Catatan Geourban#53 Lumbung

Di akhir pekan 20 Desember 2025, jalanan menuju Soreang dari arah Bandung timur tampak lenggang. Biasnya tersedak karena jumlah kendaraan yang berlomba menuju pusat kota, kini terurai karena memasuki musim libur. Tidak lebih dari 30 menit, tiba di pusat kota Soreang. Nama yang belum dikenal masa kolonial, cukup disebut wilayah Kopo(Topographisch Bureau Batavia, 1909). Selanjutnya lahir nama soreang, untuk menyebut ibu kota Kabupaten Bandung. Makna kata dari nyoreang, artinya melihat kembali ke masa lalu. Makna lainya adalah tempat untuk memandang atau titik pandang.

Makna titik pandang menjadi tepat, secara geografis ke arah selatan Soreang merupakan dataran tinggi antara 700 hingga 1000 meter di atas muka laut. Dilingkung kerucut-kerucut perbukitan dan gunungapi yang pernah aktif di masa lalu, dan perbukitan soliter. Diantaranya G. Sadu 897 meter dpl., Pasir Sempur berdampingan dengan Pasir Malaka di sebelah selatan. Kemudian G. Haur 936 meter dpl., G. Aseupan 873 meter dpl., di bagian barat. Kemudian ke utara berdiri Pasir Salam 855 meter dpl., dan pasangan G. Hawu bersanding bersama G. Singa 1087 meter dpl.

Keberadaan Soreang pada masa kolonial menjadi penting, karena sebagai kota penghubung antara industri perkebunan di sebelah selatan ke kota Bandung. Dengan demikian untuk mempermudah pengangkutan hasil panen, pemerintahan kolonial membuat jalur kereta api.

Pembangunan jalur kereta api dianggap efektif, karena jenis transportasi ini terpadu, muran dan cepat. Menggantikan pengangguran menggunakan pedati yang terlalu lambat dan mahal. Angkutan masal ini dirintis semenjak masuknya kereta api ke kota Bandung. Pada tanggal 30 Oktober 1916, telah diselesaikan rancangan awal jalur trem Bandung ke Kopo (kini Soreang).

Pembangunan jalur dimulai dengan menghubungkan antara Bandung ke Soreang melalui Dayeuhkolot pada 1921. Kemudian dilanjutkan jalur Soreang ke Ciwidey tiga tahun kemudian. Jalur ini resmi beroperasi 1925 dan berakhir beroperasi 1982.

Ex Stasiun Soreang
Dua orang ibu tua membuka percakapan. “Mangga, kadieu, tingali ieu bak cair”, ujarnya. Kemarilah, saya perlihatkan bak penampungan air (kereta api uap). Ibu paruh baya begitu gesit membukakan pagar bambu. Menyibakan jemuran kasur yang disimpan di depan pintu masuk pintu air. Bangunan yang tidak lebih dari setengah ukuran peti kemas, disusun oleh tembok tebal. Mencirikan struktur bangunnan yang diibuat masa kolonial, menggunakan susunan batu bata. Ketebalan dinding 20 centimeter, dari bata merah dengan ukuran yang lebih besar dari standar saat ini. Di bagian atas bangunan, didapati bak air yang terbuat dari plat besi tebal. Saat ini keadaannya sudah tidak layak lagi sebagai penampung air, karena di beberapa bagian telah korosi dan bolong.

Keberadaan tandon air dan tangki air (water crane), merupakan fasilitas penting di stasiun abad ke-19. Mengingat kereta api yang beroperasi, masih menggunakan kereta api uap klasik class produksi tahun 1904 hingga 1910. Dengan demikian memberlukan volume air yang banyak, untuk konversi menjadi tenaga mekanis dari hasil tekanan uap.

Jalan masuknya melalui satu-satunya pintu yang menghadap ke arah barat. Terbuat dari kayu tebal, dengan tinggi orang dewasa. Di dalamnya berupa ruang yang kini ditempati oleh macam-macam barang penghuni rumah, seperti layaknya gudang. Fungsi dari ruang ini adalah sebagai ruang pengendali aliran air, jalur distribusi ke water crane atau tiang tangki pengisi air. bentuknya seperti keran pipa dalam ukuran besar, dipompa dari water tank atau bak air melalui jaringan pipa bawah tanah.

Dari bak air ini, dialirkan melalui jalur pipa bawah tanah ke arah utara mendekati jalur rel kereta api. Terdapat dua sistem tangki air (water crane) di stasiun kereta api Soreang. Di sebelah timur, dengan ukuran yang lebih kecil bila dibandingkan dengan sisi sebelah barat. Keberadaanya di sebelah selatan dari posisi lintasan rel kereta api, dengan tinggi tiang tidak lebih dari 4 meter. Untuk mengalirkan air ke bak penampungan/ketel di lokomotif, kemudian dipanaskan oleh sumber panas dari tungku pembakaran. Pada saat itu biasanya menggunakan kayu bakar, dalam jumlah yang banyak. Seri kereta api

Berseberangan dengan bak tampung (tandon), ke arah utara. Berdiri bangunan yang memanjang barat-timur. Berupa struktur bangunan sisa peron kereta api. Terdiri dari beberapa bagian yang dipisahkan oleh sekat tembok. Merupakan bangunan bekas stasiun Soreang,dengan call sign SRG. Berada di elevasi 734 meter dpl., menghubungkan ke dataran tinggi stasiun Ciwidey 1106 meter dpl. Dengan demikian memiliki perbedaan ketinggian (elevation gain) 372 meter.

Untuk kondisi topografi demikian, diperkirakan menggunakan lokomotif uap jenis Mallet SS1600, yang merupakan lokomotif uap buatan Belanda, sering disebut juga lokomotif seri NIS 151-160. Beberapa sumber menyebutkan penggunaan tipe C11 atau BB10.

Gunung Hawu
Masyarakat menyebutnya Pasir Hawu, atau Gunung Hawu. Bentuknya kerucut, kemudian bagian puncaknya berupa dataran, sehingga menyerupai bentuk perbukitan yang tumpul. Hawu adalah tungku, digunakan untuk alat memasak menggunakan bahan bakar kayu. Bahannya terbuat dari tanah liat, dibentuk menyerupai bentuk kerucut. Bagian atasnya dilubangi, untuk menempatkan alat memasak. Alat masak tradisional ini memiliki bentuk topografi yang disandingkan dengan penamaan tempat.

Di bagian lerengnnya terdapat klaster pemukiman warga, hanya beberapa rumah. Menempati lereng terjal yang dihubungkan melaui jalan kelas desa. Rumah-rumah warga tersebut ditempati oleh beberapa keluarga, turun temurun bekerja sebagai peladang atau petani.

Di bagian baratnya telah berubah menjadi ladang pertanian, sedangkan bagian puncaknya berdiri rumah tinggal. Dari keterangan warga, sebagian besar bagian barat hingga puncak telah dimiliki perseorangan. Lahannya bagian puncak telah berdiri rumah tinggal atau villa. Sebagain wilayah sebelah barat terbuka, dimanfaatkan ladang. Melihat kondisi topografi demikian, perlu perhatian pemanfaat lahan yang berbasis bahaya longsor. Dalam mekanisme gerakan tanah, manusia turut memainkan percepatan bahaya longsor mengingat perkebunan tersebut berada di lereng curam. Gangguan pada kondisi lereng, baik pemanfaatan perkebunan atau hunian berkontribusi pada bahaya longsor.

Pemanfaatan perkebunan di lereng adalah faktor pengontrol, selain itu kemiringan lereng, batuan penyusun yang mudah lepas. Selanjutnya biasanya dipicu oleh curah hujan tinggi. Sebagian air hujan meresap, kemudian membentuk bidang gelincir. Keberadaan lereng terjal tersebut, sebaiknya ditanami pohon, agar mengurangi risiko gerakan tanah.

Gunung Hawu bersanding dengan beberapa kerucut perbuitan lainya. Berdiri dihadapannya ke arah utara, didapati kerucut yang lebih tinggi. Disebut Gunung Singa 1087 meter dpl., kemudian di sebelah timurnnya ditempati Pasir Laja, dan Pasir Salam. Ke arah selatan dibatasi Pasir Saar dan Pasir Caringin. Jauh ke arah barat, berjajar puncak G. Geulis,Pasir Kupa dan Pasir Angin.

Kerucut-kerucut tersebut merupakan bagian dari sistem gunugapi Soreang. Batuannya diuraikan pada keterangan peta Geologi Lembar Garut (Alzwar drr., 1992), dan Peta Geologi Lembar Bandung (Silitonga, 1972). Di Daerah Soreang, kemudian ke arah timur diantara Baleendah hingga Ciparay, batuannya disusun hasil endapan gunungapi. Terdiri dari breksi tufan, dan lava. Warnanya gelap, ditafsir berkomposisi andesit-basal.

Dari pengukuran batuannya, (Koesoemadinata dan Sunardi, 1999), umur batuan gunungapi daerah Cipicung sekitar 3,30 juta tahun, di Kromong Timur 3,24 juta tahun dan di Kromong Barat 2,87 juta tahun. Dengan demikian, menegaskan pendapat Sudjatmiko (1972), dan keterangan dari Silitonga (1973), daerah Soreang dan Banjaran merupakan gunungapi berumur Pliosen (Bronto, 2006).

Dari penelitian Sutikno Bronto (2006), di jurnal geologi Stratigrafi Gunungapi Daerah Bandung Selatan, Jawa Barat. Pengelompokan morfologi kerucut sekitar Soreang, ke dalam satuan Batuan Gunung Api Soreang. Membentuk konsentris (lingkaran), sehingga puncaknya disebut G. Buleud. Penggunaan bantuan pengukuran peta google map. panjang utara ke selatan sekitar 4,2 km. Sedangkan dari barat ke timur mendekati angka 4,3 km. Di bagian tengahnya terdapat cekungan yang ditafsir sebagai fasies sentral gunungapi purba Soreang.

Selanjutnya Bronto menduga, fasies medial memiliki lereng curam ke arah fasies sentral. Di bagian timur laut, terdapat tinggian yang mempunyai bentuk tapal kuda. Bukaan ke arah timur menghadap ke Dataran Bandung. Bronto menafsirkannya sebagai kerucut gunugapi kedua di dalam kawasan sistem Gunungapi Soreang.

Puncakmulya
Titik terbaik untuk menyaksikan kelompok kerucut perbukitan Gunungapi Soreang, bisa disaksikan di dataran tinggi Puncakmulya, Kutawaringin. Berada di ketinggian 1015 meter dpl., berupa pegunungan yang menghubungkan antar gunung disebut sadel (col/saddle). Penyebutan Puncakmulya muncul di peta modern, sedangkan pada peta lama Topographisch Bureau (Batavia) Lembar Kopo (1909) disebut Puncakgadog. Nama Gadog merujuk kepada nama pohon Gintung (Bischofia javanica).

Puncakmulya merupakan tertinggi, dilalui jalan penghubung antara Soreang ke Cililin. Jalan kelas desa, antara Cikupa di sebelah timur. Kemudian mengarah ke arah barat laut, membelah perbukitan sekitar Desa Sukamulya. Jalur perlintasan antar desa ini, dinaungi beberapa kerucut perbukitan bagian dari sistem Gunungapi Soreang. Di titik tinggi Puncakmulya, merupakan titik terbaik untuk mengamati bentang alam perbukitan. Di balik puncak perbukitan, terlihat dataran rendah Soreang. Dicirikan dengan struktur bangunan Masjid Agung Soreang dan Gedung Sabilulungan yang menjadi khas ibu kota Soreang. Puncak ini dikelilingi oleh kerucut-kerucut perbukitan, ditafsir sebagai batas kaldera Gunungapi Soreang bagian barat. Diantaranya G. Dukuh 1035 meter dpl, di sebelah timur laut. Bersanding dengan G. Kutamajangkar 1178 meter dpl., saat ini disebut G. Kutawaringin. Kemudian ke arah utara, dibatasi G. Cintalangu 1202 meter dpl., di baliknya didapati puncak memanjang baratlatu-tenggara disebut G. Gedogan.

Ke arah selatan, berjajar puncak-puncak yang memanjang timur-barat. Diantaranya G. Remeng yang dinaungi G. Aul 1201 meter dpl. kemudian ke arah barat berdampingan dengan G. Kerud, dan lebih ke arah barat daya ditempati G. Kaseproke 1187 meter dpl.

Sebagaian besar lereng perbukitannya telah bersalin rupa, dari kawasan hutan menjadi ladang. Kondisi demikian karena lahannya disusun oleh batuan lapuk yang memberikan unsur hara yang baik. Namun kondisi demikian, memiliki potensi gerakan tanah. Akibat batuannya belum terkonsolidasi dengan baik, atau batuan lepas. Batuan penyusunnya berupa lava andesit, breksi piroklastik, dan tuff. Dibeberapa tempat menyingkapkan batuan dasarnya, berupa breksi gunungapi.

Membentuk tiang akibat erosi tingkat lanjut, seperti yang terlihat di jajaran puncak antara G.. Kaseproke dan Pasir Pogor. Struktur batuan demikian, mirip dengan Gunung Buleud, Desa Cibodas. Tingginya 1178 meter dpl., bila dilihat dari kampung Bahuban, bentuknya mirip Candi. lokal menyebutnya Batunini, karena bentuknya seperti seorang nenek yang memikul barang.

Gunung Lumbung
Dari Puncak Mulya, kemudian bergerak ke arah barat melalui Cikoneng. Jalannya berupa aspal yang terkelupas, erosi air hujan. Menyisakan jalanan yang terkelupas, memperlihatkan makadam (jalan batu). Jalanan melandai ke arah barat, melewati G. Gedogan hingga Babakan, dilanjutkan ke Cikoneng. Dari Desa ini, kemudian memotong ke arah utara melalui jalan setapak hingga Cigadung..

Jalannya pas satu kendaraan roda dua, menanjak terjal hingga tiba di Cinagrog. Sesuai dengan namanya, titik ini merupakan sadel G. Lumbung. Dari peta lama Batavia : Topographisch Bureau (1906), menunjukan garis putus-putus. Garis tersebut memberikan petunjuk bahwa jalan menuju puncak G. Lumbung, dilalui dari sisi sebelah timur.

Pendakian jalur saat ini, lebih populer melalui jalur dari arah utara. Dimulai dari jalan setapak di seberang SDN Lembang. Jalurnya lebih panjang, dibandingkan bila dilalui dari arah timur. Jalurnya lebih landai, memutar ke arah barat mengikuti kontur perbukitan. ‘Jalan yang tersedia berupa jalan setapak, menanjak dan bertangga. Tetapi bila melalui Cinagrog, bisa dilalui oleh kendaraan roda dua, karena sebagian besar jalan sudah dibuka oleh warga. Tujuan pelebaran jalan setapak tersebut, untuk mengangkut hasil panen.

G. Lumbung 1062 meter dpl., merupakan perbukitan yang menaungi Dusun Lembang, Mukapayung. Merupakan perbukitan yang memanjang barat-timur. Ke arah baratnya dibatasi oleh G. Putri 880 meter dpl. Di Hadapannya adalah perbukitan G. Solokanpandan 1042 meter dpl. Di antara Lumbung-Putri dan Solokanpandan, membentuk lembah dalam yang ditoreh oleh Ci Lembang. Mengalir ke arah barat, bergabung dengan Ci Bitung, hingga bermuara di Saguling, Cililin.

Dari Cinagrog, terlihat dataran rendah yang membentuk cekungan. Disebut Dusun Lembang, Mukapayung. Daerahnya subur, ditandai dengan hadirnya petak-petak sawah yang menghiasi sebagian besar cekungan. Air mengalir melalui beberapa anak sungai, diantaranya Ci Lembang. Hulunya di lereng selatan G. Gedogan 1296 meter dpl., salah satu puncak tertinggi di wilayah Mukapayung.

Catatan awal yang menjelaskan keberadaan tingalan budaya di puncak G. Lumbung adalah laporan dua peneliti Eropa. P. Van Oort dan S. Muller, menulis hasil survey arkeologi dalam laporan Aanteekeningen Gehouden Op Eene Reize Over Een Gedeelte. Berupa perjalanan survey ke wilayah Jawa dan sebagian Sumatera, dilakukan dari tahun 1833 hingga 1835.

Survey arkeologi ke G. Lumbung dilakukan selama tiga hari, dari tanggal 15 hingga 17 Januari 1833. Berangkat dari Cilokotot, kemudian menyeberangi Citarum di Cipameuntasan, kemudian ke utara melaui Gajah Langu. Saat ini ditafsirkan sebagai perbukitan G. Salam di Leuwigajah, Cimahi Selatan. Dalam keterangan selanjutnya, Muller menggambarkan dari Ci Tarum ke arah selatan jarang dihuni. Ke arah selatannya adalah padang rumput yang luas, ditempati ilalang dan gelagah, rusa liar dan harimau. Sesekali melihat kawanan angsa dan banteng liar yang sangat ditakuti warga. Areal ini seringkali digunakan sebagai lahan perburuan binatang liar oleh Bupati Bandung saat itu.

Kondisi demikian menandakan wilayah Bandung bagian selatan, masih relatif belum terjamah. Sehingga batas wilayah pemerintahan pada saat itu bukan pada batas wilayah lahan, tetapi berdasarkan sebaran penduduk.

Pada tanggal 17 Januari 1833, P. van Oort dan S. Muller melakukan perjalanan lanjutan. Dimulai dari Cililin, kemudian menyeberangi Ci Minyak. Perjalanan ini sepertinya telah diatur dan diatur oleh seorang Wedana Rongga saat itu. Digambarkan bahwa sungai tersebut dalam dan deras airnya, namun bila disandingkan dengan kondisi sekarang berbeda. Sebagian besar sungainya sudah tenggelam oleh genangan Waduk Saguling. Dari Tegallaja keduanya melanjutkan dengan cara berjalan kaki, menyusuri Ci Bitung ke arah hulu.

Selepas lembah Mukapayung, kemudian menembus perbukitan hingga tiba di lembah disebut Lembang. Berupa cekungan yang diapit oleh beberapa puncak perbukitan. Menjelang tengah hari, mendaki Gunung Lumbung dari sisi utara. jalannya curam dan terjal, hingga mendapati dataran di atas perbukitan tersebut. Selanjutnya dilaporkan didapati teras persegi yang ditumbuhi rumput dan semak-semak, menutupi area tanah yang luas. Muller menduga bahwa daratan di bagian puncaknya pernah ditempati sekelompok warga. Namun ia tidak menemukan sisa-sisa jejak bangunan.

Kemudian dilanjutkan ke arah timur, mendekati punca perbukitan. Selama perjalan menemui pecahan genteng, mangkuk porselen cina, dan wadah-wadah pecahan lainya. Keberadaan pecahan porselen, hingga kini masih didapati secara acak. Terutama di perkebunan warga dekat situs arca. Muncul ke permukaan karena kegiatan penggemburan tanah, atau kegiatan perkebunan lainnya. Namun ketiga dikonfirmasi kepada warga yang menempati perkebunan, kurang begitu memahami keberadaan pecahan porselen tersebut.

Dari keterangan Muller, didapati situs yang dibatasi oleh batu sungai. Dicirikan dengan bentuk batu yg membundar, menandakan batunya diambil dari sungai sekitar perbukitan. Kemudian dibawa ke puncak dan ditata sedemikian rupa. Pada laporan Muller.

“Patung itu berdiri di bawah pohon tua yang tinggi, dikelilingi oleh lingkaran batu yang ditegakkan, dan tingginya lebih dari enam meter. Bentuknya sangat tidak jelas; sepertinya menggambarkan seorang manusia dalam posisi duduk, yang memegang sesuatu di depan dadanya, yang mirip dengan seorang anak dengan kepala burung. Bagian depannya menghadap ke barat laut, dan di belakangnya terdapat batu bulat kecil yang tingginya lebih dari satu meter.

Penduduk setempat menyebutnya arca. Mereka tidak akan melakukan hal penting apa pun tanpa terlebih dahulu mempersembahkan dupa dan memohon berkah darinya.”

Saat ini keberadaan arca tersebut kurang lebih sesuai dengan penggambaran lukisan Van Oort. Berupa bentuk menyerupai tubuh manusia setengah badan, kemudian bentuk mata tunggal di tempatkan pada bagian arca. Tingginya 65 cm dan lebar 40 cm, terbuat dari batuan trachyte. Batuan beku hasil kegiatan gunungapi, berwarna terang.

Arca tersebut didampingi oleh tiang batu disebut lingga, dengan ukuran tinggi 120 cm, dan lebar sekitar 50 cm. Gambar sketsa dan keterangan, dituliskan dalam laporan terpisah. Melalui Over Eenige Oudheden Van Java En Sumatra.

“Fig. 1. Sebuah Artja dari Gunung Loemboeng. Gunung ini terletak 6 atau 7 jam perjalanan ke arah barat daya dari kota utama Bandung, di tengah-tengah gunung-gunung lain yang berukuran sedang. Puncaknya, sekitar 5000 kaki di atas permukaan laut, menampilkan sebuah dataran tinggi kecil, di mana terdapat sebuah gagah (ladang padi hutan) dengan sebuah rumah sederhana. Saat mengolah tanah, ditemukan berbagai sisa-sisa rumah tangga, seperti koin tembaga kecil (pitis atau pitjis), seukuran duit, dengan lubang persegi di tengahnya, sejumlah pecahan piring atau cangkir berwarna kebiruan, sebuah pot kecil dari bahan putih, berbutir halus, dan sangat keras (lihat gambar 3), dan akhirnya sebuah wadah dupa kecil dari tanah merah (gambar 4, a. dari samping, b. dilihat dari atas, gambar-gambar ini, sama seperti gambar 3, diperkecil satu setengah kali), semua benda ini ditunjukkan kepada kami oleh seorang wanita tua dan dijual dengan harga murah. Di titik tertinggi puncak gunung tersebut terdapat patung Artja yang digambarkan (fig. 1). Patung kuno ini — jika dalam kondisi saat ini masih dapat disebut patung — berdiri di bawah pohon Hoeni yang cukup besar (Antidesma bunius).

Ini terdiri dari dua belas batu sungai yang disusun dalam lingkaran dan ditutupi oleh beberapa baris tanaman Hanjuang berdaun merah (Dracaena terminalis). Bentuknya sangat tidak jelas dan telah banyak rusak akibat pengaruh udara dan air, karena patung tersebut terbuat dari batu konglomerat. Bagian belakangnya hampir rata, dan hanya bagian samping dan depan yang masih utuh. Di bagian depan hanya terlihat kepala burung, yang paling mirip dengan burung merak, yang dapat dikenali dengan jelas. Patung ini tidak memiliki wajah yang sebenarnya, tetapi di bagian atas kepala terlihat sosok seperti mata yang berdiri tegak, yang memiliki kemiripan dengan mata ketiga yang melambangkan matahari di dahi Siwa. Tinggi patung keseluruhan adalah 0,65 meter, lebarnya 0,40 meter, dan ketebalannya 0,25 meter. Bagian depannya menghadap ke arah barat laut.

Gambar 2. Batu panjang, ramping, dan sedikit kemerahan ini, yang diduga merupakan Lingga, terletak di sebelah timur laut di belakang arca yang telah dijelaskan di atas. Batu tersebut memiliki tinggi 1,20 meter, lebar 0,28 meter, dan tebal 0,20 meter. Di dekat benda-benda ini, terutama di depan Artja, terdapat beberapa ikat jerami padi yang setengah terbakar dan beberapa tongkat bambu, yang diduga digunakan untuk ritual mistis guna meramalkan masa depan. – Tidak jauh di selatan Gunung Loemboeng, terdapat puncak gunung lain yang memiliki nama bersejarah G. Majapahit”

Saat ini kondisi arca dalam kondisi tidak terawat. Terbuka tanpa ada atap penutup, sehingga akan mudah lapuk dan rusak oleh cuaca. Keberadaan segmen bagian atas pada arca, saat ini telah tererosi. Sedikit membundar, dan kehilangan detail seperti yang digambarkan oleh Van Oort pada 1833. Selain itu didapati kolom yang membentuk seperti obelix, dengan aksara latin berupa angka. Diduga merupakan titik triangulasi yang digunakan kolonial, untuk melakukan pemetaan.

Reservoir./tandon air untuk kereta api uap
Railbed/lintasan kereta api di sekitar utara Soreang

Catatan Geouban#50 Lamajan

Sejak dari pagi, pemilik warung mengolah makanan menjadi sajian. Warungnya selebar garasi mobil, dengan meja merapat kedinding. Masakan yang telah masak, kemudian ditata sedemikian rupa di lemari kaca yang sederhana. Konsumen tinggal menunjuk saja, jenis masakan yang akan dibeli. Tidak terlalu membutuhkan waktu lama, tiga jenis masakan telah tiba di piring siap disantap. 

Demikian sajian pagi yang bisa dinikmati, sebelum bergerak mengupas sejarah di sekitar Banjaran. Mengantarkan para pegiat penelusur sejarah bumi dan budaya, dibungkus dalam kegiatan Geourban ke-45. Dilaksanakan pada hari Selasa, 4 November 2025. Kegiatan ini adalah menggali kembali sejarah, melalui aktivasi narasi. Membuka jejaring lokal hingga membuka peluang penyusunan menjadi paket wisata bumi di Bandung selatan. 

Waktu menunjukan 7.40 WIB, cahaya matahari menimpa bangunan yang memanjang barat timur. Sekilas dari pandang mata, terlihat struktur bangunan yang memanjang barat-timur. Fasadnya merupakan ciri khas bangunan gudang, ditandai dengan bentuknya yang sederhana. Berupa struktur persegi panjang, dengan atap segitiga. Menekankan kepada fungsional, dibandingkan sisi estetikanya. Penelusuran singkat mendapati dua jajar jalur kereta api, memanjang barat-timur. Jalur sebelah selatan diperkirakan digunakan untuk proses bongkar-muat barang. Ditandai dengan sarana alat bongkar seperti crane container (struktur besi, untuk memindahkan barang dari atas lokomotif ke gudang). 

Seorang bapak menunjukan sisa rel dan bantalan, di belakang garasi kendaraan milik warga. Di Sebelah selatannya berdiri patok dari beton setinggi 60 cm, dengan tulisan PT KAI. Menandai batas luar sebelah selatan jalur lintasan kereta api. Stasiunnya saat ini dimanfaatkan sebagai Balai Pertemuan warga Desa Banjaran. Pada dinding bangunan tersebut, didapati plakat PT KAI yang memberikan keterangan luas tanah 118 meter pesegi, dan nomor portal Aset 02.03.00301. Melalui keterangan plakat yang terpasang ada dinding, menandakan bahwa sebagian besar bangunan tersebut merupakan milik negara melalui PT KAI. 

Statsiun ini merupakan bagian dari sistem jalur kereta api Bandung selatan. Menghubungkan antara Cikudapateuh di kota Bandung, ke Baleendah hingga Ciwidey, melalui Statsiun Banjaran. Dari statsiun ini kemudian dilanjutkan ke arah barat, hingga Statsiun Soreang. Melintasi Ci Widey (sungai), melalui Jembatan Sadu, Rancagoong dan beberapa jembatan pendek lainya. 

Dari beberapa keterangan, jalur ini tidak lagi melayani operasional sejak tahun 1982. Selain biaya operasional yang terus meningkat, akibat terjadi kecelakaan dan menurunnya penumpang. Pengurangan pelayanan sudah terjadi jauh sebelum tahun tersebut, mengingat jalur penghubung dari Bandung ke Ciwidey relatif telah baik. Sehingga hadir beberapa layanan transportasi menggunakan sarana kendaraan roda empat. 

Saat ini jalur kereta api tersebut tutup total, sebagian jalurnya telah diokupasi oleh warga lokal. Berganti menjadi rumah, warung hingga jalan setapak yang dimanfaatkan sebagai jalur lintas roda dua. Dari beberapa media daring, melalui kebijaksanaan gubernur Jawa Barat. Merencanakan pembukaan kembali jalur kereta api ini, walaupun di pemerintahan sebelumnya memiliki wacana yang sama. Namun pelaksanaanya belum terjadi hingga kini. 

Perjalanan dilanjutkan mengarah ke selatan melalui jalan raya Pangalengan sepanjang 10 km. Sekitar pecabangan Pangalengan dan Puncang, di sekitar Cimacan. Didapati tugu peringatan yang menjelaskan tentang sejarah pergerakan kemerdekaan RI. Ditulis Tugu Tokoh Perintis Kemerdekaan Bandung Selatan, tahun 1932 atas prakarsai oleh Bung Karno (Sukarno). Tugu Perintis ini dibangun seiring dengan penetapan Desa Cimaung sebagai desa Panca Marga pada 31 Desember 1962. Menunjukan pemerintahan daerah Desa Cimaung mendukung kepada RI. 

Dari Cimaung, kemudian bertemu dengan jembatan Cikalong. Selepas jembatan berbelok ke arah barat, berupa jalan sekitar Cangkuang Cikalong. Di sekitar Kampung Cikalong Hilir, didapati instalasi Bak II PDAM Tirtawening. Berupa kolam pengendap, kemudian didistribusikan melalui pipa Banjaran melalui jaringan pipa PDAM. 

Jalan berupa beton lebar 6 meter, membawa ke arah Cangkuang. Jalannya menurun melalui jembatan, di atas Ci Sangkuy. Alirannya membelah lembah dari selatan ke utara. Sungai ini menjadi sumber air yang digunakan untuk menggerakan tiga pembangkit listrik tenaga air; diantaranya Plengan, Lamajan dan Cikalong. Tiga fasilitas pembangkit listrik tersebut, di bawah pengelolaan PT Indonesia Power, Bandung, Jawa Barat.

PLTA Cikalong merupakan tiga rangkaian dari sistem pembangkit listrik yang mengandalkan air sadapan dari Ci Sangkuy hulu. Airnya ditampung melalui kolam penenang (Forebay) yang berada di barat daya. Disebut kolam penenang Batu Eon, dicirikan dengan bongkah batu yang berada  ditengah kolam. Masyarakat mempercayai nya, sebagai entitas yang tidak bisa dipindahkan atau dibongkar, sehingga dibiarkan begitu saja.  Dari kolam ini, kemudian dialirkan melalui pipa ganda tertutup, sejauh 1 km. mengalir dari ketinggian sekitar 1010 meter ke 700 meter. Fasilitas PLTA ini dibangun setelah kemerdekaan RI, atau sekitar tahun 1954. Besar daya yang dihasilkan secara optimal adalah 19,20 MW. 

Dari Desa Lamajan, didapati jalan kontrol yang digunakan oleh pengelola PLTA. Jalan yang mengikut lereng G. Tilu, mengikuti jalur irigasi tertutup. Instalasi ini dibangun seiring dengan kebutuhan listrik pada masa Kolonial Belanda. Dengan cara memanfaatkan aliran CI Sangkuy. Karena debit air yang tidak stabil, kemudian dibangun waduk buatan Cileunca dan Cipanunjang. Waduk tersebut mengalir air secara stabil ketiga pembangkit listrik. Sumber airnya disadap di bendungan Cikalong yang berada di arah hulu. Alirannya berupa saluran tertutup yang menembus lereng G. Tilu, Gunungapi purba yang menaungi Pangalengan. Untuk mendapatkan pasokan air yang stabil dari hulu, dialirkan melalui terowongan buatan tertutup. Sehingga alirannya tidak terpengaruh oleh sedimentasi atau tanah longsor. Di beberapa titik buatkan jembatan yang menyebrangi anak sungai. Struktur demikian disebut aqueduct, atau jembatan air (sungai).

Instalasi ini dikerjakan sejak 1922, dan beroperasi 1925. Sub Unit PLTA Plengan menghasilkan 6.87 MW, kemudian sub Unit PLTA Lamajan 18,56 MW, dan sub PLTA Cikalong menghasilkan 19,20 MW. 

Jalan makadam tersebut menghubungkan antara PLTA Cikalong ke kolam PLTA Lamajan. Dilanjutkan ke PLTA Plengan. Sebelum tiba di Plenga, jalan makadam (berbatu), didapati dinding tegak. Berupa aliran lava tebal, dengan struktur sheeting joint atau kekar lembar. Terbentuk akibat kehilangan pembebanan, membentuk lembaran. Di tepi jalan sekitar Pulosari, terdapat air terjun. Mengalir diantara celah-celah batu membentuk tirai air. Warga menyebutnya Curug Dewa, sungai terbuka dari anak sungai Ci Sangkuy hulu.

Ke arah hulunya didapati waduk buatan Cileunca. Danau buatan. Kolonial Belanda menyebutnya Waterreservoir Tji Leunca en Tjipanoenjang. Merupakan danau buatan kaskade (cascade reservoir), multi guna untuk pengairan pertanian, wisata, dan sumber energi pembangkit listrik. Waduk Cileunca dikerjakan hampir tujuh tahun (1919-1926), memanfaat anak sungai sebagai sumber mata air waduk. Pembangunan kedua adalah pembendungan Waduk Cipanunjang (1927-1930). Paras waduk 2045 m dpl, dialirkan ke tempat yang lebih rendah sekitar 658 m dpl. Perbedaan ketinggian tersebut dimanfaatkan untuk menggerakan tiga turbin pembangkit listrik air; Plengan, Lamajan dan Cikalong

Kegiatan diakhiri di Situ Cileunca. Melihat kembali teknologi yang telah berusia seratus tahun lebih, berupa bendungan. Dialirkan melalui irigasi tertutup, membobok gunung hingga pembuatan kolam/forebay di atas ketinggian. Dijatuhkan melalui pipa pesat, untuk mendapatkan tekanan air. kemudian turbin bergerak, menghasilkan listrik.

Komunitas Geourban di PLTA Cikalong
Kabel listrik tegangan tinggi PLTA Cikalong
Hutan adat konservasi Ds. Lamajang
Spillway Lamajan
Jembatan air Ci Sangkuy hulu

Catatan Geourban#51 Malabar

Sepatu karet khas buruh angkut perkebunan. Menjadi ciri yang mudah dijumpai disepanjang jalan Cibeureum hingga Situ Cisanti. Biasanya bersanding dengan motor empat langkah yang telah dimodifikasi sedemikian rupa. Agar bisa memuat hasil panen, bagian jok diganti menggunakan papan panjang sekitar 1 meter. Kemudian suspensi bagian belakang ditambah dua unit, hingga berjumlah empat. Tujuannya adalah mampu membawa beban hingga seratus kilo lebih, melalui jalanan tanah perkebunan.

Agar motor bisa melaju, membutuhkan traksi transfer tenaga mesin ke ban. Akibat jalanya tanah basah, menanjak terjal sehingga membutuhkan cara modifikasi. Dengan menggunakan bantuan bekas rantai gir, dililih ke bagian roda belakang berjajar. Tujuannya agar motor bila melaju, tanpa slip berjalan di tempat. Kegiatan tersebut merupakan bagian kecil dari rangkaian panjang industri pertanian. Kertasari merupakan sentra pertanian tanaman hortikultura, di Kabupaten Bandung. Produk unggulannya antara lain tanaman Cabai, Bawang Daun, Wortel, Kentang, dan Kubis, Petsai. Total penggunaan lahan hampir 3.743 ha (BPS Kab. Bandung, 2013). Akibatnya perebutan lahan seringkali terjadi, seperit terjai pada 25 November 2025. Terjadi aksi protes dari serikat pekerja perkebunan di depan pabrik teh Malabar, Pangalengan. Menuntut agar negara, melalui PT Perkebunan Nusantara, untuk menghentikanaksi pengalihan lahan (detik.com. 26/11/2025).

Total luasan lahan pertanian sayuran tersebut,memberikan gambaran bahwa Kertasari digerakan oleh industri pertanian. Berbeda dengan dengan kondisi seratus tahun yang lalu, merupakan lahan perkebunan kina, teh dan kopi. Dikuasai oleh penguasaan tunggal kepemilikan pribadi (swasta).

Seperti yang dilakukan oleh Willem Gerrard Jongkindt Coninck. Memulai usahanya mengembangkan budidaya kina sejak 1904. Dalam waktu 30 tahun lebih, produksi kina Kertamanah menguasai obat kina dunia pada saat itu. Produksi akhir abad ke-19 dan menjelang awal abad ke-20, merajai komoditas ekspor dunia. Pada 1940 produk kina di Hindia Belanda, hampir 90 persen kebutuhan dunia dipenuhi oleh hasil perkebunan kina di Jawa Barat (Nuralia, 2019).

Kejayaan perkebunan kina hancur, seiring dengan kelesuan ekonomi global (malaise), ditambah invansi tentara Jepang pada 1942 ke Jawa. Sebagian besar pegawai Eropa ditangkap, termasuk Jongkindt. Dialihkan ke interniran 7 di Ambarawa, meninggal pada 23 Januari 1945. Sebagai penghargaan pada jasanya, keluarganya kelak memindahkan jasadnya dari Ambarawa ke Pangalengan. Dikuburkan kembali 25 April 1949 (historia.com, 2025).

Kuburannya ditempatkan di dataran tinggi, dikelilingi danau pada saat itu. Seluas mata memandang adalah hamparan perbukitan dan lembah Kertamanah. Namun saat ini kondisinya tidak terurus, dikepung oleh perkebunan warga. Akses menuju lokasi kuburan tertutup oleh perkebunan, menyisakan jalan sempit. Keberadaanya tidak terawat, ditumbuhi tanaman liar yang tumbuh sekitar kuburan. Bentuk kuburannya berupa struktur bangunan persegi panjang, kemudian kuburan utamanya di bagian tengah. Membujur barat-timur, bagian kepalanya menghadap ke arah barat. Pada bagian nisannya, sudah tidak didapati plakat, sehingga nama dan waktu kematian tidak diketahui.

Kuburun tersebut sebagai bukti bahwa sebagian besar Kertamanah, merupakan perkebunan kina yang kini telah besalin rupa menjadi perkebunan warga.

Perkebunan tersebut tersebar luar, dari Tarumajaya, Kertasari hingga ke Sukamanah. Dihubungkan melaui jalan utama kelas kabupaten yang kini telah tingkatkana menjadi jalan beton. Sekitar 200 meter dari gerbang Situ Cisanti ke arah selatan, akan bertemu dengan percabangan Purbasari-Cikembang. Persimpangan ini menjadi titik penting, sebagai jalur pemisah antara dua wiayah. Ke arah timur menuju perbukitan yang memanjang utara-selatan. Bagian dari jajaran pegunungan selatan, G. Papandayan-G. Kendang-G. Rakutak.

Tugu Peringatan Helm Lima
Di simpang jalan Tarumajaya, didapati patung dalam rupa seorang prajurit yang mebawa panji Satuan Siliwangi. Keberadaan patung tersebut berdampingan dengan tugu dengan bentuk obelisk setinggi 4 meter. Di bagian puncaknya tersisa bekas gagang kujang, sedangkan bagian atasnya telah hilang. Kemungkinan hilang akibat kegiatan vanadalisme. Pada bagian tugu tersebut, ditempatkan lima helm tentara. Memberikan simbol gugurnya lima orang Tentara Nasional Indonesia, pada saat konflik dengan DI/TII. Terjadi pada 5 Juli 1959 dipersimpangan Tarumajaya, akibat penghadangan tentara yang dibentuk Kartosuwiryo. Mengakibatkan gugurnya lima anggota TNI yang sedang melakukan patroli. Kawasan ini menjadi jalur pergerakan DI/TII, menghubungkan antara selatan Pangalengan, ke arah G. Rakutak di Garut. Wilayah tersebut merupakan basis pelarian gerombolan, tersembunyi oleh perbukitan dan lembah. Sehigga gerombolan ini menggunakan jalur menembus hutan belantara dan disembuyikan oleh kabut.

Tiga tahun kemudian, tanggal 4 Juni 1962. Pimpinan DI/TII ditangkap di sekitar lereng G. Rakutak. Di daerah G. Beber, Majalaya.menandai berakhirnya petualangan S.M. Kartosuwiryo dan DI/TII di Priangan.

Rawa Gede
Selepas Situ Cisanti, jalan mulus menyambut perjalanan menuju Kertasari. Di sebelah kanan jalan, atau ke arah barat berjajar punggungan perbukitan. Jajaran G. Wayang-Windu-Bedil. Jajaran gunungapi tua, kini memberikan berkahnya melalui keberadaan panasbumi. Saat ini dieksplorasi oleh perusahaan Star Energy Geothermal, melalui beberapa sumur-sumur produksi yang tersebar di lereng sebelah barat G. Wayang-Windu.

Di lereng sebelah tenggara G. Windu, merupakan dataran rendah yang ditempati perkebunan teh Kertasari. Dari pabrik teh Kertasari ke arah baratnya merupakan cekungan yang ditempati oleh perkebunan. Dalam peta lama lembar Tjisoeroepan, 1943. Dituliskan Rawa Gede. Ditafsirkan bahwa sebagian besar wilayah tersebut merupakan sisa rawa yang telah mengering. Batas ke arah barat adalah lereng G. Windu, sekitar Cikawak. Kemudian ke arah utaranya sekitar Cihaneut, dan sebelah timur dibatasi jalan penghubung Cikembang, Kecamatan Kertasari. Bila ditarik garis secara umum, didapat luas sekitar 150 hektar. Namun saat ini telah mengering, kemudian ditempati kompleks perumahan perkebunan Kertasari. Berupa bangunan rumah tapak yang menempati sebagian besar bagian utara, dari Rawa Gede.

Ke arah baranya didapati perbukitan yang menonjol, disebut Pasir Paesan. Satu-satunya tinggian yang berbentuk kerucut di tengah-tengah hamparan perkebunan teh. Sehingga keberadaan perbukitan tersebut menjadi menarik, mengingat didapati sistem gunungapi di bagian utaranya. Sehingga bisa saja disimpulkan bahwa kerucut Pasir Paesan tersebut merupakan sub gunungapi dari bagian sistem gunungapi Wayang-Windu.

Di utara dari bagian Rawa Gede ini, didapati tempat yang dikenal dengan nama Cihaneut. Dalam bahasa Sunda dasarnya haneut, berarti hangat. Dengan demikian memberikan keterangan bahwa lokasi tersebut memiliki fenomena sumber mata air panas. keberadaan manifestasi di permukaan ini, berhubungan dengan sistem gunungapi Wayang-Windu.

Di sebelah barat G. Windu, terlihat lapangan kawah. Ukurannya tidak terlalu luas, terletak di lereng terjal. Manifestasi di permukaan ini biasa terjadi pada gunung api-gunungapi yang telah padam, maupun yang masih aktif. Masyarakat menyebutnya kawah Citawa, selaras dengan nama daerah Citawa. Sedangkan bila merujuk pada peta lama 1943, ditulis Tjikawak. Bisa ditulis ulang Cikawak, bukan Citawa seperti pada penyebutan saat ini. Kompleks kawah tersebut sekitar 500 meter ke arah barat, dari Cihaneut. Sebelah selatannya, didapati Kawah Burung. Berada di sumber mata air panas Cibolang yang telah dimanfaatkan menjadi sarana pariwisata pemandian air panas. Sumber mata air panasnya berasal dari kawah tersebut, kemudian diteruskan melalui pipa. Ditampung ke dalam bak-bak penampungan, kemudian dialirkan ke kolam-kolam.

Dari Cihaneut didapati jalan kontrol perkebunan teh, menuju mata air panas Cibolang sepanajang kurang lebih 3 km lebih. Melalui lereng G. Windu, mengikuti tekuk lereng dari timur ke barat. Selama perjalanan, melalui batas antara hutan tropis, dan batas perkebunan teh Wanasuka.

Ke arah barat daya, merupakan sisa dari kejayaan perkebunan teh (onderneming) Malabar di masa Hindia Belanda. Ke arah selatannya berbatasan dengan perkebunan teh Purbasari. Perkebunan ini dibelah oleh Ci Laki, sumbernya disumbang oleh beberapa tinggian. Diantaranya di sebelah timur laut, bersumber dari lereng barat G. Wayang-Windu. Kemudian di sebelah baratnya berasal dari tinggian Cukul. Titik nol Ci Laki berada di Kampung Bendungan, Desa Sukaluyu, Kabupaten Bandung.

Pengalirannya ke arah selatan, menoreh perbukitan sekitar Margaluyu, membentuk jeram-jeram yang dalam, dasarnya dialasi oleh aliran lava. Hasil dari kegiatan letusan gunung api jajaran selatan Jawa. Sumber letusannya diperkirakan berasal dari gunung api yang kini telah tidak lagi terlihat bentuknya. Bila merujuk kepada Peta Geologi Lembar Garut dan Pameungpeuk (Alzwar Akbar drr., 1992), disusun oleh Endapan Rempah Lepas Gunungapi Tua Tak Teruraikan (Qopu). Dengan demikian merupakan hasil kegiatan gunung api yang jauh lebih tua, dibandingkan dengan gunungapi modern. Diantaranya gunungapi aktif G. Gede, G. Salak, G. Tangkubanparahu yang berada di sebelah utaranya. Kondisi demikian menandakan telah terjadi pergeseran zona benioff/ penunjaman lempeng tektonik samudera.

Dari peta geologi tersebut, memperlihatkan tubir kaldera membentuk lingkar terbuka ke arah timur. Dindingnya kini ditempati G. Gantigi 1348 mdpl., (Cantigi?) di sebelah timur, dan G. Karancang 1563 mdpl. Sebelah timurnya. Di tengah-tengahnya memperlihatkan pola kerucut yang dibatasi oleh lingkaran. Dalam peta geologi lembar Garut, puncaknya dituliskan G. Cepu 1388 mdpl. Sedangkan bila merujuk kepada peta lama 1943 (AMS), disebut G. Tjajoer 1368 mdpl, atau G. Cayur. Pergantian penyebutan tersebut seharusnya ditinjau ulang, mengingat nama geografis tersebut sebagai leksikon nama-nama gunung di Jawa Barat.

Ci Laki mengalir ke arah selatan, menoreh menjadi lembah yang dalam. Aliran sungai ini membagi dua wilayah administratif, Kabupaten Garut di sebelah timur, dan Kabupaten Cianjur di sebelah barat. Hilirnya di Desa Cimahi, Kecamatan Caringin, Garut. Muaranya bertemu dengan laut Samudera Indonesia, menjadi batas Kabupaten Garut dan Kabupaten Cianjur.

Waterkracht Tjilaki
Di bagian hulu Ci Laki dimanfaatkan sebagai tenaga pembangkit listrik tenaga air. Aliran airnya disadap dari arah hulu, atau disebut saringan A. Lokasi penyadapannya sekitar 1.5 km ke arah utara, sekitar Banjarsari. Ditandai dengan dibuatnya dam, mengalihkan aliran air ke arah barat daya. Dialirkan melalui saluran air tertutup atau terowongan panjang, hingga berakhir di reservoir.

Pada bagian outlet aliran air, kemudian ditampung ke dalam bak atau reservoir. Berbeda dengan beberapa mikro hidro yang menggunakan kolam penenang. Fungsinya adalah mengendapkan sedimentasi dan mengatur volume air. Namun untuk fasilitas ini tidak dilengkapi kolam penenang, namun cukup menggunakan sistem bendungan. Berupa kanal yang memanjang sekitar 40 meter, dilengkapi dengan jeruji besi sebagai penyaring sampah. Kemudian di sebelah selatannya, didapati tutup pintu irigasi. Berfungsi sebagai pengelak air atau spillway, agar volume air stabil.

Alirannya kemudian disalurkan melalui pipa tunggal, disebut pipa pesat. Dialirkan melalui lereng terjal sepanjang 250 meter, dengan beda ketinggian sekitar 60 meter. Daya dorong yang dihasilkan oleh gravitasi, kemudian disalurkan ke tiga turbin. Kemudian menggerakan dinamo untuk menghasilkan listrik sekitar 6000 volt per unit.

Listrik yang dihasilkan kemudian didistribusikan melalui kawat listrik tegangan tinggi, untuk mensuplai dua pabrik teh yang berada di sebelah utara. Diantaranya pabrik di Banjarsari atau pabrik Malabar, kemudian pabrik Tanara di sebelah timur. Pembangki listrik tenaga air ini setidaknya mulai dikerjakan sejak 1908, dengan membangun jaringan irigasi terbuka dan tertutup. Kemudian mempersiapkan instalasi teknis, hingga pemasangan pipa baja. Diperkirakan mulai beroperasi, setidaknya sejak 1913.

Saat ini tidak lagi berfungsi optimal. Selain usia turbin dan generator listrik tua, selain itu pasokan air semakin berkurang. Kondisi demikian diakibatkan, telah terjadi perubahan tata guna lahan di utara. Dengan demikian debit air berkurang, karena area imbuhan telah berganti menjadi perkebunan.

Sekolah untuk buta huruf sumbangan Bosscha
Ke arah selatan, melihat bukti sumbangsih juragan teh A.K. Bosscha. Mendirikan vervoloog (sekolah lanjutan), di Malabar. Upaya memutus buta huruf, dikalangan pegawai perkebunan Onderneming Malabar.

Pengaliran air melalui lembah
Di aliran Ci kuningan, Desa Banjarsari. Didapati sistem pengelolaan irigasi air tertutup, disebut Syphon Tjikuningan, teknologi mengalirkan air di antara lembah. Ci Kuningan (sungai), mengalir ke arah barat daya. Kemudian bergabung dengan Ci Laki. Alirannya menggerakan turbin waterkracht Tjilaki (pembangkit listrik tenaga air mikro hidro).

Syphon atau disebut juga sipon, mengalirkan air ke waduk Cileunca. Melalui jaringan terowongan air tertutup, sejauh hampir 2.7 km lebih. Tujuanya adalah mengisi volume air waduk, kemudian dialirkan ke utara. Menggerakan tiga instalasi pembangkit listrik tenaga air Plengan, Lamajan dan Cikalong.

Tugu peringatan koflik TNI dan DI/TII di Ci Santi.
Gardu listrik, diperkirakan transformer di perkebunan teh Purbasari.
Pen stock/Pipa pesat Cilaki
Power house/rumah produksi listrik PLTA Cilaki
Sistem generator berupa dinamo
Turbin air nomor 3
Syphon Cikungingan.

Catatan Geourban#48 Cikande

Suara tatah terus berbunyi sepanjang siang, hadir diantara perbukitan Cikande. Pahat besi, dan otot beradu dengan batupasir Formasi Rajamandala. Batuan yang diendapkan di laut dalam, kemudian tersingkap oleh kekuatan di dalam bumi. Batuannya didapatkan dengan cara menambang secara tradisional, menggunakan linggis, godam dan tekad. Batuannya berlapis miring ke arah selatan, sehingga memberikan jalan pada saat digali. Bongkah-bongkah besar, kemudian dibentuk menggunakan godam, menjadi beberapa bagian. Diangkut dengan cara dipanggul, kemudian diserahkan ke para pengrajin untuk dibuat cobek.

Lama pengerjaanya bisa satu jam lebih, untuk setiap cobek. Ukurannya lebar sekitar 20 cm, dengan khas coakan yang dibuat dengan menggunakan tatah dan ketekunan. Satu produk jadi batu cobek, kemudian dibeli oleh pengepul seharga dua belas ribu rupiah per cobek. Dalam satu hari, para pengrajin mampu membuat antara dua belas hingga lima dua puluh batu cobek. Dikerjakan secara sambilan, disamping berprofesi sebagai penggarap ladang.

Batu Cobek Cikande
Mulai dikerjakan sejak tahun 80-an, dikenal dengan batu coet Cikande. Warga menyebutnya batu hideung, atau batu yang didominasi dengan warna gelap. Bila dilihat secara seksama. Terlihat perselingan batulempung dan batupasir berselang-seling, menjadikan batuan tersebut diendapkan pada kondisi sebagian besar wilayah Cikande ada di bawah permukaan laut.

Geologi menafsirkannya Formasi Citarum, umur Miosen Tengah. Disusun oleh selang-seling antara batupasir, batulanau (Martodjojo, 2003). Merupakan endapan laut dalam, kemudian seiring waktu terangkat hingga di ketinggian 310 meter di atas muka laut.

Pengrajin batu menyukai material ini, karena mudah dibentuk. Selain itu keberadaan batu hideung ini melimpah dan mudah diakses. Namun menjelang akhir tahun 2024, sebagian besar wilayah ini sudah masuk ke dalam penguasaan pengembang perumahan terbesar di Jawa Barat. Luas wilayahnya hampir mencakup sebagian besar Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.

Kegiatan di atas adalah bagian dari rangkaian Geourban ke-48, tanggal 8 Oktober 2025. Diikuti oleh partisipan dari latar belakang yang berbeda. Diantaranya pegiat wisata, pemandu, pengelola wisata hingga mahasiswa jurusan pariwisata. Kegiatan ini bertujuan menggali kembali narasi sekitar Citatah selatan, membuka jejaring lokal dan silaturahmi pelaku wisata.

Kegiatan ini menapaki wilayah Kecamatan Citatah, dari Padalarang, Jayamekar, Bojonghaleuang, Cikande, Girimukti, hingga Cipageran. Di Antara desa-desa tersebut memiliki keunggulan fenomena kebumian dan budaya.

Endapan Awan Panas Cigintung
Lawatan pertama mengunjungi bukti hasil kegiatan gunungapi. Berupa endapan piroklastik, dengan tebal kurang lebih 20 meter. Tersingkap karena digali oleh warga dengan bantuan alat berat sejak tahun 2000-an, seiring dengan penguasaan lahan sekitar Jayamekar. Selain akibat tambang, dan pembukaan lahan untuk pemukiman mengakibatkan peristiwa banjir bandang. Terjadi pada tanggal 6 April 2025, berupa terjangan luapan air sungai. Kemudian memutuskan jalan penghubung antar desa.

Kondisi demikian akibat bagian lereng perbukitan dikupas untuk pembuatan lahan hunian, perumahan Great and Feel di Jayamekar. Akibat pembukaan lahan tersebut, menyebabkan run off air, terutama saat curah hujan tinggi. Mengakibatkan luapan sungai, dan memutus jalan penghubung dari Desa Jayamekar ke Desa Gunung Masigit.

Di lokasi ini didapati sisa tambang warga, berupa dinding tegak. Disusun oleh endapan awan panas.

Menyaksikan Perbukitan Terlipat dari Pasir Karamat
Kunjungan berikutnya adalah ke perbukitan di sebelah utara waduk Saguling, berdampingan dengan Parahyangan Golf. Lapangan golf yang dibangun, di tepian waduk Saguling. Perbukitan yang kini telah masuk ke dalam penguasaan pengembang properti, menjadi titik terbaik untuk mengamati jajaran perbukitan di sebelah utaranya.

Dari titik tinggi Pasir Karamat, terlihat jajaran perbukitan yang memanjang relatif barat-timur. Diantaranya yang terlihat adalah Pasir Kiarapayung 929 meter dpl., bergeser ke arah timur diantaranya Pasir Cirateun 862 meter dpl. Sejajar dengan perbukitan tersebut adalah Pasir Tugu yang kini diakuisisi pengembang, menjadi titik kegiatan hiking. Disebut Bumi Luhur Hiking Track, jalur jalan kaki yang menelusuri perbukitan sekitar Cikande, Batujajar.

Perbukitan tersebut ditafsir sebagai perbukitan terlipat, akibat kegiatan tektonik di masa lalu. Batuannya disusun oleh batupasir, berseling dengan batulempung. Diendapkan pada kondisi laut dalam, pada umur Miosen Awal hingga miosen Tengah.

Seiring kegiatan tektonik,endapan laut dalam tersebut diangkat hingga di atas ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Pengangkatan tersebut terjadi seiring dengan kegiatan perlipatan, terjadi pada Miosen hingga Pliosen. Mengakibatkan terbentuknya perbukitan terlipat, sesar-sesar naik pada batuan karbonat Citatah.

Panorama Bendungan Saguling
Perjalan dilanjutkan ke arah barat, menembus jarak 13,5 km. Ditempuh durasi perjalanan sekitar 30 menit, melalui jalan alternatif antara Cipangeran ke Poros Saguling. Jalannya sebagian besar sudah di beton, sehingga kegiatan ekonomi lokal bergerak. Terutama untuk mengangkut hasil bumi, dari Desa Saguling di jual ke pasar induk di Bandung melalui jalan ini.

Selepas Desa Saguling, memasuki Cipongkor. Jalan relatif menurun, mengikuti kontur perbukitan. Jalannya sejajar dengan arah pengaliran outlet Citarum, dari poros bendungan. Dialirkan melalui pipa ganda sepanjang kurang lebih 5.5 km, ditanam di bawah tanah. Elevasinya turun dari ketinggian 670 meter ke 340 meter. Pengaliran air tersebut memanfaatkan gravitasi, kemudian diantarkan melalui pipa pesat. Tekanan tinggi tersebut kemudian menggerakkan turbin di Power House Saguling.

Sekitar 4 km menjelang Pembangkit Listrik Tenaga Air/PLTA Saguling, didapati titik terbaik untuk menyaksikan perbukitan Citatah. Sekitar Pasir Benteng, dengan elevasi 660 meter dpl. Dari tinggian ini bisa menyaksikan jajaran perbukitan yang memanjang baratdaya-timurlaut. Batuannya berbeda dengan batuan yang pernah dikunjungi sebelumnya. Disusun oleh batugamping, bagian dari Formasi Rajamandala. Dicirikan dengan warnanya abu terang, kadang berwarna coklat, disebut batugamping.

Memandang ke arah barat, terlihat punggungan Gunung Guha 738 meter dpl. Perbukitan yang memanjang dari barat-timur, berada di sekitar Cihea. Di Antara perbukitan tersebut mengalir Ci Nongnang, sungai yang hulunya di Puncak Larang.

Ornamen di Sanghyang Kenit
Sebelah utara dari PLTA Saguling, terdapat gua. Disebut Gua Sanghyang Tikoro, dengan elevasi sekitar 300 meter dpl. Dengan demikian memiliki perbedaan ketinggian dengan poros bendungan Saguling, sekitar 650 meter dpl.

Perbedaan ketinggian tersebut membantah lokasi bobolnya Danau Bandung Purba segmen bagian barat. Hasil penelusuran bisa dilihat di sini: https://pgwi.or.id/2023/02/28/catatan-geobaik2-cukang-rahong/

Di Sanghyang Kenit, merupakan bagian dari segmen aliran Ci Tarum. Aliran airnya merupakan tangkapan dari berapa mata air dan aliran spillway dari Waduk Saguling. Sedangkan aliran utamanya, dialirkan melalui jaringan pipa. Digunakan untuk menggerakan turbin di PLTA Saguling, dan PLTA Rajamandala.

Dengan demikian, aliran air ke gua Sanghyang Poek menjadi kering. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh pengelola Sanghyang Kenit, menjadi sarana wisata susur gua. Inlet atau mulut gua berada di selatan, Sanghyang Poek. Mengalir ke arah utara, sejajar dengan sungai terbuka. Outlet-nya di mulut gua Sanghyang Kenit.

Penelusuruan dialakukan berlawanan dengan arah arus sungai, dari Sanghang Kenit ke arah keluar di Sanghyang Tikoro. Panjang gua kurang lebih 600 meter, melalui lorong memanjang.

Gua ini merupakan bagian dari Formasi Rajamandala, berupa batugamping berumur Oligosen Akhir-Miosen Awal atau sekitar 30-22 juta tahun yang lalu. Tebalnya lebih ari 180 meter, berupa batugamping masif/pejal dan terumbu.

Penelusuran di gua Sanghyang Kenit, mendapati ornamen yang masih berkembang. Menandakan bagian atas gua/eksokarst masih dalam kondisi baik. Sehingga didapat air yang mengalir. Aliran air yang masuk melalui bidang rekahan tersebut, kemudian mengendap menjadi kalsit. Seiring waktu, endapan tersebut membentuk ornamen gua yang menawan. Di gua ini masih didapati ornamen yang masih berkembang, seperti batu tirai, batu alir, gourdam, stalagmit dan stalaktit dan seterusnya. Sehingga gua tersebut cocok bagi siapa saja yang ingin mengetahui rahasia perut bumi.

Moda transportasi roda dua, penelusuran Geourban
Interpretasi di dalam gua Sanghyang Kenit
Batupasir Fm. Citarum, ditambang untuk pembuatan batu coet

Catatan Geourban#46 Cikembang

Perjalanan Geourban ke-46, menapaki kembali bukti budaya yang pernah hadir di sekitar Bandung bagian selatan. Wilayah yang dibelah oleh Ci Tarum, mengalir dari selatan, kemudian di Ciparay berbelok ke arah barat. Pengalirannya membagi Cekungan Bandung bagian utara tengah dan bagian selatan. Bagian selatan ditempati oleh dataran rendah, mulai dari Ciparay-Majalaya di bagian timur dan Dayeuhkolot-Baleendah ke arah barat.

kegiatan ini bertujuan mengulas kembali sejarah budaya dan bumi, melalui kegiatan wisata bumi. Dilaksanakan pada hari Kamis, 25 September 2025. Diikuti oleh para partisipan dengan latar yang berbeda, pegiat wisata, pemandu, pegiat literasi kolonial hingga pelaku wisata alternatif. Dimulai selepas pagi, di percabangan Sumbersari, Ciparay Sapan. Dimulai dengan penyampaian briefing oleh Deni Sugandi, selaku inisiator komunitas Geourban.

Jelang pukul 8.15 wib. Rombongan pengguna transportasi roda dua, diarahkan ke bantaran Ci Tarum. Mengunjungi situs Candi Bojongemas, ditepi jalan penghubung Tegalluar ke Solokanjeruk. Tepatnya berada di samping kompleks Puri Melia Asri. Bojongemas. Solokanjeruk. Berupa situs sejarah, berupa koleksi batuan yang terdiri dari beberapa bongkah. Batuan tersebut berbentuk persegi panjang, dengan ciri beberapa cukilan dan coakan. Membentuk persegi panjang, dengan ukuran rata-rata antara 30 cm, dengan panjang 60 hingga 90 cm. batuannya dipahat secara halus, dibentuk sedemikian rupa. Diantaranya didapati coakan geometris, diperkirakan digunakan sebagai alas pengunci blok batuan. Dengan demikian merupakan hasil pengerjaan manusia.

Didapati batuan dengan bentuk tiang, disebut kekar kolom. Bentuk batuan yang biasanya dijumpai sebagai batuan penyusun Situs Gunung Padang di Campaka, Cianjur. Ukuran kekar kolom tersebut sekitar 40 cm, dengan panjang sekitar 120 cm. ditempatkan diatas tumpukan batuan candi. Keberadaan kekar kolom tersebut menjadi misteri, karena tidak adanya kesinambungan konsep budaya di strata budaya pendukung candi. Bila melihat foto dari postingan di web BKN 1 Oktober 2019, kemudian artikel Detik Jabar 10 Juli 2022 dan terakhir dari artikel di Komunitas Aleut pada 23 Maret 2024, kekar kolom tersebut belum ada. Sehingga diduga keberadaan batuan tersebut, ditempatkan menjelang tahun 2025-an. Siapa yang menempatkan di sana, tujuannya untuk apa? Belumlah bisa dijawab. Kemungkinan lainya adalah penemuan baru di dasar Ci Tarum, mengingat keberadaan blok batuan lainya diambil dari dasar sungai. Bila memeriksa kembali posisi sungai berdasarkan peta lama 1903, telah terjadi pergeseran ke arah utara. Sehingga keberadaan candi tersebut, dierosi oleh sungai. Sesuai dengan lokasi penemuan pada

Beberapa pendapat mengatakan bahwa budaya pendukungnnya hadir sekitar abad ke-7. Dicirikan dengan hadirnya arca Durga Mahisasuramardini, saat ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

Bergeser ke arah selatan, melintasi Ciparay kemudian ke arah Majalaya. Tinggalan budaya di lokasi ke-dua ini menemui tinggalam budaya, berupa Yoni. Disebut Situs Yoni Tanggulun, Majalaya. Berada di bantaran Ci Gandok. Anak sungai yang bermuara di Ci Tarum, sekiar Ibun. Berupa Yoni, berbentuk kotak memanjang, dengan ukuran lebar dan panjang yang sama sekitar 40 cm. Tingginya sekitar 60 cm, bagian bawahnya kini ditutupi oleh adukan semen.

Menurut warga, keberadaan situs ini terletak di sebidang tanah yang dahulu ditumbuhi pohon lebat. Sehingga keberadaan tempat tersebut menjadi sakral bagi sebagian warga. Namun seiring pertumbuhan penduduk sekitar Tanggulun, menyebabkan pengambilalihan lahan untuk kuburan warga. Sehingga keberadaan situs Yoni tersebut seringkali berpindah posisi, karena saat itu belum masuk ke dalam cagar budaya. Menurut Away, salah satu partisipan Geourban menyebutkan bahwa keberadaan Ci Tarum semakin menyempit. Akibat perubahan tata guna lahan, okupasi bantaran sungai oleh hunian hingga sedimentasi tinggi. Mengakibatkan lebar sungai semakin menyempit. Kondisi demikian menyebabkan terjadi luapan sungai akibat hujan, terutama pada saat musim basah. Away menuturkan bahwa dahulu diperlukan bantuan perahu untuk menyeberangi Ci Tarum, ke arah selatan dari situs. Namun kini keberadaan sungai tersebut semakin menyempit.

Beberapa pendapat menyebutkan kehadiran situs ini sekitar abad ke-12, merupakan batas sebuah wilayah. Dengan demikian perlu penggalian sejarah lebih dalam, mengingat keberadaan Yoni tersebut semakin tidak diperhatikan.

Dari Tanggulun, kemudian bergeser ke arah selatan menuju dataran tinggi Pacet. Sekitar Sukapura, jalanan meliuk-liuk mengikuti kontur jalan. Sekitar Situ Dua Tonggoh, Cikitu, didapati situs yang dikeramatkan warga. Berupa blok batuan yang disusun oleh batuan gunungapi. Posisi batu tersebut seperti ditancapkan dan tegak, sehingga masyarakatnya menyebutnya Batu Nanceb. Warga batuannya abu-abu gelap, dengan ukuran tinggi sekitar 2,5 meter dan lingkar sekitar 2 meter lebih. Keunikan batuan tersebut memiliki goresan garis vertikal, mengikuti posisi batuan tersebut, sehingga membentuk bidang geometri. Diperkirakan bongkah tersebut meupakan produk letusan G. Malabar yang berada di sebelah barat. Berupa blok batuan yang tererosi dan telah lapuk.

Masyarakat mempercayai situs Batu Nanceb merupakan batas dari wilayah Galuh dan Pakuan Pajajaran. Sebagian lagi menduga, bahwa lokasi ini menjadi batas Danau Bandung Purba. Keberadaan batuan tersebut berada di lereng perbukitan, sejajar dengan perumahan warga yang semakin mendesak ke arah lereng.

Situs budaya lainya adalah Situs Batu Korsi, di Kampung Lodaya Kolot, Tarumajaya, Kertasari. Berupa bongkah batuan,disusun oleh lava. Bentuknya menyerupai kursi, sehingga masyarakat menyebutnya Situs Batu Korsi.

Selain kunjungan ke situs budaya, berkesempatan untuk melihat kembali jalur sesar Garsela. Sesar Garut Selatan, segmen Rakutai (BMKG, 2024). Ekspresi di permukaan bumi terlihat jelas di depan Polsek Kertamanah. Berupa sungai yang memanjang relatif baratdaya-timurlaut. Diperkirakan sesar geser, sejajar dengan sesar regional Garsela. Gempa terakhir yang melanda daerah ini pada 18 September 2024, sekitar magnitude 4.9. Terjadi pada pagi hari, pukul 09.14 wib. Dilaporkan beberapa rumah warga roboh, termasuk fasilitas umum seperti perkantoran, rumah sakit.

Dari lokasi tersebut, kemudian bergeser ke arah barat. Melalui jalan kelas desa yang sebagian besar telah di beton. Mengarahkan ke Cikembang, Kertasari. Selepas taman Desa Cikembang, Kertasari, kemudian dilanjutkan melalui jalan beton yang baru saja dibuka. Berjalan terus ke arah barat, hingga menemui tegakan pohon eucalyptus, berseling dengan pinus yang sudah tumbuh sejak perkebunan hadir.

Dari balik batang pohon pinus, terlihat bayangan bangunan. Tidak tampil dalam bentuk utuh, namun masih terlihat struktur bangunannya. Berupa pondasi yang disusun oleh batuan gunungapi, disusun kemudian direkatkan oleh semen. Tebal dinding nya sekitar 30 cm. dengan tinggi sekitar 6 meter, membentuk dinding tegak persegi panjang. Terdapat dua pintu, menghadap ke arah

Bagian atapnya telah hilang, karena dibongkar untuk digunakan kembali di tempat lain. Rangka baja yang menjadi penguat bagian atap, sehingga bisa dimanfaatkan untuk bangunan di perkebunan yang lain. Akibat permintaan dunia turun, mengakibatkan produksi ikut surut. Menyebabkan pabrik ini harus mengurangi jumlah produksi, terjadi akibat perubahan politik dunia saat menghadapi Perang Dunia ke-2. Dominasi komersial Belanda, akhirnya runtuh seiring masuknya Jepang ke Hindia Belanda 1942

Sehingga pengelolaan administrasi perkebunan, harus beralih ke komoditas lain. Diantaranya ke sektor pertanian dan dan perkebunan teh, dan kopi yang lebih menjanjikan. Kondisi ekonomi dunia mengakibatkan permintaan kina merosot, Saat ini Perkebunan Cikembang di bawah pengelolaan PTP Nusantara I Regional II.

Kunjungan penutup adalah mendatangi sumber mata air panas. Manifestasi permukaan yang berasosiasi dengan sumber panas gunungapi di Tarumajaya, Kertasari. Berupa kemunculan air panas di (sungai) Ci Panas. Sungai yang mengalir memotong punggungan G. Wayang-Windu-Bedil, kemudian di sarah utaranya adalah G. Gambung.

Suhunya sekitar 40 derajat celcius, muncul dalam bentuk mata air di dalam sungai Ci Panas. Warga memanfaatkannya menjadi tempat mandi umum, dengan cara menampung air panas tersebut ke dalam bak. Kemudian dialirkan ke kamar mandi yang dibangun sederhana.

Dari keterangan warga, mata air tersebut muncul di sepanjang sungai. Lebih ke arah timur, suhu ainya semakin tinggi. Menandakan sumber panas merupakan sistem panas bumi G. Wayang-G. Gambung. Tidak didapati belerang, menandakan kontak sumber panas dengan sumber mata air dangkal. Keluar dalam bentuk gelembung air, dengan tekanan air rendah. Debitnya kecil, sehingga perlu ditampung dalam kolam kecil.

Situs Candi Bojongemas, Solokanjeruk
Kekar Kolom diantara batu persegi panjang Candi
Partisipan Geourban di Candi Bojongemas
Situs Yoni di Tanggulun, Majalaya
Interior rumah administratur Cikembang, Kertasari
Situs Batukorsi, Kertasari

Catatan Geourban#45 Jembarwangi

Selepas bulan Juli 2025 usai, pembangunan jalan Lingkar Utara Jatigede telah selesai dibangun. Walaupun belum resmi dibuka, tetapi bisa dilintasi dalam jumlah kendaraan terbatas. Kesempatan inilah dimanfaatkan, meninjau jalan yang melingkar sisi utara waduk Jatigede, Sumedang. Kegiatan ini merupakan bagian dari acara Geourban ke-45, dengan tajuk Jembarwangi pada 10 September 2025, 

Kegiatan inisiasi wisata bumi sekitar Sumedang, dimulai dari sisi sebelah utara Waduk Jatigede. Memanfaatkan jalur baru lingkar utara, dari percabangan jalan kabupaten Situraja ke Darmaraja. Mulut jalan berada di sekitar tanjakan Cinangsi yang berada dibahu dua gunung. Sebelah timurnya adalah G. Baju, dan ke arah timurnya G. Tanjung. Jalannya lebar, diapit oleh parit drainage. Menandakan kelas jalan lingkar ini merupakan proyek nasional. Selepas percabangan Cinangsi, disambut oleh jalanan yang mendaki. Agar tidak terlalu terjal, dilakukan pembobokan perbukitan G. Tanjung 519 mdpl. Kemudian dilanjutkan ke arah timur yang mulai melandai melewati perbukitan Pasir Hingkik 513 mdpl.

Arah pandangan luas tidak terhalang. Ke arah timur terlihat hamparan air yang luas. Waduk Jatigede menenggelamkan 28 desa, dari 5 kecamatan sejak 2015. Dibutuhkan waktu hampir setengah tahun, untuk mencapai paras air optimal. Luas genangan airnya saat ini, kurang lebih sekitar 42 km2. Titik tinggi paras airnya, 260 meter di atas mukalaut. Satu-satunya pulau yang tampak dari arah Cinangsi, adalah G. Surian 310 mdpl. Kerucutnya timbul di atas hamparan air, berhadapan langsung dengan poros bendungan Jatigede. 

Sekitar 15 menit berkendara, di sebelah timur terlihat perbukitan yang mengungguli tinggian. Disebut Pasir Julang, atau masyarakat menyebutnya G. Julang. Dalam peta geologi lembar Arjawinangun (Djuri, 2011), merupakan Hasil Gunungapi Tua-Lava (Qvl). Produk G. Lingga 1125 mdpl.  Dalam tafsiran berdasarkan peta geologi tersebut, memberikan dugaan arah aliran lavanya mengalir ke timur laut hingga Nangerang. Sehingga diperkirakan G. Julang merupakan fasies proksimal (Bogie & Mackenzie, 1998). Perkiraan lainnya adalah perbukitan tersebut merupakan hasil penerobosan magma, disebut intrusi batuan beku. Menerobos batuan sedimen 

Bila merujuk pada pendapat di atas, memberikan petunjuk bahwa G. Julang bukan perbukitan intrusi batuan beku. Melainkan produk aliran lava G. Lingga yang berada di sebelah barat daya yang berjarak sekitar 4.5 km. Disusun batuan beku, berwarna abu terang menandakan didominasi mineral andesitik. Sejak awal pembangunan Waduk Jatigede, sumber batuan yang berada di G. Julang dimanfaatkan untuk kegiatan pembangunan poros waduk diantaranya adalah sebagai agregat. Lahan seluas 55 Ha, tersebut kini direncanakan akan ditambang kembali untuk kebutuhan Bendungan Cipanas. Hanya terlihat beberapa warga yang masih memanfaatkan batuan tersebut, dengan cara penambangan tradisional. Sebagai batu hias, dan pondasi dalam skala tambang kecil.

Saat ini G Jualang tidak lagi menjulang. Sebagian besar tubuhnya telah hilang hasil kegiatan tambang sejak tahun 70-an akhir. Batuannya masih, berupa lava tebal dengan ciri terkekarkan. Menandakan batuan tersebut terdeformasi, akibat kegiatan tektonik. Di sebelah utaranya merupakan jalur sesar Baribis, sehingga kegiatan tektonik tersebut mempengaruhi secara langsung pada batuan. Sebagian besar kawasan ini membentuk bentang alam berupa ceruk, dan sebagian besar membentuk dataran seperti mesa. Tinggian yang terpancung, menyisakan lapangan yang datar. Sebagian besar batuan yang singkat, terkekarkan dengan kuat, membentuk struktur rekahan atau patahan pada batuan (deformasi). Sebelah barat daya, didapati fitur batuan yang membentuk seperti kepala burung. Berupa susunan kekar kolom, tersisa dari kegiatan tambang. 

Menurut warga, fitur batuan tersebut hasil kegiatan tambang menggunakan alat berat. Namun karena batuannya terlalu keras, mengakibatkan alat berat tersebut menyerah. Sehingga ditinggalkan begitu saja, meninggalkan bentuknya pipih. Sehingga masyarakat menyebutnya batu kipas. Disusun oleh batuan beku, berwarna abu terang ciri andesitik. Berada pada ketinggian, sebagian besar bagian bawahnya telah hilang oleh kegiatan tambang, menyisakan blok batuan. 

Dari G. Julang menjadi titik terbaik untuk melihat panorama Waduk Jatigede. Dengan demikian, BBWS berencana mengembangkan kawasan ini sebagai objek wisata berupa vie point atau anjungan pandang.  Rencana tersebut membutuhkan kajian, agar selaras dengan kondisi lingkungan, kemampuan untuk pengelolaan wisata berkelanjutan. 

Sebelah timur laut dari G. Julang, mengikuti jalan Lingkar Utara Jatigede akan menemui situs. Masyarakat menyebutnya Situs Karamat berupa kumpulan batuan dengan ukuran bongkah. Dilingkari oleh pagar besi, menyusun tinggian yang ditempati oleh pohon tegak. Warga menyebutnya petilasan, atau tempat yang pernah menjadi tempat singgah atau disakralkan. Tempat suci yang digunakan sebagai kegiatan ritus, atau sebagai simbol budaya. Informasi mengenai Situs Karamat ini sangat terbatas, karena tidak ada informasi baik dalam tinggalan prasasti atau sumber primer seperti naskah. 

Sumber batuannya bila merujuk pada peta geologi Arjawinangun (Djuri, 2003). Berupa batuan beku yang diperkirakan sama dengan yang ditemui di G. Julang. Berupa Hasil Gunungapi Muda tak Teruraikan. Diantaranya breksi, lava bersifat andesit dan basal, pasir tufan, lapili. Bentuknya lonjong, saling menumpuk. Menurut warga, situs ini merupakan bagian puncak, ditandai dengan batu yang disimpan berdiri seperti menhir. Posisi situs berada ditengah jalan yang menghubungkan antaran Cinangsi ke Pajagan. Namun bila melihat peta lama lembar Darmardja (1943), berada pada ketinggian perbukitan. Dalam peta tersebut belum menunjukan garis jalan. Namun dalam keterangan bapak Asep, kampung yang berada di sekitar situs, merupakan hasil relokasi akibat penggenangan waduk. 

Pada peta lama lembar Soedapati (1911), lokasi situs berada di daerah disebut Bantarjambe. Sesuai dengan nama Sekolah Dasar yang masih menggunakan nama yang sama. Dengan demikian diduga, kampung di sekitar situs merupakan relokasi dari kampung Legok. Posisinya sebelah timur, di bawah lembah yang kini menjadi batas paras air Waduk Jatigede. Untuk menghindari penggenangan, maka warga Legok kemudian bergeser ke dataran yang lebih tinggi disekitar Bantarjambe saat ini. 

Saat ini keberadaan situs telah dilindungi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, melalui undang-undang cagar budaya Nomor 11 Tahun 210 Tentang Cagar Budaya. Disebut Situs Makam Karamat, Cigintung, Sumedang. 

Lokasi selanjutnya adalah Pasir Pareugreug. Merupakan blok yang naik, disebut sesar anjak busur belakang. Merupakan sistem Backarc Java Thrust, segmen Baribis. Blok yang naik ini kemudian dimanfaatkan sebagai poros bendungan. Dinding bendungan yang berarah timur-barat, sesuai dengan arah sesar Baribis. 

Dari atas Pasir Pareugreug, bisa menyaksikan ke segala arah. Di timur terlihat lembah yang dalam, ditoreh oleh Ci Manuk. Aliran outlet dari spillway poros Waduk Jatigede. Mengalir membelah perbukitan terlipat, diapit oleh G. Tonjong sebelah barat, dan G. Pakayuan 330 mdpl., di bagian timur. Alirannya mengarah ke utara, melalui Parakan Kondang. Kemudian Desa Karedok. Alirannya kemudian dibendung kembali, oleh bendungan Bunut.

Dari Pasir Pareugreug, kemudian turun ke arah Desa Karedok melalui lereng Pasir Sema. Jalanan curam, tetapi sebagian besar sudah di beton dan aspal. Menjelang memasuki Desa Karedok, didapati situs Keramat Sunan Pada. Di keterangan papan informasi, gerbang masuk situs berbunyi Situs Keramat Sunan Pada, ayah dari Ratu Cukang Gedeng Waroe. Sunan Pada adalah mertua dari Geusan Ulun yang berkuasa sebagai raja Sumedang. Dari 1579, naik tahta sebagai raja melalui amanat untuk meneruskan kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran. 

Jalannya berupa turunan yang terjal, sisi sebelah baratnya dibatasi oleh gawir terjal Pasir Pareugreug. Dibeberapa tempat terlihat dinding perbukitan tersebut disusun oleh batuan  breksi gunungapi. Seperti dilaporkan pada awal hadirnya perkampungan ini pernah mengalami bencana. Berupa gerakan tanah atau longsor, mengakibatkan posisi kampung haru bergeser ke arah utara ke kampung Rancakeong dan Babakan Dobol. Lebih mendekati bantaran Ci Manuk.

Dihujung kampung, dibatasi oleh genangan air Ci Manuk. Membentuk danau yang terbentuk karena aliran tersebut di tahan oleh Bendung Bunut. Membentang sekitar 380 meter, menutup celah sempit Ci Manuk di Desa Karedok, Jatigede. Bendungan ini berfungsi untuk penyaluran irigasi, penyedian air baku dan sistem pengendali banjir. 

Dari Cibunut kemudian beralih ke arah Jembarwangi di sebelah timur. Jaraknya kurang lebih 7 km. mengikuti jalan fasilitas Waduk Jatigede melalui lintas timur. Di sekitar Cijeungjing kemudian berbelok ke arah tenggara, memasuki desa Jembarwangi bagian barat. Sebelum tiba di Kantor Desa, jalanan mengikuti jalur turunan curam, berakhir di Ci Saar. Sungai yang membelah Desa Jembarwangi, mengalir ke arah utara. 

Merujuk pada beberapa penelitian, kawasan ini disusun oleh batulempung, dan serpih gampingan yang memiliki tebal hingga 650 meter. Bagian dari Formasi Cisaar, berumur Miosen Tengah atau sekitar 15 juta tahun yang lalu. 

Dalam laporan penelitian paleontologi, disebut lembah Cisaar. Memiliki potensi dan sebaran fosil vertebrata. Mulai diteliti sejak lama, namun secara berkala dilakukan oleh Badan Geologi, melalui tim Museum Badan Geologi, KESDM sejak 2019. Diantaranya telah ditemukan beberapa fosil, di titik ekskavasi  di beberapa lokasi yang tersebar sepanjang Ci Saar. Keberadaan fosil vertebrata atau mamalia besar tersebut, menunjukan bahwa sebagian besar lembah Cisaar saat itu dalam kondisi lingkungan estuari. 

Fosil yang ditemukan, tertanam pada batuan dan tanah yang telah lapuk. Sebagian tersingkap di permukaan akibat kegiatan erosi, dan dibawa oleh air. sehingga beberapa fragmen ditemukan tersebar dari barat ke timur. Semua ditemukan pada Formasi Citalang, disusun konglomerat,  dan batupasir tufaan, merupakan lingkungan endapan darat dengan sistem sungai teranyam (braided stream deposits). Umurnya Pleistosen sekitar 1,2 juta tahun yang lalu. Diantaranya ditemukan rahang bawah Stegodon trigonochepalus (Wibowo et. Al., 2018). Lembah Cisaar, Jembarwangi saat ini menjadi salah satu situs baru, untuk kegiatan penelitian paleontologi vertebrata di Jawa bagian barat.

Batukipas, G. Julang Jatigede, Sumedang
Situs Karamat. Cigintung
Di puncak Pasir Pareugreuh.
Fosil vertebrata di Lembah Cisaar

Catatan Geourban#42 Nagreg

Ramalan cuaca tadi malam menyebutkan, besok pagi sedikit berawan. Kemudian jelang sore berkemungkinan turun hujan tipis. Demikian prakiraan kondisi cuaca tanggal 14 Agustus 2025. Rupanya alam memberikan keputusan yang berbeda. Jelang pagi langit berselimutkan awan tebal, sesekali angin bertiup dari arah barat. Awan mendung menggelayut, menandakan hujan sebentar lagi turun.

Waktu menunjukan pukul tujuh pagi, kendaraan diarahkan menembus padatnya lalu lintas Cileunyi. Untung saja waktu pergantian (shift) karyawan pabrik sudah lewat, sehingga jalan kembali normal. Sepanjang Rancaekek dibatasi oleh bangunan pabrik tekstil dan rumah warga. Sebagian besar posisi rumah berada di bawah jalan, menandakan kawasan ini terjadi penurunan muka tanah. Terjadi akibat pengambilan air berlebihan, sehingga terjadi cekungan. Seiring waktu jalan ditambah, penebalan beton. Sehingga rumah warga tampak tenggelam oleh oleh jalan yang membentang barat ke timur.

Di Parakanmuncang, berbelok ke arah utara. Menembus pasar Parakanmuncang, hingga tiba di Pusaka Farm. Dalam waktu satu jam lebih, menembus tiga wilayah, Kota Bandung, kemudian Kabupaten Bandung, dan terakhir di Parakanmuncang, masuk ke wilayah Kabupaten Sumedang.

Titik awal penelusuran kegiatan Geourban ke-42 ini, dimulai dari Pusaka Farm. Pengelolaan ternak kambing milik kang Rizky. Dari Parakanmuncang, diarahkan ke timur. Selepas Rancaekek, kemudian memasuki daerah Nagrog. Jalanannya menanjak, menandakan memasuki segmen Cicalengka-Nagreg. Berupa daerah tinggi yang diapit oleh beberapa gunungapi purba dan perbukitan. Sebelah utaranya adalah kelompok G. Kareumbi-Kerenceng, kemudian di sebelah selatannya dibatasi oleh kelompok G. Mandalawangi.

Sekitar Nagrok jalanan menanjak, menandakan perbedaan elevasi. Perbedaan ketinggiannya kurang lebih sekitar 160 meter bila dihitung dari Rancaekek ke Cicalengka. Tinggian tersebut membentuk cekungan yang diapit oleh perbukitan landai, disebut cekungan Cicalengka-Nagreg. Bila dilanjutkan ke arah timur, topografinya landai menunjukkan batas cekungan Nagreg. Dikenal dengan tanjakan Nagreg, berakhir dipercabangan menuju Garut dan Tasikmalaya.

Cicalengka merupakan batas timur Danau Bandung Purba. Ke arah timurnya dipagari perbukitan dan gunungapi purba. Batas antara Cekungan Bandung bagian timur dengan Cekungan sub cekungan Leles, Garut. Berjajar perbukitan runcing, G. Durung, Pasir Citiis, G. Kendang, G. Batu dan G. Sangiangajung. Komplek gunungapi purba, menjadi pagar alam Cekungan Bandung bagian timur dengan Sub Cekungan Leles-Garut.

Di Hadapannya (timur), merupakan cekungan yang kini ditempati sawah. Diperkirakan merupakan sisa dari sub danau yang terbentuk sebelum Danau Bandung Purba. Seperti yang dikemukakan oleh Budi Brahmantyo dkk., (2001). Menduga terbentuk cekungan kecil yang terangkat. Buktinya adalah adanya endapan danau (lakustrin), berlapis, disusun klastik gunungapi dan aluvial. Selain itu elevasi cekungan tersebut 850 meter dpl., seratus meter lebih di atas paras maksimal Danau Bandung Purba. Dalam pengukuran menggunakan bantuan google maps sekitar 800 hektar. Sebelah timurnya dibatasi jalan raya Nagreg dan G. Leutik. Kemudian di sebelah baratnya, berbatasan dengan Citaman. Kemudian sebelah utaranya sekitar sawah di Desa Kendan. Bukti endapan danau (lakustrin), berupa lapisan lempung dan paleosol belum bisa dipastikan. Mengingat kondisi lingkungan saat ini sudah berubah menjadi areal sawah.

Di sekitar Nyalindung Nagreg, tidak ditemui. Karena sebagian besar sungai yang membelah atau sejajar dengan jalan raya Nagreg disusun oleh breksi gunungapi. Dalam keterangan penelitian awal oleh tim Kelompok Riset Cekungan Badung, dalam jurnal Notes of the Geology of Uplifted Small Basin at Cicalengka-Nagreg Areas South of Bandung (2001), menunjukan bukti. Berupa endapan danau di G. Leutik, atau sekitar 40 meter dari persimpangan rel kereta api Nagreg ke arah selatan. Namun kondisinya saat ini telah menjadi kolam, sisa kegiatan tambang batu sejak awal tahun 2000-an.

Di Desa Kendan, dilaporkan terjadi gerakan tanah. Akibat struktur dan keadaan batuan penyusunnya belum terkonsolidasi dengan baik, dilaporkan terjadi gerakan tanah (longsor), di Nagreg dan sekitarnya. Terakhir terjadi pada 19 Mei 2025, di Kampung Gunung Batu, Nagreg. Menyebabkan kerusakan material/bangunan dan korban manusia.

Ke arah timurnya, terlihat morfologi kubah lava (lava dome), Sangianganjung-Kendan. Didapati batuan amorf (obsidian). Bersisipan dengan batuan yang telah lapuk terkena hidrothemal. Sebarannya melimpah di TPU Legok Nangka, di dinding perbukitan yang dikupas untuk pembangunan tempat sampah metode open dumping. Dalam kajian arkeologi, didapat beberapa situs dan tinggalan budaya obsidian megalitik hingga Sunda Klasik.

Hasil letusan gunungapi memberikan berkah, menjadikan tanahnya subur. Sehingga pasca undang-undang agraria 1870, mendorong pertumbuhan perkebunan swasta di kawasan ini. Diantaranya perkebunan dan produksi minyak sereh 1901-an. Struktur bangunan pabrik dan cerobong asapnya masih bisa disaksikan saat ini.

Dari peta lama, memberikan keterangan bahwa sekitar Nagreg hingga Balubur Limbangan bagian utara ditempati oleh perkebunan. Tanaman yang diusahakan adalah sereh, untuk diambil minyaknya. Ditandai dengan sisa bangunan pabrik pengolah minyak sereh di sekitar Nyalindung, Nagreg. Berupa sisa struktur bangunan, ditandai dengan masih berdirinya cerobong asap penyulingan minyak. Tingginya sekitar 15 meter, struktur cerobong disusun oleh batu bata merah. Menurut keterangan warga, sudah beroperasi sejak masa kolonial. Diperkirakan sekitar tahun 1920-an, kemudian selepas kemerdekaan diambil alih oleh pengusaha lokal. Beberapa keterangan menyebutkan nama M. Arsyad. Dari keterangan ibu Aisyah (68 tahun), pabrik ini ditutup karena harga minyak sereh turun. Seiring dengan biaya produksi dan ketersediaan bahan baku berkurang. Sehinga akhir tahun tujuh puluhan ditutup. Kondisi saat ini hanya menyisakan cerobong, kemudian di sebelah utaranya masih bisa dilihat beberapa bekas struktur pondasi bangunan. Kemudian ubin yang diperkirakan masih asli, berukuran sekitar 20 x 20 centimeter. Kemudian pondasinya disusun oleh batu bata merah. Dibagian samping struktur pondasi, terlihat bak-bak penampungan air. Diperkirakan pernah digunakan sebagai pembersihan dan pencucian batang sereh. Bak tersebut menampung air yang datang dari arah utara, kemudian outletnya ke sungai yang berada di sebelah selatan pabrik. Minyak sereh yang diusahakan adalah minyak atsiri, hasil dari ekstrak tanaman serai/ sereh (cymbopogon), dengan metode destilasi uap.

Tujuan selanjutnya ke Statsiun Nagreg. Pada papan nama statsiun, dituliskan elevasi +848 meter dpl. Dengan demikian merupakan titik statsiun tertinggi diantara Statsiun Cicaengka (+689 m), dan sebelah timurnya Statsiun Lebakjero (+818 m).

Perbedaan elevasi (elevation gain), antara Cicalengka dan Nagreg, sekitar 164 meter. terlihat dari posisi rel, dari arah barat kemudian sedikit naik secara bertahap ke arah timur. Titik tertingginya sekitar Pasir Karamat, sekitar +860 meter, kemudian melandai ke arah Lebak Jero. Perbedaan antara Stasiun Nagreg dan Stasiun Lebakjero lebih rendah sekitar 30 meter.

Perbedaan ketinggian ini menjadi tantangan dalam pembuatan jalur lintasan kereta api dari Cicalengka ke arah timur. Pada saat pembangunan jalur timur Bandung, Cicalengka merupakan stasiun terminus. Merupakan stasiun paling ujung timur yang memisahkan Bandung dan bagian timur. Stasiun ini diresmikan 10 September 1884, satu zaman dengan peresmian Stasiun Bandung. Pembangunan lanjutan lintasan ke arah timur, dilakukan segera. Mengingat dibutuhkannya akses menuju timur, melalui Nagreg. Jalur kereta api kemudian dikerjakan pada 1887. Pembukaan jalur Nagreg ke Lebak Jero, secara teknis sulit karena harus membobok Pasir Karamat. Disusun oleh lava masih dan tebal, dikerjakan secara manual. Menggunakan linggis, pahat dan alat sederhana lainya. Dicirikan dengan jejak penggunaan linggis, pada dinding tebing. Pembukaan jalur berupa celah yang dibobok, dengan tinggi sekitar 5-7 meter. Kemudian pada 1889 Stasiun Cicalengka menjadi lintasan dari Bandung ke Garut. Kemudian 1893, dilalui jurusan Bandung-Tasikmalaya.

Di Bagian puncak Pasir Karamat, didapati bunker. Berupa struktur bangunan dengan berbagai ukuran. Terdapat empat struktur bangunan, berjajar utara-selatan. Dibuat dari beton, dengan tebal hampir 90 cm., tanpa tulangan besi. Bentuknya seperti kubah memanjang, dilengkapi pintu dengan lebar 100 cm. terbuat dari besi. Keberadaan daun pintu sudah hilang, meninggalkan bekas engsel yang dibongkar paksa. Diperkirakan bunker ini merupakan sistem pertahanan militer, di sebelah timur Bandung. Memanfaatkan tinggian, sebagai titik strategis untuk mengamati pergerakan serangan dari arah timur. Melalui celah sempit yang diapit oleh Pasir Ciwulung sebelah utara, dan Pasir Karamat-Citiis di sebelah selatannya.

Di puncak Pasir Karamat ini, pemandangan luas membentang. Ke arah timurnya dibatasi oleh lembah Pasir Citiis. Dilintasi oleh jalur kereta api sepanjang kurang lebih 200 meter. menghubungkan Nagreg ke Lebakjero.

Sebelah utaranya terlihat kerucut, berlomba-lomba menghiasi kompleks gunungapi purba Kenda. Sistem gunungapi yang ditempat oleh kubah lava, dibatasi Nagreg sebelah barat, dan Simpenan sebelah baratnya. Diduga merupakan pusat letusan gunungapi Kendan-Sangianganjung.

Cerobong asap, peningalan pabrik pengolahan sereh di Nagreg.
Tapak linggis, pembobokan Pasir Karamat. Jalur keretaapi Nagreg-Lebakjero.
Bagian interior bunker Pasir Karamat
Struktur bunker, dengan latar G. Kaledong.

Catatan Geourban#41 Spoorwegen Majalaya

Sejak subuh udara terasa lembab, menandakan cuaca yang bisa saja hujan. Selepas matahari terbit, jalanan mash lenggang. Mengingat saat kegiatan dilaksanakan, jatuh pada hari minggu, 9 Agustus 2025. Namun bagi warga Dayeuhkolot, tidak ada hari libur, sehingga arus lalu lintas ke arah kota masih saja padat.

Warga memanfaatkan jalan utama, melalui jembatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Namun sejak seminggu, jembatan tersebut kembali ditutup. Dengan demikian, arus lalu lintas diatur menjadi satu arah. Lima orang petugas dari kepolisian berjaga di muka jembatan, memastikan agar tidak ada warga yang nakal menerobos, mengingat jembatan ini sangat penting. Menghubungkan perumahan warga di selatan Dayeuhkolot, menuju pusat kota Bandung.

Lokasi inilah menjadi titik pertemuan bagi peserta Geourban ke-41. Diantaranya hadir konten kreator, pemandu wisatabumi (geowisata), dan pegiat wisata heritage. Sesuai dengan ciri khas kegiatan Geourban, semua peserta mengendarai roda dua. Moda transportasi tersebut dianggap ekonomis, dimiliki semua orang dan yang terpenting adalah daya jelajahnya lebih luas. Mengingat kegiatan penelusuran jalur kereta api Bandung selatan, melalui jalan dan gang sempit warga di Dayeuhkolot, Ciparay hingga Majalaya.

Kegiatan diawali menyusuri kembali jembatan yang melintasi Ci Tarum. Jembatan Dayeuhkolot menghubungkan Citeureup ke Baleendah sebelah selatannya. Saat kegiatan Geourban ke-41, sedang dalam perbaikan. Akibat sedimentasi tinggi sekitar Dayeuhkolot, mengakibatkan sering terlanda bajir tahunan. Tingginya antara satu hingga dua meter lebih, menenggelamkan rumah-rumah warga sepanjang bantaran sungai. Kondisi demikian bisa terjadi akibat disumbang oleh dua sungai, dari arah selatan mengalir Ci Sangkuy yang hulunya di G. Malabar. Kemudian Ci Kapundung, dari lereng G. Bukittunggul Bandung utara. Kedua sungai tersebut bermuara di sekitar Dayeukolot, sehingga menghimpun sedimentasi tinggi. Selain itu permasalahan sampah, dan perubahan penataan dihulu. Mengakibatkan banjir kiriman, bila hujan di hulu.

Kegiatan yang dibalut dalam kegiatan penelusuran sejarah perkeretaapian, menapaki kembali jalur lintasan. Jalur kereta api masa kolonial, menghubungkan Dayeuhkolot ke Majalaya, melalui Ciparay. Selain itu mengunjungi situs budaya, G. Munjul. Perbukitan intrusi, sektiar Munjul yang diperkirakan pernah menjadi sentra lintas budaya lama sejak megalitik.

Sebelah timur dari jembatan Dayeuhkolot, membentang jembatan kereta api. Panjangnya kurang lebih 55 meter, melintasi Ci Tarum. Tiang-tiang besi yang menyangga lintasan rel, terlihat kokoh membentang. Menyangga lebar rel, sekitar 1.13 mm. lebih sempit dibandingkan lebar jalur rel kereta modern (standard gauge). Seperti penggunaan jalur kereta api cepat di Indonesia, menggunakan lebar 1.435 mm.

Dalam peta lama kolonial Kaart van het Eiland Java (1855), peta yang disusun oleh naturalis Jerman. Menggambarkan posisi Bandong Toea, atau Dayeuhkolot saat ini. Dalam keterangan peta Indische spoorweg-politiek (1926), nama ibu kota kabupaten Bandung, dituliskan nama Bojongasih. Berada di dua pertemuan sungai. Tji Sangoei atau Ci Sangkuy datang dari arah selatan. Kemudian Tji Keboedoeng atau Ci Kapundung. Pertemuannya persis di Dayeuhkolot, sehingga titik ini menjadi sangat penting. Menghubungkan dataran tinggi yang didominasi perkebunan, dan pusat kota ekonomi di sebelah utara.

Sistem transportasi awal abad ke-19 sudah berkembang, didahului oleh modernisasi jalan regional. Daendels pada 1810 memperlebar jalan yang telah ada, menghubungkan pusat kota Batavia ke pedalaman priangan. Sehingga perkebunan yang berada diwilayah Preanger Regentschappen, bisa diakses melalui jalan raya. Sering perkembangan teknologi, pedati yang lambat, kemudian digantikan dengan moda transportasi massal. Paa 1884, kereta api memasuki kota Bandung. menghubungkan Cianjur, Bogor hingga Jakarta pada saat itu.

Perjalanan dimulai dari jembatan kereta api yang melintasi Ci Tarum. Berupa jembatan yang dibangun menggunakan struktur baja, ciri teknologi sipil pembangunan jembatan modern. Bila merujuk kepada foto lama kolonial tahun 1930-an, struktur bajanya berupa melengkung. Terdiri dari dua bagian penyangga, kemudian satu struktur melengkung utama. Bentuk demikian berbeda dengan struktur yang dikenal saat ini, berupa struktur baja yang membentuk sudut siku.

Membuka langkah menuju mulut jembatan, berupa susunan baja tebal. Jalur rel kereta selebar 1,130 mm, kini telah dialasi beton. Dari jembatan kereta api Dayeuhkolot, jalur lintasan kereta api bercabang. Satu jalur lintasan ke arah selatan menuju Banjaran. Menghubungkan Dayeuhkolot ke Soreang, dibuka 13 Februari 1921. Kemudian dilanjutkan ke dataran tinggi Ciwidey dan beroperasi penuh 17 Juni 1924. Jalur ini termasuk menguras kas perusahaan negara kolonial saat itu, akibat melintasi beberapa sungai. Sehingga memerlukan pembangunan jembatan panjang.

Jalur Dayeuhkolot ke Majalaya, secara penuh beroperasi sejak 3 Maret 1922. Jalur kereta api menuju Majalaya digunakan untuk jasa pengangkutan hasil perkebunan dan tekstil dari Bandung selatan. Panjang lintasan, kurang lebih 17 km. Memanjang dari barat ke timur, sejajar dengan jalann utama dan aliran Ci Tarum. Melewati tujuh halte, dari Dayeuhkolot ke Cilelea, Manggahang, Jelekong, Ciheulang, Paeureusan, Ciparay, Cibungur kemudian berakhir di Majalaya.

Beberapa halte berhasil dikunjungi, berdasarkan dari informasi hasil penelusuran sebelumnya. Kemudian pada saat kunjungan lapangan dikonfirmasi ulang, melalui wawancara dengan warga yang telah berusia di atas 60 tahun. Mengingat jalur lintasan rel kereta api ke Majalaya telah hilang, akibat dibongkar pada pendudukan Jepang tahun 1942 hingga 1945. Pembongkaran batang rel kereta api, dikerjakan oleh para interniran dan penduduk bumi putra. Para tawanan asing warga Eropa dan Amerika yang telah menetap di kota Bandung pada masa kolonial. Dikerjakan di bawah kondisi kerja paksa, sehingga dilaporkan beberapa orang meninggal dunia akibat kelaparan, kekurangan ketersediaan air bersih hingga penyakit. Kesaksian kekejaman tentara Jepang, dilukiskan dalam buku Onder De Japanse Knoet (1945). Buku yang berisi kesaksian, penyiksaan dan kerja paksa bagi tawanan perang di Bandung dan sekitarnya.

Saat ini lintasan kereta api hanya dicirikan, berupa jalan sempit yang diapit oleh rumah warga. Dalam penelusuran kembali, batang rel maupun bantalan kayu telah tidak ditemukan. Mengingat semuanya dibongkar dan diangkut, untuk pembuatan jalur kereta api di Saketi, Bayah. Bukti jalur lintasan hanya bisa disaksikan dari kesaksian warga yang sudah berusia manula. Berdasarkan ingatan mereka, hanya mampu menunjukan halte atau pemberhentian kereta api. Selebihnya berupa bukti fisik, seperti bantalan rel kereta api (railbed), sisa pondasi jembatan, tanggul dan kelurusan jalur sempit.

Sebagai alat bantu panduan jalur, PT. KAI telah melakukan survey ulang. Ditandai dengan pemasangan patok KAI di sepanjang jalur. Berupa patok yang dibuat dari beton, dengan ukuran sekitar satu meter. Ditanam berpasangan, menandakan lebar jalur lintasan. Keberadaan patok tersebut, memudahkan penelusuran kembali jalur kereta api Dayeuhkolot ke Majalaya.

Selain patok modern milik PT KAI, dibeberapa tempat ditemui patok awal yang dipasang oleh Staatsspoorwegen disingkat SS. Sesuai dengan tanda inisial perusahaan perkeretaapian negara, pada masa kolonial Belanda.

Beberapa halte atau pemberhentian kereta api jalur Dayeuhkolot ke Majalaya, berjumlah 7 pemberhentian, termasuk halte Ciparay. Beberapa halte lainnya sudah tidak memberikan bentuk struktur bangunan, karena sudah beralih fungsi. Terhitung sudah melampaui waktu 82 tahun, terhitung sejak pembongkaran pada 1942-43. Sehingga bangunan halte sudah hilang, akibat berganti menjadi rumah warga, maupun sarana fasilitas kolektif seperti sekolah dan aula.

Saat dikunjungi, halte Cileles, Manggahan, sudah tidak ada. Sedangkan halte Jelekong telah berubah fungsi menjadi Sekolah Dasar 2 Cangkring. Seorang warga menunjuk tempat lain, yaitu Puskesmas Jelekong. Perbedaan penentuan lokasi halte terjadi pada halte lainya, diantaranya Ciheulang, Paneureusan, dan Cibungur. Sedangkan halte Ciparay dan Majalaya masih bisa diduga posisinya.

Selain penelusuran lintasan kereta api, rombongan berkesempatan mengunjungi situs budaya di sekitar Manggahang, Baleendah. Berupa perbukitan intrusi, diduga pernah menjadi titik sakral pada masa Prasunda hingga Sundaklasik. Keberadaanya masih perlu kajian arkeologi, mengingat keberadaanya sangat strategis. Bila merujuk kepada peta lama Topographisch Bureau (1905), tingginya sekitar 685 meter dpl. Dalam peta tersebut memperlihatkan mender Ci Tarum menyentuh kaki bukit Munjul. Sedangkan ke arah utaranya adalah hamparan muras atau rawa. Membentang dari Ujung Berung, hingga Ciparay. Disebut Rancahalang yang bermakna rawa, masih mendominasi dataran rendah Bandung selatan. Bila disandingkan dengan google maps saat ini, posisi sungai telah bergeser sekitar 700 meter ke arah utara. Penyebabnya adalah karena penyodetan akhir tahun 80-an, dan sedimentasi tinggi.

Kegiatan ditutup di stasiun Majalaya. Walaupun struktur bangunannya telah hilang, namun ciri-cirinya masih bisa dikenali. Diantaranya masih didapati patok dengan inisial SS, dan bagunan tua. Diperkirakan merupakan rumah tinggal pejabat perkeretaapian Belanda pada saat itu. Penelusuran ini kembali jalur kereta api ini, memberikan gambaran upaya kolonial dalam merancang sistem moda transportasi massal. Memanfaatkan topografi, dan sumber daya alam yang tersedia. Mengingat pembangunan jalur kereta api jalur Dayeuhkolot-Majalaya memiliki peranan penting, sebagai penggerak ekonomi tekstil awal tahun 1930-an dan pengangkutan hasil perkebunan.

Sisa bantalan keretapi (railbed), di Sarimahi, Ciparay
Patok Staatsspoorwegen (SS) dipemakaman Cisoka, Majalaya
Bangunan gaya kolonial, di Statsiun Majalaya

Catatan Geourban#40 Puncakcae

Jatuh di hari kerja, Selasa, 5 Agustus 2025. Waktu jelang pagi, saat sebagian besar warga Bandung selatan berlomba-lomba menuju pusat kota. Berdesakan memenuhi ruas jalan Gedebage, hingga jalan bypass Soekarno-Hatta Bandung menuju pusat kota. Kondisi demikian menjadi sarapan harian bagi warga Bandung yang kini menempati lingkar luar kota. Padatnya ruas jalan oleh ragam kendaraan, mengantarkan kami ke titik pertemuan di salah satu toko serba ada di sekitar Sapan. Pemilihan lokasi tersebut, berada di sebelah selatan dari batas Ci Tarum. Masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung, tepatnya di Sapan, Bojongemas, Ciparay.

Dalam pengantar kegiatan ini, Deni menguraikan rencana perjalanan. Mengupas kembali sebaran budaya obsidian Cekungan Bandung bagian selatan. Melihat kembali sumber obsidian di G. Kiamis seperti yang diuraikan oleh Neuman van Padang. Berupa laporan ilmiah pada pertemuan Fourth Pacific Science Congress di Jawa pada 1929. Menuliskan buku panduan Obsidian of Goeneng Kiamis untuk para peserta kongres ilmiah di kota Bandung pada saat itu. Petunjuk tersebut menjadi dasar penelusuran ulang, tentang keberadaan sumber obsidian di Cekungan Bandung.

Penunjuk waktu mengarahkan angka tujuh lebih tiga puluh menit, seiring dengan kedatangan para peserta terakhir yang bergabung. Terdiri dari lima orang, diantaranya Ali, Mili, Rosa, Andi dan Deni selaku pembawa narasi kegiatan ini. Sesuai dengan rencana kegiatan, masing-masing menunggangi kendaraan roda dua berbagai merek.

Hamparan sawah luas sekitar Ciparay, terbuka luas ke segala arah. Menandai perjalanan Geourban dimulai, bergerak dari Sapan ke arah selatan. Punggungan perbukitan tua membatasi tepi Bandung bagian selatan. Meskipun dalam selimut kabut, tetapi terlihat beberapa puncak yang menaungi sebagian besar Ciparay. Diantaranya G. Nini yang berdampingan dengan Bukitcula, sebelah barat. Dari lereng perbukitan tersebut, merupakan ruas jalan Raya Pacet yang menghubungkan Ciparay ke Kertasari.

Selepas alun-alun Ciparay hingga tiba di sekitar pasar Maruyung, Seratus meter lebih ke seltan dari pasar tradisional, didapati warung makan Lontong Barjah. Kudapan khas Ciparay, berupa potongan lontong disiram sebelah bumbu. Makanan khas yang disajikan untuk sarapan, telah hadir sejak 1953. Menurut pemilik warung, merupakan keturunan ke-tiga, tetap mempertahankan resep sejak lama. Berupa sebelah macam, dengan bahan dasar bumbu kacang dan santan. Selebihnya adalah racikan bumbu yang diturunkan dari generasi sebelumnya.

Perjalanan dilanjutkan melalui Kertasari, berupa jalanan menanjak hingga Pacet. Pemandangan bersalin rupa dari hunian warga, menjadi perkebunan yang memanfaatkan lereng terjal. Sebelah timur terlihat G. Rakutak, sistem gunungapi purba yang dibelah oleh lembah dalam. Di dalam lembah tersebut mengalirlah Ci Tarum ke arah utara, kemudian di Majalaya berbelok ke arah timur.

Memasuki dataran tinggi Kertasari, kemudian tiba di Cihawuk. Belok ke arah kiri melalui pemukiman warga. Sebagian telah dialasi beton, sebagian lagi berupa makadam hingga batas vegetasi perkebunan warga dengan hutan. Dalam peta lama dituliskan Poentjak Tjae (1928). Tinggian punggungan gunungapi yang memanjang dari selatan ke utara. Jalan tersebut menyambungkan dari Cihawuk, Kertasari di Kabupaten Bandung, ke Cibuniherang, Kabupaten Garut.

Sebagian besar berupa tanjakan dan turunan curam, menentukan jalur yang dilaluinya adalah memotong punggungan gunung. Sebagian besar warga menggunakan jalur ini sebagai jalan lintas, dari Kabupaten Bandung menuju Kabupaten Garut. Mengingat jalur yang memang memangkas jarak, terutama bagi warga yang akan berpergian ke arah Garut selatan ke Cikajang melalui Samarang.

Selepas jalan Puncakcae, disambut oleh portal kawasan geothermal. Dikelola oleh pihak swasta, Star Energy Darajat II. Merupakan kontrak operasi bersama dengan Pertamina Geothermal Energy Tbk. Jalanan lebar, memasuki kawasan objek vital milik negara.

Berupa lapangan kawah yang tersebar di lereng G. Cawene. Dari perhitungan dengan menggunakan bantuan google maps, didapat luas sekitar 8 Hektar. Didapati solfatar dan fumarol, dicirikan dengan uap panas yang keluar dari lubang. Sebelah barat daya, mendekati jalan menuju sumur eksplorasi, terlihat beberapa kolam yang telah disusun sedemikian rupa. Menandakan sumber mata air panas tersebut ditata, kemungkinan dialirkan ke wisata Darajat yang berada di sebelah timurnya.

Didapati juga bualan lumpur, menemukan mata air dangkal yang terkena proses hidrotermal. Jumlah lubang kawahnya bisa lebih dari tiga puluh, tersebar dari utara ke selatan, menempati bidang miring. Sebelah baratnya dibatasi oleh sungai, hulunya berasal dari utara lereng.

Pelancong Perancis, pernah bertandang ke Kawah Manuk pada 1836. Menceritakan kisahnya, harus bersusah payah menggunakan kereta berkudam malam hari. Kemudian dilanjutkan pagi hingga siang menuju kawah Manuk.

Dari Kawah Manuk, dilanjutkan ke kawasan wisata Darajat.Selepas matahari menunjam di ubun-ubun, udara terasa lebih dingin. Mengingat puncak Darajat di atas seribu meter di atas permukaan laut. Rombongan diarahkan ke arah barat, mengikuti jalan Darajat hinga tiba sekitar Padaawas. Tidak jauh dari jalan raya tersebut, didapati gudang pengepul dan pengolahan limbah bahan keramik milik warga. Termasuk diantaranya adalah timbunan batuan obsidian. Warga lokal menyebutnya batu celeng, mungkin karena warnanya gelap.

Di Bagian belakang adalah perkebunan milik warga, dihubungkan melalui jalan setapak. Sepanjang jalan setapak tersebut disambut oleh endapan piroklastik yang telah lapuk, diperkirakan akibat proses hidrotermal. Diantara perlapisan endapan tersebut, terlihapa sisipan obsidian dalam struktur fragmen. Dibeberapa tempat masih ditemui bongkah-bongkah obsidian, tersebar terpisah menempati dasar sungai kecil. Kemudian terlihat ceruk yang kini telah ditutupi vegetasi, sisa dari hasil kegiatan penambangan batu obsidian.

Gudang pengepulan terlihat batuan obsidian berbagai ukuran, dibungkus karung. Melimpah menjadi tumpukan. Bila dihitung sekilas, total keseluruhannya mampu diangkut oleh truk dobel dalam dua kali muatan.

Menurut pengelola pengepul, batu tersebut dimanfaatkan sebagai penghias pot tanaman, rumah atau nisan kuburan. Dengan cara fragmen batuan tersebut dihancurkan menggunakan alat penghancur batuan (crusher). Dijual perkilo dalam bentuk kerikil, kepada penjual material atau berdasarkan pesanan konsumen.

Keberadaan batu obsidian di sekitar Padaawas, Samarang, menegaskan sumber perkakas megalitik. Dalam laporan arkeologi Rothpletz, W. , Alte siedlungsplätze beim Bandung (Java) und die Entdeckung (1952), ditemukan alat dan serpih yang terbuat dari obsidian. Tersebar di sebagian besar Bandung bagian utara, dan sebelah selatan. Penyebarannya dikuatkan melalui peta sebaran budaya obsidian oleh Koeningswald, G.H.R. von, dalam laporan Das Neolithicum der Umgebung von Bandung: Tijdschrift voor Indiesche Taal-Land, on Volkenkunde, Deel Lxxv, Afl.3o,” 1935. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa sumber obsidian di budaya obsidian Cekungan Bandung berasal dari dua sumber. Sebelah timur di G. Kendan, dan sebelah selatannya berada di G. Kiamis, Samarang, Kabupaten Garut.

Kegiatan tambang dan pengambilan batu obsidian sekitar Rejeng, Padawans, secara terus menerus. Dapat mengakibatkan hilangnya sumber daya obsidian. Sehingga bukti keberadaan obsidian akan hilang selamanya. Sehingga perlu segera dibuat aturan penbangan batu obsidian, melalui upaya perlindungan.

Kawah Manuk kini disebut Kawah Darajat.
Jalan yang membelah punggunan gunung, di Puncakcae.

Catatan Geourban#39 Cicalengka

Sudah satu minggu, berwara di media sosial mewartakan hujan deras melanda sebagian besar wilayah Bandung. Begitu juga dengan laman berita, prakiraan cuaca akhir bulan Mei akan disergap hujan sepanjang siang hingga sore. Berita tersebut menjadi perhatian, terutama apa saja yang perlu diantisipasi dan dimitasi jelang kegiatan di lapangan.

Seperti layaknya menduga, bisa terjadi atau sebaliknya. Walaupun pagi selepas subuh, langit masih digelayuti awan putih. Menyergap seluas mata memandang ke langit, bayang-bayang hujan akan jatuh kapan saja. Dalam balutan udara pagi, partisipan satu persatu hadir di tempat pertemuan yang telah ditentukan. Jumlah peserta yang hadir lima orang, dari latar belakang berbeda. Diantaranya pegiat wisata, pemilik biro perjalanan pariwisata, profesional, pemandu wisata bumi hingga pegiat budaya.

Geourban ke-29 dilaksanakan pada hari minggu, 25 Mei 2025. Kunjungan melihat kembali linimasa sejarah abad ke-8, hadirnya kerajaan Sunda di sebelah timur Cekungan Bandung. Kemudian menapaki kembali lahirnya kesetaraan perempuan, melalui Sakola Istri Dewi Sartika di Cicalengka. Dilanjutkan mengupas perkembangan perkebunan teh Onderneming Sindangwangi, ditandai dengan sisa Theefabriek di Sindulang. Kegiatan ditutup dengan menikmati mata air di lereng sebelah selatan, G. Kerenceng-Kareumbi.

Seperti kegiatan Geourban sebelumnya, partisipan disarankan menggunakan roda dua atau motor.Jenis transportasi ini mudah dan murah dalam operasional, dan sudah dimiliki peserta. Sehingga mendukung pergerakan, dan daya jangkau ke lokasi yang akan dikunjungi. Total jarak yang ditempuh dalam kegiatan ini, sekitar 27 Kilometer dengan durasi tidak lebih dari 1 jam perjalanan. Dimulai dari titik pemberangkatan di Cileunyi, kemudian mengambil jalur jalan raya Rancaekek-Cicalengka. Jalan utama yang menghubungkan Bandung ke arah timur.

Mengawali kegiatan, Deni Sugandi menyampaikan rencana kegiatan. Menguraikan tujuan kunjungan, mulai dari Candi Bojongmenje kemudian bergerak ke arah timur Cicalengka. Diakhiri kunjungan ke Sindulang. Kegiatan dilakukan menggunakan roda dua, secar berkonvoi. Untuk menjaga keselamatan perjalanan, dipastikan sistem pengaturan pergerakan dan titik koordinat yang dibagikan sebelum berangkat. Sehingga partisipan yang tertinggal dalam perjalanan, bisa memantau titik pertemuan selanjutnya.

Candi Bojongmenje

Jalanan tidak terlalu ramai, karena waktu masih pagi dan jatuh di hari minggu. Lenggang tidak seperti pada jam-jam sibuk. Mengingat jalan raya Rancaekek adalah penghubung dari barat ke timur, dari Bandung ke kota Garut atau Tasikmalaya. Jelang pukul 08.00 WIB, partisipan tiba di halaman pabrik, sekitar Sukadana di tepi jalan Rancaekek. Ruas halaman gerbang cukup luas, sehingga untuk sementara dimanfaatkan menjadi sarana parkir partisipan.

Dilanjutkan berjalan kaki menyusuri jalan raya Rancaekek, kemudian berbelok ke gang sempit. Tidak ada papan informasi petunjuk menuju lokasi, hanya papan keterangan nama situs di batas sungai. Hunian warga yang berhimpitan dengan batas areal pabrik, dicirikan dengan tembok tinggi sekitar 3 meter. Didapati jembatan sebatas orang berjalan kaki, melintasi Ci Mande. Anak sungai Ci Tarik, bagian dari Daerh Aliran Sungai Ci Tarum. Dilaporkan oleh warga, sungai ini beberapa kali meluap menggenangi Desa Cangkuang. Kondisi demikian menandakan lebar sungai menyempit, akibat hunian yang menempati bantaran. Selepas jembatan, kemudian menyusuri gang yang dipagari oleh dinding pabrik. Mengarahkan ke situs Candi Bojongmenje. Dari peta lama lembar Linggar, penerbit Topographisch Inrichting, Batavia 1908. Memberikan gambaran posisi keberadaan candi berupa lingkaran, tanpa ada keterangan lain. Keberadaan situs tersebut berada di tepi sungai. Sedangkan pada kondisi saat ini, berjarak sekitar 100 meter. Dengan demikian diperkirakan terjadi pembelokan arah sungai, sehingga posisinya bergeser ke arah utara. Dalam beberapa keterangan arkeologi, sungai berperan penting dalam penempatan candi. Fungsi candi sebagai pemujaan dewa, bisa juga digunakan sebagai tempat untuk mengenai raja atau penguasa. Ditempatkan mendekati sungai, mencirikan sebagai acuan dalam pembangunan candi, karena air dianggap suci dalam penting dalam kehidupan agama Hindu-Budha saat itu.

Kembali ke lembar peta lama, memperlihatkan adanya jalur setapak menuju situs, disebut Cipareuag. Keberadaan situs tersebut berada dalam lingkar dalam Ci Mande, digambarkan melalui garis pengaliran sungai yang mengalir dari timur ke barat.

Dalam keterangan penelitian Anas Anwar Nasirin, dari Program Studi Sejarah Unpad (2021).  Keberadaan candi ini diketahui sejak abad ke-8 Masehi terkait erat dengan keruntuhan Kerajaan Tarumanegara dan berdirinya Kerajaan Sunda. Candi Bojongmenje berada pada lintasan sejarah keberadaan kerajaan Sunda awal. Sejak pasca runtuhnya Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-7 Masehi dan berdirinya Kerajaan Sunda Abad ke-10 Masehi. Keterangan lain disampaikan Djubianto (2002), mendukung pendapat Anas, sedangkan Haryono (2002), menyatakan perkiraan keberadaan peradaban Bojongmenje sekitar abad ke-5 hingga ke-6. Sedangkan dari keterangan hasil radiocarbon yang dipublikasi oleh Balai Arkeologi Bandung, berada di abad ke-8 Masehi.

Candi Bojongmenje berada di Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Berada di elevasi 698 meter dpl., merupakan titik rendah di wilayah Cekungan Bandung. Luas wilayahnya 843 meter persegi, dikelilingi oleh tembok beton milik pabrik. Kemudian sebagian lagi berada di dalam kawasan pabrik.

Keberadaan candi bercorak Hindu-Budha ini, mulai dipublikasi tahun 2002. Pada saat ditemukan, berada di lahan kuburan. Penemuan candi tersebut sudah sejak lama diketahui warga, namun belum dalam bentuk struktur. Menurut keterangan warga, ditemukan beberapa bentuk arca sebesar bayi. Sehingga masyarakat menyebutnya dengan candi orok (bayi). Beberapa tahun kemudian, dilakukan tindakan ekskavasi oleh Balar Arkeologi Bandung pada 2003. Sebagai wujud turunan aturan berupa Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010, Tentang Cagar Budaya.

Bentuk temuan yang dikerjakan, hanya menemukan bagian pondasi hingga bagian kaki. Sedangkan bagian atasnya tidak diketahui, diperkirakan telah hilang atau belum ditemukan. Candi sisi barat berukuran 7.04 meter, dan sisi selatan nya 6.94 meter. Sedangkan sisi timur tidak dapat diukur, karena batuan penyusun candi tidak diketahui.

Menurut penelitian Balar Bandung, material candi disusun dari batuan tuff atau gunungapi yang telah membatu dan andesit (lava). Sumbernya belum diketahui, tetapi bila merujuk dari batuan penyusunnya berasal dari materi hasil letusan gunugapi. Keberadaan bahan tersebut, sangat memungkinkan karena bahan hasil endapan gunugapi melimpah. Di sebelah utaranya didapati G. Geulis-Jarian, merupakan sisa gunungapi purba. Jaraknya sekitar 4,6 km dari pusat letusan ke areal candi. Produk letusannya adalah aliran lava dan piroklastik, besar kemungkinan material atau bahan penyusun candi diambil dari gunungapi purba ini.

Cicalengka

Perjalanan selanjutnya ke arah timur, menuju Cicalengka. Kota kecamatan, yang bernaung di wilayah Kabupaten Bandung, berada di batas timur Cekungan Bandung. Menapaki jalan raya provinsi, kemudian berbelok ke arah selatan menuju pusat kota. Di sebelah selatannya ditemui stasiun Cicalengka. Merupakan stasiun kereta api kelas I, berada di Cikuya, sebelah barat dari pusat kota Cicalengka.

Saat ini merupakan batas jalur kereta api rel ganda Bandung Raya, sebelum memasuki kawasan Leles, Garut. Pada masa kolonial, rintisan pembangunan jalur ini telah lama diusahakan. Dilakukan oleh perusahaan swasta Staatsspoorwegen disingkat SS. Hingga pada 10 September 1884, dibuka secara resmi. Saat itu merupakan stasiun terminus, atau stasiun diujung jalur kereta api yang menjadi titik akhir perjalanan. Beberapa tahun kemudian, diusahakan pembukaan jalan ke arah timur. Menghubungkan dari Cicalengka ke kota Garut. Dibutuhkan waktu kurang lebih dua tahun, untuk menembus batuan keras sekitar Leles. Menyebabkan pembuatan jalur lintasan kereta apinya harus berkelok-kelok, menunggangi kontur perbukitan. Agar jalur yang dilaluinya landai, sehingga bisa dilalui secara aman oleh lokomotif.

Saat ini bangunannya telah disulap bergaya modern, namun di sisi sebelah baratnya masih bisa disaksikan fasad awal dari stasiun. Walaupun sebagian besar materialnya telah diganti, namun masih mempertahankan bentuk seperti awal berdiri. Dari stasiun Cicalengka, kemudian bergeser ke alun-alun Cicalengka, menuju tempat tinggal Dewi Sartika saat remaja.

Lokasi yang dituju adalah SMP 1 Cicalengka, berada di sebelah selatan alun-alun. Agar leluasa bergerak, rombongan memarkir kendaraan di lapangan parkir pasar. Kemudian dilanjutkan berjalan kaki, menembus jajaran pedagang yang memadati sekitar alun-alun Cicalengka. Pasar melimpah hingga badan jalan, karena jatuh di hari minggu. Pemandangan yang biasa terlihat di jantung kota Cicalengka, menandakan hari libur khususnya minggu merupakan hari bebas berjualan. Sebagian besar warga memanfaatkan untuk berolahraga, memadati pusat kota.

Persis di sebelah pasar alun-alun Cicalengka, berdiri bangunan bertingkat dua.adalah gedung Sekolah Menengah Pertama 1 Cicalengka. Berada di sebelah selatan alun-alun Cicalengka, di jalan Dipati Ukur Nomor 34. Didapati dua bangunan baru, mengapit bangunan lama. Di Bagian barat ditempati lapangan olah raga bola basket, dan lapangan yang biasanya digunakan untuk kegiatan upacara bendera.

Bangunan lama menempati bagian tengah kompleks sekolahan, dicirikan dengan gaya arsitektur kolonial. Bagian depannya berupa pintu utama yang diapit oleh jendela berukuran besar. Bentuk bangunannya berbentuk bujur sangkar, memanjang utara-selatan. Bagian sampingnya berjajar daun jendela berukuran besar, dan bagian pondasinya hingga satu meter dihiasi batu andesit. Ciri fasad khas bangunan kolonial yang belum mengenal teknik pengecoran beton dan tulangan besi. Dengan demikian ketebalan dinding sekitar 30 sentimeter lebih. Agar bangunan kokoh dan mampu menopang atap genting.

Bangunan gaya arsitektur kolonial ini menjadi rumah singgah Raden Ajeng Dewi Sartika. Rumah yang kelak membawa pencerahan bagi kaum perempuan Sunda pada masa kolonial. Dewi Sartika pada saat itu berusia sepuluh tahun, dititipkan kepada pamannya seorang Patih Cicalengka.

Dewi Sartika tumbuh dan besar di rumah tersebut, selama delapan tahun. Antara 1894 hingga 1902 pada usianya 18 tahun. Selama periode tersebut, membentuk cara berpikirnya, hingga mampu memiliki pandangan moderat. Sehingga pada tahun-tahun berikutnya, Dewi Sartika memutuskan untuk kembali ke Bandung. Pada tahun 1904 mendirikan sekolah pertama untuk kaum perempuan, disebut Kautamaan Istri menempati ruangan belakang pendopo Kabupaten Bandung.

Di Sebelah utara alun-alun Cicalengka, didapati rumah tinggal dengan gaya arsitektur kolonial. Masyarakat menyebutnya rumah Destik, atau Dewi Sartika. Rumah dengan halaman luas, masih mempertahankan bentuk awal. Namun beberapa pendapat menyatakan bahwa rumah ini bukan tempat tinggal Dewi Sartika.

Dari rumah ini ke arah timur, didapati patung dada Dewi Sartika. Patung yang diperkirakan dibangun oleh pemerintah daerah, untuk mengenang keberadaan  Dewi Sartika di Cicalengka. Terletak di persimpangan Jalan Kaca-Kaca, dan Dewi Sartika. Disebut Monumen Raden Dewi Sartika, satu-satunya tinggalan fisik yang menegaskan keberadaan tokoh pergerakan perempuan pernah ada di Cicalengka.

Dilanjutkan kembali ke alun-alun, kemudian berbelok ke arah selatan. Menyusuri Jalan Pasar, melewati Kantor Polsek Cicalengka. Kemudian setelah tiba di samping SDN Cicalengka 5, didapati lahan kosong. Keberadaanya tertutup oleh warung dan pos ronda warga. Tetapi bila dilihat secara teliti, terlihat pondasi yang memiliki susunan batuan. Bentuk khas pondasi struktur bangunan, dengan memanfaatkan batu andesit sebagai penguat bangunan.

Merupakan sisa dari struktur bangunan gereja St. Antonius. Gereja Katolik yang pernah didirikan untuk melayani umat katolik di Cicalengka. Diresmikan penggunaanya ada 13 Juni 1931, dibuka dan diberkati oleh Pastor van Asseldonk. Keberadaan gereja Katolik ini hilang dari catatan sejarah, seiring dibongkar. Menyisakan tanah kosong, dan struktur tiang bangunan saja yang bisa dilihat hari ini.

Dari Cicalengka kemudian dilanjutkan menuju Dampit, melihat kembali pabrik teh pada masa kolonial. Merupakan bagian dari Onderneming Sindang Wangi, mengupayakan perkebunan teh dan karet pada 1900-an. Bangunannya kini telah hilang, ditempati SD Dampit 2, di Desa Tanjungwangi, Cicalengka, Kabupaten Bandung. Kegiatan penutup berakhir di Saripati Ecofarm. Wisata berbasis peternakan dan pertanian yang berada di lereng selatan G. Kerenceng-Kareumbi. Di lokasi ini mengunjungi Kampung Awi Baraja, Tegalmanggung, Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Berupa kepercayaan masyarakat terhadap pelestarian bambu.

Di depan Statsiun Cicalengka
Di depan monumen Dewi Sartika, Cicalengka
Sisa pondasi gerjeja St. Antonius di Cicalengka
Rel kereta api buatan Carnegie, didatangkan dari Amerika
Di depan SD Dampit 2, sisa bangunan pabrik teh Sindangwangi
Diperkirakan bagia belakang rumah Patih Cicalengka, awal 1900-an.