Catatan Geourban#9 Gegerhanjuang

“Sudah digali lebih dari 50 meter, namun airnya masih berbau dan berwarna kuning” jelas seorang ibu di perumahan di belakang Gedung Leger, Cisaranten Bina Harapan, Ujung Berung. Selian mengeluh masalah air, ibu tersebut menjelaskan bahwa sebelum menempati perumahan tersebut, harus menata tanah yang kelak didirikan perumahan di belakang Gedung Leged saat ini. Tanah rawa tersebut diurug menggunakan material barangkal setinggi dua meter. Menurut si Ibu, warga di perumahan di Jalan Golf Raya tersebut saat ini menggunakan sumber airtanah dari bantuan proyek perumahan KPBU perumahan Cisaranten Pusjatan. Kualitas airnya baik, didapat dari hasil pengeboran lebih dari 150 meter, hingga perlapisan batu pasir pembawa air (akuifer) pada Formasi Cibeureum. Formasi ini ditindih oleh Formasi Kosambi atau endapan danau disusun lempung pasiran, sehingga mengalirkan air dalam jumlah terbatas (akitar).

Pembangunan rusun BMN PUPR dan Keluhan warga airtanah yang tidak bisa dikonsumsi, dan tanah didominasi lempung merupakan ciri lingkungan rawa situ Pariuk. Sisa situ seluas kurang lebih 2 hektar, merupakan bagian dari sisa danau Moeras Gegerhanjuang, segmen timur pascadanau Bandung Purba. Terbentuk kurang lebih antara 20.000 hingga 16.000 tahun yang lalu, seiring dengan pengeringan Danau Bandung Purba (Dam, 1984).

Kegiatan Geourban ke-9 merupakan program kerja asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), berupaya menggali jejaring geowisata dan pemetaan potensi wisata alternatif kebumian. Kegiatan probono ini dilaksanakan hari Sabtu, 4 Februari 2023, dengan tujuan menelursuri kembali sisa-sisa danau, muras (rawa), dan kalimati (oxbow lake) dan sistem meander Ci Tarum. Dimulai tepat jelang siang, sekitar pukul 07.30 WIB. Mengambil titik pemberangkatan dari depan kantor Dirjen Binamarga, PUPR jalan A.H. Nasution. Total peserta adalah delapan orang, dengan latar belakang beragam dan profesi. Mulai dari pegiat pariwisata, pemilik biro perjalanan wisata, influencer hingga aktivis lingkungan.

Acara dibuka dengan penjelasan rencana perjalanan oleh Deni Sugandi, selaku pegiat geowisata dan pemandu geowisata. Menguraikan tema kegiatan, dan lokasi-lokasi yang menarik untuk dikunjungi dan diamati.

Total perjalanan adalah kurang lebih 17 km, dari utara ke selatan, mengikuti aliran Ci Pamokolan dan memotong utara-selatan di lingkar dalam Moeras Gegerhanjuang.

Moeras atau muras Gegerhanjuang adalah lingkungan rawa di dataran rendah, menempati sebagian besar Ujung Berung. Di sebelah utaranya dibatasi oleh kipas volkanik produk dari G. Manglayang. Kemudian ke sebelah timur disekitar Pangaritan atau Cibiru, dan dibagian selatannya dibatasi aliran Ci Tarum antara Ciparay-Bojongsoang. Deni memperlihatkan peta geologi awal yang disusun oleh Bemmelen (1954), terlihat batas morfologi dilihat dari pola sungai. Dari utara, atau hulu memperlihatkan pola sungai trelis, menandakan sungai-sungai yang berada dilereng gunung. Arusnya deras, dan erosinya vertikal, sehingga bila dilihat dari penampangnya membentuk huruf v. Bergerak jauh ke arah selatan, didataran rendah memperlihatkan sistem pola sungai meandering. Menadakan arus lemah, dan mengendapkan bahan-bahan yang diangkut dari hulu. Seiring waktu karena proses pengendapan, mengakibatkan kegiatan erosi yang dapat membelokan jalur sungai. Akibat erosi horisontal, pengendapan dan morfologi kemudian membentuk jalur sungai yang berkelok-kelok atau pola meander.

Kunjungan ke-dua adalah di sekitar Bojongsoang. Terlihat hamparan sawah seluas mata memandang. Dataran rendah yang didominasi oleh sawah dan balong luas (kolam), dipagari oleh rumah-rumah warga. Pada peta geologi disebutkan kawasaan ini merupan dataran rendah yang disusun oleh endapan danau (Silitonga, 1973). Dari pengamatan terlihat singkapan batu lempung, batu lanau dan batu pasir yang belum kompak, disebut Formasi Kosambi (Koesoemadinata dan Hartono, 1981).

Jelang matahari lebih tinggi, mengantarakan rombongna bermotor melintas Ci Tarum melaui Sasak Paris Rancatatang, Sapan Tegalluar. Jembatan gantung dengan struktur besi penyangga, menghubungkan antara Sapan Tegalluar di utara, ke Bantar Sari di sebelah selatannya. Turun dari jembantan tersebut, langsung berhadapan dengan kalimati (oxbow) Patrol dan Jelekong. Dua kalimati yang telah menjadi danau karena arah aliran dialihkan lurus secara lateral, oleh kegiatan penyodetan. Kurang lebih ada 14 kalimati (oxbow) disepanjang aliran Ci Tarum, dari Bojongsoang hingga Mangahang. Sungai tersebut mampu menampung air kurang lebih 1.2 juta meter kubik, sehingga cocok untuk digunakan sebagai embung untuk pertanian dan pesawahan dan sebagai kolam retensi saat sungai meluap.

Menurut warga Sumbersari, Ciparay, bahwa kegiatan penyodetan tersebut mempercepat aliran Ci Tarum dari hulu ke hilir. Namun menurut Pa Dedi, akibatnya sering terjadi pendangkalan, sehingga harus terus dilakukan pegerukan secara berkala. Dedi menyampaikan pengalamannya, saat musim hujan tinggi aliran meluap dan membawa lumpur sangat tebal.

Perjalanan dilanjutkan tapakbumi terakhir, ke Gunung Munjul, Manggahang, Baleendah. Menyusuri bantaran Ci Tarum dari Sapan ke arah barat hingga sekitar Manggahang. Dari penelusuran tersebut terlihat upaya pemerintah melalui satuan tugas kerja Citarum Harum, agar terjadi peningkatan kualitas lingkungan sungai. Masih ada beberapa sampah yang terbawa dari hulu, kemudian mengendap dibantaran sungai.

Gunung Munjul 685 m dpl. adalah perbukitan yang tumbuh dalam sistem intrusi batuan gunungapi Baleedah. Umurnya adalah Tersier, atau sekitar 3.2 sampai dengan 2.8 juta tahun yang lalu (Bronto drr., 2006). Dalam beberapa informasi warga lokal, disebutkan bahwa Gunung Munjul merupakan titik pertemuan antara Kian Santang dan Prabu Siliwangi. Mengenai benar atatu tidaknya, tentunya perlu kajian lebih dalam, berkaitan dengan data sejarah budaya. Pada tahun 2015, Gunung Munjul telah menerima status Cagar Budaya, sebagai situs yang dilindungi keberadaanya. Bila menggali informasi melalui daring, perlu berhati-hati untuk memaknai dengan Prasasti Munjul (batu tulis) di Kabupaten Pandeglang. Jadi antara Gunung Munjul Baleedah, dan Prasasti Munjul di sungai Cidanghyang Banten berbeda.

Bila membandingkan kembali peta lama Java. Res. Preanger Regentshcahppen, Blad H XXIII, Topographisch Bureau, Batavia, 1906. Menggambarkan meander Ci Tarum persis mengalir disamping Gunung Munjul disebelah utara. Kondisi saat ini, aliran berkelak-kelok tersebut telah hilang karena disodet. Sehingga jarak ke aliran Ci Tarum kurang lebih 850 meter ke arah utara (Peta RBI

Bila merujuk kepada pendapat Rien Dam, menuliskan dalam laporannya bahwa tinggi genangan (paras) tertinggi permukaan air Danau Bandung Purba adalah 690 m dpl. Sedangakan dalam peta RBI (2001).

Catatan Singkat Geourban#20 Sukatinggi

Sejak kemarin hujan membasahi lereng G. Tangkubanparahu. Awan hujannya terus menggelayut sejak pagi hingga jelang siang, seperti membayangi puncak gunung. Namun jatuh di hari minggu, 26 Mei 2024 cuacanya kembali normal serta cerah. Berkah bagi partisipan Geourban untuk menapaki kembali kuasanya G. Tangkubanparahu di utara Bandung. Acara ini diikuti oleh pegiat geowisata, influencer, pemandu dan mahasiswi pariwisata di perguruan tinggi Bandung.

Kegiatan menapaki tapak bumi kali ini, bertandang ke wilayah perkebunan teh Sukawana, di Parongpong Lembang. Perkebunan yang menempati sebagian besar lereng sebelah barat G. Tangkubanparahu. Tujuannya adalah melihat kembali, upaya kolonial membuka lahan hutan menjadi perkebunan. Selain itu ingin melihat, bagaimana gunungapi memberikan berkah kesuburan untuk industri perkebunan kolonial di Bandung utara.

Selanjutnya adalah menelusuri kembali jejak dan bukti letusan G. PraSunda-Sunda di sekitar perbukitan Sukatingg, Parongpong utara. Sebagai penutup berkunjung ke tubir kawah Upas, G. Tangkubanparahu. Melihat depresi kawah yang dibuka oleh letusan 90 ribu tahun yang lalu, dan bukti endapan letusan G. Tangkubanparahu Tua.

Perjalanan dimulai dari perempatan antara jalan masuk perkebunan teh Sukawana dan Jalan Kolonel Masturi. Nama yang disematkan pada jalan yang menghubungkan antara Cimahi utara ke Parongpong Lembang. Masturi adalah mantan Bupati Bandung pada 1967 hingga 1969. Merupakan bupati kedua dari latar belakang militer, praktik dwi fungsi disistem pemerintahan daera saat itu. Bertugas sebagai pemangku administrasi pelaksanaan pemerintahan daerah, sekaligus memiliki peran sebagai pemangku tugas pertahanan dan keamanan.

Masturi merupakan tokoh penting dalam sistem pengaman di daerah Pangalengan, mengingat kondisi politik setelah Gerakan 30 September menggoyang stabilitas keamanan negara. Selain itu Masturi mencetuskan sistem kerja Repeh Rapih Kertaraharja, menjadi semboyan pembangunan Kabupaten Bandung pada masa itu. Makna kata kertaraharja menyiratkan bahwa sebagian besar tanah di Kabupaten Bandung subur dan makmur.

Memasuki jalan makadam ke arah utara, disuguhi bentang alam khas dataran tinggi priangan. Berbukit-bukit dan membentuk tinggian yang dihiasi oleh hamparan hijau perkebunan teh. Pengelolaan lahannya milik negara, melalui PTPN VIII Sukawana, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Dari data Badan Pusat Statistik mencatat, lahan negara tersebut seluas 86,832 hektar, menempatkan perkebunan ini menjadi perkebunan paling luas di Indonesia. Proporsi luas perkebunan teh mencapai 77.31 persen dari total area perkebunan teh di negeri ini. Seluas mata memandang tidak seluas hasil produksi teh khususnya di Jawa Barat. dilaporkan bahwa kini perkebunan teh mengalami penurunan produksi, termasuk program hilirisasi yang tidak berjalan dengan optimal, lahan terbatas, dan sebagainya (Basorudin, dkk., 2019).  Menurunnya hingga 90,324 ton, dari tahun 2013 hingga 2015. Padahal hasi teh perkebunan di Jawa Barat menempati total produksi hampir 68 persen produksi teh nasional.

Barangkali kondisi demikian mendorong kebijaksanaan untuk melepaskan sebagian lahan, disewakan kepada investor. Seperti kini yang terjadi di sekitar kawasan perkebunan, telah beralih fungsi menjadi wisata berbasis investor besar.

Dari titik ketinggian sekitar Karyawangi, Parongpong. Bentang Alamnya adalah perbuikitan yang itutupi  oleh perkebunan teh. Wilayahnya mendesak ke arah utara, mendekati lereng G. Tangkubanparahu atau sekitar Leuweung Tiis, masuk ke dalam wilayah konservasi. Dari peta sebaran batuannya, disusun oleh jatuhan piroklastik, berupa abu hingga ukuran kerikil. Material hasil kegiatan awal pembentukan G. Tangkubanparahu sekitar 90 ribu tahun yang lalu. batuan hingga abu gunungapi, seiring waktu kemudian lapuk yang diperkaya dengan unsur-unsur seperti magnesium da kalium. Unsur tersebut menghasilkan tanah yang subur. Dengan demikian, wilayah ini dipilih menjadi pengembangan kawasan perkebunan teh sejak kolonial, karena memiliki tanah yang ideal untuk perkebunan.

Perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan kontrol perkebunan, didominasi makadam (berbatu). Di Sebagian tempat jalan tersebut membentuk ceruk, karena erosi air. Jalur ini menjadi jalan favorit pendakian santai dari Trek 11 Parongpong utara, ke puncak G. Tangkubanparahu. Selepas batas vegetasi antara perkebunan dan wilayah BKSDA.

Wilayah konservasi tersebut menyusut, akibat perubahan status menjadi Taman Wisata Alam G. Tangkubanparahu. Saat ini dikuasai oleh pihak swasta, melalui investor PT GRPP pada masa menteri MS Kaban. Luas wilayah pemanfaatnya hingga 231 Ha (Bapenda KBB, 2023), dengan waktu kontrak hingga 30 tahun. MS Kaban dijatuhi vonis 5 tahun penjara pada 2 Juli 2014, karena tindak pidana korupsi, karena perannya memberikan suap kepada sejumlah anggota DPR-RI serta pejabat kementerian.

Dari puncak G. Tangkubanparahu, atau lebih dikenal dengan Upas Sunrise bisa menyaksikan kawah ganda Upas-Ratu. Selain dua kawah utama, didapati juga kawah-kawah lainya yang duduk sebagai kawah pusat, seperti kawah Badak di sebelah barat timur kawah Upas. Dilaporkan pernah aktif pada 1935, berupa lapangan kawah dengan manifestasi permukaan berupa lubang solfatara. Saat ini bisa dilihat di sebelah pemancar TVRI.

G. Tangkubanparahu lahir di tengah-tengah kaldera Sunda. Tipenya adalah gunungapi gunung api strato, dicirikan dengan perselingan lava dan piroklastik yang membangun tubuh gunugapi tersebut. Titik tertingginya 2084 m dpl. berada di sebelah utaranya, sedangkan di bagian tengahnya ditempati komplek kawah pusat.

Bila berdiri di atas tubir kawah Upas, kemudian memandang ke arah timur. Terlihat jajaran kawah-kawah yang terbentuk dalam waktu yang berbeda. Di penelitian Nasution (2004), aktivitas G. Tangkubanparahu hadir sejak 62 ribu tahun yang lalu, letusannya adalah magmatik dan freatomagmatik. Tentunya proses pembangunan tubuh gunungapinya jauh sebelum itu, atau sekitar 90 ribu tahun yang lalu. Bukti letusannya adalah pembentukan kawah di luar lingkar Upas-Ratu ke arah barat. Saat ini ditempati oleh tower-tower relay dan pemancar milik perusahaan BUMN. Letusannya masuk dalam stratigrafi G. Tangkubanparahu Tua. Antara 90 ribu hingga 40 ribu tahun yang lalu (Nasution, 2004). Selanjutnya adalah pembentukan kawah pusat Upas sekitar 40 ribu tahun yang lalu, disusul oleh pembentukan kawah Ratu yang bergeser ke arah timur. Kawah ini terbentuk sekitar 10 ribu tahun yang lalu.

Seterusnya posisi kawah tersebut berpindah, dari barat ke timur. Hingga terbentuk kompleks kawah samping Domas-Jarian-Siluman-Jurig. Dengan demikian menandakan, adanya zona lemah atau rekahan yang berarah barat-timur. Akibat perpindahan pusat letusan tersebut, mengakibatkan G. Tangkubanparahu tidak pernah terbentuk kerucut.

Kegiatan ditutup dengan meluncurkan buku Kaldera Sunda: Letusan Plinian di Priangan (2024). Buku yang disusun sejak 2022, memuat cerita tentang bukti letusan G. PraSunda-Sunda dan G. Tangkubanparahu.

Menjelang kabut menggelayut di puncak gunung, partisipan bergegas turun melalui Sukawana. Jalan yang turun yang dilalui berbeda dengan jalan naik, sehingga bisa melihat perbedaan vegetasi pegunungan. Acara ditutup di lereng Sukawana, dengan harapan kegiatan ini menguakkan tabir bumi, menjadi narasi yang bisa digunakan untuk kegiatan interpretasi dan pemanduan geowisata.

Foto bareng di tubir kawah Upas, G. Tangkubanparahu.
Bidang perlapisan, memperlihatkan sikuen letusan G. Tangkubanparahu.

Geourban# 20 Sukatinggi

Menapaki jejak letusan kelas kaldera yang kini menjadi punggungan Sukatinggi. Nama tinggian gunung yang hilang dari peta pascakememerdekaan. Masa kolonial membuka lahan di sekitar wilayah ini, kemudian menjadi perkebunan produktif yang mampu menutupi produksi teh dunia. Bagaiman undang-undang agraris 1870 mampu meningkatkan produksi teh di lereng G. Tangkubanparahu? Siapa juragan-juragan teh yang diuntungkan saat itu? Kenapa harus dilereng sebelah selatan gunungapi aktif?.

Kunjungan berikutnya adalah melihat kembali upaya Belanda, mempertahankan serangan Jepang praperang dunia ke-dua atau masa bersiap. Bagaimana sistem pertahanan didataran tinggi Sukatinggi dibuat. Kenapa Belanda gagal mempertahankan Bandung? dengan mudahnya jatuh ke tangan Jepang di penyerangan 1942.  Titik terkahir melihat sejarah pembentukan gunungapi di utara Cekungan Bandung, gunungapi yang tumbuh di tengah lingkar kaldera Sunda. Melihat bukti penyebab Tangkubanparahu tidak pernah membentuk kerucut!.

Mari bergabung di kegiatan Geourban ke-20, menapaki kembali budaya, dan sejarah bumi melalui geowisata.

Hari/Tanggal

Minggu, 26 Juni 2024

Waktu

Pk. 07.00 WIB

Titik kumpul

Baso Ojolali. Perempatan Sukawana-Kolonel Masturi Lembang.
https://maps.app.goo.gl/3JabtkL5LTfj7AQP8

Saran dan ketentuan

Kegiatan berisifat probono (tidak dipungut biaya), disarankan menggunakan motor kelas semi off-road, bukan kelas metik. Jalanan yang dilalui adalah jalan berbatu (makadam). Makan dan minum selama kegiatan, dipersilahkan diatur sendiri.

Geourban Diinisiasi oleh Pemandu Geowisata Indonesia/PGWI. Sebagai sarana belajar bersama, tali pertemuan para pelaku wisata, pegiat dan masyarakat umum. Menggali potensi geowisata kota, dikawasan Cekungan Bandung.

Pelatihan dan Sertifikasi Pemandu Geowisata 2024

Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), menyelengarakan pelatihan skema Pemandu Geowisata dan sertifikasi (BNSP). Dilaksanakan pada bulan Juni 2024. Lokasi di Jawa Barat.

Tempat dan waktu
19 Juni 2024. TIC SBKSDA Resor Cagar Alam Pangandaran
22-23 Juni 2024. Tahura Ir. Djuanda, Dago, Bandung
29 Juni 2024. Kantor Dinas Parbud Majalengka
30 Juni 2024. Kabupaten Bogor

Syarat

  1. Minimal usia 18 tahun (KTP)
  2. Minimal SMA sederajat (Ijazah terakhir)
  3. (file) CV dan Pasfoto latar merah 3×4 cm
  4. Memiliki sertifikat pelatihan Pemandu Geowisata atau
  5. Bukti kerja sebagai Pemandu Geowisata 3 tahun

Pendaftaran
Investasi Rp. 500.000.

Termasuk
Konsumsi, materi-trainer, sertifikat pelatihan, fasilitas pelatihan, dan sertifikasi BNSP skema pemandu geowisata.

Tidak termasuk
Akomodasi, transportasi selama kegiatan

Kuota pendaftar terbatas, ditutup sampai tanggal 10 Juni 2024. Bila kuota terpenuhi, pendaftaran ditutup.

Informasi:
Bandung 0813-22393930

Pendirian PGWI DPW Purwakarta Raya

Setelah melaksanakan praMuswil pada 15 Mei 2024. Dilanjutkan dengan kegiatan Musyawarah Wilayah dalam rangka deklarasi dan pembentukan PGWI Dewan Pengurus Wilayah Purwakarta Raya.

Kegiatan diinisiasi oleh Sujana dan kawah-kawan, selaku pelaku pegiat alam bebas di Purwakarta. Melalui perintisan dan konsolidasi untuk menggairah geowisata di Purwakarta dan sekitarnya, khususnya di aktifitas kepemanduan geowisata.

Pelaksanaan musyawarah wilayah, dilaksanakan pada hari Jumat, 17 Mei 2024. Bertempat di gedung aula Kelurahan Ciseureuh, Kota Purwakarta. Mulai pukul 19.00 wib hingga pkl. 21.00 wib.

Acara dihadiri dari perwakilan pegiat wisata, praktisi, akademisi, tokoh masyarakat dan perwakilan pemerintahan daerah melalui Disporaparbud Kabupaten Purwakarta. Seluruh peserta berasal dari wilayah Purwakarta. Dalam pelaksanaan musyawarah, dilaksanakan pemilihan ketua terpilih Saujana. Kemudian membentuk susunan kepengurusan inti, Wakil Ketua Ismanto, Sekretaris Berty Yusmaniar, S.Pd. dan Bendahara Tuti Kurniasih S.I. Pust

Kota Rempah di Tubuh Gunungapi Gamalama

Orang ternate selalu berkaitan dengan gunungapi, dicerminkan dengan perilaku budaya Ternate dari masa lalu hingg kini. Dari kelahiran, pernikahan hingga kematian. Seperti perilaku budaya pada tata cara pemakakan. Melakukan penggantian penutup kubur pada hari ke-40 dengan batu volkanik.

Dalam pertemuan daring di acara syiar geowisata, Deddy menguraikan sebaran keragaman geologi meliputi kawasan Ternate Barat dijumpai geosite Batuangus, sumber mata air panas, hinga fitur lava, Kawasan Ternate Utara, Selatan, kawasan satu pulau Ternate dan bagian Ternate Tengah. Terbagi menjadi beberapa sub yang memiliki keunggulan daya tarik geowisata. Mulai dari keragaman bumi, budaya hingga ekologi.

Dalam catatan sejarah, Kesultanan awal berdiri Kesultanan Ternate. Kemudian Portugis bekerja sama bersama Kesultanan Ternate-Tidore pada 1521. Selanjutnya Portugis membangun benteng pertama dan terbesar saat itu di wilayah kolonialisasi India timur. Perdagangan inilah yang mengenalkan Ternate sebagai penghasil rempah hingga ke Eropa.

Bukit kejayaan peradaban perdagagan masih bisa disaksikan kini, dalam bentuk peninggalan benteng, dan budaya yang diserap oleh masyarakata Ternate. Sedangkan dari sisi sejarah buminya, Tidore merupakan bagian dari busur volkanik kawasan laut Maluku berderet memajang, dengan arah utara-selatan. Luas pulaunya adalah 1.703 km2, ditempuh kurang lebih satu jam untuk mengelelilingi pulau.

Deddy menambahkan bahwa saat ini kawasan Ternate sedang diajukan untuk menjadi Geopark Nasional, dengan mengusung kurang 19 geosite yang tersebar di seluruh pulau. Keunggulan Ternate adalah branding yang telah melekat, sebagai kepulauan rempah-rempah. Kemudian diperkuat dengan eksistensi city branding yang telah diinisiasi oleh ICCN. Kemudian terakhir adalah penguatan dari sisi konservasi, edukasi dan pemanfaat sumber daya alam melalui konsep Geopark atau Taman Bumi.

Download materi Kota Rempah di Tubuh Gunungapi Gamalama

Peradaban Tambora Sebelum Letusan 1815

Tayangan ulang Syiar Geowisata, tentang Peradaban sebelum letusan Tambora 1815. Disampaikan oleh Ikhsan Iskandar (PGWI DPW Tambora).

Sudah tidak terbantahkan bahwa letusan Tambora pada 1815, mengarahkan sejarah peradaban. Bukan hanya peristiwa dunia yang dipengaruhinya, namun higga peristiwa di panggung dunia. Dampak dari hasil bawaan kegiatan letusan gunungapi kelas plinian. Namun dalam keterangan dan penelitian yang telah digali, jarang mengungkapkan peradaban sebelum letusan besar tersebut.

Dalam kesempatan program kegiatan Syiar Geowisata, melalui acara dalam jaringan/online mengetengahkan sajian peradaban Tambora sebelum letusan 1815. Disampaikan oleh Ikhsan Iskandar, anggota PGWI Dewan Pengurus Tambora.

Materi (PDF): Peradaban Tambora PRaletusan 1815

Geowisata Ranah Minang Alam Takambang Jadi Guru

Dalam rangkaian kegiatan syiar geowisata pertemuan ke-2, mengetengahkan tema geopark di Ranah Minang (5/4, 2024). Disampaikan oleh Ahmad Fadhly, pengampu di sekolah tinggi geologi, peneliti muda sekaligus penggerak geopar Ranah Minang. Saat ini di Ranah Minang, memiliki tiga geopark yang telah berstatus nasional, disusul empat calon geopark nasional dan dua potensi geopark nasional.

Dalam kesempatan ini Fadhly mengaitkan filosofi orang Minang dengan kalimat alam takambang menjadi guru. Menyatakan bahwa bumi ranah minang dibentuk oleh keuatan dari dalam bumi, berupak kekuatan tektonik yang menghasilkan jalur sesar Sumatera. Rona buminya rupawan karena ditatah oleh hasil kegiatan erosi, dan pelapukan. Membentuk jalur-jalur perbukitan yang mengandung nilai budaya tinggi, hingga melahirkan peradaban masyarakat yang menempati dataran tinggi Sumatera Barat.

Materi (PDF) Geowisata Ranah Minang

Sosialisasi SKKNI Pemandu Geowisata 56/2024

Dalam kesemapatan acara webinar Syiar Geowisata tanggal 4 April 2024. Diinisiasi Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia, melalui kegiatan daring (zoom meeting). Mengetengahkan mengenai Standar Kompetensi Kerja Nasional atau SKKNI terbaru untuk bidang teknis pemanduan geowisata. Standar yang diperlukan oleh para pemandu geowisata, hadir mencabut SKKNI Nomor 89 Tahun 2019. Sosialisasi disampaikan oleh Deni Sugandi, selaku Ketua Pengurus Nasional PGWI, sekaligus sekretaris tim penyusun SKKNI. Kegiatan dihadiri oleh para pelaku, akademisi, badan pengelola geopark hingga para pemandu geowisata.

Penyusunan dilaksanakan sejak awal tahun 2023, melalui beberapa tahapan. Diantaranya adalah tiga kali kegiatan FGD di Jakarta, kemudian disusul dalam tahapan selanjutnya berupa prakonvensi. Kegiatan tersebut dilaksanakan di tiga tempat, mewakili tiga daerah di Indonesia. Dilaksanakan di kota Medan untuk mewakili bagian timur, Yogyakarta untuk Indonesia tengah dan terakhir di pulau Lombok, NTB.

SKKNI yang disusun menggunakan Regional Model Competenscy Standar (RMCS), model penyusunan standar kompetensi yang disesuaikan untuk kebutuhan Labora Oraganization atau ILO. Didalamnya memiliki model pengembangan yang menggunakan pendekanta funsi dari proses kerja suatu kegaiatan.

Dalam kesempatan ini Deni menyampaikan dasar-dasar pengembangan dan pemutahiran SKKNI untuk bidang teknis Pemandu Geowisata. Diantaranya data yang diambil dari hasil kegaitan survey kepada jaringan asosiasi pemandu geowisata, hingga umum. Survey berisi pertanyaan mengenai.

Dalam penyusunan tahun 2019, menghasilkan sembilan unit kompetensi. Tujuah diantaranya merupakan hasil adaptasi dari unit kompetensi bidang teknis pemandu wisata. Sedangkan dalam penyusunan terkini, berjumlah 33 Unit Kompetensi. Diantaranya hasil adaptasi dari unit kompetensi bidang teknis lain, adopsi atau disesuaikan dengan kebutuhan kontekstual dan terakhir adalah membuat baru.

Kegiatan ditutup melalui konvensi di Jakarta. Dalam siaran pers Menparekraf, tentang RSKKNI, RKKNI dan RSO di Jakarta pada 24 Oktober 2023. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepaa Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, mengatakan bahwa kegiatan konvensi ini merupakn wujud upaya pemerintah untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia pariwisata yang berkompeten dan berkualitas.

Rekaman diskusi melalui Yotube: https://www.youtube.com/watch?v=agoPl31SjOw

File presentasi dapat diunduh di: https://www.academia.edu/117057032/Sosialisasi_SKKNI_Pemanduan_Geowisata_No_56_2024

File SKKNI Pemanduan Geowisata dapat diunduh di: