Catatah Geourban#31 Dayeuhluhur

Bertepatan dengan perayaan hari raya Imlek, biasanya diasosiasikan dengan langit runtuh melalui bulir-bulir air hujan. Mitos demikian dilalui oleh para partisipan Geourban, menapaki kembali peradaban budaya Sunda abad ke-16 akhir di Priangan timur. Kegiatan dilaksanakan di penutup bulan, tanggal 29 Januari 2025. Merupakan aktivitas menyibak alam dan budaya ke-31, melalui aktivitas jalan-jalan wisata bumi. Kegiatan yang diinisiasi oleh Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia, dengan tujuan membuat jejaring dan mengungkap narasi lokal yang berkaitan dengan wisata bumi.

Diikuti oleh para pegiat konten, wisata dan fotografer berangkat ke bagian timur Bandung. Tepatnya sekitar Kabupaten Sumedang. Moda transportasi sepenuhnya menggunakan kendaraan roda dua, untuk memudahkan jangkauan hingga daya jelajah luas. Terpenting adalah kendaraaan ekonomis yang mampu diandalkan, dimiliki semua orang. Pengelolaan perjalanan seperti ini menjadi cara yang paling efektif, menghindari pergerakan perjalanan yang sering terkendala akibat saling tunggu.

Tema kegiatannya adalah mengupas tentang ruas Jalan Raya Pos saat penguasaan Daendels, kemudian menapaki kembali jaringan jalur kereta api Rancaekek-Tanjungsari di segmen Jatinangor dan Tanjungsari. Dilanjutkan melihat kembali sejarah Kerajaan Sumedanglarang abad ke-16 akhir, di masa pemerintahan Geusan Ulun antara 1579 hingga 1601. Melalui posisi pusat pemerintahan kerajaan Sumedanglarang, pada saat peralihan dari Pangeran Santri ke Geusan Ulun. Rentang waktu antara 1530 hingga 1601, diakhir penguasaan raja terakhir Sumedang Larang sebelum dilebur di bawah penguasaan Mataram.

**

Jelang pagi, langit sepenuhnya dikuasai awan tebal. Berkesan mendung, sehingga cahaya matahari hadir di balik bayang awan. Sedari malam udaranya lembab, seperti hujan akan menguasai sepanjang hari. Tetapi tidak menjadi halangan, partisipan hadir sesuai waktu yang telah dinjanjikan. Titik temu di SPBU Cinunuk, Ujungberung. Setelah brifing singkat, kemudian bergeraka ke Jatinangor, masuk ke wilayah Kabupaten Sumedang.

Selepas kampus Universitas Padjadjaaran, dilanjutkan ke arah timur, menapaki jalan raya yang diusahakan Daendels 215 tahun yang lalu. Sekitar 300 meter berbelok ke arah utara melalui jalan kampung sekitar Cikuda. Jalanannya mulai menyempit, melalui labirin rumah-rumah warga. Aksesnya merupakan gang sempit yang diperkirakan merupakan jalur rel kereta api di masa lalu. Keberadaan relnya sudah tidak ditemui, karena sebagian besar telah ditutup oleh rumah hunian warga atau sudah hilang. Dilanjutkan ke arah utara, sedikit terjal dan berbelok tajam hingga tiba di mulut jembatan. Berupa struktur bangunan yang terlihat masih kokoh, hingga mampu melampaui jamannya. Masyarakat menyebutnya adalah jembatan Cincin atau jembatan Cikuda, karena bentuk lingkar penyangga bagian bawahnya melengkung. Jembatan ini adalah sisa kejayaan industri transportasi kereta api di masa Kolonial, menghubungkan Rancaekek ke Tanjungsari, Sumedang.

Jembatan kokoh yang disangga oleh kolom-kolom menancap di bawah, mengangkangi Ci Kuda, sungai yang berhulu di lereng tenggara G. Manglayang. Di bawahnya ditempati ladang dan sawah warga, kemudian diutaranya adalah kompleks makam tua. Penampilannya megah dan masih bertahan hingga kini. Keberadaanya bersaing dengan Apartemen yang begitu angkuh menutup arah pemandangan G. Geulis-Jarian. Jembatan penghubung Jatinangor-Cikuda ini terletak di Desa Hegarmanah, Kabupaten Sumedang. Merupakan bagian dari jaringan kerja Staat Spoorwagen Verenigde Spoorwegbedrijf, sudah hadir 1918. Saat ini dimanfaatkan sebagai sarana lintasan warga, memotong jalur dari Cikuda ke kampus UNPAD.

Untuk menuntaskan telusur jaringan rel kereta api segmen Jatinangor, dilanjutkan mengunjungi stasiun terakhir di kota Tanjungsari. Lokasinya berada di Tanjungsari, atau sekitar 5 km dari jembatan Cikuda. Keberadaan stasiun in telah berubah menjadi sarana ruang pertemuan umum, namun bentuk dan struktur bangunannya tidak berubah.

Jaringan rel kereta api ini digunakan sebagai sarana angkut hasil perkebunan, dari kawasan perkebunan Tanjungsari, hasi karet Jatinangor, Cijeruk yang dikirim ke Bandung melalui stasiun Rancaekek. Melewati tiga halteu (stasiun), Lebakjati, Warungkalde hingga berakhir di Rancaekek. Diperkirakan jalur ini mati seiring dengan kedatangan Jepang pada 1942, mengangkut batang besi rel untuk kebutuhan perang.

Dilanjutkan ke arah timur, bertandang ke struktur bangunan yang berbentuk atap melengkung, dan memanjang arah timur barat. Panjang struktur tersebut sekitar 12 meter, lebar lebih dari 4 meter. Hanya memiliki satu pintu, lebar 1,5 meter dengan tinggi 2 meter lebih. Sekilas tampak seperti bekas gudang, namun bila dilihat secara detail berkesan memiliki fungsi lain. Diperkirakan merupakan bagian dari sistem pertahanan militer. Berada di jalur raya Tanjungsari, sekitar 300 meter ke arah selatan. Keberadaan struktur bangunan ini mirip dengan bentuk bunker, biasa dipergunakan dalam sistem pertahanan militer.

Mengingat penting nya jalur Sumedang-Bandung, kemungkinan merupakan sistem pertahanan militer. Digunakan sebagai tempat berlindung dari serangan udara, pada saat memasuki perang Asia Pasifik. Seperti yang telah diungkap oleh beberapa ahli sejarah militer, Sumedang memiliki perang sebagai pertahanan militer. Sebagai buffer zone, atau zona penyangga serangan musuh dari arah timur.

Keberadaan Tanjungsari,merupakan sub pertahanan Hindia Belanda. Sehingga jauh sebelum Hindia Belanda berkuasa, pada 25 September 181, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels merilis surat. Didalamnya adalah pemindahan dua ibukota, Kabupaten Bandung dari Krapyak, dialihkan 11 km ke arah utara. menempati posisi alun-alun kota Bandung saat ini. an Kabupaten ke-dua yang digeser adalah Parakanmuncang yang berada di Tarikolot Girang Cicalengka, sesuai dengan keterangan R.A. Kern. Digeser ke Andawadak berlokasi di Ciluluk, sebelah timur Tanjungsari.

Perjalanan dilanjutkan ke arah timur, memasuki sekitar Cadas Pangeran. Selepas Cigendel, ditandai dengan hutan pinus merkusii, jalannya bercabang dua. Satu mengarah ke utara, disebut jalan atas, dan satu lagi mengikuti gawir terjal disebut jalan bawah. Dua jalur tersebut kemudian bersatu kembali di sekitar Ciherang, setelah menempuh panjang sekitar 1,7 km.

Mengambil jalan atas, jelang turun dipercabangan Ciherang didapati prasasti. Disematkan pada dinding tegak, pada batuan breksi vulkanik. Isinya menyebutkan nama yang bertanggung jawab pembangunan Jalan Raya Pos segmen Cadas Pangeran, dan durasi waktu pengerjaan. Dengan demikian diperkirakan jalan atas ini merupakan jalur awal yang dikerjakan 1811 sampai 1812. Kemudian seratus tahun kemudian, dibuka jalur bawah. Dengan alasan untuk menghindari tanjakan dan turunan terjal, sehingga awal tahun 90-an ditingkatkan dengan teknik kantilever, sistem jembatan gantung.

Hanjuang dan Konflik Sumedang dengan Cirebon
Jelang siang, partisipan tiba di Sumedang Utara, tepatnya di Situs Pohon Hanjuang. Peninggalan bersejarah berkaitan dengan sepenggal cerita Sumedang Larang. Menurut juru pelihara Abah Apud, tahun 2020 kondisinya tidak terawat. Sehingga setelah dipercaya bertugas memelihara dan melayani kunjungan, Apud (80 tahun) sedikit demi sedikit menata menjadi lebih baik. Keberadaanya tidak dijelaskan apakah situs ini dikelola melalui dana bantuan pemerintah, atau yayasan. Namun keberadaan situs ini menjadi penting, untuk mengaitkan dengan perjalanan kerajaan Sumedang di masa lalu.

Di dalam ruangan terbuka tanpa atap ukuran 4 x 5 meter, didapati dua batang pohon Hanjuang berdaun warna hijau. Ditempatkan di salah satu sudut ruangan, dibagian tengah merapat pada dinding di bagian barat. Ditata sedemikian rupa, dengan batas menggunakan batubata yang disusun, kemudian ditutup oleh batu. Dengan demikian keberadaannya menjadi perhatian utama, karena di setiap sisi ruangan ditanam Hanjuang dengan daun berwarna merah.

Belum bisa dipastikan, apakah pohon Hanjuang tersebut merupakan hasil dari pohon yang ditanam oleh Jayaperkasa. Bila keterangan papan informasi menuliskan pohon hanjuang bersejaran ditanam oleh Sang Hyang Hawu, atau disebut juga Mbah Jayaperkosa (beberapa sumber ditulis Jaya Perkasa, Jaya Prekosa), kurang lebih 1585. Maka umur pohon tersebut hampir 440 tahun dimasa kini. Bisa jadi pohon tersebut ditanam ulang, karena dalam rentang waktu yang sangat panjang tersebut, tergelar banyak peristiwa bersejarah yang menata wajah Priangan, khususnya Sumedang. Baik dalam kondisi pusat kota yang berpindah-pindah, penguasaan VOC, kolonial Belanda, hingga perang kemerdekaan Indonesia. Jadi bisa saja sebatang pohon tersebut menjadi abai, dan tidak lagi mendapatkan perhatian.

Situs sejarah ini berada di Dusun Pangjeleran, Desa Padasuka, Kecamatan Sumedang Utara. Pohon tersebut menjadi tanda catatan sejarah, dituliskan dalam Babad Sumedang. Kemudian dituliskan dalam Pupuh Sinom, karya maestro Mang Koko Koswara.

Kisah singkatnya pohon Hanjuang sebagai simbol sebuah janji, Jayaperkasa terhadap rajanya Geusan Ulun. Bila daunya layu menandakan ia mati dimedan laga, tetapi sebaliknya bila tumbuh subur menandakan menang perang. Seiring waktu terjadi pertempuran di tapal batas Sumedang, atau di sekitar Sukatali (Hikayat Sumedang, De Indische Courant, A. Ter Haghe, 12 Juli 1941). Diceritakan bahwa pertempurannya memakan banyak yang mati, sehingga mata air di dekatnya berubah menjadi merah.

Pohon Hanjuang atau biasa disebut andong merah (cordyline fruticosa), menjadi simbol bagi budaya Sunda. Tanaman yang dianggap memiliki fungsi sebagai sawen tolak bala. Tumbuhan yang dianggap keramat, mampu menepis gangguan kekuatan gaib dan wabah penyakit. Biasanya diikat diiringi ritual doa dan disematkan pada tempat tertentu di dalam maupun di luar rumah. Selain itu digunakan sebagai penanda seperti batas ladang, kebun, pagar rumah antar kepemilikan yang berbeda. Jika dikaitkan dengan wabah penyakit, biasanya digunakan sebagai pembatas dan jarak agar tidak terjangkit penyakit. Dari sisi medis, tanaman ini bisa dimanfaatkan sebagai obat tradisional, seperti TBC paru, asmat, diare hingga sakit kepala.

Dalam situasi kemelut dan tidak menentu, bayang-bayang serangan dari Cirebon. Geusan Ulun memindahkan ibu kota dari Kutamaya, ke dataran tinggi Dayeuhluhur. Pemindahan tersebut daam kondisi tergesa-gesa hingga lupa dengan perjanjian denga Jayaperkasa. Akibatnya akan menjadi konflik diujung kepemimpinan Geusan Ulun sebagai raja di Sumedanglarang.

Dalam upaya pemindahan ibu kota, dalam rangka menghindari serangan Girilaya dari Cirebon, Geusan Ulun harus menempuh perjalanan dengan menggunakan jalan kaki. Dalam keterangan yang ditulis oleh Haghe (1941), dalam pencariannya tempat harus singgah dibeberapa lokasi. Tempat yang dipilih harus memenuhi persyaratan, diantaranya tersembunyi dari pantauan musuh, mampu melihat arah pasukan penyerang dari segala arah. Pencarian dilanjutkan ke arah timur, dataran tinggi yang berada di Ganesa, sebelah timur Kutamaya.

Lokasi yang akan dituju bisa ditafsirkan mendekati posisi pusat kerajaan pada masa Prabu Guru Aji Putih. Pusat kerajaan Tembong Agung, terletak di Citembong Girang, Kecamatan Ganeas, sumedang. Bila ditarik garis, kurang lebih 4 km. dari Citembong Girang, ke Dayeuhluhur. Dalam keterangan selanjutnya, menyebutkan bahwa putra sulung Prabu Aji Putih, yaitu Batara Tuntang Buana atau dikenal Tajimalela, berkelana ke beberapa tempat. Diantaranya menyebutkan wilayah yang menjadi rujukan Geusan Ulun.diantaranya Gunung Merak, Gunung Pulosari, Gunung Puyuh, Gorowong, Ganeas, Gunung Lingga dan tempat lainya. Dengan demikian, pengetahuan tersebut diperkirakan menjadi referensi penentuan tempat pemindahan ibu kota.

Dalam keterangan penelitian bay Suryaningrat (1983), pada masa pemerintahan Geusan Ulun, terdapat 44 Kandaga atau kepala rakyat, terdiri dari 26 Kandaga Lange (Kepala Wilayah), dan 18 umbul dengan cacah sekitar 9000 jiwa umpi. Dengan demikian tidaklah mungkin seluruh rakyatnya turut serta dalam kepindahan. Jadi diperkirakan hanya jabatan tinggi, keluarga yang terkait dan pendukungn lainya saja yang turut pindah. Sedangkan masyakarata yang tersebar di wilayah Sumedanglarang masih ditempat semula.

Bila dilihat dari peta google maps, didapat jarak tempuh 12,4 km. Dari Kutamaya Sumedang Selatan, ke arah timur melalui Cihonje, Gunasari. Kemudian dilanjutkan mendaki Gorowong, Sukawening. Mendaki lereng utara G. Calangcang-Kareumbi. Kemungkinan Geusan Ulun menerima kandidat lokasi selain Dayeuhluhur, namun karena waktu yang begitu sempit sehingga diputuskan untuk menggeser jauh ke arah timur.

Akses dari Kutamaya ke arah timur, ke daerah Gorowong. Kemudian dilanjutkan dengan berjalan melalui Cikadu, merupakan lembah yang dalam. Jalan setapak sejajar dengan sungai, yang mengarahkan mendaki perbukitan hingga tiba di Dayeuhluhur. Jalur tersebut merupakan jalan lama yang pernah digunakan warga sejak dulu, sebelum dibukanya jalur baru. Jalur jalan lebar, melalui Pasir Datar. Jalan yang baru saja ditingkatkan menjadi beton, untuk membuka akses dari kampung Gorowong ke Dayeuhluhur.

Dayeuhluhur merupakan pegunungan yang memanjang utara-selatan, disusun oleh batuan gunungapi. Dalam peta Geologi Lembar Bandung (Silitonga, 2003), disebutkan sebagai Hasil Gunung Tua Tak Teruraikan. Disusun oleh breksi gunungapi, lahar dan lava berselang-seling (Qvu). Menandakan bahwa punggungan mulai dari utara, sekitar Cibungur hingga puncak G. Bongkok adalah bagian dari sistem gunung api purba. Bila ditarik lagi ke arah selatannya, didapati lingkar kaldera G. Calangcang 1667 m dpl. gawir kalderanya berupa setengah lingkaran dari barat ke timur, terbuka ke arah utara.

Dengan demikian kuat dugaan, endapan gunugapi berupa laharik yang menyusun punggungan Dayeuhluhur berasal dari G. Calangcang. Merupakan sistem kompleks gunungapi purba Kareumbi-Puncakanjung-Calangcang. Dari pembagian fasiesnya, Dayeuhluhur merupakan fasies medial (Bogie & Mackenzie, 1998), bagian lereng utara dari pusat letusan.

Dari titik tinggi ini memberikan keuntungan lebih, diantaranya posisinya terlindungi oleh tinggian. Kemudian dari titik tinggi ini bisa memantau pergerakan musuh yang datang dari utara, dan menjadi benteng alami. Dengan demikian pemilihan Dayeuhluhur sebagai tempat pemerintahan, berdasarkan posisi geografis.

Sepeninggalan Geusan Ulun pada 5 November 1608, kemudian kekuasaanya dibagi dua ( Euis Thresnawati S. 2011). Diberikan kepada Pangeran Rangga Gede, putra sulung dari Nyimas Gedeng Waru dari istri pertamanya. Melanjutkan pusat pemerintahannya di Dayeuhluhur. Versi lain ada yang menunjukan di Canukur. Kemudian hasil dari putra Ratu Harisbaya, Pangeran Suriadiwangsa yang menempati ibu kota di Tegalkalong. Akibat dualisme kepemimpinan ini, berdampak kepada stabilitas politik, menyebabkan beberapa wilayah di bawah Kerajaan Sumedang kemudian melepaskan diri. Seperti Karawang, Ciasem. Pamanukan, dan Indramayu. Sehingga wilayahnya menjadi kecil, meliputi Sumedang, Bandung, Sukapura, dan Parakanmuncang. Pada 1620, Sumedanglarang taklut sepenuhnya di bawah Kesultanan Mataram.

Di sebelah selatan Dayeuhluhur, dibawah lereng G. Gedogan 1039 m dpl. disemayamkan Sang Hyang Hawu atau Mbah Jayaperkosa. Di bawah naungan tegakan pohon kayu, hutan tropis. Elevasinya lebih tinggi dibandingkan dengan makam raja, berada jauh di bagian bawah lereng perbukitan. Dari parkiran utama, kemudian mendaki melalui jalan warga. Menapaki tangga yang telah disediakan, hingga memasuki gerbang makam. Jaraknya kurang lebih 900 meter, mengikuti kontur perbukitan. Memasuki gerbang, kemudian disambut oleh vegetasi hutan hujan tropis, dan beberapa fauna yang masih bisa dilihat. Menandakan hutan makam tersebut tidak secara langsung dikonservasi. Berbeda dengan makam Geusan Ulun yang tertutup menggunakan atap. Makam Mbah Jayaperkosa ini dibiarkan terbuka. Ditata dengan menggunakan tumpukan batuan andesit, dengan tanda berupa batu berbentuk kolom. Sekelilingnya ditutupi oleh pagar besi, setinggi 2 meter.

Dilingkungan pemakaman ini, disediakan surau sederhana dan air untuk wudhu. Memberikan kesempatan kepada para peziarah untuk melaksanakan tawasulan, doa ucap syukur untuk berkah para pendahulu dan kesejahteraan untuk yang masih hidup.

Pungngungan perbukitan Dayeuhluhur, memanjang utara-selatan, dengan kerucut G. Bongkok.
Makam Jaya Perkasa, di puncak Dayeuhluhur

Tautan video Geourban#31 Dayeuhluhur
https://www.youtube.com/watch?v=t0XxQPAtAl0&t=734s

Catatan Geourban#30 Cipunagara Hulu

Awan menggelayut menaungi sebagian besar atap Bukanagara. Menandakan hujan akan tiba sebentar lagi, mengguyur dataran tinggi Subang selatan. Seperti yang telah dijanjikan oleh alam, air dijatuhkan dari langit berupa jutaan butir air hingga jelang sore.

Potongan air dalam bentuk butiran tersebut yang jatuh dari langit, mengiri rombongan menuju potongan sejarah lama, tentang hulu sungai di lereng selatan G. Bukittungul, cerita Hofland mengelola perkebunan, invasi Jepang 1942 melalui Darmaga hingga sumber mataair panas di Batu Kapur, Dawuan di Kabupaten Subang. Dibungkus dalam kegiatan singkat Geourban, wisata bumi yang diinisiasi oleh asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia. Bertujuan reaktivasi, membuka jejaring lokal, dan pemaknaan fitur bumi dan sejarah budaya.

Perjalanan dimulai di gerbangn Taman Hutan Raya Ir. Djuanda. Tepatnya dipintu Maribaya, Lembang. Pintu masuk menuju pengelolaan Tahura yang berada di jalur sesar Lembang segmen Kordon.

Beberapa teman-teman sudah berkumpul, diantaranya para pegiat wisata, ibu rumah tangga, professional hingga konten kreator. Tergabung dalam kegiatan wisata bumi, terus digerakan melalui komunitas Geourban. Kegiatan saat ini, akan menempuh perjalanan kurang lebih 45 km. Dimulai dari Maribaya, kemudian ke puncak pass Puncak Eurad, Bukanagara, Pasir Bedil-Palasari hingga berakhir di Batu Kapur, Sagalaherang. Untuk memudahkan pergerakan, masing-masing berkendara roda dua.

Roda dua bermotor dipacu ke arah utara, mneuturuni perbukitan hingga pertemuan dengan jembatan Ci Gulung. Selepas wisata air panas Maribaya, kemudian berbelok tajam dan naik ke Cicalung. Jalan potong yang menghubungkan Maribaya ke Pasar Ahad kemudian ke Cikole. Sejak dulu jalannya selalu berlubang, menandakan air mengerosi aspal, sehingga meninggalkan lubang-lubang yang menganga. Selepas tanjakan terjal mendaki perbukitan Cicalung, arah pandang kemudian terbuka lebar.

Di Bagian selatannya berjajar Sesar Lembang segmen bagian timur. Seperti pagar alam yang membatasi Bandung bagian utara, dan dataran tinggi Lembang. Sesar adalah rekahan pada batuan yang mengalami pergeseran, baik itu dalam ukuran meter hingga puluhan meter. Dari Cicalung Lembang, bisa menyaksikan blok yang naik antara 300 meter hingga 450 meter. Menandakan bagian blok Bandung relatif naik dari blok bagian Lembang. Dengan demikian disebut sesar normal.

Mudrik Daryono ahli seismologi, telah melakukan pengukuran dengan menggunakan bantuan foto aerial lidar. Dari data tersebut tersingkap, panjang ular yang memanjang timur-barat tersebut sekitar 29 kilometer. Membentang dari Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, hingga G. Palasari di Kabupaten Bandung. Sedangkan pendapat lain, melalui pendekatan pembacaan dan interpretasi rona bumi (morfometri), dan pola pengaliran sungai. Iyan Haryanto menduga dengan kesimpulannya, mendapatkan angka yang lebih panjang. Sekitar 45 km. bahkan lebih. Melintasi bagian utara G. Manglayang hingga bertemu dengan Segmen Sesar Cileunyi-Tanjungsari.

Para ahli memiliki pandangan yang berbeda, dengan demikian keilmuannya berkembang. Sehingga keberadaan Sesar Lembang harus terus diwaspadai keberadaanya, karena pada 28 Agustus 2011 sesar ini pernah bergerak. Seperti yang dilaporkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Barat, terjadi gempa di Kampung Muril, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Aktivitas kegempaan memang terjadi, sehingga perlu untuk terus diwaspadai.

Rombongan partisipan bergerak ke arah utara, melintasi Kampung Cibeureum, Wangunharja. Desa yang baru saja menggeliat, memperlihatkan aktivitas warganya di perkebunan. Tanah yang subur menjadi berkah warga Wangunharja, melalui sektor perkebunan dan pertanian. Elevasinya sudah mencapai 1300 m dpl., disertai udara sejuk dan subur. Diusahakan perkebunan sayuran, sapi perah dan perkebunan koi yang menempati di wilayah hutan produksi Perum Perhutani KPH Bandung Utara.

Dari titik tinggi ini bisa menyaksikan bentang alam, diantaranya kerucut G. Putri 1587 m dpl. Berdiri menaungi Jayagiri Lembang, menjadi titik orientasi dari dataran tinggi Cikole. Dari penelitian Nasution (2004), menyatakan bahwa sebaran batuan gunung ini disusun oleh piroklastik G. Prasunda, melanjutkan pendapat penelitian oleh Soetoyo & R.D. Hadisantono. Melalui penelitian vulkanostratigrafi Kompleks G. Sunda-Tangkubanparahu (1992).

Dibagian puncak G. Putri didapati sistem pertehanan Kolonial Belanda. Diperkirakan dibangun sejak rencana pengalihan Bandung sebagai ibu kota kolonial. Dimulai dengan pemindahan pusat komando militer 1896 ke Cimahi dan Batujajar. Dengan demikian, pembangunan sistem pertahanan militer di G. Geulis dan sekitarnya bisa disematkan pada tahun berikutnya.

Sistem pertahanan berupa bunker, menandakan peralihan dari sistem pertahanan benteng yang rentan terhadap serangan udara. Sehingga strategi militer tentara kerajaan Belanda, bersalin strategi.keberadaan bunker ini menyebar, mengawal jalan utama Jalancagak-Lembang. Kemudian pada saat menjelang kedatangan Jepang 1942, KNIL mendirikan bunker atau pillbox di sekitar Ciater.

Invasi Jepang tidak hanya melewati dataran tinggi Lembang, sebagian kompi pasukan Jepang diperkirakan melalui jalur Darmaga-Bukanagara, melalui puncak pass Puncak Eurad. Dicirikan dengan keberadaan beberapa gua yang dibangun oleh Jepang, sekitar batas hutan di Pasir Bedil, Cisalak Subang. Gua lainya berada di sebelah barat tempat wisata Puncak Eurad. Beberapa lubang yang tidak terlalu dalam, strukturny sederhana dengan cara memobok secara horisontal pada batuan tuff gunungapi.

Di Puncak Eurad, panorama berupa cekungan dalam yang dikelilingi oleh gawir. Berupa punggung yang memanjang, membentuk gawir terjal antara 500 hingga 800 meter. Pendapat ahli gunugapi purba, Sutikno Bronto mengukur umur lava sekitar Cigadung sekitar umur Paleosen Atas. Melalui penelitian bersama, melalui penarikan K/ar batuan andesti di Cupunagara, didapati umur absolut 58,99 juta tahun yang lalu.

Rona bumi tersebut menarik untuk ditafsirkan hasil kegiatan kegunungapian di masa lalu. Dicirikand cekungan yang terbentuk di Cikandung, Bukanagara. Kemudian gawir terjal dan tegak membentuk setengah lingkaran yang terbuka ke arah utara. Pendapat lainya nya, diantaranya ahli geologi Belanda, Bemmelen menduga merupakan gravity falls atau longsoran ke arah utara, seiring dengan pembentukan struktur sesar berarah timur-barat.

Di Bukanagara, terus bergerak ke arah selatan. Didapati hulu Ci Punagara, berupa situ disebut Cipabeasan. Bila menjelang Mulud, airnya bersalin rupa seperti buih air hasil penyucian berah (putih), sehingga disebut Ci (air), hasil mencuci air beras (Pabeasan). Fenomena air berbuih, dan berwana putih bisa disebabkan oleh proses kimia, atau berkatan dengan jenis tumbuhan (akar, oksidasi, dst.).

Sekitar situ ditumbuhi alang-alang, mendesak luasan situ semakin sempit. Menurut warga, beberapa tahun kebelakang pernah dibersihkan dengan menggunakan alat bantu ekskavator. Namun seiring waktu, rumput liar tersebut terus tumbuh dan mendesak sebagian besar situ. Cipabeasan digunakan warga sebagai tempat untuk melaksanakan tradisi dan kepercayaan nenek moyang.

Perjalanan dilanjutkan ke arah Sagalaherang, memotong punggungan G. Pasir Bedil. Jalan melandai ke arah utara, hingga Dermaga kemudian ke arah utara melalui Dawuan. Didapati sumber mata air panas yang kini dimanfaatkan menjadi wisata. Berupa kolam-kolam pemandian air panas. Sedikit ke arah utara dari lokasi wisata Batu Kapur, melalui Curugagung, Sagalaherang, terdapat air terjun. Berupa air terjun yang mengalir pada batuan gunungapi, membentuk dinding tegak yang diperkirakan terbentuk karena kegiatan tektonik.Berupa sesar normal, dicirikan dengan kekar gerus yang terdapat di dinding air terjun.

Kegiatan ditutup dengan menikmati durian di Curug Agung. Berupa durian lokal yang baru saja dipetik. Diwilayah ini durian menjadi unggulan pertanian, karena daerahnya yang ideal, ketinggian hingga cuaca yang tidak terlalu lembab. Menurut warga musim durian biasanya panen di awal tahun dan pertengahan, melimpah dan biasanya harganya dihitung jumlah butir durian.

Di hulu Ci Punagara
Tugu Bukanagara
Gua yang diperkirakan dioperasikan sebagai pos militer pada saat Jepang 1942
Partisipan di G. Pasirbedil, Cisalak Subang
Durian di Batu Kapur, Subang

Geouban# 30 Jayamekar

G. Bandera merupakan bagian dari puncak-puncak yang berada di sebelah utara Waduk Saguling. Bentuknya berupa perbukitan yang memanjang baratdaya-timurlaut, mulai dari Jayamekar hingga Cikande. Dari peta Rupa Bumi Indonesi/RBI Lembar Padalarang (2000), menuliskan beberapa puncak. Disebelah timur puncak G. Bakung 816 m dpl., G. Puter 889 m dpl., Pasir Lampegan 868 m dpl. kemudian masih berjajar ke arah timur dengan posisi lebih tinggi G. Pancalikan 963 m dpl., G. Halimun 972 m dpl. kemudian melandai ke arah barat. Ditempati Pasir Sopak 856 m dpl., dilanjutkan Pasir Cibuntu 856 m dpl.

Jajaran perbukitan tersebut bagian dari Rajamanda Ridge, atau punggunga Rajamandala. Sejajar dengan jalan raya penghubung Bandung-Cianjur di Citatah, Padalarang. Jalan raya ini membelah perbukitan karst, yang disusun oleh batuan karbonat. Ditafsirkan sebagai karang penghalang/barrier reef (Siregar, 2005) yang diendapak sejak Oligosen Akhir hingga Miosen Awal, sekitar 25-15 juta tahun yang lalu.

Sedangkan kelompok G. Bendera yang berada disebelah selatannya, disusun oleh sedimen klastik gunungapi. Satuan batuannya disusun oleh hasil pengendapan dilaut dalam, seiring waktu terangkat hingga 670-900 m dpl. dpl., lebih. Buktinya tersingkap berupa batulanau dan batupasir tebal di Cikande, hasil kegiatan perlipatan serta tersesarkan. Ke arah selatannya, sekitar Cigintung, ditemui sisa penambangan yang menyinkapkan endapan gunugapi umur Kuarter. Tebal dan membentuk perbukitan, kemudian melandai ke arah selatan.

Mari temui bukti pebukitan terlipat, melalui pengamatan di puncak G. Bendera. Bukti endapan laut dalam di Cikande dan hasil letusan gunungapi berupa endapan awan panas (ignimbrite) di Cigintung. Hasil letusan gunungapi kelas plinian, mengalirkan awan panas sejauh 19 km dari pusat letusan (Pyroclastic density currents). Akibat temperatur tinggi hingga lebih dari 500 derajat celcius, kemudian terelaskan (welded).

Hari/Tanggal
Sabtu, 1 Februari 2025

Waktu
08.00 WIB sd. 13.00 WIB

Titik pertemuan (meeting point)
Geotheather Hawu-Pabeasan, Cidadap, Padalarang

https://maps.app.goo.gl/DFsof9faAExBjxPv5

Syarat dan ketentuan
Kegiatan bersifat mandiri dan probono, dipersilahkan mengatur moda transport (disarankan roda dua). Mohon dipersiapkan kelengkapan kondisi cuaca, kegiatan hiking dan kebutuhan pribadi lainya.

Tentang Georuban
Berjalan sejak 3 tahun yang lalu, oleh Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia. Menginisiasi, menggali wisata bumi, melalui narasi, interpretasi dan membuka jaringan silaturahmi lokal.

Catatan Geourban#13 Dayeuh Kolot

“Kapan tempat ini disebut Dayeuhkolot?” tanya salah seorang peserta. “Sejak ada yang ngora (muda)” jawab si Abah. Jawaban tersebut mengundang senyum para peserta, karena bermakna ambigu. Bila konteksnya kepad tali perkawinan, tentunya ada yang menyebut istri tua dan muda, barangkali pemikiran peserta sama-sama berfikir ke arah sana. Si Abah adalah Jujun Syarifhidayat selaku pengurus makam Situs Luluhur Bandung di Bojongsoang.

Jujun menuturkan bahwa dahulu pemakaman ini adalah titik pusat pemerintahan kabupaten Bandung di Krapyak. Menurut Jujun, luasnya sekitar 2 hektar yang berada diantara pertemuan tiga sungai. Di sebelah selatannya dibatasi oleh Ci Tarum, kemudian di bagian timur mengalir Ci Kapundung. Sebelah barat berbatasan dengan Citeureup dan Ci Sangkuy. Saat ini bagunan pendopo pusat pemerintahannya sudah tidak bisa ditemui, selain tidak ada upaya konservasi dan kondisi politik perang kemerdaan. Selain itu telah terjadi penyerobotan lahan oleh warga, sehingga struktur bangunan tersebut telah hilang.

Disitus ini dimakamkan 7 orang keturunan dari Timbanganten. Diantaranya raja ke-7 Timbanganten Garut, Bupati Bandung pertama, patih Bandung hingga Hoofd Jaksa bandung.

Kondisi makan leluhur tersebut kini berupa sepetak tanah, tidak lebih dari 1300 meter persegi, dikepung dan terdesak oleh perumahan warga. Menurut Jujun awal tahun 60-an masih berupa tanah kosong, dengan ciri struktur pondasi bangunan yang masih bisa disaksikan saat itu. Kemudian ia menyebutkan masih ditemui batu tegak, sebagai penanda pintu masuk pendopo. Namun keberadaanya kini telah hilang, berganti dengan tugu asrama Zipur.

Pertemuan tiga sungai ini, menandakan posisi strategis pendirian pusat pemerintahan ibu kota. Wilayahnya disebut Krapyak, diambil dari bahasa Jawa Kuno pada saat Priangan tunduk di bawah Mataram Islam. Pengertian Krapyak bisa merujuk kepada tempat khusus para roh-roh suci yang atas perkenan Allah dihembuskan ke dalam calon bayi yang berada dalam kandungan ibu. Sehingga sering digambarkan dalam bentuk simbolis berupa yoni (Jogjakarta.go.id).

Makam leluhur Bandung tersebut merupakan titik terakhir kunjungan di kegiatan Geourban#13 Dayeuhkolot. Hadir dalam kegiatan geowisata ini adalah para pegiat sejarah, wisata urban, dan pemandu wisata. Total jumlah dalam kegiatan ini adalah

Sebelumnya pusat ibu kota Priangan berada di Cianjur, kemudian dipindahkan ke Bandung bagian selatan pada 1856

Catatan Geourban#8 Babakan Siliwangi

Jam baru beranjak tiga puluh menit lebih dari pukul tujuh. Kurang lebih 12 peserta telah hadir di parkiran dalam Babakan Siliwangi, semuanya mengendarai kendaraan roda dua. Selain efektif, cepat dan hemat, menghindari jalanan macet jelang pagi di sekitar jalan Babakan Siliwangi, Bandung. Tempat ini ideal untuk titik pertemuan, mengingat tersedianya ruang publik dan sarana parkir yang leluasa. Sehingga cukup baik untuk memulai kegiatan geowisata kota. Geourban ini adalah aktivitas berbasis edukasi, mengungkap kembali rahasia alam, sejarah pembentukan bumi di sepanjang Ci Kapundung segmen Lebak Siliwangi higga Tamansari, Bandung.

Geourban ke-8 mengambil rute antara Lebak Siliwangi hingga Tamansari (4/9, 2022). Dibuka oleh Deni Sugandi, selaku penggagas Geourban sekaligus sebagai pemandu geowisata. Dimulai dengan penjelasan awal, rencana dan tujuan kegiatan. Tujuan pertama adalah mengunjungi prasasti yang dianggap sebagai tinggalan budaya abad ke-14, kemudian menyusuri sepanjang bantaran Ci Kapundung. Dilakukan dengan berjalan kaki, menyusuri rumah bertingkat yang saat ini dibangun di lereng Tamansari. Total perjalanan adalah 2,3 km, dilakukan berjalan kaki, menyusuri perumahan padat. Fasadnya vertikalisasi, ditempati bangunan tambahan bersusun seperti layaknya rumah tumbuh. Bukan saja hunian warga, ke arah tepi jalan ditempati bangunan komersial hingga perhotelan.

DAS ini mempunyai luas daerah tangkapan sekitar 43.439,04 Ha dengan panjang sungai sekitar 39 km dan kerapatan sungai 2,41 km/km2(BPDAS Citarum Ciliwung 2006). Luas totalnya yaitu 154 km2. Lebar Sungai Cikapundung dibagian hulu mencapai sekitar 6 meter dan terus melebar hingga sekitar 20 meter di bagian hilir.

Menurut penuturan warga Kampung Cimaung, Tamansari menyatakan bahwa dahulu sungai ini lebih lebar. Akibat pembangunan perumahan warga sejak tahun 1970-an, menggeser dari dalam ke arah luar, sehingga lebar sungai berkurang. Dampaknya adalah erosi dan luapan sungai pada saat hujan deras, dan membahayakan kestabilan lereng di sepanjang bantaran sungai.

Para partisipan yang hadir adalah pegiat wisata, pegiat cagar budaya, hingga pelaku pemandu wisata yang berdomisili di Bandung. Sesuai dengan tujuan kegiatan ini, membuka jaringan dan potensi geowisata di kota Bandung. Aktivitasnya adalah memperlihatkan keragaman alam, budaya di sekitar bantaran Ci Kapundung segmen Tamansari, Bandung. Dalam kegiatan Geourban ke-8 ini, mengajak partisipan untuk melihat kembali bukti letusan kataklismik G. Sunda, bukti endapan Danau Bandung Purba. Selain itu menunjukan keberadaan budaya pendukung pada masa Neolitik (prasejarah) dan Sunda Klasik. Sedangkan lapisan budaya berikutnya yang berkaitan dengan masa kolonial, tidak disajikan dalam kegiatan ini. Hal tersebut karena telah disajikan oleh komunitas pegiat sejarah sebelumnya.

Seperti yang telah diungkap oleh para peneliti arkeologi, menandaskan bahwa Ci Kapundung adalah sungai yang melahirkan tiga lapisan budaya. Mulai dari budaya prasejarah yang ditandai dengan penemuan arca Cikapundung di sekitar Kebun Binatang Tamansari. Arca tersebut adalah tinggalan budaya pendukung Sunda Klasik yang diperkirakan hadir sekitar abad ke-14. Keberadaan arca tersebut, kini menjadi koleksi Museum Nasional di Jakarta. Ciri dan bentuknya merupakan perwujudan raja yang disajikan seperti dewa. Dengan demikian arca tersebut bisa dikelompokan ke dalam Tipe Pajajaran.

Lapisan budaya sebelumnya adalah peradaban prasejarah. Seperti yang ditunjukan oleh A.C dr Jong (1930), Koenigswald (1935), Rothpletz (1972) melalui peta sebaran budaya mikrolit. Artefak tersebut berupa alat berburu yang terbuat dari bahan gelas vulkanik atau obsidian. Ditemukan disekitar hulu Ci Kapundung, atau sekitar Bukit Kordon dan menyebar sebagian di arah timur Cileunyi. Posisi penemuannya berada di ketinggian lebih dari 725 m di atas permukaan laut/mdpl. Dengan demikian Rothpletz menduga, bahwa ciri budaya yang berkembang tersebut adalah kelompok manusia prasejarah yang dipengaruhi oleh paras Danau Bandung Purba. Sehingga pendapat demikian menyatakan bahwa manusia prasejarah yang hidup antara 5600 hingga 9500 BP (Yondri, 2005), masih menyaksikan Danau Bandung Purba.

Kunjungan pertama adalah melihat kembali tinggalan budaya di bantaran Ci Kapundung. Pemberitaan tahun 2010 menyebutkan, ada bukti prasasti yang dituliskan di atas batu andesit. Terletak di Kampung Cimaung, Tamansari Bandung. Dalam pemberitaan tersebut, menuliskan bahwa aksara yang ditoreh di atas batuan beku tersebut adalah berasal dari abad ke-14 (voaindonesia.com, 2010). Seperti yang dinyatakan oleh Nandang Rusnandar dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Jawa Barat, bahwa tulisan tersebut menggunakan aksara Sunda Kuno. Berbeda dengan pendapat ahli Filologi Unpad yang menyatakan bahwa aksara di prasasti tersebut bukan aksara Sunda Kuno.

Dari titik ini bisa diamati bongkah-bongkah batuan andesit yang terendapkan di tempat ini. Bisa jadi budaya lama memanfaatkan sumber daya alam batuan keras ini, sebagai penanda budaya. Seperti yang ditunjukan oleh penemuan beberapa arca di sekitar Taman Sari atas, yang dibuat dari bahan yang mudah didapat, diantaranya batuan keras vulkanik.

Setelah melepas lelah sesaat di warung, dilanjutkan dengan diskusi singkat mengenai bukti-bukti peradaban yang pernah hadir di bantaran Ci Kapundung. Diperkirakan masih ada beberapa tinggalan budaya yang belum ditemukan, mengingat Ci Kapundung merupakan sungai tua di dataran tinggi Bandung. Bisa saja belum ada penemuan baru, mengingat kegiatan penelitian arkeologi terkendala dengan sumber pendanaan dan urgensi. Sehingga penemuan arkeologi biasanya datang dari laporan masyarakat.

Kegiatan dilanjutkan menyusuri Ci Kapundung melalui jalan sempit yang mengarahkan ke utara. Jalanan cukup untuk melintas sepeda motor dan pejalan kaki, sehingga diperlukan kehati-hatian bagi para pengendara yang akan berpapasan. Jalan setapak ini menyusuri saluran irigasi yang dibuat untuk kebutuhan pengairan dan saluran drainase warga. Dibeberapa bagia tempat saluran terbuka tersebut menjadi septik tank terbuka oleh beberapa rumah warga, sehingga menimbulkan aroma bau. Hal demikian bisa dimengerti, akibat rumah yang dibangun ditahan miring tersebut sudah sempit dan tidak menyisakan ruang untuk pembangunan septik tank.

Selepas jalan Pelesiran, kemudian arah perjalanan berbelok ke arah timur. Mengikuti jalan yang mengarah ke apartemen Jardin. Rumah susun yang dibantun di atas tanah kurang lebih 11.000 m2 ini berhimpitan langsung dengan garis Ci Kapundung. Dalam pembangunannya, rusunami ini mengandung masalah, baik berkaitan dengan kepemilikan lahan, hingga pengelolaan sumber air. Selain itu menghilangkan satu-satunya kolam pemandian masa kolonial Kolam Renang Cihampelas.

Bergerak terus ke arah utara, memperlihatkan singkapan batuan di sungai. Disusun oleh material yang lebih halus di bagian bawah, dan kasar di bagian atas. Menandakan sedimen danau Bandung Purba di segmen Lebak Siliwangi. Batuannya berstruktur breksi vulkanik, hasil kegiatan letusan G. Sunda-Tangkubanparahu. Dalam peta geologi yang telah di detailkan, merupakan Formasi Cibeureum yang disusun oleh perulangan breksi dan tuff dengan tingkat konsolidasi yang rendah serta sisipan lava basal. Umurnya sekitar Pleistosen Akhir hingga Holosen (Koesoemadinata dan Hartono, 1981). Dalam kesempatan ini Zarindra, selaku pemandu geowisata menambahkan bahwa kuasa sungai mampu mengangkut material vulkanik dari hulu kemudian diendapkan di hilir.

Dari bantaran sungai di sebelah timur Sabuga, terlihat endapan volkanik ini di erosi oleh sungai. Dicirikan dengan jalur yang tererosi membentuk curugan kecil, dan menoreh batuan keras menjadi lajur air. Jalan setapak ini berakhir di Sabuga, kemudian berbelok ke kembali ke Babakan Siliwangi. Acara ditutup dengan penyampaian kesan yang didapat selama kegiatan ini berlangsung.

Breksi gunungapi, alas Ci Kapundung segmen Babakan Siliwangi
Breksi gununugapi halus dan kasar, dierosi Ci Kapundung
Hunian warga di bantaran Ci Kapundung, sekitar Cihampelas bawah
Warga pemilik rumah di depan batu
Peserta Geourban di depan batu yang dianggap prasasti

Catatan Geourban#7 Pahoehoe

Selepas kampung Sekejolang, Ciburial, Kordon atas, langkah dilanjutkan melalui jalan tanah. Lajur setapak yang dipagari pohon tegakan pinus, mengarah ke jalan poros yang sejajar dengan aliran Ci Kapundung. Dibutuhkan waktu 20 menit menuruni lereng curam tersebut, meniti pijalan tanah yang licin akibat hujan lebat semalam. Jalan setapak tersebut merupakan jalur warga Sekejolang, bagi yang akan menuju Pintu II Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, dari arah Maribaya.

Akses inilah yang dilalui dalam kegiatan Geourba#7, mengunjungi situs tapak bumi lava pahoehoe. Total jarak tempuh adalah satu kilometer lebih sedikit, dengan waktu perjalanan tidak lebih dari 30 menit, dari kampung Sekejolang menuju situs lava pahoehoe. Pihak pengelola Tahura Djuanda menuliskannya Batu Batik, dipapan petunjuk. Dari persimpangan papan informasi tersebut, dilanjutkan menapaki jalan setapak yang telah ditata. Dilanjutkan menuruni tangga yang mengantarkan para pengunjung tepat dipelataran lava pahoehoe.

Kemudahan aksesibilitas ini menandakan kepedulian pengeola Tahura Djuanda, memudahkan pengunjung untuk mengunjungi situs alam tersebut. Sebelumnya jalan menuju lokasi ini diperlukan usaha ekstra, melalui jalan tangga batu yang disusun, tegak.

Di situs ini terlihat masih tampak seperti awal penemuan 2012. Berupa pelataran yang tersingkap bagian penutupnya, akibat tererosi oleh aliran Ci Kapundung. Di teras ukuran kurang lebih 6 x 4 meter ini memperlihatkan fitur produk gunungapi yang unik. Seperti yang diketahui, bahwa produk letusan dibagi ke dalam dua kelompo besar; tefra yang berupa material yang dilontarkan diletusan eksplosif. Diantaranya bom gunungapi, piroklastik dengan ukuran beram hingga abu gunungapi. Kemudian proudk ke-dua adalah lava, dari hasil letusan efusif.

Aliran lava tersebut mengalir dengan jarak tertentu, tergantung dari kekentalannya yang dikendalikan oleh jumlah silika. Semakin encer menandakan lebih asam, sehingga menghasilkan produk lava a’a, sedangkan bila lebih kental, mengandung silika lebih rendah dan bergerak sangat lambat. Di lapangan dicirikan dengan warnanya lebih gelap atau lava basal.

Seperti yang dijelaskan narasumber Geourban#7, Fajar Lubis. Jenis lava yang ditemui di bantaran Ci Kapundung adalah bersifat basal, dikelo,pokan ke dalam Formasi Cikidang, dan berumur 48.000 tahun yang lalu (Sunardi & Koesoemadinata, 1997). Berkomposisi basal, dengan viskositas sangat rendah (Abdurrachman, 2016). Secara umum, biasanya ditemui di tatanan tektonik intraplate (di tengah benua), berupa hotspot dan jarang ditemui di zona subduksi gunungapi Jawa bagian selatan.

Pahoehoe dalam bahasa Polinesia (Hawaii), adalah riak air yang terbentuk saat mendayung perahu. Diterapkan dalam ilmu gunungapi, berarti aliran lava yang dicirikan dengan permukaanya halus, membentuk seperti untaian tali. Persis seperti yang ditemui di bantaran Ci Kapundung segmen Maribaya. Dalam penafsiran budaya, dirujuk pada selendannya Dayang Sumbi (Bachtiar, 2014), berkaitan dengan legenda Sangkuriang.

Catatan Singkat Geourban#5 Cimahi Hulu

Sungainya menyempit, dipagari oleh tembok dengan tinggi 1,3 meter. Berkelok-kelok memotong kantor pemerintahan kota Cimahi. Alirannya kemudian terus mengalir mengikuti dataran lebih rendah ke arah Cimahi Selatan. Setelah memotong kota melalui perumahan dan kawasan industri, alirannya bermuara di Ci Tarum segmen Curug Jompong. Ci Mahi merupakan Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Ci Tarum, membentang sepanjag Kota Cimahi, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Sungai yang bermuara di sekitar G. Tangkubanparahu, kemudian ditangkap di bendungan Situ Lembang di sekitar ketinggian 1574 m dpl kemudian mengalir menuruni lereng, hingga titik terendah dipertemuan dengan Ci Tarum di Nanjung pada elevasi 649 m dpl.

Panjang sungai utamanya adalah 30.6 km, dengan kemiringan rata-rata 17.84% dan kelliling DAS 66 km (Safarina dan Ramli, 2015). Dalam kegiatan geowisata yang dikemas dalam series ekskursi Geourban#5 (29/1, 2022), mengambil di segmen tengah, mulai dari perkantoran Kota Cimahi, hingga Curug Bugbrug yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung Barat. Dalam peta Geologi Gunungapi Tangkubanparahu, Soetoyo dan Hadisantono, 1992, menginteptretasikan lintasan Ci Mahi adalah sesar dengan arah utara selatan, namun tidak nampak dipermukaan.

Titik kunjungan pertama di Plaza Rakyat Pemkot Cimahi. Plaza yang bersebelahan dengan kantor Pamong Praja Cimahi, dipotong oleh Ci Mahi. Penantaan sungainya ditembok dengan lebar kurang lebih 3 meter, dan tinggi antaran 1,5 meter hingga 2 meter. Pada saat kunjungan, debit airnya surut karena alirnya dibelokan melalui irigasi-irigasi untuk pengairan sawah dan ladang di bagian hulu. Manajemen disain sungai ditembok, bermaksud mempercepat aliran sungai dan tidak mengerosi bantaran sungai.

Dalam laporan BPBD Kota Cimahi, banjir di ruas utama Ci Mahi seringkali terjadi terutama pada puncak musim penghujan, atau sekitar bulan Desember hingga Februari. Pada 19 Desember 2013 dilaporkan terjadi dampak banjir dari luapan sungai, menggenai jalan Amir Machmud, di sekitar kelurahan Cigugur. Tinggi genangan mencapi 50 cm. Pada 21 Januari 2014 terjadi luapan Ci Mahi di daerah Pemkot Cimahi, dipicu oleh adanya pengoperasian Balai Perikanan. Luapan airnya menggenangi jalan protokol kota Cimahi, hingga mencapai tinggi genangan 1 m.

Peristiwa luapan sungai tersebut berasal dari meluapnya muka air sungai yang tidak tertampung oleh Ci Mahi. Penyebabnya bisa jadi karena perbedaan batas wilayah sungai, dan batas wilayah kota yang saling berebut lahan.

Geourban#5 bermaksud melihat kembali pengangan tata guna lahan, hingga permasalahan yang timbul dalam pengelolaan sungai kota melalui kupasan ilmu kebumian. Diikuti oleh dua belas orang peserta, dengan latar belakang beragam. Mulai dari pengajar pariwisata vokasi, pegiat wisata, institusi BPBD, komunitas lingkungan hingga pegiat wisata alam. Kegiatan ini dimulai dari titik kota, menyusuri Ci Mahi hingga segmen hulu. Acara dimulai tepat pukul 07.30 wIB, mengambil tempat di Plaza Pemkot Cimahi dan dibuka oleh Deni Sugandi, selaku pemandu geowisata. Penyampaian brifing singkat, serta penjelasan posisi geografis rencana kegiatan. Disambut selanjutnya oleh Fajar Lubis, ahli hidrogeologi. Menguraikan geologi regional cekungan Bandung, dan posisi Ci Mahi yang mengalir dari utara ke selatan.

Di titik ke-dua mengunjungi wisata alam yang dikelola oleh warga Ciawitali, Citeureup, Cimahi Utara, Kota Cimahi. Destinasi wisata alam dan desa, terletak dilembah Ciawitali yang dibelah oleh Ci Mahi. Berupa sarana pariwisata seperti saung, dan sarana wisata kebun yang sering menerima kunjungan wisatawa untuk makan siang khas Sunda. Dikelola oleh Ujang Sutaryat selaku ketua komunitas Pakusunda, Ciawitali. Menuturut pa Ujang, pada awal tahun 80-an, Ci Mahi yang melalui wisata Saung Ciawitali Batupoyan mengalir bersih. Kadang dimanfaatkan sebagai sumber air baku warga sekitar, hingga kegiatan untuk mandi. Ia mengenang bahwa pada waktu mudanya, ia sering berenang, dan memanfaatkan Bayupoyan untuk sekedar berjemur mengusir basah setelah berenang di sungai. Namun akhir 2017 lokasi tersebut secara bertahap menjadi lokasi pembuangan sampah warga sekitar.Batupoyan ditelan oleh tumpukan sampah yang menggunung, sehingga tidak ada lagi aktivitas berenang dan berjemur di atas Batupoyan. Pada akhir 2020, pa Ujang melalui komunitas Pakusunda, menata ulang kawasan Ciawitali termasuk melakukan pembersihan sampah. Langkah selanjutnya adalah mendorong menjadi destinasi wisata alam dan budaya, disebut Saung Ciawitali Batupoyan. Menyediakan beberapa saung-saung bambu yang ditata sesuai lahan yang tersedia, dikelilingi pesawahan yang masih digarap.

Batupoyan atau batu untuk berjemur, berupa bongkah dengan struktur breksi gunungapi, disusun oleh fragmental batu lava, pasir, dan kerikirl yang menyudut tesemenkan oleh tuf. Terbentuk hasil dari longsoran gegerpuing (debri avalance), material yang dimuntahkan oleh aktivitas letusan G. Tangkubanparahu antara 50.000 hingga 10.000 tahun yang lalu. Sebarannya berupa kipas volaknik, melebar barat-timur, menutupi sebagian utara Kabupaten Bandung, Ngamprah dan sebagian Cimahi.

Kunjungan berikutnya adalah Curug Panganten, di sebelah utara Ciawitali. Masuk ke dalam Padaasih, Cisarua. Air terjun yang mengalir di atas aliran lava, letudan G. Tangkubanparahu. Dicirikan dengan gawir terjal, dan tegak, disusun oleh lava tebal berwarna abu-abu ke gelap. Tinggi air terjun kurang lebih 8 meter, mengalir melalui celah sempit dan dibagian dasarnya membentuk kolam. Terbentuk karena dasar tebing disusun oleh batuan yang mudah tererosi, diantaranya breksi. Endapan volkanik dari letusan sebelumnya, baik itu diendapan melaui mekanisme aliran dan jatuhan. Seiring waktu tererosi oleh air terjun, mementuk ceruk yang dalam. Ditepi kolam terlihat bongkah-bongkah lava hasil jatuhan, akibat dierosi oleh aliran Ci Cimahi.

Di stop berikutnya adalah mengamati Ci Mahi yang digeser oleh Sesar Lembang, di sekitar Padaasih yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung Barat. Secara umum menggunakan bantuan alat ukur di Google Maps, jarak yang bergeser kurang lebih 379 meter dengan arah sumbu timur ke barat. Disusun oleh

Dari titik pengamatan dari titik tinggi sekitar taman pemakaman Padaasih, terlihat lembah yang dalam, dierosi kuat oleh Ci Mahi. Bagian dasarnya memiliki lebar sekitar 60 hingga 80 meter, berupa dataran banjir (flood plain) yang dimanfaatkan menjadi perkebunan dan sawah warga. Dindingn tegaknya, berkisar antara 60 hingga 75 meter. Membentuk celah yang dalam yang terbentuk oleh sesar geser mengiri. Dari studi geodesi memperlihatkan laju pergeseran sinistral Sesar Lembang adalah 3-14 mm per tahun (Abidin dkk., 2008; Abidin dkk., 2009).

Kegiatan penutup menunjungi Curug Bugbrug. Masih dalam aliran Ci Mahi, terletak di sebelah utara Curu Cimahi. Masuk ke dalam wilayah Kertawangi, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Di bagian dasar curug, terlihat dinding tegak yang disusun oleh aliran lava hasil letusan G. Sunda yang berselang seling dengan aliran piroklastik dari sumber yang sama (Soetoyo dan Hadisantono, 1992). Umur endapan piroklastik melalui pengukuran arang kayu, berumur 38.300 tahun (Hadisantoso, 1988).

Geourba#5 ditutup dengan diskusi dan tanya jawab, mengenai sungai yang mengali dari utara ke selatan membelah kota Cimahi. Dari perjalan singkat tersebut, partisipan bisa melihat langsung, melalui pemaknaan rahasia bumi melalui susur Ci Mahi dari segmen kota Cimahi hingga ke bagian hulu. Alam membentuk sedemikian rupa, agar terjadi keseimbangan di dalamnya, sehingga diperlukan pengertian tersebut, dalam rangka pengelolaan dan penataan melalui kebijakan dan penetapan regulasi yang berpihak wawasan lingkungan.

Breksi vulkanik, lahar gunungapi hasil letusan G. Tangkubanparahu.
Mataair berasosiasi dengan batuan breksi gunungapi.
Penjelasan Ci Mahi (sungai), dari hulu ke hilir.

Catatan Singkat Geourban#4 Cimahi

Untuk yang ke-empat kalinya, pada 18 Desember 2021, asosiasi profesi Pemandu Geowisata Indonesia Pengurus Pusat dan Dewan Pengurus Wilayah Bandung Raya, menyelenggarakan kegiatan geowisata di sekitar Cimahi Selatan. Kota yang dihimpit oleh Kota Bandung di sebelah timur, Kabupaten Bandung Barat di sebelah barat dan utara, sedangkan Kabupaten Bandung berada di sebelah selatannya. Walaupun ruang lingkupnya tidak lebih dari 40,37 km² (Pemkot Cimahi, 2021), memiliki potensi yang tersembunyi yang siap dikupas melalui kegiatan geowisata.

Dalam kegiatan Geourban#4 Cimahi, bermaksud menunjukan potensi geowisata di kota yang dibelah oleh Ci Mahi. Dikesemapatan ini, menggali potensi geowista di Kecamatan Cimahi Tengah dan Selatan, diantaranya di sekitar Cibeber, dan Leuwigajah. Dalam beberapa referensi, bukit adalah tinggian yang memiliki titing tertinggi tidak lebih dari 600 m dari dasar rata-rata. Sedangkan gunung tentunya lebih dari itu, kemudian dicirikan memiliki lereng terjal.

Kunjungan pertama adalah mendaki puncak G. Bohong. Tinggi 896 m dpl. atau kurang lebih 150 m dari naik dasar lapangan tembak. Dipuncaknya telah disematkan Patung Kujang lambang kesatuan Brigif 15 Kujang, yang menaungi markas kesatuan di sebelah tenggaranya. Penguasaan wilayahnya di bawah administrasi Brigif, namun pengelolaannya diserahkan kepada pa Engkos, selaku warga yang diserahi tanggung jawab untuk mejaga kebersehinan lokasi. Demi menutupi ongkos kerja, ia bersama istrinya membuka warung alakadarnya, jasa mie rebus instan dan kopi.

Dari titik tinggian ini Deni Sugandi selaku pemandu geowisata, memberikan penjelasan intepretasi bentang alam yang tersuguh didepan partisipan. Dalam catatan Belanda, disebut Het Bogen, atau melengkung yang bisa ditafsirkan bentuk tinggian yang melekungkung. Seiring waktu dilafalkan bohong oleh warga lokal, karena kurang mampu mengucapkan dalam bahasa asing. Di sebelah utara terlihat dua kerucut gunungapi G. Burangrang sisa dari sistem kaledera Sunda. Sedikit bergeser ke arah kananya, jelas terlihat bentuk perahu terbalik. Khasnya G. Tangkubanprahu. Kemudian bergeser ke arah timur, berjajar pegunungan purba grup Manglayang-Palasari-Bukittunggul. Sedikit ke arah timur terlihat kerucut tajam dalam samar, G. Cireme diperbataasan Majalengka-Kuningan dan Cirebon.

G. Bohong merupakan perbukitan intrusi yang tumbuh hasil dari kegiatan magmatisme, menembus zona lemah, kelucurusan utara selatan. Muncul bersamaan dengan perbukitan intrusi lainya, seperti G. Lagadar, Selacau, Pancir dan beberapa kerucut-kerucut lainya. Kelompok perbukitan intrusi ini berumur berumur 4,08 juta tyl dan 4,05 jt tyl, hasil analisis K-Ar batuan di Selacau dan Paseban (Sunardi dan Koesoemadinatan, 1999).

Tepat dibawahnya diterobos oleh proyek Kereta Api Cepat Indonesia Cina, disingkat KCIC segmen 11, dari 13 terowongan. Panjangnnya 500 meter, menembus batuan instrusi batuan beku yang dianggap mampu menjaga kesetabilan terowongan. Pada saat pengerjaannya, dibutuhkan teknik peledakan, karena yang diterobosnya adalah batuan beku andesitik.

Pada kesempatan berikunya, narasumber Fajar Lubis menyampaikan gunungapi tua bergeser dari selatan ke utara. Diantaranya tumbuhnya gunung PraSunda yang diperkirakan mulai membangun dirinya sejak umur Pleistosen, atau 1.7 juta tyl.

Tujuan ke-dua adalah mengunjungi Terowongan KCIC segmen 11 Cibeber-Gunung Bohong yang berada di sebelah tenggara. Dititik ini Zarindra, biasa disapa Zarin menyampaikan teknik pengeboran terowongan. Karena menemui batuan beku yang keras, ia menjelaskan untuk membobol setiap jengkal lubang, dibutuhkan teknik peledakan.

Di tujuan ke-tiga, mengunjungi sisa tambang dan endapan awan panas G. Sunda-Tangkubanparahu. Deni menjelaskan mekanisme luncuran awan panas, seiring dengan penghancuran kubah lava dan ambruknya dinding kaldera. Produknya berupa gas, piroklastik dan fragmental bom yang dilontarkan balistik. Awan panasnya turun dengan kecepatan tinggi, mengikuti lembahan, dan mengendap menjadi ignimbrite. Di Cisurupan, terlihat gawir tegak sisa pengambangan batu-pasir, dikerjakan sejak tahun 70-an. Menggali vertikal dan terbuka, hingga kedalam lebih dari 30 meter. Luas wilalayah penggalian kuran lebih 300 m2 atau luas keliling 2.3 km. belum ada perhitungan jumlah volume material yang diangkat, mengingat kegiatan penggaliannya kurang lebih terjadi hampir 20 tahun, menggunakan linggis dan cangkul secara manual.

Dari titip pengamantan ini, terlihat G. Padakasih yang menjulang, batas antaran wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cmahi. Dari titik Ciseupan, masih terlihat hijau segar, karena Pemerintah Kota Cimahi mengeluarkan aturan pelarangan pengambangan. Sedangkan di balik G. Padakasih, telah habis oleh kegiatan tambang. Menurut Tony, gunug ini disebut G. Panganten, mengingat ada dua kerucut yang mirip pasangan. Dalam keterangannya ada cerita rakyat di kawasan ini, disebut penunggu gunung disebut Nyi Kentring Manik yang meneyerupai wujud ular besar. Bila ia terusik, maka ia akan marah dalam bentuk gempa, lonsor hingga kekeringan yang melanda daerah ini.

Bencana kekeringan pernah terjadi di sekitar Padakasih, pada awal 80-an, akibat penambangan Ciseupan. Menurut Fajar, bisa saja airtanah permukaan terganggu, sehingga mataair dihulu kering. Dibutuhkan 20 tahun untuk memulihkan kembali sumber mataair di sekitar lereng timur G. Padakasih.

Kunjungan selanjutnya ke kawasan pengelolaan ekowisata Padakasih, dikelola oleh warga. Dalam kesempatan ini peserta Geourban diberikan kesempatan untuk turut mendukung penghijauan, menanam bibit kopi robusta yang telah disiapkan sebelumnya.

Untuk lokasi penutup, mengunjungi tragedi longsoran sampah TPA Leuwigajah tahun 2005. Tragedi ini merengut hampir 157 orang yang terdampak langsung dan hampir setengahnya tidak diketemukan higga kini. Dari keterangan saksi, akibat hujan lebat yang tidak berhenti, menyusup, kemudian menjadi bidang gelincir. Dilaporkan juga terjadi ledakan gas metan, diciriakan dengan api yang berwarna biru. Tragedi ini adalah kesalahan manajemen dan lalainya pengawasan dari pemengan regulasi saat itu.

Kegiatan berakhir tepat pukul 12.30 WIB, ditutup dengan pengukuhan anggota baru angkatan II, hasil kegiatan Diklat pada 28 November 2021. Sebagai penutup acara disambung makan bersama dengan makanan khas desa adat Cireundeu.

Lembah Leuwigajah, sisa longsoran
Kebun warga di atas tumpukan sampah
Perkebunan jagung, menempati sisa lahan TPA
Batuan beku yang telah mengalami pelapukan di Pasir Gajah Langu
Hidangan makan siang, olahan singkong di Desa Adat Cireundeu
Arah longsoran di TPA Leuwigajah

Catatan Geourban#3 Ledeng

“darimana air berasal” tanya Fajar Lubis kepada peserta Geourban. Pertanyaan terebut memancing banyak sekali jawaban, mulai dari sungai, air hujan hingga ada yang menjawab dari keran air.

Peserta berkumpul di gerbang selatan UPI, jalan Setiabudi Bandung. Sekitar 21 motor roda dua, dengan jumlah peserta 34 orang dengan latar belakang berbeda. Diantaranya dihadiri oleh komunitas dan lembaga Komunitas Cai, Jarambers/Djiwadjaman, HPI DPC Bandung, Sahabat Heritage Indonesia, Pramuka Kwarcab Bandung, Bandung Heritage, ITLA, Kampoeng Tjibarani, HMTG “GEA” ITB, D1VA Tour, Genpi Yayasan Biruku, Hutan Menyala (The Lodge Group) dan FTV UPI.

Kegiatan ini dibuka oleh Deni Sugandi, selaku pemandu geowisata. Dalam paparan singkatnya menjelaskan rencana titik kunjungan, dan pengarahan awal tentang keselamatan dan keamanan selama berkendara. Kunjungan pertama ke Gedong Cai di Cidadap Girang, bangunan kolonial yang resmi beroparasi pada 29 Desember 1921 untuk menyuplai air minum di sekitar kawasan Bandung utara.

Di lokasi ini diberikan penjelasan orientasi geografis, kemudian tentang sejarah pembangunan oleh Merrina Kertowidjojo. Biasa disapa Meri, mengungkapkan bahwa Belanda telah menyusun rencana jangka panjang, dengan memanfaatkan sumber mataair di sekitar Cidadap Girang, untuk menyuplai kebutuhan masyarakat disekitar Bandung utara.

Selanjutnya Fajar Lubis, menyampaikan informasi mengenai hidrogeologis yang berkembang di sekitar Kawasan Bandung Utara.

Tujuan selanjutya mengunjungi tapakbumi bukti letusan Gunung Sunda-Tangkubanparahu. berupa gawir terjal, perlapisan tebal endapan awan panas. Materi disampaikan oleh Deni Sugandi, Zarindra dan Fajar Lubis, mengupas dari sisi proses pembentukan, hasil letusan eksplosif kaldera Sunda, dan sistem hidrogeologi yang berkembang diendapan volkanik.

Lokasi terakhir yang dikunjungi adalah sumber mataair panas Curug Nagrak, di Sukajaya Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sumber mataair panas yang muncul, berasosiasi dengan sesar yang memanjang utara-selatan, di lereng Gunung Tangkubanparahu sebelah selatan.

Kegiatan ini diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia atau PGWI, upaya menjahit titik-titik geotapak yang tersebar di Cekungan Bandung. Aktivitasnya dalam bentuk geowisata, wisata yang berbasis kepada fenomena kebumian, dan sejarah. Kegiatan ini bersifat probono atau tidak dipungut biaya, dengan tujuan bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat, melalui berbagi informasi. Dengan demikian diharapkan disetiap destinasi wisata, menghidupkan pelaku jejaring lokal melalui kegiatan pemanduan dan pengelolaan.

Catatan Singkat Geourban#1 Gunung Padang Ciwidey

Kegiatan geowisata Bandung bagian selatan, masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung ini diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Dewan Pengurus Wilayah Bandung Raya. Kegiatan ini terbuka untuk umum yang menaruh minat khusus dengan ilmu kebumian populer, sejarah budaya. Dilaksanakan secara berkala, dalam rangkain aktiviasi jejaring, menggali potensi geowisata Cekungan Bandung dan sarana belajar kepemanduan di PGWI.

Pelaksanaan geowisata ke Gunung Padang Ciwidey, dibuka terlebi dahulu dengan kegiatan daring (19/7, 2021) melalui pertemuan virtual. Kegiatan ini sebagai sarana penjelasan umum, hingga rencana teknis pemberangkatan. Materi yang disampaikan oleh Deni Sugandi, selaku pemandu geowisata, bersama narasumber lainya. Berkaitan sejarah disampaikan oleh Gangan Jatnika, dan Sodikin Kurdi. Pertemuan awal ini berguna untuk persiapan kegiatan lapangan, termasuk apa saja dan bagaimana kegitan geowisata ke Bandung selatan ini dilaksanakan.

Mengambil titik pertemuan di sekitar Soreang (21/7, 201). Dihadiri oleh 21 orang peserta dengan latar belakang yang beragam. Komunitas pegiat wisata, guru geografi, komunitas budaya Sunda, pemandu geowisata hingga komunitas jalan-jalan di Bandung. Kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB, menggunakan modra transpotasi roda dua, menuju statsiun Ciwidey. Bangunan cagar budaya ini merupakan bukti kejayaan jalur keretaapi Soreng-Ciwidey yang dibangun pemerintah kolonial, dalam upayanya mempersingkat jarak distribusi hasil perkebunan dari Ciwidey ke kota Bandung. Dibuka 1924 melalui beberapa statsiun, mengikuti kontur Ci Widey yang berkelok-kelok. Dalam pembangunan jalur kereta api pada masa itu, menuntut kemampuan teknis, diantaranya adalah teknik yang berkaitan dengan pembuatan struktru jembatan besi. Kemampuan rekayasa teknis ilmu sipil kolonial, hingga kini masih bisa disaksikan di lokasi kunjungan ke-dua.

Jembatan Rancagoong yang membentang barat-timur, melewati Ci Widey dengan panjang kurang lebih 100 meter. Dibangun di atas struktur beton dengan menggunakan rangka besi melengkung. Dibangun sebagai sarana penghubung perkebunan dengan jalur distribusi perdagangan di Bandung selatan. Namun pelayanan jasa transportasi kereta api harus tutup awal tahun 80-an, karena kalah bersaing dengan kendaraan roda empat yang semakin menggeliat. Karena tidak bisa lagi menutup biaya operasional, jalur kereta api Soreang-Ciwidwey akhirnya ditutup.

Kunjungan berikutnya adalah ke Gunung Padang, di Rawabogo, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung Barat. Wilayah tinggian perbukitan yang dikelilingi oleh pohon tegak pinus, kemudiand dimanfaatkan oleh masyarakat, melalui pengelolaan tani mandiri perkebunan kopi. Wilayahnya berbatasan antara Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung. Sejak penciptaan daratan Jawa bagian barat 30 juta tyl, (Gunung) Nagara Padang Rawabogo di Ciwidey hadir belakangan. Berupa intrusi batuan beku, sekitar Plistosen Akhir atau sekitar 1.8 juta tyl. Saat ini bongkah-bongkah batuan lava bertebaran dan lapuk berwujud ragam bentuk, menata wajah perbukitan ini menjadi wilayah sakral, tempat bersemayamnya sejarah Sunda.

Deni Sugandi dan Zarindra memberikan penjelasan dari sisi fisik, bahwa perbukitan Gunung Padang merupakan sebuah tubuh batuan beku yang mengalami pelapukan. Dicirikan dengan bongkah-bongkah batuan yang menempati wilayah sebelah timur, dengan bentuknya yang menjulang tinggi. Kemudian di bagian tengah punggungan perbukitan ini, didapati bongkah-bongkah batu yang menyerupai kepala binatang melata hingga bentuk mamalia besar seperti gajah.

Acara ditutup dengan makan siang bersama, bekal yang sebelumnya telah dibawa dari rumah masing-masing. Kegiatan Geourban#1 ini adalah berupaya menyampaikan pesan, potensi wisata bumi dan sejarah berdampingan. Langkah selanjutnya mengaktivasi kegiatan wisata kebumian dan budaya melalui pengemasan paket wisata yang berkelanjutan, termasuk mendorong warga lokal sebagai pemilik wilayah, memiliki porsi peningkatan ekonomi melalui kegaitan pariwisata alam. (DS)