Catatan Geourban#41 Spoorwegen Majalaya

Sejak subuh udara terasa lembab, menandakan cuaca yang bisa saja hujan. Selepas matahari terbit, jalanan mash lenggang. Mengingat saat kegiatan dilaksanakan, jatuh pada hari minggu, 9 Agustus 2025. Namun bagi warga Dayeuhkolot, tidak ada hari libur, sehingga arus lalu lintas ke arah kota masih saja padat.

Warga memanfaatkan jalan utama, melalui jembatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Namun sejak seminggu, jembatan tersebut kembali ditutup. Dengan demikian, arus lalu lintas diatur menjadi satu arah. Lima orang petugas dari kepolisian berjaga di muka jembatan, memastikan agar tidak ada warga yang nakal menerobos, mengingat jembatan ini sangat penting. Menghubungkan perumahan warga di selatan Dayeuhkolot, menuju pusat kota Bandung.

Lokasi inilah menjadi titik pertemuan bagi peserta Geourban ke-41. Diantaranya hadir konten kreator, pemandu wisatabumi (geowisata), dan pegiat wisata heritage. Sesuai dengan ciri khas kegiatan Geourban, semua peserta mengendarai roda dua. Moda transportasi tersebut dianggap ekonomis, dimiliki semua orang dan yang terpenting adalah daya jelajahnya lebih luas. Mengingat kegiatan penelusuran jalur kereta api Bandung selatan, melalui jalan dan gang sempit warga di Dayeuhkolot, Ciparay hingga Majalaya.

Kegiatan diawali menyusuri kembali jembatan yang melintasi Ci Tarum. Jembatan Dayeuhkolot menghubungkan Citeureup ke Baleendah sebelah selatannya. Saat kegiatan Geourban ke-41, sedang dalam perbaikan. Akibat sedimentasi tinggi sekitar Dayeuhkolot, mengakibatkan sering terlanda bajir tahunan. Tingginya antara satu hingga dua meter lebih, menenggelamkan rumah-rumah warga sepanjang bantaran sungai. Kondisi demikian bisa terjadi akibat disumbang oleh dua sungai, dari arah selatan mengalir Ci Sangkuy yang hulunya di G. Malabar. Kemudian Ci Kapundung, dari lereng G. Bukittunggul Bandung utara. Kedua sungai tersebut bermuara di sekitar Dayeukolot, sehingga menghimpun sedimentasi tinggi. Selain itu permasalahan sampah, dan perubahan penataan dihulu. Mengakibatkan banjir kiriman, bila hujan di hulu.

Kegiatan yang dibalut dalam kegiatan penelusuran sejarah perkeretaapian, menapaki kembali jalur lintasan. Jalur kereta api masa kolonial, menghubungkan Dayeuhkolot ke Majalaya, melalui Ciparay. Selain itu mengunjungi situs budaya, G. Munjul. Perbukitan intrusi, sektiar Munjul yang diperkirakan pernah menjadi sentra lintas budaya lama sejak megalitik.

Sebelah timur dari jembatan Dayeuhkolot, membentang jembatan kereta api. Panjangnya kurang lebih 55 meter, melintasi Ci Tarum. Tiang-tiang besi yang menyangga lintasan rel, terlihat kokoh membentang. Menyangga lebar rel, sekitar 1.13 mm. lebih sempit dibandingkan lebar jalur rel kereta modern (standard gauge). Seperti penggunaan jalur kereta api cepat di Indonesia, menggunakan lebar 1.435 mm.

Dalam peta lama kolonial Kaart van het Eiland Java (1855), peta yang disusun oleh naturalis Jerman. Menggambarkan posisi Bandong Toea, atau Dayeuhkolot saat ini. Dalam keterangan peta Indische spoorweg-politiek (1926), nama ibu kota kabupaten Bandung, dituliskan nama Bojongasih. Berada di dua pertemuan sungai. Tji Sangoei atau Ci Sangkuy datang dari arah selatan. Kemudian Tji Keboedoeng atau Ci Kapundung. Pertemuannya persis di Dayeuhkolot, sehingga titik ini menjadi sangat penting. Menghubungkan dataran tinggi yang didominasi perkebunan, dan pusat kota ekonomi di sebelah utara.

Sistem transportasi awal abad ke-19 sudah berkembang, didahului oleh modernisasi jalan regional. Daendels pada 1810 memperlebar jalan yang telah ada, menghubungkan pusat kota Batavia ke pedalaman priangan. Sehingga perkebunan yang berada diwilayah Preanger Regentschappen, bisa diakses melalui jalan raya. Sering perkembangan teknologi, pedati yang lambat, kemudian digantikan dengan moda transportasi massal. Paa 1884, kereta api memasuki kota Bandung. menghubungkan Cianjur, Bogor hingga Jakarta pada saat itu.

Perjalanan dimulai dari jembatan kereta api yang melintasi Ci Tarum. Berupa jembatan yang dibangun menggunakan struktur baja, ciri teknologi sipil pembangunan jembatan modern. Bila merujuk kepada foto lama kolonial tahun 1930-an, struktur bajanya berupa melengkung. Terdiri dari dua bagian penyangga, kemudian satu struktur melengkung utama. Bentuk demikian berbeda dengan struktur yang dikenal saat ini, berupa struktur baja yang membentuk sudut siku.

Membuka langkah menuju mulut jembatan, berupa susunan baja tebal. Jalur rel kereta selebar 1,130 mm, kini telah dialasi beton. Dari jembatan kereta api Dayeuhkolot, jalur lintasan kereta api bercabang. Satu jalur lintasan ke arah selatan menuju Banjaran. Menghubungkan Dayeuhkolot ke Soreang, dibuka 13 Februari 1921. Kemudian dilanjutkan ke dataran tinggi Ciwidey dan beroperasi penuh 17 Juni 1924. Jalur ini termasuk menguras kas perusahaan negara kolonial saat itu, akibat melintasi beberapa sungai. Sehingga memerlukan pembangunan jembatan panjang.

Jalur Dayeuhkolot ke Majalaya, secara penuh beroperasi sejak 3 Maret 1922. Jalur kereta api menuju Majalaya digunakan untuk jasa pengangkutan hasil perkebunan dan tekstil dari Bandung selatan. Panjang lintasan, kurang lebih 17 km. Memanjang dari barat ke timur, sejajar dengan jalann utama dan aliran Ci Tarum. Melewati tujuh halte, dari Dayeuhkolot ke Cilelea, Manggahang, Jelekong, Ciheulang, Paeureusan, Ciparay, Cibungur kemudian berakhir di Majalaya.

Beberapa halte berhasil dikunjungi, berdasarkan dari informasi hasil penelusuran sebelumnya. Kemudian pada saat kunjungan lapangan dikonfirmasi ulang, melalui wawancara dengan warga yang telah berusia di atas 60 tahun. Mengingat jalur lintasan rel kereta api ke Majalaya telah hilang, akibat dibongkar pada pendudukan Jepang tahun 1942 hingga 1945. Pembongkaran batang rel kereta api, dikerjakan oleh para interniran dan penduduk bumi putra. Para tawanan asing warga Eropa dan Amerika yang telah menetap di kota Bandung pada masa kolonial. Dikerjakan di bawah kondisi kerja paksa, sehingga dilaporkan beberapa orang meninggal dunia akibat kelaparan, kekurangan ketersediaan air bersih hingga penyakit. Kesaksian kekejaman tentara Jepang, dilukiskan dalam buku Onder De Japanse Knoet (1945). Buku yang berisi kesaksian, penyiksaan dan kerja paksa bagi tawanan perang di Bandung dan sekitarnya.

Saat ini lintasan kereta api hanya dicirikan, berupa jalan sempit yang diapit oleh rumah warga. Dalam penelusuran kembali, batang rel maupun bantalan kayu telah tidak ditemukan. Mengingat semuanya dibongkar dan diangkut, untuk pembuatan jalur kereta api di Saketi, Bayah. Bukti jalur lintasan hanya bisa disaksikan dari kesaksian warga yang sudah berusia manula. Berdasarkan ingatan mereka, hanya mampu menunjukan halte atau pemberhentian kereta api. Selebihnya berupa bukti fisik, seperti bantalan rel kereta api (railbed), sisa pondasi jembatan, tanggul dan kelurusan jalur sempit.

Sebagai alat bantu panduan jalur, PT. KAI telah melakukan survey ulang. Ditandai dengan pemasangan patok KAI di sepanjang jalur. Berupa patok yang dibuat dari beton, dengan ukuran sekitar satu meter. Ditanam berpasangan, menandakan lebar jalur lintasan. Keberadaan patok tersebut, memudahkan penelusuran kembali jalur kereta api Dayeuhkolot ke Majalaya.

Selain patok modern milik PT KAI, dibeberapa tempat ditemui patok awal yang dipasang oleh Staatsspoorwegen disingkat SS. Sesuai dengan tanda inisial perusahaan perkeretaapian negara, pada masa kolonial Belanda.

Beberapa halte atau pemberhentian kereta api jalur Dayeuhkolot ke Majalaya, berjumlah 7 pemberhentian, termasuk halte Ciparay. Beberapa halte lainnya sudah tidak memberikan bentuk struktur bangunan, karena sudah beralih fungsi. Terhitung sudah melampaui waktu 82 tahun, terhitung sejak pembongkaran pada 1942-43. Sehingga bangunan halte sudah hilang, akibat berganti menjadi rumah warga, maupun sarana fasilitas kolektif seperti sekolah dan aula.

Saat dikunjungi, halte Cileles, Manggahan, sudah tidak ada. Sedangkan halte Jelekong telah berubah fungsi menjadi Sekolah Dasar 2 Cangkring. Seorang warga menunjuk tempat lain, yaitu Puskesmas Jelekong. Perbedaan penentuan lokasi halte terjadi pada halte lainya, diantaranya Ciheulang, Paneureusan, dan Cibungur. Sedangkan halte Ciparay dan Majalaya masih bisa diduga posisinya.

Selain penelusuran lintasan kereta api, rombongan berkesempatan mengunjungi situs budaya di sekitar Manggahang, Baleendah. Berupa perbukitan intrusi, diduga pernah menjadi titik sakral pada masa Prasunda hingga Sundaklasik. Keberadaanya masih perlu kajian arkeologi, mengingat keberadaanya sangat strategis. Bila merujuk kepada peta lama Topographisch Bureau (1905), tingginya sekitar 685 meter dpl. Dalam peta tersebut memperlihatkan mender Ci Tarum menyentuh kaki bukit Munjul. Sedangkan ke arah utaranya adalah hamparan muras atau rawa. Membentang dari Ujung Berung, hingga Ciparay. Disebut Rancahalang yang bermakna rawa, masih mendominasi dataran rendah Bandung selatan. Bila disandingkan dengan google maps saat ini, posisi sungai telah bergeser sekitar 700 meter ke arah utara. Penyebabnya adalah karena penyodetan akhir tahun 80-an, dan sedimentasi tinggi.

Kegiatan ditutup di stasiun Majalaya. Walaupun struktur bangunannya telah hilang, namun ciri-cirinya masih bisa dikenali. Diantaranya masih didapati patok dengan inisial SS, dan bagunan tua. Diperkirakan merupakan rumah tinggal pejabat perkeretaapian Belanda pada saat itu. Penelusuran ini kembali jalur kereta api ini, memberikan gambaran upaya kolonial dalam merancang sistem moda transportasi massal. Memanfaatkan topografi, dan sumber daya alam yang tersedia. Mengingat pembangunan jalur kereta api jalur Dayeuhkolot-Majalaya memiliki peranan penting, sebagai penggerak ekonomi tekstil awal tahun 1930-an dan pengangkutan hasil perkebunan.

Sisa bantalan keretapi (railbed), di Sarimahi, Ciparay
Patok Staatsspoorwegen (SS) dipemakaman Cisoka, Majalaya
Bangunan gaya kolonial, di Statsiun Majalaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *