Kegiatan geowisata Bandung bagian selatan, masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung ini diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Dewan Pengurus Wilayah Bandung Raya. Kegiatan ini terbuka untuk umum yang menaruh minat khusus dengan ilmu kebumian populer, sejarah budaya. Dilaksanakan secara berkala, dalam rangkain aktiviasi jejaring, menggali potensi geowisata Cekungan Bandung dan sarana belajar kepemanduan di PGWI.
Pelaksanaan geowisata ke Gunung Padang Ciwidey, dibuka terlebi dahulu dengan kegiatan daring (19/7, 2021) melalui pertemuan virtual. Kegiatan ini sebagai sarana penjelasan umum, hingga rencana teknis pemberangkatan. Materi yang disampaikan oleh Deni Sugandi, selaku pemandu geowisata, bersama narasumber lainya. Berkaitan sejarah disampaikan oleh Gangan Jatnika, dan Sodikin Kurdi. Pertemuan awal ini berguna untuk persiapan kegiatan lapangan, termasuk apa saja dan bagaimana kegitan geowisata ke Bandung selatan ini dilaksanakan.
Mengambil titik pertemuan di sekitar Soreang (21/7, 201). Dihadiri oleh 21 orang peserta dengan latar belakang yang beragam. Komunitas pegiat wisata, guru geografi, komunitas budaya Sunda, pemandu geowisata hingga komunitas jalan-jalan di Bandung. Kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB, menggunakan modra transpotasi roda dua, menuju statsiun Ciwidey. Bangunan cagar budaya ini merupakan bukti kejayaan jalur keretaapi Soreng-Ciwidey yang dibangun pemerintah kolonial, dalam upayanya mempersingkat jarak distribusi hasil perkebunan dari Ciwidey ke kota Bandung. Dibuka 1924 melalui beberapa statsiun, mengikuti kontur Ci Widey yang berkelok-kelok. Dalam pembangunan jalur kereta api pada masa itu, menuntut kemampuan teknis, diantaranya adalah teknik yang berkaitan dengan pembuatan struktru jembatan besi. Kemampuan rekayasa teknis ilmu sipil kolonial, hingga kini masih bisa disaksikan di lokasi kunjungan ke-dua.
Jembatan Rancagoong yang membentang barat-timur, melewati Ci Widey dengan panjang kurang lebih 100 meter. Dibangun di atas struktur beton dengan menggunakan rangka besi melengkung. Dibangun sebagai sarana penghubung perkebunan dengan jalur distribusi perdagangan di Bandung selatan. Namun pelayanan jasa transportasi kereta api harus tutup awal tahun 80-an, karena kalah bersaing dengan kendaraan roda empat yang semakin menggeliat. Karena tidak bisa lagi menutup biaya operasional, jalur kereta api Soreang-Ciwidwey akhirnya ditutup.
Kunjungan berikutnya adalah ke Gunung Padang, di Rawabogo, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung Barat. Wilayah tinggian perbukitan yang dikelilingi oleh pohon tegak pinus, kemudiand dimanfaatkan oleh masyarakat, melalui pengelolaan tani mandiri perkebunan kopi. Wilayahnya berbatasan antara Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung. Sejak penciptaan daratan Jawa bagian barat 30 juta tyl, (Gunung) Nagara Padang Rawabogo di Ciwidey hadir belakangan. Berupa intrusi batuan beku, sekitar Plistosen Akhir atau sekitar 1.8 juta tyl. Saat ini bongkah-bongkah batuan lava bertebaran dan lapuk berwujud ragam bentuk, menata wajah perbukitan ini menjadi wilayah sakral, tempat bersemayamnya sejarah Sunda.
Deni Sugandi dan Zarindra memberikan penjelasan dari sisi fisik, bahwa perbukitan Gunung Padang merupakan sebuah tubuh batuan beku yang mengalami pelapukan. Dicirikan dengan bongkah-bongkah batuan yang menempati wilayah sebelah timur, dengan bentuknya yang menjulang tinggi. Kemudian di bagian tengah punggungan perbukitan ini, didapati bongkah-bongkah batu yang menyerupai kepala binatang melata hingga bentuk mamalia besar seperti gajah.
Acara ditutup dengan makan siang bersama, bekal yang sebelumnya telah dibawa dari rumah masing-masing. Kegiatan Geourban#1 ini adalah berupaya menyampaikan pesan, potensi wisata bumi dan sejarah berdampingan. Langkah selanjutnya mengaktivasi kegiatan wisata kebumian dan budaya melalui pengemasan paket wisata yang berkelanjutan, termasuk mendorong warga lokal sebagai pemilik wilayah, memiliki porsi peningkatan ekonomi melalui kegaitan pariwisata alam. (DS)
Ujungberung diintepretasikan hadir jauh sebelum Daendels membuat jalan Raya Pos 1810-1811. Dengan demikian sudah ada budaya yang hadir di sebelah Bandung Timur. Merujuk peta lama, Kaart van de Priangse landen ofwel een gedeelte van de noordkust van Java, 1600. Menyebutkan hadirnya wilayah di sebelah utara Parakanmuncang.
Kunjungan pertama adalah menapaki aliran lava di Ci Panjalu. Lokasinya terletak di Cilengkrang utara, sejajar dengan jalan Palalangon, Kabupate Bandung. Jalan yang menghubungkan Cigending atau Alun-alun Ujungberung ke utara, melalui Palintang. Dialiran sungai tersebut didapati dua air terjun, sebelah utaranya adalah Curug (air terjun) Orok, mendekati ke arah Jembatan Cipanjalu. Kemudian ke arah hilinya disebut Curug Kacapi. Dilokasi ini didapati sumber mata air, dari rekahan batuan lava. Disebut mata air kontak, terbentuk akibat kontak antara lapisan akuifer dengan lapisan impermeable pada bagian bawahnya. Air mengalir pada batuan piroklastik yang memiliki porositas, bersifat meloloskan air. Kemudian mengalir di atas batuan lava dan keluar melalui biidang-bidang rekahan.
Sungai tersebut merupakan lembah yang dialasi oleh batuan lava berwarna abu-abu gelap. Berupa lava tebal dengan struktur kekar kolom. Di Curug Kacapi membentuk dinding tegak yang diperkirakan merupakan struktur sesar minor. Batuannya berupa lava tebal, dengan struktur kekar lembar. Batuannya cenderung berwarna hitam, menandakan pengaruh kualitas air yang tercemar berat. Mengingat Ci Panjalu hulunya di Cilengkrang, bagian dari Daerah Aliran Sungai Ci Tarum.
Jalan tersebut memisahkan dua batuan penyusun yang berbeda. Disebelah timurnya merupakan produk hasil kegiatan letusan gunungapi Manglayang. Kemudian disebelah baratnya adalah endapan dari kegiatan kegunungapian Prasunda-Sunda dan Tangkubanparahu. Soetoyo dan Hadisantono (1992), menguraikan stratigrafi gunungapi blok Cimenyan-Cilengkrang, disusun oleh endapan kegiaatan gunungapi Prasuda-Sunda-Tangkubanparahu. Produknya diantaran tuff, piroklastik dan aliran lava.
Umurnya sekitar Pleistosen, seperti yang disampaikan dalam hasil penelitian Kartadinata (2005). Endapan yang hadir di sektiar lereng selatan G. Palasari, adalah hasil dari empat fase letusan gunungapi di sebelah utara. Yaitu produk letusan Prasunda, kemudian Sunda, Tangkubanparahu Tua dan fase terakhir adalah G. Tangkubanparahu Muda.
Lava yang tersingkap sangat masif/tebal, dierosi sungai dan membentuk ari terjun. Arah alirannya dari utara ke selatan, memotong lava masih dengan struktur berlembar. Dalam penelitian Naufal Fajar Putra (2021), dimasukan kedalam Satuan Aliran Lava 3 Cisanggarung, mendetailkan hasil penelitian Soetoyo dan Hadisantono (1992) dalam satuan aliran lava Sunda (Sl).
Arah alirannya dari utara ke selatan, sehingga sumber lava di Curug Orok masuk ke dalam Satuan Aliran Lava dari hasil kegiatan letusan penutup pembentukan kaldera Sunda. Dari keterangan di atas, bisa dipastikan batuan di Curug Orok dan Curug Kacapi merupakan batuan beku, hasil kegiatan letusan efusif G. Sunda. Melalui mekanisme aliran lava, mengisi lembah antara G. Palasari-Cilengkrang dan G. Manglayang. Diendapkan miring ke utara, mengikuti topografi sumber aliran.
Strukturnya berlembar, menandakan pada saat lava dialirkan dan membeku. Seiring waktu kehilangan pembebanan dibagian atas, sehingga membentuk struktur berlembar. Struktur yang terbentuk pada batuan berlembar dan mendatara/ horisontal sejajar dengan arah tekanan. Penghilangan pembebanan bisa terjadi karena proses erosi, sehingga material penutup hilang. Kekar lembar di Curug Orok dan Kacapi karena dierosi oleh aliran sungai.
Beralih lokasi kedua, ke arah hulu Ci Panjalu di lereng G. Palasari. Gunung dengan kerucut khas yang hampir mendekati angka dua ribu meter dpl. Menjulang tinggi dan berada pada sistem sesar Lembang segmen timur. Tingginya 1857 meter dpl., berhawa sejuk dan sering tertutup kabut. Kawasannya berada di Perum Perhutani Bandung Utara, sedangkan secara administratif berada di dua desa, Girimekar dan Cipanjalu.
Jalur pendakian terpendek melalui sisi sebelah timur. Diantara punggungan G. Kasur-Manglayang dan G. Palasari, melalui jalan Palintang. Ditempuh sekitar 1.3 km, dengan pertambahan ketinggian sekitar 330 meter, antara lokasi awal pendakian hingga puncak. Dalam pembagian fasies gunung, pendapat Boogie dan Mckenzie (1998). Pendakian dimulai pada fasies proksimal, dengan keterdapatan lava, bresi tuff, hingga tuff lapili. Sedangkan pendakian dari pos awal hingga puncak tidak mendapati sebaran batuan tersebut.
Dengan demikian G. Palasari tidak bisa digolongkan sebagai gunungapi, walaupun memiliki morfologi kerucut. Keberadaanya duduk dijalur Sesar Lembang segmen timur. Mudrik Daryono menyebutkan, panjang sesar tersebut adalah 29 km, mula dari Cilengkrang dibagian timur, kemudian memanjang ke arah timur hingga sekitar ngamprah. Sedangkan pendapat lainya, seperti Iyan Haryanto (2024), melalui pola pengaliran sungai, ekspresi morfologi dan bukti lapangan di tol Cisumundawu membuktikan lain. Iyan memperkirakan jalur Sesar Lembang ini bisa mencapai 40 hinggga 45 km. menerus diutara G. Manglayang hingga Sumedang timur.
Di puncak G. Palasari didapati bidang datar, dengan ukuran kurang lebih 10 x 10 meter. Membentuk persegi hampir kotak, terdiri dari dua pelataran. Dari keketerangan warga, bahwa dahulu masih ada tumpukan batu namun kini sudah sudah hilang. Alasan hilangnnya susunan batuan tersebut tidak pernah ada yang tahu.
Bila merujuk kepada hasil penelitian Dani Sujana (2019), menempatkan tinggian seperti gunung atau perbukitan yang menjulang, dimanfaatkan sebagai simbol sakral dan suci. Baik dari kebudayaan megalitik, menerus hingga kebudayaan Sunda klasik. Diwujudkan dengan cara membangun situs-situs keagamaan, seperti punden berundak. Keberadaanya tentunya perlu penelitian lebih lanjut, mengingat G. Palasari memiliki peranan penting, mengingat di lereng utara ditempat kebuayaan batu loceng. Di bagian selatannya merupakan peradaban Arcamanik, dicirikan dengan peninggalan arca bercorak Hindu.
Dengan demikian perlu untuk menggali dalam bentuk penelitian, dan kajian yang lebih mendalam tentang objek wisata bumi di Ujungberung utara.
25-23 juta tahun yang lalu, kawasan Citatah merupakan pulau-pulau yang disusun koral dan binatang laut.Lautan dangkal yang menyerong ke baratdaya hingga ke teluk Palabuhanratu. Sedangkan batas pantainya berada di tinggian Pangalengan saat ini, sedangkan di sebelah selatannya dipagari gunungapi bawah laut.
Sekitar 15 juta tahun kemudian, sebagian daratan Jawa bagian barat terangkat. Muncul di atas gelombang laut melalui kegiatan tektonik. Didorong oleh pergerakan lempeng benua Indo-Australia, dari selatan ke utara dan menyusup di bawah Jawa sekitar 7 cm per tahun. Kondisi demikian menyebabkan sebagian besar perbukitan karst Citatah naik hingga 700 meter dpl, kemudian terlipat dan tersesarkan. Terbentuklah struktur bagian dari sistem sesar Cimandiri, segmen zona gempa Cimandiri-Saguling, diiringi pergeseran gunugapi api dari jajaran selatan ke arah utara. Sekitar 1,8 juta tahun kemudian, lahirlah jajaran gunugapi modern yang menghiasi dan memberikan berkah.
Dinamika bumi tidak berhenti, terus bergerak hingga kini. Menata wajah bumi tanpa henti, melalu peristiwa gempat, gunungapi meletus, hingga gerakan tanah. Dalam kegiatan Geourban ke-25, di penutup akhir tahun 2024. Mengundang untuk berparisipasi, menggali fitur dan rahasia bumi, dalam kegiatan geowisata di Citatah. Menapaki kembali ragam rona di kawasan perbukitan karst Citatah. Intrusi batuan beku Cisampih, fosil binatang laut di Pasir Balukbuk, dan gua karst di Sanghyang Lawang, Cipatat, KBB.
Hari/Tanggal Minggu, 22 Desember 2024
Waktu 07.00 WIB sd. 12.00 WIB.
Titik Pertemuan (Meeting point) Tebing 125 Citatah, Padalarang, KBB
Pendaftaran dan konfirmasi kehadiran 081322605025 Nanang, 087700290444 Tommy
Inisiasi Diselenggarakan melalui kolaborasi Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Asosiasi Pemandu Wisata Gunung (APGI) Dewan Pengurus Prov. Jawa Barat, Pramuka Wana Bakti dan Forum Pemuda Peduli Karst Citatah.
Lerengnnya melampar hingga batas jalan raya Ujungberung. Merupakan tekuk lereng aliran dan piroklastik PraSunda dan Sunda, hingga dibatasi oleh dataran rendah ke arah selatan. Dibagian utaranya merupakah blok naik Sesar Lembang segmen Batuloceng.
Lereng tersebut disusun oleh aliran lava tebal G. Prasunda dan Sunda. Kemudian ditutup oleh piroklatik yang telah lapuk. Seiring waktu tererosi kuat, membentuk lembahan ditoreh air dan membentuk sungai-sungai. Alirannya bergeraka ke utara, kemudian masuk menjadi badan air disebut Danau Gegerhanjuang. Merupakan bagian dari sistem Danau Bandung Purba bagian timur, yang mengalami pengeringan. Dalam peta lama F. de Haan (1911), danau tersebut mendekati susut dan ditempati oleh rawa disebut Muras. Melampar dari batas tekuk lereng Ujungberung, hingga ke arah selatan hingga batas aliran Ci Tarum.
Disebut Muras Gegerhajuang, bagian dari sistem danau Bandung Purba. Segmen rawa ini menempati dataran rendah dengan elevasi 678 m dpl. Membentuk rawa (muras), membentang dari utara sekitar jalan raya Ujungberung, kearah selatan hingga dibatas jalan raya Baleendah-Ciparay.
Kondisi demikian menyebabkan hunian berada di sebelah utara, menghindari rawa. Lingkungan tersebut mengundang hadirnya malaria. Selain itu rawa bukannlah tempat yang tidak ideal untuk mendirikan rumah, karena kondisi permukaanya yang mudah amblas. Termasuk sulitnya mendapatkan air layak minum. Sehingga hunian dan peradaban bergeser ke arah utara, relatif lebih aman, sumber daya alam melimpah dan lebih sejuk.
Lahan yang subur, menarik juragan perkebunan Andries de Wilde merintis perkebunan kopi di utara Ujung Berung jauh sebelum jalan Raya Pos Daendels dibuat. Pembuatan jalan tersebut bertujuan menggerakan distribusi pengiriman kopi dari priangan pedalaman hingga ke Batavia melalui Cikao Bandung Purwakarta. Sedangkan jalur distribusi ke arah timur, didistribusikan di gudang kopi di Karangsambung. Lokasi tersebut kini jembatan Ci Manuk di perbatasan Sumedang dan Majalengka atau sekitar Tomo.
Kondisi alam demikian, mendorong budaya menyebar ke arah utara atau sekitar Cimenyan. Kehadiran peradaban tersebut, dikuatkan dengan keterangan dari catatan perjalanan Bujangga Manik. Diyakini kebudayaan disekitar utara muras tersebut hadir sejak abad ke-16. Dicirikan dengan temuan situs budaya dan kepercayaan masyarakat lokal tentang sebaran patilasan.Tinggalan budaya berupa pekuburan tua dengan ciri seperti circle stone (batu gelang). Tersebar di Pasir Panyandaan, Cimenyan hingga berbatasan dengan Caringintilu, Kabupaten Bandung di bagian baratnya.
Kebudayan lama tersebut hidup di atas endapan batuan gunungapi purba. Disusun lava dan piroklasatik. Aliran lavanya mebentuk struktur berlembar, akibat proses pembekuan dan kondisi geologi. Dibeberapa keterangan lama, menyebutkan bentuk demikian adalah wujud dari struktur bangunan (candi?). Struktur kekar lembar (sheeting joint), dimanfaatkan sebagai penghias bangunan pemerintahan, seiring rencana pemindahan ibukota Hindia Belanda ke Bandung.
Bukti endapan aliran lava masih terlihat jelas, di Curug Batu Templek, Cisanggarung dan di Sentak Dulang. Dua lokasi kegiatan penambangan, yang sudah dibuka sejak jama kolonial. Bukti penggunaan batuan tersebut dicatatkan Haryoto Kunto (1986), pondasi Gedung Sate menggunakan batuan yang diambil dari kawasan ini. Batuannya idelal, keras dan memiliki struktur berlembar sehigga disebut struktu sheeting joint, atau kekar lembar. Terbentuk demikian akibat pelepasan beban penutup, sehingga terbentuk rekahan yang mendatar. Dimanfaatkan dengan cara mencongkel rekahan tersebut dan digunakan sebagai pondasi hingga sebagai estetik bangunan.
Asal-usul lava tersebut bersumer dari kegiatan letusan guungapi purba, hadir jauh sebelum Danau Bandung Purba terbentuk. Dalam Peta Geologi Lembar Bandoeng (Geologische Kaart van Java), disusun oleh Bemmelen (1934) menyebutkan litologinya merupakan batuan gunungapi tua. Kemudian didetailkan dalam pemetaan stratigrafi gunungapi oleh Soetoyo dan Hadisantono (1992), merupakan aliran lava hasil letusan gunungapi PraSunda (Prs), kemudian ditutupi oleh produk gunungapi berikutnya yaitu G. Sunda (Sl). Berupa lava andesit abu-abu gelap, porfiritik dengan fenokris plagioklas, piroksen dan sedikit mineral bijih dalam masa dasar gelas dan mineral halus.
Di Pasir Panyandakan, menerus hingga Sontak (sentak?) Dulang, merupakan produk gunungapi PraSunda. Lava ini dianggap paling tua karena kontak langsung dengan batuan sedimen umur Tersier (Soetoyo dan Hadisantono, 1992).
Kebutuhan sumber daya alam tersebut, seiring dengan rencana pemindahan ibu kota Hindia Belanda. Dari Batavia atau Jakarta saat ini ke dataran tinggi Bandung. Arsitek pembangunannya adlaa Silors, duduk sebagai kepala Dinas Bangunan Kotapraj (Gemeentelijk Bouwbedrijf). Tuga utamanya adalah merancang dan emmbangun kompleks bangunan pusat instansi pemerintahan Hindia Belanda di Kota Bandung.
Tambang batu di utara Arcamanik turut menyumbangn pembangunan kota, diantaranya adalah pembangunan gedung Departemen Pekerjaan Umum, Kantor Pusat PTT, Departemen Kehakiman, Departemen Pendidikan dan Pengajaran, Departemen Keuangan dan seterunya. Semuanya dibangun dalam satu kompleks, sejajar ke arah utara dari Gedung Sate saat ini.
Mendaki ke arah utara, menunggangi punggungan Pasanggrahan. Setelah melewati SD Cikawari, jalanan terus menanjak. Pemandangan terbuka luas kesegala penjuru, dihiasi ladang warga yang semakin mendesak ke wilayah Perum Perhutani.bentang alamnya berupa punggungan perbukitan. Sebagian besar wilayahnya ditempati oleh perkebunan warga, pemilikan lahan pribadi. Melampar dari timur ke barat, menempati sebagian besar lereng G. Palasari hingga sebelah timur berbatasan dengan G. Manglayang.
Hanya beberapa tinggian, berupa puncak-puncak bukit yang ditempati oleh tinggalan budaya. Menandakan nenek moyang sudah memandukan bentang alam dan dataran tinggi sebagai tempat yang sakral.
Dalam laporan Rohtpletz hasil kompilasi dari beberapa laporan terdahulu, menuliskan penemuan tinggalan budaya serta situs-situs prasejarah megalitik. Dituliskan di perbukitan titik triangulasi KQ 273, menyebutkan ditemukan beberapa serpih obsidian. Rothpletz menuliskan Künstliche Steilböschungen (vor allem bei Kuppen), diterjemahkan puncak bukit dengan lereng yang curam. Bentuk alam yang memanfaatkan tinggian, kemudian ditata sedemikia rupa. Dalam keterangannya disebutkan juga didapati situs makam pra-Islam (Präislamitische Grabanlagen).
Titik tersebut terdapat di sebelah utara dari kompleks Pondok Pesantren Baitul Hidayah. Berupa kuburan lama yang disusun oleh batuan andesit-basal, tersedia melimpah disekitar perbukitan. Disusun oleh batuan membundar sebesar kepalan tangan hingga bola sepak, kemudian ditemui juga batu ceper yang diduga didatangkan dari sekitar Sentak Dulang. Lokasi penambangan Batu Templek yang berada di sebelah selatannya.
Dalam laporan Johan Arief dalam artikel Misteri Danau Bandung (https://fitb.itb.ac.id/misteri-danau-bandung/), disebut situ Panyadaan 1. Satu situs lagi berada di sebelah timur disebut Situs Panyandaan 2. Dalam keterangannya merupakan temapt palitas atau tilem.moksa Eyang Sri Putra Mahkota Raden Mundingwangi, putra dinasti ke-8 dari Raja Sunda.
Berjalan ke arah utara, ditemui punggungan perbukitan yang ditempati bongkah-bongkah batuan yang telah lapuk. Warga menyebutnya Batu Buta, atau batu dengan ukuran besar. Menempati bagian puncak punggungan bukit, tersebar memanjang dari utara ke selatan. Ukurannya beragam, mulai dari ukuran sebesar kelapa hingga mendekati ukuran mobil. Di sebelah timurnya yang dipisahkan oleh lembah, didapati kuburan tua. Masyarakat menyebutnya Makam Waliyullah Eyang Jaya Dirga. Dalam laporan Rothpletz merupakan gundukan tanah berbentuk elips, disusun oleh batuan gunungapi. Ukuran panjang sekitar 4,8 meter, dan lebar 3.4 meter. Dalam laporan Johan Arif (2024), didapati empat mehir dari batuan andesit disetiap sudut gundukan tanah.
Sebelah selatan dari Batu Buta berupa hamparan ladang warga. Didapati batuan obsidian, melimpah dipermukaan tanah. Ukurannya sangat beragam, mulai dari ukuran koin hingga kerakal dan tersebar dipermukaan. Lahannya sebagian besar pemilikan pribadi, kemudian diusahakan menjadi perkebunan palawija hingga sayuran.
Keberadaan fragmen obsidian tersebut menjadi tanda tanya besar, bagaimana bisa tersebar di dataran tinggi daerah Panyandaan. Apakah lokasi ini menjadi jalur perlintasan pengangkutan batuan obsidian? atau malahan menjadi tempat pengerjaan membentuk bongkah menjadi alat untuk berburu. Karena fragmen yang didapati disekitar wilayah ini tidak berbentuk mikrolitik, seperti mata tombak, panah atau alat untuk menyayat/pisau. Sebagian besar fragmen yang dikumpulkn berupa fragmen serpih yang diduga merupakan sisa atau sampah produksi pengerjaan alat batu.
Keberadaan fragmen obsidian ini tentunya menarik, selain pernah dilaporkan sebelumnya oleh Rothpletz pada akhir pendudukan kolonial. Hingga kini masih bisa ditemui, seperti pada laporan hasil penelusuran budaya obisidian di utara Bandung. Seperti yang ditelursuri oleh Anton Ferdianto (2012), melaui penelitian Balar Arkeologi Bandung. Melaporkan sebaran obsidian sebagian bear berada di utara Bandung. Diantaranya ada 14 titik yang mengandung temuan obsidian seperti di segmen Dago Pakar, Pasir Soang, daerah Cikebi, Kawasan Cimenyan termasuk Pasir Panyandaan.
Seperti yang diungkapkan pada hasil penelitian sebelumnya. Keberadaan sebaran batu obsidian ini ditemukan tidak hanya disebelah utara Bandung, tetapi menyebar hingga kawasan karst Citatah hingga Bukit Karsamanik.
Keberadaan fragmen obsidian yang melimpah di sekitar Pasir Panyandaan, menjadi tanya tanya besar. Bagaimana batuan tersebut berasal, kenapa tersebar begitu banyak dan mudah ditemui dipermukaan perkebunan. Apakah dibawa oleh peradaban lama, kemudian dimanfaatkna menjadi alat batu? Apakah Dago Pakar merupakan satu-satunya tempat pembauatan perkakas batu? Temuan tersebut menjadi menarik untuk dijawab melaului penelitian lanjutan.
Pemaparan di BatunyusunKeterdapatan obsidian di sekitar Pasir Panyandaan yang melimpahPelapukan pada batuan di Pasir PanyandaanKuburan yang diduga praIslam di Pasir Panyandaan
Sebagai kampus yang memiliki studi tentang ilmu bumi, perlu melaksanakan kegiatan praktis yang berhubungan dengan kompetensi pemandu. Melalui Program Studi Pendidikan Geografi, Universitas Siliwangi Tasikmalaya, bekerja sama dengan Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Pengurus Nasional. Melaksanakan kegiatan pelatihan dan ditutup dengan kegiatan sertifikasi.
Pelatihan dan sertifikasi dilaksanakan pada tanggal 16 dan 17 November 2024. Kegiatan pelatihan dilaksanakan di ruang pertemuan Prodi Unsil,Tasikmalaya. Diikuti oleh pengampu/dosen Prodi Pendidikan Geografi.
Diikuti oleh 13 orang terdiri dari dosen tetap, dan dosen luar biasa. Dengan tujuan untuk mendapatkan kompetensi pemandu geowisata. Kegiatan praktek lapangan dilaksanakan di Gunung Papandayan, meliputi praktek pemanduan.
Narasumber berasal dari praktisi pemandu geowisata, diantaranya T Bachtiar, Deni Sugandi dan Zarindra Arya Dimas. Masing-masing memberikan materi berkaitan dengan kompetensi pemanduan geowisata, termasuk teknik pemanduan, teknik interpretasi hingga melaksanakan pemanduan dilapangan.
Kegiatan terlaksana dengan baik, mengingat kompetensi para peserta adalah pengampu bidang geografi. Sehingga kemampuan dan wawasan berkaitan keilmuannya sudah baik.
Penyampaian materi di dalam kelas di kampus UNSILPraktek pemanduan geowisata di menara pengamatan G. PapandayanSosialisasi sejarah letusan G. Papandayan di hadapan pemandu lokal Peserta pelatihan di belakang kawah G. Tangkubanparahu
Seiring dengan kegiatan pembagian lembar sertifikat kompetensi BNSP, bidang teknis Pemandu Geowisata. Melalui forum silaturahmi pegiat, pemandu geowisata di sekitar wilayah Bogor, telah bersepakat untuk perndirian organisasi.
Diinisiasi oleh Yosep Saputra, Deni Umar, Tano, menggelar pertemuan musyawarah pendirian Dewan Pengurus Wilayah Bogor Raya. Dilaksanakan pada hari Jumat, 25 Oktober 2024, bertempat di Aula Parengpeng, Desa Kalong Liud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Dilaksanakan dari pukul 9.00 WIB, hingga menjelangpukul 11.00 WIB.
Dihadiri oleh para pegiat, pelaku wisata, pemandu geowisata, pemerintahan dan perwakilan industri pariwisata. Dalam kegiatan musyarawah ini dilaksanakan dengan baik, dengan menetapkan Yosep Saputra sebagai Ketua PGWI DPW Bogor Raya.
Selanjutnya susunan kepengurusan, Wakil Ketua Wahyu Yudha. Sekretaris Tano Purnomosidi dan Amsori Lubis. Kemudian bendahara adalah Anita dan Deden. Bidang-bidang di bawahnya diantarnya Bidang SDM olh Wildan Khasar, Biang Kerjasama ulyadi dan Bidang Humas Syahul.
Penyerahan Surat Keputusan Pengurus Dewan Pengurus Wilayah Kebumen. Dilaksanakan melaui zoom meeting, hari Rabu, 16 Oktober 2024. Dihadiri oleh Pengurus Nasional, dan para Dewan Pengurus Wilayah Kebumen.
Dalam upaya memberikan pelayanan prima pariwisata Kebumen, khususnya pemanduan wisata bumi (geowisata) di Kawasan Geopark Kebumen. Beberapa pegiat geowisata, praktisi, akademisi dan pemerintahan, bergabung dalam urun rembug musyawarah di kepemanduan geowisata.
Pertemuan ini merupakan musyarah untuk membentuk organisasi pemandu geowisata. Dilaksanakan di Gedung Sapta Pesona, Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayan Kabupaten Kebumen. Pada hari Jumat, 4 Oktober 2024. Diinisiasi oleh para pegiat dan pemandu wisata bumi, pendirian organisasi Pemandu Geowisata Indonesia. Organisasi profesi yang menaungi para pelaku kepemanduan di Geopark Kebumen.
Dalam musyaarah ini, dihadiri para stake holder, pelaku dan pemegang kebijakan, untuk bersama-sama mendirian organisasi pemandu wisata bumi. Tujuan pendirian ini diantaranya sebagai peningkatan kapasistas para pemandu geowisata, sarana silaturahmi dan menjadi wadah pengembangan profesi.
Dalam kesempatan ini, Chusni Ansori selaku peneliti Brin di kawasan geologi Karangsambung menyatakan perlunya perkumpulan para pemandu. Tujuanya untuk melengkapi syarat kelengkapan revalidasi dari Unesco Global Geopark. Terutama para pemandu geowisata yang akan didorong untuk memiliki standar nasional, melaui sertifikasi kompetensi profesi.
Melalui ibu Herlina, mewakili Dinas Parbud Kabupaten Kebumen menyatakan dukungannya. Diharapka kedepannya pihak dinas bisa memfasilitasi peningkatan kapasitas para pemandu, melalui pelatihan dan sertifikasi kompetensi.
Dalam musyawarah ini menyusun Dewan Pengurus Wilayah Kebumen. Menunjuk Chusni Ansori sebagai Pembina, sejajar dengan Kadis Budpar Kebumen, dan GM Badan Pengelola Geopark Kebumen. Kemudian posisi ketua, dipilih Irfan Hadianto. Wakil Ketua adalah Nasrun Hidayat, kemudian sekretaris Nosa Aghisna dan Enggarsani Maulida. Selebihnya adalah bidang-bidang seperti keorganisasian, SDM, Litbang, Kemitraan, Promosi dan Humas.
Musyawarah Wilayah di Gedung Sapta Pesona Disparbud KebumenPeserta musyawarah yang hadir, mewakili praktisi, pemandu, akademisi dan pemerintahan.
Celah Sempit Ciater, saksi Keruntuhan Kolonial Belanda.
Hadir kurang 12 partisipan yang turut serta dalam kegiatan Geourban ke-22, di titik pertemuan di alun-alun Lembang (3 Agustus 2024). Tema kegiatan Geourban kali ini menapaki kembali, sejarah militer kolonial, menjelang pecahnya perang Pasifik Raya. Dihadiri oleh para pegiat, pemandu geowisata, mahasiswa pariwisata, hingga direktur salah satu pusat kebudayaan Perancis di Bandung. Kegiatan dibuka pukul 07.00 WIB, di alun-alun Lembang. Deni Sugandi membuka acara, sekaligus menyampaikan rencana kegiatan selama setengah hari. Mengunjungi tinggian G. Putri, Bungker militer KNIL, dan ke titik pertempuran Tjiaterstelling. Kegiatan menggunakan moda transportasi roda dua, bersifat mandiri dan probono. Dengan tujuan membukan jejaring lokal, inisiatif objek/tapak bumi geowisata dan sarana untuk belajar pemanduan geowisata.
Di sekitar kawasan Ciater, merupakan perkebunan teh. Hadir sejak masa Kolonial, mengisi lembah dan perbukitan di lereng G. Tangkubanparahu. Sejauh mata memandang adalah hamparan permadani hijau, melampar hingga berbatasan dengan Jalan Cagak. Di timurnya dibatasi oleh jajaran perbukitan kelompok sistem gunungapi purba Cupunagara. Ke arah timur, telihat bentuk kerucut khas G. Canggak. Diinterpretasi oleh ahli geologi Belanda, adalah sistem gunungapi yang terbentuk satu umur dengan G. Sunda. Sehingga kelompok perbukitan di timur, bukan hasil pembentukan sistem gunungapi tetapi diinterpretasi sebagai runtuhan saja (struktur). Sedakang dalam peneltian Sutikno Bronto (2004), merupakan sistem Kaldera Cupunagara-Bukanagara Umur Tersier.
Titik terbaik untuk mengamati bentangalam tersebut, di puncak G. Putri. Di keterangan Rudi Dalimin H. (1994), disusun oleh batuan gunungapi umur tua. Diperkirakan satu umur dengan pembentukan G. Sunda. Dengan demikian bisa ditafsirkan bahwa Gunung Putri merupakan tinggian bagian dari kaldera Sunda (mungkin Prasunda). Generasi ke-dua dari sistem gunungapi Sunda-Tangkubanparahu.
Dari tinggian Gunung Putri merupakan titik terbaik untuk mengamati bentang alam, dataran tinggi lembang, cekungan Bandung dan jajaran perbukitan Sesar Lembang yang membentang timur-barat. Titik tinggi inilah menjadi strategis untuk mengamati segala kegiatan yang melewati puncak pass Ciater di pintu masuk wisata G. Tangkubanparahu. Ke arah selatannya, melandai mengikuti lembahan yang dalam, dierosi Ci Hideung. Dengan demikian, puncak G. Putri menjadi penting, sebagai pagar pertahanan militer, terutama untuk menghalau pesawat udara tempur musuh yang akan memasuki Bandung.
KNIL membangun bungker-bungker, terutama didaerah tinggi. Dengan maksud berfungsi sebagai pengendali ruang gerak musuh bila memasuk Cekungan Bandung. Dicatatkan dalam informasi lokal, didapati dua bungker di sekitar Lembang. Sedangkan masyarakat menyebut benteng Cikahuripan (Jayagiri), dan benteng Gunung Putri. Penyebutan benteng tidaklah tepat, karena bentuk bangun dalam stretegi militer setelah Perang Dunia ke-dua sudah berubah. Fungsi benteng menjaga dari luar untuk tidak masuk, sedangkan bungker lebih ke fungsi teknis.
Bungker di Gunung Putri dan Cikahuripan, diperkirakan dibangun pada saat rencana perpindahan ibu kota Hindia Belanda dari Jakarta ke Bandung. Dimulai dengan perpindahan pusat produksi mesiu di Kiaracondong, kemudian pembangunan gedung-gedung pemerintahan diantaranya Gedung Sate, pusat militer di Cimahi. Dengan demikian perlu membuat sistem pertahanan militer. Dengan cara membangun bungker-bungker yang menempati tinggian utara-barat dan selatan Bandung, dibangun sekitar 1890-an.
Penempatan bungker ditinggian strategis, terbuka ke segala arah tetapi tersembunyi. Seperti pembangunan bungker di Gunung Putri, yang memanfaatkan puncak perbukitan yang tertutup oleh vegetasi. Agar tidak mudah dikenali, pembangunan bungker dengan cara menggali, membuat struktur dari beton kemudian ditutup kembali. Sehingga hanya bagian lubang tembak saja yang terlihat sebagian besar strukturnya ditimbun kembali oleh tanah. Bungker tersebut dibuat menggunakan struktur beton, menggunakan tulangan besi baja. Ketebalannya rata-rata satu meter, dengan harapan mampu menahan serangan bom yang dijatuhkan melalui pesawat udara. Pintunya terbua dari baja tebal, dua lapis. Kemudian jendelannya hanya satu baris saja, dengan tujuan membatasi lemahnya struktur bangun. Panjangnnya sekitar 20 meter, terbagi menjadi beberapa ruang yang berfungsi sebagai pusat komando, penyimpanan mesiu dan tempat istirahat para personel.
Kemudian diutaranya merupakan sesar anjak akibat kompresional, disebut Tambakan Ridge. Tebentuk akibat gerak tektonik dari Indo-Australia yang menyusup di bawah lempeng benua Eurasia. Bergerak 7 cm pertahun, mengakibatkan sebagian besar Jawa bagian selatan naik. Subduksi menghasilkan jajaran gunungapi di bagian selatan, tumbuh di umur Tersier dan padam. Jalur gunungai modern bergeser ke arah utara, yang kini bisa dikenali dengan bentuknya yang mencirikan gunungapi muda. Berupa puncakan berbentuk kerucut, menandakan gunungapi tersebut terus membangun dirinya hingga kini. Termasuk di dalamnya adalah G. Tangkubanparahu.
Gunungapi termuda dari sistem gunungapi Sunda, Gunungapi Tankgubanparahu mernupakan gunungap api aktif. Produknya tersebar hingga 20 km lebih, berupa aliran lava dari kegiatan letusan sekitar 40 ribu tahun yang lalu. Buktinya masih bisa disaksikan hingga kini, membentuk struktur yang menarik. Fitur aliran lava yang didsebut Pahoehoe, membentuk seperti tali yang dipilin. Berada di bantaran Ci Kapundung, sekitar Kordon yang masuk ke dalam wilayah Taman Hutan Raya Djuanda.
Sumber letusannya adalah G. Tangkubanparahu. Menaungi sebagian besar dataran tinggi Ciater, yang dibelah oleh jalan poros utara-selatan. Jalan provinsi yang menghubungkan Kota Subang di utara, ke dataran tinggi Lembang di bagian selatannya. Jalannya meliak-liuk mengikuti tekuk lereng gunung, melalui beberapa sungai musiman. Diantaranya sungai-sungai yang berhulu di Kawah Domas, yaitu Ci Pangasahan, bagian dari Daerah Aliran Sungai Ci Punagara. Sungai terpanjang di Kabupaten Subang, berhulu di Cipabeasan, Bukanagara, Cisalak, Subang utara.
Ci Pangasahan menjadi saksi kunci, serangan tetara kekasaran Jepang di Ciater. Peristiwa invansi militer yang mampu merebut dataran tinggi Ciater dalam waktu singkat. Diawali pertempuran Laut Jawa, pada awal bulan Februari 1942. Armada kapal laut Jepang, mampu mengungguli kapal perusak gabungan sekutu. Akibanyanya jalan menuju pantai utara terbuka lebar.
Tepat pada tanggal 1 Maret 1942, terjadi pendaratan tentara Jepang seretak dibeberapa tempat, di Batavia, Indramayu dan sekitar Tuban. Diantranya di pelabuhan nelayan Eretan. Pelabuhan kecil yang tidak masuk dalam sistem pengamantan militer Belanda saat itu, sehingga intelejen Jepang memilih lokasi pendaratan ini. Pergerakan infanteri tentara Jepang sangat efektif, bergerak cepat dan senyap. Sehingga hanya menggunakan peralatan perang yang mudah dibawa, seperti sepeda. Kendaraan roda dua ini memungkinkan pergerakan menyusup yang cepat, menguasai Pelabuhan Pesawat Udara Kalijati di utara Subang.
Diperlukan waktu tidak lebih dari satu jam, untuk mengusai Lapangan Kalijati. Dilanjutkan bergerak ke arah selatan menyusuri jalan raya Ciater, sebagai pintu masuknya Jepang ke Bandung. Di sekitar jembatan Ci Pangasahan, KNIL menempatkan beberapa bungker yang menghadap ke arah utara. Dilengkapi dengan mortir, dan senjata otomatis 50 mm, dengan tujuan menghadang pergerakan tentara Jepang dari arah Jalancagak. KNIL memanfaatkan lereng terjal dan celah sempit untuk menjegal tentara Dai Nipon. Namun strategi militer Jepang lebih waspada, dengan mengerahkan kompi-kompi kecil, menapaki lahan terbuka perkebunan teh. Bergerak secara acak, menyergap bungker (pillbox) KNIL, sehingga mudah ditaklukan.
Dalam keterangan saksi kadet KNIL yang selamat, menceritakan ada 72 tentara KNIL yang ditawan Jepang, kemudian diikat dalam lingkaran. Sekitar 500 meter dari arah barat jalan raya (Ciater), dan 150 meter ke arah hulu Ci Pangasahan, tawanan tersebut ditembaki senapan mesin otomatis. Untuk memastikan tewas, tentara Jepang tidak segan menusukan bayonet kepada tubuh KNIL yang telah roboh. Tiga orang terluka, selamat dan menceritakan kembali lokasi pembantaian tersebut. Sebagian besar KNIL yang tewas dalam pertempuran tersebut, dimakamkan di Ereveld Pandu.
Christope Direktur IFI berbagi kisah, sistem pertahanan militer di PD2 Perancis.
Kaki gunung sebelah timur Tangkubanparahu, memiliki cerita bumi dan sejarah sistem pertahanan militer perang dunia ke-2. Jalan dari utara ke selatan, penghubung Subang-Bandung. Jalur sempit yang mengikut tekuk lereng G. Tangkubanparahu, dan berkelak-kelok menanjak mengikuti kontur perbukitan.
Lerengnnya disusun piroklastik, dan lava membentuk perbukitan yang melandai ke arah timur. Gunungapi ini mulai membangun dirinya sejak 90 ribu tahun yang lalu, menghasilkan aliran lava ke arah Ciater. Terlihat tiga perbukitan intrusi yang kini menjadi menara pandang perkebunan teh Ciater. Ditafsir gunungapi kerucut sinder, umurnya lebih tua dari yang menjadi saksi pembentukan G. Tangkubanparahu.
Disebelah baratnya, dilalui jalan Raya Subang-Bandung. Tentara Kerajaan Belanda (KNIL), membut sistem pertahanan yang memanfaatkan celah sempit Cingasaahan. Membangun bungker (pilbox), untuk menahan laju pasukan Jepang yang masuk melalui Kalijati Subang. Setelah dua hari pertempuran hebat, 7 Maret 1942 KNIL menyerah dan Jepang mengusai Bandung. Mengakhiri kekuasaaan kolonial di Jawa dan sebagain besar Indonesia.
Mari temui jejak letusan G. Tangkubanparahu, perbukitan intrusi G. Malang-Palasari. Peran kontur tekuk lereng yang digunakan sebagai basis pertahanan militer KNIL Belanda di sekitar Cipangasahan, Ciater.
Hari/Tanggal Sabtu, 3 Agustus 2024
Waktu 07.00 WIB sd. 13.00 WIB
Titik Pertemuan Gerbang Tangkubanparahu https://maps.app.goo.gl/kU5o14fb8dMcvCqv9
Syarat dan ketentuan Kegiatan probono, bersifat mandiri (transport, logistik) dipersiapkan sendiri. Disarankan menggunakan motor/roda dua laik jalan.
Tentang Geourban Diinisiasi oleh PGWI, menjalin jejaring lokal, menggali tafsir tapakbumi dan syiar geowisata.