Catatan Singkat Geourban#21 Jatiluhur

Dalam kegiatan Geourban ke-21, melawat di sekitar Purwakarta (21 Juli 2024). Wilayah yang dilalui oleh Ci Tarum. Sungai yang membelah kota dan kabupaten di Jawa Barat. Diantaranya dimanfaatkan menjadi sumber energi terbarukan, melalui pembangunan tiga waduk buatan. Diantaranya Saguling wilayah Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Cianjur. Kemudian Cirata, dan terakhir waduk Jatiluhur yang masuk ke Purwakarta.

Stop site yang dikunjungi adalah dermaga penyeberangan Talibaju, Cikaobandung. Kemudian ke titik ke dua, batukorsi-batupeti di Desa Sukamanah. Kemudian kunjungan terakhir ke G. Parang. Ketiga tempat tersebut memiliki potensi yang bisa dimanfaatkan melalui aktivitas geowisata. Cerita sejarah perjalan kopi di abad ke-17, didominasi kepentingan dagang yang dimonopoli oleh VOC dari 1756 hingga 1780. Stop site selanjutnya berkunjung ke batuan sedimen Formasi Jatiluhur yang ditafsirkan tinggalan budaya, dan perbukitan intrusi batuan beku. Tiga stop site yang dikunjungi, bagian kecil dari potensi geowisata di Purwakarta.

Jauh sebelum Republik Indonesia lahir, Purwakarta masih menjadi bagian dari Kabupaten Karawang. Wilayahnya mencakup sebagian besar bagian utara Ciasem (saat ini Subang), dan ke arah selatan sekitar Wanayasa saat ini. Daerah ini berada di dataran tinggi di lereng G. Burangrang yang menaungi sebagian besar wilayah Purwakarta bagian selatan saat ini. Wilayah Wanayasa telah ada sejak abad ke-17, dalam bentuk kerajaan di bawah wilayah Pajajaran. Bahkan satu abad sebelumnya, keberadaan penyebutan Karawang dituliskan dalam catatan Bujangga Manik.

Kota yang selama ditafsir sebagai “kota tua”, memiliki pengertian yang berbeda. Ditafsirkan melalui sumber lain, menyebatukan purwa adalah yang pertama, dan karta yang bermakna sejahtera. Dengan demikian bisa ditafsirkan sebagai kota yang mengutamakan kesejahteraan. Tafsir demikian bisa diselaraskan dengan pemindahan ibu kota Karawang Timur, ke tempat yang lebih baik dari sisi jarak ke dan dinilai lebih kondusif.

Perjalanan pembentukan wilayah Purwakarta hadir setelah kemerdekaan, sebelumnya merupakan daerah Karawang Timur dari Kabupaten Karawang. Ibukotanya di Wanayasa, di bawah lereng G. Burangrang. Gunungapi yang ditafsirkan sebagai anak gunungapi, dari sistem gunungapi Sunda-Tangkubanparahu. Seiring waktu, tanahnya yang subur mampu menarik industri perkebunan kopi di abad ke 17, seiring dengan sistem Tanam Paksa. Pengerahan sistematis ini , mendorong kawasan Wanayasa menjadi sentra penghasil kopi setelah Kabupaten Cianjur pada masa tersebut. Namun bukti-bukti pendirian ibukota Kabupaten Karawang Timur di Wanayasa tidak terlihat. Menandakan pusat pemerintahan ibu kota hanya bersifat sementara. Salah satu alasan penempatan ibukota di Wanayasa, karena wilayah tersebut dikenal dengan penghasil kopi terbesar. Menjadi ibu kota kabupaten Karawang Timur pada 1821 hingga 1829. Menjelang 1830 digeser ke arah utara, disebut Sindangkasih.

Pemindahan tersebut dipicu oleh kondisi sosial, dampak dari sistem tanam paksa pada 1847, mendorong pergolakan sosial. Dipicu oleh ketidak adilan, upah rendah dan korupsi di tingkat pemerintahan saat itu, mengakibatkan terjadinya pemberontakan pekerja keturunan Tionghoa. Terjadi pada 1831, dari Wanayasa hingga ke batas Karawang-Purwakarta saat ini. Pemberontakan ini menjadi alasan pemindahan ibu kota ke Purwakarta sekarang. Semata-mata karena kondisi sosial, dan lebih ke pengamanan wilayah melalui pengamanan kekuatan militer saat itu.

Di dermaga perahu penyeberangan Talibaju, Cikaobandung, merupakan jalur penting dalam pengangkutan kopi pada abad ke-17. Cikaobandung merupakan gudang penyimpanan kopi, hasil panen dari beberapa tempat di Kabupaten Bandung saat itu. Sebelumya dikumpulkan terlebih dahulu di gudang kopi di Wanayasa. Keberadaan gudang kopi tersebut masih ada, dimanfaatkan menjadi Sekolah Dasar Negeri I Wanayasa. Bangunan tersebut adalah satu-satunya peninggalan sejarah, bukti industri kopi yang menjadi primadona pertanian di Hindia Belanda.

Hasil panen di wilayah berada di wilayah Preanger-Regentschappen, atau Kabupaten Priangan. Pemandangan yang menawan, didominasi tanah hasil pelapukan gunungapi. Sehingga tanahnya subur, dan memiliki pupuk alami dari batang pohon yang telah lapuk kemudian menjadi kompos. Perkebunannya di atas rata-rata 1200 meter, dengan udara sejuk serta tanah yang luas menjadikan wilayah ini sebagai perkebunan kopi terbaik pada masa tersebut.

Perkebunan kopi tersebar di wilayah Kabupaten Bandung saat itu. Diantaranya di wilayah Sumedang, Bandung utara dan selatan, Limbangan, Sukapura dan Sumedang. Wilayah dataran tinggi, masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung saat itu.

Sebagai pemain tunggal perkebunan kopi, Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC perlu menjaga kestabilan hasil perkebunan kopi, dan mencari keuntungan dari hasil produksi kopi. Sehingga dikeluarkan perjanjian yang mewajibkan kaum pribumi untuk menanam kopio dan hasilnya harus diserahkan kepada pihak VOC. Dikenal dengan Koffestelsel (sistem kopi), atau tanam paksa penanaman kopi oleh pada pribumi.

Pengangkutan kopi dari Priangan pedalaman ke Batavia diinisiasi oleh Gouverneur Generaal van Vereenigde Oostindische Compagnie, Mattheus de Haan (1725-1729), dan Bupati Bandung Tumenggung Anggadireja I (1704-1747). Dikenal dengan koffie transport, pengangkutan kopi dengan menggunakan hewan beban seperti kerbau atau sapi. Dibutuhkan waktu antara 60 hingga 72 hari pengangkutan, dengan moda transportasi seperti ini.

Semua hasil panen kemudian diangkut ke gudang kopi di Wanayasa. Setelah terkumpul kemudian diteruskan ke gudang kopi di Cikaobandung, Purwakarta. Jaraknya sekitar 33 km, menggunakan pedati yang ditarik oleh sapi. Dari dermaga kemudian diteruskan menggunakan perahu layar tunggal ke Batavia, melalui Ci Tarum. Mattheus de Haan meminta agar pada tenaga kerja (kuli), membawa kopi dari Bandung, Parakanmuncang, dan Sumedang ke Gudang Kopi Cikao, yang dibangun pada 1744.

Kunjungan berikutnya ke Batukorsi-Batupeti di Kampung Ciputat, Desa Kutamanah. Blok batuan sedimen yang tererosi kuat, membentuk kotak-kotak yang terpisah. Masyarakat mempercayai merupakan hasil kerja manusia di masa lalu, dikaitkan dengan mitos Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

Keberadaanya terletak di batas pantai waduk Jatiluhur di sebelah utara. Bisa diakses melalui Kampung Ciputat, kemudian dilanjutkan jalan kaki melalui hutan bambu. Bila dari wisata Jatiluhur, bisa menggunakan perahu sewaan. Keberadaan singkapan batuan sedimen ini berada di wilayah warga, yang sebagian besar telah menjadi perkebunan. Sebagian lagi berada di garis pantai waduk, berupa bentuk seperti kursi.

Dalam berita daring, disebutkan bahwa situs tersebut diduga sebagai tinggalan budaya megalitik, hingga budaya tinggal kerajaan Sunda. Bahkan menurut ketua Rukun Warga di Ciputat, menuturkan bahwa situs tersebut dipercaya menjadi tempat bertemunya Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Sunda lama, khususnya di Cekungan Bandung yang mengaitkan dengan sejarah terbentuknya G. Tangkubanparahu. Namun dalam keterangannya, Sangkuriang gagal mempersunting karena ternyata Dayang Sumbi adalah ibu kandungnnya. Sehingga batu berbentuk kursi adalah tempat duduk para tamu, dan peti adalah harta bawaan yang dibawa dalam acara pernikahan.

Dalam peta Geologi Lembar Cianjur (Sudjatmiko, 1972). Tuliskan bagian dari Formasi Jatiluhur, Umur Miosen Tengah. Bila diperhatikan dengan seksama, batuan tersebut berlapis menandakan batuan sedimen. Seiring waktu terangkat akibat kegiatan tektonik, kemudian lapuk oleh kondisi cuaca dan temperatur. Batuan berlapis tersebut disusun oleh perselingan batulempung, batupasir kuarsa, dan batugamping pasiran (Tms).

Bila dilihat dari angkasa, memperlihatkan struktur sejajar membentuk bujursangkar. Menandakan hasil kegiatan struktur yang membentuk rekahan sedemikian rupa. Seiring waktu terjadi erosi dan pelapukan yang menyebabkan bentuknya seperti bongkah batu berbentuk kotak. Sedangkan bentuk kursi di tepi pantai, merupakan bentuk blok batuan yang tererosi oleh gelombang air waduk pada bagian bawahnya. Seiring waktu membentuk seperti batu jamur karena bagian atas lebih kuat (resisten).

Kunjungan terakhir adalah ke G. Parang, melalui Plered. Merupakan perbukitan intrusi batuan beku dangkal. Seiring waktu tersingkap membentuk kerucut yang menjulang tinggi. tingginya sekitar 963 meter dpl. disusun oleh andesit (Ha). Perbukitan tersebut kini aktif menjadi tujuan wisata minat khusus. Pemanjatan menggunakan teknik via ferrata. Berupa besi panjang, yang digunakan sebagai alat bantu pendakian. Kegiatan ditutup dengan pengukun Asosiasi Pemandu Geowisata Dewan Pengurus Wilayah Purwakarta Raya.

G. Parang dari basecamp Badega.
Batupasir kuarsa, perselingan dengan batulempung Fm. Jatiluhur.
Batupeti yang disusun batuan sedimen lapuk, Formasi Jatiluhur.
Pengukuhan PGWI DPW Purwakarta Raya.

Geoliterasi Buku Geowisata: Bincang Buku Narasi Geowisata Cekungan Bandung

Telah dilaksanakan kegiatan dengan tema geowisata, di aula ruang publik, kantor Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Jawa Barat (7/6, 2024). Pertemuan ini difasilitasi oleh Bidang Destinasi Pariwisata, melalui kehadiran langsung Kepala Bidang Destinasi Pariwisata, Disparbud Jabar yaitu  ibu Ani Widianti. Acara dimulai pukul 16.30 WIB hingga 18.00 WIB. Di tempat yang sama dalam waktu sebelumnya, telah di launching oleh Kadis Parbud Jabar. Pelatihan dan Sertifikasi Pemandu Geowisata di lima Kabupten/Kota Jawa Barat, mulai tanggal 19 Juni di Kab. Pangandaran hingga tutup bulan.

Dalam kesempatan ini hadir para narasumber, mewakili para penulis geowisata. Diantaranya hadir Deni Sugandi, penulis buku Kaldera Sunda: Jejak Plinian di Pringan (2024), Gangan Jatnika penulis buku Lingkung Gunung Bandung#1 (2024). Sebagai penanggap diskusi adalah hadir T Bachtiar, penulis dan pegiat geowisata. Kegiatan ini sebagai upaya sosialisasi geowisata Jawa Barat, yang diinisiasi oleh asosiasi Pemandun Geowisata Indonesia (PGWI), bekerja sama dengan Disparbud Jawa Barat.

Kegiatan dilaksanakan di ruang publik, kantor Disparbud Jawa Barat. Dihadiri oleh lebih dari 50 orang, dari unsur para pegiat, pemandu, pengelola destinasi wisata hingga dari kampus.

Diskusi dibuka oleh Deni Sugandi selaku moderator, memberikan tema atau batasan diskusi tentang geliat geowisata di Jawa Barat. Melalui penerbitan karya intelektual penyusunan buku, tentang geowisata diseputaran Cekungan Bandung. Geowisata adalah aktifitas wisata yang berlandaskan tentang sejarah bumi, fitur bentang alam, hingga proses dinamik bumi yang sedang terjadi kini. Deni menambahkan bahwa saat ini geowisata telah memiliki nilai ekonomi, melalui pemberdayaan lokal sebagai pemilik wilayah.

Deni memberikan gambaran tentang buku Kaldera Sunda, sebagai bukti letusan gunungapi. Melalui buku tersebut, Deni menelusuri kembali jejak-jejak bukti material letusan.

Dalam pemaparan singkat, T Bachtiar menyampaikan bahwa narasi tentang kebumian telah banyak ditulis. Baik melalui penerbitan buku, artikel, hingga aktivitas yang bertemakan tentang geowisata. Narasi-narasi tersebut telah dibunyikan oleh para pegiat, seperti yang dilakukan Bachtiar melalui komunitas Geotrek Matabumi.

Menurut Bachtiar, narasi tersebut sebagai dasar dalam kegiatan geowisata. Digunakan oleh para pemandu, untuk mempresentasikan bentang alam, hingga proses bumi yang terus berlangsung hingga kini. Sehingga Bachtiar menegaskan bahwa pemerintah, melalui dinas pariwisata tidak perlu repot-repot membuat kajian karena data sudah disediakan oleh pegiat dan komunitas geowisata.

Diskusi dilanjutkan oleh paparan singkat dari Kabid Destinasi Pariwisata, yang mengatakan begitu pentingnya pengelolaan sampah di destinasi geowisata. Ibu Ani Widiani tidaklah begitu setuju dengan objek wisata dadakan, seperti pengemasan wisata melalui bentuk platform yang dihiasi oleh tulisan-tulisan ataupun bentuk yang kurang mendukung. Karena menut Ani, alam sudah memberikan keindahannya sehingga di objek wisata tidak perlu lagi dipasang seperti bentuk kupu-kupu atau lain sebagainya. Begitu juga dengan pengelolaan di destinasi taman bumi (Geopark) di Jawa Barat, Nia menegaskan perlunya pengelolaan dan perencanaan pembangunan destinasi yang baik. “Saya dulu bertugas di Bappeda Jabar, sehingga tahu betul pentingnya pengelolaan destinasi” tegasnya.

Penyaji berikutnya mengetengahkan gunung-gunung yang melingkupi Cekungan Bandung. Ganggan Jatnika menguraikan upaya menulis, melalui pengumpulan data, hingga mengkompilasinya menjadi satu buku. Buku ini merupakan edisi pertama yang memuat sebagian gunung yang ada di luar lingkar Cekungan Bandung, sebutannya.

Sebagai penutup dalam diskusi, Deni memberikan catatan bahwa perlu penggalian narasi-narasi yang berkaitan dengan geowisata. Baik dilakukan perorangan, komunitas hingga perlunya dukungan lembaga khususnya pemerintahan. Selebihnya adalah perlunya dukungan pemerintah, agar para pegiat geowisata ini bisa diberikan tempat untuk mendorong pergerakan ekonomi melalui wisata berbasis kebumian.

Pelatihan dan Sertifikasi Pemandu Geowisata Fasilitasi Program PSKK 2024

Kegiatan Pelatihan dan Sertifikasi diinisiasi melalui progam Pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi Kerja(PSKK) melalui anggaran BNSP Tahun 2024.

Mempercepat pengakuan industri dan sektor terhadap tenaga kerja bersertifikat kompetensi.
Memfasilitasicalon tenaga kerja/tenaga kerja untuk mendapatkan sertifikat kompetensi melalui Pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi Kerja oleh LSP .
Mengoptimalkan pelaksanaan sertifikasi kompetensi kerja oleh LSP yang berorientasi pada permintaan industri tehadap tenaga kerja kompeten yang memiliki sertifikat kompetensi.
Memfasilitasi kerjasama LSP dengan dunia usaha/industri dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga kerja kompeten bersertifikat kompetensi.

Progam ini dirteruskan melalui Lembag Sertifikasi Pemandu Pramuwisata Indonesia (LSP Pramindo), bekerja sama dengan Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI). Berjumlah 120 peserta, melalui jaringan organisasi ke lima kota dan kabupaten. Diantaranya Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat. Kabupaten Majalengka, Kabupaten Bogor, Kabupaten Pangadaran. Dalam jaringan Geopark Nasional maupun ispiring. Dilaksanakan di sepanjang bulan Juni 2024, dengan pelaksanaan bekerja sama dengan Dinas Pariwisata danBudaya Provinsi Jawa Barat, dilanjutkan dinas pariwisata di tingkat daerah.

Sertifikasi pemandu geowisata memiliki banyak kepentingan, di antaranya:

Profesionalisme: Sertifikasi menegaskan bahwa seorang pemandu wisata memiliki kualifikasi dan kompetensi yang diperlukan untuk memberikan pengalaman wisata yang berkualitas kepada wisatawan. Ini membangun kepercayaan dalam industri pariwisata dan meningkatkan reputasi pemandu tersebut.

Standar Keselamatan: Pemandu wisata bersertifikasi telah menerima pelatihan dalam aspek-aspek keselamatan yang relevan, seperti pertolongan pertama dan evakuasi darurat. Hal ini penting untuk memastikan keselamatan wisatawan selama perjalanan.

Pengetahuan Lokal: Pemandu wisata yang disertifikasi cenderung memiliki pengetahuan mendalam tentang destinasi wisata yang mereka pandu. Mereka dapat memberikan informasi yang akurat dan menarik tentang sejarah, budaya, alam, dan tempat-tempat menarik lainnya yang dikunjungi.

Menjaga Lingkungan: Sebagian besar sertifikasi pemandu wisata juga mencakup aspek-aspek keberlanjutan dan pelestarian lingkungan. Pemandu yang disertifikasi dilatih untuk memimpin tur secara bertanggung jawab, meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, dan mempromosikan praktik-praktik ramah lingkungan kepada wisatawan.

Pembangunan Karier: Sertifikasi dapat membuka peluang karier yang lebih luas bagi pemandu wisata, termasuk kesempatan untuk bekerja dengan agen perjalanan yang lebih besar, perusahaan penerbangan, atau kru kapal pesiar yang menuntut standar tertentu dari pemandu mereka.

Peningkatan Daya Saing: Di pasar yang semakin kompetitif, memiliki sertifikasi dapat membedakan seorang pemandu dari yang lain. Ini dapat membantu pemandu tersebut menarik lebih banyak klien dan meningkatkan daya saingnya dalam industri pariwisata.

Perlindungan Konsumen: Wisatawan yang menggunakan jasa pemandu yang bersertifikasi memiliki jaminan bahwa mereka akan menerima layanan yang memenuhi standar tertentu. Ini memberikan perlindungan tambahan bagi konsumen dan mengurangi risiko pengalaman wisata yang buruk.

Pelatihan dan Sertifikasi Pemandu Geowisata 2024

Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), menyelengarakan pelatihan skema Pemandu Geowisata dan sertifikasi (BNSP). Dilaksanakan pada bulan Juni 2024. Lokasi di Jawa Barat.

Tempat dan waktu
19 Juni 2024. TIC SBKSDA Resor Cagar Alam Pangandaran
22-23 Juni 2024. Tahura Ir. Djuanda, Dago, Bandung
29 Juni 2024. Kantor Dinas Parbud Majalengka
30 Juni 2024. Kabupaten Bogor

Syarat

  1. Minimal usia 18 tahun (KTP)
  2. Minimal SMA sederajat (Ijazah terakhir)
  3. (file) CV dan Pasfoto latar merah 3×4 cm
  4. Memiliki sertifikat pelatihan Pemandu Geowisata atau
  5. Bukti kerja sebagai Pemandu Geowisata 3 tahun

Pendaftaran
Investasi Rp. 500.000.

Termasuk
Konsumsi, materi-trainer, sertifikat pelatihan, fasilitas pelatihan, dan sertifikasi BNSP skema pemandu geowisata.

Tidak termasuk
Akomodasi, transportasi selama kegiatan

Kuota pendaftar terbatas, ditutup sampai tanggal 10 Juni 2024. Bila kuota terpenuhi, pendaftaran ditutup.

Informasi:
Bandung 0813-22393930

Peradaban Tambora Sebelum Letusan 1815

Tayangan ulang Syiar Geowisata, tentang Peradaban sebelum letusan Tambora 1815. Disampaikan oleh Ikhsan Iskandar (PGWI DPW Tambora).

Sudah tidak terbantahkan bahwa letusan Tambora pada 1815, mengarahkan sejarah peradaban. Bukan hanya peristiwa dunia yang dipengaruhinya, namun higga peristiwa di panggung dunia. Dampak dari hasil bawaan kegiatan letusan gunungapi kelas plinian. Namun dalam keterangan dan penelitian yang telah digali, jarang mengungkapkan peradaban sebelum letusan besar tersebut.

Dalam kesempatan program kegiatan Syiar Geowisata, melalui acara dalam jaringan/online mengetengahkan sajian peradaban Tambora sebelum letusan 1815. Disampaikan oleh Ikhsan Iskandar, anggota PGWI Dewan Pengurus Tambora.

Materi (PDF): Peradaban Tambora PRaletusan 1815

Sosialisasi SKKNI Pemandu Geowisata 56/2024

Dalam kesemapatan acara webinar Syiar Geowisata tanggal 4 April 2024. Diinisiasi Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia, melalui kegiatan daring (zoom meeting). Mengetengahkan mengenai Standar Kompetensi Kerja Nasional atau SKKNI terbaru untuk bidang teknis pemanduan geowisata. Standar yang diperlukan oleh para pemandu geowisata, hadir mencabut SKKNI Nomor 89 Tahun 2019. Sosialisasi disampaikan oleh Deni Sugandi, selaku Ketua Pengurus Nasional PGWI, sekaligus sekretaris tim penyusun SKKNI. Kegiatan dihadiri oleh para pelaku, akademisi, badan pengelola geopark hingga para pemandu geowisata.

Penyusunan dilaksanakan sejak awal tahun 2023, melalui beberapa tahapan. Diantaranya adalah tiga kali kegiatan FGD di Jakarta, kemudian disusul dalam tahapan selanjutnya berupa prakonvensi. Kegiatan tersebut dilaksanakan di tiga tempat, mewakili tiga daerah di Indonesia. Dilaksanakan di kota Medan untuk mewakili bagian timur, Yogyakarta untuk Indonesia tengah dan terakhir di pulau Lombok, NTB.

SKKNI yang disusun menggunakan Regional Model Competenscy Standar (RMCS), model penyusunan standar kompetensi yang disesuaikan untuk kebutuhan Labora Oraganization atau ILO. Didalamnya memiliki model pengembangan yang menggunakan pendekanta funsi dari proses kerja suatu kegaiatan.

Dalam kesempatan ini Deni menyampaikan dasar-dasar pengembangan dan pemutahiran SKKNI untuk bidang teknis Pemandu Geowisata. Diantaranya data yang diambil dari hasil kegaitan survey kepada jaringan asosiasi pemandu geowisata, hingga umum. Survey berisi pertanyaan mengenai.

Dalam penyusunan tahun 2019, menghasilkan sembilan unit kompetensi. Tujuah diantaranya merupakan hasil adaptasi dari unit kompetensi bidang teknis pemandu wisata. Sedangkan dalam penyusunan terkini, berjumlah 33 Unit Kompetensi. Diantaranya hasil adaptasi dari unit kompetensi bidang teknis lain, adopsi atau disesuaikan dengan kebutuhan kontekstual dan terakhir adalah membuat baru.

Kegiatan ditutup melalui konvensi di Jakarta. Dalam siaran pers Menparekraf, tentang RSKKNI, RKKNI dan RSO di Jakarta pada 24 Oktober 2023. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepaa Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, mengatakan bahwa kegiatan konvensi ini merupakn wujud upaya pemerintah untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia pariwisata yang berkompeten dan berkualitas.

Rekaman diskusi melalui Yotube: https://www.youtube.com/watch?v=agoPl31SjOw

File presentasi dapat diunduh di: https://www.academia.edu/117057032/Sosialisasi_SKKNI_Pemanduan_Geowisata_No_56_2024

File SKKNI Pemanduan Geowisata dapat diunduh di:

Syiar Geowisata melalui Luring

Syiar Geowisata Indonesia 2024
(Ramadhan series)

Setiap pkl. 14.00 – 15.30 WIB
Join Zoom Meeting

https://bit.ly/syiarpgwi
atau
https://us06web.zoom.us/j/7820543621?pwd=Wb4a4vEWKjbadzEeCwQXpQacda06Yh.1

Apa itu geowisata? Seringkali menjadi pertanyaan tentang pariwisata yang berlandaskan dinamika bumi dan pengaruhnya (budaya) yang menempati di atasnya. Berkaitan dengan sejarah pembentukan, keunikan fitur bumi, peristiwa yang berlangsung hingga peradaban serta nilai-nilai yang terkandung bersamanya. Mari temui di kegiatan syiar geowisata melalui luring (zoom meeting), setiap Pkl. 14.00 sd. 15.30 WIB. Mengupas keunikan, daya tarik, profesi pemandu dan industri geowisata Indonesia. Disajikan melalui Pengurus Wilayah Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesai (PGWI).

Kamis, 4 April 2024
Sosialisasi SKKNI Pemandu Geowisata 2023
Oleh: Deni Sugandi (Ketua PGWI Pengurus Nasional)

Jumat, 5 April 2024
Geowisata Ranah Minang: Alam Takambang Jadi Guru
Ahmad Fadhly (PGWI DPW Ranah Minang)

Sabtu, 6 April 2024
Kerajaan Bima Praletusan 1815
Ikhsan Iskandar, SH (PGWI DPW Tambora)

Selasa, 9 April 2024
Geowisata Ternate : Kota Rempah Di Tubuh Gunung Api
Deddy Arif (PGWI DPW Ternate)

Infomarsi: pgwiindonesia@gmail.com
@pgwindonesia
www.pgwi.or.id

Catatan Singkat Geourban#19 Cigulung

Jelang pagi matahari masih bersahabat, namun beranjak siang langit Bandung utara bersalin gelap. Awan hujan menggelayut selepas dzuhur, seperti ingin mencurahkan bebannya. Hujan sekilas dibawa angin saat kami bernaung di warung, kemudian dilanjutkan ke pokok pembahasan mengenai latar bangunan militer kolonial di Pasirmalang,

Bentuknya memanjang mengikuti punggungan perbukitan, panjang fasadnya kurang lebih 30 meter. Berupa struktur bangunan yang memiliki dua tangga dari arah selatan, kemudian bagian atasnya datar. Kemungkinan di bagian atasnya berdiri senjata altileri anti pesawat udara. Di bagian utaranya dipagari oleh beton, sejajar dan memanjang mengikut tepian gawir sekitar 20 meter. Disetiap sisinya tesedia tangga yang mengarahkan ke bagian atap, area terbuka yang mampu melihat kesegala arah mata angin. Disetiap sisi bangunan didapati ruangan kotak memanjang, dilengkapi satu pintu, dan dua lubang ventilasi. Dindingnya sangat tebal, kurang lebih 120 centimeter. Dicor menggunakan beton, dengan tulangan besi dibagian atapnya. Sehigga bisa diduga bahwa fasilitas ini disebut bungker, atau tempat persembunyian pada saat serangan musuh melalui udara. Beton tebal tersebut diperkirakan mampu menyerap energi bom udara, walaupun tidak ada tanda-tanda bekas ledakan hasil serangan musuh.

Secara geografis bungker ini didirikan diatas tinggian Sukamulya, bagian dari blok naik Sesar Lembang. Barangkali kalau vegetasi yang hilang, akan telihat jelas dataran tinggi Cicalung Lembang di sebelah utara, dibatasi oleh tinggian G. Putri dan G. Sukatinggi. Sedangkan melihat ke arah selatannya dalah Cekungan Bandung. Tidak ada informasi yang memadai mengenai sejarah pendirian benteng ini, hanya di beberapa sumber menuliskan angka tahun 1922. Selebihnya adalah misteri gelap yang menyelimuti, kapan dan untuk apa benteng ini didiran di tinggian Sesar Lembang.

Dalam penyebutan benteng mungkin kurang tepat, mengingat fungsinya bukan sebagai pertahanan dari musuh. Benteng militer biasanya digunakan sebagai markas batalyon dan tempat penyimpanan perlatan perang dan logistik. Sedangkan struktur bangunan di Pasirmalang lebih tepat disebut sebagai bungker. Fasilitas militer tersebut dibangun seiring kebutuhan sistem pertahanan pasukan KNIL, menjelang masuknya tentara Jepang pada 1942.

Kolonial sudah mempersiapkan strategi pertahanan, sekitar wilayah kota Bandung. Sehingga fasilitas-fasilitas militer ini tersebar ditinggian perbukitan dan gunung yang melingkupi kota. Secara geografis. Diperkirakan pembangunan bungker-bungker yang berfungsi sebagai pos pengamatan, sekaligus untuk menempatkan altileri anti pesawat udara. Didirikan oleh KNIL pada masa interbellium atau masa antar perang antara 1918 hingga 1939, atau menjelang pecahnya perang dunia ke-2. Setelah lepas dari perang dunia ke1, kekaisaran Jepang muncul sebagai negara kuat di Asia. Sehingga kolonial Belanda menduga akan datang ke Hindia Belanda, dengan tujuan mencari sumber daya alam. Dalam masa persiapan perang tersebut, pemerintahan Hindia Belanda mengeluarkan dokumen Prinsp-Prinsip Pertahanan 1927, kebijakan yang mendukung strategi militer Hindia Belanda pada saat itu. Diantaranya angkatan darat dan laut harus mampu menjaga keamanan negeri koloni Hinda Belanda.

Dari keterangan diatas kemungkinan KNIL mendirikan bungker-bungker anti pesawat udara dan pos pengamatan sejak 1920-an. Seiring pemindahan pusat militer Hindia Belanda ke Bandung. Dalam keterangan buku lama Militaire aardrijskunde En statistiek van Nederlandsch Oost Indie, 1919 menuliskan, sistem pertahanan Hindia Belanda memanfaatkan dataran tinggi dan perbukitan yang memagari cekungan Bandung. Diperkirakan keberadaan bungker-bungker ini turut mengendalikan jalannya pertempuran, saat tentara kekaisaran Jepang datang melalui Ciater Subang pada 5-7 Maret 1942.

Selepas dari bunker Pasirmalang, dilanjutkan ke geotapak ke-dua pertemuan dua sungai. Tepat di tepi gawir Langensari-Pasirsela, mengalirlah Ci Gulung bagian dari DAS Ci Kapundung. Sungai yang hulunya dari Cikole, penggabungan dari sungai-sungai kecil. Diantaranya Ci Putri, Ci Kukang, Ci Bogo, dan Susukan Legok. Airnya relatif deras, mengalir di atas aliran lava tebal produk letusan efusif G. Tangkubanparahu. Lidah lavanya menerus hingga berhenti di Curug Dago. Dalam stratigrafi yang disusun Nasution (2004), aliran lava tersebut hasil produk Gunung Tangkubanparahu Tua dan Muda, umur 40.000 tahun yang lalu. Dari tinggian Langensari, terlihat lembah yang sangat dalam, mengalir diantara G. Putri mengalir ke arah selatan. Dari data peta topografi RBI (2001), memperlihatkan aliran Ci Gulung mengerosi dasar blok naik Sesar Lembang, mengalir ke arah timur. Dalam tafsiran sistem sesar, menandakan aliran sungai tersebut berbelok akibat pergeseran dari sesar normal ke sesar geser mengiri.

Geotapak ke-tiga adalah melihat fitur batuan beku ekstrusif tersebut tersingkap dikawasan wisata Maribaya Natural Hot Springs Resort. Berupa breksi lava (auto breccia) bagian flow top dicirikan vesikular, berwarna hitam menandakan basal. Disebagian tempat ditemui juga struktur entablature, berupa struktur kekar kolom yang tidak beraturan tegak.

Debit airnya deras dan keruh mengingat sungai ini menangkap sedimentasi pertania di hulu, kemudian dibawa hingga ke arah hilir. Sedikit ke hilir dari lokas wisata ini, didapati Curug Cikawari. Aliran Ci Kawari yang berhulu di G. Buleud dan G. Bukittunggul bagian barat. kualitas airnya relatif lebih jernih, mengingat sungainya melalui area huta produksi PT Perhutani (Persero) KPH Bandung Utara. Ci Kawari dan Ci Gulung kemudian bertemu di Curug Omas, bersatu dengan Ci Kapundung. Ci Kapundung kemudian mengalir ke selatan sejauh 28 kilometer, membelah kota Bandung. Muaranya di sekitar Dayeuh Kolot, bertemu dengan Ci Tarum.

Kegiatan ditutup diacara buka bersama, di Travel Tech Ciburial Bandung Utara. Dalam penutupan acara, peserta berdiskusi bahwa bentang alam bisu, bila tidak dibunyikan dalam bentuk penafsiran bumi. Dengan demikian kegiatan Georuban berusaha menyuarakan suara bumi, dengan tujuan memahami bagaimana bumi bekerja; lava yang mengalir dari kegiatan letusan gunungapi; arah aliran sungai yang dipengaruhi oleh struktur sesar; dan terakhir adalah upaya strategi militer kolonial memanfaatkan bentang alam Bandung utara, sebagai benteng pertahananan dengan membangun bungker-bungker dan pos pengamatan militer di sepanjang punggungan Sesar Lembang.

Penjelasan blok naik dan turun Sesar Lembang.
Penejlasan posisi titik bungker Pasirmalang.
Srutkur kekar kolom yang tersingkap di Curug Ci Gulung Maribaya.
Bungker Pasirmalang.

Diklat I DPW Bekasi Raya 2023

Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan/Diklat Pemandu Geowisata Angkatan I, diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah Bekasi. Diklat ini merupakan kegiatan pertama organisasi yang berada di sekitar wilayah Kabupaten Bekasi, dengan tujuan pengenalan kerja pemanduan geowisata serta kemampuan untuk melaksanakan kegiatan pemanduan geowisata.

Dilaksanakan di aula Desa Lenggah Jaya, Cabangbungin, Kabupaten Karawang. Dibuka oleh Ketua DPW Bekasi Raya, dilanjutkan sambutan dari Ketua Dewan Pembina DPW Bekasi Raya dan Ketua Dewan Pengurus Nasional. Acara secara formal dibuka oleh pemerintah daerah, melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Bekasi, Kasi SDM.

Narasumber diantaranya berasal dari organisasi PGWI, diantanya materi persiapan dan penyusunan geowisata, pemanduan geowisata, melakukan konservasi alam dan budaya dan ditutup di hari ke-dua berupa praktek lapagan.

Narasumber diantaranya Deni Sugandi, M Rizki H., Syiar Muslim, Zarindra, Sodikin Kurni, M Sodikin dan Deden Nursam. Praktek lapangan dilansakan di Muaragembong, sebelah utara Kabupaten Bekasi. Peserta diklat diarahkan praktek pemanduan, dan ditutup oleh kegiatan evaluasi.

Catatan Geourban#11 Jayagiri

Kegiatan syiar geowisata di Cekungan Bandung ini dilaksanakna bertepatan dengan bulan ramadhan, pada hari Sabtu, 8 April 2023. Kegiatan ini mengupas rahasia bumi, peristiwa dinamika alam, hingga budaya yang menempati dataran tinggi Lembang. Kegiatan ke-11 ini mengambil tema Jayagiri, kawasan di sebelah utara kota Lembang, berada di lereng G.Tangkubanparahu sebelah selatan. Kawasan ini menarik untuk dikupas dalam kegiatan ini, mengingat beberapa dinamika bumi dan budaya yang berlangsung telah mengukir sejarah dunia. Diantaranya menapaki kembali akhir riwayat dan hasil karya Junghuhn sembilan tahun terakhir, antara 1855 hiingga meninggal 1865. Sekembalinya ke tanah Jawa Barat, Junghuhn diminta untuk membudidayakan kina selama sembilan tahun terakhir, hingga produksi kina menduduki peringkat pertama di dunia. Tujuan lainya adalah mengunjungi sumber mata air Cikahuripan, mengalir diantara dua litologi, dan mengunjungi rumah terakhir Junghuhn.

Geourban merupakan upaya syiar geowisata, menggerakan dan inisiatif jejaring sumber daya manusia di keorganisasian PGWI, hingga membangun ekosistem geowisata di Cekungan Bandung. diusahakan oleh perkumpulan Pemadu Geowisata Indonesia/PGWI, sejak 2020. Kegiatan ini bersifat probono (tidak dipungut biaya), bermaksud mengaikan jejaring lokal dengan industri pariwisata, melalui kemungkinan-kemungkinan pembuatan paket wisata dan pola perjalanan pariwisata sekitar dataran tinggi Bandung.

Kegiatan dibuka pukul 14.00 WIB di ruang aula sederhana, di kantor Desa Cikahuripan. Kurang lebih telah hadir 25 peserta dari berbagai latar belakang. Diantaranya mahasiswa pariwisata UPI, pegiat wisata, pemandu wisata, penulis, profesional hingga ibu rumah tangga. Hadir dalam kegiatan ini sejak pukul 08.00 WIB di kantor Desa Cikahuripan, Lembang. Kabupaten Bandung.

Dalam brifing awal kegiatan ini, Deni Sugandi selaku pemandu geowisata, menyampaikan rencana kegiatan. Diantaranya mengunjungi tapakbumi yang berkaitan dengan tema sejarah letusan G. Pra-Sunda-Sunda dan kina yang dibudidayakan di lereng sebelah selatan G. Tangkubanparahu oleh Junghuhn. Menapakai kembali jejak Junghuhn dalam lawatan ke-dua hingga akhir hayatnya. Junghuhn kembali ke Belanda setelah tetirah untuk berobat, kemudian kembali ke pulau Jawa pada 1855. Seiring tubuhnya yang digerogoti sakit menahun, ia diminta untuk mengembangkan budidaya Kina di dataran tinggi Priangan. Kunjungan selanjutnya ke sumber mata air kontak Cikahuripan, interpretasi morfologi Cekungan Bandung dan pembentukan gunungapi di utara di  makam panjang yang berada persis di jalur sesar Lembang. Kemudian melihat kembali bukti endapan awan panas Pra-Sunda dan G. Sunda, monumen Junghuhn dan terakhir ditutup di padepokan Pasiripis Jayagiri, Lembang.

Acara dibuka secara sederhana, dengan perkenalan setiap partisipan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan singkat oleh Kang Dodi  selaku pegiat wisata Cikahuripan. Ia menyampaikan aktivitas wisata di Desa Cikahuripan, seperti kunjungan ke situ religi Makan Panjang di Pasirwangi, Mataair Cikahuripan yang mengalir diantara rekahan bongkah lava, hingga tapakbumi Batugantung di lembah imah seniman. Disambung oleh penjelasan ibu Nia yang menguraikan Usaha Kecil Menengah yang dikerjakan oleh warga Desa Cikahuripan, diantranya jenis-jenis kuliner hingga produksi makanan kemasan.

Dalam pemaparan awal, Deni memberikan gambaran geografis lokasi kunjungan. Desa Cikahuripan berada dijalan utama penghubung Cimahi-Lembang melalui jalan Kolonel Masturi. Delinasi desanya meliputi lereng selatan G.Tangkubanparahu, termasuk kawah utama gunungapi tersebut. Kemudian di sebelah selatannya persis berbatasan dengan jalur Sesar Lembang segmen Cihideung (Daryono. 2016). Masyarakat mengeluhkan bahwa desa ini hanya menjadi jalan pintas menuju destinasi pariwisata yang dikelola oleh kapital besar, seperti wisata Tangkubanparahu, glamping Cikole. Lembang Park and Zoo. Sehingga masyarakat bukan saja sebagai penonton, namun berharap mampu mendorong pariwisata berbasis masyarakat di Desa Cikahurpan. Harapan tersebut memiliki tantangan tersendiri, karena diapit oleh dua sumber potensi bencana geologi.

Sebelah utara diancam oleh kegiatan letusan gunungapi dan sebelah selatannya digoyang oleh potensi gempa Sesar Lembang. Sehingga desa ini mengikuti program Destana, Desa Tangguh Bencana, didampingi oleh Bandung Mitigasi Hub dan tim Pengabdian Masyarakat ITB. Kegiatannya berupa pendampingan melakui Pendekatan Pengurangan Risiko Bencana Berbasis komunitas. Kelembagaanya melalu Desa Tangguh Bencana (Destana), melalui rancangan yang dituangkan ke dalam Rencana Induk Desa Wisata Tangguh Bencana. Selain bahaya geologi yang mengancam warga Cikahuripan, desa ini menyajikan bentang alam yang menawan. Diantarnya dataran tinggi perbukitan, potensi perkebunan, dan posisi strategis geografis. Modal dasar ini dibuka dalam kegiatan Geourban.

Kunjungan pertama adalah melihat kembali sumber mata air di sebelah utara timur desa. Dilalui melalui perjalanan singkat dari kantor desa, menggunakan roda dua. Kemudian dilanjutkan berjalan kaki kurang lebih 10 menit menuruni lembah Ci Hideung. Terdiri dari dua mata air, dibagian bawah yang kini telah dibantun struktur bangunan beton, kemudian dibagian atas diantara perkebunan rakyat. Airya mengalir diantara celah batuan lava.

Disebut mata air Cikahuripan yang selalu mengalir walapun masuk dimusim kemmarau. Dodi menyampaikan pepatah orang tua “bilamna harga beras naik, maka mata air Cikahuripa kering”. Makna tersebut mengandung pemahaman bahwa sawah-sawah yang berada di dataran rendah Bandung, sangat bergantung kepada mata air disebelah utara. Sehingga bisa dipahami bilamana suplai air hilang, maka para petani tidak bisa bercocok tanam. Dampaknya harga kebutuhan pokok akan melambung naik. Pesan konservasi tersebut ditegaskan kembali oleh narasuber Fajar Lubis dari Brin. Ahli hidrogeologi tersebut memaparka perluanya konservasi di daerah hulu, agar sumber mata air Cikahurpan tidak terganggu. Fajar meyampaikan demikian, karena kekhawatirannya dengan pembangunan di hulu, seperti bangunan dan perubahan tata guna lahan akan mempengaruhi sumber mata air yang muncul di sekitar Cikahurpan.

Sumber mata air Cikahuripan mengalir diantara dua litologi, disebut mata air kontak. Di bagian atasnya adalah piroklakstik pembawa air (akifer), kemudian mengalir pada bidang datar berupa lava. Menurut Dodi, airnya mengalir baik walaupun memasuki kemarau. Ia menunjuk sumber mata air yang ada di bagian bawah, kini mengalirka debit air kecil, karena telah terjadi perubahan lahan dengan pembagunan fasilitas berupa bangunan tembok. Diduga pembangunan struktur beton tersebut menganggu sumber mata air. Dodi melukiskannya, airnya menjadi “pundung” atau marah karena diganggu.

Kunjunga ke-dua menuju Pasirwangi, perbukitan di sebelah selatan desa Cikahuripan. Lokasinya merupakan perbatasan antara Desa Cikahuripan dan Desa Gudang Cikahurpan. Lokasi pemakam umum, terletak persis di jalur sesar Segmen Cihideung. Dari titik tinggi ini bisa melihat bentang alam 360 derajat ke segala arah. Di utara berupa kerucut G. Burangrang-Tankubanparahu, dibagian lerengnya terlihat punggungan batas kaldera G. Sunda. Disebut punggungan perbukitan Sukatinggi, menjang antara Sukawana hingga G. Putri-Cikole Lembang.

Kunjungan terakhir adalah ke situs monumen Junghuhn di Jayagiri. Lahan yang berdiri di atas lahan seluas 2.5 Ha, dibawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat. Disebut Cagar Alam Junghuhn, didirikan sejak 21 Februari 1919. Memuat monumen peringatan Junghuhn, dan makan koleganya saat membudidayakan kina. Johan Eliza de Vrij meninggal pada 1862, dikuburkan di sebelah timur. Ahli farmakologi yang mendampingi Junghuhn dalam pengembangan obat kina, dan sekaligus sebagai penasehat proyek pembudidayaan Cinchonia di Bandung utara, Cinyiruan Bandung selatan.

Dalam linimasa sejarah kina, mulai dikenal sekitar 1630. Dibawa oleh para misionaris Spanyol yaitu cardinal Juan de Lugo ke daratan Eropa dari Amerika selatan. Kemudian pada 1852 J.F.Teysmann membawa jenis kina Cinchona calisaya. Dibudidayakan di Kebun pegunungan Cibodas (Kebun Raya Cibodas). Namun seiring waktu, pembudidayaanya tidak memberikan hasil yang baik, sehingga 1852 C.F. Pahud menugaskan Justs K. Hasskarl untuk mencari bibit kina dari Bolivia. 1854 ditanam di Cibodas dan Cinyiruan.

Junghuhn kembali ke pulau Jawa untuk kedua kali, setelah beberapa tahun tetirah untuk mengobati penyakitnya. 1855 F.W. Junghuhn sampai di Pulau Jawa.  membawa 139 tanaman asal biji yang berasal dari Belanda, jenis kina C. Calisaya var javanica. Kemudian pada 1855-1857 Pembukaan perkebunan kina di Cinyiruan, dan Junghuhn menjadi pengawas. Puncak karir Junghuhn adalah 1858-1862 Bersama Johan Eliza de Vrij seorang farmakolog, sebagai penasehat proyek cinchonia  membudidayakan kina Bandung utara, Cinyiruan.

Akibat penyakitnya yang menahun, pada 24 April 1864 Junghuhn meninggal dunia di Jayagiri Lembang. 1898 Johan Eliza de Vrij, dimakamkan dekat tugu Junghuhn

Menjelang kepergiannya menuju alam fana, Junghuhn pernah berujar, “Sahabku, tolong bukakan jendela itu. Saya ingin menyapa gunung, hutan untuk terakhir kalinya” ujar Junghuhn kepada sahabatnya Isaac Groneman. Rangkaian kalimat tersebut mengantarkan seorang penjelajah, kartografer, geolog, ahli botani, dan sastrawan ini kembali ke sang pemilik semesta.

Kegiatan ditutup di padepokan Pasiripis, Jayagiri, Lembang. Dipungkas oleh kegiatan buka bersama, sekaligus menutup kegiatan Geourban ke-12.