Catatan Peluncuran Geourban Emagz dan Diskusi Wisata Alternatif

Telah dilaksanakan kegiatan peluncuran Geourban Emagazine, majalah popular yang merangkum informasi wisata bumi. Kemudian kegiatan lanjutkan dengan paparan dan diskusi seputar wisata alternatif. Dilaksanakan di ruang pertemuan, Sekretariat Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Jawa Barat.

Terletak di Jalan Tamblong Nomor 8 Bandung, pada tanggal 19 Mei 2025. Dihadiri oleh 50 orang, berasal dari beberapa latar belakang. Diantaranya dari asosiasi pemandu pariwisata, biro perjalanan wisata, akademisi, pegiat wisata, pengelola desa wisata, dinas pemerintahan daerah kota Bandung, pelaku pariwisata dan media. Berlangsung dari pukul 9.00 wib, hingga berakhir pkl. 13.00 wib.

Kegiatan dibuka oleh Deni Sugandi, selaku pihak penyelenggara acara. Menyampaikan latar belakang penerbitan majalah elektronik ini. Tujuannya adalah menghimpun data pariwisata yang berbasis wisata bumi. Disebut Geourban Emagazine, untuk penerbitan pertama Edisi 1 Nomor 1 Bulan Mei 2025. Di dalamnya memuat rubrik profile, objek wisata bumi, resensi buku, dan tulisan-tulisan tentang wisata bumi. ditulis oleh anggota dewan redaksi dan kontributor. Penulisannya menggunakan gaya bahasa populer. Penerbitan pertama ini merupakan rangkaian penerbitan seri edisi, direncanakan terbit tiga kali dalam satu tahun.

Materi berupa file, bisa diunduh di: https://pgwi.or.id/geourban-emagz/ Majalah ini diperuntukkan bagi praktisi pariwisata, pelaku hingga umum. Memperluas wawasan dan pengetahuan, khususnya tema-tema yang berkaitan dengan pengetahuan dan informasi wisata bumi. Kelahirannya digagas oleh Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Dewan Pengurus Nasional. Duduk sebagai Ketua Dewan Redaksi adalah Deni Sugandi. Kemudian Anggota Redaksi diantaranya; T Bachtiar, Malik Ar Rahiem, Diella Dachlan Gangan Jatnika, Jeani Jean, Andi Lala, Andrias Arifin, Ricky Nugraha. Nama-nama tersebut merupakan pegiat, pelaku hingga pelaku wisata khususnya wisata bumi.

Dalam sambutan acara ini, Daniel G. Nugraha selaku Ketua ASITA Jabar menyampaikan beberapa hal. Dalam sambutannya mengatakan pentingnya kolaborasi antara pemandu wisata dan operator usaha perjalanan wisata. Dalam pertemuan ini, Daniel berharap pertemuan ini adalah memperluas jejaring pelaku industri pariwisata. Dengan demikian akan timbul kesepahaman antara pemandu wisata, pengelola objek wisata dengan jaringan usaha perjalanan wisata yang bernaung di bawah ASITA.

Sambutan ke-dua disampaikan oleh Bintang Irawan. Sangat menyambut baik, perlunya jaringan kerjasama yang tidak hanya bersifat formal. Tetapi bisa juga dihadirkan dalam bentuk kunjungan lapangan. Dengan demikian para usaha perjalan wisata bisa melihat langsung produk yang akan dikemas dan dijual. Bintang adalah Ketua HPI DPC Kota Bandung, selalu mendorong anggotanya untuk bisa bersanding dan berdaya jual. Terutama dalam menghadapi industri pariwisata nasional yang semakin kompetitif. Dengan demikian diperlukan kualitas pemandu yang berdaya saing, profesional dan mampu merancang perjalanan wisata. Dengan demikian, Bintang berharap anggotanya memiliki kualitas.

Sambutan berikutnya ditutup oleh perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, diwakili oleh staf dinas. Menyatakan bahwa pemerintah siap mendukung pengembangan wisata di wilayah Kota Bandung.

Setelah pembukaan, dilanjutkan dengan pemaparan oleh tiga narasumber. Diawali oleh Budi T Assor, menyampaikan pengalamannya menyelenggarakan paket wisata alternatif. Disebut Desa Tour, tema wisata yang berbasis tentang aktivitas warga di desa. Budi menuturkan bahwa paket wisata seperti ini menjadi primadona pada awal tahun 90-an. Sebagai alternatif wisata bagi wisatawan overland (wisata antar kota di pulau Jawa). Ditawarkan kepada wisatawan inbound/asing, sebagai wisata opsional pada saat free progam di Bandung.

Desa Tour dikerjakan oleh Budi Assor, Harry Sukhartono dan Felix Feitsma. Ketiganya merupakan pemandu wisata overland (tour guide), aktif sejak akhir tahun 80-an hingga kini. Destinasinya sekitar Bandung selatan, seperti sekitar Soreang-Ciwidey, atau berkunjung ke padepokan seni Wayang Jelekong, Baleendah, Kabupaten Bandung. Muatan materi yang disampaikan dalam kegiatan pemanduan, seputar perilaku hingga adat masyarakat kampung. Budi menceritakan kemampuan Felix untuk menguraikan cerita, dari objek yang sederhana menjadi menarik. Durasi kunjungannya mulai dari setengah hari (pagi ke siang), hingga satu hari penuh.

Pemaparan ke-dua disampaikan oleh T Bachtiar. Pendiri komunitas Geotrek Matabumi, hadir sejak tahun 2010. Berawal dari kegiatan alumni Jurusan Pendidikan Geografi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), kemudian berkembang menjadi komunitas populer. Kegiatannya berbasis wisata bumi, berupa jalan-jalan dengan tema dan lokasi kunjungan tertentu.

Bachtiar memaparkan potensi wisata bumi di sekitar perbukitan karst Citatah. Selain bentang alamnya memikat, kawasan ini memiliki sejarah bumi. Membentang dari 25 juta tahun yang lalu, berupa endapan batuan sedimen. Disusun oleh batuan karbonat, dari pengendapan hewan dan tumbuhan laut pada saat sebagian besar pulau Jawa tenggelam di bawah permukaan laut. Diantaranya ditemui bukti berupa fosil hewan laut, tertanam di batuan karbonat. Ditemukan disekitar lokasi pemanjatan di tebing 125, berupa fosil dengan ukuran tidak lebih dari 15 cm. Disebut siput racun (Conus geographus), keberadaanya masih bisa ditemui pada saat ini. Melalui komunitasnya, Bachtiar sudah beberapa kali menyelenggarakan kegiatan geotrek sekitar Citatah. Terakhir menggunakan mobil jenis off-road, dengan tujuan mengenalkan wisata bumi yang dikolaborasikan dengan aktivitas petualangan.

Bachtiar menegaskan, objek wisata bumi tersebut perlu dibunyikan melalui kegiatan interpretasi. Sehingga mampu dijual dalam bentuk paket wisata bumi, berkualitas dan memberikan pengalaman kepada wisatawan. Dalam kesempatan berikutnya, Jenni Jean menyampaikan wisata alternatif Braga Bandros Mistery. Paket wisata seputar kawasan kota Bandung, dengan tema berkaitan dengan cerita tidak biasa. Mengungkap tentang urban legend, mitos yang beredar dimasyarakat hingga misteri kota. Paket wisata ini dilaksanakan pada malam hari, hingga tengah malam. Menurut pengelola, hingga kini jumlah antrian wisatawan selalu meningkat. Mengingat wisata alternatif ini belum pernah ada, sehingga selalu menarik perhatian.

Untuk mengupas kisah misterinya, dalam kegiatan wisata malam ini, didampingi interpreter spesial. Individu yang mampu membaca energi, kemudian direfleksikan melalui ekspresi tubuh. Jenni menjelaskan, perlu alat bantu elektronik, untuk mendeteksi hadirnya energi. Disebut EMF, memiliki indikator melalui lampu LED. Setiap warna yang muncul di EMF tersebut, memberikan informasi lonjakan energi yang hadir.

Selain itu digunakan pula alat bantu, berupa kamera yang mampu menangkap suhu atau temperatur. Disebut thermal imaging, berupa perangkat yang disambungkan ke kamera pintar. Melalui citra yang dihasilkannya, akan memperlihatkan warna bervariasi. Merah menandakan panas, dan sebaliknya warna gelap menandakan dingin.

Penyampaian ketiga narasumber tersebut, ditutup dengan diskusi. Beberapa partisipan menyampaikan pertanyaan, seputar materi yang telah disampaikan. Diantaranya adalah tentang pengembangan wisata alternatif tersebut. Dalam penutupan, Daniel mendorong anggota Asita Jabar untuk menangkap peluang ini. Karena para pengusaha perjalanan wisata memiliki jaringan nasional, hingga luar negeri. Dengan demikian memiliki pasar yang perlu yang luas, dengan memanfaatkan potensi lokal. Dikemas dalam bentuk wisata yang layak jual.

Dengan demikian forum ini diharapkan menjadi sarana silaturahmi, jembatan yang menghubungkan biro perjalanan wisata dengan profesi pemandu wisata. Diharapkan mampu mendorong kunjungan wisatawan inbound maupun domestik.

Penyerahan SK PGWI Kebumen

Seiring dengan kegiatan sertiikasi kompetensi Pemandu Geowisata, di Hotel Mexoline Kebumen. Diserahkan Surat Keputusan pengangkatan Dewan Pengurus Wilayah Kebuben. pada hari Rabu, 7 Mei 2025.

Dihadiri oleh Ketua PGWI Pengurus Nasional Deni Sugandi, dan Bidang Kerjasama Reza Permadi. Pendirian organisasi dilakukan melalui Musyawarah Wilayah pada tanggal 4 Oktober 2024, di Gedung Sapta Pesona Kantor Dinas Pariwisata Kab. Kebumen.

Penyerahan SK Kepengurusan PGWI Kebumen, di Hotel Mexolie Kebumen.

Catatah Ubarsebel dan Bukber PGWI

Upaya organisasi adalah menjalin silaturahmi, baik didalam hingga di luar organisasi. Tujuaanya adalah penguatan jejaring dan kolaborasi dalam pengembangan wisata bumi. Terutama di kawasan Cekungan Bandung, dilaksanakan dalam dua rangkaian kegiatan. Berupa Ubarsebel, konsep jalan-jalan pengenalan bentang alam hingga sejarah bumi sekitar Bandung bagian utara.

Dibungkus dalam kegiatan ekskursi lapangan singkat, dinamai Ulin Bareng Sambil Belaja disingkat Ubarsebel. Dalam makna bahasa Sunda, berarti adalah obat untuk menuntaskan segala penyakit. Berupa sakit kurangnnya pengetahuan sejarah bumi, hingga budaya yang lahir diatasnya.

Kegiatan dibuka di Curug Dago, Bandung. Air terjun yang mengalir di Ci Kapundung, segmen Dago, kemudian di Ciburial. Diikuti oleh para pegiat wisata, mahasiswa, pengajar sekolah tinggi pariwisata, organisasi profesi, pengelola wisata hingga pemandu wisata. Berkisar sekitar 24 orang, hadir mengikuti kegiatan ini hingga tuntas. Hadir diataranya mewakili organisasi profesi dari APGI DP Provisni Jawa Barat, Komunitas Rumah Geopark Indonesia (RGI) yang langsung dihadiri oleh pa Yunus. Kemudian dari organisasi usaha aktivitas luar ruang Sangkuriang Outdoor Service (SOS), ketua HPI DPC Kota bandung, Kaprodi Usaha Perjalana Wisata Stiepar Yapari Bandung, Hadi Mulyana. Kemudian perwakilan operator  dan pengelola, diantaranya Geowana, Angin Photoschool dan Tahura Ir. H. Djuanda Bandung.

Kegiatan dilaksanakan pada hari Minggu, 16 Maret 2025. Berupa kegaitan kunjungan singkat ke Curug Dago, Bandung. Mengupas Ci Kapundung yang mengalir di atas aliran lava G. Tangkubanparahu. Disajikan dalam bentuk pemanduan wisata bumi, oleh Deni Sugandi dan Zarindra Arya Dimas. Selaku pemandu wisata bumi, mengetengahkan perjalanan (sungai) Ci Kapundung, hasil kegiatan gunungapi dan bentang alam Cekungan Bandung.

Deni meyampaikan materi yang berkaitan dengan sejarah produk G. Sunda-Tangkubanparahu. Berupa endapan lava hasil kegiatan letusan efusif, G. Tangkubanparahu sekitar 40-39 ribu tahun yang lalu (Kartadinata, 2005). Berupa hasil aliran lava basal, mengisi lembah Maribaya. Ci Kapundung, mengalir dari utara ke selatan. Menunggangi alira lava G. Tangkubanparahu. Di Curug Dago melihat kembali hasil kegiatan letusan gunungapi, berupa aliran lava basal, dicirikan dengan warnanya gelap. Pelepasan gas yang terlalut dalam aliran lava, menghasilkan lubang-lubang gas pada batuan. Mengalir dari pusat letusan kemudian mengikuti lembah, Pasir Cikole, Cikareumbi, Cicukang (Maribaya), Sekejolang hingga Dago.

Pemaparan dilengkapi oleh Zarindra, menyampaikan liran lava berhenti di Curug Dago, membentuk ceruk akibat hasil kegiatan erosi ke hulu. Dibagian tebingnya tersingkap susunan perlapisan berselang-seling, menandakan sejarah pengengendapan batuan vulaknik di masa lalu. Panorama Curug Dago memikat komunitas pariwisata Bandung pada masa Kolonial. Sehingga menjadi wisata unggulan, diterbitkan dalam buku paduan pariwisata. Disusun oleh S.A.Reitsma (1923), “Bandoeng, The Mountain City of Netherlands Indies”. Julukan wisata bumi yang diusahakan sejak masa kolonial.

Lokasi ke-dua adalah mengunjungi dataran tinggi Bandung utara. Mengupas sejarah bumi, melalui interaksi diskusi. Bahwa Kawan Bandung Utara (KBU) adalah zona penyangga sekaligus sebaga wilayah serapan air. Keberadaanya kini telah beralih fungsi menjadi hunian rumah, hingga pertanian. Perubahan tata guna lahan tersebut turut menyumbang hilangnya beberapa mata air (Nofrianti, 2012. DPKLTS di Apakabarnews, 2020). Dampak susulannnya adalah banjir di kota Bandung, akibat fungsi KBU tidak bisa lagi menyerap air hujan secara optimal.

Dari titik tinggi ini terlihat bentang alam Cekungan Badung. SemulaKabupaten Bandung beribukota di Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) sekitar11 kilometer ke arah Selatan dari pusat kota Bandung Setelah kekuasaankolonial berakhir, Jawa diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda denganGubernur Jendralnya yang pertama yaitu Herman Willem Daendels (1808-1811) (Voskuil, 2007). Merujuk kepada naskah Sajarah Bandung, pada tahun1809 Bupati Bandung Wiranatakusumah II beserta sejumlah rakyatnya pindahdari Karapyak (Dayeuh Kolot) ke daerah sebelah utara Kota Bandung. Salahsatu alasan kepindahannya yaitu wilayah Karapyak sering dilanda banjir darisungai Citarum, dan hal itu masih terjadi hingga sekarang (Prasetyo, 2019).

Pemindahan tersebut merujuk karena kondisi geografis dan geologi. Sehingga Daendels memerintahkan untuk membuat jalur baru, memotong kota Bandung saat ini.

Jelang sore hari, partisipan diarahkan berkumpul di Travel Tech, Ciburial Bandung. Berupa silaturahmi dan urun rembug seputar pengembangan wisata bumi, khususnya di Cekungan Bandung. Dilaksanakan dalam ruangan, berupa diskusi santai jelang berbuka puasa. Deni menyampaikan tema diskusi seputar pengembangan wisata berbasis sumber daya alam yang dimiliki oleh Bandung dan sekitarnya.

Diskusi dimulai pada pukul 16.00 WIB, berakhir di pukul 17.40 WIB. Dalam diskusi singkat ini, mengupas dari perhal umum. Seperti yang disampaikan oleh Nirwan Hararap selaku Pembina PGWI Dewan Pengurus Nasional. Dalam pemaparannya menjelaskan sisi teknologi, berkaitan dengan pemanfaatan citra satelit. Nirwan melihat potensi besar yang belum dikembangkan oleh sektor pariwisata. Diantaranya pemanfaatan jaringan penyiaran televisi yang berbasis teknologi satelit. Kemudian Nirwan menambahkan, perlunya pengembangan diri seorang pemandu yang melek pada pemanfaatan teknologi.

Kesempatan beriktunya disampaikan oleh Bintang Irawan S. menyampaikan usaha-usaha yang telah dilakukan oleh organisasi. Diataranya pengelolaan Bandros Braga Night Story. Progam unggulan tour singkat kota, mengupas sejarah arsitektur hingga cerita dibaliknya. Semuga kegiatan diusahakan secara mandiri, bersaing dengan pengelolaan Bandros yang dikelola oleh pihak pemerintah daerah. Dengan demikian membuktikan, kegiatan aktivasi pariwisata kota bisa diusahakan secara mandiri oleh organisasi.

Bintang menandaskan bahwa saat ini kurangnnya perhatian kepala daerah, khususnya Gubernur Jawa Barat terhadap pengembangan pariwisata. Sehingga memberikan tanda bahwa kegiatan penguatan pariwisata, tidak harus berpangku tangan kepada pemerintah daerah. Dengan demikian Bintan mendorong agar segenap pelaku usaha pariwisata untuk bisa bekerja secara mandiri. “nanti juga pemerintah datang, walaupun sudah terlambat” tandasnya. Dalam kesempatan selanjutnya, Gangan Jatnika menyampaikan usaha wisata yang telah dilaksanakan beberapa kali. Terlaksana dalam kegiatan aktivitas hiking, dibalut interpretasi bumi. Aktivitas wisata bumi ini sudah berjalan beberapa tahun terakhir, dibeberapa tempat sekitar Bandung.

Hadi mewakili perguruan tinggi pariwisata, perlunya kerjasama antara akademisi dan praktisi. Bisa diwujudkan dalam bentuk kerjasama, seperti yang telah diupayakan dengan pihak pengelola Tahura Ir. Djuanda. Kemudian disambut oleh Ganjar, Tahura sebagai laboratorium herbarium. Kawasan konservasi yang bisa dimanfaatkan menjadi sarana wisata edukasi, berkaitan degan koleksi tananan yang dimiliknya.

Diskusi dipungkas melalui pandangan Yunus, menyampaikan perlunya langkah aksi. Berupa kelompok kerja yang mampu mengukur pengembangan wisata yang sudah berjalan. Kemudian diperlukannya variasi wisata serta pelibatan warga lokal, pemangku wilayah setempat. Kegiatan ditutup dengan acara buka bersama, foto bersama dan diskusi ringan. Kegiatan ditutup pukul 19.30 WIB.

Penamatan lapangan di Ciburial Dago.
Berbuka bersama di Travel Tech, Ciburial, Dago
Partisipan di Travel Tech Ciburial Dago

Catatan Podcast SOS-PGWI

Pada awal kelahirnnya podcast adalah streaming radio, hasil obrolan. Disiarkan dalam media daring (online), dengan tema yang beragam. Dengan tujuan penyampaian pesan, melaui penyiaran. Seperti yang dilakukan oleh Sangkuriang Outdoor Service, disingkat SOS. Menggagas kegiatan penyiaran melalui media daring, dengan tema-tema yang dekat dengan kegiatan aktivitas alam bebas.

Pada tayangan ke-dua, berkolaborasi dengan asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia/PGWI. Mengetengahkan tema yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam, melalui aktivitas pariwisata. Dilaksanakan di café SOS di venue Ski Air, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Dilaksanakan pada tanggal 16 Februrari 2025, pukul 16.00 WIB.

Narasumber yang hadir diantaranya Deden Syarif Hidayat, penggerak Forum Pemuda Peduli Karst Citatah/FP2KC. Kemudian M. Rizky Hardjadinata atau biasa dipanggi Mang Ciko, pegiat wisata bumi di kawasan Saguling. Kemudian Zarindra Arya Dimas, pegiat wisata bumi keahlian geologi. Kemudian dihantarkan oleh Deni Sugandi dan Kang Ogi selaku moderator.

Perbincangan dibuka oleh Ogi, menyampaikan awal mula kegiatan podcast. Merupakan agenda rutin yang dilaksanakan oleh SOS, sebagai sarana silaturahmi dan diskusi dengan topik berkaitan dengan kegaitan alam bebas. Kemudian Deni mengantarkan tema podcast, membatasi pada diskusi yang berkaitan antara sumber daya alam Citatah dan pemanfaatannya melalui pariwisata.

Kondisi Citatah, Padalarang yang terus digempur kegiatan tambang akan berpotensi menghilangkan bentuk alam. Kegiatan ekstraktif ini sudah terjadi dari sejak masa kolonial, terus berlangsung hingga kini. Kawasan yang memiliki luas 10.320 Ha, sebagian besar ditempati oleh perbukitan karst. Sehingga menjadi potensi hasil tambang terbesar di Jawa Barat. Penghilangan bentuk alam dan dampaknya telah terasa, diantaranya adalah beberapa kerucut perbukitan telah hilang. Dampak lainya adalah polusi kegiatan pembakaran kapur, berkurangnnya mata air, hingga dampak bawaan lainya.

Pemanfaatan sumber daya alam ini bisa dilakukan dengan cara lain, tanpa merusak atau menghilangkan bentuk lahan. Seperti yang telah berlangsung saat ini, seperti wisata petualangan pendakian, hammocking, hingga wisata berbasi narasi kebumian. Aktivitas tersebut adalah pilihan yang tersedia, dengan tujuan tanpa penghilangan bentuk bentang alam (non-tambang), edukasi hingga pemamfaatan ekonomi oleh warga lokal.

Tiga pilar tersebut menjadi dasar pengembangan pariwisata berkelanjutan, sehingga menjadi cara terbaik untuk memanfaatakan sumber daya alam tanpa harus menambang. Pilihan tersebut telah diikhtiarkan sejak dahulu, dalam bentuk aktivitas paket wisata.

Dalam kesempatan ini Zarindra menyampaikan sejarah bumi Citatah. Terbentuk sejak 30 hingga 22 juta tahun yang lalu. Berupa pengendapan batuan karbonat dalam kondisi laut dangkal. Pada masa tersebut, sekitar Oligosen hingga Miosen Awal, sebagian besar lingkungan bumi dalam keadaan tenang. Sehingga mendorong pertumbuhan terumbu karang, termasuk diwilayah Citatah saat ini. Kemudian lepas Miosen Akhir, atau sekitar 22 hingga 12 juta tahun yang lalu menandakan berakhirnya pengendapan karbonat. Terjadi karena penenggelaman ulang menjadi lautan dalam, sehingga diendapkanlah batuan sedimen seperti lempung danpasir didasar lautan dalam. Keberadaanya kini bisa dilihat dalam bentuk batuan sedimen berapis, batulempung dan batupasir. Dalam peta geologi lembang Bandung (Sudjatmiko, 1972), disusun oleh perselingan endapan laut dalam. Dikelompokan ke dalam Formasi Citarum, kini bisa dilihat berupa perbukitan terlipat disebelah selatan jajaran perbukitan karts Citatah.

Pada masa berikutnya, terjadi pengangkatan akiba kegiatan tektonik. Menyusupnya lempeng samudera Indo-Australia, di bawah lempen benua Euarsia. Terjadi di tepian benua sepanjang pulau Jawa bagian selatan. Kegiatan tektonik tersebut menyebabkan terjadinya perlipatan, pensesaran perbukitan yang memanjang dari muara Cimandiri, hingga ke Tangkubanparahu. Segmen tersebut menyerong baratdaya-timurlaut, disebut sistem sesar Cimandiri.

Terjadi pada Pliosen hingga Pliostosen. Antaran 5 juta hingga 700 ribu tahun yang lalu. Seiring tumbuhnya gunungapi di bagian selatan Jawa. Jajaran gunungapi aktif, muncul di bawah laut. Kemudian bergeser ke sebelah utara. bagian dari jajaran gunungapi modern.

Narasi tersebut menjadi pengantar dalam membungkus paket wisata. Seperti yang telah dilakukan oleh Mang Ciko, pemandu wisata bumi yang berdomisili di Saguling. Kegiatan wisata yang sudah berjalan dikawasan saguling, diantaranya Sanghyang Kenit, Sanghyang Heuleut dan beberapa tempat lainya. Paket-paket wisata tersebut bukan saja berkaitan dengan bentang alam, tetapi bisa dipadukan dengan aktivitas lainya.

Sekitar spill way Saguling, didapati fosil dari masa lalu. Menandakan sebagian Saguling merupakan rawa-rawa yang dihuni oleh mamalia besar. Penemuannya berupa fosil tungkai kaki kuna nil, gajah hingga mamalia lainya. Fosil tersebut tertanam dibatupasir, endapan danau purba. Wisata minta khusus ini menjadi garapan Mang Ciko, dengan menkoordinir kunjungan, menggunakan perahu milik warga.

Pilihan wisata lainya bisa dipadukan dengan kunjungan ke pasar tradisional Rajamandala. Menyediakan hasil bumi khas sekitar Saguling, hingga kuliner yang hanya bisa dijumpai dilokasi ini. Bergeser ke arah baratnya, terdapat wisata agro perkebunan durian. Kemudian wisata yang berkaitan dengan militer, diantaranya keberadaan sistem pertahanan militer masa kolonial.

Menurut Ciko, akses menuju kawasan Citatah saat ini sudah mudah. Diantarnya sudah tersedianya kereta api cepat, turun di Statsion Padalarang. Kemudian statsiun keretapi reguler di Cipatat. Sehingga aksesibilitas luar kota sudah bisa menjakau kawasan karst Citatah. Selanjunya mang Ciko menambahkan beberap objek wisata yang berbasis wisata bumi yang telah berjalan. Diantarana segmen 7 km Ci Tarum, dari bendungan hingga pintu outlet pipa pesat. Seperti Cikahuripan, kemudian ke arah hilir Cukang Rahong, curug Halimun. Kemudian lanjut hingga Sanghyang Heulit dan Sanghyang Kenit.

Dalam kesempatan berikutnya, Deden menjelaskan peran forum turut mengerakan ekonomi lokal melalui pariwisata. Melibatkan dengan masyarakat, melalui aktivasi perkebunan warga, geraka penanaman hingga pendampingan pengelolaan objek wisata. Seperti yang dilakukan oleh SOS, turut mendampingi kegiatan aktivasi wisata. Saat ini SOS sedang membangun sarana bangunan yang akan digunakan sebagai sarana bersama, meeting point dan cofffe shop. Ditargetkan diselesaikan dibulan Maret, mempersiapkan rencana Festival Panjang nasional di Tebing 125 Citatah. Begitu juga dengan PGWI, wadah silaturahmi para pemandu wisata bumi. Jejaring para pemandu yang siap bekerja dikawasan Citatah-Saguling.

Kegiatan ditutup hingga lepas magrib, dengan menyimpulkan bahwa pariwisata memberikan alternatif pemasukan daerah. Melalui wisata berkelanjutan, dengan memanfaatkn sumber daya alam tanpa merusak atau menghilangkan. Objek geowisata yang memiliki makna, arti dan sejarah kemudian dibungkus dalam narasi dan iterpretasi pemanduan wisata bumi. Para narasumber yang hadir

Dengan harapan lingkungan lestari, bumi dikonservasi sekaligus ekonomi lokal tumbuh. Disebut wisata berkelanjutan dalam bungkusan wisata bumi.

Podcast lengkapnya bisa di cek di sini: https://www.youtube.com/watch?v=KNeQFZiiZdE&t=7417s

Musyawarah Pendirian PGWI DPW Bogor Raya

Seiring dengan kegiatan pembagian lembar sertifikat kompetensi BNSP, bidang teknis Pemandu Geowisata. Melalui forum silaturahmi pegiat, pemandu geowisata di sekitar wilayah Bogor, telah bersepakat untuk perndirian organisasi.

Diinisiasi oleh Yosep Saputra, Deni Umar, Tano, menggelar pertemuan musyawarah pendirian Dewan Pengurus Wilayah Bogor Raya. Dilaksanakan pada hari Jumat, 25 Oktober 2024, bertempat di Aula Parengpeng, Desa Kalong Liud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Dilaksanakan dari pukul 9.00 WIB, hingga menjelangpukul 11.00 WIB.

Dihadiri oleh para pegiat, pelaku wisata, pemandu geowisata, pemerintahan dan perwakilan industri pariwisata. Dalam kegiatan musyarawah ini dilaksanakan dengan baik, dengan menetapkan Yosep Saputra sebagai Ketua PGWI DPW Bogor Raya.

Selanjutnya susunan kepengurusan, Wakil Ketua Wahyu Yudha. Sekretaris Tano Purnomosidi dan Amsori Lubis. Kemudian bendahara adalah Anita dan Deden. Bidang-bidang di bawahnya diantarnya Bidang SDM olh Wildan Khasar, Biang Kerjasama ulyadi dan Bidang Humas Syahul.

#pgwibogorraya #pgwi #wisatabumi #geowisata #pgwi

Pengukuhan DPW Kebumen

Penyerahan Surat Keputusan Pengurus Dewan Pengurus Wilayah Kebumen. Dilaksanakan melaui zoom meeting, hari Rabu, 16 Oktober 2024. Dihadiri oleh Pengurus Nasional, dan para Dewan Pengurus Wilayah Kebumen.

Muswil Pertama PGWI DPW Kebumen

Dalam upaya memberikan pelayanan prima pariwisata Kebumen, khususnya pemanduan wisata bumi (geowisata) di Kawasan Geopark Kebumen. Beberapa pegiat geowisata, praktisi, akademisi dan pemerintahan, bergabung dalam urun rembug musyawarah di kepemanduan geowisata.

Pertemuan ini merupakan musyarah untuk membentuk organisasi pemandu geowisata. Dilaksanakan di Gedung Sapta Pesona, Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayan Kabupaten Kebumen. Pada hari  Jumat, 4 Oktober 2024. Diinisiasi oleh para pegiat dan pemandu wisata bumi, pendirian organisasi Pemandu Geowisata Indonesia. Organisasi profesi yang menaungi para pelaku kepemanduan di Geopark Kebumen.

Dalam musyaarah ini, dihadiri para stake holder, pelaku dan pemegang kebijakan, untuk bersama-sama mendirian organisasi pemandu wisata bumi. Tujuan pendirian ini diantaranya sebagai peningkatan kapasistas para pemandu geowisata, sarana silaturahmi dan menjadi wadah pengembangan profesi.

Dalam kesempatan ini, Chusni Ansori selaku peneliti Brin di kawasan geologi Karangsambung menyatakan perlunya perkumpulan para pemandu. Tujuanya untuk melengkapi syarat kelengkapan revalidasi dari Unesco Global Geopark. Terutama para pemandu geowisata yang akan didorong untuk memiliki standar nasional, melaui sertifikasi kompetensi profesi.

Melalui ibu Herlina, mewakili Dinas Parbud Kabupaten Kebumen menyatakan dukungannya. Diharapka kedepannya pihak dinas bisa memfasilitasi peningkatan kapasitas para pemandu, melalui pelatihan dan sertifikasi kompetensi.

Dalam musyawarah ini menyusun Dewan Pengurus Wilayah Kebumen. Menunjuk Chusni Ansori sebagai Pembina, sejajar dengan Kadis Budpar Kebumen, dan GM Badan Pengelola Geopark Kebumen. Kemudian posisi ketua, dipilih Irfan Hadianto. Wakil Ketua adalah Nasrun Hidayat, kemudian sekretaris Nosa Aghisna dan Enggarsani Maulida. Selebihnya adalah bidang-bidang seperti keorganisasian, SDM, Litbang, Kemitraan, Promosi dan Humas.

Musyawarah Wilayah di Gedung Sapta Pesona Disparbud Kebumen
Peserta musyawarah yang hadir, mewakili praktisi, pemandu, akademisi dan pemerintahan.

Catatan Coaching Clinic Paket Geowisata Batch#1

Waktu menunjukan pukul tujuh lebih dua puluh menit, beberapa peserta telah hadir. Sebagian masih dalam perjalanan, mengingat menuju lokasi pertemuan harus melewati jalur padat Dago. Tepat pukul 07.30 WIB, kegiatan dimulai dengan pembukaan singkat. Kegiatan dilaksanakan mengambil dua tempat, G. Batu dan di kegiatan kelas di Travel Tech, Ciburial Dago Bandung. Diikuti oleh 16 orang peserta, dengan latar pegiat wisata, tour operator, pemandu geowisata, hingga pelaku wisata. Bergabung di kegiatan Coaching Clinic Penyusunan Paket Geowisata, dilaksanakan pada tanggal 22 Juli 2024.

Kegiatan ini diinisiasi oleh asosiasi Pemandu Geowista Indonesia (PGWI), tindak lanjut kegiatan pasca sertifikasi di lima kabupaten/kota, di bulan Juni 2024. Bertujuan untuk membuka jejaring pelaku geowisata, tur operator dan pasar/user geowisata. Dengan demikian diharapkan para partisipan mampu memahami bagaimana caranya membuat tema, menyusun itinerary dan menghitung biaya produksi paket tour geowisata.

Pelaksanaan kegiatan ini bukan satu arah, sehingga membuka peluang kepada partisipan lain untuk menyampaikan pendapat. Secara formal dipandu oleh Deni Sugandi, menyampaikan teknis penyusunan tema, memilih tema serta memaknai tema tersebut menjadi cerita dalam penyusunan paket geowisata. Herdi Heryadi menyampaikan trend pariwisata, mengemas paket hingga menentukan pasar yang dituju. Disampaikan dalam suasana diskusi, sehingga para partisipan bisa berpendapat dengan tujuan menyusun materi paket geowisata.

Lokasi pertemuan persis di bawah G. Batu Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Perbukitan yang memanjang timur-barat, memisahkan dataran tinggi Bandung dan Lembang. Bagian dari Zona Sesar Lembang. Lokasi pertemuan ditetapkan di sini, dengan maksud lebih dekat dengan lokasi kunjungan stop site pertama.

Kegiatan dibuka di Gunung Batu Lembang. Tapak bumi yang paling dikenal di Bandung Utara, karena memiliki sejarah bumi. Deni Sugandi, selaku ketua pelaksana coaching ini, menyampaikan rencana kegiatan. Diantaranya mengunjungi dua titik tapak bumi geowisata, untuk meberikan gambaran produk geowisata.

Deni menyampaikan tema-tema dalam geowisata, dengan cara penunjukan langsung “barang” geowisata dilokasi. Dengan demikian para partisipan mampu menggali product knowledge, termasuk makna melalui interpretasi. Dengan demikian para partisipan dapat memahami, bagaimana caranya menempatkan objek geowisata ke dalam materi penyusunan paket geowisata. Geowista bukan kegiatan wisata berbasis geologi, tetapi menggunakan ilmu kebumian secara umum. Termasuk kearifan budaya, keunikan kebudayaan yang dipengaruhi bentang alam. Produk budaya yang khas dan unik sehingga keberadaan masyarakat lokal. Selebihnya adalah interpretasi hubung kait kondisi bumi, masyarakat yang menempati ruang-wilayah yang diekspresikan melalui produk budaya.

Itinerary yang dibuat bisa berupa kunjungan ke objek geowisata, dikaitkan dengan konteks yang masih berhubungan dengan tema. Kemampuan seperti ini layak untuk dituliskan dalam itinerary, karena menjadi haknya konsumen. Selebihnya adala kemampuan interpretasi para pemandu geowisata, melalui koridor narasi yang telah ditetapkan di itinerary.

Di Lapangan Deni menyampaikan salah satu sejarah bumi di dataran tinggi Lembang. Gunung Batu Lembang dalam tafsir geosain, merupakan bagian dari zona Sesar Lembang, Memanjang dari timur ke barat, sekitar 29 km. Penelitian sebelumnya sekitar 20 km., meliputi Maribaya di segmen timur, hingga ke sekitar Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat. Di Gunung Batu, Deni menyampaikan bahwa objek geowisata ini menarik untuk diusung dalam tema tentang mitigasi. Bisa juga melihat tema lainya, mengenai bahaya Zona Sesar Lembang.

Tema tersebut tentunya harus didahului oleh pengetahuan tentang objek geowisata. Tidak saja satu, tetapi beberapa lokasi kunjungan dengan keunikan yang berbeda. Kemudian disusun dalam satu tema paket geowisata.

Pemilihan judul menjadi penting, sebagai kaitan bagi para calon konsumen geowisata untuk menentukan pilihan. Dengan demikian diperlukan tata cara yang tepat, bagaimana caranya menentukan judul menarik. Setidaknya harus mengandung variabel kekinian/aktual, dan menjadi trending topic. Dengan demikian judul bisa menjadi pintu masuk (click and bait), menuju pemilihan paket oleh konsumen.

Seperti yang dituturkan oleh Herdi Heryadi selaku narasumber, menyampaikan tren pariwisata secara umum. Dalam penyampaiannya tren pariwisata mengarah kepada perjalanan wisata yang berbasis pengalaman unik. Dengan demikian paket geowisata menjadi salah satu unggulan wisata yang bisa menjadi unggulan ke depan. Langkah-langkah menuju ke sana, diantaranya harus mengandung “nilai’ keunikan, memiliki muatan edukasi serta konservasi. Value tersebut tidak perlu diperintahkan dalam paket, tetapi bisa di “attach” menjadi aktivitas. Berikutnya harus mampu memberikan pengalaman yang mengesankan, melalui interpretasi dan kegiatan fisik seperti hiking. Diharapkan mampu memberikan dampak terhadap ekonomi lokal, diantaranya memanfaatkan sumber daya lokal hingga jasa lokal.

Dalam penyampaian berikutnya, Herdi mendorong partisipan untuk memanfaatkan sosial media influencer. Termasuk mengoptimalkan konten menarik disertai foto dan video. Selanjutnya perlu untuk fokus pada narasi/story telling yang kuat. Terutama yang bisa menghubungkan dengan calon pelanggan, secara emosional. Buatlah testimoni dari wisatawan terdahulu, sehingga mampu meningkatkan kepercayaan konsumen.

Buatlah kampanye pemasaran yang terarah. Menyasar segmen yang tepat dengan memanfaatkan basis data dan sesuai target konsumen. Misalnya menyasar konsumen yang perhatian kepada isu lingkungan, petualangan, atau peminat kebudayaan. Kemudian tambahkan nilai layanan, dengan cara seperti personalisasi itinerary (tailor made), disediakan pemandu ahli tematik, hingga pelayanan akses eksklusif ke lokasi. Dengan demikian bila menjalankan variabel di atas, harga penawaran berada di lini paling atas atau premium.

Dalam penjelasan penyusunan itinerary, Herdi menyarankan untuk mengidentifikasi keunggulan dan kelemahan itinerari. Dengan demikian kekurangan tersebut bisa ditutupi oleh kelebihan paket tersebut. Seperti tema yang lebih spesifik, yang belum pernah digarap oleh BPW. Walaupun memiliki tantangn tinggi, namun mampu untuk diwujudkan.

Buatlah itinerary yang bersifat khusus, dengan tematik tertentu. Khusus untuk menyasar konsumen yang ingin diistimewakan. Berbeda dengan paket-paket reguler, sehingga bisa menciptakan pasar. Walaupun bermain di niche market, tetapi ada pula konsumen yang ingin diperlakukan seperti ini. Dengan demikian harga jual secara eksplisit dan implisit jauh lebih tinggi. Terutama bila berhadapan dengan BPW, seharusnya mampu memiliki harga jual yang tinggi.

Hal yang jauh lebih penting adalah peran kolaborasi dengan lokal. Pengalihdayaan kekuatan ke lokal jauh akan lebih efektif, karena mereka memahami serta akses yang tepat. Dengan demikian geowisatawan dapat pengalaman yang autentik, termasuk pemberdayaan lokal.

Sebagai penutup disampaikan kegiatan diskusi yang disampaikan secara santai. Beberapa partisipan turut mengelaborasi beberapa hal yang menjadi tema utama. Sebagai penutup, Deni menyampaikan bahwa value dalam penyusunan paket geowisata sangat penting. Kekuatan tersebut menjadi penentu bagi konsumen, untuk menetapkan pilihan paket. Selebihnya adalah upaya untuk mempertahankan kualitas paket geowisata, termasuk upaya upgrading bila paket geowisata. Selain memberikan pengalaman baru, menentukan segmen pasar hingga nilai yang seharusnya lebih tinggi dari paket geowisata reguler..

Foto besama partisipan di G. Batu Lembang
Penyampaian materi oleh Herdi
Studi kasus pemaketan geowisata oleh Gangan Jatnika
Teknik interpretasi oleh Yossi

Coaching Clinic Paket Geowisata Batch#1

Selasa, 23 Juli 2024, Bandung

Organisasi PGWI menyelenggarakan pelatihan singkat satu hari, Coaching Clinic Penyusunan Paket Geowisata.

Teknis mengenali potensi keunggulan objek geowista, segmen, menentukan tema/narasi, mitigasi, itinerari dan penentuan harga.

Narasumber
Herdi Heryadi (East Experience), Adrian Agoes (Stiepar Yapari Bandung), Deni Sugandi (PGWI)

Hari/Tanggal
Selasa, 23 Juli 2024

Waktu
Pk. 07.30 WIB sd. 18.00 WIB

Venue
(pagi) Sekitar Bandung Utara, dan (siang) Travel Tech Ciburial Dago, Bandung

Meeting point
Pkl. 07.00 WIB, Gunung Batu Lembang. https://maps.app.goo.gl/Kqf1QsPyh9hWybNdA

Info/Pendaftaran (kuota terbatas 20 peserta)
0895-3632-91927 (fiqa)

Biaya pengganti logistik
Rp. 100.000., (makan 1x, E-Sertifikat)

Transfer:  BRI REK 035401003124561 Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia

Syarat dan ketentuan

  • Diutamakan bagi pegiat/pemandu geowisata, pernah mengikuti pelatihan kepemanduan geowisata atau aktif sebagai pemandu geowisata.
  • Diharapkan untuk mengatur moda transportasi pribadi. Disarankan membawa kendaraan roda dua/motor.
  • Membawa alat tulis, pakaian lapangan (opsi laptop)

Inisiator
Dilaksanakan oleh organisasi PGWI. Mendorong penguatan jejaring, upgrading dan memelihara kompetensi anggotanya. Pelaksanaan acara bersifat probono-bagian dari program kegiatan organisasi.

Sertifikasi Pemandu Geowista di Bumi Pongkor

Pelaksanaan kegiatan sertifikasi kompetensi pemandu geowisata, di Desa Bantarkaret, Pongkor, Kabupaten Bogor. Dilaksanakan pada hari Minggu, 30 Juni 2024, bekerja sama antara Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia/PGWI, LSP Pramindo dan difasilitasi oleh PT Anta, Tbk.

Diikuti oleh 20 orang peserta (asesi) yang berasal dari wilayah Kabupaten Bogor, diantaranya di bawah binaan Badan Pengelola Geopark Pongkor, Kabupaten Pongkor. Dalam penyampaiannya, perusahaan BUMN ini berhadapa ada sinergi dan bisa berkolaborasi dengan para pemandu. Bertujuan peningkatan ekonomi lokal dan membuka peluang kerja seluas-luasnya.