Geourban#13 Dayeuhkolot

Maskapai perdagangan Belanda atau VOC bangkrut dan dibubarkan 31 Desember 1799. Kendali perusahaan global pertama dunia tersebut jatuh ke pemerintahan Belanda, termasuk aset benteng, kapal dagang, dan sumber daya manusia. Pada waktu yang bersamaan, Belanda sedang berperang melawan Perancis, melalui perang Napoleon. Pertempuran di Eropa menentukan nasib di Hindia Belanda, 1808 Napoleon (Perancis) menduduki Belanda, secara otomatis Hindia Belanda di bawah kekuasaan Perancis antara 1808 hingga 1811. Kemudian 1809 Daendels diberikan tugas untuk memulihkan ekonomi pascakebangkrutan VOC, mengamankan pulau Jawa dari serbuan Inggris dan mengorganisasikan kembali sistem pemerintahan lokal.

Sebuah peristiwa sejarah dimasa lalu, menginspirasi Daendels membangun sarana jalan yang menghubungkan ujung barat pulau Jawa hingga ujung timur. 1809 Daendels melakukan inspeksi jalan, kemudian menuliskan rencananya di Karangsambung. Membangun jaringan jalan untuk kepentingan militer sejauh 1100 km.

Di Pulau Jawa bagian barat, jalur Jalan Raya Pos ternyata berbelok ke pedalaman priangan untuk tujuan tertentu. Kondisi geografis perbukitan, sungai dan lembah di pedalaman priangan menjadi tantangan yang lebih sulit. Padalah bisa saja jalan Raya Pos ini mengambil rute paling mudah melalu pantai utara yang lebih landai. Ada hal lain yang ingin dicapai Daendels pada saat itu.

Selepas Buitenzorg, jalannya menanjak membelah perbukitan Puncak Pass G. Gede-Pangrango. Dari Cihea Cianjur melintasi dua sungai dan dilanjutkan menuju Padalarang. Dari tiitk ini kemudian ditarik garis lurus barat-timur melalui Cimahi hingga Ujungberung. Dipertengahan jalan atau disekitar Ci Kapundung, Daendels memerintahkan perpindahan ibu kota kabupaten di Krapyak pada saat itu mendekati ke ruas Jalan Raya Pos. Penentuan dan perpindahan ibu kota tersebut berdasarkan pertimbangan berbagai aspek dan pertimgangan geografis.

Bandung lahir melaui surat keputusan 25 September 1810, seiring perpidahan ibu kota Kabupaten. Selepas cengkraman Inggris pada 1811-1816. Terjadi letusan katastropik G. Tambora 1815 yang menyebabkan udara dingin sepanjang tahun 1816 di Eropa, sehingga Napoleon kalah perang. 1816 Belanda kembali mengkoloni Hindia Belanda, termasuk Bandung. Bentang kota semakin diperluas dengan tujuan mengakomodir kegiatan politik dan ekonomi. Jelang tahun 1920-an menetapkan kota ini disiapkan menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda. Diantaranya pembangunan jaringan lintasan Kereta Api dan Trem ke Dayeuhkolot, namun tidak tuntas karena Belanda kembali diokupasi Jerman pada Perang Dunia ke-dua.

Dalam Geourban#13 Dayeuhkolot, melihat kembali jalur Jalan Raya Pos yang dibuat melintasi pusat kota Bandung saat ini. Apakah Daendels membuka jalan baru atau ada mengikuti jalur yang telah ada? kemudian pertimbangan apa saja yang mendorong perpindahan ibu kota lama di Krapyak. Bagaimana Bandung berkembang sejak kolonial hingga kedatangan penjajahan Jepang 1942? Apa peran Ci Kapundung dalam pementuan garis lintasan Jalan Raya Pos?. Mari temui kembali sejarah bumi dan budaya dalam aktivitas geowisata.

Hari/Tanggal
Sabtu, 27 Mei 2023

Waktu
07.30 WIB sd. 13.00 IB

Meeting point
Plaza Cikapundung, Jalan Ir. Soekarno

https://goo.gl/maps/EHPPgUs49Jt1ns4q6

Disklaimer
Kegiatan berfisat probono. Partisipan diharapkan menggungan kendaraan roda dua bermotor. Mengingat jarak tempuh cukup jauh.

Geourban
Diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowista Indonesia (PGWI). Bertujuan syiar geowisata kota, menyulam jejaring geowisata lokal, dan peningkatan kapasitas pemandu geowisata. Kegiatan bersifat probono, dari-oleh untuk kita melalui interpretasi dan berbagi informasi. Info: pgwi.or.id

#pgwi
#syiargeowisata
#geowisatacekunganbandung
#pemandugeowisata

Catatan Geourban#11 Jayagiri

Kegiatan syiar geowisata di Cekungan Bandung ini dilaksanakna bertepatan dengan bulan ramadhan, pada hari Sabtu, 8 April 2023. Kegiatan ini mengupas rahasia bumi, peristiwa dinamika alam, hingga budaya yang menempati dataran tinggi Lembang. Kegiatan ke-11 ini mengambil tema Jayagiri, kawasan di sebelah utara kota Lembang, berada di lereng G.Tangkubanparahu sebelah selatan. Kawasan ini menarik untuk dikupas dalam kegiatan ini, mengingat beberapa dinamika bumi dan budaya yang berlangsung telah mengukir sejarah dunia. Diantaranya menapaki kembali akhir riwayat dan hasil karya Junghuhn sembilan tahun terakhir, antara 1855 hiingga meninggal 1865. Sekembalinya ke tanah Jawa Barat, Junghuhn diminta untuk membudidayakan kina selama sembilan tahun terakhir, hingga produksi kina menduduki peringkat pertama di dunia. Tujuan lainya adalah mengunjungi sumber mata air Cikahuripan, mengalir diantara dua litologi, dan mengunjungi rumah terakhir Junghuhn.

Geourban merupakan upaya syiar geowisata, menggerakan dan inisiatif jejaring sumber daya manusia di keorganisasian PGWI, hingga membangun ekosistem geowisata di Cekungan Bandung. diusahakan oleh perkumpulan Pemadu Geowisata Indonesia/PGWI, sejak 2020. Kegiatan ini bersifat probono (tidak dipungut biaya), bermaksud mengaikan jejaring lokal dengan industri pariwisata, melalui kemungkinan-kemungkinan pembuatan paket wisata dan pola perjalanan pariwisata sekitar dataran tinggi Bandung.

Kegiatan dibuka pukul 14.00 WIB di ruang aula sederhana, di kantor Desa Cikahuripan. Kurang lebih telah hadir 25 peserta dari berbagai latar belakang. Diantaranya mahasiswa pariwisata UPI, pegiat wisata, pemandu wisata, penulis, profesional hingga ibu rumah tangga. Hadir dalam kegiatan ini sejak pukul 08.00 WIB di kantor Desa Cikahuripan, Lembang. Kabupaten Bandung.

Dalam brifing awal kegiatan ini, Deni Sugandi selaku pemandu geowisata, menyampaikan rencana kegiatan. Diantaranya mengunjungi tapakbumi yang berkaitan dengan tema sejarah letusan G. Pra-Sunda-Sunda dan kina yang dibudidayakan di lereng sebelah selatan G. Tangkubanparahu oleh Junghuhn. Menapakai kembali jejak Junghuhn dalam lawatan ke-dua hingga akhir hayatnya. Junghuhn kembali ke Belanda setelah tetirah untuk berobat, kemudian kembali ke pulau Jawa pada 1855. Seiring tubuhnya yang digerogoti sakit menahun, ia diminta untuk mengembangkan budidaya Kina di dataran tinggi Priangan. Kunjungan selanjutnya ke sumber mata air kontak Cikahuripan, interpretasi morfologi Cekungan Bandung dan pembentukan gunungapi di utara di  makam panjang yang berada persis di jalur sesar Lembang. Kemudian melihat kembali bukti endapan awan panas Pra-Sunda dan G. Sunda, monumen Junghuhn dan terakhir ditutup di padepokan Pasiripis Jayagiri, Lembang.

Acara dibuka secara sederhana, dengan perkenalan setiap partisipan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan singkat oleh Kang Dodi  selaku pegiat wisata Cikahuripan. Ia menyampaikan aktivitas wisata di Desa Cikahuripan, seperti kunjungan ke situ religi Makan Panjang di Pasirwangi, Mataair Cikahuripan yang mengalir diantara rekahan bongkah lava, hingga tapakbumi Batugantung di lembah imah seniman. Disambung oleh penjelasan ibu Nia yang menguraikan Usaha Kecil Menengah yang dikerjakan oleh warga Desa Cikahuripan, diantranya jenis-jenis kuliner hingga produksi makanan kemasan.

Dalam pemaparan awal, Deni memberikan gambaran geografis lokasi kunjungan. Desa Cikahuripan berada dijalan utama penghubung Cimahi-Lembang melalui jalan Kolonel Masturi. Delinasi desanya meliputi lereng selatan G.Tangkubanparahu, termasuk kawah utama gunungapi tersebut. Kemudian di sebelah selatannya persis berbatasan dengan jalur Sesar Lembang segmen Cihideung (Daryono. 2016). Masyarakat mengeluhkan bahwa desa ini hanya menjadi jalan pintas menuju destinasi pariwisata yang dikelola oleh kapital besar, seperti wisata Tangkubanparahu, glamping Cikole. Lembang Park and Zoo. Sehingga masyarakat bukan saja sebagai penonton, namun berharap mampu mendorong pariwisata berbasis masyarakat di Desa Cikahurpan. Harapan tersebut memiliki tantangan tersendiri, karena diapit oleh dua sumber potensi bencana geologi.

Sebelah utara diancam oleh kegiatan letusan gunungapi dan sebelah selatannya digoyang oleh potensi gempa Sesar Lembang. Sehingga desa ini mengikuti program Destana, Desa Tangguh Bencana, didampingi oleh Bandung Mitigasi Hub dan tim Pengabdian Masyarakat ITB. Kegiatannya berupa pendampingan melakui Pendekatan Pengurangan Risiko Bencana Berbasis komunitas. Kelembagaanya melalu Desa Tangguh Bencana (Destana), melalui rancangan yang dituangkan ke dalam Rencana Induk Desa Wisata Tangguh Bencana. Selain bahaya geologi yang mengancam warga Cikahuripan, desa ini menyajikan bentang alam yang menawan. Diantarnya dataran tinggi perbukitan, potensi perkebunan, dan posisi strategis geografis. Modal dasar ini dibuka dalam kegiatan Geourban.

Kunjungan pertama adalah melihat kembali sumber mata air di sebelah utara timur desa. Dilalui melalui perjalanan singkat dari kantor desa, menggunakan roda dua. Kemudian dilanjutkan berjalan kaki kurang lebih 10 menit menuruni lembah Ci Hideung. Terdiri dari dua mata air, dibagian bawah yang kini telah dibantun struktur bangunan beton, kemudian dibagian atas diantara perkebunan rakyat. Airya mengalir diantara celah batuan lava.

Disebut mata air Cikahuripan yang selalu mengalir walapun masuk dimusim kemmarau. Dodi menyampaikan pepatah orang tua “bilamna harga beras naik, maka mata air Cikahuripa kering”. Makna tersebut mengandung pemahaman bahwa sawah-sawah yang berada di dataran rendah Bandung, sangat bergantung kepada mata air disebelah utara. Sehingga bisa dipahami bilamana suplai air hilang, maka para petani tidak bisa bercocok tanam. Dampaknya harga kebutuhan pokok akan melambung naik. Pesan konservasi tersebut ditegaskan kembali oleh narasuber Fajar Lubis dari Brin. Ahli hidrogeologi tersebut memaparka perluanya konservasi di daerah hulu, agar sumber mata air Cikahurpan tidak terganggu. Fajar meyampaikan demikian, karena kekhawatirannya dengan pembangunan di hulu, seperti bangunan dan perubahan tata guna lahan akan mempengaruhi sumber mata air yang muncul di sekitar Cikahurpan.

Sumber mata air Cikahuripan mengalir diantara dua litologi, disebut mata air kontak. Di bagian atasnya adalah piroklakstik pembawa air (akifer), kemudian mengalir pada bidang datar berupa lava. Menurut Dodi, airnya mengalir baik walaupun memasuki kemarau. Ia menunjuk sumber mata air yang ada di bagian bawah, kini mengalirka debit air kecil, karena telah terjadi perubahan lahan dengan pembagunan fasilitas berupa bangunan tembok. Diduga pembangunan struktur beton tersebut menganggu sumber mata air. Dodi melukiskannya, airnya menjadi “pundung” atau marah karena diganggu.

Kunjunga ke-dua menuju Pasirwangi, perbukitan di sebelah selatan desa Cikahuripan. Lokasinya merupakan perbatasan antara Desa Cikahuripan dan Desa Gudang Cikahurpan. Lokasi pemakam umum, terletak persis di jalur sesar Segmen Cihideung. Dari titik tinggi ini bisa melihat bentang alam 360 derajat ke segala arah. Di utara berupa kerucut G. Burangrang-Tankubanparahu, dibagian lerengnya terlihat punggungan batas kaldera G. Sunda. Disebut punggungan perbukitan Sukatinggi, menjang antara Sukawana hingga G. Putri-Cikole Lembang.

Kunjungan terakhir adalah ke situs monumen Junghuhn di Jayagiri. Lahan yang berdiri di atas lahan seluas 2.5 Ha, dibawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat. Disebut Cagar Alam Junghuhn, didirikan sejak 21 Februari 1919. Memuat monumen peringatan Junghuhn, dan makan koleganya saat membudidayakan kina. Johan Eliza de Vrij meninggal pada 1862, dikuburkan di sebelah timur. Ahli farmakologi yang mendampingi Junghuhn dalam pengembangan obat kina, dan sekaligus sebagai penasehat proyek pembudidayaan Cinchonia di Bandung utara, Cinyiruan Bandung selatan.

Dalam linimasa sejarah kina, mulai dikenal sekitar 1630. Dibawa oleh para misionaris Spanyol yaitu cardinal Juan de Lugo ke daratan Eropa dari Amerika selatan. Kemudian pada 1852 J.F.Teysmann membawa jenis kina Cinchona calisaya. Dibudidayakan di Kebun pegunungan Cibodas (Kebun Raya Cibodas). Namun seiring waktu, pembudidayaanya tidak memberikan hasil yang baik, sehingga 1852 C.F. Pahud menugaskan Justs K. Hasskarl untuk mencari bibit kina dari Bolivia. 1854 ditanam di Cibodas dan Cinyiruan.

Junghuhn kembali ke pulau Jawa untuk kedua kali, setelah beberapa tahun tetirah untuk mengobati penyakitnya. 1855 F.W. Junghuhn sampai di Pulau Jawa.  membawa 139 tanaman asal biji yang berasal dari Belanda, jenis kina C. Calisaya var javanica. Kemudian pada 1855-1857 Pembukaan perkebunan kina di Cinyiruan, dan Junghuhn menjadi pengawas. Puncak karir Junghuhn adalah 1858-1862 Bersama Johan Eliza de Vrij seorang farmakolog, sebagai penasehat proyek cinchonia  membudidayakan kina Bandung utara, Cinyiruan.

Akibat penyakitnya yang menahun, pada 24 April 1864 Junghuhn meninggal dunia di Jayagiri Lembang. 1898 Johan Eliza de Vrij, dimakamkan dekat tugu Junghuhn

Menjelang kepergiannya menuju alam fana, Junghuhn pernah berujar, “Sahabku, tolong bukakan jendela itu. Saya ingin menyapa gunung, hutan untuk terakhir kalinya” ujar Junghuhn kepada sahabatnya Isaac Groneman. Rangkaian kalimat tersebut mengantarkan seorang penjelajah, kartografer, geolog, ahli botani, dan sastrawan ini kembali ke sang pemilik semesta.

Kegiatan ditutup di padepokan Pasiripis, Jayagiri, Lembang. Dipungkas oleh kegiatan buka bersama, sekaligus menutup kegiatan Geourban ke-12.

Catatan Geourban#12 Gegersunten

Partisipan hadir seiring matahari beranjak naik, hadir sesuai janji di grup WA yang menuliskan waktu pertemuan awal pukul 08.30 WIB. Titik pertemuannya persis di bawah G. Batu Lembang, jalan utama yang menghubungkan Maribaya dan Punclut. Tercatat kurang lebih ada 20 orang hadir, dengan latar belakang beragam. Mulai dari pelaku usaha biro perjalanan wisata, mahasiswa, jurnalis, pegiat medsos, pegiata wisata, pemandu wisata hingga ibu rumah tangga.

Kegiatan geowisata di sekitar Cekungan Bandung ini, diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI). Dengan tujuan menjalin jejaring lokal, inisiatif program perjalan geowisata dan syiar geowisata. Kegiatan in merupakan rangkaian program geowisata tematik ke-12, dilaksanakan sekitar Maribaya-Palintang, Sabtu, 29 April 2023. Kegiatan Geourban telah dilaksakan sejak satu tahun yang lalu (2022) melalui kegiatan sebelumnya disebut Geobaik (2020). Kegiatan ini dilaksanakan setiap bulan, bertujuan mendorong tumbuhnya ekosistem geowisata di kota Bandung dan sekitarnya.

Kegiatan ini bersifat probono atau tidak dipungut biaya, sebagai upaya syiar wisata bumi kepada masyarakat umum, dengan narasumber yang tergabung dalam wadah perkumpulan pemandu geowisata Indonesia. Bagi organisasi profesi, kegiatan ini sebagai cara untuk peningkatan kompetensi sebagai pemandu geowisata, sekaligus sebagai sarana aktivasi geowisata di sekitar Cekungan Bandung.

Kegiatan dimulai dengan menu pertama mendaki G. Batu, melalui jalur pendakian sebelah timur. Jalanannya merupakan jalu setapak, melalui rumah warga yang menempati lereng bukit yang dibatasi oleh perkebunan rakyat. Jalurnya melalui jalan setapak menanjak mengikuti kontur perbukitan, kiri dan kanan ditempati perkebunan warga. Menjelang tiba dibagian puncak disambut oleh bongkah batuan beku yang telah lapuk oleh waktu, menandakan bahwa bukit ini disusun oleh lava yang sangat tebal.

Dibuka oleh Deni Sugandi, selaku pemandu geowisata, melalui orientasi geografis posisi G. Batu dengan bentang alam disektiarnya. Posisi dipuncak bukit ini merupakan titik terbaik untuk menginterpretasi dinamika bumi yang sedang terjadi di dataran tinggi Bandun gutara. Dari titik ini bisa mengamati kelurusan arah barat-timur sesar Lembang, dibelah olhe Ci Kapundung. Di sebelah utara atau bagian Bandung terlihat struktur blok yang naik yang dipaku oleh kerucut G. Palasari di sebelah timurnya. Sesar Lembang ditengah pulau Jawa (intraplate), sambungan dengan Sesar Cimandiri. Dalam penelitian terbaru, total  29 km, barat-timur dengan struktur sesar normal dan sesar geser sinistral (Daryono, 2016). Dalam penelitan tersebut membagi Sesar Lembang menjadi beberapa segmen, diantaranya segmen Cimeta; Cipogor; Cihideung; Gunung Batu; Cikapundung;  Batu Lonceng.

Kemudian sedikit ke utara, terlihat G. Bukittunggul yang berdampingan dengan G. Pangparang. Kemudian hadir tubuh megah G. Manglayang yang menempati posisi sebelah tenggara. Di selatannya adalah jajaran perbukitan dan pegunungan Bandung selatan. Dihadapnnya adalah cekungan luas, dengan sisi terpanjang sekitar 50 km dari timur di Cicalengka ke bagian barat di Padalarang, serta lebar sekitar 30 km dari batas dataran tinggi Lembang hingga di bagian selatan di Ciwidey. Danau yang menempati cekungan Bandung, kemudian mulau surat sejak 20.000 tahun yang lalu.

G. Batu merupakan blok yang naik, segmen Sesar Lembang Gunung Batu. Sedangkan di sebeleah utaranya adalah blok yang turun, bagian dari dataran tinggi Lembang. Kota kecamatan tersebut dinaungi bayang-bayang G. Tangkubanparahu, gunungapi aktif yang kin terus diawasi hingga kini. Bila melihat sedikit kearat barat, terlihat kerucut gunung yang telah tererosi kuat, merupakan gunungapi samping bagian dari sistem kaldera Sunda. Bila ditarik dari garis imajiner, searah lereng G. Burangrang ke arah timur, akan membentuk kerucut. Tinggi garis imajiner tersebut diduga hingga 3.800 m dpl. milik dari gunungapi generasi pertama.

Gunungapi Pra-Sunda mulai membangun dirinya sekitar umur Plistosen Awal. Kemudian menunjukan aktivitas volaniknya sekitar Pliosen Tengah, seiring dengan tumbuhnya gunugapi parasi G. Burangrang. Letusan efusif Pra-Sunda berupa aliran lava yang menyusun tubuh G. Batu Lembang. Dari pengukuran umur batuanya, sekitar 0.5060 Ma (Sunardi, 1996), berasal dari hasil letusan efusif G. Pra-Sunda.

Setelah G. Pra-Sunda rubuh, kemudian membentuk lingkar kaldera.  Disusul pembentukan generasi ke-dua yaitu G. Sunda yang menunjukan aktivitasnya antara 0.210 – 0.105 Ma, kemudian membentuk lingkar kaldera 6.5 x 7.5 km. Pada peta topografi Bandung utara, van Bemmelen memperkirakan ada dua lingkar yang merupakan bagian dari Pra-Sunda dan Sunda (1934). Dari lingkar kaldera tersebut, kemudian tumbuhlah gunungap api generasi terakhir yaitu G. Tangkuban parahu. Hadir setidaknya sejak 90.000 tahun yang lalu (Nugraha, 2005).

Kegiatan selanjutnya adalah mengunjungi situs Batuloceng, di sebelah timur dari G. Batu. Situ budaya ini diperkirakan merupakan kabuyutan yang memiliki umur lebih tua dari peradaban Sunda Klasik. Tafsiran demikian berdasarkan interptretasi dari temuan arca Cikapundung, sekitar tahun 1263 Saka, atau sekitar 1341 Masehi. Arca tersebut bergaya Polinesia-Pajajaran, ditemukan di sekitar di Desa Cikapundung, Kabupaten Bandung, di atas bangunan berundak teras diwujudkan dalam bentuk antromorf (Eriwati, 1955). Tidak disebutkan dengan rinci lokasinya, tetapi menunjukan wilayah sekitar bantaran hulu Ci Kapundung yang saat ini masuk ke dalam wilayah Suntenjaya. Beberapa sumber menyebukan ditemukan di sekitar perkebunan kina. Saat ini arca tersbut menjadi koleksi Museum Nasional dengan nomor inventaris 479c/D184. Bila disejajarkan dgna kerajaan Sunda saat itu berada di penguasaan Prabu Ragamulya Luhurprabawa yang memerintah antara 1340 hingga 1350.

Penemuan arca tersebut memperkuat dugaan kunjungan Bujangga Manik ke sekitar Palintang. Dalam naskah yang ditulis pada abad ke-15, menceritakan perjalanan Bujangga Manik melintasi dataran tinggi bagian utara Ujung Berung. Menyebut Bukit Karesi, Bukit Langlayang, dan (Gunung) Palasari. Kemudian menyeberangi (sungai) Cisaunggalah dan berjalan ke arah barat hingga tiba di bukit Patenggeng.

Dalam teks tersebut bisa ditafsirkan beberapa nama geografis yang masih bisa dikenali hingga kini. Seperti penulisan bukit Langlayang untuk G. Manglayang di sebalah utara Cibiru Bandung. Kemudian bukit Palasari adalah G. Palasari di Suntenjaya, Palintang. Namun untuk mencocokan bukit Karesi, sepertinya tidak ada lagi indikasi geografis yang bisa disandingkan dengan nama tersebut, sehingga bisa jadi merujuk pada nama gunung lain yang satu kelompok dengan Palasari-Manglayang.

Penyebutan lainya adalah Cisaunggalah yang mendekatkan dengan cerita Ciung Wanara di sebelah timur Jawa Barat. Hadir sekitar 793 Masehi, merupakan penguasa kerajaan Galuh setelah pendahulunya tamperan Bamawijaya. Sedangkan naskah Bujangga Manik ditaksir antara akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15. Noorduyn dan A Teeuw memperkirakan bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik berlangsung (atau ditulis?) pada kurun Kesultanan Malaka masih menguasai jalur perniagaan Nusantara, sebelum jatuh ke tangan Portugis pada 1511. Di dalam naskah tesebut menyebutkan 450 kawasan, termasuk di antaranya ada sedikitnya 90 nama gunung dan 50 nama sungai. Naskah puisi yang berjumlah 1641 baris ini, adalah bahwa pada kenyataannya– mirip naskah-naskah Sunda antik yang pada umumnya otentik dan tidak disalin naskah BM tiada duanya dan cuma satu-satunya di dunia (codex uniqus).

Di Situs Batuloceng berupa undakan yang didirikan di atas bukit. Tepat berada di lereng sebelah utara G. Palasari, diapit oleh G. Bukittunggul dan dipisahkan oleh Ci Kapundung hulu. Penulisan G. Bukit Tunggul lebih dipercaya disebut beuti bukan bukit, memaknai akar pohon (tunggul) yang digunakan untuk membuat perahu oleh Sangkuriang. Seperti yang dituliskan dalam Gids voor Bergtochten op Java, ditulis oleh ahli gunungapi Dr. Ch. E. Stehen, 1930.  Di situs ini dipercaya hadir sejak 1816, melalu juru pelihara (kuncen), Eyang Haih. Dipercaya sebagai patilasan Sembah Dalem Sunan Margataka atau yang dikenal dengan Prabu Wanara atau Ciung Wanara (Manarah/Surotama).

Kepercayaan tersebut bersarkan penamaan toponimi yang muncul pada peta Belanda (Geolosgisch kaart, van Bemmelen, 1934) menuliskan nama Gegersunten di sebelah utara, tepat di lereng seltan G. Bukittunggul.

Kegiatan Geourban ditutup di Batuloceng, dengan harapan aktivitas geowisata ini bisa membuka kegiatan geowisata yang berdampak kepada aktivitas ekonomi lokal, dan pemahaman lebih dalam mengenai narasi bumi dan budaya.

Geourban#12 Gegersunten

Bandung bagian utara dibatasi punggungan Sesar Lembang. Memanjang barat-timur 29 km dari G. Palasari Cilengkrang, Bandung Barat hingga Ngamprah di Badung Barat. Di segmen Maribaya-Batuloceng, dicirikan oleh gawir sesar berupa blok Bandung yang naik antara 300 hingga 450 meter. Disusun oleh lava hasil kegiatan pembentukan Gunungapi Pra-Sunda-Sunda, antara 0.560- 0.105 MA. Di bawah lereng G. Palasari ditemui peradaban yang diperkirakan hadir di masa Pra-Sunda, dan budaya Sunda Klasik diwakili Kabuyutan Batuloceng.

Di Abad ke-15 (sekitar 1338 M, Noorduyn) dalam perjalanan ke-dua, Bujangga Manik menuliskan dalam naskah perjalanan resi guru, G. Langlayang, G. Kaeresi dan G. Palasari. Merujuk kepada kerucut gunung disebelah utara-timur Bandung.

(1330) leu(m)pang air ngaer barat.
Tehering milangan gunung:
Itu ta bukit Karesi
Itu ta bukit Langlayang
Ti baratna Palasari

Dari naskah tersebut menyuratkan telah hadir kebudayaan Hindu di Bandung utara, sebelah timur di bawah lereng G. Bukittunggul-G. Pangparang. Bujangga Manik menyebutkan sasakala Sangkuriang, gagal membangun situ. Sedikit ke utara merupakan hulu Ci Kapundung, sungai yang membelah kota Bandung. Mengalir dan mengerosi diantara gawir terjal Sesar Lembang ke arah barat. Disekitar Curug Domas, arahnya berbelok mengalir di lidah lava G. Tangkubanparahu tua (40.000 tahun yl), berhenti di Curug Dago. Ci Kapundung membelah kota Bandung, bermuara di Dayeuhkolot, jantung ibu kota kabupaten sebelum pembangunan Jala Raya Pos 1811.

#geourban #geourban12 #sesarlembang #batuloceng #hulucikapundung #palintang

Hari/tanggal
Sabtu, 29 April 2023

Waktu
Pkl. 08.30 WIB sd. 13.00 WIB

Meeting point
Dago Giri-Gunung Batu Lembang

https://goo.gl/maps/5i2xLt7GNdMFFCpv8

Rute
Gunung Batu Lembang, Maribaya, Batuloceng, dan Palitang

Disklaimer
Disarankan partisipan untuk menggunakan transportasi pribadi, roda dua atau roda empat. Memakai baju lapangan, dan jas hujan. Kegiatan bersifat probono, termasuk akom/transport dan tiket wisata ditanggung masing-masing.

Geourban
Diinisiasi oleh pekumpulan Pemandu Geowista Indonesia/PGWI. Bertujuan syiar geowisata, menjahit jejaring dan menggali narasi tapak bumi Bandung Raya. Info: pgwi.or.id @pgwindonesia

Catatan Singkat Geocamp#2 Jatigede

Udara masih dikungkung hawa dingin, menandakan ujung dari musim penghujan memasuki musim kemarau. Kabut menempati perbukitan, dan seiring waktu sirna oleh cahaya pagi. Tepat pukul tujuh pagi, para para peserta sudah siap untuk berangkat dari titik kumpul jalan Pacuan Kuda, Arcamanik Bandug. Diikuti oleh empat orang, badan pengelola pariwisata Kabupaten Sumedang, mahasiswa geologi, dosen, senior pemandu wisata, hingga pelaku wisata bumi. Di Desa Jembarwangi, bergabung dari kelompok Mengenal Alam dan Objek Geologi (Laladog), Majalengka, menggenapkan total peserta adalah 15 orang. Kegiatan Geocamp ini dilaksanakan dua hari, 7 dan 8 Mei 2022, menyusuri sejarah bumi dan budaya, di sekitar Jembawangi, dan Jatigede, Kabupaten Sumedang.

Dalam berita masih diinformasikan bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Sumedang selatan dan sekitar Tanjungsari dan Cadaspangeran. Di Cadas Pangeran didapati beberapa titik longsoran (1/5, 2022), tepatnya di rest area Cigendel, Kecamatan Pamulihan. Tiga warung longsor akibat tebing penahan roboh, seiring hujan deras yang menerpa kawasan ini. Gerakan tanah di sekitar Cadas Pangeran terjadi akibat batuan penyusunnya dalah voklanik tua berupa breksi lepas yang terereosi, kemudian gradien lereng yang curam sehingga mampu mengupas tanahpenutup (top soil). Selain itu akibat curah hujan tinggi yang mengakibatkan air menyusup menjadi bidang gelincir. Dilaporkan hanya kerugian harta benda, tanpa ada korban manusia.

Kondisi demikian diuraikan di Peta Zona Rawan Gerakan Tanah, Kabupaten Sumedang, diterbitkan oleh Badan Geologi Kementerian ESDM. Kawasan Cadas Pangeran memiliki potensi kerentanan gerakan tanah tinggi, akibat curah hujan tinggi dan erosi kuat. Kisaran kemiringan lereng antara agak terjal hingga hampir tegak. Kemudian vegetasi penutupnya telah hilang.

Ci Herang, sungai yang membelah dusun Ciherang, Cijambu meluap (3/5, 2022). Mengakibatkan kerusakan pada fasilitas wisata, dan merengut korban satu orang akibat terbawa arus banjir bandang. Kondisi demikian menandakan morfologi kawasan Sumedang rawan terhadap potensi bencana dari alam. Selain itu pembangunan fasilitas wisata tidak memperhatiakan kondisi geologi, sehingga habis tersapu banjir bandang dalam waktu singkat. Dilaporkan telah hilang satu orang, dalam peristiwa Banjir Bandang di Desa Cijambu. Kegiatan Geourban#2 Jatigede, diantaranya menyoal kondisi demikian, dengan cara menerawang kembali ke masa lalu, dari tatanan geologi hingga kondisi geografi.

Geocamp adalah kegiatan geowisata yang dibalut dalam aktifitas penelurusuran dan kemping, bermaksud menapaki bencana geologi yang bisa ditumbulkan oleh kondisi geologi, sejarah bumi hingga sejarah masa pendudukan kolonial. Diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), berkerja sama dengan biri perjalanan wisata Java Exotic Trail, dan pengelola campervan Pasir Nini, Pajagan. Penelurusan ini adalah upaya mengenalkan alam Sumedang, dalam aktivitas geowisata kepada masyarakat, khususnya kawasan Jatigede, Sumedang melalui ilmu kebumian, sejarah dan ilmu budaya.

Perjalanan dibuka melalui brifing awal oleh Deni Sugandi, selaku pemandu geowisata. Memaparkan rencana kegiatan selam dua hari, 7 dan 8 Mei 2022.  Diantaranya mengunjungi kawasan Cadas Pangeran, Perbukitan Malati, Lembah Cisaar Jembarwangi, hingga kunjungan ke blok sesar anjak sekitar poros Jatigede.

Bertolak  dari kota Bandung pagi hari saat jalanan masih lenggang saat suasana lebaran. Berangkat  menelusuri jalan raya pos, dari Ujung Berung, Jatinangor, kemudian menuju Cadas Pangeran. Beranjak ke lorong waktu periode pendudukan kolonial, bisa disaksikan di jalan yang berliku-liku menembus perbukitan batuan keras di Cadas Pangeran.Dikerjakan satu tahun, 1811-1812 dengan cara membobok perbukitan menggunakan alat-alat sederhana, diupah sangat rendah (Marihandono, 2008). Diperkirakan ditebus oleh hilannya 5.000 nyawa pekerja paksa (Ananta Toer, 2005).

Kunjungan pertama adalah di Cadas Pangeran, persis di persimpangan jalan lama dan baru. Terdapat patung Pangeran Wiranata Koesomah Dinata (1791-1828), dikenal dengan Pangeran Kornel. Penggambaran patung tersebut, memperlihatkan Pangeran Kornel sedang bersalaman dengan Willem Daendels, dengan gestur tubuh seakan-akan penolakan. Adegan tersebut Pangeran Kornel menyalami Gubernur Jenderal Hindia Belanda terebut dengan tangan kiri, tangan kanannya memegang keris. Penggambaran melalui patung tersebut belum tentu mewakili peristiwa sebenarnya. Pertemuan Gubernur Jenderal Daendels dan Pangeran Kusumadinata IX (1761-1828) tidak tertulis dalam arsip mana pun, termasuk juga dalam laporan Daendels sendiri kepada Menteri Perdagangan dan Koloni Van der Heim (Marihandono, 2008).

Kunjungan selanjutnya adalah mengunjungi titi tinggi di sekitar Cijeungjing-Cipicung, atau sebelah utara poros Jatigede. Titik ini merupakan lokasi terbaik untuk mengamati geo circle, bentuk konsentris yang diduga sebagai hasil tumbukan meteor 4 juta tahun yang lalu. Terlihat Pasir Cariang di sebelah utara, bersama Pasir Malati yang mengapit lembah Cisaar. Kemudian di sebelah barat dari Pasir Malati, terlihat kecurut bukit Gunung Agung, berupa intrusi andesit.

Kunjungan selanjutnya adalah melihat koleksi fosil, hasil temuan masyarakat di Desa Jembarwangi. Diantaranya molar, hingga tulang paha mamalia besar, ditemukan disekitar sebelah timur desa, berbatasan dengan lereng Pasir Malati. Koleksi tersebut kini tersimpan baik didalam lemari, di ruangan khusus yang disediakan oleh pemerintah desa. Namun koleksi fosil tersebut belum dideskripsi, sebatas penemu dan lokasi saja. Dengan demikian perlu penataan, baik koleksi yang telah ada, maupun koleksi dilapangan. Menurut Odon, selaku tim yang ditunjuk oleh pemerintah desa untuk mengkoordinasi temuan fosil di Desa Jembawangi, hanya sebatas mencatat hasil temuan masyarakat. Temuan-temuan tersebut ada dimasyarakat, namun dihimbau untuk tidak diperjual belikan, jelas Odon selaku pelaksana satuan tugas kepurbakalaan desa. Pada tahun 2018 hingga 2019, telah dilaksanakan kegaitan ekskavasi belalai Stegodon di lembah Cisaar, menandakan bahwa Cisaar saat itu dalam kondisi rawa yang dihuni oleh mamalia besar. Diantaranya banteng, stegodon, hingga buaya. Koleksi tersebut hingga kini tersimpan dalam bentuk fragmen, di kantor desa.

Kegiatan penutup adalah mengunjungi di kawasan Blok Sangiang, Desa Pajagan, Sumedang. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya yang bertemakan sejarah paleotogi, di kawasan ini memiliki sejarah geologi yang menarik. Di Blok Sangiang didapati perbukitan yang hampir tegak, berupa punggungan bagian dari sistem sesar Baribis. Punggungan tersebut merupakan perbukitan terlipat dan tersesarkan, disusun oleh breksi volkanik. Peristiwa pembentukan sesar Baribis berkaitan erat dengan strutur geologi lainya yang  beada di selatan. Sehingga pola struktru yang berkembang dapa tmenjelaskan genesa pembentukan sesar tersebut (Hartono, 1999).

Dari titik camping ground Pasir Nini, Blok Sangiang, Desa Pajagan, dapat memandang perbukitan yang memanjang dari barat ke timur. perbukitan tersebut merupakan bagian dari sistem sesar Baribis. Membentang dari Rangkasbitung, Bogor, Subang, Sumedang hingga ke arah timur di Bumiayu. Total panjang kurang leibh 40 km, merupakan bagian dari Zona Bogor bagian timur, daerah antiklinorium dengan arah sumbu lipatan barat-timur (van Bemmelen, 1949). Selain sesar regional yang berkembang di Blok Sangiang, didapati juga sesar-sesar lokal yang terlihat jelas di lembah Blok Sangiang. Diantaranya sesar yang berarah selatan-utara, satu kelurusan dengan Dam Jatigede. Bila melakukan pengamantan di jembantan Eretan, terlihat jelas tegasan selatan-utara yang dierosi oleh Ci Manuk.

Blok Sangian saat ini telah menjadi destinasi wisata minat khusus kebumian, diantaranya tersedia campervan area di Pasir Nini, dan wisata bumi di lembah Blok Sangiang, serta airterjun yang mengalir dari perbukitan terlipat Curug Breksi Cilandak dan Curug Mulud. Destinasi ini dikelola melalui kerjasama LMDH desa Pajagan, dan pengelolaan tanah pribadi. Di titik camp area Pasir Nini, menyuguhkan panorama poros Jatigede di sebelah selatan, dan perbukitan sistem sesar Baribis yang dibelah oleh Ci Manuk. Lokasi tepat untuk memahami sejarah bentang alam, sekaligus sebagai area wisata kembali ke alam. (DS)

Felix Feitzma: Pesan terakhir semangatnya yang tua

Ibarat mobil tahun lama, berupa karoseri yang telah uzur. Namun mesinya yang selalu berkobar-kobar. Itulah (alm.) Felix Feitzma yang selalu bersemangat, menyampaikan pesan profesionalitas sebagai tour guide pariwista kepada yang muda.

Semangatnya tetap membara, menyulut siapa saja yang menyimaknya. Lantang, jelas, teratur dan menohok.  Ketika membahas pariwisata dan pemanduan profesioanl, waktu seperti melayang tidak bertepi. Bab demi bab pandangannya yang lekat dengan pemanduan wiasata, bergulir penuh dengan pengalaman lapangan.

Namun raganya kini harus kembali ke haribaan sang Khalik, tugas dunianya sudah selesai. Semoga perjalanan terakhir beliau, bisa menemukan tapak yang lapang sesuai dengan amal ibadah yang telah disemaikan di dunia.

Berikut adalah sepenggal jejak beliau yang direkam dalam kesempatan kegiatan Geourban#8 di Babakan Siliwangi Bandung. menyampaikan filosofi tour guide profesional.

Selamat jalan Felix bin Feitsma Deodatus., semangatmu milik kami.

Geourban#11 Jayagiri

Mengundang teman-teman semua, bergabung di penelusuran kembali endapan awan panas G. PraSunda-Sunda di jalur sesar Lembang segmen Cikahuripan. Melihat kembali jejak di akhir hayat Junghuhn di dataran tinggi Jayagiri. Ditutup buka bersama di Padepokan Pasiripis di lereng selatan Gunung Sukatinggi. Kegiatan ini terbuka untuk umum menggunakan roda dua (motor), melalui aktivitas geowisata.

Hari/Tanggal
Sabtu, 8 April 2023

Waktu
14.00 WIB sd. selesai

Meeting Point
Kantor Desa Cikahuripan

https://goo.gl/maps/3WwFmUniAM8yRKeJ8

Donasi (pengganti buka bersama)
Rp. 40.000.

Konfirmasi keikutsertaan
https://forms.gle/jFSzBP6fVzi2hGMR6

Apa itu Geourban?
Diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisat Indonesia/PGWI. Membuka jejaring pelaku wisata, menggali potensi dan aktivasi geowisata.

Catatan Diklat Angkatan I PGWI 2021

Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI) melaksanakan kegiatan pertemuan dalam jaringan melaui zoom metting. Dilaksanakan selama dua hari, hari sabtu 20 Februari dan 21 Februari 2021. Bagian dari kegiatan Pendidikan dan Pelatihan/DIKLAT Angkatan I PGWI 2021.

Pematerian dibuka pada tanggal 20 Februari 2021, pukul 07.00 WIB, melalui zoom meeting. Dibuka secara formal melalui sambutan perwakilan Dewan Pembina Felix Feitzma, dan ketua PGWI Deni Sugandi. Dalam pembukaan tersebut, Felix menyambut baik kehadiran para peserta yang tersebar dari seluruh wilayah Indonesia.

Total peserta 63 orang sesuai dengan kuota penerimaan anggota PGWI, berasal dari beberapa provinsi di Indonesia, diantaranya mulai dari timur seperti Papua dan Papua Barat, Sulawesi Selatan, dari NTT, NTB, Bali, kemudian Jawa Timur, DIY, Jawa Barat. dari Sumatra hadir dari Sumatra Barat dan Aceh.

Materi hari pertama disampaikan oleh dua narasumber, Felix Feitzma dan Daniel G. Nugraha. Kedua narasumber tersebut merupan profesional tour guide. Dalam pemaparannya, Felix yang biasa disapa Opa Felix menuturkan Kreativitas dalam Pemanduan Wisata. Felix mencontohkan kegiatan alternatif dalam pengemasan wisata minat khusus, dengan mencontohkan pada penggarapan kegiatan wisata kemping dan treking di Sanghyang Poek di Citarum. Paket kemasan yang dibuat memperhtikna kenyaman wisatawan, baik dalam kebutuhan khusus dan umum diantaranya penyajian akomodasi menggunakan tenda yang baik, kemudian alas tidur yang sesuai kesehatan dan kenyamanan.

Selanjutnya Daniel memaparkan potensi pasar wisata yang masih besar, dan belum tergarap dengan baik. ia memaparkan ceruk-ceruk wisata minat khusus yang belum tergarap dengan serius, walaupun sudah ada namun masih dalam jumlah yang kecil. Kemudian pemainnya pun tidak terlalu banyak, mengingat perlu penanganan yang khusus dan cenderung dengan biaya operasional lebih tinggi dibandingkan wisata reguler.

Dalam materi ke-dua, disampaikan oleh ahli geologi Awang Satyana. Dalam kesempatan ini beliau menyampai mengenai keragaman geologi Indonesia, dengan judul materi Keragaman Geologi Indonesia dan Geowisata. Dalam pemaparannya Awang menjelaskan sejarah geologi pembentukan Indonesia dari tiga lempeng besar. Kemudian menjelaskan tentang tema-tema dalam kegiatan geowisata melalui kegiatan komunitas Geotrek Indonesia. Diantaranya dengan tema berkaitan dengan keragaman batuan, keragaman bentuk struktur, keragaman gunungapi baik yang masih aktif hingga yang telah dorman, kemudian dampatknya pada hasil letusan yang mepengaruhi budaya manusia. Materi lainya berkaitan dengan sumber daya alam secara umum, dan penutup adalah keragaman kehidupan manusia purba yang menempati sebagian wilayah Indonesia.

Narasumber ke tiga, disampaikan oleh Nirwan Harahap. Praktisi dan pengusaha IT, memberikan pandangannya pemanfaatan platform digital. media komunikasi online tersebut merupakan salah satu cara agar pemandu geowista memiliki akses penuh terhadap penyebaran informasi kepada khalayak. Media tersebut adalah tv daring melalui akses satelite, terutama daerah-daerah yang berlum terjangkau dengan internet.

Pada hari ke-dua, dibukan dengan materi berkaitan dengan persiapan Rencana Perjalanan Pemanduan Geowisata yang disampaikan oleh Deni Sugandi. Materi tersebut menjelaskan pentingnnya persiapan, baik itu persiapan untuk peralatan yang harus dipersiapkan, maupun materi informasi yang perlu direncanakan.

Materi berikutnya diketengahkan mengenai intepretasi dalam pemanduan geowisata. T Bachtiar mengajak agar para pemandu mampu menyelami, teknik dasar intepretasi. Dalam kesempatan ini Bachtiar menceritakan letusan Gunung Tambora dan pengaruhnya terhadap kehidupan di Bima. Intepretasi menjadi penting, karena menurutnya merupakan seni dalam berkomunikasi.

Pada materi penutup hari ke-dua, 21 Februari 2021 yaitu Teknik Pemanduan. Diberikan oleh Sodikin Kurdi. Materi yang berkaitan dengan alur kegitan pemanduan secara umum, mulai dari kegiatan brifing, safety talk, melakukan pergerakan pemanduan hingga penutupan pemanduan. Dalam paparan ini, Felix menambahkan bahwa pentingnya hospitality dalam kegiatan pemanduan geowisata. Pemandu memberikan pelayanan, dan menyampaikan informasi berkualitas melalui kegiatan pemanduan.

Diklat ini merupakan tanggung jawab pengurus nasional, dalam upayanya menyamakan visi mengenai pemanduan geowisata. Seperti menjadi harapa bersama para peserta, bahwa diharapkan kedepannya, organisasi ini bisa memfasilitasi dalam pertemuan bulanan yang berisi sharing session yang berkaitan dengan kegiatan pemanduan dan geowista.

Tangkaplayar Peserta Diklat 2021 melaui kegiatan daring

Catatan Geourban#10 Palintang

Matahari beranjak dari batas horison, diiringi cuca cerah. Langit biru dihiasi awan berarak, tertiup angin ke arah barat. Kondisi cuaca baik tersebut mengantarkan kegiatan Geourban ke-10 di daerah tinggi Pasir Kunci. Dari titik tinggi ini bisa melihat bentang alam Bandung Raya, dicirikan dengan bentuknya seperti baskom terbalik. Disebelah barat terlihat jajaran perbukitan intrusi G. Lagadar-Sela Cau. Perbukitan intrusi batuan beku di Cimahi Utara. dengan umurnya pembentukannya lebih dari 4 juta tahun. Kemudian bila melemparkan mata ke arah selatan, terlihat punggungan G. Koromong-Geulis yang menghubungkan antara Baleendah disebelah timur, dan Ciparay disebelah barat. Dibagian belakang punggungan perbukitan itrusi tersebut, terlihat megah G. Malabar. Kemudian sedikit ke arah timur, terlihak kerucut-kerucut kelompok gunungapi Garut.

Sebelum Bandung lahir, disebelah timur wilayahnya disebutkan dalam peta lama sebagai Oedjoengbroeng. Dibagi dua wilayah utara dan selatan pada saat di bawah pengaruh Mataram, kemudian batas administrasinya ditata ulang menjadi wilayah timur dan barat seiring pembukaan jalan Raya Pos (1810). Sebagian besar wilayahnya saat itu meliputi kota Bandung dan Ujunberung saat ini.  Pembukaan sarana jalan utama yang mengbungkan timur-barat Jawa, mendorong industri  dan budidaya kopi. Pembangunan jalan Raya Pos melalui priangan tengan karena alasan ekonomi, yaitu mengangkut produk pertanian kopi di wilayah Priangan (Hartatik, 2018).

Kegiatan Geourban ke-10 ini adalah melanjutkan tema di Geouban sebelumnya. Di Geourban ke-9 menelusuri kembali jejak Muras Gegerhanjuang, hingga ke dataran rendah Ciparay sampai batas Ci Tarum. Jauh sebelum kota Bandung bergeser dari tepi Ci Tarum (Krapyak) ke sebelah utara, telah hadir peradaban disebelah timur disebut Ujungberung (Widjaya, 2009). Penguasa wilayahnya diatur dalam sistem pemerintahan daerah setingkat bupati. Dipati Ukur menjabat adipati di Tatar Ukur dan menjabat sebagai bupati wedana di Priangan (1627-1733), mengalami nasib yang malang. Ia harus menanggung pencopotan sebagai bupati wedana dan hidup berpindah-pindah, setelah adanya perselisihan dengan Mataram (Lismiyati, 2016). Jejak pelariannya selain di Culanagara, Gunung Leutik ke sekitar Ciparay, bergeser ke arah utara. Diperkirakan berada di sekitar  perbukitan yang diapit oleh Ci Panjalu dan Ci Patapaan, sekitar wilayah kampung Palintang saat ini.

Kegiatan diikuti oleh belasan partisipan, dengan latar belakang beragam. Pegiat wisata, pemerhati lingkungan, pelajar, akademisi hingga pemandu wisata. Titik pertemuan dimulai di sekitar dataran tinggi Ujungberung, di Kampung Wisata Pasir Kunci di Pasirjati, Kecamatan Ujungberung. Fasilitas destinasi wisata yang dikelola oleh pemerintah kota Bandung, melalui Dinas Parwisata Kota. Destinasi berupa amfiteater yang diperuntukan untuk kegiatan wisata budaya, diantaranay seni tradisi Benjang dan sebagainya. Dari titik ini, kegiatan dibuka dengan penyampaian tetang rencana perjalanan. Dikegiatan Geourban ke-9 ini menapaki kembali sejarah peradaban Sunda Klasik, diantarnya penemuan arca dari budaya pendukung polinesia, higga Sunda Klasik. Diantaranya penemuan arca bentuk membundar khas budaya polinesia, hingga praIslam berupa arca Hindu-Budha.

Disekitar dataran tinggi Ujungberung, dilereng sebelah barat G. Manglayang, diusahakan menjadi wilayah budidaya kopi. Dikerjakan oleh Andreas de Wilde, seiring dengan pembukaan pembukaan jalan Raya Pos 1810. Jalan raya yang dibangun oleh penguasaan koloni Inggris di Hindia Belanda, degan tujuan membukan jalur ekonmi di priangan tengah. Titik kunjungan terakhir adalah mengunjungi situs budaya sekitar Palintang atas, berupa patilasan.

Di wisata Pasir Kunci, Deni Sugandi memberikan pengantar mengenai Cekungan Bandung. Dari titik terlihat Bandung bagian timur, didominasi oleh dataran rendah aluvial. Ditempati oleh pesawahan yang melampar dari barat ke timur. Dari sebelah utara dibatasi oleh kaki gunung Manglayang, kemudian di sebelah selatannya dibatasi oleh Ci Tarum. Wilayah tersebut merupakan sisa pengeringan pascaDanau Bandung Purba. Danau yang terbentuk setidaknya sekitar umur Kuarter, kemudian mulai mengering antaran 20.000 hingga 16.000 tahun yang lalu (Dam, 2004). Dalam proses pengeringan tersebut, meyisakan rawa yang luas, disekitar wilayah Ujungberung saat ini. Batas bagian timurnya adalah sekitar Cibiru, sebelah baratnya sekitar Cijambe. Rawa tersebut disebut Muras Gegerhanjuang. Gan-Gan Jatnika turut memberikan penafsirannya, mengenai budaya yang lahir didataran Bandung bagian timur. Gan-Gan menjelaskan tentang  sejarah pelarian Dipati Ukur, mulai dari perbukitan di Balendah, hingga berlanjut ke sekitar dataran tinggi Palintang. Diantaranya adalah lokasi yang akan dikunjungi, yaitu situs budaya Patapaan.

Dari titik Pasir Kunci, bila melemparkan arah ke sebelah utara, terlihat dua kercut G. Palasari dan G. Manglayang. Dua gunungapi yang pernah aktif kemudian padam. Dicirikan dengan endapan material berupa piroklastik, tuff dan lava di sekitar lereng gunung tersebut. Dititik kunjungan kedua adalah melihat kembali sejarah pembentukan dan letusan G. Manglayang. Dari tepi jalan penghubung Ujungberung ke Palintang, merupakan titik terbaik untuk melihat bentang alam dua gunung tersebut. Dari titik ini Deni menjelaskan bagaimanan G. Manglayang terbentuk. Gunungapi umur Kuarter ini setidaknya terbentuk melalui dua fase kejadian, sebut saja pembentukan Manglayang Tua, dan Manglayang Muda. Dua fase tersebut bisa dilihat dari bentuknya, berupa satuan punggungan kaldera G. Manglayang, dan satuan kerucut G. Manglayang.

Gunungapi tersebut saat ini telah dorman, atau sudah tidak lagi menunjukan aktivitasnya. Bila ditarik garis memanjang antara barat ke timur, menunjukan angka 2,3 km. Angka tesebut menandakan bahwa G. Manglayang merupakan masuk kedalam klasifikasi kelas kaldere, yaitu gunungapi yang memiliki radius kawah lebih dari 2 km. punggungna perbukitan kalderanya terlihat di sebelah utara, membentuk tapal kudar ke arah tenggara. Sedangkan di tengah-tengahnya tumbuh kerucut gunungapi generasi ke-dua, berupa kerucut yang disusun oleh perselingnan lava dan piroklastik. Bisa dipastikan bahwa G. Manglayang tersebut merupakan gunungapi tipe stratovolkano, dengan dua kali sejarah pembentukan. Bukti hasil letusannya bisa disaksikan hingga kini, terutama di bagian lereng sebelah timur.

Didukung oleh kondisi iklim, dataran tinggi dan tanahnya yang subuh hasil pelapukan material letusan G. Manglayang. Gunungapi hadir sejak Plistosen, kemudian menghancurkan dirinya melalui dua suksesi letusan Manglayang Tua dan Manglayang Muda (Silitonga, 1973). Jejaknya berupa punggungan kaldera, dan kerucut Manglayang. Material letusannya berupa perselingan piroklastik dan lava yang diendapkan disekitar pusat letusan. Lavanya mengalir mengisi lembah-lembah yang dierosi sungai diataranya Ci Panjalu.

Didapati aliran lava yang mengisi lembah sekitar Ciporeat. Berupa aliran lava yang telah membeku, kemudian membentuk struktur kekar lembar. Strukur tersebut dikenali dengan bentuknya yang berlembar, menandakan adanya tekanan dari atas pada saat pembekuan magma. Disebut dengan proses kontraksi, membeku dengan cara cepat. Di sekitar Curug Orok yang mengalir di (sungai) Ci Panjalu, sekitar Ciporeat masih bisa disaksikan aliran lava tersebut. Ketebalannya sekitar 10 meter, berupa dinding lava yang terkekarkan. Aliran lava yang mengisi Ci Panjalu tersebut kemungkinan merupakan produk letusan efusif G. Manglayang. Namun tidak diketahui apakaha hasil letusan G. Manglayang Tua atau Muda, sehingga perlu penelitian lebih lanjut untuk mengupas kegiatan volkanime gunungapi yang menaungi Ujungberung.

Di lokasi Curug Orok ini, mengalirlah sumber-sumber mata air dari rekahan-rekahan lava. Debitnya tidak berkurang, bersih dan tidak berbau, menandakan mata air ini bersih. Tipe sumber mata air adalah sumber mata air kontak (contact spring), airtanah dangkal yang mengalir melalui dua litologi yang berbeda. Bagian atasnya berupa endapan piroklastik sebagai bidang akifer, dan bagian bawahnya adalah lava. Dengan demikian air tersebut muncul melalui rekahan-rekahan lava, karena batuan tersebut pejal tidak memiliki porositas. Bagi masyarakat, sumber mata air tersebut dimanfaatkan sebagai air minum, dengan cara ditampung menggunakan bak-bak penampung secara komunal. Kemudian dialirkan melalui pipa-pipa mengikuti kontur, dialirkan hingga jauh ke arah lereng. Disekitar Cigending air tersebut kemudian ditampung dan diangkut oleh truk tangki, kemudian didistribusikan dan dijual menjadi air bersih.

Menurut warga disekitar sumber mata air tersebut, sebagin besar tanahnya telah dikuasai oleh pengusaha air bersih. Terutama di daerah mata air produktif, seperti mata air dicurug orok. Penguasaan lahan tersebut sebagai upaya menjaga pasokan air, untuk kebutuhan bisnis air bersih tersedia.

Beranjak ke arah utara menapaki tanjakan Palintang. Rombongan kemudian berhendi diisekitar persimpangan antara jalan Palintang dan jalan kontrol perkebunan ke arah Palalangon. Dititik tinggi sekitar 1100 m dpl. merupakan titik elevasi ideal untuk penanaman kopi. Seperti yang dituliskan pada peta lama, sedikit ke arah barat dikenali beberapa nama yang berasosiasi dengan kegiatan industri dan budidaya kopi. Pohonnya kini sudah tidak ada, karena diganti dengan komoditas lainya. Diperkirakan disekitar Legok Nyenang merupakan komplek perkebunan kopi lama. Diantaranya nama-nama yang menyebutkan kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan industri kopi, seperti nama Pasirpamoyan. Menandakan tempat untuk menjemur kopi. Berikutnya penamaan Panggeteran, Pangmayaran.

Perkebunan kopi di Ujungberung utara, merupakan bagian dari industri ditingkat Keresidenan Priangan yang dikelola swasta Meskipun banyak disebutkan bahwa pengusaha-pengusaha swasta mulai menanam tanaman eksport pada tahun 1870-an sebagai konsekuensi dari penerapan Politik Ekonomi Liberal, namun di Keresidenan Priangan partisipasi perusahaan swasta sudah dimulai sejak awal abad ke-19. Sejak dekade pertama abad ke -19 kopi ditanam di tanah-tanah pribadi, yaitu di Ujungberung (Kabupaten Bandung), Gunung Parang, dan Ciputri (Kabupaten Cianjur). (Muhsin, 2017). Dikerjakan oleh Andries de Wilde dengan luas wilayahnya meliputi sebagian besar Bandung raya. Jejak kopi di Ujungberung utara masih bisa ditelusuri diantaranya melalui toponimi di peta Java. Res. Preanger Regentscahppen (1906). Dipeta tersebut  menuliskan nama-nama yang berasosiasi dengan industri dan perkebunan kopi saat itu.

Lokasi kunjungan ke-tiga adalah ke salah satu situs budya disekitar Palintang atas. Situs budaya tersebut merupakan patilasan, berupa tiga makam yang dinaungi oleh pohon kayu Rasamala. Situs Patapaan tersebut terletak persis disebelah barat SD Palintang Jaya, berupa puncak perbukitan yang diapit oleh Ci Patapaan dan Ci Panjalu. Menuju lokasi tersebut bisa melalui Kampung Palintang, maupun melalui jalur setapak di sebelah lapang volley.

Situs ini dipercaya sebagai tempat yang pernah disinggahi pada masa pelarian Dipati Ukur. Menurut warga setempat, situ Patapaan atau Demah Luhur ini menjadi tempat strategis di jalur lama. Jalur tersebut merupakan sarana jalan setapak pada masa itu, menghubungkan Oedjoengbroeng selatan ke utara, melewati celah yang diapit oleh G. Palasari disebelah barat, dan G. Manglayang di sebelah timur.

Perjalanan Geourban ditutup diwarung sekitar PTPN XIII. Warung sederhana yang menyajikan kue balok di Cipanjalu. Kegiatan ini diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), bersifat probono. Bertujuan menggali wisata alternatif kebumian, sarana belajar bersama dan koneksi jejaring lokal upaya menggali potensi geowisata kota Bandung.

Interpretasi di Pasir Kunci
Interpretasi cekungan Bandung dari Pasirkunci Ujungberung
Dengan latar G. Manglayang
Sunggoro menjelaskan budidaya kopi disekitar Palintang atas
Peserta di Curug Orok. CI Panjalu
Penjelasan di Curug Orok di Ci Panjalu, aliran lava G. Manglayang
Penjelasan sejarah Dipati Ukur dalam berbagai versi, disampaikan oleh Gan Gan
Dipatilasan Demah Luhur, Palintang

Catatan Geourban#2 Ci Kapundung

Waktu menunjukan tujuh lebih sepuluh, kurang lebih 23 orang telah hadir di pelataran parkiran Tahura Ir. Haji Juanda, Dago Pakar Bandung (3/10, 2021). Sesuai dengan jumlah peserta yang telah menyatakan hadir di grup Whatsapp, dihadiri oleh anggota perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia disingkat PGWI, sebagian peserta berasal dari organisasi Dewan Pengurus Cabang HPI Kota bandung, komunitas KPGB, Jarambers, hingga pelaku usaha biro perjalanan wisata.

Geourban ini adalah aktivitas probono, sebagai media belajar bersama dalam kegiatan pemanduan geowisata, sekaligus reaktivasi jalur-jalur heritage hingga tapak bumi di sekitar kota Bandung. Narasumber kegiatan ini menyampaikan informasi dan interpretasi sejarah kolonial dan pemanfaatan aliran Ci Kapundung, hingga mengupas sejarah bumi berupa bukti endapan Gunung Sunda-Tangkubanparahu.

Narasumber berkaitan toponimi dan sejarah lokal, disampaikan oleh Gangan Jatnika, kemudian proses pembentukan alam oleh Deni Sugandi, dan Zarindra menyampaikan informasi mengenai sistem hidrogeologi Ci Kapundung, berdasarkan hasil penelitian.

Dalam kesempatan ini dihadiri langsung oleh kang Bintang, selaku ketua DPC HPI Bandung, dan beberapa pengurus yang turut serta dalam kegiatan ini. Kegiatan ini merupakan upaya perluasan jejaring, antara HPI DPC Kota Bandung, dan Dewan Pengurus Wilayah Bandung Raya, dengan tujuan mengupas potensi geowisata di Cekungan Bandung.

Acara dibuka oleh Deni Sugandi, selaku pemandu geowisata, menjelaskan rencana kegiatan treking Geourban ke-2, menyusuri Ci Kapundung segmen Dago Bengkok. Dalam pembukaan, dijelaskan bahwa perjalanan diperkirakan memakan waktu 4 jam, menempuh jarak 4.2 km, melalui jalur setapak hingga menyusuri pipa tertutup saluran Pembangkit Listrik Tenaga Air/PLTA Bengkok dan Dago (Pojok). Saluran pipa tersebut melalui jalur perumahan warga Jajaway hingga Curug Dago.

Stop pertama di Goa Jepang, penjelasan bukti endapan vulkanik Gunung Sunda. Terlihat gawir terjal, berupa ignimbrite yang terelaskan (welded ignimbrite), disusun oleh piroklastik dan tuff, seperti fragmental lava dan batu apung yang menyusun perbukitan ini. Pada pendudukan Jepang, kemudian dibuatkan terowongan yang terhubung, berguna untuk kegiatan militer pada saat itu.

Stop kedua adalah mengunjungi kolam tando yang berbatasan ataran wilayah Tahura Juanda dan pengelolaan Indonesia Power. Di kolam ini bisa disaksikan telah terjadi pencemaran, berupa kotoran ternak sapi dari hulu Maribaya yang menyebabkan gas metan yang muncul ke permukaan air. Selain itu terdapat sampah organik maupun anorganik yang ikut dihanyutkan oleh aliran irigasi terbuka. Akibat penumpukan sampah tersebut, menyebabkan turunnya debit air yang dialirkan ke turbin.

Unit pada Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) airnya berasal dari Sungai Cikapundung yang dialirkan ke bak pengendap. Dari bak pengendap air dialirkan lewat saluran terbuka (open tunnel) sepanjang 2.823 m menuju kolam tando yang berkapasitas 30.000 m3 dan mempunyai luas 10.000 m2. Kolam tersebut berguna untuk menampung air dari sodetan Ci Kapundung di sebelah utara Goa Belanda, kemudian dialirkan ke pipa pesat PLTA Dago Bengkok. Pipa diameter tiga meter tersebut mengalirkan air, untuk menggerakan turbin.

Stop ketiga adalah penjelasan mengenai PLTA Dago Bengkok. Dalam keterangannya, PLTA ini merupakan instalasi pembangkit listrik awal pada masa kolonial. Setelah percobaan PLTA ukuran kecil di bagian hulu Ci Tarum atau PLTA Pakar yang dianggap kurang berhasil, kemudian pemerintah kolonial membangun instalasi baru pada 1923.

Sekitar tahun 1920, PLTA Pakar ditutup akibat debit air yang kecil karena tanpa kolam penampung. Hingga kini peninggalannya berupa tembok bendungan dan aliran air berbentuk terowongan di Goa Belanda dan Goa Jepang.

PLTA Dago Bengkok memiliki kapasitas 3,15 Megawatt (MW), digerakan oleh tiga turbin, masing-masing 3 x 1.050 kW. Total daya yang dihasilkan PLTA tersebut, pada masa kolonial mampu menerangi sebagian kota Bandung.

Stop keempat adalah mengunjungi Curug Dago. Di lokasi ini masih bisa disaksikan aliran lava basal yang diperkirakan hasil letusan efusif Gunung Sunda pada periode ke-dua. Dinding Curug Dago memperlihatkan bidang perlapisan, antara endapan aluvial berupa struktur konglomerat, kemudian ditindih breksi vulkanik. Di bagian atasnya ditutupi aliran lava yang cukup tebal, atau sekitar 5-6 meter, berupa lava basal dengan struktur kekar kolom. Dicirikan dengan warnanya hitam dan seperti gelas vulkanik, dengan lubang gas yang menandakan membeku dalam waktu sangat singkat.

Tujuan terakhir adalah ke komunitas Kelompok Kerja Cika-Cika. Komunitas warga masyarakat di sekitar PLTA Dago Pojok yang memanfaatkan lahan di bantaran Ci Kapundung, menjadi aktivasi kegiatan kemasyarakatan, sekaligus menjadi pusat kelompok kerja Sub DAS Ci Kapundung.

Penjelasan endapan awan panas di Goa Jepang Tahura Ir. H. Juanda
Peserta Geourban di depan Goa Belanda
Penjelasan di kolam penenang Dago Pakar
Bersama komunitas Cika-Cika di Jajaway Ci Kapundung