Catatan Singkat Geogastro Galunggung

Geo berarti bumi, dan gastro atau gastronomi adalah hasil budaya berkaitan dengan latar keilmuan berkaitan dengan makanan (tata boga), di suatu masyarakat. Kegiatan Geogastro berarti mengkolaborasi bumi sebagai pijakan, mempengaruhi cara pandang dan pemilihan makanan berdasarkan hasil produk budaya. Termasuk pandangan hidup masyarakat dalam memanfaatkan keunikan produk makanan dari pertanian atau budidaya, hingga bisa ditelusuri kembali hubungan makanan dan bumi.

Galunggung berupa gunungapi aktif, meletus 1982 hingga 1983, melintasi hampir satu tahun aktivitas letusannya. Dengan demikian kegiatan kegunungapiannya bisa mempengaruhi pemilihan jenis gastronomi yang hadir di masyarakat. Termasuk di dalamnya bagaimana gunungapi tersebut bisa meletus, hingga mempengaruhi peradaban di sekitar lereng G. Galunggung.

Kegiatan dua hari ini, merupakan inisiasi program geowisata dan gastronomi. Diinisiasi oleh Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), dan Program Studi Manajemen Industri Katering Fakultas Pendidikan Indonesia (UPI). Dengan tujuan membuka peluang wisata minat khusus dan tematik berkaitan budaya dan bumi di sekitar Galunggung.

Kegiatan dilaksanakan dua hari, 6 dan 7 Juli 2022, mengunjungi beberapa tapakbumi antara Bandung Timur, hingga sekitar Singaparna Tasikmalaya. Bukan saja berkaitan dengan bentang alam, termasuk menapaki kembali potensi gastronomi di kawasan Tasikmalaya yang dinaungi G. Galunggung.

Berangkat jelang pagi, melesat melalui jalan poros timur Bandung-Cicalengka. Lepas dari daerah Rancaekek yang dipagari oleh bangunan pabrik, kemudian berganti berupa bentang alam dan kawasan hijau terbuka. Di sekitar tanjakan panjang Nagrog, di sebelah utara terlihat jajaran perbukitan dan bentuk kerucut yang tidak terlalu tajam. Tanda kegiatan erosi tengah berlangsung, yang ditempati sisa gunungapi purba Kareumbi.

Gunungapi Umur Kuarter, menempati sebagian besar batas Cekungan Bandung bagian timur. Dalam tafsir batas Danau Bandung Purba, kawasan Cicalengka merupakan batas timur danau. Terhitung di atas paras air danau sekitar 725 m dpl. Sedangkan dalam tafsir Budi Brahmantyo, Cicalengka-Leles-Nagreg merupakan tinggian yang memiliki cekungan yang lebih tinggi dari paras air Danau Bandung Purba. Sehingga ditafsirkan cekungan tersebut pernah digenangi danau yang tidak terlalu luas. Dibutkitkan ditemukannya endapan danau, di sebelah jalan keluar lingkar Nagreg.

Kunjungan berikutnya adalah melihat kembali sumber obsidian di perbukitan Kendan, dan perbukitan Sanghyang Anjung. Ditafsirkan sebagai lava dome (sumbat lava), dari kegiatan sistem gunugapi Leles. Lingkar kaldera nya sekitar 10 km, menempati sebagian besar Tempat Pembuangan Akhir Legok Nangka, Citaman, Nagreg, Kabupaten Bandung. Di Lokasi ini ditemui singkapan batuan gelas vulkanik atau obsidian. Menandakan produk letusan gunugapi, magma yang membeku dengan cepat sehingga belum sempat terbentuknya mineral. Kawasan ini ditafsirkan sebagai pusat kerajaan Kendan, satu zaman dengan kerajaan Pajajaran pada abad ke 14.

Tapakbumi selanjutnya adalah mengunjungi kawah Karaha Bodas, atau kawah yang berwarna putih. Warna tersbut merupakan hasil alterasi, sehingga terjadi ubahan mineral batuan. Terletak di perbatasan Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya. Tepatnya di Kadipaten, Tasikmalaya.

Kegiatan dilanjutkan melalui jalan mendaki ke arah Pasirdatar melalui Desa Sinagar, Sukaratu, Tasikmalaya. Jalannya sempit melalui kantor Desa Sinagar, hingga ke batas jalan aspal. Sekitar Linggarjati didominasi oleh kegiatan tambang pasir batu yang kini semakin meluas hingga ke arah lereng G. Galunggung. Dikerjakan oleh CV Putra Mandiri, sejak bertahun-tahun sehingga penambangan tersebut mengganggu sumber mata air. Air baku yang berasal dari G. Galunggung, dimanfaatkan untuk masyarakat sekitar Desa Linggajati dan Sinagar. Namun kegiatan tambang ini masih berlangsung hingga kini. Selain mempengaruhi sumber mata air, termasuk perubahan tata guna lahan yang berpotensi longsor. Terutama bila masuk ke musim penghujan datang. Di Desa Sinagar ditemui pengusaha makanan sale pisang, di sebelah Masjid Jami’ An Nur Sholeh Sinagar. Pembuatan sale pisang ini tidaklah sulit, Pisang Sale merupakan salah satu makanan hasil olahan dari pisang yang telah mengalami pengeringan dengan cara dijemur atau diasap. Tujuan penjemuran pada pisang adalah untuk mengurangi kadar air buah pisang sehingga pisang sale lebih tahan lama.

Memasuki daerah tambang, jalan berupa makadam atau jalan berbatu. Kemudian berbelok ke arah kampung Pasir Haur. Jalan mendaki, sehingga diperlukan jenis kendaraan yang tinggi dan bertenaga. Lokasi berkemah berada di lapangan disebut Pasirdatar, masuk ke wilayah Desa Sinagar, Sukaratu. Berupa lapangan seluas dua kali lapangan bola, disusun endapan pasir dan abu letusan G. Galunggung 1982. Berada di sebelah timur, atau berada di dalam lingkar kawah G. Galunggung, menjadi arah aliran lahar pada saat letusan.

Dari titik ini bisa menyaksikan gawir terjal G. Galunggung, diantaranya Dinding Ari, dan batas tanggul kawah pasca letusan 1982. Kemudian di arah timurnya adalah hamparan kota Tasikmalaya. G. Galunggung turut mempengaruhi budaya yang lahir di lereng nya. Pada saat dibawah kepemimpinan R. T. Surialaga (1813-1814), pemerintahan Kabupaten Sukapura dipindahkan ke Tasikmalaya. Dalam catatan kegunungapian, Gunung Galunggung tercatat pernah meletus pada 1818, ditandai dengan kemunculan suara gemuruh dari bawah tanah yang terdengar cukup sering. Pada bulan Juni, warga yang tinggal di sekitar Sungai Cikunir melihat perubahan warna dan rasa air yang menjadi lebih asam dan tercium bau belerang.

Letusan G. Galunggung dicatat pernah meletus beberapa kali. Letusan berikutnya terjadi pada tahun 1894. Di antara tanggal 7-9 Oktober, terjadi letusan yang menghasilkan awan panas. Lalu tanggal 27 dan 30 Oktober, terjadi lahar yang mengalir pada alur sungai yang sama dengan lahar yang dihasilkan pada letusan. Letusan kali ini menghancurkan 50 desa, sebagian rumah ambruk karena tertimpa hujan abu. Pada tahun 1918, di awal bulan Juli, letusan berikutnya terjadi, diawali gempa bumi. Letusan tanggal 6 Juli ini menghasilkan hujan abu setebal 2–5 mm yang terbatas di dalam kawah dan lereng selatan. Dan pada tanggal 9 Juli, tercatat pemunculan kubah lava di dalam danau kawah setinggi 85m dengan ukuran 560 x 440 m yang kemudian dinamakan Gunung Jadi.

Letusan terakhir terjadi pada tanggal 5 Mei 1982 (VEI=4) disertai suara dentuman, pijaran api, dan kilat halilintar. Kegiatan letusan berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983. Selama periode letusan ini, sekitar 18 orang meninggal, sebagian besar karena sebab tidak langsung (kecelakaan lalu lintas, usia tua, kedinginan dan kekurangan pangan). Perkiraan kerugian sekitar Rp 1 miliar dan 22 desa ditinggal tanpa penghuni. Gunungapi dengan ketinggian 2.168 meter di atas permukaan laut, dengan puncak tertingginya yakni Puncak Beuti Canar yang memiliki ketinggian 2240 Mdpl. Gunung ini terletak sekitar 17 km dari pusat kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Untuk mencapai bibir kawah Gunung Galunggung, dibangun sebuah tangga yang memiliki 620 anak tangga. Gunung ini memiliki 2 puncak yaitu Puncak Dinding Ari dan Puncak Beuti Canar.

Diperkirakan ada dua peristiwa penting, menggeser lokasi pemerintahan Kabupaten Sukapura. Terjadi pada awal abad ke-19, di bawah pengaruh kolonial. Pada awal abad ke-19, setidaknya ada dua peristiwa penting menyebabkan perpindahan Kabupaten Sukapura. Pada pemerintahan R.T. Surialaga (1813-1814), ibukota dari Sukapura dipindahkan ke Tasikmalaya.

Setidaknya ada dua peristiwa penting perpindahan Kabupaten Sukapura (Tasikmalaya). Pada 1813 pada pemerintahan R.T Surialaga, memindahkan ibukotanya dari Sukapura ke Tasikmalaya. Kemudian pada pemerintahan Wiradadaha VIII, kemudian dipindahkan lagi ke sekitar Manonjaya (1832). Perpindahan tersebut dipekirakan oleh aktivitas G. Galunggung di letusan 1822. Letusan kelas plini tersebut meruntuhkan dinding sebelah timur, menyebabkan terbentuknya kawah tapal kuda, dengan jari-jari lebih kurang 1000 m. Hujan abu dan lahar hujan merusak tanaman rakyat hingga 40 km ke arah selatan, menyebabkan sebagian Tasikmalaya saat itu tenggelam dalam genangan lumpur (van Padang, 1951).

Selain sejarah alam, dataran tinggi Galunggung di sekitar Rawagirang, pernah berdiri kerajaan di bawah pengaruh Galuh. Ditandai dengan prasasti Rumatak adalah salah satu dari prasasti peninggalan Kerajaan Galuh. Lokasi penemuan terletak di Gunung Gegerhanjuang, Desa Rawagirang, Singaparna, pada tahun 1877. Prasasti ini kini disimpan di Museum Nasional Indonesia dengan nomor inventaris D.26.

Gegerhanjuang dicatat oleh K.F. Holle (l877), Saleh Danasasmita (l975; l984), Atja (l990), Hasan Djafar (l991), dan Richadiana Kartakusuma (1991). Menurut Saleh Danasasmita dan Atja, prasasti tersebut menggunakan aksara dan bahasa Sunda Kuno, menuliskan pengangkatan raja pada 1033 Saka = 1111 Masehi. Meberikan tafsir hadirnya peradaban yang pernah ada di sebelah selatan pusat letusan G. Galunggung, apakah hilang akibat letusan sebelumnya?

Peristiwa kedua adalah lebih kepada politis, keinginan kolonial Belanda memperkuat militer dengan pembangunan benteng dan tangsi-tangsi militer. Mobilisasi militer tersebut sebagai langkah mitigasi akibat perang Jawa Diponegoro. Setelah kota Tasikmalaya bisa dihuni kembali, pada 1 Oktober 1901, ibukota Kabupaten Sukapura.

Galunggung membangun dirinya sejak Plistosen (van Bemmelen, 1946). Dibutuhkan waktu yang sangat lama, melalui rangkaian kegiatan kegunungapian hingga mencapai tinggi 2.168 m di atas muka laut (PVMBG, 2014). Termasuk dalam kelompok gunungapi strato, segmen selatan Jawa Barat. Kegiatan letusannya di abad modern, mulai dicatatkan dalam laporan pengamatan gunungapi sejak letusan 1882, 1894, 1918, 1958 dan letusan terakhir 1982-1983. Material hasil letusannya merupakan buku sejarah alam, diintepretasi dalam penjelasan geowisata.

Geogastro menjadi tali penghubung, menguak tabir sejarah bumi melalui letusan gunungapi Galunggung. Termasuk menggali kembali keunikan gastronomi yang dipengaruhi oleh kegiatan gunungapi api aktif di Jawa Barat. Tujuan tersebut menjadi gagasan asosiasi PGWI, untuk membuka jejaring geowisata lokal. Termasuk memberikan narasi tentang sejarah bumi dan budaya di lereng G. Galunggung.

Pisang Ranggap yang tumbuh di Kawasan Galunggung
Penuturan budaya Obsidiandi Kenda, Nagreg.
Di Curug Ciherang, Pasirdatar
Diskusi gastronomi yang disampaikan Dewi Turgarini
Penjelasan kawah Karaha Bodas.

Catatan Singkat Geourban#21 Jatiluhur

Dalam kegiatan Geourban ke-21, melawat di sekitar Purwakarta (21 Juli 2024). Wilayah yang dilalui oleh Ci Tarum. Sungai yang membelah kota dan kabupaten di Jawa Barat. Diantaranya dimanfaatkan menjadi sumber energi terbarukan, melalui pembangunan tiga waduk buatan. Diantaranya Saguling wilayah Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Cianjur. Kemudian Cirata, dan terakhir waduk Jatiluhur yang masuk ke Purwakarta.

Stop site yang dikunjungi adalah dermaga penyeberangan Talibaju, Cikaobandung. Kemudian ke titik ke dua, batukorsi-batupeti di Desa Sukamanah. Kemudian kunjungan terakhir ke G. Parang. Ketiga tempat tersebut memiliki potensi yang bisa dimanfaatkan melalui aktivitas geowisata. Cerita sejarah perjalan kopi di abad ke-17, didominasi kepentingan dagang yang dimonopoli oleh VOC dari 1756 hingga 1780. Stop site selanjutnya berkunjung ke batuan sedimen Formasi Jatiluhur yang ditafsirkan tinggalan budaya, dan perbukitan intrusi batuan beku. Tiga stop site yang dikunjungi, bagian kecil dari potensi geowisata di Purwakarta.

Jauh sebelum Republik Indonesia lahir, Purwakarta masih menjadi bagian dari Kabupaten Karawang. Wilayahnya mencakup sebagian besar bagian utara Ciasem (saat ini Subang), dan ke arah selatan sekitar Wanayasa saat ini. Daerah ini berada di dataran tinggi di lereng G. Burangrang yang menaungi sebagian besar wilayah Purwakarta bagian selatan saat ini. Wilayah Wanayasa telah ada sejak abad ke-17, dalam bentuk kerajaan di bawah wilayah Pajajaran. Bahkan satu abad sebelumnya, keberadaan penyebutan Karawang dituliskan dalam catatan Bujangga Manik.

Kota yang selama ditafsir sebagai “kota tua”, memiliki pengertian yang berbeda. Ditafsirkan melalui sumber lain, menyebatukan purwa adalah yang pertama, dan karta yang bermakna sejahtera. Dengan demikian bisa ditafsirkan sebagai kota yang mengutamakan kesejahteraan. Tafsir demikian bisa diselaraskan dengan pemindahan ibu kota Karawang Timur, ke tempat yang lebih baik dari sisi jarak ke dan dinilai lebih kondusif.

Perjalanan pembentukan wilayah Purwakarta hadir setelah kemerdekaan, sebelumnya merupakan daerah Karawang Timur dari Kabupaten Karawang. Ibukotanya di Wanayasa, di bawah lereng G. Burangrang. Gunungapi yang ditafsirkan sebagai anak gunungapi, dari sistem gunungapi Sunda-Tangkubanparahu. Seiring waktu, tanahnya yang subur mampu menarik industri perkebunan kopi di abad ke 17, seiring dengan sistem Tanam Paksa. Pengerahan sistematis ini , mendorong kawasan Wanayasa menjadi sentra penghasil kopi setelah Kabupaten Cianjur pada masa tersebut. Namun bukti-bukti pendirian ibukota Kabupaten Karawang Timur di Wanayasa tidak terlihat. Menandakan pusat pemerintahan ibu kota hanya bersifat sementara. Salah satu alasan penempatan ibukota di Wanayasa, karena wilayah tersebut dikenal dengan penghasil kopi terbesar. Menjadi ibu kota kabupaten Karawang Timur pada 1821 hingga 1829. Menjelang 1830 digeser ke arah utara, disebut Sindangkasih.

Pemindahan tersebut dipicu oleh kondisi sosial, dampak dari sistem tanam paksa pada 1847, mendorong pergolakan sosial. Dipicu oleh ketidak adilan, upah rendah dan korupsi di tingkat pemerintahan saat itu, mengakibatkan terjadinya pemberontakan pekerja keturunan Tionghoa. Terjadi pada 1831, dari Wanayasa hingga ke batas Karawang-Purwakarta saat ini. Pemberontakan ini menjadi alasan pemindahan ibu kota ke Purwakarta sekarang. Semata-mata karena kondisi sosial, dan lebih ke pengamanan wilayah melalui pengamanan kekuatan militer saat itu.

Di dermaga perahu penyeberangan Talibaju, Cikaobandung, merupakan jalur penting dalam pengangkutan kopi pada abad ke-17. Cikaobandung merupakan gudang penyimpanan kopi, hasil panen dari beberapa tempat di Kabupaten Bandung saat itu. Sebelumya dikumpulkan terlebih dahulu di gudang kopi di Wanayasa. Keberadaan gudang kopi tersebut masih ada, dimanfaatkan menjadi Sekolah Dasar Negeri I Wanayasa. Bangunan tersebut adalah satu-satunya peninggalan sejarah, bukti industri kopi yang menjadi primadona pertanian di Hindia Belanda.

Hasil panen di wilayah berada di wilayah Preanger-Regentschappen, atau Kabupaten Priangan. Pemandangan yang menawan, didominasi tanah hasil pelapukan gunungapi. Sehingga tanahnya subur, dan memiliki pupuk alami dari batang pohon yang telah lapuk kemudian menjadi kompos. Perkebunannya di atas rata-rata 1200 meter, dengan udara sejuk serta tanah yang luas menjadikan wilayah ini sebagai perkebunan kopi terbaik pada masa tersebut.

Perkebunan kopi tersebar di wilayah Kabupaten Bandung saat itu. Diantaranya di wilayah Sumedang, Bandung utara dan selatan, Limbangan, Sukapura dan Sumedang. Wilayah dataran tinggi, masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung saat itu.

Sebagai pemain tunggal perkebunan kopi, Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC perlu menjaga kestabilan hasil perkebunan kopi, dan mencari keuntungan dari hasil produksi kopi. Sehingga dikeluarkan perjanjian yang mewajibkan kaum pribumi untuk menanam kopio dan hasilnya harus diserahkan kepada pihak VOC. Dikenal dengan Koffestelsel (sistem kopi), atau tanam paksa penanaman kopi oleh pada pribumi.

Pengangkutan kopi dari Priangan pedalaman ke Batavia diinisiasi oleh Gouverneur Generaal van Vereenigde Oostindische Compagnie, Mattheus de Haan (1725-1729), dan Bupati Bandung Tumenggung Anggadireja I (1704-1747). Dikenal dengan koffie transport, pengangkutan kopi dengan menggunakan hewan beban seperti kerbau atau sapi. Dibutuhkan waktu antara 60 hingga 72 hari pengangkutan, dengan moda transportasi seperti ini.

Semua hasil panen kemudian diangkut ke gudang kopi di Wanayasa. Setelah terkumpul kemudian diteruskan ke gudang kopi di Cikaobandung, Purwakarta. Jaraknya sekitar 33 km, menggunakan pedati yang ditarik oleh sapi. Dari dermaga kemudian diteruskan menggunakan perahu layar tunggal ke Batavia, melalui Ci Tarum. Mattheus de Haan meminta agar pada tenaga kerja (kuli), membawa kopi dari Bandung, Parakanmuncang, dan Sumedang ke Gudang Kopi Cikao, yang dibangun pada 1744.

Kunjungan berikutnya ke Batukorsi-Batupeti di Kampung Ciputat, Desa Kutamanah. Blok batuan sedimen yang tererosi kuat, membentuk kotak-kotak yang terpisah. Masyarakat mempercayai merupakan hasil kerja manusia di masa lalu, dikaitkan dengan mitos Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

Keberadaanya terletak di batas pantai waduk Jatiluhur di sebelah utara. Bisa diakses melalui Kampung Ciputat, kemudian dilanjutkan jalan kaki melalui hutan bambu. Bila dari wisata Jatiluhur, bisa menggunakan perahu sewaan. Keberadaan singkapan batuan sedimen ini berada di wilayah warga, yang sebagian besar telah menjadi perkebunan. Sebagian lagi berada di garis pantai waduk, berupa bentuk seperti kursi.

Dalam berita daring, disebutkan bahwa situs tersebut diduga sebagai tinggalan budaya megalitik, hingga budaya tinggal kerajaan Sunda. Bahkan menurut ketua Rukun Warga di Ciputat, menuturkan bahwa situs tersebut dipercaya menjadi tempat bertemunya Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Sunda lama, khususnya di Cekungan Bandung yang mengaitkan dengan sejarah terbentuknya G. Tangkubanparahu. Namun dalam keterangannya, Sangkuriang gagal mempersunting karena ternyata Dayang Sumbi adalah ibu kandungnnya. Sehingga batu berbentuk kursi adalah tempat duduk para tamu, dan peti adalah harta bawaan yang dibawa dalam acara pernikahan.

Dalam peta Geologi Lembar Cianjur (Sudjatmiko, 1972). Tuliskan bagian dari Formasi Jatiluhur, Umur Miosen Tengah. Bila diperhatikan dengan seksama, batuan tersebut berlapis menandakan batuan sedimen. Seiring waktu terangkat akibat kegiatan tektonik, kemudian lapuk oleh kondisi cuaca dan temperatur. Batuan berlapis tersebut disusun oleh perselingan batulempung, batupasir kuarsa, dan batugamping pasiran (Tms).

Bila dilihat dari angkasa, memperlihatkan struktur sejajar membentuk bujursangkar. Menandakan hasil kegiatan struktur yang membentuk rekahan sedemikian rupa. Seiring waktu terjadi erosi dan pelapukan yang menyebabkan bentuknya seperti bongkah batu berbentuk kotak. Sedangkan bentuk kursi di tepi pantai, merupakan bentuk blok batuan yang tererosi oleh gelombang air waduk pada bagian bawahnya. Seiring waktu membentuk seperti batu jamur karena bagian atas lebih kuat (resisten).

Kunjungan terakhir adalah ke G. Parang, melalui Plered. Merupakan perbukitan intrusi batuan beku dangkal. Seiring waktu tersingkap membentuk kerucut yang menjulang tinggi. tingginya sekitar 963 meter dpl. disusun oleh andesit (Ha). Perbukitan tersebut kini aktif menjadi tujuan wisata minat khusus. Pemanjatan menggunakan teknik via ferrata. Berupa besi panjang, yang digunakan sebagai alat bantu pendakian. Kegiatan ditutup dengan pengukun Asosiasi Pemandu Geowisata Dewan Pengurus Wilayah Purwakarta Raya.

G. Parang dari basecamp Badega.
Batupasir kuarsa, perselingan dengan batulempung Fm. Jatiluhur.
Batupeti yang disusun batuan sedimen lapuk, Formasi Jatiluhur.
Pengukuhan PGWI DPW Purwakarta Raya.

Catatan Geourban#9 Gegerhanjuang

“Sudah digali lebih dari 50 meter, namun airnya masih berbau dan berwarna kuning” jelas seorang ibu di perumahan di belakang Gedung Leger, Cisaranten Bina Harapan, Ujung Berung. Selian mengeluh masalah air, ibu tersebut menjelaskan bahwa sebelum menempati perumahan tersebut, harus menata tanah yang kelak didirikan perumahan di belakang Gedung Leged saat ini. Tanah rawa tersebut diurug menggunakan material barangkal setinggi dua meter. Menurut si Ibu, warga di perumahan di Jalan Golf Raya tersebut saat ini menggunakan sumber airtanah dari bantuan proyek perumahan KPBU perumahan Cisaranten Pusjatan. Kualitas airnya baik, didapat dari hasil pengeboran lebih dari 150 meter, hingga perlapisan batu pasir pembawa air (akuifer) pada Formasi Cibeureum. Formasi ini ditindih oleh Formasi Kosambi atau endapan danau disusun lempung pasiran, sehingga mengalirkan air dalam jumlah terbatas (akitar).

Pembangunan rusun BMN PUPR dan Keluhan warga airtanah yang tidak bisa dikonsumsi, dan tanah didominasi lempung merupakan ciri lingkungan rawa situ Pariuk. Sisa situ seluas kurang lebih 2 hektar, merupakan bagian dari sisa danau Moeras Gegerhanjuang, segmen timur pascadanau Bandung Purba. Terbentuk kurang lebih antara 20.000 hingga 16.000 tahun yang lalu, seiring dengan pengeringan Danau Bandung Purba (Dam, 1984).

Kegiatan Geourban ke-9 merupakan program kerja asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), berupaya menggali jejaring geowisata dan pemetaan potensi wisata alternatif kebumian. Kegiatan probono ini dilaksanakan hari Sabtu, 4 Februari 2023, dengan tujuan menelursuri kembali sisa-sisa danau, muras (rawa), dan kalimati (oxbow lake) dan sistem meander Ci Tarum. Dimulai tepat jelang siang, sekitar pukul 07.30 WIB. Mengambil titik pemberangkatan dari depan kantor Dirjen Binamarga, PUPR jalan A.H. Nasution. Total peserta adalah delapan orang, dengan latar belakang beragam dan profesi. Mulai dari pegiat pariwisata, pemilik biro perjalanan wisata, influencer hingga aktivis lingkungan.

Acara dibuka dengan penjelasan rencana perjalanan oleh Deni Sugandi, selaku pegiat geowisata dan pemandu geowisata. Menguraikan tema kegiatan, dan lokasi-lokasi yang menarik untuk dikunjungi dan diamati.

Total perjalanan adalah kurang lebih 17 km, dari utara ke selatan, mengikuti aliran Ci Pamokolan dan memotong utara-selatan di lingkar dalam Moeras Gegerhanjuang.

Moeras atau muras Gegerhanjuang adalah lingkungan rawa di dataran rendah, menempati sebagian besar Ujung Berung. Di sebelah utaranya dibatasi oleh kipas volkanik produk dari G. Manglayang. Kemudian ke sebelah timur disekitar Pangaritan atau Cibiru, dan dibagian selatannya dibatasi aliran Ci Tarum antara Ciparay-Bojongsoang. Deni memperlihatkan peta geologi awal yang disusun oleh Bemmelen (1954), terlihat batas morfologi dilihat dari pola sungai. Dari utara, atau hulu memperlihatkan pola sungai trelis, menandakan sungai-sungai yang berada dilereng gunung. Arusnya deras, dan erosinya vertikal, sehingga bila dilihat dari penampangnya membentuk huruf v. Bergerak jauh ke arah selatan, didataran rendah memperlihatkan sistem pola sungai meandering. Menadakan arus lemah, dan mengendapkan bahan-bahan yang diangkut dari hulu. Seiring waktu karena proses pengendapan, mengakibatkan kegiatan erosi yang dapat membelokan jalur sungai. Akibat erosi horisontal, pengendapan dan morfologi kemudian membentuk jalur sungai yang berkelok-kelok atau pola meander.

Kunjungan ke-dua adalah di sekitar Bojongsoang. Terlihat hamparan sawah seluas mata memandang. Dataran rendah yang didominasi oleh sawah dan balong luas (kolam), dipagari oleh rumah-rumah warga. Pada peta geologi disebutkan kawasaan ini merupan dataran rendah yang disusun oleh endapan danau (Silitonga, 1973). Dari pengamatan terlihat singkapan batu lempung, batu lanau dan batu pasir yang belum kompak, disebut Formasi Kosambi (Koesoemadinata dan Hartono, 1981).

Jelang matahari lebih tinggi, mengantarakan rombongna bermotor melintas Ci Tarum melaui Sasak Paris Rancatatang, Sapan Tegalluar. Jembatan gantung dengan struktur besi penyangga, menghubungkan antara Sapan Tegalluar di utara, ke Bantar Sari di sebelah selatannya. Turun dari jembantan tersebut, langsung berhadapan dengan kalimati (oxbow) Patrol dan Jelekong. Dua kalimati yang telah menjadi danau karena arah aliran dialihkan lurus secara lateral, oleh kegiatan penyodetan. Kurang lebih ada 14 kalimati (oxbow) disepanjang aliran Ci Tarum, dari Bojongsoang hingga Mangahang. Sungai tersebut mampu menampung air kurang lebih 1.2 juta meter kubik, sehingga cocok untuk digunakan sebagai embung untuk pertanian dan pesawahan dan sebagai kolam retensi saat sungai meluap.

Menurut warga Sumbersari, Ciparay, bahwa kegiatan penyodetan tersebut mempercepat aliran Ci Tarum dari hulu ke hilir. Namun menurut Pa Dedi, akibatnya sering terjadi pendangkalan, sehingga harus terus dilakukan pegerukan secara berkala. Dedi menyampaikan pengalamannya, saat musim hujan tinggi aliran meluap dan membawa lumpur sangat tebal.

Perjalanan dilanjutkan tapakbumi terakhir, ke Gunung Munjul, Manggahang, Baleendah. Menyusuri bantaran Ci Tarum dari Sapan ke arah barat hingga sekitar Manggahang. Dari penelusuran tersebut terlihat upaya pemerintah melalui satuan tugas kerja Citarum Harum, agar terjadi peningkatan kualitas lingkungan sungai. Masih ada beberapa sampah yang terbawa dari hulu, kemudian mengendap dibantaran sungai.

Gunung Munjul 685 m dpl. adalah perbukitan yang tumbuh dalam sistem intrusi batuan gunungapi Baleedah. Umurnya adalah Tersier, atau sekitar 3.2 sampai dengan 2.8 juta tahun yang lalu (Bronto drr., 2006). Dalam beberapa informasi warga lokal, disebutkan bahwa Gunung Munjul merupakan titik pertemuan antara Kian Santang dan Prabu Siliwangi. Mengenai benar atatu tidaknya, tentunya perlu kajian lebih dalam, berkaitan dengan data sejarah budaya. Pada tahun 2015, Gunung Munjul telah menerima status Cagar Budaya, sebagai situs yang dilindungi keberadaanya. Bila menggali informasi melalui daring, perlu berhati-hati untuk memaknai dengan Prasasti Munjul (batu tulis) di Kabupaten Pandeglang. Jadi antara Gunung Munjul Baleedah, dan Prasasti Munjul di sungai Cidanghyang Banten berbeda.

Bila membandingkan kembali peta lama Java. Res. Preanger Regentshcahppen, Blad H XXIII, Topographisch Bureau, Batavia, 1906. Menggambarkan meander Ci Tarum persis mengalir disamping Gunung Munjul disebelah utara. Kondisi saat ini, aliran berkelak-kelok tersebut telah hilang karena disodet. Sehingga jarak ke aliran Ci Tarum kurang lebih 850 meter ke arah utara (Peta RBI

Bila merujuk kepada pendapat Rien Dam, menuliskan dalam laporannya bahwa tinggi genangan (paras) tertinggi permukaan air Danau Bandung Purba adalah 690 m dpl. Sedangakan dalam peta RBI (2001).

Catatan Singkat Geourban#20 Sukatinggi

Sejak kemarin hujan membasahi lereng G. Tangkubanparahu. Awan hujannya terus menggelayut sejak pagi hingga jelang siang, seperti membayangi puncak gunung. Namun jatuh di hari minggu, 26 Mei 2024 cuacanya kembali normal serta cerah. Berkah bagi partisipan Geourban untuk menapaki kembali kuasanya G. Tangkubanparahu di utara Bandung. Acara ini diikuti oleh pegiat geowisata, influencer, pemandu dan mahasiswi pariwisata di perguruan tinggi Bandung.

Kegiatan menapaki tapak bumi kali ini, bertandang ke wilayah perkebunan teh Sukawana, di Parongpong Lembang. Perkebunan yang menempati sebagian besar lereng sebelah barat G. Tangkubanparahu. Tujuannya adalah melihat kembali, upaya kolonial membuka lahan hutan menjadi perkebunan. Selain itu ingin melihat, bagaimana gunungapi memberikan berkah kesuburan untuk industri perkebunan kolonial di Bandung utara.

Selanjutnya adalah menelusuri kembali jejak dan bukti letusan G. PraSunda-Sunda di sekitar perbukitan Sukatingg, Parongpong utara. Sebagai penutup berkunjung ke tubir kawah Upas, G. Tangkubanparahu. Melihat depresi kawah yang dibuka oleh letusan 90 ribu tahun yang lalu, dan bukti endapan letusan G. Tangkubanparahu Tua.

Perjalanan dimulai dari perempatan antara jalan masuk perkebunan teh Sukawana dan Jalan Kolonel Masturi. Nama yang disematkan pada jalan yang menghubungkan antara Cimahi utara ke Parongpong Lembang. Masturi adalah mantan Bupati Bandung pada 1967 hingga 1969. Merupakan bupati kedua dari latar belakang militer, praktik dwi fungsi disistem pemerintahan daera saat itu. Bertugas sebagai pemangku administrasi pelaksanaan pemerintahan daerah, sekaligus memiliki peran sebagai pemangku tugas pertahanan dan keamanan.

Masturi merupakan tokoh penting dalam sistem pengaman di daerah Pangalengan, mengingat kondisi politik setelah Gerakan 30 September menggoyang stabilitas keamanan negara. Selain itu Masturi mencetuskan sistem kerja Repeh Rapih Kertaraharja, menjadi semboyan pembangunan Kabupaten Bandung pada masa itu. Makna kata kertaraharja menyiratkan bahwa sebagian besar tanah di Kabupaten Bandung subur dan makmur.

Memasuki jalan makadam ke arah utara, disuguhi bentang alam khas dataran tinggi priangan. Berbukit-bukit dan membentuk tinggian yang dihiasi oleh hamparan hijau perkebunan teh. Pengelolaan lahannya milik negara, melalui PTPN VIII Sukawana, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Dari data Badan Pusat Statistik mencatat, lahan negara tersebut seluas 86,832 hektar, menempatkan perkebunan ini menjadi perkebunan paling luas di Indonesia. Proporsi luas perkebunan teh mencapai 77.31 persen dari total area perkebunan teh di negeri ini. Seluas mata memandang tidak seluas hasil produksi teh khususnya di Jawa Barat. dilaporkan bahwa kini perkebunan teh mengalami penurunan produksi, termasuk program hilirisasi yang tidak berjalan dengan optimal, lahan terbatas, dan sebagainya (Basorudin, dkk., 2019).  Menurunnya hingga 90,324 ton, dari tahun 2013 hingga 2015. Padahal hasi teh perkebunan di Jawa Barat menempati total produksi hampir 68 persen produksi teh nasional.

Barangkali kondisi demikian mendorong kebijaksanaan untuk melepaskan sebagian lahan, disewakan kepada investor. Seperti kini yang terjadi di sekitar kawasan perkebunan, telah beralih fungsi menjadi wisata berbasis investor besar.

Dari titik ketinggian sekitar Karyawangi, Parongpong. Bentang Alamnya adalah perbuikitan yang itutupi  oleh perkebunan teh. Wilayahnya mendesak ke arah utara, mendekati lereng G. Tangkubanparahu atau sekitar Leuweung Tiis, masuk ke dalam wilayah konservasi. Dari peta sebaran batuannya, disusun oleh jatuhan piroklastik, berupa abu hingga ukuran kerikil. Material hasil kegiatan awal pembentukan G. Tangkubanparahu sekitar 90 ribu tahun yang lalu. batuan hingga abu gunungapi, seiring waktu kemudian lapuk yang diperkaya dengan unsur-unsur seperti magnesium da kalium. Unsur tersebut menghasilkan tanah yang subur. Dengan demikian, wilayah ini dipilih menjadi pengembangan kawasan perkebunan teh sejak kolonial, karena memiliki tanah yang ideal untuk perkebunan.

Perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan kontrol perkebunan, didominasi makadam (berbatu). Di Sebagian tempat jalan tersebut membentuk ceruk, karena erosi air. Jalur ini menjadi jalan favorit pendakian santai dari Trek 11 Parongpong utara, ke puncak G. Tangkubanparahu. Selepas batas vegetasi antara perkebunan dan wilayah BKSDA.

Wilayah konservasi tersebut menyusut, akibat perubahan status menjadi Taman Wisata Alam G. Tangkubanparahu. Saat ini dikuasai oleh pihak swasta, melalui investor PT GRPP pada masa menteri MS Kaban. Luas wilayah pemanfaatnya hingga 231 Ha (Bapenda KBB, 2023), dengan waktu kontrak hingga 30 tahun. MS Kaban dijatuhi vonis 5 tahun penjara pada 2 Juli 2014, karena tindak pidana korupsi, karena perannya memberikan suap kepada sejumlah anggota DPR-RI serta pejabat kementerian.

Dari puncak G. Tangkubanparahu, atau lebih dikenal dengan Upas Sunrise bisa menyaksikan kawah ganda Upas-Ratu. Selain dua kawah utama, didapati juga kawah-kawah lainya yang duduk sebagai kawah pusat, seperti kawah Badak di sebelah barat timur kawah Upas. Dilaporkan pernah aktif pada 1935, berupa lapangan kawah dengan manifestasi permukaan berupa lubang solfatara. Saat ini bisa dilihat di sebelah pemancar TVRI.

G. Tangkubanparahu lahir di tengah-tengah kaldera Sunda. Tipenya adalah gunungapi gunung api strato, dicirikan dengan perselingan lava dan piroklastik yang membangun tubuh gunugapi tersebut. Titik tertingginya 2084 m dpl. berada di sebelah utaranya, sedangkan di bagian tengahnya ditempati komplek kawah pusat.

Bila berdiri di atas tubir kawah Upas, kemudian memandang ke arah timur. Terlihat jajaran kawah-kawah yang terbentuk dalam waktu yang berbeda. Di penelitian Nasution (2004), aktivitas G. Tangkubanparahu hadir sejak 62 ribu tahun yang lalu, letusannya adalah magmatik dan freatomagmatik. Tentunya proses pembangunan tubuh gunungapinya jauh sebelum itu, atau sekitar 90 ribu tahun yang lalu. Bukti letusannya adalah pembentukan kawah di luar lingkar Upas-Ratu ke arah barat. Saat ini ditempati oleh tower-tower relay dan pemancar milik perusahaan BUMN. Letusannya masuk dalam stratigrafi G. Tangkubanparahu Tua. Antara 90 ribu hingga 40 ribu tahun yang lalu (Nasution, 2004). Selanjutnya adalah pembentukan kawah pusat Upas sekitar 40 ribu tahun yang lalu, disusul oleh pembentukan kawah Ratu yang bergeser ke arah timur. Kawah ini terbentuk sekitar 10 ribu tahun yang lalu.

Seterusnya posisi kawah tersebut berpindah, dari barat ke timur. Hingga terbentuk kompleks kawah samping Domas-Jarian-Siluman-Jurig. Dengan demikian menandakan, adanya zona lemah atau rekahan yang berarah barat-timur. Akibat perpindahan pusat letusan tersebut, mengakibatkan G. Tangkubanparahu tidak pernah terbentuk kerucut.

Kegiatan ditutup dengan meluncurkan buku Kaldera Sunda: Letusan Plinian di Priangan (2024). Buku yang disusun sejak 2022, memuat cerita tentang bukti letusan G. PraSunda-Sunda dan G. Tangkubanparahu.

Menjelang kabut menggelayut di puncak gunung, partisipan bergegas turun melalui Sukawana. Jalan yang turun yang dilalui berbeda dengan jalan naik, sehingga bisa melihat perbedaan vegetasi pegunungan. Acara ditutup di lereng Sukawana, dengan harapan kegiatan ini menguakkan tabir bumi, menjadi narasi yang bisa digunakan untuk kegiatan interpretasi dan pemanduan geowisata.

Foto bareng di tubir kawah Upas, G. Tangkubanparahu.
Bidang perlapisan, memperlihatkan sikuen letusan G. Tangkubanparahu.

Catatan Singkat Geourban#19 Cigulung

Jelang pagi matahari masih bersahabat, namun beranjak siang langit Bandung utara bersalin gelap. Awan hujan menggelayut selepas dzuhur, seperti ingin mencurahkan bebannya. Hujan sekilas dibawa angin saat kami bernaung di warung, kemudian dilanjutkan ke pokok pembahasan mengenai latar bangunan militer kolonial di Pasirmalang,

Bentuknya memanjang mengikuti punggungan perbukitan, panjang fasadnya kurang lebih 30 meter. Berupa struktur bangunan yang memiliki dua tangga dari arah selatan, kemudian bagian atasnya datar. Kemungkinan di bagian atasnya berdiri senjata altileri anti pesawat udara. Di bagian utaranya dipagari oleh beton, sejajar dan memanjang mengikut tepian gawir sekitar 20 meter. Disetiap sisinya tesedia tangga yang mengarahkan ke bagian atap, area terbuka yang mampu melihat kesegala arah mata angin. Disetiap sisi bangunan didapati ruangan kotak memanjang, dilengkapi satu pintu, dan dua lubang ventilasi. Dindingnya sangat tebal, kurang lebih 120 centimeter. Dicor menggunakan beton, dengan tulangan besi dibagian atapnya. Sehigga bisa diduga bahwa fasilitas ini disebut bungker, atau tempat persembunyian pada saat serangan musuh melalui udara. Beton tebal tersebut diperkirakan mampu menyerap energi bom udara, walaupun tidak ada tanda-tanda bekas ledakan hasil serangan musuh.

Secara geografis bungker ini didirikan diatas tinggian Sukamulya, bagian dari blok naik Sesar Lembang. Barangkali kalau vegetasi yang hilang, akan telihat jelas dataran tinggi Cicalung Lembang di sebelah utara, dibatasi oleh tinggian G. Putri dan G. Sukatinggi. Sedangkan melihat ke arah selatannya dalah Cekungan Bandung. Tidak ada informasi yang memadai mengenai sejarah pendirian benteng ini, hanya di beberapa sumber menuliskan angka tahun 1922. Selebihnya adalah misteri gelap yang menyelimuti, kapan dan untuk apa benteng ini didiran di tinggian Sesar Lembang.

Dalam penyebutan benteng mungkin kurang tepat, mengingat fungsinya bukan sebagai pertahanan dari musuh. Benteng militer biasanya digunakan sebagai markas batalyon dan tempat penyimpanan perlatan perang dan logistik. Sedangkan struktur bangunan di Pasirmalang lebih tepat disebut sebagai bungker. Fasilitas militer tersebut dibangun seiring kebutuhan sistem pertahanan pasukan KNIL, menjelang masuknya tentara Jepang pada 1942.

Kolonial sudah mempersiapkan strategi pertahanan, sekitar wilayah kota Bandung. Sehingga fasilitas-fasilitas militer ini tersebar ditinggian perbukitan dan gunung yang melingkupi kota. Secara geografis. Diperkirakan pembangunan bungker-bungker yang berfungsi sebagai pos pengamatan, sekaligus untuk menempatkan altileri anti pesawat udara. Didirikan oleh KNIL pada masa interbellium atau masa antar perang antara 1918 hingga 1939, atau menjelang pecahnya perang dunia ke-2. Setelah lepas dari perang dunia ke1, kekaisaran Jepang muncul sebagai negara kuat di Asia. Sehingga kolonial Belanda menduga akan datang ke Hindia Belanda, dengan tujuan mencari sumber daya alam. Dalam masa persiapan perang tersebut, pemerintahan Hindia Belanda mengeluarkan dokumen Prinsp-Prinsip Pertahanan 1927, kebijakan yang mendukung strategi militer Hindia Belanda pada saat itu. Diantaranya angkatan darat dan laut harus mampu menjaga keamanan negeri koloni Hinda Belanda.

Dari keterangan diatas kemungkinan KNIL mendirikan bungker-bungker anti pesawat udara dan pos pengamatan sejak 1920-an. Seiring pemindahan pusat militer Hindia Belanda ke Bandung. Dalam keterangan buku lama Militaire aardrijskunde En statistiek van Nederlandsch Oost Indie, 1919 menuliskan, sistem pertahanan Hindia Belanda memanfaatkan dataran tinggi dan perbukitan yang memagari cekungan Bandung. Diperkirakan keberadaan bungker-bungker ini turut mengendalikan jalannya pertempuran, saat tentara kekaisaran Jepang datang melalui Ciater Subang pada 5-7 Maret 1942.

Selepas dari bunker Pasirmalang, dilanjutkan ke geotapak ke-dua pertemuan dua sungai. Tepat di tepi gawir Langensari-Pasirsela, mengalirlah Ci Gulung bagian dari DAS Ci Kapundung. Sungai yang hulunya dari Cikole, penggabungan dari sungai-sungai kecil. Diantaranya Ci Putri, Ci Kukang, Ci Bogo, dan Susukan Legok. Airnya relatif deras, mengalir di atas aliran lava tebal produk letusan efusif G. Tangkubanparahu. Lidah lavanya menerus hingga berhenti di Curug Dago. Dalam stratigrafi yang disusun Nasution (2004), aliran lava tersebut hasil produk Gunung Tangkubanparahu Tua dan Muda, umur 40.000 tahun yang lalu. Dari tinggian Langensari, terlihat lembah yang sangat dalam, mengalir diantara G. Putri mengalir ke arah selatan. Dari data peta topografi RBI (2001), memperlihatkan aliran Ci Gulung mengerosi dasar blok naik Sesar Lembang, mengalir ke arah timur. Dalam tafsiran sistem sesar, menandakan aliran sungai tersebut berbelok akibat pergeseran dari sesar normal ke sesar geser mengiri.

Geotapak ke-tiga adalah melihat fitur batuan beku ekstrusif tersebut tersingkap dikawasan wisata Maribaya Natural Hot Springs Resort. Berupa breksi lava (auto breccia) bagian flow top dicirikan vesikular, berwarna hitam menandakan basal. Disebagian tempat ditemui juga struktur entablature, berupa struktur kekar kolom yang tidak beraturan tegak.

Debit airnya deras dan keruh mengingat sungai ini menangkap sedimentasi pertania di hulu, kemudian dibawa hingga ke arah hilir. Sedikit ke hilir dari lokas wisata ini, didapati Curug Cikawari. Aliran Ci Kawari yang berhulu di G. Buleud dan G. Bukittunggul bagian barat. kualitas airnya relatif lebih jernih, mengingat sungainya melalui area huta produksi PT Perhutani (Persero) KPH Bandung Utara. Ci Kawari dan Ci Gulung kemudian bertemu di Curug Omas, bersatu dengan Ci Kapundung. Ci Kapundung kemudian mengalir ke selatan sejauh 28 kilometer, membelah kota Bandung. Muaranya di sekitar Dayeuh Kolot, bertemu dengan Ci Tarum.

Kegiatan ditutup diacara buka bersama, di Travel Tech Ciburial Bandung Utara. Dalam penutupan acara, peserta berdiskusi bahwa bentang alam bisu, bila tidak dibunyikan dalam bentuk penafsiran bumi. Dengan demikian kegiatan Georuban berusaha menyuarakan suara bumi, dengan tujuan memahami bagaimana bumi bekerja; lava yang mengalir dari kegiatan letusan gunungapi; arah aliran sungai yang dipengaruhi oleh struktur sesar; dan terakhir adalah upaya strategi militer kolonial memanfaatkan bentang alam Bandung utara, sebagai benteng pertahananan dengan membangun bungker-bungker dan pos pengamatan militer di sepanjang punggungan Sesar Lembang.

Penjelasan blok naik dan turun Sesar Lembang.
Penejlasan posisi titik bungker Pasirmalang.
Srutkur kekar kolom yang tersingkap di Curug Ci Gulung Maribaya.
Bungker Pasirmalang.

Catatan Geourban#17 Lembah Kordon

Seusuai dengan waktu pelaksanaan kegiatan, peserta telah hadir lebih awal di pintu gerbang Tahura Ir. Djuanda. Kurang lebih lima belas orang dengan latar belakang yang berbeda, para pegiat pariwisata kota Bandung, pemandu wisata, dosen pariwisata, hingga para pegiat wisata kebumian atau geowisata. Acara dimulai jelang pukul 07.30 WIB, dibuka dalam bentuk penyampaian taklimat (brifing) oleh Deni Sugandi, selaku inisiator Geourban. Hadir sebagai narasumber adalah ahli Hidrogeologi yaitu  Fajar Lubis yang kini bekerja di Brin, dan Zarindra Aryadimas selaku pegiat geowisata. Seperti penyelenggaraan sebelumnya, bahwa kegiatan ini bersifat probono, dengan semangat berbagi dan mengaitkan jejaring geowisata khususnya di aktivitas geowisata.

Tema Geourban ke-17 adalah menyusuri kembali keunikan bentang alam, dan sejarah kolonial Belanda. Diantaranya material produk letusan gunungapi purba di utara Bandung, berupa tuff, dan aliran lava. Sejarah yang ditelusuri adalah terowongan air yang memanjang utara-selatan dibangun menerobos endapan awan panas  (ignirbrite). Batuan keras yang kini dimanfaatkan sebagai gua militer pada masa pendudukan Jepang di Bandung.

Acara dibuka tepat dimulut gerbang kampung Sekejolang, Desa Ciburial. Kabupaten Bandung. Kampung enklave di dalam kawasan wana wisata konservasi di Bandung utara. Dalam penyampaian awal, Deni menjelaskan rangkaian kegiatan acara yang akan berlangsung dalam durasi setengah hari. Secara teknis dilaksankana dengan kegiatna hiking, mengunjungi empat titik yang tersebar di dalam kawasan Tahura Ir. Djuanda.

Kegiatan disambung dengan hiking membelah kampung Sekejolang, menuruni perbukitan terjal. Jalan setapak tanah yang cukup licin, mengingat semalam turun hujan deras sehingga peserta meniti tangga tanah secara hati-hati. Jalan setapak mengantarkan para peserta ke jalan utama yang menghubungkan antara Maribaya dan Pakar Dago. Jalur ini sejajar dengan Ci Kapundung yang berada di sebelah barat. Mengalir melalui celah yang dibentuk oleh kekuatan alam, melalui proses erosi dan pelapukan.

Ci Kapundung adalah sungai yang membelah kota Bandung. Merupakan DAS Ci Tarum yang berhulu di Bandung utara, kumpulan sungai-sungai kecil yang datang dari lereng G. Bukittunggul-Pangparang dan Pulosari (Palasari). Kemudian mengalir mengikuti arah Sesar Lembang Timur-Barat. Di sekitar Kordon kemudian berbelok ke arah selatan, menunggangi lava produk letusan G. Tangkubanparahu.

Bukti aliran lava tersebut tersingkap dengan baik di Curug Lalay. Berupa bentuk yang unik seperti tali yang dipilin, disebut bentuk ropy lava. Struktur demikian sering dijumpai pada lava yang rendah silika tetapi kaya akan magnesium. Dicirikan dengan warnanya gelap, mengalir pada temperatur tinggi dan mengalir jauh dari pusat letusan.

Kunjungan pertama adalah ke Curug Lalay. Berupa celah sempit yang diapit oleh produk gunungapi Sunda, berupa tuff dan breksi di bagian atasnya. Di bawahnya terlihat produk lava berupa hasil aliran menutupi dasar sungai. Dibantarannya tersingkap lava dengan struktur unik, seperti tali yang dipilin. Bentuk demikian biasanya ditemui dikepulauan Hawaii, hasil kegiatan gunungapi tipe hot spot yang berada ditengah-tengah lempeng samudera. Lavanya berawana hitam sedikit keabu-abuan, menandakan kaya akan mineral piroksen. Bagian permukaanya halus mengkilap, menandakan bahwa lava tersebut merupakan produk aliran lava G. Tangkubanparahu. Mengalir sejauh 12 km dari pusat letusan, mengikuti topografi lereng gunung.

Titik kunjungan berikuntya adalah ke batu batik, atau dikenal juga lava Pahoehoe. Struktur lava yang tersingkap dilokasi ini lebih baik. Tersingkap mendatar berupa lava pahoehoe, seperti selendang sehingga ditafsirkan miliknya Dayang Sumbi. Produknya sama seperti lava yang terdapat di Gua Lalay, mendakan aliran lava datang dari utara ke selatan. Dalam kesempatan ini Fajar Lubis menjelaskan bagaimana lava tersebut bisa hadir sebagai tapak bumi.

Kunjungan dilanjutkan menyusuri Ci Kapundung, melalui jalur beton yang telah dibangun permanen pihak pengelola. Di ujung perjalanan, menemui blok breksi berupa jatuhan dari kegiatan gerakan tanah. Berupa longsoran aliran, akibat curah hujan yang tinggi sejak minggu lalu. Sebagian blok breksi tersebut bagian dari aliran piroklastik G, Tangkubanparu.

Di ujung jalan kemudian berbelok memasuki gua Belanda. Gua yang dibobol horisontal, berguna untuk mengalirkan irigasi Ci Kapundung ke kolam penenang di Pakar Dago. Dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan PLTA awal, Pakar Dago yang terleltak sebelah utara dari PLTA Bengkok saat ini. Karena sering terjaid longosor, jalur irigasi tersbut kemudian dialihkan melalui terowongan yang diambil dari bendungan Bantarawi. Dialirkan menembus perbukitan piroklastik, tuff kemudian keluar di sekitar pintu dua Tahura Djuanda. Terowongan air tersebut dikerjakan sebelum 1923, untuk memenuhi kebutuhan PLTA Bengkok. Instalasi pembangkit tenaga listrik 3 turbin yang menghasilkan 1050 KWh. Saat ini masih berfungsi baik, walaupun telah berusia 100 tahun lebih, listrinya didistribusikan untuk jaringan Jawa-Bali.

Kegiatan ditutup di mulut Gua Belanda, dengan penyampaian kesan dan pesan. Diharapkan kegiatan ini tidak berhenti dan diusulkan untuk dilaksanakan berkala, dalam rangka edukasi, dan menggali potensi geowisata sekitar kota Bandung.

Sesuai dengan arahan rencana kegiatan, peserta telah hadir di pintu masuk Tahura Ir.Djuanda. Jelang pukul 7.30 WIB, peserta diarahkan dikegiatan brifing. Informasi diberikan oleh Deni Sugandi selaku

Tidak serperti hari biasanya, mejelang tutup akhir tahun dan liburan panjang wisata hutan raya Tahura Ir. Djuanda ramai. Jalan yang membelah kawasan ini ramai dikunjungi wisatawan, berolah raga hingga

Sesuai dengan rencana kegiatan, jelang pukul 07.00 WIB peserta telah hadir di gerbang pintu masuk Tahura Ir. Djuanda. Dihadiri oleh pegiat alam bebas, pegiat wisata dan komunitas sejarah.

Diklat I DPW Bekasi Raya 2023

Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan/Diklat Pemandu Geowisata Angkatan I, diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah Bekasi. Diklat ini merupakan kegiatan pertama organisasi yang berada di sekitar wilayah Kabupaten Bekasi, dengan tujuan pengenalan kerja pemanduan geowisata serta kemampuan untuk melaksanakan kegiatan pemanduan geowisata.

Dilaksanakan di aula Desa Lenggah Jaya, Cabangbungin, Kabupaten Karawang. Dibuka oleh Ketua DPW Bekasi Raya, dilanjutkan sambutan dari Ketua Dewan Pembina DPW Bekasi Raya dan Ketua Dewan Pengurus Nasional. Acara secara formal dibuka oleh pemerintah daerah, melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Bekasi, Kasi SDM.

Narasumber diantaranya berasal dari organisasi PGWI, diantanya materi persiapan dan penyusunan geowisata, pemanduan geowisata, melakukan konservasi alam dan budaya dan ditutup di hari ke-dua berupa praktek lapagan.

Narasumber diantaranya Deni Sugandi, M Rizki H., Syiar Muslim, Zarindra, Sodikin Kurni, M Sodikin dan Deden Nursam. Praktek lapangan dilansakan di Muaragembong, sebelah utara Kabupaten Bekasi. Peserta diklat diarahkan praktek pemanduan, dan ditutup oleh kegiatan evaluasi.

Pengembangan Geowisata di Desa Cikahuripan

Berselang empat bulan yang lalu, PGWI Dewan Pengurus Nasional menginisiasi kegiatan aktiviasi paket geowisata. Dilaksanakan dalam kegiatan Geourban# Jayagiri (lihat tautan ini https://pgwi.or.id/2023/05/04/catatan-geourban12-jayagiri/

Di bulan Mei 2023, PGWI melaksanakan kegiatan Geourban dengan tujuan untuk membuka jaringan, menggali potensi dan sumber daya manusia di Desa Cikahuripan, Kabupaten Bandung Barat. Gayung bersambut kembali, pada tanggal 4 Agustus 2023 dilaksanakan kegiatan PKM Kelompok Sadar Wisata dalam Pengembangan Pemanduan Geowisata di Desa Wisata Cikahuripan, Kabupaten Bandung Barat.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Prodi Kepariwisataan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), berkerja sama dengan Pokdarwis Desa Cikahuripan, PGWI dan Bandung Mitigasi Hub. Dalam penyampaiannya, Deni memaparkan beberapa potensi yang dimiliki oleh Desa Cikahuripan. Diantaranya bukti awan panas saat G. Sunda meletus, kemudian ditumpuk oleh produk letusan gunungapi Tangkubanparahu.

Disebelah selatannya didapati perbukitan sesar Lembang yang membatasi desa. Berbatasan dengan Desan Gudang Cikahuripan. Bila ditarik ke arah utara, dibatasi oleh lereng dan puncak G. Tangkubanparahu, gunungapi aktif dari tujuh gunungapi di Jawa Barat.

Peserta pelatihan menyampaikan beberapa pertanyaan, mengenai pentingnya kesadaran akan bahaya. Sehingga diperlukan mitigasi risiko bahaya, dengan cara menyadari bahwa Desa Cikahuripan ini diapit oleh dua potensi bahaya geologi, sesar Lembang di sebelah selatan dan gunungapi aktif di bagian utara.

Sodikin salah seorang perserta, menyampaikan perlunya SOP atau panduan pada kegiatan geowisata. Sehingga menjadi jaminan dan kenyamanan selama berkegiatan geowisata di Desa Cikahuripan.

Pengukuhan PGWI DPW Bekasi Raya

Mengambil tempat disekretariat PGWI Dewan Pengurus Wilayah Bekasi raya, di sebuah perumahan di Sukamulya, Sukatani, Bekasi. Kegiatan ini dihadiri oleh Pengurus DWP Bekasi Raya, dan Dewan Pengurus. Sedangkan dari Dewan Pengurus Nasional dihadiri oleh Dewan Pengawas, Ketua, Sekretaris dan Ketua Bidang Diklat.

Kegiatan pengukuhan dilaksanakan pada tanggal 20 Juli 2023. Dari pihak Dewan Pengurus Nasional dihadiri oleh Ketua, Dewan Pengawas, Sekretaris dan Bidang Diklat. Dalam penyampaian diacara ini, Deni Sugandi selaku ketua menyampaikan pentinggya menggali potensi melalui pemetaan geowisata, khususnya di Kabupaten Bekasi utara. Begitu juga disampaikan oleh perwakilan Dewan Pengawas T Bachtiar, menggali sejarah di Kabupaten Bekasi, khususnya di kawasan Batujaya seperti pulang kampung. Diperkirakan komplek Candi Batujaya adalah tinggalan budaya lama yang satu umur dengan kerajaan awal Tarumangara.

DPW Lombok Rinjani Berdiri

Perintisan pendirian Dewan Pengurus Wilayah Rinajani Lombok, diinisiasi setidaknya sejak awal tahun 2020-an. Tepat pada tanggal 17 Mei 2023, di Kota Mataram, NTB, telah terlaksana Deklarasi Pendirian Dewan Pengurus/DPW Rinjani Lombok.

Deklarasi ini merupakan amanat pembentukan struktur DPW, tujuannya diantaranya adalah bermitra dengan Badan Pengelola di kawasan Geopark Rinjani Lombok. Geopark nasional yang kini telah dinyatakan menyandang status Unesco Global Geopark. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan unsur dari pemerintahan daerah melalui Dinas Pariwisata, perwakilan dari kalangan kampus/akademisi, lembaga kepariwisataan, praktisi pariwisata dan pemandu geowista di sekitar wilayah Nusa Tenggara Barat. Sidang dipimpin oleh Fahrozi Gaffar, Sekretaris Sidang Maizurra Serti, dan Anggota Meliawati dan Aisyah Desilina. H.

Keputusan musyawarah ini menyepakati susunan pengurus menunjuk Imam Firmansyah sebagai ketua DPW Rinjani Lombok. Kemudian posisi sekretaris oleh Zunun Inayatullah, Bendahara Muhnim, Kabid SDM Muhammad Yusuf, Kabid Humas Fathul Rahman. Sedangkan posisi Dewan Pengawas Kusnadi, dan Dean Pembina Meliawati dan Ramli.

Diharapkan pendirian DPW Rinjani Lombok bisa amanah, memberikan pelayanan kepada anggotanya dalam bentuk program kerja. Selain itu DPW ini mampu menjadi mitra dengan lembaga Badan Pengelola Geopark Rinjani Lombok, maupun dengan lembaga lain seperti Taman Nasional Rinjani.

Penunjukan Imam Firmansyah sebagai ketua terpilih, di Deklarasi DPW Rinjani Lombok
Penyerahan SK dari Dewan Pengawas Pengurus Nasional, kepada Ketua DPW Rinjani Lombok
Foto bersama Dewan Pengurus Wilayah Rinjani Lombok