Catatan Geourban#53 Lumbung

Di akhir pekan 20 Desember 2025, jalanan menuju Soreang dari arah Bandung timur tampak lenggang. Biasnya tersedak karena jumlah kendaraan yang berlomba menuju pusat kota, kini terurai karena memasuki musim libur. Tidak lebih dari 30 menit, tiba di pusat kota Soreang. Nama yang belum dikenal masa kolonial, cukup disebut wilayah Kopo(Topographisch Bureau Batavia, 1909). Selanjutnya lahir nama soreang, untuk menyebut ibu kota Kabupaten Bandung. Makna kata dari nyoreang, artinya melihat kembali ke masa lalu. Makna lainya adalah tempat untuk memandang atau titik pandang.

Makna titik pandang menjadi tepat, secara geografis ke arah selatan Soreang merupakan dataran tinggi antara 700 hingga 1000 meter di atas muka laut. Dilingkung kerucut-kerucut perbukitan dan gunungapi yang pernah aktif di masa lalu, dan perbukitan soliter. Diantaranya G. Sadu 897 meter dpl., Pasir Sempur berdampingan dengan Pasir Malaka di sebelah selatan. Kemudian G. Haur 936 meter dpl., G. Aseupan 873 meter dpl., di bagian barat. Kemudian ke utara berdiri Pasir Salam 855 meter dpl., dan pasangan G. Hawu bersanding bersama G. Singa 1087 meter dpl.

Keberadaan Soreang pada masa kolonial menjadi penting, karena sebagai kota penghubung antara industri perkebunan di sebelah selatan ke kota Bandung. Dengan demikian untuk mempermudah pengangkutan hasil panen, pemerintahan kolonial membuat jalur kereta api.

Pembangunan jalur kereta api dianggap efektif, karena jenis transportasi ini terpadu, muran dan cepat. Menggantikan pengangguran menggunakan pedati yang terlalu lambat dan mahal. Angkutan masal ini dirintis semenjak masuknya kereta api ke kota Bandung. Pada tanggal 30 Oktober 1916, telah diselesaikan rancangan awal jalur trem Bandung ke Kopo (kini Soreang).

Pembangunan jalur dimulai dengan menghubungkan antara Bandung ke Soreang melalui Dayeuhkolot pada 1921. Kemudian dilanjutkan jalur Soreang ke Ciwidey tiga tahun kemudian. Jalur ini resmi beroperasi 1925 dan berakhir beroperasi 1982.

Ex Stasiun Soreang
Dua orang ibu tua membuka percakapan. “Mangga, kadieu, tingali ieu bak cair”, ujarnya. Kemarilah, saya perlihatkan bak penampungan air (kereta api uap). Ibu paruh baya begitu gesit membukakan pagar bambu. Menyibakan jemuran kasur yang disimpan di depan pintu masuk pintu air. Bangunan yang tidak lebih dari setengah ukuran peti kemas, disusun oleh tembok tebal. Mencirikan struktur bangunnan yang diibuat masa kolonial, menggunakan susunan batu bata. Ketebalan dinding 20 centimeter, dari bata merah dengan ukuran yang lebih besar dari standar saat ini. Di bagian atas bangunan, didapati bak air yang terbuat dari plat besi tebal. Saat ini keadaannya sudah tidak layak lagi sebagai penampung air, karena di beberapa bagian telah korosi dan bolong.

Keberadaan tandon air dan tangki air (water crane), merupakan fasilitas penting di stasiun abad ke-19. Mengingat kereta api yang beroperasi, masih menggunakan kereta api uap klasik class produksi tahun 1904 hingga 1910. Dengan demikian memberlukan volume air yang banyak, untuk konversi menjadi tenaga mekanis dari hasil tekanan uap.

Jalan masuknya melalui satu-satunya pintu yang menghadap ke arah barat. Terbuat dari kayu tebal, dengan tinggi orang dewasa. Di dalamnya berupa ruang yang kini ditempati oleh macam-macam barang penghuni rumah, seperti layaknya gudang. Fungsi dari ruang ini adalah sebagai ruang pengendali aliran air, jalur distribusi ke water crane atau tiang tangki pengisi air. bentuknya seperti keran pipa dalam ukuran besar, dipompa dari water tank atau bak air melalui jaringan pipa bawah tanah.

Dari bak air ini, dialirkan melalui jalur pipa bawah tanah ke arah utara mendekati jalur rel kereta api. Terdapat dua sistem tangki air (water crane) di stasiun kereta api Soreang. Di sebelah timur, dengan ukuran yang lebih kecil bila dibandingkan dengan sisi sebelah barat. Keberadaanya di sebelah selatan dari posisi lintasan rel kereta api, dengan tinggi tiang tidak lebih dari 4 meter. Untuk mengalirkan air ke bak penampungan/ketel di lokomotif, kemudian dipanaskan oleh sumber panas dari tungku pembakaran. Pada saat itu biasanya menggunakan kayu bakar, dalam jumlah yang banyak. Seri kereta api

Berseberangan dengan bak tampung (tandon), ke arah utara. Berdiri bangunan yang memanjang barat-timur. Berupa struktur bangunan sisa peron kereta api. Terdiri dari beberapa bagian yang dipisahkan oleh sekat tembok. Merupakan bangunan bekas stasiun Soreang,dengan call sign SRG. Berada di elevasi 734 meter dpl., menghubungkan ke dataran tinggi stasiun Ciwidey 1106 meter dpl. Dengan demikian memiliki perbedaan ketinggian (elevation gain) 372 meter.

Untuk kondisi topografi demikian, diperkirakan menggunakan lokomotif uap jenis Mallet SS1600, yang merupakan lokomotif uap buatan Belanda, sering disebut juga lokomotif seri NIS 151-160. Beberapa sumber menyebutkan penggunaan tipe C11 atau BB10.

Gunung Hawu
Masyarakat menyebutnya Pasir Hawu, atau Gunung Hawu. Bentuknya kerucut, kemudian bagian puncaknya berupa dataran, sehingga menyerupai bentuk perbukitan yang tumpul. Hawu adalah tungku, digunakan untuk alat memasak menggunakan bahan bakar kayu. Bahannya terbuat dari tanah liat, dibentuk menyerupai bentuk kerucut. Bagian atasnya dilubangi, untuk menempatkan alat memasak. Alat masak tradisional ini memiliki bentuk topografi yang disandingkan dengan penamaan tempat.

Di bagian lerengnnya terdapat klaster pemukiman warga, hanya beberapa rumah. Menempati lereng terjal yang dihubungkan melaui jalan kelas desa. Rumah-rumah warga tersebut ditempati oleh beberapa keluarga, turun temurun bekerja sebagai peladang atau petani.

Di bagian baratnya telah berubah menjadi ladang pertanian, sedangkan bagian puncaknya berdiri rumah tinggal. Dari keterangan warga, sebagian besar bagian barat hingga puncak telah dimiliki perseorangan. Lahannya bagian puncak telah berdiri rumah tinggal atau villa. Sebagain wilayah sebelah barat terbuka, dimanfaatkan ladang. Melihat kondisi topografi demikian, perlu perhatian pemanfaat lahan yang berbasis bahaya longsor. Dalam mekanisme gerakan tanah, manusia turut memainkan percepatan bahaya longsor mengingat perkebunan tersebut berada di lereng curam. Gangguan pada kondisi lereng, baik pemanfaatan perkebunan atau hunian berkontribusi pada bahaya longsor.

Pemanfaatan perkebunan di lereng adalah faktor pengontrol, selain itu kemiringan lereng, batuan penyusun yang mudah lepas. Selanjutnya biasanya dipicu oleh curah hujan tinggi. Sebagian air hujan meresap, kemudian membentuk bidang gelincir. Keberadaan lereng terjal tersebut, sebaiknya ditanami pohon, agar mengurangi risiko gerakan tanah.

Gunung Hawu bersanding dengan beberapa kerucut perbuitan lainya. Berdiri dihadapannya ke arah utara, didapati kerucut yang lebih tinggi. Disebut Gunung Singa 1087 meter dpl., kemudian di sebelah timurnnya ditempati Pasir Laja, dan Pasir Salam. Ke arah selatan dibatasi Pasir Saar dan Pasir Caringin. Jauh ke arah barat, berjajar puncak G. Geulis,Pasir Kupa dan Pasir Angin.

Kerucut-kerucut tersebut merupakan bagian dari sistem gunugapi Soreang. Batuannya diuraikan pada keterangan peta Geologi Lembar Garut (Alzwar drr., 1992), dan Peta Geologi Lembar Bandung (Silitonga, 1972). Di Daerah Soreang, kemudian ke arah timur diantara Baleendah hingga Ciparay, batuannya disusun hasil endapan gunungapi. Terdiri dari breksi tufan, dan lava. Warnanya gelap, ditafsir berkomposisi andesit-basal.

Dari pengukuran batuannya, (Koesoemadinata dan Sunardi, 1999), umur batuan gunungapi daerah Cipicung sekitar 3,30 juta tahun, di Kromong Timur 3,24 juta tahun dan di Kromong Barat 2,87 juta tahun. Dengan demikian, menegaskan pendapat Sudjatmiko (1972), dan keterangan dari Silitonga (1973), daerah Soreang dan Banjaran merupakan gunungapi berumur Pliosen (Bronto, 2006).

Dari penelitian Sutikno Bronto (2006), di jurnal geologi Stratigrafi Gunungapi Daerah Bandung Selatan, Jawa Barat. Pengelompokan morfologi kerucut sekitar Soreang, ke dalam satuan Batuan Gunung Api Soreang. Membentuk konsentris (lingkaran), sehingga puncaknya disebut G. Buleud. Penggunaan bantuan pengukuran peta google map. panjang utara ke selatan sekitar 4,2 km. Sedangkan dari barat ke timur mendekati angka 4,3 km. Di bagian tengahnya terdapat cekungan yang ditafsir sebagai fasies sentral gunungapi purba Soreang.

Selanjutnya Bronto menduga, fasies medial memiliki lereng curam ke arah fasies sentral. Di bagian timur laut, terdapat tinggian yang mempunyai bentuk tapal kuda. Bukaan ke arah timur menghadap ke Dataran Bandung. Bronto menafsirkannya sebagai kerucut gunugapi kedua di dalam kawasan sistem Gunungapi Soreang.

Puncakmulya
Titik terbaik untuk menyaksikan kelompok kerucut perbukitan Gunungapi Soreang, bisa disaksikan di dataran tinggi Puncakmulya, Kutawaringin. Berada di ketinggian 1015 meter dpl., berupa pegunungan yang menghubungkan antar gunung disebut sadel (col/saddle). Penyebutan Puncakmulya muncul di peta modern, sedangkan pada peta lama Topographisch Bureau (Batavia) Lembar Kopo (1909) disebut Puncakgadog. Nama Gadog merujuk kepada nama pohon Gintung (Bischofia javanica).

Puncakmulya merupakan tertinggi, dilalui jalan penghubung antara Soreang ke Cililin. Jalan kelas desa, antara Cikupa di sebelah timur. Kemudian mengarah ke arah barat laut, membelah perbukitan sekitar Desa Sukamulya. Jalur perlintasan antar desa ini, dinaungi beberapa kerucut perbukitan bagian dari sistem Gunungapi Soreang. Di titik tinggi Puncakmulya, merupakan titik terbaik untuk mengamati bentang alam perbukitan. Di balik puncak perbukitan, terlihat dataran rendah Soreang. Dicirikan dengan struktur bangunan Masjid Agung Soreang dan Gedung Sabilulungan yang menjadi khas ibu kota Soreang. Puncak ini dikelilingi oleh kerucut-kerucut perbukitan, ditafsir sebagai batas kaldera Gunungapi Soreang bagian barat. Diantaranya G. Dukuh 1035 meter dpl, di sebelah timur laut. Bersanding dengan G. Kutamajangkar 1178 meter dpl., saat ini disebut G. Kutawaringin. Kemudian ke arah utara, dibatasi G. Cintalangu 1202 meter dpl., di baliknya didapati puncak memanjang baratlatu-tenggara disebut G. Gedogan.

Ke arah selatan, berjajar puncak-puncak yang memanjang timur-barat. Diantaranya G. Remeng yang dinaungi G. Aul 1201 meter dpl. kemudian ke arah barat berdampingan dengan G. Kerud, dan lebih ke arah barat daya ditempati G. Kaseproke 1187 meter dpl.

Sebagaian besar lereng perbukitannya telah bersalin rupa, dari kawasan hutan menjadi ladang. Kondisi demikian karena lahannya disusun oleh batuan lapuk yang memberikan unsur hara yang baik. Namun kondisi demikian, memiliki potensi gerakan tanah. Akibat batuannya belum terkonsolidasi dengan baik, atau batuan lepas. Batuan penyusunnya berupa lava andesit, breksi piroklastik, dan tuff. Dibeberapa tempat menyingkapkan batuan dasarnya, berupa breksi gunungapi.

Membentuk tiang akibat erosi tingkat lanjut, seperti yang terlihat di jajaran puncak antara G.. Kaseproke dan Pasir Pogor. Struktur batuan demikian, mirip dengan Gunung Buleud, Desa Cibodas. Tingginya 1178 meter dpl., bila dilihat dari kampung Bahuban, bentuknya mirip Candi. lokal menyebutnya Batunini, karena bentuknya seperti seorang nenek yang memikul barang.

Gunung Lumbung
Dari Puncak Mulya, kemudian bergerak ke arah barat melalui Cikoneng. Jalannya berupa aspal yang terkelupas, erosi air hujan. Menyisakan jalanan yang terkelupas, memperlihatkan makadam (jalan batu). Jalanan melandai ke arah barat, melewati G. Gedogan hingga Babakan, dilanjutkan ke Cikoneng. Dari Desa ini, kemudian memotong ke arah utara melalui jalan setapak hingga Cigadung..

Jalannya pas satu kendaraan roda dua, menanjak terjal hingga tiba di Cinagrog. Sesuai dengan namanya, titik ini merupakan sadel G. Lumbung. Dari peta lama Batavia : Topographisch Bureau (1906), menunjukan garis putus-putus. Garis tersebut memberikan petunjuk bahwa jalan menuju puncak G. Lumbung, dilalui dari sisi sebelah timur.

Pendakian jalur saat ini, lebih populer melalui jalur dari arah utara. Dimulai dari jalan setapak di seberang SDN Lembang. Jalurnya lebih panjang, dibandingkan bila dilalui dari arah timur. Jalurnya lebih landai, memutar ke arah barat mengikuti kontur perbukitan. ‘Jalan yang tersedia berupa jalan setapak, menanjak dan bertangga. Tetapi bila melalui Cinagrog, bisa dilalui oleh kendaraan roda dua, karena sebagian besar jalan sudah dibuka oleh warga. Tujuan pelebaran jalan setapak tersebut, untuk mengangkut hasil panen.

G. Lumbung 1062 meter dpl., merupakan perbukitan yang menaungi Dusun Lembang, Mukapayung. Merupakan perbukitan yang memanjang barat-timur. Ke arah baratnya dibatasi oleh G. Putri 880 meter dpl. Di Hadapannya adalah perbukitan G. Solokanpandan 1042 meter dpl. Di antara Lumbung-Putri dan Solokanpandan, membentuk lembah dalam yang ditoreh oleh Ci Lembang. Mengalir ke arah barat, bergabung dengan Ci Bitung, hingga bermuara di Saguling, Cililin.

Dari Cinagrog, terlihat dataran rendah yang membentuk cekungan. Disebut Dusun Lembang, Mukapayung. Daerahnya subur, ditandai dengan hadirnya petak-petak sawah yang menghiasi sebagian besar cekungan. Air mengalir melalui beberapa anak sungai, diantaranya Ci Lembang. Hulunya di lereng selatan G. Gedogan 1296 meter dpl., salah satu puncak tertinggi di wilayah Mukapayung.

Catatan awal yang menjelaskan keberadaan tingalan budaya di puncak G. Lumbung adalah laporan dua peneliti Eropa. P. Van Oort dan S. Muller, menulis hasil survey arkeologi dalam laporan Aanteekeningen Gehouden Op Eene Reize Over Een Gedeelte. Berupa perjalanan survey ke wilayah Jawa dan sebagian Sumatera, dilakukan dari tahun 1833 hingga 1835.

Survey arkeologi ke G. Lumbung dilakukan selama tiga hari, dari tanggal 15 hingga 17 Januari 1833. Berangkat dari Cilokotot, kemudian menyeberangi Citarum di Cipameuntasan, kemudian ke utara melaui Gajah Langu. Saat ini ditafsirkan sebagai perbukitan G. Salam di Leuwigajah, Cimahi Selatan. Dalam keterangan selanjutnya, Muller menggambarkan dari Ci Tarum ke arah selatan jarang dihuni. Ke arah selatannya adalah padang rumput yang luas, ditempati ilalang dan gelagah, rusa liar dan harimau. Sesekali melihat kawanan angsa dan banteng liar yang sangat ditakuti warga. Areal ini seringkali digunakan sebagai lahan perburuan binatang liar oleh Bupati Bandung saat itu.

Kondisi demikian menandakan wilayah Bandung bagian selatan, masih relatif belum terjamah. Sehingga batas wilayah pemerintahan pada saat itu bukan pada batas wilayah lahan, tetapi berdasarkan sebaran penduduk.

Pada tanggal 17 Januari 1833, P. van Oort dan S. Muller melakukan perjalanan lanjutan. Dimulai dari Cililin, kemudian menyeberangi Ci Minyak. Perjalanan ini sepertinya telah diatur dan diatur oleh seorang Wedana Rongga saat itu. Digambarkan bahwa sungai tersebut dalam dan deras airnya, namun bila disandingkan dengan kondisi sekarang berbeda. Sebagian besar sungainya sudah tenggelam oleh genangan Waduk Saguling. Dari Tegallaja keduanya melanjutkan dengan cara berjalan kaki, menyusuri Ci Bitung ke arah hulu.

Selepas lembah Mukapayung, kemudian menembus perbukitan hingga tiba di lembah disebut Lembang. Berupa cekungan yang diapit oleh beberapa puncak perbukitan. Menjelang tengah hari, mendaki Gunung Lumbung dari sisi utara. jalannya curam dan terjal, hingga mendapati dataran di atas perbukitan tersebut. Selanjutnya dilaporkan didapati teras persegi yang ditumbuhi rumput dan semak-semak, menutupi area tanah yang luas. Muller menduga bahwa daratan di bagian puncaknya pernah ditempati sekelompok warga. Namun ia tidak menemukan sisa-sisa jejak bangunan.

Kemudian dilanjutkan ke arah timur, mendekati punca perbukitan. Selama perjalan menemui pecahan genteng, mangkuk porselen cina, dan wadah-wadah pecahan lainya. Keberadaan pecahan porselen, hingga kini masih didapati secara acak. Terutama di perkebunan warga dekat situs arca. Muncul ke permukaan karena kegiatan penggemburan tanah, atau kegiatan perkebunan lainnya. Namun ketiga dikonfirmasi kepada warga yang menempati perkebunan, kurang begitu memahami keberadaan pecahan porselen tersebut.

Dari keterangan Muller, didapati situs yang dibatasi oleh batu sungai. Dicirikan dengan bentuk batu yg membundar, menandakan batunya diambil dari sungai sekitar perbukitan. Kemudian dibawa ke puncak dan ditata sedemikian rupa. Pada laporan Muller.

“Patung itu berdiri di bawah pohon tua yang tinggi, dikelilingi oleh lingkaran batu yang ditegakkan, dan tingginya lebih dari enam meter. Bentuknya sangat tidak jelas; sepertinya menggambarkan seorang manusia dalam posisi duduk, yang memegang sesuatu di depan dadanya, yang mirip dengan seorang anak dengan kepala burung. Bagian depannya menghadap ke barat laut, dan di belakangnya terdapat batu bulat kecil yang tingginya lebih dari satu meter.

Penduduk setempat menyebutnya arca. Mereka tidak akan melakukan hal penting apa pun tanpa terlebih dahulu mempersembahkan dupa dan memohon berkah darinya.”

Saat ini keberadaan arca tersebut kurang lebih sesuai dengan penggambaran lukisan Van Oort. Berupa bentuk menyerupai tubuh manusia setengah badan, kemudian bentuk mata tunggal di tempatkan pada bagian arca. Tingginya 65 cm dan lebar 40 cm, terbuat dari batuan trachyte. Batuan beku hasil kegiatan gunungapi, berwarna terang.

Arca tersebut didampingi oleh tiang batu disebut lingga, dengan ukuran tinggi 120 cm, dan lebar sekitar 50 cm. Gambar sketsa dan keterangan, dituliskan dalam laporan terpisah. Melalui Over Eenige Oudheden Van Java En Sumatra.

“Fig. 1. Sebuah Artja dari Gunung Loemboeng. Gunung ini terletak 6 atau 7 jam perjalanan ke arah barat daya dari kota utama Bandung, di tengah-tengah gunung-gunung lain yang berukuran sedang. Puncaknya, sekitar 5000 kaki di atas permukaan laut, menampilkan sebuah dataran tinggi kecil, di mana terdapat sebuah gagah (ladang padi hutan) dengan sebuah rumah sederhana. Saat mengolah tanah, ditemukan berbagai sisa-sisa rumah tangga, seperti koin tembaga kecil (pitis atau pitjis), seukuran duit, dengan lubang persegi di tengahnya, sejumlah pecahan piring atau cangkir berwarna kebiruan, sebuah pot kecil dari bahan putih, berbutir halus, dan sangat keras (lihat gambar 3), dan akhirnya sebuah wadah dupa kecil dari tanah merah (gambar 4, a. dari samping, b. dilihat dari atas, gambar-gambar ini, sama seperti gambar 3, diperkecil satu setengah kali), semua benda ini ditunjukkan kepada kami oleh seorang wanita tua dan dijual dengan harga murah. Di titik tertinggi puncak gunung tersebut terdapat patung Artja yang digambarkan (fig. 1). Patung kuno ini — jika dalam kondisi saat ini masih dapat disebut patung — berdiri di bawah pohon Hoeni yang cukup besar (Antidesma bunius).

Ini terdiri dari dua belas batu sungai yang disusun dalam lingkaran dan ditutupi oleh beberapa baris tanaman Hanjuang berdaun merah (Dracaena terminalis). Bentuknya sangat tidak jelas dan telah banyak rusak akibat pengaruh udara dan air, karena patung tersebut terbuat dari batu konglomerat. Bagian belakangnya hampir rata, dan hanya bagian samping dan depan yang masih utuh. Di bagian depan hanya terlihat kepala burung, yang paling mirip dengan burung merak, yang dapat dikenali dengan jelas. Patung ini tidak memiliki wajah yang sebenarnya, tetapi di bagian atas kepala terlihat sosok seperti mata yang berdiri tegak, yang memiliki kemiripan dengan mata ketiga yang melambangkan matahari di dahi Siwa. Tinggi patung keseluruhan adalah 0,65 meter, lebarnya 0,40 meter, dan ketebalannya 0,25 meter. Bagian depannya menghadap ke arah barat laut.

Gambar 2. Batu panjang, ramping, dan sedikit kemerahan ini, yang diduga merupakan Lingga, terletak di sebelah timur laut di belakang arca yang telah dijelaskan di atas. Batu tersebut memiliki tinggi 1,20 meter, lebar 0,28 meter, dan tebal 0,20 meter. Di dekat benda-benda ini, terutama di depan Artja, terdapat beberapa ikat jerami padi yang setengah terbakar dan beberapa tongkat bambu, yang diduga digunakan untuk ritual mistis guna meramalkan masa depan. – Tidak jauh di selatan Gunung Loemboeng, terdapat puncak gunung lain yang memiliki nama bersejarah G. Majapahit”

Saat ini kondisi arca dalam kondisi tidak terawat. Terbuka tanpa ada atap penutup, sehingga akan mudah lapuk dan rusak oleh cuaca. Keberadaan segmen bagian atas pada arca, saat ini telah tererosi. Sedikit membundar, dan kehilangan detail seperti yang digambarkan oleh Van Oort pada 1833. Selain itu didapati kolom yang membentuk seperti obelix, dengan aksara latin berupa angka. Diduga merupakan titik triangulasi yang digunakan kolonial, untuk melakukan pemetaan.

Reservoir./tandon air untuk kereta api uap
Railbed/lintasan kereta api di sekitar utara Soreang

Catatan Geourban#45 Jembarwangi

Selepas bulan Juli 2025 usai, pembangunan jalan Lingkar Utara Jatigede telah selesai dibangun. Walaupun belum resmi dibuka, tetapi bisa dilintasi dalam jumlah kendaraan terbatas. Kesempatan inilah dimanfaatkan, meninjau jalan yang melingkar sisi utara waduk Jatigede, Sumedang. Kegiatan ini merupakan bagian dari acara Geourban ke-45, dengan tajuk Jembarwangi pada 10 September 2025, 

Kegiatan inisiasi wisata bumi sekitar Sumedang, dimulai dari sisi sebelah utara Waduk Jatigede. Memanfaatkan jalur baru lingkar utara, dari percabangan jalan kabupaten Situraja ke Darmaraja. Mulut jalan berada di sekitar tanjakan Cinangsi yang berada dibahu dua gunung. Sebelah timurnya adalah G. Baju, dan ke arah timurnya G. Tanjung. Jalannya lebar, diapit oleh parit drainage. Menandakan kelas jalan lingkar ini merupakan proyek nasional. Selepas percabangan Cinangsi, disambut oleh jalanan yang mendaki. Agar tidak terlalu terjal, dilakukan pembobokan perbukitan G. Tanjung 519 mdpl. Kemudian dilanjutkan ke arah timur yang mulai melandai melewati perbukitan Pasir Hingkik 513 mdpl.

Arah pandangan luas tidak terhalang. Ke arah timur terlihat hamparan air yang luas. Waduk Jatigede menenggelamkan 28 desa, dari 5 kecamatan sejak 2015. Dibutuhkan waktu hampir setengah tahun, untuk mencapai paras air optimal. Luas genangan airnya saat ini, kurang lebih sekitar 42 km2. Titik tinggi paras airnya, 260 meter di atas mukalaut. Satu-satunya pulau yang tampak dari arah Cinangsi, adalah G. Surian 310 mdpl. Kerucutnya timbul di atas hamparan air, berhadapan langsung dengan poros bendungan Jatigede. 

Sekitar 15 menit berkendara, di sebelah timur terlihat perbukitan yang mengungguli tinggian. Disebut Pasir Julang, atau masyarakat menyebutnya G. Julang. Dalam peta geologi lembar Arjawinangun (Djuri, 2011), merupakan Hasil Gunungapi Tua-Lava (Qvl). Produk G. Lingga 1125 mdpl.  Dalam tafsiran berdasarkan peta geologi tersebut, memberikan dugaan arah aliran lavanya mengalir ke timur laut hingga Nangerang. Sehingga diperkirakan G. Julang merupakan fasies proksimal (Bogie & Mackenzie, 1998). Perkiraan lainnya adalah perbukitan tersebut merupakan hasil penerobosan magma, disebut intrusi batuan beku. Menerobos batuan sedimen 

Bila merujuk pada pendapat di atas, memberikan petunjuk bahwa G. Julang bukan perbukitan intrusi batuan beku. Melainkan produk aliran lava G. Lingga yang berada di sebelah barat daya yang berjarak sekitar 4.5 km. Disusun batuan beku, berwarna abu terang menandakan didominasi mineral andesitik. Sejak awal pembangunan Waduk Jatigede, sumber batuan yang berada di G. Julang dimanfaatkan untuk kegiatan pembangunan poros waduk diantaranya adalah sebagai agregat. Lahan seluas 55 Ha, tersebut kini direncanakan akan ditambang kembali untuk kebutuhan Bendungan Cipanas. Hanya terlihat beberapa warga yang masih memanfaatkan batuan tersebut, dengan cara penambangan tradisional. Sebagai batu hias, dan pondasi dalam skala tambang kecil.

Saat ini G Jualang tidak lagi menjulang. Sebagian besar tubuhnya telah hilang hasil kegiatan tambang sejak tahun 70-an akhir. Batuannya masih, berupa lava tebal dengan ciri terkekarkan. Menandakan batuan tersebut terdeformasi, akibat kegiatan tektonik. Di sebelah utaranya merupakan jalur sesar Baribis, sehingga kegiatan tektonik tersebut mempengaruhi secara langsung pada batuan. Sebagian besar kawasan ini membentuk bentang alam berupa ceruk, dan sebagian besar membentuk dataran seperti mesa. Tinggian yang terpancung, menyisakan lapangan yang datar. Sebagian besar batuan yang singkat, terkekarkan dengan kuat, membentuk struktur rekahan atau patahan pada batuan (deformasi). Sebelah barat daya, didapati fitur batuan yang membentuk seperti kepala burung. Berupa susunan kekar kolom, tersisa dari kegiatan tambang. 

Menurut warga, fitur batuan tersebut hasil kegiatan tambang menggunakan alat berat. Namun karena batuannya terlalu keras, mengakibatkan alat berat tersebut menyerah. Sehingga ditinggalkan begitu saja, meninggalkan bentuknya pipih. Sehingga masyarakat menyebutnya batu kipas. Disusun oleh batuan beku, berwarna abu terang ciri andesitik. Berada pada ketinggian, sebagian besar bagian bawahnya telah hilang oleh kegiatan tambang, menyisakan blok batuan. 

Dari G. Julang menjadi titik terbaik untuk melihat panorama Waduk Jatigede. Dengan demikian, BBWS berencana mengembangkan kawasan ini sebagai objek wisata berupa vie point atau anjungan pandang.  Rencana tersebut membutuhkan kajian, agar selaras dengan kondisi lingkungan, kemampuan untuk pengelolaan wisata berkelanjutan. 

Sebelah timur laut dari G. Julang, mengikuti jalan Lingkar Utara Jatigede akan menemui situs. Masyarakat menyebutnya Situs Karamat berupa kumpulan batuan dengan ukuran bongkah. Dilingkari oleh pagar besi, menyusun tinggian yang ditempati oleh pohon tegak. Warga menyebutnya petilasan, atau tempat yang pernah menjadi tempat singgah atau disakralkan. Tempat suci yang digunakan sebagai kegiatan ritus, atau sebagai simbol budaya. Informasi mengenai Situs Karamat ini sangat terbatas, karena tidak ada informasi baik dalam tinggalan prasasti atau sumber primer seperti naskah. 

Sumber batuannya bila merujuk pada peta geologi Arjawinangun (Djuri, 2003). Berupa batuan beku yang diperkirakan sama dengan yang ditemui di G. Julang. Berupa Hasil Gunungapi Muda tak Teruraikan. Diantaranya breksi, lava bersifat andesit dan basal, pasir tufan, lapili. Bentuknya lonjong, saling menumpuk. Menurut warga, situs ini merupakan bagian puncak, ditandai dengan batu yang disimpan berdiri seperti menhir. Posisi situs berada ditengah jalan yang menghubungkan antaran Cinangsi ke Pajagan. Namun bila melihat peta lama lembar Darmardja (1943), berada pada ketinggian perbukitan. Dalam peta tersebut belum menunjukan garis jalan. Namun dalam keterangan bapak Asep, kampung yang berada di sekitar situs, merupakan hasil relokasi akibat penggenangan waduk. 

Pada peta lama lembar Soedapati (1911), lokasi situs berada di daerah disebut Bantarjambe. Sesuai dengan nama Sekolah Dasar yang masih menggunakan nama yang sama. Dengan demikian diduga, kampung di sekitar situs merupakan relokasi dari kampung Legok. Posisinya sebelah timur, di bawah lembah yang kini menjadi batas paras air Waduk Jatigede. Untuk menghindari penggenangan, maka warga Legok kemudian bergeser ke dataran yang lebih tinggi disekitar Bantarjambe saat ini. 

Saat ini keberadaan situs telah dilindungi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, melalui undang-undang cagar budaya Nomor 11 Tahun 210 Tentang Cagar Budaya. Disebut Situs Makam Karamat, Cigintung, Sumedang. 

Lokasi selanjutnya adalah Pasir Pareugreug. Merupakan blok yang naik, disebut sesar anjak busur belakang. Merupakan sistem Backarc Java Thrust, segmen Baribis. Blok yang naik ini kemudian dimanfaatkan sebagai poros bendungan. Dinding bendungan yang berarah timur-barat, sesuai dengan arah sesar Baribis. 

Dari atas Pasir Pareugreug, bisa menyaksikan ke segala arah. Di timur terlihat lembah yang dalam, ditoreh oleh Ci Manuk. Aliran outlet dari spillway poros Waduk Jatigede. Mengalir membelah perbukitan terlipat, diapit oleh G. Tonjong sebelah barat, dan G. Pakayuan 330 mdpl., di bagian timur. Alirannya mengarah ke utara, melalui Parakan Kondang. Kemudian Desa Karedok. Alirannya kemudian dibendung kembali, oleh bendungan Bunut.

Dari Pasir Pareugreug, kemudian turun ke arah Desa Karedok melalui lereng Pasir Sema. Jalanan curam, tetapi sebagian besar sudah di beton dan aspal. Menjelang memasuki Desa Karedok, didapati situs Keramat Sunan Pada. Di keterangan papan informasi, gerbang masuk situs berbunyi Situs Keramat Sunan Pada, ayah dari Ratu Cukang Gedeng Waroe. Sunan Pada adalah mertua dari Geusan Ulun yang berkuasa sebagai raja Sumedang. Dari 1579, naik tahta sebagai raja melalui amanat untuk meneruskan kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran. 

Jalannya berupa turunan yang terjal, sisi sebelah baratnya dibatasi oleh gawir terjal Pasir Pareugreug. Dibeberapa tempat terlihat dinding perbukitan tersebut disusun oleh batuan  breksi gunungapi. Seperti dilaporkan pada awal hadirnya perkampungan ini pernah mengalami bencana. Berupa gerakan tanah atau longsor, mengakibatkan posisi kampung haru bergeser ke arah utara ke kampung Rancakeong dan Babakan Dobol. Lebih mendekati bantaran Ci Manuk.

Dihujung kampung, dibatasi oleh genangan air Ci Manuk. Membentuk danau yang terbentuk karena aliran tersebut di tahan oleh Bendung Bunut. Membentang sekitar 380 meter, menutup celah sempit Ci Manuk di Desa Karedok, Jatigede. Bendungan ini berfungsi untuk penyaluran irigasi, penyedian air baku dan sistem pengendali banjir. 

Dari Cibunut kemudian beralih ke arah Jembarwangi di sebelah timur. Jaraknya kurang lebih 7 km. mengikuti jalan fasilitas Waduk Jatigede melalui lintas timur. Di sekitar Cijeungjing kemudian berbelok ke arah tenggara, memasuki desa Jembarwangi bagian barat. Sebelum tiba di Kantor Desa, jalanan mengikuti jalur turunan curam, berakhir di Ci Saar. Sungai yang membelah Desa Jembarwangi, mengalir ke arah utara. 

Merujuk pada beberapa penelitian, kawasan ini disusun oleh batulempung, dan serpih gampingan yang memiliki tebal hingga 650 meter. Bagian dari Formasi Cisaar, berumur Miosen Tengah atau sekitar 15 juta tahun yang lalu. 

Dalam laporan penelitian paleontologi, disebut lembah Cisaar. Memiliki potensi dan sebaran fosil vertebrata. Mulai diteliti sejak lama, namun secara berkala dilakukan oleh Badan Geologi, melalui tim Museum Badan Geologi, KESDM sejak 2019. Diantaranya telah ditemukan beberapa fosil, di titik ekskavasi  di beberapa lokasi yang tersebar sepanjang Ci Saar. Keberadaan fosil vertebrata atau mamalia besar tersebut, menunjukan bahwa sebagian besar lembah Cisaar saat itu dalam kondisi lingkungan estuari. 

Fosil yang ditemukan, tertanam pada batuan dan tanah yang telah lapuk. Sebagian tersingkap di permukaan akibat kegiatan erosi, dan dibawa oleh air. sehingga beberapa fragmen ditemukan tersebar dari barat ke timur. Semua ditemukan pada Formasi Citalang, disusun konglomerat,  dan batupasir tufaan, merupakan lingkungan endapan darat dengan sistem sungai teranyam (braided stream deposits). Umurnya Pleistosen sekitar 1,2 juta tahun yang lalu. Diantaranya ditemukan rahang bawah Stegodon trigonochepalus (Wibowo et. Al., 2018). Lembah Cisaar, Jembarwangi saat ini menjadi salah satu situs baru, untuk kegiatan penelitian paleontologi vertebrata di Jawa bagian barat.

Batukipas, G. Julang Jatigede, Sumedang
Situs Karamat. Cigintung
Di puncak Pasir Pareugreuh.
Fosil vertebrata di Lembah Cisaar

Catatan Geourban#41 Spoorwegen Majalaya

Sejak subuh udara terasa lembab, menandakan cuaca yang bisa saja hujan. Selepas matahari terbit, jalanan mash lenggang. Mengingat saat kegiatan dilaksanakan, jatuh pada hari minggu, 9 Agustus 2025. Namun bagi warga Dayeuhkolot, tidak ada hari libur, sehingga arus lalu lintas ke arah kota masih saja padat.

Warga memanfaatkan jalan utama, melalui jembatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Namun sejak seminggu, jembatan tersebut kembali ditutup. Dengan demikian, arus lalu lintas diatur menjadi satu arah. Lima orang petugas dari kepolisian berjaga di muka jembatan, memastikan agar tidak ada warga yang nakal menerobos, mengingat jembatan ini sangat penting. Menghubungkan perumahan warga di selatan Dayeuhkolot, menuju pusat kota Bandung.

Lokasi inilah menjadi titik pertemuan bagi peserta Geourban ke-41. Diantaranya hadir konten kreator, pemandu wisatabumi (geowisata), dan pegiat wisata heritage. Sesuai dengan ciri khas kegiatan Geourban, semua peserta mengendarai roda dua. Moda transportasi tersebut dianggap ekonomis, dimiliki semua orang dan yang terpenting adalah daya jelajahnya lebih luas. Mengingat kegiatan penelusuran jalur kereta api Bandung selatan, melalui jalan dan gang sempit warga di Dayeuhkolot, Ciparay hingga Majalaya.

Kegiatan diawali menyusuri kembali jembatan yang melintasi Ci Tarum. Jembatan Dayeuhkolot menghubungkan Citeureup ke Baleendah sebelah selatannya. Saat kegiatan Geourban ke-41, sedang dalam perbaikan. Akibat sedimentasi tinggi sekitar Dayeuhkolot, mengakibatkan sering terlanda bajir tahunan. Tingginya antara satu hingga dua meter lebih, menenggelamkan rumah-rumah warga sepanjang bantaran sungai. Kondisi demikian bisa terjadi akibat disumbang oleh dua sungai, dari arah selatan mengalir Ci Sangkuy yang hulunya di G. Malabar. Kemudian Ci Kapundung, dari lereng G. Bukittunggul Bandung utara. Kedua sungai tersebut bermuara di sekitar Dayeukolot, sehingga menghimpun sedimentasi tinggi. Selain itu permasalahan sampah, dan perubahan penataan dihulu. Mengakibatkan banjir kiriman, bila hujan di hulu.

Kegiatan yang dibalut dalam kegiatan penelusuran sejarah perkeretaapian, menapaki kembali jalur lintasan. Jalur kereta api masa kolonial, menghubungkan Dayeuhkolot ke Majalaya, melalui Ciparay. Selain itu mengunjungi situs budaya, G. Munjul. Perbukitan intrusi, sektiar Munjul yang diperkirakan pernah menjadi sentra lintas budaya lama sejak megalitik.

Sebelah timur dari jembatan Dayeuhkolot, membentang jembatan kereta api. Panjangnya kurang lebih 55 meter, melintasi Ci Tarum. Tiang-tiang besi yang menyangga lintasan rel, terlihat kokoh membentang. Menyangga lebar rel, sekitar 1.13 mm. lebih sempit dibandingkan lebar jalur rel kereta modern (standard gauge). Seperti penggunaan jalur kereta api cepat di Indonesia, menggunakan lebar 1.435 mm.

Dalam peta lama kolonial Kaart van het Eiland Java (1855), peta yang disusun oleh naturalis Jerman. Menggambarkan posisi Bandong Toea, atau Dayeuhkolot saat ini. Dalam keterangan peta Indische spoorweg-politiek (1926), nama ibu kota kabupaten Bandung, dituliskan nama Bojongasih. Berada di dua pertemuan sungai. Tji Sangoei atau Ci Sangkuy datang dari arah selatan. Kemudian Tji Keboedoeng atau Ci Kapundung. Pertemuannya persis di Dayeuhkolot, sehingga titik ini menjadi sangat penting. Menghubungkan dataran tinggi yang didominasi perkebunan, dan pusat kota ekonomi di sebelah utara.

Sistem transportasi awal abad ke-19 sudah berkembang, didahului oleh modernisasi jalan regional. Daendels pada 1810 memperlebar jalan yang telah ada, menghubungkan pusat kota Batavia ke pedalaman priangan. Sehingga perkebunan yang berada diwilayah Preanger Regentschappen, bisa diakses melalui jalan raya. Sering perkembangan teknologi, pedati yang lambat, kemudian digantikan dengan moda transportasi massal. Paa 1884, kereta api memasuki kota Bandung. menghubungkan Cianjur, Bogor hingga Jakarta pada saat itu.

Perjalanan dimulai dari jembatan kereta api yang melintasi Ci Tarum. Berupa jembatan yang dibangun menggunakan struktur baja, ciri teknologi sipil pembangunan jembatan modern. Bila merujuk kepada foto lama kolonial tahun 1930-an, struktur bajanya berupa melengkung. Terdiri dari dua bagian penyangga, kemudian satu struktur melengkung utama. Bentuk demikian berbeda dengan struktur yang dikenal saat ini, berupa struktur baja yang membentuk sudut siku.

Membuka langkah menuju mulut jembatan, berupa susunan baja tebal. Jalur rel kereta selebar 1,130 mm, kini telah dialasi beton. Dari jembatan kereta api Dayeuhkolot, jalur lintasan kereta api bercabang. Satu jalur lintasan ke arah selatan menuju Banjaran. Menghubungkan Dayeuhkolot ke Soreang, dibuka 13 Februari 1921. Kemudian dilanjutkan ke dataran tinggi Ciwidey dan beroperasi penuh 17 Juni 1924. Jalur ini termasuk menguras kas perusahaan negara kolonial saat itu, akibat melintasi beberapa sungai. Sehingga memerlukan pembangunan jembatan panjang.

Jalur Dayeuhkolot ke Majalaya, secara penuh beroperasi sejak 3 Maret 1922. Jalur kereta api menuju Majalaya digunakan untuk jasa pengangkutan hasil perkebunan dan tekstil dari Bandung selatan. Panjang lintasan, kurang lebih 17 km. Memanjang dari barat ke timur, sejajar dengan jalann utama dan aliran Ci Tarum. Melewati tujuh halte, dari Dayeuhkolot ke Cilelea, Manggahang, Jelekong, Ciheulang, Paeureusan, Ciparay, Cibungur kemudian berakhir di Majalaya.

Beberapa halte berhasil dikunjungi, berdasarkan dari informasi hasil penelusuran sebelumnya. Kemudian pada saat kunjungan lapangan dikonfirmasi ulang, melalui wawancara dengan warga yang telah berusia di atas 60 tahun. Mengingat jalur lintasan rel kereta api ke Majalaya telah hilang, akibat dibongkar pada pendudukan Jepang tahun 1942 hingga 1945. Pembongkaran batang rel kereta api, dikerjakan oleh para interniran dan penduduk bumi putra. Para tawanan asing warga Eropa dan Amerika yang telah menetap di kota Bandung pada masa kolonial. Dikerjakan di bawah kondisi kerja paksa, sehingga dilaporkan beberapa orang meninggal dunia akibat kelaparan, kekurangan ketersediaan air bersih hingga penyakit. Kesaksian kekejaman tentara Jepang, dilukiskan dalam buku Onder De Japanse Knoet (1945). Buku yang berisi kesaksian, penyiksaan dan kerja paksa bagi tawanan perang di Bandung dan sekitarnya.

Saat ini lintasan kereta api hanya dicirikan, berupa jalan sempit yang diapit oleh rumah warga. Dalam penelusuran kembali, batang rel maupun bantalan kayu telah tidak ditemukan. Mengingat semuanya dibongkar dan diangkut, untuk pembuatan jalur kereta api di Saketi, Bayah. Bukti jalur lintasan hanya bisa disaksikan dari kesaksian warga yang sudah berusia manula. Berdasarkan ingatan mereka, hanya mampu menunjukan halte atau pemberhentian kereta api. Selebihnya berupa bukti fisik, seperti bantalan rel kereta api (railbed), sisa pondasi jembatan, tanggul dan kelurusan jalur sempit.

Sebagai alat bantu panduan jalur, PT. KAI telah melakukan survey ulang. Ditandai dengan pemasangan patok KAI di sepanjang jalur. Berupa patok yang dibuat dari beton, dengan ukuran sekitar satu meter. Ditanam berpasangan, menandakan lebar jalur lintasan. Keberadaan patok tersebut, memudahkan penelusuran kembali jalur kereta api Dayeuhkolot ke Majalaya.

Selain patok modern milik PT KAI, dibeberapa tempat ditemui patok awal yang dipasang oleh Staatsspoorwegen disingkat SS. Sesuai dengan tanda inisial perusahaan perkeretaapian negara, pada masa kolonial Belanda.

Beberapa halte atau pemberhentian kereta api jalur Dayeuhkolot ke Majalaya, berjumlah 7 pemberhentian, termasuk halte Ciparay. Beberapa halte lainnya sudah tidak memberikan bentuk struktur bangunan, karena sudah beralih fungsi. Terhitung sudah melampaui waktu 82 tahun, terhitung sejak pembongkaran pada 1942-43. Sehingga bangunan halte sudah hilang, akibat berganti menjadi rumah warga, maupun sarana fasilitas kolektif seperti sekolah dan aula.

Saat dikunjungi, halte Cileles, Manggahan, sudah tidak ada. Sedangkan halte Jelekong telah berubah fungsi menjadi Sekolah Dasar 2 Cangkring. Seorang warga menunjuk tempat lain, yaitu Puskesmas Jelekong. Perbedaan penentuan lokasi halte terjadi pada halte lainya, diantaranya Ciheulang, Paneureusan, dan Cibungur. Sedangkan halte Ciparay dan Majalaya masih bisa diduga posisinya.

Selain penelusuran lintasan kereta api, rombongan berkesempatan mengunjungi situs budaya di sekitar Manggahang, Baleendah. Berupa perbukitan intrusi, diduga pernah menjadi titik sakral pada masa Prasunda hingga Sundaklasik. Keberadaanya masih perlu kajian arkeologi, mengingat keberadaanya sangat strategis. Bila merujuk kepada peta lama Topographisch Bureau (1905), tingginya sekitar 685 meter dpl. Dalam peta tersebut memperlihatkan mender Ci Tarum menyentuh kaki bukit Munjul. Sedangkan ke arah utaranya adalah hamparan muras atau rawa. Membentang dari Ujung Berung, hingga Ciparay. Disebut Rancahalang yang bermakna rawa, masih mendominasi dataran rendah Bandung selatan. Bila disandingkan dengan google maps saat ini, posisi sungai telah bergeser sekitar 700 meter ke arah utara. Penyebabnya adalah karena penyodetan akhir tahun 80-an, dan sedimentasi tinggi.

Kegiatan ditutup di stasiun Majalaya. Walaupun struktur bangunannya telah hilang, namun ciri-cirinya masih bisa dikenali. Diantaranya masih didapati patok dengan inisial SS, dan bagunan tua. Diperkirakan merupakan rumah tinggal pejabat perkeretaapian Belanda pada saat itu. Penelusuran ini kembali jalur kereta api ini, memberikan gambaran upaya kolonial dalam merancang sistem moda transportasi massal. Memanfaatkan topografi, dan sumber daya alam yang tersedia. Mengingat pembangunan jalur kereta api jalur Dayeuhkolot-Majalaya memiliki peranan penting, sebagai penggerak ekonomi tekstil awal tahun 1930-an dan pengangkutan hasil perkebunan.

Sisa bantalan keretapi (railbed), di Sarimahi, Ciparay
Patok Staatsspoorwegen (SS) dipemakaman Cisoka, Majalaya
Bangunan gaya kolonial, di Statsiun Majalaya

Catatan Peluncuran Geourban Emagz dan Diskusi Wisata Alternatif

Telah dilaksanakan kegiatan peluncuran Geourban Emagazine, majalah popular yang merangkum informasi wisata bumi. Kemudian kegiatan lanjutkan dengan paparan dan diskusi seputar wisata alternatif. Dilaksanakan di ruang pertemuan, Sekretariat Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Jawa Barat.

Terletak di Jalan Tamblong Nomor 8 Bandung, pada tanggal 19 Mei 2025. Dihadiri oleh 50 orang, berasal dari beberapa latar belakang. Diantaranya dari asosiasi pemandu pariwisata, biro perjalanan wisata, akademisi, pegiat wisata, pengelola desa wisata, dinas pemerintahan daerah kota Bandung, pelaku pariwisata dan media. Berlangsung dari pukul 9.00 wib, hingga berakhir pkl. 13.00 wib.

Kegiatan dibuka oleh Deni Sugandi, selaku pihak penyelenggara acara. Menyampaikan latar belakang penerbitan majalah elektronik ini. Tujuannya adalah menghimpun data pariwisata yang berbasis wisata bumi. Disebut Geourban Emagazine, untuk penerbitan pertama Edisi 1 Nomor 1 Bulan Mei 2025. Di dalamnya memuat rubrik profile, objek wisata bumi, resensi buku, dan tulisan-tulisan tentang wisata bumi. ditulis oleh anggota dewan redaksi dan kontributor. Penulisannya menggunakan gaya bahasa populer. Penerbitan pertama ini merupakan rangkaian penerbitan seri edisi, direncanakan terbit tiga kali dalam satu tahun.

Materi berupa file, bisa diunduh di: https://pgwi.or.id/geourban-emagz/ Majalah ini diperuntukkan bagi praktisi pariwisata, pelaku hingga umum. Memperluas wawasan dan pengetahuan, khususnya tema-tema yang berkaitan dengan pengetahuan dan informasi wisata bumi. Kelahirannya digagas oleh Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Dewan Pengurus Nasional. Duduk sebagai Ketua Dewan Redaksi adalah Deni Sugandi. Kemudian Anggota Redaksi diantaranya; T Bachtiar, Malik Ar Rahiem, Diella Dachlan Gangan Jatnika, Jeani Jean, Andi Lala, Andrias Arifin, Ricky Nugraha. Nama-nama tersebut merupakan pegiat, pelaku hingga pelaku wisata khususnya wisata bumi.

Dalam sambutan acara ini, Daniel G. Nugraha selaku Ketua ASITA Jabar menyampaikan beberapa hal. Dalam sambutannya mengatakan pentingnya kolaborasi antara pemandu wisata dan operator usaha perjalanan wisata. Dalam pertemuan ini, Daniel berharap pertemuan ini adalah memperluas jejaring pelaku industri pariwisata. Dengan demikian akan timbul kesepahaman antara pemandu wisata, pengelola objek wisata dengan jaringan usaha perjalanan wisata yang bernaung di bawah ASITA.

Sambutan ke-dua disampaikan oleh Bintang Irawan. Sangat menyambut baik, perlunya jaringan kerjasama yang tidak hanya bersifat formal. Tetapi bisa juga dihadirkan dalam bentuk kunjungan lapangan. Dengan demikian para usaha perjalan wisata bisa melihat langsung produk yang akan dikemas dan dijual. Bintang adalah Ketua HPI DPC Kota Bandung, selalu mendorong anggotanya untuk bisa bersanding dan berdaya jual. Terutama dalam menghadapi industri pariwisata nasional yang semakin kompetitif. Dengan demikian diperlukan kualitas pemandu yang berdaya saing, profesional dan mampu merancang perjalanan wisata. Dengan demikian, Bintang berharap anggotanya memiliki kualitas.

Sambutan berikutnya ditutup oleh perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, diwakili oleh staf dinas. Menyatakan bahwa pemerintah siap mendukung pengembangan wisata di wilayah Kota Bandung.

Setelah pembukaan, dilanjutkan dengan pemaparan oleh tiga narasumber. Diawali oleh Budi T Assor, menyampaikan pengalamannya menyelenggarakan paket wisata alternatif. Disebut Desa Tour, tema wisata yang berbasis tentang aktivitas warga di desa. Budi menuturkan bahwa paket wisata seperti ini menjadi primadona pada awal tahun 90-an. Sebagai alternatif wisata bagi wisatawan overland (wisata antar kota di pulau Jawa). Ditawarkan kepada wisatawan inbound/asing, sebagai wisata opsional pada saat free progam di Bandung.

Desa Tour dikerjakan oleh Budi Assor, Harry Sukhartono dan Felix Feitsma. Ketiganya merupakan pemandu wisata overland (tour guide), aktif sejak akhir tahun 80-an hingga kini. Destinasinya sekitar Bandung selatan, seperti sekitar Soreang-Ciwidey, atau berkunjung ke padepokan seni Wayang Jelekong, Baleendah, Kabupaten Bandung. Muatan materi yang disampaikan dalam kegiatan pemanduan, seputar perilaku hingga adat masyarakat kampung. Budi menceritakan kemampuan Felix untuk menguraikan cerita, dari objek yang sederhana menjadi menarik. Durasi kunjungannya mulai dari setengah hari (pagi ke siang), hingga satu hari penuh.

Pemaparan ke-dua disampaikan oleh T Bachtiar. Pendiri komunitas Geotrek Matabumi, hadir sejak tahun 2010. Berawal dari kegiatan alumni Jurusan Pendidikan Geografi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), kemudian berkembang menjadi komunitas populer. Kegiatannya berbasis wisata bumi, berupa jalan-jalan dengan tema dan lokasi kunjungan tertentu.

Bachtiar memaparkan potensi wisata bumi di sekitar perbukitan karst Citatah. Selain bentang alamnya memikat, kawasan ini memiliki sejarah bumi. Membentang dari 25 juta tahun yang lalu, berupa endapan batuan sedimen. Disusun oleh batuan karbonat, dari pengendapan hewan dan tumbuhan laut pada saat sebagian besar pulau Jawa tenggelam di bawah permukaan laut. Diantaranya ditemui bukti berupa fosil hewan laut, tertanam di batuan karbonat. Ditemukan disekitar lokasi pemanjatan di tebing 125, berupa fosil dengan ukuran tidak lebih dari 15 cm. Disebut siput racun (Conus geographus), keberadaanya masih bisa ditemui pada saat ini. Melalui komunitasnya, Bachtiar sudah beberapa kali menyelenggarakan kegiatan geotrek sekitar Citatah. Terakhir menggunakan mobil jenis off-road, dengan tujuan mengenalkan wisata bumi yang dikolaborasikan dengan aktivitas petualangan.

Bachtiar menegaskan, objek wisata bumi tersebut perlu dibunyikan melalui kegiatan interpretasi. Sehingga mampu dijual dalam bentuk paket wisata bumi, berkualitas dan memberikan pengalaman kepada wisatawan. Dalam kesempatan berikutnya, Jenni Jean menyampaikan wisata alternatif Braga Bandros Mistery. Paket wisata seputar kawasan kota Bandung, dengan tema berkaitan dengan cerita tidak biasa. Mengungkap tentang urban legend, mitos yang beredar dimasyarakat hingga misteri kota. Paket wisata ini dilaksanakan pada malam hari, hingga tengah malam. Menurut pengelola, hingga kini jumlah antrian wisatawan selalu meningkat. Mengingat wisata alternatif ini belum pernah ada, sehingga selalu menarik perhatian.

Untuk mengupas kisah misterinya, dalam kegiatan wisata malam ini, didampingi interpreter spesial. Individu yang mampu membaca energi, kemudian direfleksikan melalui ekspresi tubuh. Jenni menjelaskan, perlu alat bantu elektronik, untuk mendeteksi hadirnya energi. Disebut EMF, memiliki indikator melalui lampu LED. Setiap warna yang muncul di EMF tersebut, memberikan informasi lonjakan energi yang hadir.

Selain itu digunakan pula alat bantu, berupa kamera yang mampu menangkap suhu atau temperatur. Disebut thermal imaging, berupa perangkat yang disambungkan ke kamera pintar. Melalui citra yang dihasilkannya, akan memperlihatkan warna bervariasi. Merah menandakan panas, dan sebaliknya warna gelap menandakan dingin.

Penyampaian ketiga narasumber tersebut, ditutup dengan diskusi. Beberapa partisipan menyampaikan pertanyaan, seputar materi yang telah disampaikan. Diantaranya adalah tentang pengembangan wisata alternatif tersebut. Dalam penutupan, Daniel mendorong anggota Asita Jabar untuk menangkap peluang ini. Karena para pengusaha perjalanan wisata memiliki jaringan nasional, hingga luar negeri. Dengan demikian memiliki pasar yang perlu yang luas, dengan memanfaatkan potensi lokal. Dikemas dalam bentuk wisata yang layak jual.

Dengan demikian forum ini diharapkan menjadi sarana silaturahmi, jembatan yang menghubungkan biro perjalanan wisata dengan profesi pemandu wisata. Diharapkan mampu mendorong kunjungan wisatawan inbound maupun domestik.

Geouban# 30 Jayamekar

G. Bandera merupakan bagian dari puncak-puncak yang berada di sebelah utara Waduk Saguling. Bentuknya berupa perbukitan yang memanjang baratdaya-timurlaut, mulai dari Jayamekar hingga Cikande. Dari peta Rupa Bumi Indonesi/RBI Lembar Padalarang (2000), menuliskan beberapa puncak. Disebelah timur puncak G. Bakung 816 m dpl., G. Puter 889 m dpl., Pasir Lampegan 868 m dpl. kemudian masih berjajar ke arah timur dengan posisi lebih tinggi G. Pancalikan 963 m dpl., G. Halimun 972 m dpl. kemudian melandai ke arah barat. Ditempati Pasir Sopak 856 m dpl., dilanjutkan Pasir Cibuntu 856 m dpl.

Jajaran perbukitan tersebut bagian dari Rajamanda Ridge, atau punggunga Rajamandala. Sejajar dengan jalan raya penghubung Bandung-Cianjur di Citatah, Padalarang. Jalan raya ini membelah perbukitan karst, yang disusun oleh batuan karbonat. Ditafsirkan sebagai karang penghalang/barrier reef (Siregar, 2005) yang diendapak sejak Oligosen Akhir hingga Miosen Awal, sekitar 25-15 juta tahun yang lalu.

Sedangkan kelompok G. Bendera yang berada disebelah selatannya, disusun oleh sedimen klastik gunungapi. Satuan batuannya disusun oleh hasil pengendapan dilaut dalam, seiring waktu terangkat hingga 670-900 m dpl. dpl., lebih. Buktinya tersingkap berupa batulanau dan batupasir tebal di Cikande, hasil kegiatan perlipatan serta tersesarkan. Ke arah selatannya, sekitar Cigintung, ditemui sisa penambangan yang menyinkapkan endapan gunugapi umur Kuarter. Tebal dan membentuk perbukitan, kemudian melandai ke arah selatan.

Mari temui bukti pebukitan terlipat, melalui pengamatan di puncak G. Bendera. Bukti endapan laut dalam di Cikande dan hasil letusan gunungapi berupa endapan awan panas (ignimbrite) di Cigintung. Hasil letusan gunungapi kelas plinian, mengalirkan awan panas sejauh 19 km dari pusat letusan (Pyroclastic density currents). Akibat temperatur tinggi hingga lebih dari 500 derajat celcius, kemudian terelaskan (welded).

Hari/Tanggal
Sabtu, 1 Februari 2025

Waktu
08.00 WIB sd. 13.00 WIB

Titik pertemuan (meeting point)
Geotheather Hawu-Pabeasan, Cidadap, Padalarang

https://maps.app.goo.gl/DFsof9faAExBjxPv5

Syarat dan ketentuan
Kegiatan bersifat mandiri dan probono, dipersilahkan mengatur moda transport (disarankan roda dua). Mohon dipersiapkan kelengkapan kondisi cuaca, kegiatan hiking dan kebutuhan pribadi lainya.

Tentang Georuban
Berjalan sejak 3 tahun yang lalu, oleh Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia. Menginisiasi, menggali wisata bumi, melalui narasi, interpretasi dan membuka jaringan silaturahmi lokal.

Catatan Geourban#24 Panyandaan

Lerengnnya melampar hingga batas jalan raya Ujungberung. Merupakan tekuk lereng aliran dan piroklastik PraSunda dan Sunda, hingga dibatasi oleh dataran rendah ke arah selatan. Dibagian utaranya merupakah blok naik Sesar Lembang segmen Batuloceng.

Lereng tersebut disusun oleh aliran lava tebal G. Prasunda dan Sunda. Kemudian ditutup oleh piroklatik yang telah lapuk. Seiring waktu tererosi kuat, membentuk lembahan ditoreh air dan membentuk sungai-sungai. Alirannya bergeraka ke utara, kemudian masuk menjadi badan air disebut Danau Gegerhanjuang. Merupakan bagian dari sistem Danau Bandung Purba bagian timur, yang mengalami pengeringan. Dalam peta lama F. de Haan (1911), danau tersebut mendekati susut dan ditempati oleh rawa disebut Muras. Melampar dari batas tekuk lereng Ujungberung, hingga ke arah selatan hingga batas aliran Ci Tarum.

Disebut Muras Gegerhajuang, bagian dari sistem danau Bandung Purba. Segmen rawa ini menempati dataran rendah dengan elevasi 678 m dpl. Membentuk rawa (muras), membentang dari utara sekitar jalan raya Ujungberung, kearah selatan hingga dibatas jalan raya Baleendah-Ciparay.

Kondisi demikian menyebabkan hunian berada di sebelah utara, menghindari rawa. Lingkungan tersebut mengundang hadirnya malaria. Selain itu rawa bukannlah tempat yang tidak ideal untuk mendirikan rumah, karena kondisi permukaanya yang mudah amblas. Termasuk sulitnya mendapatkan air layak minum. Sehingga hunian dan peradaban bergeser ke arah utara, relatif lebih aman, sumber daya alam melimpah dan lebih sejuk.

Lahan yang subur, menarik juragan perkebunan Andries de Wilde merintis perkebunan kopi di utara Ujung Berung jauh sebelum jalan Raya Pos Daendels dibuat. Pembuatan jalan tersebut bertujuan menggerakan distribusi pengiriman kopi dari priangan pedalaman hingga ke Batavia melalui Cikao Bandung Purwakarta. Sedangkan jalur distribusi ke arah timur, didistribusikan di gudang kopi di Karangsambung. Lokasi tersebut kini jembatan Ci Manuk di perbatasan Sumedang dan Majalengka atau sekitar Tomo.

Kondisi alam demikian, mendorong budaya menyebar ke arah utara atau sekitar Cimenyan. Kehadiran peradaban tersebut, dikuatkan dengan keterangan dari catatan perjalanan Bujangga Manik. Diyakini kebudayaan disekitar utara muras tersebut hadir sejak abad ke-16. Dicirikan dengan temuan situs budaya dan kepercayaan masyarakat lokal tentang sebaran patilasan.Tinggalan budaya berupa pekuburan tua dengan ciri seperti circle stone (batu gelang). Tersebar di Pasir Panyandaan, Cimenyan hingga berbatasan dengan Caringintilu, Kabupaten Bandung di bagian baratnya.

Kebudayan lama tersebut hidup di atas endapan batuan gunungapi purba. Disusun lava dan piroklasatik. Aliran lavanya mebentuk struktur berlembar, akibat proses pembekuan dan kondisi geologi. Dibeberapa keterangan lama, menyebutkan bentuk demikian adalah wujud dari struktur bangunan (candi?). Struktur kekar lembar (sheeting joint), dimanfaatkan sebagai penghias bangunan pemerintahan, seiring rencana pemindahan ibukota Hindia Belanda ke Bandung.

Bukti endapan aliran lava masih terlihat jelas, di Curug Batu Templek, Cisanggarung dan di Sentak Dulang. Dua lokasi kegiatan penambangan, yang sudah dibuka sejak jama kolonial.  Bukti penggunaan batuan tersebut dicatatkan Haryoto Kunto (1986), pondasi Gedung Sate menggunakan batuan yang diambil dari kawasan ini. Batuannya idelal, keras dan memiliki struktur berlembar sehigga disebut struktu sheeting joint, atau kekar lembar. Terbentuk demikian akibat pelepasan beban penutup, sehingga terbentuk rekahan yang mendatar. Dimanfaatkan dengan cara mencongkel rekahan tersebut dan digunakan sebagai pondasi hingga sebagai estetik bangunan.

Asal-usul lava tersebut bersumer dari kegiatan letusan guungapi purba, hadir jauh sebelum Danau Bandung Purba terbentuk. Dalam Peta Geologi Lembar Bandoeng (Geologische Kaart van Java), disusun oleh Bemmelen (1934) menyebutkan litologinya merupakan batuan gunungapi tua. Kemudian didetailkan dalam pemetaan stratigrafi gunungapi oleh Soetoyo dan Hadisantono (1992), merupakan aliran lava hasil letusan gunungapi PraSunda (Prs), kemudian ditutupi oleh produk gunungapi berikutnya yaitu G. Sunda (Sl). Berupa lava andesit abu-abu gelap, porfiritik dengan fenokris plagioklas, piroksen dan sedikit mineral bijih dalam masa dasar gelas dan mineral halus.

Di Pasir Panyandakan, menerus hingga Sontak (sentak?) Dulang, merupakan produk gunungapi PraSunda. Lava ini dianggap paling tua karena kontak langsung dengan batuan sedimen umur Tersier (Soetoyo dan Hadisantono, 1992).

Kebutuhan sumber daya alam tersebut, seiring dengan rencana pemindahan ibu kota Hindia Belanda. Dari Batavia atau Jakarta saat ini ke dataran tinggi Bandung. Arsitek pembangunannya adlaa Silors, duduk sebagai kepala Dinas Bangunan Kotapraj (Gemeentelijk Bouwbedrijf). Tuga utamanya adalah merancang dan emmbangun kompleks bangunan pusat instansi pemerintahan Hindia Belanda di Kota Bandung.

Tambang batu di utara Arcamanik turut menyumbangn pembangunan kota, diantaranya adalah pembangunan gedung Departemen Pekerjaan Umum, Kantor Pusat PTT, Departemen Kehakiman, Departemen Pendidikan dan Pengajaran, Departemen Keuangan dan seterunya. Semuanya dibangun dalam satu kompleks, sejajar ke arah utara dari Gedung Sate saat ini.

Mendaki ke arah utara, menunggangi punggungan Pasanggrahan. Setelah melewati SD Cikawari, jalanan terus menanjak. Pemandangan terbuka luas kesegala penjuru, dihiasi ladang warga yang semakin mendesak ke wilayah Perum Perhutani.bentang alamnya berupa punggungan perbukitan. Sebagian besar wilayahnya ditempati oleh perkebunan warga, pemilikan lahan pribadi. Melampar dari timur ke barat, menempati sebagian besar lereng G. Palasari hingga sebelah timur berbatasan dengan G. Manglayang.

Hanya beberapa tinggian, berupa puncak-puncak bukit yang ditempati oleh tinggalan budaya. Menandakan nenek moyang sudah memandukan bentang alam dan dataran tinggi sebagai tempat yang sakral.

Dalam laporan Rohtpletz hasil kompilasi dari beberapa laporan terdahulu, menuliskan penemuan tinggalan budaya serta situs-situs prasejarah megalitik. Dituliskan di perbukitan titik triangulasi KQ 273, menyebutkan ditemukan beberapa serpih obsidian. Rothpletz menuliskan Künstliche Steilböschungen (vor allem bei Kuppen), diterjemahkan puncak bukit dengan lereng yang curam. Bentuk alam yang memanfaatkan tinggian, kemudian ditata sedemikia rupa. Dalam keterangannya disebutkan juga didapati situs makam pra-Islam (Präislamitische Grabanlagen).

Titik tersebut terdapat di sebelah utara dari kompleks Pondok Pesantren Baitul Hidayah. Berupa kuburan lama yang disusun oleh batuan andesit-basal, tersedia melimpah disekitar perbukitan. Disusun oleh batuan membundar sebesar kepalan tangan hingga bola sepak, kemudian ditemui juga batu ceper yang diduga didatangkan dari sekitar Sentak Dulang. Lokasi penambangan Batu Templek yang berada di sebelah selatannya.

Dalam laporan Johan Arief dalam artikel Misteri Danau Bandung (https://fitb.itb.ac.id/misteri-danau-bandung/), disebut situ Panyadaan 1. Satu situs lagi berada di sebelah timur disebut Situs Panyandaan 2. Dalam keterangannya merupakan temapt palitas atau tilem.moksa Eyang Sri Putra Mahkota Raden Mundingwangi, putra dinasti ke-8 dari Raja Sunda.

Berjalan ke arah utara, ditemui punggungan perbukitan yang ditempati bongkah-bongkah batuan yang telah lapuk. Warga menyebutnya Batu Buta, atau batu dengan ukuran besar. Menempati bagian puncak punggungan bukit, tersebar memanjang dari utara ke selatan. Ukurannya beragam, mulai dari ukuran sebesar kelapa hingga mendekati ukuran mobil. Di sebelah timurnya yang dipisahkan oleh lembah, didapati kuburan tua. Masyarakat menyebutnya Makam Waliyullah Eyang Jaya Dirga. Dalam laporan Rothpletz merupakan gundukan tanah berbentuk elips, disusun oleh batuan gunungapi. Ukuran panjang sekitar 4,8 meter, dan lebar 3.4 meter. Dalam laporan Johan Arif (2024), didapati empat mehir dari batuan andesit disetiap sudut gundukan tanah.

Sebelah selatan dari Batu Buta berupa hamparan ladang warga. Didapati batuan obsidian, melimpah dipermukaan tanah. Ukurannya sangat beragam, mulai dari ukuran koin hingga kerakal dan tersebar dipermukaan. Lahannya sebagian besar pemilikan pribadi, kemudian diusahakan menjadi perkebunan palawija hingga sayuran.

Keberadaan fragmen obsidian tersebut menjadi tanda tanya besar, bagaimana bisa tersebar di dataran tinggi daerah Panyandaan. Apakah lokasi ini menjadi jalur perlintasan pengangkutan batuan obsidian? atau malahan menjadi tempat pengerjaan membentuk bongkah menjadi alat untuk berburu. Karena fragmen yang didapati disekitar wilayah ini tidak berbentuk mikrolitik, seperti mata tombak, panah atau alat untuk menyayat/pisau. Sebagian besar fragmen yang dikumpulkn berupa fragmen serpih yang diduga merupakan sisa atau sampah produksi pengerjaan alat batu.

Keberadaan fragmen obsidian ini tentunya menarik, selain pernah dilaporkan sebelumnya oleh Rothpletz pada akhir pendudukan kolonial. Hingga kini masih bisa ditemui, seperti pada laporan hasil penelusuran budaya obisidian di utara Bandung. Seperti yang ditelursuri oleh Anton Ferdianto (2012), melaui penelitian Balar Arkeologi Bandung. Melaporkan sebaran obsidian sebagian bear berada di utara Bandung. Diantaranya ada 14 titik yang mengandung temuan obsidian seperti di segmen Dago Pakar, Pasir Soang, daerah Cikebi, Kawasan Cimenyan termasuk Pasir Panyandaan.

Seperti yang diungkapkan pada hasil penelitian sebelumnya. Keberadaan sebaran batu obsidian ini ditemukan tidak hanya disebelah utara Bandung, tetapi menyebar hingga kawasan karst Citatah hingga Bukit Karsamanik.

Keberadaan fragmen obsidian yang melimpah di sekitar Pasir Panyandaan, menjadi tanya tanya besar. Bagaimana batuan tersebut berasal, kenapa tersebar begitu banyak dan mudah ditemui dipermukaan perkebunan. Apakah dibawa oleh peradaban lama, kemudian dimanfaatkna menjadi alat batu? Apakah Dago Pakar merupakan satu-satunya tempat pembauatan perkakas batu? Temuan tersebut menjadi menarik untuk dijawab melaului penelitian lanjutan.

Pemaparan di Batunyusun
Keterdapatan obsidian di sekitar Pasir Panyandaan yang melimpah
Pelapukan pada batuan di Pasir Panyandaan
Kuburan yang diduga praIslam di Pasir Panyandaan