Catatan Geourban#45 Jembarwangi

Selepas bulan Juli 2025 usai, pembangunan jalan Lingkar Utara Jatigede telah selesai dibangun. Walaupun belum resmi dibuka, tetapi bisa dilintasi dalam jumlah kendaraan terbatas. Kesempatan inilah dimanfaatkan, meninjau jalan yang melingkar sisi utara waduk Jatigede, Sumedang. Kegiatan ini merupakan bagian dari acara Geourban ke-45, dengan tajuk Jembarwangi pada 10 September 2025, 

Kegiatan inisiasi wisata bumi sekitar Sumedang, dimulai dari sisi sebelah utara Waduk Jatigede. Memanfaatkan jalur baru lingkar utara, dari percabangan jalan kabupaten Situraja ke Darmaraja. Mulut jalan berada di sekitar tanjakan Cinangsi yang berada dibahu dua gunung. Sebelah timurnya adalah G. Baju, dan ke arah timurnya G. Tanjung. Jalannya lebar, diapit oleh parit drainage. Menandakan kelas jalan lingkar ini merupakan proyek nasional. Selepas percabangan Cinangsi, disambut oleh jalanan yang mendaki. Agar tidak terlalu terjal, dilakukan pembobokan perbukitan G. Tanjung 519 mdpl. Kemudian dilanjutkan ke arah timur yang mulai melandai melewati perbukitan Pasir Hingkik 513 mdpl.

Arah pandangan luas tidak terhalang. Ke arah timur terlihat hamparan air yang luas. Waduk Jatigede menenggelamkan 28 desa, dari 5 kecamatan sejak 2015. Dibutuhkan waktu hampir setengah tahun, untuk mencapai paras air optimal. Luas genangan airnya saat ini, kurang lebih sekitar 42 km2. Titik tinggi paras airnya, 260 meter di atas mukalaut. Satu-satunya pulau yang tampak dari arah Cinangsi, adalah G. Surian 310 mdpl. Kerucutnya timbul di atas hamparan air, berhadapan langsung dengan poros bendungan Jatigede. 

Sekitar 15 menit berkendara, di sebelah timur terlihat perbukitan yang mengungguli tinggian. Disebut Pasir Julang, atau masyarakat menyebutnya G. Julang. Dalam peta geologi lembar Arjawinangun (Djuri, 2011), merupakan Hasil Gunungapi Tua-Lava (Qvl). Produk G. Lingga 1125 mdpl.  Dalam tafsiran berdasarkan peta geologi tersebut, memberikan dugaan arah aliran lavanya mengalir ke timur laut hingga Nangerang. Sehingga diperkirakan G. Julang merupakan fasies proksimal (Bogie & Mackenzie, 1998). Perkiraan lainnya adalah perbukitan tersebut merupakan hasil penerobosan magma, disebut intrusi batuan beku. Menerobos batuan sedimen 

Bila merujuk pada pendapat di atas, memberikan petunjuk bahwa G. Julang bukan perbukitan intrusi batuan beku. Melainkan produk aliran lava G. Lingga yang berada di sebelah barat daya yang berjarak sekitar 4.5 km. Disusun batuan beku, berwarna abu terang menandakan didominasi mineral andesitik. Sejak awal pembangunan Waduk Jatigede, sumber batuan yang berada di G. Julang dimanfaatkan untuk kegiatan pembangunan poros waduk diantaranya adalah sebagai agregat. Lahan seluas 55 Ha, tersebut kini direncanakan akan ditambang kembali untuk kebutuhan Bendungan Cipanas. Hanya terlihat beberapa warga yang masih memanfaatkan batuan tersebut, dengan cara penambangan tradisional. Sebagai batu hias, dan pondasi dalam skala tambang kecil.

Saat ini G Jualang tidak lagi menjulang. Sebagian besar tubuhnya telah hilang hasil kegiatan tambang sejak tahun 70-an akhir. Batuannya masih, berupa lava tebal dengan ciri terkekarkan. Menandakan batuan tersebut terdeformasi, akibat kegiatan tektonik. Di sebelah utaranya merupakan jalur sesar Baribis, sehingga kegiatan tektonik tersebut mempengaruhi secara langsung pada batuan. Sebagian besar kawasan ini membentuk bentang alam berupa ceruk, dan sebagian besar membentuk dataran seperti mesa. Tinggian yang terpancung, menyisakan lapangan yang datar. Sebagian besar batuan yang singkat, terkekarkan dengan kuat, membentuk struktur rekahan atau patahan pada batuan (deformasi). Sebelah barat daya, didapati fitur batuan yang membentuk seperti kepala burung. Berupa susunan kekar kolom, tersisa dari kegiatan tambang. 

Menurut warga, fitur batuan tersebut hasil kegiatan tambang menggunakan alat berat. Namun karena batuannya terlalu keras, mengakibatkan alat berat tersebut menyerah. Sehingga ditinggalkan begitu saja, meninggalkan bentuknya pipih. Sehingga masyarakat menyebutnya batu kipas. Disusun oleh batuan beku, berwarna abu terang ciri andesitik. Berada pada ketinggian, sebagian besar bagian bawahnya telah hilang oleh kegiatan tambang, menyisakan blok batuan. 

Dari G. Julang menjadi titik terbaik untuk melihat panorama Waduk Jatigede. Dengan demikian, BBWS berencana mengembangkan kawasan ini sebagai objek wisata berupa vie point atau anjungan pandang.  Rencana tersebut membutuhkan kajian, agar selaras dengan kondisi lingkungan, kemampuan untuk pengelolaan wisata berkelanjutan. 

Sebelah timur laut dari G. Julang, mengikuti jalan Lingkar Utara Jatigede akan menemui situs. Masyarakat menyebutnya Situs Karamat berupa kumpulan batuan dengan ukuran bongkah. Dilingkari oleh pagar besi, menyusun tinggian yang ditempati oleh pohon tegak. Warga menyebutnya petilasan, atau tempat yang pernah menjadi tempat singgah atau disakralkan. Tempat suci yang digunakan sebagai kegiatan ritus, atau sebagai simbol budaya. Informasi mengenai Situs Karamat ini sangat terbatas, karena tidak ada informasi baik dalam tinggalan prasasti atau sumber primer seperti naskah. 

Sumber batuannya bila merujuk pada peta geologi Arjawinangun (Djuri, 2003). Berupa batuan beku yang diperkirakan sama dengan yang ditemui di G. Julang. Berupa Hasil Gunungapi Muda tak Teruraikan. Diantaranya breksi, lava bersifat andesit dan basal, pasir tufan, lapili. Bentuknya lonjong, saling menumpuk. Menurut warga, situs ini merupakan bagian puncak, ditandai dengan batu yang disimpan berdiri seperti menhir. Posisi situs berada ditengah jalan yang menghubungkan antaran Cinangsi ke Pajagan. Namun bila melihat peta lama lembar Darmardja (1943), berada pada ketinggian perbukitan. Dalam peta tersebut belum menunjukan garis jalan. Namun dalam keterangan bapak Asep, kampung yang berada di sekitar situs, merupakan hasil relokasi akibat penggenangan waduk. 

Pada peta lama lembar Soedapati (1911), lokasi situs berada di daerah disebut Bantarjambe. Sesuai dengan nama Sekolah Dasar yang masih menggunakan nama yang sama. Dengan demikian diduga, kampung di sekitar situs merupakan relokasi dari kampung Legok. Posisinya sebelah timur, di bawah lembah yang kini menjadi batas paras air Waduk Jatigede. Untuk menghindari penggenangan, maka warga Legok kemudian bergeser ke dataran yang lebih tinggi disekitar Bantarjambe saat ini. 

Saat ini keberadaan situs telah dilindungi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, melalui undang-undang cagar budaya Nomor 11 Tahun 210 Tentang Cagar Budaya. Disebut Situs Makam Karamat, Cigintung, Sumedang. 

Lokasi selanjutnya adalah Pasir Pareugreug. Merupakan blok yang naik, disebut sesar anjak busur belakang. Merupakan sistem Backarc Java Thrust, segmen Baribis. Blok yang naik ini kemudian dimanfaatkan sebagai poros bendungan. Dinding bendungan yang berarah timur-barat, sesuai dengan arah sesar Baribis. 

Dari atas Pasir Pareugreug, bisa menyaksikan ke segala arah. Di timur terlihat lembah yang dalam, ditoreh oleh Ci Manuk. Aliran outlet dari spillway poros Waduk Jatigede. Mengalir membelah perbukitan terlipat, diapit oleh G. Tonjong sebelah barat, dan G. Pakayuan 330 mdpl., di bagian timur. Alirannya mengarah ke utara, melalui Parakan Kondang. Kemudian Desa Karedok. Alirannya kemudian dibendung kembali, oleh bendungan Bunut.

Dari Pasir Pareugreug, kemudian turun ke arah Desa Karedok melalui lereng Pasir Sema. Jalanan curam, tetapi sebagian besar sudah di beton dan aspal. Menjelang memasuki Desa Karedok, didapati situs Keramat Sunan Pada. Di keterangan papan informasi, gerbang masuk situs berbunyi Situs Keramat Sunan Pada, ayah dari Ratu Cukang Gedeng Waroe. Sunan Pada adalah mertua dari Geusan Ulun yang berkuasa sebagai raja Sumedang. Dari 1579, naik tahta sebagai raja melalui amanat untuk meneruskan kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran. 

Jalannya berupa turunan yang terjal, sisi sebelah baratnya dibatasi oleh gawir terjal Pasir Pareugreug. Dibeberapa tempat terlihat dinding perbukitan tersebut disusun oleh batuan  breksi gunungapi. Seperti dilaporkan pada awal hadirnya perkampungan ini pernah mengalami bencana. Berupa gerakan tanah atau longsor, mengakibatkan posisi kampung haru bergeser ke arah utara ke kampung Rancakeong dan Babakan Dobol. Lebih mendekati bantaran Ci Manuk.

Dihujung kampung, dibatasi oleh genangan air Ci Manuk. Membentuk danau yang terbentuk karena aliran tersebut di tahan oleh Bendung Bunut. Membentang sekitar 380 meter, menutup celah sempit Ci Manuk di Desa Karedok, Jatigede. Bendungan ini berfungsi untuk penyaluran irigasi, penyedian air baku dan sistem pengendali banjir. 

Dari Cibunut kemudian beralih ke arah Jembarwangi di sebelah timur. Jaraknya kurang lebih 7 km. mengikuti jalan fasilitas Waduk Jatigede melalui lintas timur. Di sekitar Cijeungjing kemudian berbelok ke arah tenggara, memasuki desa Jembarwangi bagian barat. Sebelum tiba di Kantor Desa, jalanan mengikuti jalur turunan curam, berakhir di Ci Saar. Sungai yang membelah Desa Jembarwangi, mengalir ke arah utara. 

Merujuk pada beberapa penelitian, kawasan ini disusun oleh batulempung, dan serpih gampingan yang memiliki tebal hingga 650 meter. Bagian dari Formasi Cisaar, berumur Miosen Tengah atau sekitar 15 juta tahun yang lalu. 

Dalam laporan penelitian paleontologi, disebut lembah Cisaar. Memiliki potensi dan sebaran fosil vertebrata. Mulai diteliti sejak lama, namun secara berkala dilakukan oleh Badan Geologi, melalui tim Museum Badan Geologi, KESDM sejak 2019. Diantaranya telah ditemukan beberapa fosil, di titik ekskavasi  di beberapa lokasi yang tersebar sepanjang Ci Saar. Keberadaan fosil vertebrata atau mamalia besar tersebut, menunjukan bahwa sebagian besar lembah Cisaar saat itu dalam kondisi lingkungan estuari. 

Fosil yang ditemukan, tertanam pada batuan dan tanah yang telah lapuk. Sebagian tersingkap di permukaan akibat kegiatan erosi, dan dibawa oleh air. sehingga beberapa fragmen ditemukan tersebar dari barat ke timur. Semua ditemukan pada Formasi Citalang, disusun konglomerat,  dan batupasir tufaan, merupakan lingkungan endapan darat dengan sistem sungai teranyam (braided stream deposits). Umurnya Pleistosen sekitar 1,2 juta tahun yang lalu. Diantaranya ditemukan rahang bawah Stegodon trigonochepalus (Wibowo et. Al., 2018). Lembah Cisaar, Jembarwangi saat ini menjadi salah satu situs baru, untuk kegiatan penelitian paleontologi vertebrata di Jawa bagian barat.

Batukipas, G. Julang Jatigede, Sumedang
Situs Karamat. Cigintung
Di puncak Pasir Pareugreuh.
Fosil vertebrata di Lembah Cisaar

Catatan Geourban#42 Nagreg

Ramalan cuaca tadi malam menyebutkan, besok pagi sedikit berawan. Kemudian jelang sore berkemungkinan turun hujan tipis. Demikian prakiraan kondisi cuaca tanggal 14 Agustus 2025. Rupanya alam memberikan keputusan yang berbeda. Jelang pagi langit berselimutkan awan tebal, sesekali angin bertiup dari arah barat. Awan mendung menggelayut, menandakan hujan sebentar lagi turun.

Waktu menunjukan pukul tujuh pagi, kendaraan diarahkan menembus padatnya lalu lintas Cileunyi. Untung saja waktu pergantian (shift) karyawan pabrik sudah lewat, sehingga jalan kembali normal. Sepanjang Rancaekek dibatasi oleh bangunan pabrik tekstil dan rumah warga. Sebagian besar posisi rumah berada di bawah jalan, menandakan kawasan ini terjadi penurunan muka tanah. Terjadi akibat pengambilan air berlebihan, sehingga terjadi cekungan. Seiring waktu jalan ditambah, penebalan beton. Sehingga rumah warga tampak tenggelam oleh oleh jalan yang membentang barat ke timur.

Di Parakanmuncang, berbelok ke arah utara. Menembus pasar Parakanmuncang, hingga tiba di Pusaka Farm. Dalam waktu satu jam lebih, menembus tiga wilayah, Kota Bandung, kemudian Kabupaten Bandung, dan terakhir di Parakanmuncang, masuk ke wilayah Kabupaten Sumedang.

Titik awal penelusuran kegiatan Geourban ke-42 ini, dimulai dari Pusaka Farm. Pengelolaan ternak kambing milik kang Rizky. Dari Parakanmuncang, diarahkan ke timur. Selepas Rancaekek, kemudian memasuki daerah Nagrog. Jalanannya menanjak, menandakan memasuki segmen Cicalengka-Nagreg. Berupa daerah tinggi yang diapit oleh beberapa gunungapi purba dan perbukitan. Sebelah utaranya adalah kelompok G. Kareumbi-Kerenceng, kemudian di sebelah selatannya dibatasi oleh kelompok G. Mandalawangi.

Sekitar Nagrok jalanan menanjak, menandakan perbedaan elevasi. Perbedaan ketinggiannya kurang lebih sekitar 160 meter bila dihitung dari Rancaekek ke Cicalengka. Tinggian tersebut membentuk cekungan yang diapit oleh perbukitan landai, disebut cekungan Cicalengka-Nagreg. Bila dilanjutkan ke arah timur, topografinya landai menunjukkan batas cekungan Nagreg. Dikenal dengan tanjakan Nagreg, berakhir dipercabangan menuju Garut dan Tasikmalaya.

Cicalengka merupakan batas timur Danau Bandung Purba. Ke arah timurnya dipagari perbukitan dan gunungapi purba. Batas antara Cekungan Bandung bagian timur dengan Cekungan sub cekungan Leles, Garut. Berjajar perbukitan runcing, G. Durung, Pasir Citiis, G. Kendang, G. Batu dan G. Sangiangajung. Komplek gunungapi purba, menjadi pagar alam Cekungan Bandung bagian timur dengan Sub Cekungan Leles-Garut.

Di Hadapannya (timur), merupakan cekungan yang kini ditempati sawah. Diperkirakan merupakan sisa dari sub danau yang terbentuk sebelum Danau Bandung Purba. Seperti yang dikemukakan oleh Budi Brahmantyo dkk., (2001). Menduga terbentuk cekungan kecil yang terangkat. Buktinya adalah adanya endapan danau (lakustrin), berlapis, disusun klastik gunungapi dan aluvial. Selain itu elevasi cekungan tersebut 850 meter dpl., seratus meter lebih di atas paras maksimal Danau Bandung Purba. Dalam pengukuran menggunakan bantuan google maps sekitar 800 hektar. Sebelah timurnya dibatasi jalan raya Nagreg dan G. Leutik. Kemudian di sebelah baratnya, berbatasan dengan Citaman. Kemudian sebelah utaranya sekitar sawah di Desa Kendan. Bukti endapan danau (lakustrin), berupa lapisan lempung dan paleosol belum bisa dipastikan. Mengingat kondisi lingkungan saat ini sudah berubah menjadi areal sawah.

Di sekitar Nyalindung Nagreg, tidak ditemui. Karena sebagian besar sungai yang membelah atau sejajar dengan jalan raya Nagreg disusun oleh breksi gunungapi. Dalam keterangan penelitian awal oleh tim Kelompok Riset Cekungan Badung, dalam jurnal Notes of the Geology of Uplifted Small Basin at Cicalengka-Nagreg Areas South of Bandung (2001), menunjukan bukti. Berupa endapan danau di G. Leutik, atau sekitar 40 meter dari persimpangan rel kereta api Nagreg ke arah selatan. Namun kondisinya saat ini telah menjadi kolam, sisa kegiatan tambang batu sejak awal tahun 2000-an.

Di Desa Kendan, dilaporkan terjadi gerakan tanah. Akibat struktur dan keadaan batuan penyusunnya belum terkonsolidasi dengan baik, dilaporkan terjadi gerakan tanah (longsor), di Nagreg dan sekitarnya. Terakhir terjadi pada 19 Mei 2025, di Kampung Gunung Batu, Nagreg. Menyebabkan kerusakan material/bangunan dan korban manusia.

Ke arah timurnya, terlihat morfologi kubah lava (lava dome), Sangianganjung-Kendan. Didapati batuan amorf (obsidian). Bersisipan dengan batuan yang telah lapuk terkena hidrothemal. Sebarannya melimpah di TPU Legok Nangka, di dinding perbukitan yang dikupas untuk pembangunan tempat sampah metode open dumping. Dalam kajian arkeologi, didapat beberapa situs dan tinggalan budaya obsidian megalitik hingga Sunda Klasik.

Hasil letusan gunungapi memberikan berkah, menjadikan tanahnya subur. Sehingga pasca undang-undang agraria 1870, mendorong pertumbuhan perkebunan swasta di kawasan ini. Diantaranya perkebunan dan produksi minyak sereh 1901-an. Struktur bangunan pabrik dan cerobong asapnya masih bisa disaksikan saat ini.

Dari peta lama, memberikan keterangan bahwa sekitar Nagreg hingga Balubur Limbangan bagian utara ditempati oleh perkebunan. Tanaman yang diusahakan adalah sereh, untuk diambil minyaknya. Ditandai dengan sisa bangunan pabrik pengolah minyak sereh di sekitar Nyalindung, Nagreg. Berupa sisa struktur bangunan, ditandai dengan masih berdirinya cerobong asap penyulingan minyak. Tingginya sekitar 15 meter, struktur cerobong disusun oleh batu bata merah. Menurut keterangan warga, sudah beroperasi sejak masa kolonial. Diperkirakan sekitar tahun 1920-an, kemudian selepas kemerdekaan diambil alih oleh pengusaha lokal. Beberapa keterangan menyebutkan nama M. Arsyad. Dari keterangan ibu Aisyah (68 tahun), pabrik ini ditutup karena harga minyak sereh turun. Seiring dengan biaya produksi dan ketersediaan bahan baku berkurang. Sehinga akhir tahun tujuh puluhan ditutup. Kondisi saat ini hanya menyisakan cerobong, kemudian di sebelah utaranya masih bisa dilihat beberapa bekas struktur pondasi bangunan. Kemudian ubin yang diperkirakan masih asli, berukuran sekitar 20 x 20 centimeter. Kemudian pondasinya disusun oleh batu bata merah. Dibagian samping struktur pondasi, terlihat bak-bak penampungan air. Diperkirakan pernah digunakan sebagai pembersihan dan pencucian batang sereh. Bak tersebut menampung air yang datang dari arah utara, kemudian outletnya ke sungai yang berada di sebelah selatan pabrik. Minyak sereh yang diusahakan adalah minyak atsiri, hasil dari ekstrak tanaman serai/ sereh (cymbopogon), dengan metode destilasi uap.

Tujuan selanjutnya ke Statsiun Nagreg. Pada papan nama statsiun, dituliskan elevasi +848 meter dpl. Dengan demikian merupakan titik statsiun tertinggi diantara Statsiun Cicaengka (+689 m), dan sebelah timurnya Statsiun Lebakjero (+818 m).

Perbedaan elevasi (elevation gain), antara Cicalengka dan Nagreg, sekitar 164 meter. terlihat dari posisi rel, dari arah barat kemudian sedikit naik secara bertahap ke arah timur. Titik tertingginya sekitar Pasir Karamat, sekitar +860 meter, kemudian melandai ke arah Lebak Jero. Perbedaan antara Stasiun Nagreg dan Stasiun Lebakjero lebih rendah sekitar 30 meter.

Perbedaan ketinggian ini menjadi tantangan dalam pembuatan jalur lintasan kereta api dari Cicalengka ke arah timur. Pada saat pembangunan jalur timur Bandung, Cicalengka merupakan stasiun terminus. Merupakan stasiun paling ujung timur yang memisahkan Bandung dan bagian timur. Stasiun ini diresmikan 10 September 1884, satu zaman dengan peresmian Stasiun Bandung. Pembangunan lanjutan lintasan ke arah timur, dilakukan segera. Mengingat dibutuhkannya akses menuju timur, melalui Nagreg. Jalur kereta api kemudian dikerjakan pada 1887. Pembukaan jalur Nagreg ke Lebak Jero, secara teknis sulit karena harus membobok Pasir Karamat. Disusun oleh lava masih dan tebal, dikerjakan secara manual. Menggunakan linggis, pahat dan alat sederhana lainya. Dicirikan dengan jejak penggunaan linggis, pada dinding tebing. Pembukaan jalur berupa celah yang dibobok, dengan tinggi sekitar 5-7 meter. Kemudian pada 1889 Stasiun Cicalengka menjadi lintasan dari Bandung ke Garut. Kemudian 1893, dilalui jurusan Bandung-Tasikmalaya.

Di Bagian puncak Pasir Karamat, didapati bunker. Berupa struktur bangunan dengan berbagai ukuran. Terdapat empat struktur bangunan, berjajar utara-selatan. Dibuat dari beton, dengan tebal hampir 90 cm., tanpa tulangan besi. Bentuknya seperti kubah memanjang, dilengkapi pintu dengan lebar 100 cm. terbuat dari besi. Keberadaan daun pintu sudah hilang, meninggalkan bekas engsel yang dibongkar paksa. Diperkirakan bunker ini merupakan sistem pertahanan militer, di sebelah timur Bandung. Memanfaatkan tinggian, sebagai titik strategis untuk mengamati pergerakan serangan dari arah timur. Melalui celah sempit yang diapit oleh Pasir Ciwulung sebelah utara, dan Pasir Karamat-Citiis di sebelah selatannya.

Di puncak Pasir Karamat ini, pemandangan luas membentang. Ke arah timurnya dibatasi oleh lembah Pasir Citiis. Dilintasi oleh jalur kereta api sepanjang kurang lebih 200 meter. menghubungkan Nagreg ke Lebakjero.

Sebelah utaranya terlihat kerucut, berlomba-lomba menghiasi kompleks gunungapi purba Kenda. Sistem gunungapi yang ditempat oleh kubah lava, dibatasi Nagreg sebelah barat, dan Simpenan sebelah baratnya. Diduga merupakan pusat letusan gunungapi Kendan-Sangianganjung.

Cerobong asap, peningalan pabrik pengolahan sereh di Nagreg.
Tapak linggis, pembobokan Pasir Karamat. Jalur keretaapi Nagreg-Lebakjero.
Bagian interior bunker Pasir Karamat
Struktur bunker, dengan latar G. Kaledong.

Catatan Platda Pemandu Geowisata 2025

Telah dilaksanakan kegiatan Pelatihan Dasar Pemandu Geowisata, Angkatan I. Pada tanggal 9 dan 10 Juli 2025, di Bandung. Kegiatan dua hari, dibuka dengan penyampain dalam kelas, kemudian dilanjutkan dalam kegiatan lapangan. Diinisiasi oleh Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia, dan Komunitas Geowana.

Kegiatan kelas dilaksanakan pada tanggal 9 Juli, mulai pagi hingga sore hari. Di Café Garoricahop di Setra Duta Bandung. Diikuti oleh 20 orang partisipan, dengan latar belakang yang beragam. Mulai dari pelajar dan mahasiswa, operator pariwisata, pemandu wisata hingga pegiat alam bebas.

Tujuan keikutsertaan peserta, diantaranya keingintahuan tentang wisata bumi atau geowisata, ingin terjun sebagai pelaku usaha dan pengolahannya hingga menjadi pemandu geowisata.

Pelatihan dimulai hari Rabu, tanggal 9 Juli 2025. Mengambil hari kerja, mengingat para peserta yang ikut memiliki jadwal kerja diakhir pekan. Dimulai dengan pemaparan, dan pemahaman dasar ruang lingkup wisata bumi (geowisata). Disampaikan oleh Deni Sugandi, ketua Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesian (PGWI). Dalam penyampaiannya, menjelaskan materi tentang Pengantar Geowisata Indonesia. Berupa contoh objek-objek wisata bumi di Indonesia. Keberpihakan konsep wisata kepada konservasi, edukasi dan peningkatan ekonomi lokal. Sepert contoh beberapa objek wisata yang berbasis dengan wisata bumi. Deni menunjukan seperti wisata Tebing Karaton di Dago atas, Bandung. Kemudian segmen 7 km dari outlet Bendungan Saguling seperti Sanghyang Heuleut hingga Sanghyang Kenit, kemudian Lembah Tengkorak di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang. Semuanya merupakan objek wisata bumi. Sehingga secara tidak sadar, wisatawan sudah diajak untuk berwisata bumi.

Kondisi demikian ditawarkan sebatas keindahan saja, belum menyentuh makna tentang objek tersebut. Deni menunjukan beberapa contoh proses yang terjadi, membentuk rona bumi saat ini. Seperti bentang alam berupa punggungan perbukitan, memanjang 29 km dari barat ke timur. Disebut Sesar Lembang, blok yang relatif naik di bagian blok Bandung. Kemudian blok yang turun di sebelah utara. Fenomena bumi tersebut disuarakan dalam pemanduan wisata bumi. Interpretasi atau tafsir bumi, menjadi menu utama dalam pemanduan wisata bumi.

Dalam materi selanjutnya, Deni mengutip beberapa pendapat perintisan wisata bumi. Seperti yang diajukan oleh Dowling dan Newsome (2006), berupa kotak geowisata. Di dalamnya adlaah sejarah bumi, bentuk, proses, ilmu bumi dan yang terpenting adalah pariwisata. Kemudian pada 2013 ditambahkan geo plus oleh Budi Brahmantyo. Berupa proses dinamika bumi, seperti proses pembentukan pegunungan-perbukitan, bentang alam, air terjun, pelapukan, erosi dan seterusnya.

Materi selanjutnya adalah Menyusun Program Perjalanan Geowisata. Berisi dengan pengertian dan tata cara mengelola serta menyusun itinerary. Kemampuan ini merupakan dasar kompetensi yang harus dimiliki oleh pemandu geowisata. Cara penyusunnya kemampuan Mengenali keunggulan daya Tarik geowisata; Mengenali aksesibilitas; Mengenal aturan, norma, etika di daya Tarik geowisata; Mengenali sarana dan prasarana.

Narasumber ke-dua, Gangan Jatnika dari Geowana. Mengantarkan materi yang berkaitan dengan kegiatan yang telah dilakukannya. Menjelaskan interpretasi keunggulan potensi geowisata di sekitar Cekungan Bandung. Kegiatan hari pertama ditutup dengan diskusi dan tanya jawab.

Hari kedua dilakukan praktek pemanduan. Dilaksanakan di Taman Hutan Raya Ir. Haji Djuanda. Berada di Bandung utara, sebagian besar kawasan ini menempati lembah Kordon hingga Pakar. Hutan konservasi yang dikelola di melalui UPTD Tahura Ir. Djuanda, di bawah Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat. Kegiatan berupa interpretasi koleksi seperti Pinus, Kaliandra, Mahoni, Kayu Manis, Eha (Castanopsis buruana BI.), Besi/Lara (Metrosideros Petiolata Kds.), Bolongita (Tetrameles nudiflora R. BR.), Jambu-jambu (Eugenis sp), Bintangur (Calophyllum canum Hook.f.), Kjelbelgiodendron celebica, dan Sisio (Cratoxylum formusum).

Narasumber disampaikan oleh narasumber ahli yang mengetahui koleksi di taman hutan raya ini. Ganjar Wiguna mengajak peserta pelatihan mengenal koleksi-koleksi tanaman yang dimiliki di kawasan ini. Koleksi ini tersebar di beberapa tempat, hingga menapaki jalan paving blok dari Gua Jepang hingga Gua Belanda.

Kegiatan ditutup di Gua Belanda, melalui evaluasi dan tanya jawab. Peserta merasa sama-sama belajar, dan mengambil manfaat dari hasil kegiatan pelatihan dasar Pemandu Geowiasata. Beberapa peserta bahkan melihat peluang besar, mengemas Tahura Djuanda sekitarnya menjadi paket geowisata. Kegiatan ditutup di pelataran Tahura, berupa penyampaian kesan dan pesan serta makan siang bersama.

Penyampaian materi di kelas
Materi lapangan di Tahura Djuanda Bandung
Ganjar Wiguna memberikan penjelasan koleksi Tahuda Djuanda
Pemaparan di depan Gua Jepang, Tahura Djuanda.

Pelatihan dan Sertikom di UNSIL Tasikmalaya

Sebagai kampus yang memiliki studi tentang ilmu bumi, perlu melaksanakan kegiatan praktis yang berhubungan dengan kompetensi pemandu. Melalui Program Studi Pendidikan Geografi, Universitas Siliwangi Tasikmalaya, bekerja sama dengan Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Pengurus Nasional. Melaksanakan kegiatan pelatihan dan ditutup dengan kegiatan sertifikasi.

Pelatihan dan sertifikasi dilaksanakan pada tanggal 16 dan 17 November 2024. Kegiatan pelatihan dilaksanakan di ruang pertemuan Prodi Unsil,Tasikmalaya. Diikuti oleh pengampu/dosen Prodi Pendidikan Geografi.

Diikuti oleh 13 orang terdiri dari dosen tetap, dan dosen luar biasa. Dengan tujuan untuk mendapatkan kompetensi pemandu geowisata. Kegiatan praktek lapangan dilaksanakan di Gunung Papandayan, meliputi praktek pemanduan.

Narasumber berasal dari praktisi pemandu geowisata, diantaranya T Bachtiar, Deni Sugandi dan Zarindra Arya Dimas. Masing-masing memberikan materi berkaitan dengan kompetensi pemanduan geowisata, termasuk teknik pemanduan, teknik interpretasi hingga melaksanakan pemanduan dilapangan.

Kegiatan terlaksana dengan baik, mengingat kompetensi para peserta adalah pengampu bidang geografi. Sehingga kemampuan dan wawasan berkaitan keilmuannya sudah baik.

Penyampaian materi di dalam kelas di kampus UNSIL
Praktek pemanduan geowisata di menara pengamatan G. Papandayan
Sosialisasi sejarah letusan G. Papandayan di hadapan pemandu lokal
Peserta pelatihan di belakang kawah G. Tangkubanparahu

Sertifikasi Pemandu Geowisata KBB dan Tahura Djuanda

Telah dilaksanakan kegiatan sertifikasi profesi, skema pemandu geowista di dua tempat di Bandung Raya. Tanggal 22 Juni 2024 di Cidadap, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Kemudian disusul di Tahura Ir. Djuanda Bandung. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian kegiatan penyetaraan kompetensi, mencapai standar nasional untuk para pemandu geowisata.

Kegiatan ini terlaksana melalui anggaran dari sekretariat Badan Nasional Sertifikasi Profesi/BNSP, melalui paket Program Pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi Kerja (PSKK) tahun anggaran 2024. Dilanjutkan melalui LSP Pramuwisata Indonesia (LSP Pramindo), bekerja sama dengan Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), sebagai pengguna anggaran. Dalam pelaksanaanya dibantu oleh Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Jawa Barat, melalui Bidang Industri Pariwisata yang menaungi sumber daya manusia.

Pelaksanaan program PSKK 2024 ini diserap oleh PGWI sebanyak 6 paket, yang terdiri dari 120 peserta (asesi). Disebarkan melalui jejaring organisasi Dewan Pengurus Wilayah di provinsi Jawa Barat, diantaranya di Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bogor, Kota Bandung dan Kabupaten Majalengka. Pelaksanaan pertama di TIC BKSDA, Cagar Alam Pangangandaran, sejumlah 20 orang. Kemudian tanggal 22 Juni 2024 di Balai FP2KC, yang diikuti oleh pegiat, pemandu geowisata sekitar Kabupaten Bandung Barat. Semua kegiatan dilaksanakan melalui jejaring Dewan Pengurus Wilayah/DPW Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia.

Rangkaian selanjutnya di Tahura Ir. Djuanda, Dago Pakar, Bandung. sebelumnya dilaksanakan kegiatan pelatihan, 22 Juni 2024 disekitar wilayah Tahura. Kegiatan dibuka oleh perwakilan dari UPTD Tahura Ir. Djuanda, dilanjutkan oleh perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung. Pelatihan mengambil tempat di kawasan Tahura, dari Sekejolang hingga ke gerbang Gua Belanda. Hadir narasumber dalam kegiatan ini diantaranya T Bachtiar, memberikan narasi yang berkaitan dengan toponimi di wilayah yang dilalui. Menjelaskan tafsir Ci Kapudung, yang diambil nama tumbuhan di sekitar bantaran sungai.

Fajar Lubis, dan dibantu oleh Zarindra Aryadimas menguraikan asal-usul pembentukan lava Pahoehoe di bantaran Ci Kapudung sektiar Sekejolang. Lava produk G. Tangkubanparahu yang mengalir hasil kegiatan letusan efusif. Jejak letusan sekitar 40 ribu tahun yang lalu. Kegiata pelatihan berupa hiking mengikuti bantaran Ci Kapundung, mulai dari Sekejolang, hingga Gua Belanda. Sesi terakhir disampaikan teknik pemanduan, oleh Hadi yang berprofesi sebagai tour guide profesional.

Hasi kegiatan pelatihan, kemudian dibawa dalam kegiatan sertifikasi. Dilaksanakan dan dibuka di ruang audio visual UPTD Tahura Ir. Djuanda. Diikuti  oleh 40 orang peserta (asesi), berasal dari pegiat dan pemandu disekitar Bandung Raya dan luar kota Bandung. Diantaranya perwakilan Dewan Pengurus Wilayah Bekasi Raya, Majalengka Raya yang mengirmkan beberapa perwakilan. Kegiatan ditutup pkl. 15.00 WIB, melalui beberapa testimoni peserta. Menyataan sangat bersyukur membuka jaringan, silturahmi hingga mengenal geowisata lebih jauh. Ditandaskan oleh Deni Sugandi, selaku ketua Pemandu Geowisata Indonesia, Pengurus Nasional, mengajak seluruh peserta untuk bergabung dalam wadah organisasi. Dengan demikian para pemandu geowisata tetap terpelihara kompetensinya, kemudian sebagai saraha silaturahmi jejaring pemandu geowisata di Indonesia. Dengan demikian para pemandu yang telah memiliki standar nasional, diupayakan haknya agar bisa diterima diindustri pariwisata Indonesia.

Penjelasan T Bachtiar, mengenai pembentukan Lava Pahoehoe.
Penjelasan Fajar Lubis, tentang geologi regional.
Zarindra Aryadimas, menjelaskan aliran lava G. Tangkubanparahu yang mengisi dasar Ci Kapundung.
Kegiatan sertifikasi Pemandu Geowisata di aula UPTD Tahura Ir. Djuanda, 23 Juni 2024.
Foto bersama asesi dan asesor.
Asesi, Asesor LSP Pramindo dan perwakilan dari Disparbud Provinsi Jabar
Kegiatan asesmen sertifikasi skema Pemandu Geowisata di KBB

Pelatihan Singkat Pemandu Geowisata di Pasir Pawon

Kegiatan yang diinisiasi oleh asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), melalui kegiatan mandiri-probono. Dilaksanakan pada hari Sabtu, 15 Juni 2014. Berupa pelatihan singkat, bagi para pegiat, pemandu lokal dan pegiat konservasi lingkungan di kawasan Perbukitan Karst Padalarang. Bertujuan mempersiapkan para calon peserta, yang akan diikut sertakan dalam kegiatan sertifikasi skema pemandu geowisata. Pelaksanaanya di hari sabtu, 22 Juni 2024, di Aula FP2KC Cidadap, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. kegiatan pelatihan dilaksanakan di Pasir Pawon, atau saat ini dikenal dengan Wisata Stone Garden, di Citatah, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

Pelatihan dimulai pukul 07.00 WIB dan diahiri hingga menjelang sore, bertempat di sekitar Pasir Pawon, Citatah, Padalarang. Diikuti oleh 20 orang lebih, dari pegiat, pemandu lokal, pelaku konservasi kawasan Citatah, hingga mahasiswa pariwisata. Kegiatan dibuka semi formal oleh Deni Sugandi, selaku Ketua PGWI Pengurus Nasional. Kemudian dilanjutkan oleh sambutan dari Dinas Pariwisata Budaya, Kabupaten Bandung Barat diwakili Ukas Maulana, Jabatan Fungsi di Pemasaran Pariwisata. Menyatakan ucapan terima kasih kepada organisasi (PGWI), yang telah memberikan kesempatan kepada para pegiat geowisata di bawah wilayah kerja dinas pariwisata Kabupaten Bandung Barat. Ditambahkan pula, bahwa wilayah KBB sangatlah luas, sehingga perlu untuk digali potensinya untuk kemaslahatan warga/pelaku lokal melalui geowisata.

Narasumber yang hadir berasal dari organisasi PGWI. Dimateri pertama, Deni Sugandi menyampaikan dasar-dasar pengertian sejarah bumi. Khususnya genesa perbukitan karst Citatah, Padalarang. Deni menyampaikana pengertian geowisata, sebagai dasar berkegiataan wisata. Seperti diobjek geowisata Pasir Pawon, berupa puncak bukit yang dihiasi oleh kerucut karst hasil kegiatan pelaturan sekitar lima juta tahun yang lalu. Selain itu didapati bukti binatang laut yang tercetak difragmen batugamping, berupa fosil kerang, branching dan sebagainya. Dalam kesempatan pemberian materi, Deni menjelaskan geologi regional kawasan Karst Citatah, merupakan bukti batuan tua homogen yang membatasi bagian barat Cekungan Bandung.

Dalam pelatihan ini ditandaskan perlunya menggali narasi, yang sifatnya informasi valid. Seperti mencari data melalui hasil penelitian, kemudian dirangkum menjadi sumber narasi atau story telling dalam kegiatan pemanduan geowisata. Dengan demikian diperlukan kemampuan untuk menggali informasi valid, melalui data penelitian, wawancara ahli dan mencari diingatan kolektif masyarakat. Narasi geowisata bisa berupa data ilmiah tentang prose dinamika bumi, cerita rakyat yang memiliki hubung kait dengan tapak bumi yang dikunjungi.

Selanjutnya, Sodikin Kurdin dan Adrian Agoes mengarahkan para peserta pelatihan, praktek pemanduan. Lokasi mengambil tempat di Pasir Pawon/Stone Garden, dengan cara praktek bergantian. Beberapa peserta memiliki kemampuan untuk merangkai cerita, tetapi ada pula yang perlu mencari data yang valid. Partisipan merasa terbantu melalui pelatihan ini, karena mendapatkan langsung teknis pemanduan melalui kegiatan praktek. Kegiatan ini dikondisikan untuk menghadapi kegiatan sertifikasi, yang akan dilaksanakan pada tanggal 22 Juni 2024, di Balai FP2KC, Cidadap, Padalarang, Kabupatan Bandung.

Simulasi pemanduan geowisata di Pasir Pawon.
Praktek pemanduan geowisata.

Pelatihan dan Sertifikasi Pemandu Geowisata 2024

Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), menyelengarakan pelatihan skema Pemandu Geowisata dan sertifikasi (BNSP). Dilaksanakan pada bulan Juni 2024. Lokasi di Jawa Barat.

Tempat dan waktu
19 Juni 2024. TIC SBKSDA Resor Cagar Alam Pangandaran
22-23 Juni 2024. Tahura Ir. Djuanda, Dago, Bandung
29 Juni 2024. Kantor Dinas Parbud Majalengka
30 Juni 2024. Kabupaten Bogor

Syarat

  1. Minimal usia 18 tahun (KTP)
  2. Minimal SMA sederajat (Ijazah terakhir)
  3. (file) CV dan Pasfoto latar merah 3×4 cm
  4. Memiliki sertifikat pelatihan Pemandu Geowisata atau
  5. Bukti kerja sebagai Pemandu Geowisata 3 tahun

Pendaftaran
Investasi Rp. 500.000.

Termasuk
Konsumsi, materi-trainer, sertifikat pelatihan, fasilitas pelatihan, dan sertifikasi BNSP skema pemandu geowisata.

Tidak termasuk
Akomodasi, transportasi selama kegiatan

Kuota pendaftar terbatas, ditutup sampai tanggal 10 Juni 2024. Bila kuota terpenuhi, pendaftaran ditutup.

Informasi:
Bandung 0813-22393930