat cekungan yang diapit oleh gawir-gawir terjal yang ditafsirkan sebagai dinding kaldera. Perbukitan tersebut disusun oleh breksi tufaan, lava, batuapung, dan sebagian konglomerat. Umurnya antara Miosen hingga Pliosen Atas atau sekitar 12 hingga 5 juta tahun yang lalu (Silitonga, 1973). Sendangkan dalam penelitan lainya memberikan keterangan berumur Pliosen Atas, sekitar 3.2 juta tahun yang lalu (Sudjatmiko, 1972).

Dari titik ini bisa menyaksikan Gunung Malabar di sebelah tenggara, berdampingan dengan jajaran pegunungan kelompok gunungapi Cekungan Garut ke arah timur. Diantaranya Gunung Guntur, Gunung Cikurai dan Gunung Papandayan.

Perjalanan dilanjutkan, membelah lembah yang dalam yang dicirikan dengan jalanan yang dilalui semakin menurun dan terjal. Peserta harus berhati-hati, selain turunan terjal, di beberapa bagian aspalnya telah terkelupas.

Kurang lebih 15 menit perjalanan menggunakan roda dua, rombongan tiba di sekitar Kampung Lembang, Desa Mukapayung, Cililin. Kemudian dilanjutkan dengan treking menyusuri lereng Gunung Lumbung. Jalur pendakian singkat melalui Sekolah Dasar Lembang, kemudian melintasi beberapa rumah warga, kemudian membelah perkebunan. Di tengah perjalanan, terlihat cekungan Lembang yang ditempati oleh pesawahan yang subur dan dibelah oleh Ci Lembang, anak sungai yang kemudian bertemu Ci Bitung disekitar Gunung Putri.

Sawah tersebut menempati area kurang lebih 700.000. meter persegi, dengan luas lingkar 3.5 km. (perhitungan google maps di fitur measure distance). Sedangkan elevasinya sekitar 928 m. dpl. (RBI), sedangkan Gunung Lumbung adalah 1093 m. dpl. Areal yang ditempati sawah tersebut seperti bentuk dasar kaldera, atau bagian central fasies dari tubuh gunungapi.  Ciri-cirinya berupa plateu berbentuk cekungan, disusun oleh lempung, lanau, pasir dan kerikil hasil dari bahan rombakan dan erosi perbukitan disekitarnya (Silitonga, 1973).

Diperlukan waktu kurang lebih 20 menit, mendaki singkat ke puncak Gunung Lumbung. Di bagian puncaknya digunakan warga sebagai lahan perkebunan, diantaranya cabai, kacang panjang hingga tomat. Setelah melewati perkebunan ini, arah jalan setapak akan mengarah ke sudut yang lebih rimbun. Di ujung jalan setapak inilah ditemui situs berupa arca dan lingga, dinaungi oleh atap seng. Tidak ada keterangan lain, hanya kelompok arca, kemudian disekitarnya masih berupa pohon yang masih rimbun. Di sekitar arca didapati beberapa batuan ditumpuk disekitar arca. Batuannya disusun oleh batuan beku vulkanik, berupa bongkah-bongkah atau fragmen batuan lava. Didapati dua batu bentuk lingga, salah satunya bukanlah bagian dari keompok arca ini yang dicirikan dengan bentuk kolom dan memiliki tulisan angka latin. Diduga bentuk lingga tersebut merupakan patok penanda yang dibuat pada masa kolonial, kemudian dibawa ke Gunung Lumbung.

Kegiatan terakhir ditutup dengan kunjungan ke statsiun radion Cililin. Di lokasi ini dijelaskan mengenai sejarah radio dan hunian rumah tinggal para pekerja. Disampaikan oleh Amar Sudarmar, manta kepala sekolah SMA 1 Cililin, pelaku sejarah. Beliau menuturkan kantor radio komunikasi tersebut berfungsi sebagai alat komunikasi Belanda pada saat perang dunia ke-dua, sekaligus sebagai media komunikasi jalur perdagangan Hindia Belanda saat itu. Seiring waktu statsiun radio tersebut harus ditutup, karena biaya operasional yang tinggi dan kualitas pemancar yang kurang optimal karena terletak di lembah.

Di Radio Cililin inila kegitan GB4 diakhiri, ditutup dengan penyampaian kesan dan pesan para peserta,. Diantaranya menyambut baik kegiatan ini, agar tetap aktif dan memberikan informasi yang menarik, serta sebagai silaturahmi pecinta bumi dan sejarah. (Deni Sugandi)

Brifing sebelum keberangkatan di Soreang
Penjelasan Kepala Dusun di tapakbumi Batu Arca
Penjelasan sejarah Radio Cililin di Cililin

Catatan Geobaik#3 Cisanti

Acara dibuka disalah satu sudut kota Ciparay, Kabupaten Bandung. Terhitung 21 partisipan yang hadir, dan telah mempersiapkan kendaraanya masing-masing. Asal partisipan dengan latar beragam, pelajar SMU, pemandu wisata, hingga pegiat wisata alam. Selanjutnya Deni Sugandi, selaku pemandu geowista, melakukan brifing awal berkaitan dengan rencana kegiatan. Deni menjelaskan secara umum empat lokasi yang akan dikunjungi, diantaranya situs Palagan Culanagara atau situs peninggalanan Dipati Ukur di Ciparay, kemudian dilanjutkan ke titik tinggi antaran Bukit Culanagara dan Pasir Nini untuk menyaksikan dan itepretasi Cekungan Bandung, Danau Bandung Purba segmen timur, sekaligus memperlihatkan arah pergerakan pelarian dan persembunyian Dipati Ukur.

Penjelasan singkat selanjutnya adalah mengunjungi Kaldera Rakutak-Dogdog, di lapangan Berling, Pacet. Dari titik ini mengamati tafsir pembentukan kaldera, termasuk penjelasan penangkapan SM Kartosoewirjo di G. Geber, lereng sebelah utara puncak G. Rakukat. Stop terkahir berakhir di Situ Cisanti, hulu sungai Ci Tarum.

Pemberangkatan mulai pukul 8.30 WIB, diikuti oleh 21 orang menggunakan 20 motor dengan variasi jenis metik, trail hingga semi trail. Berangkat dari Kue Balok Haji Emo Ciparay, mengarah ke selatan menuju Gunung Leutik. Dari titik ini Deni menjelaskan posisi geografis Culanagara yang berada di titik tinggi, sehingga sangat tepat sebagai tempat pemantauan. Situs Culanagara dianggap sebagai titik komando atau pusat kendali Dipati Ukur, dalam perlariannya saat dikejar oleh tentara Mataram.

Gunung Bukitcula 1031 m dpl. merupakan perbukitan intrusi (terobosan), muncul dari zona lemah kelurusan sesar yang berah timur-barat. kelompok perbukitan ini menempati wilayah Bale Endah di sebelah barat, dan Ciparay di sebelah baratnya. Punggungan tersebut memilik puncak-puncak diantaranya Gunung Kromong 908 m dpl. Gunung Geulis 1151 m dpl., Gunung Pipisan 1071 m dpl, dan di sebelah timurnya adalah Gunung Bukitcula.

Secara geografis posisi Culanagara yang berada di sebelah utara, dari lereng Bukicula memiliki posisi strategis. Posisi tinggi tersebut bisa memantau ke arah utara secara terbuka, kemudian bagian selatan dibentengi oleh jajaran perbukitan Pakutandang-Bukicula-Pasirnini. Situs Culanagara dihidupi oleh Ci Rasea, sungai yang mengalir di sisis sebelah timur lereng Bukitcula, kemudian bertemu dengan Ci Tarum di Sumbersari Ciparay.

Dalam keterangan selanjutnya, disampaikan oleh Gangan Jatnika berkaitan dengan sejarah pelarian Dipati Ukur di sekitar Ciparay. Gangan menunjukan tiga lokasi yang disebutkan dalam beberapa naskah lama, seperti yang diuraikan dalam penelitiannya Suhardi Ekadjati yang menghimpun delapan sumber naskahl versi Galuh, Sukapura, Sumedang, Bandung, Talaga, Banten, Mataram dan Batavia.

Di situs Culanagara STOP 1, Gangan menjelaskan titik-titik pelarian Dipati Ukur segelah gagal menyerang Batavia. Kekalahan pasukannya membawa akibat penangkapannya karena gagal mengusir VOC di Jayakarta pada 1629. Sultan Mataram memerintahkan penangkapan pasukan Dipati Ukur untuk dibawa ke Mataram dan dijatuhi hukuman. Untuk menghindarai penangkapan tersebut, Dipati Ukur beserta sisa pasukannya yang setia bersembunyi di tiga titik, diantaranya di sebelah utara Cekungan Bandung, di Gunung Pangporang masuk ke wilayah Subang saat ini. Pelariann selanjutnya adalah ke arah selatan, di Culanagara, Ciparay yang berjarak 40 km dari posisi pertama. Sikap demikian dituliskan sebagai pembangkangan terhadap Mataram saat itu. Dipati Ukur mengambil sikap lebih baik berontak daripada mati dibunuh (Ekadjati, 53, 1982).

Di Culanagara inilah Dipati Ukur menyamar menjadi rakya biasa, kemudian menyembunyikan seluruh simbol kerajaannya di Pabuntelan atau saat ini masuk ke dalam wilayah desa Tenjonagara, Ciparay.

Dititik kunjungan berikutnya STOP 2, tepatnya di sekitar Cihonje atau di antara punggungan Bukit Culanagara dan Pasirnini. Di titik ini dijelaskan mengenai posisi pengamantan pasukan Dipati Ukur saat melihat pergerakan tentara Mataram yang mengejarnya. Di titik ini arah pandang terbuka ke arah utara, Cekungan Bandung bagian timur. Kemudian di sebelah selatannya adalah Gunung Malabar, jajaran punggungan  Gunung Kendeng-Papandayan dan Gunung Rakutak-Dogdog di dataran tinggin Pacet.

Selanjutnya perjalanan mengunjungi STOP ke-3 di sekitar lapangan Berling, Sukapura, Kertasari. Di lokasi ini dijelaskan sejarah pembentukan Kaldera Rakutak-Dogdog, merupakan bagian dari rangkaian gunungapi Papandayan-Kendeng-Rakutak/Dogdog. Berdasarkan morfologinya, Rakutak-Dogdog diperkirakan merupakan kawah yang berukuran lebih dari 2 km atau mendekati kelas kaldera. Bila ditarik dari sisi lereng sebelah utara dan selatan, kemudian ditarik garis imajiner, diperkirakan puncaknya mencapai ketinggian lebih dari 3500 m dpl. keucutu tersebut hacur dan dibongkar melalui mekanisme letusan besar, kemudian menyisakan gawir terjal yang bisa disaksikan saat ini.

Seperti yang disampaikan oleh Deni, Gunung Rakutak menyimpan sejarah perjalanan perjuangan RI. Di tempat tersebut menjadi lokasi persembunyian DI/TII yang dipimpin oleh Sekar Maridjan Kartosoewrijo. Pelarian tersebut berlangusung hampir 14 tahun, sejak proklamasi pendirian DI/TII 1949.

STOP ke-4 di Situ Cisanti, atau hulu Ci Tarum sekitar ketinggian 1500 m dpl. Terletak di lereng sebelah utara Gunung Wayang, masuk ke dalam administratif Neglawangi, Kertasari, Bandung. Hulu sungai terpanjang di Jawa Barat ini adalah himpunan dari tujuh sumber mata air di lereng gunung. Diantaranya mata air Cisanti, Cisadane, Cikawedukan, Citarum, Cihaniwung, Cikoleberes dan Cikahuripan.

Kegiatan ditutup dengan acara pengukuhan Pengurus Korwil Bandung Raya, dan pengukuhan anggota PGWI Angkatan I, melalui DIKLAT tangal 20-21 Februari 2021 lalu. (Deni Sugandi)

Penjelasan di perbukitan intrusi Bukit Cula, Bumiwangi, Ciparay
Partisipan bersama kuncen di tugu Culanagara, Gunungleutik

Catatan Geobaik#1 Jompong

Dimulai pagi hari pada hari Sabtu, 9 Januari 2020, dimulai pada masa PPKM diperketat lagi. Kegiatan dilaksanakan menggunakan sarana kendaraan roda dua. Kegiatan dibuka dilokasi pertemuan sekitar SPBU Pasteur kemudian bergerak ke titik pertemuan ke-dua disekitar perbukitan Lagadar, Margaasih, Kabupaten Bandung Barat.

Deni Sugandi selaku pemandu geowisata, membuka kegiatan ini dengan memberikan penjelasan rencana perjalanan Geobaik#1. Perjalan wisata bumi ini menapaki kembali sejarah Danau Bandung Purba, melalui jejak pembobolan Ci Tarum di Curug Jompong dan menemukan kembali batas Danau Purba Bandung disebelah Bandung bagian barat.

Kegiatan diikuti oleh lebih dari 12 orang, berasal dari pegiat wisata, mahasiswa, praktisi wisata hingga pemandu wisata. Geobaol adalah kegiatan wisata bumi, untuk mengupas sejarah alam, hasil pembentukan alam hingga proses yang masih berlansung hingga kini. Dikemas dalam seri petulangan menggunanakan media roda dua bermotor (motor), diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia.

Bandung merupakan kota yang muncul diatas gelombang air (danau). Seperti logo lama kota Bandung, dituliskan Ex Undis Sol yang berarti mentari muncul di atas gelombang (air), dicanangkan pada saat pendirian Bandung menjadi gemente atau setinggkat kotamadya pada 1 April 1906. Menandakan kota yang berdaulat, mampu mengurus dirinya sendiri secara administratif dan pemnafaatan sumber daya alama.

Penyebutan badan air tersebut diusulkan oleh walikota Bandung pertama, B. Coops bersama Dewan Kota. Usulan tersebut didasari oleh beberapa pendapat ahli geologi pada saat itu, bahwa cekungan Bandung pernah digenangi air.

Genangan air tersebut adalah Danau Bandung Purba, keberadaanya kini telah hilang karena telah surut. Setidaknya dibutuhkan waktu 16 ribu tahun lebih menjadi kering, kemudian ditempati peradaban. Cekungan Bandung ditaksir terbentuk pada Kuarte Akhir (Katili, 1963), akibat pergeseran aktivitas volkanik dari selatan ke utara. Akibatnya dataran tinggi Bandung dikelilingi oleh perbukitan dan gunungapi Kuarter di utara dan selatan, dan batuan karbonat umur Tersier di sebelah barat, yaitu perbukitan karst Citatah.

Bukti penggenangan cekungan tersebut, bisa dilihat dari bukti endapan danau (lakustrin). Terdiri dari lapisan lempung lunak, dan pasir padat dengan ketebalan yang bervariasi. Batuan dasarnya adalah lapisan batuan volkani Tersier (Dam, 1990). Dalam data pengeborannya, menunjukan pembentukan danau tersebut terjadi sekitar 126.000 tahun yang lalu, berupa batuan klastika gunungapi dan sedimen danau.

Bukti sejarahnya pengeringannya kemudian menjadi tema di kegiatan pertama Geobaik, mencari titik bobolnya Danau Bandung Purba. Perjalanan pertama diarahkan ke situs tapakbumi Gunung Lagadar 897 m dpl. Terletak di lereng sebelah timur, dikawasan perumahan Pasanggrahan Lagadar, Margaasih, Kabupaten Bandung. Terlihat singkapan yang baik berupa hasil galian kegiatan penambangan batu-pasir. Disusun oleh batuan beku berkomposisi dasitik, dicirikan dengan warna putih sedikit abu-abu dan telah lapuk. Berupa bongkah, kerikil hingga tuf. Dari lokasi ini bisa melihat bukti batuan intrusi berumur 4 juta tahun yang lalu.

Lokasi kunjungan ke-dua adalah Curug Jompong. Merupakan air terjun dialiran Ci Tarum, dan terletak persis di dua kabupaten, Bandung Barat dan Kabupaten Bandung. Tepatnya berada di Pataruman, Cihampelas, Kabupaten Bandung. sedikit ke arah hilir, masuk ke wilayah Selacau, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Merupakan segmen Ci Tarum bagian barat, mengerosi perbukitan intrusi batuan beku.

Saat ini alirannya surut karena telah dialihkan ke terowongan kerbar Nanjung. Sehigga bila berkesempatan hadir pada saat kemarau, menyingkapkan celah-celah dalam hasil erosi air. Bentuknya bermacam-macam, seperti kolam-kolam yang terbentuk oleh kekuatan arus air, hingga ditemuinya beberapa pothole. Bentukan alam tersebut menandakan bahwa arus Ci Tarum disegmen Curug Jompong deras, dengan debit air tinggi.

Kegiatan ditutup di dataran tinggi Bukit Gantole Lintang Panggun, Cililin. Dari titik ini partisipan diajak berdiskusi, mengupas kembali hasil kunjungan ke Lagadar dan Curug Jompong. Kegiatan ditutup tepat pukul 16.00 WIB, setelah beberapa saat berteduh di sekretariat Bukit Gantole. Ditutup sambil menyantap hidangan di Rumah Makan Manapa, Cihampelas, Cililin.

Peserta Geobaik#1 Jompong di jembatan Nanjung
Penjelasan di depan terowongan kembar Nanjung
Batuan intrusi umur 4 juta tahun, dierosi Ci Tarum
Berbagi pengalaman bersama opah Felix di Curug Jompong
Interpretasi cekungan Bandung di Bukit Gantole Cililin