Catatan Platda Pemandu Geowisata 2025

Telah dilaksanakan kegiatan Pelatihan Dasar Pemandu Geowisata, Angkatan I. Pada tanggal 9 dan 10 Juli 2025, di Bandung. Kegiatan dua hari, dibuka dengan penyampain dalam kelas, kemudian dilanjutkan dalam kegiatan lapangan. Diinisiasi oleh Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia, dan Komunitas Geowana.

Kegiatan kelas dilaksanakan pada tanggal 9 Juli, mulai pagi hingga sore hari. Di Café Garoricahop di Setra Duta Bandung. Diikuti oleh 20 orang partisipan, dengan latar belakang yang beragam. Mulai dari pelajar dan mahasiswa, operator pariwisata, pemandu wisata hingga pegiat alam bebas.

Tujuan keikutsertaan peserta, diantaranya keingintahuan tentang wisata bumi atau geowisata, ingin terjun sebagai pelaku usaha dan pengolahannya hingga menjadi pemandu geowisata.

Pelatihan dimulai hari Rabu, tanggal 9 Juli 2025. Mengambil hari kerja, mengingat para peserta yang ikut memiliki jadwal kerja diakhir pekan. Dimulai dengan pemaparan, dan pemahaman dasar ruang lingkup wisata bumi (geowisata). Disampaikan oleh Deni Sugandi, ketua Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesian (PGWI). Dalam penyampaiannya, menjelaskan materi tentang Pengantar Geowisata Indonesia. Berupa contoh objek-objek wisata bumi di Indonesia. Keberpihakan konsep wisata kepada konservasi, edukasi dan peningkatan ekonomi lokal. Sepert contoh beberapa objek wisata yang berbasis dengan wisata bumi. Deni menunjukan seperti wisata Tebing Karaton di Dago atas, Bandung. Kemudian segmen 7 km dari outlet Bendungan Saguling seperti Sanghyang Heuleut hingga Sanghyang Kenit, kemudian Lembah Tengkorak di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang. Semuanya merupakan objek wisata bumi. Sehingga secara tidak sadar, wisatawan sudah diajak untuk berwisata bumi.

Kondisi demikian ditawarkan sebatas keindahan saja, belum menyentuh makna tentang objek tersebut. Deni menunjukan beberapa contoh proses yang terjadi, membentuk rona bumi saat ini. Seperti bentang alam berupa punggungan perbukitan, memanjang 29 km dari barat ke timur. Disebut Sesar Lembang, blok yang relatif naik di bagian blok Bandung. Kemudian blok yang turun di sebelah utara. Fenomena bumi tersebut disuarakan dalam pemanduan wisata bumi. Interpretasi atau tafsir bumi, menjadi menu utama dalam pemanduan wisata bumi.

Dalam materi selanjutnya, Deni mengutip beberapa pendapat perintisan wisata bumi. Seperti yang diajukan oleh Dowling dan Newsome (2006), berupa kotak geowisata. Di dalamnya adlaah sejarah bumi, bentuk, proses, ilmu bumi dan yang terpenting adalah pariwisata. Kemudian pada 2013 ditambahkan geo plus oleh Budi Brahmantyo. Berupa proses dinamika bumi, seperti proses pembentukan pegunungan-perbukitan, bentang alam, air terjun, pelapukan, erosi dan seterusnya.

Materi selanjutnya adalah Menyusun Program Perjalanan Geowisata. Berisi dengan pengertian dan tata cara mengelola serta menyusun itinerary. Kemampuan ini merupakan dasar kompetensi yang harus dimiliki oleh pemandu geowisata. Cara penyusunnya kemampuan Mengenali keunggulan daya Tarik geowisata; Mengenali aksesibilitas; Mengenal aturan, norma, etika di daya Tarik geowisata; Mengenali sarana dan prasarana.

Narasumber ke-dua, Gangan Jatnika dari Geowana. Mengantarkan materi yang berkaitan dengan kegiatan yang telah dilakukannya. Menjelaskan interpretasi keunggulan potensi geowisata di sekitar Cekungan Bandung. Kegiatan hari pertama ditutup dengan diskusi dan tanya jawab.

Hari kedua dilakukan praktek pemanduan. Dilaksanakan di Taman Hutan Raya Ir. Haji Djuanda. Berada di Bandung utara, sebagian besar kawasan ini menempati lembah Kordon hingga Pakar. Hutan konservasi yang dikelola di melalui UPTD Tahura Ir. Djuanda, di bawah Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat. Kegiatan berupa interpretasi koleksi seperti Pinus, Kaliandra, Mahoni, Kayu Manis, Eha (Castanopsis buruana BI.), Besi/Lara (Metrosideros Petiolata Kds.), Bolongita (Tetrameles nudiflora R. BR.), Jambu-jambu (Eugenis sp), Bintangur (Calophyllum canum Hook.f.), Kjelbelgiodendron celebica, dan Sisio (Cratoxylum formusum).

Narasumber disampaikan oleh narasumber ahli yang mengetahui koleksi di taman hutan raya ini. Ganjar Wiguna mengajak peserta pelatihan mengenal koleksi-koleksi tanaman yang dimiliki di kawasan ini. Koleksi ini tersebar di beberapa tempat, hingga menapaki jalan paving blok dari Gua Jepang hingga Gua Belanda.

Kegiatan ditutup di Gua Belanda, melalui evaluasi dan tanya jawab. Peserta merasa sama-sama belajar, dan mengambil manfaat dari hasil kegiatan pelatihan dasar Pemandu Geowiasata. Beberapa peserta bahkan melihat peluang besar, mengemas Tahura Djuanda sekitarnya menjadi paket geowisata. Kegiatan ditutup di pelataran Tahura, berupa penyampaian kesan dan pesan serta makan siang bersama.

Penyampaian materi di kelas
Materi lapangan di Tahura Djuanda Bandung
Ganjar Wiguna memberikan penjelasan koleksi Tahuda Djuanda
Pemaparan di depan Gua Jepang, Tahura Djuanda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *