“Kapan tempat ini disebut Dayeuhkolot?” tanya salah seorang peserta. “Sejak ada yang ngora (muda)” jawab si Abah. Jawaban tersebut mengundang senyum para peserta, karena bermakna ambigu. Bila konteksnya kepad tali perkawinan, tentunya ada yang menyebut istri tua dan muda, barangkali pemikiran peserta sama-sama berfikir ke arah sana. Si Abah adalah Jujun Syarifhidayat selaku pengurus makam Situs Luluhur Bandung di Bojongsoang.
Jujun menuturkan bahwa dahulu pemakaman ini adalah titik pusat pemerintahan kabupaten Bandung di Krapyak. Menurut Jujun, luasnya sekitar 2 hektar yang berada diantara pertemuan tiga sungai. Di sebelah selatannya dibatasi oleh Ci Tarum, kemudian di bagian timur mengalir Ci Kapundung. Sebelah barat berbatasan dengan Citeureup dan Ci Sangkuy. Saat ini bagunan pendopo pusat pemerintahannya sudah tidak bisa ditemui, selain tidak ada upaya konservasi dan kondisi politik perang kemerdaan. Selain itu telah terjadi penyerobotan lahan oleh warga, sehingga struktur bangunan tersebut telah hilang.
Disitus ini dimakamkan 7 orang keturunan dari Timbanganten. Diantaranya raja ke-7 Timbanganten Garut, Bupati Bandung pertama, patih Bandung hingga Hoofd Jaksa bandung.
Kondisi makan leluhur tersebut kini berupa sepetak tanah, tidak lebih dari 1300 meter persegi, dikepung dan terdesak oleh perumahan warga. Menurut Jujun awal tahun 60-an masih berupa tanah kosong, dengan ciri struktur pondasi bangunan yang masih bisa disaksikan saat itu. Kemudian ia menyebutkan masih ditemui batu tegak, sebagai penanda pintu masuk pendopo. Namun keberadaanya kini telah hilang, berganti dengan tugu asrama Zipur.
Pertemuan tiga sungai ini, menandakan posisi strategis pendirian pusat pemerintahan ibu kota. Wilayahnya disebut Krapyak, diambil dari bahasa Jawa Kuno pada saat Priangan tunduk di bawah Mataram Islam. Pengertian Krapyak bisa merujuk kepada tempat khusus para roh-roh suci yang atas perkenan Allah dihembuskan ke dalam calon bayi yang berada dalam kandungan ibu. Sehingga sering digambarkan dalam bentuk simbolis berupa yoni (Jogjakarta.go.id).
Makam leluhur Bandung tersebut merupakan titik terakhir kunjungan di kegiatan Geourban#13 Dayeuhkolot. Hadir dalam kegiatan geowisata ini adalah para pegiat sejarah, wisata urban, dan pemandu wisata. Total jumlah dalam kegiatan ini adalah
Sebelumnya pusat ibu kota Priangan berada di Cianjur, kemudian dipindahkan ke Bandung bagian selatan pada 1856
Jam baru beranjak tiga puluh menit lebih dari pukul tujuh. Kurang lebih 12 peserta telah hadir di parkiran dalam Babakan Siliwangi, semuanya mengendarai kendaraan roda dua. Selain efektif, cepat dan hemat, menghindari jalanan macet jelang pagi di sekitar jalan Babakan Siliwangi, Bandung. Tempat ini ideal untuk titik pertemuan, mengingat tersedianya ruang publik dan sarana parkir yang leluasa. Sehingga cukup baik untuk memulai kegiatan geowisata kota. Geourban ini adalah aktivitas berbasis edukasi, mengungkap kembali rahasia alam, sejarah pembentukan bumi di sepanjang Ci Kapundung segmen Lebak Siliwangi higga Tamansari, Bandung.
Geourban ke-8 mengambil rute antara Lebak Siliwangi hingga Tamansari (4/9, 2022). Dibuka oleh Deni Sugandi, selaku penggagas Geourban sekaligus sebagai pemandu geowisata. Dimulai dengan penjelasan awal, rencana dan tujuan kegiatan. Tujuan pertama adalah mengunjungi prasasti yang dianggap sebagai tinggalan budaya abad ke-14, kemudian menyusuri sepanjang bantaran Ci Kapundung. Dilakukan dengan berjalan kaki, menyusuri rumah bertingkat yang saat ini dibangun di lereng Tamansari. Total perjalanan adalah 2,3 km, dilakukan berjalan kaki, menyusuri perumahan padat. Fasadnya vertikalisasi, ditempati bangunan tambahan bersusun seperti layaknya rumah tumbuh. Bukan saja hunian warga, ke arah tepi jalan ditempati bangunan komersial hingga perhotelan.
DAS ini mempunyai luas daerah tangkapan sekitar 43.439,04 Ha dengan panjang sungai sekitar 39 km dan kerapatan sungai 2,41 km/km2(BPDAS Citarum Ciliwung 2006). Luas totalnya yaitu 154 km2. Lebar Sungai Cikapundung dibagian hulu mencapai sekitar 6 meter dan terus melebar hingga sekitar 20 meter di bagian hilir.
Menurut penuturan warga Kampung Cimaung, Tamansari menyatakan bahwa dahulu sungai ini lebih lebar. Akibat pembangunan perumahan warga sejak tahun 1970-an, menggeser dari dalam ke arah luar, sehingga lebar sungai berkurang. Dampaknya adalah erosi dan luapan sungai pada saat hujan deras, dan membahayakan kestabilan lereng di sepanjang bantaran sungai.
Para partisipan yang hadir adalah pegiat wisata, pegiat cagar budaya, hingga pelaku pemandu wisata yang berdomisili di Bandung. Sesuai dengan tujuan kegiatan ini, membuka jaringan dan potensi geowisata di kota Bandung. Aktivitasnya adalah memperlihatkan keragaman alam, budaya di sekitar bantaran Ci Kapundung segmen Tamansari, Bandung. Dalam kegiatan Geourban ke-8 ini, mengajak partisipan untuk melihat kembali bukti letusan kataklismik G. Sunda, bukti endapan Danau Bandung Purba. Selain itu menunjukan keberadaan budaya pendukung pada masa Neolitik (prasejarah) dan Sunda Klasik. Sedangkan lapisan budaya berikutnya yang berkaitan dengan masa kolonial, tidak disajikan dalam kegiatan ini. Hal tersebut karena telah disajikan oleh komunitas pegiat sejarah sebelumnya.
Seperti yang telah diungkap oleh para peneliti arkeologi, menandaskan bahwa Ci Kapundung adalah sungai yang melahirkan tiga lapisan budaya. Mulai dari budaya prasejarah yang ditandai dengan penemuan arca Cikapundung di sekitar Kebun Binatang Tamansari. Arca tersebut adalah tinggalan budaya pendukung Sunda Klasik yang diperkirakan hadir sekitar abad ke-14. Keberadaan arca tersebut, kini menjadi koleksi Museum Nasional di Jakarta. Ciri dan bentuknya merupakan perwujudan raja yang disajikan seperti dewa. Dengan demikian arca tersebut bisa dikelompokan ke dalam Tipe Pajajaran.
Lapisan budaya sebelumnya adalah peradaban prasejarah. Seperti yang ditunjukan oleh A.C dr Jong (1930), Koenigswald (1935), Rothpletz (1972) melalui peta sebaran budaya mikrolit. Artefak tersebut berupa alat berburu yang terbuat dari bahan gelas vulkanik atau obsidian. Ditemukan disekitar hulu Ci Kapundung, atau sekitar Bukit Kordon dan menyebar sebagian di arah timur Cileunyi. Posisi penemuannya berada di ketinggian lebih dari 725 m di atas permukaan laut/mdpl. Dengan demikian Rothpletz menduga, bahwa ciri budaya yang berkembang tersebut adalah kelompok manusia prasejarah yang dipengaruhi oleh paras Danau Bandung Purba. Sehingga pendapat demikian menyatakan bahwa manusia prasejarah yang hidup antara 5600 hingga 9500 BP (Yondri, 2005), masih menyaksikan Danau Bandung Purba.
Kunjungan pertama adalah melihat kembali tinggalan budaya di bantaran Ci Kapundung. Pemberitaan tahun 2010 menyebutkan, ada bukti prasasti yang dituliskan di atas batu andesit. Terletak di Kampung Cimaung, Tamansari Bandung. Dalam pemberitaan tersebut, menuliskan bahwa aksara yang ditoreh di atas batuan beku tersebut adalah berasal dari abad ke-14 (voaindonesia.com, 2010). Seperti yang dinyatakan oleh Nandang Rusnandar dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Jawa Barat, bahwa tulisan tersebut menggunakan aksara Sunda Kuno. Berbeda dengan pendapat ahli Filologi Unpad yang menyatakan bahwa aksara di prasasti tersebut bukan aksara Sunda Kuno.
Dari titik ini bisa diamati bongkah-bongkah batuan andesit yang terendapkan di tempat ini. Bisa jadi budaya lama memanfaatkan sumber daya alam batuan keras ini, sebagai penanda budaya. Seperti yang ditunjukan oleh penemuan beberapa arca di sekitar Taman Sari atas, yang dibuat dari bahan yang mudah didapat, diantaranya batuan keras vulkanik.
Setelah melepas lelah sesaat di warung, dilanjutkan dengan diskusi singkat mengenai bukti-bukti peradaban yang pernah hadir di bantaran Ci Kapundung. Diperkirakan masih ada beberapa tinggalan budaya yang belum ditemukan, mengingat Ci Kapundung merupakan sungai tua di dataran tinggi Bandung. Bisa saja belum ada penemuan baru, mengingat kegiatan penelitian arkeologi terkendala dengan sumber pendanaan dan urgensi. Sehingga penemuan arkeologi biasanya datang dari laporan masyarakat.
Kegiatan dilanjutkan menyusuri Ci Kapundung melalui jalan sempit yang mengarahkan ke utara. Jalanan cukup untuk melintas sepeda motor dan pejalan kaki, sehingga diperlukan kehati-hatian bagi para pengendara yang akan berpapasan. Jalan setapak ini menyusuri saluran irigasi yang dibuat untuk kebutuhan pengairan dan saluran drainase warga. Dibeberapa bagia tempat saluran terbuka tersebut menjadi septik tank terbuka oleh beberapa rumah warga, sehingga menimbulkan aroma bau. Hal demikian bisa dimengerti, akibat rumah yang dibangun ditahan miring tersebut sudah sempit dan tidak menyisakan ruang untuk pembangunan septik tank.
Selepas jalan Pelesiran, kemudian arah perjalanan berbelok ke arah timur. Mengikuti jalan yang mengarah ke apartemen Jardin. Rumah susun yang dibantun di atas tanah kurang lebih 11.000 m2 ini berhimpitan langsung dengan garis Ci Kapundung. Dalam pembangunannya, rusunami ini mengandung masalah, baik berkaitan dengan kepemilikan lahan, hingga pengelolaan sumber air. Selain itu menghilangkan satu-satunya kolam pemandian masa kolonial Kolam Renang Cihampelas.
Bergerak terus ke arah utara, memperlihatkan singkapan batuan di sungai. Disusun oleh material yang lebih halus di bagian bawah, dan kasar di bagian atas. Menandakan sedimen danau Bandung Purba di segmen Lebak Siliwangi. Batuannya berstruktur breksi vulkanik, hasil kegiatan letusan G. Sunda-Tangkubanparahu. Dalam peta geologi yang telah di detailkan, merupakan Formasi Cibeureum yang disusun oleh perulangan breksi dan tuff dengan tingkat konsolidasi yang rendah serta sisipan lava basal. Umurnya sekitar Pleistosen Akhir hingga Holosen (Koesoemadinata dan Hartono, 1981). Dalam kesempatan ini Zarindra, selaku pemandu geowisata menambahkan bahwa kuasa sungai mampu mengangkut material vulkanik dari hulu kemudian diendapkan di hilir.
Dari bantaran sungai di sebelah timur Sabuga, terlihat endapan volkanik ini di erosi oleh sungai. Dicirikan dengan jalur yang tererosi membentuk curugan kecil, dan menoreh batuan keras menjadi lajur air. Jalan setapak ini berakhir di Sabuga, kemudian berbelok ke kembali ke Babakan Siliwangi. Acara ditutup dengan penyampaian kesan yang didapat selama kegiatan ini berlangsung.
Breksi gunungapi, alas Ci Kapundung segmen Babakan Siliwangi Breksi gununugapi halus dan kasar, dierosi Ci KapundungHunian warga di bantaran Ci Kapundung, sekitar Cihampelas bawahWarga pemilik rumah di depan batu Peserta Geourban di depan batu yang dianggap prasasti
Selepas kampung Sekejolang, Ciburial, Kordon atas, langkah dilanjutkan melalui jalan tanah. Lajur setapak yang dipagari pohon tegakan pinus, mengarah ke jalan poros yang sejajar dengan aliran Ci Kapundung. Dibutuhkan waktu 20 menit menuruni lereng curam tersebut, meniti pijalan tanah yang licin akibat hujan lebat semalam. Jalan setapak tersebut merupakan jalur warga Sekejolang, bagi yang akan menuju Pintu II Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, dari arah Maribaya.
Akses inilah yang dilalui dalam kegiatan Geourba#7, mengunjungi situs tapak bumi lava pahoehoe. Total jarak tempuh adalah satu kilometer lebih sedikit, dengan waktu perjalanan tidak lebih dari 30 menit, dari kampung Sekejolang menuju situs lava pahoehoe. Pihak pengelola Tahura Djuanda menuliskannya Batu Batik, dipapan petunjuk. Dari persimpangan papan informasi tersebut, dilanjutkan menapaki jalan setapak yang telah ditata. Dilanjutkan menuruni tangga yang mengantarkan para pengunjung tepat dipelataran lava pahoehoe.
Kemudahan aksesibilitas ini menandakan kepedulian pengeola Tahura Djuanda, memudahkan pengunjung untuk mengunjungi situs alam tersebut. Sebelumnya jalan menuju lokasi ini diperlukan usaha ekstra, melalui jalan tangga batu yang disusun, tegak.
Di situs ini terlihat masih tampak seperti awal penemuan 2012. Berupa pelataran yang tersingkap bagian penutupnya, akibat tererosi oleh aliran Ci Kapundung. Di teras ukuran kurang lebih 6 x 4 meter ini memperlihatkan fitur produk gunungapi yang unik. Seperti yang diketahui, bahwa produk letusan dibagi ke dalam dua kelompo besar; tefra yang berupa material yang dilontarkan diletusan eksplosif. Diantaranya bom gunungapi, piroklastik dengan ukuran beram hingga abu gunungapi. Kemudian proudk ke-dua adalah lava, dari hasil letusan efusif.
Aliran lava tersebut mengalir dengan jarak tertentu, tergantung dari kekentalannya yang dikendalikan oleh jumlah silika. Semakin encer menandakan lebih asam, sehingga menghasilkan produk lava a’a, sedangkan bila lebih kental, mengandung silika lebih rendah dan bergerak sangat lambat. Di lapangan dicirikan dengan warnanya lebih gelap atau lava basal.
Seperti yang dijelaskan narasumber Geourban#7, Fajar Lubis. Jenis lava yang ditemui di bantaran Ci Kapundung adalah bersifat basal, dikelo,pokan ke dalam Formasi Cikidang, dan berumur 48.000 tahun yang lalu (Sunardi & Koesoemadinata, 1997). Berkomposisi basal, dengan viskositas sangat rendah (Abdurrachman, 2016). Secara umum, biasanya ditemui di tatanan tektonik intraplate (di tengah benua), berupa hotspot dan jarang ditemui di zona subduksi gunungapi Jawa bagian selatan.
Pahoehoe dalam bahasa Polinesia (Hawaii), adalah riak air yang terbentuk saat mendayung perahu. Diterapkan dalam ilmu gunungapi, berarti aliran lava yang dicirikan dengan permukaanya halus, membentuk seperti untaian tali. Persis seperti yang ditemui di bantaran Ci Kapundung segmen Maribaya. Dalam penafsiran budaya, dirujuk pada selendannya Dayang Sumbi (Bachtiar, 2014), berkaitan dengan legenda Sangkuriang.
Sungainya menyempit, dipagari oleh tembok dengan tinggi 1,3 meter. Berkelok-kelok memotong kantor pemerintahan kota Cimahi. Alirannya kemudian terus mengalir mengikuti dataran lebih rendah ke arah Cimahi Selatan. Setelah memotong kota melalui perumahan dan kawasan industri, alirannya bermuara di Ci Tarum segmen Curug Jompong. Ci Mahi merupakan Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Ci Tarum, membentang sepanjag Kota Cimahi, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Sungai yang bermuara di sekitar G. Tangkubanparahu, kemudian ditangkap di bendungan Situ Lembang di sekitar ketinggian 1574 m dpl kemudian mengalir menuruni lereng, hingga titik terendah dipertemuan dengan Ci Tarum di Nanjung pada elevasi 649 m dpl.
Panjang sungai utamanya adalah 30.6 km, dengan kemiringan rata-rata 17.84% dan kelliling DAS 66 km (Safarina dan Ramli, 2015). Dalam kegiatan geowisata yang dikemas dalam series ekskursi Geourban#5 (29/1, 2022), mengambil di segmen tengah, mulai dari perkantoran Kota Cimahi, hingga Curug Bugbrug yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung Barat. Dalam peta Geologi Gunungapi Tangkubanparahu, Soetoyo dan Hadisantono, 1992, menginteptretasikan lintasan Ci Mahi adalah sesar dengan arah utara selatan, namun tidak nampak dipermukaan.
Titik kunjungan pertama di Plaza Rakyat Pemkot Cimahi. Plaza yang bersebelahan dengan kantor Pamong Praja Cimahi, dipotong oleh Ci Mahi. Penantaan sungainya ditembok dengan lebar kurang lebih 3 meter, dan tinggi antaran 1,5 meter hingga 2 meter. Pada saat kunjungan, debit airnya surut karena alirnya dibelokan melalui irigasi-irigasi untuk pengairan sawah dan ladang di bagian hulu. Manajemen disain sungai ditembok, bermaksud mempercepat aliran sungai dan tidak mengerosi bantaran sungai.
Dalam laporan BPBD Kota Cimahi, banjir di ruas utama Ci Mahi seringkali terjadi terutama pada puncak musim penghujan, atau sekitar bulan Desember hingga Februari. Pada 19 Desember 2013 dilaporkan terjadi dampak banjir dari luapan sungai, menggenai jalan Amir Machmud, di sekitar kelurahan Cigugur. Tinggi genangan mencapi 50 cm. Pada 21 Januari 2014 terjadi luapan Ci Mahi di daerah Pemkot Cimahi, dipicu oleh adanya pengoperasian Balai Perikanan. Luapan airnya menggenangi jalan protokol kota Cimahi, hingga mencapai tinggi genangan 1 m.
Peristiwa luapan sungai tersebut berasal dari meluapnya muka air sungai yang tidak tertampung oleh Ci Mahi. Penyebabnya bisa jadi karena perbedaan batas wilayah sungai, dan batas wilayah kota yang saling berebut lahan.
Geourban#5 bermaksud melihat kembali pengangan tata guna lahan, hingga permasalahan yang timbul dalam pengelolaan sungai kota melalui kupasan ilmu kebumian. Diikuti oleh dua belas orang peserta, dengan latar belakang beragam. Mulai dari pengajar pariwisata vokasi, pegiat wisata, institusi BPBD, komunitas lingkungan hingga pegiat wisata alam. Kegiatan ini dimulai dari titik kota, menyusuri Ci Mahi hingga segmen hulu. Acara dimulai tepat pukul 07.30 wIB, mengambil tempat di Plaza Pemkot Cimahi dan dibuka oleh Deni Sugandi, selaku pemandu geowisata. Penyampaian brifing singkat, serta penjelasan posisi geografis rencana kegiatan. Disambut selanjutnya oleh Fajar Lubis, ahli hidrogeologi. Menguraikan geologi regional cekungan Bandung, dan posisi Ci Mahi yang mengalir dari utara ke selatan.
Di titik ke-dua mengunjungi wisata alam yang dikelola oleh warga Ciawitali, Citeureup, Cimahi Utara, Kota Cimahi. Destinasi wisata alam dan desa, terletak dilembah Ciawitali yang dibelah oleh Ci Mahi. Berupa sarana pariwisata seperti saung, dan sarana wisata kebun yang sering menerima kunjungan wisatawa untuk makan siang khas Sunda. Dikelola oleh Ujang Sutaryat selaku ketua komunitas Pakusunda, Ciawitali. Menuturut pa Ujang, pada awal tahun 80-an, Ci Mahi yang melalui wisata Saung Ciawitali Batupoyan mengalir bersih. Kadang dimanfaatkan sebagai sumber air baku warga sekitar, hingga kegiatan untuk mandi. Ia mengenang bahwa pada waktu mudanya, ia sering berenang, dan memanfaatkan Bayupoyan untuk sekedar berjemur mengusir basah setelah berenang di sungai. Namun akhir 2017 lokasi tersebut secara bertahap menjadi lokasi pembuangan sampah warga sekitar.Batupoyan ditelan oleh tumpukan sampah yang menggunung, sehingga tidak ada lagi aktivitas berenang dan berjemur di atas Batupoyan. Pada akhir 2020, pa Ujang melalui komunitas Pakusunda, menata ulang kawasan Ciawitali termasuk melakukan pembersihan sampah. Langkah selanjutnya adalah mendorong menjadi destinasi wisata alam dan budaya, disebut Saung Ciawitali Batupoyan. Menyediakan beberapa saung-saung bambu yang ditata sesuai lahan yang tersedia, dikelilingi pesawahan yang masih digarap.
Batupoyan atau batu untuk berjemur, berupa bongkah dengan struktur breksi gunungapi, disusun oleh fragmental batu lava, pasir, dan kerikirl yang menyudut tesemenkan oleh tuf. Terbentuk hasil dari longsoran gegerpuing (debri avalance), material yang dimuntahkan oleh aktivitas letusan G. Tangkubanparahu antara 50.000 hingga 10.000 tahun yang lalu. Sebarannya berupa kipas volaknik, melebar barat-timur, menutupi sebagian utara Kabupaten Bandung, Ngamprah dan sebagian Cimahi.
Kunjungan berikutnya adalah Curug Panganten, di sebelah utara Ciawitali. Masuk ke dalam Padaasih, Cisarua. Air terjun yang mengalir di atas aliran lava, letudan G. Tangkubanparahu. Dicirikan dengan gawir terjal, dan tegak, disusun oleh lava tebal berwarna abu-abu ke gelap. Tinggi air terjun kurang lebih 8 meter, mengalir melalui celah sempit dan dibagian dasarnya membentuk kolam. Terbentuk karena dasar tebing disusun oleh batuan yang mudah tererosi, diantaranya breksi. Endapan volkanik dari letusan sebelumnya, baik itu diendapan melaui mekanisme aliran dan jatuhan. Seiring waktu tererosi oleh air terjun, mementuk ceruk yang dalam. Ditepi kolam terlihat bongkah-bongkah lava hasil jatuhan, akibat dierosi oleh aliran Ci Cimahi.
Di stop berikutnya adalah mengamati Ci Mahi yang digeser oleh Sesar Lembang, di sekitar Padaasih yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung Barat. Secara umum menggunakan bantuan alat ukur di Google Maps, jarak yang bergeser kurang lebih 379 meter dengan arah sumbu timur ke barat. Disusun oleh
Dari titik pengamatan dari titik tinggi sekitar taman pemakaman Padaasih, terlihat lembah yang dalam, dierosi kuat oleh Ci Mahi. Bagian dasarnya memiliki lebar sekitar 60 hingga 80 meter, berupa dataran banjir (flood plain) yang dimanfaatkan menjadi perkebunan dan sawah warga. Dindingn tegaknya, berkisar antara 60 hingga 75 meter. Membentuk celah yang dalam yang terbentuk oleh sesar geser mengiri. Dari studi geodesi memperlihatkan laju pergeseran sinistral Sesar Lembang adalah 3-14 mm per tahun (Abidin dkk., 2008; Abidin dkk., 2009).
Kegiatan penutup menunjungi Curug Bugbrug. Masih dalam aliran Ci Mahi, terletak di sebelah utara Curu Cimahi. Masuk ke dalam wilayah Kertawangi, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Di bagian dasar curug, terlihat dinding tegak yang disusun oleh aliran lava hasil letusan G. Sunda yang berselang seling dengan aliran piroklastik dari sumber yang sama (Soetoyo dan Hadisantono, 1992). Umur endapan piroklastik melalui pengukuran arang kayu, berumur 38.300 tahun (Hadisantoso, 1988).
Geourba#5 ditutup dengan diskusi dan tanya jawab, mengenai sungai yang mengali dari utara ke selatan membelah kota Cimahi. Dari perjalan singkat tersebut, partisipan bisa melihat langsung, melalui pemaknaan rahasia bumi melalui susur Ci Mahi dari segmen kota Cimahi hingga ke bagian hulu. Alam membentuk sedemikian rupa, agar terjadi keseimbangan di dalamnya, sehingga diperlukan pengertian tersebut, dalam rangka pengelolaan dan penataan melalui kebijakan dan penetapan regulasi yang berpihak wawasan lingkungan.
Breksi vulkanik, lahar gunungapi hasil letusan G. Tangkubanparahu.Mataair berasosiasi dengan batuan breksi gunungapi. Penjelasan Ci Mahi (sungai), dari hulu ke hilir.
Untuk yang ke-empat kalinya, pada 18 Desember 2021, asosiasi profesi Pemandu Geowisata Indonesia Pengurus Pusat dan Dewan Pengurus Wilayah Bandung Raya, menyelenggarakan kegiatan geowisata di sekitar Cimahi Selatan. Kota yang dihimpit oleh Kota Bandung di sebelah timur, Kabupaten Bandung Barat di sebelah barat dan utara, sedangkan Kabupaten Bandung berada di sebelah selatannya. Walaupun ruang lingkupnya tidak lebih dari 40,37 km² (Pemkot Cimahi, 2021), memiliki potensi yang tersembunyi yang siap dikupas melalui kegiatan geowisata.
Dalam kegiatan Geourban#4 Cimahi, bermaksud menunjukan potensi geowisata di kota yang dibelah oleh Ci Mahi. Dikesemapatan ini, menggali potensi geowista di Kecamatan Cimahi Tengah dan Selatan, diantaranya di sekitar Cibeber, dan Leuwigajah. Dalam beberapa referensi, bukit adalah tinggian yang memiliki titing tertinggi tidak lebih dari 600 m dari dasar rata-rata. Sedangkan gunung tentunya lebih dari itu, kemudian dicirikan memiliki lereng terjal.
Kunjungan pertama adalah mendaki puncak G. Bohong. Tinggi 896 m dpl. atau kurang lebih 150 m dari naik dasar lapangan tembak. Dipuncaknya telah disematkan Patung Kujang lambang kesatuan Brigif 15 Kujang, yang menaungi markas kesatuan di sebelah tenggaranya. Penguasaan wilayahnya di bawah administrasi Brigif, namun pengelolaannya diserahkan kepada pa Engkos, selaku warga yang diserahi tanggung jawab untuk mejaga kebersehinan lokasi. Demi menutupi ongkos kerja, ia bersama istrinya membuka warung alakadarnya, jasa mie rebus instan dan kopi.
Dari titik tinggian ini Deni Sugandi selaku pemandu geowisata, memberikan penjelasan intepretasi bentang alam yang tersuguh didepan partisipan. Dalam catatan Belanda, disebut Het Bogen, atau melengkung yang bisa ditafsirkan bentuk tinggian yang melekungkung. Seiring waktu dilafalkan bohong oleh warga lokal, karena kurang mampu mengucapkan dalam bahasa asing. Di sebelah utara terlihat dua kerucut gunungapi G. Burangrang sisa dari sistem kaledera Sunda. Sedikit bergeser ke arah kananya, jelas terlihat bentuk perahu terbalik. Khasnya G. Tangkubanprahu. Kemudian bergeser ke arah timur, berjajar pegunungan purba grup Manglayang-Palasari-Bukittunggul. Sedikit ke arah timur terlihat kerucut tajam dalam samar, G. Cireme diperbataasan Majalengka-Kuningan dan Cirebon.
G. Bohong merupakan perbukitan intrusi yang tumbuh hasil dari kegiatan magmatisme, menembus zona lemah, kelucurusan utara selatan. Muncul bersamaan dengan perbukitan intrusi lainya, seperti G. Lagadar, Selacau, Pancir dan beberapa kerucut-kerucut lainya. Kelompok perbukitan intrusi ini berumur berumur 4,08 juta tyl dan 4,05 jt tyl, hasil analisis K-Ar batuan di Selacau dan Paseban (Sunardi dan Koesoemadinatan, 1999).
Tepat dibawahnya diterobos oleh proyek Kereta Api Cepat Indonesia Cina, disingkat KCIC segmen 11, dari 13 terowongan. Panjangnnya 500 meter, menembus batuan instrusi batuan beku yang dianggap mampu menjaga kesetabilan terowongan. Pada saat pengerjaannya, dibutuhkan teknik peledakan, karena yang diterobosnya adalah batuan beku andesitik.
Pada kesempatan berikunya, narasumber Fajar Lubis menyampaikan gunungapi tua bergeser dari selatan ke utara. Diantaranya tumbuhnya gunung PraSunda yang diperkirakan mulai membangun dirinya sejak umur Pleistosen, atau 1.7 juta tyl.
Tujuan ke-dua adalah mengunjungi Terowongan KCIC segmen 11 Cibeber-Gunung Bohong yang berada di sebelah tenggara. Dititik ini Zarindra, biasa disapa Zarin menyampaikan teknik pengeboran terowongan. Karena menemui batuan beku yang keras, ia menjelaskan untuk membobol setiap jengkal lubang, dibutuhkan teknik peledakan.
Di tujuan ke-tiga, mengunjungi sisa tambang dan endapan awan panas G. Sunda-Tangkubanparahu. Deni menjelaskan mekanisme luncuran awan panas, seiring dengan penghancuran kubah lava dan ambruknya dinding kaldera. Produknya berupa gas, piroklastik dan fragmental bom yang dilontarkan balistik. Awan panasnya turun dengan kecepatan tinggi, mengikuti lembahan, dan mengendap menjadi ignimbrite. Di Cisurupan, terlihat gawir tegak sisa pengambangan batu-pasir, dikerjakan sejak tahun 70-an. Menggali vertikal dan terbuka, hingga kedalam lebih dari 30 meter. Luas wilalayah penggalian kuran lebih 300 m2 atau luas keliling 2.3 km. belum ada perhitungan jumlah volume material yang diangkat, mengingat kegiatan penggaliannya kurang lebih terjadi hampir 20 tahun, menggunakan linggis dan cangkul secara manual.
Dari titip pengamantan ini, terlihat G. Padakasih yang menjulang, batas antaran wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cmahi. Dari titik Ciseupan, masih terlihat hijau segar, karena Pemerintah Kota Cimahi mengeluarkan aturan pelarangan pengambangan. Sedangkan di balik G. Padakasih, telah habis oleh kegiatan tambang. Menurut Tony, gunug ini disebut G. Panganten, mengingat ada dua kerucut yang mirip pasangan. Dalam keterangannya ada cerita rakyat di kawasan ini, disebut penunggu gunung disebut Nyi Kentring Manik yang meneyerupai wujud ular besar. Bila ia terusik, maka ia akan marah dalam bentuk gempa, lonsor hingga kekeringan yang melanda daerah ini.
Bencana kekeringan pernah terjadi di sekitar Padakasih, pada awal 80-an, akibat penambangan Ciseupan. Menurut Fajar, bisa saja airtanah permukaan terganggu, sehingga mataair dihulu kering. Dibutuhkan 20 tahun untuk memulihkan kembali sumber mataair di sekitar lereng timur G. Padakasih.
Kunjungan selanjutnya ke kawasan pengelolaan ekowisata Padakasih, dikelola oleh warga. Dalam kesempatan ini peserta Geourban diberikan kesempatan untuk turut mendukung penghijauan, menanam bibit kopi robusta yang telah disiapkan sebelumnya.
Untuk lokasi penutup, mengunjungi tragedi longsoran sampah TPA Leuwigajah tahun 2005. Tragedi ini merengut hampir 157 orang yang terdampak langsung dan hampir setengahnya tidak diketemukan higga kini. Dari keterangan saksi, akibat hujan lebat yang tidak berhenti, menyusup, kemudian menjadi bidang gelincir. Dilaporkan juga terjadi ledakan gas metan, diciriakan dengan api yang berwarna biru. Tragedi ini adalah kesalahan manajemen dan lalainya pengawasan dari pemengan regulasi saat itu.
Kegiatan berakhir tepat pukul 12.30 WIB, ditutup dengan pengukuhan anggota baru angkatan II, hasil kegiatan Diklat pada 28 November 2021. Sebagai penutup acara disambung makan bersama dengan makanan khas desa adat Cireundeu.
Lembah Leuwigajah, sisa longsoranKebun warga di atas tumpukan sampahPerkebunan jagung, menempati sisa lahan TPABatuan beku yang telah mengalami pelapukan di Pasir Gajah LanguHidangan makan siang, olahan singkong di Desa Adat CireundeuArah longsoran di TPA Leuwigajah
“darimana air berasal” tanya Fajar Lubis kepada peserta Geourban. Pertanyaan terebut memancing banyak sekali jawaban, mulai dari sungai, air hujan hingga ada yang menjawab dari keran air.
Peserta berkumpul di gerbang selatan UPI, jalan Setiabudi Bandung. Sekitar 21 motor roda dua, dengan jumlah peserta 34 orang dengan latar belakang berbeda. Diantaranya dihadiri oleh komunitas dan lembaga Komunitas Cai, Jarambers/Djiwadjaman, HPI DPC Bandung, Sahabat Heritage Indonesia, Pramuka Kwarcab Bandung, Bandung Heritage, ITLA, Kampoeng Tjibarani, HMTG “GEA” ITB, D1VA Tour, Genpi Yayasan Biruku, Hutan Menyala (The Lodge Group) dan FTV UPI.
Kegiatan ini dibuka oleh Deni Sugandi, selaku pemandu geowisata. Dalam paparan singkatnya menjelaskan rencana titik kunjungan, dan pengarahan awal tentang keselamatan dan keamanan selama berkendara. Kunjungan pertama ke Gedong Cai di Cidadap Girang, bangunan kolonial yang resmi beroparasi pada 29 Desember 1921 untuk menyuplai air minum di sekitar kawasan Bandung utara.
Di lokasi ini diberikan penjelasan orientasi geografis, kemudian tentang sejarah pembangunan oleh Merrina Kertowidjojo. Biasa disapa Meri, mengungkapkan bahwa Belanda telah menyusun rencana jangka panjang, dengan memanfaatkan sumber mataair di sekitar Cidadap Girang, untuk menyuplai kebutuhan masyarakat disekitar Bandung utara.
Selanjutnya Fajar Lubis, menyampaikan informasi mengenai hidrogeologis yang berkembang di sekitar Kawasan Bandung Utara.
Tujuan selanjutya mengunjungi tapakbumi bukti letusan Gunung Sunda-Tangkubanparahu. berupa gawir terjal, perlapisan tebal endapan awan panas. Materi disampaikan oleh Deni Sugandi, Zarindra dan Fajar Lubis, mengupas dari sisi proses pembentukan, hasil letusan eksplosif kaldera Sunda, dan sistem hidrogeologi yang berkembang diendapan volkanik.
Lokasi terakhir yang dikunjungi adalah sumber mataair panas Curug Nagrak, di Sukajaya Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sumber mataair panas yang muncul, berasosiasi dengan sesar yang memanjang utara-selatan, di lereng Gunung Tangkubanparahu sebelah selatan.
Kegiatan ini diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia atau PGWI, upaya menjahit titik-titik geotapak yang tersebar di Cekungan Bandung. Aktivitasnya dalam bentuk geowisata, wisata yang berbasis kepada fenomena kebumian, dan sejarah. Kegiatan ini bersifat probono atau tidak dipungut biaya, dengan tujuan bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat, melalui berbagi informasi. Dengan demikian diharapkan disetiap destinasi wisata, menghidupkan pelaku jejaring lokal melalui kegiatan pemanduan dan pengelolaan.
Kegiatan geowisata Bandung bagian selatan, masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung ini diinisiasi oleh perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Dewan Pengurus Wilayah Bandung Raya. Kegiatan ini terbuka untuk umum yang menaruh minat khusus dengan ilmu kebumian populer, sejarah budaya. Dilaksanakan secara berkala, dalam rangkain aktiviasi jejaring, menggali potensi geowisata Cekungan Bandung dan sarana belajar kepemanduan di PGWI.
Pelaksanaan geowisata ke Gunung Padang Ciwidey, dibuka terlebi dahulu dengan kegiatan daring (19/7, 2021) melalui pertemuan virtual. Kegiatan ini sebagai sarana penjelasan umum, hingga rencana teknis pemberangkatan. Materi yang disampaikan oleh Deni Sugandi, selaku pemandu geowisata, bersama narasumber lainya. Berkaitan sejarah disampaikan oleh Gangan Jatnika, dan Sodikin Kurdi. Pertemuan awal ini berguna untuk persiapan kegiatan lapangan, termasuk apa saja dan bagaimana kegitan geowisata ke Bandung selatan ini dilaksanakan.
Mengambil titik pertemuan di sekitar Soreang (21/7, 201). Dihadiri oleh 21 orang peserta dengan latar belakang yang beragam. Komunitas pegiat wisata, guru geografi, komunitas budaya Sunda, pemandu geowisata hingga komunitas jalan-jalan di Bandung. Kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB, menggunakan modra transpotasi roda dua, menuju statsiun Ciwidey. Bangunan cagar budaya ini merupakan bukti kejayaan jalur keretaapi Soreng-Ciwidey yang dibangun pemerintah kolonial, dalam upayanya mempersingkat jarak distribusi hasil perkebunan dari Ciwidey ke kota Bandung. Dibuka 1924 melalui beberapa statsiun, mengikuti kontur Ci Widey yang berkelok-kelok. Dalam pembangunan jalur kereta api pada masa itu, menuntut kemampuan teknis, diantaranya adalah teknik yang berkaitan dengan pembuatan struktru jembatan besi. Kemampuan rekayasa teknis ilmu sipil kolonial, hingga kini masih bisa disaksikan di lokasi kunjungan ke-dua.
Jembatan Rancagoong yang membentang barat-timur, melewati Ci Widey dengan panjang kurang lebih 100 meter. Dibangun di atas struktur beton dengan menggunakan rangka besi melengkung. Dibangun sebagai sarana penghubung perkebunan dengan jalur distribusi perdagangan di Bandung selatan. Namun pelayanan jasa transportasi kereta api harus tutup awal tahun 80-an, karena kalah bersaing dengan kendaraan roda empat yang semakin menggeliat. Karena tidak bisa lagi menutup biaya operasional, jalur kereta api Soreang-Ciwidwey akhirnya ditutup.
Kunjungan berikutnya adalah ke Gunung Padang, di Rawabogo, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung Barat. Wilayah tinggian perbukitan yang dikelilingi oleh pohon tegak pinus, kemudiand dimanfaatkan oleh masyarakat, melalui pengelolaan tani mandiri perkebunan kopi. Wilayahnya berbatasan antara Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung. Sejak penciptaan daratan Jawa bagian barat 30 juta tyl, (Gunung) Nagara Padang Rawabogo di Ciwidey hadir belakangan. Berupa intrusi batuan beku, sekitar Plistosen Akhir atau sekitar 1.8 juta tyl. Saat ini bongkah-bongkah batuan lava bertebaran dan lapuk berwujud ragam bentuk, menata wajah perbukitan ini menjadi wilayah sakral, tempat bersemayamnya sejarah Sunda.
Deni Sugandi dan Zarindra memberikan penjelasan dari sisi fisik, bahwa perbukitan Gunung Padang merupakan sebuah tubuh batuan beku yang mengalami pelapukan. Dicirikan dengan bongkah-bongkah batuan yang menempati wilayah sebelah timur, dengan bentuknya yang menjulang tinggi. Kemudian di bagian tengah punggungan perbukitan ini, didapati bongkah-bongkah batu yang menyerupai kepala binatang melata hingga bentuk mamalia besar seperti gajah.
Acara ditutup dengan makan siang bersama, bekal yang sebelumnya telah dibawa dari rumah masing-masing. Kegiatan Geourban#1 ini adalah berupaya menyampaikan pesan, potensi wisata bumi dan sejarah berdampingan. Langkah selanjutnya mengaktivasi kegiatan wisata kebumian dan budaya melalui pengemasan paket wisata yang berkelanjutan, termasuk mendorong warga lokal sebagai pemilik wilayah, memiliki porsi peningkatan ekonomi melalui kegaitan pariwisata alam. (DS)
Ujungberung diintepretasikan hadir jauh sebelum Daendels membuat jalan Raya Pos 1810-1811. Dengan demikian sudah ada budaya yang hadir di sebelah Bandung Timur. Merujuk peta lama, Kaart van de Priangse landen ofwel een gedeelte van de noordkust van Java, 1600. Menyebutkan hadirnya wilayah di sebelah utara Parakanmuncang.
Kunjungan pertama adalah menapaki aliran lava di Ci Panjalu. Lokasinya terletak di Cilengkrang utara, sejajar dengan jalan Palalangon, Kabupate Bandung. Jalan yang menghubungkan Cigending atau Alun-alun Ujungberung ke utara, melalui Palintang. Dialiran sungai tersebut didapati dua air terjun, sebelah utaranya adalah Curug (air terjun) Orok, mendekati ke arah Jembatan Cipanjalu. Kemudian ke arah hilinya disebut Curug Kacapi. Dilokasi ini didapati sumber mata air, dari rekahan batuan lava. Disebut mata air kontak, terbentuk akibat kontak antara lapisan akuifer dengan lapisan impermeable pada bagian bawahnya. Air mengalir pada batuan piroklastik yang memiliki porositas, bersifat meloloskan air. Kemudian mengalir di atas batuan lava dan keluar melalui biidang-bidang rekahan.
Sungai tersebut merupakan lembah yang dialasi oleh batuan lava berwarna abu-abu gelap. Berupa lava tebal dengan struktur kekar kolom. Di Curug Kacapi membentuk dinding tegak yang diperkirakan merupakan struktur sesar minor. Batuannya berupa lava tebal, dengan struktur kekar lembar. Batuannya cenderung berwarna hitam, menandakan pengaruh kualitas air yang tercemar berat. Mengingat Ci Panjalu hulunya di Cilengkrang, bagian dari Daerah Aliran Sungai Ci Tarum.
Jalan tersebut memisahkan dua batuan penyusun yang berbeda. Disebelah timurnya merupakan produk hasil kegiatan letusan gunungapi Manglayang. Kemudian disebelah baratnya adalah endapan dari kegiatan kegunungapian Prasunda-Sunda dan Tangkubanparahu. Soetoyo dan Hadisantono (1992), menguraikan stratigrafi gunungapi blok Cimenyan-Cilengkrang, disusun oleh endapan kegiaatan gunungapi Prasuda-Sunda-Tangkubanparahu. Produknya diantaran tuff, piroklastik dan aliran lava.
Umurnya sekitar Pleistosen, seperti yang disampaikan dalam hasil penelitian Kartadinata (2005). Endapan yang hadir di sektiar lereng selatan G. Palasari, adalah hasil dari empat fase letusan gunungapi di sebelah utara. Yaitu produk letusan Prasunda, kemudian Sunda, Tangkubanparahu Tua dan fase terakhir adalah G. Tangkubanparahu Muda.
Lava yang tersingkap sangat masif/tebal, dierosi sungai dan membentuk ari terjun. Arah alirannya dari utara ke selatan, memotong lava masih dengan struktur berlembar. Dalam penelitian Naufal Fajar Putra (2021), dimasukan kedalam Satuan Aliran Lava 3 Cisanggarung, mendetailkan hasil penelitian Soetoyo dan Hadisantono (1992) dalam satuan aliran lava Sunda (Sl).
Arah alirannya dari utara ke selatan, sehingga sumber lava di Curug Orok masuk ke dalam Satuan Aliran Lava dari hasil kegiatan letusan penutup pembentukan kaldera Sunda. Dari keterangan di atas, bisa dipastikan batuan di Curug Orok dan Curug Kacapi merupakan batuan beku, hasil kegiatan letusan efusif G. Sunda. Melalui mekanisme aliran lava, mengisi lembah antara G. Palasari-Cilengkrang dan G. Manglayang. Diendapkan miring ke utara, mengikuti topografi sumber aliran.
Strukturnya berlembar, menandakan pada saat lava dialirkan dan membeku. Seiring waktu kehilangan pembebanan dibagian atas, sehingga membentuk struktur berlembar. Struktur yang terbentuk pada batuan berlembar dan mendatara/ horisontal sejajar dengan arah tekanan. Penghilangan pembebanan bisa terjadi karena proses erosi, sehingga material penutup hilang. Kekar lembar di Curug Orok dan Kacapi karena dierosi oleh aliran sungai.
Beralih lokasi kedua, ke arah hulu Ci Panjalu di lereng G. Palasari. Gunung dengan kerucut khas yang hampir mendekati angka dua ribu meter dpl. Menjulang tinggi dan berada pada sistem sesar Lembang segmen timur. Tingginya 1857 meter dpl., berhawa sejuk dan sering tertutup kabut. Kawasannya berada di Perum Perhutani Bandung Utara, sedangkan secara administratif berada di dua desa, Girimekar dan Cipanjalu.
Jalur pendakian terpendek melalui sisi sebelah timur. Diantara punggungan G. Kasur-Manglayang dan G. Palasari, melalui jalan Palintang. Ditempuh sekitar 1.3 km, dengan pertambahan ketinggian sekitar 330 meter, antara lokasi awal pendakian hingga puncak. Dalam pembagian fasies gunung, pendapat Boogie dan Mckenzie (1998). Pendakian dimulai pada fasies proksimal, dengan keterdapatan lava, bresi tuff, hingga tuff lapili. Sedangkan pendakian dari pos awal hingga puncak tidak mendapati sebaran batuan tersebut.
Dengan demikian G. Palasari tidak bisa digolongkan sebagai gunungapi, walaupun memiliki morfologi kerucut. Keberadaanya duduk dijalur Sesar Lembang segmen timur. Mudrik Daryono menyebutkan, panjang sesar tersebut adalah 29 km, mula dari Cilengkrang dibagian timur, kemudian memanjang ke arah timur hingga sekitar ngamprah. Sedangkan pendapat lainya, seperti Iyan Haryanto (2024), melalui pola pengaliran sungai, ekspresi morfologi dan bukti lapangan di tol Cisumundawu membuktikan lain. Iyan memperkirakan jalur Sesar Lembang ini bisa mencapai 40 hinggga 45 km. menerus diutara G. Manglayang hingga Sumedang timur.
Di puncak G. Palasari didapati bidang datar, dengan ukuran kurang lebih 10 x 10 meter. Membentuk persegi hampir kotak, terdiri dari dua pelataran. Dari keketerangan warga, bahwa dahulu masih ada tumpukan batu namun kini sudah sudah hilang. Alasan hilangnnya susunan batuan tersebut tidak pernah ada yang tahu.
Bila merujuk kepada hasil penelitian Dani Sujana (2019), menempatkan tinggian seperti gunung atau perbukitan yang menjulang, dimanfaatkan sebagai simbol sakral dan suci. Baik dari kebudayaan megalitik, menerus hingga kebudayaan Sunda klasik. Diwujudkan dengan cara membangun situs-situs keagamaan, seperti punden berundak. Keberadaanya tentunya perlu penelitian lebih lanjut, mengingat G. Palasari memiliki peranan penting, mengingat di lereng utara ditempat kebuayaan batu loceng. Di bagian selatannya merupakan peradaban Arcamanik, dicirikan dengan peninggalan arca bercorak Hindu.
Dengan demikian perlu untuk menggali dalam bentuk penelitian, dan kajian yang lebih mendalam tentang objek wisata bumi di Ujungberung utara.
25-23 juta tahun yang lalu, kawasan Citatah merupakan pulau-pulau yang disusun koral dan binatang laut.Lautan dangkal yang menyerong ke baratdaya hingga ke teluk Palabuhanratu. Sedangkan batas pantainya berada di tinggian Pangalengan saat ini, sedangkan di sebelah selatannya dipagari gunungapi bawah laut.
Sekitar 15 juta tahun kemudian, sebagian daratan Jawa bagian barat terangkat. Muncul di atas gelombang laut melalui kegiatan tektonik. Didorong oleh pergerakan lempeng benua Indo-Australia, dari selatan ke utara dan menyusup di bawah Jawa sekitar 7 cm per tahun. Kondisi demikian menyebabkan sebagian besar perbukitan karst Citatah naik hingga 700 meter dpl, kemudian terlipat dan tersesarkan. Terbentuklah struktur bagian dari sistem sesar Cimandiri, segmen zona gempa Cimandiri-Saguling, diiringi pergeseran gunugapi api dari jajaran selatan ke arah utara. Sekitar 1,8 juta tahun kemudian, lahirlah jajaran gunugapi modern yang menghiasi dan memberikan berkah.
Dinamika bumi tidak berhenti, terus bergerak hingga kini. Menata wajah bumi tanpa henti, melalu peristiwa gempat, gunungapi meletus, hingga gerakan tanah. Dalam kegiatan Geourban ke-25, di penutup akhir tahun 2024. Mengundang untuk berparisipasi, menggali fitur dan rahasia bumi, dalam kegiatan geowisata di Citatah. Menapaki kembali ragam rona di kawasan perbukitan karst Citatah. Intrusi batuan beku Cisampih, fosil binatang laut di Pasir Balukbuk, dan gua karst di Sanghyang Lawang, Cipatat, KBB.
Hari/Tanggal Minggu, 22 Desember 2024
Waktu 07.00 WIB sd. 12.00 WIB.
Titik Pertemuan (Meeting point) Tebing 125 Citatah, Padalarang, KBB
Pendaftaran dan konfirmasi kehadiran 081322605025 Nanang, 087700290444 Tommy
Inisiasi Diselenggarakan melalui kolaborasi Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Asosiasi Pemandu Wisata Gunung (APGI) Dewan Pengurus Prov. Jawa Barat, Pramuka Wana Bakti dan Forum Pemuda Peduli Karst Citatah.
Lerengnnya melampar hingga batas jalan raya Ujungberung. Merupakan tekuk lereng aliran dan piroklastik PraSunda dan Sunda, hingga dibatasi oleh dataran rendah ke arah selatan. Dibagian utaranya merupakah blok naik Sesar Lembang segmen Batuloceng.
Lereng tersebut disusun oleh aliran lava tebal G. Prasunda dan Sunda. Kemudian ditutup oleh piroklatik yang telah lapuk. Seiring waktu tererosi kuat, membentuk lembahan ditoreh air dan membentuk sungai-sungai. Alirannya bergeraka ke utara, kemudian masuk menjadi badan air disebut Danau Gegerhanjuang. Merupakan bagian dari sistem Danau Bandung Purba bagian timur, yang mengalami pengeringan. Dalam peta lama F. de Haan (1911), danau tersebut mendekati susut dan ditempati oleh rawa disebut Muras. Melampar dari batas tekuk lereng Ujungberung, hingga ke arah selatan hingga batas aliran Ci Tarum.
Disebut Muras Gegerhajuang, bagian dari sistem danau Bandung Purba. Segmen rawa ini menempati dataran rendah dengan elevasi 678 m dpl. Membentuk rawa (muras), membentang dari utara sekitar jalan raya Ujungberung, kearah selatan hingga dibatas jalan raya Baleendah-Ciparay.
Kondisi demikian menyebabkan hunian berada di sebelah utara, menghindari rawa. Lingkungan tersebut mengundang hadirnya malaria. Selain itu rawa bukannlah tempat yang tidak ideal untuk mendirikan rumah, karena kondisi permukaanya yang mudah amblas. Termasuk sulitnya mendapatkan air layak minum. Sehingga hunian dan peradaban bergeser ke arah utara, relatif lebih aman, sumber daya alam melimpah dan lebih sejuk.
Lahan yang subur, menarik juragan perkebunan Andries de Wilde merintis perkebunan kopi di utara Ujung Berung jauh sebelum jalan Raya Pos Daendels dibuat. Pembuatan jalan tersebut bertujuan menggerakan distribusi pengiriman kopi dari priangan pedalaman hingga ke Batavia melalui Cikao Bandung Purwakarta. Sedangkan jalur distribusi ke arah timur, didistribusikan di gudang kopi di Karangsambung. Lokasi tersebut kini jembatan Ci Manuk di perbatasan Sumedang dan Majalengka atau sekitar Tomo.
Kondisi alam demikian, mendorong budaya menyebar ke arah utara atau sekitar Cimenyan. Kehadiran peradaban tersebut, dikuatkan dengan keterangan dari catatan perjalanan Bujangga Manik. Diyakini kebudayaan disekitar utara muras tersebut hadir sejak abad ke-16. Dicirikan dengan temuan situs budaya dan kepercayaan masyarakat lokal tentang sebaran patilasan.Tinggalan budaya berupa pekuburan tua dengan ciri seperti circle stone (batu gelang). Tersebar di Pasir Panyandaan, Cimenyan hingga berbatasan dengan Caringintilu, Kabupaten Bandung di bagian baratnya.
Kebudayan lama tersebut hidup di atas endapan batuan gunungapi purba. Disusun lava dan piroklasatik. Aliran lavanya mebentuk struktur berlembar, akibat proses pembekuan dan kondisi geologi. Dibeberapa keterangan lama, menyebutkan bentuk demikian adalah wujud dari struktur bangunan (candi?). Struktur kekar lembar (sheeting joint), dimanfaatkan sebagai penghias bangunan pemerintahan, seiring rencana pemindahan ibukota Hindia Belanda ke Bandung.
Bukti endapan aliran lava masih terlihat jelas, di Curug Batu Templek, Cisanggarung dan di Sentak Dulang. Dua lokasi kegiatan penambangan, yang sudah dibuka sejak jama kolonial. Bukti penggunaan batuan tersebut dicatatkan Haryoto Kunto (1986), pondasi Gedung Sate menggunakan batuan yang diambil dari kawasan ini. Batuannya idelal, keras dan memiliki struktur berlembar sehigga disebut struktu sheeting joint, atau kekar lembar. Terbentuk demikian akibat pelepasan beban penutup, sehingga terbentuk rekahan yang mendatar. Dimanfaatkan dengan cara mencongkel rekahan tersebut dan digunakan sebagai pondasi hingga sebagai estetik bangunan.
Asal-usul lava tersebut bersumer dari kegiatan letusan guungapi purba, hadir jauh sebelum Danau Bandung Purba terbentuk. Dalam Peta Geologi Lembar Bandoeng (Geologische Kaart van Java), disusun oleh Bemmelen (1934) menyebutkan litologinya merupakan batuan gunungapi tua. Kemudian didetailkan dalam pemetaan stratigrafi gunungapi oleh Soetoyo dan Hadisantono (1992), merupakan aliran lava hasil letusan gunungapi PraSunda (Prs), kemudian ditutupi oleh produk gunungapi berikutnya yaitu G. Sunda (Sl). Berupa lava andesit abu-abu gelap, porfiritik dengan fenokris plagioklas, piroksen dan sedikit mineral bijih dalam masa dasar gelas dan mineral halus.
Di Pasir Panyandakan, menerus hingga Sontak (sentak?) Dulang, merupakan produk gunungapi PraSunda. Lava ini dianggap paling tua karena kontak langsung dengan batuan sedimen umur Tersier (Soetoyo dan Hadisantono, 1992).
Kebutuhan sumber daya alam tersebut, seiring dengan rencana pemindahan ibu kota Hindia Belanda. Dari Batavia atau Jakarta saat ini ke dataran tinggi Bandung. Arsitek pembangunannya adlaa Silors, duduk sebagai kepala Dinas Bangunan Kotapraj (Gemeentelijk Bouwbedrijf). Tuga utamanya adalah merancang dan emmbangun kompleks bangunan pusat instansi pemerintahan Hindia Belanda di Kota Bandung.
Tambang batu di utara Arcamanik turut menyumbangn pembangunan kota, diantaranya adalah pembangunan gedung Departemen Pekerjaan Umum, Kantor Pusat PTT, Departemen Kehakiman, Departemen Pendidikan dan Pengajaran, Departemen Keuangan dan seterunya. Semuanya dibangun dalam satu kompleks, sejajar ke arah utara dari Gedung Sate saat ini.
Mendaki ke arah utara, menunggangi punggungan Pasanggrahan. Setelah melewati SD Cikawari, jalanan terus menanjak. Pemandangan terbuka luas kesegala penjuru, dihiasi ladang warga yang semakin mendesak ke wilayah Perum Perhutani.bentang alamnya berupa punggungan perbukitan. Sebagian besar wilayahnya ditempati oleh perkebunan warga, pemilikan lahan pribadi. Melampar dari timur ke barat, menempati sebagian besar lereng G. Palasari hingga sebelah timur berbatasan dengan G. Manglayang.
Hanya beberapa tinggian, berupa puncak-puncak bukit yang ditempati oleh tinggalan budaya. Menandakan nenek moyang sudah memandukan bentang alam dan dataran tinggi sebagai tempat yang sakral.
Dalam laporan Rohtpletz hasil kompilasi dari beberapa laporan terdahulu, menuliskan penemuan tinggalan budaya serta situs-situs prasejarah megalitik. Dituliskan di perbukitan titik triangulasi KQ 273, menyebutkan ditemukan beberapa serpih obsidian. Rothpletz menuliskan Künstliche Steilböschungen (vor allem bei Kuppen), diterjemahkan puncak bukit dengan lereng yang curam. Bentuk alam yang memanfaatkan tinggian, kemudian ditata sedemikia rupa. Dalam keterangannya disebutkan juga didapati situs makam pra-Islam (Präislamitische Grabanlagen).
Titik tersebut terdapat di sebelah utara dari kompleks Pondok Pesantren Baitul Hidayah. Berupa kuburan lama yang disusun oleh batuan andesit-basal, tersedia melimpah disekitar perbukitan. Disusun oleh batuan membundar sebesar kepalan tangan hingga bola sepak, kemudian ditemui juga batu ceper yang diduga didatangkan dari sekitar Sentak Dulang. Lokasi penambangan Batu Templek yang berada di sebelah selatannya.
Dalam laporan Johan Arief dalam artikel Misteri Danau Bandung (https://fitb.itb.ac.id/misteri-danau-bandung/), disebut situ Panyadaan 1. Satu situs lagi berada di sebelah timur disebut Situs Panyandaan 2. Dalam keterangannya merupakan temapt palitas atau tilem.moksa Eyang Sri Putra Mahkota Raden Mundingwangi, putra dinasti ke-8 dari Raja Sunda.
Berjalan ke arah utara, ditemui punggungan perbukitan yang ditempati bongkah-bongkah batuan yang telah lapuk. Warga menyebutnya Batu Buta, atau batu dengan ukuran besar. Menempati bagian puncak punggungan bukit, tersebar memanjang dari utara ke selatan. Ukurannya beragam, mulai dari ukuran sebesar kelapa hingga mendekati ukuran mobil. Di sebelah timurnya yang dipisahkan oleh lembah, didapati kuburan tua. Masyarakat menyebutnya Makam Waliyullah Eyang Jaya Dirga. Dalam laporan Rothpletz merupakan gundukan tanah berbentuk elips, disusun oleh batuan gunungapi. Ukuran panjang sekitar 4,8 meter, dan lebar 3.4 meter. Dalam laporan Johan Arif (2024), didapati empat mehir dari batuan andesit disetiap sudut gundukan tanah.
Sebelah selatan dari Batu Buta berupa hamparan ladang warga. Didapati batuan obsidian, melimpah dipermukaan tanah. Ukurannya sangat beragam, mulai dari ukuran koin hingga kerakal dan tersebar dipermukaan. Lahannya sebagian besar pemilikan pribadi, kemudian diusahakan menjadi perkebunan palawija hingga sayuran.
Keberadaan fragmen obsidian tersebut menjadi tanda tanya besar, bagaimana bisa tersebar di dataran tinggi daerah Panyandaan. Apakah lokasi ini menjadi jalur perlintasan pengangkutan batuan obsidian? atau malahan menjadi tempat pengerjaan membentuk bongkah menjadi alat untuk berburu. Karena fragmen yang didapati disekitar wilayah ini tidak berbentuk mikrolitik, seperti mata tombak, panah atau alat untuk menyayat/pisau. Sebagian besar fragmen yang dikumpulkn berupa fragmen serpih yang diduga merupakan sisa atau sampah produksi pengerjaan alat batu.
Keberadaan fragmen obsidian ini tentunya menarik, selain pernah dilaporkan sebelumnya oleh Rothpletz pada akhir pendudukan kolonial. Hingga kini masih bisa ditemui, seperti pada laporan hasil penelusuran budaya obisidian di utara Bandung. Seperti yang ditelursuri oleh Anton Ferdianto (2012), melaui penelitian Balar Arkeologi Bandung. Melaporkan sebaran obsidian sebagian bear berada di utara Bandung. Diantaranya ada 14 titik yang mengandung temuan obsidian seperti di segmen Dago Pakar, Pasir Soang, daerah Cikebi, Kawasan Cimenyan termasuk Pasir Panyandaan.
Seperti yang diungkapkan pada hasil penelitian sebelumnya. Keberadaan sebaran batu obsidian ini ditemukan tidak hanya disebelah utara Bandung, tetapi menyebar hingga kawasan karst Citatah hingga Bukit Karsamanik.
Keberadaan fragmen obsidian yang melimpah di sekitar Pasir Panyandaan, menjadi tanya tanya besar. Bagaimana batuan tersebut berasal, kenapa tersebar begitu banyak dan mudah ditemui dipermukaan perkebunan. Apakah dibawa oleh peradaban lama, kemudian dimanfaatkna menjadi alat batu? Apakah Dago Pakar merupakan satu-satunya tempat pembauatan perkakas batu? Temuan tersebut menjadi menarik untuk dijawab melaului penelitian lanjutan.
Pemaparan di BatunyusunKeterdapatan obsidian di sekitar Pasir Panyandaan yang melimpahPelapukan pada batuan di Pasir PanyandaanKuburan yang diduga praIslam di Pasir Panyandaan