Catatan Geourban#32 Ganeas Sumedang

Dalam laporan prakiraan cuaca, sebagian besar langit Sumedang dibawah sergapan hujan ringan. Terbukti saat rombongan Geourban mendekati kota ini, langit sepertinya ditaungi awan tebal. Temperatur sejuk, mengantarkan kegiatan ini dari pagi hingga jelang sore. Untuk mendapatkan reportase dalam bentuk video, bisa dilihat ditautan https://www.youtube.com/watch?v=U9c54fYwE-w

Sesuai dengan pernjajian di grup Whatsaap, memilih lingkar Binokasih sebagai titik perjumapaan. Selain mudah dijangkau dan dipahami, tugu ini menjadi batas terluar sebelah timur sebelum memasuki pusat kota Sumedang. Tugu yang dihiasi oleh mahkota Binokasih, simbol penerus kerajaan Sunda abad ke-16. Pada abad tersebut Kesultanann Banten semakin mendesak kerajaan Sunda yang berkedudukan di Pakuan Pajajaran (Bogor), hingga runtuh.

Jelang keruntuhan kerajaan tersebut, Raja Sunda terakhir mengirim empat utusan disebut Kadaga Lante.Tujuaanya adalah menyerahkan simbol kerajaan Sunda, agar dilanjutkan oleh Kerajaan Sumedanglarang. Diantaranya adalah mahkota Binokasih, sebagai penegas suksesi kerajaan penguasa sebagian besar Tatar Sunda. Momen inilah yang digunakan oleh raja terakhir Sumedang, untuk menyatakan kerajaan Sumedang berdaulat. Hingga kelak, sekitar 41 tahun kemudian takluk di bawah Kesultanan Mataram, sehingga Sumedang berstatus kabupaten.

Binokasih membawa rombongan Geourban ke masa kejayaan kerajaan Sumedanglarang. Dalam kegiatan sebelumnya https://pgwi.or.id/2025/01/30/catatah-geourban31-dayeuhluhur/ mengupas satu penggalan waktu, raja terakhir Sumedanglarang. Dalam kegiatan ini menggunakan kendaraan roda dua, diikuti oleh pegiat wisata, pemandu dan peminat budaya. Kendaraan melesat menembut jalan raya Sumedang, mengarah ke utara dan memotong kota. Terlihat samar-samar satu bentuk perbukitan yang menaungi kota Sumedang, dari G. Kacapi kemudian berbelok ke arah timur.

Melewati Desa Margamukti, Kecamatan Cisarua. Melalui jalanan yang menhubungkan ke Desa Ciuyah. Jalanan kelas kabupaten, membujur dari timur ke barat. Tidak lebih dari sepeminuman teh, melampaui Cirwaru dan perbukitan Pasir Ciwaru. Jalanan menyempit membelah kampung, kemudian tiba di tinggian Ciuyah. Berupa lembah yang dipotong oleh Ci Uyah. Kiri dan kanannya ditempati hamparan sawah, tumbuh subur sepanjang masa. Sebelah barat terlihat jajaran perbukitan, dihuni oleh vegetasi lebat. Hutan tersebut berfungsi sebagai daerah tangkapa air, sehingga kawasan ini tdak pernah kekeringan.

Tujuan pertama adalah fenomena mataair Ciuyah, Ds. Ciuyah. Terletak diantara sawah warga, sebelah utara dari kantor Desa. Jarak dari jalan raya desa menuju lokasi sekitar 500 meter, melaui salura irigasi. Dilakukan dengan berjalan kaki, sejajar dengan anak sungai hingga lokasi yang akan dituju. Dari pertengahan perjalanan, terlihat lembah yang dipotong sungai, memberikan indikasi adanya pola kelurusan yang dilalui sungai. Dalam laporan tim Badan Geologi KESDM (Saputra drr., 2023), survey seismisitas Gempa Sumedang 31 Desember 2023. Menemukan perkiraan sesar melalui survey lapangan dan morfotektonik. Mengintepretasi adanya pola sesar naik berarah relatif barat-timur, terpotong oleh sesar mendatar berarah timurlaut-baratdaya. Buktinya terlihat kehadiran cermin sesar sebagai sesar mendatar pada badan sungai. Kajian tersebut menindaklanjuti survey Pusat Air Tanah dan Geologi Lingkungan, Badan Geologi. Mengkonfirmasi keberadaan sumber mata air asin di tinggian Desa Ciuyah.

Keberadaan mataair ini diduga sebagai air yang terperangkap apda batuan sedimen, muncul kepermukaan karena diberi jalan oleh retakan pada batuan. Akibat adanya tekangan dari bawah, pembukaan celah yang memungkinkan naiknya fluida ke permukaan. Disebut mata air formasi atau mata air yang berasosiasi dengan batuan sedimen (connate water).

Dalam fisografis pulau Jawa, Sumedang merupakan bagian dari Zona Bogor (Martodjojo. 1984). Zona ini meliputi sebagian besar Sumedang, merupakan perbukitan lipatan yang terbentuk dari batuan sedimen laut dalam. Sehingga diperkirakan sebagian besar Sumedang masih berada di dasar laut. Seiring waktu diendapkan batuan sedimen laut dalam, berupa batupasir-batulempung pada Miosen Tengah hingga Miosen Akhir atau sekitar 23-15 juta tahun yang lalu. Seiring dengan pengendapan batuan sedimen, terdapat cekungan yang menjebak air laut pada saat itu. Pada umur Pliosen terjadi pengangkatan, diakibatkan oleh tektonik. Mengakibatkan pendangkalan dan pensesaran, seperti yang diduga hadirnya sesar Ciuyah.

Mata air tersebut muncul ke permukaan, berasosiasi dengan sesar. Air yang berada jauh di kedalaman lebih dari 1000 meter di bawah permukaan, disebut air formasi (connate water). Debitnya tidak terlalu besar, rasanya asin dan tidak mengindikasikan kenaikan temperatur. Merupakan rembesan, dicirikan dengan munculnya gelembung. Tingkat kegararamannya mendekati air laut, dengan pH 6,7 (Survey PAGTL, 2023).

Di lokasi tersebut ditemukan dua sumur, dibuat oleh pemilik lahan dengan tujuan untuk kegiatan ritual atu pengobatan. Dari informasi warga, lokasi ini sering dikunjungi pada waktu tertentu, sebagai sarana penyembuhan dari penyakit. Beberapa pengunjung melaksanakan niat untuk mandi atau sekedar membersihkan diri. Dengan demikian pemilik lahan memasang kain penutup warna putih, disekeliling sumur mata air Ciuyah. Bahkan beberapa pengunjung menyempatkan mengambil air, sebagai sarana penyembuhan.

Perjalanan ke arah timur, menemui situs Batukuya, Ds. Cimara. Blok batuan yang jatuh dari puncak Pasir Pabeasan. mengendap di sawah warga. Akibat pelapukan, membentuk seperit kura kura. Menurut warga, batu tersebut menjadi penghias alam namun ada juga yang mempercayai sebagai situs ritual.

Berada diantara sawah warga, Desa Cimara, Cisarua, Sumedang. Disebut kuya atau kura-kura dalam bahasa nasional, karena mirip dengan binatang reptil tersebut. Dicirikan dengan adanya rumah atau batok seperti kubah, dan kepala yang menjulur keluar.

Dari ukurannya cukup besar, panjang sekitar 2 meter, dan lebar 1 meter. Tingginya tidak lebih dari 90 cm. Dari sekilas pengamatan, disusun oleh batuan beku. Sumbernya diperkirakan dari bukit yang berada di sebelah tenggara dari Pasir Pabeasan. Akibat kegiatna pelapukan tingkat lanjut, mementuk blok batuan yang jatuh kemudian mengendap diantara pesawahan. Sebagian besar telah mengalami pelapukan, membentuk rekahan-rekahan. Batuan penyusunnya bagian dari Pasir Pabeasan, ditaksir sebagai batuan intrusi batuan beku. Warna batuan abu-abu cerah, mengindikasikan jenis andesitik.

Dari keterangan warga, keberadaan batu Kuya ini awalnya ada di atas perbukitan. Kemudian pindah ke arah lereng, diantara sawah warga. Posisinya berada sekitar 50 meter dari jalan Desa Cimara.

Mendaki ke arah barat, mendekati puncak Pasir Pabeasan. Didapati singkapan batuan beku tebal, tegak dan tetutupi oleh hutan bambu. Berupa perbukitan intrusi batuan beku, membentuk gawir terjal setinggi 10 meter. Berupa lava tebal yang telah mengalami pelapukan dan terdeformasi. Membentuk struktur kekar lembar dan bidang-bidang rekahan. Diantaranya didapat ceruk yang dipercayai sebagai sarang macan, atau disebut liang meong. Ukuran lubangnya memiliki lebar sekitar 1 meter dan tinggi 1,5 meter, berupa lorong kecil. Keberadaanya kini ditutup oleh warga, dengan cara ditimbun dengan menggunakan tanah yang diambil dari sekitar gua. Menuju lokasi tersebut, melaui pesawahan warga, kemudian mendaki mengikuti kontur lereng hingga kearah puncak perbukitan.

Di bagian puncak perbukitan tersebut, ditemui situs Pasir Pabeasan. Situs yg kepercayaan/agama nenek moyang. Berupa batu tegak, disusun diantara bongkahan batuan. bentuk demikian bisa ditafsirkan sebagai matu menhir.

Perjalan dilanjutkan ke arah selatan, menyeberangi Ci Peles di daerah Cibangkong. Kemudian dilanjutkan ke arah jalan raya Wado, berbelok ke arah timur dan mengambil jalan desa Cibogo. Pintu masuk berada diobjek wisata Bale Citembong Girang, dilanjutkan berjalan kaki sekitar 15 menit ke arah selatan.

Keberadaa situs Pasir Kabuyutan, masuk ke dalam wilayah Desa Ganeas. Disebut Situs Kabuyutan Citembong Girang. Sistem religi nenek moyang, berupa susunan batuan dengan berbagai ukuran. Ditata menyerupai altar. Menurut warga sudah digunakan oleh raja Sumedang pertama, sekitar abad ke-8. Berada dilereng perbukitan, dicirikan dengan keberadaan pohon beringin Ficus benjamina yang tinggi menjulang. Diperkirakan umurnya ratusan tahun, dengan akar yang menjalar kesegala arah.

Keberadaan pohon beringin selalu dikaitkan dengan tempat sakral. Dibeberapa kebudayaan dipercaya sebai tempat tinggal roh nenek moyang, memiliki keukuatan mistis sehingga sering digunaan sebagai tempat ritual.

Lokasi penutup berkunjung ke Situs Batu Guling. Desa Kaduwulung. Ditemui beberapa blok batuan, berupa breksi lahar hasil kegiatan gunungapi. Dari keterangan warga, batuan tersebut dijatuhkan dari perbukitan Dayeuhluhur. Dengan tujuan untuk menghancurkan pasukan Cirebon yang berusaha menyerang dari arah timur. Terjadi pada saat penyerangan Cirebon ke Dayeuhluhur, pada tahun 1585. Blok batuan tersebut digulingkan, kemudian mengendap disekiar Desa Kaduluwung, menjadi situs disebut Batu Gulung.

Blok batuan beku berbentuk kuya (kura-kura)
Situs Pasir Pabeasan
Situs Kabuyutan Citembong Girang

Catatah Geourban#31 Dayeuhluhur

Bertepatan dengan perayaan hari raya Imlek, biasanya diasosiasikan dengan langit runtuh melalui bulir-bulir air hujan. Mitos demikian dilalui oleh para partisipan Geourban, menapaki kembali peradaban budaya Sunda abad ke-16 akhir di Priangan timur. Kegiatan dilaksanakan di penutup bulan, tanggal 29 Januari 2025. Merupakan aktivitas menyibak alam dan budaya ke-31, melalui aktivitas jalan-jalan wisata bumi. Kegiatan yang diinisiasi oleh Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia, dengan tujuan membuat jejaring dan mengungkap narasi lokal yang berkaitan dengan wisata bumi.

Diikuti oleh para pegiat konten, wisata dan fotografer berangkat ke bagian timur Bandung. Tepatnya sekitar Kabupaten Sumedang. Moda transportasi sepenuhnya menggunakan kendaraan roda dua, untuk memudahkan jangkauan hingga daya jelajah luas. Terpenting adalah kendaraaan ekonomis yang mampu diandalkan, dimiliki semua orang. Pengelolaan perjalanan seperti ini menjadi cara yang paling efektif, menghindari pergerakan perjalanan yang sering terkendala akibat saling tunggu.

Tema kegiatannya adalah mengupas tentang ruas Jalan Raya Pos saat penguasaan Daendels, kemudian menapaki kembali jaringan jalur kereta api Rancaekek-Tanjungsari di segmen Jatinangor dan Tanjungsari. Dilanjutkan melihat kembali sejarah Kerajaan Sumedanglarang abad ke-16 akhir, di masa pemerintahan Geusan Ulun antara 1579 hingga 1601. Melalui posisi pusat pemerintahan kerajaan Sumedanglarang, pada saat peralihan dari Pangeran Santri ke Geusan Ulun. Rentang waktu antara 1530 hingga 1601, diakhir penguasaan raja terakhir Sumedang Larang sebelum dilebur di bawah penguasaan Mataram.

**

Jelang pagi, langit sepenuhnya dikuasai awan tebal. Berkesan mendung, sehingga cahaya matahari hadir di balik bayang awan. Sedari malam udaranya lembab, seperti hujan akan menguasai sepanjang hari. Tetapi tidak menjadi halangan, partisipan hadir sesuai waktu yang telah dinjanjikan. Titik temu di SPBU Cinunuk, Ujungberung. Setelah brifing singkat, kemudian bergeraka ke Jatinangor, masuk ke wilayah Kabupaten Sumedang.

Selepas kampus Universitas Padjadjaaran, dilanjutkan ke arah timur, menapaki jalan raya yang diusahakan Daendels 215 tahun yang lalu. Sekitar 300 meter berbelok ke arah utara melalui jalan kampung sekitar Cikuda. Jalanannya mulai menyempit, melalui labirin rumah-rumah warga. Aksesnya merupakan gang sempit yang diperkirakan merupakan jalur rel kereta api di masa lalu. Keberadaan relnya sudah tidak ditemui, karena sebagian besar telah ditutup oleh rumah hunian warga atau sudah hilang. Dilanjutkan ke arah utara, sedikit terjal dan berbelok tajam hingga tiba di mulut jembatan. Berupa struktur bangunan yang terlihat masih kokoh, hingga mampu melampaui jamannya. Masyarakat menyebutnya adalah jembatan Cincin atau jembatan Cikuda, karena bentuk lingkar penyangga bagian bawahnya melengkung. Jembatan ini adalah sisa kejayaan industri transportasi kereta api di masa Kolonial, menghubungkan Rancaekek ke Tanjungsari, Sumedang.

Jembatan kokoh yang disangga oleh kolom-kolom menancap di bawah, mengangkangi Ci Kuda, sungai yang berhulu di lereng tenggara G. Manglayang. Di bawahnya ditempati ladang dan sawah warga, kemudian diutaranya adalah kompleks makam tua. Penampilannya megah dan masih bertahan hingga kini. Keberadaanya bersaing dengan Apartemen yang begitu angkuh menutup arah pemandangan G. Geulis-Jarian. Jembatan penghubung Jatinangor-Cikuda ini terletak di Desa Hegarmanah, Kabupaten Sumedang. Merupakan bagian dari jaringan kerja Staat Spoorwagen Verenigde Spoorwegbedrijf, sudah hadir 1918. Saat ini dimanfaatkan sebagai sarana lintasan warga, memotong jalur dari Cikuda ke kampus UNPAD.

Untuk menuntaskan telusur jaringan rel kereta api segmen Jatinangor, dilanjutkan mengunjungi stasiun terakhir di kota Tanjungsari. Lokasinya berada di Tanjungsari, atau sekitar 5 km dari jembatan Cikuda. Keberadaan stasiun in telah berubah menjadi sarana ruang pertemuan umum, namun bentuk dan struktur bangunannya tidak berubah.

Jaringan rel kereta api ini digunakan sebagai sarana angkut hasil perkebunan, dari kawasan perkebunan Tanjungsari, hasi karet Jatinangor, Cijeruk yang dikirim ke Bandung melalui stasiun Rancaekek. Melewati tiga halteu (stasiun), Lebakjati, Warungkalde hingga berakhir di Rancaekek. Diperkirakan jalur ini mati seiring dengan kedatangan Jepang pada 1942, mengangkut batang besi rel untuk kebutuhan perang.

Dilanjutkan ke arah timur, bertandang ke struktur bangunan yang berbentuk atap melengkung, dan memanjang arah timur barat. Panjang struktur tersebut sekitar 12 meter, lebar lebih dari 4 meter. Hanya memiliki satu pintu, lebar 1,5 meter dengan tinggi 2 meter lebih. Sekilas tampak seperti bekas gudang, namun bila dilihat secara detail berkesan memiliki fungsi lain. Diperkirakan merupakan bagian dari sistem pertahanan militer. Berada di jalur raya Tanjungsari, sekitar 300 meter ke arah selatan. Keberadaan struktur bangunan ini mirip dengan bentuk bunker, biasa dipergunakan dalam sistem pertahanan militer.

Mengingat penting nya jalur Sumedang-Bandung, kemungkinan merupakan sistem pertahanan militer. Digunakan sebagai tempat berlindung dari serangan udara, pada saat memasuki perang Asia Pasifik. Seperti yang telah diungkap oleh beberapa ahli sejarah militer, Sumedang memiliki perang sebagai pertahanan militer. Sebagai buffer zone, atau zona penyangga serangan musuh dari arah timur.

Keberadaan Tanjungsari,merupakan sub pertahanan Hindia Belanda. Sehingga jauh sebelum Hindia Belanda berkuasa, pada 25 September 181, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels merilis surat. Didalamnya adalah pemindahan dua ibukota, Kabupaten Bandung dari Krapyak, dialihkan 11 km ke arah utara. menempati posisi alun-alun kota Bandung saat ini. an Kabupaten ke-dua yang digeser adalah Parakanmuncang yang berada di Tarikolot Girang Cicalengka, sesuai dengan keterangan R.A. Kern. Digeser ke Andawadak berlokasi di Ciluluk, sebelah timur Tanjungsari.

Perjalanan dilanjutkan ke arah timur, memasuki sekitar Cadas Pangeran. Selepas Cigendel, ditandai dengan hutan pinus merkusii, jalannya bercabang dua. Satu mengarah ke utara, disebut jalan atas, dan satu lagi mengikuti gawir terjal disebut jalan bawah. Dua jalur tersebut kemudian bersatu kembali di sekitar Ciherang, setelah menempuh panjang sekitar 1,7 km.

Mengambil jalan atas, jelang turun dipercabangan Ciherang didapati prasasti. Disematkan pada dinding tegak, pada batuan breksi vulkanik. Isinya menyebutkan nama yang bertanggung jawab pembangunan Jalan Raya Pos segmen Cadas Pangeran, dan durasi waktu pengerjaan. Dengan demikian diperkirakan jalan atas ini merupakan jalur awal yang dikerjakan 1811 sampai 1812. Kemudian seratus tahun kemudian, dibuka jalur bawah. Dengan alasan untuk menghindari tanjakan dan turunan terjal, sehingga awal tahun 90-an ditingkatkan dengan teknik kantilever, sistem jembatan gantung.

Hanjuang dan Konflik Sumedang dengan Cirebon
Jelang siang, partisipan tiba di Sumedang Utara, tepatnya di Situs Pohon Hanjuang. Peninggalan bersejarah berkaitan dengan sepenggal cerita Sumedang Larang. Menurut juru pelihara Abah Apud, tahun 2020 kondisinya tidak terawat. Sehingga setelah dipercaya bertugas memelihara dan melayani kunjungan, Apud (80 tahun) sedikit demi sedikit menata menjadi lebih baik. Keberadaanya tidak dijelaskan apakah situs ini dikelola melalui dana bantuan pemerintah, atau yayasan. Namun keberadaan situs ini menjadi penting, untuk mengaitkan dengan perjalanan kerajaan Sumedang di masa lalu.

Di dalam ruangan terbuka tanpa atap ukuran 4 x 5 meter, didapati dua batang pohon Hanjuang berdaun warna hijau. Ditempatkan di salah satu sudut ruangan, dibagian tengah merapat pada dinding di bagian barat. Ditata sedemikian rupa, dengan batas menggunakan batubata yang disusun, kemudian ditutup oleh batu. Dengan demikian keberadaannya menjadi perhatian utama, karena di setiap sisi ruangan ditanam Hanjuang dengan daun berwarna merah.

Belum bisa dipastikan, apakah pohon Hanjuang tersebut merupakan hasil dari pohon yang ditanam oleh Jayaperkasa. Bila keterangan papan informasi menuliskan pohon hanjuang bersejaran ditanam oleh Sang Hyang Hawu, atau disebut juga Mbah Jayaperkosa (beberapa sumber ditulis Jaya Perkasa, Jaya Prekosa), kurang lebih 1585. Maka umur pohon tersebut hampir 440 tahun dimasa kini. Bisa jadi pohon tersebut ditanam ulang, karena dalam rentang waktu yang sangat panjang tersebut, tergelar banyak peristiwa bersejarah yang menata wajah Priangan, khususnya Sumedang. Baik dalam kondisi pusat kota yang berpindah-pindah, penguasaan VOC, kolonial Belanda, hingga perang kemerdekaan Indonesia. Jadi bisa saja sebatang pohon tersebut menjadi abai, dan tidak lagi mendapatkan perhatian.

Situs sejarah ini berada di Dusun Pangjeleran, Desa Padasuka, Kecamatan Sumedang Utara. Pohon tersebut menjadi tanda catatan sejarah, dituliskan dalam Babad Sumedang. Kemudian dituliskan dalam Pupuh Sinom, karya maestro Mang Koko Koswara.

Kisah singkatnya pohon Hanjuang sebagai simbol sebuah janji, Jayaperkasa terhadap rajanya Geusan Ulun. Bila daunya layu menandakan ia mati dimedan laga, tetapi sebaliknya bila tumbuh subur menandakan menang perang. Seiring waktu terjadi pertempuran di tapal batas Sumedang, atau di sekitar Sukatali (Hikayat Sumedang, De Indische Courant, A. Ter Haghe, 12 Juli 1941). Diceritakan bahwa pertempurannya memakan banyak yang mati, sehingga mata air di dekatnya berubah menjadi merah.

Pohon Hanjuang atau biasa disebut andong merah (cordyline fruticosa), menjadi simbol bagi budaya Sunda. Tanaman yang dianggap memiliki fungsi sebagai sawen tolak bala. Tumbuhan yang dianggap keramat, mampu menepis gangguan kekuatan gaib dan wabah penyakit. Biasanya diikat diiringi ritual doa dan disematkan pada tempat tertentu di dalam maupun di luar rumah. Selain itu digunakan sebagai penanda seperti batas ladang, kebun, pagar rumah antar kepemilikan yang berbeda. Jika dikaitkan dengan wabah penyakit, biasanya digunakan sebagai pembatas dan jarak agar tidak terjangkit penyakit. Dari sisi medis, tanaman ini bisa dimanfaatkan sebagai obat tradisional, seperti TBC paru, asmat, diare hingga sakit kepala.

Dalam situasi kemelut dan tidak menentu, bayang-bayang serangan dari Cirebon. Geusan Ulun memindahkan ibu kota dari Kutamaya, ke dataran tinggi Dayeuhluhur. Pemindahan tersebut daam kondisi tergesa-gesa hingga lupa dengan perjanjian denga Jayaperkasa. Akibatnya akan menjadi konflik diujung kepemimpinan Geusan Ulun sebagai raja di Sumedanglarang.

Dalam upaya pemindahan ibu kota, dalam rangka menghindari serangan Girilaya dari Cirebon, Geusan Ulun harus menempuh perjalanan dengan menggunakan jalan kaki. Dalam keterangan yang ditulis oleh Haghe (1941), dalam pencariannya tempat harus singgah dibeberapa lokasi. Tempat yang dipilih harus memenuhi persyaratan, diantaranya tersembunyi dari pantauan musuh, mampu melihat arah pasukan penyerang dari segala arah. Pencarian dilanjutkan ke arah timur, dataran tinggi yang berada di Ganesa, sebelah timur Kutamaya.

Lokasi yang akan dituju bisa ditafsirkan mendekati posisi pusat kerajaan pada masa Prabu Guru Aji Putih. Pusat kerajaan Tembong Agung, terletak di Citembong Girang, Kecamatan Ganeas, sumedang. Bila ditarik garis, kurang lebih 4 km. dari Citembong Girang, ke Dayeuhluhur. Dalam keterangan selanjutnya, menyebutkan bahwa putra sulung Prabu Aji Putih, yaitu Batara Tuntang Buana atau dikenal Tajimalela, berkelana ke beberapa tempat. Diantaranya menyebutkan wilayah yang menjadi rujukan Geusan Ulun.diantaranya Gunung Merak, Gunung Pulosari, Gunung Puyuh, Gorowong, Ganeas, Gunung Lingga dan tempat lainya. Dengan demikian, pengetahuan tersebut diperkirakan menjadi referensi penentuan tempat pemindahan ibu kota.

Dalam keterangan penelitian bay Suryaningrat (1983), pada masa pemerintahan Geusan Ulun, terdapat 44 Kandaga atau kepala rakyat, terdiri dari 26 Kandaga Lange (Kepala Wilayah), dan 18 umbul dengan cacah sekitar 9000 jiwa umpi. Dengan demikian tidaklah mungkin seluruh rakyatnya turut serta dalam kepindahan. Jadi diperkirakan hanya jabatan tinggi, keluarga yang terkait dan pendukungn lainya saja yang turut pindah. Sedangkan masyakarata yang tersebar di wilayah Sumedanglarang masih ditempat semula.

Bila dilihat dari peta google maps, didapat jarak tempuh 12,4 km. Dari Kutamaya Sumedang Selatan, ke arah timur melalui Cihonje, Gunasari. Kemudian dilanjutkan mendaki Gorowong, Sukawening. Mendaki lereng utara G. Calangcang-Kareumbi. Kemungkinan Geusan Ulun menerima kandidat lokasi selain Dayeuhluhur, namun karena waktu yang begitu sempit sehingga diputuskan untuk menggeser jauh ke arah timur.

Akses dari Kutamaya ke arah timur, ke daerah Gorowong. Kemudian dilanjutkan dengan berjalan melalui Cikadu, merupakan lembah yang dalam. Jalan setapak sejajar dengan sungai, yang mengarahkan mendaki perbukitan hingga tiba di Dayeuhluhur. Jalur tersebut merupakan jalan lama yang pernah digunakan warga sejak dulu, sebelum dibukanya jalur baru. Jalur jalan lebar, melalui Pasir Datar. Jalan yang baru saja ditingkatkan menjadi beton, untuk membuka akses dari kampung Gorowong ke Dayeuhluhur.

Dayeuhluhur merupakan pegunungan yang memanjang utara-selatan, disusun oleh batuan gunungapi. Dalam peta Geologi Lembar Bandung (Silitonga, 2003), disebutkan sebagai Hasil Gunung Tua Tak Teruraikan. Disusun oleh breksi gunungapi, lahar dan lava berselang-seling (Qvu). Menandakan bahwa punggungan mulai dari utara, sekitar Cibungur hingga puncak G. Bongkok adalah bagian dari sistem gunung api purba. Bila ditarik lagi ke arah selatannya, didapati lingkar kaldera G. Calangcang 1667 m dpl. gawir kalderanya berupa setengah lingkaran dari barat ke timur, terbuka ke arah utara.

Dengan demikian kuat dugaan, endapan gunugapi berupa laharik yang menyusun punggungan Dayeuhluhur berasal dari G. Calangcang. Merupakan sistem kompleks gunungapi purba Kareumbi-Puncakanjung-Calangcang. Dari pembagian fasiesnya, Dayeuhluhur merupakan fasies medial (Bogie & Mackenzie, 1998), bagian lereng utara dari pusat letusan.

Dari titik tinggi ini memberikan keuntungan lebih, diantaranya posisinya terlindungi oleh tinggian. Kemudian dari titik tinggi ini bisa memantau pergerakan musuh yang datang dari utara, dan menjadi benteng alami. Dengan demikian pemilihan Dayeuhluhur sebagai tempat pemerintahan, berdasarkan posisi geografis.

Sepeninggalan Geusan Ulun pada 5 November 1608, kemudian kekuasaanya dibagi dua ( Euis Thresnawati S. 2011). Diberikan kepada Pangeran Rangga Gede, putra sulung dari Nyimas Gedeng Waru dari istri pertamanya. Melanjutkan pusat pemerintahannya di Dayeuhluhur. Versi lain ada yang menunjukan di Canukur. Kemudian hasil dari putra Ratu Harisbaya, Pangeran Suriadiwangsa yang menempati ibu kota di Tegalkalong. Akibat dualisme kepemimpinan ini, berdampak kepada stabilitas politik, menyebabkan beberapa wilayah di bawah Kerajaan Sumedang kemudian melepaskan diri. Seperti Karawang, Ciasem. Pamanukan, dan Indramayu. Sehingga wilayahnya menjadi kecil, meliputi Sumedang, Bandung, Sukapura, dan Parakanmuncang. Pada 1620, Sumedanglarang taklut sepenuhnya di bawah Kesultanan Mataram.

Di sebelah selatan Dayeuhluhur, dibawah lereng G. Gedogan 1039 m dpl. disemayamkan Sang Hyang Hawu atau Mbah Jayaperkosa. Di bawah naungan tegakan pohon kayu, hutan tropis. Elevasinya lebih tinggi dibandingkan dengan makam raja, berada jauh di bagian bawah lereng perbukitan. Dari parkiran utama, kemudian mendaki melalui jalan warga. Menapaki tangga yang telah disediakan, hingga memasuki gerbang makam. Jaraknya kurang lebih 900 meter, mengikuti kontur perbukitan. Memasuki gerbang, kemudian disambut oleh vegetasi hutan hujan tropis, dan beberapa fauna yang masih bisa dilihat. Menandakan hutan makam tersebut tidak secara langsung dikonservasi. Berbeda dengan makam Geusan Ulun yang tertutup menggunakan atap. Makam Mbah Jayaperkosa ini dibiarkan terbuka. Ditata dengan menggunakan tumpukan batuan andesit, dengan tanda berupa batu berbentuk kolom. Sekelilingnya ditutupi oleh pagar besi, setinggi 2 meter.

Dilingkungan pemakaman ini, disediakan surau sederhana dan air untuk wudhu. Memberikan kesempatan kepada para peziarah untuk melaksanakan tawasulan, doa ucap syukur untuk berkah para pendahulu dan kesejahteraan untuk yang masih hidup.

Pungngungan perbukitan Dayeuhluhur, memanjang utara-selatan, dengan kerucut G. Bongkok.
Makam Jaya Perkasa, di puncak Dayeuhluhur

Tautan video Geourban#31 Dayeuhluhur
https://www.youtube.com/watch?v=t0XxQPAtAl0&t=734s

Geouban# 30 Jayamekar

G. Bandera merupakan bagian dari puncak-puncak yang berada di sebelah utara Waduk Saguling. Bentuknya berupa perbukitan yang memanjang baratdaya-timurlaut, mulai dari Jayamekar hingga Cikande. Dari peta Rupa Bumi Indonesi/RBI Lembar Padalarang (2000), menuliskan beberapa puncak. Disebelah timur puncak G. Bakung 816 m dpl., G. Puter 889 m dpl., Pasir Lampegan 868 m dpl. kemudian masih berjajar ke arah timur dengan posisi lebih tinggi G. Pancalikan 963 m dpl., G. Halimun 972 m dpl. kemudian melandai ke arah barat. Ditempati Pasir Sopak 856 m dpl., dilanjutkan Pasir Cibuntu 856 m dpl.

Jajaran perbukitan tersebut bagian dari Rajamanda Ridge, atau punggunga Rajamandala. Sejajar dengan jalan raya penghubung Bandung-Cianjur di Citatah, Padalarang. Jalan raya ini membelah perbukitan karst, yang disusun oleh batuan karbonat. Ditafsirkan sebagai karang penghalang/barrier reef (Siregar, 2005) yang diendapak sejak Oligosen Akhir hingga Miosen Awal, sekitar 25-15 juta tahun yang lalu.

Sedangkan kelompok G. Bendera yang berada disebelah selatannya, disusun oleh sedimen klastik gunungapi. Satuan batuannya disusun oleh hasil pengendapan dilaut dalam, seiring waktu terangkat hingga 670-900 m dpl. dpl., lebih. Buktinya tersingkap berupa batulanau dan batupasir tebal di Cikande, hasil kegiatan perlipatan serta tersesarkan. Ke arah selatannya, sekitar Cigintung, ditemui sisa penambangan yang menyinkapkan endapan gunugapi umur Kuarter. Tebal dan membentuk perbukitan, kemudian melandai ke arah selatan.

Mari temui bukti pebukitan terlipat, melalui pengamatan di puncak G. Bendera. Bukti endapan laut dalam di Cikande dan hasil letusan gunungapi berupa endapan awan panas (ignimbrite) di Cigintung. Hasil letusan gunungapi kelas plinian, mengalirkan awan panas sejauh 19 km dari pusat letusan (Pyroclastic density currents). Akibat temperatur tinggi hingga lebih dari 500 derajat celcius, kemudian terelaskan (welded).

Hari/Tanggal
Sabtu, 1 Februari 2025

Waktu
08.00 WIB sd. 13.00 WIB

Titik pertemuan (meeting point)
Geotheather Hawu-Pabeasan, Cidadap, Padalarang

https://maps.app.goo.gl/DFsof9faAExBjxPv5

Syarat dan ketentuan
Kegiatan bersifat mandiri dan probono, dipersilahkan mengatur moda transport (disarankan roda dua). Mohon dipersiapkan kelengkapan kondisi cuaca, kegiatan hiking dan kebutuhan pribadi lainya.

Tentang Georuban
Berjalan sejak 3 tahun yang lalu, oleh Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia. Menginisiasi, menggali wisata bumi, melalui narasi, interpretasi dan membuka jaringan silaturahmi lokal.

Catatan Geourban#8 Babakan Siliwangi

Jam baru beranjak tiga puluh menit lebih dari pukul tujuh. Kurang lebih 12 peserta telah hadir di parkiran dalam Babakan Siliwangi, semuanya mengendarai kendaraan roda dua. Selain efektif, cepat dan hemat, menghindari jalanan macet jelang pagi di sekitar jalan Babakan Siliwangi, Bandung. Tempat ini ideal untuk titik pertemuan, mengingat tersedianya ruang publik dan sarana parkir yang leluasa. Sehingga cukup baik untuk memulai kegiatan geowisata kota. Geourban ini adalah aktivitas berbasis edukasi, mengungkap kembali rahasia alam, sejarah pembentukan bumi di sepanjang Ci Kapundung segmen Lebak Siliwangi higga Tamansari, Bandung.

Geourban ke-8 mengambil rute antara Lebak Siliwangi hingga Tamansari (4/9, 2022). Dibuka oleh Deni Sugandi, selaku penggagas Geourban sekaligus sebagai pemandu geowisata. Dimulai dengan penjelasan awal, rencana dan tujuan kegiatan. Tujuan pertama adalah mengunjungi prasasti yang dianggap sebagai tinggalan budaya abad ke-14, kemudian menyusuri sepanjang bantaran Ci Kapundung. Dilakukan dengan berjalan kaki, menyusuri rumah bertingkat yang saat ini dibangun di lereng Tamansari. Total perjalanan adalah 2,3 km, dilakukan berjalan kaki, menyusuri perumahan padat. Fasadnya vertikalisasi, ditempati bangunan tambahan bersusun seperti layaknya rumah tumbuh. Bukan saja hunian warga, ke arah tepi jalan ditempati bangunan komersial hingga perhotelan.

DAS ini mempunyai luas daerah tangkapan sekitar 43.439,04 Ha dengan panjang sungai sekitar 39 km dan kerapatan sungai 2,41 km/km2(BPDAS Citarum Ciliwung 2006). Luas totalnya yaitu 154 km2. Lebar Sungai Cikapundung dibagian hulu mencapai sekitar 6 meter dan terus melebar hingga sekitar 20 meter di bagian hilir.

Menurut penuturan warga Kampung Cimaung, Tamansari menyatakan bahwa dahulu sungai ini lebih lebar. Akibat pembangunan perumahan warga sejak tahun 1970-an, menggeser dari dalam ke arah luar, sehingga lebar sungai berkurang. Dampaknya adalah erosi dan luapan sungai pada saat hujan deras, dan membahayakan kestabilan lereng di sepanjang bantaran sungai.

Para partisipan yang hadir adalah pegiat wisata, pegiat cagar budaya, hingga pelaku pemandu wisata yang berdomisili di Bandung. Sesuai dengan tujuan kegiatan ini, membuka jaringan dan potensi geowisata di kota Bandung. Aktivitasnya adalah memperlihatkan keragaman alam, budaya di sekitar bantaran Ci Kapundung segmen Tamansari, Bandung. Dalam kegiatan Geourban ke-8 ini, mengajak partisipan untuk melihat kembali bukti letusan kataklismik G. Sunda, bukti endapan Danau Bandung Purba. Selain itu menunjukan keberadaan budaya pendukung pada masa Neolitik (prasejarah) dan Sunda Klasik. Sedangkan lapisan budaya berikutnya yang berkaitan dengan masa kolonial, tidak disajikan dalam kegiatan ini. Hal tersebut karena telah disajikan oleh komunitas pegiat sejarah sebelumnya.

Seperti yang telah diungkap oleh para peneliti arkeologi, menandaskan bahwa Ci Kapundung adalah sungai yang melahirkan tiga lapisan budaya. Mulai dari budaya prasejarah yang ditandai dengan penemuan arca Cikapundung di sekitar Kebun Binatang Tamansari. Arca tersebut adalah tinggalan budaya pendukung Sunda Klasik yang diperkirakan hadir sekitar abad ke-14. Keberadaan arca tersebut, kini menjadi koleksi Museum Nasional di Jakarta. Ciri dan bentuknya merupakan perwujudan raja yang disajikan seperti dewa. Dengan demikian arca tersebut bisa dikelompokan ke dalam Tipe Pajajaran.

Lapisan budaya sebelumnya adalah peradaban prasejarah. Seperti yang ditunjukan oleh A.C dr Jong (1930), Koenigswald (1935), Rothpletz (1972) melalui peta sebaran budaya mikrolit. Artefak tersebut berupa alat berburu yang terbuat dari bahan gelas vulkanik atau obsidian. Ditemukan disekitar hulu Ci Kapundung, atau sekitar Bukit Kordon dan menyebar sebagian di arah timur Cileunyi. Posisi penemuannya berada di ketinggian lebih dari 725 m di atas permukaan laut/mdpl. Dengan demikian Rothpletz menduga, bahwa ciri budaya yang berkembang tersebut adalah kelompok manusia prasejarah yang dipengaruhi oleh paras Danau Bandung Purba. Sehingga pendapat demikian menyatakan bahwa manusia prasejarah yang hidup antara 5600 hingga 9500 BP (Yondri, 2005), masih menyaksikan Danau Bandung Purba.

Kunjungan pertama adalah melihat kembali tinggalan budaya di bantaran Ci Kapundung. Pemberitaan tahun 2010 menyebutkan, ada bukti prasasti yang dituliskan di atas batu andesit. Terletak di Kampung Cimaung, Tamansari Bandung. Dalam pemberitaan tersebut, menuliskan bahwa aksara yang ditoreh di atas batuan beku tersebut adalah berasal dari abad ke-14 (voaindonesia.com, 2010). Seperti yang dinyatakan oleh Nandang Rusnandar dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Jawa Barat, bahwa tulisan tersebut menggunakan aksara Sunda Kuno. Berbeda dengan pendapat ahli Filologi Unpad yang menyatakan bahwa aksara di prasasti tersebut bukan aksara Sunda Kuno.

Dari titik ini bisa diamati bongkah-bongkah batuan andesit yang terendapkan di tempat ini. Bisa jadi budaya lama memanfaatkan sumber daya alam batuan keras ini, sebagai penanda budaya. Seperti yang ditunjukan oleh penemuan beberapa arca di sekitar Taman Sari atas, yang dibuat dari bahan yang mudah didapat, diantaranya batuan keras vulkanik.

Setelah melepas lelah sesaat di warung, dilanjutkan dengan diskusi singkat mengenai bukti-bukti peradaban yang pernah hadir di bantaran Ci Kapundung. Diperkirakan masih ada beberapa tinggalan budaya yang belum ditemukan, mengingat Ci Kapundung merupakan sungai tua di dataran tinggi Bandung. Bisa saja belum ada penemuan baru, mengingat kegiatan penelitian arkeologi terkendala dengan sumber pendanaan dan urgensi. Sehingga penemuan arkeologi biasanya datang dari laporan masyarakat.

Kegiatan dilanjutkan menyusuri Ci Kapundung melalui jalan sempit yang mengarahkan ke utara. Jalanan cukup untuk melintas sepeda motor dan pejalan kaki, sehingga diperlukan kehati-hatian bagi para pengendara yang akan berpapasan. Jalan setapak ini menyusuri saluran irigasi yang dibuat untuk kebutuhan pengairan dan saluran drainase warga. Dibeberapa bagia tempat saluran terbuka tersebut menjadi septik tank terbuka oleh beberapa rumah warga, sehingga menimbulkan aroma bau. Hal demikian bisa dimengerti, akibat rumah yang dibangun ditahan miring tersebut sudah sempit dan tidak menyisakan ruang untuk pembangunan septik tank.

Selepas jalan Pelesiran, kemudian arah perjalanan berbelok ke arah timur. Mengikuti jalan yang mengarah ke apartemen Jardin. Rumah susun yang dibantun di atas tanah kurang lebih 11.000 m2 ini berhimpitan langsung dengan garis Ci Kapundung. Dalam pembangunannya, rusunami ini mengandung masalah, baik berkaitan dengan kepemilikan lahan, hingga pengelolaan sumber air. Selain itu menghilangkan satu-satunya kolam pemandian masa kolonial Kolam Renang Cihampelas.

Bergerak terus ke arah utara, memperlihatkan singkapan batuan di sungai. Disusun oleh material yang lebih halus di bagian bawah, dan kasar di bagian atas. Menandakan sedimen danau Bandung Purba di segmen Lebak Siliwangi. Batuannya berstruktur breksi vulkanik, hasil kegiatan letusan G. Sunda-Tangkubanparahu. Dalam peta geologi yang telah di detailkan, merupakan Formasi Cibeureum yang disusun oleh perulangan breksi dan tuff dengan tingkat konsolidasi yang rendah serta sisipan lava basal. Umurnya sekitar Pleistosen Akhir hingga Holosen (Koesoemadinata dan Hartono, 1981). Dalam kesempatan ini Zarindra, selaku pemandu geowisata menambahkan bahwa kuasa sungai mampu mengangkut material vulkanik dari hulu kemudian diendapkan di hilir.

Dari bantaran sungai di sebelah timur Sabuga, terlihat endapan volkanik ini di erosi oleh sungai. Dicirikan dengan jalur yang tererosi membentuk curugan kecil, dan menoreh batuan keras menjadi lajur air. Jalan setapak ini berakhir di Sabuga, kemudian berbelok ke kembali ke Babakan Siliwangi. Acara ditutup dengan penyampaian kesan yang didapat selama kegiatan ini berlangsung.

Breksi gunungapi, alas Ci Kapundung segmen Babakan Siliwangi
Breksi gununugapi halus dan kasar, dierosi Ci Kapundung
Hunian warga di bantaran Ci Kapundung, sekitar Cihampelas bawah
Warga pemilik rumah di depan batu
Peserta Geourban di depan batu yang dianggap prasasti

Catatan Singkat Geourban#4 Cimahi

Untuk yang ke-empat kalinya, pada 18 Desember 2021, asosiasi profesi Pemandu Geowisata Indonesia Pengurus Pusat dan Dewan Pengurus Wilayah Bandung Raya, menyelenggarakan kegiatan geowisata di sekitar Cimahi Selatan. Kota yang dihimpit oleh Kota Bandung di sebelah timur, Kabupaten Bandung Barat di sebelah barat dan utara, sedangkan Kabupaten Bandung berada di sebelah selatannya. Walaupun ruang lingkupnya tidak lebih dari 40,37 km² (Pemkot Cimahi, 2021), memiliki potensi yang tersembunyi yang siap dikupas melalui kegiatan geowisata.

Dalam kegiatan Geourban#4 Cimahi, bermaksud menunjukan potensi geowisata di kota yang dibelah oleh Ci Mahi. Dikesemapatan ini, menggali potensi geowista di Kecamatan Cimahi Tengah dan Selatan, diantaranya di sekitar Cibeber, dan Leuwigajah. Dalam beberapa referensi, bukit adalah tinggian yang memiliki titing tertinggi tidak lebih dari 600 m dari dasar rata-rata. Sedangkan gunung tentunya lebih dari itu, kemudian dicirikan memiliki lereng terjal.

Kunjungan pertama adalah mendaki puncak G. Bohong. Tinggi 896 m dpl. atau kurang lebih 150 m dari naik dasar lapangan tembak. Dipuncaknya telah disematkan Patung Kujang lambang kesatuan Brigif 15 Kujang, yang menaungi markas kesatuan di sebelah tenggaranya. Penguasaan wilayahnya di bawah administrasi Brigif, namun pengelolaannya diserahkan kepada pa Engkos, selaku warga yang diserahi tanggung jawab untuk mejaga kebersehinan lokasi. Demi menutupi ongkos kerja, ia bersama istrinya membuka warung alakadarnya, jasa mie rebus instan dan kopi.

Dari titik tinggian ini Deni Sugandi selaku pemandu geowisata, memberikan penjelasan intepretasi bentang alam yang tersuguh didepan partisipan. Dalam catatan Belanda, disebut Het Bogen, atau melengkung yang bisa ditafsirkan bentuk tinggian yang melekungkung. Seiring waktu dilafalkan bohong oleh warga lokal, karena kurang mampu mengucapkan dalam bahasa asing. Di sebelah utara terlihat dua kerucut gunungapi G. Burangrang sisa dari sistem kaledera Sunda. Sedikit bergeser ke arah kananya, jelas terlihat bentuk perahu terbalik. Khasnya G. Tangkubanprahu. Kemudian bergeser ke arah timur, berjajar pegunungan purba grup Manglayang-Palasari-Bukittunggul. Sedikit ke arah timur terlihat kerucut tajam dalam samar, G. Cireme diperbataasan Majalengka-Kuningan dan Cirebon.

G. Bohong merupakan perbukitan intrusi yang tumbuh hasil dari kegiatan magmatisme, menembus zona lemah, kelucurusan utara selatan. Muncul bersamaan dengan perbukitan intrusi lainya, seperti G. Lagadar, Selacau, Pancir dan beberapa kerucut-kerucut lainya. Kelompok perbukitan intrusi ini berumur berumur 4,08 juta tyl dan 4,05 jt tyl, hasil analisis K-Ar batuan di Selacau dan Paseban (Sunardi dan Koesoemadinatan, 1999).

Tepat dibawahnya diterobos oleh proyek Kereta Api Cepat Indonesia Cina, disingkat KCIC segmen 11, dari 13 terowongan. Panjangnnya 500 meter, menembus batuan instrusi batuan beku yang dianggap mampu menjaga kesetabilan terowongan. Pada saat pengerjaannya, dibutuhkan teknik peledakan, karena yang diterobosnya adalah batuan beku andesitik.

Pada kesempatan berikunya, narasumber Fajar Lubis menyampaikan gunungapi tua bergeser dari selatan ke utara. Diantaranya tumbuhnya gunung PraSunda yang diperkirakan mulai membangun dirinya sejak umur Pleistosen, atau 1.7 juta tyl.

Tujuan ke-dua adalah mengunjungi Terowongan KCIC segmen 11 Cibeber-Gunung Bohong yang berada di sebelah tenggara. Dititik ini Zarindra, biasa disapa Zarin menyampaikan teknik pengeboran terowongan. Karena menemui batuan beku yang keras, ia menjelaskan untuk membobol setiap jengkal lubang, dibutuhkan teknik peledakan.

Di tujuan ke-tiga, mengunjungi sisa tambang dan endapan awan panas G. Sunda-Tangkubanparahu. Deni menjelaskan mekanisme luncuran awan panas, seiring dengan penghancuran kubah lava dan ambruknya dinding kaldera. Produknya berupa gas, piroklastik dan fragmental bom yang dilontarkan balistik. Awan panasnya turun dengan kecepatan tinggi, mengikuti lembahan, dan mengendap menjadi ignimbrite. Di Cisurupan, terlihat gawir tegak sisa pengambangan batu-pasir, dikerjakan sejak tahun 70-an. Menggali vertikal dan terbuka, hingga kedalam lebih dari 30 meter. Luas wilalayah penggalian kuran lebih 300 m2 atau luas keliling 2.3 km. belum ada perhitungan jumlah volume material yang diangkat, mengingat kegiatan penggaliannya kurang lebih terjadi hampir 20 tahun, menggunakan linggis dan cangkul secara manual.

Dari titip pengamantan ini, terlihat G. Padakasih yang menjulang, batas antaran wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cmahi. Dari titik Ciseupan, masih terlihat hijau segar, karena Pemerintah Kota Cimahi mengeluarkan aturan pelarangan pengambangan. Sedangkan di balik G. Padakasih, telah habis oleh kegiatan tambang. Menurut Tony, gunug ini disebut G. Panganten, mengingat ada dua kerucut yang mirip pasangan. Dalam keterangannya ada cerita rakyat di kawasan ini, disebut penunggu gunung disebut Nyi Kentring Manik yang meneyerupai wujud ular besar. Bila ia terusik, maka ia akan marah dalam bentuk gempa, lonsor hingga kekeringan yang melanda daerah ini.

Bencana kekeringan pernah terjadi di sekitar Padakasih, pada awal 80-an, akibat penambangan Ciseupan. Menurut Fajar, bisa saja airtanah permukaan terganggu, sehingga mataair dihulu kering. Dibutuhkan 20 tahun untuk memulihkan kembali sumber mataair di sekitar lereng timur G. Padakasih.

Kunjungan selanjutnya ke kawasan pengelolaan ekowisata Padakasih, dikelola oleh warga. Dalam kesempatan ini peserta Geourban diberikan kesempatan untuk turut mendukung penghijauan, menanam bibit kopi robusta yang telah disiapkan sebelumnya.

Untuk lokasi penutup, mengunjungi tragedi longsoran sampah TPA Leuwigajah tahun 2005. Tragedi ini merengut hampir 157 orang yang terdampak langsung dan hampir setengahnya tidak diketemukan higga kini. Dari keterangan saksi, akibat hujan lebat yang tidak berhenti, menyusup, kemudian menjadi bidang gelincir. Dilaporkan juga terjadi ledakan gas metan, diciriakan dengan api yang berwarna biru. Tragedi ini adalah kesalahan manajemen dan lalainya pengawasan dari pemengan regulasi saat itu.

Kegiatan berakhir tepat pukul 12.30 WIB, ditutup dengan pengukuhan anggota baru angkatan II, hasil kegiatan Diklat pada 28 November 2021. Sebagai penutup acara disambung makan bersama dengan makanan khas desa adat Cireundeu.

Lembah Leuwigajah, sisa longsoran
Kebun warga di atas tumpukan sampah
Perkebunan jagung, menempati sisa lahan TPA
Batuan beku yang telah mengalami pelapukan di Pasir Gajah Langu
Hidangan makan siang, olahan singkong di Desa Adat Cireundeu
Arah longsoran di TPA Leuwigajah

Catatan Singkat Geourban#26 Palasari

Ujungberung diintepretasikan hadir jauh sebelum Daendels membuat jalan Raya Pos 1810-1811. Dengan demikian sudah ada budaya yang hadir di sebelah Bandung Timur.  Merujuk peta lama, Kaart van de Priangse landen ofwel een gedeelte van de noordkust van Java, 1600. Menyebutkan hadirnya wilayah di sebelah utara Parakanmuncang.

Kunjungan pertama adalah menapaki aliran lava di Ci Panjalu. Lokasinya terletak di Cilengkrang utara, sejajar dengan jalan Palalangon, Kabupate Bandung. Jalan yang menghubungkan Cigending atau Alun-alun Ujungberung ke utara, melalui Palintang. Dialiran sungai tersebut didapati dua air terjun, sebelah utaranya adalah Curug (air terjun) Orok, mendekati ke arah Jembatan Cipanjalu. Kemudian ke arah hilinya disebut Curug Kacapi. Dilokasi ini didapati sumber mata air, dari rekahan batuan lava. Disebut mata air kontak, terbentuk akibat kontak antara lapisan akuifer dengan lapisan impermeable pada bagian bawahnya. Air mengalir pada batuan piroklastik yang memiliki porositas, bersifat meloloskan air. Kemudian mengalir di atas batuan lava dan keluar melalui biidang-bidang rekahan.

Sungai tersebut merupakan lembah yang dialasi oleh batuan lava berwarna abu-abu gelap. Berupa lava tebal dengan struktur kekar kolom. Di Curug Kacapi membentuk dinding tegak yang diperkirakan merupakan struktur sesar minor. Batuannya berupa lava tebal, dengan struktur kekar lembar. Batuannya cenderung berwarna hitam, menandakan pengaruh kualitas air yang tercemar berat. Mengingat Ci Panjalu hulunya di Cilengkrang, bagian dari Daerah Aliran Sungai Ci Tarum.

Jalan tersebut memisahkan dua batuan penyusun yang berbeda. Disebelah timurnya merupakan produk hasil kegiatan letusan gunungapi Manglayang. Kemudian disebelah baratnya adalah endapan dari kegiatan kegunungapian Prasunda-Sunda dan Tangkubanparahu. Soetoyo dan Hadisantono (1992), menguraikan stratigrafi gunungapi blok Cimenyan-Cilengkrang, disusun oleh endapan kegiaatan gunungapi Prasuda-Sunda-Tangkubanparahu. Produknya diantaran tuff, piroklastik dan aliran lava.

Umurnya sekitar Pleistosen, seperti yang disampaikan dalam hasil penelitian Kartadinata (2005). Endapan yang hadir di sektiar lereng selatan G. Palasari, adalah hasil dari empat fase letusan gunungapi di sebelah utara. Yaitu produk letusan Prasunda, kemudian Sunda, Tangkubanparahu Tua dan fase terakhir adalah G. Tangkubanparahu Muda.

Lava yang tersingkap sangat masif/tebal, dierosi sungai dan membentuk ari terjun. Arah alirannya dari utara ke selatan, memotong lava masih dengan struktur berlembar. Dalam penelitian Naufal Fajar Putra (2021), dimasukan kedalam Satuan Aliran Lava 3 Cisanggarung, mendetailkan hasil penelitian Soetoyo dan Hadisantono (1992) dalam satuan aliran lava Sunda (Sl).

Arah alirannya dari utara ke selatan, sehingga sumber lava di Curug Orok masuk ke dalam Satuan Aliran Lava dari hasil kegiatan letusan penutup pembentukan kaldera Sunda.  Dari keterangan di atas, bisa dipastikan batuan di Curug Orok dan Curug Kacapi merupakan batuan beku, hasil kegiatan letusan efusif G. Sunda. Melalui mekanisme aliran lava, mengisi lembah antara G. Palasari-Cilengkrang dan G. Manglayang. Diendapkan miring ke utara, mengikuti topografi sumber aliran.

Strukturnya berlembar, menandakan pada saat lava dialirkan dan membeku. Seiring waktu kehilangan pembebanan dibagian atas, sehingga membentuk struktur berlembar. Struktur yang terbentuk pada batuan berlembar dan mendatara/ horisontal sejajar dengan arah tekanan. Penghilangan pembebanan bisa terjadi karena proses erosi, sehingga material penutup hilang. Kekar lembar di Curug Orok dan Kacapi karena dierosi oleh aliran sungai.

Beralih lokasi kedua, ke arah hulu Ci Panjalu di lereng G. Palasari. Gunung dengan kerucut khas yang hampir mendekati angka dua ribu meter dpl. Menjulang tinggi dan berada pada sistem sesar Lembang segmen timur. Tingginya 1857 meter dpl., berhawa sejuk dan sering tertutup kabut. Kawasannya berada di Perum Perhutani Bandung Utara, sedangkan secara administratif berada di dua desa, Girimekar dan Cipanjalu.

Jalur pendakian terpendek melalui sisi sebelah timur. Diantara punggungan G. Kasur-Manglayang dan G. Palasari, melalui jalan Palintang. Ditempuh sekitar 1.3 km, dengan pertambahan ketinggian sekitar 330 meter, antara lokasi awal pendakian hingga puncak. Dalam pembagian fasies gunung, pendapat Boogie dan Mckenzie (1998). Pendakian dimulai pada fasies proksimal, dengan keterdapatan lava, bresi tuff, hingga tuff lapili. Sedangkan pendakian dari pos awal hingga puncak tidak mendapati sebaran batuan tersebut.

Dengan demikian G. Palasari tidak bisa digolongkan sebagai gunungapi, walaupun memiliki morfologi kerucut. Keberadaanya duduk dijalur Sesar Lembang segmen timur. Mudrik Daryono menyebutkan, panjang sesar tersebut adalah 29 km, mula dari Cilengkrang dibagian timur, kemudian memanjang ke arah timur hingga sekitar ngamprah. Sedangkan pendapat lainya, seperti Iyan Haryanto (2024), melalui pola pengaliran sungai, ekspresi morfologi dan bukti lapangan di tol Cisumundawu membuktikan lain. Iyan memperkirakan jalur Sesar Lembang ini bisa mencapai 40 hinggga 45 km. menerus diutara G. Manglayang hingga Sumedang timur.

Di puncak G. Palasari didapati bidang datar, dengan ukuran kurang lebih 10 x 10 meter. Membentuk persegi hampir kotak, terdiri dari dua pelataran. Dari keketerangan warga, bahwa dahulu masih ada tumpukan batu namun kini sudah sudah hilang. Alasan hilangnnya susunan batuan tersebut tidak pernah ada yang tahu.

Bila merujuk kepada hasil penelitian Dani Sujana (2019), menempatkan tinggian seperti gunung atau perbukitan yang menjulang, dimanfaatkan sebagai simbol sakral dan suci. Baik dari kebudayaan megalitik, menerus hingga kebudayaan Sunda klasik. Diwujudkan dengan cara membangun situs-situs keagamaan, seperti punden berundak. Keberadaanya tentunya perlu penelitian lebih lanjut, mengingat G. Palasari memiliki peranan penting, mengingat di lereng utara ditempat kebuayaan batu loceng. Di bagian selatannya merupakan peradaban Arcamanik, dicirikan dengan peninggalan arca bercorak Hindu.

Dengan demikian perlu untuk menggali dalam bentuk penelitian, dan kajian yang lebih mendalam tentang objek wisata bumi di Ujungberung utara.

Geourban# 25 Sanghyanglawang

25-23 juta tahun yang lalu, kawasan Citatah merupakan pulau-pulau yang disusun koral dan binatang laut.Lautan dangkal yang menyerong ke baratdaya hingga ke teluk Palabuhanratu. Sedangkan batas pantainya berada di tinggian Pangalengan saat ini, sedangkan di sebelah selatannya dipagari gunungapi bawah laut.

Sekitar 15 juta tahun kemudian, sebagian daratan Jawa bagian barat terangkat. Muncul di atas gelombang laut melalui kegiatan tektonik. Didorong oleh pergerakan lempeng benua Indo-Australia, dari selatan ke utara dan menyusup di bawah Jawa sekitar 7 cm per tahun. Kondisi demikian menyebabkan sebagian besar perbukitan karst Citatah naik hingga 700 meter dpl, kemudian terlipat dan tersesarkan. Terbentuklah struktur bagian dari sistem sesar Cimandiri, segmen zona gempa Cimandiri-Saguling, diiringi pergeseran gunugapi api dari jajaran selatan ke arah utara. Sekitar 1,8 juta tahun kemudian, lahirlah jajaran gunugapi modern yang menghiasi dan memberikan berkah.

Dinamika bumi tidak berhenti, terus bergerak hingga kini. Menata wajah bumi tanpa henti, melalu peristiwa gempat, gunungapi meletus, hingga gerakan tanah. Dalam kegiatan Geourban ke-25, di penutup akhir tahun 2024. Mengundang untuk berparisipasi, menggali fitur dan rahasia bumi, dalam kegiatan geowisata di Citatah. Menapaki kembali ragam rona di kawasan perbukitan karst Citatah. Intrusi batuan beku Cisampih, fosil binatang laut di Pasir Balukbuk, dan gua karst di Sanghyang Lawang, Cipatat, KBB.

Hari/Tanggal
Minggu, 22 Desember 2024

Waktu
07.00 WIB sd. 12.00 WIB.

Titik Pertemuan (Meeting point)
Tebing 125 Citatah, Padalarang, KBB

https://maps.app.goo.gl/iZcXDJ7Dic3iJjmK9

Pendaftaran dan konfirmasi kehadiran
081322605025 Nanang, 087700290444 Tommy

Inisiasi
Diselenggarakan melalui kolaborasi Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Asosiasi Pemandu Wisata Gunung (APGI) Dewan Pengurus Prov. Jawa Barat, Pramuka Wana Bakti dan Forum Pemuda Peduli Karst Citatah.

Catatan Geourban#24 Panyandaan

Lerengnnya melampar hingga batas jalan raya Ujungberung. Merupakan tekuk lereng aliran dan piroklastik PraSunda dan Sunda, hingga dibatasi oleh dataran rendah ke arah selatan. Dibagian utaranya merupakah blok naik Sesar Lembang segmen Batuloceng.

Lereng tersebut disusun oleh aliran lava tebal G. Prasunda dan Sunda. Kemudian ditutup oleh piroklatik yang telah lapuk. Seiring waktu tererosi kuat, membentuk lembahan ditoreh air dan membentuk sungai-sungai. Alirannya bergeraka ke utara, kemudian masuk menjadi badan air disebut Danau Gegerhanjuang. Merupakan bagian dari sistem Danau Bandung Purba bagian timur, yang mengalami pengeringan. Dalam peta lama F. de Haan (1911), danau tersebut mendekati susut dan ditempati oleh rawa disebut Muras. Melampar dari batas tekuk lereng Ujungberung, hingga ke arah selatan hingga batas aliran Ci Tarum.

Disebut Muras Gegerhajuang, bagian dari sistem danau Bandung Purba. Segmen rawa ini menempati dataran rendah dengan elevasi 678 m dpl. Membentuk rawa (muras), membentang dari utara sekitar jalan raya Ujungberung, kearah selatan hingga dibatas jalan raya Baleendah-Ciparay.

Kondisi demikian menyebabkan hunian berada di sebelah utara, menghindari rawa. Lingkungan tersebut mengundang hadirnya malaria. Selain itu rawa bukannlah tempat yang tidak ideal untuk mendirikan rumah, karena kondisi permukaanya yang mudah amblas. Termasuk sulitnya mendapatkan air layak minum. Sehingga hunian dan peradaban bergeser ke arah utara, relatif lebih aman, sumber daya alam melimpah dan lebih sejuk.

Lahan yang subur, menarik juragan perkebunan Andries de Wilde merintis perkebunan kopi di utara Ujung Berung jauh sebelum jalan Raya Pos Daendels dibuat. Pembuatan jalan tersebut bertujuan menggerakan distribusi pengiriman kopi dari priangan pedalaman hingga ke Batavia melalui Cikao Bandung Purwakarta. Sedangkan jalur distribusi ke arah timur, didistribusikan di gudang kopi di Karangsambung. Lokasi tersebut kini jembatan Ci Manuk di perbatasan Sumedang dan Majalengka atau sekitar Tomo.

Kondisi alam demikian, mendorong budaya menyebar ke arah utara atau sekitar Cimenyan. Kehadiran peradaban tersebut, dikuatkan dengan keterangan dari catatan perjalanan Bujangga Manik. Diyakini kebudayaan disekitar utara muras tersebut hadir sejak abad ke-16. Dicirikan dengan temuan situs budaya dan kepercayaan masyarakat lokal tentang sebaran patilasan.Tinggalan budaya berupa pekuburan tua dengan ciri seperti circle stone (batu gelang). Tersebar di Pasir Panyandaan, Cimenyan hingga berbatasan dengan Caringintilu, Kabupaten Bandung di bagian baratnya.

Kebudayan lama tersebut hidup di atas endapan batuan gunungapi purba. Disusun lava dan piroklasatik. Aliran lavanya mebentuk struktur berlembar, akibat proses pembekuan dan kondisi geologi. Dibeberapa keterangan lama, menyebutkan bentuk demikian adalah wujud dari struktur bangunan (candi?). Struktur kekar lembar (sheeting joint), dimanfaatkan sebagai penghias bangunan pemerintahan, seiring rencana pemindahan ibukota Hindia Belanda ke Bandung.

Bukti endapan aliran lava masih terlihat jelas, di Curug Batu Templek, Cisanggarung dan di Sentak Dulang. Dua lokasi kegiatan penambangan, yang sudah dibuka sejak jama kolonial.  Bukti penggunaan batuan tersebut dicatatkan Haryoto Kunto (1986), pondasi Gedung Sate menggunakan batuan yang diambil dari kawasan ini. Batuannya idelal, keras dan memiliki struktur berlembar sehigga disebut struktu sheeting joint, atau kekar lembar. Terbentuk demikian akibat pelepasan beban penutup, sehingga terbentuk rekahan yang mendatar. Dimanfaatkan dengan cara mencongkel rekahan tersebut dan digunakan sebagai pondasi hingga sebagai estetik bangunan.

Asal-usul lava tersebut bersumer dari kegiatan letusan guungapi purba, hadir jauh sebelum Danau Bandung Purba terbentuk. Dalam Peta Geologi Lembar Bandoeng (Geologische Kaart van Java), disusun oleh Bemmelen (1934) menyebutkan litologinya merupakan batuan gunungapi tua. Kemudian didetailkan dalam pemetaan stratigrafi gunungapi oleh Soetoyo dan Hadisantono (1992), merupakan aliran lava hasil letusan gunungapi PraSunda (Prs), kemudian ditutupi oleh produk gunungapi berikutnya yaitu G. Sunda (Sl). Berupa lava andesit abu-abu gelap, porfiritik dengan fenokris plagioklas, piroksen dan sedikit mineral bijih dalam masa dasar gelas dan mineral halus.

Di Pasir Panyandakan, menerus hingga Sontak (sentak?) Dulang, merupakan produk gunungapi PraSunda. Lava ini dianggap paling tua karena kontak langsung dengan batuan sedimen umur Tersier (Soetoyo dan Hadisantono, 1992).

Kebutuhan sumber daya alam tersebut, seiring dengan rencana pemindahan ibu kota Hindia Belanda. Dari Batavia atau Jakarta saat ini ke dataran tinggi Bandung. Arsitek pembangunannya adlaa Silors, duduk sebagai kepala Dinas Bangunan Kotapraj (Gemeentelijk Bouwbedrijf). Tuga utamanya adalah merancang dan emmbangun kompleks bangunan pusat instansi pemerintahan Hindia Belanda di Kota Bandung.

Tambang batu di utara Arcamanik turut menyumbangn pembangunan kota, diantaranya adalah pembangunan gedung Departemen Pekerjaan Umum, Kantor Pusat PTT, Departemen Kehakiman, Departemen Pendidikan dan Pengajaran, Departemen Keuangan dan seterunya. Semuanya dibangun dalam satu kompleks, sejajar ke arah utara dari Gedung Sate saat ini.

Mendaki ke arah utara, menunggangi punggungan Pasanggrahan. Setelah melewati SD Cikawari, jalanan terus menanjak. Pemandangan terbuka luas kesegala penjuru, dihiasi ladang warga yang semakin mendesak ke wilayah Perum Perhutani.bentang alamnya berupa punggungan perbukitan. Sebagian besar wilayahnya ditempati oleh perkebunan warga, pemilikan lahan pribadi. Melampar dari timur ke barat, menempati sebagian besar lereng G. Palasari hingga sebelah timur berbatasan dengan G. Manglayang.

Hanya beberapa tinggian, berupa puncak-puncak bukit yang ditempati oleh tinggalan budaya. Menandakan nenek moyang sudah memandukan bentang alam dan dataran tinggi sebagai tempat yang sakral.

Dalam laporan Rohtpletz hasil kompilasi dari beberapa laporan terdahulu, menuliskan penemuan tinggalan budaya serta situs-situs prasejarah megalitik. Dituliskan di perbukitan titik triangulasi KQ 273, menyebutkan ditemukan beberapa serpih obsidian. Rothpletz menuliskan Künstliche Steilböschungen (vor allem bei Kuppen), diterjemahkan puncak bukit dengan lereng yang curam. Bentuk alam yang memanfaatkan tinggian, kemudian ditata sedemikia rupa. Dalam keterangannya disebutkan juga didapati situs makam pra-Islam (Präislamitische Grabanlagen).

Titik tersebut terdapat di sebelah utara dari kompleks Pondok Pesantren Baitul Hidayah. Berupa kuburan lama yang disusun oleh batuan andesit-basal, tersedia melimpah disekitar perbukitan. Disusun oleh batuan membundar sebesar kepalan tangan hingga bola sepak, kemudian ditemui juga batu ceper yang diduga didatangkan dari sekitar Sentak Dulang. Lokasi penambangan Batu Templek yang berada di sebelah selatannya.

Dalam laporan Johan Arief dalam artikel Misteri Danau Bandung (https://fitb.itb.ac.id/misteri-danau-bandung/), disebut situ Panyadaan 1. Satu situs lagi berada di sebelah timur disebut Situs Panyandaan 2. Dalam keterangannya merupakan temapt palitas atau tilem.moksa Eyang Sri Putra Mahkota Raden Mundingwangi, putra dinasti ke-8 dari Raja Sunda.

Berjalan ke arah utara, ditemui punggungan perbukitan yang ditempati bongkah-bongkah batuan yang telah lapuk. Warga menyebutnya Batu Buta, atau batu dengan ukuran besar. Menempati bagian puncak punggungan bukit, tersebar memanjang dari utara ke selatan. Ukurannya beragam, mulai dari ukuran sebesar kelapa hingga mendekati ukuran mobil. Di sebelah timurnya yang dipisahkan oleh lembah, didapati kuburan tua. Masyarakat menyebutnya Makam Waliyullah Eyang Jaya Dirga. Dalam laporan Rothpletz merupakan gundukan tanah berbentuk elips, disusun oleh batuan gunungapi. Ukuran panjang sekitar 4,8 meter, dan lebar 3.4 meter. Dalam laporan Johan Arif (2024), didapati empat mehir dari batuan andesit disetiap sudut gundukan tanah.

Sebelah selatan dari Batu Buta berupa hamparan ladang warga. Didapati batuan obsidian, melimpah dipermukaan tanah. Ukurannya sangat beragam, mulai dari ukuran koin hingga kerakal dan tersebar dipermukaan. Lahannya sebagian besar pemilikan pribadi, kemudian diusahakan menjadi perkebunan palawija hingga sayuran.

Keberadaan fragmen obsidian tersebut menjadi tanda tanya besar, bagaimana bisa tersebar di dataran tinggi daerah Panyandaan. Apakah lokasi ini menjadi jalur perlintasan pengangkutan batuan obsidian? atau malahan menjadi tempat pengerjaan membentuk bongkah menjadi alat untuk berburu. Karena fragmen yang didapati disekitar wilayah ini tidak berbentuk mikrolitik, seperti mata tombak, panah atau alat untuk menyayat/pisau. Sebagian besar fragmen yang dikumpulkn berupa fragmen serpih yang diduga merupakan sisa atau sampah produksi pengerjaan alat batu.

Keberadaan fragmen obsidian ini tentunya menarik, selain pernah dilaporkan sebelumnya oleh Rothpletz pada akhir pendudukan kolonial. Hingga kini masih bisa ditemui, seperti pada laporan hasil penelusuran budaya obisidian di utara Bandung. Seperti yang ditelursuri oleh Anton Ferdianto (2012), melaui penelitian Balar Arkeologi Bandung. Melaporkan sebaran obsidian sebagian bear berada di utara Bandung. Diantaranya ada 14 titik yang mengandung temuan obsidian seperti di segmen Dago Pakar, Pasir Soang, daerah Cikebi, Kawasan Cimenyan termasuk Pasir Panyandaan.

Seperti yang diungkapkan pada hasil penelitian sebelumnya. Keberadaan sebaran batu obsidian ini ditemukan tidak hanya disebelah utara Bandung, tetapi menyebar hingga kawasan karst Citatah hingga Bukit Karsamanik.

Keberadaan fragmen obsidian yang melimpah di sekitar Pasir Panyandaan, menjadi tanya tanya besar. Bagaimana batuan tersebut berasal, kenapa tersebar begitu banyak dan mudah ditemui dipermukaan perkebunan. Apakah dibawa oleh peradaban lama, kemudian dimanfaatkna menjadi alat batu? Apakah Dago Pakar merupakan satu-satunya tempat pembauatan perkakas batu? Temuan tersebut menjadi menarik untuk dijawab melaului penelitian lanjutan.

Pemaparan di Batunyusun
Keterdapatan obsidian di sekitar Pasir Panyandaan yang melimpah
Pelapukan pada batuan di Pasir Panyandaan
Kuburan yang diduga praIslam di Pasir Panyandaan

Catatan Singkat Geourbang#22 Ciater

Celah Sempit Ciater, saksi Keruntuhan Kolonial Belanda.

Hadir kurang 12 partisipan yang turut serta dalam kegiatan Geourban ke-22, di titik pertemuan di alun-alun Lembang (3 Agustus 2024). Tema kegiatan Geourban kali ini menapaki kembali, sejarah militer kolonial, menjelang pecahnya perang Pasifik Raya. Dihadiri oleh para pegiat, pemandu geowisata, mahasiswa pariwisata, hingga direktur salah satu pusat kebudayaan Perancis di Bandung. Kegiatan dibuka pukul 07.00 WIB, di alun-alun Lembang. Deni Sugandi membuka acara, sekaligus menyampaikan rencana kegiatan selama setengah hari. Mengunjungi tinggian G. Putri, Bungker militer KNIL, dan ke titik pertempuran Tjiaterstelling. Kegiatan menggunakan moda transportasi roda dua, bersifat mandiri dan probono. Dengan tujuan membukan jejaring lokal, inisiatif objek/tapak bumi geowisata dan sarana untuk belajar pemanduan geowisata.

Di sekitar kawasan Ciater, merupakan perkebunan teh. Hadir sejak masa Kolonial, mengisi lembah dan perbukitan di lereng G. Tangkubanparahu. Sejauh mata memandang adalah hamparan permadani hijau, melampar hingga berbatasan dengan Jalan Cagak. Di timurnya dibatasi oleh jajaran perbukitan kelompok sistem gunungapi purba Cupunagara. Ke arah timur, telihat bentuk kerucut khas G. Canggak. Diinterpretasi oleh ahli geologi Belanda, adalah sistem gunungapi yang terbentuk satu umur dengan G. Sunda. Sehingga kelompok perbukitan di timur, bukan hasil pembentukan sistem gunungapi tetapi diinterpretasi sebagai runtuhan saja (struktur). Sedakang dalam peneltian Sutikno Bronto (2004), merupakan sistem Kaldera Cupunagara-Bukanagara Umur Tersier.

Titik terbaik untuk mengamati bentangalam tersebut, di puncak G. Putri. Di keterangan Rudi Dalimin H. (1994), disusun oleh batuan gunungapi umur tua. Diperkirakan satu umur dengan pembentukan G. Sunda. Dengan demikian bisa ditafsirkan bahwa Gunung Putri merupakan tinggian bagian dari kaldera Sunda (mungkin Prasunda). Generasi ke-dua dari sistem gunungapi Sunda-Tangkubanparahu.

Dari tinggian Gunung Putri merupakan titik terbaik untuk mengamati bentang alam, dataran tinggi lembang, cekungan Bandung dan jajaran perbukitan Sesar Lembang yang membentang timur-barat. Titik tinggi inilah menjadi strategis untuk mengamati segala kegiatan yang melewati puncak pass Ciater di pintu masuk wisata G. Tangkubanparahu. Ke arah selatannya, melandai mengikuti lembahan yang dalam, dierosi Ci Hideung. Dengan demikian, puncak G. Putri menjadi penting, sebagai pagar pertahanan militer, terutama untuk menghalau pesawat udara tempur musuh yang akan memasuki Bandung.

KNIL membangun bungker-bungker, terutama didaerah tinggi. Dengan maksud berfungsi sebagai pengendali ruang gerak musuh bila memasuk Cekungan Bandung. Dicatatkan dalam informasi lokal, didapati dua bungker di sekitar Lembang. Sedangkan masyarakat menyebut benteng Cikahuripan (Jayagiri), dan benteng Gunung Putri. Penyebutan benteng tidaklah tepat, karena bentuk bangun dalam stretegi militer setelah Perang Dunia ke-dua sudah berubah. Fungsi benteng menjaga dari luar untuk tidak masuk, sedangkan bungker lebih ke fungsi teknis.

Bungker di Gunung Putri dan Cikahuripan, diperkirakan dibangun pada saat rencana perpindahan ibu kota Hindia Belanda dari Jakarta ke Bandung. Dimulai dengan perpindahan pusat produksi mesiu di Kiaracondong, kemudian pembangunan gedung-gedung pemerintahan diantaranya Gedung Sate, pusat militer di Cimahi. Dengan demikian perlu membuat sistem pertahanan militer. Dengan cara membangun bungker-bungker yang menempati tinggian utara-barat dan selatan Bandung, dibangun sekitar 1890-an.

Penempatan bungker ditinggian strategis, terbuka ke segala arah tetapi tersembunyi. Seperti pembangunan bungker di Gunung Putri, yang memanfaatkan puncak perbukitan yang tertutup oleh vegetasi. Agar tidak mudah dikenali, pembangunan bungker dengan cara menggali, membuat struktur dari beton kemudian ditutup kembali. Sehingga hanya bagian lubang tembak saja yang terlihat sebagian besar strukturnya ditimbun kembali oleh tanah. Bungker tersebut dibuat menggunakan struktur beton, menggunakan tulangan besi baja. Ketebalannya rata-rata satu meter, dengan harapan mampu menahan serangan bom yang dijatuhkan melalui pesawat udara. Pintunya terbua dari baja tebal, dua lapis. Kemudian jendelannya hanya satu baris saja, dengan tujuan membatasi lemahnya struktur bangun. Panjangnnya sekitar 20 meter, terbagi menjadi beberapa ruang yang berfungsi sebagai pusat komando, penyimpanan mesiu dan tempat istirahat para personel.

Kemudian diutaranya merupakan sesar anjak akibat kompresional, disebut Tambakan Ridge. Tebentuk akibat gerak tektonik dari Indo-Australia yang menyusup di bawah lempeng benua Eurasia. Bergerak 7 cm pertahun, mengakibatkan sebagian besar Jawa bagian selatan naik. Subduksi menghasilkan jajaran gunungapi di bagian selatan, tumbuh di umur Tersier dan padam. Jalur gunungai modern bergeser ke arah utara, yang kini bisa dikenali dengan bentuknya yang mencirikan gunungapi muda. Berupa puncakan berbentuk kerucut, menandakan gunungapi tersebut terus membangun dirinya hingga kini. Termasuk di dalamnya adalah G. Tangkubanparahu.

Gunungapi termuda dari sistem gunungapi Sunda, Gunungapi Tankgubanparahu mernupakan gunungap api aktif. Produknya tersebar hingga 20 km lebih, berupa aliran lava dari kegiatan letusan sekitar 40 ribu tahun yang lalu. Buktinya masih bisa disaksikan hingga kini, membentuk struktur yang menarik. Fitur aliran lava yang didsebut Pahoehoe, membentuk seperti tali yang dipilin. Berada di bantaran Ci Kapundung, sekitar Kordon yang masuk ke dalam wilayah Taman Hutan Raya Djuanda.

Sumber letusannya adalah G. Tangkubanparahu. Menaungi sebagian besar dataran tinggi Ciater, yang dibelah oleh jalan poros utara-selatan. Jalan provinsi yang menghubungkan Kota Subang di utara, ke dataran tinggi Lembang di bagian selatannya. Jalannya meliak-liuk mengikuti tekuk lereng gunung, melalui beberapa sungai musiman. Diantaranya sungai-sungai yang berhulu di Kawah Domas, yaitu Ci Pangasahan, bagian dari Daerah Aliran Sungai Ci Punagara. Sungai terpanjang di Kabupaten Subang, berhulu di Cipabeasan, Bukanagara, Cisalak, Subang utara.

Ci Pangasahan menjadi saksi kunci, serangan tetara kekasaran Jepang di Ciater. Peristiwa invansi militer yang mampu merebut dataran tinggi Ciater dalam waktu singkat. Diawali pertempuran Laut Jawa, pada awal bulan Februari 1942. Armada kapal laut Jepang, mampu mengungguli kapal perusak gabungan sekutu. Akibanyanya jalan menuju pantai utara terbuka lebar.

Tepat pada tanggal 1 Maret 1942, terjadi pendaratan tentara Jepang seretak dibeberapa tempat, di Batavia, Indramayu dan sekitar Tuban. Diantranya di pelabuhan nelayan Eretan. Pelabuhan kecil yang tidak masuk dalam sistem pengamantan militer Belanda saat itu, sehingga intelejen Jepang memilih lokasi pendaratan ini. Pergerakan infanteri tentara Jepang sangat efektif, bergerak cepat dan senyap. Sehingga hanya menggunakan peralatan perang yang mudah dibawa, seperti sepeda. Kendaraan roda dua ini memungkinkan pergerakan menyusup yang cepat, menguasai Pelabuhan Pesawat Udara Kalijati di utara Subang.

Diperlukan waktu tidak lebih dari satu jam, untuk mengusai Lapangan Kalijati. Dilanjutkan bergerak ke arah selatan menyusuri jalan raya Ciater, sebagai pintu masuknya Jepang ke Bandung. Di sekitar jembatan Ci Pangasahan, KNIL menempatkan beberapa bungker yang menghadap ke arah utara. Dilengkapi dengan mortir, dan senjata otomatis 50 mm, dengan tujuan menghadang pergerakan tentara Jepang dari arah Jalancagak. KNIL memanfaatkan lereng terjal dan celah sempit untuk menjegal tentara Dai Nipon. Namun strategi militer Jepang lebih waspada, dengan mengerahkan kompi-kompi kecil, menapaki lahan terbuka perkebunan teh. Bergerak secara acak, menyergap bungker (pillbox) KNIL, sehingga mudah ditaklukan.

Dalam keterangan saksi kadet KNIL yang selamat, menceritakan ada 72 tentara KNIL yang ditawan Jepang, kemudian diikat dalam lingkaran. Sekitar 500 meter dari arah barat jalan raya (Ciater), dan 150 meter ke arah hulu Ci Pangasahan, tawanan tersebut ditembaki senapan mesin otomatis. Untuk memastikan tewas, tentara Jepang tidak segan menusukan bayonet kepada tubuh KNIL yang telah roboh. Tiga orang terluka, selamat dan menceritakan kembali lokasi pembantaian tersebut. Sebagian besar KNIL yang tewas dalam pertempuran tersebut, dimakamkan di Ereveld Pandu.

Christope Direktur IFI berbagi kisah, sistem pertahanan militer di PD2 Perancis.

Geourban#22 Ciater

Kaki gunung sebelah timur Tangkubanparahu, memiliki cerita bumi dan sejarah sistem pertahanan militer perang dunia ke-2. Jalan dari utara ke selatan, penghubung Subang-Bandung. Jalur sempit yang mengikut tekuk lereng G. Tangkubanparahu, dan berkelak-kelok menanjak mengikuti kontur perbukitan.

Lerengnnya disusun piroklastik, dan lava membentuk perbukitan yang melandai ke arah timur. Gunungapi ini mulai membangun dirinya sejak 90 ribu tahun yang lalu, menghasilkan aliran lava ke arah Ciater. Terlihat tiga perbukitan intrusi yang kini menjadi menara pandang perkebunan teh Ciater. Ditafsir gunungapi kerucut sinder, umurnya lebih tua dari yang menjadi saksi pembentukan G. Tangkubanparahu.

Disebelah baratnya, dilalui jalan Raya Subang-Bandung. Tentara Kerajaan Belanda (KNIL), membut sistem pertahanan yang memanfaatkan celah sempit Cingasaahan. Membangun bungker (pilbox), untuk menahan laju pasukan Jepang yang masuk melalui Kalijati Subang. Setelah dua hari pertempuran hebat, 7 Maret 1942 KNIL menyerah dan Jepang mengusai Bandung. Mengakhiri kekuasaaan kolonial di Jawa dan sebagain besar Indonesia.

Mari temui jejak letusan G. Tangkubanparahu, perbukitan intrusi G. Malang-Palasari. Peran kontur tekuk lereng yang digunakan sebagai basis pertahanan militer KNIL Belanda di sekitar Cipangasahan, Ciater.

Hari/Tanggal
Sabtu, 3 Agustus 2024

Waktu
07.00 WIB sd. 13.00 WIB

Titik Pertemuan
Gerbang Tangkubanparahu
https://maps.app.goo.gl/kU5o14fb8dMcvCqv9

Syarat dan ketentuan
Kegiatan probono, bersifat mandiri (transport, logistik) dipersiapkan sendiri. Disarankan menggunakan motor/roda dua laik jalan.

Tentang Geourban
Diinisiasi oleh PGWI, menjalin jejaring lokal, menggali tafsir tapakbumi dan syiar geowisata.