Catatan Geourban#43 Tengeragung (Subang)

Dari arah Bandung, kemudian memasuki kawasan Cikole. Seiring perjalanan mendaki mengikuti perbukitan, kiri dan kanan daerah ini semakin dikuasai oleh usaha wisata.. Kawasan hijau, bersalin rupa menjadi struktur bangunan, sedangkan tegakan Pinus merkusii hanya sekedar hiasan saja.

Selepas tanjakan Cikole, tiba di percabangan antara gerbang memasuki kawasan wisata G. Tangkubanparahu. Sedangkan ke arah utara, melandai memasuki wilayah Kabupaten Subang. Jalan nasional yang menghubungkan Lembang ke Jalancagak, kini lenggang. Warung-warung yang membatasi sepanjang jalan, kini hilang. Dibongkar pada awal bulan Agustus 2025, atas kebijakan gubernur Jawa Barat.

Sekitar 978 warung, dari perbatasan G. Tangkubanparahu, hingga Jalancagak telah “diamankan”. Alasanya karena bangunan tidak berizin, dan dianggap menyumbang potensi bahaya bencana longsor. Bangunannya didirikan merambah lereng, sehingga bisa berdampak bahaya. Bila alasan gubernur adalah berkaitan lingkungan, seharusnya berlaku juga kepada pengelola wisata lainya. Pengusaha besar yang menempati sebagian besar lereng timur G. Tangkubanparahu, seperti Astro Highland Ciater, The Ranch Ciater dan sebagainya. Penggunaan lahan menjadi bangunan, menyebabkan tertutupnya zona imbuhan air. Sehingga akan terjadi run off, bila hujan turun, dampaknya adalah banjir dikala musim hujan.

Jejak material letusan G. Tangkubanparahu, masih bisa disaksikan hingga kini. Berupa aliran piroklastik, berselingan dengan aliran lava. Gunungapi ini mulai tumbuh dan memperlihatkan aktivitasnya pada skala waktu geologi Holosen. Kurang lebih sekitar 10 ribu tahun yang lalu (Kartadinata, 2005), melalui kegiatan letusan yang terus berlangsung hingga kini. Di peta Kawasan Rawan Bencana (KRB), G. Tangkubanparahu skala 1:50.000. memperlihatkan arah aliran berupa aliran lava, gas beracun dan kemungkinan awan panas. Diperkirakan arah aliran materialnya ke sekitar Sagalaherang.

Bukti aliran lava, bisa disaksikan di Curug Badak, menjadi dasar aliran Ci Koneng. Sungai yang hulunya di lereng sebelah timur laut G. Tangkubanparahu. Mengalir ke arah selatan, kemudian bertemu dengan Ci Punegara. Di air terjun ini, terlihat lapisan lava tebal, diperkirakan setebal 30 meter lebih. Strukturnya masif dan sebagian terbentuk struktur kekar lembar. Membentuk tapal kuda, terbuka ke arah utara, memperlihatkan lava tebal di bagian atas, menindih batuan breksi piroklastik. Batuan pembawa air ini (akifer), dimanfaatkan pengelola wisata untuk mendapatkan air bersih. Ceruk terbentuk karena batuan bagian atas adalah lava, batuan keras yang resisten terhadap erosi. Kemudian membentuk ceruk, akibat batuan piroklastik yang mudah di erosi. Sehingga membentuk seperti gua-gua, dengan ketinggian antara 2-4 meter.

Lereng landai sebelah timur G. Tangkubanparahu yang subur. Selain mengundang ladang usaha bisnis saat ini, sudah menjadi incaran penguasaan kolonial di Priangan. Selepas tutupnya Perusahaan Hindia Timur Belanda atau VOC tahun 1799, akibat korupsi. Otomatis sebagian besar penguasaan wilayahnya jatuh ke kerajaan Belanda. Semenjak itulah kebijakan kolonialisme bukan lagi mencari keuntungan ekonomi melalui perdagangan rempah. Kolonial Belanda menyusun strategi, melalui usaha-usaha produksi dan hasil perkebunan. Sehingga antara tahun 1800 hingga 1870, sebagian besar hutan-hutan di lereng G. Tangkubanparahu bersalin menjadi perkebunan.

Dalam tulisan lama Short history of the Pamanoekan and Tjiassemlands (1838), menguraikan bahwa hutan Ciater dikonversi menjadi lahan perkebunan sejak penguasaan kolonial Inggris. Melalui surat keputusan Gubernur Jenderal Raffles, 22 Januari 1813, sebagian besar wilayah Krawang (Karawang raya) dijual kepada Muntinghe. Seorang warga Spanyol yang bertindak sebagai makelar tanah. Penguasaan lahan kemudian dijual kepada Shrapnell dan Ph. Skelton pada 1813. Pada tahun yang sama, lahirnya perusahaan swasta, Pamanoekan en Tjiasemlanden (P&T) lahir. Menggabungkan dua lahan, menjadi perkebunan terbesar di priangan pada saat itu. Luasnya kurang lebih sama dengan batas wilayah administrasi Kabupaten Subang saat ini.

Pada peta 1903, batas wilayahnya meliputi sebagian besar Subang saat ini. di sebelah utara dibatasi laut Jawa. Kemudian di bagian timur, berbatasan dengan Kesultanan Cirebon dan (sungai) Ci Punagara. Kemudian di selatan, dibatasi lereng G. Tangkubanparahu, dan bagian barat dipagari (sungai) Ci Lamaya.

Awal pembukaan lahan perkebunan, dikerjakan di sebelah utara Subang. Disekitar Sagalaherang, dicirikan dengan lahan yang memang ideal untuk pendirian pusat pengolahan hasil perkebunan. Di sebelah utaranya didapati mata air Cimutan, mengalir di Ci Kanyere. Terletak di lembah yang diapit oleh perbukitan, memanjang selatan-utara. di lembah ini didapati dua sumber mata air, dengan debit besar. Mengalir diantara rekahan batuan, dan endapan piroklastik. Sedangkan di bagian atasnya ditumbuhi oleh pohon bambu yang rindang dan lebat, menandakan ciri mata air yang sehat. Dari sumber mata air ini, ke arah pabrik pengolahan hasil perkebunan sekitar 1,3 km.

Dengan demikian, penempatan awal mula pusat administrasi dan pengolahan pada saat itu berada di Sagalaherang. Pada foto lama, Koffie Maalderij van de onderneming Tenger Agoeng in de Pamanoekan en Tjiasemlanden (1887), memperlihatkan bangunan administratur dan pusat pengolah kopi. Berupa bangunan yang didirikan di Sagalaherang. Beberapa informasi, pusat pengolahan hasil perkebunan tersebut, diperkirakan berada di lapangan Tengeragung. Lapangan olah raga sepak bola warga. Berupa dataran luas, berada sekitar 500 meter ke arah selatan dari Alun-Alun Sagalaherang saat ini.

Dalam foto tersebut nampak struktur bangunan, dengan latar berupa gunung Tangkubanparahu. Keberadaan Tengerangung, menjadi pusat administrasi pada awal perkembangan Pamanoekan en Tjiasemlanden/P&T. Diperkirakan kerajaan perkebunan Hofland bersaudara ini, selepa pembelian aset dari Ch. Forbes, W. F. Money, Micky Forbes, John Skelton, J. Steward, J. R. Thuring, dan Alex London.

Pada 11 November 1826, kepemilikan lahannya kemudian Ch. Forbes, Micky Forbes, dan J. Steward. Pengusaha dari Inggris ini, kelak menyerahkan asetnya melalui akad pembelian kepada John Erich Banck Thomas Benjamin Hofland & Peter William Hofland.

Pada 28 Oktober 1848, sahamnya semua diambil alih oleh Theodorus Benjamin Hofland, da Peter William Hofland (P.W. Hofland). Dua bersaudara keturunan Belanda. Kemudian pada tangal 1 November 1958, sepenuhnya dikuasai oleh P. W. Hofland. Pada tahun itulah perkiraan pemindahan seluruh operasi perkebunan, ke kota Subang saat ini.

Jejak kejayaan peninggalannya di Tengeragung nyaris lenyap, hanya menyisakan kerkhof. Pemakaman keluarga Hofland, di dataran tinggi Tengeragung. Di Lokasi ini masih bisa ditemui bangunan yang berfungsi sebagai monumen atau ruang pemakaman, tempat penyimpanan peti mati atau guci abu di dalam kripta/relung.

Satu-satunya struktur bangunan yang mencolok adalah kuburan istri dan anak Johannes Theodorus Hofland, anak kedua dari P.W. Hofland. Dimakamkan dengan nama Maria Elisabeth van Lawick van Pabst (lahir 25 Mei 1843, meningal 17 November 1871). Kemudian anaknya, Francis Theodore Hofland yang baru berusia empat bulan, lahir 29 Mei 1860 dan meninggal 29 Agustus pada tahun yang sama. Sepeningal istrinya, kemudian sang suami menikah kembali dengan emma Carolina Elisabeth Kunhardt. Johannes Theodorus Hofland, meningal pada tahu 1906.

Selain itu masih tampak empat tunggul tidak bernama, dan beberapa bentuk pondasi kuburan yang sudah rusak. Saat in kuburan tersebut dimanfaatkan warga menjadi ladang umbi, dan kuburan muslim warga. Sehingga struktur nisan kuburan keluarga Hofland, tampak tidak terurus. Sebagian telah hilang di bagian penanda nisannya, sehingga tidak ada informasi siapa dan kapan jasad yang dikuburkan disini.

Lawatan penutupan kegiatan Geourban, mengunjungi sumber mata air Cimutan. Mata air yang melimpah, dari dua sumber mata air. Terletak di lembah, sistem aliran Ci Kanyere, namun menurut warga, lahan mata air tersebut dimiliki perorangan. Sehingga sumber daya yang melimpah ini bukan lagi miliki desa yang bisa diolah secara kolektif. Dengan demikian warga sangat bergantung dari kebaikan pemilik lahan.

Sebagai penutup, mengunjungi rumah tua peninggalan kerajaan perkebunan P&T di Jagarnaek. Merupakan kampung yang berada di dalam wilayah administrasi Desa Cisaat, Ciater. Rumah tersebut saat ini terbengkalai, seperti kurang diurus. Menandakan rumah tersebut tidak lagi fungsi, selain jejak kejayaan perkebunan kopi di Jagarnaek. Penamaan tempat tersebut, diperkirakan disematkan oleh P.W. Hofland. Penguasa perusahaan perkebunan tersebut, ingin mengabadikan nama kelahirannya di Jagir Naik Poeran, negeri India.

Peta 1887 lembar Sagalaherang/KLTIV
Penananda kuburan istri dan anak Johannes Theodorus Hofland, di Tengeragung.
Rumah administratur Jagernaek
Mataair Cimutan

Catatan Geourban#42 Nagreg

Ramalan cuaca tadi malam menyebutkan, besok pagi sedikit berawan. Kemudian jelang sore berkemungkinan turun hujan tipis. Demikian prakiraan kondisi cuaca tanggal 14 Agustus 2025. Rupanya alam memberikan keputusan yang berbeda. Jelang pagi langit berselimutkan awan tebal, sesekali angin bertiup dari arah barat. Awan mendung menggelayut, menandakan hujan sebentar lagi turun.

Waktu menunjukan pukul tujuh pagi, kendaraan diarahkan menembus padatnya lalu lintas Cileunyi. Untung saja waktu pergantian (shift) karyawan pabrik sudah lewat, sehingga jalan kembali normal. Sepanjang Rancaekek dibatasi oleh bangunan pabrik tekstil dan rumah warga. Sebagian besar posisi rumah berada di bawah jalan, menandakan kawasan ini terjadi penurunan muka tanah. Terjadi akibat pengambilan air berlebihan, sehingga terjadi cekungan. Seiring waktu jalan ditambah, penebalan beton. Sehingga rumah warga tampak tenggelam oleh oleh jalan yang membentang barat ke timur.

Di Parakanmuncang, berbelok ke arah utara. Menembus pasar Parakanmuncang, hingga tiba di Pusaka Farm. Dalam waktu satu jam lebih, menembus tiga wilayah, Kota Bandung, kemudian Kabupaten Bandung, dan terakhir di Parakanmuncang, masuk ke wilayah Kabupaten Sumedang.

Titik awal penelusuran kegiatan Geourban ke-42 ini, dimulai dari Pusaka Farm. Pengelolaan ternak kambing milik kang Rizky. Dari Parakanmuncang, diarahkan ke timur. Selepas Rancaekek, kemudian memasuki daerah Nagrog. Jalanannya menanjak, menandakan memasuki segmen Cicalengka-Nagreg. Berupa daerah tinggi yang diapit oleh beberapa gunungapi purba dan perbukitan. Sebelah utaranya adalah kelompok G. Kareumbi-Kerenceng, kemudian di sebelah selatannya dibatasi oleh kelompok G. Mandalawangi.

Sekitar Nagrok jalanan menanjak, menandakan perbedaan elevasi. Perbedaan ketinggiannya kurang lebih sekitar 160 meter bila dihitung dari Rancaekek ke Cicalengka. Tinggian tersebut membentuk cekungan yang diapit oleh perbukitan landai, disebut cekungan Cicalengka-Nagreg. Bila dilanjutkan ke arah timur, topografinya landai menunjukkan batas cekungan Nagreg. Dikenal dengan tanjakan Nagreg, berakhir dipercabangan menuju Garut dan Tasikmalaya.

Cicalengka merupakan batas timur Danau Bandung Purba. Ke arah timurnya dipagari perbukitan dan gunungapi purba. Batas antara Cekungan Bandung bagian timur dengan Cekungan sub cekungan Leles, Garut. Berjajar perbukitan runcing, G. Durung, Pasir Citiis, G. Kendang, G. Batu dan G. Sangiangajung. Komplek gunungapi purba, menjadi pagar alam Cekungan Bandung bagian timur dengan Sub Cekungan Leles-Garut.

Di Hadapannya (timur), merupakan cekungan yang kini ditempati sawah. Diperkirakan merupakan sisa dari sub danau yang terbentuk sebelum Danau Bandung Purba. Seperti yang dikemukakan oleh Budi Brahmantyo dkk., (2001). Menduga terbentuk cekungan kecil yang terangkat. Buktinya adalah adanya endapan danau (lakustrin), berlapis, disusun klastik gunungapi dan aluvial. Selain itu elevasi cekungan tersebut 850 meter dpl., seratus meter lebih di atas paras maksimal Danau Bandung Purba. Dalam pengukuran menggunakan bantuan google maps sekitar 800 hektar. Sebelah timurnya dibatasi jalan raya Nagreg dan G. Leutik. Kemudian di sebelah baratnya, berbatasan dengan Citaman. Kemudian sebelah utaranya sekitar sawah di Desa Kendan. Bukti endapan danau (lakustrin), berupa lapisan lempung dan paleosol belum bisa dipastikan. Mengingat kondisi lingkungan saat ini sudah berubah menjadi areal sawah.

Di sekitar Nyalindung Nagreg, tidak ditemui. Karena sebagian besar sungai yang membelah atau sejajar dengan jalan raya Nagreg disusun oleh breksi gunungapi. Dalam keterangan penelitian awal oleh tim Kelompok Riset Cekungan Badung, dalam jurnal Notes of the Geology of Uplifted Small Basin at Cicalengka-Nagreg Areas South of Bandung (2001), menunjukan bukti. Berupa endapan danau di G. Leutik, atau sekitar 40 meter dari persimpangan rel kereta api Nagreg ke arah selatan. Namun kondisinya saat ini telah menjadi kolam, sisa kegiatan tambang batu sejak awal tahun 2000-an.

Di Desa Kendan, dilaporkan terjadi gerakan tanah. Akibat struktur dan keadaan batuan penyusunnya belum terkonsolidasi dengan baik, dilaporkan terjadi gerakan tanah (longsor), di Nagreg dan sekitarnya. Terakhir terjadi pada 19 Mei 2025, di Kampung Gunung Batu, Nagreg. Menyebabkan kerusakan material/bangunan dan korban manusia.

Ke arah timurnya, terlihat morfologi kubah lava (lava dome), Sangianganjung-Kendan. Didapati batuan amorf (obsidian). Bersisipan dengan batuan yang telah lapuk terkena hidrothemal. Sebarannya melimpah di TPU Legok Nangka, di dinding perbukitan yang dikupas untuk pembangunan tempat sampah metode open dumping. Dalam kajian arkeologi, didapat beberapa situs dan tinggalan budaya obsidian megalitik hingga Sunda Klasik.

Hasil letusan gunungapi memberikan berkah, menjadikan tanahnya subur. Sehingga pasca undang-undang agraria 1870, mendorong pertumbuhan perkebunan swasta di kawasan ini. Diantaranya perkebunan dan produksi minyak sereh 1901-an. Struktur bangunan pabrik dan cerobong asapnya masih bisa disaksikan saat ini.

Dari peta lama, memberikan keterangan bahwa sekitar Nagreg hingga Balubur Limbangan bagian utara ditempati oleh perkebunan. Tanaman yang diusahakan adalah sereh, untuk diambil minyaknya. Ditandai dengan sisa bangunan pabrik pengolah minyak sereh di sekitar Nyalindung, Nagreg. Berupa sisa struktur bangunan, ditandai dengan masih berdirinya cerobong asap penyulingan minyak. Tingginya sekitar 15 meter, struktur cerobong disusun oleh batu bata merah. Menurut keterangan warga, sudah beroperasi sejak masa kolonial. Diperkirakan sekitar tahun 1920-an, kemudian selepas kemerdekaan diambil alih oleh pengusaha lokal. Beberapa keterangan menyebutkan nama M. Arsyad. Dari keterangan ibu Aisyah (68 tahun), pabrik ini ditutup karena harga minyak sereh turun. Seiring dengan biaya produksi dan ketersediaan bahan baku berkurang. Sehinga akhir tahun tujuh puluhan ditutup. Kondisi saat ini hanya menyisakan cerobong, kemudian di sebelah utaranya masih bisa dilihat beberapa bekas struktur pondasi bangunan. Kemudian ubin yang diperkirakan masih asli, berukuran sekitar 20 x 20 centimeter. Kemudian pondasinya disusun oleh batu bata merah. Dibagian samping struktur pondasi, terlihat bak-bak penampungan air. Diperkirakan pernah digunakan sebagai pembersihan dan pencucian batang sereh. Bak tersebut menampung air yang datang dari arah utara, kemudian outletnya ke sungai yang berada di sebelah selatan pabrik. Minyak sereh yang diusahakan adalah minyak atsiri, hasil dari ekstrak tanaman serai/ sereh (cymbopogon), dengan metode destilasi uap.

Tujuan selanjutnya ke Statsiun Nagreg. Pada papan nama statsiun, dituliskan elevasi +848 meter dpl. Dengan demikian merupakan titik statsiun tertinggi diantara Statsiun Cicaengka (+689 m), dan sebelah timurnya Statsiun Lebakjero (+818 m).

Perbedaan elevasi (elevation gain), antara Cicalengka dan Nagreg, sekitar 164 meter. terlihat dari posisi rel, dari arah barat kemudian sedikit naik secara bertahap ke arah timur. Titik tertingginya sekitar Pasir Karamat, sekitar +860 meter, kemudian melandai ke arah Lebak Jero. Perbedaan antara Stasiun Nagreg dan Stasiun Lebakjero lebih rendah sekitar 30 meter.

Perbedaan ketinggian ini menjadi tantangan dalam pembuatan jalur lintasan kereta api dari Cicalengka ke arah timur. Pada saat pembangunan jalur timur Bandung, Cicalengka merupakan stasiun terminus. Merupakan stasiun paling ujung timur yang memisahkan Bandung dan bagian timur. Stasiun ini diresmikan 10 September 1884, satu zaman dengan peresmian Stasiun Bandung. Pembangunan lanjutan lintasan ke arah timur, dilakukan segera. Mengingat dibutuhkannya akses menuju timur, melalui Nagreg. Jalur kereta api kemudian dikerjakan pada 1887. Pembukaan jalur Nagreg ke Lebak Jero, secara teknis sulit karena harus membobok Pasir Karamat. Disusun oleh lava masih dan tebal, dikerjakan secara manual. Menggunakan linggis, pahat dan alat sederhana lainya. Dicirikan dengan jejak penggunaan linggis, pada dinding tebing. Pembukaan jalur berupa celah yang dibobok, dengan tinggi sekitar 5-7 meter. Kemudian pada 1889 Stasiun Cicalengka menjadi lintasan dari Bandung ke Garut. Kemudian 1893, dilalui jurusan Bandung-Tasikmalaya.

Di Bagian puncak Pasir Karamat, didapati bunker. Berupa struktur bangunan dengan berbagai ukuran. Terdapat empat struktur bangunan, berjajar utara-selatan. Dibuat dari beton, dengan tebal hampir 90 cm., tanpa tulangan besi. Bentuknya seperti kubah memanjang, dilengkapi pintu dengan lebar 100 cm. terbuat dari besi. Keberadaan daun pintu sudah hilang, meninggalkan bekas engsel yang dibongkar paksa. Diperkirakan bunker ini merupakan sistem pertahanan militer, di sebelah timur Bandung. Memanfaatkan tinggian, sebagai titik strategis untuk mengamati pergerakan serangan dari arah timur. Melalui celah sempit yang diapit oleh Pasir Ciwulung sebelah utara, dan Pasir Karamat-Citiis di sebelah selatannya.

Di puncak Pasir Karamat ini, pemandangan luas membentang. Ke arah timurnya dibatasi oleh lembah Pasir Citiis. Dilintasi oleh jalur kereta api sepanjang kurang lebih 200 meter. menghubungkan Nagreg ke Lebakjero.

Sebelah utaranya terlihat kerucut, berlomba-lomba menghiasi kompleks gunungapi purba Kenda. Sistem gunungapi yang ditempat oleh kubah lava, dibatasi Nagreg sebelah barat, dan Simpenan sebelah baratnya. Diduga merupakan pusat letusan gunungapi Kendan-Sangianganjung.

Cerobong asap, peningalan pabrik pengolahan sereh di Nagreg.
Tapak linggis, pembobokan Pasir Karamat. Jalur keretaapi Nagreg-Lebakjero.
Bagian interior bunker Pasir Karamat
Struktur bunker, dengan latar G. Kaledong.

Catatan Geourban#41 Spoorwegen Majalaya

Sejak subuh udara terasa lembab, menandakan cuaca yang bisa saja hujan. Selepas matahari terbit, jalanan mash lenggang. Mengingat saat kegiatan dilaksanakan, jatuh pada hari minggu, 9 Agustus 2025. Namun bagi warga Dayeuhkolot, tidak ada hari libur, sehingga arus lalu lintas ke arah kota masih saja padat.

Warga memanfaatkan jalan utama, melalui jembatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Namun sejak seminggu, jembatan tersebut kembali ditutup. Dengan demikian, arus lalu lintas diatur menjadi satu arah. Lima orang petugas dari kepolisian berjaga di muka jembatan, memastikan agar tidak ada warga yang nakal menerobos, mengingat jembatan ini sangat penting. Menghubungkan perumahan warga di selatan Dayeuhkolot, menuju pusat kota Bandung.

Lokasi inilah menjadi titik pertemuan bagi peserta Geourban ke-41. Diantaranya hadir konten kreator, pemandu wisatabumi (geowisata), dan pegiat wisata heritage. Sesuai dengan ciri khas kegiatan Geourban, semua peserta mengendarai roda dua. Moda transportasi tersebut dianggap ekonomis, dimiliki semua orang dan yang terpenting adalah daya jelajahnya lebih luas. Mengingat kegiatan penelusuran jalur kereta api Bandung selatan, melalui jalan dan gang sempit warga di Dayeuhkolot, Ciparay hingga Majalaya.

Kegiatan diawali menyusuri kembali jembatan yang melintasi Ci Tarum. Jembatan Dayeuhkolot menghubungkan Citeureup ke Baleendah sebelah selatannya. Saat kegiatan Geourban ke-41, sedang dalam perbaikan. Akibat sedimentasi tinggi sekitar Dayeuhkolot, mengakibatkan sering terlanda bajir tahunan. Tingginya antara satu hingga dua meter lebih, menenggelamkan rumah-rumah warga sepanjang bantaran sungai. Kondisi demikian bisa terjadi akibat disumbang oleh dua sungai, dari arah selatan mengalir Ci Sangkuy yang hulunya di G. Malabar. Kemudian Ci Kapundung, dari lereng G. Bukittunggul Bandung utara. Kedua sungai tersebut bermuara di sekitar Dayeukolot, sehingga menghimpun sedimentasi tinggi. Selain itu permasalahan sampah, dan perubahan penataan dihulu. Mengakibatkan banjir kiriman, bila hujan di hulu.

Kegiatan yang dibalut dalam kegiatan penelusuran sejarah perkeretaapian, menapaki kembali jalur lintasan. Jalur kereta api masa kolonial, menghubungkan Dayeuhkolot ke Majalaya, melalui Ciparay. Selain itu mengunjungi situs budaya, G. Munjul. Perbukitan intrusi, sektiar Munjul yang diperkirakan pernah menjadi sentra lintas budaya lama sejak megalitik.

Sebelah timur dari jembatan Dayeuhkolot, membentang jembatan kereta api. Panjangnya kurang lebih 55 meter, melintasi Ci Tarum. Tiang-tiang besi yang menyangga lintasan rel, terlihat kokoh membentang. Menyangga lebar rel, sekitar 1.13 mm. lebih sempit dibandingkan lebar jalur rel kereta modern (standard gauge). Seperti penggunaan jalur kereta api cepat di Indonesia, menggunakan lebar 1.435 mm.

Dalam peta lama kolonial Kaart van het Eiland Java (1855), peta yang disusun oleh naturalis Jerman. Menggambarkan posisi Bandong Toea, atau Dayeuhkolot saat ini. Dalam keterangan peta Indische spoorweg-politiek (1926), nama ibu kota kabupaten Bandung, dituliskan nama Bojongasih. Berada di dua pertemuan sungai. Tji Sangoei atau Ci Sangkuy datang dari arah selatan. Kemudian Tji Keboedoeng atau Ci Kapundung. Pertemuannya persis di Dayeuhkolot, sehingga titik ini menjadi sangat penting. Menghubungkan dataran tinggi yang didominasi perkebunan, dan pusat kota ekonomi di sebelah utara.

Sistem transportasi awal abad ke-19 sudah berkembang, didahului oleh modernisasi jalan regional. Daendels pada 1810 memperlebar jalan yang telah ada, menghubungkan pusat kota Batavia ke pedalaman priangan. Sehingga perkebunan yang berada diwilayah Preanger Regentschappen, bisa diakses melalui jalan raya. Sering perkembangan teknologi, pedati yang lambat, kemudian digantikan dengan moda transportasi massal. Paa 1884, kereta api memasuki kota Bandung. menghubungkan Cianjur, Bogor hingga Jakarta pada saat itu.

Perjalanan dimulai dari jembatan kereta api yang melintasi Ci Tarum. Berupa jembatan yang dibangun menggunakan struktur baja, ciri teknologi sipil pembangunan jembatan modern. Bila merujuk kepada foto lama kolonial tahun 1930-an, struktur bajanya berupa melengkung. Terdiri dari dua bagian penyangga, kemudian satu struktur melengkung utama. Bentuk demikian berbeda dengan struktur yang dikenal saat ini, berupa struktur baja yang membentuk sudut siku.

Membuka langkah menuju mulut jembatan, berupa susunan baja tebal. Jalur rel kereta selebar 1,130 mm, kini telah dialasi beton. Dari jembatan kereta api Dayeuhkolot, jalur lintasan kereta api bercabang. Satu jalur lintasan ke arah selatan menuju Banjaran. Menghubungkan Dayeuhkolot ke Soreang, dibuka 13 Februari 1921. Kemudian dilanjutkan ke dataran tinggi Ciwidey dan beroperasi penuh 17 Juni 1924. Jalur ini termasuk menguras kas perusahaan negara kolonial saat itu, akibat melintasi beberapa sungai. Sehingga memerlukan pembangunan jembatan panjang.

Jalur Dayeuhkolot ke Majalaya, secara penuh beroperasi sejak 3 Maret 1922. Jalur kereta api menuju Majalaya digunakan untuk jasa pengangkutan hasil perkebunan dan tekstil dari Bandung selatan. Panjang lintasan, kurang lebih 17 km. Memanjang dari barat ke timur, sejajar dengan jalann utama dan aliran Ci Tarum. Melewati tujuh halte, dari Dayeuhkolot ke Cilelea, Manggahang, Jelekong, Ciheulang, Paeureusan, Ciparay, Cibungur kemudian berakhir di Majalaya.

Beberapa halte berhasil dikunjungi, berdasarkan dari informasi hasil penelusuran sebelumnya. Kemudian pada saat kunjungan lapangan dikonfirmasi ulang, melalui wawancara dengan warga yang telah berusia di atas 60 tahun. Mengingat jalur lintasan rel kereta api ke Majalaya telah hilang, akibat dibongkar pada pendudukan Jepang tahun 1942 hingga 1945. Pembongkaran batang rel kereta api, dikerjakan oleh para interniran dan penduduk bumi putra. Para tawanan asing warga Eropa dan Amerika yang telah menetap di kota Bandung pada masa kolonial. Dikerjakan di bawah kondisi kerja paksa, sehingga dilaporkan beberapa orang meninggal dunia akibat kelaparan, kekurangan ketersediaan air bersih hingga penyakit. Kesaksian kekejaman tentara Jepang, dilukiskan dalam buku Onder De Japanse Knoet (1945). Buku yang berisi kesaksian, penyiksaan dan kerja paksa bagi tawanan perang di Bandung dan sekitarnya.

Saat ini lintasan kereta api hanya dicirikan, berupa jalan sempit yang diapit oleh rumah warga. Dalam penelusuran kembali, batang rel maupun bantalan kayu telah tidak ditemukan. Mengingat semuanya dibongkar dan diangkut, untuk pembuatan jalur kereta api di Saketi, Bayah. Bukti jalur lintasan hanya bisa disaksikan dari kesaksian warga yang sudah berusia manula. Berdasarkan ingatan mereka, hanya mampu menunjukan halte atau pemberhentian kereta api. Selebihnya berupa bukti fisik, seperti bantalan rel kereta api (railbed), sisa pondasi jembatan, tanggul dan kelurusan jalur sempit.

Sebagai alat bantu panduan jalur, PT. KAI telah melakukan survey ulang. Ditandai dengan pemasangan patok KAI di sepanjang jalur. Berupa patok yang dibuat dari beton, dengan ukuran sekitar satu meter. Ditanam berpasangan, menandakan lebar jalur lintasan. Keberadaan patok tersebut, memudahkan penelusuran kembali jalur kereta api Dayeuhkolot ke Majalaya.

Selain patok modern milik PT KAI, dibeberapa tempat ditemui patok awal yang dipasang oleh Staatsspoorwegen disingkat SS. Sesuai dengan tanda inisial perusahaan perkeretaapian negara, pada masa kolonial Belanda.

Beberapa halte atau pemberhentian kereta api jalur Dayeuhkolot ke Majalaya, berjumlah 7 pemberhentian, termasuk halte Ciparay. Beberapa halte lainnya sudah tidak memberikan bentuk struktur bangunan, karena sudah beralih fungsi. Terhitung sudah melampaui waktu 82 tahun, terhitung sejak pembongkaran pada 1942-43. Sehingga bangunan halte sudah hilang, akibat berganti menjadi rumah warga, maupun sarana fasilitas kolektif seperti sekolah dan aula.

Saat dikunjungi, halte Cileles, Manggahan, sudah tidak ada. Sedangkan halte Jelekong telah berubah fungsi menjadi Sekolah Dasar 2 Cangkring. Seorang warga menunjuk tempat lain, yaitu Puskesmas Jelekong. Perbedaan penentuan lokasi halte terjadi pada halte lainya, diantaranya Ciheulang, Paneureusan, dan Cibungur. Sedangkan halte Ciparay dan Majalaya masih bisa diduga posisinya.

Selain penelusuran lintasan kereta api, rombongan berkesempatan mengunjungi situs budaya di sekitar Manggahang, Baleendah. Berupa perbukitan intrusi, diduga pernah menjadi titik sakral pada masa Prasunda hingga Sundaklasik. Keberadaanya masih perlu kajian arkeologi, mengingat keberadaanya sangat strategis. Bila merujuk kepada peta lama Topographisch Bureau (1905), tingginya sekitar 685 meter dpl. Dalam peta tersebut memperlihatkan mender Ci Tarum menyentuh kaki bukit Munjul. Sedangkan ke arah utaranya adalah hamparan muras atau rawa. Membentang dari Ujung Berung, hingga Ciparay. Disebut Rancahalang yang bermakna rawa, masih mendominasi dataran rendah Bandung selatan. Bila disandingkan dengan google maps saat ini, posisi sungai telah bergeser sekitar 700 meter ke arah utara. Penyebabnya adalah karena penyodetan akhir tahun 80-an, dan sedimentasi tinggi.

Kegiatan ditutup di stasiun Majalaya. Walaupun struktur bangunannya telah hilang, namun ciri-cirinya masih bisa dikenali. Diantaranya masih didapati patok dengan inisial SS, dan bagunan tua. Diperkirakan merupakan rumah tinggal pejabat perkeretaapian Belanda pada saat itu. Penelusuran ini kembali jalur kereta api ini, memberikan gambaran upaya kolonial dalam merancang sistem moda transportasi massal. Memanfaatkan topografi, dan sumber daya alam yang tersedia. Mengingat pembangunan jalur kereta api jalur Dayeuhkolot-Majalaya memiliki peranan penting, sebagai penggerak ekonomi tekstil awal tahun 1930-an dan pengangkutan hasil perkebunan.

Sisa bantalan keretapi (railbed), di Sarimahi, Ciparay
Patok Staatsspoorwegen (SS) dipemakaman Cisoka, Majalaya
Bangunan gaya kolonial, di Statsiun Majalaya

Catatan Geourban#40 Puncakcae

Jatuh di hari kerja, Selasa, 5 Agustus 2025. Waktu jelang pagi, saat sebagian besar warga Bandung selatan berlomba-lomba menuju pusat kota. Berdesakan memenuhi ruas jalan Gedebage, hingga jalan bypass Soekarno-Hatta Bandung menuju pusat kota. Kondisi demikian menjadi sarapan harian bagi warga Bandung yang kini menempati lingkar luar kota. Padatnya ruas jalan oleh ragam kendaraan, mengantarkan kami ke titik pertemuan di salah satu toko serba ada di sekitar Sapan. Pemilihan lokasi tersebut, berada di sebelah selatan dari batas Ci Tarum. Masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung, tepatnya di Sapan, Bojongemas, Ciparay.

Dalam pengantar kegiatan ini, Deni menguraikan rencana perjalanan. Mengupas kembali sebaran budaya obsidian Cekungan Bandung bagian selatan. Melihat kembali sumber obsidian di G. Kiamis seperti yang diuraikan oleh Neuman van Padang. Berupa laporan ilmiah pada pertemuan Fourth Pacific Science Congress di Jawa pada 1929. Menuliskan buku panduan Obsidian of Goeneng Kiamis untuk para peserta kongres ilmiah di kota Bandung pada saat itu. Petunjuk tersebut menjadi dasar penelusuran ulang, tentang keberadaan sumber obsidian di Cekungan Bandung.

Penunjuk waktu mengarahkan angka tujuh lebih tiga puluh menit, seiring dengan kedatangan para peserta terakhir yang bergabung. Terdiri dari lima orang, diantaranya Ali, Mili, Rosa, Andi dan Deni selaku pembawa narasi kegiatan ini. Sesuai dengan rencana kegiatan, masing-masing menunggangi kendaraan roda dua berbagai merek.

Hamparan sawah luas sekitar Ciparay, terbuka luas ke segala arah. Menandai perjalanan Geourban dimulai, bergerak dari Sapan ke arah selatan. Punggungan perbukitan tua membatasi tepi Bandung bagian selatan. Meskipun dalam selimut kabut, tetapi terlihat beberapa puncak yang menaungi sebagian besar Ciparay. Diantaranya G. Nini yang berdampingan dengan Bukitcula, sebelah barat. Dari lereng perbukitan tersebut, merupakan ruas jalan Raya Pacet yang menghubungkan Ciparay ke Kertasari.

Selepas alun-alun Ciparay hingga tiba di sekitar pasar Maruyung, Seratus meter lebih ke seltan dari pasar tradisional, didapati warung makan Lontong Barjah. Kudapan khas Ciparay, berupa potongan lontong disiram sebelah bumbu. Makanan khas yang disajikan untuk sarapan, telah hadir sejak 1953. Menurut pemilik warung, merupakan keturunan ke-tiga, tetap mempertahankan resep sejak lama. Berupa sebelah macam, dengan bahan dasar bumbu kacang dan santan. Selebihnya adalah racikan bumbu yang diturunkan dari generasi sebelumnya.

Perjalanan dilanjutkan melalui Kertasari, berupa jalanan menanjak hingga Pacet. Pemandangan bersalin rupa dari hunian warga, menjadi perkebunan yang memanfaatkan lereng terjal. Sebelah timur terlihat G. Rakutak, sistem gunungapi purba yang dibelah oleh lembah dalam. Di dalam lembah tersebut mengalirlah Ci Tarum ke arah utara, kemudian di Majalaya berbelok ke arah timur.

Memasuki dataran tinggi Kertasari, kemudian tiba di Cihawuk. Belok ke arah kiri melalui pemukiman warga. Sebagian telah dialasi beton, sebagian lagi berupa makadam hingga batas vegetasi perkebunan warga dengan hutan. Dalam peta lama dituliskan Poentjak Tjae (1928). Tinggian punggungan gunungapi yang memanjang dari selatan ke utara. Jalan tersebut menyambungkan dari Cihawuk, Kertasari di Kabupaten Bandung, ke Cibuniherang, Kabupaten Garut.

Sebagian besar berupa tanjakan dan turunan curam, menentukan jalur yang dilaluinya adalah memotong punggungan gunung. Sebagian besar warga menggunakan jalur ini sebagai jalan lintas, dari Kabupaten Bandung menuju Kabupaten Garut. Mengingat jalur yang memang memangkas jarak, terutama bagi warga yang akan berpergian ke arah Garut selatan ke Cikajang melalui Samarang.

Selepas jalan Puncakcae, disambut oleh portal kawasan geothermal. Dikelola oleh pihak swasta, Star Energy Darajat II. Merupakan kontrak operasi bersama dengan Pertamina Geothermal Energy Tbk. Jalanan lebar, memasuki kawasan objek vital milik negara.

Berupa lapangan kawah yang tersebar di lereng G. Cawene. Dari perhitungan dengan menggunakan bantuan google maps, didapat luas sekitar 8 Hektar. Didapati solfatar dan fumarol, dicirikan dengan uap panas yang keluar dari lubang. Sebelah barat daya, mendekati jalan menuju sumur eksplorasi, terlihat beberapa kolam yang telah disusun sedemikian rupa. Menandakan sumber mata air panas tersebut ditata, kemungkinan dialirkan ke wisata Darajat yang berada di sebelah timurnya.

Didapati juga bualan lumpur, menemukan mata air dangkal yang terkena proses hidrotermal. Jumlah lubang kawahnya bisa lebih dari tiga puluh, tersebar dari utara ke selatan, menempati bidang miring. Sebelah baratnya dibatasi oleh sungai, hulunya berasal dari utara lereng.

Pelancong Perancis, pernah bertandang ke Kawah Manuk pada 1836. Menceritakan kisahnya, harus bersusah payah menggunakan kereta berkudam malam hari. Kemudian dilanjutkan pagi hingga siang menuju kawah Manuk.

Dari Kawah Manuk, dilanjutkan ke kawasan wisata Darajat.Selepas matahari menunjam di ubun-ubun, udara terasa lebih dingin. Mengingat puncak Darajat di atas seribu meter di atas permukaan laut. Rombongan diarahkan ke arah barat, mengikuti jalan Darajat hinga tiba sekitar Padaawas. Tidak jauh dari jalan raya tersebut, didapati gudang pengepul dan pengolahan limbah bahan keramik milik warga. Termasuk diantaranya adalah timbunan batuan obsidian. Warga lokal menyebutnya batu celeng, mungkin karena warnanya gelap.

Di Bagian belakang adalah perkebunan milik warga, dihubungkan melalui jalan setapak. Sepanjang jalan setapak tersebut disambut oleh endapan piroklastik yang telah lapuk, diperkirakan akibat proses hidrotermal. Diantara perlapisan endapan tersebut, terlihapa sisipan obsidian dalam struktur fragmen. Dibeberapa tempat masih ditemui bongkah-bongkah obsidian, tersebar terpisah menempati dasar sungai kecil. Kemudian terlihat ceruk yang kini telah ditutupi vegetasi, sisa dari hasil kegiatan penambangan batu obsidian.

Gudang pengepulan terlihat batuan obsidian berbagai ukuran, dibungkus karung. Melimpah menjadi tumpukan. Bila dihitung sekilas, total keseluruhannya mampu diangkut oleh truk dobel dalam dua kali muatan.

Menurut pengelola pengepul, batu tersebut dimanfaatkan sebagai penghias pot tanaman, rumah atau nisan kuburan. Dengan cara fragmen batuan tersebut dihancurkan menggunakan alat penghancur batuan (crusher). Dijual perkilo dalam bentuk kerikil, kepada penjual material atau berdasarkan pesanan konsumen.

Keberadaan batu obsidian di sekitar Padaawas, Samarang, menegaskan sumber perkakas megalitik. Dalam laporan arkeologi Rothpletz, W. , Alte siedlungsplätze beim Bandung (Java) und die Entdeckung (1952), ditemukan alat dan serpih yang terbuat dari obsidian. Tersebar di sebagian besar Bandung bagian utara, dan sebelah selatan. Penyebarannya dikuatkan melalui peta sebaran budaya obsidian oleh Koeningswald, G.H.R. von, dalam laporan Das Neolithicum der Umgebung von Bandung: Tijdschrift voor Indiesche Taal-Land, on Volkenkunde, Deel Lxxv, Afl.3o,” 1935. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa sumber obsidian di budaya obsidian Cekungan Bandung berasal dari dua sumber. Sebelah timur di G. Kendan, dan sebelah selatannya berada di G. Kiamis, Samarang, Kabupaten Garut.

Kegiatan tambang dan pengambilan batu obsidian sekitar Rejeng, Padawans, secara terus menerus. Dapat mengakibatkan hilangnya sumber daya obsidian. Sehingga bukti keberadaan obsidian akan hilang selamanya. Sehingga perlu segera dibuat aturan penbangan batu obsidian, melalui upaya perlindungan.

Kawah Manuk kini disebut Kawah Darajat.
Jalan yang membelah punggunan gunung, di Puncakcae.

Catatan Platda Pemandu Geowisata 2025

Telah dilaksanakan kegiatan Pelatihan Dasar Pemandu Geowisata, Angkatan I. Pada tanggal 9 dan 10 Juli 2025, di Bandung. Kegiatan dua hari, dibuka dengan penyampain dalam kelas, kemudian dilanjutkan dalam kegiatan lapangan. Diinisiasi oleh Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia, dan Komunitas Geowana.

Kegiatan kelas dilaksanakan pada tanggal 9 Juli, mulai pagi hingga sore hari. Di Café Garoricahop di Setra Duta Bandung. Diikuti oleh 20 orang partisipan, dengan latar belakang yang beragam. Mulai dari pelajar dan mahasiswa, operator pariwisata, pemandu wisata hingga pegiat alam bebas.

Tujuan keikutsertaan peserta, diantaranya keingintahuan tentang wisata bumi atau geowisata, ingin terjun sebagai pelaku usaha dan pengolahannya hingga menjadi pemandu geowisata.

Pelatihan dimulai hari Rabu, tanggal 9 Juli 2025. Mengambil hari kerja, mengingat para peserta yang ikut memiliki jadwal kerja diakhir pekan. Dimulai dengan pemaparan, dan pemahaman dasar ruang lingkup wisata bumi (geowisata). Disampaikan oleh Deni Sugandi, ketua Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesian (PGWI). Dalam penyampaiannya, menjelaskan materi tentang Pengantar Geowisata Indonesia. Berupa contoh objek-objek wisata bumi di Indonesia. Keberpihakan konsep wisata kepada konservasi, edukasi dan peningkatan ekonomi lokal. Sepert contoh beberapa objek wisata yang berbasis dengan wisata bumi. Deni menunjukan seperti wisata Tebing Karaton di Dago atas, Bandung. Kemudian segmen 7 km dari outlet Bendungan Saguling seperti Sanghyang Heuleut hingga Sanghyang Kenit, kemudian Lembah Tengkorak di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang. Semuanya merupakan objek wisata bumi. Sehingga secara tidak sadar, wisatawan sudah diajak untuk berwisata bumi.

Kondisi demikian ditawarkan sebatas keindahan saja, belum menyentuh makna tentang objek tersebut. Deni menunjukan beberapa contoh proses yang terjadi, membentuk rona bumi saat ini. Seperti bentang alam berupa punggungan perbukitan, memanjang 29 km dari barat ke timur. Disebut Sesar Lembang, blok yang relatif naik di bagian blok Bandung. Kemudian blok yang turun di sebelah utara. Fenomena bumi tersebut disuarakan dalam pemanduan wisata bumi. Interpretasi atau tafsir bumi, menjadi menu utama dalam pemanduan wisata bumi.

Dalam materi selanjutnya, Deni mengutip beberapa pendapat perintisan wisata bumi. Seperti yang diajukan oleh Dowling dan Newsome (2006), berupa kotak geowisata. Di dalamnya adlaah sejarah bumi, bentuk, proses, ilmu bumi dan yang terpenting adalah pariwisata. Kemudian pada 2013 ditambahkan geo plus oleh Budi Brahmantyo. Berupa proses dinamika bumi, seperti proses pembentukan pegunungan-perbukitan, bentang alam, air terjun, pelapukan, erosi dan seterusnya.

Materi selanjutnya adalah Menyusun Program Perjalanan Geowisata. Berisi dengan pengertian dan tata cara mengelola serta menyusun itinerary. Kemampuan ini merupakan dasar kompetensi yang harus dimiliki oleh pemandu geowisata. Cara penyusunnya kemampuan Mengenali keunggulan daya Tarik geowisata; Mengenali aksesibilitas; Mengenal aturan, norma, etika di daya Tarik geowisata; Mengenali sarana dan prasarana.

Narasumber ke-dua, Gangan Jatnika dari Geowana. Mengantarkan materi yang berkaitan dengan kegiatan yang telah dilakukannya. Menjelaskan interpretasi keunggulan potensi geowisata di sekitar Cekungan Bandung. Kegiatan hari pertama ditutup dengan diskusi dan tanya jawab.

Hari kedua dilakukan praktek pemanduan. Dilaksanakan di Taman Hutan Raya Ir. Haji Djuanda. Berada di Bandung utara, sebagian besar kawasan ini menempati lembah Kordon hingga Pakar. Hutan konservasi yang dikelola di melalui UPTD Tahura Ir. Djuanda, di bawah Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat. Kegiatan berupa interpretasi koleksi seperti Pinus, Kaliandra, Mahoni, Kayu Manis, Eha (Castanopsis buruana BI.), Besi/Lara (Metrosideros Petiolata Kds.), Bolongita (Tetrameles nudiflora R. BR.), Jambu-jambu (Eugenis sp), Bintangur (Calophyllum canum Hook.f.), Kjelbelgiodendron celebica, dan Sisio (Cratoxylum formusum).

Narasumber disampaikan oleh narasumber ahli yang mengetahui koleksi di taman hutan raya ini. Ganjar Wiguna mengajak peserta pelatihan mengenal koleksi-koleksi tanaman yang dimiliki di kawasan ini. Koleksi ini tersebar di beberapa tempat, hingga menapaki jalan paving blok dari Gua Jepang hingga Gua Belanda.

Kegiatan ditutup di Gua Belanda, melalui evaluasi dan tanya jawab. Peserta merasa sama-sama belajar, dan mengambil manfaat dari hasil kegiatan pelatihan dasar Pemandu Geowiasata. Beberapa peserta bahkan melihat peluang besar, mengemas Tahura Djuanda sekitarnya menjadi paket geowisata. Kegiatan ditutup di pelataran Tahura, berupa penyampaian kesan dan pesan serta makan siang bersama.

Penyampaian materi di kelas
Materi lapangan di Tahura Djuanda Bandung
Ganjar Wiguna memberikan penjelasan koleksi Tahuda Djuanda
Pemaparan di depan Gua Jepang, Tahura Djuanda.

Catatan Geourban#39 Cicalengka

Sudah satu minggu, berwara di media sosial mewartakan hujan deras melanda sebagian besar wilayah Bandung. Begitu juga dengan laman berita, prakiraan cuaca akhir bulan Mei akan disergap hujan sepanjang siang hingga sore. Berita tersebut menjadi perhatian, terutama apa saja yang perlu diantisipasi dan dimitasi jelang kegiatan di lapangan.

Seperti layaknya menduga, bisa terjadi atau sebaliknya. Walaupun pagi selepas subuh, langit masih digelayuti awan putih. Menyergap seluas mata memandang ke langit, bayang-bayang hujan akan jatuh kapan saja. Dalam balutan udara pagi, partisipan satu persatu hadir di tempat pertemuan yang telah ditentukan. Jumlah peserta yang hadir lima orang, dari latar belakang berbeda. Diantaranya pegiat wisata, pemilik biro perjalanan pariwisata, profesional, pemandu wisata bumi hingga pegiat budaya.

Geourban ke-29 dilaksanakan pada hari minggu, 25 Mei 2025. Kunjungan melihat kembali linimasa sejarah abad ke-8, hadirnya kerajaan Sunda di sebelah timur Cekungan Bandung. Kemudian menapaki kembali lahirnya kesetaraan perempuan, melalui Sakola Istri Dewi Sartika di Cicalengka. Dilanjutkan mengupas perkembangan perkebunan teh Onderneming Sindangwangi, ditandai dengan sisa Theefabriek di Sindulang. Kegiatan ditutup dengan menikmati mata air di lereng sebelah selatan, G. Kerenceng-Kareumbi.

Seperti kegiatan Geourban sebelumnya, partisipan disarankan menggunakan roda dua atau motor.Jenis transportasi ini mudah dan murah dalam operasional, dan sudah dimiliki peserta. Sehingga mendukung pergerakan, dan daya jangkau ke lokasi yang akan dikunjungi. Total jarak yang ditempuh dalam kegiatan ini, sekitar 27 Kilometer dengan durasi tidak lebih dari 1 jam perjalanan. Dimulai dari titik pemberangkatan di Cileunyi, kemudian mengambil jalur jalan raya Rancaekek-Cicalengka. Jalan utama yang menghubungkan Bandung ke arah timur.

Mengawali kegiatan, Deni Sugandi menyampaikan rencana kegiatan. Menguraikan tujuan kunjungan, mulai dari Candi Bojongmenje kemudian bergerak ke arah timur Cicalengka. Diakhiri kunjungan ke Sindulang. Kegiatan dilakukan menggunakan roda dua, secar berkonvoi. Untuk menjaga keselamatan perjalanan, dipastikan sistem pengaturan pergerakan dan titik koordinat yang dibagikan sebelum berangkat. Sehingga partisipan yang tertinggal dalam perjalanan, bisa memantau titik pertemuan selanjutnya.

Candi Bojongmenje

Jalanan tidak terlalu ramai, karena waktu masih pagi dan jatuh di hari minggu. Lenggang tidak seperti pada jam-jam sibuk. Mengingat jalan raya Rancaekek adalah penghubung dari barat ke timur, dari Bandung ke kota Garut atau Tasikmalaya. Jelang pukul 08.00 WIB, partisipan tiba di halaman pabrik, sekitar Sukadana di tepi jalan Rancaekek. Ruas halaman gerbang cukup luas, sehingga untuk sementara dimanfaatkan menjadi sarana parkir partisipan.

Dilanjutkan berjalan kaki menyusuri jalan raya Rancaekek, kemudian berbelok ke gang sempit. Tidak ada papan informasi petunjuk menuju lokasi, hanya papan keterangan nama situs di batas sungai. Hunian warga yang berhimpitan dengan batas areal pabrik, dicirikan dengan tembok tinggi sekitar 3 meter. Didapati jembatan sebatas orang berjalan kaki, melintasi Ci Mande. Anak sungai Ci Tarik, bagian dari Daerh Aliran Sungai Ci Tarum. Dilaporkan oleh warga, sungai ini beberapa kali meluap menggenangi Desa Cangkuang. Kondisi demikian menandakan lebar sungai menyempit, akibat hunian yang menempati bantaran. Selepas jembatan, kemudian menyusuri gang yang dipagari oleh dinding pabrik. Mengarahkan ke situs Candi Bojongmenje. Dari peta lama lembar Linggar, penerbit Topographisch Inrichting, Batavia 1908. Memberikan gambaran posisi keberadaan candi berupa lingkaran, tanpa ada keterangan lain. Keberadaan situs tersebut berada di tepi sungai. Sedangkan pada kondisi saat ini, berjarak sekitar 100 meter. Dengan demikian diperkirakan terjadi pembelokan arah sungai, sehingga posisinya bergeser ke arah utara. Dalam beberapa keterangan arkeologi, sungai berperan penting dalam penempatan candi. Fungsi candi sebagai pemujaan dewa, bisa juga digunakan sebagai tempat untuk mengenai raja atau penguasa. Ditempatkan mendekati sungai, mencirikan sebagai acuan dalam pembangunan candi, karena air dianggap suci dalam penting dalam kehidupan agama Hindu-Budha saat itu.

Kembali ke lembar peta lama, memperlihatkan adanya jalur setapak menuju situs, disebut Cipareuag. Keberadaan situs tersebut berada dalam lingkar dalam Ci Mande, digambarkan melalui garis pengaliran sungai yang mengalir dari timur ke barat.

Dalam keterangan penelitian Anas Anwar Nasirin, dari Program Studi Sejarah Unpad (2021).  Keberadaan candi ini diketahui sejak abad ke-8 Masehi terkait erat dengan keruntuhan Kerajaan Tarumanegara dan berdirinya Kerajaan Sunda. Candi Bojongmenje berada pada lintasan sejarah keberadaan kerajaan Sunda awal. Sejak pasca runtuhnya Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-7 Masehi dan berdirinya Kerajaan Sunda Abad ke-10 Masehi. Keterangan lain disampaikan Djubianto (2002), mendukung pendapat Anas, sedangkan Haryono (2002), menyatakan perkiraan keberadaan peradaban Bojongmenje sekitar abad ke-5 hingga ke-6. Sedangkan dari keterangan hasil radiocarbon yang dipublikasi oleh Balai Arkeologi Bandung, berada di abad ke-8 Masehi.

Candi Bojongmenje berada di Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Berada di elevasi 698 meter dpl., merupakan titik rendah di wilayah Cekungan Bandung. Luas wilayahnya 843 meter persegi, dikelilingi oleh tembok beton milik pabrik. Kemudian sebagian lagi berada di dalam kawasan pabrik.

Keberadaan candi bercorak Hindu-Budha ini, mulai dipublikasi tahun 2002. Pada saat ditemukan, berada di lahan kuburan. Penemuan candi tersebut sudah sejak lama diketahui warga, namun belum dalam bentuk struktur. Menurut keterangan warga, ditemukan beberapa bentuk arca sebesar bayi. Sehingga masyarakat menyebutnya dengan candi orok (bayi). Beberapa tahun kemudian, dilakukan tindakan ekskavasi oleh Balar Arkeologi Bandung pada 2003. Sebagai wujud turunan aturan berupa Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010, Tentang Cagar Budaya.

Bentuk temuan yang dikerjakan, hanya menemukan bagian pondasi hingga bagian kaki. Sedangkan bagian atasnya tidak diketahui, diperkirakan telah hilang atau belum ditemukan. Candi sisi barat berukuran 7.04 meter, dan sisi selatan nya 6.94 meter. Sedangkan sisi timur tidak dapat diukur, karena batuan penyusun candi tidak diketahui.

Menurut penelitian Balar Bandung, material candi disusun dari batuan tuff atau gunungapi yang telah membatu dan andesit (lava). Sumbernya belum diketahui, tetapi bila merujuk dari batuan penyusunnya berasal dari materi hasil letusan gunugapi. Keberadaan bahan tersebut, sangat memungkinkan karena bahan hasil endapan gunugapi melimpah. Di sebelah utaranya didapati G. Geulis-Jarian, merupakan sisa gunungapi purba. Jaraknya sekitar 4,6 km dari pusat letusan ke areal candi. Produk letusannya adalah aliran lava dan piroklastik, besar kemungkinan material atau bahan penyusun candi diambil dari gunungapi purba ini.

Cicalengka

Perjalanan selanjutnya ke arah timur, menuju Cicalengka. Kota kecamatan, yang bernaung di wilayah Kabupaten Bandung, berada di batas timur Cekungan Bandung. Menapaki jalan raya provinsi, kemudian berbelok ke arah selatan menuju pusat kota. Di sebelah selatannya ditemui stasiun Cicalengka. Merupakan stasiun kereta api kelas I, berada di Cikuya, sebelah barat dari pusat kota Cicalengka.

Saat ini merupakan batas jalur kereta api rel ganda Bandung Raya, sebelum memasuki kawasan Leles, Garut. Pada masa kolonial, rintisan pembangunan jalur ini telah lama diusahakan. Dilakukan oleh perusahaan swasta Staatsspoorwegen disingkat SS. Hingga pada 10 September 1884, dibuka secara resmi. Saat itu merupakan stasiun terminus, atau stasiun diujung jalur kereta api yang menjadi titik akhir perjalanan. Beberapa tahun kemudian, diusahakan pembukaan jalan ke arah timur. Menghubungkan dari Cicalengka ke kota Garut. Dibutuhkan waktu kurang lebih dua tahun, untuk menembus batuan keras sekitar Leles. Menyebabkan pembuatan jalur lintasan kereta apinya harus berkelok-kelok, menunggangi kontur perbukitan. Agar jalur yang dilaluinya landai, sehingga bisa dilalui secara aman oleh lokomotif.

Saat ini bangunannya telah disulap bergaya modern, namun di sisi sebelah baratnya masih bisa disaksikan fasad awal dari stasiun. Walaupun sebagian besar materialnya telah diganti, namun masih mempertahankan bentuk seperti awal berdiri. Dari stasiun Cicalengka, kemudian bergeser ke alun-alun Cicalengka, menuju tempat tinggal Dewi Sartika saat remaja.

Lokasi yang dituju adalah SMP 1 Cicalengka, berada di sebelah selatan alun-alun. Agar leluasa bergerak, rombongan memarkir kendaraan di lapangan parkir pasar. Kemudian dilanjutkan berjalan kaki, menembus jajaran pedagang yang memadati sekitar alun-alun Cicalengka. Pasar melimpah hingga badan jalan, karena jatuh di hari minggu. Pemandangan yang biasa terlihat di jantung kota Cicalengka, menandakan hari libur khususnya minggu merupakan hari bebas berjualan. Sebagian besar warga memanfaatkan untuk berolahraga, memadati pusat kota.

Persis di sebelah pasar alun-alun Cicalengka, berdiri bangunan bertingkat dua.adalah gedung Sekolah Menengah Pertama 1 Cicalengka. Berada di sebelah selatan alun-alun Cicalengka, di jalan Dipati Ukur Nomor 34. Didapati dua bangunan baru, mengapit bangunan lama. Di Bagian barat ditempati lapangan olah raga bola basket, dan lapangan yang biasanya digunakan untuk kegiatan upacara bendera.

Bangunan lama menempati bagian tengah kompleks sekolahan, dicirikan dengan gaya arsitektur kolonial. Bagian depannya berupa pintu utama yang diapit oleh jendela berukuran besar. Bentuk bangunannya berbentuk bujur sangkar, memanjang utara-selatan. Bagian sampingnya berjajar daun jendela berukuran besar, dan bagian pondasinya hingga satu meter dihiasi batu andesit. Ciri fasad khas bangunan kolonial yang belum mengenal teknik pengecoran beton dan tulangan besi. Dengan demikian ketebalan dinding sekitar 30 sentimeter lebih. Agar bangunan kokoh dan mampu menopang atap genting.

Bangunan gaya arsitektur kolonial ini menjadi rumah singgah Raden Ajeng Dewi Sartika. Rumah yang kelak membawa pencerahan bagi kaum perempuan Sunda pada masa kolonial. Dewi Sartika pada saat itu berusia sepuluh tahun, dititipkan kepada pamannya seorang Patih Cicalengka.

Dewi Sartika tumbuh dan besar di rumah tersebut, selama delapan tahun. Antara 1894 hingga 1902 pada usianya 18 tahun. Selama periode tersebut, membentuk cara berpikirnya, hingga mampu memiliki pandangan moderat. Sehingga pada tahun-tahun berikutnya, Dewi Sartika memutuskan untuk kembali ke Bandung. Pada tahun 1904 mendirikan sekolah pertama untuk kaum perempuan, disebut Kautamaan Istri menempati ruangan belakang pendopo Kabupaten Bandung.

Di Sebelah utara alun-alun Cicalengka, didapati rumah tinggal dengan gaya arsitektur kolonial. Masyarakat menyebutnya rumah Destik, atau Dewi Sartika. Rumah dengan halaman luas, masih mempertahankan bentuk awal. Namun beberapa pendapat menyatakan bahwa rumah ini bukan tempat tinggal Dewi Sartika.

Dari rumah ini ke arah timur, didapati patung dada Dewi Sartika. Patung yang diperkirakan dibangun oleh pemerintah daerah, untuk mengenang keberadaan  Dewi Sartika di Cicalengka. Terletak di persimpangan Jalan Kaca-Kaca, dan Dewi Sartika. Disebut Monumen Raden Dewi Sartika, satu-satunya tinggalan fisik yang menegaskan keberadaan tokoh pergerakan perempuan pernah ada di Cicalengka.

Dilanjutkan kembali ke alun-alun, kemudian berbelok ke arah selatan. Menyusuri Jalan Pasar, melewati Kantor Polsek Cicalengka. Kemudian setelah tiba di samping SDN Cicalengka 5, didapati lahan kosong. Keberadaanya tertutup oleh warung dan pos ronda warga. Tetapi bila dilihat secara teliti, terlihat pondasi yang memiliki susunan batuan. Bentuk khas pondasi struktur bangunan, dengan memanfaatkan batu andesit sebagai penguat bangunan.

Merupakan sisa dari struktur bangunan gereja St. Antonius. Gereja Katolik yang pernah didirikan untuk melayani umat katolik di Cicalengka. Diresmikan penggunaanya ada 13 Juni 1931, dibuka dan diberkati oleh Pastor van Asseldonk. Keberadaan gereja Katolik ini hilang dari catatan sejarah, seiring dibongkar. Menyisakan tanah kosong, dan struktur tiang bangunan saja yang bisa dilihat hari ini.

Dari Cicalengka kemudian dilanjutkan menuju Dampit, melihat kembali pabrik teh pada masa kolonial. Merupakan bagian dari Onderneming Sindang Wangi, mengupayakan perkebunan teh dan karet pada 1900-an. Bangunannya kini telah hilang, ditempati SD Dampit 2, di Desa Tanjungwangi, Cicalengka, Kabupaten Bandung. Kegiatan penutup berakhir di Saripati Ecofarm. Wisata berbasis peternakan dan pertanian yang berada di lereng selatan G. Kerenceng-Kareumbi. Di lokasi ini mengunjungi Kampung Awi Baraja, Tegalmanggung, Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Berupa kepercayaan masyarakat terhadap pelestarian bambu.

Di depan Statsiun Cicalengka
Di depan monumen Dewi Sartika, Cicalengka
Sisa pondasi gerjeja St. Antonius di Cicalengka
Rel kereta api buatan Carnegie, didatangkan dari Amerika
Di depan SD Dampit 2, sisa bangunan pabrik teh Sindangwangi
Diperkirakan bagia belakang rumah Patih Cicalengka, awal 1900-an.

Catatan Peluncuran Geourban Emagz dan Diskusi Wisata Alternatif

Telah dilaksanakan kegiatan peluncuran Geourban Emagazine, majalah popular yang merangkum informasi wisata bumi. Kemudian kegiatan lanjutkan dengan paparan dan diskusi seputar wisata alternatif. Dilaksanakan di ruang pertemuan, Sekretariat Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Jawa Barat.

Terletak di Jalan Tamblong Nomor 8 Bandung, pada tanggal 19 Mei 2025. Dihadiri oleh 50 orang, berasal dari beberapa latar belakang. Diantaranya dari asosiasi pemandu pariwisata, biro perjalanan wisata, akademisi, pegiat wisata, pengelola desa wisata, dinas pemerintahan daerah kota Bandung, pelaku pariwisata dan media. Berlangsung dari pukul 9.00 wib, hingga berakhir pkl. 13.00 wib.

Kegiatan dibuka oleh Deni Sugandi, selaku pihak penyelenggara acara. Menyampaikan latar belakang penerbitan majalah elektronik ini. Tujuannya adalah menghimpun data pariwisata yang berbasis wisata bumi. Disebut Geourban Emagazine, untuk penerbitan pertama Edisi 1 Nomor 1 Bulan Mei 2025. Di dalamnya memuat rubrik profile, objek wisata bumi, resensi buku, dan tulisan-tulisan tentang wisata bumi. ditulis oleh anggota dewan redaksi dan kontributor. Penulisannya menggunakan gaya bahasa populer. Penerbitan pertama ini merupakan rangkaian penerbitan seri edisi, direncanakan terbit tiga kali dalam satu tahun.

Materi berupa file, bisa diunduh di: https://pgwi.or.id/geourban-emagz/ Majalah ini diperuntukkan bagi praktisi pariwisata, pelaku hingga umum. Memperluas wawasan dan pengetahuan, khususnya tema-tema yang berkaitan dengan pengetahuan dan informasi wisata bumi. Kelahirannya digagas oleh Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Dewan Pengurus Nasional. Duduk sebagai Ketua Dewan Redaksi adalah Deni Sugandi. Kemudian Anggota Redaksi diantaranya; T Bachtiar, Malik Ar Rahiem, Diella Dachlan Gangan Jatnika, Jeani Jean, Andi Lala, Andrias Arifin, Ricky Nugraha. Nama-nama tersebut merupakan pegiat, pelaku hingga pelaku wisata khususnya wisata bumi.

Dalam sambutan acara ini, Daniel G. Nugraha selaku Ketua ASITA Jabar menyampaikan beberapa hal. Dalam sambutannya mengatakan pentingnya kolaborasi antara pemandu wisata dan operator usaha perjalanan wisata. Dalam pertemuan ini, Daniel berharap pertemuan ini adalah memperluas jejaring pelaku industri pariwisata. Dengan demikian akan timbul kesepahaman antara pemandu wisata, pengelola objek wisata dengan jaringan usaha perjalanan wisata yang bernaung di bawah ASITA.

Sambutan ke-dua disampaikan oleh Bintang Irawan. Sangat menyambut baik, perlunya jaringan kerjasama yang tidak hanya bersifat formal. Tetapi bisa juga dihadirkan dalam bentuk kunjungan lapangan. Dengan demikian para usaha perjalan wisata bisa melihat langsung produk yang akan dikemas dan dijual. Bintang adalah Ketua HPI DPC Kota Bandung, selalu mendorong anggotanya untuk bisa bersanding dan berdaya jual. Terutama dalam menghadapi industri pariwisata nasional yang semakin kompetitif. Dengan demikian diperlukan kualitas pemandu yang berdaya saing, profesional dan mampu merancang perjalanan wisata. Dengan demikian, Bintang berharap anggotanya memiliki kualitas.

Sambutan berikutnya ditutup oleh perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, diwakili oleh staf dinas. Menyatakan bahwa pemerintah siap mendukung pengembangan wisata di wilayah Kota Bandung.

Setelah pembukaan, dilanjutkan dengan pemaparan oleh tiga narasumber. Diawali oleh Budi T Assor, menyampaikan pengalamannya menyelenggarakan paket wisata alternatif. Disebut Desa Tour, tema wisata yang berbasis tentang aktivitas warga di desa. Budi menuturkan bahwa paket wisata seperti ini menjadi primadona pada awal tahun 90-an. Sebagai alternatif wisata bagi wisatawan overland (wisata antar kota di pulau Jawa). Ditawarkan kepada wisatawan inbound/asing, sebagai wisata opsional pada saat free progam di Bandung.

Desa Tour dikerjakan oleh Budi Assor, Harry Sukhartono dan Felix Feitsma. Ketiganya merupakan pemandu wisata overland (tour guide), aktif sejak akhir tahun 80-an hingga kini. Destinasinya sekitar Bandung selatan, seperti sekitar Soreang-Ciwidey, atau berkunjung ke padepokan seni Wayang Jelekong, Baleendah, Kabupaten Bandung. Muatan materi yang disampaikan dalam kegiatan pemanduan, seputar perilaku hingga adat masyarakat kampung. Budi menceritakan kemampuan Felix untuk menguraikan cerita, dari objek yang sederhana menjadi menarik. Durasi kunjungannya mulai dari setengah hari (pagi ke siang), hingga satu hari penuh.

Pemaparan ke-dua disampaikan oleh T Bachtiar. Pendiri komunitas Geotrek Matabumi, hadir sejak tahun 2010. Berawal dari kegiatan alumni Jurusan Pendidikan Geografi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), kemudian berkembang menjadi komunitas populer. Kegiatannya berbasis wisata bumi, berupa jalan-jalan dengan tema dan lokasi kunjungan tertentu.

Bachtiar memaparkan potensi wisata bumi di sekitar perbukitan karst Citatah. Selain bentang alamnya memikat, kawasan ini memiliki sejarah bumi. Membentang dari 25 juta tahun yang lalu, berupa endapan batuan sedimen. Disusun oleh batuan karbonat, dari pengendapan hewan dan tumbuhan laut pada saat sebagian besar pulau Jawa tenggelam di bawah permukaan laut. Diantaranya ditemui bukti berupa fosil hewan laut, tertanam di batuan karbonat. Ditemukan disekitar lokasi pemanjatan di tebing 125, berupa fosil dengan ukuran tidak lebih dari 15 cm. Disebut siput racun (Conus geographus), keberadaanya masih bisa ditemui pada saat ini. Melalui komunitasnya, Bachtiar sudah beberapa kali menyelenggarakan kegiatan geotrek sekitar Citatah. Terakhir menggunakan mobil jenis off-road, dengan tujuan mengenalkan wisata bumi yang dikolaborasikan dengan aktivitas petualangan.

Bachtiar menegaskan, objek wisata bumi tersebut perlu dibunyikan melalui kegiatan interpretasi. Sehingga mampu dijual dalam bentuk paket wisata bumi, berkualitas dan memberikan pengalaman kepada wisatawan. Dalam kesempatan berikutnya, Jenni Jean menyampaikan wisata alternatif Braga Bandros Mistery. Paket wisata seputar kawasan kota Bandung, dengan tema berkaitan dengan cerita tidak biasa. Mengungkap tentang urban legend, mitos yang beredar dimasyarakat hingga misteri kota. Paket wisata ini dilaksanakan pada malam hari, hingga tengah malam. Menurut pengelola, hingga kini jumlah antrian wisatawan selalu meningkat. Mengingat wisata alternatif ini belum pernah ada, sehingga selalu menarik perhatian.

Untuk mengupas kisah misterinya, dalam kegiatan wisata malam ini, didampingi interpreter spesial. Individu yang mampu membaca energi, kemudian direfleksikan melalui ekspresi tubuh. Jenni menjelaskan, perlu alat bantu elektronik, untuk mendeteksi hadirnya energi. Disebut EMF, memiliki indikator melalui lampu LED. Setiap warna yang muncul di EMF tersebut, memberikan informasi lonjakan energi yang hadir.

Selain itu digunakan pula alat bantu, berupa kamera yang mampu menangkap suhu atau temperatur. Disebut thermal imaging, berupa perangkat yang disambungkan ke kamera pintar. Melalui citra yang dihasilkannya, akan memperlihatkan warna bervariasi. Merah menandakan panas, dan sebaliknya warna gelap menandakan dingin.

Penyampaian ketiga narasumber tersebut, ditutup dengan diskusi. Beberapa partisipan menyampaikan pertanyaan, seputar materi yang telah disampaikan. Diantaranya adalah tentang pengembangan wisata alternatif tersebut. Dalam penutupan, Daniel mendorong anggota Asita Jabar untuk menangkap peluang ini. Karena para pengusaha perjalanan wisata memiliki jaringan nasional, hingga luar negeri. Dengan demikian memiliki pasar yang perlu yang luas, dengan memanfaatkan potensi lokal. Dikemas dalam bentuk wisata yang layak jual.

Dengan demikian forum ini diharapkan menjadi sarana silaturahmi, jembatan yang menghubungkan biro perjalanan wisata dengan profesi pemandu wisata. Diharapkan mampu mendorong kunjungan wisatawan inbound maupun domestik.

Penyerahan SK PGWI Kebumen

Seiring dengan kegiatan sertiikasi kompetensi Pemandu Geowisata, di Hotel Mexoline Kebumen. Diserahkan Surat Keputusan pengangkatan Dewan Pengurus Wilayah Kebuben. pada hari Rabu, 7 Mei 2025.

Dihadiri oleh Ketua PGWI Pengurus Nasional Deni Sugandi, dan Bidang Kerjasama Reza Permadi. Pendirian organisasi dilakukan melalui Musyawarah Wilayah pada tanggal 4 Oktober 2024, di Gedung Sapta Pesona Kantor Dinas Pariwisata Kab. Kebumen.

Penyerahan SK Kepengurusan PGWI Kebumen, di Hotel Mexolie Kebumen.

Catatah Ubarsebel dan Bukber PGWI

Upaya organisasi adalah menjalin silaturahmi, baik didalam hingga di luar organisasi. Tujuaanya adalah penguatan jejaring dan kolaborasi dalam pengembangan wisata bumi. Terutama di kawasan Cekungan Bandung, dilaksanakan dalam dua rangkaian kegiatan. Berupa Ubarsebel, konsep jalan-jalan pengenalan bentang alam hingga sejarah bumi sekitar Bandung bagian utara.

Dibungkus dalam kegiatan ekskursi lapangan singkat, dinamai Ulin Bareng Sambil Belaja disingkat Ubarsebel. Dalam makna bahasa Sunda, berarti adalah obat untuk menuntaskan segala penyakit. Berupa sakit kurangnnya pengetahuan sejarah bumi, hingga budaya yang lahir diatasnya.

Kegiatan dibuka di Curug Dago, Bandung. Air terjun yang mengalir di Ci Kapundung, segmen Dago, kemudian di Ciburial. Diikuti oleh para pegiat wisata, mahasiswa, pengajar sekolah tinggi pariwisata, organisasi profesi, pengelola wisata hingga pemandu wisata. Berkisar sekitar 24 orang, hadir mengikuti kegiatan ini hingga tuntas. Hadir diataranya mewakili organisasi profesi dari APGI DP Provisni Jawa Barat, Komunitas Rumah Geopark Indonesia (RGI) yang langsung dihadiri oleh pa Yunus. Kemudian dari organisasi usaha aktivitas luar ruang Sangkuriang Outdoor Service (SOS), ketua HPI DPC Kota bandung, Kaprodi Usaha Perjalana Wisata Stiepar Yapari Bandung, Hadi Mulyana. Kemudian perwakilan operator  dan pengelola, diantaranya Geowana, Angin Photoschool dan Tahura Ir. H. Djuanda Bandung.

Kegiatan dilaksanakan pada hari Minggu, 16 Maret 2025. Berupa kegaitan kunjungan singkat ke Curug Dago, Bandung. Mengupas Ci Kapundung yang mengalir di atas aliran lava G. Tangkubanparahu. Disajikan dalam bentuk pemanduan wisata bumi, oleh Deni Sugandi dan Zarindra Arya Dimas. Selaku pemandu wisata bumi, mengetengahkan perjalanan (sungai) Ci Kapundung, hasil kegiatan gunungapi dan bentang alam Cekungan Bandung.

Deni meyampaikan materi yang berkaitan dengan sejarah produk G. Sunda-Tangkubanparahu. Berupa endapan lava hasil kegiatan letusan efusif, G. Tangkubanparahu sekitar 40-39 ribu tahun yang lalu (Kartadinata, 2005). Berupa hasil aliran lava basal, mengisi lembah Maribaya. Ci Kapundung, mengalir dari utara ke selatan. Menunggangi alira lava G. Tangkubanparahu. Di Curug Dago melihat kembali hasil kegiatan letusan gunungapi, berupa aliran lava basal, dicirikan dengan warnanya gelap. Pelepasan gas yang terlalut dalam aliran lava, menghasilkan lubang-lubang gas pada batuan. Mengalir dari pusat letusan kemudian mengikuti lembah, Pasir Cikole, Cikareumbi, Cicukang (Maribaya), Sekejolang hingga Dago.

Pemaparan dilengkapi oleh Zarindra, menyampaikan liran lava berhenti di Curug Dago, membentuk ceruk akibat hasil kegiatan erosi ke hulu. Dibagian tebingnya tersingkap susunan perlapisan berselang-seling, menandakan sejarah pengengendapan batuan vulaknik di masa lalu. Panorama Curug Dago memikat komunitas pariwisata Bandung pada masa Kolonial. Sehingga menjadi wisata unggulan, diterbitkan dalam buku paduan pariwisata. Disusun oleh S.A.Reitsma (1923), “Bandoeng, The Mountain City of Netherlands Indies”. Julukan wisata bumi yang diusahakan sejak masa kolonial.

Lokasi ke-dua adalah mengunjungi dataran tinggi Bandung utara. Mengupas sejarah bumi, melalui interaksi diskusi. Bahwa Kawan Bandung Utara (KBU) adalah zona penyangga sekaligus sebaga wilayah serapan air. Keberadaanya kini telah beralih fungsi menjadi hunian rumah, hingga pertanian. Perubahan tata guna lahan tersebut turut menyumbang hilangnya beberapa mata air (Nofrianti, 2012. DPKLTS di Apakabarnews, 2020). Dampak susulannnya adalah banjir di kota Bandung, akibat fungsi KBU tidak bisa lagi menyerap air hujan secara optimal.

Dari titik tinggi ini terlihat bentang alam Cekungan Badung. SemulaKabupaten Bandung beribukota di Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) sekitar11 kilometer ke arah Selatan dari pusat kota Bandung Setelah kekuasaankolonial berakhir, Jawa diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda denganGubernur Jendralnya yang pertama yaitu Herman Willem Daendels (1808-1811) (Voskuil, 2007). Merujuk kepada naskah Sajarah Bandung, pada tahun1809 Bupati Bandung Wiranatakusumah II beserta sejumlah rakyatnya pindahdari Karapyak (Dayeuh Kolot) ke daerah sebelah utara Kota Bandung. Salahsatu alasan kepindahannya yaitu wilayah Karapyak sering dilanda banjir darisungai Citarum, dan hal itu masih terjadi hingga sekarang (Prasetyo, 2019).

Pemindahan tersebut merujuk karena kondisi geografis dan geologi. Sehingga Daendels memerintahkan untuk membuat jalur baru, memotong kota Bandung saat ini.

Jelang sore hari, partisipan diarahkan berkumpul di Travel Tech, Ciburial Bandung. Berupa silaturahmi dan urun rembug seputar pengembangan wisata bumi, khususnya di Cekungan Bandung. Dilaksanakan dalam ruangan, berupa diskusi santai jelang berbuka puasa. Deni menyampaikan tema diskusi seputar pengembangan wisata berbasis sumber daya alam yang dimiliki oleh Bandung dan sekitarnya.

Diskusi dimulai pada pukul 16.00 WIB, berakhir di pukul 17.40 WIB. Dalam diskusi singkat ini, mengupas dari perhal umum. Seperti yang disampaikan oleh Nirwan Hararap selaku Pembina PGWI Dewan Pengurus Nasional. Dalam pemaparannya menjelaskan sisi teknologi, berkaitan dengan pemanfaatan citra satelit. Nirwan melihat potensi besar yang belum dikembangkan oleh sektor pariwisata. Diantaranya pemanfaatan jaringan penyiaran televisi yang berbasis teknologi satelit. Kemudian Nirwan menambahkan, perlunya pengembangan diri seorang pemandu yang melek pada pemanfaatan teknologi.

Kesempatan beriktunya disampaikan oleh Bintang Irawan S. menyampaikan usaha-usaha yang telah dilakukan oleh organisasi. Diataranya pengelolaan Bandros Braga Night Story. Progam unggulan tour singkat kota, mengupas sejarah arsitektur hingga cerita dibaliknya. Semuga kegiatan diusahakan secara mandiri, bersaing dengan pengelolaan Bandros yang dikelola oleh pihak pemerintah daerah. Dengan demikian membuktikan, kegiatan aktivasi pariwisata kota bisa diusahakan secara mandiri oleh organisasi.

Bintang menandaskan bahwa saat ini kurangnnya perhatian kepala daerah, khususnya Gubernur Jawa Barat terhadap pengembangan pariwisata. Sehingga memberikan tanda bahwa kegiatan penguatan pariwisata, tidak harus berpangku tangan kepada pemerintah daerah. Dengan demikian Bintan mendorong agar segenap pelaku usaha pariwisata untuk bisa bekerja secara mandiri. “nanti juga pemerintah datang, walaupun sudah terlambat” tandasnya. Dalam kesempatan selanjutnya, Gangan Jatnika menyampaikan usaha wisata yang telah dilaksanakan beberapa kali. Terlaksana dalam kegiatan aktivitas hiking, dibalut interpretasi bumi. Aktivitas wisata bumi ini sudah berjalan beberapa tahun terakhir, dibeberapa tempat sekitar Bandung.

Hadi mewakili perguruan tinggi pariwisata, perlunya kerjasama antara akademisi dan praktisi. Bisa diwujudkan dalam bentuk kerjasama, seperti yang telah diupayakan dengan pihak pengelola Tahura Ir. Djuanda. Kemudian disambut oleh Ganjar, Tahura sebagai laboratorium herbarium. Kawasan konservasi yang bisa dimanfaatkan menjadi sarana wisata edukasi, berkaitan degan koleksi tananan yang dimiliknya.

Diskusi dipungkas melalui pandangan Yunus, menyampaikan perlunya langkah aksi. Berupa kelompok kerja yang mampu mengukur pengembangan wisata yang sudah berjalan. Kemudian diperlukannya variasi wisata serta pelibatan warga lokal, pemangku wilayah setempat. Kegiatan ditutup dengan acara buka bersama, foto bersama dan diskusi ringan. Kegiatan ditutup pukul 19.30 WIB.

Penamatan lapangan di Ciburial Dago.
Berbuka bersama di Travel Tech, Ciburial, Dago
Partisipan di Travel Tech Ciburial Dago

Catatan Geourban#36 Tenjolaut

Dalam kegiatan penelusuran sejarah Sumedang Larang, dibagi ke dalam beberapa kali perjalanan. Dibungkus dalam wisata bumi, menapaki kembali hubungan antara dinamika bumi, sejarah manusia yang hadir di atasnya dan ekologi yang berkembang. Dalam kesemapatan wisata bumi kali ini, mendatangi tempat yang pernah menjadi puseur dayeuh atau ibukota Sumedang Larang. Pusat pemerintahan kabupaten, saat berada di bawah kekuasaan Mataram Islam. Lokasi yang dikunjungi adalah sekitar Tenjolaut, Desa Padaasih, Kecamatan Conggeang.

Tenjo adalah melihat atau memandang,  sehingga menarik makna tenjolaut adalah satu tempat yang bisa melihat laut. Seperti yang diterapkan pada Dusun Tenjolaut, Desa Padaasih, Sumedang.

Dari beberapa keterangan, makna tersebut bisa diartikan dalam dua pengertian. Makna toponiimi yang pertama seperti yang diuraikan di atas, sedangkan arti kedua bisa disejajarkan dengan genang lkaut dimasa lalu. Lautan yang luas yang terbentuk dimasa lalu, saat sebagian besar Sumedang berada di bawah permukaan laut.

Bukti Tenjolaut di Desa Padaasih perah di bawah laut gambarkan dalam Peta Lembar Geologi Arjawinangun (Djuri, 2011). Menuliskan bahwa sebagian besar Padaasih, disusun oleh Anggota Batulempung Formasi Subang. Diendapkan pada saat kondisi laut dangkal, dengan kemungkinan adanya napal yang ikut teredapkan. Pengendapannya menghasilkan batulempung berlapis, dengan tebal 2900 meter. Selaian memiliki narasi sejarah lahirnya wilayah, Pasir Tenjolaut merupakan bukti bahwa sebagian besar Sumedang masih tenggelam di bawah laut. Seiring waktu, akibat kegiatan tektonik akhirnya terangkat ke permukaan, hingga setinggi 326 meter dpl.

Masyarakat menyebutnya Bukit Pasir Putih. Bukit yang biasa disebut pasir dalam bahasa Sunda, tetapi dalam makna disini berarti butir pasir. Sehinga diartikan bukit yang disusun pasir dan berwarna cenderung putih karena kontras dibandingkan lingkungan sekitarnya.

Berupa perbukitan, bagian dari lereng G. Tampomas di arah baratnya. Sehingga perbukitan ini posisinya lebih tinggi dan landai ke arah timur. Kondisi topografi demikian, menjadi tinggian yang terbuka ke arah timur dan utara. Sehingga pendiri dusun Tenjolaut masih bisa menyaksikan garis pantai utara, sekitar Indramayu. Sedangkan Cirebon tertutup oleh kerucut G. Cereme.

Bukit Pasir Putih Tenjolaut atau Pasir Tenjolaut (pasir adalah bukit), seiring waktu tererosi oleh air. Diaantaranya mengali sungai-sungai yang mengalir dari barat ke timur. Seperti Ci Bodas yang berada di sebelah selatan Tenjolaut. Kemudian Ci Pelang yang bergabung dengan Ci Paray di Batukarut. Sungai-sungai tersebut mengerosi batuan yang sifatnya mudah lapuk, sehingga terbentuk lembah-lembah dan jurang yang dalam. Dampak erosi yang terus terjadi hingga kini, diantaranya perubahan bentuk lahan, air cenderung keruh dan pendangkalan sungai. Longsor terjadi di dusun Batukarut, Desa Padaasih. Terjadi pada 22 November 2022 melalui laman sosial media desa https://www.instagram.com/p/ClQZnvPytm8/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA== Dampaknya adalah hampir 30 hektar sawah tidak mendapatkan pengairan.

Akibat batuan penyusunnya dalah batulempung berlapis, menyebabkan sering terjadinya gerakan tanah. Seperti yang terlihat di Pasir Tenjolaut, membentuk bidang longsor setengah lingkaran. Mekanisme gerakan tanahnya adalah nendatan, bergerak lambat akibat kenaikan muka air tanah. Selain itu sifat batuan ini memiliki permeabilitas yang buruk, tidak mampu meloloskan air. Sehingga beberapa sungai akan meluap, bila terjadi hujan besar dihulu.

Keterdapatan sumber mata air diwilayah ini, berasal dari daerah imbuhan di sebelah barat. Merupakan dataran tinggi dan perbukitan, lereng G. Tampomas. Batuannya disusun oleh endapan vulkanik, sehingga memiliki sifat batuan pembawa air. Syarata inilah salah satu alatan pemindahan kerjaan Sumedang Larang abad ke-17.

Tenjolaut merupakan dataran rendah, dikelilingi oleh pesawahan. Pada abad ke-17 akhir, menjadi ibu kota Kabupaten Sumedang, pada saat pemerintahan Raden Bagus Weruh. Dinobatkan menjadi bupati Sumedang 1633 – 1656, dengan gelar Rangga Gempol II. Ibu kota pemerintahannya dialihkan dari Timbangante ibu kotanya di Tegalluar (saat ini Kabupaten Bandung) ke Tenjolaut, Conggeang, Sumedang.

Pengalihan pusat pemerintahan tersebut, merupakan kelanjutan penangkapan Dipati Ukur pada 1633 di Gunung Lumbung Cililin. Dari wilayah inilah Rangga Gempol II memerintah, melanjutkan kekuasaan Kabupaten Sumedang yang dipimpin Rangga Gede.

Dampak lainya dari pemberontakan Dipati Ukur, 1633 Agung dan penerusnya Amangkurat I, mereorganisasi wilayah priangan. Dengan mempersempit wilayah Sumedang dengan membagi wilayahnya menjadi kabupaten pemekaran. Diantaranya Kabupaten Bandung, Sukapura dan Parakanmuncang.

Selain itu, melalui kebijaksanaan Amangkurat I pada 1641 (suksesi dari Sultan Agung) menghapus fungsi Bupati Wedana. Sehingga Rangga Gempol II, memiliki jabatan yang sama dengan bupati lainya. Kondisi demikian yang menyebabkan Rangga Gempol II kecewa, hingga 1656 mengundurkan diri. Dilanjutkan oleh puteranya bergelar Pangeran Panembahan, diangkat menjadi Rangga Gempol III. Tokoh kontroversial yang ingin mengembalikan Sumedang sebagai kerajaan berdaulat.

Dari informasi kepercayan masyarakat, penamaan Tenjolaut berhubungan dengan kondisi bentang alam. Menurut cerita orang tua, kawasan ini sebelumnya pernah ditempati laut dalam. Sedangkan pendapat lainya, dari lokasi ini bisa melihat patai utara, di balik G. Ciremai. Keberadaan bukti laut dalam, bisa ditemui di bukit Pasir Putih Tenjolaut di Blok Jukut. Berupa perbukitan yang disusun oleh Anggota Batulempung Formasi Subang (Tms). Berupa batulempung mengandung lapisan batugamping napalan abu-abu tua, batugamping. Setempat ditemukan sisipan batupasir glukonit hijau (Djuri, 2011).

Selain itu, sekitar wilayah ini ditempati pesawahan yang luas. Menempati hampir semua bagian Conggeang. Total luas wilayah Conggeang sekitar 65,36 km2 (BPS Sumedang, 2016). Pembukaan sawah sudah dilakukan, saat Sumedang berada di bawah kekuasaan Mataram (1620). Dengan cara alih teknologi orang-orang Banyumas ke Conggeang, dan perluasan sawah disertai pembangunan sistem irigasi, seiring dengan pembukaan lahan. Mengkonversi hutan menjadi sistem sawah. Ekstensi sawah tersebut sebagai strategi penguatan pangan, dilakukan Mataram dalam mendukung ekspansi wilayah ke Jawa bagian barat.

Situs Patilasan Bupati Sumedang, Rangga Gempol II di Tenjolaya, Padaasih.
Bongkah lava di jalan menuju Pasir Tenjolaut.
Pasir Tenjolaut, disusun batulempung.
(sungai) Ci Pelang yang mengerosi batulempung Formasi Subang.