Maskapai perdagangan Belanda atau VOC bangkrut dan dibubarkan 31 Desember 1799. Kendali perusahaan global pertama dunia tersebut jatuh ke pemerintahan Belanda, termasuk aset benteng, kapal dagang, dan sumber daya manusia. Pada waktu yang bersamaan, Belanda sedang berperang melawan Perancis, melalui perang Napoleon. Pertempuran di Eropa menentukan nasib di Hindia Belanda, 1808 Napoleon (Perancis) menduduki Belanda, secara otomatis Hindia Belanda di bawah kekuasaan Perancis antara 1808 hingga 1811. Kemudian 1809 Daendels diberikan tugas untuk memulihkan ekonomi pascakebangkrutan VOC, mengamankan pulau Jawa dari serbuan Inggris dan mengorganisasikan kembali sistem pemerintahan lokal.
Sebuah peristiwa sejarah dimasa lalu, menginspirasi Daendels membangun sarana jalan yang menghubungkan ujung barat pulau Jawa hingga ujung timur. 1809 Daendels melakukan inspeksi jalan, kemudian menuliskan rencananya di Karangsambung. Membangun jaringan jalan untuk kepentingan militer sejauh 1100 km.
Di Pulau Jawa bagian barat, jalur Jalan Raya Pos ternyata berbelok ke pedalaman priangan untuk tujuan tertentu. Kondisi geografis perbukitan, sungai dan lembah di pedalaman priangan menjadi tantangan yang lebih sulit. Padalah bisa saja jalan Raya Pos ini mengambil rute paling mudah melalu pantai utara yang lebih landai. Ada hal lain yang ingin dicapai Daendels pada saat itu.
Selepas Buitenzorg, jalannya menanjak membelah perbukitan Puncak Pass G. Gede-Pangrango. Dari Cihea Cianjur melintasi dua sungai dan dilanjutkan menuju Padalarang. Dari tiitk ini kemudian ditarik garis lurus barat-timur melalui Cimahi hingga Ujungberung. Dipertengahan jalan atau disekitar Ci Kapundung, Daendels memerintahkan perpindahan ibu kota kabupaten di Krapyak pada saat itu mendekati ke ruas Jalan Raya Pos. Penentuan dan perpindahan ibu kota tersebut berdasarkan pertimbangan berbagai aspek dan pertimgangan geografis.
Bandung lahir melaui surat keputusan 25 September 1810, seiring perpidahan ibu kota Kabupaten. Selepas cengkraman Inggris pada 1811-1816. Terjadi letusan katastropik G. Tambora 1815 yang menyebabkan udara dingin sepanjang tahun 1816 di Eropa, sehingga Napoleon kalah perang. 1816 Belanda kembali mengkoloni Hindia Belanda, termasuk Bandung. Bentang kota semakin diperluas dengan tujuan mengakomodir kegiatan politik dan ekonomi. Jelang tahun 1920-an menetapkan kota ini disiapkan menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda. Diantaranya pembangunan jaringan lintasan Kereta Api dan Trem ke Dayeuhkolot, namun tidak tuntas karena Belanda kembali diokupasi Jerman pada Perang Dunia ke-dua.
Dalam Geourban#13 Dayeuhkolot, melihat kembali jalur Jalan Raya Pos yang dibuat melintasi pusat kota Bandung saat ini. Apakah Daendels membuka jalan baru atau ada mengikuti jalur yang telah ada? kemudian pertimbangan apa saja yang mendorong perpindahan ibu kota lama di Krapyak. Bagaimana Bandung berkembang sejak kolonial hingga kedatangan penjajahan Jepang 1942? Apa peran Ci Kapundung dalam pementuan garis lintasan Jalan Raya Pos?. Mari temui kembali sejarah bumi dan budaya dalam aktivitas geowisata.
Hari/Tanggal Sabtu, 27 Mei 2023
Waktu 07.30 WIB sd. 13.00 IB
Meeting point Plaza Cikapundung, Jalan Ir. Soekarno
Disklaimer Kegiatan berfisat probono. Partisipan diharapkan menggungan kendaraan roda dua bermotor. Mengingat jarak tempuh cukup jauh.
Geourban Diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowista Indonesia (PGWI). Bertujuan syiar geowisata kota, menyulam jejaring geowisata lokal, dan peningkatan kapasitas pemandu geowisata. Kegiatan bersifat probono, dari-oleh untuk kita melalui interpretasi dan berbagi informasi. Info: pgwi.or.id
Kegiatan syiar geowisata di Cekungan Bandung ini dilaksanakna bertepatan dengan bulan ramadhan, pada hari Sabtu, 8 April 2023. Kegiatan ini mengupas rahasia bumi, peristiwa dinamika alam, hingga budaya yang menempati dataran tinggi Lembang. Kegiatan ke-11 ini mengambil tema Jayagiri, kawasan di sebelah utara kota Lembang, berada di lereng G.Tangkubanparahu sebelah selatan. Kawasan ini menarik untuk dikupas dalam kegiatan ini, mengingat beberapa dinamika bumi dan budaya yang berlangsung telah mengukir sejarah dunia. Diantaranya menapaki kembali akhir riwayat dan hasil karya Junghuhn sembilan tahun terakhir, antara 1855 hiingga meninggal 1865. Sekembalinya ke tanah Jawa Barat, Junghuhn diminta untuk membudidayakan kina selama sembilan tahun terakhir, hingga produksi kina menduduki peringkat pertama di dunia. Tujuan lainya adalah mengunjungi sumber mata air Cikahuripan, mengalir diantara dua litologi, dan mengunjungi rumah terakhir Junghuhn.
Geourban merupakan upaya syiar geowisata, menggerakan dan inisiatif jejaring sumber daya manusia di keorganisasian PGWI, hingga membangun ekosistem geowisata di Cekungan Bandung. diusahakan oleh perkumpulan Pemadu Geowisata Indonesia/PGWI, sejak 2020. Kegiatan ini bersifat probono (tidak dipungut biaya), bermaksud mengaikan jejaring lokal dengan industri pariwisata, melalui kemungkinan-kemungkinan pembuatan paket wisata dan pola perjalanan pariwisata sekitar dataran tinggi Bandung.
Kegiatan dibuka pukul 14.00 WIB di ruang aula sederhana, di kantor Desa Cikahuripan. Kurang lebih telah hadir 25 peserta dari berbagai latar belakang. Diantaranya mahasiswa pariwisata UPI, pegiat wisata, pemandu wisata, penulis, profesional hingga ibu rumah tangga. Hadir dalam kegiatan ini sejak pukul 08.00 WIB di kantor Desa Cikahuripan, Lembang. Kabupaten Bandung.
Dalam brifing awal kegiatan ini, Deni Sugandi selaku pemandu geowisata, menyampaikan rencana kegiatan. Diantaranya mengunjungi tapakbumi yang berkaitan dengan tema sejarah letusan G. Pra-Sunda-Sunda dan kina yang dibudidayakan di lereng sebelah selatan G. Tangkubanparahu oleh Junghuhn. Menapakai kembali jejak Junghuhn dalam lawatan ke-dua hingga akhir hayatnya. Junghuhn kembali ke Belanda setelah tetirah untuk berobat, kemudian kembali ke pulau Jawa pada 1855. Seiring tubuhnya yang digerogoti sakit menahun, ia diminta untuk mengembangkan budidaya Kina di dataran tinggi Priangan. Kunjungan selanjutnya ke sumber mata air kontak Cikahuripan, interpretasi morfologi Cekungan Bandung dan pembentukan gunungapi di utara di makam panjang yang berada persis di jalur sesar Lembang. Kemudian melihat kembali bukti endapan awan panas Pra-Sunda dan G. Sunda, monumen Junghuhn dan terakhir ditutup di padepokan Pasiripis Jayagiri, Lembang.
Acara dibuka secara sederhana, dengan perkenalan setiap partisipan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan singkat oleh Kang Dodi selaku pegiat wisata Cikahuripan. Ia menyampaikan aktivitas wisata di Desa Cikahuripan, seperti kunjungan ke situ religi Makan Panjang di Pasirwangi, Mataair Cikahuripan yang mengalir diantara rekahan bongkah lava, hingga tapakbumi Batugantung di lembah imah seniman. Disambung oleh penjelasan ibu Nia yang menguraikan Usaha Kecil Menengah yang dikerjakan oleh warga Desa Cikahuripan, diantranya jenis-jenis kuliner hingga produksi makanan kemasan.
Dalam pemaparan awal, Deni memberikan gambaran geografis lokasi kunjungan. Desa Cikahuripan berada dijalan utama penghubung Cimahi-Lembang melalui jalan Kolonel Masturi. Delinasi desanya meliputi lereng selatan G.Tangkubanparahu, termasuk kawah utama gunungapi tersebut. Kemudian di sebelah selatannya persis berbatasan dengan jalur Sesar Lembang segmen Cihideung (Daryono. 2016). Masyarakat mengeluhkan bahwa desa ini hanya menjadi jalan pintas menuju destinasi pariwisata yang dikelola oleh kapital besar, seperti wisata Tangkubanparahu, glamping Cikole. Lembang Park and Zoo. Sehingga masyarakat bukan saja sebagai penonton, namun berharap mampu mendorong pariwisata berbasis masyarakat di Desa Cikahurpan. Harapan tersebut memiliki tantangan tersendiri, karena diapit oleh dua sumber potensi bencana geologi.
Sebelah utara diancam oleh kegiatan letusan gunungapi dan sebelah selatannya digoyang oleh potensi gempa Sesar Lembang. Sehingga desa ini mengikuti program Destana, Desa Tangguh Bencana, didampingi oleh Bandung Mitigasi Hub dan tim Pengabdian Masyarakat ITB. Kegiatannya berupa pendampingan melakui Pendekatan Pengurangan Risiko Bencana Berbasis komunitas. Kelembagaanya melalu Desa Tangguh Bencana (Destana), melalui rancangan yang dituangkan ke dalam Rencana Induk Desa Wisata Tangguh Bencana. Selain bahaya geologi yang mengancam warga Cikahuripan, desa ini menyajikan bentang alam yang menawan. Diantarnya dataran tinggi perbukitan, potensi perkebunan, dan posisi strategis geografis. Modal dasar ini dibuka dalam kegiatan Geourban.
Kunjungan pertama adalah melihat kembali sumber mata air di sebelah utara timur desa. Dilalui melalui perjalanan singkat dari kantor desa, menggunakan roda dua. Kemudian dilanjutkan berjalan kaki kurang lebih 10 menit menuruni lembah Ci Hideung. Terdiri dari dua mata air, dibagian bawah yang kini telah dibantun struktur bangunan beton, kemudian dibagian atas diantara perkebunan rakyat. Airya mengalir diantara celah batuan lava.
Disebut mata air Cikahuripan yang selalu mengalir walapun masuk dimusim kemmarau. Dodi menyampaikan pepatah orang tua “bilamna harga beras naik, maka mata air Cikahuripa kering”. Makna tersebut mengandung pemahaman bahwa sawah-sawah yang berada di dataran rendah Bandung, sangat bergantung kepada mata air disebelah utara. Sehingga bisa dipahami bilamana suplai air hilang, maka para petani tidak bisa bercocok tanam. Dampaknya harga kebutuhan pokok akan melambung naik. Pesan konservasi tersebut ditegaskan kembali oleh narasuber Fajar Lubis dari Brin. Ahli hidrogeologi tersebut memaparka perluanya konservasi di daerah hulu, agar sumber mata air Cikahurpan tidak terganggu. Fajar meyampaikan demikian, karena kekhawatirannya dengan pembangunan di hulu, seperti bangunan dan perubahan tata guna lahan akan mempengaruhi sumber mata air yang muncul di sekitar Cikahurpan.
Sumber mata air Cikahuripan mengalir diantara dua litologi, disebut mata air kontak. Di bagian atasnya adalah piroklakstik pembawa air (akifer), kemudian mengalir pada bidang datar berupa lava. Menurut Dodi, airnya mengalir baik walaupun memasuki kemarau. Ia menunjuk sumber mata air yang ada di bagian bawah, kini mengalirka debit air kecil, karena telah terjadi perubahan lahan dengan pembagunan fasilitas berupa bangunan tembok. Diduga pembangunan struktur beton tersebut menganggu sumber mata air. Dodi melukiskannya, airnya menjadi “pundung” atau marah karena diganggu.
Kunjunga ke-dua menuju Pasirwangi, perbukitan di sebelah selatan desa Cikahuripan. Lokasinya merupakan perbatasan antara Desa Cikahuripan dan Desa Gudang Cikahurpan. Lokasi pemakam umum, terletak persis di jalur sesar Segmen Cihideung. Dari titik tinggi ini bisa melihat bentang alam 360 derajat ke segala arah. Di utara berupa kerucut G. Burangrang-Tankubanparahu, dibagian lerengnya terlihat punggungan batas kaldera G. Sunda. Disebut punggungan perbukitan Sukatinggi, menjang antara Sukawana hingga G. Putri-Cikole Lembang.
Kunjungan terakhir adalah ke situs monumen Junghuhn di Jayagiri. Lahan yang berdiri di atas lahan seluas 2.5 Ha, dibawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat. Disebut Cagar Alam Junghuhn, didirikan sejak 21 Februari 1919. Memuat monumen peringatan Junghuhn, dan makan koleganya saat membudidayakan kina. Johan Eliza de Vrij meninggal pada 1862, dikuburkan di sebelah timur. Ahli farmakologi yang mendampingi Junghuhn dalam pengembangan obat kina, dan sekaligus sebagai penasehat proyek pembudidayaan Cinchonia di Bandung utara, Cinyiruan Bandung selatan.
Dalam linimasa sejarah kina, mulai dikenal sekitar 1630. Dibawa oleh para misionaris Spanyol yaitu cardinal Juan de Lugo ke daratan Eropa dari Amerika selatan. Kemudian pada 1852 J.F.Teysmann membawa jenis kina Cinchona calisaya. Dibudidayakan di Kebun pegunungan Cibodas (Kebun Raya Cibodas). Namun seiring waktu, pembudidayaanya tidak memberikan hasil yang baik, sehingga 1852 C.F. Pahud menugaskan Justs K. Hasskarl untuk mencari bibit kina dari Bolivia. 1854 ditanam di Cibodas dan Cinyiruan.
Junghuhn kembali ke pulau Jawa untuk kedua kali, setelah beberapa tahun tetirah untuk mengobati penyakitnya. 1855 F.W. Junghuhn sampai di Pulau Jawa. membawa 139 tanaman asal biji yang berasal dari Belanda, jenis kina C. Calisaya var javanica. Kemudian pada 1855-1857 Pembukaan perkebunan kina di Cinyiruan, dan Junghuhn menjadi pengawas. Puncak karir Junghuhn adalah 1858-1862 Bersama Johan Eliza de Vrij seorang farmakolog, sebagai penasehat proyek cinchonia membudidayakan kina Bandung utara, Cinyiruan.
Akibat penyakitnya yang menahun, pada 24 April 1864 Junghuhn meninggal dunia di Jayagiri Lembang. 1898 Johan Eliza de Vrij, dimakamkan dekat tugu Junghuhn
Menjelang kepergiannya menuju alam fana, Junghuhn pernah berujar, “Sahabku, tolong bukakan jendela itu. Saya ingin menyapa gunung, hutan untuk terakhir kalinya” ujar Junghuhn kepada sahabatnya Isaac Groneman. Rangkaian kalimat tersebut mengantarkan seorang penjelajah, kartografer, geolog, ahli botani, dan sastrawan ini kembali ke sang pemilik semesta.
Kegiatan ditutup di padepokan Pasiripis, Jayagiri, Lembang. Dipungkas oleh kegiatan buka bersama, sekaligus menutup kegiatan Geourban ke-12.
Partisipan hadir seiring matahari beranjak naik, hadir sesuai janji di grup WA yang menuliskan waktu pertemuan awal pukul 08.30 WIB. Titik pertemuannya persis di bawah G. Batu Lembang, jalan utama yang menghubungkan Maribaya dan Punclut. Tercatat kurang lebih ada 20 orang hadir, dengan latar belakang beragam. Mulai dari pelaku usaha biro perjalanan wisata, mahasiswa, jurnalis, pegiat medsos, pegiata wisata, pemandu wisata hingga ibu rumah tangga.
Kegiatan geowisata di sekitar Cekungan Bandung ini, diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI). Dengan tujuan menjalin jejaring lokal, inisiatif program perjalan geowisata dan syiar geowisata. Kegiatan in merupakan rangkaian program geowisata tematik ke-12, dilaksanakan sekitar Maribaya-Palintang, Sabtu, 29 April 2023. Kegiatan Geourban telah dilaksakan sejak satu tahun yang lalu (2022) melalui kegiatan sebelumnya disebut Geobaik (2020). Kegiatan ini dilaksanakan setiap bulan, bertujuan mendorong tumbuhnya ekosistem geowisata di kota Bandung dan sekitarnya.
Kegiatan ini bersifat probono atau tidak dipungut biaya, sebagai upaya syiar wisata bumi kepada masyarakat umum, dengan narasumber yang tergabung dalam wadah perkumpulan pemandu geowisata Indonesia. Bagi organisasi profesi, kegiatan ini sebagai cara untuk peningkatan kompetensi sebagai pemandu geowisata, sekaligus sebagai sarana aktivasi geowisata di sekitar Cekungan Bandung.
Kegiatan dimulai dengan menu pertama mendaki G. Batu, melalui jalur pendakian sebelah timur. Jalanannya merupakan jalu setapak, melalui rumah warga yang menempati lereng bukit yang dibatasi oleh perkebunan rakyat. Jalurnya melalui jalan setapak menanjak mengikuti kontur perbukitan, kiri dan kanan ditempati perkebunan warga. Menjelang tiba dibagian puncak disambut oleh bongkah batuan beku yang telah lapuk oleh waktu, menandakan bahwa bukit ini disusun oleh lava yang sangat tebal.
Dibuka oleh Deni Sugandi, selaku pemandu geowisata, melalui orientasi geografis posisi G. Batu dengan bentang alam disektiarnya. Posisi dipuncak bukit ini merupakan titik terbaik untuk menginterpretasi dinamika bumi yang sedang terjadi di dataran tinggi Bandun gutara. Dari titik ini bisa mengamati kelurusan arah barat-timur sesar Lembang, dibelah olhe Ci Kapundung. Di sebelah utara atau bagian Bandung terlihat struktur blok yang naik yang dipaku oleh kerucut G. Palasari di sebelah timurnya. Sesar Lembang ditengah pulau Jawa (intraplate), sambungan dengan Sesar Cimandiri. Dalam penelitian terbaru, total 29 km, barat-timur dengan struktur sesar normal dan sesar geser sinistral (Daryono, 2016). Dalam penelitan tersebut membagi Sesar Lembang menjadi beberapa segmen, diantaranya segmen Cimeta; Cipogor; Cihideung; Gunung Batu; Cikapundung; Batu Lonceng.
Kemudian sedikit ke utara, terlihat G. Bukittunggul yang berdampingan dengan G. Pangparang. Kemudian hadir tubuh megah G. Manglayang yang menempati posisi sebelah tenggara. Di selatannya adalah jajaran perbukitan dan pegunungan Bandung selatan. Dihadapnnya adalah cekungan luas, dengan sisi terpanjang sekitar 50 km dari timur di Cicalengka ke bagian barat di Padalarang, serta lebar sekitar 30 km dari batas dataran tinggi Lembang hingga di bagian selatan di Ciwidey. Danau yang menempati cekungan Bandung, kemudian mulau surat sejak 20.000 tahun yang lalu.
G. Batu merupakan blok yang naik, segmen Sesar Lembang Gunung Batu. Sedangkan di sebeleah utaranya adalah blok yang turun, bagian dari dataran tinggi Lembang. Kota kecamatan tersebut dinaungi bayang-bayang G. Tangkubanparahu, gunungapi aktif yang kin terus diawasi hingga kini. Bila melihat sedikit kearat barat, terlihat kerucut gunung yang telah tererosi kuat, merupakan gunungapi samping bagian dari sistem kaldera Sunda. Bila ditarik dari garis imajiner, searah lereng G. Burangrang ke arah timur, akan membentuk kerucut. Tinggi garis imajiner tersebut diduga hingga 3.800 m dpl. milik dari gunungapi generasi pertama.
Gunungapi Pra-Sunda mulai membangun dirinya sekitar umur Plistosen Awal. Kemudian menunjukan aktivitas volaniknya sekitar Pliosen Tengah, seiring dengan tumbuhnya gunugapi parasi G. Burangrang. Letusan efusif Pra-Sunda berupa aliran lava yang menyusun tubuh G. Batu Lembang. Dari pengukuran umur batuanya, sekitar 0.5060 Ma (Sunardi, 1996), berasal dari hasil letusan efusif G. Pra-Sunda.
Setelah G. Pra-Sunda rubuh, kemudian membentuk lingkar kaldera. Disusul pembentukan generasi ke-dua yaitu G. Sunda yang menunjukan aktivitasnya antara 0.210 – 0.105 Ma, kemudian membentuk lingkar kaldera 6.5 x 7.5 km. Pada peta topografi Bandung utara, van Bemmelen memperkirakan ada dua lingkar yang merupakan bagian dari Pra-Sunda dan Sunda (1934). Dari lingkar kaldera tersebut, kemudian tumbuhlah gunungap api generasi terakhir yaitu G. Tangkuban parahu. Hadir setidaknya sejak 90.000 tahun yang lalu (Nugraha, 2005).
Kegiatan selanjutnya adalah mengunjungi situs Batuloceng, di sebelah timur dari G. Batu. Situ budaya ini diperkirakan merupakan kabuyutan yang memiliki umur lebih tua dari peradaban Sunda Klasik. Tafsiran demikian berdasarkan interptretasi dari temuan arca Cikapundung, sekitar tahun 1263 Saka, atau sekitar 1341 Masehi. Arca tersebut bergaya Polinesia-Pajajaran, ditemukan di sekitar di Desa Cikapundung, Kabupaten Bandung, di atas bangunan berundak teras diwujudkan dalam bentuk antromorf (Eriwati, 1955). Tidak disebutkan dengan rinci lokasinya, tetapi menunjukan wilayah sekitar bantaran hulu Ci Kapundung yang saat ini masuk ke dalam wilayah Suntenjaya. Beberapa sumber menyebukan ditemukan di sekitar perkebunan kina. Saat ini arca tersbut menjadi koleksi Museum Nasional dengan nomor inventaris 479c/D184. Bila disejajarkan dgna kerajaan Sunda saat itu berada di penguasaan Prabu Ragamulya Luhurprabawa yang memerintah antara 1340 hingga 1350.
Penemuan arca tersebut memperkuat dugaan kunjungan Bujangga Manik ke sekitar Palintang. Dalam naskah yang ditulis pada abad ke-15, menceritakan perjalanan Bujangga Manik melintasi dataran tinggi bagian utara Ujung Berung. Menyebut Bukit Karesi, Bukit Langlayang, dan (Gunung) Palasari. Kemudian menyeberangi (sungai) Cisaunggalah dan berjalan ke arah barat hingga tiba di bukit Patenggeng.
Dalam teks tersebut bisa ditafsirkan beberapa nama geografis yang masih bisa dikenali hingga kini. Seperti penulisan bukit Langlayang untuk G. Manglayang di sebalah utara Cibiru Bandung. Kemudian bukit Palasari adalah G. Palasari di Suntenjaya, Palintang. Namun untuk mencocokan bukit Karesi, sepertinya tidak ada lagi indikasi geografis yang bisa disandingkan dengan nama tersebut, sehingga bisa jadi merujuk pada nama gunung lain yang satu kelompok dengan Palasari-Manglayang.
Penyebutan lainya adalah Cisaunggalah yang mendekatkan dengan cerita Ciung Wanara di sebelah timur Jawa Barat. Hadir sekitar 793 Masehi, merupakan penguasa kerajaan Galuh setelah pendahulunya tamperan Bamawijaya. Sedangkan naskah Bujangga Manik ditaksir antara akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15. Noorduyn dan A Teeuw memperkirakan bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik berlangsung (atau ditulis?) pada kurun Kesultanan Malaka masih menguasai jalur perniagaan Nusantara, sebelum jatuh ke tangan Portugis pada 1511. Di dalam naskah tesebut menyebutkan 450 kawasan, termasuk di antaranya ada sedikitnya 90 nama gunung dan 50 nama sungai. Naskah puisi yang berjumlah 1641 baris ini, adalah bahwa pada kenyataannya– mirip naskah-naskah Sunda antik yang pada umumnya otentik dan tidak disalin naskah BM tiada duanya dan cuma satu-satunya di dunia (codex uniqus).
Di Situs Batuloceng berupa undakan yang didirikan di atas bukit. Tepat berada di lereng sebelah utara G. Palasari, diapit oleh G. Bukittunggul dan dipisahkan oleh Ci Kapundung hulu. Penulisan G. Bukit Tunggul lebih dipercaya disebut beuti bukan bukit, memaknai akar pohon (tunggul) yang digunakan untuk membuat perahu oleh Sangkuriang. Seperti yang dituliskan dalam Gids voor Bergtochten op Java, ditulis oleh ahli gunungapi Dr. Ch. E. Stehen, 1930. Di situs ini dipercaya hadir sejak 1816, melalu juru pelihara (kuncen), Eyang Haih. Dipercaya sebagai patilasan Sembah Dalem Sunan Margataka atau yang dikenal dengan Prabu Wanara atau Ciung Wanara (Manarah/Surotama).
Kepercayaan tersebut bersarkan penamaan toponimi yang muncul pada peta Belanda (Geolosgisch kaart, van Bemmelen, 1934) menuliskan nama Gegersunten di sebelah utara, tepat di lereng seltan G. Bukittunggul.
Kegiatan Geourban ditutup di Batuloceng, dengan harapan aktivitas geowisata ini bisa membuka kegiatan geowisata yang berdampak kepada aktivitas ekonomi lokal, dan pemahaman lebih dalam mengenai narasi bumi dan budaya.
Bandung bagian utara dibatasi punggungan Sesar Lembang. Memanjang barat-timur 29 km dari G. Palasari Cilengkrang, Bandung Barat hingga Ngamprah di Badung Barat. Di segmen Maribaya-Batuloceng, dicirikan oleh gawir sesar berupa blok Bandung yang naik antara 300 hingga 450 meter. Disusun oleh lava hasil kegiatan pembentukan Gunungapi Pra-Sunda-Sunda, antara 0.560- 0.105 MA. Di bawah lereng G. Palasari ditemui peradaban yang diperkirakan hadir di masa Pra-Sunda, dan budaya Sunda Klasik diwakili Kabuyutan Batuloceng.
Di Abad ke-15 (sekitar 1338 M, Noorduyn) dalam perjalanan ke-dua, Bujangga Manik menuliskan dalam naskah perjalanan resi guru, G. Langlayang, G. Kaeresi dan G. Palasari. Merujuk kepada kerucut gunung disebelah utara-timur Bandung.
(1330) leu(m)pang air ngaer barat. Tehering milangan gunung: Itu ta bukit Karesi Itu ta bukit Langlayang Ti baratna Palasari
Dari naskah tersebut menyuratkan telah hadir kebudayaan Hindu di Bandung utara, sebelah timur di bawah lereng G. Bukittunggul-G. Pangparang. Bujangga Manik menyebutkan sasakala Sangkuriang, gagal membangun situ. Sedikit ke utara merupakan hulu Ci Kapundung, sungai yang membelah kota Bandung. Mengalir dan mengerosi diantara gawir terjal Sesar Lembang ke arah barat. Disekitar Curug Domas, arahnya berbelok mengalir di lidah lava G. Tangkubanparahu tua (40.000 tahun yl), berhenti di Curug Dago. Ci Kapundung membelah kota Bandung, bermuara di Dayeuhkolot, jantung ibu kota kabupaten sebelum pembangunan Jala Raya Pos 1811.
Rute Gunung Batu Lembang, Maribaya, Batuloceng, dan Palitang
Disklaimer Disarankan partisipan untuk menggunakan transportasi pribadi, roda dua atau roda empat. Memakai baju lapangan, dan jas hujan. Kegiatan bersifat probono, termasuk akom/transport dan tiket wisata ditanggung masing-masing.
Geourban Diinisiasi oleh pekumpulan Pemandu Geowista Indonesia/PGWI. Bertujuan syiar geowisata, menjahit jejaring dan menggali narasi tapak bumi Bandung Raya. Info: pgwi.or.id @pgwindonesia
Berangkat dari kurangnnya minat menulis (literasi) di kalangan pegiat alam bebas, menyebabkan miskinnya informasi mengenai kondisi alam, lingkungan dan budaya. Alasannya dikarenakan kesulitan menyusun narasi, hingga kurang paham bagaimana memulai menulis. Dengan demikian perlu pelatihan menulis populer, dan fotografi praktis menggunakan HP. Diharapkan peserta yang mengikuti pelatihan ini bisa membuat narasi bumi, berupa artikel hingga tulisan singkat di sosial media.
Kegiatan berupa pelatihan tentang penulisan populer, berupa teknik intepretasi dan fotografi menggunakan HP (smartphone) dengan fokus tema mengenai literasi bumi. Diberikan oleh para narasumber yang memiliki kompetesi dibidang masing-masing. Diantaranya penulis populer dan geograf T Bachtiar. Untuk pengenalan penulisan populer, disampaikan oleh Gan-gan Jatnika. Saat ini aktif menulis tentang gunung-gunung yang memagari Cekungan Bandung, di media bandungbergerak.id. Selanjutnya Zarindra yang membantu penjelasan geologi regional, dan Deni Sugandi yang menyampaikan materi fotografi praktis menggunakan HP.
Pelatihan ini merupakan upaya PGWI untuk menggelorakan literasi berkaitan dengan fenomena, keragaman bumi, hingga budaya yang lahir dikondisikan oleh lingkungan dan sumber daya alam.
Kegiatan diselenggarakan selama dua hari, dari tanggal 15 hingga 16 Oktober 2022. Kegiatan berupa praktek lapangan melalui inteptretasi oleh narasumber, kemudian pertemuan kelas dan diskusi. Pelatihan ini merupakan angkatan pertamaya yang diikuti oleh tujuh partisipan. Berasal dari berbagai latar belakan akademis, pekerjaan dan profesi yang beragam. Diantaranya pegawai honorer di UPTD Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, humas di destinasi wisata, mahasiswa, pelaku usaha hingga pegiat lama bebas. Seluruh peserta berasal dari Bandung Raya. Kegiatan ini dilaksanakan oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia/PGWI dan didukung jaringan broadcast televisi Ayu TVCC, produsen merchandise Rumah Komunitas, Skidaw, biro perjalanan Exotic Java Trail, dan produsen thsirt Kaos Artis.
Pematerian pertama dilaksanakan di Gunung Batu.Lembang. Dihantarkan oleh T Bachtiar, penulis aktif kebumian, ahli geografi fisik. Dalam penjelasannya menguraikan asal-usul Gunung Batu Lembang yang berumur sekitar 510.000 tahun yang lalu (Soenardi dan Koesoemadinata, 1997). Dari atas perbukitan ini, Bachtiar memberikan teknik intepretasi tentang kejadian dan pembentukan gunungapi di sebelah utara Kota Bandung. Dalam presentasinya, memperlihatkan tahapan-tahapan sejara terbentuknya Gunung Sunda. Dalam penjelasannya, rangkaian evolusi pembentukan gunugapi yang dimulai dari kegiatan Prasunda kemudian disebut Gunung Jayagiri. Pendapatnya berdasarkan batas kaldera PraSunda tersebut yang ditemui cirinya disekitar Jayagiri Lembang. Dataran tinggi disebelah utara kota Lembang, diperkirakan sebagai batas kaldera sebela selatan. Fase pertama terbentuk sekitar 560.000 hingga 500.000 tahun yang lalu.
Kemudian setelah terjadi letusan eksplosif, terbentuklah lingkar kaldera Prasunda. Seiring waktu, tumbuh kerucut gunungapi ke-dua penerus PraSunda. Disebut Gunung Sunda, sekitar 210.000 hinga 105.000 tahun yang lalu.
Kunjungan ke-dua ke Patok Triangulasi KQ 380. Terletak di SD Pakar, Ciburial. Dataran tinggi disebelah utara kota Bandung, terletak di ketinggian 900 m dpl. Di titik inilah dilaporkan penemuan serpih dan alat batu yang terbuat dari obsidian, seperti yang dilaporkan oleh peneliti Belanda. Diantaranya laporan dari Koeningswald (1935), Bandi (1951), Pantjawati (1988), dan laporan penelitian terakhir oleh Sumiati dan Ferdianto (2009). Artefak dari bahan yang dikenal gelas volkanik ini, tersebar di atas ketinggian 725 m dpl. Diantaranya ditemukan juga disekitar Pakar Dago, kemudian di titik patok triangulasi KQ 380, sebelah utara Pasir Soang, Pasir Cikebi dan sebelah barat Tugu 2.
Asal bahan tersebut didapati disebelah timur Cekungan Bandung, tepatnya di Gunung Kendan sekitar Leles Garut. Dengan demikian, diperkirakan telah terjadi jalur perdagangan antara budaya prasejarah di datataran tinggi Bandung bagian utara.
Sebagai penutup hari pertama, kunjungan ke-tiga di Tebing Karaton. Dari titik ini Deni memberikan penjelasan mengenai jalur sesar Lembang. Memanjang 29 km (Daryanto, 2014).
Menjelang siang hari, peserta menikmati makan siang di Taman Hutan Raya H. Djuanda. Dilanjutkan ke Ciburial, untuk mengikuti materi berikutnya. Jelang sore, partisipan beristirahat dikamar yang telah disediakan.
Selepas makan malam, dilanjutkan dengan kelas malam. Materi pentulisan populer yang disampaikan oleh Gan-gan Jatnika. Dalam kesempatan ini, Gan-gan memberikan beberapa pengertian dasar-dasar penulisan. Diantaranya cara memulai menulis, gaya dan diksi dalam menentukan penyusunan tulisan.
Kelas malam dilanjutkan dengan pemberian materi fotografi praktis, menggunakan HP. Disampaikan oleh Deni Sugandi, melalui informasi praktis teknis fotografi dan pemanfaatan hingga optimal kamera HP. Dalam penuturannya, Deni memperlihatkan fungsi visual fotografi mendukung tulisan. Dilakukan melalui persebaran informasi (publikasi) melalui sosial media. Perlu kebijaksanaan dalam penyebaran informasi, berkaitan dengan daya dukung, kondisi lingkungan hingga masalah sosial yang bisa timbul. Dengan demikian diperlukan informasi yang memberikan pengertian, melalu penekanan diteks atau deskripsi.
Kegiatan hari ke-dua adalah mengunjungi lava pahoehoe di kawasan Taman Hutan Raya Haji Djuanda. Tepatnya berada di bantaran Ci Kapundung, Ciburial. Lokasinya ditempuh 2 km dari kampung Sekejolang, Ciburial. Dalam perjalanan menuju lokasi, ditempuh dengan cara menuruni gawir terjal yang mengapit Ci Kapundung. Kurang lebih 30 menit melalui jalan setapak, mengarah ke jalan paving blok yang menghubungkan Tahura Djuanda pintu utara Maribaya ke Dago Pakar. Keberadaan singkapn lava tersebut dianggap menarik, karena memperliatkan struktur pahoehoe. Berupa struktur seperti tali yang disulam, sehingga T Bachtiar menyebutnya selendang Dayang Sumbi.
Acara ditutup dengan pembuatan tugas menulis singkat, disertai foto di masing-masing akun Instagram peserta. Dalam sesi penutup, partisipan sangat berkesan dengan kegiatan ini. Alasannya adalah pelaksanaan tepat sasaran, melalui penjelasan di lapangan.
T Bachtiar menjelaskan genesa Kaldera Sunda di Gunung batu LembangPenjelasan Abah Ase mengenai Tebing KaratonSesi kelas dalam penyampaiman materi penulisan oleh Gan Gan JatnikaPenjelasan sesa Lembang di Tebing KaratonKunjungan ke lava basal Pahoehoe
Udara masih dikungkung hawa dingin, menandakan ujung dari musim penghujan memasuki musim kemarau. Kabut menempati perbukitan, dan seiring waktu sirna oleh cahaya pagi. Tepat pukul tujuh pagi, para para peserta sudah siap untuk berangkat dari titik kumpul jalan Pacuan Kuda, Arcamanik Bandug. Diikuti oleh empat orang, badan pengelola pariwisata Kabupaten Sumedang, mahasiswa geologi, dosen, senior pemandu wisata, hingga pelaku wisata bumi. Di Desa Jembarwangi, bergabung dari kelompok Mengenal Alam dan Objek Geologi (Laladog), Majalengka, menggenapkan total peserta adalah 15 orang. Kegiatan Geocamp ini dilaksanakan dua hari, 7 dan 8 Mei 2022, menyusuri sejarah bumi dan budaya, di sekitar Jembawangi, dan Jatigede, Kabupaten Sumedang.
Dalam berita masih diinformasikan bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Sumedang selatan dan sekitar Tanjungsari dan Cadaspangeran. Di Cadas Pangeran didapati beberapa titik longsoran (1/5, 2022), tepatnya di rest area Cigendel, Kecamatan Pamulihan. Tiga warung longsor akibat tebing penahan roboh, seiring hujan deras yang menerpa kawasan ini. Gerakan tanah di sekitar Cadas Pangeran terjadi akibat batuan penyusunnya dalah voklanik tua berupa breksi lepas yang terereosi, kemudian gradien lereng yang curam sehingga mampu mengupas tanahpenutup (top soil). Selain itu akibat curah hujan tinggi yang mengakibatkan air menyusup menjadi bidang gelincir. Dilaporkan hanya kerugian harta benda, tanpa ada korban manusia.
Kondisi demikian diuraikan di Peta Zona Rawan Gerakan Tanah, Kabupaten Sumedang, diterbitkan oleh Badan Geologi Kementerian ESDM. Kawasan Cadas Pangeran memiliki potensi kerentanan gerakan tanah tinggi, akibat curah hujan tinggi dan erosi kuat. Kisaran kemiringan lereng antara agak terjal hingga hampir tegak. Kemudian vegetasi penutupnya telah hilang.
Ci Herang, sungai yang membelah dusun Ciherang, Cijambu meluap (3/5, 2022). Mengakibatkan kerusakan pada fasilitas wisata, dan merengut korban satu orang akibat terbawa arus banjir bandang. Kondisi demikian menandakan morfologi kawasan Sumedang rawan terhadap potensi bencana dari alam. Selain itu pembangunan fasilitas wisata tidak memperhatiakan kondisi geologi, sehingga habis tersapu banjir bandang dalam waktu singkat. Dilaporkan telah hilang satu orang, dalam peristiwa Banjir Bandang di Desa Cijambu. Kegiatan Geourban#2 Jatigede, diantaranya menyoal kondisi demikian, dengan cara menerawang kembali ke masa lalu, dari tatanan geologi hingga kondisi geografi.
Geocamp adalah kegiatan geowisata yang dibalut dalam aktifitas penelurusuran dan kemping, bermaksud menapaki bencana geologi yang bisa ditumbulkan oleh kondisi geologi, sejarah bumi hingga sejarah masa pendudukan kolonial. Diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), berkerja sama dengan biri perjalanan wisata Java Exotic Trail, dan pengelola campervan Pasir Nini, Pajagan. Penelurusan ini adalah upaya mengenalkan alam Sumedang, dalam aktivitas geowisata kepada masyarakat, khususnya kawasan Jatigede, Sumedang melalui ilmu kebumian, sejarah dan ilmu budaya.
Perjalanan dibuka melalui brifing awal oleh Deni Sugandi, selaku pemandu geowisata. Memaparkan rencana kegiatan selam dua hari, 7 dan 8 Mei 2022. Diantaranya mengunjungi kawasan Cadas Pangeran, Perbukitan Malati, Lembah Cisaar Jembarwangi, hingga kunjungan ke blok sesar anjak sekitar poros Jatigede.
Bertolak dari kota Bandung pagi hari saat jalanan masih lenggang saat suasana lebaran. Berangkat menelusuri jalan raya pos, dari Ujung Berung, Jatinangor, kemudian menuju Cadas Pangeran. Beranjak ke lorong waktu periode pendudukan kolonial, bisa disaksikan di jalan yang berliku-liku menembus perbukitan batuan keras di Cadas Pangeran.Dikerjakan satu tahun, 1811-1812 dengan cara membobok perbukitan menggunakan alat-alat sederhana, diupah sangat rendah (Marihandono, 2008). Diperkirakan ditebus oleh hilannya 5.000 nyawa pekerja paksa (Ananta Toer, 2005).
Kunjungan pertama adalah di Cadas Pangeran, persis di persimpangan jalan lama dan baru. Terdapat patung Pangeran Wiranata Koesomah Dinata (1791-1828), dikenal dengan Pangeran Kornel. Penggambaran patung tersebut, memperlihatkan Pangeran Kornel sedang bersalaman dengan Willem Daendels, dengan gestur tubuh seakan-akan penolakan. Adegan tersebut Pangeran Kornel menyalami Gubernur Jenderal Hindia Belanda terebut dengan tangan kiri, tangan kanannya memegang keris. Penggambaran melalui patung tersebut belum tentu mewakili peristiwa sebenarnya. Pertemuan Gubernur Jenderal Daendels dan Pangeran Kusumadinata IX (1761-1828) tidak tertulis dalam arsip mana pun, termasuk juga dalam laporan Daendels sendiri kepada Menteri Perdagangan dan Koloni Van der Heim (Marihandono, 2008).
Kunjungan selanjutnya adalah mengunjungi titi tinggi di sekitar Cijeungjing-Cipicung, atau sebelah utara poros Jatigede. Titik ini merupakan lokasi terbaik untuk mengamati geo circle, bentuk konsentris yang diduga sebagai hasil tumbukan meteor 4 juta tahun yang lalu. Terlihat Pasir Cariang di sebelah utara, bersama Pasir Malati yang mengapit lembah Cisaar. Kemudian di sebelah barat dari Pasir Malati, terlihat kecurut bukit Gunung Agung, berupa intrusi andesit.
Kunjungan selanjutnya adalah melihat koleksi fosil, hasil temuan masyarakat di Desa Jembarwangi. Diantaranya molar, hingga tulang paha mamalia besar, ditemukan disekitar sebelah timur desa, berbatasan dengan lereng Pasir Malati. Koleksi tersebut kini tersimpan baik didalam lemari, di ruangan khusus yang disediakan oleh pemerintah desa. Namun koleksi fosil tersebut belum dideskripsi, sebatas penemu dan lokasi saja. Dengan demikian perlu penataan, baik koleksi yang telah ada, maupun koleksi dilapangan. Menurut Odon, selaku tim yang ditunjuk oleh pemerintah desa untuk mengkoordinasi temuan fosil di Desa Jembawangi, hanya sebatas mencatat hasil temuan masyarakat. Temuan-temuan tersebut ada dimasyarakat, namun dihimbau untuk tidak diperjual belikan, jelas Odon selaku pelaksana satuan tugas kepurbakalaan desa. Pada tahun 2018 hingga 2019, telah dilaksanakan kegaitan ekskavasi belalai Stegodon di lembah Cisaar, menandakan bahwa Cisaar saat itu dalam kondisi rawa yang dihuni oleh mamalia besar. Diantaranya banteng, stegodon, hingga buaya. Koleksi tersebut hingga kini tersimpan dalam bentuk fragmen, di kantor desa.
Kegiatan penutup adalah mengunjungi di kawasan Blok Sangiang, Desa Pajagan, Sumedang. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya yang bertemakan sejarah paleotogi, di kawasan ini memiliki sejarah geologi yang menarik. Di Blok Sangiang didapati perbukitan yang hampir tegak, berupa punggungan bagian dari sistem sesar Baribis. Punggungan tersebut merupakan perbukitan terlipat dan tersesarkan, disusun oleh breksi volkanik. Peristiwa pembentukan sesar Baribis berkaitan erat dengan strutur geologi lainya yang beada di selatan. Sehingga pola struktru yang berkembang dapa tmenjelaskan genesa pembentukan sesar tersebut (Hartono, 1999).
Dari titik camping ground Pasir Nini, Blok Sangiang, Desa Pajagan, dapat memandang perbukitan yang memanjang dari barat ke timur. perbukitan tersebut merupakan bagian dari sistem sesar Baribis. Membentang dari Rangkasbitung, Bogor, Subang, Sumedang hingga ke arah timur di Bumiayu. Total panjang kurang leibh 40 km, merupakan bagian dari Zona Bogor bagian timur, daerah antiklinorium dengan arah sumbu lipatan barat-timur (van Bemmelen, 1949). Selain sesar regional yang berkembang di Blok Sangiang, didapati juga sesar-sesar lokal yang terlihat jelas di lembah Blok Sangiang. Diantaranya sesar yang berarah selatan-utara, satu kelurusan dengan Dam Jatigede. Bila melakukan pengamantan di jembantan Eretan, terlihat jelas tegasan selatan-utara yang dierosi oleh Ci Manuk.
Blok Sangian saat ini telah menjadi destinasi wisata minat khusus kebumian, diantaranya tersedia campervan area di Pasir Nini, dan wisata bumi di lembah Blok Sangiang, serta airterjun yang mengalir dari perbukitan terlipat Curug Breksi Cilandak dan Curug Mulud. Destinasi ini dikelola melalui kerjasama LMDH desa Pajagan, dan pengelolaan tanah pribadi. Di titik camp area Pasir Nini, menyuguhkan panorama poros Jatigede di sebelah selatan, dan perbukitan sistem sesar Baribis yang dibelah oleh Ci Manuk. Lokasi tepat untuk memahami sejarah bentang alam, sekaligus sebagai area wisata kembali ke alam. (DS)
Pebukitan kerucut yang berjajar dari utara ke selatan, memberikan kesan adanya zona lemah yang mampu diterobos oleh magma dekat dengan permukaan. Seiring waktu magma tersebut membeku dan membentuk perbukitan-perbukitan yang tersebar dari Cimahi selatan hingga ke arah selatan sekitar Margaasih-Cihampelas, Cililin, Kabupaten Bandung. Batuan beku terobosan tersebut mengunci rahasianya selama lebih dari empat juta tahun yang lalu, sebagai saksi pembentukan Danau Purba Bandung.
Melalui petualangan roda dua dan menyibak rahasia bumi, aktivitas geowista ini bermaksud merangkum keduanya dalam kegiatan Geobaik. Kegiatan perdana ini diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), dalam rangka mengupas destinasi geowisata disekitar Cekungan Bandung, aktivasi jejaring lokal dan mempromosikan aktivitas wisata bumi.
Geobaik#1 Jompong dilaksanakan tangal 9 Januari 2023, menapaki kembali perbukitan intrusi sekitar Cimahi selatan hingga Cililin, kemudian ke Curug Jompong dan ditutup dititik tinggi sekitar Cihampelas Cililin. Tiga lokasi kunjungan tersebut dilaksanakan dalam durasi 5 jam kegiatan luar ruangan, menggunakan sarana roda dua (motor).
Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, perjalanan dimulai tepat pukul 06.30 WIB, dimulai dari Bandung. Roda dua menapaki jalan kabupaten, kemudian bertolak menuju arah selatan melalui jalan Leuwi Gajah Cimahi. Menjelang jembatan Nanjung, jajaran kerucut perbukitan terlihat megah seperti berbaris, namun bila didekati tubuhnya hilang karena aktivitas penambangan. Perjalanan dilanjutkan berbelok ke arah barat, menuju tempat pemberhentian pertama, di Perumahan Lagadar, Gunung Lagadar.
Motor para peserta yang berjumlah 12 orang dipacu perlahan, menggilas jalan berbatu menuju proyek penambangan batu di Lagadar. Hanya beberapa penduduk saja yang menggunakan jalan ini, karena tidak ada jalan lain menghubungkan ke tempat lain kecuali ke perumahan. Di titik inilah kami bertemu dengan sebagian lagi peserta yang berasal dari Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Ada sembilan motor termasuk panitia, konvoi menuju lokasi pertama kegiatan Geobaik ke perumahan Pesanggrahan Lagadar, disebut geotapak pertama di Lagadar. Di bagian selatan di kaki G. Lagadar, peserta diajak untuk mengenali proses pembentukan perbukitan ini.
Secara administratif, wilayah ini masuk ke dalam Desa Lagadar, Kecamatan Margaasih, Bandung. Gunung Lagadar adalah perbukitan terobosan batuan beku. Hasil analisis K-Ar batuan di Selacau dan Paseban berumur 4,08 juta tyl dan 4,05 jt tyl (Sunardi dan Koesoemadinatan, 1999). Bersamaan dengan beberapa perbukitan intrusi lainya, termasuk Gunung Selacau, Gunung Paseban, Gunung Singa, Gunung Pasir Pancir merupaakn perbukitan pematang tengah Cekungan Bandung (Bachtiar, 2012). Di lokasi ini memberikan pemahaman gambaran besar, jajaran perbukitan intrusi ini merupakan pagar alam yang berjajar utara-selatan, membatasi Cekugan Bandung bagian barat dan timur. Bukan itu saja, nilai istimewanya adalah pembentukannya umur Pliosen, saat itu kondisi alam sangat dingin dan kering, dicirikan dengan munculnya mamalia besar dan moluska.
Perjalanan dilanjutkan ke lokasi berikutnya, geotapak ke-dua di Curug Jompong. Lokasi tidak jauh dari perhentian pertama, kurang lebih 20 menit berkendara ke arah baratdaya. Perjalanan memotong jalan desa, kemudian tiba di jembatan Nanjung, Margaasih. Dari tepi jalan sebelum memasuki jembatan, terlihat jajaran perbukitan Selacau, Pasir Honje, Gunung Puncaksalamm Gunung Lagadar, dan Gunung Gajahlangu di sebelah utara. perbukitan tersebut dipotong oleh Ci Tarum yang mengalir dari tenggara ke utara, melaui Margaasih dan Pataruman rangkaian dari perbukitan tengah Cekungan Bandung bagian barat.
Dari jembatan Nanjung kemudian mengarah sedikit ke barat, kemudian mengikut Ci Tarum ke arah hulu. Jalannya baik, menghubungkan antara Margaasih ke Cipatik Soreang. Diantara perjalanan tersbut kemudia berbelok memasuki komplek Terowongan Kembar Nanjung. Di tempat ini diberikan penjelasan ke-dua, mengenai pembobolan setelah pembentukan Danau Bandung Purba segmen timur. Genangan air semakin tinggi, akibat tertutupnya arah Ci Tarum di sekitar Ngamprah, kemudian turut menaikan volume air hingga mendekati ketinggian paras air 725 m di atas permukaan laut. Kenaikan tersebut mendorong sifat air mencari tempat yang rendah, kemudian membobol batuan beku terobosan Curug Jompong. Pembobolan tersebut diperkirakan menjelang pengeringan danau pada 16.000 tahun yang lalu.
Di Curug Jompong para partisipan diajak turun menyaksikan fitur-fitur alam hasil erosi air di batuan beku. Terlihat beberapa bentuk-bentuk unik disebut pothole yang terbentuk selama kegiatna pembobolan danau purba. Bentukan alami tersebut terjadi akibat arus air deras dan stabil, membawa kerakal dan kerikil. Kemudian bergesekan seperti membuat lubang yang digerakan oleh pusaran air, terjadi dalam waktu yang sangat panjang. Awalnya terbentuk cerukan-cerukan, namun lambat laut terperangkaplah ukuran batuan yang terbawa, dengan ukuran yang beragam, mulai dari bongkah hingga kerikirl. Lambat laut membentuk lubang-lubang vertikal, dengan kedalaman yang beragam. Di lingkungan lokasi ini, ditemui lubang terdalam bisa mencapai 30 cm hingga 100 cm dengan diameter antara 30 cm hingga 50 cm. Ada lubang dangkal dengan lingkar lubang lebar, dan sebaliknya. Semuanya dipengaruhi oleh kesetabilan arus sungai, dan penyusun batuannya.
Dalam kesempatan berdiskusi, pemandu wisata senior Felix Feitzma yang biasa dipanggil opah Felix menyampaikan pengalamannya menggarap kegiatan bertualanga di alam di Sanghyang Heuleut dan Sanghyang Poek. Beliau memberikan pandangannya bahwa wista ke depannya akan lebih spesifik dan tematik, sehingga menuntut para pemandu bekerja keras, berinovasi dan kreatifitas dalam menyusun paket-paket perjalanan.
Secara umum batuan Curug Jompong disusun oleh batuan beku intrusi, dengan umur yang sama dengan kelompok Selacau-Lagadar, yaitu sekitar 4 juta tahun yang lalu. Keunikan lainya adalah terbentuknya ceruk-ceruk yang dalam, membentuk air terjun yang menawan. Sehingga pada masa kolonial, tempat ini menjadi tujuan wisata yang menarik. Bahkan Junghuhn pun berkesempatan datang ke tempat ini, dan membuat bingkai fotografi pada 1860-an. Dari hasil fotografi hitam putihnya, terlihat arus sungai yang deras, sekaligus memberikan pemandangan yang menakjubkan, antara kekuatan arus sungai yang bertemu dengan batuan keras umtur tua.
Dalam foto tersebut tentu saja tidak ada sampah atau polutan industri, karena pada masa itu belumlah adanya industri yang berkembang di sepanjang bantaran Ci Tarum. Sehingga bisa dipastikan pasa saat itu airnya bersih. Keasriannya tersurat juga dalam beberapa laporan belanda dan pegiat wisata Bandung Vooruit yang menuliskan kunjungannya ke lokasi ini. Daya darik Curug Jompong bukan saja fenomena keindahannya saja, namun menjadi saksi pembentukan Danau Bandung Purba yang terbentuk pascaletusan dan pembentukan Kaldera Sunda, 105.000. tahun yang lalu.
Di Bukit Gantole Cililin atau lokasi penutup dalam perjalanan Geobaik#1 Jompong, narasumber Deni Sugandi, memberikan gambaran luas tentang posisi Danau Bandung Purba. Dari tinggian perbukitan ini, arah pandangan terbuka luas, bisa memandang arah timur, batas perbukitan intrusi dan segmen danau Saguling di sebelah barat. di sebelah utaranya dalah Gunung Burangrang, Gunung Tangkubanparahu yang dibatasi oleh patahan Lembang. Kemudian di sebelah timur-utara berjejer kelompok Gunung Palasari, Gunung Bukittunggul dan Gunung Manglayang.
Dititik inilah kegiatan Geobaik Curug Jompong selesai, ditutup dengan acara makan siang alakadarnya dan sekaligus kesan dan pesan yang disampaikan oleh para peserta. Aktivitas geowisata ini adalah salah satu cara untuk memahami proses dinamika bumi yang berlangsung, hingga sejarah pembentukan yang terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama. Sehinggi geotapak yang dikunjungi perlu dikonservasi, seperti perbukitan intrusi sekitar Lagadar. Keberadaanya kini berlomba dengan kegiatan penambangan, sehingga seiring waktu akan hilang dimuka bumi.
Di kaki bukit Lagadar, MargaasihDiterowongan kembar Nanjung, MargaasihOpah Felix menyampaikan materi pemanduan di Curug JompongAlm. Opah Felix di dasar Ci Tarum, Curug JompongPenjelasan Cekunga Bandung di bukit Gantole Cililin
Ibarat mobil tahun lama, berupa karoseri yang telah uzur. Namun mesinya yang selalu berkobar-kobar. Itulah (alm.) Felix Feitzma yang selalu bersemangat, menyampaikan pesan profesionalitas sebagai tour guide pariwista kepada yang muda.
Semangatnya tetap membara, menyulut siapa saja yang menyimaknya. Lantang, jelas, teratur dan menohok. Ketika membahas pariwisata dan pemanduan profesioanl, waktu seperti melayang tidak bertepi. Bab demi bab pandangannya yang lekat dengan pemanduan wiasata, bergulir penuh dengan pengalaman lapangan.
Namun raganya kini harus kembali ke haribaan sang Khalik, tugas dunianya sudah selesai. Semoga perjalanan terakhir beliau, bisa menemukan tapak yang lapang sesuai dengan amal ibadah yang telah disemaikan di dunia.
Berikut adalah sepenggal jejak beliau yang direkam dalam kesempatan kegiatan Geourban#8 di Babakan Siliwangi Bandung. menyampaikan filosofi tour guide profesional.
Selamat jalan Felix bin Feitsma Deodatus., semangatmu milik kami.
Mengundang teman-teman semua, bergabung di penelusuran kembali endapan awan panas G. PraSunda-Sunda di jalur sesar Lembang segmen Cikahuripan. Melihat kembali jejak di akhir hayat Junghuhn di dataran tinggi Jayagiri. Ditutup buka bersama di Padepokan Pasiripis di lereng selatan Gunung Sukatinggi. Kegiatan ini terbuka untuk umum menggunakan roda dua (motor), melalui aktivitas geowisata.
Apa itu Geourban? Diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisat Indonesia/PGWI. Membuka jejaring pelaku wisata, menggali potensi dan aktivasi geowisata.
Setelah selesainya kegiatan peningkatan kapasitas pemandu geowista Taman Wisata Alam Gunung Tangkubanparahu, asosiasi profesi Pemandu Geowisata Indonesia melaksanakan kembali kegiatan kedua di Citatah. Dilaksanakan bersama perkumpulan Forum Pemuda Peduli Karst Citatah/FK2C, yang bergerakan dikegiatan konservasi dan PGWI Pengurus Wilayah Bandung Raya, pada hari Minggu, 30 Mei 2021.
Kegiatan diikuti oleh 20 orang yang berasal dari operator wisata Tebing Hawu, pemandu geowisata, pokdarwis Citatah dan mahasiswa perguruan tinggi pariwisata di Bandung. Kemudian narasumber berasal dari organisasi PGWI, dengan latar praktisi pemandu geowisata, tour operator, dan peneliti geologi kawasan karst Padalarang. Dilaksanakan pada pukul 07.00 WIB, mengambil tempat titik kumpul disekitar Danau Ciburuy, Cipatat. Setelah brifing singkat kemudian dilanjutkan ke lokasi kungjungan pertama Gunung Hawu.
Lokasi pertama adalah ke Gunung Hawu, atau sering disebut juga Tebing Hawu. Di lokasi ini, Deni Sugandi praktisi pemandu geoiwisata dan Zarin (GEA ITB 2017) selaku narasumber, menjelaskan proses pembentukan batuan karbonat segmen selatan, dari kompleks perbukitan karst Citatah. Genesa terjadi dalam tiga urutan waktu, proses pengendapan yang terjadi pada kondisi laut sangat tenang sekitar Oligo-Miosen, kemudian proses penenggelaman kembali di laut dalam Umur Miosen Tengah, dan periode ke-tiga Umur Pliosen adalah pengangkatan, perlipatan, pensesaran yang disertai pengendapan material vulkanik aktivitas gunungapi Sunda-Tangkubanparahu.
Periode akhir inilah yang menata rona bumi perbukitan Karst Citatah, jelas Deni dalam kesempatan penjelasan di sekitar Gunung Hawu. Tebing tegak yang dicirikan dengan natural arc, salah satu nilai geologi yang sangat tinggi karena proses karstifikasi pada saat terumbu karang ini diangkata dipermukaan laut. Di sebelah timur dari lereng bukit ini, ditemui juga endapan vulkanik berupa tefra hasil letusan Sunda-Tangkubanparahu.
Lokasi selanjutnya ke Pasir Tanggulun menuju arah barat, melalui jalan poros Padalarang-Cianjur, kemudian naik melalui jalan proyek. Tapak bumi ini berupa terbosoan batuan beku andesit (Siregar, 2005). Saat ini lokasi ini telah habis ditambanga, menyisakan sebagain tubuhnya, berupa gawir terjal tegak dengan tinggi kurang lebih 5 meter, disusun batuan beku andesit dengan struktur terbreksikan dan deformasi akibat kegiatan tektonik. Penerobosan ini datang setelah pengendapan dan pengangkatan batuan karbonat, sekitar Pliosen akhir.
Kunjungna terkahir ke Sanghyang Lawang, atau Pasir Batununggul yang berhadapan langsung dengan Gunung Guha, yang disusun oleh batuan marmer hasil diagenesa dari batugamping. Di tapakbumi ini, ditemuai beberapa fosil bioklastik beupa packstone yang menjadi unggulan di lokasi ini. Selain itu ditemui juga bentukan micro-karst, berupa kerucut-kerucut runcing hasil karstifikasi yang mencirikan wilayah pengenadapanya di back reef facies (Jambak, 2014).
Kegiatan pematerian ditutup di sekretariat Forum Pemuda Peduli Karst Citatah, di Cidadap. Dalam kesempatan ini, Sodikin Kurdi selaku Bidang Litbang PGWI pengurus nasional, menyampaikan teknik pemanduan. Sodikin menjelaskan teknik brifing awal, berupa perkenalan, penjelasan durasi kegiatan hingga keamanan dalam pelaksanaan kegiatan luar ruang. Daniel Nugraha selaku Dewan Pembina PGWI dan praktisi tour operator, menjelaskan cara pengemasan paket wisata alam disekitar Citatah Padalarang. Daniel menyampaikan perlunya kemampuan menghitung biaya pelaksanaan paket tour, sesuai dengan wisata minta khusus dengan lingkungan alam ditambah kompetensi teknis pemanjatan vertikal.
Sebagai penutup acara, diberikan Surat Keputusan dari Dewan Pengurus Wilayah Bandung Raya/DPW PGWI Bandung Raya, diserankan kepada Mochamad Deni sebagai Koordinator Wilayah Citatah.
Kegiatan ini merupakan komitmen organisasi PGWI, mengupayakan peningkatan kompetensi pemandu geowisata di beberapa destinasi wisata, khususnya geowisata di sekitar Cekungan Bandung termasuk kawasan bentang alam karst Citatah. Termasuk ikut mendorong program pemerintah daerah KBB yaitu Rajamadala Geopark yang telha SK-kan oleh Gubernur Jawa Barat tahun 2019. Geopark Rajamandala bertujuan mensejahtarakan warga lokal, program edukasi sekaligus kegiatan konservasi bumi.
Brifing dikegiatan pelatihan di lapangan sektiar Karang HawuPenjelasan sedimen karbonat di CitatahPemberian sertifikat kegiatan upgrading Pemandu GeowisataDi lokasi interpretasi intrusi batuan beku di CitatahBersama seluruh peserta upgrading Pemandu Geowisata