Peradaban Tambora Sebelum Letusan 1815

Tayangan ulang Syiar Geowisata, tentang Peradaban sebelum letusan Tambora 1815. Disampaikan oleh Ikhsan Iskandar (PGWI DPW Tambora).

Sudah tidak terbantahkan bahwa letusan Tambora pada 1815, mengarahkan sejarah peradaban. Bukan hanya peristiwa dunia yang dipengaruhinya, namun higga peristiwa di panggung dunia. Dampak dari hasil bawaan kegiatan letusan gunungapi kelas plinian. Namun dalam keterangan dan penelitian yang telah digali, jarang mengungkapkan peradaban sebelum letusan besar tersebut.

Dalam kesempatan program kegiatan Syiar Geowisata, melalui acara dalam jaringan/online mengetengahkan sajian peradaban Tambora sebelum letusan 1815. Disampaikan oleh Ikhsan Iskandar, anggota PGWI Dewan Pengurus Tambora.

Materi (PDF): Peradaban Tambora PRaletusan 1815

Catatan Singkat Geourban#19 Cigulung

Jelang pagi matahari masih bersahabat, namun beranjak siang langit Bandung utara bersalin gelap. Awan hujan menggelayut selepas dzuhur, seperti ingin mencurahkan bebannya. Hujan sekilas dibawa angin saat kami bernaung di warung, kemudian dilanjutkan ke pokok pembahasan mengenai latar bangunan militer kolonial di Pasirmalang,

Bentuknya memanjang mengikuti punggungan perbukitan, panjang fasadnya kurang lebih 30 meter. Berupa struktur bangunan yang memiliki dua tangga dari arah selatan, kemudian bagian atasnya datar. Kemungkinan di bagian atasnya berdiri senjata altileri anti pesawat udara. Di bagian utaranya dipagari oleh beton, sejajar dan memanjang mengikut tepian gawir sekitar 20 meter. Disetiap sisinya tesedia tangga yang mengarahkan ke bagian atap, area terbuka yang mampu melihat kesegala arah mata angin. Disetiap sisi bangunan didapati ruangan kotak memanjang, dilengkapi satu pintu, dan dua lubang ventilasi. Dindingnya sangat tebal, kurang lebih 120 centimeter. Dicor menggunakan beton, dengan tulangan besi dibagian atapnya. Sehigga bisa diduga bahwa fasilitas ini disebut bungker, atau tempat persembunyian pada saat serangan musuh melalui udara. Beton tebal tersebut diperkirakan mampu menyerap energi bom udara, walaupun tidak ada tanda-tanda bekas ledakan hasil serangan musuh.

Secara geografis bungker ini didirikan diatas tinggian Sukamulya, bagian dari blok naik Sesar Lembang. Barangkali kalau vegetasi yang hilang, akan telihat jelas dataran tinggi Cicalung Lembang di sebelah utara, dibatasi oleh tinggian G. Putri dan G. Sukatinggi. Sedangkan melihat ke arah selatannya dalah Cekungan Bandung. Tidak ada informasi yang memadai mengenai sejarah pendirian benteng ini, hanya di beberapa sumber menuliskan angka tahun 1922. Selebihnya adalah misteri gelap yang menyelimuti, kapan dan untuk apa benteng ini didiran di tinggian Sesar Lembang.

Dalam penyebutan benteng mungkin kurang tepat, mengingat fungsinya bukan sebagai pertahanan dari musuh. Benteng militer biasanya digunakan sebagai markas batalyon dan tempat penyimpanan perlatan perang dan logistik. Sedangkan struktur bangunan di Pasirmalang lebih tepat disebut sebagai bungker. Fasilitas militer tersebut dibangun seiring kebutuhan sistem pertahanan pasukan KNIL, menjelang masuknya tentara Jepang pada 1942.

Kolonial sudah mempersiapkan strategi pertahanan, sekitar wilayah kota Bandung. Sehingga fasilitas-fasilitas militer ini tersebar ditinggian perbukitan dan gunung yang melingkupi kota. Secara geografis. Diperkirakan pembangunan bungker-bungker yang berfungsi sebagai pos pengamatan, sekaligus untuk menempatkan altileri anti pesawat udara. Didirikan oleh KNIL pada masa interbellium atau masa antar perang antara 1918 hingga 1939, atau menjelang pecahnya perang dunia ke-2. Setelah lepas dari perang dunia ke1, kekaisaran Jepang muncul sebagai negara kuat di Asia. Sehingga kolonial Belanda menduga akan datang ke Hindia Belanda, dengan tujuan mencari sumber daya alam. Dalam masa persiapan perang tersebut, pemerintahan Hindia Belanda mengeluarkan dokumen Prinsp-Prinsip Pertahanan 1927, kebijakan yang mendukung strategi militer Hindia Belanda pada saat itu. Diantaranya angkatan darat dan laut harus mampu menjaga keamanan negeri koloni Hinda Belanda.

Dari keterangan diatas kemungkinan KNIL mendirikan bungker-bungker anti pesawat udara dan pos pengamatan sejak 1920-an. Seiring pemindahan pusat militer Hindia Belanda ke Bandung. Dalam keterangan buku lama Militaire aardrijskunde En statistiek van Nederlandsch Oost Indie, 1919 menuliskan, sistem pertahanan Hindia Belanda memanfaatkan dataran tinggi dan perbukitan yang memagari cekungan Bandung. Diperkirakan keberadaan bungker-bungker ini turut mengendalikan jalannya pertempuran, saat tentara kekaisaran Jepang datang melalui Ciater Subang pada 5-7 Maret 1942.

Selepas dari bunker Pasirmalang, dilanjutkan ke geotapak ke-dua pertemuan dua sungai. Tepat di tepi gawir Langensari-Pasirsela, mengalirlah Ci Gulung bagian dari DAS Ci Kapundung. Sungai yang hulunya dari Cikole, penggabungan dari sungai-sungai kecil. Diantaranya Ci Putri, Ci Kukang, Ci Bogo, dan Susukan Legok. Airnya relatif deras, mengalir di atas aliran lava tebal produk letusan efusif G. Tangkubanparahu. Lidah lavanya menerus hingga berhenti di Curug Dago. Dalam stratigrafi yang disusun Nasution (2004), aliran lava tersebut hasil produk Gunung Tangkubanparahu Tua dan Muda, umur 40.000 tahun yang lalu. Dari tinggian Langensari, terlihat lembah yang sangat dalam, mengalir diantara G. Putri mengalir ke arah selatan. Dari data peta topografi RBI (2001), memperlihatkan aliran Ci Gulung mengerosi dasar blok naik Sesar Lembang, mengalir ke arah timur. Dalam tafsiran sistem sesar, menandakan aliran sungai tersebut berbelok akibat pergeseran dari sesar normal ke sesar geser mengiri.

Geotapak ke-tiga adalah melihat fitur batuan beku ekstrusif tersebut tersingkap dikawasan wisata Maribaya Natural Hot Springs Resort. Berupa breksi lava (auto breccia) bagian flow top dicirikan vesikular, berwarna hitam menandakan basal. Disebagian tempat ditemui juga struktur entablature, berupa struktur kekar kolom yang tidak beraturan tegak.

Debit airnya deras dan keruh mengingat sungai ini menangkap sedimentasi pertania di hulu, kemudian dibawa hingga ke arah hilir. Sedikit ke hilir dari lokas wisata ini, didapati Curug Cikawari. Aliran Ci Kawari yang berhulu di G. Buleud dan G. Bukittunggul bagian barat. kualitas airnya relatif lebih jernih, mengingat sungainya melalui area huta produksi PT Perhutani (Persero) KPH Bandung Utara. Ci Kawari dan Ci Gulung kemudian bertemu di Curug Omas, bersatu dengan Ci Kapundung. Ci Kapundung kemudian mengalir ke selatan sejauh 28 kilometer, membelah kota Bandung. Muaranya di sekitar Dayeuh Kolot, bertemu dengan Ci Tarum.

Kegiatan ditutup diacara buka bersama, di Travel Tech Ciburial Bandung Utara. Dalam penutupan acara, peserta berdiskusi bahwa bentang alam bisu, bila tidak dibunyikan dalam bentuk penafsiran bumi. Dengan demikian kegiatan Georuban berusaha menyuarakan suara bumi, dengan tujuan memahami bagaimana bumi bekerja; lava yang mengalir dari kegiatan letusan gunungapi; arah aliran sungai yang dipengaruhi oleh struktur sesar; dan terakhir adalah upaya strategi militer kolonial memanfaatkan bentang alam Bandung utara, sebagai benteng pertahananan dengan membangun bungker-bungker dan pos pengamatan militer di sepanjang punggungan Sesar Lembang.

Penjelasan blok naik dan turun Sesar Lembang.
Penejlasan posisi titik bungker Pasirmalang.
Srutkur kekar kolom yang tersingkap di Curug Ci Gulung Maribaya.
Bungker Pasirmalang.

Geourban#13 Dayeuhkolot

Maskapai perdagangan Belanda atau VOC bangkrut dan dibubarkan 31 Desember 1799. Kendali perusahaan global pertama dunia tersebut jatuh ke pemerintahan Belanda, termasuk aset benteng, kapal dagang, dan sumber daya manusia. Pada waktu yang bersamaan, Belanda sedang berperang melawan Perancis, melalui perang Napoleon. Pertempuran di Eropa menentukan nasib di Hindia Belanda, 1808 Napoleon (Perancis) menduduki Belanda, secara otomatis Hindia Belanda di bawah kekuasaan Perancis antara 1808 hingga 1811. Kemudian 1809 Daendels diberikan tugas untuk memulihkan ekonomi pascakebangkrutan VOC, mengamankan pulau Jawa dari serbuan Inggris dan mengorganisasikan kembali sistem pemerintahan lokal.

Sebuah peristiwa sejarah dimasa lalu, menginspirasi Daendels membangun sarana jalan yang menghubungkan ujung barat pulau Jawa hingga ujung timur. 1809 Daendels melakukan inspeksi jalan, kemudian menuliskan rencananya di Karangsambung. Membangun jaringan jalan untuk kepentingan militer sejauh 1100 km.

Di Pulau Jawa bagian barat, jalur Jalan Raya Pos ternyata berbelok ke pedalaman priangan untuk tujuan tertentu. Kondisi geografis perbukitan, sungai dan lembah di pedalaman priangan menjadi tantangan yang lebih sulit. Padalah bisa saja jalan Raya Pos ini mengambil rute paling mudah melalu pantai utara yang lebih landai. Ada hal lain yang ingin dicapai Daendels pada saat itu.

Selepas Buitenzorg, jalannya menanjak membelah perbukitan Puncak Pass G. Gede-Pangrango. Dari Cihea Cianjur melintasi dua sungai dan dilanjutkan menuju Padalarang. Dari tiitk ini kemudian ditarik garis lurus barat-timur melalui Cimahi hingga Ujungberung. Dipertengahan jalan atau disekitar Ci Kapundung, Daendels memerintahkan perpindahan ibu kota kabupaten di Krapyak pada saat itu mendekati ke ruas Jalan Raya Pos. Penentuan dan perpindahan ibu kota tersebut berdasarkan pertimbangan berbagai aspek dan pertimgangan geografis.

Bandung lahir melaui surat keputusan 25 September 1810, seiring perpidahan ibu kota Kabupaten. Selepas cengkraman Inggris pada 1811-1816. Terjadi letusan katastropik G. Tambora 1815 yang menyebabkan udara dingin sepanjang tahun 1816 di Eropa, sehingga Napoleon kalah perang. 1816 Belanda kembali mengkoloni Hindia Belanda, termasuk Bandung. Bentang kota semakin diperluas dengan tujuan mengakomodir kegiatan politik dan ekonomi. Jelang tahun 1920-an menetapkan kota ini disiapkan menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda. Diantaranya pembangunan jaringan lintasan Kereta Api dan Trem ke Dayeuhkolot, namun tidak tuntas karena Belanda kembali diokupasi Jerman pada Perang Dunia ke-dua.

Dalam Geourban#13 Dayeuhkolot, melihat kembali jalur Jalan Raya Pos yang dibuat melintasi pusat kota Bandung saat ini. Apakah Daendels membuka jalan baru atau ada mengikuti jalur yang telah ada? kemudian pertimbangan apa saja yang mendorong perpindahan ibu kota lama di Krapyak. Bagaimana Bandung berkembang sejak kolonial hingga kedatangan penjajahan Jepang 1942? Apa peran Ci Kapundung dalam pementuan garis lintasan Jalan Raya Pos?. Mari temui kembali sejarah bumi dan budaya dalam aktivitas geowisata.

Hari/Tanggal
Sabtu, 27 Mei 2023

Waktu
07.30 WIB sd. 13.00 IB

Meeting point
Plaza Cikapundung, Jalan Ir. Soekarno

https://goo.gl/maps/EHPPgUs49Jt1ns4q6

Disklaimer
Kegiatan berfisat probono. Partisipan diharapkan menggungan kendaraan roda dua bermotor. Mengingat jarak tempuh cukup jauh.

Geourban
Diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowista Indonesia (PGWI). Bertujuan syiar geowisata kota, menyulam jejaring geowisata lokal, dan peningkatan kapasitas pemandu geowisata. Kegiatan bersifat probono, dari-oleh untuk kita melalui interpretasi dan berbagi informasi. Info: pgwi.or.id

#pgwi
#syiargeowisata
#geowisatacekunganbandung
#pemandugeowisata

Catatan Geobaik#1 Jompong

Pebukitan kerucut yang berjajar dari utara ke selatan, memberikan kesan adanya zona lemah yang mampu diterobos oleh magma dekat dengan permukaan. Seiring waktu magma tersebut membeku dan membentuk perbukitan-perbukitan yang tersebar dari Cimahi selatan hingga ke arah selatan sekitar Margaasih-Cihampelas, Cililin, Kabupaten Bandung. Batuan beku terobosan tersebut mengunci rahasianya selama lebih dari empat juta tahun yang lalu, sebagai saksi pembentukan Danau Purba Bandung.

Melalui petualangan roda dua dan menyibak rahasia bumi, aktivitas geowista ini bermaksud merangkum keduanya dalam kegiatan Geobaik. Kegiatan perdana ini diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), dalam rangka mengupas destinasi geowisata disekitar Cekungan Bandung, aktivasi jejaring lokal dan mempromosikan aktivitas wisata bumi.

Geobaik#1 Jompong dilaksanakan tangal 9 Januari 2023, menapaki kembali perbukitan intrusi sekitar Cimahi selatan hingga Cililin, kemudian ke Curug Jompong dan ditutup dititik tinggi sekitar Cihampelas Cililin. Tiga lokasi kunjungan tersebut dilaksanakan dalam durasi 5 jam kegiatan luar ruangan, menggunakan sarana roda dua (motor).

Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, perjalanan dimulai tepat pukul 06.30 WIB, dimulai dari Bandung. Roda dua menapaki jalan kabupaten, kemudian bertolak menuju arah selatan melalui jalan Leuwi Gajah Cimahi. Menjelang jembatan Nanjung, jajaran kerucut perbukitan terlihat megah seperti berbaris, namun bila didekati tubuhnya hilang karena aktivitas penambangan. Perjalanan dilanjutkan berbelok ke arah barat, menuju tempat pemberhentian pertama, di Perumahan Lagadar, Gunung Lagadar.

Motor para peserta yang berjumlah 12 orang dipacu perlahan, menggilas jalan berbatu menuju proyek penambangan batu di Lagadar. Hanya beberapa penduduk saja yang menggunakan jalan ini, karena tidak ada jalan lain menghubungkan ke tempat lain kecuali ke perumahan. Di titik inilah kami bertemu dengan sebagian lagi peserta yang berasal dari Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Ada sembilan motor termasuk panitia, konvoi menuju lokasi pertama kegiatan Geobaik ke  perumahan Pesanggrahan Lagadar, disebut geotapak pertama di  Lagadar. Di bagian selatan di kaki G. Lagadar, peserta diajak untuk mengenali proses pembentukan perbukitan ini.

Secara administratif, wilayah ini masuk ke dalam Desa Lagadar, Kecamatan Margaasih, Bandung. Gunung Lagadar adalah perbukitan terobosan batuan beku. Hasil analisis K-Ar batuan di Selacau dan Paseban berumur 4,08 juta tyl dan 4,05 jt tyl (Sunardi dan Koesoemadinatan, 1999). Bersamaan dengan beberapa perbukitan intrusi lainya, termasuk Gunung Selacau, Gunung Paseban, Gunung Singa, Gunung Pasir Pancir merupaakn perbukitan pematang tengah Cekungan Bandung (Bachtiar, 2012). Di lokasi ini memberikan pemahaman gambaran besar, jajaran perbukitan intrusi ini merupakan pagar alam yang berjajar utara-selatan, membatasi Cekugan Bandung bagian barat dan timur. Bukan itu saja, nilai istimewanya adalah pembentukannya umur Pliosen, saat itu kondisi alam sangat dingin dan kering, dicirikan dengan munculnya mamalia besar dan moluska.

Perjalanan dilanjutkan ke lokasi berikutnya, geotapak ke-dua di Curug Jompong. Lokasi tidak jauh dari perhentian pertama, kurang lebih 20 menit berkendara ke arah baratdaya. Perjalanan memotong jalan desa, kemudian tiba di jembatan Nanjung, Margaasih. Dari tepi jalan sebelum memasuki jembatan, terlihat jajaran perbukitan Selacau, Pasir Honje, Gunung Puncaksalamm Gunung Lagadar, dan Gunung Gajahlangu di sebelah utara. perbukitan tersebut dipotong oleh Ci Tarum yang mengalir dari tenggara ke utara, melaui Margaasih dan Pataruman rangkaian dari perbukitan tengah Cekungan Bandung bagian barat.

Dari jembatan Nanjung kemudian mengarah sedikit ke barat, kemudian mengikut Ci Tarum ke arah hulu. Jalannya baik, menghubungkan antara Margaasih ke Cipatik Soreang. Diantara perjalanan tersbut kemudia berbelok memasuki komplek Terowongan Kembar Nanjung. Di tempat ini diberikan penjelasan ke-dua, mengenai pembobolan setelah pembentukan Danau Bandung Purba segmen timur. Genangan air semakin tinggi, akibat tertutupnya arah Ci Tarum di sekitar Ngamprah, kemudian turut menaikan volume air hingga mendekati ketinggian paras air 725 m di atas permukaan laut. Kenaikan tersebut mendorong sifat air mencari tempat yang rendah, kemudian membobol batuan beku terobosan Curug Jompong. Pembobolan tersebut diperkirakan menjelang pengeringan danau pada 16.000 tahun yang lalu.

Di Curug Jompong para partisipan diajak turun menyaksikan fitur-fitur alam hasil erosi air di batuan beku. Terlihat beberapa bentuk-bentuk unik disebut pothole yang terbentuk selama kegiatna pembobolan danau purba. Bentukan alami tersebut terjadi akibat arus air deras dan stabil, membawa kerakal dan kerikil. Kemudian bergesekan seperti membuat lubang yang digerakan oleh pusaran air, terjadi dalam waktu yang sangat panjang. Awalnya terbentuk cerukan-cerukan, namun lambat laut terperangkaplah ukuran batuan yang terbawa, dengan ukuran yang beragam, mulai dari bongkah hingga kerikirl. Lambat laut membentuk lubang-lubang vertikal, dengan kedalaman yang beragam. Di lingkungan lokasi ini, ditemui lubang terdalam bisa mencapai 30 cm hingga 100 cm dengan diameter antara 30 cm hingga 50 cm. Ada lubang dangkal dengan lingkar lubang lebar, dan sebaliknya. Semuanya dipengaruhi oleh kesetabilan arus sungai, dan penyusun batuannya.

Dalam kesempatan berdiskusi, pemandu wisata senior Felix Feitzma yang biasa dipanggil opah Felix menyampaikan pengalamannya menggarap kegiatan bertualanga di alam di Sanghyang Heuleut dan Sanghyang Poek. Beliau memberikan pandangannya bahwa wista ke depannya akan lebih spesifik dan tematik, sehingga menuntut para pemandu bekerja keras, berinovasi dan kreatifitas dalam menyusun paket-paket perjalanan.

Secara umum batuan Curug Jompong disusun oleh batuan beku intrusi, dengan umur yang sama dengan kelompok Selacau-Lagadar, yaitu sekitar 4 juta tahun yang lalu. Keunikan lainya adalah terbentuknya ceruk-ceruk yang dalam, membentuk air terjun yang menawan. Sehingga pada masa kolonial, tempat ini menjadi tujuan wisata yang menarik. Bahkan Junghuhn pun berkesempatan datang ke tempat ini, dan membuat bingkai fotografi pada 1860-an. Dari hasil fotografi hitam putihnya, terlihat arus sungai yang deras, sekaligus memberikan pemandangan yang menakjubkan, antara kekuatan arus sungai yang bertemu dengan batuan keras umtur tua.

Dalam foto tersebut tentu saja tidak ada sampah atau polutan industri, karena pada masa itu belumlah adanya industri yang berkembang di sepanjang bantaran Ci Tarum. Sehingga bisa dipastikan pasa saat itu airnya bersih. Keasriannya tersurat juga dalam beberapa laporan belanda dan pegiat wisata Bandung Vooruit yang menuliskan kunjungannya ke lokasi ini. Daya darik Curug Jompong bukan saja fenomena keindahannya saja, namun menjadi saksi pembentukan Danau Bandung Purba yang terbentuk pascaletusan dan pembentukan Kaldera Sunda, 105.000. tahun yang lalu.

Di Bukit Gantole Cililin atau lokasi penutup dalam perjalanan Geobaik#1 Jompong, narasumber Deni Sugandi, memberikan gambaran luas tentang posisi Danau Bandung Purba. Dari tinggian perbukitan ini, arah pandangan terbuka luas, bisa memandang arah timur, batas perbukitan intrusi dan segmen danau Saguling di sebelah barat. di sebelah utaranya dalah Gunung Burangrang, Gunung Tangkubanparahu yang dibatasi oleh patahan Lembang. Kemudian di sebelah timur-utara berjejer kelompok Gunung Palasari, Gunung Bukittunggul dan Gunung Manglayang.

Dititik inilah kegiatan Geobaik Curug Jompong selesai, ditutup dengan acara makan siang alakadarnya dan sekaligus kesan dan pesan yang disampaikan oleh para peserta. Aktivitas geowisata ini adalah salah satu cara untuk memahami proses  dinamika bumi yang berlangsung, hingga sejarah pembentukan yang terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama. Sehinggi geotapak yang dikunjungi perlu dikonservasi, seperti perbukitan intrusi sekitar Lagadar. Keberadaanya kini berlomba dengan kegiatan penambangan, sehingga seiring waktu akan hilang dimuka bumi.

Di kaki bukit Lagadar, Margaasih
Diterowongan kembar Nanjung, Margaasih
Opah Felix menyampaikan materi pemanduan di Curug Jompong
Alm. Opah Felix di dasar Ci Tarum, Curug Jompong
Penjelasan Cekunga Bandung di bukit Gantole Cililin

Catatan Geourban#10 Palintang

Matahari beranjak dari batas horison, diiringi cuca cerah. Langit biru dihiasi awan berarak, tertiup angin ke arah barat. Kondisi cuaca baik tersebut mengantarkan kegiatan Geourban ke-10 di daerah tinggi Pasir Kunci. Dari titik tinggi ini bisa melihat bentang alam Bandung Raya, dicirikan dengan bentuknya seperti baskom terbalik. Disebelah barat terlihat jajaran perbukitan intrusi G. Lagadar-Sela Cau. Perbukitan intrusi batuan beku di Cimahi Utara. dengan umurnya pembentukannya lebih dari 4 juta tahun. Kemudian bila melemparkan mata ke arah selatan, terlihat punggungan G. Koromong-Geulis yang menghubungkan antara Baleendah disebelah timur, dan Ciparay disebelah barat. Dibagian belakang punggungan perbukitan itrusi tersebut, terlihat megah G. Malabar. Kemudian sedikit ke arah timur, terlihak kerucut-kerucut kelompok gunungapi Garut.

Sebelum Bandung lahir, disebelah timur wilayahnya disebutkan dalam peta lama sebagai Oedjoengbroeng. Dibagi dua wilayah utara dan selatan pada saat di bawah pengaruh Mataram, kemudian batas administrasinya ditata ulang menjadi wilayah timur dan barat seiring pembukaan jalan Raya Pos (1810). Sebagian besar wilayahnya saat itu meliputi kota Bandung dan Ujunberung saat ini.  Pembukaan sarana jalan utama yang mengbungkan timur-barat Jawa, mendorong industri  dan budidaya kopi. Pembangunan jalan Raya Pos melalui priangan tengan karena alasan ekonomi, yaitu mengangkut produk pertanian kopi di wilayah Priangan (Hartatik, 2018).

Kegiatan Geourban ke-10 ini adalah melanjutkan tema di Geouban sebelumnya. Di Geourban ke-9 menelusuri kembali jejak Muras Gegerhanjuang, hingga ke dataran rendah Ciparay sampai batas Ci Tarum. Jauh sebelum kota Bandung bergeser dari tepi Ci Tarum (Krapyak) ke sebelah utara, telah hadir peradaban disebelah timur disebut Ujungberung (Widjaya, 2009). Penguasa wilayahnya diatur dalam sistem pemerintahan daerah setingkat bupati. Dipati Ukur menjabat adipati di Tatar Ukur dan menjabat sebagai bupati wedana di Priangan (1627-1733), mengalami nasib yang malang. Ia harus menanggung pencopotan sebagai bupati wedana dan hidup berpindah-pindah, setelah adanya perselisihan dengan Mataram (Lismiyati, 2016). Jejak pelariannya selain di Culanagara, Gunung Leutik ke sekitar Ciparay, bergeser ke arah utara. Diperkirakan berada di sekitar  perbukitan yang diapit oleh Ci Panjalu dan Ci Patapaan, sekitar wilayah kampung Palintang saat ini.

Kegiatan diikuti oleh belasan partisipan, dengan latar belakang beragam. Pegiat wisata, pemerhati lingkungan, pelajar, akademisi hingga pemandu wisata. Titik pertemuan dimulai di sekitar dataran tinggi Ujungberung, di Kampung Wisata Pasir Kunci di Pasirjati, Kecamatan Ujungberung. Fasilitas destinasi wisata yang dikelola oleh pemerintah kota Bandung, melalui Dinas Parwisata Kota. Destinasi berupa amfiteater yang diperuntukan untuk kegiatan wisata budaya, diantaranay seni tradisi Benjang dan sebagainya. Dari titik ini, kegiatan dibuka dengan penyampaian tetang rencana perjalanan. Dikegiatan Geourban ke-9 ini menapaki kembali sejarah peradaban Sunda Klasik, diantarnya penemuan arca dari budaya pendukung polinesia, higga Sunda Klasik. Diantaranya penemuan arca bentuk membundar khas budaya polinesia, hingga praIslam berupa arca Hindu-Budha.

Disekitar dataran tinggi Ujungberung, dilereng sebelah barat G. Manglayang, diusahakan menjadi wilayah budidaya kopi. Dikerjakan oleh Andreas de Wilde, seiring dengan pembukaan pembukaan jalan Raya Pos 1810. Jalan raya yang dibangun oleh penguasaan koloni Inggris di Hindia Belanda, degan tujuan membukan jalur ekonmi di priangan tengah. Titik kunjungan terakhir adalah mengunjungi situs budaya sekitar Palintang atas, berupa patilasan.

Di wisata Pasir Kunci, Deni Sugandi memberikan pengantar mengenai Cekungan Bandung. Dari titik terlihat Bandung bagian timur, didominasi oleh dataran rendah aluvial. Ditempati oleh pesawahan yang melampar dari barat ke timur. Dari sebelah utara dibatasi oleh kaki gunung Manglayang, kemudian di sebelah selatannya dibatasi oleh Ci Tarum. Wilayah tersebut merupakan sisa pengeringan pascaDanau Bandung Purba. Danau yang terbentuk setidaknya sekitar umur Kuarter, kemudian mulai mengering antaran 20.000 hingga 16.000 tahun yang lalu (Dam, 2004). Dalam proses pengeringan tersebut, meyisakan rawa yang luas, disekitar wilayah Ujungberung saat ini. Batas bagian timurnya adalah sekitar Cibiru, sebelah baratnya sekitar Cijambe. Rawa tersebut disebut Muras Gegerhanjuang. Gan-Gan Jatnika turut memberikan penafsirannya, mengenai budaya yang lahir didataran Bandung bagian timur. Gan-Gan menjelaskan tentang  sejarah pelarian Dipati Ukur, mulai dari perbukitan di Balendah, hingga berlanjut ke sekitar dataran tinggi Palintang. Diantaranya adalah lokasi yang akan dikunjungi, yaitu situs budaya Patapaan.

Dari titik Pasir Kunci, bila melemparkan arah ke sebelah utara, terlihat dua kercut G. Palasari dan G. Manglayang. Dua gunungapi yang pernah aktif kemudian padam. Dicirikan dengan endapan material berupa piroklastik, tuff dan lava di sekitar lereng gunung tersebut. Dititik kunjungan kedua adalah melihat kembali sejarah pembentukan dan letusan G. Manglayang. Dari tepi jalan penghubung Ujungberung ke Palintang, merupakan titik terbaik untuk melihat bentang alam dua gunung tersebut. Dari titik ini Deni menjelaskan bagaimanan G. Manglayang terbentuk. Gunungapi umur Kuarter ini setidaknya terbentuk melalui dua fase kejadian, sebut saja pembentukan Manglayang Tua, dan Manglayang Muda. Dua fase tersebut bisa dilihat dari bentuknya, berupa satuan punggungan kaldera G. Manglayang, dan satuan kerucut G. Manglayang.

Gunungapi tersebut saat ini telah dorman, atau sudah tidak lagi menunjukan aktivitasnya. Bila ditarik garis memanjang antara barat ke timur, menunjukan angka 2,3 km. Angka tesebut menandakan bahwa G. Manglayang merupakan masuk kedalam klasifikasi kelas kaldere, yaitu gunungapi yang memiliki radius kawah lebih dari 2 km. punggungna perbukitan kalderanya terlihat di sebelah utara, membentuk tapal kudar ke arah tenggara. Sedangkan di tengah-tengahnya tumbuh kerucut gunungapi generasi ke-dua, berupa kerucut yang disusun oleh perselingnan lava dan piroklastik. Bisa dipastikan bahwa G. Manglayang tersebut merupakan gunungapi tipe stratovolkano, dengan dua kali sejarah pembentukan. Bukti hasil letusannya bisa disaksikan hingga kini, terutama di bagian lereng sebelah timur.

Didukung oleh kondisi iklim, dataran tinggi dan tanahnya yang subuh hasil pelapukan material letusan G. Manglayang. Gunungapi hadir sejak Plistosen, kemudian menghancurkan dirinya melalui dua suksesi letusan Manglayang Tua dan Manglayang Muda (Silitonga, 1973). Jejaknya berupa punggungan kaldera, dan kerucut Manglayang. Material letusannya berupa perselingan piroklastik dan lava yang diendapkan disekitar pusat letusan. Lavanya mengalir mengisi lembah-lembah yang dierosi sungai diataranya Ci Panjalu.

Didapati aliran lava yang mengisi lembah sekitar Ciporeat. Berupa aliran lava yang telah membeku, kemudian membentuk struktur kekar lembar. Strukur tersebut dikenali dengan bentuknya yang berlembar, menandakan adanya tekanan dari atas pada saat pembekuan magma. Disebut dengan proses kontraksi, membeku dengan cara cepat. Di sekitar Curug Orok yang mengalir di (sungai) Ci Panjalu, sekitar Ciporeat masih bisa disaksikan aliran lava tersebut. Ketebalannya sekitar 10 meter, berupa dinding lava yang terkekarkan. Aliran lava yang mengisi Ci Panjalu tersebut kemungkinan merupakan produk letusan efusif G. Manglayang. Namun tidak diketahui apakaha hasil letusan G. Manglayang Tua atau Muda, sehingga perlu penelitian lebih lanjut untuk mengupas kegiatan volkanime gunungapi yang menaungi Ujungberung.

Di lokasi Curug Orok ini, mengalirlah sumber-sumber mata air dari rekahan-rekahan lava. Debitnya tidak berkurang, bersih dan tidak berbau, menandakan mata air ini bersih. Tipe sumber mata air adalah sumber mata air kontak (contact spring), airtanah dangkal yang mengalir melalui dua litologi yang berbeda. Bagian atasnya berupa endapan piroklastik sebagai bidang akifer, dan bagian bawahnya adalah lava. Dengan demikian air tersebut muncul melalui rekahan-rekahan lava, karena batuan tersebut pejal tidak memiliki porositas. Bagi masyarakat, sumber mata air tersebut dimanfaatkan sebagai air minum, dengan cara ditampung menggunakan bak-bak penampung secara komunal. Kemudian dialirkan melalui pipa-pipa mengikuti kontur, dialirkan hingga jauh ke arah lereng. Disekitar Cigending air tersebut kemudian ditampung dan diangkut oleh truk tangki, kemudian didistribusikan dan dijual menjadi air bersih.

Menurut warga disekitar sumber mata air tersebut, sebagin besar tanahnya telah dikuasai oleh pengusaha air bersih. Terutama di daerah mata air produktif, seperti mata air dicurug orok. Penguasaan lahan tersebut sebagai upaya menjaga pasokan air, untuk kebutuhan bisnis air bersih tersedia.

Beranjak ke arah utara menapaki tanjakan Palintang. Rombongan kemudian berhendi diisekitar persimpangan antara jalan Palintang dan jalan kontrol perkebunan ke arah Palalangon. Dititik tinggi sekitar 1100 m dpl. merupakan titik elevasi ideal untuk penanaman kopi. Seperti yang dituliskan pada peta lama, sedikit ke arah barat dikenali beberapa nama yang berasosiasi dengan kegiatan industri dan budidaya kopi. Pohonnya kini sudah tidak ada, karena diganti dengan komoditas lainya. Diperkirakan disekitar Legok Nyenang merupakan komplek perkebunan kopi lama. Diantaranya nama-nama yang menyebutkan kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan industri kopi, seperti nama Pasirpamoyan. Menandakan tempat untuk menjemur kopi. Berikutnya penamaan Panggeteran, Pangmayaran.

Perkebunan kopi di Ujungberung utara, merupakan bagian dari industri ditingkat Keresidenan Priangan yang dikelola swasta Meskipun banyak disebutkan bahwa pengusaha-pengusaha swasta mulai menanam tanaman eksport pada tahun 1870-an sebagai konsekuensi dari penerapan Politik Ekonomi Liberal, namun di Keresidenan Priangan partisipasi perusahaan swasta sudah dimulai sejak awal abad ke-19. Sejak dekade pertama abad ke -19 kopi ditanam di tanah-tanah pribadi, yaitu di Ujungberung (Kabupaten Bandung), Gunung Parang, dan Ciputri (Kabupaten Cianjur). (Muhsin, 2017). Dikerjakan oleh Andries de Wilde dengan luas wilayahnya meliputi sebagian besar Bandung raya. Jejak kopi di Ujungberung utara masih bisa ditelusuri diantaranya melalui toponimi di peta Java. Res. Preanger Regentscahppen (1906). Dipeta tersebut  menuliskan nama-nama yang berasosiasi dengan industri dan perkebunan kopi saat itu.

Lokasi kunjungan ke-tiga adalah ke salah satu situs budya disekitar Palintang atas. Situs budaya tersebut merupakan patilasan, berupa tiga makam yang dinaungi oleh pohon kayu Rasamala. Situs Patapaan tersebut terletak persis disebelah barat SD Palintang Jaya, berupa puncak perbukitan yang diapit oleh Ci Patapaan dan Ci Panjalu. Menuju lokasi tersebut bisa melalui Kampung Palintang, maupun melalui jalur setapak di sebelah lapang volley.

Situs ini dipercaya sebagai tempat yang pernah disinggahi pada masa pelarian Dipati Ukur. Menurut warga setempat, situ Patapaan atau Demah Luhur ini menjadi tempat strategis di jalur lama. Jalur tersebut merupakan sarana jalan setapak pada masa itu, menghubungkan Oedjoengbroeng selatan ke utara, melewati celah yang diapit oleh G. Palasari disebelah barat, dan G. Manglayang di sebelah timur.

Perjalanan Geourban ditutup diwarung sekitar PTPN XIII. Warung sederhana yang menyajikan kue balok di Cipanjalu. Kegiatan ini diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), bersifat probono. Bertujuan menggali wisata alternatif kebumian, sarana belajar bersama dan koneksi jejaring lokal upaya menggali potensi geowisata kota Bandung.

Interpretasi di Pasir Kunci
Interpretasi cekungan Bandung dari Pasirkunci Ujungberung
Dengan latar G. Manglayang
Sunggoro menjelaskan budidaya kopi disekitar Palintang atas
Peserta di Curug Orok. CI Panjalu
Penjelasan di Curug Orok di Ci Panjalu, aliran lava G. Manglayang
Penjelasan sejarah Dipati Ukur dalam berbagai versi, disampaikan oleh Gan Gan
Dipatilasan Demah Luhur, Palintang

Catatan Geourban#1 Gunung Padang Ciwidey

Kegiatan geowisata Bandung bagian selatan, masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung ini diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Dewan Pengurus Wilayah Bandung Raya. Kegiatan ini terbuka untuk umum yang menaruh minat khusus dengan ilmu kebumian populer, sejarah budaya. Dilaksanakan secara berkala, dalam rangkain aktiviasi jejaring, menggali potensi geowisata Cekungan Bandung dan sarana belajar kepemanduan di PGWI.

Pelaksanaan geowisata ke Gunung Padang Ciwidey, dibuka terlebi dahulu dengan kegiatan daring (19/7, 2021) melalui pertemuan virtual. Kegiatan ini sebagai sarana penjelasan umum, hingga rencana teknis pemberangkatan. Materi yang disampaikan oleh Deni Sugandi, selaku pemandu geowisata, bersama narasumber lainya. Berkaitan sejarah disampaikan oleh Gangan Jatnika, dan Sodikin Kurdi. Pertemuan awal ini berguna untuk persiapan kegiatan lapangan, termasuk apa saja dan bagaimana kegitan geowisata ke Bandung selatan ini dilaksanakan.

Mengambil titik pertemuan di sekitar Soreang (21/7, 201). Dihadiri oleh  21 orang peserta dengan latar belakang yang beragam. Komunitas pegiat wisata, guru geografi, komunitas budaya Sunda, pemandu geowisata hingga komunitas jalan-jalan di Bandung. Kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB, menggunakan modra transpotasi roda dua, menuju statsiun Ciwidey. Bangunan cagar budaya ini merupakan bukti kejayaan jalur keretaapi Soreng-Ciwidey yang dibangun pemerintah kolonial, dalam upayanya mempersingkat jarak distribusi hasil perkebunan dari Ciwidey ke kota Bandung. Dibuka 1924 melalui beberapa statsiun, mengikuti kontur Ci Widey yang berkelok-kelok. Dalam pembangunan jalur kereta api pada masa itu, menuntut kemampuan teknis, diantaranya adalah teknik yang berkaitan dengan pembuatan struktru jembatan besi. Kemampuan rekayasa teknis ilmu sipil kolonial, hingga kini masih bisa disaksikan di lokasi kunjungan ke-dua.

Jembatan Rancagoong yang membentang barat-timur, melewati Ci Widey dengan panjang kurang lebih 100 meter. Dibangun di atas struktur beton dengan menggunakan rangka besi melengkung. Dibangun sebagai sarana penghubung perkebunan dengan jalur distribusi perdagangan di Bandung selatan. Namun pelayanan jasa transportasi kereta api harus tutup awal tahun 80-an, karena kalah bersaing dengan kendaraan roda empat yang semakin menggeliat. Karena tidak bisa lagi menutup biaya operasional, jalur kereta api Soreang-Ciwidwey akhirnya ditutup.

Kunjungan berikutnya adalah ke Gunung Padang, di Rawabogo, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung Barat. Wilayah tinggian perbukitan yang dikelilingi oleh pohon tegak pinus, kemudiand dimanfaatkan oleh masyarakat, melalui pengelolaan tani mandiri perkebunan kopi. Wilayahnya berbatasan antara Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung. Sejak penciptaan daratan Jawa bagian barat 30 juta tyl, (Gunung) Nagara Padang Rawabogo di Ciwidey hadir belakangan. Berupa intrusi batuan beku, sekitar Plistosen Akhir atau sekitar 1.8 juta tyl. Saat ini bongkah-bongkah batuan lava bertebaran dan lapuk berwujud ragam bentuk, menata wajah perbukitan ini menjadi wilayah sakral, tempat bersemayamnya sejarah Sunda.

Deni Sugandi dan Zarindra memberikan penjelasan dari sisi fisik, bahwa perbukitan Gunung Padang merupakan sebuah tubuh batuan beku yang mengalami pelapukan. Dicirikan dengan bongkah-bongkah batuan yang menempati wilayah sebelah timur, dengan bentuknya yang menjulang tinggi. Kemudian di bagian tengah punggungan perbukitan ini, didapati bongkah-bongkah batu yang menyerupai kepala binatang melata hingga bentuk mamalia besar seperti gajah. Acara ditutup dengan makan siang bersama, bekal yang sebelumnya telah dibawa dari rumah masing-masing. Kegiatan Geourban#1 ini adalah berupaya menyampaikan pesan, potensi wisata bumi dan sejarah berdampingan. Langkah selanjutnya mengaktivasi kegiatan wisata kebumian dan budaya melalui pengemasan paket wisata yang berkelanjutan, termasuk mendorong warga lokal sebagai pemilik wilayah, memiliki porsi peningkatan ekonomi melalui kegaitan pariwisata alam.

Interpretasi endapan volkanik di Ciwidey
Penjelasan struktur yang berkembang di Gunung Padang Ciwidey, disusun oleh intrusi batuan beku
Partisipan Geourban di Gunung Padang Ciwidey
Moda transport menuju lokasi
Bongkah batuan beku yang membnetuk kepala kura-kura
Di jembatan Rancagoong, di bawahnya mengalir Ci Widey

Catatan Geobaik#1 Jompong

Dimulai pagi hari pada hari Sabtu, 9 Januari 2020, dimulai pada masa PPKM diperketat lagi. Kegiatan dilaksanakan menggunakan sarana kendaraan roda dua. Kegiatan dibuka dilokasi pertemuan sekitar SPBU Pasteur kemudian bergerak ke titik pertemuan ke-dua disekitar perbukitan Lagadar, Margaasih, Kabupaten Bandung Barat.

Deni Sugandi selaku pemandu geowisata, membuka kegiatan ini dengan memberikan penjelasan rencana perjalanan Geobaik#1. Perjalan wisata bumi ini menapaki kembali sejarah Danau Bandung Purba, melalui jejak pembobolan Ci Tarum di Curug Jompong dan menemukan kembali batas Danau Purba Bandung disebelah Bandung bagian barat.

Kegiatan diikuti oleh lebih dari 12 orang, berasal dari pegiat wisata, mahasiswa, praktisi wisata hingga pemandu wisata. Geobaol adalah kegiatan wisata bumi, untuk mengupas sejarah alam, hasil pembentukan alam hingga proses yang masih berlansung hingga kini. Dikemas dalam seri petulangan menggunanakan media roda dua bermotor (motor), diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia.

Bandung merupakan kota yang muncul diatas gelombang air (danau). Seperti logo lama kota Bandung, dituliskan Ex Undis Sol yang berarti mentari muncul di atas gelombang (air), dicanangkan pada saat pendirian Bandung menjadi gemente atau setinggkat kotamadya pada 1 April 1906. Menandakan kota yang berdaulat, mampu mengurus dirinya sendiri secara administratif dan pemnafaatan sumber daya alama.

Penyebutan badan air tersebut diusulkan oleh walikota Bandung pertama, B. Coops bersama Dewan Kota. Usulan tersebut didasari oleh beberapa pendapat ahli geologi pada saat itu, bahwa cekungan Bandung pernah digenangi air.

Genangan air tersebut adalah Danau Bandung Purba, keberadaanya kini telah hilang karena telah surut. Setidaknya dibutuhkan waktu 16 ribu tahun lebih menjadi kering, kemudian ditempati peradaban. Cekungan Bandung ditaksir terbentuk pada Kuarte Akhir (Katili, 1963), akibat pergeseran aktivitas volkanik dari selatan ke utara. Akibatnya dataran tinggi Bandung dikelilingi oleh perbukitan dan gunungapi Kuarter di utara dan selatan, dan batuan karbonat umur Tersier di sebelah barat, yaitu perbukitan karst Citatah.

Bukti penggenangan cekungan tersebut, bisa dilihat dari bukti endapan danau (lakustrin). Terdiri dari lapisan lempung lunak, dan pasir padat dengan ketebalan yang bervariasi. Batuan dasarnya adalah lapisan batuan volkani Tersier (Dam, 1990). Dalam data pengeborannya, menunjukan pembentukan danau tersebut terjadi sekitar 126.000 tahun yang lalu, berupa batuan klastika gunungapi dan sedimen danau.

Bukti sejarahnya pengeringannya kemudian menjadi tema di kegiatan pertama Geobaik, mencari titik bobolnya Danau Bandung Purba. Perjalanan pertama diarahkan ke situs tapakbumi Gunung Lagadar 897 m dpl. Terletak di lereng sebelah timur, dikawasan perumahan Pasanggrahan Lagadar, Margaasih, Kabupaten Bandung. Terlihat singkapan yang baik berupa hasil galian kegiatan penambangan batu-pasir. Disusun oleh batuan beku berkomposisi dasitik, dicirikan dengan warna putih sedikit abu-abu dan telah lapuk. Berupa bongkah, kerikil hingga tuf. Dari lokasi ini bisa melihat bukti batuan intrusi berumur 4 juta tahun yang lalu.

Lokasi kunjungan ke-dua adalah Curug Jompong. Merupakan air terjun dialiran Ci Tarum, dan terletak persis di dua kabupaten, Bandung Barat dan Kabupaten Bandung. Tepatnya berada di Pataruman, Cihampelas, Kabupaten Bandung. sedikit ke arah hilir, masuk ke wilayah Selacau, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Merupakan segmen Ci Tarum bagian barat, mengerosi perbukitan intrusi batuan beku.

Saat ini alirannya surut karena telah dialihkan ke terowongan kerbar Nanjung. Sehigga bila berkesempatan hadir pada saat kemarau, menyingkapkan celah-celah dalam hasil erosi air. Bentuknya bermacam-macam, seperti kolam-kolam yang terbentuk oleh kekuatan arus air, hingga ditemuinya beberapa pothole. Bentukan alam tersebut menandakan bahwa arus Ci Tarum disegmen Curug Jompong deras, dengan debit air tinggi.

Kegiatan ditutup di dataran tinggi Bukit Gantole Lintang Panggun, Cililin. Dari titik ini partisipan diajak berdiskusi, mengupas kembali hasil kunjungan ke Lagadar dan Curug Jompong. Kegiatan ditutup tepat pukul 16.00 WIB, setelah beberapa saat berteduh di sekretariat Bukit Gantole. Ditutup sambil menyantap hidangan di Rumah Makan Manapa, Cihampelas, Cililin.

Peserta Geobaik#1 Jompong di jembatan Nanjung
Penjelasan di depan terowongan kembar Nanjung
Batuan intrusi umur 4 juta tahun, dierosi Ci Tarum
Berbagi pengalaman bersama opah Felix di Curug Jompong
Interpretasi cekungan Bandung di Bukit Gantole Cililin